Anda di halaman 1dari 82

MASALAH OPERASI

PADA PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK


(PLTA , PLTU)

TM - 4
PLTA
Tenaga hidro ke tenaga listrik
Sejarah
digunakannya
energi hidro
untuk
menghasilkan
energi mekanis
atau listrik,
adalah dengan
menggunakan
kincir air

4
Energi hidro adalah konversi dari energi gravitasi/
energi potensial, energi kinetik, energi mekanik dan
energi listrik
Bagaimana PLTA bekerja

 Air dari bendungan mengalir karena gravitasi sehingga memutar turbin.


 Turbin terhubung ke generator sehingga menghasilkan listrik.
 Listrik yang dihasilkan dikirimkan ke beban melalui saluran transmisi.
Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA)
Konversi energi pada PLTA : energi hidro menjadi energi listrik

Electrical
Potential Energy
Energy
Electricity

Kinetic
Energy

Mechanical
Energy
Klasifikasi PLTA berdasarkan
kapasitasnya
• Pico hidro  PLTPH
– Sampai dengan 10kW, di daerah terpencil jauh dari jaringan
• Mikro hidro  PLTMH
– Kapasitas 10kW s/d 300kW, di daerah terpencil ada yang
terisolasi dan ada yang tersambung ke jaringan
• Small hidro
– Kapasitas 300kW to 1MW
• Mini hidro  PLTM
– kapasitas diatas 1MW s/d 15 MW
• Medium hidro
– 15 MW - 100 MW
• Large hidro
– Lebih dari 100 MW
Klasifikasi PLTA
1. Berdasarkan jumlah ketersediaan air
2. Berdasarkan tinggi jatuh air (head)
3. Berdasarkan jenis pembebanan

Berdasarkan jumlah ketersediaan air :


a. PLTA jenis terusan aliran sungai (run-of-river) tanpa kolam
pengatur
PLTA jenis ini tidak menyimpan air; memanfaatkan langsung air yang
mengalir di sungai begitu air tersedia. Sehingga energi yang
dibangkitkan pembangkit ini tergantung dari laju aliran air, selama
musim penghujan aliran air di sungai menjadi besar, maka energi
listrik yang dihasilkan besar dan sebaliknya pada musim kemarau.
Klasifikasi PLTA
b. PLTA jenis terusan aliran sungai (run-of-river) dengan kolam
pengatur
Disini kolam pengatur dapat menyimpan air pada waktu diluar beban
puncak (off peak) dan memanfaatkannya selama beban puncak.
Sehingga jenis pembangkit ini dapat digunakan menyesuaikan dengan
bentuk kurva beban harian dari sistem tenaga listrik, yang tentunya
lebih bermanfaat dari pada tipe tanpa kolam pengatur.
c. PLTA dengan waduk (Dam)
waduk berfungsi untuk menyimpan air selama musim penghujan
hingga musim kemarau berikutnya. Air yang tersimpan dalam waduk
dapat dikendalikan untuk dimanfatkan sesuai kebutuhan. Pembangkit
ini mempunyai kapasitas yang lebih baik dan dapat dimanfaatkan
secara efisien sepanjang tahun. Kapasitasnya dapat diatur besar
kecilnya dan dapat digunakan baik sebagai pembangkit beban dasar
(base load) atau beban puncak (peak load) sesuai kebutuhan. Sebagian
besar PLTA adalah jenis ini. Jenis ini umumnya berfungsi juga sebagai
pengatur irigasi, banjir dan untuk rekreasi.
PLTA jenis Run of River (RoR)
Diversion (Run-of-River) Hydropower

12
Micro Run-of-River Hydropower

Bagian-bagian PLTA RoR : Ideal


• Intake dan saluran pembawa
• Forebay (kolam penenang)
• Penstock/ pipa pesat
• Rumah turbin (Powerhouse)
• Saluran pembuangan /Tailrace
13
PLTA dengan Dam/ waduk

14
Skema PLTA dengan Waduk
Dam-dam terbesar di dunia
Max Annual
Name Country Year Generation Production

Three Gorges China 2009 18,200 MW

Itaipú Brazil/Paraguay 1983 12,600 MW 93.4 TW-hrs

Guri Venezuela 1986 10,200 MW 46 TW-hrs

Grand Coulee United States 1942/80 6,809 MW 22.6 TW-hrs

Sayano Shushenskaya Russia 1983 6,400 MW

Robert-Bourassa Canada 1981 5,616 MW

Churchill Falls Canada 1971 5,429 MW 35 TW-hrs

Iron Gates Romania/Serbia 1970 2,280 MW 11.3 TW-hrs

Ranked by maximum power.

16
“Hydroelectricity,” Wikipedia.org
Three Gorges Dam (China)

17
Itaipú Dam (Brazil & Paraguay)

18
“Itaipu,” Wikipedia.org
Guri Dam (Venezuela)

19
http://www.infodestinations.com/venezuela/espanol/puerto_ordaz/index.shtml
Grand Coulee Dam (US)

20
www.swehs.co.uk/ docs/coulee.html
Klasifikasi PLTA
Berdasarkan tinggi jatuh air (head) :
a. PLTA dengan head rendah ( < 30 meter )
Bisa menggunakan waduk/ dam kecil dan rendah atau tanpa waduk.
Umumnya PLTA jenis run-of-river memiliki head < 30 meter.
Kapasitas pembangkitnya dapat sampai 25 MW
b. PLTA dengan head medium ( antara 30 m s/d 300 meter)
Umumnya menggunakan Dam besar, seperti pada PLTA Saguling,
PLTA Cirata dan PLTA Jatiluhur. Kapasitas pembangkitnya besar (PLTA
Cirata 1008 MW)
c. PLTA dengan head tinggi ( > 300 meter )
Umumnya menggunakan waduk dengan Dam besar yang terletak di
ketinggian pegunungan
Types of Hydroelectric Installation

22
Klasifikasi PLTA
Berdasarkan jenis pembebanan :
a. PLTA pemikul beban dasar (base load)
PLTA dipakai sebagai pemikul beban dasar, apabila dapat
menyediakan daya secara terus menerus sepanjang hari dan
sepanjang tahun. PLTA jenis run-of-river umumnya dioperasikan
sebagai base load, karena apabila air sungai yang tersedia tidak
dimanfaatkan maka air tsb akan dibuang percuma, padahal biaya
operasi PLTA sangat murah. PLTA waduk dapat juga dioperasikan
sebagai base load apabila kapasitas air di waduk mencukupi.
b. PLTA pemikul beban puncak (peak load)
sebagian kapasitas PLTA waduk umumnya digunakan sebagai peak
load, yaitu sebagai pengganti PLTG minyak yang umumnya
dioperasikan sebagai peaker. PLTA pumped storage dirancang khusus
sebagai PLTA peak load.
PLTA jenis pompa – turbin (pumped-storage)
masuk kategori PLTA pemikul beban puncak
PLTA jenis pumped - storage
• PLTA jenis ini membutuhkan dua buah kolam pengatur. Saat kebutuhan
listrik meningkat (malam hari), air akan dialirkan dari kolam pengendali
atas dan ditampung di kolam pengendali yang bawah. Energi potensial
aliran air inilah yang dimanfaatkan menjadi energi listrik.
• Sedangkan saat beban sistem rendah (siang/ pagi hari) , listrik yang
dihasilkan pembangkit listrik lain yang murah (batubara) digunakan untuk
memompa balik air ke kolam penampung diatas untuk digunakan kembali
saat dibutuhkan. Pada periode ini generator difungsikan sebagai motor dan
turbin difungsikan sebagai pompa.
• Di Indonesia pembangkit ini cocok dikembangkan karena pada saat malam
hari, semua orang serempak menggunakan listrik sehingga beban melonjak
secara seketika, sedangkan siang hari hanya sedikit orang yang
menggunakan listrik. Pembangkit ini bertujuan untuk menyimpan energi
listrik sisa yang dibangkitkan. Sisa listrik yang dibangkitkan oleh PLTU
lainnya digunakan untuk memompa air dan digunakan saat beban puncak
di malam hari.
Pumped Storage System

26
Boyle, Renewable Energy, 2nd edition, Oxford University Press, 2003
Cruachan Pumped Storage
(Scotland)

27
Pumped Storage Power Spectrum

28
PLTA cascade (bertingkat)
PLTA Hydroseries atau cascade atau berurutan/ bertingkat
Pada suatu Daerah Aliran Sungai (DAS) tertentu dapat dibangun
beberapa PLTA mulai dari hilir sungai hingga ke hulu sungai,
dengan menggunakan aliran sungai yang sama. Misalnya :
– PLTA Saguling – Cirata - Jatiluhur pada DAS sungai Citarum
– PLTA Wlingi – Sengguruh – Sutami pada DAS sungai Brantas
– PLTA Selorejo – Mendalan – Siman pada DAS kali Konto
Bahkan di beberapa negara dapat dibuat PLTA cascade hingga
lebih dari 5 PLTA, misalnya :
– DAS sungai Yangste di China ada 8 PLTA
– DAS sungai ........... Di Swedia hingga 9 PLTA
PLTA cascade (bertingkat)
PLTA SELOREJO
PLTA Cascade di Sungai Yangtze China
Klasifikasi Turbin Air
1. Berdasarkan jenis aliran air
a. Axial flow : memiliki aliran sepanjang poros
b. Inward radial flow : aie mengalir sepanjang radius
c. Tangensial or peripheral flow : air mengalir dari arah tangensial
d. Mixed flow : air masuk dari arah radial dan keluar dari arah axial
2. Berdasarkan gerakan air dalam memutar turbin :
a. Turbin impuls (Impulse turbine)
b. Turbin reaksi (Reaction turbine)
3. Berdasarkan nama penemunya :
a. Turbin Pelton
b. Turbin Francis
c. Turbin Kaplan
Impulse Turbines

• Menggunakan kecepatan air untuk menggerakkan


runner dan di discharges pada tekanan atmospheric .
• Semburan air menumbuk setiap bucket pada runner.
• Untuk aplikasi high head, low flow.
• Jenis turbin : Pelton turbine, Turgo turbine
Pelton Turbine
rotor turbin Pelton
Cocok untuk head tinggi:
(> 250 meters)
Merupakan turbin impuls.

Turbin Francis dan Propeller


merupakan turbin reaction .

Turbin Reaction beroperasi terendam


air

Turbin Impulse beroperasi di udara


normal
Semburan air menumbuk roda turbin pelton

Semburan air diarahkan melalui nozzle ke roda turbin Pelton


Piringan roda mentransfer kinetic energy dari air ke roda.
Turgo Turbine
Reaction Turbines

• Mengkombinasikan tekanan dan aliran air.


• Runner diletakkan langsung pada aliran air
langsung mengalir melalui sudu-sudu turbin
dan bukan menumbuk masing2 sudu.
• Untuk aplikasi Lower head and higher flows.
• Sperti turbin Francis dan Kaplan
Water Flow in a Francis Turbine
Left: relative to turbine blades Right: true water path
Francis Turbine
Kaplan Turbine
Optimum Hydroelectric Turbine Type
Pemilihan tipe turbin yg optimum tidak hanya fungsi tinggi jatuh air
(head), tetapi juga tergantunglaju aliran air (water flow rate)
Grafik pemilihan tipe turbin

44
Kurva pemilihan turbin
Generator pada PLTA
a. Generator yang digunakan umumnya jenis generator sinkron,
tipe rotor salient. Tegangan keluaran bervariasi beberapa kV
tergantung besar kecilnya kapasitas generator.
b. Sistem eksitasi , merupakan instalasi arus medan penguat, yang
menghasilkan fluksi pada celah udara antara rotor dan stator
generator. Biasanya dihasilkan dari generator DC yang seporos
dengan generator utama.
c. Perkembangan saat ini menggunakan sistem eksitasi bertingkat
tanpa sikat, terdapat generator penguat pertama (pilot exciter)
dan generator penguat kedua (main exciter) yang dihubungkan
dengan Automatic Voltage Regulator (AVR)
SALIENT POLE SYNCHRONOUS MACHINES

Salient-pole rotor: Low speed, hydroelectric power plants

p n p
fe   n
2 60 120

To produce 50 Hz electricity
p=12, n=500 rpm
p=24, n=250 rpm
Konversi Energi pada PLTA
Daya yang dibangkitkan generator pada PLTA :

P  g .T .G .Q.H .


Dimana :
P = daya listrik (kW)
Q = debit air (m3/det)
H = tinggi jatuh air (m)
ȠT = efisiensi turbin (%)
ȠG = efisiensi generator (%)
g = konstanta (9,8)
Kurva karateristik input output PLTA
Oleh karena pada PLTA, tinggi jatuh air (head) dianggap konstan,
maka output PLTA dipengaruhi oleh laju pertambahan debit air atau
Incremental Water Rate (IWR)

IWR = dQ/dP (m3/MWh)

Debit Air (Q)

(m3/det)

Daya Output (MW)


Hydro Turbine Efficiency
100 Pelton

Crossflow
80
Efficiency (%)

60 Francis
Propeller

40

20

0
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1.0
Flow as a Proportion of Design Flow
Operasi dan Pemeliharaan PLTA
• Untuk PLTA waduk besar  fungsi serbaguna, yaitu sebagai
penyedia air irigasi, pengendalian banjir, pembangkit listrik,
perikanan, pariwisata. Perlu ada koordinasi pengoperasiannya yang
melibatkan banyak pihak.
• Waduk didesain bisa tahan beberapa puluh tahun, dengan dasar
laju sedimentasi tertentu. Perlu dijaga pelestarian hutan di daerah
aliran sungai (DAS). Hutan diarea DAS rusak, tanahnya tidak mampu
menyimpan air, terjadi erosi yang meningkatkan laju sedimentasi,
yang dapat mengurangi umur waduk.
• Keuntungan pengoperasian PLTA, mudah start-stop, biaya operasi
rendah, perubahan beban mudah, angka gangguan rendah,
pemeliharaan mudah, umumnya dapat dipakai black start.
• Pembebanan pada PLTA biasanya dibatasi minimum 25% agar tidak
terjadi gejala kavitasi pada draugh tube (pipa air keluar turbin),
sehingga menjadi keropos
Operasi dan Pemeliharaan PLTA
• Masalah operasi lain yang sering terjadi pada PLTA di Indonesia
adalah terjadinya penyumbatan pada intake baik oleh sampah
maupun oleh tanaman enceng gondok
• Efisiensi keseluruhan suatu PLTA (turbin, generator dan
pemakaian sendiri) sekitar 90%
• Energi yang dihasilkan PLTA tergantung pada curah hujan dan
kemampuan waduk menampung air pada waktu musim hujan.
Karakteristik curah hujan setiap tahun berubah-ubah, ada tahun
basah, ada tahun kering.
• Apabila kapasitas waduk tidak bisa menampung air pada waktu
tahun basah, maka akan terjadi pembuangan air melalui limpas.
Sebaliknya apabila air masuk ke waduk lebih sedikit dari kapasitas
waduk, maka PLTA tidak bisa berbeban penuh sepanjang tahun.
• Untuk itu perlu ada pola pengendalian air waduk, agar tidak
limpas dan tidak kekurangan air. Hal ini sangat penting pada
pengoperasian PLTA cascade, (misal pada DAS Citarum).
Duga Muka Air (DMA) waduk
TMA ( m dpl. )
99,0
DMA Waduk 98,9
Cirata 97,8
222
94,0 94,1 220,0
218
TMA ( m dpl. )

214
213,5 90,8 212,6
210
89,0 210
87,5
207,4
206
206,0

202
84,0
Jan Jan FebFeb MarMar AprApr Mei
Mei Jun
Jun JulJul AguAgu SepSep Okt Okt Nop NopDes Des

Maks. Min. Normal Kering Basah SPKTPA Real


Contoh 1
Pada suatu aliran sungai di pegunungan memiliki head afektif 25
meter dan flow rate 600 ltr/ mnt. Apabila akan dibangun suatu
pembangkit hidro, berapa dya yang bisa dihasilkan ? Diasumsikan
efisiensi pembangkit () 83%. (g = 10 m/det2)

• H = 25 m
• Q = 600 ℓ/min × 1 m3/1000 ℓ × 1 min/60sec
Q = 0.01 m3/sec
•  = 0.83

• P  gηQH = 10QH = 10(0.83)(0.01)(25) = 2.075


P  2.1 kW

55
Contoh 2
Berapa banyak energi (E) yang akan diproduksi selama setahun?

•E = P×t
E = 2.1 kW × 24 jam/hari × 365 hari/thn
E = 18,396 kWh

Berapa banyak rumah yang dapat dialiri listrik bila tiap rumah
membutuhkan 600 kWh per tahunnya ?(hanya untuk
penerangan)

• Jumalh rumah = E÷600 = 18396/600 = 30,5


• Kira-kira 30 rumah
56
Contoh 3
Pada lokasi lain terdapadengan head efektif 100 m dan flow
rate 6.00 m3/ detik. Berapa Daya yang bisa dibangkitkan.

• P  10QH = 10(0.83)(6000)(100)
P  498 MW
• E = P×t = 498 MW × 24 × 365
E = 4.362, 50 GWh
• Bila tiap rumah di kota rata-rata membutuhkan listrik 3000
kWh per tahun.
• Jumlah rumah = E÷3000 = 4.362,5 GWh / 3,000 kWh
People = 1.45 juta rumah

57
PLTU
Prinsip kerja PLTU

Dalam PLTU, energi primer yang dikonversikan menjadi energi


listrik adalah bahan bakar. Bisa dari bahan bakar padat, cair
atau gas atau bahkan kombinasi.
Konversi energi tingkat pertama yang berlangsung dalam
PLTU adalah konversi energi primer menjadi energi panas
(kalor) dalam uap air. Hal ini dilakukan dalam ruang bakar dari
ketel uap (boiler) PLTU.
Dalam turbin uap, energi uap dikonversikan menjadi energi
mekanis penggerak generator, dan akhirnya menghasilkan
energi listrik.
Prinsip kerja PLTU
• Sebuah pembangkit listrik jika dilihat dari bahan baku untuk
memproduksinya, maka Pembangkit Listrik Tenaga Uap bisa dikatakan
pembangkit yang berbahan baku Air. Kenapa tidak UAP? Uap disini
hanya sebagai tenaga pemutar turbin, sementara untuk menghasilkan
uap dalam jumlah tertentu diperlukan air. Menariknya didalam PLTU
terdapat proses yang terus menerus berlangsung dan berulang-ulang.
Prosesnya antara air menjadi uap kemudian uap kembali menjadi air
dan seterusnya. Proses inilah yang dimaksud dengan Siklus PLTU.
• Air yang digunakan dalam siklus PLTU ini disebut Air Demin
(Demineralized), yakni air yang mempunyai kadar conductivity
(kemampuan untuk menghantarkan listrik) sebesar 0.2 µs (mikro
siemen). Sebagai perbandingan air mineral yang kita minum sehari-hari
mempunyai kadar conductivity sekitar 100 – 200 µs. Untuk
mendapatkan air demin ini, setiap unit PLTU biasanya dilengkapi
dengan Desalination Plant dan Demineralization Plant yang berfungsi
untuk memproduksi air demin ini.
Siklus PLTU
Siklus Carnot
• Energi sebagai suatu arus panas dapat berasal dari pembakaran
bahan bakar. Energi yang berupa panas ini dapat dikonversikan
menjadi energi mekanik sehingga menjelma menjadi “Kerja”.
• Pada pembangkit listrik termal, mengubah energi panas menjadi
energi mekanik dan energi listrik melalui siklus konversi energi.
• Suatu siklus konversi energi, menerima sejumlah energi panas pada
suhu tertentu, mengubah sebagian energi panas menjadi “kerja
yang bermanfaat” dan membuang/ meneruskan selebihnya pada
lingkungan atau penerima panas sebagai “rugi-rugi panas” pada
tingkat suhu yang lebih rendah.
• Siklus Carnot merupakan siklus konversi energi panas yang ideal,
dimana pada saat terjadi konversi energi panas menjadi kerja
dianggap terjadi pada suhu yang konstan. Energi panas masuk dan
keluar sistem pada suhu yang konstan. Dalam praktek nyata hal ini
menyalahi hukum termodinamika.

62
Siklus Carnot
Carnot Cycle
Process Description
1-2 Isothermal heat addition
2-3 Isentropic expansion
3-4 Isothermal heat rejection
4-1 Isentropic compression

Diagram siklus Carnot Ideal :


Pada P-V diagram
Luas 1-2-3-4 = jumlah kerja yang dihasilkan
pada siklus tertutup  W
Pada T-S diagram
Luas 1-2-3-4 = jumlah energi yang
masuk pada siklus sistem  Q
Pada suatu siklus energi W = Q
Efisiensi termal siklus Carnot
TH  TL T
 1 L
TH TH
Spring 2010 63
Siklus Rankine pada PLTU
• Merupakan siklus panas teoritis paling sederhana yang
mempergunakan uap sebagai medium kerja.
• Pada siklus panas PLTU komponen utamanya adalah : Boiler, turbin
uap dan kondenser
• Jumlah energi panas dari bahan bakar (batubara/minyak/gas/nuklir,
dll) yang masuk boiler adalah Ein.
• Sedangkan energi efektif yang tersedia/ keluar dari poros turbin uap
adalah energi kerja Ek.
• Energi yang terbuang melalui kondenser adalah Eb.
• Dengan asumsi semua rugi-rugi panas terbuang pada Eb, maka :
Ein = Ek + Eb
Ek Ein  Eb
• Dengan efisiensi kerja :   
Ein Ein
Siklus Rankine (PLTU)

Fluida kerja (air-uap air) menjalani proses-proses:


• penyerapan panas pada tekanan tetap di boiler (QA)
• ekspansi adiabatik untuk menghasilkan kerja di turbin (WT)
• pembuangan panas pada tekanan tetap di condensor (QR)
• pemompaan untuk menaikkan tekanan (WP)
Dasar Termodinamika
Sistem turbin uap didasari Siklus Rankine
temperatu
r

P2

a b
P1 2 P3
1

4 3

entropi
Efisiensi siklus Rankine < efisiensi siklus Carnot
(pada rentang temperatur kerja kedua siklus sama)
bandingkan luas bidang 1-b-2-3-4-1 (untuk siklus Rankine) terhadap luas bidang 1-a-
b-2-3-4-1 (untuk siklus Carnot)
Siklus Rankine (PLTU)

Diagram siklus Rankine Ideal : Gambar (a) P-V diagram ; Gambar (b) T-S diagram
Garis 1-2-3-4-B-1 = garis siklus saturated steam
Garis 1’-2’-3-4-B-1’ = garis siklus superheated steam
CP = critical point
Siklus Rankine modifikasi
• Untuk menghindari adanya dua phase fluida dalam siklus, dapat
dilakukan dengan mengkondensasikan seluruh uap yang keluar dari
turbin menjadi cairan yang saturated liquid sebelum ditekan oleh pompa.

T 3

1 4
s

• Ketika uap saturated masuk ke turbin, temperatur dan tekanannya turun


dan titik-titik air akan terbentuk karena kondensasi. Titik-titik air ini akan
menyebabkan kerusakan pada sudu turbin karena korosi. Salah satu
metoda untuk menyempurnakan proses adalah : superheating terhadap
uap. Dampaknya dapat menaikkan efisiensi termal dari siklus.
SIKLUS RANKINE : Siklus Ideal
untuk PLTU
Banyak hal tidak praktis terkait dengan siklus Carnot dapat dieliminasi
dengan proses superheating terhadap uap dalam boiler dan proses
kondensasi secara keseluruhan dalam condenser. Siklus yang
dihasilkan adalah Siklus Rankine , yang merupakan siklus ideal untuk
pembangkit listrik tenaga uap. Siklus ideal Rankine tidak melibatkan
adanya internal irreversibilities.

69
The simple ideal Rankine cycle.
Siklus pemanasan ulang
• Pada siklus pemanasan ulang (reheating), dilakukan dengan
menaikkan tekanan boiler tanpa menurunkan kualitas uap
yang keluar turbin
• Berdampak pada naiknya thermal efisiensi dari siklus
Siklus Regeneratif
• Melakukan pemanasan awal uap yang masuk boiler
menggunakan feedwater heater, guna menaikkan
efficiency
– Also deaerates the fluid and reduces large volume flow
rates at turbine exit.
A more complicated cycle…
Siklus Uap dan Air
Pada PLTU gas buang sisa pembakaran bahan bakar pada boiler,
masih memiliki temperatur yang cukup tinggi diatas 400 oC.
Sebelum dikeluarkan melalui cerobong, gas buang ini masih
dapat dimanfaatkan, antara lain :
• Pemanas lanjut (superheater), gas buang untuk memanaskan
uap yang keluar dari steam drum, sehingga suhu uap naik, dan
uapnya menjadi lebih kering.
• Pemanas ulang (reheater), uap air yang sdh digunakan untuk
menggerakkan turbin tekanan tinggi, sebelum memasuki
turbin tingkat berikutnya, dilewatkan dulu pada saluran gas
buang sehingga suhu uapnya meningkat.
• Economizer, air yang akan disupplay ke boiler dilewatkan dulu
pada saluran gas buang, agar suhu air naik, sehingga
dibutuhkan bahan bakar lebih sedikit untuk menguapkan air
Peningkatan efisiensi siklus air pada boiler
Masalah Operasi PLTU
• Waktu yang dibutuhkan PLTU start dari dingin hingga beban penuh : 6 – 8
jam dari keadaan dingin (cold start). Bila PLTU sdh beroperasi dihentikan
krn suatu sebab, selama suhu dan tekanan uap dijaga tetap sekitar 500 oC
dan 100 kg/cm2, waktu yang dibutuhkan untuk kembali berbeban penuh :
1 jam (hot start). Lamanya waktu tersebut guna menghasilkan uap dengan
jumlah yang cukup.
• Pada waktu start yang perlu diperhatikan adalah menjaga agar perubahan
suhu turbin tidak mendadak dan dijaga supaya perubahannya merata.
• Apabila turbin sedang berbeban penuh mendadak harus berhenti, maka
agar tidak terjadi over speed, aliran uap ke turbin harus segera ditutup.
Langkah selanjutnya adalah mengurangi produksi uap dari boiler, dengan
mamatikan nyala api pada ruang bakar boiler.
• Mengingat cukup rumitnya pengoperasian PLTU, maka umumnya PLTU
dioperasikan tidak dengan perubahan beban yang besar. Disamping itu
karena perubahan daya persatuan waktu dari PLTU relatif rendah sekitar 5
% per menit.
Masalah Operasi PLTU
• Dalam keadaan normal beban maksimum pada PLTU adalah 100%
kapasitas mesinnya, namun biasanya terdapat spesifikasi beban
maksimum untuk operasi kontinu dan beban maksimum untuk operasi
dlm waktu tertentu (110%)
• Beban minimum adalah 25% dari kapasitas mesin, hal ini lebih
dikarenakan masalah kontrol, karena sifat tidak liniernya peralatan kontrol,
dibawah 25% PLTU tersebut menjadi sulit dikendalikan
• Kecepatan perubahan beban sangta tergantung pada kondisi beban
permulaan, karena jumlah burner dan pompa pengisian air boiler yg
dioperasikan tergantung pada besar pembebanannya.
Masalah pemeliharaan PLTU
• Bagian PLTU yang harus dilakukan pemeliharaan periodik a.l :
• Bagian yang berhubungan dengan gas buang (pipa boiler dan pipa air
pendingin). Pipa boiler perlu dibersihkan agar tidak menghambat proses
perpindahan panas. Semua peralatan yang berada dalam saluran gas
buang juga perlu dibersihkan secara periodik, seperti, superheater,
reheater, economizer.
• Saluran air pendingin yang menggunakan air laut, sering ditempeli
binatang laut. Pada PLTU terdapat Chlorination Plant yang akan
menyuntikkan gas Chlor kedalam air pendingin, guna menghilangkan
binatang laut tesebut. Pipa kondensor PLTU yang penampangnya lebih
kecil harus lebih sering dibersihkan. Pipa kondensor ada yang terbuat dari
tembaga dan ada yang titanium, pipa tembaga daya hantar panasnya lebih
baik tetapi kekuatan mekanisnya tidak sebaik titanium. Oleh karena itu
pembersihan pipa titanium harus lebih sering, biasanya dengan bola-
pembersih.
Masalah pemeliharaan PLTU
• Sambungan pipa kondensor PLTU, rawan kebocoran yang dapat
mengkontaminasi NaCl pada air boiler. Sehingga air masuk boiler harus di
periksa daya hantar listriknya untuk menyetahui tingkat kebocoran
kondensor
• Bagian-bagian PLTU yang rawan kerusakan dan perlu diperiksa secara
periodik antara lain : bantalan, roda gigi, penukar panas, pompa-pompa,
saklar dan relai.
• Oleh karena pemeliharaan teesebut diatas umumnya mangharuskan PLTU
dalam keadaan mati, maka biasanya dilakukan bersamaan dengan
pekerjaan overhaul tahunan. Kecuali untuk turbin biasanya memerlukan
pemeliharaan yang lebih lama.
• Siklus pemeliharaan rutin suatu PLTU adalah sbb :
– Simple Inspection
– Mean Inspection
– Simple inspection
– Serius Inspection
Coal vs. Hydro Kinetic Energy Conversion

35% 95%
Teknologi PLTU Supercritical
• Kondisi superkritikal adalah kondisi pada suhu dan tekanan di atas titik
kritikal termodinamika.
• Ketika suhu dan tekanan dari uap aktif meningkat melebihi titik jenuh air,
sifat dari uap akan berubah secara dramatis. Titik jenuh air berada pada
374 °C dan 221.2 bar (218 atm), Di atas titik jenuhnya, air tidak mengalami
fase perubahan menjadi uap air, namun menjadi air supercritical. Air
supercritical tidak berbentuk gas atau air, namun berada pada dua fase
tersebut. Air supercritical memiliki daya pelarut seperti air, namun sifat
perpindahannya seperti gas.
• Teknologi super-critical adalah teknologi baru yang memungkinkan emisi
karbon dioksida dari pembangkit menjadi lebih rendah. Teknologi ini
dianggap salah satu cara yang paling praktis baik untuk mengurangi emisi
maupun menggunakan batubara dengan lebih efisien.
• Fasilitas pembakar batubara yang beroperasi pada suhu yang lebih tinggi
dapat meningkatkan efisiensi hingga 20% untuk Super-critical steam plants
dan sebanyak 45% untuk Ultra Super-critical steam plants.
Teknologi PLTU Supercritical
Dengan penggunaan batubara
yag lebih efisien, emisi dapat
diturunkan dengan teknologi :
• Emisi Nox dapat diturunkan
dengan kombinasi low NOx
burner dan catalytic
reduction technology
• Emsisi SOx dan NO2 dapat
dikurangi dengan
penangkapan partikel sulfur
yaitu wet limestone-gypsum
flue gas desuphurization.
• Emisi partikel lain dapat
Sub critical : 400-540 C, 10-150 bar dikurangi dengan
Supercritical : 600 C, 240 bar
electrostatic precipitator
Tugas - 3
Jelaskan masing-masing untuk PLTA RoR dan PLTA waduk aspek-
aspek :
a. Optimasi pemilihan turbin air berdasarkan debit air,
tinggi jatuh air dan kapasitas daya
b. Komponen instalasi PLTA mulai air di ambil dari sungai
hingga kembali ke sungai
c. Pola operasi PLTA harian
Pada suatu PLTA, air mengalir pada pipa pesat yang berdiamater
85 cm, dengan kecepatan air 40 m/detik. Tinggi jatuh air adalah
20 meter. Apabila ρ = 1000 kg/m3 dan grafitasi = 10 m/detik2.
Tentukan :
i. Debit air
ii. Daya yang dihasilkan PLTA
iii. Energi yang diproduksi PLTA selama setahun apabila capacity
factornya 30%