Anda di halaman 1dari 22

ASUHAN KEPERAWATAN EFUSI PLEURA

Mata Kuliah : Sistem Respirasi I

Dosen Pengampu : Theresia Etik Lusiani,S.Kep., Ners

NAMA NIM

1. Elisabeth Noviana Femiyanti M 201402011


2. Lis Syuwaibatul Islamiyatun 201402024
3. Marly Riupassa 201402031
4. Sesilia Putu Feny Asrinia 201402049
5. Ulfi Lailatul Syafa’ah 201402051
6. Yanuarius Beato Jaya 201402053

Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Katolik St. Vincentius A Paulo Surabaya

Program Studi S1 Keperawatan

2014/2015
STIKES KATOLIK ST VINCENTIUS A PAULO
Jalan jambi 12-18 surabaya

LEMBAR PERNYATAAN

NIM Nama mahasiswa NIM Nama Mahasiswa

201402011 Elisabeth Noviana 201402049 Sesilia Putu Feny


Femiyanti M. Asrinia

201402024 Lis Syuwaibatul 201402051 Ulfi Lailatul Syafa’ah

201402031 Marly Riupassa 201402053 Yanuarius Beato Jaya

Program studi : S1 Keperawatan 2014

Mata Kuliah : Sistem Respirasi I

Kode mata kuliah : SIK 203

Batas pengumpulan tugas : Sabtu, 19 September 2015

Dikumpulkan tanggal : Sabtu, 19 September 2015

Nama Dosen : Theresia Etik Lusiani,S.Kep., Ners

Judul tugas : Asuhan Keperawatan Efusi Pleura

Pernyataan keaslian :
1. Tugas ini dikumpulkan menurut peraturan akademik dan etika kejujuran
akademik
2. Tidak ada dari bagian tugas ini merupakan copian dari berbagai sumber
tanpa diketahui asal sumbernya
3. Tidak ada dari bagian tugas ini pernah ditulis oleh seseorang
4. Kami menyatakan bahwa tugas yang kami kumpulkan ini adalah asli dari
pemikiran kami

Surabaya, 18 september 2015

ttd
BAB 1

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Pengertian

Efusi pleura adalah akumulasi cairan yang berlebihan pada rongga pleura,

cairan tersebut mengisi ruangan yang mengelilingi paru. Cairan dalam jumlah

yang berlebihan dapat mengganggu pernapasan dengan membatasi peregangan

paru selama inhalasi. Terdapat empat tipe cairan yang dapat ditemukan pada efusi

pleura : Cairan serusa (hidrothorax),Darah (hemothotaks),Chyle (chylothoraks),

dan Nanah (pyothoraks atau empyema).

Efusi pleural adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit

primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi

dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau

dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2000).

Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak

diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi

tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara

normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml)

berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak

tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002).

Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga

pleura. (Price C Sylvia, 1995)


2. Etiologi

Berdasarkan jenis cairan yang terbentuk, cairan pleura dibagi lagi menjadi

transudate, eksudat, dan hemoragi.

Transudat: dapat disebabkan oleh kegagalan jantung kongesif (gagal jantung kiri),

sindrom nefrotik, asites (oleh karena sirosis hepatis), sindrom vena cava superior ,

tumor, dan sindrom meigs.

Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, Pneumonia, Infark paru, radiasi dan

penyakit kolagen.

Efusi hemoragi dapat disebabkan oleh adanya tumor, trauma, infark paru,dan

tuberkolosis. (Arif mutttaqin, 2012)

3. Patofisiologi

Terjadinya efusi pleura bergantung pada keseimbangan antara cairan dan

protein dalam rongga pleura. Dalam keadaan normal cairan pleura

dibentuk secara lambat sebai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler.

Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan

intersisial submesotelial, kemudian sel mesotelial masuk kedalam rongga

pleura. Selain itu cairan pleura, dapat melalui pembuluh limfe sekitar

pleura. Pada umumnya, efusi karena penyakit pleura hampir mirip plasma

(eksudat), sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan

ultrafiltrat plasma (transudat). Efusi yang berhubungan dengan pleuritis

disebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder

(akibat samping) terhadap peradangan atau adanya neoplasma.

Klien dengan pleura normal pun dapat terjadi efusi pleura ketika terjadi
payah/gagal jantung kongestif. Saat jantung tidak dapat memompakan

darahnya secara maksimal ke seluruh tubuh maka akan terjadi peningkatan

tekanan hidrostatik pada kapiler yang selanjutnya timbul hipertensi kapiler

sistemik dan cairan yang berada dalam pembuluh darah pada area tersebut

menjadi bocor dan masuk ke dalam pleura, ditambah dengan adanya

penurunan reabsorbsi cairan tadi oleh kelenjar linfe di pleura

mengakibatkan pengumpulan cairan yang abnormal/berlebihan.

Hipoalbuminemia (misal pada klien nefrotik, sindrom, malabsorbsi atau

keadaan lain dengan asites dan edema anasarka) akan mengakbatkan

terjadinya terjadinya peningkatan pembentukan cairan pleura dan

reabsorbsi yang berkurang. Hal tersebut di karenakan adanya penurunan

pada tekanan onkotik intravaskular yang mengakibatkan cairan akan lebih

mudah masuk kedalam rongga pleura.

Luas efusi pleura yang mengancam volume paru, sebagian akan

bergantung pada kekakuan relatif paru dan dinding dada. Pada volume

paru dalam batas pernapasan normal, dinding dada cenderung rekoil ke

luar sementara paru - paru cenderung untuk rekoil ke dalam.

4. Manifestasi klinis

Biasanya manifestasi klinisnya adalah yang disebabkan penyakit dasar.

Pneumonia akan menyebabkan demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis,

sementara efusi malignan dapat mengakibatkan dipsnea dan batuk. Ukuran efusi

akan menentukan keparahan gejala. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan

sesak nafas. Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi napas
minimal atau tidak sama sekali menghasilkan bunyi datar, pekak saat diperkusi.

Egofoni akan terdengar di atas area efusi. Deviasi trakea menjauhi tempat yang

sakit dapat terjadi jika penumpukan cairan pleural yang signifikan. Bila terjadi

efusi pleural kecil sampai sedang, dipsnea mungkin saja tidak terdapat. Berikut

tanda dan gejala:

1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena

pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang. Bila cairan

banyak, penderita akan sesak napas.

2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil,

dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril

(tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak riak.

3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi

penumpukan cairan pleural yang signifikan.

4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan

berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit

akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan

vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk

permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis

Damoiseu).

5. Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup

timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz,

yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain,

pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.

6. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.


Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada, ultrasound,

pemeriksaan fisik, dan torakosentesis. Cairan pleural dianalisis dengan

kultur bakteri, pewarnaan Gram, basil tahan asam (untuk tuberkulosis),

hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan kimiawi (glukosa,

amylase, laktat dehidrogenase, protein), analisis sitologi untuk sel-sel

malignan, dan pH. Biopsi pleura mungkin juga dilakukan.

5. Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan Laboratorium :pemeriksaan labolatorium yang spesifik adalah

dengan memeriksa cairan pleura agar dapat menunjangintervensi selanjutnya.

Analisis cairan pleura dapat dinilai untuk mendeteksi kemungkinan penyebab dari

efusi pleura. Pemeriksaan cairan pleura hasil thorakosentesis secara makroskopis

biasanya dapat berupa cairan hemoragi, eksudat, dan transudat.

 Haemorrhagic pleural effusion, biasanya terjadi pada klien dengan

adanya keganasanparu atau akibat infark paru terutama disebabkan oleh

tuberkolosis.

 Yellow exudate pleural effusion, terutama terjadi pada keadaan gagal

jantung kongesif, sindrom nefrotik, hipoalbuminemia, dan pericarditis

konstriktif.

 Clear transudate pleural effusion, sering terjadi pada klien dengan

keganasan ekstrapulmoner.

Rontgen dada : Rontgen dada biasanya merupakan langkah pertama yang

dilakukan untuk mendiagnosis efusi pleura, yang hasilnya menunjukkan adanya

cairan.
CT scan dada: CT scan dengan jelas menggambarkan paru-paru dan cairan dan

bisa menunjukkan adanya pneumonia, abses paru atau tumor

USG dada: USG bisa membantu menentukan lokasi dari pengumpulan cairan

yang jumlahnya sedikit, sehingga bisa dilakukan pengeluaran cairan.

Torakosentesis : Penyebab dan jenis dari efusi pleura biasanya dapat diketahui

dengan melakukan pemeriksaan terhadap contoh cairan yang diperoleh melalui

torakosentesis (pengambilan cairan melalui sebuah jarum yang dimasukkan

diantara sela iga ke dalam rongga dada dibawah pengaruh pembiusan lokal).

Biopsi:Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka

dilakukan biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk

dianalisa.

Pada sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh,

penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan.Biopsi pleura perlu

dipikirkan setelah hasil pemeriksaan sitologik ternyata negatif. Diagnosis

keganasan dapat ditegakkan dengan biopsi pleura tertutup pada 3060% penderita.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa biopsi yang dilakukan berulang (dua

sampai empat kali) dapat meningkatkan diagnosis sebesar 24%. Biopsi pleura

dapat dilakukan dengan jarum.

Analisa cairan pleura : Efusi pleura didiagnosis berdasarkan anamnesis dan

pemeriksaan fisik, dan di konfirmasi dengan foto thoraks. Dengan foto thoraks

posisi lateral decubitus dapat diketahui adanya cairan dalam rongga pleura

sebanyak paling sedikit 50 ml, sedangkan dengan posisi AP atau PA paling tidak

cairan dalam rongga pleura sebanyak 300 ml. Pada foto thoraks posisi AP atau PA

ditemukan adanya sudut costophreicus yang tidak tajam.


Bronkoskopi : Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan

sumber cairan yang terkumpul.

Bila efusi pleura telah didiagnosis, penyebabnya harus diketahui, kemudian cairan

pleura diambil dengan jarum, tindakan ini disebut thorakosentesis. Setelah

didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan seperti:

1. Komposisi kimia seperti protein, laktat dehidrogenase (LDH), albumin,

amylase, pH, dan glucose

2. Dilakukan pemeriksaan gram, kultur, sensitifitas untuk mengetahui

kemungkinan terjadi infeksi bakteri

3. Pemeriksaan hitung sel

4. Sitologi untuk mengidentifikasi adanya keganasan.

Pemeriksaan Radiologik

Pemeriksaan radiologik mempunyai nilai yang tinggi dalam menegakkan

diagnosis efusi pleura, meskipun tidak berguna dalam menentukan faktor

penyebabnya. Pada foto toraks terlihat perselubungan homogen dengan batas atas

yang cekung atau datar, dan sudut kostofrenikus yang tumpul; cairan dengan

jumlah yang sedikit hanya akan memberikan gambaran berupa penumpulan sudut

kostofrenikus. Cairan berjumlah kurang dari 100 ml tidak akan terlihat pada foto

toraks yang dibuat dengan teknik biasa. Bayangan homogen baru dapat terlihat

jelas apabila cairan efusi lebih dari 300 ml. Apabila cairan tidak tampak pada foto

postero-anterior (PA), maka dapat dibuat foto pada posisi dekubitus lateral.

5. Komplikasi

 atelectasis

 infeksi
 hipoksemia (Billota, 2011)

6. Penatalaksanaan

Jika jumlah cairannya sedikit, mungkin hanya perlu dilakukan pengobatan

terhadap penyebabnya. Jika jumlah cairannnya banyak, sehingga menyebabkan

penekanan maupun sesak nafas, maka perlu dilakukan tindakan drainase

(pengeluaran cairan yang terkumpul).

Efusi karena gagal jantung penatalaksanaannya:

1. Diuretik

2. Torakosentesis diagnostik bila:

a. Efusi unilateral

b. Efusi menetap dengan terapi diuretic

c. Efusi bilateral, ketinggian cairan berbeda bermakna

d. Efusi+febris

e. Efusi+nyeri dada pleuritik

Efusi pleura karena pleuritis tuberculosis pengobatannya:

Obat anti tuberkulosis(minimal 9 bulan)+ kortikosteroid dosis 0,75-1mg/kg BB/

Hari selama 2-3 minggu, setelah ada respons diturunkan bertahap+ torakosentesis

terapeutik, bila sesak atau efusi>tinggi dari sela iga,

Efusi pleura keganasan

Penanganan efusi pleura keganasan hampir selalu bersifat paliatif dengan tujuan

untuk mengurangi gejala-gejala dan mencegah pembentukan cairan pleura.


Pengobatan terhadap kanker primer dapat diberikan apabila diketahui lokasinya

serta terdapat pengobatan untuk tumor tersebut. Penanganan paliatif pada efusi

pleura keganasan dapat berupa aspirasi cairan, pleurodesis, dan pembedahan.

Aspirasi Cairan Pleura

Cairan pleura dapat dikeluarkan dengan jalan aspirasi secara berulang atau dengan

pemasangan selang toraks yang dihubungkan dengan Water Seal

Drainage (WSD). Cairan yang dikeluarkan pada setiap kali pengambilan

sebaiknya tidak lebih dari 1000 ml untuk mencegah terjadinya edema paru akibat

pengembangan paru secara mendadak.


BAB 2

2. 1 Pengkajian

2.1.1 Identitas

2.1.1.1 Usia

Dapat terjadi pada semua usia. (Kimberly. A. J Billota, 2011)

2.1.1.2 Jenis kelamin

Menyerang pria dan wanita dalam perbandingan yang seimbang (Kimberly. A. J

Billota, 2011)

2.1.2 Keluhan utama

Kebanyakan efusi pleura bersifat asimptomatik, gejala yang timbul sesuai dengan

penyakit yang mendasarinya. Pnemonia akan menyebabkan demam, menggigil,

dan nyeri pleuritik, ketika efusi sudah membesar dan menyebar kemungkinan

timbul dispnea dan batuk. Efusi pleura besar akan mengakibatkan napas pendek.

Tanda fisik meliputi deviasi trakea menjauhi sisi yang terkena , dullness pada

perkusi, dan penurunan bunyi pernapasan pada sisi yang terkena.(Somantri, 2012)

2.1.3 Riwayat penyakit sekarang

Pasien dengan efusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya keluhan seperti

batuk, sesak napas, nyeri pleuritis, rasa berat pada dada, dan berat badan menurun.
Perlu juga ditayakan sejak kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang akan

dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhan tersebut.

2.1.4 Riwayat penyakit dahulu

Perlu ditanya pula, apakah klien pernah menderita penyakit seperti TB paru,

pneumonia, gagal jantung, trauma, dan sebagainya. Hal ini perlu diketahui untuk

melihat adanya tidaknya kemungkinan faktor predisposisi. (Arif muttaqin, 2012)

2.1.5 Riwayat penyakit keluarga

Tidak ditemukan data penyakit yang sama ataupun diturunkan dari anggota

keluarganya yang lain, terkecuali penularan infeksi tuberkulosis yang menjadi

faktor penyebab timbulnya efusi plura. (Somantri, 2012)

2.1.6 Riwayat kesehatan lingkungan

Pasien efusi pleura pada lingkungan yang tidak bersih, sanitasi yang kurang, dan

lingkungan yang padat penduduk.

2.1.7 Data psikososio dan spiritual

Meliputi respon klien terhadap penyakitnya, hubungan atau relasi klien dengan

perawat, keluarga dan dokter serta kemampuan melaksanakan ibadah saat sakit.

2.1.8 Pola pemeuhan kebutuhan dasar

1) Nutrisi dan metabolisme

Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu melakukan pengukuran

tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien. Pasien

dengan efusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak
nafas dan penekanan pada struktur abdomen. Peningkatan metabolisme akan

terjadi akibat proses penyakit. Pasien dengan efusi pleura keadaan umumnya

lemah.

2) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.

Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan

persepsi tentang kesehatan, tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah

terhadap pemeliharaan kesehatan.

3) Pola eliminasi

Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakn mengenai kebiasaan ilusi dan

defekasi sebelum dan sesudah MRS. Karena keadaan umum pasiennya lemah,

pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain

akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik

otot-otot tracus degestivus.

4) Pola aktivitas dan latihan

Akibat sesak nafas, kebutuhan oksigen jaringan kurang terpenuhi dan pasien akan

cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. Disamping itu, pasien juga

akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada dan untuk memenuhi

kebutuhan sebagian ADLnya kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan

keluarganya

5) Pola tidur dan istirahat

Adanya nyeri dada, sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh

terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat, selain itu akibatnya perubahan

kondisi lingkngan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit,
dimana banyak orang yang mundar mandir, berisik dan lain sebagainya.

6) Pola hubungan dan peran

Akibat dari sakitnya, secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran,

misalkan pasien seorang ibu rumah tangga, pasien tidak dapat menjalankan

fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya dan mengurus

suaminya, disamping itu peran pasien dimasyarakat pun juga mengalami

perubahan dan semua itu memperngaruhi hubungan interpersonal pasien.

7) Pola persepsi dan konsep diri

Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien yang tadinya sehat, tiba-

tiba mengalami sakit, sesak nafas, nyeri dada. Sebagai seorang awam, pasien

mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan

mematikan. Dalam hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran postif

terhadap dirinya.

2.1.9 Pemeriksaan fisik

2.1.9.1 Keadaan umum

Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien secara

umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku

pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat

kecemasan dan ketegangan pasien. Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan

berat badan pasien.

B1 (Breathing)

Inspeksi
Peningkatan usaha dan frekuensi pernapasan yang disertai penggunaan otot bantu

pernapasan. Gerakan pernapasan ekspansi dada yang asimetris (pergerakan dada

tertinggal pada sisi yang sakit). Pengkajian batuk yang produktif dengan sputum

purulen.

Palpasi

Pendorongan mediastinum ke arahhemithoraks kontralateral yang diketahui dari

posisi trachea dan ictus cordis. Taktil fremitus menurun terutama untuk efusi

pleura yang jumlah cairannya >300 cc. Di samping itu, pada palpasi juga

ditemukan pergerakan dinding dada yang tertinggal pada dada yang sakit.

Perkusi

Suara perkusi redup hingga pekak tergantung dari jumlah cairannya.

Auskultasi

Suara napas menurun sampai menghilang pada sisi yang sakit. Pada posisi duduk,

cairan semakin ke atas semakin tipis.

B2 (Blood)

Pada saat dilakukannya inspeksi, perlu diperhatikan letak icus cordis normal yang

berada pada ics 5 pada linea medio claviculaus kiri selebar 1 cm. pemeriksaan ini

bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pergeseran jantung.

Palpasi dilakukan utuk menghitung frekuensi jantung (heart rate) dan harus

memerhatikan kedalaman dan teratur tidaknya denyut jantung. Selain itu, perlu

juga memeriksa adanya thrill, yaitu getaran ictus cordis. Tindakan perkusi

dilakukan untuk menentukan batas jantung daerah mana yang terdengar pekak.

Hal ini bertujuan untuk menentukan apakah terjadi pergeseran jantung karena

pendorongan cairan efusi pleura. Auskultasi dilakukan untuk menentukan bunyi


jantung I dan II tunggal atau gallo[ dan adakah bunyi jantung III yang merupakan

gejala payah jantung, serta adakah murmur yang menunjukan adanya peningkatan

adanya peningkatan arus turbulensi darah.

B3 (Brain)

Pada saat dilakukannya inspeksi, tingkat kesadaran perlu dikaji, setelah

sebelumnya diperlukan pemeriksaan GCS untuk menentukan apakah klien berada

dalam keadaan compos mentis, somnolen, atau koma. Selain itu fungsi-fungsi

sensorik juga perlu dikaji seperti pendengaran, pengelihatan, penciuman,

perubaan, dan pengecapan.

B4 (Bladder)

Pengukuran volume output urine dilakukan dalam hubungan dengan intake cairan.

Oleh karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria, karena itu merupakan

tanda awal syok.

B5 (Bowel)

Pada saat inspeksi, hal yang perlu diperhatikan adalahapakah abdomen

membuncit atau datar, tepi perut menonjol atau tidak, umbilukus menonjol atau

tidak, selain itu juga perlu di inspeksi ada tidaknya benjolan-benjolan atau massa.

Pada klien biasanya didapatkan indikasi mual dan muntah, penurunan nafsu

makan, dan penurunan berat badan.

B6 (Bone)

Hal yang perlu diperhatikan adalah adakah edema peritibial, fell pada kedua

ekstremitas untuk mengetahui tingkat perfusi perifer, serta dengan pemeriksaan


capillary refill time. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kekuatan otot untuk

kemudian dibandingkan antara bagian kiri dan kanan.

2.10 Diagnosa Keperawatan

Ketidakefektifan pola pernapasan yang berhubungan dengan menurunnya

ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura

Tujuan : dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan intervensi klien mampu

mempertahankan fungsi paru secara normal.

Kriteria hasil : irama frekuensi dan kedalaman pernapasan berada dalam batas

normal, pada pemiriksaan ronsen thoraks tidak ditemukan adanya akumulasi

cairan, dan bunyi nafas terdengar jelas.

Intervensi Rasional

Identifikasi faktor penyebab. Dapat menentukan efusi pleura

sehingga dapat mengambil tindakan

yang tepat.

Baringkan klien dalam posisi yang Penurunan diafragma dapat

nyaman, dalam posisi duduk, dengan memperluas daerah dada sehingga

kepala tempat tidur ditinggikan 60-90o ekspansi paru bisa maksimal. Miring

atau miringkan kearah sisi yang sakit. kearah sisi yang sakit dapat

menghindari efek penekanan gravitasi

cairan sehingga ekspansi dapat

maksimal

Kaji kualitas, frekuensi dan kedalaman Dengan mengkaji kualitas, frekuensi

pernapasan, serta melaporkan setiap dan kedalaman pernapasan, dapat

perubahan yang terjadi. mengetahui sejauh mana perubahan


kondisi klien.

Observasi tanda-tanda vital nadi dan Peningkatan frekuensi napas dan

pernapasan. takikardi merupakan indikasi adanya

penurunan fungsi paru.

Lakukan auskultasi suara napas setiap Menentukan kelainan suara napas pada

2-4 jam. bagian paru.

Bantu dan ajarkan klien untuk batuk Menekan daerah yang nyeri ketika

dan napas dalam yang efektif. batuk atau napas dalam, penekanan

otot-otot dada serta abdomen membuat

batuk lebih efektif.

Kolaborasi dengan tim medis lain untuk Pemberian oksigen dapat menurunkan

pemberian oksigen dan obat-obatan beban pernapasan dan mencegah

serta foto thoraks. terjadinya sianosis akibat hipoksia.

Dengan foto thoraks, dapat dimonitor

kemajuan dari berkurangnya cairan dan

kembalinya daya kembang paru.

Kolaborasi untuk tindakan Menghilangkan sesak napas yang

thorakosentesis disebabkan oleh akumulasi cairan

dalam rongga pleura

Ketidakefektifan bersihan jalan napas yang berhubungan dengan sekresi

mucus yang kental, kelemahan, upaya batuk, buruk, dan edema trakeal

/faringeal.

Tujuan: dalam waktu 2x24 jam setelah diberikan intervensi, bersihan jalan napas
kembali efektif.

Kriteria hasil: klien mampu melakukan batuk efektif.

Pernapasan klien normal (16-20 x / menit) tanpa penggunaan otot bantu napas.

Bunyi napas normal, Rh-/- dan pergerakan pernapsan normal.

Intervensi Rasional

Kaji fungsi pernapasan (bunyi napas, Penurunan bunyi napas menunjukkan

kecepatan, irama, kedalaman, dan atelectasis, ronkhi menunjukkan

penggunaan otot bantu napas) akumulasi secret dan ketidakefektifan

pengeluaran sekresi yang selanjutnya

dapat menimbulkan penggunaan otot

bantu napas dan peningkatan kerja

napas.

Kaji kemampuan mengeluarkan sekresi, Pengeluaran akan sulit bila secret

catat karakter dan volume sputum. sangat kental (efek infeksi dan hidrasi

yang tidak adekuat)

Berikan posisi semi fowler / fowler Posisi fowler memaksimalkan ekspansi

tinggi dan bantu klien latihan napas paru dan menurunkan upaya bernapas.

dalam dan batuk efektif. Ventilasi maksilam membuka area

atelectasis dan meningkatkan gerakan

secret ke jalan napas besar untuk

dikeluarkan.

Pertahankan intake cairan sedikitnya Hidrasi yang adekuat membantu

1200 ml perhari kecuali tidak di mengencerkan secret dan

indikasikan. mengefektifkan pembersihan jalan


napas.

Bersihkan secret dari mulut dan trakea, Mencegah obstruksi dan aspirasi.

bila perlu lakukan penghisapan atau Penghisapan diperlukan bila klien tidak

suction. mampu mengeluarkan secret. Eliminasi

lender dengan suction sebaiknya

dilakukan dalam jangka waktu kurang

dari 10 menit, dengan pengawasan efek

samping suction.

Kolaborasi pemberian obat sesuai Pengobata antibiotic yang ideal adalah

indikasi. dengan adanya dasar dari tes uji

Obat antibiotic resistensi kuman terhadap jenis

antibiotic sehingga mudah mengobati

pneumonia.

Agen mukolitik Agen mukolitik menurunkan

kekentalan dan perlengketan secret paru

untuk memudahkan pembersihan.

Bronkodilator: jenis aminofilin, via Bronkodilator meningkatkan diameter

intravena lumen percabangan trakheobroncial

sehingga menurunkan tahanan terhadap

aliran udara.

Kortikosteroid Kortikosteroid berguna pada

hipoksemia dengan keterlibatan luas

dan bila reaksi inflamasi mengancam

kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA

Baughman, C Diane. 2000. Keperawatan medical bedah. Jakarta: EGC.

Billota, Kimberly A.J. 2011. Kapita Selekta: Penyakit dengan Implikasi


Keperawatan. Jakarta : EGC.

Muttaqin, Arif. 2012. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Sistem
Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.

Price, Sylvia A. 1995. Patofisiologi : Konsep klinis proses-proses penyakit Ed4.


Jakarta: EGC.

Somantri, Iman. 2012. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta : Salemba Medika.

Suzanne, Smeltzer c. 2002. Buku Ajar Keperawatan medical Bedah ( Ed8. Vol.1).

Jakarta: EG.