Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Komunitas merupakan suatu kelompok dari masyarakat yang tinggal di suatu
lokasi yang sama dengan dibawah pemerintahan yang sama, area atau lokasi yang
sama dimana mereka tinggal , kelompok sosial yang mempunyai interest yang
sama (Riyadi, 2007). Banyak permasalahan yang terjadi dan ditemukan dalam
komunitas, terutama adalah masalah kesehatan.
Masalah kesehatan adalah suatu masalah yang sangat kompleks, yang saling
berkaitan dengan masalah-masalah lain diluar kesehatan sendiri. Demikian pula
pemecahan masalah kesehatan, masalah tidak hanya dilihat dari segi kesehatannya
sendiri tetapi harus dilihat dari segi-segi yang berpengaruh terhadap masalah
sehat-sakit. Untuk itu sangat diperlukan pelayanan kesehatan yang dapat
membantu masalah kesehatan yang ada di komunitas atau masyarakat.
Pelayanan keperawatan berupa bantuan yang diberikan karena adanya
kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya kemauan
melaksanakan kehidupan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan pelayanan
diberikan dalam upaya peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit
(preventif), penyembuhan (kuratif), serta pemeliharaan kesehatan (rehabilitative).
Upaya-upaya tersebut dapat di berikan oleh profesi keperawatan sebagai bagian
integral pelayanan kesehatan.
Keperawatan komunitas menurut Depkes RI (1986) suatu upaya pelayanan
kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikutsertakan tim
kesehatan lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan individu,
keluarga, dan masyarakat lebih tinggi. Namun keperawatan komunitas dalam
pemberian pelayanan kesehatan tidaklah selalu mulus, banyak trend dan isu yang
dapat di jumpai di lapangan. Dimana trend adalah sesuatu yang sedang di
bicarakan oleh banyak orang saat ini dan kejadiannya berdasarkan fakta.
Sedangkan Isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan
terjadi atau tidak terjadi di masa mendatang, yang menyangkut ekonomi, moneter,
sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam, hari kiamat,

1
2

kematian, ataupun tentang krisis. Beberapa trend dan isu mengenai keperawatan
komunitas membuat semuanya menjadi semakin rumit.

1.2 Tujuan penulisan


1.2.1 Tujuan umum
Untuk mengetahui trend dan issu keperawatan komunitas secara keseluruhan.
1.2.2 Tujuan khusus
1.2.2.1 Mahasiswa mengetahui definisi keperawatan komunitas
1.2.2.2 Mahasiswa mengetahui prinsip-prinsip keperawatan komunitaas
1.2.2.3 Mahasiswa mengetahui strategi pelaksanaan didalam keperawatan
komunitas
1.2.2.4 Mahasiswa mengetahui sasaran keperawatan komunitas
1.2.2.5 Mahasiswa mengetahui trend dan isu dalam keperawatan komunitas
1.2.2.6 Mahasiswa mengetahui trend dan issu yang sedang di bicarakan dalam
keperawata komunitas
1.2.2.7 Masalah bidang kesehatan di Indonesia
3

BAB 2
TINJAUAN TEORI

2. 1 Konsep Keperawatan Komunitas


2.1.1 Definisi
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional sebagai
bagian dari integral pelayanan kesehatran berbentuk pelayanan biologi,
psikologi, sosial, dan spiritual secara komprehensif, yang ditujukan kepada
individu, keluarga dan masyarakat baik yang sehat maupun yang sakit,
mencakup pada siklus hidup manusia (Riyadi, 2007).
Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan serta memberikan bantuan melalui intervensi
keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam membantu individu, keluarga,
kelompok dan masyarakat dalam mengatasi barbagai masalahkeperawatan
yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari (Efendi, 2009).
Asuhan keperawatan diberikan karena adanya kelemahan fisik maupun
mental, keterbatasan pengetahuan serta kurang kemauan menuju kepada
kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Kegiatan ini
dilakukan dalam upaya peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit,
penyembuhan, pemulihan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan
pada upaya pelayanan kesehatan utama (Primary Health care) untuk
memungkinkan setiap orang mencapai kemampuan hidup sehat dan
produktif. Kegiatan ini dilakukan sesuai dengan wewenang, tanggung jawab
serta etika profesi keperawatan (Riyadi, 2007).

2.1.2 Prinsip-Prinsip dari Keperawatan Komunitas


Adapun prinsip didalam keperawatan komunitas adalah sebagai berikut
(Mubarak, 2005):
1. Kemanfaatan
Semua tindakan dalam asuhan keperawatan harus memberikan manfaat
yang besar bagi komunitas. Intervensi atau pelaksanaan yang dilakukan
4

harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi komunitas, artinya


ada keseimbangan antara manfaat dan kerugian
2. Kerjasama
Kerjasama dengan klien dalam waktu yang panjang dan bersifat
berkelanjutan serta melakukan kerja sama lintas program dan lintas
sektoral
3. Secara langsung
Asuhan keperawatan diberikan secara langsung mengkaji dan
intervensi, klien dan lingkunganya termasuk lingkungan sosial,
ekonomi serta fisik mempunyai tujuan utama peningkatan kesehatan
4. Keadilan
Tindakan yang dilakukan disesuaikan dengan kemampuan atau
kapasitas dari komunitas itu sendiri. Dalam pengertian melakukan
upaya atau tindakan sesuai dengan kemampuan atau kapasitas
komunitas
5. Otonomi
Klien atau komunitas diberi kebebasan dalam memilih atau
melaksanakan beberapa alternatif terbaik dalam menyelesaikan masalah
kesehatan yang ada

2.1.3 Strategi Pelaksanaan didalam Keperawatan Komunitas


Untuk strategi pelaksanaan didalam keperawatan komunitas, menurut
Mubarak (2005) adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan kesehatan (Health Promotion)
Penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan
dengan cara menyebarkan pesan, menanamkan keyakinan, sehingga
masyarakat tidak saja sadar, tahu dan mengerti, tetapi juga mau dan bisa
melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan.
Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan
kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai
suatu keadaan, dimana individu, keluarga, kelompok atau masyarakat
5

secara keseluruhan ingin hidup sehat, pendidikan kesehatan adalah


suatu penerapan konsep pendidikan di dalam bidang kesehatan.

2. Proses kelompok (Group Process)


Bidang tugas perawat komunitas tidak bisa terlepas dari kelompok
masyarakat sebagai klien termasuk sub-sub sistem yang terdapat di
dalamnya, yaitu: individu, keluarga, dan kelompok khusus, perawat
spesialis komunitas dalam melakukan upaya peningkatan, perlindungan
dan pemulihan status kesehatan masyarakat dapat menggunakan
alternatif model pengorganisasian masyarakat, yaitu: perencanaan
sosial, aksi sosial atau pengembangan masyarakat.
3. Kerjasama atau kemitraan (Partnership)
Kemitraan adalah hubungan atau kerja sama antara dua pihak atau
lebih, berdasarkan kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan
atau memberikan manfaat. Partisipasi klien/masyarakat
dikonseptualisasikan sebagai peningkatan inisiatif diri terhadap segala
kegiatan yang memiliki kontribusi pada peningkatan kesehatan dan
kesejahteraan. Kemitraan antara perawat komunitas dan pihak-pihak
terkait dengan masyarakat digambarkan dalam bentuk garis hubung
antara komponen-komponen yang ada. Hal ini memberikan pengertian
perlunya upaya kolaborasi dalam mengkombinasikan keahlian masing-
masing yang dibutuhkan untuk mengembangkan strategi peningkatan
kesehatan masyarakat
4. Pemberdayaan (Empowerment)
Konsep pemberdayaan dapat dimaknai secara sederhana sebagai proses
pemberian kekuatan atau dorongan sehingga membentuk interaksi
transformatif kepada masyarakat, antara lain: adanya dukungan,
pemberdayaan, kekuatan ide baru, dan kekuatan mandiri untuk
membentuk pengetahuan baru
6

2.1.4 Sasaran Keperawatan Komunitas


Adapun yang menjadi sasaran keperawatan komunitas adalah sebagai
berikut:
1. Individu
Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari
aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada
individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya
mencakup kebutuhan biologi, social, psikologi dan spiritual karena
adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang
kemauan menuju kemandirian pasien/klien.
2. Keluarga
Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara
terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan
maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau
masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya
mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia dapat dilihat pada
Hirarki Kebutuhan Dasar Maslow yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman
dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri.
3. Kelompok khusus
Kelompok khusus adalah kumpulan individu yang mempunyai kesamaan
jenis kelamin, umur, permasalahan, kegiatan yang terorganisasi yang
sangat rawan terhadap masalah kesehatan.
4. Tingkat Komunitas
Pelayanan asuhan keperawatan berorientasi pada individu, keluarga
dilihat sebagai satu kesatuan dalam komunitas. Asuhan ini diberikan
untuk kelompok beresiko atau masyarakat wilayah binaan. Pada tingkat
komunitas, asuhan keperawatan komunitas diberikan dengan mamandang
komunitas sebagai klien.
7

2.2 Konsep Trend dan Issue


2.2.1 Trend dan Issue Keperawatan Komunitas
Issue adalah suatu peristiwa atau kejadian yang dapat diperkirakan
terjadi atau tidak terjadi di masa mendatang, yang menyangkut ekonomi,
moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana alam, hari
kiamat, kematian, ataupun tentang krisis. Secara sederhana isu dapat
diartikan sebagai sebuah persoalan, atau isu dapat juga dikatakan sebagai
sebuah masalah, sesuatu yang sedang menjadi perhatian, yang terlintas,
desas desus atau banyak lagi peristilahan lain. Isu berarti sebuah pokok
persoalan.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Tahun 1997, isu adalah
“masalah yang dikedepankan”. Sedangkan Kamus Besar Bahasa
Indonesia tahun 1993, isu adalah :
1. Masalah yang dikedepankan untuk ditangani;
2. Kabar angin yang tidak jelas asal usulnya dan tidak terjamin
kebenarannya;
3. Kabar, desas-desus.
Trend adalah sesuatu yang sedang booming, aktual, dan sedang hangat
diperbincangkan. Sedangkan isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang
dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi di masa mendatang, menyangkut
ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan nasional, bencana
alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis.
Keperawatan merupakan profesi yang dinamis dan berkembang secara
terus menerus dan terlibat dalam masyarakat yang berubah, sehingga
pemenuhan dan metode keprawatan kesehatan berubah, karena gaya hidup
masyarakat berubah dan perawat sendiri juga dapat menyesuaikan dengan
perubahan tersebut. Definisi dan filosofi terkini dari keperawatan
memperlihatkan trend holistic dalam keperawatan yang ditunjukkan secara
keseluruhan dalam berbagai dimensi, baik dimensi sehat maupun sakit serta
dalam interaksinya dengan keluarga dan komunitas. Tren praktik
8

keperawatan meliputi perkembangan di berbagai tempat praktik dimana


perawat memiliki kemandirian yang lebih besar.
Perkembangan Keperawatan di Indonesia saat ini sangat pesat, hal ini
disebabkan oleh: Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
sangat cepat sehingga informasi dengan cepat dapat diakses oleh semua
orang sehingga informasi dengan cepat diketahui oleh masyarakat,
perkembangan era globalisasi yang menyebabkan keperawatan di Indonesia
harus menyesuaikan dengan perkembangan keperawatan di negara yang
telah berkembang dan Sosial ekonomi masyarakat semakin meningkat
sehingga masyarakat menuntut pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi,
tapi di lain pihak bagi masyarakat ekonomi lemah mereka ingin pelayanan
kesehatan yang murah dan terjangkau.

2.2.2 Trend dan isu yang sedang dibicarakan dalam keperawatan komunitas
Adapun trend dan issue yang dibicarakan didalam keperawatan komunitas
adalah sebagai berikut:
1. Pengaruh politik terhadap keperawatan professional
Keterlibatan perawat dalam politik sangat terbatas. Walaupun secara
individu ada beberapa nama seperti F.Nightingale, Lilian Wald, Margaret
Sunger, dan Lavinia Dock telah mempengaruhi dalam pembuatan di
berbagai bidang nampaknya perawat kurang di hargai sebagai kelompok.
Gerakan wanita telah memberikan inspirasi pada perwat mengenai
masalah keperawatan komunitas.
2. Pengaruh perawat dalam aturan dan praktik keperawatan
Pospek keperawatan komunitas dimasa yang akan dating cenderung
semakin berkembang dan dibutuhkan dalam system pelayanan kesehatan
pemerintah. Peran perawat kesehatan masyarakat sangat dibutuhkan
dalam mengatasi sebagai masalah kesehatan yang terjadi di masa yang
akan datang karena mengikuti perubahan secara keseluruhan. Dampak
perubahan tersebut dapat berpengaruh pada peran yang dilkaukan
perawat. Intervensi keperawatan kesehatan masarakat diberbagai tingkat
9

pelayanan akan semakin besar dikarnakan adanya kelalaian,


ketidaktahuan, ketidakmauan, dan ketidakmampuan individu,keluarga,
kelompok, dan masyarakat.
3. Puskesmas Idaman
Puskesmas Idaman adalah Puskesmas dengan pelayanan kesehatan
bermutu yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan serta memberi
pelayanan yang sesuai dengan standart operating procedure (SOP)
pelayanan kesehatan. “Puskesmas Idaman” sebagai pelayanan
masyarakat, akan berusaha untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanan
kesehatan yang sesuai dengan harapan pelanggan, oleh karena itu
Puskesmas Idaman juga merubah paradigma dari “ Puskesmas yang
mengatur Masyarakat” menjadi “Puskesmas yang memenuhi harapan
Masyarakat”.

Terdapat juga trend dan issue lain didalam keperawatan komunitas, yaitu
sebagai berikut:
1. Global
1) Dunia tanpa batas (global village) mempengaruhi sikap dan pola
perilaku komunitas.
2) Kemajuan dan pertukaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang
semakin global sehingga penyebarannya semakin meluas.
3) Kemajuan teknologi di bidang transportasi sehingga tingkat
mobilisasi penduduk yang tinggi seperti migrasi yang besar-besaran
yang berpengaruh terhadap interaksi keluarga yang berubah.
4) Kompetisi global dibidang penyediaan sarana dan prasarana serta
pelayanan kesehatan menuntut standar profesionalitas keperawatan
yang tinggi.
5) Rendahnya minat perawat untuk bekerja dengan keluarga/komunitas
akibat system yang belum berkembang.
6) Keperawatan keluarga/komunitas dianggap tidak menantang.
7) Geografis luas namun tidak ditunjang dengan fasilitas.
10

8) Kerjasama lintas program dan lintas sektor belum memadai.


9) Model pelayanan belum mendukung peranan aktif semua profesi.
2. Pelayanan
1) Sumber daya manusia belum dapat menjawab tantangan global dan
belum ada perawat komunitas.
2) Penghargaan/reward rendah.
3) Bersikap pasif.
4) Biaya pelayanan kesehatan rawat inap mahal.
5) Pengetahuan dan keterampilan perawat masih rendah.
3. Pendidikan
1) Lahan untuk praktik klinik terbatas, namun institusi pendirian
pendidikan keperawatan cenderung mudah
2) Penelitian terkait pengembangan dan uji model masih terbatas.
3) Sarana dan prasarana pendidikan sangat terbatas.
4) Rasio pengajar : mahasiswa belum seimbang.
5) Keterlibatan berbagai profesi selama pendidikan kurang.
4. Profesi
1) Standar kompetensi belum disosialisasikan.
2) Belum ada model pelayanan yang dapat menjadi acuan.
3) Kompetensi berbagai jenjang pendidikan tidak berbatas.
4) Mekanisme akreditasi belum berjalan dengan baik.
5) Peranan profesi di masa depan dituntut lebih banyak.
6) Perlu pengawalan dan pelaksanaan undang-undang praktik
keperawatan.

2.2.3 Masalah bidang kesehatan di Indonesia


Keadaan lain di Negara Indonesia yang masih merupakan masalah yang
harus dihadapi dalam permasalahan Bidang Kesehatan meliputi :
1. Masih cukup tingginya perbedaan status kesehatan antar tingkat sosial
ekonomi
11

Permasalahan pembangunan sosial dan budaya yang menjadi


perhatian utama antara lain adalah masih rendahnya derajat kesehatan
dan status gizi serta tingkat kesejahteraan sosial masyarakat; masih
rentannya ketahanan budaya dan belum diberdayakannya kesenian dan
pariwisata secara optimal; masih rendahnya kedudukan dan peranan
perempuan diberbagai bidang kehidupan dan pembangunan; masih
rendahnya partisipasi aktif pemuda dalam pembangunan nasional, belum
membudayanya olahraga dan masih rendahnya prestasi olahraga.
Berbagai permasalahan tersebut akan diatasi melalui pelaksanaan
berbagai program pembangunan yang mengacu pada arah kebijakan
sosial dan budaya yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999–2004.
Strategi yang digunakan dalam melaksanakan pembangunan bidang
sosial dan budaya adalah desentralisasi; peningkatan peran masyarakat
termasuk dunia usaha; pemberdayaan masyarakat termasuk
pemberdayaan perempuan dan keluarga, penguatan kelembagaan
termasuk peningkatan koordinasi antarsektor dan antar
lembaga. Lingkungan sosial budaya yang erat kaitannya dengan masalah
kesehatan harus dilihat dari segi kehidupan masyarakat secara luas.
Faktor–faktor kemasyarakatan tersebut antara lain struktur sosial,
ekonomi dan budaya. Ini meliputi kecerdasan rakyat, kesadaran rakyat
untuk memlihara kesehatan dirinya sendiri.
Makin bertambah tinggi tingkat pendidikan masyarakat akan tercipta
perilaku dan sikap yang baik terhadapa hidup sehat yang menguntungkan
upaya kesehatan. Masyarakat agraris pada umumnya lebih lamban
menanggapi perubahan nilai sosila budaya termasuk ekonomi, hingga
sulit mengatasi masalah kemiskinan maupun pengembangan sosial dan
budaya, yang justru berpengaruh pada sikap dan perilaku hidup sehat.
2. Mobilitas penduduk yang cukup tinggi
Upaya pengendalian pertumbuhan telah berhasil dengan baik
terutama melalui gerakan Keluarga Berencana. Namun pertambahan
jumlah penduduk dan perbandingan penduduk usia muda yang masih
12

besar, serta penyebaran peduduk yang masih belum merata,


menimbulkan masalah. Perbandingan jumlah penduduk wanita dan pria,
tidak akan banyak berubah dari keadaan sekarang, yaitu 100 orang
wanita terhadap 96,8 pria. Jumlah penduduk berusia 40 tahun keatas,
secara relatif akan bertambah. Ini berarti perlunya peningkatan pelayanan
untuk penyakit – penyakit tidak menular seperti kanker, penyakit jantung,
dan penyakit degeneratif lainnya yang biasa diderita oleh penduduk
berusia 40 tahun keatas, yang relatif lebih mahal pelayanannya
dibandingkan dengan penyakit menular.
Dengan demikian ciri kependudukan di Indonesia sampai sekarang
masih cenderung bergerak lamban dari penduduk usia muda ke arah
penduduk usia tua. Karena itu upaya kesehatan masih ditujukan terutama
kepada penyakit-penyakit yang banyak dideriita oleh anak-anak di bawah
usia 5 tahun, dengan tidak melupakan pula berbagai penyakit yang lazim
diderita oleh golongan umur produktif yang makin besar jumlahnya serta
perubahan ciri-ciri penyakit di masa akan datang kondisi kesehatan
lingkungan masih rendah; Pencemaran lingkungan dewasa ini selain
terutama disebabkan karena kebiasaan membuang kotoran yang tidak
semestinya juga disebabkan oleh pencemaran air dan tanah serta udara
karena bahan buangan industri, limbah pertanian dan pertambangan serta
pencemaran udara karena kenderaan bermotor. Pencemaran makanan dan
minuman dapat terjadi karena hygiene dan sanitasi yang belum memadai,
pemakaian bahan tambahan, pemakaian pestisida untuk menyelamatkan
produksi pangan dan keadaan lingkungan yang makin tercemar.
Mengenai perumahan, bahwa dewasa ini masih banyak penduduk
menempati rumah dan pemukiman yang tidak layak, yang merugikan
kondisi kesehatan diri sendiri dan lingkungan.
4. Perilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah
Berdasarkan batasan perilaku dari Skiner tersebut, maka perilaku
kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus
objek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan
13

kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan. dari batasan ini,


perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi :
1) Tidak merokok
Merokok adalah kebiasaan jelek yang mengakibatkan berbagai macam
penyakit. Ironisnya kebiasaan merokok ini, khususnya di Indonesia
seolah-olah sudah membudaya. Hampir 50% penduduk Indonesia usia
dewasa merokok. bahkan dari hasil suatu penelitian, sekitar 15%
remaja kitatelah merokok. inilah tantangan pendidikan kesehatan kita.
2) Tidak minum-minuman keras dan narkoba
Kebiasaan minuman keras dan mengkonsumsi narkoba (narkotik dan
bahan-bahan berbahaya lainnya) juga cenderung meningkat. Sekitar
1% penduduk Indonesia dewasa diperkirakan sudah mempunyai
kebiasaan minuman keras ini.
3) Istirahat cukup
Dengan meningkatnya kebutuhan hidup akibat tuntutan untuk
penyesuaian lingkungan modern, mengharuskan orang untuk bekerja
keras dan berlebihan, sehingga kurang waktu istirahat. hal ini dapat
juga membahayakan kesehatan.
4) Mengendalikan stres
Stres akan terjadi pada siapa saja, dan akibatnya bermacam-macam
bagi kesehatan. Lebih-lebih sebagai akibat dari tuntutan hidup yang
keras seperti diuraikan di atas. Kecenderungan stres akan meningkat
pada setiap orang. stres tidak dapat kita hindari, maka yang penting
agar stres tidak menyebabkan gangguan kesehatan, kita harus dapat
mengendalikan atau mengelola stres dengan kegiatan-kegiatan yang
positif.
5. Keterbatasan pelayanan kesehatan
Dalam rangka pemerataan pengembangan dan pembinaan kesehatan
masyarakat, khususnya yang berpenghasilan rendah, telah dibangun
Pusat-Pusat Kesehatan Masyarakat. Dewasa ini seluruh kecamatan
sudah mempunyai sekurang-kurangnya sebuah Puskesmas serta
14

beberapa Puskesmas Pembantu. Jangkauan upaya pelayanan


Puskesmas dan Puskemsas pemantu masih belum memadai terutama
di daerah pedesaan yang sulit perhubungannya atau daerah terpencil.
Untuk mengatasi itu diadakan Puskesmas Keliling dan Polindes untuk
membantu memberiakan pelayanan kepeda penduduk. Namun belum
semua desa bisa terjangkau.
6. Jumlah tenaga kesehatan masih kurang merata
Masih rendahnya kualitas pelayanan kesehatan di Puskesmas dan
jaringannya, masih rendahnya kinerja SDM Kesehatan. Secara umum
dapat dikatakan bahwa baik tenaga medis maupun tenaga paramedis
jumlah dan mutunya serta pemerataannya masih belum memadai. Hampir
seluruh dokter dan sebagian besar tenaga paramedis adalah pegawai
negeri, sedangkan banyak tenaga medis merangkap melayani usaha
kesehatan swasta. Hal ini dapat mengurangi mutu pelayanan kesehatan-
kesehatan pemerintah. Perbandingan jumlah dokter dan paramedis serta
tenaga kesehatan lainnya terhadap jumlah penduduk masih jauh dari
memuaskan.
Pola ketenagaan untuk unit-unit pelayanan kesehatan serta pendidikan
dan latihannya masih perlu dimantapkan. Sistem pengelolaan tenaga
kesehatan yang baru dirintis belum sepenuhnya memungkinkan
pembinaan tenaga kesehatan berdasarkan sistem karier dan prestasi
kerja. Dengan meningkatnya kecepatan pembangunan bidang kesehatan
sebagi bagian dari pembangunan nsional, kiranya masalah ketenagaan
tersebut juga akan cenderung meningkat pula. Karena itu masalah
ketenagaan perlu mendapatkan prioritas penggarapan baik untuk jangka
pendek maupun menengah dan jangka panjang.
7. Pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada belum optimal
Pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan,
atau sering disebut perilaku pencairan pengobatan (health seeking
behavior). Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan seseorang
pada saat menderita penyakit dan atau kecelakaan. tindakan atau perilaku
15

ini dimulai dari mengobati sendiri (self treatment) sampai mencari


pengobatan ke luar negeri. Fasilitas kesehatan sebagi salah satu sumber
daya kesehatan sampai dewasa ini telah dikembangkan tahap demi tahap
sesuai dengan keperluan. Jumlah dan fungsi rumah sakit baik pemerintah
maupun swasta telah pula ditingkatkan. Peningkatan rumah sakit ini
merupakan salah satu kegiatan dari peningkatan upaya kesehatan
rujukan, yang dimaksudkan untuk lebih menunjang upaya kesehatan
Puskesmas.
Demikian pula fasilitas kesehatan lainnya seperti laboratorium, kantor,
perumahan dinas, fasilitas pendidikan dan latihan dan yang lainnya telah
pula ditingkatkan. Namun pamanfaatan terhadap fasiltas tersebut masih
belum optimal, hal ini dapat kita lihat dari sedikitnya jumlah kunjungan
rawat jalan di Puskesmas dibandingkan dengan kunjungan ke praktek
pribadi medis maupun paramedis. Selain itu masih adanya pemanfaatan
pengobatan pada praktik perdukunan pada sebagain masyarakat di
pedesaan.
8. Akses masyarakat untuk mencapai fasilitas kesehatan yang ada belum
optimal
Akses yang dimaksud adalah sarana pendukung seperti sarana jalan
dan transfortasi yang masih belum baik dan kurang. Di daerah
terbelakang dan terpencil sampai saat ini untuk sarana jalan dan
transfortasi dapat dikatakan kurang mendukung. Untuk mencapai fasilitas
kesehatan terkadang membutuhkan waktu berhari-hari hanya untuk
mengobati sakit sanak keluarga masyarakat di desa terpencil tersebut.
Permasalah ini tidak lepas juga dengan letak geografis darah tersebut.
Selain itu tidak semua desa tertinggal atau terpencil ditempatkan petugas
kesehatan dikarenakan masih kurangnya tenaga kesehatan.
9. Peran lintas sektor dalam bidang kesehatan belum optimal
Diantara faktor-faktor yang perlu mendapatkan perhatian dalam
pembangunan antara lain adalah kerja sama lintas sektor. Kerja sama
yang dimaksud adalkah kerja sama berbagai sektor pembangunan,
16

kerjasama pemerintah dengan masyarakat termasuk swasta. Yang masih


perlu ditingkatkan adalah kerja sama lintas sektor yang diselenggarakan
oleh pemerintah dan swasta, baik dari segi teknis opersional maupun
administratif, ketengaan dan kejelasan mekanisme kerja bahkan termasuk
aspek-aspek hukum yang dapat memantapkan kerja sama secara
luas Kerja sama llintas sektor sering sukar diwujudkan jika kerja sama
tersebut tidak didasari oleh saling pengertian dan keterbukaan yang
mendalam antara komponen yang terlibat serta tidak ada kejelasan
tentang tujuan bersama. Peran yang harus dilakukan oleh masing-masing
komponen dalam kerja sama itu dan mekanisme kerjanya perlu
dirumuskan.
17

BAB 3
Penutup
3.1 Kesimpulan
Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan dan
meningkatkan kesehatan serta memberikan bantuan melalui intervensi
keperawatan sebagai dasar keahliannya dalam membantu individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat dalam mengatasi barbagai
masalahkeperawatan yang dihadapinya dalam kehidupan sehari-hari
(Efendi, 2009).
Trend adalah sesuatu yang sedang booming, aktual, dan sedang hangat
diperbincangkan. Sedangkan isu adalah suatu peristiwa atau kejadian yang
dapat diperkirakan terjadi atau tidak terjadi di masa mendatang,
menyangkut ekonomi, moneter, sosial, politik, hukum, pembangunan
nasional, bencana alam, hari kiamat, kematian, ataupun tentang krisis
18

DAFTAR PUSTAKA

Effendy Nasrul, (1998). Dasar-dasar Keperawatan Kesehatan Masyarakat Edisi


2. Jakarta: EGC.
Koenig Kathleen Blais dkk, (2006). Pratik Keperawatan Profesional Edisi 4.
EGC, Jakarta.
Setyowati Sri dkk. (2008). Asuhan Keperawatan Keluarga Konsep Dan Aplikasi
kasus Edisi Revisi. Yogyakarta: Mitra Cendikia.
Sumijatu dkk. (2005).Konsep Dasar Keperawatn Komunitas. Jakarta: EGC.
Zang, S.M & Bailey, N.C. Alih Bahasa Komalasari, R. (2004). Manual
Perawatan di rumah (Home Care Manual) Edisi Terjemahan Cetakan I.
Jakarta: EGC.