Anda di halaman 1dari 27

A.

Konsep Dasar Perioperati


a) Pengertian perioperatif
Perawatan pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan pre
operatif yang dimulai sejak pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan
berakhir ketika pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan
pembedahan. Perawatan intra operatif dimulai sejak pasien ditransfer ke meja
bedah dan berakhir bila pasien di transfer ke wilayah ruang pemulihan.
Perawatan post operasi merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre dan
intra operatif yang dimulai saat klien diterima di ruang pemulihan / pasca
anaestesi dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya
Keperawatan perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan
pengalaman pembedahan pasien. ( Keperawatan medikal-bedah : 1997 )
Kata perioperatif adalah suatu istilah gabungan yang mencangkup 3 fase
pengalaman pembedahan yaitu praoperatif, intraoperatif, dan pascaoperatif.
1. Fase Pra operatif
Merupakan ijin tertulis yang ditandatangani oleh klien untuk melindungi
dalam proses operasi yang akan dilakukan. Prioritas pada prosedur
pembedahan yang utama adalah inform consent yaitu pernyataan
persetujuan klien dan keluarga tentang tindakan yang akan dilakukan yang
berguna untuk mencegah ketidaktahuan klien tentang prosedur yang akan
dilaksanakan dan juga menjaga rumah sakit serta petugas kesehatan dari
klien dan keluarganya mengenai tindakan tersebut. Pada periode pre
operatif yang lebih diutamakan adalah persiapan psikologis dan fisik
sebelum operasi.
2. Fase Intraoperatif
Dimulai ketika pasien masuk ke bagian atau ruang bedah dan berakhir saat
pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Lingkup aktifitas keperawatan,
memasang infus, memberikan medikasi intravena, melakukan pemantauan
fisiologis menyeluruh sepanjang prosedur pembedahan dan menjaga
keselamatan pasien.
3. Fase Post operatif
Dimulai pada saat pasien masuk ke ruang pemulihan dan berakhir dengan
evaluasi tindak lanjut pada tatanan klinik atau di rumah. Lingkup aktifitas
keperawatan, mengkaji efek agen anestesi, membantu fungsi vital tubuh,
serta mencegah komplikasi. Peningkatan penyembuhan pasien dan
penyuluhan, perawatan tindak lanjut, rujukan yang penting untuk
penyembuhan yang berhasil dan rehabilitasi diikuti dengan pemulangan.
b) Persiapan pasien perioperatif
Persiapan pembedahan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yang meliputi
persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi
(khusus pasien).
1. Persiapan Psikologi
Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya
tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena :

1) Takut akan perasaan sakit, narcosa atau hasilnya.


2) Keadaan sosial ekonomi dari keluarga.

2. Persiapan Fisiologi
1) Diet 8 jam menjelang operasi pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam
sebelum operasi pasien tidak diperbolehkan minum, (puasa) pada
operasi dengan anaesthesi umum. Pada pasien dengan anaesthesi lokal
atau spinal anaesthesi makanan ringan diperbolehkan. Bahaya yang
sering terjadi akibat makan/minum sebelum pembedahan antara lain :
a. Aspirasi pada saat pembedahan
b. Mengotori meja operasi.
c. Mengganggu jalannya operasi.
d. Persiapan Perut.
2) Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada bedah
saluran pencernaan atau pelvis daerah periferal. Untuk pembedahan
pada saluran pencernaan dilakukan 2 kali yaitu pada waktu sore dan
pagi hari menjelang operasi. Manfaat pemberian lavement antara lain :
a. Mencegah cidera kolon
b. Memungkinkan visualisasi yang lebih baik pada daerah yang akan
dioperasi.
c. Mencegah konstipasi.
d. Mencegah infeksi.
e. Persiapan Kulit

3) Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambut. Pencukuran


dilakukan pada waktu malam menjelang operasi. Rambut pubis
dicukur bila perlu saja, lemak dan kotoran harus terbebas dari daerah
kulit yang akan dioperasi. Luas daerah yang dicukur sekurang-
kurangnya 10-20 cm2.
4) Hasil Pemeriksaan
Meliputi hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-lain.
a. Persetujuan Operasi / Informed Consent
Izin tertulis dari pasien / keluarga harus tersedia. Persetujuan bisa
didapat dari keluarga dekat yaitu suami / istri, anak tertua, orang
tua dan kelurga terdekat. Pada kasus gawat darurat ahli bedah
mempunyai wewenang untuk melaksanakan operasi tanpa surat
izin tertulis dari pasien atau keluarga, setelah dilakukan berbagai
usaha untuk mendapat kontak dengan anggota keluarga pada sisa
waktu yang masih mungkin.
b. Persiapan Akhir Sebelum Operasi Di Kamar Operasi (Serah terima
dengan perawat OK)
c. Mencegah Cidera
Untuk melindungi pasien dari kesalahan identifikasi atau cidera
perlu dilakukan hal tersebut di bawah ini :
a) Cek daerah kulit / persiapan kulit dan persiapan perut
(lavement).
b) Cek gelang identitas / identifikasi pasien.
c) Lepas tusuk konde dan wig dan tutup kepala / peci.
d) Lepas perhiasan
e) Bersihkan cat kuku.
f) Kontak lensa harus dilepas dan diamankan.
g) Protesa (gigi palsu, mata palsu) harus dilepas.
h) Alat pendengaran boleh terpasang bila pasien kurang / ada
gangguan pendengaran.
i) Kaus kaki anti emboli perlu dipasang pada pasien yang
beresiko terhadap tromboplebitis.
j) Kandung kencing harus sudah kosong.
k) Status pasien beserta hasil-hasil pemeriksaan harus dicek
meliputi ;
 Catatan tentang persiapan kulit.
 Tanda-tanda vital (suhu, nadi, respirasi, TN).
 Pemberian premedikasi.
 Pengobatan rutin.
 Data antropometri (BB, TB)
 Informed Consent
 Pemeriksan laboratorium.
d. Pemberian Obat premedikasi
Obat-obat pra anaesthesi diberikan untuk mengurangi kecemasan,
memperlancar induksi dan untuk pengelolaan anaesthesi. Sedative
biasanya diberikan pada malam menjelang operasi agar pasien
tidur banyak dan mencegah terjadinya cemas.
e. Pengkajian Keperawatan Pra Bedah
a. Data Subyektif
 Pengetahuan dan Pengalaman Terdahulu.
 Pengertian tentang bedah yang di anjurkan
 Tempat
 Bentuk operasi yang harus dilakukan.
 Informasi dari ahli bedah lamanya dirawat dirumah sakit,
keterbatasan setelah di bedah.
 Kegiatan rutin sebelum operasi.
 Kegiatan rutin sesudah operasi.
 Pemeriksaan-pemeriksaan sebelum operasi.
 Pengalaman bedah terdahulu
 Bentuk, sifat, roentgen
 Jangka waktu
 Kesiapan Psikologis Menghadapi Bedah
o Penghayatan-penghayatan dan ketakutan-ketakutan
menghadapi bedah yang dianjurkan.
o Metode-metode penyesuaian yang lazim.
o Agama dan artinya bagi pasien.
o Kepercayaan dan praktek budaya terhadap bedah.
o Keluarga dan sahabat dekat
o Perubahan pola tidur
o Peningkatan seringnya berkemih.
 Status Fisiologi
o Obat-obat yang dapat mempengaruhi anaesthesi atau
yang mendorong komplikasi-komplikasi pascabedah.
o Berbagai alergi medikasi, sabun, plester.
o Penginderaan : kesukaran visi dan pendengaran.
o Nutrisi : intake gizi yang sempurna (makanan, cairan)
mual, anoreksia.
o Motor : kesukaran ambulatori, gerakan tangan dan kaki,
arthritis, bedah orthopedi yang terdahulu (penggantian
sendi, fusi spinal).
o Alat prothesa : gigi, mata palsu, dan ekstremitas.
o Kesantaian : bisa tidur, terdapat nyeri atau tidak
nyaman, harapan mengenai terbebas dari nyeri setelah
operasi.
b. Data Obyektif
 Pola berbicara : mengulang-ulang tema, perubahan topik
tentang perasaan (cemas), kemampuan berbahasa Inggris.
 Tingkat interaksi dengan orang lain.
 Perilaku : gerakan tangan yang hebat, gelisah, mundur dari
aktifitas yang sibuk (cemas).
 Tinggi dan berat badan.
 Gejala vital.
 Penginderaan : kemampuan penglihatan dan pendengaran.
 Kulit : turgor, terdapat lesi, merah atau bintik-bintik.
 Mulut : gigi palsu, kondisi gigi dan selaput lendir.
 Thorak : bunyi nafas (terdapat, sisanya) pemekaran dada,
kemampuan bernafas dengan diafragma, bunyi jantung (garis
dasar untuk perbandingan pada pasca bedah).
 Ekstremitas : kekuatan otot (terutama) kaki, karakteristik nadi
perifer sebelum bedah vaskuler atau tubuh.
 Kemampuan motor : adalah keterbatasan berjalan, duduk, atau
bergerak di tempat duduk, koordinasi waktu berjalan.
 Masalah Keperawatan Yang Lazim Muncul
o Takut
o Cemas
o Resiko infeksi
o Resiko injury
o Kurang pengetahuan
c) Peran dan tugas perawat di kamar operasi
Peran perawat perioperatif tampak meluas, mulai dari praoperatif, intra
operatif, sampai ke perawatan pasien pascaanestesi. Peran perawat di kamar
operasi (di Indonesia dikenal dengan sebutan OK) berdasarkan fungsi dan
tugasnya terbagi tiga, yaitu perawat administratif, perawat pada pernbedahan,
dan perawat-pada anestesi.
Gambar 2-1. Faktor-fAtor yang memengaruhi peran perawat
perioperative
Pada praktiknya, peran perawat perioperatif dipengaruhi berbagai faktor,
yaitu sebagai berikut.
 Lama pengalaman
Lamanya pengalaman bertugas di kamar operasi, terutama pada kamar
pembedahan khusus, seperti sebagai perawat instrumen di kamar bedah
saraf, onkologi, ginekologi, dan lain-lain akan memberikan dampak yang
besar terhadap peran perawat dalam menentukan hasil akhir pembe.dahan.
 Kekuatan dan ketahanan fisik
Beberapa jenis pembedahan, seperti bedah saraf, toraks, kardiovaskular,
atau spina memerlukan waktu operasi vang panjang. Pada kondisi
tersebut, perawat insirurnen harus berdiri dalam waktu lama dan
dibutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi. Oleh karena itu, agar dapat
mengikuti jalannya pembedahan secara optimal, dibutuhkan kekuatan dan
ketahanan fisik yang baik.
 Keterampilan
Keterampilan terdiri atas keterampilan psikomotor, manual dan
interpersonal yang kuat, Agar dapat mengikuti setiap jenis pembedahan
yang berbeda beda. Perawat instrument di harapkan mampu untuk
mengintegrasikan antara keterampilan yang dimiliki dengan keinginan
dari operator bedah pada setiap tindakan yang dilakukan dokter bedah dan
asisten bedah. Hal ini akan memberikan tantangan tersendiri pada perawat
untuk mengembangkan keterampilan psikomotor,mereka agar bisa
mengikuti jalannya pernbedahan.
Keterampilan psikomotor dan manual dapat dioptimalkan dengan
mengikuti pelatihan perawat instrumen yang tersertifikasi serta diakui oleh
profesi.
 Sikap professional
Pada kondisi pembedahan dengan tingkat kerumitan yang tinggi, timbul
kemungkinan perawat melakukar kesalahan saat menjalankan perannya.
Olch karena itu, perawat harus bersikap profesional dan mau tnenerima
teguran. Pada konsep tim yang digunakan dalam proses pembedalian,
setiap peran cliharapkan dapat berjalan secara optimal. Kesalahan yang
dilakukan oleh salah• satu peran akan berdampak pada keseluruhan proses
dan hasil pembedahan.
 Pengetahuan yaitu pengetahuan tentang prosedur tetap yang digunakan
institusi. Perawat metiyesuaikan peran yang akan dijalankan dengan
kebijakan di mana perawat tersebut bckerja. Pengetahuan yang optimal
tentang prosedur tetap yang berlaku akan memberikan arah pada'peran
yang akan dilaksanakan.
d) Pembagian zona di area kamar operasi
Secara umum lingkungan kamar operasi terdiri dari 3 area.
1. Area bebas terbatas (unrestricted area) Pada area ini petugas dan pasien
tidak perlu menggunakan pakaian khusus kamar operasi.
2. Area semi ketat (semi restricted area) Pada area ini petugas wajib
mengenakan pakaian khusus kamar operasi yang terdiri atas topi, masker,
baju dan celana operasi.
3. Area ketat/terbatas (restricted area). Pada area ini petugas wajib
mengenakan pakaian khusus kamar operasi lengkap dan melaksanakan
prosedur aseptic.
e) Prinsip steril di kamar operasi
Prinsip Aseptic Bedah harus selalu ditegakkan agar tercipta kondisi Kamar
Operasi yang benar-benar steril guna menekan angka infeksi luka operasi.
Seperti diketahui sumber kontaminasi luka operasi di kamar bedah yaitu
Petugas 35%, Pasien 50%, Instrumen 10%, Udara 14%, Lantai 1%.
Prinsip Asepsis Bedah:
1. Permukaan atau benda steril dapat bersentuhan dengan benda steril,
Benda steril kontak dengan benda tidak steril menyebabkan tidak steril
biarpun hanya 1 titik, Jika ada keraguan tentang sterilitas dapat dianggap
tidak steril,Personal scrub yang keluar dari kamar operasi maka status
sterilnya hilang, Bagian tubuh yang dianggap steril adalah bagian depan
pinggang sampai daerah bahu lengan bawah dan sarung tangan,Perawat
yang tidak scrub harus menjaga jarak aman dari area operasi. Apapun
benda steril hanya dapat digunakan untuk satu pasien. Perawat scrub bila
bersimpangan dengan tim lain yang juga steril, maka dengan cara
melintas punggung ketemu punggung atau bagian depan ketemu depan.
2. Pengaturan Petugas Kamar Bedah:
Petugas wajib ganti baju dengan baju khusus kamar operasi, lengkap
dengan topi dan masker. Petugas kamar operasi tidak boleh keluar dari
lingkungan kamar operasi sewaktu memakai baju khusus kamar operasi
meskipun memakai Scort. Petugas yang sedang sakit/flu sebaiknya tidak
ikut operasi. Masker sebaiknya diganti setiap kali ganti pasien.
3. Pengaturan Ruang Kamar Operasi:
Suhu antara 19° C- 22°C. Kelembaban antara 50% - 60%. Pencahayaan
300 – 500 lux, pada meja operasi 10.000 – 20.000 lux . Dibersihka setiap
hari, baik ada operasi atau tidak. Dilakukan bongkar besar setiap
seminggu sekali. Pintu keluar dan pintu masuk harus berbeda
f) Alat pelindung diri di kamar operasi
Jenis jenis APD yang dapat digunakan di Rumah Sakit, antara lain:
1. Sarung Tangan
Sarung tangan dapat melindungi tangan dari bahan infeksius dan
melindungi pasien dari mikroorganisme pada tangan perawat. Sarung
tangan merupakan APD terprnting dalam mencegah terjadinya penyebaran
infeksi. Penggunaan sarung tangan haruslah diganti dengan setiap kontak
pada satu pasien ke pasien lainnya dalam mencegah terjadinya infeksi
silang.
2. Masker
Masker merupakan APD yang digunakan untuk menahan cipratan yang
keluar sewaktu perawat berbicara, mengurangi masuknya air borne yang
masuk ke saluran pernapasan perawat, ketika batuk dan bersin, dan juga
menahan cipratan darah atau cairan tubuh yang terkontaminasi masuk ke
saluran pernapasan. Pada penggunaanya, masker digunakan untuk
menutupi hidung sampai dengan dagu.
3. Respirator
Respirator merupakan masker jenis khusus yang digunakan untuk
menyaring udara ( seperti pada pasien TB paru).
4. Pelindung Mata (Googles)
Googles merupakan pelindung berupa pengaman mata terbuat dari plastik
jernih. Googles digunakan untuk melindungi mata agar terhindar dari
cipratan darah atau cairan tubuh lainnya yang biasanya digunakan pada
tindakan pembedahan.
5. Cap
Cap digunakan untuk menutupi rambut dan kepala agar guguran kulit dan
rambut tidak masuk ke dalam luka operasai sewaktu pembedahan. Cap
harus menutupi seluruh rambut yang dapat member sedikit perlindungan
kepada pasien.
6. Gaun
Gaun digunakan untuk melindungi pasien dari mikroorganisme yang
terdapat pada abdomen dan lengan petugas kesehatan sewaktu
pembedahan. Gaun terbuat dari bahan tahan cairan berperan dalam
menhan darah dan cairan lainnya berkontaminasi dengan tubuh petugas
kesehatan.
7. Aphron
Aphron terbuat dari bahan karet atau plastic sebgai pelindung tahan air di
bagian depan tubuh perawat. Aphron digunakan ketika perawa melakukan
tindakan dimana pasiennya dapat mengeluarkan cairan tubuh dan
darahnya sehingga mengenai perawat. Penggunaan aphron dapat membuat
cairan yang terkontaminasi tidak mengenai baju perawat.

B. Patofisiologi Kasus BPH


Menurut Syamsuhidayat dan Wim De Jong tahun 2004, umumnya
gangguanini terjadi setelah usia pertengahan akibat perubahan hormonal. Bagian
paling dalam prostat membesar dengan terbentuknya adenoma yang tersebar.
Pembesaran adenoma progresif menekan atau mendesak jaringan prostat yang
normal ke kapsula sejati yang menghasilkan kapsula bedah. Kapsula bedah ini
menahan perluasannya dan adenoma cenderung tumbuh ke dalam menuju
lumennya, yang membatasi pengeluaran urin. Akhirnya diperlukan peningkatan
penekanan untuk mengosongkan kandung kemih. Serat-serat muskulus destrusor
berespon hipertropi, yang menghasilkan trabekulasi di dalam kandung kemih.
Pada beberapa kasus jika obsruksi keluar terlalu hebat, terjadi dekompensasi
kandung kemih menjadi struktur yang flasid, berdilatasi dan sanggup berkontraksi
secara efektif. Karena terdapat sisi urin, maka terdapat peningkatan infeksi dan
batu kandung kemih.
Peningkatan tekanan balik dapat menyebabkan hidronefrosis. Retensi
progresif bagi air, natrium, dan urea dapat menimbulkan edema hebat. Edema ini
berespon cepat dengan drainage kateter. Diuresis paska operasi dapat terjadi pada
pasien dengan edema hebat dan hidronefrosis setelah dihilangkan obstruksinya.
Pada awalnya air, elekrolit, urin dan beban solut lainya meningkatkan diuresis ini,
akhirnya kehilangan cairan yang progresif bisa merusakkan kemampuan ginjal
untuk mengkonsentrasikan serta menahan air dan natrium akibat kehilangan
cairan dan elekrolit yang berlebihan bisa menyebabkan hipovelemia.
Menurut Mansjoer Arif tahun 2000 pembesaran prostat terjadi secara
perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi secara
perlahan-lahan. Pada tahap awal terjadi pembesaran prostat. Resistansi pada leher
buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot detrusor menebal dan
merenggang sehingga timbul sakulasi atau diverkel. Fase penebalan detrusor ini
disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka detrusor menjadi lelah
dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi
sehingga terjadi retensio urin yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis
dan disfungsi saluran kemih atas. Adapun patofisiologi dari masing-masing gejala
adalah:
1. Penurunan kekuatan dan kaliber aliran yang disebabkan resistensi uretra
adalah gambaran awal dan menetap dari BPH.
2. Hesitancy terjadi karena detrusor membutuhkan waktu yang lama untuk dapat
melawan resistensi uretra.
3. Intermittency terjadi karena detrusor tidak dapat mengatasi resistensi ureta
sampai akhir miksi. Terminal dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi
terjadi karena jumlah residu urin yang banyak dalam buli-buli.
4. Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkapi pada
tiap miksi sehingga interval antar miksi lebih pendek.
5. Frekuensi terutama terjadi pada malam hari (nokturia) karena hambatan
normal dari korteks berkurang dan tonus sfingter dan uretra berkurang selama
tidur.
6. 6. Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan oleh ketidak stabilan
detrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.
7. Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan berkembangnya
penyakit urin keluar sedikit-sedikit secara berkala karena setelah buli-buli
mencapai compliance maksimum, tekanan dalam buli-buli akan cepat naik
melebihi tekanan sfingter.
C. Konsep Dasar Askep Perioperatif Kasus BPH dan Laporan Kasus BPH
1. Pengkajian
1) Pengumpulan Data
a. Identitas klien
Identitas klien terdiri dari : nama, umur, jenis kelamin, agama,
pendidikan, pekerjaan, alamat, diagnosa medis, tanggal masuk rumah
sakit, tanggal pengkajian
b. Identitas klien dan penanggung jawab
Identitas penanggung jawab terdiri dari : nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, hubungan dengan klien dan alamat.
c. Pola persepsi dan pemeliharaan kesehatan Pada orang-orang lanjut
usia sering disertai riwayat kesehatan seperti penyakit jantung,
diabetes, hipertensi, yang bisa menyebabkan jatuh.
d. Pola aktivitas dan latihan. - Ada riwayat jatuh ketika sedang
beraktifitas atau kecelakaan lain. - Pada fraktur femur pangkal
proximal kadang masih dapat berjalan tetapi tidak dapat menahan
beban. - Pada fraktur batang femur biasanya tidak
kuat berdiri/menahan beban. - Ada perubahan bentuk atau
pemendekan pada tungkai yang terkena.
e. Pola persepsi kognitif. - Biasanya mengeluh nyeri hebat pada lokasi
tungkai yang terkena. - Mengeluh kesemutan atau baal pada lokasi
tungkai yang terkena.
f. Pola nilai kepercayaan. - Pada umumnya pasien menyatakan tidak
percaya bahwa cederanya berat. - Pada pasien lanjut usia dengan tegas
menyangkal dan akan segera sembih bila nyeri dapat diatasi
tanpa pembedahan.
2. Riwayat kesehatan
a. Keluhan utama MRS : Tidak bisa kencing, kecing sedikit demi sedikit.
b. Keluhan saat dikaji
Klien mengeluh nyeri saat kencing dan bila kencing keluar sedikit demi
sedikit, dan klien merasa khawatir dengan operasi yang akan dijalaninya.
c. Riwayat perjalanan penyakit :
Klien mengatakan sejak 3 bulan yang lalu klien mengeluh sulit kencing,
bila kencing biasanya sedikit-sedikit (menetes). Klien mengatakan nyeri
tekan di bawah pusar. Klien mengatkan 1 bulan yang lalu pernah di rawat
di RSU Praya dengan keluhan yang sama tetapi karena klien tidak
merasakan adanya perubahan klien minta pulang paksa. Karena adanya
inisiatif dari keluarga klien dibawa ke RSUD Mataram pada tanggal 10 /
05 / 2005 jam 11.40 lewat poliklinik dengan keadaan umum sedang,
kesadaran Composmentis (4,5,6), tekanan darah 120/80, nadi 84, suhu
36,2, respirasi 20x/mt.
d. Riwayat penyakit sebelumnya:
Klien mengatakan belum pernah ia mengalami sakit seperti ini, klien
mengatakan biasanya ia mengeluh kepala pusing, badan pegal-pegal serta
matanya yang dikeluhkan hingga saat dikaji bila melihat untuk jarak yang
jauh sering samar-samar.
e. Riwayat penyakit keluarga.
Klien dan keluarga mengatakan tidak ada dari anggota keluarga yang
pernah mengalami penyakit yang serupa dengan klien, dan keluarga juga
mengatakan tidak ada anggota keluarga yang sedang maupun pernah
mengalami penyakit menurun dan menular.
3. Riwayat Bio-Psiko-Sosial-Spiritual
a. Biologis
a) Pernapasan
Sebelum sakit : klien menyatakan tidak pernah mangalami
gangguan pernapasan seperti sesak nafas.
Saat sakit : klien mengatakan tidak mengalami gangguan dalam
bernafas seperti sesak nafas, klien mengatakan kadang-
kadang ia batuk, bila saat batuk klien mengeluh nyeri
meningkat pada abdomen.
b. Nutrisi
Sebelum sakit : klien mengatakan makan 3x sehari kadang lebih dengan
porsi yang berbeda-beda, klien mengatakan tidak ada
kesulitan untuk menelan. Klien minum biasanya 6-8 gelas
sehari kadang juga lebih.
Saat sakit : klien mengatakan, makan setiap 3 kali sehari dengan porsi
yang sedikit berkurang dari biasanya sejak klien menjalani
rawat inap. Klien mengatakan minum 6-7 gelas sehari.
c. Eliminasi
sebelum sakit : klien mengatakan bahwa BAB dab BAKnya teratur. Klien
BAB 2x sehari kadang lebih, tidak ada nyeri saat mengedan
sedangkan untuk BAKnya biasanya 4-5x sehari kadang
lebih, tidak ada kesulitan dalam BAK.
Saat sakit : keluarga klien mengatakan, klien BAB ke kamar mandi
dengan dibantu keluarga, klien BAB 1-2 kali dalam 2 hari
dengan konsistensi sedang dan bau khas feses. Mengenai
BAKnya klien menggunakan dower kateter, pada saat
pengkajian jam 10.00, di dalam dower kateter terdapat 200
cc air kemih.
d. Aktivitas
Sebelum sakit : klien mengatakan ia beraktivitas tanpa mengalami
gangguan.
Saat sakit :klien mengatakan ia masih dapat memenuhi kebutuhannya
sendiri namun kadang klien meminta bantuan kepada
anggota keluarga yang lain. Seperti ke kamar mandi, BAB.
e. Kebersihan diri
Sebelum sakit :klien mengatakan mandi 2x kadang 3x sehari dan sikat
gigi 1-2x sehari.
Saat sakit : klien menyatakan sejak dirawat di RSU klien tidak pernah
mandi ataupun dilap oleh anggota keluarganya.
f. Istirahat Tidur
Sebelum sakit : klien mengatakan tidak mengalami gangguan istirahat
tidur. Klien mempunyai kebiasaan tidur jam 10 malam.
Lama tidur klien 6-8 jam sehari.
Saat sakit : klien menyatakan sejak dirawat untuk tidur kadang-
kadang terganggu/ sering terjaga karena adanya nyeri pada
abdomen di bagian bawah pusar. Klien mengatakan bahwa
selama sakit klien lebih sering tidur siang, klien tetap tidur
jam 10 malam,
4. PSIKOLOGIS
Klien mengatakan bahwa ia merasa khawatir dengan operasi yang akan
dijalaninya dan klien merasa cemas dengan keadaanya, klien juga sering
menyakan jam berapa ia akan dioperasi. Serta apakah penyakitnya akan
sembuh atau tidak.
5. SOSIAL
Klien menyatakan biasa bergaul dengan siapa saja di lingkungannya maupun
lingkungan rumah sakit saat ini.
6. SPIRITUAL
Sebelum sakit klien dapat menjalankan ibadahnya baik sholat lima waktu,
zidkir terkadang klien membaca yasin. Setelah sakit klien menyatakan tetap
menjalani kewajibannya sebagai umat yang beragama namun tidak seperti
sebelum sakit.
7. PEMERIKSAAN FISIK
a. Vital Sign
b. Keadaan umum : baik
c. Kesadaran : chomposmentis
d. Tekanan darah : 120/80 mmHg,
e. Nadi : 80 X/mnt,
f. Respirasi. : 20 X/mnt.
g. Temperatur : 36 OC
h. Head to Toes
i.
8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. USG tanggal 21 Mei 2005
b. Rontgen tanggal 20 Mei 2005

c. Hasil laboratorium tanggal 21 Mei 2005


Haemoglobin : 11,7
Lekosit : 11.600
Eritrosit : 4,06
Trombosit : 249.000
Hematokrit : 34,3
Hitung Jenis lekosit : Ba : -, Eo : 2, St : -, Seg : 80, Lym : 18.
Laju endap darah : 10
Clthing time : 6’00”
Bleeding time : 3’00”
Jenis pemeriksaan Hasil Satuan Nilai Normal
Glukosa
- Puasa
- 2 jam PP Mg% 70-106
- Sewaktu 113 Mg% <160
Bilirubin
- Total 0,08 Mg% <1,0
- Direck 0,36 Mg% <0,2
SGOT 24 U/L <40
SGPT 27 U/L <41
Alkali Phospatase 169 U/L L: 115 P: 105
Total Protein 6,0 Gr% 6,4 – 8,3
Albumin 4,1 Gr% 3,5 – 5,0
Globulin 1,9 Gr% 2,9 – 3,3
Urea 43 Mg% 6 – 26
Kreatinin 1,1 Mg% L: 0,9 – 1,3
P : 0,6 – 11

9. PENGOBATAN (21-5-2005)
1. Ampicicillin 3x 1 Ampl
2. Antrain 3x 1 Ampl
3. Transamin 3x 1 Ampl
1. PRE OPERATIF
1) ANALISA DATA
NO SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM
1 DS : Gangguan
Klien mengatakan merasa khawatir Hiperplasi prostat rasa nyaman
dengan operasinya nyeri
klien mengatakan kepala terasa pusing
DO : Menyempitnya saluran
Adanya nyeri tekan kencing
klien tampak meringis akibat nyeri tekan
di daerah abdomen.
skala nyeri berada pada angka 3 dengan Menekan jaringan sekitar
menggunakan interval skala 0-5
temperatur : 36 , Tc 120/80 mmHg, N 80
X/mnt, Resp. 20 X/mnt
Merangsang persyrafan
sekitar

2 DS : Nyeri
klien mengatakan merasa khawatir
dengan operasinya Cemas
DO :
klien selalu bertanya tentang operasinya Kurangnya pengetahuan
dan apakah penykitnya akan sembuh atau klien dan keluarga
tidak tentang proses
wajah klien tampak tegang pembedahan
ekstermitas klien berkeringat

2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Gangguan rasa nyaman nyeri b/d hiperplasi prostat d/d Klien mengatakan merasa khawatir
dengan operasinya, klien mengatakan kepala terasa pusing, Adanya nyeri tekan, klien tampak
meringis akibat nyeri tekan diabdomen, skala nyeri berada pada angka 3 dengan menggunakan
interval skala 0-5, temperatur : 36 , Tc 120/80 mmHg, N 80 X/mnt, Resp. 20 X/mn.
b) Cemas b/d kurangnya pengetahuan klien dan keluarga tentang proses pembedahan d/d klien
mengatakan merasa khawatir dengan operasinya, klien selalu bertanya tentang operasinya dan
apakah penykitnya akan sembuh atau tidak, wajah klien tampak tegang, ekstermitas klien
berkeringat.
3. RENCANA KEPERAWATAN.
1. Prioritas keperawatan.
a. Gangguan rasa nyaman (nyeri)
b. Cemas
2. Rencana keperawatan
Hr/Tgl/Jam DX Tujuan Rencana Tidakan Rasional
Rabu 1 Setelah dilakukan1. observasi keadaan1. tanda-tanda vital merupakan
25/5/2005 tindakan umum dan tanda-tanda indicator utama terjadinya
09.00 keperawatan selama vital klien infeksi yang juga merupakan
30 menit diharapkan petunjuk terhadap tingkat
gangguan rasa kejadin nyeri
nyaman nyeri
2. atur posisi yang2. posisi yang nyaman dapat
teratasi dengan nyaman untuk klien. memberikan rasa nyaman dan
criteria aman bagi klien sehingga tidak
- Klien tidak memperberat rasa nyeri yang
mengeluhkan adanya dirasakan klien.
nyeri 3. ajarkan pada klien3. dengan teknik relaksasi dapat
- Skala nyeri ada teknik relaksasi dan menambah suplai O2 dalam
pada angka 1 (0-10) distraksi jaringan yang nyeri sehingga
- Klien tidak nyeri dapat berkurang,
meringis lagi distraksi dapat mengurangi
impuls nyeri yang di
persepsikan oleh korteks

Rabu 2. 1. kaji penyebab cemas 1. dengan mengkaji penyebab


25/5/2005 Setelah dilakukan klien cemas klien, dapat mengetahui
09.00 perawatan selama 30 masalah apa yang menimpa
jam diharapkan klien sehingga perawat dapat
kecemasan klien menentukan intervensi yang
dapat berkurang akan dilakukan.
dengan criteria 2. Pengathuan tentang tujuan
sebagai berikut: 2. jelaskan peda klien operasi dapat membantu klien
- Klien tidak tentang tujuan operasi untuk siap menghadapi
merasa khawatir operasinya
lagi. 3. dengan harapan klien merasa
- Klien mengatakan 3. beri pengertian dan tidak sendiri dan ada yang
siap untuk dioperasi support mental untuk memerhatikannya dan klien
- Tanda-tanda vital klien siap menghadapi tidak merasa khawatir dengan
dalam batas yang operasinya kali ini karena jalannya operasi yang
normal operasi akan berjalan keempat.
- Ekstermitas tidak dengan lancar, serta
berkeringat lagi anjurkan klien untuk
tetap tenang dan tidak
memikirkan jalannya
operasi 4. dengan harapan klien iklas
4. anjurkan klien untuk dan rela menjalani operasinyas
berdoa menurut
kepercayaannya
4. IMPLEMENTASI KEPERAWATAN.
Hr/Tgl/Jam DX Tindakan Keperawatan Respon Hasil
Rabu 1 1. Mengobservasi keadaa umum dan tanda- 1. keadaan umum sedang,
25/5/2005 tanda vital klien kesadaran composmentis, klien
09.00 merasa tenang, temperatur : 36 ,
Tc 120/80 mmHg, N 80 X/mnt,
Resp. 20 X/mn.
2. mengatur posisi yang nyaman bagi klien
2. klien mengatakan lebih
09.05 sebelum dilakukannya operasi (dalam nyaman dalam posisi yang
posisi semi fowler) demikian.
3. Mengajarkan pada klien teknik relaksasi
dan distraksi 3. klien mengikuti instruksi yang
dilakukan oleh perawat

Rabu 2 1. Mengkaji penyebab cemas klien


25/5/2005 1) klien mengatakan ia cemas
09.15 karena penyakitnya tidak kunjung
sembuh dan ia terus dioperasi
2. Menjelaskan peda klien tentang tujuan
2) klien mengatakan mengerti
09.30 operasi dengan penjelasan yang diberikan
oleh perawat
3. Memberi pengertian dan support mental3) klien mengatakan merasa siap
09.35 untuk klien siap menghadapi operasinya untik melakukan operasi dan
kali ini karena operasi akan berjalan tidak khawatir lagi karena ia
dengan lancar, serta anjurkan klien untuk ingin sembuh dari sakitnya
tetap tenang dan tidak memikirkan
jalannya operasi
2. EVALUASI KEPERAWATAN.
Tgl/Jam DX Perkembangan SOAP
Rabu I S:
25/5/2005 Klien mengatakan masih terasa nyeri bila di tekan
10.00 Klien mengatakan merasa tenang
O:
Klien tidak meringis lagi
Skala nyeri berada pada angka 1 dengan menggunakan
interval skala 0-10
keadaan umum klien sedang
A :
masalah teratasi sebagian
P :
Intervensi dilanjutkan ke intra operatif

Rabu II S:
25/5/2005 Klien mengatakan tidak cemas lagi dan tidak khawatir lagi
10.05 Klien mengatakan siap untuk melaksanakan operasinya
O:
Klien tidak cemas
Keadaan umum sedang, kesadaran composmentis, klien
merasa tenang, temperatur : 36 , Tc 120/80 mmHg, N 80
X/mnt, Resp. 20 X/mn.
A :
masalah teratasi
P :
Intervensi dilanjutkan ke intra operatif
C. INTRA OPERATIF
Klien tidur terlentang di atas meja tindakan, baju operasi dibuka, infus dipasang RL di
grojok, kemudian klien diatur pada posisi miring kiri untuk dilakukan tindakan anestesi
spinal karena tindakan yang dilakukan adalah prostatectomy. Anestesi dilakukan jam 10.30.
Klien diatur pada posisi terlentang lagi, klien mengatakan kakinya terasa lemas, susah untuk
diangkat. Dilakukan desinfeksi dengan betadine pada daerah operasi, setelah itu daerah
operasi ditutup dengan duk steril. Operasi dimulai pada jam 10.40, memeriksa tekanan darah
klien, Alat-alat disiapkan, karena merupakan operasi besar alat-alat yang yang digunakan
juga banyak antara lain : klem bengkok dan klem lurus 12 buah, 2 buah gunting, 4 pincet dua
diantaranya pincet anatomis. Pisau dan gagangnya. Setelah itu dilakukan tindakan insisi
sepanjang 8 cm, dilakukan dengan perlahan-lahan dan lapis demi lapis, dilakukan cesht pada
arteri yang putus guna menghentikan perdarahan, selanjutnya vesica urinaria dibuka dan
dilakukan pemasangan dawer cateter no 24 dan irigasi no 18, selama tindakan terjadi
perdarahan kurang lebih 400 cc dan klien di grojok guna menyeimbangi cairan yang keluar
agar tidak terjadi syok pada klien kurang lebih 1500 cc NaCl. setelah selesai luka ditutup
kembali dengan jahitan dua lapis. Bekas operasi ditutup dengan gass steril diberi plester, duk
diangkat, infus dinormalkan kembali.
1. Analisa Data
NO SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM
1 DS : Resiko tinggi
Klien mengatakan kakinya terasa efek spinal anestesi ketidakseimbangan
lemas dan tidak dapat diangkat cairan dan
klien mengatakan tidak terasa faso dilatasi elektrolit
nyeri pada bagian perut dan
kakinya
DO : Tekanan darah
Klien terbaring terlentang keadaan menurun
lemah, tertutup dengan duk
Terjadi perdarahan 400 cc Syok hipopolemik
Temperatur : 36 , Tc 120/80
mmHg, N 80 X/mnt, Resp. 20
X/mnt
tindakan infasi

perdarahan

Penurunan kadar
haemoglobin dalam
darah
Tekanan darah
menurun

Syok hipopolemik

2. Diagnosa keperawatan
a) Potensial terjadinya perdarahan b/d tindakan opensif d/d Klien mengatakan kakinya terasa
lemas dan tidak dapat diangkat, klien mengatakan tidak terasa nyeri pada bagian perut dan
kakinya, klien terbaring terlentang keadaan lemah, tertutup dengan duk, terjadi perdarahan
400 cc, temperatur : 36 , Tc 120/80 mmHg, N 80 X/mnt, Resp. 20 X/mnt.
3. Rencana Keperawatan
Tgl/Ja
DX Tujuan Rencana Tidakan Rasional
m
Rabu 1 Setelah dilakukan1. observasi tekanan darah1. tanda-tanda vital
25/5/0 tindakan klien merupakan indicator
5 keperawatan pada utama untuk menilai
11.50 klien diharapkan apakah terjadi perdarahan
potensial terjadinya hebat yang dapat
perdarahan tidak mengakibatkan syok
terjadi dengan2. observasi jumlah2. memantau dan menilai
kriteria perdarahan klien jumlah perdarahan yang
- Tekanan darah keluar selama tindakan
normal 3. atasi perdarahan 3. guna mengghindari
- Perdarahan terjadinya syok
selama operasi4. berikan cairan melalui4. guna menyeimbangi
kurang dari 500 cc IV sesuai protap jumlah cairang yang
- Tidak ada tanda- keluar selama tindakan
tanda syok agar tidak terjadi syok
pada klien selama
tindakan operasi.

4. Imlpementasi Keperawatan
Hr/Tgl/Jam DX Tindakan Keperawatan Respon Hasil
Rabu 1 1. mengobservasi tekanan darah klien1. tekanan darah klien 110/80
25/5/2005 setiap 5 menit. mmhg, klien tampak lemah
12.00 seperti orang tidur.
2. Mengobservasi jumlah perdarahan pada 2. perdarahan 400 cc
klien yang terjadi selama operasi 3. perdarahan nampak berhenti
3. Mengatasi perdarahan yang terjadi 4. infus di grojok guna
4. memberikan cairan melalui IV sesuai menyeimbangi cairan yang keluar
protap.(infus NaCl) selama tindakan guna tidak
terjadi syok pada klien.
5. Evaluasi
Tgl/Jam DX Perkembangan SOAP
Rabu I S: -
25/5/2005 O:
12.40 Tekanan darah klien 110/80 mmHg
Perdarahan 400 cc
Tidak ada terlihat tanda-tanda syok
A :
masalah teratasi
P :
Intervensi dilanjutkan ke post operasi
D. POST OPERATIF
Diruang RR klien terbaring lemah, klien mengatakan kakinya terasa lemas tidak dapat
diangkat, infus terpasang 20 tts/mnt, dawer cateter terpasang, irigasi terpasang, klien merasa
seperti orang tidur.
1. Analisa Data
NO SYMPTOM ETIOLOGI PROBLEM
1 DS : Pengaruh anestesi spinal Intoleransi
Klien mengatakan kakinya terasa dan Pemasangan alat-alat aktivitas
lemas dan tidak dapat diangkat kesehatan.
Klien mengatakan merasa seperti
orang tidur.
DO :
Klien terlihat lemah
Klien tidur dalam posisi semi fowler
( ½ duduk ) dan tidak dapat
mengangkat kedua kakinya
Protap anestesi bedrest 24 jam
2. Diagnosa Keperawatan
a. Intoleransi aktivitas b/d pengaruh anestesi spinal dan tindakan infasif d/d Klien mengatakan
kakinya terasa lemas dan tidak dapat diangkat, Klien mengatakan merasa seperti orang tidur,
Klien terlihat lemah, Klien tidur terlentang dan tidak dapat mengangkat kudua kakinya,
Protap anestesi bedrest 24 jam.
3. Rencana Tindakan
Hr/Tgl/Jam DX Tujuan Rencana Tidakan Rasional
Rabu 1 Setelah dilakukan
1. observasi vital sign 1. vital sign merupakan petunjuk
25/5/2005 tindakan utama untuk mengetahui
12.50 keperawatan pada keadaan umum klien
klien diharapkan
2. posisikan pasien semi2. dengan posisi semi fowler
intoleransi aktivitas fowler diharapkan efek anastesi tidak
dapat dicegah mempengaruhi otak.
dengan kriteria : 3. penuhi kebutuhan3. pasien akan merasa
- Mempercepat pasien kebutuhannya terpenuhi dan
pengembalian fungsi klien dapat bedrest dengan
gerak dari pengaruh tenang
anestesi 4. anjurkan pada pasien4. untuk mengembalikan fungsi
- Aktivitas klien untuk bedrest 24 jam. oragan-organ tubuh dari
terpenuhi pengaruh anastesi, serta
menjaga keadaan luka operasi.

4. Implementasi
Hr/Tgl/Jam DX Tindakan Keperawatan Respon Hasil
Rabu 1 1. observasi vital sign 1. didapatkan vital sign sebagai
25/5/2005 berikut:
12.50 suhu : 36 OC
nadi : 80x/menit
TD : 120/80 mmHg
RR : 20 x/menit
2. posisikan pasien semi
2. terlihat pasien tidur dalam
fowler posisi semi fowler

3. penuhi kebutuhan pasien3. kebutuhan pasien terpenuhi


selama di ruang recovery room

4. anjurkan pada pasien4. klien tampak bedrest dengan


untuk bedrest 24 jam posisi semi fowler dan tampak
lemas.

5. Evaluasi
Tgl/Jam DX Perkembangan SOAP
Rabu I S: -
25/5/2005 O:
13.00 Klien tampak lemas,
Kebutuhan klien selama diruangan recovery room terpenuhi
Klien tampak bedrest dengan posisi semi fowler
A :
masalah teratasi sebagian
P :
Intervensi dilanjutkan di ruang mawar.