Anda di halaman 1dari 7

Topik: Dengue Shock Syndrome

Tanggal (kasus): 14-12-2018 Presenter: dr. Faridlotul Hakimah


Tangal presentasi: Pendamping: dr. Zaenul Arifin M.Kes
Tempat presentasi: RS Siti Khodijah Sepanjang Sidoarjo
Obyektif presentasi:
□ Keilmuan √ □ Keterampilan □ Penyegaran □ Tinjauan pustaka
□ Diagnostik √ □ Manajemen√ □ Masalah □ Istimewa
□ Neonatus □ Bayi □ Anak √ □ Remaja □ Dewasa □ Lansia □ Bumil
□ Deskripsi: Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, ibu pasien mengatakan bahwa anaknya
mengalami panas badan. Panas badan muncul tiba-tiba. Panas badan dirasakan terus-
menerus pada pagi, siang dan malam hari. Panas lebih dirasakan pada saat malam hari
dibandingkan siang hari. Panas tersebut turun setelah pasien minum obat penurun panas,
namun beberapa jam kemudian panas muncul kembali.
Keluhan pasien disertai dengan nyeri kepala, nyeri sendi, mual, dan muntah. Pasien
tidak mau minum dan terlihat lemas. Keluhan tidak disertai bercak kemerahan pada kulit,
mimisan, gusi berdarah, dan tanda pendarahan di tempat lainnya. Tidak ada keluhan buang
air kecil, namun setiap buang air kecil selalu disertai mencret. Tidak ada riwayat nyeri dan
keluar cairan dari telinga, batuk, sesak nafas, pilek, dan nyeri menelan. Keluhan juga tidak
disertai penurunan kesadaran, kejang, ujung-ujung jari kaki dan tangan dingin, serta
kebiruan pada daerah sekitar mulut.
□ Tujuan: Penegakan diagnosis, manajemen dan prognosis pada kasus ini
Bahan bahasan: □ Tinjauan pustaka □ Riset □ Kasus √ □ Audit
Cara membahas: □ Diskusi □ Presentasi dan diskusi √ □ E‐mail □ Pos
Data pasien: Nama: An. V, usia 12 tahun, perempuan No Rekam Medis: 571663
Data utama untuk bahan diskusi:
1. Diagnosis/Gambaran Klinis: Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, ibu pasien
mengatakan bahwa anaknya mengalami panas badan. Panas badan muncul tiba-tiba.
Panas badan dirasakan terus-menerus pada pagi, siang dan malam hari. Panas lebih
dirasakan pada saat malam hari dibandingkan siang hari. Panas tersebut turun setelah
pasien minum obat penurun panas, namun beberapa jam kemudian panas muncul
kembali. Keluhan pasien disertai dengan nyeri kepala, nyeri sendi, mual, dan muntah.
Pasien tidak mau minum dan terlihat lemas. Keluhan tidak disertai bercak kemerahan
pada kulit, mimisan, gusi berdarah, dan tanda pendarahan di tempat lainnya.
2. Riwayat pengobatan sebelumnya : Pasien pernah berobat ke dokter sebelumnya.
3. Riwayat Penyakit Dahulu: Tidak ada riwayat penyakit terdahulu
4. Riwayat Penyakit Keluarga: Ayah pasien memiliki keluhan yang sama dan dirawat di
rumah sakit seminggu yang lalu. Di sekitar rumah penderita terdapat kolam.
5. Riwayat Kehamilan dan Persalinan: Anak pertama, perempuan, 12 tahun, lahir spontan,
ditolong bidan, cukup bulan, langsung menangis BBL 3600 gram, PBL 45 cm. Tidak
terdapat penyakit/kelainan yang didapat.
6. Riwayat Imunisasi: Vaksinasi lengkap hingga umur 9 bulan.
7. Riwayat Gizi: ASIdiberikan hingga usia 2 tahun, bubur diberikan pada usia 4 bulan,
makanan tambahan diberikan sejak usia 1 tahun, makanan seperti orang dewasa pada usia
2 tahun.
8. Riwayat Tumbuh Kembang: sesuai denga usia dan teman sebayanya.
9. Lain‐lain :
Pemeriksaan Fisik:
KU : tampak sakit sedang
Kesadaran : composmentis, penderita tampak gelisah
Tanda Vital:
TD : 80/50 mmHg
Nadi : 120x/menit
Suhu : 36,3oC
RR : 28x/menit
BB/TB : 32 kg
Status Gizi : Baik

Kepala : dbn
Mata : dbn
Mulut : dbn
THT : dbn
Leher : dbn
Thorax : Paru dbn, Jantung dbn
Abdomen : dbn
Genitalia : tidak ada kelainan
Kulit : hiperemi +, tidak ada bercak-bercak kemerahan pada kulit
Ekstremitas : akral hangat kering merah, CRT <2”

Darah Lengkap:
• HB : 12,5 mg/dl
• HCT : 37,9 mg/dl
• WBC : 27.00 mg/dl
• PLT : 99.000 mg/dl

Daftar Pustaka:
a. Pedoman Terapi Ilmu Kesehatan Anak, Unpad. Bandung : 2005
b. Sectish Theodore C, Probe Charles G. Nelson Textbook of Pediatrics. Edisi ke-17.
Saunders. 2004
c. Buku Saku Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. Pedoman Bagi Rumah Sakit
Rujukan Tingkat Pertama di Kabupaten/Kota. WHO. 2009
d. Pudjiadi AH, B Hegar, dkk (editor). Pedoman Pelayanan Medis Jilid I. Ikatan Dokter
Anak Indonesia. 2009
e. World Health Organization. 2015. National Guidelines for Clinical Management of
Dengue Fever. World Health Organization. New Delhi.

Hasil pembelajaran:
1. Patofisiologi terjadinya DHF
2. Penegakan diagnosis DHF
3. Klasifikasi DHF dalam kasus ini
4. Penatalaksanaan kegawatdaruratan DHF
5. Prognosis pasien dalam kasus ini
6. Edukasi perawatan
Rangkuman:
1 “Subyektif” Sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit, ibu pasien mengatakan bahwa
anaknya mengalami panas badan. Panas badan muncul tiba-tiba. Panas badan dirasakan
terus-menerus pada pagi, siang dan malam hari. Panas lebih dirasakan pada saat malam
hari dibandingkan siang hari. Panas tersebut turun setelah pasien minum obat penurun
panas, namun beberapa jam kemudian panas muncul kembali. Keluhan pasien disertai
dengan nyeri kepala, nyeri sendi, mual, dan muntah. Pasien tidak mau minum dan terlihat
lemas. Keluhan tidak disertai bercak kemerahan pada kulit, mimisan, gusi berdarah, dan
tanda pendarahan di tempat lainnya. Ayah pasien memiliki keluhyan yang sama dan
dirawat di rumah sakit seminggu yang lalu. Di sekitar rumah penderita terdapat kolam .
Berdasarkan pemeriksaan fisik, penderita tampak gelisah. Terdapat riwayat kontak dengan
penderita DBD.
2 “Obyektif” Pada kasus ini diagnosis ditegakkan berdasarkan:
- Berdasarkan anamnesis, daftar maslaah pada penderita adalah panas badan terus-
menerus pada pagi, siangm dan malam hari. Panas lebih sering dirasakan pada saat
malam hari dibandingkan siang hari. Keluhan penderita disertai nyeri kepala, nyeri
sendi, mual, dan muntah. Pasien tidak mau minum dan terlihat lemas, dan terdapat
riwayat orang tua yang mengalami demam berdarah. Terdapat riwayat kontak
dengan penderita DBD.
- Berdasarkan Pemeriksaan Fisik, pasien mengalami hipotensi, nadi cepat, dan tampak
gelisah. Syok dapat terjadi pada saat suhu tubuh megalami penurunan biasanya pada
hari ke 3-7. TD : 80/50 mmHg, Nadi : 120x/menit, Suhu : 36,3oC, RR : 28x/menit
- Berdasarkan pemeriksaan penunjang laboratorium, didapatkan trombositopenia
3 “Assessment” : diagnosis pasien mengarah pada DHF grade III atau DSS (Dengue Shock
Syndrome). Dilihat dari anamnesis tipe demam saddle back atau bifasik, demam sedikit
tinggi dan muncul tiba-tiba, demam 2-7 hari serta adanya keluhan penyerta menunjukkan
demam dengue. Penyakit dengue hemorrhagic fever (DHF) adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti, ditandai
dengan manifestasi klinis demam atau riwayat demam akut, hepatomegali, manifestasi
perdarahan dan manifestasi perembesan plasma.
4. ”Plan”
Diagnosis: Ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Hampir dapat dipastikan diagnosis dari pasien ini adalah DHF grade III atau
DSS (Dengue Shock Syndrome).
Pengobatan: Saat penanganan awal di UGD pasien diberikan terapi cairan dan suportif,
pasien disarankan untuk rawat inap.
- Ringer Asetat
- Paracetamol 3x1 tab
- Imunor 2x1 tab
- Ranitidine Injeksi 2x1 ampul iv
- Ondansetron injeksi 2x1 ampul iv (bila perlu)
Tatalaksana DHF grade III atau DSS terlampir:
Tatalaksana Demam Berdarah Dengue derajat III dan IV
Prognosis : dubia ad bonam
Pendidikan: Diberikan edukasi kepada keluarganya terkait kondisi dari pasien, tindakan
yang akan dilakukan beserta komplikasi yang mungkin terjadi. Selain itu pasien dan
keluarganya juga diberikan pemahaman terkait perawatan pasca rawat inap pencegahan
agar tidak terulang kasus yang sama. Pasie n diharapkan banyak minum
Konsultasi: Konsultasi dengan dokter spesialis anak perlu dilakukan untuk mengetahui
penanganan kegawatdaruratan DHF grade IIISarankan pasien untuk kontrol bila ada
keluhan setelah rawat inap.
Rujukan: Tidak direncanakan untuk dilakukan rujukan