Anda di halaman 1dari 47

SKRIPSI

DETERMINAN KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN

TELEKOMUNIKASI YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK

INDONESIA TAHUN 2016-2017

DISUSUN OLEH

1. ABDUL MANAN A1C015001


2. BERRY AHMAD A1C015020
3. DINA MARIANA A1C015025
4. ELIANA NATARINA A1C015027
5. ERNA SUPIANI A1C015030
6. EVITA SAPTIYANI R. A1C015032
7. HANIFAH A1C015040
8. HIKMATUL HASANAH A1C015044
9. I GUSTI AYU WINDARI P. A1C015047

PROGRAM STUDI SARJANA

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS MATARAM

2018
JUDUL : DETERMINAN KEBIJAKAN DIVIDEN PADA PERUSAHAAN

TELEKOMUNIKASI DI INDONESIA TAHUN 2015-2017

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pertumbuhan ekonomi saat ini semakin menunjukkan peningkatan. Hal ini

tentunya juga diikuti dengan persaingan bisnis yang semakin ketat khususnya

untuk perseroan yang go public dalam hal mencari investor karena salah satu

alasan stockholder ingin menginvestasikan dananya pada suatu perseroan adalah

adanya pembagian dividen. Bentuk pengembalian dari keterlibatan stockholder

sebagai pemberi modal bagi perusahaan dikenal dengan dividen. Oleh karena itu,

pemerintah berupaya untuk memperkuat peneguhan dari segi persediaan modal

yang ditanamkan perseroan di Indonesia agar mampu menghindarkan perusahaan-

perusahaan yang hanya mengandalkan pinjaman. Dengan adanya pembatasan

rasio utang, diharapkan mampu menurunkan persentase pinjaman luar negeri dan

meningkatkan modal juga labanya. (Ningrum : 2017).

Banyaknya perusahaan telekomunikasi dengan kondisi perekonomian saat

ini memicu adanya persaingan yang ketat antar perusahaan telekomunikasi.

Persaingan ini tercermin dalam upaya perusahaan telekomunikasi untuk

meningkatkan kinerja perusahaan demi tercapainya tujuan perusahaan yaitu

meningkatkan nilai perusahaan. Terdapat beberapa pihak yang memiliki

perbedaan kepentingan atas nilai perusahaan. Pihak-pihak tersebut yaitu


pemegang saham, kreditur dan manager (insider ownership). Penyatuan

kepentingan pihak-pihak tersebut seringkali menimbulkan masalah yang dibahas

dalam agency theory. (Simanjuntak dan Kiswanto, 2015)

Teori keagenan menurut Jensen dan Meckling (1976) muncul karena,

perusahaan yang memisahkan fungsi penggelolaan dengan fungsi kepemilikan

akan rentan terhadap agency conflict. Penyebab konflik antara manager dengan

pemegang saham diantaranya yaitu pembuatan keputusan yang berkaitan dengan

keputusan pencairan dana (financing decision) dan pembuatan keputusan yang

berkaitan dengan bagaimana yang diperoleh tersebut diinvestasikan. (Simanjuntak

dan Kiswanto, 2015)

Pembuatan keputusan yang berkaitan dengan penentuan sumber dana juga

harus tepat, apakah akan menggunakan sumber dana internal (laba ditahan) atau

eksternal (utang dan ekuitas) atau keduanya. Pembuatan keputusan harus

memperhatikan manfaat dan biaya yang ditimbulkannya, karena setiap sumber

dana mempunyai konsekuensi dan karakteristik financial yang berbeda.

Konsekuensi yang harus ditanggung perusahaan jika menggunakan sumber dana

berupa hutang adalah perusahaan harus mentaati perjanjian hutang. Jika

perusahaan menggunakan sumber dana dari saham, perusahaan harus memberikan

imbalan kepada investor berupa deviden (Budiyanti, 2010).

Investor menanamkan modalnya atau saham memiliki tujuan untuk

mendapatkan pendapatan atau tingkat pengembalian (return) berupa pendapatan

dividen (dividend yield) maupun pendapatan dari penjualan saham yang dimiliki

(capital gain). Menurut Janavi (2017) dividen merupakan pembagian keuntungan


yang diperhitungkan dengan seksama yang dihasilkan oleh perusahaan. Jika

seorang investor ingin mendapatkan dividen, maka investor tersebut harus

memegang saham dalam kurun waktu yang relatif lama sehingga kepemilikan

saham dapat diakui sebagai saham dan berhak menerima dividen.

Preferensi Investor terhadap dividen dibandingkan dengan capital gain,

karena dividen merupakan penerimaan yang lebih pasti dibandingkan dengan

capital gain. Menurut Janavi (2017) kebijakan dividen merupakan keputusan

apakah laba yang diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham

sebagai dividen atau akan disimpan dalam bentuk laba ditahan sebagai

pembiayaan investasi dimasa mendatang. Bagi pihak investor, adanya dividen

sebagai hasil dari investasi atas saham yang telah mereka lakukan terhadap

perusahaan. Sedangkan bagi pihak manajemen, adanya dividen merupakan arus

kas keluar yang dapat mengurangi kas perusahaan karena dengan pembayaran

dividen, maka kesempatan melakukan reinvestasi akan berkurang.

Kebijakan dividen melibatkan dua pihak yang berkepentingan, yakni

kepentingan dari para pemegang saham dengan dividennya dan kepentingan

manajemen perusahaan dengan laba ditahannya. Hal ini dapat berujung kepada

masalah potensial yaitu masalah biaya agensi. Menurut Brigham dan Houston

(2011) dalam Simanjuntlak dan Kiswanto (2015), kebijakan dividen perusahaan

yang optimal adalah kebijakan yang menghasilkan keseimbangan antara dividen

saat ini dan pertumbuhan di masa depan yang memaksimalkan harga saham.

Menurut Juhmani (2009) kebijakan dividen pada satu sisi dapat

meningkatkan nilai perusahaan, namum pada sisi lain kebijakan dividen dapat
berdampak pada tidak tersedianya pendanaan internal yang menyebabkan

perusahaan bergantung pada pendanaan eksternal dan dapat menganggu proses

ekspansi perusahaan. Dividen adalah peningkatan kesejahteraan bagi pemegang

saham, namun apabila dividen terlalu besar dapat menyebabkan perusahaan tidak

memiliki dana untuk melakukan reinvestasi di masa depan. Kebijakan dividen

dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut bias bervariasi dari satu negara

dengan negara lain.

Faktor- faktor yang mempengaruhi keputusan perusahaan dalam menentukan

besarnya laba yang akan dibagikan sebagai dividen antara lain: profitabilitas,

likuiditas, solvabilitas, dan aktivitas. Pertimbangan besarnya Dividen Payout

Ratio (DPR) diduga berkaitan sangat erat dengan kinerja manajemen karena

kinerja keuangan suatu perusahaan yang cukup bagus dan tentunya bisa

diharapkan untuk menentukan besarnya DPR yang sesuai dengan harapan para

pemegang saham. (Septi Rahayuningtyas, et al. 2014). Menurut Abdul Kadir

(2010) profitabilitas suatu perusahaan merupakan faktor utama yang dijadikan

penentu dalam kebijakan dividen. Profitabilitas merupakan kemampuan

perusahaan dalam menghasilkan laba. Laba inilah yang akan menjadi dasar

pembagian dividen perusahaan baik dividen tunai maupun dividen saham.

Selain profitabilitas, likuiditas juga menjadi salah satu faktor penentu

kebijakan dividen. Partington (1989) dalam Septi Rahayuningtyas et al. (2014)

menunjukkan bahwa posisi current ratio merupakan variabel penting yang

dipertimbangkan oleh manajer dalam pengambilan keputusan deviden. Faktor lain

yang dapat dijadikan pertimbangan dalam penentuan kebijakan deviden adalah


leverage (Debt to Equity Ratio) . Rasio ini mengukur seberapa besar perusahaan

dibiayai oleh hutang, dimana semakin tinggi rasio ini menggambarkan gejala

yang kurang baik bagi perusahaan. (Lisa dan Clara. 2009).

Pada awal dekade tahun 2003-2013 Indonesia mulai bangkit kembali setelah

didera oleh krisis moneter yang menyebabkan kondisi ekonomi Indonesia terjun

ke titik nadir dan menyebabkan terjadinya pergantian rezim pemerintahan.

Walaupun sempat menurun pada awalnya, pada pertengahan dekade Indonesia

mulai berjalan tegak dengan ditandai oleh tingginya tingkat pertumbuhan

ekonomi. Namun pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi kembali menurun.

(Ismawati, 2015)

Melambatnya pertumbuhan industri tahun 2013 berlanjut pada pertumbuhan

industri tahun 2014 yang ditandai dengan banyaknya perusahaan yang tidak

membagikan dividen kepada para pemegang saham. Keputusan sebagian besar

perusahaan untuk tidak membagikan dividen kepada para pemegang saham

karena menurunnya profitabilitas perusahaan pada tahun 2013-2014 . (Ismawati,

2015)

Penelitian Widiyanti & Indarto (2013) yang meneliti tentang pengaruh

likuiditas terhadap kebijakan dividen. Hasil yang ditemukan adalah likuiditas

berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Hasil yang kontradiktif diperoleh Wira

(2013) dan Hardiatmo & Daljono (2013) menemukan bukti bahwa likuiditas tidak

berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Penelitian Wira (2013) dalam

penelitiannya juga menemukan hubungan negatif dan signifikan antara tingkat

hutang dengan kebijakan dividen. Hasil yang kontradiktif diperoleh Hardiatmo &
Daljono (2013) yang tidak menemukan pengaruh signifikan antara leverage

dengan kebijakan dividen.

Berdasarkan uraian diatas, beberapa penelitian yang menguji tentang faktor-

faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen menunjukkan hasil yang berbeda-

beda. Hal tersebut yang mendorong dilakukannya penelitian lanjutan, yang

menguji faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen. Berdasarkan latar

belakang dan permasalahan diatas maka judul yang diambil dalam penelitian ini

adalah “Determinan Kebijakan Dividen pada Perusahaan Telekomunikasi

yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2016-2017”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka rumusan

masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah tingkat pengembalian modal berpengaruh terhadap kebijakan

dividen ?

2. Apakah rasio lancar berpengaruh terhadap kebijakan dividen ?

3. Apakah rasio hutang berpengaruh terhadap kebijakan dividen ?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari penelitian ini sebagai

berikut:

1. Untuk mengetahui tingkat pengembalian modal berpengaruh terhadap

kebijakan dividen.

2. Untuk mengetahui rasio lancar berpengaruh terhadap kebijakan dividen.

3. Untuk mengetahui rasio hutang berpengaruh terhadap kebijakan dividen.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1. Agency Theory

Teori keagenan merupakan dasar teori yang mendasari praktik bisnis

perusahaan. Teori ini memberikan penjelasan hubungan kontrak antara

prinsipal (pemilik modal) dan agen (pihak yang mengelola perusahaan) dalam

bentuk kontrak kerja sama. Teori keagenan menggunakan tiga asumsi sifat

manusia yaitu: (1) manusia pada umumya mementingkan diri sendiri (self

interest), (2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa

mendatang (bounded rationality), dan (3) manusia selalu menghindari risiko

(risk averse). Berdasarkan asumsi tersebut hal yang paling umum terjadi

adalah manusia bertindak atas kepentingan mereka. Pemegang saham hanya

tertarik kepada return atas dana yang diinvestasikan di perusahaan tersebut

sementara para manajer tertarik kepada kompensasi yang akan diterima jika

mereka bisa memberikan return bagi pemegang saham. Hubungan keagenan

dapatmenimbulkan konflik ketika terjadi perbedaan kepentingan antara

pemegang saham dan manajer. Manajer akan membuat kebijakankebijakan

yang akan menguntungkan sepihak dan mengabaikankepentingan pemegang

saham.

2.1.2. Dividend Irrelevance Theory

Dividend Irrelevance Theory adalah suatu teori yang menyatakan

bahwa kebijakan dividen tidak mempunyai pengaruh baik terhadap nilai


perusahaan maupun biaya modalnya. Teori kebijakan yang dikemukakan oleh

Modigliani-Miller (Brigham dan Houston, 2001), berpendapat bahwa nilai

suatu perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya Dividend Payout Ratio

(DPR) tetapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBT) dan risiko

bisnis. M-M juga menyatakan bahwa nilai perusahaan ditentukan oleh earning

power dan aset perusahaan. Untuk membuktikan teorinya M-M mengemukan

berbagai asumsi:

1) Tidak ada pajak perseorangan dan pajak penghasilan perusahaan.

2) Tidak ada emisi dan biaya transaksi.

3) Kebijakan penganggaran modal perusahaan independen terhadap

Dividend Payout Ratio.

4) Investor dan manajer mempunyai informasi yang sama tentang

kesempatan investasi dimasa yang akan datang

5) Distribusi pendapatan diantara dividen dan laba ditahan tidak

berpengaruh terhadap tingkat keuntungan yang disyaratkan oleh

investor.

2.1.3. Dividen

Dividen merupakan nilai pendapatan bersih perusahaan setelah

pajak dikurangi dengan laba ditahan (retained earnings) yang ditahan

sebagai cadangan perusahaan. Menurut Hanafi (2004), dividen

merupakan kompensasi yang diterima oleh pemegang saham, di

samping capital gain. Dividen ini untuk dibagikan kepada para

pemegang saham sebagai keuntungan dari laba perusahaan. Dividen


ditentukan berdasarkan rapat umum anggota pemegangsaham dan

jenis pembayarannya tergantung kepada kebijakan

pimpinan.Sedangkan Ang (1997) mendefinisikan dividen sebagai

pembayarankepada pemilik perusahaan yang diambil dari keuntungan

perusahaan,baik dalam bentuk saham maupun tunai. Artinya hanya

perusahaan yangmembukukan keuntungan dapat membagikan dividen

karena dividendiambil dari keuntungan perusahaan. Tujuan pembagian

dividen adalah:

a. Untuk memaksimumkan kemakmuran bagi para pemegang saham.

Hal ini karena sebagian investor menanamkan dananya di pasar

modal untuk memperoleh dividen dan tingginya dividen yang

dibayarkanakan mempengaruhi harga saham. Para investor percaya

bahwa tingginyadividen yang dibayarkan berarti bahwa prospek

perusahaan dimasa yangakan datang bagus.

b. Untuk menunjukkan Likuiditas perusahaan.

Dengan dibayarkan dividen, diharapkan kinerja perusahaan

dimatainvestor bagus. Sering kita jumpai bahwa sebagian

perusahaanmemberikan dividen dalam jumlah tetap untuk setiap

periode. Hal inidilakukan karena perusahaan ingin diakui oleh

investor bahwaperusahaan yang bersangkutan mampu menghadapi

gejolak ekonomi danmampu memberikan hasil kepada investor.

c. Sebagian investor memandang bahwa risiko dividen lebih

rendahdibanding risiko capital gain.


d. Untuk memenuhi kebutuhan para pemegang saham akan

pendapatantetap yang digunakan untuk keperluan konsumsi.

e. Dividen dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara manajer

danpemegang saham.

Informasi secara keseluruhan tentang kondisi intern perusahaan

seringtidak diketahui oleh investor sehingga melalui dividen pertumbuhan

perusahaan dan prospek perusahaan bisa diketahui. Dividen yangdibayarkan

kepada pemegang saham ditinjau dari bentuknya ada 2 (dua) macam, yaitu

(Ang, 1997):

a. Dividen Tunai (Cash Dividend)

Merupakan bagian keuntungan perusahaan yang

dibagikan kepadapemegang saham dalam bentuk tunai. Tujuan

dari pemberian dividen dalam bentuk tunai adalah untuk

memacu kinerja saham di bursa efek,yang juga merupakan

return dari para pemegang saham. Dividen tunai(cash

dividend) umumnya lebih menarik bagi para pemgang

sahamdibandingkan dengan dividen saham (stock dividend).

Yang perludiperhatikan oleh pimpinan perusahaan sebelum

membuat pengumumanadanya dividen adalah apakah jumlah

uang kas yang ada mencukupi untuk pembagian dividen

tersebut.

b. Dividen Saham (Stock Dividend)


Merupakan bagian keuntungan perusahaan yang

dibagikan kepada para pemegang saham dalam bentuk saham.

Pemberian stock dividentambahan sering dimaksudkan untuk

menahan kas untuk membiayaiaktivitas perusahaan yang

dihubungkan dengan pertumbuhan perusahaan.Dividen yang

dibayarkan kepada para pemegang saham ditinjau darijumlah

yang dibayarkan, terdiri dari (Ang, 1997):

- Kebijakan Dividen yang Stabil. Artinya jumlah dividen per

lembar saham (DPS) yang dibayarkan setiap tahunnya

relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun labaper

lembar saham setiap tahunnya berfluktuasi. Beberapa

alasan yangmendorong perusahaan menjalankan kebijakan

dividen tersebut antaralain karena akan memberikan kesan

kepada para pemodal bahwaperusahaan mempunyai

prospek yang baik di masa mendatang danadanya golongan

pemodal tertentu yang menginginkan kepastian

dividenyang akan dibayarkan.

− Kebijakan Dividen dengan Penetapan Jumlah Dividen

Minimal Ditambah Dividen Ekstra. Kebijakan ini

menetapkan jumlah rupiah minimal dividen per

lembarsaham setiap tahunnya, dan jika terjadi peningkatan

laba secara drastisatau keadaan keuangan yang lebih baik

maka jumlah tersebut ditambahlagi dengan dividen ekstra.


− Kebijakan Dividen yang KonstanBerarti jumlah dividen per

lembar saham yang dibayarkan setiaptahunnya akan

berfluktuasi sesuai dengan perkembangan laba bersihyang

diperoleh setiap tahunnya. Hal ini berarti dividen

dianggapmempunyai isi informasi sebagai indikator

prospek perusahaan(membaik atau memburuk), maka

perubahan kebijakan dividen akanmeningkatkan atau

menurunkan harga saham hanya apabila hal

tersebutditafsirkan sebagai terjadinya perubahan prospek

perusahaan.Pembayaran dividen akan menjadi alat

monitoring sekaligus bondingbagi manajemen (Copeland

dan Weston, 1997). Pembagian dividen akanmembuat

pemegang saham mempunyai tambahan return selain

daricapital gain. Dividen juga membuat pemegang saham

mempunyaikepastian pendapatan dan mengurangi agency

cost of equity karenatindakan perquisites, yaitu tindakan

yang memunculkan biaya yangdikeluarkan tidak untuk

kepentingan perusahaan, karena internal cashflow akan

diserap untuk membayar dividen bagi pemegang saham.

Didalam pembayaran dividen oleh emiten, emiten selalum

mengumumkan secara resmi jadwal pelaksanakan pembayaran dividen

tersebut, baik dividen tunai maupun dividen saham.


Tanggal-tanggal yang perlu diperhatikan didalam pembayaran dividen

adalah (Ang, 1997):

a. Tanggal Deklarasi (Declaration Date)

Merupakan tanggal resmi pengumuman oleh emiten tentang

bentukdan besarnya serta jadwal pembayaran dividen yang dilakukan

b. Tanggal Pencatatan (Date of Record)

Pada tanggal ini perusahaan melakukan pencatatan nama-nama

pemegang saham. Para pemilik saham yang terdaftar pada

daftarpemegang saham diberikan hak sedangkan pemegang saham

yang tidakterdaftar pada tanggal pendaftaran tidak diberikan hak untuk

memperolehdividen.

c. Tanggal Eks-Dividen (Ex Dividen Date)

Tanggal dimana perdagangan saham tersebut tidak melekat lagi

hak untuk memperoleh dividen.

d. Tanggal Pembayaran (Payment Date)

Tanggal ini merupakan saat pembagian dividen oleh perusahaan

kepada pemegang saham yang telah mempunyai hak atas dividen.

Jadipada tanggal tersebut para investor sudah dapat mengambil

dividensesuai dengan bentuk dividen yang telah diumumkan oleh

emiten (dividen tunai maupun dividen saham).

2.1.4. Dividend Payout Ratio

Dividend Payout Ratio adalah perbandingan anatara dividend per share

dengan earning per share (Ang, 1997). Dividend Payout Ratio merupakan
presentase dari pendapatan yang akan dibayarkan kepadapara pemegang saham

sebagai cash dividend (Riyanto, 2002). Rasiopembayaran dividen (Dividend

Payout Ratio) menentukan jumlah labayang dibagi dalam bentuk dividen kas dan

laba yang ditahan sebagaisumber pendanaan. Rasio ini menunjukkan persentase

laba perusahaanyang dibayarkan kepada pemegang saham yang berupa dividen

kas.Apabila laba perusahaan yang ditahan untuk keperluan

operasionalperusahaan dalam jumlah besar, berarti laba yang akan

dibayarkansebagai dividen menjadi lebih kecil. Sebaliknya jika perusahaan

lebihmemilih untuk membagikan laba sebagai dividen, maka hal tersebut

akanmengurangi porsi laba ditahan dan mengurangi sumber pendanaan

intern.Namun, dengan lebih memilih membagikan laba sebagai dividen

tentusajaakan meningkatkan kesejahteraan para pemegang saham, sehinggapara

pemegang saham akan terus menanamkan sahamnya untukperusahaan tersebut.

2.1.5. Kebijakan Dividen

Menurut Husnan (1996) kebijakan dividen menyangkut masalah

penggunaan laba yang menjadi hak para pemegang saham, dan labatersebut

biasa dibagi sebagai dividen atau laba yang ditahan untukdiinvestasikan

kembali. Dengan demikian dimungkinkan membagi laba sebagai dividen dan

pada saat yang sama menerbitkan saham baru. Sedangkan Riyanto (2002)

mendefinisikan kebijakan dividen bersangkutan dengan penentuan pembagian

pendapatan (earning) antara pengunaan pendapatan untuk dibayarkan kepada

para pemegang saham sebagai dividen atau untuk digunakan di dalam


perusahaan, yang berarti laba tersebut harus ditahan di dalam perusahaan.

Kebijakan dividen penting karena 2 (dua) alasan, yaitu:

a. Pembayaran dividen mungkin akan mempengaruhi harga saham

b. Pendapatan yang ditahan (retained earning) biasanya merupakan sumber

tambahan modal sendiri yang terbesar dan terpenting untuk Pertumbuhan

Perusahaan

2.2 Telaah Penelitian Terdahulu

Linna (2017), mengidentifikasi determinan kebijakan dividen pada

perusahaan telekomunikasi di Indonesia menggunakan data panel empat

perusahaan telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2010-

2015. Rancangan analisisnya menggunakan analisis regresi berganda, analisis

koefisien korelasi, dan analisis koefisien determinasi, sedangkan pengujian

hipotesis menggunakan uji T dan uji F. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa

secara parsial tingkat pengembalian modal berpengaruh terhadap kebijakan

dividen, tetapi rasio lancar dan rasio hutang tidak berpengaruh signifikan

terhadap kebijakan dividen. Secara simultan tingkat pengembalian modal, rasio

lancar, dan rasio hutang berpengaruh terhadap kebijakan dividen.

Selanjutnya, Janny dan Hendra (2017) menguji pengaruh volatilitas

pendapatan, kebijakan dividen, dan pertumbuhan aset terhadap volatilitas harga

saham pada perusahaan manufaktur di Bursa Efek Indonesia untuk periode 2013

- 2015. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda.

Berdasarkan uji statistik, mereka menemukan bahwa volatilitas pendapatan

berpengaruh signifikan terhadap volatilitas harga saham. Sementara itu,


pertumbuhan DPR dan aset tidak berpengaruh signifikan. Berdasarkan uji

statistik F menunjukkan bahwa variabel EV, DPR, dan pertumbuhan berpengaruh

secara simultan terhadap volatilitas harga saham. Hasil uji determinasi koefisien

menunjukkan bahwa volatilitas pendapatan, DPR, dan pertumbuhan menjelaskan

nilai perusahaan 7,29%, dan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain diluar model.

Adapun Alia dan Mohammad (2016), meneliti pengaruh kondisi kebijakan

dividen, return on equity, current ratio, dan quick ratio pada perusahaan

manufakturyangterdaftar di BEI tahun 2014. Selain itu mereka juga meneliti

pengaruh curren ratio dan quick ratio terhadap kebijakan dividen melalui return

on equity. Penelitiaan mereka tergolong kuantitatif bersifat asosiatif kausalitas.

Sampel penelitian adalah 34 perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI tahun

2014 yang diperoleh melalui metode purposive sampling. Tehnik pengumpulan

data yang digunakan peneliti adalah tehnik dokumentasi. Analisis yang

digunakan dalam penelitian ini adalah analisis jalur (Path Analysis). Hasil

penelitian mereka menunjukkan bahwa: 1) kondisi kebijakan dividen dan ROE

perusahaan sampel tergolong baik, 2) kondisi CR dan QR perusahaan sampel

kurang baik, 3) CR tidak berpengaruh langsung terhadap kebijakan dividen,

namun berpengaruh tidak langsung melalui ROE, dan 4) QR tidak berpengaruh

positif signifikan terhadap kebijakan dividen dan ROE.


2.3 Rerangka Konseptual

Berdasarkan latar belakang dan teori diatas, peneliti mengindikasikan

bahwa tingkat pengembalian modal atau solvabilitas, rasio lancar atau

profitabilitas dan rasio hutang atau rentabilitas sebagai variabel independen dalam

penelitian ini yang akan mempengaruhi kebijakan dividen sebagai variabel terikat

atau variabel dependen.

Adapun rerangka konseptual penelitian disajikan sebagai berikut:


X1
Tingkat pengembalian
modal
Y
X2
Rasio lancar Kebijakan Dividen

X3

Rasio utang

2.4 Pengembangan Hipotesis

2.4.1 Pengaruh Tingkat Pengembalian Modal terhadap Kebijakan Dividen

Penelitian Nasser et.al (2015) melakukan peneitian yang menunjukkan

bahwa perusahaan-perusahaan dengan pendapatan yang lebih stabil dapat

mengusahakan aktiva lancar yang lebih besar agar likuidittas tetap terjaga

sehingga mampu membayar dividen lebih besar. Lebih lanjut perusahaan

mampu mendistribusikan dividen lebih besar kapan pun ketika perusahaan

sedang bertumbuh pesat.

H1: Tingkat pengembalian modal berpengaruh terhadap kebijakan dividen.


2.4.2 Pengaruh Rasio Lancar terhadap Kebijaan Dividen

Penelitian Halim (2013) yang menunjukkan bahwa variabel

rofitabilitas perusahaan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap

kebijakan dividen perusahaan. Semakin tinggi profitabilitas perusahaan

maka semakin tinggi pula dividen yang dibagikan oleh perusahaan tersebut

sebagai sinyal kepada para pemegang saham bahwa perusahaan dalam

kondisi profitable dan memiliki prospek yang baik dimasa mendatang.

H2: Rasio lancar berpengaruh terhadap kebijakan dividen.

2.4.3 Pengaruh Rasio Hutang terhadap Kebijakan Dividen

Penelitian Ismiyanti dan Hanafi (2003) menyatakan bahwa rasio

hutang memiliki pengaruh negatif terhadap kebijakan dividen, karena

penggunaan hutang yang terlalu tinggi akan menyebabkan penurunan

dividen yang mana sebagian besar keuntungan akan dialokasikan sebagai

cadangan pelunasan hutang. Sebaliknya, pada tingkat hutang yang rendah

perusahaan membagikan dividen yang tinggi sehingga sebagian besar laba

digunakan untuk kesejahteraan pemegang saham.

H3: Rasio hutang berpengaruh terhadap kebijakan dividen.


BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Berdasarkan bentuk permasalahannya, penelitian ini tergolong sebagai

penelitian asosiatif. Penelitian asosiatif adalah penelitian yang bersifat

menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih. Bentuk hubungan yang

dianalisis dalam penelitian ini adalah bentuk hubungan kausal. Hubungan kausal

adlah hubungan sebab akibat, artinya hubungan sebab akibat antara variabel

independen (variabel yang mempengaruhi) dan variabel dependen

(dipenggaruhi). (Sugiyono, 2016 : 36-37).

Adapun variabel independen dalam penelitian ini adalah Tingkat

Pengembalian Modal /Return On Equity (ROE), Rasio Lancar / Current Ratio

(CR), Rasio Hutang / Debt to Equity Ratio (DER). Sedangkan variabel dependen

dalam penelitian ini adalah Kebijakan Dividen / Dividen Payout Ratio (DPR).

3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan pada perusahaan terbuka khususnya perusahaan yang

bergerak di bidang Telekomunikasi yang membayarkan dividend dan terdaftar

pada Bursa Efek Indonesia (BEI). Alasan dipilihnya perusahaan yang terdaftar di

Bursa Efek Indonesia adalah untuk memudahkan peneliti dalam mengakses data

penelitian.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

dokumentasi. Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu


(Sugiyono, 2016 : 240). Metode dokumentasi dalam penelitian ini bersumber dari

data-data sekunder berupa laporan keuangan tahunan perusahaan yang

membayarkan dividen.

3.4 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder, dimana data sekunder

adalah sumber yang tidak langsung diberikan kepada pengumpul data, tetapi

melalui orang lain atau melalui dokumen. (Sugiyono, 2016 : 137). Sumber data

yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri atas laporan keuangan tahunan

perusahaan yang membayarkan dividend an terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

3.5 Populasi dan Sampel Penelitian

3.5.1 Populasi

Populasi adalah wilayah generalisassi yang terdiri atas : objek atau

subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan

oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian untuk ditarik kesimpulannya

(Sugiyono, 2016 : 80). Populasi dalam penelitian ini adalah perusahaan

Telekomunikasi yang membayarkan dividennya dan terdaftar pada Bursa

Efek Indonesia tahun 2016 – 2017.

3.5.2 Sampel

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh

populasi tersebut (Sugiyono, 2016 : 81). Sampel dalam penelitian ini dipilih

menggunakan metode purposive sampling. Purposive sampling adalah

teknik pemilihan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2016 :


85). Adapun kriteria-kriteria yang digunakan dalam pemilihan sampel

penelitian ini :

1. Perusahaan yang membayarkan dividend an dipublikasi oleh Bursa Efek

Indonesia tahun 2016-2017.

2. Perusahaan yang termasuk adalah perusahaan yang bergerak dibidang

telekomunikasi .

3. Perusahaan menerbitkan laporan keuangan tahunan di Bursa Efek

Indonesia tahun 2016-2017.

3.6 Identifikasi dan Klasifikasi Variabel

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri atas :

1. Variabel Dependen

Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang

dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas

(Sugiyono, 2016 : 39). Variabel dependen dalam penelitian ini adalah

Kebijakan Dividen / Dividen Payout Ratio (DPR).

2. Variabel Independen

Variabel independen atau variabel bebas merupakan variabel yang

mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya

variabel dependen (Sugiyono, 2016 :39). Variabel independen dalm

penelitian ini adalah Tingkat Pengembalian Modal /Return On Equity (ROE),

Rasio Lancar / Current Ratio (CR), Rasio Hutang / Debt to Equity Ratio

(DER).
3.7 Definisi Konseptual dan Operasional Variabel

3.7.1 Variabel Dependen

Variabel dependen yang dianalisis dalam penelitian ini adalah

Kebijakan Dividen / Dividen Payout Ratio (DPR). Kebijakan dividen

bersangkutan dengan penentuan pembagian pendapatan (earnings) yang

dibayarkan kepada para pemegang saham sebagai dividen. Yang diukur

dengan membagi antara dividend per share dan Earning per share ,

Ismawati (2017).

𝐷𝑖𝑣𝑖𝑑𝑒𝑛𝑑 𝑝𝑒𝑟 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒


(Dividen Payout Ratio = 𝑒𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔𝑠 𝑝𝑒𝑟 𝑠ℎ𝑎𝑟𝑒 × 100%).

3.7.2 Variabel Independen

Variabel independen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Tingkat Pengembalian Modal /Return On Equity (ROE) atau rasio

profitabilitas merupakan gambaran kinerja manajemen dalam mengelola

perusahaan yang diukur. ROE diukur dengan membandingkan antara

Laba setelah pajak dengan totan ekuitas, Ismawati (2017).

𝐸𝑎𝑟𝑛𝑖𝑛𝑔𝑠 𝑎𝑓𝑡𝑒𝑟 𝑡𝑎𝑥


( 𝑅𝑒𝑡𝑢𝑟𝑛 𝑂𝑛 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 = × 100% ).
𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝑒𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦

2. Rasio Lancar / Current Ratio (CR) merupakan jumlah utang lancar yang

mampu dibayarkan menggunakan aktiva lancar perusahaan. Rasio lancar

digunkan untuk melihat tingkat likuiditas perusahaan. Rasio lancar

diukur dengan membagi antara Hutang Lancar dengan Aktiva Lancar ,

Ismawati (2017).

𝐴𝑘𝑡𝑖𝑣𝑎 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟
(𝐶𝑢𝑟𝑟𝑒𝑛𝑡 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = 𝐻𝑢𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑛𝑐𝑎𝑟 × 100%).
3. Rasio Hutang / Debt to Equity Ratio (DER) merupakan rasio yang

diperoleh dari pembagian antara total hutang yang dimiliki oleh

perusahaan dengan total asset yang dimiliki oleh perusahaan, Ismawati

(2017).

𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐷𝑒𝑏𝑡
(𝐷𝑒𝑏𝑡 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 𝑅𝑎𝑡𝑖𝑜 = 𝑇𝑜𝑡𝑎𝑙 𝐸𝑞𝑢𝑖𝑡𝑦 × 100%).

3.8 Prosedur Analisis Data

3.8.1 Analisis Data

Menurut Sugiyono (2012 :206) yang dimaksud dengan analisis data adalah :

“Analisis data merupakan kegiiatan setelah dari seluruh responden terkumpul.

Kegiatan dalam analisis data adalah : mengelompokkan data berdasarkan

variabel dan jenis responden, menyajikan data dari tiap variabel yang diteliti,

melakukan perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan

perhitungan untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.”

Analisis data yang akan digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

1. Statistik Deskriptif

Menurut Sugiyono (2012 :206) statistik deskriptif yaitu :

“statistik yang digunankan untuk menganalisis data dengan cara

mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul

sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang

berlaku untuk umum atau generalisasi”


Uji statistik ini ditunjukkan untuk mengidentifikasi profil distribusi

perusahaan. Hasil dari pengujian ini diharapkan mampu mengestimasi

validitas dan reabilittas data yang akan digunakan dalam uji statistik

setiap hipotesis penelitian. Statistik deskriptif ini meliputi jumlah sampel

(N), rata-rata sampel (mean) , nilai maksimum, nilai minimum, dan

standar deviasi yang digunakan sebagai langkah awal analisis data.

Dalam analisis ini dilakukan pembahasan mengenai bagaimana pengaruh

profitabilitas, rentabilitas, dan solvabilitas terhadap kebijakan dividen.

2. Analisis Verifikatif

Analisis verifikatif merupakan analisis model dan pembuktian

yang berguna untuk mencari kebenaran dari hipotesis yang diajukan.

Dalam penelitian ini, analisis verifikatif bermaksud untuk mengetahui

hasil penelitian yang berkaitan dengan pengaruh profitabilitas,

rentabilitas, dan solvabilitas terhadap kebijakan dividen.

1.8.2 Rancangan Pengujian Hipotesis

1.8.2.1 Prosedur Analisis Data

1. Analisis Statistik

Analisis statistik adalah cara-cara mengola data yang terkumpul

untuk kemudian dapat memberikan interprestasi. Hasil pengolahan data

ini digunakan untuk menjawab permasalahan yang telah dirumuskan.

Analisis ini digunakan untuk menunjukkan hubungan antara variabel

bebas (X) dengan variabel terikat (Y). Analisis statistik meliputi :

a. Uji Asumsi Klasik


Dalam penelitian ini, peneliti akan melakukan uji statistik regresi

dalam mempelajari hubungan yang ada diantara variabel-variabel tidak

bebas jika variabel bebasnya diketahui atau sebaliknya. Pada praktiknya

ada empat uji asumsi klasik yang paling sering digunakan, yaitu :

1. Uji Normalitas

2. Uji Multikolinearitas

3. Uji Heterokesdastisitas

4. Uji Autokorelasi

Berikut ini adalah uji asumsi klasik yang harus dipenuhi oleh model

regresi :

1. Uji Normalitas

Pengujian ini dilakukan untuk melihat apakah sebaran data yang

ada terdistribusi secara normal/tidak. Model regresi yang baik adalah

memiliki distribusi data normal. Untuk mendeteksi normalitas dapat

dilakukan dengan analisis grafik dan uji statistik. Salah satu cara

termudah untuk melihat normalitas residual yaitu dengan melihat grafik

histogram yang membandingkan antara data observasi dengan distribusi.

Hal ini dapat menyesatkan khususnya untuk jumlah sampel yang kecil.

Metode yang lebih handal adalah dengan melihat normal probability plot

yang membandingkan distribusi kumulatif dan distribusi normal.

Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan ploting

data residual akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi


data residual normal maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya

akan mengikuti garis diagonalnya (Ghozali, 2006 : 147).

Uji normalitas dengan grafik dapat menyesatkan apabila tidak

hati - hati, karena mungkin secara visual terlihat normal, padahal secara

statistik bisa sebaliknya. Oleh sebab itu ada juga penelitian yang

menggunakan uji grafik juga menggunakan uji statistik. Salah satu uji

statistik yang bisa digunakan untuk menguji normalitas residual adalah uji

statistik nonparametik Kolmogorov -Smirnov (K-S). Uji K-S dilakukan

dengan membuat hipotesis :

Ho : Data residual berdistribusi normal

Ha : Data residual tidak berdistribusi normal

Pedoman pengambilan keputusan :

a. Nilai sig atau signifikansi atau nilai probabilitas < 0,05. Distribusi

adalah tidak normal.

b. Nilai sig atau signifikansi atau nilai probabilitas > 0,05. Distribusi

adala normal.

2. Uji Multikolinearitas

Uji multikolinearitas bertujuan untuk menguji apakah model

regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen). Jika

variabel bebas saling berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak

ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi

antar sesama variabel bebas sama dengan nol (Imam Gozali, 2007).

Akibat bagi model regresi yang mengandung multikolinearitas adalah


bahwa kesalahan standar estimasi akan cenderung meningkat dengan

bertambahnya variabel bebas, tingkat signifikansi yang digunakan untuk

menolak hipotesis nol akan semakin besar, dan probabilitas akan

menerima hipotesis yang salah juga akan semakin besar (Imam Gozali,

2007).

Menurut Singgih Santoso (2012:236) rumus yang digunakan

adalah sebagai berikut :


1 1
𝑉𝐼𝐹 = 𝑇𝑜𝑙𝑒𝑟𝑎𝑛𝑐𝑒 atau 𝑇𝑜𝑙𝑒𝑟𝑎𝑛𝑐𝑒 = 𝑉𝐼𝐹

Keterangan :

VIF = Variance Inflation Factor

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya gejala multikolinearitas di dalam

model regresi adalah sebagai berikut :

1. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris

sangat tinggi, tetapi secara individual variabel -variabel bebas banyak

yang tidak signifikan mempengaruhi variabel terikat.

2. Menganalisis matrik korelasi antar variabel bebas. Jika ada korelasi

yang cukup tinggi, maka didalam model regresi tersebut terdapat

multikolinearitas.

3. Multikolinearitas dapat dilihat dari nilai tolerance dan VIF (variance

inflation faktor). Jika nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai

VIF tinggi, maka menunjukkan adanya kolonieritas yang tinggi

(karena VIF=1/Tolerance ). NilaiCutoff yang umum dipakai untuk


menunjukan adanya multikolinearitas adalah nilai tolerance < 0.10

atau sama dengan nilai VIF >10.

3. Uji Autokorelasi

Uji Autokorelasi bertujuan menguji apakah dalam model regresi

linear ada korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pengganggu pada periode t -1 (sebelumnya). Autokorelasi

keadaan dimana variabel gangguan pada periode sebelumnya.

Autokorelasi muncul karena observasi yang berurutan sepanjang waktu

berkaitan satu sama lain. Hal ini sering ditemukan pada data time series

karena gangguan pada individu atau kelompok yang sama pada periode

berikutnya. Cara yang digunakan untuk mendiagnosis adanya

autokorelasi adalah dengan uji Durbin-Watson (DW test).

∑(𝑒𝑡 − 𝑒𝑡−1 )
𝐷−𝑊 =
∑ 𝑒𝑡 2

Pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi (Imam Ghozali, 2007)

adalah:

a. Bila DW terletak antara batas atas (Upper bound/ du) dan 4-du,

maka tidak ada autokorelasi.

b. Bila DW lebih rendah dari pada batas bawah (Lower bound/ dl)

maka ada autokorelasi positif.

c. Bila nilai DW lebih besar dari (4-dl), maka ada autokorelasi

negatif.
d. Bila nilai DW terletak antara (4-du) dan diantara (dl-du) maka

hasilnya tidak dapat disimpulkan.

4. Uji Heterokedastisitas

Uji heterokedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model

regresi terjadi ketidaksamaan Varians dari residual satu pengamatan ke

pengamatan lain. Heterokedastisitas terjadi apabila variabel gangguan

tidak mempunyai varians yang sama untuk semua observasi. Model

regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi

heterokedastisitas. Heterokedastisitas merupakan indikasi bahwa varian

antar residual tidak homogen yang mengakibatkan nilai taksiran yang

diperoleh tidak lagi efisien. Untuk menguji apakah varian dari residual

homogen digunakan uji rank Spearman, yaitu dengan mengkorelasikan

kelima variabel independen terhadap nilai absolut dari residual (error).

Apabila ada koefisien korelasi variabel bebas yang signifikan pada

tingkat kekeliruan 5%, mengindikasikan terjadinya heterokedastisitas. 56

Cara lain untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah

dengan melihat grafik Plot antara nilai prediksi variabel terikat (ZPRED)

dengan residualnya (SRESID). Jika ada pola tertentu, seperti titik - titik

yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar

kemudian menyempit), maka mengindikasikan telah terjadi

heteroskedastisitas, jika tidak ada pola yang jelas, serta titik -titik

menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y maka tidak terjadi

heteroskedastisitas .
b. Analisis Regresi Linier Berganda

Menurut Sugiyono (2011 : 277) mendefinisikan analisis regresi linier

berganda adalah sebagai berikut :

“Analisis yang digunakan peneliti, bila bermaksud meramalkan

bagaimana keadaan (naik turunnya) variabel dependen 9kriterium), bila

dua atau lebih variabel independen sebagai faktor prediktor dimanipulasi

(dinaikturunkan nilainya).”

Analisis regresi linier berganda bertujuan untuk menerangkan

besarnya pengaruh profitabilitas, solvabilitas, dan rentabilitas terhadap

kebijakan dividen. Persamaan linier berganda secara umum untuk

menguji hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

𝑌 = 𝛽0 + 𝛽1 𝑋1 + 𝛽2 𝑋2 + 𝛽3 𝑋3 + 𝜀

Sumber : Umar (20111:213)

Keterangan :

Y = Kebijakan Dividen (Dividend Payout Ratio)

X1 = Tingkat Pengembalian Modal /Return On Equity (ROE

X2 = Rasio Lancar / Current Ratio (CR)

X3 = Rasio Hutang / Debt to Equity Ratio (DER)

β0 = Konstanta merupakan nilai terikat yang dalam al ini adalah Y pada

saat variabel bebasnya adalah 0 (X1 dan X2 = 0).

β1= Koefesien regresi multiple antara variabel bebas X1 terhadap variabel

terikat Y, bila variabel bebas lainnya dianggap konstan.

ε =faktor pengganggu diluar model (error).


Arti koefesien β adalah jika nilai β positif (+), hal tersebut

menunjukkan hubungan searah antara variabel bebas dengan variabel

terikat dengan kata lain, peningkatan atau penurunan besarnya variabel

bebas akan diikuti oleh peningkatan atau penurunan variabel terikat.

Sedangkan jika β negatif (-), hal tersebut menunjukkan hubungan yang

berlawanan antara variabel bebas dengan variabel terikat. Dengan kata

lain, setiap penngkatan besarnya nilai variabel bebas akan diikuti oleh

penurunan besarnya nilai variabel terikat dan sebaliknya.

Selanjutnya untuk mengetahui apakah hubungan yang telah ada

mempunyai faktor kadar tertentu, maka harus melihat dua hal. Yaitu ada

(dalam pengertian nyata atau berarti) atau tidak ada keterkaitan antara

Kebijakan Dividen (Y) dengan Profitabilitas (X1), Rentabilitas (X2) dan

Solvabilitas (X3).

c. Analisis Korelasi

1. Analisis Korelasi Parsial

Besarnya pengaruh masing -masing komponen variabel bebas

secara parsial, yaitu faktor profitabilitas, rentabilitas, dan solvabilitas

terhadap variabel tidak bebas yaitu kebijakan dividen dapat diketahui

dengan menggunakan korelasi parsial. Koefisien korelasi parsial antara

masing-masing variabel independen tersebut dengan variabel dependen


rXY.Z=[rXY-(rRZ)(rYZ)]/[1-r2XZ1-r2YZ]
dapat dihitung sebagai berikut :

Sumber : Husein Umar (2011 : 231)


Ketentuan untuk melihat tingkat keeratan korelasi digunakan acuan pada

tabel di bawah ini.

Tabel 3.5

Pedoman untuk Memberikan

Interprestasi terhadap Koefisien Korelasi

Interval Koefesien Tingkat Hubungan

0,00 – 0, 199 Sangat Rendah

0,20 – 0, 399 Rendah

0,40 – 0, 599 Sedang/ Cukup Kuat

0, 60 – 0, 799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

Sumber : Sugiyono (2010 : 231)

2. Analisis Korelasi Berganda

Analisis korelasi berganda digunakan untuk mengukur kuat

lemahnya hubungan antarvariabel profitabilitas, solvabilitas dan

rentabilitas dengan kebijakan dividen pada perusahaan telekomunikasi

yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Rumus dari korelasi berganda adalah :

RY.X1X2 = b1ΣX1Y + b2X2Y + b3X3Y ΣY2

Sumber = Husein Umar (2011 : 233)


Keterangan:

R = Koefisien korelasi berganda

X1 = profitabilitas

X2 = rentabilitas

X3= solvabilitas

Y = kebijakan dividen

n = Banyaknya sampel

Kuat atau tidaknya hubungan antara ketiga variabel dapat dilihat dari

beberapa kategori koefisien korelasi mempunyai nilai 0 ≤ R ≤ 1 dimana :

a. Apabila R=1, maka korelasi antara ketiga variabel dikatakan

sempurna; dan

b. Apabila R=0, maka hubungan antara kedua variabel sangat lebar atau

tidak ada hubungan sama sekali.

3. Pengujian Hipotesis

1. Uji Parsial (Uji-t / Uji Keberartian Koefisien)

Uji statistik t pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh suatu

variabel independen secara parsial dalam menerangkan variabel

dependen.

Pengujian ini dilakukan uji dua arah dengan hipotesis:

H0 : β1=0 artinya tidak ada pengaruh dari variabel independent terhadap

variabel dependen.

Ha : β1<0 atau β1>0 artinya ada pengaruh dari variabel independen

terhadap variabel dependen.


Untuk menghitung nilai thitung digunakan rumus:

𝑠𝑒𝛽1
thitung = 𝛽1

Dimana:

β1 = koefisien korelasi

Se (β1) = standar error koefisien regresi

Kriteria pengujian:

1. H0 diterima dan Ha ditolak apabila thitung < ttabel , artinya variabel

independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel

dependen.

2. H0 ditolak dan Ha diterima apabila thitung > ttabel , artinya variabel

independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen.

Alternatif lain untuk melihat pengaruh secara parsial adalah dengan

melihat nilai signifikansinya, apabila nilai signifikansi yang terbentuk

dibawah 5% maka terdapat pengaruh yang signifikan variabel

independen secara parsial terhadap variabel dependen. Sebaliknya bila

signifikansi yang terbentuk diatas 5% maka tidak terdapat pengaruh yang

signifikan variabel independen secara parsial terhadap variabel

dependen.

4. Koefisien Determinasi

Besarnya pengaruh Profitabilitas (X1), Rentabilitas (X2), dan

Solvabilitas (X3)terhadap kebijakan dividen (Y) dapat diketahui dengan


menggunakan analisis koefisien detreminasi atau disingkat Kd yang

diperoleh dengan mengkuadratkan koefiien korelasinya, yaitu :

Kd=r2 × 100%

Sumber : Umi Narimawati (2010 : 50)

Keterangan :

Kd = Koefisien determinasi atau sebarapa jauh perubahan variabel Y

dipergunakan oleh variabel X

r2 = Kuadrat koefisien korelasi

100% = pengkali yang menyatakan dalam persentase

Dengan diketahuinya koefisien korelasi antara masing-masing

Profitabilitas (X1), Rentabilitas (X2), dan Solvabilitas (X3) serta

Kebijakan dividen (Y), kita bisa menentukan koefisien determinasi.

Koefisien determinasi tersebut digunakan untuk mengetahui besarnya

pengaruh yang ditimbulkan masing-masing variabel bebas (X1, X2, X3)

terhadap variabel terikat (Y).

Pada hakikatnya nilai r berkisar antara -1 dan 1, bila r mendekati -1 atau

1 maka dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang erat antara variabel

bebas dengan variabel terikat. Bila r mendekati 0, maka dapat dikatakan

bahwa hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat sangat

lemah atau bahkan tidak ada.

5. Penarikan Kesimpulan

Dari hipotesis-hipotesis yang didapat, ditarik kesimpulan apakah

variabel-variabel bebas secara simultan memiliki pengaruh yang


signifikan atau tidak terhadap variabel terikat, dan pengaruh variabel

bebas terhadap variabel terikat secara parsial. Dalam hal ini ditunjukkan

dengan penolakan H0 atau penerimaan hipotesis alternatif H1.

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengumpulan Data

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui beberapa faktor yang

berpengaruh terhadap kebijakan deviden pada perusahaan dalam bidang

Telekomunikasi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Berdasarkan kriteria

yang telah ditentukan pada bab sebelumnya, sehingga jumlah sampel sebanyak 5

perusahaan Telekomuikasi yang diambil sampel dari tahun 2015- 2017.

4.2 Statistik Deskriptif

Statistik merupakan pengujian statistik yang digunakan untuk mengetahui

gambaran umum data penelitian. Pengujian statistik deksiptif dalam penelitian ini

meliputi nilai minimum, nilai maksimum, rata-rata dan standar deviasi. Berikut

hasil uji statistik deksriptif dari masing-masing variabel penelitian.


Tabel 1

Keterangan :

DPR = DIviden per share

ROE = Return of Equity

CR = Current Ratio

DER = Debt to Equity Ratio

Tabel di atas menunjukan bahwa variabel DPR memiliki nilai

minimum sebesar 0,0 yaitu :

PT Excel, PT FREN dan PT BTEL sementara nilai Maximum terdapat

pada perusahaan 0,34 yaitu PT ISAT.Nilai rata-rata DER Sebesar 0,0253

dengan standar devisiasi 0,08733 menunjukan bahwa data DER kurang

bervariasi dan kurang tersebar dari rata-ratanya.

Variabel ROE Perusahaan memiliki nilai minimum sebesar - 0,34 yaitu

PT FREN sementara nilai maximum sebesar 0,69 yaitu PT BTEL. Nilai rata-

rata ROE Sebesar 0,0827 dengan standar devisiasi 0,2897 menunjukan bahwa

data DER kurang bervariasi dan kurang tersebar dari rata-ratanya.


Variabel CR Perusahaan memiliki nilai minimum sebesar 0.00 yaitu PT

BTEL sementara nilai maximum sebesar 1,20 yaitu PT TLKM. Nilai rata-rata

CR Sebesar 0,3890 dengan standar devisiasi 0,33025 menunjukan bahwa data

DER kurang bervariasi dan kurang tersebar dari rata-ratanya.

Variabel DER Perusahaan memiliki nilai minimum sebesar -1,19 yaitu

PT BTEL sementara nilai maximum sebesar 3,18 yaitu PT EXCEL. Nilai

rata-rata ROE Sebesar 1,4373 dengan standar devisiasi 1,53178 menunjukan

bahwa data DER kurang bervariasi dan kurang tersebar dari rata-ratanya.

4.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas data bertujuan mengetahui apakah data yang

digunakan dalam penelitian telah terdistribusi dengan normal. Ghozali

(2005) menyatakan bahwa pendekatan uji One-Sample Kolmogrov-

Smirnov dapat digunakan untuk menguji normalitas data. Hasil uji

normalitas tersaji pada table berikut ini:


Table 3

Uji Normalitas Data

Hasil uji normalitas data dengan one-sample Kolmogrov-

Smirnov menunjukkan bahwa nilai p sebesar 0,00. Nilai tersebut lebih

kecil dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam

penelitian ini telah berdistribusi dengan tidak normal.

4.2.2 Uji Multikolinieritas

Multikolinieritas merupakan pengujian yang digunakan untuk

mengetahui korelasi antar variabel independen. Medel regresi yang

baik mengharapkan korelasi yang rendah antar variabel independen.

Keberadaan multikolinieritas dideteksi dengan varians inflating factor

(VIF) dan tolerance (Ghozali, 2005). Hasil uji multikolinieritas tersaji

pada tabel berikut ini.


Tabel 4

Uji Multikolinieritas

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Hasil uji multikolinieritas menunjukkan bahwa variabel dalam

penelitian ini menunjukkan bahwa nilai torelance di atas 10% da

semua nilai VIF di bawah 10, sehingga disimpulkan bahwa dalam

model tidak terjadi multikolinieritas.

4.2.3 Uji Autokorelasi

Ghozali (2005) menyatakan bahwa uji autokorelasi adalah

sebuah pengujian yang bertujuan untuk menguji apakah di dalam

model regresi linier ada korelasi antara kesalahan penggangu pada

periode t denga kesahalan penggangu pada periode t-1. Cara untuk

mendeteksi autokorelasi adalah menggunakan kriteria bahwa jika nilai

D-W hitung mendekati +2 maka dalam model regresi tidak terjadi

autokorelasi. Hasil uji autokerelasi dengan Durbin Watson dapat

dilihat pada tabel berikut.


Tabel 5

Uji Autokorelasi

Sumber: Hasil Pengolahan Data

4.2.4 Uji Heteroskedastisitas

Uji Heteroskedastisitas dilakukan untuk menguji apakah dalam

model regresi terjadi ketidaksamaan variavce dari residual suatu

pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik adalah

yang homokedastisitas atau tidak heteroskedastisitas (Ghozali, 2005).

Uji Heteroskedastisitas dalam penelitian ini diuji dengan Scaterplots

(Ghozali, 2005). Hasil uji heteroskedastisitas dapat dilihat pada

gambar berikut ini:

Table 4

Uji Heteroskedastisitas

5.

6.

7.

8.

Berdasarkan output diatas diketahui bahwa nilai signifikansi

variabel ROE (X1) sebesar 0.679 lebih besar dari 0,05 artinya tidak
terjadi heterokedastisitas pada variabel motivasi (X1). Sementara itu,

diketahui nilai signifkansi variabel CR (X2) yakni 0,869 lebih besar

dari 0,05 artinya tidak terjadi heterokedastisitas pada variabel minat

(X2). Sedangkan pada variabel DER (X3) diketahui nilai signifikansi

yakni sebesar 0,439 lebih besar dari 0,05 artinya tidak terjadi

heterokedastisitas pada variabel DER (X3).

4.3 Tabel 5. Analisis Regresi Berganda

Dari persamaan regresi linear berganda diatas sebagai berikut :

tanda koefisien variabel bebas menunjukkan arah hubungan dari

Tingkat pengembalian modal, rasio lancar, dan rasio hutang dengan

kebijakan dividen (Dividend Payout Ratio). Koefisien regresi untuk

Tingkat Pengembalian Modal (ROE) menunjukkan adanya hubungan

yang searah antara tingkat pengembalian modal dengan kebijakan

dividen. Jika tingkat pengembalian modal meningkat maka perusahaan

akan meningkatkan pembayaran dividen kepada investor. Koefisien

regresi untuk Rasio Lancar bernilai negative menunjukkan adanya

hubungan yang tidak searah dengan kebijakan dividen. Penurunan

pembayaran dividen bisa terjadi jika perusahaan berusaha untuk

menjaga likuiditas dengan tidak membagikan laba kepada investor.


Perusahaan menahan laba dengan menginvestasikan pada asset lancar

untuk dapat memenuhi kewajiban jangka pendeknya.

Koefisien regresi untuk variabel bebas Rasio hutang bernilai

negatif, menunjukkan adanya hubungan yang tidak searah antara rasio

hutang dengan kebijakan dividen dimana jika rasio hutang mengalami

peningkatan maka Kebijakan dividen mengalami penurunan.

Perusahaan mengurangi pembayaran dividen atau bahkan tidak

membagikan dividen karena perusahaan dihadapkan pada kewajiban

membayar hutang termasuk biaya hutang yang harus dikeluarkan

(beban bunga). Pendapatan yang diterima akan digunakan untuk

membayar hutang dan biaya bunga sehingga laba mengalami

penurunan. Hal ini berdampak terhadap penurunan pembayaran

dividen.

Hasil analisis koefisien korelasi dan koefisien determinasi dapat dilihat

pada tabel x berikut :

abel 6. Koefisien Korelasi dan Koefisien Determinasi

Berdasarkan tabel 4 diperoleh koefisien korelasi 0,744 dan

koefisien determinasi sebesar 0,600. Hal ini berarti bahwa Tingkat

Pengembalian Modal, Rasio Lancar, dan Rasio Hutang memiliki

hubungan yang kuat dengan Kebijakan Dividen. Tingkat


Pengembalian Modal, Rasio Lancar, dan Rasio Hutang berpengaruh

sebesar 60% terhadap Kebijakan Dividen.

4.4 Hasil pengujian hipotesis seperti terlihat pada tabel x berikut ini :

Tabel x. Uji Hipotesis Parsial

Secara parsial tingkat pengembalian modal berpengaruh positif

terhadap kebijakan dividen. Hal ini sesuai dengan penelitian yang

dilakukan oleh Lintner dalam Baker et al. (2001), sedangkan rasio

lancar dan rasio hutang berpengaruh tidak signifikan terhadap

kebijakan dividen. Hal ini tidak sejalan dengan hasil penelitian yang

dilakukan oleh Nasser et al. (2015).

Secara simultan diperoleh hasil bahwa tingkat pengembalian

modal, rasio lancar dan rasio hutang berpengaruh signifikan terhadap

kebijakan dividen seperti terlihat pada tabel x :

Tabel 7. Uji Hipotesis Simultan


BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

Secara parsial tingkat pengembalian modal berpengaruh positif signifikan

terhadap kebijakan dividen sedangkan rasio lancar dan rasio hutang berpengaruh

negatif tidak signifikan terhadap kebijakan dividen.

Secara Simultan Tingkat Pengembalian Modal (ROE), Rasio lancar (CR)

dan Rasio Hutang (DER) berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen

(DPR).

Tingkat pengembalian modal memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan

dividen oleh karena itu modal yang berhasil dihimpun dari pemegang saham harus

dimanfaatkan secara optimal oleh perusahaan agar mampu menghasilkan

keuntungan yang besar sehingga pembayaran dividen semakin meningkat. Selain

itu ketika perusahaan menjaga likuiditas dan meningkatkan komposisi hutang

maka perusahaan harus mampu membayar dividen dari cadang likuiditas yang

tersedia. Jumlah hutang atau modal pinjaman yang diperoleh perusahaan harus

dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan omzet perusaahan sehingga

menghasilkan laba untuk dibagikan kepada pemegang saham


DAFTAR PUSTAKA

Ismawati, Linna. 2017. Determinan kebijakan dividen pada perusahaan

telekomunikasi di Indonesia. Fakultas Ekonomi dan Bisnis : Universitas

Komputer Indonesia, Bandung .

Lismawati, linna. 2017. Determinan kebijakan deviden pada perusahaan

telekomunikasi di Indonesia. Jurnal inspirasi bisnis dan manajemen. Vol, 1 (1).

Permana, hendika arga. 2016. Analisis pengaruh leverage, likuiditas, profitabilitas,

pertumbuhan perusahaan dan ukuran perusahaan terhadap kebijakan deviden

pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI. Skripsi. Fakultas ekonomi:

universitas Yogyakarta.

Sari, amelia herda novita dan sisdjiatmo k. widhaningrat. 2014. Analisi pengaruh

return on equity, earning per share, current ratio, quick ratio, current earning

dan growth opportunity terhadap deviden payout ratio perusahaan manufaktur

yang terdaftar di BEI Indonesia tahun periode 2010-2013. Fakultas ekonomi,

universitas Indonesia.

Simanjuntak, damaris dan Kiswanto. 2017. Determinan kebijakan deviden pada

perusahaan manufaktur di Indonesia tahun 2011-2013. Jurnal dinamika

akuntansi, 7(2).

Sugiyono. 2011. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung : CV Alfaberta.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan R&D. Bandung : CV

Alfaberta.