Anda di halaman 1dari 59

MAKALAH KOMUNIKASI KONSELING

INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT


( ISPA )

Disusun oleh :

FAJAR ASMARA NUR ALAM I4041181057

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2019
KATA PENGANTAR
Segala Puji bagi Allah SWT karena atas petunjuk dan hidayah-Nya serta
dorongan dari semua pihak sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini
dengan baik dan seksama. Makalah mengenai “INFEKSI SALURAN
PERNAFASAN AKUT (ISPA)” ini disusun dengan sistematis untuk memenuhi
salah satu tugas remedial dari mata kuliah Komunikasi Konseling, Program Studi
Apoteker, Fakultas Kedokteran, Universitas Tanjungpura..

Dengan selesainya makalah ini, maka tidak lupa saya mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Saya
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna dan tidak luput dari
kekurangan-kekurangan, baik dari segi materi maupun teknis penulisan. Oleh
karena itu saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan pembaca sangat
dibutuhkan untuk penyempurnaanya. Semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat untuk rekan-rekan yang membaca terkait penyakit ISPA.

Pontianak, Januari 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.....................................................................................ii
DAFTAR ISI................................................................................................. iii
BAB I..............................................................................................................1
PENDAHULUAN..........................................................................................1
1.1 Latar Belakang......................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah.................................................................................3
1.3 Tujuan Penulisan...................................................................................3
1.4 Manfaat Penulisan.................................................................................4
BAB II............................................................................................................ 5
TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 5
2.1 Pengertian Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )...........................5
2.2 Epidemiologi dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )...............5
2.3 Patofisiologi Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA ).........7
2.4 Klasifikasi Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )...........................9
2.5 Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA ).............................11
2.6 Tanda dan Gejala Klinis dari Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (
ISPA )........................................................................................................12
2.7 Diagnosis Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )...........13
2.8 Komplikasi Penyakit ISPA..................................................................14
2.9 Pengobatan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )........16
2.10 Pencegahan Penyakit ISPA............................................................... 51
BAB III.........................................................................................................52
PENUTUP.................................................................................................... 52
3.1 Kesimpulan......................................................................................... 52
3.2 Saran................................................................................................... 54
DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 55

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Infeksi pada saluran napas merupakan penyakit yang umum terjadi pada
masyarakat. Infeksi saluran napas berdasarkan wilayah infeksinya terbagi
menjadi infeksi saluran napas atas dan infeksi saluran napas bawah. Infeksi
saluran napas atas meliputi rhinitis, sinusitis, faringitis, laringitis, epiglotitis,
tonsilitis, otitis. Sedangkan infeksi saluran napas bawah meliputi infeksi pada
bronkhus, alveoli seperti bronkhitis, bronkhiolitis, pneumonia. Infeksi saluran
napas atas bila tidak diatasi dengan baik dapat berkembang menyebabkan
infeksi saluran nafas bawah. Infeksi saluran nafas atas yang paling banyak
terjadi serta perlunya penanganan dengan baik karena dampak komplikasinya
yang membahayakan adalah otitis, sinusitis, dan faringitis.
Secara umum penyebab dari infeksi saluran napas adalah berbagai
mikroorganisme, namun yang terbanyak akibat infeksi virus dan bakteri.
Infeksi saluran napas dapat terjadi sepanjang tahun, meskipun beberapa
infeksi lebih mudah terjadi pada musim hujan. Faktor-faktor yang
mempengaruhi penyebaran infeksi saluran napas antara lain faktor
lingkungan, perilaku masyarakat yang kurang baik terhadap kesehatan diri
maupun publik, serta rendahnya gizi. Faktor lingkungan meliputi belum
terpenuhinya sanitasi dasar seperti air bersih, jamban, pengelolaan sampah,
limbah, pemukiman sehat hingga pencemaran air dan udara.Perilaku
masyarakat yang kurang baik tercermin dari belum terbiasanya cuci tangan,
membuang sampah dan meludah di sembarang tempat. Kesadaran untuk
mengisolasi diri dengan cara menutup mulut dan hidung pada saat bersin
ataupun menggunakan masker pada saat mengalami flu supaya tidak menulari
orang lain masih rendah.
Pengetahuan dan pemahaman tentang infeksi ini menjadi penting di
samping karena penyebarannya sangat luas yaitu melanda bayi, anak-anak
dan dewasa, komplikasinya yang membahayakan serta menyebabkan

1
hilangnya hari kerja ataupun hari sekolah, bahkan berakibat kematian
(khususnya pneumonia).
Ditinjau dari prevalensinya, infeksi ini menempati urutan pertama pada
tahun 1999 dan menjadi kedua pada tahun 2000 dari 10 Penyakit Terbanyak
Rawat Jalan.Sedangkan berdasarkan hasil Survey Kesehatan Nasional tahun
2001 diketahui bahwa Infeksi Pernapasan (pneumonia) menjadi penyebab
kematian Balita tertinggi (22,8%) dan penyebab kematian Bayi kedua setelah
gangguan perinatal. Prevalensi tertinggi dijumpai pada bayi usia 6-11 bulan.
Tidak hanya pada balita, infeksi pernapasan menjadi penyebab kematian
umum terbanyak kedua dengan proporsi 12,7%. Tingginya prevalensi infeksi
saluran pernapasan atas (ISPA) serta dampak yang ditimbulkannya membawa
akibat pada tingginya konsumsi obat bebas (seperti anti influenza, obat batuk,
multivitamin) dan antibiotika. Dalam kenyataan antibiotika banyak
diresepkan untuk mengatasi infeksi ini. Peresepan antibiotika yang berlebihan
tersebut terdapat pada infeksi saluran napas khususnya infeksi saluran napas
atas akut, meskipun sebagian besar penyebab dari penyakit ini adalah virus.
Salah satu penyebabnya adalah ekspektasi yang berlebihan para klinisi
terhadap antibiotika terutama untuk mencegah infeksi sekunder yang
disebabkan oleh bakteri, yang sebetulnya tidak bisa dicegah. Dampak dari
semua ini adalah meningkatnya resistensi bakteri maupun peningkatan efek
samping yang tidak diinginkan. Permasalahan-permasalahan di atas
membutuhkan keterpaduan semua profesi kesehatan untuk mengatasinya.
Apoteker dengan pelayanan kefarmasiannya dapat berperan serta mengatasi
permasalahan tersebut antara lain dengan mengidentifikasi, memecahkan
Problem Terapi Obat (PTO), memberikan konseling obat, promosi
penggunaan obat yang rasional baik tentang obat bebas maupun
antibiotika.Dengan memahami lebih baik tentang patofisiologi, farmakoterapi
infeksi saluran napas, diharapkan peran Apoteker dapat dilaksanakan lebih
baik lagi.

2
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)?
2. Bagaimana Epidemiologi dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
( ISPA ) ?
3. Bagaimana patofisiologis dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
( ISPA ) ?
4. Apa saja klasifikasi dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
( ISPA ) ?
5. Bagaimana etiologi dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
( ISPA ) ?
6. Apa saja tanda dan gejala yang ditimbulkan dari penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut ( ISPA ) ?
7. Bagaimana cara mendiagnosis penyakit Infeksi Saluran Pernafasan
Akut ( ISPA ) ?
8. Apa saja komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit Infeksi Saluran
Pernafasan Akut ( ISPA ) ?
9. Apa saja pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA ) ?
10. Apa saja pencegahan yang dapat dilakukan pada penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut ( ISPA ) ?

1.3 Tujuan

1. Menjelaskan tentang pengertian Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA


)
2. Mengetahui Epidemiologi dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan
Akut ( ISPA )
3. Mengetahui patofisiologis dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan
Akut ( ISPA )
4. Mengetahui klasifikasi dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
( ISPA )
5. Menjelaskan tentang etiologi dari penyakit Infeksi Saluran Pernafasan
Akut ( ISPA )

3
6. Mengetahui tanda dan gejala yang ditimbulkan dari penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )
7. Mengetahui cara mendiagnosis penyakit Infeksi Saluran Pernafasan
Akut ( ISPA )
8. Mengetahui komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit Infeksi Saluran
Pernafasan Akut ( ISPA )
9. Mengetahui pengobatan yang dapat dilakukan pada penderita penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )
10. Mengetahui pencegahan yang dapat dilakukan pada penyakit Infeksi
Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )

1.4 Manfaat
1. Untuk memberikan informasi berupa pengetahuan kepada pembaca
dan masyarakat mengenai bahaya yang ditimbulkan dari penyakit
Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA).
2. Untuk memberikan informasi tentang penanganan dan pencegahan
penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA ) secara
farmakologis maupun non farmakologis.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )


Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran
pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yang
berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran di atas
laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian saluran atas dan
bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, 2008). ISPA adalah penyakit
yang menyerang salah satu bagian dan atau lebih dari saluran pernafasan
mulai dari hidung hingga alveoli termasuk jaringan adneksanya seperti sinus,
rongga telinga tengah dan pleura (Nelson, 2003). Jadi disimpulkan bahwa
ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi disetiap
bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan pernafasan
yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari.

2.2 Epidemiologi dari Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )


Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab
kematian tersering pada anak di negara sedang berkembang. Infeksi Saluran
Pernafasan Akut ini menyebabkan empat dari 15 juta perkiraan kematian
pada anak berusia dibawah lima tahun pada setiap tahunnya, dan sebanyak
dua per tiga kematian tersebut adalah bayi (khususnya bayi muda usia kurang
dari dua bulan) (WHO, 2003).
ISPA adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus, bakteri maupun
riketsia. Bakteri-bakteri yang paling sering terlibat adalah Streptococcus grup
A, Pneumococcus-pneumococcus, H.influenza yang terutama dijumpai pada
anak-anak kecil. Virus influensa merupakan penyebab tersering dari penyakit
saluran pernafasan pada anak-anak dan dewasa. Pada usia lima tahun atau
lebih, 90 % anak-anak telah mengalami infeksi oleh virus influensa. Pada
bayi dan anak-anak virus tersebut bertanggungjawab atas terjadinya penyakit
(Nelson, 1995).

5
ISPA merupakan penyakit yang penting untuk diketahui oleh ibu-ibu,
karena merupakan penyakit yang tingkat kejadiannya sangat tinggi. Menurut
survei kesehatan rumah tangga Indonesia pada tahun 1992 dan tahun 1995,
persentase kematian bayi akibat ISPA masing-masing adalah 36,4 % dan 29,5
% Angka kematian bayi akibat ISPA adalah 3 per 100 balita (Anonim,
1995).
Anak-anak akan mendapatkan 3 – 6 kali infeksi / tahun, tetapi beberapa
orang mendapatkan serangan dalam jumlah yang lebih besar lagi terutama
selama masa tahun ke-2 sampai ke-3 kehidupan mereka. Rata-rata setiap anak
akan menderita ISPA sebanyak 3 kali di daerah pedesaan dan kira-kira 6 kali
di daerah perkotaan per tahun. Di perkotaan kemungkinan kejadian ISPA
lebih tinggi dibanding daerah pedesaan karena berkaitan dengan perbedaan
kebersihan udara di kedua daerah tersebut. Demikian pula anak-anak dengan
status gizi yang jelek (kurang gizi) akan lebih mudah menderita ISPA atau
ISPA nya menjadi lebih berat dibandingkan anak dengan status gizi yang baik
(Dwi prahasta dkk, 1988).
Ada banyak salah informasi berkenaan dengan infeksi saluran
pernafasan akut sehingga menimbulkan beberapa masalah penting, pertama
sebagian besar ISPA tidak diperhatikan, akibatnya penderita mendapatkan
pengobatan yang tidak diperlukan dan dengan antibiotik menambah biaya
pengobatan, kedua sering terlupakan bahwa faringitis, tonsilitis akut adalah
infeksi saluran pernafasan akut paling penting dan harus diobati dengan
antibiotik yang memadai, dan yang ketiga dokter sering tidak memperhatikan
kenyataan bahwa tidak mungkin membedakan secara meyakinkan antara
ISPA karena virus atau karena bakteri atas dasar klinis saja. Untuk
membedakan kedua penyebab tersebut diperlukan uji diagnostik sederhana
seperti biakan tenggorok. Uji diagnostik diperlukan untuk menanggulangi
suatu bakteri yang secara keliru dinyatakan sebagai penyebab infeksi
(Shulman dkk, 1994).
Penatalaksanaan infeksi saluran pernafasan akan berhasil dengan baik
apabila diagnosis penyakit ditegakkan lebih dalam sehingga pengobatan dapat

6
diberikan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut. Disamping itu perlu
antibiotika yang sesuai dengan penyakit (Cherniack, 1998).
Antibiotika merupakan obat anti infeksi yang secara drastis telah
menurunkan morbiditas dan mortalitas berbagai penyakit infeksi, sehingga
penggunaannya meningkat tajam. Hasil survei menunjukkan bahwa kira-kira
30% dari seluruh penderita yang dirawat di rumah sakit memperoleh satu atau
lebih terapi antibiotik, dan berbagai penyakit infeksi yang fatal telah berhasil
diobati. Sejalan dengan itu antibiotika menjadi obat yang paling sering
disalahgunakan, sehingga akan meningkatkan resiko efek samping obat,
resistensi dan biaya (Sastramihardja S dan Herry S, 1997).
Antibiotika bertujuan untuk mencegah dan mengobati penyakit-
penyakit infeksi. Pemberian pada kondisi yang bukan disebabkan oleh infeksi
banyak ditemukan dalam praktek sehari-hari, baik di pusat kesehatan primer
(puskesmas) rumah sakit maupun praktek swasta. Ketidaktepatan diagnosis
pemilihan antibiotik, indikasi, dosis, cara pemberian, frekwensi dan lama
pemberian menjadi penyebab tidak akuratnya pengobatan infeksi dengan
antibiotika (Nelson, 1995).
Penyakit infeksi saluran pernafasan akut perlu mendapat perhatian,
demikian pula dengan penggunaan antibiotika untuk pengobatannya, karena
beberapa penelitian menunjukkan bahwa antibiotik sering diberikan pada
pasien. Pemberian antibiotik yang tidak memenuhi dosis regimen dapat
meningkatkan resistensi antibiotik. Jika resistensi antibiotik tidak terdeteksi
dan tetap bersifat patogen maka akan terjadi penyakit yang merupakan
ulangan dan menjadi sulit disembuhkan (Anonim, 2003).

2.3 Patofisiologi Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )

Perjalanan klinis penyakit ISPA dimulai dengan berinteraksinya virus


dengan tubuh. Masuknya virus sebagai antigen ke saluran pernafasan
menyebabkan silia yang terdapat pada permukaan saluran nafas bergerak ke
atas mendorong virus ke arah faring atau dengan suatu tangkapan refleks
spasmus oleh laring.Jika refleks tersebut gagal maka virus merusak lapisan
epitel dan lapisan mukosa saluran pernafasan (Kending dan Chernick, 1983).

7
Iritasi virus pada kedua lapisan tersebut menyebabkan timbulnya batuk
kering (Jeliffe, 1974). Kerusakan stuktur lapisan dinding saluran pernafasan
menyebabkan kenaikan aktifitas kelenjar mukus yang banyak terdapat pada
dinding saluran nafas, sehingga terjadi pengeluaran cairan mukosa yang
melebihi normal. Rangsangan cairan yang berlebihan tersebut menimbulkan
gejala batuk (Kending and Chernick, 1983). Sehingga pada tahap awal gejala
ISPA yang paling menonjol adalah batuk. Adanya infeksi virus merupakan
predisposisi terjadinya infeksi sekunder bakteri. Akibat infeksi virus tersebut
terjadi kerusakan mekanisme mukosiliaris yang merupakan mekanisme
perlindungan pada saluran pernafasan terhadap infeksi bakteri sehingga
memudahkan bakteri- bakteri patogen yang terdapat pada saluran pernafasan
atas seperti streptococcus pneumonia, haemophylus influenza dan
staphylococcus menyerang mukosa yang rusak tersebut (Kending dan
Chernick, 1983).
Infeksi sekunder bakteri ini menyebabkan sekresi mukus bertambah
banyak dan dapat menyumbat saluran nafas sehingga timbul sesak nafas dan
juga menyebabkan batuk yang produktif. Invasi bakteri ini dipermudah
dengan adanya fakor-faktor seperti kedinginan dan malnutrisi. Suatu laporan
penelitian menyebutkan bahwa dengan adanya suatu serangan infeksi virus
pada saluran nafas dapat menimbulkan gangguan gizi akut pada bayi dan
anak (Tyrell, 1980). Virus yang menyerang saluran nafas atas dapat menyebar
ke tempat-tempat yang lain dalam tubuh, sehingga dapat menyebabkan
kejang, demam, dan juga bisa menyebar ke saluran nafas bawah (Tyrell,
1980).
Dampak infeksi sekunder bakteripun bisa menyerang saluran nafas bawah,
sehingga bakteri-bakteri yang biasanya hanya ditemukan dalam saluran
pernafasan atas, sesudah terjadinya infeksi virus, dapat menginfeksi paru-
paru sehingga menyebabkan pneumonia bakteri (Shann, 1985). Penanganan
penyakit saluran pernafasan pada anak harus diperhatikan aspek imunologis
saluran nafas terutama dalam hal bahwa sistem imun di saluran nafas yang
sebagian besar terdiri dari mukosa, tidak sama dengan sistem imun sistemik
pada umumnya. Sistem imun saluran nafas yang terdiri dari folikel dan

8
jaringan limfoid yang tersebar, merupakan ciri khas system imun mukosa.
Ciri khas berikutnya adalah bahwa IgA memegang peranan pada saluran
nafas atas sedangkan IgG pada saluran nafas bawah. Diketahui pula bahwa
sekretori IgA (sIgA) sangat berperan dalam mempertahankan integritas
mukosa saluran nafas (Siregar, 1994). Dari uraian di atas, perjalanan klinis
penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap, yaitu:
a. Tahap prepatogenesis, penyebab telah ada tetapi penderita belum
menunjukkan reaksi apa-apa.
b. Tahap inkubasi, virus merusak lapisan epitel dan lapisan mukosa.
Tubuh menjadi lemah apalagi bila keadaan gizi dan daya tahan
sebelumnya memang sudah rendah.
c. Tahap dini penyakit, dimulai dari munculnya gejala penyakit.Timbul
gejala demam dan batuk.
d. Tahap lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh
sempurna, sembuh dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat
meninggal akibat pneumonia.

2.4 Klasifikasi Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )


Klasifikasi penyakit ISPA dibedakan untuk golongan umur di bawah 2 bulan
dan untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun (Muttaqin, 2008):
a. Golongan Umur Kurang 2 Bulan
1) Pneumonia Berat
Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada bagian bawah
atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2
bulan yaitu 6x per menit atau lebih.
2) Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa)
Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah
atau napas cepat.
Tanda bahaya untuk golongan umur kurang 2 bulan, yaitu:
1. Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang
dari ½ volume yang biasa diminum)
2. Kejang
3. Kesadaran menurun
9
4. Stridor
5. Wheezing
6. Demam / dingin.
b. Golongan Umur 2 Bulan-5 Tahun
1) Pneumonia Berat
Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada bagian
bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada saat diperiksa
anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis atau meronta).
2) Pneumonia Sedang
Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah:
a. Untuk usia 2 bulan-12 bulan = 50 kali per menit atau lebih
b. Untuk usia 1-4 tahun = 40 kali per menit atau lebih.
3) Bukan Pneumonia
Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada
napas cepat.
Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan-5 tahun yaitu:
1. Tidak bisa minum
2. Kejang
3. Kesadaran menurun
4. Stridor
5. Gizi buruk
Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :
1. ISPA ringan
Seseorang yang menderita ISPA ringan apabila ditemukan gejala batuk,
pilek dan sesak.
2. ISPA sedang
ISPA sedang apabila timbul gejala sesak nafas, suhu tubuh lebih dari 390
C dan bila bernafas mengeluarkan suara seperti mengorok.
3. ISPA berat
Gejala meliputi: kesadaran menurun, nadi cepat atau tidak teraba,nafsu
makan menurun, bibir dan ujung nadi membiru (sianosis) dan gelisah.

10
2.5 Etiologi Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )
Etiologi ISPA terdiri lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri
penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Streptokokus, Stafilokokus,
Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia dan Korinebakterium. Virus penyebab
ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus, Koronavirus, Pikornavirus,
Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain (Suhandayani, 2007).
ISPA disebabkan oleh bakteri atau virus yang masuk kesaluran nafas.
Salah satu penyebab ISPA yang lain adalah asap pembakaran bahan bakar
kayu yang biasanya digunakan untuk memasak. Asap bahan bakar kayu ini
banyak menyerang lingkungan masyarakat, karena masyarakat terutama ibu-
ibu rumah tangga selalu melakukan aktifitas memasak tiap hari menggunakan
bahan bakar kayu, gas maupun minyak. Timbulnya asap tersebut tanpa
disadarinya telah mereka hirup sehari-hari, sehingga banyak masyarakat
mengeluh batuk, sesak nafas dan sulit untuk bernafas. Polusi dari bahan bakar
kayu tersebut mengandung zat-zat seperti Dry basis, Ash, Carbon, Hidrogen,
Sulfur, Nitrogen dan Oxygen yang sangat berbahaya bagi kesehatan (Depkes
RI, 2002).
Faktor resiko timbulnya ISPA menurut Dharmage (2009) :
Faktor Demografi yang terdiri dari 3 aspek yaitu :
1) Jenis kelamin
Bila dibandingkan antara orang laki-laki dan perempuan, laki lakilah
yang banyak terserang penyakit ISPA karena mayoritas orang laki-laki
merupakan perokok dan sering berkendaraan, sehingga mereka sering
terkena polusi udara.
2) Usia
Anak balita dan ibu rumah tangga yang lebih banyak terserang
penyakit ISPA. Hal ini disebabkan karena banyaknmya ibu rumah
tangga yang memasak sambil menggendong anaknya.
3) Pendidikan
Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh
dalam kesehatan, karena lemahnya manajemen kasus oleh petugas
kesehatan serta pengetahuan yang kurang di masyarakat akan gejala

11
dan upaya penanggulangannya, sehingga banyak kasus ISPA yang
datang kesarana pelayanan kesehatan sudah dalam keadaan berat
karena kurang mengerti bagaimana cara serta pencegahan agar tidak
mudah terserang penyakit ISPA.

2.6 Tanda dan Gejala Klinis dari Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (
ISPA )

ISPA merupakan proses inflamasi yang terjadi pada setiap bagian saluran
pernafasan atas maupun bawah, yang meliputi infiltrat peradangan dan edema
mukosa, kongestif vaskuler, bertambahnya sekresi mukus serta perubahan
struktur fungsi siliare (Muttaqin, 2008). Tanda dan gejala ISPA banyak
bervariasi antara lain demam, pusing, malaise (lemas), anoreksia (tidak nafsu
makan), vomitus (muntah), photophobia (takut cahaya), gelisah, batuk, keluar
sekret, stridor (suara nafas), dyspnea (kesakitan bernafas), retraksi
suprasternal (adanya tarikan dada), hipoksia (kurang oksigen), dan dapat
berlanjut pada gagal nafas apabila tidak mendapat pertolongan dan
mengakibatkan kematian. (Nelson, 2003).
Sedangkan tanda gejala ISPA menurut Depkes RI (2002) adalah :
a. Gejala dari ISPA Ringan
Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan satu
atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1. Batuk
2. Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan suara (misal
pada waktu berbicara atau menangis).
3. Pilek, yaitu mengeluarkan lender atau ingus dari hidung.
4. Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370 C atau jika dahi anak
diraba.
b. Gejala dari ISPA Sedang
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika dijumpai gejala dari
ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut:
1. Pernafasan lebih dari 50 kali per menit pada anak yang berumur kurang
dari satu tahun atau lebih dari 40 kali per menit pada anak yang
berumur satu tahun atau lebih. Cara menghitung pernafasan ialah
12
dengan menghitung jumlah tarikan nafas dalam satu menit. Untuk
menghitung dapat digunakan arloji.
2. Suhu lebih dari 39º C (diukur dengan termometer).
3. Tenggorokan berwarna merah.
4. Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak campak.
5. Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga.
6. Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).
7. Pernafasan berbunyi menciut-ciut.
c. Gejala dari ISPA Berat
Seorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai gejala-gejala
ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih gejala-gejala sebagai
berikut:
1. Bibir atau kulit membiru.
2. Lubang hidung kembang kempis (dengan cukup lebar) pada waktu
bernafas.
3. Anak tidak sadar atau kesadaran menurun.
4. Pernafasan berbunyi seperti orang mengorok dan anak tampak gelisah.
5. Sela iga tertarik ke dalam pada waktu bernafas.
6. Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba.
7. Tenggorokan berwarna merah.

2.7 Diagnosis Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )

Diagnosis ISPA umumnya ditegakkan melalui anamnesa (wawancara


seputar riwayat penyakit dan gejala), pemeriksaan fisik, dan apabila
diperlukan, pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksaan fisik, suara napas
anda akan diperiksa untuk mengetahui apakah ada penumpukan cairan atau
terjadinya peradangan pada paru-paru. Hidung dan tenggorokan juga akan
diperiksa. Pemeriksaan tambahan yang mungkin dilakukan adalah prosedur
pulse oxymetry. Pemeriksaan ini bertujuan untuk memeriksa seberapa banyak
oksigen yang masuk ke paru-paru, dan biasanya dilakukan pada pasien yang
mengalami kesulitan bernafas.
Selain itu, dokter mungkin akan menyarankan untuk melakukan
pengambilan sampel dahak untuk diperiksa di laboratorium. Pemeriksaan ini
13
bertujuan untuk menentukan jenis virus atau bakteri penyebab ISPA. Apabila
infeksi dicurigai telah masuk sampai ke dalam paru-paru, maka pemeriksaan
dengan X-Ray atau CT scan mungkin akan direkomendasikan oleh dokter.
Kedua jenis pemeriksaan ini dilakukan untuk mengamati kondisi paru-paru.
Penentuan klasifikasi pneumonia berat dan pneumonia sekaligus
merupakan penegakan diagnosis, sedangkan penentuan klasifikasi bukan
pneumonia dianggap sebagai penegakan diagnosis. Jika seorang baliita
keadaan penyakitnya termasuk dalam klasifikasi bukan pneumonia maka
diagnosis penyakitnya adalah: batuk pilek biasa. Diagnosis pneumonia pada
balita didasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernafas disertai
peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur, adanya nafas cepat ini
ditentukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan. Batas nafas cepat
adalah frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali permenit atau lebih pada anak
usia 2 bulan kurang dari 1 tahun dan 40 kali permenit atau lebih pada anak
usia 1 tahun kurang dari 5 tahun. Pada anak usia kurang dari 2 bulan tidak
dikenal dosis pneumonia.
Diagnosis pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau
kesukaran bernafas disertai nafas sesak atau penarikan dinding dada sebelah
bawah kedalam. pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun. Untuk kelompok
umur kurang dari 2 bulan diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya
nafas cepat, yaitu frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih,
atau adanya penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
Untuk tatalaksana penderita di Rumah sakit atau sarana kesehatan rujukan
bagikelompok umur 2 bulan sampai 5 tahun. Dikenal pada diagnosis
pneumonia sangat berat yaitu gejala batuk atau kesukaran bernafas yang
disertai adanya gejala sianosis sentral dan tidak dapat minum.

2.8 Komplikasi Penyakit ISPA

Penyakit ini sebenarnya merupakan self limited disease, yang sembuh


sendiri 5 sampai 6 hari, jika tidak terjadi invasi kuman lain. Tetapi penyakit
ISPA yang tidak mendapatkan pengobatan dan perawatan yang baik dapat
menimbulkan komplikasi seperti: sinusitis paranasal, penutupan tuba

14
eustachi, empiema, meningitis dan bronkopneumonia serta berlanjut pada
kematian karena adanya sepsis yang menular (Ngastiyah, 2005).
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi
telinga tengah, infeksi saluran tuba eustachii, hingga bronkhitis dan
pneumonia (radang paru).
Infeksi saluran pernapasan parah dan menyebabkan dehidrasi yang
signifikan, kesulitan bernafas dengan oksigenasi buruk ( hipoksia ),
kebingungan yang signifikan, kelesuan, dan pembengkakan napas pendek
pada paru-paru kronis dan penyakit jantung ( chronic obstructive pulmonary
disease atau COPD, gagal jantung kongestif ).
ISPA Parah Akan Mendapatkan Komplikasi Seperti :
a. Radang dalam selaput lendir
Sinusitis adalah kondisi peradangan akut dari satu atau lebih sinus
paranasal. Infeksi memainkan peran penting dalam penderitaan ini.
Sinusitis sering terjadi akibat infeksi pada situs lain dari saluran
pernafasan karena sinus paranasal bersebelahan dengan, dan
berkomunikasi dengan, saluran pernapasan bagian atas.
b. Otitis
Infeksi telinga adalah peristiwa umum yang ditemui dalam praktik medis,
terutama pada anak kecil. Otitis externa adalah infeksi yang melibatkan
kanal pendengaran eksternal sementara otitis media menunjukkan radang
pada telinga tengah.
c. Faringitis
Faringitis adalah radang faring yang melibatkan jaringan limfoid faring
posterior dan lateral faring. Etiologi dapat berupa infeksi bakteri, virus dan
jamur serta etiologi non-infeksi seperti merokok. Sebagian besar kasus
disebabkan oleh infeksi virus dan menyertai flu biasa atau influenza.
d. Epiglotitis dan Laryngotracheitis
Peradangan pada jalan nafas atas diklasifikasikan sebagai epiglotitis atau
laringotracheitis (croup) berdasarkan lokasi, manifestasi klinis, dan
patogen infeksi. Beberapa kasus epiglotitis pada orang dewasa mungkin

15
berasal dari virus. Sebagian besar kasus laryngotracheitis disebabkan oleh
virus yang menyebabkan ISPA.
e. Bronchitis dan Bronchiolitis
Bronkitis dan bronkiolitis melibatkan peradangan pada pohon bronkus.
Bronkitis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan bagian atas
atau merupakan bagian dari sindrom klinis pada penyakit seperti influenza,
rubeola, rubella, pertusis, demam berdarah dan demam tifoid. Bronkitis
kronis dengan batuk terus-menerus dan produksi sputum tampaknya
disebabkan oleh kombinasi faktor lingkungan, seperti merokok, dan
infeksi bakteri dengan patogen seperti H influenzae dan S pneumoniae.
f. Pneumonia
Pneumonia adalah radang parenkim paru. Konsolidasi jaringan paru-paru
dapat diidentifikasi dengan pemeriksaan fisik dan rontgen dada. Dari sudut
pandang anatomis, pneumonia lobar menunjukkan proses alveolar yang
melibatkan seluruh lobus paru-paru sementara bronkopneumonia
menggambarkan proses alveolar yang terjadi dalam distribusi yang tidak
rata tanpa mengisi seluruh lobus.
Waspadai bahaya penyakit ISPA, segera lakukan pengobatan penyakit
ISPA untuk mencegah penyakit lebih parah dan mendapatkan komplikasi
berbahaya, karena harus Anda ketahui ISPA termasuk penyakit yang
mematikan. ( Baca juga Tanaman Obat Penyakit ISPA )

2.9 Pengobatan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut ( ISPA )


a. Pneumonia berat : dirawat di rumah sakit, diberikan antibiotik
parenteral, oksigen dan sebagainya.
b. Pneumonia : diberi obat antibiotik kotrimoksasol peroral. Bila penderita
tidak mungkin diberi kotrimoksasol atau ternyata dengan pemberian
kotrimoksasol keadaan penderita menetap, dapat dipakai obat antibiotik
pengganti yaitu ampisilin, amoksisilin atau penisilin prokain.
c. Bukan pneumonia: tanpa pemberian obat antibiotik. Diberikan
perawatan di rumah, untuk batuk dapat digunakan obat batuk
tradisional atau obat batuk lain yang tidak mengandung zat yang
merugikan seperti kodein,dekstrometorfan dan, antihistamin.

16
Bila demam diberikan obat penurun panas yaitu parasetamol. Penderita
dengan gejala batuk pilek bila pada pemeriksaan tenggorokan didapat
adanya bercak nanah (eksudat) disertai pembesaran kelenjar getah
bening dileher, dianggap sebagai radang tenggorokan oleh kuman
streptococcuss dan harus diberi antibiotik (penisilin) selama 10 hari.
Tanda bahaya setiap bayi atau anak dengan tanda bahaya harus
diberikan perawatan khusus untuk pemeriksaan selanjutnya.
A. Terapi Farmakologi
Obat – Obat yang biasanya digunakan untuk Penyakit ISPA
1. Antibiotik
a. PENICILIN
Penicilin merupakan derifat β-laktam tertua yang memiliki aksi
bakterisidal dengan mekanisme kerja menghambat sintesis dinding sel
bakteri. Masalah resistensi akibat penicilinase mendorong lahirnya
terobosan dengan ditemukannya derivat penicilin seperti methicilin,
fenoksimetil penicilin yang dapat diberikan oral, karboksipenicilin
yang memiliki aksi terhadap Pseudomonas sp. Namun hanya
Fenoksimetilpenicilin yang dijumpai di Indonesia yang lebih dikenal
dengan nama Penicilin V. Spektrum aktivitas dari
fenoksimetilpenicilin meliputi terhadap Streptococcus pyogenes,
Streptococcus pneumoniae serta aksi yang kurang kuat terhadap
Enterococcus faecalis. Aktivitas terhadap bakteri Gram negative sama
sekali tidak dimiliki. Antibiotika ini diabsorbsi sekitar 60-73%,
didistribusikan hingga ke cairan ASI sehingga waspada pemberian
pada ibu menyusui. Antibiotika ini memiliki waktu paruh 30 menit,
namun memanjang pada pasien dengan gagal ginjal berat maupun
terminal, sehingga interval pemberian 250 mg setiap 6 jam.
Nama Indikasi Dosis Kontraindik Efek samping Perhatian
obat asi

Amoxic Pengobatan Dewa Hipersensiti SSP: Pusing; Kehamilan:


ilin telinga, sa vitas kelelahan; Kategori B.

17
hidung, dan terhadap insomnia; Laktasi:
tenggoroka Anak- penisilin, hiperaktif Ekskresi
n, GU dan anak sefalosporin reversibel dalam ASI.
kulit, BB , atau DERM: Urticaria; Hipersensiti
saluran 40 kg imipenem. makulopapular vitas: Reaksi
pernapasan = 875 Tidak sampai dermatitis berkisar dari
bagian mg q digunakan eksfoliatif; erupsi ringan
bawah, dan 12 untuk vesikular; eritema hingga
infeksi jam mengobati multiforme; ruam mengancam
gonore akut or pneumonia kulit EUL: Mata kehidupan.
tanpa 500 berat, gatal; glossitis; Gunakan
komplikasi mg q empiema, stomatitis; mulut hati-hati
yang 8 jam. bakteremia, atau lidah yang pada pasien
disebabkan perikarditis, sakit atau kering; sensitif
Anak-
oleh strain meningitis, lidah hitam sefalosporin
anak
organisme dan artritis "berbulu"; karena
BB <
spesifik purulen atau Sensasi rasa tidak kemungkina
40 kg
yang rentan septik normal; n alergenitas
= 45
selama laringospasme; silang.
mg /
tahap akut. edema laringeal Infeksi
kg /
GI: Gastritis; streptokokus
hari
anoreksia; mual; : Min 10 hari
dalam
muntah; sakit diperlukan
dosis
perut atau kram; untuk
terbag
kesusahan pengobatan
i q 12
epigastrik; diare yang efektif.
jam
atau diare Superinfeksi
atau
berdarah; : Dapat
40
pendarahan mengakibatk
mg /
dubur; perut an
kg /
kembung; pertumbuhan
hari
enterocolitis; berlebih

18
dalam kolitis organisme
dosis pseudomembran. bakteri atau
terbag GU: Nefritis jamur
i q 8 interstisial nonsusceptib
jam. (misalnya le.
oliguria,
proteinuria,
hematuria, gips
hyaline, pyuria);
nefropati;
vaginitis HEMA:
Anemia; anemia
hemolitik;
trombositopenia;
purpura
thrombocytopeni
c; eosinofilia;
leukopenia;
granulocytopenia;
neutropenia;
depresi sumsum
tulang;
agranulositosis;
mengurangi
hemoglobin atau
hematokrit;
pendarahan yang
berkepanjangan
dan waktu
protrombin;
bertambah atau
menurun jumlah

19
limfosit;
peningkatan
monosit, basofil,
trombosit. HEPA:
hepatitis transien;
ikterus kolestatik.
META:
Peningkatan
serum alkaline
phosphatase dan
hypernatremia;
mengurangi
potasium serum,
albumin, protein
total, dan asam
urat. LAIN:
Hipertermia.

Ampicil Pengobatan Dewa Hipersensiti KARDIOVASK Kehamilan:


in infeksi sa vitas ULAR: Kategori B.
saluran dan terhadap Tromboflebitis di Laktasi:
pernapasan, anak- penisilin, tempat suntikan. Ekskresi
GI, dan GU anak sefalosporin SSP: Pusing; dalam ASI.
dan BB atau kelelahan; Hipersensiti
jaringan mini imipenem. insomnia; vitas: Reaksi
lunak, mal Bentuk oral hiperaktif berkisardari
meningitis 40 kg tidak reversibel; ringan
bakteri dan IV / digunakan neurotoksisitas sampai yang
endokarditis IM untuk (misalnya, mengancam
enterokok, 250 mengobati kelesuan, jiwa.
septikemia samp pneumonia iritabilitas Gunakan

20
dan infeksi ai 500 berat, neuromuskular, hati-hati
gonokokus mgq empiema, halusinasi, pada pasien
yang 6 jam. bakteremia, kejang, kejang). sensitif
disebabkan Anak perikarditis, DERMATOLOG sefalosporin
oleh < 40 meningitis, I: Urtikaria; karena
mikroorgani kg IV dan artritis makulopapular kemungkina
sme yang / IM purulen atau sampai dermatitis n alergenitas
rentan. 25 septik eksfoliatif; erupsi silang.
samp selama vesikular; eritema Superinfeksi
ai 50 tahap akut. multiforme; ruam : Dapat
mg/ kulit EUL: Mata mengakibatk
kg / gatal; an
hari laringospasme; pertumbuhan
denga edema laringeal berlebih
n GI: Diare; kolitis organisme
dosis pseudomembran. bakteri atau
terbag GU: Nefritis jamur
i rata interstisial nonsusceptib
q 6 (misalnya le.
samp oliguria, Kerusakan
ai 8 proteinuria, ginjal:
jam. hematuria, gips Gunakan
Dewa hyaline, pyuria); denganhati-
sa nefropati; hati dengan
dan peningkatan BUN interval
anak- dan kreatinin; dosis yang
anak vaginitis berubah.
> 20 HEMATOLOGI:
kg Penurunan Hgb,
PO Hct, RBC, WBC,
250 neutrofil,
mgq limfosit,

21
6 jam. trombosit;
Anak- peningkatan
anak limfosit, monosit,
20 kg basofil, eosinofil,
atau dan trombosit.
kuran METABOLIK:
g PO Peningkatan
50 serum alkaline
mg / phosphatase,
kg / glutamic
hari oxaloacetic
denga transaminase,
n ALT, AST, dan
dosis LDH;
terbag mengurangi
i serum albumin
sama dan protein total.
q 6 LAIN: Sakit di
samp tempat suntikan;
ai 8 hipertermia
jam

b. CEFALOSPORIN
Merupakan derivat β-laktam yang memiliki spektrum aktivitas
bervariasi tergantung generasinya. Cefotaksim pada generasi tiga
memiliki aktivitas yang paling luas di antara generasinya yaitu
mencakup pula Pseudominas aeruginosa, B. Fragilis meskipun
lemah. Cefalosporin yang memiliki aktivitas yang kuat terhadap
Pseudominas aeruginosa adalah ceftazidime setara dengan
cephalosporin generasi keempat, namun aksinya terhadap bakteri
22
Gram positif lemah, sehingga sebaiknya agen ini disimpan untuk
mengatasi infeksi nosokomial yang melibatkan pseudomonas.
Spektrum aktivitas generasi keempat sangat kuat terhadap bakteri
Gram positif maupun negatif, bahkan terhadap Pseudominas
aeruginosa sekalipun, namun tidak terhadap B. fragilis. Mekanisme
kerja golongan cefalosporin sama seperti β-laktam lain yaitu berikatan
dengan penicilin protein binding (PBP) yang terletak di dalam
maupun permukaan membran sel sehingga dinding sel bakteri tidak
terbentuk yang berdampak pada kematian bakteri.
Nama Indikasi Dosis Kontraindik Efek Perhatian
obat asi samping

Cefotaks Pengobatan DEWAS Hipersensiti SSP: sakit Kehamilan:


im infeksi A: IV / vitas kepala; Kategori B.
saluran IM terhadap pusing; Laktasi:
pernapasan Sampai cefalosporin kelelahan; Ekskresi
bagian 12 g / paresthesia; dalam ASI.
bawah hari kebingungan Anak-anak:
termasuk dalam ; kegugupan; sefalosporin
pneumonia, dosis arik. GI: dapat
saluran terbagi Mual; menumpuk
kemih, (dari 4 muntah; pada
struktur jam diare; neonatus.
kulit dan untuk anoreksia; Hipersensitiv
kulit, tulang septicem sakit perut itas: Reaksi
dan ia atau kram; berkisar dari
persendian; sampai perut ringan
pengobatan 12 jam kembung; sampai yang
bakteriemia untuk kolitis, mengancam
/ septikemia, infeksi termasuk jiwa. Berikan
infeksi SSP, tanpa kolitis obat dengan
infeksi komplik pseudomemb hati-hati

23
intra- asi) ran. GU: pada pasien
abdomen biasanya Pyuria; sensitif penis
dan infeksi selama disfungsi karena
ginekologi 7-10 ginjal; kemungkinan
termasuk hari. peningkatan reaktivitas
penyakit sementara silang.
ANAK 1
radang pada BUN Kolitis
bulan-12
panggul, dan pseudomemb
tahun:
endometritis kreatinin; ran: Harus
IV / IM
dan selapis disuria; dipertimbang
50-180
pelvis nefritis kan pada
mg / kg /
karena interstisial pasien yang
hari
strain reversibel; diare.
dalam 4-
mikroorgani hematuria; Gangguan
6 dosis
sme spesifik nefropati ginjal dan
terbagi.
yang rentan; beracun. hati:
profilaksis Bayi 1-4 HEMA: Gunakan
perioperatif minggu: Eosinofilia; obat dengan
IV 50 neutropenia; hati-hati
mg / kg limfositosis; pada pasien
q8 jam. leukositosis; dengan
Neonatu trombositope gangguan
s <1 nia; ginjal dan
minggu: penurunan hati.
IV 50 fungsi Penyesuaian
mg / kg trombosit; dosis
q 12 anemia; berdasarkan
jam. anemia fungsi ginjal
aplastik; dan hati
pendarahan. mungkin
HEPA: diperlukan.
Disfungsi Superinfeksi:

24
hepatik; Dapat
Hasil tes menyebabka
fungsi hati n bakteri atau
abnormal. jamur
LAIN: berlebih dari
Hipersensitiv mikroorganis
itas, me yang
termasuk tidak mudah
sindrom terserap.
Stevens-
Johnson,
eritema
multiforme,
pruritus,
demam,
nekrolisis
epidermal
toksik;
pertumbuhan
berlebih;
serum seperti
sakit reaksi
(misalnya,
ruam kulit,
polyarthritis,
artralgia,
demam);
flebitis,
tromboflebiti
s dan nyeri
pada tempat

25
suntikan.

c. MAKROLIDA
Eritromisina merupakan prototipe golongan ini sejak ditemukan
pertama kali th 1952. Komponen lain golongan makrolida merupakan
derivat sintetik darieritromisin yang struktur tambahannya bervariasi
antara 14-16 cincin lakton. Derivat makrolida tersebut terdiri dari
spiramysin, midekamisin, roksitromisin, azitromisin dan klaritromisin.
Aktivitas antimikroba golongan makrolida secara umum meliputi
Gram positif coccus seperti Staphylococcus aureus, coagulase-negatif
staphylococci, streptococci β-hemolitik dan Streptococcus spp.
lain,enterococci, H. Influenzae, Neisseria spp, Bordetella spp,
Corynebacterium spp, Chlamydia, Mycoplasma, Rickettsia dan
Legionella spp. Azitromisin memiliki aktivitas yang lebih poten
terhadap Gram negatif, volume distribusi yang lebih luas serta waktu
paruh yang lebih panjang. Klaritromisin memiliki fitur
farmakokinetika yang meningkat (waktu paruh plasma lebih panjang,
penetrasi ke jaringan lebih besar) serta peningkatan aktivitas terhadap
H. Influenzae, Legionella pneumophila.36 Sedangkan roksitromisin
memiliki aktivitas setara dengan eritromisin, namun profil
farmakokinetiknya mengalami peningkatan sehingga lebih dipilih
untuk infeksi saluran pernapasan. Hampir semua komponen baru
golongan makrolida memiliki tolerabilitas, profil keamanan lebih baik
dibandingkan dengan eritromisin. Lebih jauh lagi derivat baru tersebut
bisa diberikan satu atau dua kali sehari, sehingga dapat meningkatkan
kepatuhan pasien.

Nama Indikasi Dosis Kontraindi Efek samping Perhatian


obat kasi

Eritromis Penggunaa DEWAS Hipersensit DERM: Ruam; Kehamilan:


n oral / A: PO ivitas photosensitivita Kategori B.

26
in intravena: 250-500 terhadap s; eritema dan Laktasi:
Pengobata mg basa eritromisin pengelupasan Ekskresi
n infeksi (400-800 atau (penggunaan dalam ASI.
saluran mg antibiotik topikal). GI: Terapi
pernapasan ethylsucci macrolida; Diare; mual; jerawat:
, kulit dan nate) q 6 penyakit Muntah sakit Efek iritasi
struktur jam atau hati yang perut / kram. kumulatif
kulit, dan 500 mg q sudah ada GU: Vaginitis. dapat
penyakit 12 jam sebelumny HEPA: terjadi.
menular atau 333 a (dengan Hepatotoksisita Kerusakan
seksual mg q 8 garam s (terutama hati:
akibat jam. IV kering); dengan garam Gunakan
organisme 15-20 mg keratitis kering). LAIN: obat
yang / kg / hari; herpes Iritasi atau dengan
rentan; sampai 4 simpleks flebitis vena hati-hati.
pengobata g / hari epitel; dengan Disfungsi
n pertusis, pada penyakit pemberian IV. hepatik,
difteri, infeksi jamur dengan
eritrasma, yang mata; atau tanpa
amebiasis sangat vaccinia ikterus,
intestinal, parah. atau telah
konjungtiv ANAK: varicella terjadi.
itis PO 30 (pengguna Hepatitis
penyakit sampai 50 an kolestasis
bayi dan mg / kg / oftalmik). telah
legiuner; hari terjadi.
pencegaha dalam Hipersensit
n serangan dosis ivitas:
demam terbagi. Reaksi
rematik; serius,
pencegaha termasuk
n anafilaksis,

27
endokarditi telah
s bakteri; terjadi.
Pengobata Ophthalmic
n otitis salep:
media akut Dapat
(dikombin memperlam
asikan bat
dengan penyembuh
sulfisoksaz an epitel
ol). kornea.
Penggunaa Ototoksisit
n mata: as: Dapat
Pengobata terjadi,
n infeksi terutama
okuler pada pasien
dangkal dengan
karena insufisiensi
strain ginjal atau
organisme hati dan
yang pasien
rentan. lanjut usia
Penggunaa dan dengan
n topikal: pemberian
Profilaksis dosis besar.
infeksi Kolitis
pada luka Pseudome
ringan, mbran:
luka, luka Pertimbang
bakar dan kan
lecet kulit; kemungkin
Pengobata an pada
n akne pasien yang

28
vulgaris. diare
Penggunaa berkemban
n tanpa g.
label: Superinfeks
Pengobata i:
n Neisseria Penggunaa
gonorrhoea n antibiotik
e pada yang
kehamilan; berkepanja
pengobata ngan dapat
n diare mengakibat
yang kan
disebabkan pertumbuha
oleh n berlebih
Campylob bakteri atau
acter jamur
jejuni; mikroorgan
sebagai isme
alternatif nonsuscepti
penicillin ble.
pada
infeksi
tertentu.

Azithro DEWASA: Otitis Hipersensit KARDIOVAS Kehamilan:


mycin Pengobata Media ivitas KULAR: Kategori B.
n infeksi Akut terhadap Palpitasi; sakit Laktasi:
saluran azitromisin dada. SSP: Belum
Anak-
pernapasan , Pusing; sakit ditentukan.
anak 6 >:
, penyakit eritromisin kepala; vertigo; Efek
PO 30 mg
paru , atau sifat tidur; jantung:

29
obstruktif / kg antibiotik kelelahan. Kejadian
kronik diberikan makrolida. DERMATOLO kardiovask
(PPOK), sebagai GI: Ruam; ular serius
pneumonia dosis fotosensitivitas. telah terjadi
yang tunggal GI: Diare; dengan
didapat atau 10 mual; muntah; antibiotik
oleh mg / kg sakit perut; macrolide
masyarakat sekali dispepsia; perut lainnya,
, kompleks sehari kembung; terutama
Mycobacte selama 3 melena GU: bila
rium hari atau Vaginitis; diberikan
avium, 10 mg / monilia; nefritis bersamaan
penyakit kg HEPATIK: dengan
radang sebagai ikterus antihistami
panggul, dosis kolestasis. n tertentu
struktur tunggal LAIN: (misalnya,
kulit dan pada hari Angioedema; terfenadine
kulit, dan pertama anafilaksis ). Gonore /
penyakit (tidak Sifilis:
menular melebihi Tidak
seksual 500 mg / efektif
yang hari) untuk
disebabkan diikuti pengobatan
oleh dengan 5 infeksi ini.
organisme mg / kg Kerusakan
yang pada hari fungsi hati /
rentan. ke 2 ginjal:
sampai 5 Gunakan
(tidak dengan
ANAK: melebihi hati-hati.
Pengobata 250 mg / Pneumonia:
n otitis hari). Hanya

30
media akut Infeksi efektif
yang bakteri untuk
disebabkan Dewasa: pneumonia
oleh PO 500 yang
organisme mg didapat
yang sebagai masyarakat
rentan; dosis ringan.
pneumonia tunggal Kolitis
yang pada hari pseudome
didapat pertama, mbran:
masyarakat kemudian Dapat
, 250 mg / menjadi
pengobata hari pada faktor pada
n faringitis hari 2 pasien yang
/ tonsilitis sampai 5. mengalami
yang diare.
disebabkan
oleh
Streptococ
cus
pyogenes
pada
pasien
yang tidak
dapat
mengguna
kan terapi
lini
pertama.

KlaritroIndikasi SinusitisHipersensit KARDIOVASKehamilan:

31
misin Pengobata maksilaris ivitas KULAR: Kategori C.
n infeksi akut terhadap Aritmia Laktasi:
pada DEWAS eritromisin ventrikel. SSP: Belum
saluran A: PO atau sakit kepala; ditentukan.
pernapasan Diperpanj antibiotik pusing; Obat lain
, kulit dan ang- makrolida. insomnia; dari
struktur lepaskan Pasien mimpi buruk; golongan
kulit; dua tablet yang vertigo ini
pengobata 500 mg q menerima DERMATOLO diekskresik
n infeksi 24 jam terfenadine GI: Ruam. an dalam
mikobakter selama 14 yang EENT ASI.
i atipikal hari. memiliki Gangguan ANAK:
diseminata kelainan pendengaran; Keselamata
Eksaserba
yang jantung tinnitus; indera n dan
si akut
disebabkan yang sudah penciuman yang khasiat
bronkitis
oleh strain ada tidak normal pada anak
kronis
mikroorga sebelumny GI: Diare; <6 mo
nisme DEWAS a atau mual; muntah; tidak
spesifik A: PO gangguan rasa tidak terbentuk.
yang Diperpanj elektrolit. normal; ANAK:
rentan. ang- dispepsia; sakit Diindikasik
Pencegaha lepaskan perut / an untuk
n penyakit dua tablet ketidaknyamana digunakan
Mycobacte 500 mg q n; glossitis; pada anak-
rium 24 jam stomatitis; anak hanya
avium selama 7 moniliasis oral; untuk
complex hari. muntah. GU: infeksi
disebarluas Peningkatan mikobakter
kan pada BUN. i;
pasien HEMATOLOG keamanan
dengan I: Peningkatan pada anak-
infeksi PT. HEPATIK: anak <20

32
HIV lanjut. Hepatitis; mo tidak
Klaritromi penyakit didirikan
sin dalam kuning. Kolitis
kombinasi URTICARIA; Pseudome
dengan hipersensitivitas mbran:
omeprazol ; anafilaksis; Pertimbang
diindikasik Sindrom kan
an untuk Stevens- kemungkin
pengobata Johnson an pada
n pasien pasien yang
dengan diare
ulkus berkemban
duodenum g. Kelainan
aktif yang Ginjal atau
terkait Hepatik:
dengan Gunakan
infeksi dengan
Helicobact hati-hati
er pylori. dan
ANAK: sesuaikan
Otitis dosis pada
media pasien
akut. dengan
gangguan
ginjal berat.
Tidak ada
penyesuaia
n dosis
yang
diperlukan
jika pasien
mengalami

33
gangguan
fungsi hati
namun
fungsi
ginjal
normal.

2. Golongan Obat Antitusif


a. Kodein
Kodein merupakan obat antitusif golongan narkotik yang bekerja
pada SSP. Kodein sejak lama digunakan sebagai „gold standard‟
pembanding obat-obatan antitusif baru yang bekerja pada SSP. Kodein
kemungkinan merupakan obat yang paling sering diresepkan sebagai
antitusif karena dapat memberikan efek analgesik dan antitusif yang
baik pada pemberian secara peroral (Chung, 2003).
Kodein merupakan golongan opiat yang selektif pada reseptor μ
opioid, seperti pada analognya morfin, namun dengan afinitas yang
jauh lebih kecil. Kemampuan analgesiknya diduga berasal dari
konversi dari kodein ke morfin. Reseptor μ opioid merupakan reseptor
yang berpasangan dengan G-protein yang berfungsi sebagai regulator
transmisi sinaps melalui G-protein yang mengaktifkan protein efektor.
Terikatnya opiat menstimulasi pertukaran dari GTP (Guanosin
Trifosfat) menjadi GDP (Guanosin Difosfat) di G-protein kompleks.
Sebagai sistem efektor adalah adenylate cyclase dan cylcic adenosin
monophospate (cAMP) yang terletak di bagian dalam permukaan
membran plasma. Opioid mengurangi cAMP intraselular dengan cara
menghambat adenylate cyclase. Akibatnya, pelepasan nociceptive
neurotransmitter seperti substansi P, GABA (Gamma Amino Butyric
Acid), dopamine, asetilkolin dan noradrenaline ikut terhambat. Opioid
juga menghambat pelepasan vasopressin, somastotatin, insulin dan
glukagon. Opioid menutup N-type voltage-operated calcium channels
(OP2-receptor agonist) dan membuka calcium-dependant inwardly
34
rectifying potassium channels (OP3 dan OP1 receptor agonist). Hal ini
mengakibatkan hiperpolarisasi dan mengurangi sensitivitas neuron
(Schroeder dan Fahey, 2004).
Kodein merupakan sebuah prodrug. Dia akan aktif setelah
melewati metabolisme menjadi morfin melalui hepar. Kodein
mengalami demetilasi menjadi morfin oleh enzim hepar CYP2D6
(Cytochrome P450 family 2 subfamily D member 6). Sekitar 70-80%
dosis yang diberikan mengalami glukoronidasi membentuk codeine-6-
glucoronide. Proses ini dimediasi oleh UDP-glukoronosiltranferase
UGT2B7 (UDP-Glucoronyltransferase 2B7) dan UGT2B4 (UDP-
Glucoronyltransferase 2B4). Lima hingga sepuluh persen dari dosis
mengalami O-demetilasi menjadi morfin dan 10% lainnya mengalami
N-demetilasi membentuk norcodeine. CYP2D6 memfasilitasi
biotransformasi menjadi morfin. CYP3A4 (Cytochrome P450 family 3
subfamily A member 4) adalah enzim yang memfasilitasi konversi
menjadi norcodeine. Baik morfin maupun norcodeine dimetabolisme
lebih lanjut dan mengalami glukoronidasi. Metabolit glukoronid dari
morfin adalah morphine-3-glucoronide (M3G) dan morphine-6-
glucoronide (M6G). Baik morfin maupun M6G merupakan senyawa
aktif dan memiliki aktivitas analgesik. Sedangkan norcodeine dan
M3G tidak memiliki aktivitas analgesik (Vree dkk., 2000).
Efek samping yang ditimbulkan kodein antara lain mengantuk,
mual dan muntah, serta konstipasi. Selain itu, kodein dapat
mengakibatkan ketergantungan seperti layaknya pada obat-obatan
morfin, namun dengan skala yang lebih kecil (Chung, 2003).

Nama obat Kodein


Indikasi Meringankan nyeri ringan sampai sedang;
penekan batuk.
Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap opiat; obstruksi jalan
nafas bagian atas; kompromi pernafasan; asma

35
akut; Diare disebabkan oleh keracunan atau racun.
Dosis ANALGESIK
Dewasa: IM / lambat IV / PO / SC 15-60 mg q 4-6
jam (maksimum 360 mg / hari). ANAK (³ 1 YR):
IM / PO / SC 0,5 mg / kg q 4-6 jam.
ANTITUSSIVE
Dewasa: PO 10-20 mg q 4-6 jam (maksimal 120
mg / hari). ANAK (6-12 YR): PO 5-10 mg 4-6
jam (maksimum 60 mg / hari). ANAK (2-6 YR):
PO 2,5-5 mg q 4-6 jam (maksimal 30 mg / hari).
Efek Samping CV: Hipotensi; hipotensi ortostatik; bradikardia;
takikardia; syok.

SSP: ringan kepala; pusing; sedasi; disorientasi;


ketiadaan koordinasi; euforia; igauan.

DERM: Berkeringat; pruritus; urtikaria

GI: Mual; muntah; sembelit; sakit perut;


anoreksia; kejang saluran empedu.

GU: Retensi urin atau keragu-raguan.

RESP: Laringospasme; depresi refleks batuk;


depresi pernapasan

Perhatian KehamilanTerapeutik dosis kodein telah


meningkatkan durasi persalinan. Laktasi: Ekskresi
dalam ASI. Anak-anak: Jangan berikan IV kepada
anak-anak <12 thn. Anak-anak lebih peka
terhadap efek obat. Pasien lanjut usia: Lebih peka
terhadap efek obat. Pasien dengan risiko khusus:

36
Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan
myxedema, alkoholisme akut, riwayat potensi
penyalahgunaan obat terlarang, kondisi perut
akut, kolitis ulserativa, penurunan cadangan
pernafasan, cedera kepala atau peningkatan
tekanan intrakranial, hipoksia, takikardia
supraventrikular, volume darah habis, syok
peredaran darah , hipotiroidisme, dan masalah
eliminasi urin / usus. Ketergantungan: Codeine
memiliki potensi penyalahgunaan. Kerusakan
ginjal atau hati: Durasi tindakan mungkin akan
berlangsung lama; mungkin perlu mengurangi
dosis.

b. Dextrometorphan
Dektrometorfan (d-3-metoksin-N-metilmorfinan) merupakan
antitusif non-opioid. Dekstrometorfan merupakan stereoisomer
dektrorotatorik dari suatu susunan metorfanol termetilasi. Obat ini
diharapkan bebas dari sifat adiktif dan lebih jarang menyebabkan
konstipasi daripada kodein (Katzung, 2012)
Zat ini meningkatkan ambang rangsang refleks batuk secara
sentral dan kekuatannya kira-kira sama dengan kodein. Berbeda
dengan kodein, zat ini jarang menimbulkan kantuk atau gangguan
salran cerna. Dalam dosis terapi dektrometorfan tidak menghambat
aktivitas silia bronkus dan efek antitusifnya bertahan 5-6 jam.
Toksisitas zat ini rendah sekali, tetapi dosis sangat tinggi mungkin
menimbulkan depresi napas. Dektrometorfan tersedia dalam bentuk
tablet 10 mg dan sebagai sirup dengan kadar 10 mg dan 15 mg/5 ml.
Dosis dewasa 10-3- mg diberikan 3-4 kali sehar (FKUI, 2007).
Dekstrometorfan merupakan obat antitusif non narkotik yang
bekerja pada SSP. Dekstrometorfan yang disintesis dari derivat morfin

37
tidak memiliki efek analgesik maupun sedatif sehingga obat ini
diperjual belikan secara luas. Efek antitusif dari deksrometrofan sama
besar dengan efek antitusif dari kodein (Reynolds dkk., 2003).
Dekstrometorfan merupakan obat batuk antitusif yang ditujukan
untuk batuk kering. Dekstrometorfan menekan refleks batuk dengan
cara langsung bertindak pada pusat batuk di dalam medulla pada otak.
Dekstrometorfan menunjukkan afinitas ikatan yang tinggi pada
beberapa region di otak, termasuk pusat batuk medulla. Senyawa aktif
dekstrometorfan merupakan antagonis reseptor NMDA (N-Methyl D-
Aspartate) dan bertindak sebagai non-competitive channel blocker.
(Hargreaves dkk., 1994).
Dekstrometorfan merupakan opioid-like drug yang berikatan dan
sekaligus bertindak sebagai antagonis pada reseptor NMDA
glutamatergic. Dekstrometorfan juga merupakan agonis pada reseptor
opioid σ1 dan σ2, sekaligus juga merupakan antagonis reseptor α3/β4
nikotinik dan bertarget pada serotonin reuptake pump (Hernandez
dkk., 2000). Dekstrometorfan diabsorpsi secara cepat dari saluran
pencernaan, dimana dia akan masuk ke aliran darah dan melewati
blood-brain barrier (BBB). Dekstrometorfan diubah menjadi
dextrorphan, sebagai senyawa metabolit aktif setelah melewati first-
pass hepatic portal (Olney dan Labruyere, 1989).
Indikasi : Perawatan untuk batuk tidak berdahak (A to Z drug)
Dosis :
Dosis sirup:
a. Dewasa 10-20 mg setiap 4 jam sehari atau 30 mg 3-4 kali sehari
(maksimal 120mg/hari)
b. Anak 6-12 tahun 15 mg 3-4 kali sehari (maksimal 60 mg/hari)
c. Anak 2-5 tahun 7,5 mg 3-4 kali sehari (maksimal 30 (A to Z drug
facts)
Efek samping : Mual, mengantuk, pusing (A to Z drug facts)

38
Perhatian : Kategori C, Jangan gunakan untuk batuk persisten atau
kronis (misalnya asma, emfisema) atau bila batuk disertai dengan
sekresi yang berlebihan (A to Z drug facts)
3. Golongan Obat Antikonvulsan ( Phenobarbital )
Komposisi : Phenobarbital
Indikasi : Pada bayi dan anak kecil, fenobarbital efektif dalam
pencegahan kejang demam ; Pengobatan jangka pendek untuk
insomnia ; obat penenang preanestetik
Dosis : Dewasa :Sedasi: Oral, I.M .: 30-120 mg / haridalam 2-3 dosis
terbagi
Anak-anak : Oral: Children: 2 mg/kg 3 kali sehari
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap barbiturat; kecanduan
obat penenang ; kerusakan hati parah; penyakit pernafasan dengan
dyspnea; pasien nephritis
Efek samping : Mual muntah, konstipasi, bradikardi, hipotensi,
ngantuk, sakit kepala
Perhatian : Toleransi atau ketergantungan psikologis dan fisik dapat
terjadi.
4. Golongan Obat Ekspektoran
Nama Obat GUAIFENESIN
digunakan sebagai ekspektoran dalam penanganan
simtomatik batuk yang berhubungan dengan flu biasa,
bronkitis, radang tenggorokan, faringitis, pertusis, influenza,
dan batuk yang dipicu oleh sinusitis paranasum kronis (AHFS
DI)

Dosis Dewasa Dewasa dan Anak-anak (minimal 12 tahun): PO 200 sampai


400 mg setiap 4 jam (maks, 2,4 g / hari). ( a to z )

39
Dosis Anak 2-6 tahun: PO 50 sampai 100 mg setiap 4 jam (maks, 600 mg
/ hari)
6-12 tahun: 100 sampai 200 mg setiap 4 jam (maks, 1,2 g /
hari).

Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap guaifenesin

Efek samping SSP: Pusing; sakit kepala.

DERMATOLOGI: Ruam; urtikaria


GI: Mual; muntah

Perhatian dosis guaifenesin lebih besar dari yang dibutuhkan untuk


tindakan ekspektoran dapat menghasilkan emesis ( ahfs di)
Kehamilan Kehamilan: Kategori C. Laktasi: Belum ditentukan. Batuk
terus-menerus: Bisa mengindikasikan kondisi serius. Beritahu
dokter, apoteker, atau perawat jika batuk bertahan lebih dari 1
minggu, cenderung kambuh atau disertai demam tinggi, ruam,
atau sakit kepala yang terus-menerus. ( a to z)

5. Golongan Obat Anti Inflamasi Non steroid ( OAINS )


a. Ibu Profen
Ibuprofen merupakan golongan obat anti inflamasi non steroid
derivat asam propionat yang mempunyai aktivitas analgetik.
Mekanisme ibuprofen adalah menghambat isoenzim siklooksigenase-
1 dan siklooksigenase-2 dengan cara mengganggu perubahan asam
arakidonat menjadi prostaglandin. Enzim siklooksigenase berperan
dalam memacu pembentukan prostaglandin dan tromboksan asam
arakidonat, sedangkan prostaglandin adalah molekul pembawa pesan
pada proses inflamasi atau peradangan. Efek analgetik ibuprofen
adalah sama seperti aspirin. Efek analgetik obat tersebut terlihat

40
dengan memberikan dosis 1200-2400 mg sehari (Wilmana dan Gan,
2007).
Penggunaan ibuprofen untuk mengurangi penyakit sebagai
analgetik-antipiretik. Ibuprofen ketika digunakan secara oral akan
diabsorpsi secara cepat oleh usus dengan konsentrasi puncak dalam
plasma terjadi dalam waktu1-2 jam. Ibuprofen akan terikat oleh
protein plasma sekitar 90-99%. Metabolisme ibuprofen melalui
hidroksilasi maupun karboksilasi. Ekskresi ibuprofen sangat cepat
sekitar lebih dari 90% pada urin dalam bentuk metabolit (Tjay dan
Raharja, 2002). Ibuprofen sering diresepkan sebagai analgetik-
antipiretik terutama pada anak-anak. Ibuprofen lebih sering digunakan
karena obat ini cederung lebih aman dibandingkan dengan obat yang
memiliki khasiat sama seperti parasetamol. Ibuprofen sering
digunakan tetapi obat ini memiliki permasalahan kelarutan pada
proses formulasi.
Karakteristik ibuprofen termasuk dalam Biopharmaceutics
Classification System (BCS) kelas II dengan ciri sifat permeabilitas
tinggi dan kelarutannya rendah (Amidon dkk., 1995). Obat yang
termasuk
dalam karakteristik BCS kelas II memiliki ciri bioavailabilitasobat
tergantung pada jenis sediaan dan kecepatan pelepasan zat aktifnya.
Ibuprofen ketika diformulasikan perlu pengatasan masalah kelarutan
obat tersebut. Teknik yang digunakan untuk memperbaiki kelarutan
obat BCS kelas II antara lain dengan penggunaan kosolven,
pembentukan kompleksasi (misalnya dengan pembentukan kompleks
inklusi dengan penambahan zat pengompleks seperti β- siklodekstrin),
dan pendekatan melalui prodrug(Agoes, 2012).

Nama obat Ibuprofen


Indikasi membantu gejala rheumatoid arthritis,
osteoartritis, nyeri ringan sampai sedang,
dismenore primer, pengurangan demam (a to z

41
drug fact)
Kontra Hipersensitivitas terhadap aspirin, iodida, atau
indikasi NSAID lainnya(a to z drug fact)
Efek Jarang terjadi; mual, muntah, ganggguan saluran
samping cerna. Pernah dilaporkan adanya ruam kulit;
trombositopennia dan limfopenia. Penurunan
ketajaman pengelihatan (sangat jarang). (Iso Vol
49, 19)
Dosis - Anak: 1 sampai 12 thn: £ 39,2 ° C (102,5 ° F)
dianjurkan dosis PO 5 mg / kg; > 39,2 ° C (102,5
° F) dianjurkan dosis PO 10 mg / kg; dosis harian
maksimum 40 mg / kg. (a to z drug fact)
- Dewasa: sehari 2-4 kali 1-2 kapl atau menurut
petunjuk dokter (Iso Vol 49, 19)

Perhatian Untuk pasien dengan riwayat penyakit saluran


cerna bagian atas, gangguan funngsi ginjal,
gangguan pembekuan darah, asma harap
mengkonsultasikan ke dokter terlebih dahulu.
Pemakaian jangan dibarengi dengan pemakaian
asetosal atau obat lain yang mengandung ibu
profen, hamil dan mneyusui tidak dianjurkan (Iso
Vol 49, 19)

6. Golongan Obat Analgesik - Antipiretik


a. Parasetamol
Nama Obat Acetaminofen/Parasetamol
Mengurangi demam karena aksinya yang langsung ke
pusat pangatur panas di hipotalamus yang berdampak
vasodilatasi serta pengeluaran keringat.

Dosis Dewasa 325-650 mg setiap 4-6 jam atau 3-4 x 1000 mg, tidak

42
melebihi 4g/hari

Dosis Anak < 12 th: 10-15mg/kg setiap 4-6jam, max 2,6g/hari


>12 th: seperti dosis dewasa.

Kontraindikasi Hipersensitivitas yang terdokumentasi, Defisiensi


Glukosa-6-fosfat.

ROB Rifampicin dapat mengurangi efek acetaminophen,


pemberian bersama dengan barbiturate, karbamazepin,
hydantoin INH dapat meningkatkan hepatotoksisitas.

Interaksi Rifampicin dapat mengurangi efek acetaminophen,


pemberian bersama dengan barbiturate, karbamazepin,
hydantoin INH dapat meningkatkan hepatotoksisitas.

Kehamilan Klasifikasi B: Biasanya aman, namun tetap


dipertimbangkan keuntungan terhadap risikonya.

Monitoring

Perhatian Hepatotoksisitas pada pasien alkoholik dapat terjadi


setelah terpapar dosis yang bervariasi. Nyeri yang
sangat, berulang atau demam mengindikasikan sakit
yang serius.

7. Golongan Obat Antihistanin


a. Chorpheniramin maleat
Aksi : Secara agresif menentang histamin di situs reseptor H1.

43
Indikasi : Sementara relief bersin, gatal, mata berair, hidung gatal atau
tenggorokan, dan hidung meler akibat alergi hayati (alergi) rhinitis atau
alergi pernafasan lainnya.
Kontraindikasi: Hipersensitivitas terhadap antihistamin; glaukoma
sudut sempit; stenosing tukak peptik; hipertrofi prostat simtomatik;
serangan asma; obstruksi leher kandung kemih; obstruksi
pyloroduodenal; Terapi MAO; gunakan pada bayi yang baru lahir atau
bayi prematur dan ibu menyusui.
Dosis :
1) Gejala Kondisi Alergi Dewasa dan Anak di atas 12 tahun: PO 4 mg q
4 sampai 6 jam (bentuk pelepasan segera) atau 8 sampai 12 mg pada
waktu tidur atau q 8 sampai 12 jam (bentuk pelepasan yang
bertahan) (maks, 24 mg / 24 jam). Efidac: 16 mg q 24 jam (maks, 16
mg / 24 jam). SC / IM / IV: 5 sampai 20 mg sebagai dosis tunggal
(maks, 40 mg / 24 jam).
2) Anak-anak 6 sampai 12 tahun: PO 2 mg q 4 sampai 6 jam (bentuk
pelepasan segera) atau 8 mg pada waktu tidur atau siang hari seperti
yang ditunjukkan (formulir pelepasan yang bertahan) (maks, 12 mg /
24 jam).
3) Anak-anak 2 sampai 6 tahun PO (hanya tablet atau sirup; pelepasan
yang tidak dianjurkan) 1 mg q 4 sampai 6 jam (maks, 4 mg / 24 jam).
4) Reaksi alergi terhadap Darah atau Plasma Dewasa: SC / IM / IV 10
sampai 20 mg sebagai dosis tunggal (maks, 40 mg / 24 jam).
5) Anafilaksis Dewasa: IV 10 sampai 20 mg sebagai dosis tunggal.

1) Alkohol dan depresan SSP: Dapat menyebabkan efek depresan SSP


tambahan.
2) Inhibitor MAO: Dapat meningkatkan efek antikolinergik dari
chlorpheniramine
Efek Samping :Kardiovaskular: hipotensi ortostatik; palpitasi;
bradikardia; takikardia; refleks takikardia; extrasystoles; pingsan ssp:
mengantuk (sering sementara); sedasi; pusing; pingsan; koordinasi yang

44
terganggu; kegugupan; kegelisahan. gi: mulut kering; kesusahan
epigastrik; anoreksia; mual; muntah; diare; sembelit; perubahan
kebiasaan buang air besar. gu: frekuensi atau retensi urin; disuria.
hematologi: anemia hemolitik; trombositopenia; agranulositosis
metabolik: meningkatnya nafsu makan; penambahan berat badan.
respiratory: penebalan sekresi bronkial; dada sesak; mengi; kotoran
hidung; hidung kering dan tenggorokan; sakit tenggorokan; depresi
pernapasan lain: reaksi hipersensitivitas; fotosensitivitas.
Perhatian : Kehamilan: Kategori B. Jangan gunakan selama trimester
ketiga. Laktasi: Kontraindikasi pada ibu menyusui. Anak-anak:
Overdosis dapat menyebabkan halusinasi, kejang, dan kematian.
Antihistamin dapat mengurangi kewaspadaan mental. Pada anak kecil,
mereka mungkin menghasilkan eksitasi paradoks. Kontraindikasi pada
bayi baru lahir atau bayi prematur. Bentuk pelepasan berkelanjutan
yang tidak dianjurkan pada anak-anak kurang dari 6 tahun. Lansia:
Kemungkinan besar pusing, sedasi berlebihan, sinkop, keadaan bingung
dan hipotensi pada pasien di atas 60 tahun. Pengurangan dosis mungkin
diperlukan. Pasien berisiko khusus: Gunakan obat dengan hati-hati pada
pasien dengan predisposisi retensi urin, riwayat asma bronkial,
peningkatan IOP, hipertiroidisme, penyakit kardiovaskular, atau
hipertensi. Hindari pada penderita sleep apnea. Kerusakan hati:
Gunakan obat dengan hati-hati pada pasien dengan sirosis atau penyakit
hati lainnya. Reaksi hipersensitivitas: Mungkin terjadi. Memiliki
epinefrin 1: 1000 segera tersedia. Penyakit pernafasan: Umumnya tidak
disarankan untuk mengobati gejala saluran pernapasan bagian bawah
termasuk asma.
b. Difenhidramin HCl
Indikasi : Mengurangi gejala rhinitis alergi musiman dan musiman,
rinitis vasomotor dan konjungtivitis alergi; melegakan sementara pilek
dan bersin yang disebabkan oleh flu biasa;melegakan gejala pruritus
alergi dan non-alergi (A to Z drug facts)
Dosis :

45
Menekan batuk :
Dewasa 25 mg setiap 4 jam (maksimal 150 mg/ hari)
Anak 6-12 tahun 12.5 mg setiap 4 jam (maksimal 75mg/ hari)
Anak 2-5 tahun 6.2.5 mg setiap 4 jam (maksimal 25mg/ hari) (A to Z
drug facts)
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap antihistamin; serangan
asma; obstruksi leher kandung kemih; obstruksi pyloroduodenal; Terapi
MAOI; riwayat apnea tidur; pada bayi yang baru lahir atau bayi
prematur dan pada wanita menyusui. (A to Z drug facts)
Efek samping : Bradikardi, takikardi, mengantuk, pusing, hidung
tersumbat, mulut dan kerongkongan kering (A to Z drug Fact)
Perhatian : Kategori B. Dapat dieksresikan lewat ASI. Gunakan
dengan hati-hati pada pasien yang cenderung mengalami retensi urin,
hipertrofi prostat, riwayat asma bronkial, peningkatan tekanan
intraokular, hipertiroidisme, penyakit kardiovaskular, atau hipertensi (A
to Z drug Fact.)
c. Cetirizin
Indikasi : Gejala gejala akut (nasal dan nonnasal) terkait dengan rinitis
alergi musiman dan abadi; pengobatan manifestasi kulit yang tidak
rumit dari urtikaria idiopatik kronis.
Kontraindikasi :Pertimbangan standar.

Dosis : dewasa & anak  6 tahun : PO 5 atau 10 mg setiap hari.


Penurunan Hepatik: PO 5 mg setiap hari.

Interaksi : Tidak ada yang terdokumentasi dengan baik

Efek Samping : takikardia; hipertensi; gagal jantung; SSP: kelelahan;


pusing; sakit kepala; paresthesia; kebingungan; hiperkinesia; hipertensi;
DERM: Pruritus; kulit kering; urtikaria; jerawat; infeksi kulit; ruam
eritematosa GI: Mulut kering; mual; muntah; sakit perut; diare;
Perhatian : Kehamilan: Kategori B. Laktasi: Ekskresi dalam ASI.
Anak-anak (<6 thn): Keselamatan dan kemanjuran tidak mapan. Pasien

46
lansia: Efek sampingan profil serupa dengan pasien yang lebih muda.
Gangguan ginjal dan hati: Penyesuaian dosis mungkin diperlukan.
8. Golongan Obat Steroid
a. Dexamethasone
Aksi : Synthetic long-acting glukokortikoid yang menekan
pembentukan, pelepasan dan aktivitas mediator inflamasi endogen
termasuk prostaglandin, kinin, histamin, enzim liposomal dan sistem
komplemen. Juga memodifikasi respon imun tubuh.
Indikasi : Pengujian hiperfungsi korteks adrenal; pengelolaan insidensi
korteks adrenal primer atau sekunder, gangguan rematik, penyakit
kolagen, penyakit dermatologis, keadaan alergi, proses alergi alergi,
inflamasi, gangguan hematologi, penyakit neoplastik, edema serebral
yang terkait dengan tumor otak primer atau metastasis, kraniotomi atau
cedera kepala. , keadaan edematosa (disebabkan oleh sindrom nefrotik),
penyakit GI, multiple sclerosis, meningitis tuberkulosis, trichinosis
dengan keterlibatan neurologis atau miokard.
Kontraindikasi: Infeksi jamur sistemik; Penggunaan IM pada purpura
thrombocytopenic idiopatik; pemberian vaksin virus hidup; monoterapi
topikal pada infeksi bakteri primer; penggunaan intranasal pada infeksi
lokal yang tidak diobati yang melibatkan mukosa hidung; Penggunaan
oftalmik pada keratitis herpes simpleks akut superfisial, penyakit jamur
pada struktur okular, vaccinia, varicella dan okular tuberkulosis.
Dosis :
1) Dosis awal: po 0.75 sampai 9 mg / hari. tes penguji: sindrom
cushing: po 1 mg pada pukul 11 malam.
2) Alternatif: po 0,5 mg q 6 jam selama 48 jam. untuk membedakan
sindrom cushing - menyebabkan kelebihan acth pituitary dari
penyebab lain: po 2 mg q 6 jam selama 48 jam. sickness mountain
akut: po 4 mg q 6 jam. antiemetik: po 16 sampai 20 mg. diagnosis
depresi: po 1 mg. hirsutisme: po 0,5 sampai 1 mg / hari.
Interaksi : Aminoglutetimida: Dapat menurunkan penekanan adrenal
akibat dexamethasone. Antolinolinesterase: Dapat melawan efek

47
antikolinesterase pada miastenia gravis. Antikoagulan, oral: Dapat
mengubah persyaratan dosis antikoagulan. Barbiturat: Dapat
menurunkan efek deksametason. Hydantoins: Dapat meningkatkan
pembersihan dan mengurangi efikasi terapeutik deksametason.
Rifampisin: Dapat meningkatkan pembersihan dan mengurangi efikasi
terapeutik deksametason. Salisilat: Dapat mengurangi kadar serum dan
khasiat salisilat. Troleandomycin: Dapat meningkatkan efek
deksametason.
Efek Samping : SSP: Kejang-kejang; Tekanan intrakranial meningkat
dengan papilledema (pseudotumor cerebri); vertigo; sakit kepala;
neuritis; parestesia; psikosis DERM: Gangguan penyembuhan luka;
kulit rapuh tipis; petechiae dan ecchymoses; eritema; lupus
eritematosus seperti lesi; atrofi lemak subkutan; striae; hirsutisme;
erupsi jerawat; dermatitis alergi; urtikaria; edema angioneurotic, iritasi
perineum; hiperpigmentasi atau hipopigmentasi. Aplikasi topikal:
Pembakaran; gatal; gangguan; eritema; kekeringan; folikulitis;
hipertrikosis; pruritus; dermatitis perioral; dermatitis kontak alergi;
menyengat, retak dan pengencangan kulit; infeksi sekunder; atrofi kulit;
striae; miliaria; telangiektasia EUL: Katarak subkapsuler posterior;
peningkatan IOP; glaukoma; exophthalmos. Inhalasi oral: Mulut kering;
iritasi tenggorokan; suara serak; disfonia; batuk. Intranasal: Iritasi
hidung; pembakaran; pedas; kekeringan; epistaksis atau lendir berdarah;
kemacetan rebound; bersin, rhinorrhea; keadaan kekurangan
penciuman; kehilangan rasa cita rasa; ketidaknyamanan tenggorokan
Ophthalmic: Glaukoma dengan kerusakan saraf optik; ketajaman visual
dan cacat lapangan; pembentukan katarak subkapsular posterior; infeksi
mata sekunder; sementara terasa menyengat atau terbakar GI:
Pankreatitis; distensi abdomen; esophagitis ulseratif; mual; muntah;
peningkatan nafsu makan dan kenaikan berat badan; tukak peptik
dengan perforasi dan perdarahan; perforasi usus GU: Meningkat atau
menurunnya jumlah dan motilitas spermatozoa

48
Kehamilan: Kategori Kehamilan belum ditentukan (penggunaan
sistemik); Kategori C (penggunaan topikal). Laktasi: Ekskresi dalam
ASI. Anak-anak: Mungkin lebih rentan terhadap reaksi merugikan dari
penggunaan topikal daripada orang dewasa. Amati pertumbuhan dan
perkembangan bayi dan anak-anak dengan terapi yang berkepanjangan.
Lansia: Mungkin memerlukan dosis lebih rendah. Penekanan adrenal:
Terapi yang berkepanjangan dapat menyebabkan penekanan
hipotalamus-hipofisis-adrenal. Keseimbangan cairan dan elektrolit:
Dapat menyebabkan tekanan darah tinggi, retensi garam dan air dan
peningkatan ekskresi kalium dan kalsium. Pembatasan garam diet dan
suplementasi potassium mungkin diperlukan. Hepatitis: Dapat
berbahaya pada hepatitis aktif kronis yang positif terhadap antigen
permukaan hepatitis B. Infeksi: Dapat menutupi tanda-tanda infeksi.
Dapat menurunkan mekanisme pertahanan host untuk mencegah
penyebaran infeksi. Efek okuler: Gunakan secara sistemik dengan hati-
hati pada herpes simpleks okular karena kemungkinan perforasi kornea.
Penggunaan mata: Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan
glaukoma atau komplikasi lainnya. Ulkus peptikum: Dapat
berkontribusi pada ulserasi peptikum, terutama dalam dosis besar.
Kerusakan ginjal: Gunakan dengan hati-hati; memantau fungsi ginjal
Stres: Peningkatan dosis kortikosteroid dengan cepat dapat diperlukan
sebelum, selama dan setelah situasi stres. Sulfit: Beberapa produk
mengandung natrium bisulfit, yang dapat menyebabkan reaksi alergi
pada beberapa individu. Penarikan: penghentian tiba-tiba dapat
menyebabkan insufisiensi adrenal. Hentikan secara bertahap.

b. Prednisone

Nama Prednison
obat
Indikasi Gangguan endokrin; gangguan rematik; penyakit kolagen;

49
penyakit dermatologis; keadaan alergi; proses alergi dan
inflamasi; penyakit pernafasan; gangguan hematologi;
penyakit neoplastik; keadaan edematosa (karena sindrom
nefrotik); Penyakit GI; multiple sclerosis; meningitis
tuberkulosis; trichinosis dengan keterlibatan neurologis atau
miokard. (a to z drug fact)
Kontra Infeksi jamur sistemik; pemberian vaksin virus hidup (a to z
indikasi drug fact)
Efek Gangguan caira n dan elektrolit, musculoskeletal,
samping gastroinstentinal, dermatologi, neurologi, endoktrin,
metabolic, reaksi hipersensitiv (Iso vol 49, hal 282)
Dosis Dewasa: PO 5 sampai 60 mg / hari (a to z drug fact)
1-4 tablet atau menurut petunjuk dokter (Iso vol 49, hal
282)

Perhatian Lansia, wanita hamil dan menyusui, penggunaan dosis


tinggi dan jangka panjang dapat menurunkan daya tahan
tubuh terhadap penyakit infeksi, pemberian pada anak-anak
hanya apabila benar-benar diperlukan (Iso vol 49, hal 282)

B. Terapi Non Farmakologi


Perawatan di rumah
Beberapa hal yang perlu dikerjakan seorang ibu untuk mengatasi
anaknya yang menderita ISPA.
1) Mengatasi panas (demam)
Untuk anak usia 2 bulan sampai 5 tahun demam diatasi dengan
memberikan parasetamol atau dengan kompres, bayi dibawah 2 bulan
dengan demam harus segera dirujuk. Parasetamol diberikan 4 kali tiap
6 jam untuk waktu 2 hari. Cara pemberiannya, tablet dibagi sesuai
dengan dosisnya, kemudian digerus dan diminumkan. Memberikan
kompres, dengan menggunakan kain bersih, celupkan pada air (tidak
perlu air es).

50
2) Mengatasi batuk
Dianjurkan memberi obat batuk yang aman yaitu ramuan tradisional
yaitu jeruk nipis ½ sendok teh dicampur dengan kecap atau madu ½
sendok teh, diberikan tiga kali sehari.
3) Pemberian makanan
Berikan makanan yang cukup gizi, sedikit-sedikit tetapi berulangulang
yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-lebih jika muntah. Pemberian
ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan.
4) Pemberian minuman
Usahakan pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih
banyak dari biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak,
kekurangan cairan akan menambah parah sakit yang diderita.
5) Lain-lain
a. Tidak dianjurkan mengenakan pakaian atau selimut yang terlalu
tebal dan rapat, lebih-lebih pada anak dengan demam.
b. Jika pilek, bersihkan hidung yang berguna untuk mempercepat
kesembuhan dan menghindari komplikasi yang lebih parah.
c. Usahakan lingkungan tempat tinggal yang sehat yaitu yang
berventilasi cukup dan tidak berasap.
d. Apabila selama perawatan dirumah keadaan anak memburuk maka
dianjurkan untuk membawa kedokter atau petugas kesehatan.
e. Untuk penderita yang mendapat obat antibiotik, selain tindakan
diatas usahakan agar obat yang diperoleh tersebut diberikan dengan
benar selama 5 hari penuh. Dan untuk penderita yang mendapatkan
antibiotik, usahakan agar setelah 2 hari anak

2.10 Pencegahan Penyakit ISPA


Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA
pada anak antara lain :
1. Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya
dengan cara memberikan makanan kepada anak yang mengandung
cukup gizi.

51
2. Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan
tubuh terhadap penyakit baik.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.
4. Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara
adalah memakai penutup hidung dan mulut bila kontak langsung
dengan anggota keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit
ISPA.
5. Ventilasi rumah cukup
6. Membiasakan memakai masker saat berkendara agar terhindar dari
polusi
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
ISPA adalah suatu tanda dan gejala akut akibat infeksi yang terjadi
disetiap bagian saluran pernafasan atau struktur yang berhubungan dengan
pernafasan yang berlangsung tidak lebih dari 14 hari.
ISPA disebabkan oleh virus, bakteri maupun riketsia. Bakteri-bakteri
yang paling sering terlibat adalah Streptococcus grup A, Pneumococcus-
pneumococcus, H.influenza yang terutama dijumpai pada anak-anak kecil.
Penatalaksanaan infeksi saluran pernafasan akan berhasil dengan baik apabila
diagnosis penyakit ditegakkan lebih dalam sehingga pengobatan dapat
diberikan sebelum penyakit berkembang lebih lanjut. Penyakit infeksi saluran
pernafasan akut perlu mendapat perhatian, demikian pula dengan penggunaan
antibiotika untuk pengobatannya, karena beberapa penelitian menunjukkan
bahwa antibiotik sering diberikan pada pasien. Pemberian antibiotik yang
tidak memenuhi dosis regimen dapat meningkatkan resistensi antibiotik. Jika
resistensi antibiotik tidak terdeteksi dan tetap bersifat patogen maka akan
terjadi penyakit yang merupakan ulangan dan menjadi sulit disembuhkan.
Perjalanan klinis penyakit ISPA ini dapat dibagi menjadi empat tahap,
yaitu: Tahap prepatogenesis, Tahap inkubasi, Tahap dini penyakit, Tahap
lanjut penyakit, dibagi menjadi empat, yaitu dapat sembuh sempurna, sembuh
dengan ateletaksis, menjadi kronis dan dapat meninggal akibat pneumonia.

52
Klasifikasi ISPA menurut Depkes RI adalah ISPA ringan, ISPA sedang,
dan ISPA berat. Tanda dan gejala ISPA banyak bervariasi antara lain demam,
pusing, malaise (lemas), anoreksia (tidak nafsu makan), vomitus (muntah),
photophobia (takut cahaya), gelisah, batuk, keluar sekret, stridor (suara
nafas), dyspnea (kesakitan bernafas), retraksi suprasternal (adanya tarikan
dada), hipoksia (kurang oksigen), dan dapat berlanjut pada gagal nafas
apabila tidak mendapat pertolongan dan mengakibatkan kematian.
Diagnosis ISPA umumnya ditegakkan melalui anamnesa, pemeriksaan
fisik, dan apabila diperlukan, pemeriksaan laboratorium. Diagnosis
pneumonia pada balita didasarkan pada adanya batuk atau kesukaran bernafas
disertai peningkatan frekuensi nafas (nafas cepat) sesuai umur, adanya nafas
cepat ini ditentukan dengan cara menghitung frekuensi pernafasan. Diagnosis
pneumonia berat didasarkan pada adanya batuk dan atau kesukaran bernafas
disertai nafas sesak atau penarikan dinding dada sebelah bawah kedalam.
pada anak usia 2 bulan sampai 5 tahun. Untuk kelompok umur kurang dari 2
bulan diagnosis pneumonia berat ditandai dengan adanya nafas cepat, yaitu
frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali permenit atau lebih, atau adanya
penarikan yang kuat pada dinding dada sebelah bawah ke dalam.
Komplikasi yang mungkin terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi telinga
tengah, infeksi saluran tuba eustachii, hingga bronkhitis dan pneumonia (radang
paru). Infeksi saluran pernapasan parah dan menyebabkan dehidrasi yang
signifikan, kesulitan bernafas dengan oksigenasi buruk ( hipoksia ), kebingungan
yang signifikan, kelesuan, dan pembengkakan napas pendek pada paru-paru
kronis dan penyakit jantung ( chronic obstructive pulmonary disease atau COPD,
gagal jantung kongestif ). ISPA parah akan mendapatkan komplikasi seperti
radang dalam selaput lendir, otitis, faringitis, epiglotitis dan lryngotracheitis,
bronchitis dan bronchiolitis, pneumonia.
Obat-obat yang digunakan untuk penyakit ISPA antara lain golongan
antibiotik (penisilin, cefalosporin, makrolida), golongaan antitusif (kodein,
dextrometorphan), golongan ekspektoran (guaifenesin), golongan OAINS
(ibuprofen), golongan analgesik-antipiretik (parasetamol), golongan

53
antihistamin (chlorpheniramin), golongan obat steroid (dexamthasone,
prednisone).
Selain itu terapi non farmakologik yang dapat dilakukan seorang ibu untuk
mengatasi anaknya yang menderita ISPA antara lain mengatasi panas
(demam) dengan memberikan parasetamol atau dengan kompres, mengatasi
batuk dengan obat batuk yang aman, pemberian makanan yang cukup gizi,
sedikit-sedikit tetapi berulangulang yaitu lebih sering dari biasanya, lebih-
lebih jika muntah. Pemberian ASI pada bayi yang menyusu tetap diteruskan,
pemberian minuman dengan
pemberian cairan (air putih, air buah dan sebagainya) lebih banyak dari
biasanya. Ini akan membantu mengencerkan dahak, kekurangan cairan akan
menambah parah sakit yang diderita.
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit ISPA
pada anak antara lain :
1. Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya
dengan cara memberikan makanan kepada anak yang mengandung
cukup gizi.
2. Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan
tubuh terhadap penyakit baik.
3. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.
4. Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satu cara
adalah memakai penutup hidung dan mulut bila kontak langsung
dengan anggota keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit
ISPA.
5. Ventilasi rumah cukup
6. Membiasakan memakai masker saat berkendara agar terhindar dari
polusi

3.2 Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna sehingga diharapkan para
pembaca dapat melengkapi makalah ini dengan sumber-sumber infromasi
yang terpercaya dan dapat di pertanggungjawabkan.

54
DAFTAR PUSTAKA

Aberg, J.A., Lacy,C.F, Amstrong, L.L, Goldman, M.P, and Lance, L.L., 2009.
Drug Information Handbook, 17th edition, Lexi-Comp for the American
Pharmacists Association Comparison
American Society for Hospital-System Pharmacist.2008.AHFS Drug Information
Handbook. USA : ASHP Inc. Bethesda MD
Anonim.2014.ISO Informasi Spesialite Obat Indonesia Vol. 49.Jakarta : Penerbit
PT ISFI
Bertram G.Katzung. 2013. Farmakologi Dasar dan Klinik. 12th ed. Jakarta: EGC
Gunawan, Gan Sulistia. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Departemen. Jakarta:
Farmakologi dan Terapeutik
Tatro, D.S. 2003. A to Z Drug Facts. San Francisco: Facts and Comparison

55