Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

ABORTUS INKOMPLIT

Oleh:
Ni Wayan Ayu Anggreni (1702612106)
Michelle Anne Anthonysamy (1702612161)
Ni Putu Pradita Dhriti Indrayani Sukadana (1702612056)

Pembimbing
dr. Ida Bagus Made Sukadana, SpOG
dr. I Gede Sudiarta, M.Biomed, SpOG
dr. Putu Ayu Novianitri, SpOG

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITRAAN KLINIK MADYA


DI BAGIAN/SMF ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA
RSUD TABANAN
2018
2

LEMBAR PERSETUJUAN

LAPORAN KASUS KOAS

BAGIAN/SMF OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

FK UNUD/RSUD TABANAN

Nama/NIM : Ni Wayan Ayu Anggreni /1702612106


Michelle Anne Anthonysamy /1702612161
Ni Putu Pradita Dhriti Indrayani Sukadana/1702612080
Judul : Abortus Inkomplit

Tanggal Presentasi :

STATUS NAMA TANDA TANGAN

PEMBIMBING

PENGUJI

Denpasar, Oktober 2018

Kepala SMF Obgyn RSUD Tabanan

()
3

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rahmat-Nya maka laporan kasus dengan topik “Abortus Inkomplit” ini dapat selesai
pada waktunya.
Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-
pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan kasus ini. Laporan kasus
ini disusun sebagai salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan Klinik Madya di
bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana/RSUD Tabanan.
Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada:
1. dr. Ida Bagus Made Sukadana, Sp.OG selaku Kepala SMF Ilmu Obstetri dan
Ginekologi RSUD Tabanan yang telah memberikan kami kesempatan untuk
belajar di rumah sakit ini;
2. dr. Ida Bagus Made Sukadana, Sp.OG, dr. I Gede Sudiarta, M.Biomed,
SpOG, dr. Putu Ayu Novianitri, SpOG selaku pembimbing yang telah
memberikan pengarahan, kritik, dan saran di dalam pembuatan laporan kasus
ini;
3. Seluruh pihak yang membantu penulis dalam penyusunan laporan kasus.
Penulis menyadari laporan ini masih jauh dari sempurna dan banyak
kekurangan, sehingga saran dan kritik pembaca yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan untuk kesempurnaan laporan kasus ini. Semoga tulisan ini dapat
bermanfaat bagi pembaca.

Tabanan, Oktober 2018

Penulis
4

DAFTAR ISI

HALAMAN DEPAN .............................................................................................i


LEMBAR PERSETUJUAN LAPORAN KASUS ................................................ii
KATA PENGANTAR ............................................................................................iii
DAFTAR ISI
iv
BAB I Pendahuluan
1
BAB II Tinjauan Pustaka
3
2.1 Definisi
3
2.2 Epidemiologi
5
2.3 Etiologi dan Faktor Risiko
5
2.4 Patofisiologi
9

2.5 Manifestasi Klinis


9

2.6 Diagnosis
11
2.8 Diagnosis Banding
13
2.8 Penatalaksanaan
13
2.9 Komplikasi
16
2.10 Prognosis
16
5

BAB III Laporan Kasus


17
BAB IV Pembahasan
25
BAB V Ringkasan
31
DAFTAR PUSTAKA
6

BAB I
PENDAHULUAN

Kehamilan merupakan sebuah proses yang diawali dengan konsepsi


(pembuahan) yang berakhir dengan lahirnya janin. Pada tahun 2012, diperkirakan
terdapat sebanyak 213 juta kehamilan di seluruh dunia, sedikit meningkat
dibandingkan pada tahun 2008 dengan jumlah 211 juta.1 Meskipun sebagian besar
kehamilan dapat berlangsung baik dan tanpa komplikasi, terdapat juga beberapa
gangguan patologis, kondisi penyulit, maupun komplikasi terhadap kehamilan.
Gangguan pada proses kehamilan dapat berakibat pada terjadinya kematian baik
pada ibu maupun janin. Sampai saat ini, angka kematian ibu (AKI) di Indonesia
tidak dapat turun seperti yang diharapkan. Menurut laporan Survei Demografi dan
Kesehatan Indonesia tahun 2012, angka kematian ibu di Indonesia mencapai 359
per 100.000 kelahiran hidup.2 Penyebab utama kematian ibu dalam bidang obstetri
adalah perdarahan 45%, diikuti oleh infeksi 15%, dan hipertensi dalam kehamilan
13%. Sisanya terbagi atas penyebab partus macet, abortus yang tidak aman, dan
penyebab tidak langsung lainnya.3

Penyebab Perdarahan pada kehamilan muda yang tersering adalah abortus,


kehamilan ektopik terganggu (KET), dan mola hidatidosa. Setiap wanita hamil
beresiko mengalami perdarahan berapapun umur kehamilannya, dimana
perdarahan ini harus selalu dianggap sebagai kelainan yang berbahaya karena
dapat mengancam jiwa ibu ataupun janin. Abortus adalah penyebab yang paling
sering ditemukan dengan rata-rata terjadi sebanyak 114 abortus setiap jam.4
Abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar
kandungan. National Center for Health Statistics, Centers for Disease Control
and Prevention, dan World Health Organization mendefinisikan abortus sebagai
terminasi kehamilan dengan usia kehamilan sebelum 20 minggu atau dengan berat
janin di bawah 500 g.3 Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus
spontan. Sedangkan abortus buatan adalah pengakhiran kehamilan sebelum 20
minggu akibat tindakan. Abortus medisinalis ialah abortus buatan yang dilakukan
atas indikasi medik.4 Berdasarkan aspek klinisnya, abortus spontan dibagi menjadi
beberapa kelompok, yaitu abortus imminens (threatened abortion), abortus
7

insipiens (inevitable abortion), abortus inkomplit, abortus komplit, missed


abortion, abortus habitualis (recurrent abortion), dan abortus infeksiosus.3,4

Pada laporan ini akan dibahas lebih lanjut mengenai aborsi sebagai
penyebab perdarahan terbanyak pada kehamilan muda sekaligus akan dipaparkan
laporan kasus terkait salah satu jenis abortus, yaitu abortus inkomplit. Abortus
inkomplit adalah pengeluaran sebagian hasil konsepsi pada kehamilan sebelum 20
minggu dengan masih ada sisa tertinggalnya hasil konsepsi tersebut di dalam
uterus.3,4 Abortus inkomplit memiliki komplikasi yang dapat mengancam
keselamatan ibu karena adanya perdarahan masif yang bisa menimbulkan
kematian akibat adanya syok hipovolemik apabila keadaan ini tidak mendapatkan
penanganan yang cepat dan tepat. Seorang ibu hamil yang mengalami abortus
inkomplit dapat mengalami guncangan psikis, tidak hanya pada ibu namun juga
pada keluarganya, terutama pada keluarga yang sangat menginginkan anak.
Mengenal lebih dekat tentang perdarahan pada kehamilan muda, khususnya
abortus inkomplit menjadi penting bagi para pelayan kesehatan agar mampu
menegakkan diagnosis kemudian memberikan penatalaksanaan yang sesuai dan
akurat, serta mencegah komplikasi.
8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi
Perdarahan pada kehamilan muda merupakan perdarahan yang terjadi pada
saat masa gestasi kurang dari 20 minggu. Penyebab kondisi ini antara lain adalah
abortus, kehamilan ektopik terganggu (KET), dan mola hidatidosa dimana akan
dijelaskan lebih mendetail pada tinjauan pustaka di bawah ini.
2.2. Secara singkat, abortus merupakan pengeluaran hasil konsepsi sebelum
janin dapat hidup diluar kandungan, beberapa ahli mengemukakan pendapat yang
berbeda mengenai definisi dari abortus, namun secara umum abortus dapat
didefinisikan sebagai berakhirnya kehamilan sebelum janin viabel atau umur
kehamilan ≤20 minggu atau berat janin ≤500 gram, disertai atau tanpa disertai
pengeluaran hasil konsepsi.4
Berdasarkan mekanisme terjadinya, abortus dapat dibagi atas dua
golongan yaitu abortus spontan dan abortus provokatus. Abortus spontan adalah
abortus yang terjadi secara tanpa melalui proses provokasi dan intervensi.
Sedangkan abortus provokatus adalah abortus yang terjadi karena adanya
provokasi dan intervensi, dan berdasarkan indikasinya dapat dibedakan menjadi
abortus provokatus terapeutikus dan abortus provokatus kriminalis. Abortus
provokatus terapeutikus adalah abortus yang dilakukan atas indikasi medis dengan
alasan bila kehamilan diteruskan akan dapat membahayakan ibu dan atau janin.
Sedangkan abortus provokatus kriminalis adalah abortus yang dilakukan tanpa
indikasi medis.4 Berdasarkan aspek klinisnya, abortus spontan dibagi menjadi
tujuh kelompok, yaitu abortus iminens (threatened abortion), abortus insipiens
(inevitable abortion), abortus inkomplit, abortus komplit, missed abortion, abortus
habitualis (recurrent abortion), dan abortus infeksiosus.3,4
Pembagian dan Definisi Jenis Abortus Spontan:
a. Abortus Imminens (Threatened abortion): Abortus tingkat permulaan dan
merupakan ancaman terjadinya abortus. Perdarahan berasal dari intra uterin
sebelum usia kehamilan kurang dari 20 minggu dengan atau tanpa kontraksi,
tanpa dilatasi serviks, dan tanpa ekspulsi hasil konsepsi. Meskipun abortus
9

imminens bersifat mengancam, tetapi masih terdapat kemungkinan untuk


mempertahankan hasil konsepsi.4
b. Abortus Insipien (Inevitable): abortus yang sedang berlangsung, ditandai
dengan perdarahan pervaginam <20 minggu ditandai dengan serviks telah
mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih
dalam karum uteri dan dalam proses pengeluaran.. Pada keadaan ini didapatkan
juga nyeri perut bagian bawah atau nyeri kolik uterus sebagai konsekuensi
berlangsungnya proses abortus.4

c. Abortus Komplit: abortus yang telah terjadi dengan pengeluaran seluruh hasil
konsepsi. Pada pasien ditemukan perdarahan sedikit, ostium uteri telah
menutup, dan uterus sudah banyak mengecil. Selain ini, tidak ada lagi gejala
kehamilan dan uji kehamilan menjadi negatif. 4
d. Abortus Inkomplit: adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum usia
kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram dan
masih terdapat hasil konsepsi yang tertinggal di dalam uterus.4
e. Missed Abortion: abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus telah
meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu namun hasil
konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan untuk waktu tertentu.4
f. Abortus Habitualis (Recurrent Abortion): abortus spontan yang terjadi 3 kali
atau lebih berturut-turut.4
g. Abortus Infeksiosus: abortus yang disertai infeksi pada genitalia. Diagnosis
ditegakkan dengan adanya abortus yang disertai gejala dan tanda infeksi alat
genitalia, seperti panas, takikardia, perdarahan pervaginam yang berbau, uterus
yang membesar, lembek, serta nyeri tekan, dan leukositosis.
10

Gambar 1. (A) Abortus imminens, (B) insipiens, dan (C) inkomplit5

2.3. Epidemiologi
Kejadian abortus diperkirakan mencapai 15-20% dari semua kehamilan.
Insiden abortus hampir 50% disumbang oleh abortus yang tidak terdeteksi
terutama pada usia kehamilan 2-4 minggu setelah konsepsi. Sekitar 80% abortus
spontan terjadi pada trimester pertama, insidennya menurun seiring dengan
bertambahnya umur kehamilan. Prevalensi abortus juga meningkat dengan
bertambahnya usia, dimana pada wanita berusia 20 tahun adalah 12%, dan pada
wanita diatas 45 tahun adalah 50%.4 Kejadian abortus berulang terjadi sekitar pada
1% pasangan.6
2.4. Etiologi dan Faktor Risiko
Etiologi terjadinya abortus dipengaruhi oleh faktor maternal, faktor
paternal, dan faktor fetal.
Faktor Maternal
Faktor maternal yang berhubungan dengan terjadinya abortus antara lain:
a. Defek Anatomi
Defek anatomik uterus dapat menjadi penyebab komplikasi obstetrik secara
umum. Insiden kelainan bentuk uterus pada perempuan berkisar 1/200 - 1/600.
Pada perempuan dengan riwayat abortus, ditemukan anomali uterus pada 27 %
pasien. Penyebab abortus terbanyak berkaitan dengan kelainan anatomik uterus
adalah uterus bikornu (40-70%) dan septum uterus (34 - 88 %).3,4
b. Usia Maternal dan Riwayat Obstetri
11

Secara umum, usia kehamilan ibu yang ekstrem (<20 tahun atau >35
tahun) merupakan faktor risiko dari abortus spontan. Sebuah penelitian di
Denmark menunjukkan prevalensi abortus berdasarkan rentang usia maternal
yaitu 12–19 tahun, 13.3%; 20-24 tahun, 11.1%; 25-29 tahun, 11.9%; 30-34
tahun, 15.0%; 35-39 tahun, 24.6%; 40-44 tahun, 51.0%; dan 45 tahun atau
lebih, 93.4%. Secara grafik, prevalensi abortus spontan mengalami peningkatan
secara perlahan namun setelah usia maternal di atas 35 tahun peningkatan
terjadi secara drastis.7

Gambar 2. Prevalensi abortus spontan berdasarkan usia kehamilan.7


c. Infeksi
Infeksi dalam kehamilan dapat mencapai janin melalui dua cara, yaitu
berasal dari infeksi sistemik yang mencapai fetoplasental melalui aliran darah
sera infeksi asendens yang berasal dari traktus genitourinarius. Organisme
seperti Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis, Neisseria gonorhoeae,
Streptococcus agalactina, virus herpes simplek, cytomegalovirus, Listeria
monocytogenes, Toxoplasma gondi dicurigai berperan sebagai penyebab
abortus. Terdapat beberapa hipotesis yang mencoba menjelaskan pengaruh
infeksi terhadap pathogenesis abortus, yaitu:
- Pathogen membentuk toksik, maupun memicu pembentukan sitokin pro-
inflamasi yang dapat berdampak pada unit fetoplasenta yang menyebabkan
insufisiensi plasenta maupun janin yang mengakibatkan kematian janin
12

atau cacat berat pada janin yang menurunkan kemampuan bertahan hidup
janin.
- Infeksi kronis endometrium yang dapat mengganggu proses implantasi.
- Infeksi amnion/amnionitis.
- Menimbulkan perubahan genetic dan anatomic embryo, terutama pada
infeksi virus.4
d. Penyakit-Penyakit Kronis yang Diderita Ibu
Beberapa penyakit kronis yang dapat menjadi etiologi terjadinya abortus
antara lain hipertensi dan diabetes mellitus. Risiko abortus spontan dan
malformasi kongenital mayor semakin meningkat pada wanita dengan diabetes
yang tergantung dengan insulin, dimana kondisi ini berkaitan dengan derajat
metabolic dan glikemik kontrol perikonsepsional.3
e. Pengaruh Progesteron
Defisiensi progesteron karena kurangnya sekresi hormon tersebut dari
korpus luteum atau plasenta mempunyai hubungan dengan kenaikan insiden
abortus. Karena progesteron berfungsi mempertahankan desidua, defisiensi
hormon tersebut secara teoritis akan mengganggu reseptivitas endometrium
terhadap implantasi embrio.

f. Faktor-faktor Imunologis

Penyakit autoimun, seperti sistemik lupus eritematosus (SLE), mampu


memproduksi Antinuclear antibodi (ANA), Anti-DNA antibodi, dan
Antiphospholipid antibody. Pembentukan antibody tersebut dapat
meningkatkan risiko terbentuknya antibody terhadap plasenta atau embryo.
Antibody tersebut mampu menyebabkan rejeksi pada awal kehamilan melalui
mekanisme thrombosis pada arteri spiralis dan intervilli plasenta serta infark
plasenta. 5

Faktor Paternal
Hanya sedikit yang diketahui tentang peranan faktor paternal dalam proses
timbulnya abortus spontan. Translokasi kromosom sperma dapat menimbulkan
zigot yang mengandung bahan kromosom terlalu sedikit atau terlalu banyak,
13

sehingga dapat membentuk embryo dengan defek genetic yang menurunkan


viabilitas embryo.5
Faktor fetal
Faktor fetal yang berisiko terhadap timbulnya abortus adalah kehamilan
anembryonic serta gangguan kromosomal embryo (aneuploid). Sekitar 50%
abortus terjadi akibat kehamilan anembyronik atau blighted ovum, dimana embryo
hasil fertilisasi tidak terbentuk sama sekali atau terbentuk namun kemudian
diabsorbsi. Kehamilan ini memiliki karakteristik terbentuknya gestational sac
namun tanpa adanya embryo pada USG. Pada aneuploid embryo, trisomy
autosomal menjadi abnormalias sitogenetik terbanyak dengan prevalensi 50%.
Monosomy X (45X) terjadi pada 20% abortus dan Poliploidi ditemukan pada 22%
abortus. Sedangkan pada embryo euploidi, defek struktur kromosom terjadi pada
2-4% abortus.5
2.5. Patogenesis
Setiap abortus spontan begitu pula pada kasus abortus imminens pada
mulanya akan selalui didahului oleh proses perdarahan dalam desidua basalis
dimana kemudian diikuti oleh proses nekrosis pada jaringan sekitar daerah yang
mengalami perdarahan itu.4 Hal ini menyebabkan hasil konsepsi terlepas sebagian
atau seluruhnya dari tempat implantasinya. Pada abortus yang terjadi sebelum
kehamilan kurang dari 8 minggu, pelepasannya dapat terjadi sempurna sehingga
terjadi abortus komplit oleh karena villi korealis belum tumbuh terlalu mendalam
ke dalam lapisan desidua.4 Pada abortus yang lebih tua pelepasannya biasanya
tidak sempurna oleh karena villi korialis telah tumbuh dan menembus lapisan
desidua jauh lebih tebal sehingga ada bagian yang tersisa melekat pada dinding
rahim dan terjadi abortus inkomplit.4 Sisa abortus yang tertahan didalam rahim
mengganggu kontraksinya dimana menyebabkan pengeluaran darah yang lebih
banyak. Hasil konsepsi pada abortus dapat dikeluarkan dalam berbagai bentuk.
Ada kalanya kantong amnion kosong atau tampak didalamnya benda kecil tanpa
bentuk yang jelas (blighted ovum) mungkin pula janin telah mati lama (missed
abortion). Hasil konsepsi yang telah lepas dari perlekatannya merupakan benda
asing di dalam uterus dan merangsang rahim untuk berkontraksi. Rangsangan
yang terjadi semakin lama semakin bertambah kuat dan terjadilah his yang
14

memeras isi rahim keluar. Apabila kantong kehamilan yang keluar itu dibuka dan
didapatkan cairan yang didalamnya terdapat fetus yang telah mengalami maserasi.
Pada kehamilan anembrionik didalam cairan tidak terdapat fetus atau kalaupun
ada fetusnya tidak berkembang sempurna.4
2.6. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis masing-masing abortus adalah sebagai berikut4:
a. Abortus imminens
Adanya amenore, tanda-tanda kehamilan, perdarahan pervaginam, nyeri perut
bagian bawah derajat ringan, saat dilakukan pemeriksaan vaginal toucher (VT)
didapatkan ostium uteri tertutup dan tinggi fundus uterus sesuai dengan umur
kehamilan.
b. Abortus insipiens
Adanya amenore, tanda-tanda kehamilan, perdarahan pervaginam dalam
jumlah yang banyak, nyeri perut bagian bawah derajat sedang-berat, saat
dilakukan VT didapatkan ostium uteri terbuka dan tinggi fundus uterus sesuai
dengan umur kehamilan.
c. Abortus Komplit
adanya riwayat amenore, tanda-tanda kehamilan, serta perdarahan pervaginam
yang kemudian diikuti oleh riwayat pengeluaran jaringan janin pervaginam.
Setelah itu perdarahan menjadi minimal atau berhenti dan keluhan nyeri perut
membaik. Pada pemeriksaan ditemukan ukuran uterus yang lebih kecil
dibandingkan usia kehamilan, ostium uteri tertutup, dan bercak perdarahan
minimal.
d. Abortus inkomplit
Adanya amenore, tanda-tanda kehamilan, perdarahan pervaginam dalam
jumlah yang banyak dan persisten serta ada riwayat jaringan yang keluar
pervaginam, nyeri perut bagian bawah derajat berat, saat dilakukan VT
didapatkan ostium uteri terbuka, tinggi fundus uterus lebih kecil dari umur
kehamilan serta dapat teraba sisa jaringan.
e. Missed abortion
15

Adanya tanda-tanda kehamilan, bisa terjadi perdarahan atau tidak terjadi


perdarahan dan tinggi fundus uteri sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan.
Perkembangan payudara dapat mengalami regresi.
f. Abortus infeksiosus
Adanya amenore, tanda-tanda kehamilan, sering diawali oleh abortus
provokatus, demam, adanya perdarahan pervaginam, nyeri suprapubik, tinggi
fundus uteri sesuai atau lebih kecil dari usia kehamilan, nyeri tekan, pada saat
dilakukan VT ostium uteri dapat terbuka atau tertutup, dan terdapat fluor panas
dan berbau.3-5
Tabel 1. Perbedaan masing-masing abortus secara klinis4:
Jenis Perdarahan OUE Janin Uterus Gejala Lain

Abortus Minimal Tertutup Masih di dalam Sesuai usia Kram dan nyeri perut
Iminens uterus kehamilan
Nyeri punggung
bawah

Abortus Sedang Terbuka Masih di dalam Sesuai atau Kram dan nyeri perut
Insipien sampai uterus lebih kecil memberat
banyak dari usia
kehamilan

Abortus Minimal Terbuka Keluar sebagian Lebih kecil Kram dan nyeri perut
Inkompli sampai dari usia
Keluar jaringan
t banyak kehamilan
pervaginam

Abortus Minimal Tertutup Keluar Lebih kecil Nyeri dan kram perut
Komplit sampai seluruhnya dari usia tidak dirasakan atau
tidak ada kehamilan hanya sedikit bila ada.

Missed Tidak ada Tertutup Tidak ada (mati) Lebih kecil Tanda-tanda
Abortion dari usia kehamilan menghilang
kehamilan

2.7. Diagnosis
Implementasi dalam menegakkan diagnosis suatu abortus dilakukan
dengan cara-cara sebagai berikut:
a. Anamnesa
16

Dilakukan untuk memperoleh riwayat lengkap termasuk diantaranya:


 Tanda-tanda kehamilan: riwayat telat haid, mual-muntah, payudara
membesar, tegang, dan nyeri, pigmentasi kulit (chloasma gravidarum, linea
nigra, hiperpigmentasi areola), epulis, riwayat PP test positif (apabila
dikerjakan).
 Riwayat menstruasi: hari pertama haid terakhir perlu diketahui untuk
memperkirakan usia kehamilan. Penyimpangan dari periode menstruasi normal
mungkin mencerminkan adanya pendarahan yang berasal dari implantasi dari
kehamilan yang normal maupun yang abnormal, yang dapat mengacaukan
perkiraan hari pertama haid terakhir, periode menstruasi sebelumnya, interval
menstruasi, keteraturan menstruasi.
 Obat-obatan yang digunakan sejak HPHT: alkohol, tembakau dan obat-
obatan yang lain.
 Masalah kesehatan: diabetes mellitus, infeksi pendarahan, penyakit tiroid dan
autoimun.
 Riwayat operasi: terutama operasi yang melibatkan uterus dan adneksa.
 Riwayat obstetri: jumlah kelahiran aterm dan preterm, jumlah terjadinya
abortus baik yang spontan maupun yang diinduksi, jumlah anak yang hidup
dan jumlah komplikasi yang berhubungan dengan persalinan, tranfusi darah,
perforasi uterus.
 Riwayat ginekologi: termasuk tes pap smear abnormal, infeksi menular
seksual dan kontrasepsi.3-5
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan:
 Memeriksa perut untuk identifikasi nyeri. Nyeri tekan akan dirasakan
maksimal pada area pubis/suprapubic. Dengan memperhatikan adanya nyeri
tumpul, bengkak, tanda peritoneal merupakan suatu kemungkinan terjadinya
komplikasi berupa pendarahan intraperitoneal.
 Identifikasi sumber pendarahan dengan spekulum dan pemeriksaan
digital dari servik. Pastikan apakah pendarahan berasal dari dinding vagina,
permukaan servik atau dari bagian dalam serviks. Inspeksi pula apakah
terdapat jaringan yang keluar dari serviks.
17

 Pastikan intensitas pendarahan pemeriksaan bekuan darah atau


jaringan.
 Periksa adanya nyeri goyang porsio untuk menentukan adanya
kehamilan ektopik.
 Pastikan adanya pembukaan serviks, jika ada pembukaan
mencerminkan suatu abortus insipien atau abortus inkomplit. Jika tertutup
merupakan suatu abortus iminens.
 Periksa ukuran uterus, konsistensi, ketegangan dan adanya nyeri
tekan adneksa ataupun massa. Jika dirasakan adanya suatu massa, palpasi
harus dilakukan dengan hati-hati dan mantap untuk menghindari terjadinya
ruptur pada kehamilan ektopik ataupun kista ovarium. Jika ukuran uterus
teraba lebih besar dibandingkan dengan usia kehamilan, diagnosis banding
dapat berupa kehamilan gemeli atau mola hidatidosa.
 Jika terdapat cairan abnormal dari vagina atau serviks, perlu dibuat
preparat basah dan kultur serviks untuk mengidentifikasi kemungkinan
infeksi.3-5
b. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan antara lain :
 Pemeriksaan darah lengkap antara apakah ada komplikasi berupa anemia
maupun tanda-tanda infeksi.
 Pemeriksaan kehamilan melalui pemeriksaan kadar β-hCG dengan PP
Test.
 Ultrasonografi digunakan apabila diagnosis sulit ditegakkan secara klinis.
USG digunakan untuk melihat kantung gestasi, embrio, dan denyut
jantung janin serta kemungkinan adanya mola ataupun kehamilan ektopik.4
2.8. Diagnosis Banding
Abortus inkomplit dapat didiagnosa banding dengan beberapa kelainan
yang menimbulkan perdarahan pada usia kehamilan muda seperti pada abortus
insipiens, abortus komplit, missed abortion. Selain itu, diagnosis banding dari
abortus inkomplit dapat berupa mola hidatidosa dimana villi korionik tumbuh
berganda menjadi gelembung-gelembung yang mengandung banyak cairan dan
menyerupai buah anggur, dimana gejala klinis pada kelainan ini berupa
18

perdarahan pervaginam yang terkadang disertai dnegan pengeluaran mola.


Kehamilan ektopik terganggu juga dapat menjadi salah satu diagnosis banding
abortus inkomplit dimana manifestasi klinisnya berupa perdarahan pervaginam
disertai dengan nyeri perut bahkan hingga terdapat akut abdomen dengan keluhan
nyeri tekan yang hebat, muntah, gelisah, pucat, anemis, nadi kecil dan halus,
hingga dapat terjadi syok. Yang menjadi ciri khas pada KET ialah terdapat slinger
pain yakni nyeri goyang apabila porsio dan serviks digerakan, rasa nyeri pada
penekanan cavum douglas, serta cavum douglas menonjol akibat terkumpulnya
darah.7

2.9. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan abortus secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu
konservatif dan aktif. Tujuan dari penatalaksaan konservatif adalah berupaya
untuk mempertahankan hasil konsepsi, penatalaksanaan konservatif diindikasikan
bagi abortus imminens dapat dilakukan dengan:
a. Rawat jalan
b. Istirahat tirah baring
Istirahat tirah baring menyebabkan bertambahnya aliran darah ke uterus dan
rangsang mekanik.
c. Pemeriksaan ultrasonografi penting dilakukan untuk menentukan apakah
janin masih hidup.
d. Jika diperlukan untuk medika mentosa dapat diberikan:
 Penenang: luminal, diazepam
 Tokolitik: nifedipine, isoxsuprine
 Plasentotrofik: progesterone sintetik
e. Bila penyebab diketahui maka dilakukan terapi terhadap penyebabnya
f. Pada kasus tertentu seperti abortus habitualis dan riwayat infertilitas
dilakukan rawat inap.
g. Tidak dianjurkan untuk melakukan hubungan seksual sementara waktu.4

Sedangkan untuk jenis abortus lainnya dilakukan pentalaksanaan secara


aktif yaitu dengan mengevakuasi sisa-sisa hasil konsepsi. Berikut merupakan
pentalaksanaann untuk masing-masing tipe abortus:
19

Abortus Insipiens
- Dilakukan perbaikan keadaan umum
- Apabila UK < 12 minggu dilakukan kuretase. Apabila UK ≥ 12 minggu
dilakukan drip oksitosin dan kuretase
- Pemberian medikamentosa berupa antibiotika broad spectrum seperti
Amoksisilin dengan dosis 3x500 mg per oral dan metilergometrin 3x5 mg per
oral.
Abortus Inkomplit
1. Jika perdarahan tidak seberapa atau sedikit dan kehamilan kurang dari 16
minggu evakuasi dapat dilakukan secara digital atau dengan cunam ovum
untuk mengeluarkan hasil konsepsi. Jika perdarah berhenti, beri misoprostol
400 mg peroral.

2. Jika perdarahan banyak atau terus berlangsung dan usia kehamilan kurang dari
16 minggu, evakuasi hasil konsepsi dengan:

a) Aspirasi Vakum Manual (AVM) merupakan metode evaluasi yang terpilih.


Evaluasi dengan kuret sebaiknya hanya dilakukan jika AVM tidak tersedia.

b) jika evakuasi belum dapat dilakukan segera, beri misoprostol 400mg per
oral.

3. Jika kehamilan lebih dari 6 minggu :

a) Berikan infus oksitosin 20 unit dalam 500 ml cairan IV (garam fisiologis


atau larutan Ringer Laktat) dengan kecepatan 40 tetes/menit sampai terjadi
ekspulsi hasil konsepsi.
b) Jika perlu berikan misoprostol 200 mg per vaginam setiap 4 jam sampai
terjadi ekspulsi hasil konsepsi (maksimal 800 mg)
c) Evakuasi hasil konsepsi yang tertinggal dalam uterus.
4. Pemberian antibiotika yang tepat:
a) Suntikan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam
b) Suntikan streptomisin 500 mg setiap 12 jam
c) atau antibiotika spektrum luas lainnya
Abortus Komplit

- Apabila diagnosis komplit sudah dipastikan abortus jenis ini tidak memerlukan
terapi jenis apapun
20

- Jika belum dipastikan, dapat dilakukan pemeriksaan USG untuk konfirmasi.


Missed Abortion
- Dilakukan pemeriksaan laboratorium rutin seperti : DL, BT/CT
- Apabila UK < 12 minggu dilakukan kuretase langsung. Apabila UK ≥ 12
minggu diberikan laminaria stiff selama 12-24 jam atau misoprostol lalu
dilanjutkan dengan oksitosin drip lalu dilakukan kuretase.
Abortus Infeksiosus
- Dilakukan perbaikan keadaan umum
- Dilakukan evakuasi uterus dan pemberian antibiotik parenteral (sebelum,
selama, dan sesudah pembersihan jaringan nekrosis dengan kuretase) dengan
pilihan antibiotik : ampisilin oral 500 mg/6 jamatau 1 gram IV/4 jam,
gentamisin 1,5 mg/KgBB/8 jam secara IV atau IM, metronidazole oral 500
mg/6 jam atau 1 gram IV/12 jam.
- Terapi suportif dengan infus (NaCl 0,9% atau RL), pemasangan kateter urin,
pemberian vaksinasi tetanus toksoid
- Dapat dilakukan pemeriksaan tambahan berupa pemeriksaan gram, kultur
bakteri dari endoserviks, darah, dan hasil konsepsi, serta foto BOF.4
2.10. Komplikasi
Komplikasi yang berbahaya pada abortus ialah:
1. Pendarahan
Pendarahan dapat diatasi dengan pengosongan uterus dari sisa-sisa hasil konsepsi
dan jika perlu pemberian transfuse darah
2. Perforasi
Perforasi uterus pada saat kuret dapat terjadi terutama pada uterus dalam posisi
hiperretrofleksi. Perforasi uterus pada abortus yang dikerjakan oleh orang biasa
dapat menimbulkan persoalan gawat karena perlukaan uterus biasanya luas,
mungkin pula terjadi perlukaan pada kandung kemih.
3. Infeksi
Infeksi dalam uterus dan adneksa dapat terjadi dalam setiap abortus tetapi
biasanya didapatkan pada abortus inkomplet yang berkaitan erat dengan suatu
abortus yang tidak aman.
4. Syok
21

Syok pada abortus bisa terjadi karena pendarahan (syok hemoragik) dank arena
infeksi berat (syok septic).4
2.11. Prognosis
Prognosis keberhasilan kehamilan tergantung dari etiologi aborsi spontan
sebelumnya.
 Perbaikan endokrin yang abnormal pada wanita dengan abotus yang
rekuren mempunyai prognosis yang baik sekitar >90 %
 Pada wanita keguguran dengan etiologi yang tidak diketahui,
kemungkinan keberhasilan kehamilan sekitar 40-80 %
 Sekitar 77 % angka kelahiran hidup setelah pemeriksaan aktivitas jantung
janin pada kehamilan 5 sampai 6 minggu pada wanita dengan 2 atau lebih
aborsi spontan yang tidak jelas.3,5
22

DAFTAR PUSTAKA

1. Sedh, G., Singh, S., and Hussain, R. Intended and Unintended Pregnancies
Worldwide in 2012 and Recent Trends. Stud Fam Plann. 2014 Sep; 45(3): 301–
314.
2. Badan Pusat Statistik. SDKI 2012. [Online] 2012. [Cited October 24th, 2017].
https://microdata.bps.go.id/mikrodata/index.php/catalog/255
3. Cunningham FG, dkk. "Abortion," in Williams Obstetric. 24th ed., New York,
The McGraw-Hills Companies, 2014. Pp:350-370
4. Hadijanto B. Perdarahan Pada Kehamilan Muda. dalam: Ilmu Kebidanan,
Jakarta, Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 2014.pp: 459-470
5. Dutta DC, dkk. Hemorrhage in Early Pregnancy. Dalam: DC Dutta’s Textbook
of Obstetrics. New Delhi. Jaypee Brothers Medical Publisher. 2014. Pp 158-
199
6. Puscheck EE, dkk. Early Pregnancy Loss. [Online] 2016. [Cited October 24 th,
2017]. https://reference.medscape.com/article/266317-overview#a2
7. Andersen AN, et al. Maternal age and fetal loss: population based register
linkage study. BMJ 2000;320:1708