Anda di halaman 1dari 62

i

GAMBARAN PERAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN DEKUBITUS DI BANGSAL WIJAYA KUSUMA RSUD WATES KULON PROGO

SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Keperawatan Stikes Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Disusun oleh : ERNA IVANA 2213094
Disusun oleh :
ERNA IVANA
2213094

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

2017

ii

ii

iii

iii

iv

PRAKATA

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena dengan Rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan Skripsi yang berjudul “Gambaran peran perawat dalam pencegahan dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates”. Skripsi ini dapat diselesaikan atas bimbingan, arahan, dan bantuan dari berbagai pihak, dan pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati mengucapkan terimakasih kepada :

penulis dengan rendah hati mengucapkan terimakasih kepada : 1. Kuswanto Hardjo, dr., M.Kes selaku Ketua Sekolah

1. Kuswanto Hardjo, dr., M.Kes selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

2. Tetra Saktika Adinugraha, M.Kep.,Ns. Sp. Kep. M.B selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal Achmad Yani Yogyakarta.

3. Muhamat Nofiyanto, S.Kep.,Ns., M.Kep. selaku pembimbing yang telah dengan sabar memberikan bimbingan, saran, dan pendapat selama prosses penyelesaian skripsi ini.

4. Rahayu Iskandar, S.Kep.,Ns., M.Kep. selaku penguji yang telah memberikan masukan.

5. Seluruh responden yang telah bersedia membantu jalannya penelitian.

6. Direktur RSUD Wates Kulon Progo khususnya Kepala Ruang Bangsal Wijaya

Kusuma yang telah menerima dan memberikan izin untuk melakukan penelitian. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kebaikan kepada semuanya, sebagai imbalan atas segala amal kebaikan dan bantuannya. Akhirnya besar harapan penulis semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan menambah ilmu pengetahuan.

Yogyakarta, 15 Agustus 2017

Penulis

v

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL HALAMAN PENGESAHAN HALAMAN PERNYATAAN PRAKATA DAFTAR ISI DAFTAR GAMBAR DAFTAR SKEMA DAFTAR TABEL DAFTAR LAMPIRAN INTISARI ABSTRACT

BAB I PENDAHULUAN

A.

B.

C.

D.

E.

Latar Belakang Masalah Rumusan Masalah Tujuan Penelitian Manfaat Penelitian Keaslian Penelitian Tinjauan Teori
Latar Belakang Masalah
Rumusan Masalah
Tujuan Penelitian
Manfaat Penelitian
Keaslian Penelitian
Tinjauan Teori
Kerangka Teori
Pertanyaan Penelitian
Desain Penelitian
Lokasi dan Waktu Penelitian
Subyek Penelitian
Variabel Penelitian
Definisi Operasional

Alat dan Metode Pengumpulan Data

Pengolahan dan Analisa Data

Validitas dan Reliabilitas

Etika Penelitian

Pelaksanaan Penelitian

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A.

B.

C.

BAB III METODE PENELITIAN

A.

B.

C.

D.

E.

F.

G.

H.

I.

J.

Hal

i

ii

iii

iv

v

vii

viii

ix

x

xi

xii

1

5

5

6

7

9

31

32

33

33

33

34

34

38

41

43

45

46

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN PENELITIAN

A. Hasil Penelitian

B. Pembahasan Penelitian

C. Keterbatasan Penelitian

49

57

68

vi

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

70

B. Saran

69

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

vi BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan 70 B. Saran 69 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Stage 1 Pressure Injury-Edema Gambar 2.2 Stage 2 Partial-Thickness Skin Loss With Exposed Dermis Gambar 2.3 Stage 3 Pressure Injury with Epibole Gambar 2.4 Stage 4 Pressure Injury Gambar 2.5 Pressure Injury-Slough and Eschar Gambar 2.6 Deep Tissue Pressure Injury

Hal

14

15

15

16

17

18

Injury Gambar 2.5 Pressure Injury-Slough and Eschar Gambar 2.6 Deep Tissue Pressure Injury Hal 14 15

viii

DAFTAR SKEMA

Skema 2.1 Kerangka Teori

Hal

31

viii DAFTAR SKEMA Skema 2.1 Kerangka Teori Hal 31

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Definisi Operasional Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuesioner Penelitian Sebelum Uji Validitas Tabel 3.3 Kisi-kisi Kuesioner Penelitian Setelah Uji Validitas Tabel 3.4 Analisis Deskriptif Karakteristik Variabel Tabel 4.1 Karakteristik Perawat di Bangsal Wijaya Kusuma Tabel 4.2 Gambaran Peran Perawat dalam Pencegahan Dekubitus Tabel 4.3 Gambaran Peran Perawat per Domain Tabel 4.4 Gambaran Peran Perawat per Item Pernyataan Tabel 4.5 Gambaran Peran Perawat Berdasarkan Karakteristik

Perawat per Item Pernyataan Tabel 4.5 Gambaran Peran Perawat Berdasarkan Karakteristik Hal 34 39 39 42

Hal

34

39

39

42

51

52

53

54

56

x

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Jadwal Pembuatan Skripsi Lampiran 2. Surat Permohonan Berpartisipasi Menjadi Responden Lampiran 3. Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4. Kuesioner Peran Perawat Lampiran 5. Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Lampiran 6. Data Mentah Pengelolaan Lampiran 7. Surat Pengantar Penelitian Lampiran 8. Lembar Bimbingan Skripsi

Lampiran 6. Data Mentah Pengelolaan Lampiran 7. Surat Pengantar Penelitian Lampiran 8. Lembar Bimbingan Skripsi

xi

GAMBARAN PERAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN DEKUBITUS DI BANGSAL WIJAYA KUSUMA RSUD WATES KULON PROGO

INTISARI

Latar Belakang: Upaya pencegahan dekubitus perlu memperhatikan pengetahuan, sikap, motivasi, dan perilaku perawat. Tingkat keberhasilan dalam upaya pencegahan dekubitus tergantung hal tersebut, akan tetapi berbagai studi mengindikasikan bahwa perawat tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup dalam memahami isi panduan penanganan dan kegiatan pencegahan dekubitus.

isi panduan penanganan dan kegiatan pencegahan dekubitus. Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui gambaran peran perawat

Tujuan Penelitian: Untuk mengetahui gambaran peran perawat dalam pencegahan dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

Metode Penelitian: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif menggunakan pendekatan waktu cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 15 responden dengan teknik total populasi. Analisis menggunakan statistik deskriptif dan dipaparkan dalam bentuk persentase.

Hasil: Sebagian besar perawat mempunyai peran yang baik dalam pencegahan dekubitus 10 (66,7%). Peran perawat dilihat dari karakteristik yaitu, perempuan 13 (86,7%) dengan rentang usia 26-35 tahun yaitu 12 (80,0%), lama kerja >3 tahun yaitu 9 (60,0%), dan mayoritas berpendidikan DIII yaitu 13 (86,7%). Peran perawat dalam pengkajian faktor risiko dekubitus pada kategori baik 9 (60,0%), peran perawat dalam perawatan kulit pasien pada kategori baik 9 (60,0%), peran perawat memperbaiki status nutrisi pasien pada kategori baik 10 (66,7%), peran perawat dalam support surface pada kategori cukup 12 (80,0%), dan peran perawat dalam memberikan edukasi pada kategori baik 13 (86,7%).

Kesimpulan: Peran perawat dalam pencegahan dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo dalam kategori baik.

Kata Kunci: Peran perawat, pencegahan dekubitus.

xii

NURSES ROLES IN DECUBITUS PREVENTION IN WIJAYA KUSUMA WARD OF RSUD WATES KULON PROGO

ABSTRACK

Background : Decubitus prevention need the knowledge, attitude, motivation, and behavior of nurses. The success of decubitus prevention depends on it, but indicated studies that the nurses not have more information and knowledge for understanding the content of handling guidelines and decubitus prevention. Objective : To identify the description of nurses Role’s in decubitus prevention in Wijaya Kusuma Ward of RSUD Wates Kulon Progo. Method : This was a quantitative study with descriptive design by using cross sectional time approach. The number of samples was 15 respondents selected through total sampling technique. The analysis applied descriptive statistic and presented in the format of percentage. Result : The majority of nurses had positive roles in decubitus prevention as many as 10 respondents (66.7%), the nurses roles according to some characteristics were as follows; female as many as 13 respondents (86.7%) with age interval of 26-35 years old as many as 12 respondents (80.0%), longer working period than 3 years as many as 9 respondents (60.0%), and mostly from DIII educational background as many as 13 respondents (86.7%). The nurses role in the assessment on decubitus risk factor was in good category as many as 9 respondents (60.0%), the nurses role in skin care for patients was in good category as many as 9 respondents (60.0%), the nurses role in patients nutritional status enhancement was in good category as many as 10 respondents (66.7%), the nurses role in support surface was in sufficient category as many as 12 respondents (80.0%), and the nurses role in providing education was in good category as many as 13 respondents (86.7%). Conclusion : The nurses roles in decubitus prevention in Wijaya Kusuma Ward of RSUD Wates Kulon Progo is in good category.

in Wijaya Kusuma Ward of RSUD Wates Kulon Progo is in good category. Keywords : Nurses

Keywords : Nurses Role’s, Decubitus Prevention.

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Mayoritas luka pada penduduk dunia adalah luka karena pembedahan atau trauma (48.00%), ulkus kaki (28.00%), dan luka dekubitus (21.00%). Pada tahun 2009, sebuah asosiasi luka di Amerika melakukan penelitian tentang insiden luka di dunia dan di dapatkan data bahwa angka kejadian ulkus dekubitus mencapai 8,50 juta kasus (Diligence, 2009). Berdasarkan suatu studi, insiden dekubitus di Study International sebanyak 1.9%-63.6%, ASEAN (Jepang, Korea, Cina) 2.1%-18%, di Indonesia cukup tinggi yaitu 33.3% (Suriadi, 2007). Survei yang dilakukan WHO terhadap 55 rumah sakit di 14 negara menunjukkan 8,7% dari rumah sakit tersebut terdapat pasien dengan luka dekubitus. Selain itu, survei menunjukkan bahwa 1,4 juta orang di seluruh dunia menderita luka dekubitus akibat perawatan di rumah sakit (WHO, 2002). Sedangkan angka kejadian dekubitus di Yogyakarta khususnya di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta adalah 20%, dengan rata-rata waktu kejadian dekubitus adalah 11 hari perawatan (Sudiarti, 2015).

dekubitus adalah 11 hari perawatan (Sudiarti, 2015). Faktor resiko utama penyebab terjadinya dekubitus adalah

Faktor resiko utama penyebab terjadinya dekubitus adalah status gizi, kelembaban kulit, peningkatan usia, perfusi dan oksigenasi. Faktor lain yang menyebabkan terjadinya dekubitus adalah mobilisasi dan lama rawat (National Pressure Ulcer Advisory Panel [NPUAP] & European Pressure Ulcer Advisory Panel [EPUAP] & Pan Pacific Pressure Injury Alliance [PPPIA], 2014). Kejadian dekubitus berawal dari lesi pada kulit yang disebabkan karena adanya tekanan yang berlebih dan mengakibatkan kerusakan pada bagian dasar jaringan kulit. Tekanan akan mengganggu jaringan lokal dan mengakibatkan hipoksia, serta memperbesar pembuangan metabolik yang dapat menyebabkan nekrosis (NPUAP, 2009). Menurut Suriadi (2008) yang disitasi Martini (2012) mengatakan bahwa dekubitus merupakan masalah yang serius karena dapat mengakibatkan meningkatnya biaya, lama perawatan di rumah sakit serta memperlambat program rehabilitas bagi pasien, selain itu dekubitus juga dapat menyebabkan nyeri berkepanjangan, rasa

1

2

tidak nyaman dan menyebabkan komplikasi berat yang mengarah ke sepsis, infeksi kronis, selulitis, osteomyelittis, dan meningkatkan prevalensi mortalitas pada klien lanjut usia. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Netty, dkk (2013) mengatakan bahwa ulkus dekubitus termasuk salah satu daftar penyebab kematian secara langsung (7-8%) pada pasien-pasien paraplegia. Evaluasi secara luas telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan bahwa 1/3 pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit yang mengalami dekubitus selama perawatan, dilaporkan meninggal dunia, dan lebih dari setengahnya akan meninggal dalam 12 bulan kedepan. Selain itu berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Brem, dkk (2010) mengatakan bahwa dampak dari dekubitus yaitu tingginya biaya perawatan terutama pada pasien dengan dekubitus grade IV biaya perawatannya mencapai 129.248 dolar atau sekitar Rp 1.744.848,00

mencapai 129.248 dolar atau sekitar Rp 1.744.848,00 Insidensi terjadinya dekubitus bervariasi, tetapi secara

Insidensi terjadinya dekubitus bervariasi, tetapi secara umum dilaporkan bahwa 5-11% terjadi di tatanan perawatan acute care, 15-25% di tatanan perawat jangka panjang atau longterm care, dan 7-12% ditatanan perawatan rumah atau homecare (Mukti, 2006). Frekuensi luka dekubitus yang cukup tinggi terjadi pada pasien- pasien neurologis karena immobilisasi yang lama dan berkurangnya kemampuan sensorik (Potter dan Perry, 2006). Berdasarkan hasil penelitan Setiyawan (2008), mengatakan bahwa angka kejadian luka dekubitus pada pasien tirah baring di rumah sakit Cakra Husada Klaten sebanyak 17,65%.

Indikator standar mutu pelayanan rumah sakit oleh WHO, diadopsi oleh Depkes RI 2001 ditetapkan bahwa sasaran target mutu dekubitus 0% (Lumenta, 2008). Pada kenyataanya kejadian dekubitus masih tinggi, menurut penelitian Okatiranti, dkk (2013) menyatakan bahwa gambaran risiko terjadinya dekubitus di ruang perawatan neurologi berdasarkan tingkat ketergantungan pasien minimal care sebesar 88,24% atau hampir seluruhnya tidak memiliki risiko untuk terjadinya dekubitus, partial care sebesar 45,95% atau hampir setengahnya yang berisiko terjadinya dekubitus dan total care sebesar 44,12% atau hampir setengahnya yang memiliki risiko tinggi terjadinya dekubitus. Dekubitus pada pasien-pasien dengan gangguan neurologi disebabkan karena kurang imobilisasi dan berkurangnya

3

kemampuan sensori (Netty, 2013). Insiden luka dekubitus pada penderita dengan trauma medulla spinalis mencapai 25-85% (Sabandar, 2008).

Upaya pencegahan dekubitus perlu memperhatikan pengetahuan, sikap, motivasi, dan perilaku yang dimiliki oleh perawat. Tingkat keberhasilan dalam upaya pencegahan tergantung dari hal tersebut, akan tetapi berbagai studi mengindikasikan bahwa perawat tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup dalam memahami isi panduan penanganan dan kegiatan pencegahan dekubitus (Buss, 2009). Perawat merupakan petugas kesehatan yang bersama dengan pasien selama 24 jam dan bertemu dengan pasien-pasien yang berisiko mengalami luka tekan sehingga perawat memiliki peran penting dalam mencegah luka tekan. Bagi tenaga keperawatan, adanya luka tekan berarti peningkatan beban kerja karena luka tekan membutuhkan pendekatan perawatan yang berbeda, sehingga dibutuhkan pencegahan berkesinambungan untuk mencegah terjadinya luka tekan (Kallman dan Suserud, 2009). Perawat memainkan peran yang penting dalam pencegahan luka tekan (Tweed dan Tweed, 2008 dalam Strand dan Lindgren,

2010).

(Tweed dan Tweed, 2008 dalam Strand dan Lindgren, 2010). Langkah pertama dalam pencegahan dekubitus adalah

Langkah pertama dalam pencegahan dekubitus adalah mengidentifikasi dengan benar pasien yang berisiko mengembangkan ulkus tekan (Bergstrom et al, 1987 dalam Suriadi 2008). Menurut NPUAP (2009) terdapat beberapa tools yang telah dikembangkan untuk mengkaji risiko luka tekan seperti skala Braden, Gosnell, skala Norton, Waterlow, dan lain lain. Salah satu skala yang biasa digunakan yaitu Skala Braden yang terdiri dari 6 sub skala faktor risiko terhadap kejadian dekubitus diantaranya adalah : persepsi sensori, kelembaban, aktivitas, mobilitas, nutrisi, pergeserandan gesekan. Nilai total berada pada rentang 6 sampai 23, nilai rendah menunjukkan risiko tinggi terhadap kejadian dekubitus (Braden dan Bergstrom, 1989 dalam Kozier 2010). Berdasarkan hasil penelitian Kale (2014) mengatakan bahwa skala Braden efektif dalam memprediksi kejadian luka tekan. Oleh karena itu, skala Braden disarankan untuk digunakan sebagai alat skrining terhadap risiko terjadinya luka tekan terutama pada pasien yang mengalami perawatan yang lama.

4

Ada beberapa intervensi keperawatan untuk mencegah dekubitus misalnya dengan melakukan alih tirah baring atau perubahan posisi. Berdasarkan hasil penelitian Zulaikah (2014) mengatakan bahwa ada pengaruh antara alih tirah baring 2 jam terhadap kejadian dekubitus pada berbagai varian IMT pasien dengan ρ value 0,011. Intervensi keperawatan yang lainnya yaitu dengan menggunakan kasur anti dekubitus. Hasil penelitian Rustina (2016) menyatakan bahwa ada pengaruh antara kasur anti dekubitus dengan derajat dekubitus pada pasien tirah baring dengan ρ value 0,046. Dekubitus juga dapat di cegah dengan cara memberikan nutrisi yang adekuat. Berdasarkan hasil penelitian Tianingsih (2010) menunjukkan bahwa ada hubungan antara status nutrisi dengan kejadian dekubitus pada penderita stroke dengan ρ value 0,002. Selain dengan tirah baring, kasur anti dekubitus, dan asupan nutrisi yang adekuat, dekubitus juga dapat di cegah dengan menggunakan nigella sativa oil. Hasil penelitian Utomo, dkk (2012) menunjukan adanya perbedaan rata- rata skor ulkus dekubitus yang signifikan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol ρ value = 0.000 (p < 0.05).

dan kelompok kontrol ρ value = 0.000 (p < 0.05). Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal

Berdasarkan hasil studi pendahuluan pada tanggal 7 April 2017 di RSUD Wates didapatkan data bahwa angka kejadian dekubitus di RSUD Wates pada tahun 2016 sebanyak 32 kasus dengan kejadian dekubitus terbanyak di Bangsal Wijaya Kusuma yaitu terdapat 10 kasus dan dari hasil wawancara dengan kepala ruang Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates, menyatakan bahwa perawat sudah melakukan beberapa upaya pencegahan dekubitus seperti menggunakan kasur anti dekubitus pada pasien dengan risiko tinggi dekubitus, ROM setiap 2 jam pada pasien bedrest total, pergantian posisi dengan miring kanan miring kiri, memberikan nutrisi yang adekuat, memberikan krim pelembab, melakukan edukasi kepada keluarga pasien, dan melakukan observasi pada pasien bedrest total. Selain itu, 80% perawat telah melakukan pengakjian risiko dekubitus, tetapi hanya melakukan pengkajian risiko dekubitus menggunakan status fungsional Barthel Index dan tidak terdapat instrumen khusus yang digunakan untuk mengkaji risiko dekubitus dan masih ada perawat pelaksana yang tidak melakukan pengkajian dekubitus ataupun melakukan dokumentasi risiko dekubitus. Di Bangsal Wijaya

5

Kusuma RSUD Wates hanya terdapat SOP perawatan luka dekubitus, tetapi tidak ada SOP pencegahan dekubitus. Sehubungan dengan pentingnya peran perawat dalam upaya pencegahan kejadian dekubitus terutama di Bangsal Wijaya Kusuma, sehingga peneliti tertarik untuk melakukan peneltian tentang gambaran peran perawat dalam upaya pencegahan terjadinya dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

B. Rumusan Masalah

C. Tujuan Penelitian
C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang tersebut, peneliti merumuskan permasalahan sebagai berikut : bagaimanakah gambaran peran perawat dalam

pencegahan dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo?

1. Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran peran perawat dalam pencegahan dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

2. Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui karakteristik perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

b. Untuk mengatahui peran perawat dalam identifikasi pasien dengan risiko dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

c. Untuk mengetahui peran perawat dalam perawatan kulit pasien di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

d. Untuk mengatahui peran perawat dalam pemenuhan nutrisi pasien di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

e. Untuk mengetahui peran perawat dalam mengurangi tekanan atau gesekan

pada pasien di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

f. Untuk mengetahui peran perawat dalam memberikan edukasi tentang pencegahan dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

6

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan dari tujuan penelitian, maka manfaat yang dapat diambil dari

penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Manfaat teoretis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan bagi pengembangan ilmu dan pengetahuan yang berhubungan dengan topik peran perawat dalam pencegahan dekubitus.

2. Manfaat praktis

peran perawat dalam pencegahan dekubitus. 2. Manfaat praktis a. Manfaat bagi peneliti Untuk mengaplikasikan ilmu

a. Manfaat bagi peneliti Untuk mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan mendapat pengalaman tentang penelitian mengenai gambaran peran perawat dalam pencegahan dekubitus di Bangsal Saraf.

b. Manfaat bagi profesi Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada perawat khususnya yang bertugas di Bangsal Saraf mengenai pencegahan dekubitus. Masukan penelitian ini diharapkan dapat membantu perawat untuk memaksimalkan pencegahan dekubitus supaya tingkat kejadian dekubitus dapat menurun.

c. Manfaat bagi rumah sakit Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber evaluasi dalam upaya peningkatan mutu pelayanan dalam asuhan keperawatan secara komprehensif terutama mengenai peran perawat dalam pencegahan dekubitus.

d. Manfaat bagi peneliti selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai data dasar untuk melakukan penelitian selanjutnya mengenai gambaran peran perawat dalam

pencegahan dekubitus pasien di Bangsal Saraf. Penelitian yang berkesinambungan serta berkelanjutkan sangat diperlukan dibidang keperawatan, agar dapat mengatasi permasalahan sesuai dengan fenomena yang terjadi.

7

E. Keaslian Penelitian

1. Setiyawan, (2008) Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Perawat Dalam Upaya Pencegahan Dekubitus Di Rumah Sakit Cakra Husada Klaten. Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif non-eksperiment menggunakan metode deskriptif korelatif dan pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan observasi. Populasi penelitian adalah perawat pelaksana yang sedang memberikan asuhan keperawatan pada pasien tirah baring sebanyak 30 orang. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tingkat

30 orang. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa tingkat pengetahuan tidak mempunyai hubungan dengan perilaku perawat

pengetahuan tidak mempunyai hubungan dengan perilaku perawat dalam mencegah dekubitus dengan nilai ρ value 0,077 (ρ < 0,05) sedangkan sikap mempunyai hubungan yang signifikan yaitu semakin baik sikap perawat maka semakin baik perilaku perawat dalam mencegah dekubitus dengan nilai ρ value 0,008 (ρ < 0,05). Persamaan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui peran perawat dalam melakukan pencegahan dekubitus. Perbedaan penelitian ini adalah desain penelitian yang digunakan, pada penelitian ini menggunakan metode kuantitatif non-eksperiment sedangkan penelitian yang akan dilakukan menggunakan penelitian deskriptif cross sectional. Variabel dalam penelitian yang akan dilakukan yaitu gambaran peran perawat dalam mencegah dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

2. Zulaikah dkk (2014) Pengaruh Alih Tirah Baring 2 Jam Terhadap Resiko Dekubitus Dengan Varian Berat Badan Pada Pasien Bedrest Total Di SMC RS Telogorejo. Tujuan dari penelitian ini untuk menegtahaui pengaruh tirah baring terhadap resiko dekubitus dengan varian berat badan pada pasien bedrest total di SMC RS Telogorejo. Penelitian ini merupakan jenis penelitian quasi eksperiment dengan posttest only design. Desain yang digunakan adalah deskriptif korelasional dengan menggunakan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah 66 pasien yang mengalami bedrest total yang belum terjadi luka tekan. Teknik yang digunakan adalah purposive sampling.

8

Persamaan pada penelitian ini dengan penelitian yang akan di lakukan yaitu terletak pada desain penelitian yang menggunakan desain penelitian deskriptif cross sectional sama-sama membahas tentang kejadian dekubitus. Perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada waktu, tempat, populasi dan jenis penelitiannya. Penelitian yang akan dilakukan populasinya pada perawat yang bertugas di bangsal saraf. Variabel dalam penelitian yang akan dilakukan yaitu gambaran peran perawat dalam mencegah dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo.

yang akan dilakukan yaitu gambaran peran perawat dalam mencegah dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil penelitian

Penelitian ini untuk mengetahui gambaran peran perawat dalam pencegahan dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo. Pada bab ini akan diuraikan hasil penelitian yang diperoleh dari kuesioner dalam bentuk deskriptif frekuensi. Urutan uraian pada bab ini adalah gambaran lokasi penelitian, karakteristik sampel, deskriptif variabel dan pembahasan. 1. Gambaran Lokasi Penelitian Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates Kulon Progo berlokasi di jalan Tentara Pelajar Km. 1, No 5, Dusun Beji, Kecamantan Wates, Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Yogyakarta. RSUD Wates merupakan Rumah Sakit tipe B, yang berstatus Negeri dengan jumlah perawat 283, bidan 47, penunjang 104, dokter gigi 1, dokter umum 11, dokter spesialis 24, adminitrasi 201, pejabat struktural 20 (Data Sekunder dari Bagian Pegawaian, 2016). Visi RSUD Wates yaitu menjadi rumah sakit pendidikan dan pusat rujukan yang unggul dalam pelayanan yang bermutu, sedangkan misi RSUD Wates yaitu menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan peripurna yang profesional berorientasi pada kepuasan pelanggan, mengembangkan manajemen rumah sakit yang efektif dan efisien, menciptakan lingkungan yang sehat, nyaman dan harmonis, meningkatkan sumber daya manusia, sarana dan prasarana sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, melindungi dan meningkatkan kesejahteraan karyawan dan menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan bagi tenaga kesehatan. Pelayanan yang diberikan di rumah sakit umum daerah wates yaitu pelayanan gawat darurat (IGD), pelayanan kekritisan (ICU), pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap, serta pelayanan penunjang. Pelayanan rawat inap di RSUD wates berupa rawat inap penyakit dalam, rawat inap penyakit syaraf, rawat inap penyakit bedah, rawat inap penyakit anak, rawat inap penyakit obstetri. Pelayanan rawat jalan di RSUD Wates berupa poliklinik penyakit

rawat inap penyakit anak, rawat inap penyakit obstetri. Pelayanan rawat jalan di RSUD Wates berupa poliklinik

47

48

dalam, poliklinik penyakit bedah, poliklinik penyakit anak, poliklinik penyakit syaraf, poliklinik penyakit obstetric, Ginekologi dan KB, poliklinik penyakit THT, poliklinik penyakit mata, poliklinik penyakit penyakit gigi dan mulut, poliklinik penyakit kulit kelamin, dan poliklinik fisioterapi. Penelitian ini dilakukan di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo. Bangsal Wijaya Kusuma adalah bangsal rawat inap khusus bagi penderita syaraf dan stroke. Di Bangsal Wijaya Kusuma terdapat 13 tempat tidur yang terdiri dari 2 TT berada di kelas I, 4 TT berada dikelas II, 4 TT berada dikelas III, dan 3 TT ruangan mini unit stroke yang digunakan untuk melakukan perawat pada pasien yang harus mendapatkan perawatan total. Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo mempunyai 2 kasur anti dekubitus, tetapi hanya 1 kasur anti dekubitus yang dapat digunakan karena kasur dekubitus yang lain mengalami kebocoran. Kasur anti dekubitus biasanya digunakan pada pasien yang mempunyai risiko tinggi terjadi dekubitus atau pasien yang mengalami kelemahan anggota gerak. Perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo selalu melakukan observasi secara rutin kepada pasien-pasien dengan perawatan total untuk mencegah terjadinya dekubitus. Penggantian linen di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo dilakukan secara rutin setiap pagi, tetapi jika ada linen yang kotor karena terkena darah, minuman, makanan, urin atau cairan lain maka linen akan langsung diganti. Sebagai instalasi yang harus siaga 24 jam setiap hari, pihak manajemen RSUD Wates mengambil kebijakan untuk membagi jam kerja menjadi 3 dinas jaga, yaitu pagi, siang, dan malam. Jumlah perawat yang bertugas di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates berjumlah 15 perawat, yang terdiri dari 13 perawat lulusan D-3 Keperawatan 2 perawat lulusan SI-Keperawatan atau Ners. Sebagai salah satu bangsal rawat inap yang harus siaga 24 jam setiap hari, maka pihak manajemen RSUD Wates mengambil kebijakan untuk membagi jam kerja menjadi 3 dinas jaga, yaitu pagi, siang, dan malam. Jadwal sift pagi terdiri dari 6 perawat, sift siang 3 perawat, sift malam 3 perawat, dan ada 3 perawat lainnya yang tidak berjaga dikarenakan libur atau cuti.

sift siang 3 perawat, sift malam 3 perawat, dan ada 3 perawat lainnya yang tidak berjaga

49

2. Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini adalah semua perawat yang berkerja di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo yang berjumlah 15 orang. Karakteristik responden diuraikan berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama kerja disajikan pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1. Karakteristik Perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo (n=15)

Karakteristik Frekuensi % Jenis kelamin Laki-laki 2 13,3 Perempuan 13 86,7 Total 15 100 Usia
Karakteristik
Frekuensi
%
Jenis kelamin
Laki-laki
2
13,3
Perempuan
13
86,7
Total
15
100
Usia
17-25 tahun
1
6,7
26-35 tahun
12
80,0
36-45 tahun
2
13,3
Total
15
100
Lama kerja
≤ 3 tahun
> 3 tahun
6
40,0
9
60,0
Total
15
100
Pendidikan
DIII
13
86,7
S1/Ners
2
13,3
Total
15
100

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa karaktersitik perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo mayoritas adalah perempuan yaitu 13 (86,7%) dan sebagian besar perawat yang bekerja di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo pada rentang usia 26-35 tahun yaitu 12 (80,0%). Sebagian besar perawat telah bekerja > 3 tahun yaitu 9 (60,0%) dan mayoritas pendidikan perawat adalah DIII yaitu 13 (86,7%).

50

3. Peran perawat dalam pencegahan dekubitus Gambaran peran perawat dalam pencegahan dekubitus diukur dari 38 butir pernyataan dengan skor jawaban skala likert 1-3 dengan hasil disajikan pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Gambaran Peran Perawat dalam Pencegahan Dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo (n=15)

Variabel

Kategori

Frekuensi

%

Peran Perawat dalam pencegahan dekubitus Baik (≥89) 10 66,7 Cukup (63-88) 5 33,3 Total 15
Peran Perawat dalam
pencegahan dekubitus
Baik (≥89)
10
66,7
Cukup (63-88)
5
33,3
Total
15
100,0

Berdasarkan tabel 4.2 di atas diketahui bahwa sebagian besar perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo memiliki peran yang baik dalam pencegahan dekubitus 10 (66,7%) dan 5 (33,3%) perawat memiliki peran yang cukup dalam pencegahan dekubitus. Peran perawat dalam pencegahan dekubitus yang berada pada kategori cukup yaitu pada peran memberikan support surface hal ini dibuktikan dari hasil rata-rata skor terendah (73,3333) pada domain support surface. Peran perawat dalam pencegahan dekubitus terdiri dari 5 domain yaitu melakukan pengkajian faktor risiko, melakukan perawatan pada kulit, memperbaiki status nutrisi, support surface, dan memberikan edukasi dengan gambaran yang disajikan pada Tabel 4.3.

51

Tabel 4.3 Gambaran Peran Perawat Per Domain dalam Pencegahan Dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo (n=15)

Domain Kategori Frekuensi % Mengkaji faktor risiko dekubitus Baik (≥14) 9 60,0 Cukup (10-13) 6
Domain
Kategori
Frekuensi
%
Mengkaji faktor risiko
dekubitus
Baik (≥14)
9
60,0
Cukup (10-13)
6
40,0
Total
15
100
Perawatan kulit
Baik (≥39,6)
Cukup (28,3-39,5)
9
60,0
6
40,0
Total
15
100
Memperbaiki status
nutrisi
Baik (≥18,7)
Cukup (13,3-18,6)
Total
10
66,7
5
33,3
15
100
Support surface
Baik (≥9,3)
3
20,0
Cukup (6,7-9,2)
12
80,0
Total
15
100
Memberikan edukasi
Baik (≥7)
13
86,7
Cukup (5-6,9)
2
13,3
Total
15
100
Berdasarkan tabel 4.3 di atas diketahui bahwa pada domain mengkaji faktor
risiko dekubitus sebagian besar perawat memiliki peran yang baik dalam
pengkajian faktor risiko 9 (60,0%), tetapi sebanyak 6 (40,0%) perawat memiliki
peran yang cukup.
Pada domain perawatan kulit sebagian besar perawat memiliki peran yang
baik dalam melakukan perawatan pada kulit 9 (60,0%), tetapi sebanyak 6
(40,0%) perawat memiliki peran yang cukup.
Pada domain memperbaiki status nutrisi sebagian besar perawat memiliki
peran yang baik dalam memperbaiki status nutrisi 10 (66,7%), tetapi sebanyak 5
(33,3%) perawat memiliki peran yang cukup.

52

Pada domain support surface sebagian besar perawat memiliki peran yang

cukup dalam support surface sebanyak 12 (80,0%) dan hanya ada 3 (20,0%)

perawat yang memiliki peran yang baik

Pada domain memberikan edukasi sebagian besar perawat memiliki peran

yang baik dalam memberikan edukasi 13 (86,7%), tetapi sebanyak 2 (13,3%)

perawat memiliki peran yang cukup.

Peran perawat dalam pencegahan dekubitus terdiri dari 5 domain dan dalam

5 domain tersebut terdapat 38 pernyataan yang disajikan pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4 Gambaran Peran Perawat Per Item Pernyataan dalam Pencegahan Dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma
Tabel 4.4 Gambaran Peran Perawat Per Item Pernyataan dalam Pencegahan
Dekubitus di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo (n=38)
Domain
Aspek Pernyataan
Rata-rata
Mengkaji faktor
risiko
Pengkajian perasaan pasien
Pengkajian status persepsi sensori
Pengkajian status kemandirian pasien
Pengkajian risiko dekubitus dengan barthel index
Pengkajian riwayat merokok pasien
Pengkajian usia pasien
1,9333
2,5333
2,7333
1,5333
2,4667
2,9333
Total
6
Perawatan kulit
Mengkaji tanda-tanda kerusakan integritas kulit
Mengeringkan kulit pasien dari keringat
3,0000
2,4000
Memberikan minyak kayu putih 1,5333
Menjaga kebersihan linen pasien 3,0000
Membersihkan air liur pasien 2,6000
Mengukur suhu tubuh pasien 3,0000
Melakukan
pemijatan
pada
area
penonjolan
2,0000
tulang
Memandikan pasien 2x sehari
2,5333

Melakukan inspeksi kulit pasien 1,6667

Mengatur kelembaban ruangan 2,5333

Menggunakan sabun yang lembut saat memandikan pasien

Melakukan massage punggung 2,8667

2,9333

Mengeringkan kulit pasien menggunakan handuk

3,0000

Melakukan pemijatan pada area kemerahan

1,4000

Melakukan tindakan keperawatan untuk

2,7333

mencegah pasien mengompol Menggosok bagian perineal pasien

1,4000

Mengganti diapers pasien 1x sehari

1,3333

53

Total

17

Domian Aspek Pernyataan Rata-rata Memperbaiki Mengecek kadar hemoglobin pasien Mengidentifikasi masalah pencernaan
Domian
Aspek Pernyataan
Rata-rata
Memperbaiki
Mengecek kadar hemoglobin pasien
Mengidentifikasi masalah pencernaan pasien
Mengecek kadar albumin pasien
Memberikan makanan tinggi serat
Memberikan makanan sesuai permintaa pasien
Mengkaji kemampuan mengunyah pasien
Mengkaji riwayat pembedahan pasien
Menghitung IMT pasien
2,6000
nutrisi
2,7333
2,2667
1,5333
2,1333
2,8000
2,8000
2,2667
Total
8
Support surface
Menggunakan balutan donat
2,4000
Menggunakan kasur antidekubitus sesuai orderan
dokter
1,5333
Meletakkan bantal dibawah kaki pasien 2,4000
Melakukan alih baring setiap 2 jam 2,4667
Total
4
Memberikan
edukasi
Melakukan demonstrasi posisi
Melakukan pendidikan kesehatan tentang
2,5333
2,7333
perawatan kulit
Perawat malas melakukan pendidikan kesehatan 2,7333
Total
3
Berdasarkan tabel 4.4 diatas diketahui bahwa pada domain mengkaji faktor
risiko dekubitus skor terendah (1,5333) pada pernyataan nomor 12 yaitu
pernyataan mengkaji pasien risiko dekubitus menggunakan Barthel Index.
Pada domain perawatan kulit skor terendah (1,3333) pada pernyataan nomor
38 yaitu pernyataan mengganti diapers pasien 1 kali sehari.
Pada domain memperbaiki status nutrisi skor terendah (1,5333) pada
pernyataan nomor 17 yaitu pernyataan memberikan makanan tinggi serat kepada

pasien.

Pada domain support surface skor terendah (1,5333) pada pernyataan

nomor 24 yaitu pernyataan menggunakan kasur anti dekubitus berdasarkan

orderan dari dokter.

Pada domain memberikan edukasi skor terendah (2,5333) pada pernyataan

nomor 1 yaitu pernyataan melakukan demonstrasi posisi yang tepat untuk

mengurangi risiko dekubitus.

54

4. Peran perawat dalam pencegahan dekubitus berdasarkan karakteristik Peran perawat dalam pencegahan dekubitus dapat dipengaruhi oleh karakteristik responden yang diuraikan berdasarkaan usia, jenis kelamin, lama kerja, dan tingkat pendidikan disajikan pada Tabel 4.5.

Tabel 4.5 Gambaran Peran Perawat dalam Pencegahan Dekubitus Berdasarkan Karakteristik (n=15)

Peran perawat Karakteristik Baik Cukup Total f % f % f % Jenis Laki-laki 0
Peran perawat
Karakteristik
Baik
Cukup
Total
f
%
f
%
f
%
Jenis
Laki-laki
0
0,0
2
100,0
2
100
kelamin
Perempuan
10
76,9
3
23,1
13
100
Umur
17-25
1
100
0
0,0
1
100,0
tahun
26-35
12
100
9
75,0
3
25,0
tahun
36-45
2
100
1
50,0
1
50,0
tahun
Lama kerja
Baru
4
66,7
2
33,3
6
100
Lama
6
66,7
3
33,3
9
100
Pendidikan
DIII
8
61,5
5
38,5
13
100
S1/Ners
2
100,0
0
0,0
2
100

Dari tabel di atas diketahui bahwa perawat perempuan memiliki peran yang baik 10 (76,9%) dan perawat laki-laki memiliki peran yang cukup 2 (100%). Sebagian besar perawat dengan rentang umur 26-35 tahun memiliki peran yang baik. Perawat yang bekerja ≤ 3 tahun 4 (66,7%) maupun > 3 tahun 6 (66,7%) memiliki peran yang baik. Perawat dengan pendidikan S1/Ners seluruhnya memiliki peran yang baik.

55

B. Pembahasan Penelitian

1. Karakteristik Perawat Karaktersitik perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo mayoritas adalah perempuan yaitu 13 (86,7%) dengan rentang usia 26-35 tahun yaitu 12 (80,0%), telah bekerja > 3 tahun yaitu 9 (60,0%), dan mayoritas pendidikan perawat adalah D-III yaitu 13 (86,7%). Jumlah perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo sebagian besar berjenis kelamin perempuan, hal ini juga sesuai dengan penelitian Firmansyah (2009), bahwa rerata jenis kelamin perawat pelaksana terbesar ialah perempuan 84,2% dimana perawat pelaksana berjenis kelamin perempuan lebih besar dibandingkan berjenis kelamin laki-laki. Perempuan lebih cendrung memiliki caring karena sesuai dengan kodratnya sebagai seorang ibu, sehingga profesi perawat banyak diminati kaum perempuan, maka tidak mengherankan kalau proporsi perempuan lebih besar dibanding laki-laki. Karakteristik usia perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo sebagian besar berada pada rentang usia 26-35 tahun atau dalam masa dewasa awal. Menurut Potter & Perry (2011) masa dewasa awal secara psikologis telah mencapai perkembangan kognitif yang optimal sehingga memiliki kemampuan untuk menilai sesuatu secara objekif. Perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo sebagian besar mempunyai masa kerja > 3 tahun, menurut Nursalam (2009) menyatakan bahwa semakin banyak masa kerja perawat maka semakin banyak pengalaman perawat tersebut dalam memberikan asuhan keperawatan yang sesuai dengan standar atau prosedur tetap yang berlaku. Hasil penelitian Sofiana dan Purbadi (2006) menyatakan bahwa berdasarkan lama kerjanya, perawat dengan masa kerja lebih dari 3 tahun memiliki pengetahuan lebih baik dibandingkan perawat yang memiliki masa kerja kurang dari 3 tahun. Perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo sebagian besar mempunyai tingkat pendidikan DIII Keperawatan, menurut Bady (2007) menyatakan bahwa distribusi tingkat pendidikan formal tenaga keperawatan profesional hanya sebsar 6% yaitu tenaga keperawatan dengan pendidikan

tingkat pendidikan formal tenaga keperawatan profesional hanya sebsar 6% yaitu tenaga keperawatan dengan pendidikan

56

Sarjana Keperawatan atau S1, selebihnya tenaga keperawatan bukan professional yaitu DIII/DIV 72% dan SPK/SPR 22%, untuk meningkatkan tenaga keperawatan professional perlu diadakan pendidikan penjenjangan dari SPK/SPR ke Akper, dari Akper ke S1 Keperawatan. Tenaga keperawatan profesional yang menjalankan pekerjaan berdasarkan ilmu pengetahun sangat berperan dalam penanggulangan tingkat komplikasi penyakit, terjadinya infeksi nosokomial, dan memperpendek lama rawat, selain itu angka kematian di rumah sakit akan lebih rendah bila mempunyai komposisi tenaga keperawatan profesional yang lebih banyak. Jadi, dengan pendidikan yang lebih tinggi, maka pengetahuan dan profesionalitas akan lebih baik dan tentu saja kinerja perawat juga akan lebih baik.

baik dan tentu saja kinerja perawat juga akan lebih baik. 2. Peran perawat Sebagian besar perawat

2. Peran perawat Sebagian besar perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo mem iliki peran yang baik dalam pencegahan dekubitus 10 (66,7%). Sedangkan 5 (33,3%) perawat masih memiliki peran kategori cukup dan skor terendah (73,3333) pada pencegahan dekubitus terutama pada domain support surface. Peran perawat dalam upaya pencegahan dekubitus merupakan prioritas dalam perawatan pasien dan tidak terbatas pada pasien yang mengalami keterbatasan mobilisasi (Potter dan Perry, 2006). Hampir 95% dekubitus dapat dicegah melalui tindakan keperawatan, sisanya lebih kurang 5% pasien imobilisasi tetap akan mengalami dekubitus (The Agency for Health Care Policy and Research, 2009). Peran perawat dalam pencegahan dekubitus terdiri dari 5 domain yaitu berdasarkan hasil penelitian melakukan pengkajian faktor risiko sebagai berikut:

a. Mengkaji faktor risiko Sebagian besar perawat memiliki peran yang baik dalam pengkajian faktor risiko 9 (60,0%), tetapi sebanyak 6 (40,0%) memiliki peran yang cukup dengan skor terendah (1,5333) pada mengkaji pasien risiko dekubitus menggunakan barthel index.

57

Penilaian risiko terjadinya dekubitus dapat menggunakan beberapa tool atau skala penilaian risiko luka dekubitus seperti skala Braden, skala Norton, Gosnel, dan skala Waterlow. Namun skala yang lebih banyak digunakan adalah skala Braden. Skala Braden telah diuji dengan tingkat reliabilitas dan validitas dengan berbagai tipe rumah sakit dan pasien. Untuk skala Gosnell hingga saat ini masih jarang digunakan, padahal faktor yang diukur dalam skala tersebut pada dasarnya lebih banyak yaitu status mental, kontinensia, mobilitas, aktivitas dan nutrisi. Ditambah dengan penampilan kulit, medikasi, diet dan kebutuhan cairan 24 jam serta data demografi, item klinis, dan kriteria naratif (Anonym, 2012). Penggunaan tool tersebut sebaiknya dilakukan setiap 48 jam di unit perawatan akut, setiap 24 jam di unit perawatan kritis, setiap minggu saat 4 minggu pertama di unit perawataan jangka panjang (long term care) kemudian setiap bulan hingga setiap 3 bulan dan setiap kali kunjungan rumah pada unit home care ( Bryant, 2007). Pada domain mengkaji faktor risiko terdapat skor terendah (1,5333) pada pernyataan mengkaji risiko dekubitus menggunakan barthel index hal ini dikarenakan barthel index bukan termasuk tool untuk pengkajian risiko dekubitus melainkan instrumen untuk mengkaji status kemandirian fungsional dalam hal perawatan diri dan mobilitas. Barthel index merupakan instrumen pengukuran status fungsional yang digunakan pada dewasa yang sedang dalam perawatan klinis maupun dalam area rehabilitasi. Domain dalam instrumen ini meliputi makan, berpindah tempat, kebersihan diri, aktivitas toileting seperti mengontrol defekasi dan berkemih, mandi, makan, berjalan di jalan datar, naik turun tangga, dan berpakaian (Loretz, 2005 dalam Ropyanto, 2011).

berkemih, mandi, makan, berjalan di jalan datar, naik turun tangga, dan berpakaian (Loretz, 2005 dalam Ropyanto,

58

b.

Perawatan kulit Sebagian besar perawat memiliki peran yang baik dalam melakukan perawatan pada kulit 9 (60,0%), tetapi sebanyak 6 (40,0%) memiliki peran yang cukup dengan skor terendah (1,3333) pada pernyataan mengganti diapers pasien 1 kali sehari. Peran perawat yang baik dalam perawatan kulit pasien dengan cara menjaga kebersihan kulit dan kelembaban kulit dengan memberikan lotion atau cream. Mengontrol kelembaban terhadap urin, feses, keringat, saliva, cairan luka, atau tumpahan air atau makanan, melakukan inspeksi setiap hari terhadap kulit. Kaji adanya tanda-tanda kerusakan integritas kulit (Carville,

2007).
2007).

Penelitian Dewandono (2014) mengatakan bahwa pemberian teknik massage dan virgin coconut oil dalam penyembuhan luka dekubitus derajat II pada lansia, memberikan perkembangan luka yang cukup signifikan, dengan hasil luka mengering, warna luka menjadi kecoklatan, struktur luka menjadi lebih halus, dan ada perbaikan luka yang ditandai dengan granulasi, poliferasi dan luka semakin mengecil. Penelitian lain menyatakan bahwa white petroleum jelly berpengaruh terhadap penurunan luka tekan yang signifikan sesudah diberikan WPJ dengan nilai value sebesar 0.001 (p<0.05) (Zahara, 2016). Pada domain perawatan kulit terdapat skor terendah (1,3333) pada pernyataan mengganti diapers 1x sehari, dari hasil skor tersebut dapat disimpulkan bahwa perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo kurang memperhatikan kebersihan dan kelembaban kulit pasien yang dikarenakan cairan urin dan feses. Pasien imobilisasi yang tidak mampu memenuhi kebutuhan higienisnya sendiri, maka pasien tersebut tergantung kepada perawat atau keluarga untuk menjaga kebersihan dan kelembaban kulitnya, beberapa cairan tubuh seperti urin, feses, dan inkontensia menyebabkan erosi kulit dan meningkatkan resiko terjadi luka akibat tekanan pada pasien (Potter & Perry, 2005). Hasil penelitian Schindler (2011) menyatakan bahwa kejadian dekubitus di ruang perawatan

59

c.

anak mencapai 10,2 % tetapi hal ini dapat dicegah dengan beberapa cara jika pasien menggunakan diapers, maka gunakan diapers yang mempunyai daya serap tinggi dan pastikan diapers dalam keadaan kering, gunakan tempat tidur yang khusus, penuhi kebutuhan nutrisi, gunakan bantalan busa, gunakan body lotion¸dan lakukan perubahan posisi setiap 2-4 jam.

Memperbaiki status nutrisi Sebagian besar perawat memiliki peran yang baik dalam memperbaiki status nutrisi 10 (66,7%), tetapi sebanyak 5 (33,3%) memiliki peran yang cukup dengan skor terendah (1,5333) pada pernyataan memberikan makanan tinggi serat kepada pasien. Dekubitus disebabkan karena adanya kerusakan kulit dan jaringan dib awahnya rusak, tetapi risiko dekubitus dapat meningkat jika tidak memenuhi kebutuhan nutrisi. Nutrisi yang baik membuat kulit lebih sehat dan dapat mengurangi risiko terjadinya dekubitus (Departement of Nutrition and Dietetics, 2015). Perawat mempunyai peran untuk memperbaiki status nutrisi pasien, karena jika pasien mengalami malnutrisi maka akan meningkatkan faktor risiko terjadinya dekubitus, salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperbaiki status nutrisi pasien yaitu dengan memberikan suplemen tetapi lebih baik jika mengkonsumsi suplemen dari awal atau sebelum sakit (Houwing, dkk, 2003). Penelitian terdahulu yang dilakukan Puspaningrum (2013) ada hubungan antara status gizi dengan risiko dekubitus pada pasien stroke. Selain itu menurut penelitian Vangilder, et al (2008) mengatakan bahwa prevalensi luka tekan lebih tinggi pada pasien dengan IMT rendah dan juga pada pasien berat badan kurang dan berat badan lebih. Pada domain memperbaiki status nutrisi terdapat skor terendah (1,5333) pada pernyataan memberikan makanan tinggi serat kepada pasien, hal ini dikarenakan makanan tinggi serat bukan makanan yang dianjurkan untuk mencegah terjadinya dekubitus, menurut Herminingsih (2010) makanan tinggi serat bermanfaat untuk mengontrol berat badan, mencegah gangguan gastroinntestinal, mencegah kanker kolon, dan mengurangi tingkat

untuk mengontrol berat badan, mencegah gangguan gastroinntestinal, mencegah kanker kolon, dan mengurangi tingkat

60

kolesterol. Sedangkan untuk mencegah terjadinya dekubitus haruslah mengkonsumsi makanan tinggi protein, minum air 6-8 gelas setiap hari, dan konsumsi kalori yang cukup untuk menjaga berat badan (Koller, 2015). Protein sangat penting untuk membantu tubuh membuat jaringan baru, jika tidak cukup mengkonsumsi protein, maka jaringan kita menjadi lebih lemah dan jika terjadi kerusakan akan lebih lama sembuh (Departement of Nutrition and Dietetics, 2015).

d.

Support surface Sebagian besar perawat memiliki peran yang cukup dalam support surface sebanyak 12 (80,0%) dan hanya ada 3 (20,0%) perawat yang memiliki peran yang baik, dala domain support surface skor terendah (1,5333) pada pernyataan menggunakan kasur anti dekubitus sesuai orderan dokter. Support surface merupakan hal yang penting untuk dilakukan karena support surface dapat mengurangi tekanan, gesekan dan pergeseran pada suatu daerah secara terus-menerus, jika ada tekanan permukaan atau desakan pada kulit secara terus menerus, maka akan mengakibatkan suplai darah menuju kulit terputus, jaringan akan mati dan terjadi dekubitus (Bryant & Denise, 2007). Ada beberapa penelitian terdahulu yang mendukung pentingnya peran perawat dalam melakukan tindakan support surface. Penelitian terdahulu menurut Gray & Krapfl (2008) mengatakan bahwa mengubah posisi pasien setiap 2 jam sangat signifikan untuk mencegah terjadinya dekubitus. Selain itu berdasarkan penelitian Sulistyorini (2015) mengatakan bahwa dengan melakukan tindakan merubah posisi dan massase kulit maka pasien stroke tidak mengalami dekubitus. Pada domain support surface terdapat skor terendah (1,5333) pada pernyataan menggunakan kasur anti dekubitus berdasarkan orderan dari dokter, hal tersebut dikarenakan di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo tidak mempunyai SOP pencegahan dekubitus sehingga perawat tidak melakukan tindakan pencegahan dekubitus dengan tepat.

tidak mempunyai SOP pencegahan dekubitus sehingga perawat tidak melakukan tindakan pencegahan dekubitus dengan tepat.

61

e.

Menurut NSQHS (2012) perawat dapat memberikan support surface dengan pemakaian alat bantu khusus seperti kasur dekubitus, kursi dekubitus dan bantal dekubitus karena dapat mencegah terjadinya pressure ulcer. Berdasarkan hasil penelitian Rustina (2015) menyatakan bahwa ada pengaruh pengguanaan kasur anti dekubitus terhadap derajad dekubitus dengan value 0,046.

Memberikan edukasi Sebagian besar perawat memiliki peran yang baik dalam memberikan edukasi 13 (86,7%), tetapi sebanyak 2 (13,3%) memiliki peran yang cukup dengan skor terendah ( 2,5333) pada pernyataan melakukan demontrasi posisi yang tepat untuk mengurangi risiko dekubitus. Salah satu aspek penting dalam pendidikan profesi perawat adalah meningkatkan pengetahuan terutama kepada masyarakat dalam menjaga dan mempertahankan integritas kulit klien agar senantiasa terjaga dan utuh. Intervensi dalam perawatan kulit klien akan menjadi salah satu indikator kualitas pelayanan keperawatan yang diberikan (Potter dan Perry 2005). Menurut penelitian Kurniawan (2009) menunjukkan pengetahuan perawat tentang pengertian dekubitus 66,7%, tujuan pencegahan 59%, dan pencegahan dekubitus 51,3%. Menurut hasil penelitian Sunaryanti (2015) mengatakan bahwa pemberian pendidikan kesehatan tentang reposisi dan minyak kelapa terbukti efektif untuk pencegahan dekubitus dengan ρ value

0,004.
0,004.

Pada domain memberikan edukasi terdapat skor terendah (2,5333) pada pernyataan melakukan demontrasi posisi yang tepat untuk mengurangi risiko dekubitus, hal ini dikarenakan perawat di Bangsal Wiajaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo tidak mempunyai jadwal rutin untuk melakukan pendidikan kesehatan tentang pencegahan dekubitus. Menurut Setiyawan (2008) kurangnya pemberian pendidikan kesehatan oleh perawat dikarenakan perawat tidak memiliki informasi dan pengetahuan yang cukup dalam memahami isi panduan penanganan dan kegiatan pencegahan dekubitus. Kurangnya pemberian pendidikan kesehatan berpengaruh

62

terhadap pengetahuan keluarga dan pasien, menurut penelitian Rismawan (2014) menyatakan bahwa, sebagian besar keluarga klien tidak mengerti tentang pencegahan dekubitus 87% dan kejadian dekubitus 87,1% dan terdapat hubungan antara pengetahuan keluarga klien terhadap kejadian dekubitus.

3. Peran Perawat dalam Pencegahan Dekubitus Berdasarkan Karakteristik Menurut Nurningsih (2012) menyatakan bahwa karakteristik perawat

a.
a.

dikategorikan menjadi usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, dan lama kerja.

Jenis kelamin Sebagian besar perawat perempuan di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo mempunyai peran yang baik 10 (76,9 %) dan semua perawat laki-laki mempunyai peran yang cukup 2 (100,0 %). Dilihat dari proporsi jenis kelamin terdapat perbedaan prosentase dimana sebagian besar perawat perempuan mempunyai peran yang baik dibandingkan dengan perawat laki-laki. Menurut Ikarini (2008) terdapat suatu perilaku yang tidak konsisten antara laki-laki dan perempuan, hal ini dikarenakan setiap individu cenderung mengubah nilai pekerjaannya sebagai hasil pengalaman yang didapatkan selama bekerja. Penelitian Al-Ahmadi (2009) tentang kinerja perawat terhadap kualitas pelayanan di rumah sakit Riyadh Saudi Arabia yang menyatakan bahwa jenis kelamin berkorelasi positif terhadap kinerja, perawat perempuan cenderung mempunyai kinerja lebih baik dibanding dengan pria dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Sedangkan penelitian lain mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam beradaptasi dengan lingkungan kerja dan menyelesaikan pekerjaan, sehingga jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap kinerja perawat. (Hasmoko, 2008). Dapat disimpulkan bahwa laki-laki dan perempuan mempunyai peluang yang sama dalam melakukan suatu pekerjaan dengan baik.

63

b.

Usia Sebagian besar perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo dengan rentang usia 26-35 tahun mempunyai peran yang baik 9 (75,0 %), dan pada perawat dengan rentang usia 17-25 tahun mempunyai peran yang cukup 1 (100,0 %), sedangkan perawat dengan rentang usia 36-45 tahun mempunyai peran yang seimbang, yaitu baik 1 (50,0 %) dan peran yang cukup 1 (50,0 %). Dilihat dari proporsi usia terdapat prosentase dimana sebagian besar perawat pada rentang usia 26-35 tahun mempunyai peran yang baik, menurut Depkes RI (2009) usia tersebut masuk dalam kategori masa dewasa awal. Walaupun sudah memiliki peran yang baik, tetapi perawat usia dewasa awal masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam bersikap disiplin serta ditanamkan rasa tanggung jawab sehingga pemanfaatan usia produktif bisa lebih maksimal (Wahyudi, 2010). Menurut Sunaryo (2004) rentang umur 25-45 tahun merupakan tahap perkembangan generativitas vs stagnasi, dimana seseorang memperhatikan ide-ide, keinginan untuk berbagi pengetahuan, dan meningkatkan kreativitas. Hasil penelitian Qaddumi, dkk (2014) yang melakukan penelitian di Rumah Sakit Amman, Yordania, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa usia sebagian besar perawat yang mempunyai tingkat pengetahuan yang baik terhadap pencegahan luka dekubitus adalah 26-30 tahun. Hal tersebut sama dengan hasil penelitian Al Kharabsheh, dkk (2014) yang melakukan penelitian di Rumah Sakit Yordania, penelitian tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar perawat yang berusia 26-30 tahun mempunyai tingkat pengetahuan yang baik terhadap pencegahan luka dekubitus.

besar perawat yang berusia 26-30 tahun mempunyai tingkat pengetahuan yang baik terhadap pencegahan luka dekubitus.

64

Lama kerja Sebagian besar perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo yang mempunyai masa kerja > 3 tahun mempunyai peran yang baik 6 (66,7%) dan perawat dengan masa kerja ≤ 3 tahun terdapat 4 (66,7%) perawat yang mempunyai peran yang baik. Dilihat dari proporsi lama kerja terdapat perbedaan prosentase dimana sebagian besar perawat yang bekerja > 3 tahun mempunyai peran yang baik. Masa kerja atau lama kerja sangat penting karena dapat mencerminkan tingkat kemampuan akhir yang dicapai seseorang (Robbin, 2003). Perawat dengan masa kerja yang lama cenderung melakukan pendokumentasian dengan baik, semakin lama seseorang bekerja, kecakapan akan semakin baik karena dapat menyesuaikan diri dengan pekerjaanya. Seseorang akan mencapai kepuasan tertentu bila sudah mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan. Semakin lama karyawan bekerja mereka cenderung lebih terpuaskan dengan pekerjaan mereka (Jansson, dkk., 2010). Semakin lama tenaga kerja bekerja, maka semakin banyak pengalaman yang dimiliki tenaga kerja yang bersangkutan. Sebaliknya, semakin singkat masa kerja, maka semakin sedikit pengalaman yang diperoleh. Pengalaman bekerja banyak memberikan keahlian dan keterampilan kerja. Sebaliknya, terbatasnya pengalaman kerja mengakibatkan tingkat keahlian dan keterampilan yang dimiliki makin rendah. Pengalaman bekerja merupakan modal utama seseorang untuk terjun dalam bidang tertentu (Kumajas, dkk 2014).

d. Tingkat pendidikan Sebagian besar perawat di Bangsal Wijaya Kusuma RSUD Wates Kulon Progo mempunyai tingkat pendidikan DIII dan mempunyai peran yang baik 8 (61,5 %) tetapi masih ada perawat yang mempunyai peran cukup 5 (38,5), sedangkan perawat dengan tingkat pendidikan S1 atau Ners seluruhnya mempunyai peran yang baik 2 (100,0 %).

c.

5 (38,5), sedangkan perawat dengan tingkat pendidikan S1 atau Ners seluruhnya mempunyai peran yang baik 2

65

Dilihat dari proporsi tingkat pendidikan terdapat perbedaan prosentase dimana sebagian besar perawat dengan tingkat pendidikan DIII mempunyai peran yang baik dan semua perawat dengan tingkat pendidikan S1 mempunyai peran yang baik. Menurut American Nurses Credentialing Center’s Commision on Accreditation (2012), perawat yang memiliki jenjang pendidikan yang lebih tinggi memiliki kualitas (pengetahuan, keterampilan, dan kontribusi) yang lebih baik. Menurut Kumajas, dkk (201) pendidikan memberikan pengetahuan bukan saja yang langsung dengan pelaksanaan tugas, tetapi juga landasan untuk mengembangkan diri serta kemampuan memanfaatkan semua sarana yang ada di sekitar kita untuk kelancaran tugas. Tenaga keperawatan yang berpendidikan tinggi motivasinya akan lebih baik karena telah memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas dibandingkan dengan perawat yang berpendidikan rendah. Keperawatan merupakan profesi sepanjang hayat, dengan demikian, perawat adalah pelajar sejati. Artinya setiap perawat dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dirinya, baik dari segi kognitif, psikomotor, maupun afektif (Asmadi, 2008). Pendidikan yang berkelanjutan merupakan pengalaman belajar yang sistematik untuk perawat professional agar dapat meningkatkan pengetahuan, ketrampilan, dan kontribusinya dalam pelayanan kesehatan (ANA & NNSDO, 2010). Menurut penelitian Faizin (2008) mengatakan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kinerja perawat dalam melaksanakan tugasnya.

Faizin (2008) mengatakan bahwa ada hubungan antara tingkat pendidikan dengan kinerja perawat dalam melaksanakan tugasnya.

C. Keterbatasan Penelitian

1. Kesulitan Penelitian

66

a. Pada saat pengambilan data ada satu perawat yang sedang cuti melahirkan.

b. Keterbatasan waktu dan tingkat kesibukan yang dimiliki responden, hal tersebut menyebabkan responden kurang konsentrasi dalam mengisi kuesioner.

2. Kelemahan Penelitian

a.

b.

dalam mengisi kuesioner. 2. Kelemahan Penelitian a. b. Penelitian ini hanya dilakukan di satu bangsal saja

Penelitian ini hanya dilakukan di satu bangsal saja yaitu bangsal saraf, sehingga tidak bisa di generalisasikan pada semua bangsal.

Penelitian ini belum menggunakan alat ukur observasi perilaku dan hanya menggunakan self assesment, sehingga terjadi bias yang tinggi pada penilaian sikap responden

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan pada bab IV maka dapat ditarik

kesimpulan sebagai berikut:

1. Karaktersitik perawat di Bangsal Wijaya Kusuma Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kulon Progo mayoritas adalah perempuan yaitu 13 (86,7%) dengan rentang usia 26-35 tahun yaitu 12 (80,0%), telah bekerja > 3 tahun yaitu 9 (60,0%), dan mayoritas pendidikan perawat adalah DIII yaitu 13 (86,7%).

mayoritas pendidikan perawat adalah DIII yaitu 13 (86,7%). 2. Sebagian besar perawat di Bangsal Wijaya Kusuma

2. Sebagian besar perawat di Bangsal Wijaya Kusuma Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kulon Progo memiliki peran yang baik dalam pencegahan dekubitus 10

(66,7%).

3. Peran perawat dalam pengkajian faktor risiko pasien di Bangsal Wijaya Kusuma Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kulon Progo kategori baik 9 (60,0%).

4. Peran perawat dalam perawatan kulit pasien di Bangsal Wijaya Kusuma Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kulon Progo kategori baik 9 (60,0%).

5. Peran perawat dalam memperbaiki status nutrisi pasien di Bangsal Wijaya

Kusuma Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kulon Progo kategori baik 10

(66,7%).

6. Peran perawat dalam support surface terhadap pasien di Bangsal Wijaya Kusuma Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kulon Progo kategori cukup 12

(80,0%).

7. Peran perawat dalam memberikan edukasi pasien di Bangsal Wijaya Kusuma Rumah Sakit Umum Daerah Wates Kulon Progo kategori baik13 (86,7%).

67

68

B. Saran Berdasarkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti memberikan saran-saran sebagai berikut:

1. Bagi Rumah Sakit Bagi pihak manajemen rumah sakit agar menyediakan SOP pencegahan dekubitus supaya perawat dapat melakukan tindakan pencegahan dekubitus sesuai dengan SOP yang berlaku di rumah sakit dan dapat meningkatkan peran perawat dalam pencegahan dekubitus.

dapat meningkatkan peran perawat dalam pencegahan dekubitus. 2. Bagi Profesi Perawat Bagi perawat agar lebih meningkatkan

2. Bagi Profesi Perawat Bagi perawat agar lebih meningkatkan peran dalam pencegahan dekubitus dengan melakukan beberapa tindakan yaitu, menggunakan instrumen yang tepat untuk mengkaji faktor risiko dekubitus, selalu menjaga kelembaban dan kebersihan kulit pasien dari cairan tubuh seperti urin dan feses, perawat harus memenuhi kebutuhan nutrisi pasien dengan memberikan makanan tinggi protein, perawat menggunakan SOP pencegahan dekubitus untuk mencegah terjadinya dekubitus, dan perawat harus melakukan pendidikan kesehatan secara rutin tentang pencegahan dekubitus kepada keluarga dan pasien untuk meningkatkan pengetahuan keluarga dan pasien tentang pencegahan dekubitus.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya Bagi peneliti selanjutnya agar dapat melanjutkan dan mengembangkan penelitian dibidang keperawatan terutama tentang penggunaan isntrumen pengkajian dekubitus dan pelaksanaan SOP pencegahan dekubitus.

DAFTAR PUSTAKA

Aini, F., dan Purwaningsih, H. (2013). Pengaruh Alih Baring Terhadap Kejadian Dekubitus Pada Pasien Stroke yang Mengalami Hemiparesis Di Ruang Yudistira Di Rsud Kota Semarang. Vol 24. hal 1-10.

Al-Ahmadi, H. (2009). Factor Affecting Performance of Hospital Nurses in Riyadh Region. Saudi Arabia: International Journal of Health Care Quality Assurance. Vol 22. Issue 1. Hal 40-54. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19284170 pada tanggal 3 Agustus 2017.

Al Kharabsheh, M., Alrimawi, R., Al Assaf, R., dan Saleh, M. (2014). Exploring Nurses' Knowledge and Perceived Barriers to Carry Out Pressure Ulcer Prevention and Treatment, Documentation, and Risk Assessment. American International Journal of Contemporary Research, Vol 4, No

dari

4. Hal 112 119. tanggal 3 Agustus 2017. Organization (NNSDO). Association. Diakses Standards-of-Practice-.pdf pada
4.
Hal
112
119.
tanggal 3 Agustus 2017.
Organization (NNSDO).
Association.
Diakses
Standards-of-Practice-.pdf pada tanggal 2 Agustus 2017.

Diakses

American Nurses Association (ANA), & National Nursing Staff Development

(2010). Nursing Professional Development:

Scope and Standars of Practice. Silver Spring. MD: American Nurses

dari

American Nurses Credentialing Center’s Commission on Accreditation. (2012). The Value of Accreditation for Continuing Nurse Education: Quality Education Contributing to Quality Outcomes. Silver Spring. MD:

American Nurses Credentialing Center. Diakses dari www.nursecredentialing.org/accreditation/resourcesservices/accreditatio n-whitepaper2012.pdf pada tanggal 2 Agustus 2017.

Anonim.

(2012).

Manajemen

Pressure

Ulcer.

Diakses

dari

Anonim.

(2015).

Kamus

Besar

Bahasa

Indonesia

Online.

Diakses

dari

www.Kbbi.web.id pada tanggal 3 Agustus 2017.

Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta.

Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta : EGC.

67

68

Australian Wound Management Association. (2010). Standards for Wound Management. Edisi 2. Australia: Australian Wound Management Association Inc.

Azwar.

S.

(2012).

Yogyakarta.

Penyusunan

Skala

Psikologi.

Edisi:2.

Pustaka

Pelajar:

Bady, A.M., Kusnanto, H., dan Handono, D. (2007). Analisis Kinerja Perawat Dalam Pengendalian Infeksi Nosokomial di Irna RSUP Dr Sardjito’. Distant Learning Resouce Center KMPK Universitas Gadjah Mada. Working Paper Series. No 8. Hal 1-10. Diakses dari

N. (1992). 40, Issue 8. Hal
N.
(1992).
40,
Issue
8.
Hal

IRNA-I-RSUP-DR.-SARDJITO.pdf pada tanggal 17 Agustus 2017.

A Prospective Study of Pressure Sore Risk

747-758. Diakses dari

Bergstrom,

among

Institutionalized Elderly. Journal of the American Geriatrics Society. Vol

www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1634717 pada tanggal 10 Maret 2017.

Bhoki, M.W., Mardiyono dan Sarkum. (2013). Skala Braden dan Norton dalam Memprediksi Risiko Dekubitus di Ruang ICU’. Artikel Kesehatan. Poltekes Kemenkes Semarang: Semarang. Hal 581-591.

Braden, B. J., & Bergstrom, N. (1989). Clinical utility of the Braden Scale for predicting pressure sore risk. Advances in Skin & Wound Care. Vol 2, issue 3. Hal 44-51. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/2775473 pada tanggal 10 Maret 2017.

Brem, H., Maggi, J., Nierman, D., Rolnitzky, L., Bell, D. Rennert, R., dkk. (2010). High Cost Of Stage IV Pressure Ulcers. Vol 200 No 4. Hal 473-477. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20887840 pada tanggal 10 Maret 2017.

Bryant, R.A. (2007). Acute and Chronic Wounds Nursing Management. Second Edition. Mosby Inc: Missouri, St. Louis.

Buss, (2009). Pressure Ulcer Prevention In Nursing Home: Views And Beliefes Of Enrolled Nurse And Other Health Workers. Journal of Clinical Nursing.

dari

Vol

www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15317506 pada tanggal 20 Maret 2017.

13.

Hal

668676.

Diakses

Carville, K. (2012). Wound Care Manual. 6th edition. Perth: Silver Chain Foundation.

69

Clevo, R.M. (2012). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah dan Penyakit Dalam. Yogyakarta : Nuha Medika.

Corwin,

Elizabeth

J.

(ed

Williams

Lippincott

dkk).

(2008).

Handbook

Of

Pathophysiology.

Terjemahan

Subekti,

Nike

B.

2009.

Buku

Saku

Patofisiologi. Edisi 3. Buku Kedokteran. Jakarta : EGC.

Dealey, C., Posnett, J., dan Walker, A. (2012). The Cost of Pressure Ulcers in the United Kingdom. Journal Of Wound Care. Vol 21, Issue 6. Hal 261-264. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22886290 pada tanggal 30 April 2017.

5.pdf pada tanggal 3 Agustus 2017. 598-1-s10019i-o.pdf pada tanggal 1 Agustus 2017.
5.pdf pada tanggal 3 Agustus 2017.
598-1-s10019i-o.pdf pada tanggal 1 Agustus 2017.

Denise, P.N. & Bryant, A.R. (2007). Acute & Chronic Wounds: Current Management Concepts. Third Edition. St Louis, Missouri.United Staetes of America. By Mosby, Inc, An Affiliate of Elsevier Inc.

Departement of Nutrition and Dietetics. (2015). Diet and Pressure Ulcer: Advice for Patients And Carers. University Health Board. Diakses dari

Depkes RI. (2009). Sistem Kesehatan Nasional. Jakarta.

Dewandono, I.D. (2014). ‘Pemanfaatan Virgin Coconut Oil Dengan Teknik Massage Dalam Penyembuhan Luka Derajat II Pada Lansia. Skripsi. Sarjana Keperawatan. STIKES Kusuma Husada Surakarta. Diakses dari

Diligence, Med Market. (2009). Advanced Medical Technologies. Diakses dari mediligence.com pada tanggal 5 Februari 2017

Elvarida, M. (2010). Hubungan Karakteristik Perawat Terhadap Asuhan Keperawatan Lanjut Usia Di Sub Instalasi Rawat Inap A RSPAD Gatot Soebroto Jakarta’. Skripsi. Universitas Esa Unggul. Diakses dari www.jks.fikes.undoed.ac,id/index.php/jks/article/download/594/366 pada tanggal 30 April 2017.

Faizin, A., dan Winarsih. (2008). Hubungan Tingkat Pendidikan Dan Lama Kerja Perawat Dengan Kinerja Perawat Di Rsu Pandan Arang Kabupaten Boyolali. Berita Ilmu Keperawatan. Vol 1, No 3. Hal 137-142.

70

Firmansyah, M. (2009). Pengaruh Karakteristik Organisasi Terhadap Kinerja Perawat dalam Melaksanakan Asuhan Keperawatan Untuk Membantu Promosi Kesehatan di Rumah Sakit Umum Sigli’. Tesis. Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Diakses dari

pada tanggal 10 Agustus 2017.

Fitriyani, N. (2009). Pengaruh Posisi Lateral Inklin 30 Derajat Terhadap kejadian Dekubitus Pada Pasien Stroke Di Bangsal Anggrek I Rumah Sakit Dr. Moewardi Surakarta. Skripsi. Sarjana Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta: Surakarta. Diakses dari www.eprints.ums.ac.id/4462/1/J210050012.pdf pada tanggal 18 Mei

2017.
2017.

Ikarini, F.D., Hany, M., dan Prima, A.P. (Ed). (2008). Kepribadian Teori Klasik dan Riset Modern. Edisi ketiga. Jakarta: Penerbit Erlangga.

Gray dan Krapfl. (2008). Does Regular Repositioning Prevent Pressure Ulcer. Journal Of Wound, Ostomy And Continence Nursing. Page 57-577. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19018196 pada tanggal 31 Juli 2017.

Gupta, N., Loong, B., dan Leong, G. (2012). Comparing And Constasting Knowledge Of Pressure Ulcer Assessment, Prevention And Management In People With Spinal Cord Injury Among Nursing Staff Working In Two Metropolitan Spinal Units And Rehabilitation Medicine Training Specialists In A Three-Way Comparison Spinal Cord. Vol 3, No 2. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21894165 pada tanggal 10 Maret 2017.

Handoko dan Hani. (2010). Manajemen Personalia & Sumberdaya Manusia. Edisi 2. Yogyakarta: BPFE UGM.

Harmyastuti, I. (2015). Hubungan Kadar Albumin Dan Indeks Massa Tubuh (IMT) Dengan Kejadian Dekubitus Pada Pasien Immobilisasi Di RSUD Dr. Moewardi. Skripsi. Sarjana Keperawatan. STIKES Kusuma Husada :

dari

Surakarta.

Diakses

tanggal 15 Maret 2017.

71

Hasmoko, E.V. (2008). Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kinerja Berdasarkan Penerapan System Pengembangan Manajemen Kinerja Klinis (SPMKK) di Ruang Rawat Inap RS Panti Wilasa Citarum Semarang’. Tesis. Program Pasca Sarjana UNDIP. Universitas Diponegoro. Diakses dari www.eprints.undip.ac.id/17376/1/Emanuel_Vensi_Hasmoko.pdf pada tanggal 1 Agustus 2017.

Herminingsih, A. (2010). Manfaat Serat dalam Menu Makanan. Universitas Mercu Buana, Jakarta.

Hidayat, A. (2008). Pengantar Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

(2011). Metode Penelitian Kesehatan : Paradigma Surabaya : Health Books Publishing. Elsevier. Diakses tanggal 1
(2011).
Metode Penelitian
Kesehatan
:
Paradigma
Surabaya : Health Books Publishing.
Elsevier.
Diakses
tanggal 1 Agustus 2017.

Kuantitatif.

Houwing, R.H., Rozendall, M., Wouters-Wesseling, W., Buelens, J.W.J., Buskens, E., Halboom, J.M. (2003). Clinical Nutrition. United State America:

dari

pada

Huda, N. (2012). Pengaruh Posisi Miring Untuk Mengurangi Luka Tekan Pada Pasien Dengan Gangguan Persyarafan. Jurnal keperawatan. Diakses dari http://lp3msht.files.wordpress.com. pada tanggal 9 April 2017.

Ismael. (2009). Hubungan Karakteristik Perawat Terhadap Penatalaksanaan Klien Perilaku Bunuh Diri di RSJ.Prof. Dr. Hb.Sa’anin Padang Tahun 2009’. Sumatera Barat : Program Studi DIII Keperawatan Stikes Perintis Bukit Tinggi. Diakses dari www.acribd.com/doc/22536949/Karya-Tulis-Ilmiah- Ismael-Amd-Kep pada tanggal 20 April 2017.

Jansson I., dkk. (2010). Factors And Conditions That Influence The Implementation Of Standardized Nursing Care Plans. Sweden: The Open Nursing Journal. Vol 4, hal 25-34.

Jaul, E. (2010). Assessment And Management Of Pressure Ulcers In The Elderly. Drugs & Aging. Vol 27, Issue 4. Hal 311-325. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20359262 pada tanggal 19 Maret 2017.

Kale, E.D., Nurachmah, E., dan Pujasari, H. (2014). Penggunaan Skala Braden Terbukti Efektif Dalam Memprediksi Kejadian Luka Tekan. Jurnal Keperawatan Indonesia. Vol 17, No 3. Hal 95-100.

Kallman, U. & Suserud, B-Oasa. (2009). Knowledge, Attitudes And Practice Among Nursing Staff Concerning Pressure Ulcer Prevention And

72

Treatment A Survey In A Swedish Healthcare Setting. Journal Compilation. Nordic College of Caring Science. Diakses dari www.ncbi.nih.gov/pubmed/19645807 pada tanggal 15 Februari 2017.

Koller, K., dan Price, S. (2015). Nutrition for Preventing and Treating Pressure Ulcer. University of Michigan Health System : Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 3.0 Unported License. Diakses dari www.med.umich.edu/1libr/Nutrition/DietPressureUlcers.pdf pada tanggal 3 Agustus 2017.

Kozier, Berman, dan Snyder. (2010). Buku Ajar Fondamental Keperawatan :

Konsep, Proses & Praktik. Vol 1. Edisi 7. Jakarta: EGC.
Konsep, Proses & Praktik. Vol 1. Edisi 7. Jakarta: EGC.

Kumajas, F.W., Warouw, H., dan Bawatong, J. (2014). Hubungan Karakteristik Individu dengan Kinerja Perawat di Ruang Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Datoe Binangkang Kabupaten Bolang Mongondow. Jurnal Keperawatan Universitas Sam Ratulangi. Vol 2, No 2. Hal 1-8.

Kurniawan. (2009). Gambaran Tingkat Pengetahuan Perawat Tentang Dekubitus di Rumah Sakit Bhineka Bhakti Husada Tangerang’. Skripsi. Sarjana Keperawatan. Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta. Diakses dari digilib.unimus.ac.id/files/disk1/131/jtptunimus-gdl- nanangsuli-6515-4-babv.pdf pada tanggal 1 Agustus 2017.

Landi, F., Onder, G., Russo, A., dan Bernabei, R. (2007). Pressure Ulcer and Mortality in Frail Elderly People Living in Community. Archives of Gerontology and Geriatrics. Vol 44. Hal 217-223. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17317456 pada tanggal 29 April 2017.

Lumadi, S.A. (2011). Hubungan Pengetahuan dan Ketrampilan Perawat Dalam Melakukan Mobilisasi dengan Terjadinya Ulkus Tekan pada Pasien di Ruang GICU RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Skipsi. Sarjana Keperawatan. Universitas Padjadjaran, Bandung. Diakses dari www.kandaga.unpad.ac.id/Record/IOS1.14706 pada tanggal 15 Maret

2017.

Lumenta, N. (2008). Lokakarya PELKESI: Strategi Mempersiapkan dan Menjaga Mutu Akreditasi Rumah Sakit. Diakses dari www.scribd.com/doc/nico- limenta-Mutu-Akreditasi-RS pada tanggal 23 Januari 2017.

73

Manzano, F., Navvaro, M.J., Roldan, D., Moral, M.A., Leyva, I., Guerrero, C., Sanchez, M.A., dan Colmenero, M. (2010). Pressure Ulcer Incidence and Risk Factors in Ventilated Intensive Care Unit. Journal of Critical Care.

469-476. Diakses dari

Vol

25.

Hal

www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19879730 pada tanggal 10 Maret 2017.

Martini, D. Asiandi, Handayani, D.Y. (2012). The Impact of the Lying Change in Protecting the Risk of Dekubitus on the Stroke Patients at RSUD Banyumas. Jurnal Keperawatan. Vol 11. Hal 413-799.

Mawa & Bani, A. (2014). ‘Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Resiko Dekubitus Pada Pasien Rawat Inap Trauma Center Di Rsup. Dr. M. Djamil Tahun 2014. TESIS. Diploma. Universitas Andalas. Diakses dari

content/uploads/ /PU_Prev_Point.pdf pada tanggal 9 Maret 2017.
content/uploads/
/PU_Prev_Point.pdf
pada tanggal 9 Maret 2017.

%2520bani%2520astuti.compressed.pdf pada tanggal 13 Maret 2017.

Mubarak, Wahit, I., & Nurul, C. (2008). Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta : EGC

Mukti, E.N. (2006). Penelusuran Hasil Penelitian Tentang Intervensi Keperawatan Dalam Pencegahan Luka Dekubitus pada Orang Dewasa. Jurnal Keperawatan Indonesia. Vol 1, No 3.

National Pressure Ulcer Advisory Panel. (2007). Pressure ulcer prevention points. Western Australia: Cambridge Media. Diakses dari www.npuap.org/wp-

pada tanggal 10 Maret 2017.

. (2009). Pressure Ulcer Treatment Quick

Reference Guide. Western Australia: Cambridge Media. Diakses dari

National Pressure Ulcer Advisory Panel, European Pressure Ulcer Advisory Panel & Pan Pacific Pressure Injury Alliance. (2014). Prevention and treatment of pressure ulcers: quick reference guide. Emily Haesler (Ed.). Osborne Park, Western Australia: Cambridge Media.diakses dari

pada tanggal 10 Maret 2017.

74

National Pressure Ulcer Advisory Panel Press Release. (2016). Diakses dari

2017.

National Safety and Quality Health Service Standars. (2012). Preventing and Managing Pressure Injury. Second edition. Hal 54-60. Australian Commission Safety And Quality In Health Care. Sydney Australia. Diakses dari www.safetyandquality.gov.au/wp- content/uploads/2011/09/NSQHS-Standards-Sept-2012.pdf pada tanggal 3 Agustus 2017.

tanggal 4 Mei s-gdl-dwiretnonu-6491 Nursalam. (2008). Konsep dan Penerapan Metodologi Keperawatan. Jakarta :
tanggal
4
Mei
s-gdl-dwiretnonu-6491
Nursalam.
(2008).
Konsep
dan
Penerapan
Metodologi
Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika.
(2009).
Manajemen
Keperawatan
Aplikasi
(2014). Manajemen Keperawatan Aplikasi
Keperawatan Profesional. Jakarta : Salemba Medika.

Netty, Delima dan Suryaningsih. (2013). ‘Pengaruh Intervensi Massage Dalam Upaya Pencegahan Dekubitus Pada Pasien Tirah Baring Lama Di RSUP DR. M. Jamil Padang’. Politeknik Kesehatan Kemenkes Padang. Hal 1-10.

Notoadmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.

Nurniningsih D. (2012). Hubungan Antara Karakteristik Perawat Dengan Kinerja Perawat Di Instalasi Rawat Jalan Rsup Dr. Kariadi Semarang. Diakses

2017.

Ilmu

Penelitian

Dalam

Praktik

Keperawatan Profesional. Edisi 2. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.

Dalam

Praktik

Okatiranti, sitorus, R.E., dan Tsuawabeh, D. (2013). Risiko Terjadinya Dekubitus Berdasarkan Tingkat Ketergantungan Pasien di Ruang Perawatan Neurologi. Vol 1, No 3. Universitas BSI Bandung.

Posthauer, dkk (2015). The Role of Nutrition for Pressure Ulcer Management:

National Pressure Ulcer Advisory Panel, European Pressure Ulcer Advisory Panel, and Pan Pacific Pressure Injury Alliance White Paper. Advances In Skin & Wound Care. Vol 28, Issue 4. Hal 175-188. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22775201 pada tanggal 11 Maret

2017.

75

Potter & Perry. (2005). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses, Dan Praktik. Edisi 4. Volume 1. Alih Bahasa: Yasmin Asih, dkk. Jakarta:

EGC.

(2006). Fundamental Of Nursing: Fundamental Keperawatan (Ed.7). Jakarta : Salemba Medik.

(2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses dan Praktik. Edisi 7. Jakarta : EGC.

(2011). Basic Nursing. Edisi 7. St. Louis : Mosby Elsevier.

Basic Nursing. Edisi 7. St. Louis : Mosby Elsevier. (2012). Buku ajar fundamental keperawatan Konsep, proses

(2012). Buku ajar fundamental keperawatan Konsep, proses dan praktik. Jakarta : EGC.

Puspaningrum, Y.V. dan Sudaryanto, A. (2013). ‘Hubungan Antara Status Gizi Dan Mobilitas Dengan Risiko Terjadinya Dekubitus Pada Pasien Stroke Di Rsud Dr. Moewardi Surakarta’. Skripsi. Sarjana Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diakses dari http://eprints.ums.ac.id/26162/12/02_NASKAH_PUBLIKASI.pdf pada tanggal 31 Juli 2017.

Qaddumi, J., & Khawaldeh, A. (2014). Pressure Ulcer Prevention Knowledge Among Jordanian Nurses: A Cross- Sectional Study. BMC Nursing. Vol 13, No 6. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3946597/ pada tanggal 3 Agustus 2017.

Rendy, M., Clevo dan Margareth. (2012). Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Penyakit Dalam. Yogyakarta : Nuha Medika.

Rismawan, W. (2014). Hubungan Tingkat Pengetahuan Keluarga Klien Tentang Pencegahan Dekubitus Terhadap Kejadian Dekubitus Pada Pasien Bedrest Total di RS Dr. Soekardjo Tasikmalaya. Jurnal Kesehatan Bakti Tunas Husada. Vol 12, No 1.

Robbin, S.P. (2003). Perilaku Organisasi (jilid 1). Edisi ke-9. Jakarta: PT Indeks Kelompok Gramedia.

Ropyanto, C.B. (2011). ‘Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Status Fungsional Pasien Paska Open Reduction (Orif) Fraktur Ekstremitas Bawah Di RS. Ortopedi Prof. Soeharso Surakarta’. Tesis. Magister Ilmu Keperawatan. Universitas Indonesia. Diakses dari

Ropyanto.pdf pada tanggal 3 Agustus 2017.

76

Rosita, T. dan Maria, R. (2014). Hubungan Mobilisasi Dengan Timbulnya Luka Tekan Pada Pasien Tirah Baring’. Universitas Indonesia. Diakses dari www.lib.ui.ac.id/naskahringkas/2016-08/S57634-Tita%20Rosita pada tanggal 17 Juli 2017.

Rustina. (2016). ‘Pengaruh Penggunaan Kasur Anti Dekubitus Terhadap Derajad Dekubitus Pada Pasien Tirah Baring Di Rumah Sakit Brayat Minulya Surakarta. Skripsi. Sarjana Keperawatan. STIKES Kusuma Husada

dari

Surakarta.

Diakses

Medicine. Philadelphia. Diakses 2017.
Medicine. Philadelphia. Diakses
2017.

Sabandar (2008). Ulkus Dekubitus. Medical Faculty Sebelas Maret University In Surakarta.

Salcido, R. (2012). ‘Pressure Ulcers and Wound Care. Department of Physical Medicine and Rehabilitation. University of Pennsylvani a School of

dari

Schindler, C.A., Mikhailov, T.A., Khun, E.M., Christoper, J., Conway, P., Ridling, D., dkk. (2011). Protecting Fragile Skin: Nursing Interventions to Decrease Development of Pressure Ulcers in Pediatric Intensive Care. National Librarry of Medicine National Institutes of Health. Vol 20, No. 1. Hal 26-34. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/21196569 pada tanggal 3 Agustus 2017.

Setiyawan. (2008). Hubungan Tingkat Pengetahuan Dan Sikap Dengan Perilaku Perawat Dalam Upaya Pencegahan Dekubitus Di Rumah Sakit Cakra Husada Klaten. Skripsi. Sarjana Keperawatan. STIKES Kusuma Husada Surakarta. Diakses dari www.jurnal.stikeskusumahusada.ac.id/index pada tanggal 20 Februari 2017.

Sisnanto, F. (2015). ‘Pemberian Minyak Kelapa Terhadap Pencegahan Dekubitus Pada Ny. P Dengan Asuhan Keperawatan CVA Hemoragik Di Ruang Anggrek II Rs. Dr. Moewarndi Surakarta’. Karya Tulis Ilmiah. D-3 Keperawatan. STIKES Kusuma Husada. Diakses dari www.digilib.stikeskusumahusada.ac.id/download pada tanggal 30 April

2017.

Sofiana, N.A., dan Purbadi, D. (2006). ‘Analisis Faktor Lingkungan dan Individu yang Berpengaruh Terhadap Peningkatan Kinerja Perawat’. Tesis. Institut

dari

Teknologi

dgl-nooraridas-86 pada tanggal 3 Agustus 2017.

Bandung.

Diakses

77

Sudiarti, P.E., Setiyarini, S., dan Sutono. (2015). Pencegahan Dekubitus Pada Pasien Dengan Ventilasi Mekanik di IRI RSUP DR. Sardjito Yogyakarta. Skripsi. Sarjana Keperawatan. Universitas Gadjah Mada : Yogyakarta.

dari

Diakses

pada tanggal 2 Maret 2017.

Sugiyono. (2014). Statistika Untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.

Sulastri, N.T., Effendy, C., Haryani. (2008). Pengaruh Pemberian Pendidikan Kesehatan Terhadap Pengetahuan Dan Keterlibatan Keluarga Dalam Pencegahan Dekubitus Pada Pasien Tirah Baring. Jurnal Ilmu Keperawatan. Vol 3, No 3.

Care Nurses. Vol 13, No 1.
Care Nurses. Vol
13,
No
1.

Husada Surakarta.

Diakses

Sunaryanti, B. (2015). Pencegahan Dekubitus Dengan Pendidikan Kesehatan Reposisi Dan Minyak Kelapa. Jurnal Profesi Keperawatan. Vol 12.

Sunaryo. (2004). Psikologi untuk keperawatan. Jakarta: EGC.

Suriadi, Sanada, H., Sugama, J., Thigpen, B., dan Subuh, M. (2007). Risk Factors In The Development Of Pressure Ulcers In An Intensive Care Unit In Pontianak, Indonesia. International Wound Journal. Vol 4, issue 3. Hal 208 215. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/1792877 pada tanggal 14 Maret 2017.

Suriadi, Sanada, H., Sugama, J., Thigpen, B., dan Subuh, M. (2008). Development Of A New Risk Assessment Scale For Predicting Pressure Ulcers In An Intensive Care Unit. Journal Compilation. British Association of Critical

dari

Diakses

www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18226053 pada tanggal 4 Maret 2017.

Suryani, Y. (2015). ‘Pemberian Back Pillow Dan Alih Baring Terhadap Dekubitus Pada Asuhan Keperawatan Ny. S Di Ruang Rawat Inap Gladiol IV RSUD Sukoharjo. Karya Tulis Ilmiah. D-3 Keperawatan. STIKES Kusuma

dari

Strand, T., & Lindgren, M. (2010). Knowledge, Attitudes, And Barriers Towards Prevention Of Pressure Ulcers In Intensive Care Units : A Descriptive CrossSectional Study. Intensive and Critical Care Nursing. Vol 26, Issue 6. Hal 335-342. Diakses dari www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20870408 pada tanggal 2 Februaru 2017.

78

Tarihoran, D. E. T. (2010). Pengaruh Posisi Miring 30 Derajat Terhadap Kejadian Luka Tekan Grade I (Non Blanchable Erythema) Pada Pasien Stroke di Siloam Hospital. Tesis. Program Pasca Sarjana Ilmu Keperawatan Peminatan Keperawatan Medikal Bedah Universitas Indonesia. Depok. Dialses dari www.lontar.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-20282630.pdf pada tanggal 3 April 2017.

The Agency for Health Care Policy and Research, 2009. Panel on the Prediction and Prevention of Pressure Ulcers in Adults. Diakses dari www.ahrq.gov/professionals/systems/hospital/pressureulcertoolkit/putool 3a.html pada tanggal 1 Agustus 2017.

2017.
2017.

Tianingsih, M. (2010). ‘Hubungan Status Nutrisi Dengan Kejadian Dekubitus Pada Penderita Stroke Di Yayasan Stroke Sarno Klaten. Skripsi. Sarjana Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diakses dari www.eprints.ums.ac.id/10401/3/J210060084 pada tanggal 8 Februari

Undang-Undang RI Nomor 38 tahun 2014 tentang keperawatan.

Utomo, W., Dewi, Y., Abdurrasyid, T. (2012). Efektifitas Nigella Sativa Oil Untuk Mencegah Terjadinya Ulkus Dekubitus Pada Pasien Tirah Baring Lama. Jurnal Ners Indonesia. Vol 2. Nomor 2.

Valentin, Y. (2013). Hubungan Antara Status Gizi Dan Mobilitas Dengan Risiko Terjadinya Dekubitus Pada Pasien Stroke Di Rumah Sakit Umum Daerah Dr.Moewardi Surakarta. Skripsi. Sarjana Keperawatan. Universitas Muhammadiyah Surakarta. Diakses dari www.eprints.ums.ac.id/26162/1/03_HALAMAN_DEPAN.pdf pada tanggal 10 April 2017.

Vangilder, C., Macfarlane, G., Meyer, S., Lachenbruch, C. (2008). ‘Body Massa Index, Weight, And Pressure Ulcer Prevalence An Annalysis Of The 2006- 2007 International Pressure Ulcer Prevalence Trade Mark Suveys. Diambil dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18641521 diakses tanggal 10 April 2017.

Wahyudi. (2010). ‘Hubungan Persepsi Perawat tentang Profesi Keperawatan, Kemampuan, dan Motivasi Kerja terhadap Kinerja Perawat Pelaksana di RSUD dr. Slamet Garut. Tesis. Pascasarjana Magister Keperawatan.

dari

Universitas

pada tanggal 3 Agustus 2017.

Indonesia.

Diakses

WHO. (2002). Pedoman Perawatan Pasien. Alih bahasa, Monica Ester. Editor, Esty W., & Nike B.S., Jakarta: EGC

79

Widodo, A. (2007). Uji Kepekaan Instrumen Pengkajian Risiko Dekubitus Dalam Mendeteksi Dini Risiko Kejadian Dekubitus Di RSIS. Jurnal Penelitian Sains & Teknologi. Vol 8, No. 1.

Zahara, Y. dkk. (2016 ). Efektivitas penggunaan White Petrolium Jelly untuk perawatan luka tekan stage I di Ruang rawat inap Siloam Hospital Lippo Village. Indonesian Journal of Nursing Health Science. Vol 1, No 1. Hal

15-32.

Zulaikah. (2014). Pengaruh Alih Baring 2 Jam Terhadap Resiko Dekubitus Dengan Varian Berat Badan Pada Papsien Bedrest Total Di SMC RS Telogorejo. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan. Vol 2, No 4. Hal 29-36.

Badan Pada Papsien Bedrest Total Di SMC RS Telogorejo. Jurnal Ilmu Keperawatan dan Kebidanan . Vol

69

KUESIONER PENELITIAN PERAN PERAWAT DALAM PENCEGAHAN DEKUBITUS Petunjuk Umum:

1. Bacalah pernyataan dibawah ini dengan baik, cermat, dan teliti, sebelum Saudara/i menjawab.

2. Jawaban seluruh pernyataan dibawah ini sesuai dengan pentunjuk yang ada pada setiap bagian.

3. Kuesioner ini dibagi menjadi dua bagian, bagian pertama yaitu identitas responden dan bagian kedua yaitu pernyataan peran perawat dalam pencegahan dekubitus

berhubungan dengan pekerjaan Saudara/i. 1) Umur: tahun 2) Jenis Kelamin: a. Laki-laki b. Perempuan
berhubungan dengan pekerjaan Saudara/i.
1)
Umur:
tahun
2)
Jenis Kelamin:
a. Laki-laki
b. Perempuan

A. IDENTITAS RESPONDEN Petunjuk:

1.

2.

Bagian ini merupakan pertanyaan seputar identitas Saudara/i dan data yang

Berikan jawaban yang sesuai dengan identitas Saudara/i sesuai dengan pertanyaan berikut dengan mengisi titik dibawah dan melingkari (O) jawaban dibawah ini:

3)

Tingkat Pendidikan terakhir:

 

4)

D-III Keperawatan Lama Kerja:

a.

c. S-1 Keperawatan

d. Ners

tahun

70

B. KUESIONER PERAN PERAWAT Pernyataan berikut ini adalah penilaian Saudara/i terhadap peran anda sebagai perawat dalam penceg ahan dekubitus :

Petunjuk:

1. Berikan pendapat Saudara/i tentang pernyataan berikut dengan cara mengisi kolom yang tersedia dengan tanda
1.
Berikan pendapat Saudara/i tentang pernyataan berikut dengan cara
mengisi kolom yang tersedia dengan tanda checklist (√) pada salah satu
katagori yang berada di sebelah kanan pernyataan sesuai dengan kondisi
Anda.
2.
Katagori:
a. Pernyataan favorable
1
2
3
Tidak Pernah
Jarang
Selalu
b. Pernyataan unfavorable
3
2
1
Tidak Pernah
Jarang
Selalu
No
Pernyataan
Selalu
Jarang
Tidak Pernah
1.
Saya melakukan demonstrasi posisi yang
tepat untuk mengurangi risiko dekubitus
2.
Saya menggunakan balutan berbentuk
donat pada bagian tumit pasien
3.
Saya mengecek kadar hemoglobin pasien
4.
Saya
mengkaji
tanda-tanda
kerusakan
integritas kulit
5.
Saya
tidak
tahu
bagaimana
perasaan
pasien
6.
Saya melakukan pengkajian status
persepsi sensori pasien
7.
Saya mengeringkan kulit pasien dari
keringat berlebih

71

8. Saya memberikan minyak kayu putih untuk menjaga kelembaban kulit pasien 9. Saya mengkaji status
8.
Saya memberikan minyak kayu putih
untuk menjaga kelembaban kulit pasien
9.
Saya mengkaji status kemandirian pasien
dalam perawatan diri dan mobilisasi
10.
Saya
mengidentifikasi
adanya
masalah
pencernaan pasien
11.
Saya menjaga agar linen tetap kering,
bersih dan bebas dari kerutan dan benda
keras
12.
Saya mengkaji pasien risiko dekubitus
menggunakan Barthel Index
13.
Saya
mengecek
kadar
albumin
serum
pasien
14.
Saya membersihkan air liur pasien
15.
Saya mengukur suhu tubuh pasien secara
rutin
16.
Saya
melakukan
pengkajian
riwayat
merokok pasien
17.
Saya memberikan makanan tinggi serat
kepada pasien
18.
Saya melakukan pendidikan kesehatan
tentang perawatan kulit
19.
Saya melakukan pemijatan pada daerah
penonjolan tulang
20.
Saya memandikan pasien 2x sehari
21.
Saya
melakukan
pengkajian
mengenai
usia pasien
22.
Saya hanya melakukan inspeksi keadaan
kulit pasien pada saat pasien baru masuk
di Bangsal

72

23. Saya memberikan makanan sesuai permintaan pasien 24. Saya menggunakan kasur anti dekubitus berdasarkan orderan
23.
Saya
memberikan
makanan
sesuai
permintaan pasien
24.
Saya menggunakan kasur anti dekubitus
berdasarkan orderan dari dokter
25.
Saya malas melakukan pendidikan
kesehatan tentang pencegahan dekubitus
kepada keluarga pasien
26.
Saya melakukan tindakan untuk mengatur
kelembaban ruangan yang konstan
27.
Saya meletakkan bantal dibawah kaki
bagian bawah pasien
28.
Saya menggunakan sabun yang lembut
saat memandikan pasien
29.
Saya mengkaji kemampuan mengunyah
pasien
30.
Saya melakukan massage punggung
31.
Setelah memandikan pasien saya
mengeringkan kulit pasien menggunakan
handuk
32.
Saya melakukan tindakan alih baring
setiap 2 jam
33.
Saya mengkaji riwayat pembedahan atau
intervensi keperawatan yang
mempengaruhi intake nutrisi
34.
Saya
melakukan
pemijatan
pada
kulit
yang kemerahan
35.
Saya melakukan tindakan keperawatan
agar
pasien
tidak
mengompol
setelah
lepas kateter
36.
Saya menghitung IMT pasien

73

37.

Saya menggosok bagian perineal untuk membersihkan sisa feses pasien

38.

Saya mengganti diapers pasien 1 kali sehari

menggosok bagian perineal untuk membersihkan sisa feses pasien 38. Saya mengganti diapers pasien 1 kali sehari

86

86

87

87