Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

TRAUMA TULANG TEMPORAL

Pembimbing :
dr. Dumasari Siregar Sp. THT-KL

Penyusun :
TIARA LARASATI JAYA PUTRI
030.13.191

KEPANITERAAN KLINIK ILMU THT


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BUDHI ASIH
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI
PERIODE 12 JUNI – 22 JULI 2017
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas berkat
dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas makalah Presentasi Kasus
dengan judul “TRAUMA TULANG TEMPORAL”. Makalah ini disusun untuk
memenuhi salah satu tugas dalam Kepaniteraan Klinik di Stase Ilmu THT Rumah
Sakit Umum Daerah Budhi Asih.
Dalam penyusunan tugas makalah presentasi kasus ini tidak terlepas dari
bantuan dan bimbingan serta dukungan dalam membantu penyusunan dan
penyelesaian makalah ini. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis
menyampaikan terima kasih terutama kepada dr. Duma Siregar Sp. THT-KL
selaku pembimbing atas pengarahannya selama penulis belajar dalam Kepaniteraan
Klinik Ilmu THT. Dan kepada para dokter dan staff Ilmu THT Rumah Sakit
Umum Daerah Budhi Asih, serta rekan-rekan seperjuangan dalam Kepaniteraan
Klinik Ilmu THT.
Penulis sangat terbuka dalam menerima kritik dan saran karena penyusunan
makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Semoga makalah ini bisa bermanfaat
bagi setiap orang yang membacanya. Tuhan memberkati kita semua.

Jakarta, 22 JULI 2017

Tiara Larasati Jaya Putri


030.13.191

2
LEMBAR PENGESAHAN

REFFERAT DENGAN JUDUL


“TRAUMA TULANG TEMPORAL”
Telah diterima dan disetujui oleh pembimbing, sebagai syarat untuk
menyelesaikan Kepaniteraan Klinik Ilmu THT di RSUD BUDHI ASIH
Periode 12 Juni – 22 Juli 2017

Jakarta, 22 Juli 2017

dr. Dumasari Siregar, Sp. THT-KL

3
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. 1


KATA PENGANTAR ............................................................................................ 2
HALAMAN LEMBAR PENGESAHAN ............................................................... 3
DAFTAR ISI ........................................................................................................... 4

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................... 6


2.1 Anatomi ............................................................................................... 6
2.2 Trauma Tulang Temporal .................................................................... 8
2.2.1 Epidemiologi & Insidensi ......................................................... 8
2.2.2 Klasifikasi .................................................................................. 8
2.2.3 Diagnosis ................................................................................ 11
2.2.4 Penatalaksanaan ....................................................................... 15
2.2.5 Komplikasi .............................................................................. 17

BAB III KESIMPULAN..................................................................................... 19

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 21

4
BAB I

PENDAHULUAN

Tulang temporal adalah sepasang struktur penting yang merupakan bagian dari kranium.
Tulang temporal memiliki berbagai peranan penting seperti melindungi otak, melindungi struktur
penting yang berperan dalam fungsi pendengaran, keseimbangan, dan juga n. Fasialis.
Terdapatnya kerusakan pada tulang temporal dapat menimbulkan gangguan tidak hanya di tulang
temporal itu sendiri tapi juga n. Fasialis, telinga tengah, telinga dalam dan juga struktur
intrakranial.(1,2)
Sebanyak 30-70% trauma pada kranium diketahui merupakan trauma pada temporal.
Angka insidensi sebenarnya dapat dikatakan lebih tinggi dari yang telah disebutkan karena
kebanyakan trauma pada tulang temporal tidak bisa terlihat jelas dengan foto rontgen polos.
Bentuk trauma yang paling banyak terjadi berupa fraktur tulang temporal. Fraktur pada tulang
temporal merupakan kasus emergensi yang paling banyak dikonsulkan ke dokter THT.
Pentingnya diagnosis dini dan tatalaksana dini dapat mencegah komplikasi yang lebih lanjut.
Kebanyakan fraktur ini bersifat unilateral, hanya 9-20% diantaranya yang bersifat bilateral.
Kebanyakan penyebab dari fraktur ini adalah akibat kecelakaan kendaraan bermotor yaitu sekitar
12-47%, kekerasan 10-37%, terjatuh 16-40%, dan luka tembak 3-33%. Dengan berjalannya
kemajuan dalam teknologi pengamanan kendaraan bermotor, menyebabkan berkurangnya
kejadian fraktur temporal akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Namun di sisi lain,
peningkatan kasus kekerasan kriminal menyebabkan peningkatan insidensi fraktur temporal
akibat kekerasan. Faktor resiko dari trauma tersebut meliputi usia muda, jenis kelamin pria serta
kecelakaan lalu lintas.(2,3,4)
Trauma tulang temporal dapat menimbulkan berbagai gejala klinis terkait struktur yang
terkena. Gejala yang muncul berupa adanya nyeri di telinga, gangguan pendengaran, vertigo,
kelemahan pada otot wajah, dan keluarnya darah dari telinga. Adapun tatalaksana yang
dilakukan terkait dengan gejala yang ditimbulkan.(5)

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Anatomi
Tulang temporal adalah sepasang struktur yang terletak di bagian lateral dari cranium,
inferior dari os parietal, posterior dari os sphenoid, dan anterior dari os oksipital. Tulang
temporal merupakan salah satu komponen yang membentuk fossa cranii medial dan posterior
dan juga berkontribusi dalam pembentukan basis cranii. Selain untuk melindungi bagian dari
otak, setiap tulang temporal juga menjadi bagian penting untuk beberapa struktur seperti cochlea,
vestibulum, n. vestibulocochlear, n. fasialis, a. carotis interna dan vena jugularis.(1)

Gambar 1. Anatomi tulang temporal(1)

Setiap tulang temporal dibagi menjadi lima komponen yaitu, squamous, tympanic, styloid,
mastoid, dan petrous. Bagian squamous terdapat pada bagian superior dan anterior dari tulang
temporal dan menjadi bagian dari dinding lateral fossa cranii media. Processus zygomaticus yang
berada mulai dari bagian squamous os temporal, menghubungkan os temporal menuju os
6
zygomaticus melalui arcus zygomaticus, selain itu juga mewadahi bagian superior dari
temporomandibular joint. Bagian squamous juga berkontribusi dalam pembentukan atap dari
meatus acusticus extermus.(1)

Gambar 2. Bagian tulang temporal(1)

Bagian tympanic dari os temporal berperan dalam sisa bagian dari meatus acusticus
externus serta menopang membrane timpani. Bagian mastoid membentuk batas posterior dari os
temporal dan memiliki bagian menyerupai sarang tawon dibagian dalamnya yang lebih dikenal
sebagai sel mastoid. Bagian petrous dari os temporal juga berperan penting dalam menopang
struktur dari telinga tengah dan telinga dalam bersamaan dengan bagian dari n. fasialis.(1)
Suara dari dunia luar akan ditangkap oleh aurikula dan akan menuju tulang temporal
melewati meatus acusticus externus sampai mencapai membrane timpani. Telinga tengah
dimulai dari bagian internal dari membrane timpani yang merupakan bagian yang berkontak
langsung dengan osikel. Suara yang ditangkap akan dihantarkan melalui osikel menuju ke
tingkap oval, yang nantinya akan ditransmisikan ke telinga dalam dan cochlea. Pada tahap ini,
vibrasi akan diubah menjadi impuls saraf yang akan disampaikan ke otak melalui n.
vestibulocochlear. Karena telinga tengah berhubungan dengan nasofaring melalui tuba
eustachius, darah dan cairan cerebrospinal di telinga tengah yang muncul akibat adanya trauma
dapat menimbulkan gejala rhinorrhea.(1)
Vestibulum yang juga terdapat di telinga dalam, terdiri atas utriculus dan saculus.
Vestibulum bersamaan dengan canalis semicircularis berperan dalam keseimbangan tubuh.
Informasi dari bagian ini nantinya akan disampaikan ke otak melalui n. vestibulocochlear.

7
Karena bagian penting ini juga berada di os temporal, trauma pada os temporal dapat
menimbulkan adanya vertigo dan ketulian. Tuli sensorineural merupakan akibat dari kerusakan
struktur telinga dalam (cochlea, n. vestibulocochlear). Tuli konduktif dapat terjadi akibat
kerusakan dari bagian distal telinga dalam termasuk disrupsi dari osikel dan kerusakan
membrane timpani.(1)
N. fasialis memiliki beberapa fungsi seperti mengkontrol otot yang berperan dalam
ekspresi wajah, lakrimasi, salivasi, sensasi umum pada meatus acusticus externus dan kulit
kepala, fungsi pengecapan pada 2/3 anterior dari lidah. Fungsi-fungsi ini dapat berpengaruh jika
terjadi trauma os temporal. N. fasialis dibagi lagi menjadi segmen intracranial, intratemporal, dan
extrakranial. Segmen intratemporal dibagi lagi menjadi labyrinthine, tympanic, dan mastoid.
Bagian labyrinthine terbentuk diantara vestibulum dan cochlea menuju ke arah fossa
geniculatum. Bagian tersebut juga memberikan cabang ke arah medial untuk menyuplai glandula
lakrimalis. Bagian tympanic berada tepat diatas tingkap oval dan stapes dan berada dibawah
canalis semicircularis horizontal.(1)

2.2 Trauma tulang temporal


2.2.1 Epidemiologi & Insidensi
Fraktur pada tulang temporal terjadi setidaknya 14-22% dari seluruh trauma pada
kranium. Kebanyakan fraktur ini bersifat unilateral, hanya 9-20% diantaranya yang bersifat
bilateral. Kebanyakan penyebab dari fraktur ini adalah akibat kecelakaan kendaraan bermotor
yaitu sekitar 12-47%, kekerasan 10-37%, terjatuh 16-40%, dan luka tembak 3-33%. Dengan
berjalannya kemajuan dalam teknologi pengamanan kendaraan bermotor, menyebabkan
berkurangnya kejadian fraktur temporal akibat kecelakaan kendaraan bermotor. Namun di sisi
lain, peningkatan kasus kekerasan kriminal menyebabkan peningkatan insidensi fraktur temporal
akibat kekerasan. Faktor resiko dari trauma tersebut meliputi usia muda, jenis kelamin pria serta
kecelakaan lalu lintas.(3-4)

2.2.2 Klasifikasi
Trauma tulang temporal dapat diklasifikasikan melalui dua hal yaitu, secara keterlibatan
anatomis dan secara sequalae yang akan ditimbulkan akibat fraktur tersebut. Secara anatomis,
trauma tulang temporal dapat dibagi menjadi longitudinal, tranversal, dan oblique. Untuk

8
pembagian berdasarkan sequalae yang akan terbentuk dapat dibagi menjadi peregangan kapsul
otik dan kerusakan kapsul otik.(6)

a. Fraktur longitudinal
Fraktur longitudinal adalah jenis fraktur yang paling sering terjadi yaitu sekitar 70-90%.
Fraktur ini berjalan paralel dengan meatus acusticus externis serta membran timpani, berlanjut
sepanjang axis dari apex petrous, dan mengikuti bagian yang memiliki resistensi terendah seperti
foramina dan sutura. Fraktur longitudinal biasanya muncul akibat adanya tekanan dari daerah
temporal parietal. Pada fraktur ini seringkali timbul kerusakan pada n. Fasialis dan tuli
konduktif.(6)

b. Fraktur transversal
Fraktur transversal berada tegak lurus terhadap piramida petrous dan memiliki insidensi
yang tinggi dalam keterlibatan kapsul otik. Fraktur transversal biasanya timbuk akibat adanya
tekanan yang hebat dan area oksipital. Pada fraktur ini sering kali menimbulkan gangguan pada
telinga dalam.(6)
Kerusakan pada teling dalam terutama adanya kerusakan pada cochlea dan vestibula akan
menyebabkan tuli sensorineural serta vertigo. Vertigo lama kelamaan akan menghilang setelah 3-
6 bulan dari kejadian. Selain itu, akan muncul juga nystagmus yang terlihat jelas. Tingkat
keparahan dari nystagmus lama kelamaan akan berkurang seiring berjalannya waktu dan
akhirnya akan hilang setelah beberapa bulan.(6)

c. Fraktur oblique
Fraktur oblique biasanya terjadi akibat campuran antara fraktur longitudinal dan
transversal. Jenis fraktur ini adalah yang paling sering terjadi. Sekitar 62-90% fraktur tulang
temporal merupakan fraktur oblique.(6)

9
Tabel 1. Perbedaan fraktur longitudinal dan transversal(6)
Gambaran Longitudinal Transversal
Insidensi 80% 20%
Mekanisme Trauma temporal atau parietal Trauma frontal atau oksipital
CSF Otore Sering Kadang-kadang
Perforasi membran timpani Sering Jarang
Kerusakan n. Fasialis 20% (bersifat temporer dan 50% (bersifat permanen dan
delayed onset) onset langsung terjadi)
Tuli Tuli konduktif, tuli Tuli sensorineural berat, tuli
sensorineural nada tinggi campuran
Hemotimpanum Sering Dapat terjadi
Nystagmus Sering terjadi tetapi tidak Sering terjadi dan berada pada
separah pada fraktur grade ketiga
transversal
Othorrhagia Sering Jarang
Vertigo Sering terjadi tetapi tidak Sering terjadi dan lebih parah
separah pada fraktur dan pada fase akut disertai
transversal mual dan muntah

Akhir-akhir ini, trauma tulang temporal sering diklasifikasikan berdasarkan keterlibatan


dari kapsul otik. Dimana pada klasifikasi ini dapat diketahui lebih jelas sequelae yang dapat
terjadi akibat adanya fraktur tersebut. Pada klasifikasi ini dibagi menjadi peregangan kapsul otik
dan kerusakan kapsul otik. Peregangan kapsul otik lebih sering terjadi yaitu sekitar >90% dari
kerusakan kapsul otik. Pada kerusakan kapsul otik, insidensi dari kerusakan n. Fasialis jauh lebih
tinggi yaitu sekitar 30-50%. Adanya kerusakan kapsul otik juga menyebabkan resiko terjadinya
tuli sensorineural dan kebocoran cairan serebrospinal jauh lebih tinggi yaitu sekitar 2-4 kali
dibandingkan pada peregangan kapsul otik.(3)

10
Tabel 2. Perbedaan fraktur temporal dengan peregangan kapsul otik dan kerusakan kapsul otik(6)

Gambaran Peregangan kapsul otik Kerusakan kapsul otik


Insidensi 95% 5%
Mekanisme Trauma temporal atau parietal Trauma oksipital
Garis fraktur Anterolateral kapsul otik Melalui kapsul otik
Bagian yang terlibat 1. Bagian squamous dari 1. Foramen magnum,
os temporal piramida petrous, dan
2. Dinding kapsul otik
posterosuperior meatus 2. Foramen jugularis,
acusticus externus meatus acusticus
serta membran timpani internus, foramen
3. Mastoid air cell dan lacerum
telinga tengah
Kebocoran CSF Fossa cranii media Fossa cranii posterior
Keterlibatan osikel Sering Jarang
Jenis tuli Konduktif atau campuran Sensorineural
Paralisis n. fasialis Kadang-kadang Sering

2.2.3 Diagnosis
Diagnosis dari trauma tulang temporal dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Gejala yang muncul berupa adanya nyeri di telinga, gangguan
pendengaran, vertigo, kelemahan pada otot wajah, dan keluarnya darah dari telinga. Dari
pemeriksaan menggunakan otoskop akan terlihat darah pada meatus acusticus externus,
hemotimpanum serta adanya otorrhea. Battle’s sign (ekimosis pada area mastoid) juga dapat
terlihat. Fraktur pada meatus acusticus externus, laserasi serta stenosis pada liang telinga dapat
terjadi. Tes Rinne dan Weber penting dilakukan untuk menentukan jenis tuli yang dialami
pasien. Pemeriksaan neurologi juga perlu dilakukan untuk melihat adanya paralisis n. Fasialis
perifer atau nystagmus.(5)
Gangguan pendengaran adalah keluhan yang paling sering dirasakan terkait dengan
trauma tulang temporal. Gangguan pendengaran adalah hasil dari kerusakan telinga dalam dan

11
telinga tengah. Gangguan pendengaran yang timbul dapat berupa tuli sensorineural, tuli
konduktif maupun tuli campuran tergantung dari lokasi trauma yang ada dan juga intensitas dari
trauma. Tuli konduktif didaptkan pada pasien yang mengalami trauma tulang temporal yang ikut
melibatkan kerusakan pada membran timpani, subluksasi osikel, hemotimpanum, atau kombinasi
dari ketiganya. Gangguan pendengaran yang dirasakan oleh pasien dapat dilakukan lebih lanjut
dengan pemeriksaan garpu tala serta audiometri.(7)
Pemeriksaan garpu tala yang biasanya dilakukan berupa tes weber dan rinne. Tes weber
dilakukan dengan meletakkan garpu tala yang sudah digetarkan ke pertengahan dahi pasien.
Pasien akan ditanya sisi sebelah mana yang terdengar suara lebih keras atau sama saja di kedua
sisi. Jika suara terdengar lebih keras pada satu sisi, hal ini menunjukkan weber lateralisasi ke
arah telinga yang sakit pada tuli konduktif atau menjauh pada tuli sensorineural.(7)
Tes rinne adalah pemeriksaan yang berfungsi untuk membandingkan hantaran udara dan
hantaran tulang. Pasien dengan tuli konduktif akan menunjukkan hantaran tulang terdengar lebih
keras dibandingkan hantaran udara pada telinga yang terkait. Pada orang normal, hantaran udara
akan terdengar lebih keras dibanding hantaran tulang, hal ini disebut sebagai rinne positif.(7)
Trauma pada kapsul otik dapat menyebabkan kerusakan berat pada vestibular, hal ini
dapat menyebabkan nystagmus. Untuk menilai lebih lanjut dapat dilakukan tes fistula. Pada tes
fistula akan digunakan pneumotoscopy yang akan memberikan tekanan positif dan negatif. Jika
nystagmus bertambah berat ketika diberikan tekanan positif, hal ini dapat menunjukan adanya
fistula pada perilimfatik atau telinga dalam. Selain dilakukan tes fistula, dapat juga dilakukan tes
dix-hallpike untuk mengevaluasi ada tidaknya benign paroxysmal positional vertigo.(7)
Trauma pada tulang temporal dan mukosa pada telinga tengah serta mastoid sering kali
menyebabkan akumulasi darah pada telinga tengah. Volume darah yang terakumulasi dapat
menunjukkan tingkat keparahan dari trauma serta fungsi tuba eustachius. Jika trauma berat
terjadi atau terdapat kerusakan pada fungsi drainase tuba eustachius, seluruh telinga tengah dapat
terisi penuh darah, hal ini menyebabkan membran timpani tampak lebih gelap, keadaan ini
disebut hemotimpanum.(7)
Gangguan pada n. Fasialis dapat menyebabkan adanya kelemahan pada otot wajah.
Kelemahan otot separuh bagian otot wajah adalah gejala klinis yang sering terjadi. Untuk
mengevaluasi lebih lanjut pemeriksa dapat meminta pasien untuk mengerutkan dahi, menutup
mata, ataupun tersenyum. Pasien dengan paralisis akan menunjukkan bagian yang terkena tidak

12
dapat mengekspresikan wajahnya secara penuh. Pemeriksa haru dapat membedakan apakah
pasien mengalami paralisis (tidak ada gerakan) atau paresis (kelemahan) dari n. Fasialis pasien.
Pasien yang datang pertama kali dengan keadaan paresis memiliki prognosis yang lebih baik
dalam proses penyembuhan dibandingkan pasien yang datang langsung dengan paralisis.(7)
Pada pasien dengan keadaan paralisis dari n. Fasialis, selain dengan pemeriksaan fisik
dapat juga dilakukan pemeriksaan tambahan seperti electroneuronography (ENoG). Pemeriksaan
ini dilakukan untuk mengukur potensial aksi dari otot yang di stimulasi oleh n. Fasialis. Puncak
dari potensial aksi otot yang terstimulasi nantinya akan dibandingkan antara bagian yang normal
dan bagian yang paralisis. Penurunan amplitudo lebih dari 90% dibandingkan bagian yang
normal mengindikasikan prognosis yang buruk. Namun tes ini efektif dilakukan hanya pada hari
ke 3 sampai ke 21 pasca trauma.(5)
Saat terjadi perforasi pada membran timpani, cairan yang terakumulasi di telinga tengah
akan mengalir melalui perforasi tersebut dan bermanifestasi menjadi ottorhea. Cairan yang
keluar dapat berupa perdarahan, eksudat dari trauma, cairan serebrospinal, atau kombinasi dari
ketiganya. Cairan serebrospinal juga dapat mengalir menuju tuba eustachius dan bermanifestasi
sebagai rhinorrhea.(7)
Kebocoran cairan serebrospinal adalah hasil dari disrupsi dari meningen pada area
temporal atau fossa posterior. Pemeriksaan penunjang diperlukan untuk memastikan lebih lanjut
ada tidaknya kebocoran cairan serebrospinal. Cairan serebrospinal mengandung glukosa lebih
tinggi dan rendah protein serta kalium dibandingkan sekret mukus. Pemeriksaan spesifik untuk
cairan serebrospinal adalah dengan pemeriksaan beta-2 transferrin. Selain itu dapat juga
dilakukan CT Scan dengan kontras intratekal dan Fluorescein intratekal.(7)
Pemeriksaan radiografi juga diperlukan dalam kasus trauma tulang temporal. CT Scan
dengan resolusi tinggi adalah pemeriksaan yang perlu dilakukan pada kasus tersebut. Dengan
adanya CT scan akan didapatkan informasi mengenai bentuk fraktur serta keadaan anatomi
disekitar fraktur tersebut.(8)

13
Gambar 3. CT Scan menunjukkan adanya fraktur longitudinal dan transversal pada tulang
temporal(1)

Gambar 4. (a.) Diskontinuitas osikel akibat fraktur tulang temporal, (b.) Osikel normal(9)

14
2.2.4 Penatalaksanaan
Prinsip utama dari pentalaksanaan trauma tulang temporal adalah menangani komplikasi
yang ditimbulkan trauma tersebut. Tidak semua fraktur memerlukan tatalaksana lebih lanjut.
Fraktur pada daerah yang terisolasi pada mastoid air cells atau bagian squamous dari tulang
temporal secara umum hanya memerlukan observasi klinis. Ada pun algoritme yang biasa
digunakan dalam penanganan trauma tulang temporal adalah berikut:(7,10)

Gambar 5. Algoritme penanganan trauma tulang temporal(10)

Tindakan operatif tidak selalu dilakukan dalam penatalaksanaan trauma tulang temporal.
Indikasi dari tindakan operatif terdiri dari, tuli konduktif persisten, perforasi membran timpani

15
persisten, kerusakan n.fasialis berat, otorrhea atau rhinorrhea cairan serebrospinal akibat fraktur,
kolesteatom, kerusakan pada meatus acusticus externus mengarah ke stenosis.(7)
Pada kerusakan n. Fasialis diperlukan penilaian terlebih dahulu apakah terdapat
kerusakan berat atau tidak. Jika ditemukan prognosis yang buruk terhadap fungsi dari n. Fasialis
maka diperlukan tindakan operatif. Berbagai teknik dapat digunakan dalam menangani ini
tergantung dari lokasi n. Fasialis yang terkena. Teknik eksplorasi dan dekompresi n. Fasialis
dengan pendekatan melalui fossa cranii media dapat dilakukan untuk mengeksplorasi meatus
acusticus internus, bagian labyrinthine dari n. Fasialis, ganglion geniculatum, serta segmen
timpani. Pendekatan ini biasa dilakukan jika terdapat kerusakan di proksimal ganglion
geniculatum dan tanpa adanya tuli sensorineural. Salah satu keuntungan dari teknik ini adalah
terlihatnya meatus acusticus internus secara menyeluruh serta bagian labyrinthine dari n.
Fasialis. Namun beberapa komplikasi dapat terjadi seperti, tuli konduktif akibat herniasi lobus
temporal atau kerusakan osikel. Tuli sensorineural juga dapat terjadi apabila terjadi kerusakan
koklea atau disfungsi vestibular jika terjadi kerusakan kanalis semisirkularis.(1,11)
Teknik eksplorasi dan dekompresi n. Fasialis dengan pendekatan melalui transmastoid
berguna untuk melihat n. Fasialis dari ganglion geniculatum sampai ke foramen stylomastoid.
Pendekatan ini biasanya dilakukan jika terdapat kerusakan di distal ganglion geniculatum.
Pendekatan ini memperlihatkan bagian mastoid serta tympanic dari n. Fasialis dengan baik.
Namun, bagian labyrinthine tidak dapat terlihat dengan baik. Pendekatan yang lain yang biasa
digunakan berupa pendekeatan translabyrinthine dimana merupakan gabungan dari pendekatan
melalui transmastoid serta fossa cranii media. Pendekatan translabyrinthine biasanya dilakukan
ketika fungsi pendengaran dan keseimbangan hilang total.(1,11)
Otore cairan serebrospinal akibat trauma temporal biasanya akan sembuh secara spontan
dalam 2 minggu tanpa intervensi apapun. Antibiotik tidak selalu diberikan jika terjadi kebocoran.
Anamnesis terkait gejala meningeal seperti sakit kepala serta fotofobia perlu ditanyakan dan
lumbal pungsi juga perlu dilakukan jika pasien diperkirakan mengalami meningitis, sebelum
diberikan terapi antibiotik.(1)
Ketulian merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada taruma temporal. Jenis
tuli yang dapat terjadi bermacam-macam baik tuli konduktif, tuli sensorineural, maupun tuli
campuran. Tindakan operatif untuk menangani tuli konduktif akibat trauma temporal memiliki
hasil yang baik pada umumnya kecuali terjadi obstruksi tuba eustachius akibat adanya fraktur.

16
Timpanoplasti dan osikuloplasti dapat dilakukan untuk memperbaiki struktur telinga tengah.
Steroid sistemik dapat diberikan kepada pasien dengan tuli sensorineural atau tuli campuran.
Pasien dengan tuli unilateral dapat diberikan alat bantu dengar.(7)
Steroid sistemik selain untuk menangani tuli sensorineural juga dapat diberikan untuk
menangani kerusakan pada n. Fasialis. Steroid tersebut akan menginhibisi terjadinya inflamasi
dan mengurami edema disekitar saraf. Berkurangnya kompresi pada saraf akan diperkirakan
meningkatkan fungsi dari n. Fasialis.(1)
Disekuilibrium merupakan bentuk respon dan biasanya akan hilang secara spontan.
Benign paroxysmal positional vertigo dapat terjadi namun akan hilang dengan sendirinya dalam
beberapa hari sampai beberapa minggu secara perlahan. Vestibular supresan dapai diberikan
untuk mengurangi gejala yang dirasakan. Droperidol intravena merupakan obat yang paling
efektif dengan kerja obat cepat dan promethazine intramuskular untuk terapi lanjutan.(1)

2.2.5 Komplikasi
Trauma tulang temporal tidak hanya menyebabkan adanya kerusakan pada tulang
temporal itu sendiri tapi dapat juga menimbulkan berbagai komplikasi. Komplikasi ini
disebabkan karena tulang temporal memiliki fungsi dalam menopang berbagai struktur penting.
Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah gangguan pendengaran. Gangguan pendengaran
ini dapat berupa tuli konduktif, tuli sensorineural, maupun tuli campuran.(3)
Gangguan pada n. Fasialis merupakan salah satu komplikasi yang sering terjadi.
Diperkirakan komplikasi ini terjadi pada 15-20% pasien dengan fraktur longitudinal dan 50%
pada pasien dengan fraktur transversal.(3)
Trauma tumpul pada kranium dapat menyebabkan fraktur pada tulang temporal dan
menyebabkan robekan pada dura dan foramina yang dapat menimbulkan kebocoran. Otore dapat
timbul dalam hitungan menit maupun dalam waktu yang lebih lama dan muncul melalui
nasofaring.(3)
Kerusakan pada vaskularisasi dapat terjadi walaupun jarang, kerusakan pada karotis
terjadi hanya 1-4% dari seluruh kejadian. Vertigo setelah adanya trauma dapat terjadi dan
biasanya akan hilang dalam 6-12 bulan. Beberapa komplikasi lain yang dapat terjadi namun
jarang adalah meningocele, encephalocele, meningitis dan kolestetatom.(3)

17
18
BAB III
KESIMPULAN

Trauma pada tulang temporal merupakan kasus emergensi yang paling banyak
dikonsulkan ke dokter THT. Fraktur pada tulang temporal terjadi setidaknya 14-22% dari seluruh
trauma pada kranium. Secara anatomis, trauma tulang temporal dapat dibagi menjadi
longitudinal, tranversal, dan oblique. Untuk pembagian berdasarkan sequalae yang akan
terbentuk dapat dibagi menjadi peregangan kapsul otik dan kerusakan kapsul otik.(3,4,6)
Diagnosis dari trauma tulang temporal dapat ditegakkan melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang. Gejala yang muncul berupa adanya nyeri di telinga, gangguan
pendengaran, vertigo, kelemahan pada otot wajah, dan keluarnya darah dari telinga. Gangguan
pendengaran yang timbul dapat berupa tuli sensorineural, tuli konduktif maupun tuli campuran
tergantung dari lokasi trauma yang ada dan juga intensitas dari trauma. Trauma pada kapsul otik
dapat menyebabkan kerusakan berat pada vestibular, hal ini dapat menyebabkan nystagmus.
Trauma pada tulang temporal dan mukosa pada telinga tengah serta mastoid sering kali
menyebabkan akumulasi darah pada telinga tengah dan menyebabkan hemotimpanum.
Gangguan pada n. Fasialis dapat menyebabkan adanya kelemahan pada otot wajah. Perforasi
pada membran timpani, akan menyebabkan mengalirnya cairan yang terakumulasi di telinga
tengah dan bermanifestasi menjadi ottorhea. Jika cairan keluar melalui tuba eustachius akan
bermanifestasi menjadi rhinnorhea.(5,7)
Pemeriksaan radiografi juga diperlukan dalam kasus trauma tulang temporal. CT Scan
dengan resolusi tinggi adalah pemeriksaan yang perlu dilakukan pada kasus tersebut. Dengan
adanya CT scan akan didapatkan informasi mengenai bentuk fraktur serta keadaan anatomi
disekitar fraktur tersebut.(8)
Prinsip utama dari pentalaksanaan trauma tulang temporal adalah menangani komplikasi
yang ditimbulkan trauma tersebut. Tindakan operatif tidak selalu dilakukan dalam
penatalaksanaan trauma tulang temporal. Indikasi dari tindakan operatif terdiri dari, tuli
konduktif persisten, perforasi membran timpani persisten, kerusakan n.fasialis berat, otorrhea
atau rhinorrhea cairan serebrospinal akibat fraktur, kolesteatom, kerusakan pada meatus
acusticus externus mengarah ke stenosis. Teknik eksplorasi dan dekompresi n. Fasialis dapat
dilakukan untuk menangani gejala akibat kerusakan di n. Fasialis. Otore cairan serebrospinal

19
akibat trauma temporal biasanya akan sembuh secara spontan dalam 2 minggu tanpa intervensi
apapun. Antibiotik tidak selalu diberikan jika terjadi kebocoran. Timpanoplasti dan osikuloplasti
dapat dilakukan untuk memperbaiki struktur telinga tengah. Steroid sistemik dapat diberikan
kepada pasien dengan tuli sensorineural atau tuli campuran. Pasien dengan tuli unilateral dapat
diberikan alat bantu dengar. Disekuilibrium merupakan bentuk respon dan biasanya akan hilang
secara spontan. Vestibular supresan dapat diberikan untuk mengurangi gejala yang dirasakan.
Droperidol intravena merupakan obat yang paling efektif dengan kerja obat cepat dan
promethazine intramuskular untuk terapi lanjutan.(1,7)

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Patel A, Groppo E. Management of Temporal Bone Trauma. Craniomaxillofac Trauma


Reconstr. 2010; 3(2):105-13.
2. Amin Z, Sayuti R, Kahairi A, Islah W, Ahmad R. Head injury with temporal bone
fracture: one year review of case incidence, causes, clinical features and outcome. Med J
Malaysia. 2008; 63(5): 373-6.
3. Ho KK, Makishima T, Quinn BF, Quinss MS. Temporal bone fracture. Grand rounds
presentation, UTMB, Dept. of Otolaryngology. Texas. 2010.
4. Montava M, Mancini J, Masson C, Collin M, Chaumoitre K, Lavieille JP. Temporal bone
fractures: sequelae and their impact on quality of life. American Journal of
Otolaryngology-Head and Neck Medicine and Surgery. 2015; 36:364-70.
5. Djalilian RH, Hamidi S. Ear Pain. In: Djalilian RH. 10 Minute ENT Consult. San Diego:
Plural Publishing; 2009. p.48-9.
6. March AR, Connell S, Belafsky PC. Temporal bone fractures. 2015. Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/857365-overview. Accessed on June 28th 2017.
7. Brennan JA, Holt GR, Connor MP, Donald PJ, Eusterman VD, Hayes DK et al. Resident
manual of trauma to the face, head, and neck. USA: American academy of
otolaryngology-head and neck surgery foundation. 2012.
8. Musiek FE. Inner Ear Disorders. In: Musiek FE, Baran JA, Shinn JB, Jones RO.
Disorders of the auditory system. San Diego: Plural publishing; 2014. p.169.
9. Saraiya PV, Aygun N. Temporal bone fractures. Emerg Radiol. 2009; 16:255-65.
10. Yalciner G, Kutluhan A, Bozdemir K, Cetin H, Tarlak B, Bilgen AS. Temporal bone
fractures: evaluation of 77 patients and a management algorithm. Ulus Travma Acil
Cerrahi Derg. 2012; 18(5):424-8.
11. Linstrom C, Duff B. Acute Facial Palsy: Diagnostic Assessment and Treatment. In: Babu
S. Practical otology for the otolaryngologist. San Diego: Plural publishing; 2010. p. 325-
8.

21