Anda di halaman 1dari 46

TUGAS MATA KULIAH

KEPERAWATAN ANAK

“FAMILY CENTERED CARE (FCC) & HEALTH


PROMOTION PADA INFANT-REMAJA”

Disusun oleh:
Kelompok 9
1. Abdurrahman Nata Negara
2. Emmy Putri Wahyuni
3. Iis Sugiarty

Dosen Pembimbing:
1. Ns. Grace Carol Sipasulta, S. Kep., M. Kep., Sp. Mat.
2. Ns. Junita Lusty, S. Kep.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TAHUN 2019

1
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga penulisan makalah “Family Centered Care (FCC) Health
Promotion pada Infant-Remaja” dapat kami selesaikan.

Shalawat beriring salam semoga dilimpahkan kepada Baginda Rasulullah


saw, keluarga, para sahabat dan orang-orang yang istiqamah di jalan-Nya hingga
akhir zaman.

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata ajar
Keperawatan Anak. Selain itu, agar pembaca dapat memperluas ilmu yang
berkaitan dengan judul laporan, yang kami sajikan berdasarkan pengamatan dari
berbagai sumber dan hasil kegiatan yang telah dilakukan.

Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak terkait, terutama


kepada dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan pengajaran
dalam penyelesaian makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada
pembaca. Dan kami menyadari masih banyak kekurangan yang mendasar dalam
makalah ini. Oleh karena itu, kami memohon keterbukaan dalam pemberian saran
dan kritik agar lebih baik lagi untuk ke depannya.

Samarinda, Januari 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI
Halaman Judul ......................................................................................... i
Kata Pengantar ........................................................................................ ii
Daftar Isi ................................................................................................... iii
BAB I – PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................ 2
D. Manfaat .......................................................................................... 3
E. Sistematika Penulisan .................................................................... 3

BAB II – TELAAH PUSTAKA


A. Pengertian Family Centered Care (FCC) ...................................... 4
B. Manfaat Penerapan Family Centered Care (FCC) ........................ 4
C. Elemen-elemen Family Centered Care (FCC) ............................. 5
D. Prinsip Family Centered Care (FCC) ........................................... 6
E. Kebijakan terkait Family Centered Care (FCC) ........................... 8
F. Pengertian Health Promotion ......................................................... 10
G. Tujuan Health Promotion ............................................................... 10
H. Ruang Lingkup Health Promotion pada Bayi ................................. 12
I. Ruang Lingkup Health Promotion pada Balita .............................. 14
J. Ruang Lingkup Health Promotion pada Remaja ........................... 15
K. Peran Perawat ................................................................................. 17
L. Pentingnya Health Promotion ........................................................ 18
M. Diagnosa Keperawatan ................................................................... 19

BAB III - PENUTUP


A. Kesimpulan .................................................................................... 24
B. Saran ............................................................................................... 24

Daftar Pustaka .......................................................................................... 26


Lampiran .................................................................................................. 27

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Family Centered Care (FCC) merupakan pendekatan yang
digunakan dalam memberikan pelayanan kesehatan pada anak dengan
melibatkan orang tua. Family Center Care juga menekankan keterlibatan
orang tua atau keluarga anak dalam pemberian asuhan keperawatan pada
anak di rumah sakit (Hidayat, 2008). Keluarga didukung dalam peran
pemberian asuhan keperawatan dan keputusan dengan melihat keluarga
sebagai sumber kekuatan dalam masalah keperawatan (Wong, 2008).
Penerapan Family Centered Care bermanfaat untuk meningkatkan
kerjasama yang optimal pada keluarga dalam pengambilan keputusan
berdasarkan informasi dari keluarga (Saleeba, 2008). Tujuan penerapan
Family Centered Care dalam perawatan anak, menurut Brunner &
Suddarth (1986 dalam Fretes, 2012) adalah memberikan kesempatan bagi
orang tua merawat anak mereka dalam proses hospitalisasi dengan
pengawasan dari perawat dengan aturan yang berlaku.
Family Centered Care merupakan suatu metode perawatan bagi
anak dan keluarganya, tidak hanya ditujukan pada individu tetapi semua
anggota keluarga dianggap sebagai penerima perawatan. Konsep FCC
didasarkan pada sejumlah elemen pendukung yang diantaranya: adanya
pengakuan bahwa keluarga merupakan konstanta dalam kehidupan anak,
pengakuan terhadap kekuatan keluarga, serta fasilitas kolaborasi antara
keluarga pasien dengan tenaga profesional kesehatan (Institute for Patient
and Family Centered Care, 2011).
Perawat merupakan salah satu tenaga professional kesehatan yang
berperan dalam upaya meningkatkan kesehatan pasien dan keluarga
melalui kegiatan health promotion. Dalam penerapan di lapangan, perawat
memegang peranan sebagai agen pembawa perubahan (change agent),

4
sebagai fasilitator dalam pemberdayaan, dan sebagai praktisi pembuat
strategi (Piper, 2009).
Oleh karena itu perawat harus memiliki pengetahuan dan
kompetensi yang cukup dalam pelaksanaan Family Centered Care
sehingga asuhan keperawatan dapat berjalan dengan baik. Pengetahuan
(knowledge) juga diartikan sebagai hasil pengindraan manusia atau hasil
tahu seseorang terhadap objek melalui indra yang dimilikinya (mata,
hidung, dan sebaginya), dengan sendirinya pada waktu penginderaan
sehingga menghasilkan pengetahuan. Hal tersebut sangat dipengaruhi oleh
intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek salah satunya melalui
health promotion (Notoadmojo, 2007).

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka bagaimana konsep
Family Centered Care (FCC) dan health promotion pada infant-remaja?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui dengan jelas tentang konsep Family Centered
Care (FCC) dan health promotion pada infant-remaja.
2. Tujuan khusus
Agar mahasiswa/ (i) mengetahui dan memahami tentang:
a. Pengertian Family Center Care (FCC) dan health promotion pada
infant-remaja
b. Tujuan Family Center Care (FCC) dan health promotion pada
infant-remaja
c. Prinsip Family Center Care (FCC) dan health promotion pada
infant-remaja
d. Kebijakan Family Center Care (FCC)
e. Ruang lingkup health promotion.

5
D. Manfaat
1. Bagi Penulis
Diharapkan agar penulis mempunyai tambahan wawasan dan
pengetahuan dalam konsep Family Centered Care (FCC) dan health
promotion pada infant-remaja.
2. Bagi Institusi Pelayanan
Menjadi acuan dalam memberikan asuhan keperawatan anak yang
berfokus pada Family Centered Care (FCC) dan health promotion
pada infant-remaja.
3. Bagi Institusi Pendidikan
Sebagai sumber bacaan atau referensi untuk meningkatkan kualitas
pendidikan keperawatan dan sebagai masukan dalam peningkatan
asuhan keperawatan yang berfokus pada Family Centered Care (FCC)
dan health promotion pada infant-remaja.

E. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan makalah ini dibagi dalam beberapa bab, yaitu:
Bab I : Berisi pendahuluan yang terdiri dari latar belakang
belakang, rumusan masalah, tujuan dan sistematika
penulisan.
Bab II : Berisi tinjauan pustaka yang terdiri dari konsep Family
Centered Care (FCC) dan health promotion pada infant-
remaja.
Bab III : Berisi penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

6
BAB II

TELAAH PUSTAKA

A. Pengertian Family Centered Care (FCC)


Family Centered Care (FCC) atau perawatan yang berpusat pada
keluarga didefinisikan sebagai filosofi perawatan berpusat pada keluarga,
mengakui keluarga sebagai konstanta dalam kehidupan anak. Family
Centered Care meyakini adanya dukungan individu, menghormati,
mendorong dan meningkatkan kekuatan dan kompetensi keluarga.
Intervensi keperawatan dengan menggunakan pendekatan Family
Centered Care menekankan bahwa pembuatan kebijakan, perencanaan
program perawatan, perancangan fasilitas kesehatan, dan interaksi sehari-
hari antara klien dengan tenaga kesehatan harus melibatkan keluarga.
Keluarga diberikan kewenangan untuk terlibat dalam perawatan klien,
yang berarti keluarga dengan latar belakang pengalaman, keahlian dan
kompetensi keluarga memberikan manfaat positif dalam perawatan anak.
Memberikan kewenangan kepada keluarga berarti membuka jalan bagi
keluarga untuk mengetahui kekuatan, kemampuan keluarga dalam
merawat anak (Yuliastati & Nining, 2016).

B. Manfaat Penerapan Family Centered Care


Manfaat penerapan Family Centered Care adalah sebagai berikut
(Yuliastati & Nining, 2016) :
1. Hubungan tenaga kesehatan dengan keluarga semakin menguat dalam
meningkatkan kesehatan dan perkembangan setiap anak.
2. Meningkatkan pengambilan keputusan klinis berdasarkan informasi
yang lebih baik dan proses kolaborasi.
3. Membuat dan mengembangkan tindak lanjut rencana perawatan
berkolaborasi dengan keluarga.

7
4. Meningkatkan pemahaman tentang kekuatan yang dimiliki keluarga
dan kapasitas pemberi pelayanan.
5. Penggunaan sumber-sumber pelayanan kesehatan dan waktu tenaga
profesional lebih efisien dan efektif (mengoptimalkan manajemen
perawatan di rumah, mengurangi kunjungan ke unit gawat darurat atau
rumah sakit jika tidak perlu, lebih efektif dalam menggunakan cara
pencegahan).
6. Mengembangkan komunikasi antara anggota tim kesehatan.
7. Persaingan pemasaran pelayanan kesehatan kompetitif.
8. Meningkatkan lingkungan pembelajaran untuk spesialis anak dan
tenaga profesi lainnya dalam pelatihan-pelatihan.
9. Menciptakan lingkungan yang meningkatkan kepuasan profesional.
10. Mempertinggi kepuasan anak dan keluarga atas pelayanan kesehatan
yang diterima.

C. Elemen-elemen Family Centered Care (FCC)


Dalam Family Centered Care kebutuhan semua anggota keluarga
tidak hanya harus dipertimbangkan, dengan mengacu pada elemen penting
Family Centered Care yang meliputi (Yuliastati & Nining, 2016):
1. Memasukkan pemahaman ke dalam kebijakan dan praktik bahwa
keluarga bersifat konstan dalam kehidupan anak, sementara sistem
pelayanan dari personal pendukung di dalam sistem tersebut berubah-
ubah.
2. Memfasilitasi kolaborasi keluarga/profesional pada semua tingkat
pelayanan keperawatan di rumah sakit, rumah, dan di masyarakat.
Perawatan anak secara individual, pengembangan implementasi dan
evaluasi program serta pembentukan kebijakan.
3. Saling bertukar informasi yang lengkap dan jelas antara anggota
keluarga dan profesional dalam hal dukungan tentang cara yang
supportif di setiap saat.

8
4. Menggabungkan pemahaman dan penghormatan terhadap
keanekaragaman budaya, kekuatan dan individualitas di dalam dan
diantara seluruh keluarga termasuk keanekaragaman suku, ras,
spiritual, sosial, ekonomi, bidang pendidikan dan geografi ke dalam
kebijakan praktik.
5. Mengenali dan menghormati metode koping yang berbeda dan
menerapkan program dan kebijakan menyeluruh yang menyediakan
pelayanan perkembangan, pendidikan, emosi, lingkungan dan
dukungan keuangan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang
berbeda-beda.
6. Mendorong dan memfasilitasi dukungan dan jaringan kerja sama
keluarga dengan keluarga.
7. Menetapkan bahwa rumah, rumah sakit, dan pelayanan masyarakat dan
sistem pendukung untuk anak-anak yang memerlukan pelayanan
kesehatan khusus dan keluarganya bersifat fleksibel, dapat diakses, dan
komprehensif dalam menjawab pemenuhan kebutuhan keluarga yang
berbeda sesuai yang diperlukan.
8. Menghargai keluarga sebagai keluarga, dan anak-anak sebagai anak-
anak, mengakui bahwa mereka memiliki beragam kekuatan, perhatian,
emosi dan cita-cita yang melebihi kebutuhan mereka untuk
mendapatkan layanan dan dukungan kesehatan serta perkembangan
khususnya.

D. Prinsip-prinsip Family Centered Care (FCC)


Beberapa prinsip Family Centered Care meliputi (Yuliastati &
Nining, 2016) :
1. Menghormati setiap anak dan keluarganya.
Perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada anak
menghormati anak dan keluarga sebagai subjek perawatan. Perawat
menghormati anak dan keluarga memiliki pilihan yang terbaik bagi
perawatan mereka.

9
2. Menghargai perbedaan suku, budaya, sosial, ekonomi, agama, dan
pengalaman tentang sehat sakit yang ada pada anak dan keluarga.
Perawat menghargai perbedaan suku, budaya, sosial ekonomi, agama
dan pengalaman tentang sehat sakit anak dan keluarga dalam
memberikan asuhan keperawatan. Pelayanan yang diberikan mengacu
kepada standar asuhan keperawatan dan diperlakukan sama pada
semua pasien dan keluarga.
3. Mengenali dan memperkuat kelebihan yang ada pada anak dan
keluarga. Mengkaji kelebihan keluarga dan membantu
mengembangkan kelebihan keluarga dalam proses asuhan keperawatan
pada klien.
4. Mendukung dan memfasilitasi pilihan anak dan keluarga dalam
memilih pelayanan kesehatannya. Memberikan kesempatan kepada
keluarga dan anak untuk memilih fasilitas kesehatan yang sesuai untuk
mereka, menghargai pilihan dan mendukung keluarga.
5. Menjamin pelayanan yang diperoleh anak dan keluarga sesuai dengan
kebutuhan, keyakinan, nilai, dan budaya mereka. Memonitor
pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan, nilai,
keyakinan dan budaya pasien dan keluarga.
6. Berbagi informasi secara jujur dan tidak bias dengan anak dan
keluarga sebagai cara untuk memperkuat dan mendayagunakan anak
dan keluarga dalam meningkatkan derajat kesehatan. Petugas
kesehatan memberikan informasi yang berguna bagi pasien dan
keluarga, dengan benar dan tidak memihak. Informasi yang diberikan
harus lengkap, benar dan akurat.
7. Memberikan dan menjamin dukungan formal dan informal untuk anak
dan keluarga. Memfasilitasi pembentukan support grup untuk anak dan
keluarga, melakukan pendampingan kepada keluarga, menyediakan
akses informasi support grup yang tersedia dimasyarakat.
8. Berkolaborasi dengan anak dan keluarga dalam penyusunan dan
pengembangan program perawatan anak di berbagai tingkat pelayanan

10
kesehatan. Melibatkan keluarga dalam perencanaan program
perawatan anak, meminta pendapat dan ide keluarga untuk
pengembangan program yang akan dilakukan.
9. Mendorong anak dan keluarga untuk menemukan kelebihan dan
kekuatan yang dimiliki, membangun rasa percaya diri, dan membuat
pilihan dalam menentukan pelayanan kesehatan anak. Petugas
kesehatan berupaya meningkatkan rasa percaya diri keluarga dengan
memberikan pengetahuan yang keluarga butuhkan dalam perawatan
anak (American Academy of Pediatric, 2003).

E. Kebijakan terkait Family Centered Care (FCC)


Kebijakan terkait Family Centered Care (Harson 1997 dalam
Fiane, 2012) adalah :
1. Pengaturan jadwal kegiatan untuk anak-anak
Mengatur jadwal aktivitas anak pada saat dirawat dengan
melibatkan anak dan orang tua. Pengaturan jadwal dengan berdasarkan
aktivitas yang dilakukan di rumah seperti jam mandi, makan, nonton
televisi, bermain. Pengaturan jadwal ini akan membantu anak
beradaptasi, meningkatkan kontrol diri terhadap aktivitas selama
dirawat dan meminimalkan kejadian anak kekurangan istirahat seperti:
anak sedang istirahat kemudian ada suster yang memberikan tindakan
pada anak, sehingga waktu istirahat anak berkurang.
2. Fasilitas kemandirian anak
Anak dilibatkan dalam proses keperawatan dengan melibatkan
kemandirian melalui self care seperti: mengatur jadwal kegiatan,
memilih makanan, mengenakan baju, mengatur waktu tidur. Prinsip
tindakan ini adalah perawat respek terhadap individualitas pasien dan
keputusan yang diambil.
3. Berikan pemahaman atau informasi
Anak pra sekolah memiliki kemampuan kognitif berfikir magis
yang mengakibatkan kesalahan interpretasi terhadap sakit sebagai

11
hukuman. Petugas kesehatan memberikan informasi yang jelas tentang
prosedur yang akan dilakukan, berikan kesempatan anak memegang
alat yang akan digunakan, misalnya stetoskop atau kompetensi anak
selama dan menggunakan sebagai dasar pengalaman untuk dimasa
mendatang.
4. Mempertahankan sosialisasi
Memfasilitasi terbentuknya support group diantara orang tua dan
anak, sehingga orang tua dan anak mendapatkan dukungan dari
lingkungan. Misalnya grup orang tua dengan talasemia, grup anak
dengan penyakit asma. Perawat dapat memfasilitasi grup untuk tukar
menukar pengalaman selama merawat anak baik melalui kegiatan
informal atau formal seperti seminar.
5. Fasilitas
Ruangan pengkajian khusus untuk anak. Pengadaan ruangan
khusus yang menjamin privacy orang tua untuk menjelaskan riwayat
kesehatan anak sehingga akan memberikan dampak orang tua tidak
ragu-ragu, tidak khawatir informasi dipertahankan oleh tenaga
kesehatan. Setelah data tentang anak didapatkan petugas kesehatan
dapat melibatkan orang tua dalam perencanaan asuhan keperawatan
anak yang merupakan salah satu prinsip Family Centered Care. Selain
itu terkait dengan konsep Atraumatik Care dan hospitalisasi, maka
ruang rawat anak perlu didekorasi (Room’s setting, colour, pictures)
untuk meningkatkan rasa nyaman toddler dan ruang tindakan harus
dapat menurunkan kecemasan toddler. Diperlukan juga adanya
ruangan bermain dan berbagai macam permainan (Toys in pediatric
room) untuk menunjang dan menstimulasi tumbuh kembang,
menurunkan stranger ansietas, takut dan nyeri serta hospitalization.
6. Menyediakan ruangan bermain
Pengadaan ruang bermain akan membantu anak beradaptasi selama
perawatan di Rumah Sakit. Kegiatan bermain akan memberikan
stimulasi perkembangan motorik halus, kasar, personal sosial dan

12
bahasa pada anak. Kegiatan bermain akan menimbulkan perasaan
relaks pada anak dan meminimalkan kebosanan selama perawatan.
Dengan bermain diharapkan anak dapat mengekspresikan kekreatifan
dan perasaan (Dennis, 2012).

F. Definisi Health Promotion


Green dan Kreuter (2005) menyatakan bahwa “Health Promotion
adalah kombinasi upaya-upaya pendidikan, kebijakan (politik), peraturan,
dan organisasi untuk mendukung kegiatan-kegiatan dan kondisi-kondisi
hidup yang menguntungkan kesehatan individu, kelompok, atau
komunitas”.
Sedangkan Kementerian/Departemen Kesehatan Republik
Indonesia merumuskan pengertian Health Promotion sebagai berikut :
“Upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam
mengendalikan faktor-faktor kesehatan melalui pembelajaran dari, oleh,
untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya
sendiri, serta mengembangkan kegiatan yang bersumber daya masyarakat,
sesuai sosial budaya setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang
berwawasan kesehatan.” Hal tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri
Kesehatan No. 1114/Menkes/SK/VIII/2005.

Gambar 2.1 Definisi health promotion

13
G. Tujuan Health Promotion
Tujuan dari penerapan Health Promotion pada dasarnya
merupakan visi promosi kesehatan itu sendiri, yaitu menciptakan/membuat
masyarakat yang :
1. Mau (willingness) memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
2. Mampu (ability) memelihara dan meningkatkan kesehatannya.
3. Memelihara kesehatan, berarti mau dan mampu mencegah penyakit.
4. Melindungi diri dari gangguan-gangguan kesehatan.
5. Meningkatkan kesehatan, berarti mau dan mampu meningkatkan
kesehatannya. Kesehatan perlu ditingkatkan karena derajat kesehatan
baik individu, kelompok atau masyarakat itu bersifat dinamis tidak
statis.
Sedangkan, menurut Green, tujuan promosi kesehatan terdiri dari 3
tingkatan tujuan, yaitu :
1. Tujuan Program
Merupakan pernyataan tentang apa yang akan dicapai dalam periode
waktu tertentu yang berhubungan dengan status kesehatan.
2. Tujuan Pendidikan
Merupakan deskripsi perilaku yang akan dicapai dapat mengatasi
masalah kesehatan yang ada.
3. Tujuan Perilaku
Merupakan pendidikan atau pembelajaran yang harus tercapai
(perilaku yang diinginkan). Oleh sebab itu, tujuan perilaku
berhubungan dengan pengetahuan dan sikap.
4. Tujuan Intervensi Perilaku dalam promosi kesehatan
a. Mengurangi perilaku negatif bagi kesehatan. Misal : mengurangi
kebiasaan merokok
b. Mencegah meningkatnya perilaku negatif bagi kesehatan. Misal :
mencegah meningkatnya perilaku ‘seks bebas'
c. Meningkatkan perilaku positif bagi kesehatan. Misal : mendorong
kebiasaan olah raga

14
d. Mencegah menurunnya perilaku positif bagi kesehatan. Misal :
mencegah menurunnya perilaku makan kaya serat.

H. Ruang Lingkup Health Promotion pada Bayi


Menurut Alimul (2005), beberapa promosi kesehatan yang dapat
dilakukan pada bayi diantaranya, yaitu:
1. Pemberian ASI
Pemberian ASI pada bayi merupakan hal yang penting. Pemberian
promosi kesehatan berperan dalam menunjang ibu untuk memberikan
ASI pada bayinya. Beberapa hal berikut dapat mendukung pemberian
ASI kepada bayi, yaitu:
a. Membiarkan bayi bersama ibunya segera setelah lahir selama
beberapa jam pertama.
b. Mengajarkan cara merawat payudara yang sehat pada ibu untuk
mencegah masalah umum yang timbul.
c. Membantu ibu pada waktu pertama kali memberikan ASI.
d. Menempatkan bayi di dekat ibu pada kamar yang sama (rawat
gabung).
e. Memberikan ASI pada bayi sesering mungkin.
f. Memberikan kolustrum dan ASI saja
g. Menghidari susu botol dan “dot empeng”.
2. Mempromosikan Vaksinasi
Imunisasi merupakan usaha dalam memberikan kekebalan pada bayi
dan anak dengan memasukkan vaksin ke dalam tubuh agar tubuh
membuat zat anti untuk mencegah terhadap infeksi penyakit tertentu.
Vaksin merupakan bahan yang dipakai untuk merangsang
pembentukan zat anti yang dimasukkan ke dalam tubuh melalui
suntikan ataupun per oral.
Imunisasi yang dapat diberikan kepada bayi, yaitu:
a. Imunisasi BCG (Bacillus Calmette Guerin)

15
Pemberian vaksin ini diberikan pada usia 0-11 bulan, namun
umumnya diberikan pada bayi usia 2 atau 3 bulan. Pemberian
vaksin ini hanya 1 kali melalui intradermal.
b. Hepatitis B
Vaksin ini diberikan secara 3 kali, dengan waktu pemberian pada
usia 0-11 bulan dengan interval 4 minggu. Pemberiannya
dilakukan secara intramuscular.
c. Imunisasi Polio
Pemberian vaksin ini 4 kali, sewaktu bayi pada usia 0-11 bulan
dengan interval 4 minggu. Pemberiannya melalui oral.
d. Imunisasi DPT (Diphteri, Pertusis, dan Tetanus)
Frekuensi dari pemberian vaksin ini yaitu 3 kali. Waktu pemberian
antara usia 2-11 bulan dengan interval 4 minggu. Pemberiannya
dengan melalui intramuscular.
e. Imunisasi Campak
Frekuensi pemberian vaksin ini diberikan 1 kali. Waktu pemberian
pada usia 9-11 bulan. Cara pemberiannya melalui subcutan.
f. Imunisasi MMR (Measles, Mumps, dan Rubella)
Imunisasi yang digunakan untuk mencegah penyakit campak
(measles), gondong / parotitis epidemika (mumps) dan rubella
(campak jerman). Pemberian imunisasi campak yang monovalent
pada usia 4-6 bulan atau 9-11 bulan, khusus pada daerah endemik
dan boster dapat dilakukan MMR pada usia 15-18 bulan.
g. Imunisasi Typhus Abdominalis
Terdapat 3 jenis vaksin typhus abdominalis di Indonesia, yaitu:
1) Kuman yang dimatikan, diberikan untuk bayi usia 6-12 bulan
dengan dosis 0,1 ml, 1-2 tahun 0,2 ml, 2-12 tahun diberikan
sebanyak 2 kali dengan interval 4 minggu.
2) Kuman yang dilemahkan (vivotif, berna), dapat diberikan
dalam bentuk kapsul enteric coated sebelum makan pada hari
ke-1, 2 dan 5 pada anak usia 6 tahun.

16
3) Antigen kapsular Vi polysacaharide (Typhim Vi, Pasteur
Meriux) diberikan pada usia 2 tahun dan dapat diulang tiap 2
tahun.
h. Imunisasi Varicella
Pemberiannya tunggal pada usia 12 tahun di daerah tropis dan bila
usia 13 tahun dapat diberikan 2 kali suntikan interval 4-8 minggu.
i. Imunisasi Hepatitis A
Diberikan pada usia 2 tahun untuk pemberian awal menggunakan
vaksin havrix dengan 2 suntikan interval 4 minggu dan boster 6
bulan kemudian.
j. Imunisasi HiB (Haemophilus Influenzae Tipe B)
Untuk pemberian awal PRP-T dilakukan 3 kali suntikan interval 2
bulan. Suntikan PRP-OMPC dilakukan 2 kali suntikan interval 2
bulan kemudian bosternya diberikan pada usia 18 bulan.
3. Perawatan Tali Pusar
Beberapa hal yang perlu diingat saat merawat tali pusar bayi, yaitu:
a. Jaga kebersihan area pusar dan sekitarnya, serta upayakan selalu
dalam keadaan kering.
b. Gunakan kapas baru pada setiap basuhan.
c. Agar tali pusar lebih cepat lepas, gunakan kain kasa pada bagian
pusar yang terus dibalut sehingga mendapat udara cukup.
d. Saat membersihkan, pastikan suhu kamar tidak terlalu dingin.
e. Agar praktis, kenakan popok dan atasan dari bahan kaos yang
longgar.
f. Ini dilakukan 1-2 kali sehari.

I. Ruang Lingkup Health Promotion pada Anak Balita


Kegiatan promosi kesehatan yang dapat dilakukan pada sasaran
anak Balita (Irianti, 2001) antara lain :
1. Pemeriksaan dan penimbangan anak dilaksanakan setiap bulan agar
terjamin pertumbuhan dan perkembangannya.

17
2. Berikan anak Balita satu kapsul vitamin A dosis tinggi setiap 6 bulan
untuk mencegah kebutaan.
3. Berikan makanan seimbang sesuai dengan perkembangan umurnya.
4. Berikan oralit jika terjadi diare dan periksa suhu tubuh jika mengalami
gejala panas.
5. Perhatikan kasih sayang dengan mengajak berbicara dan bermain
bersama, agar terpenuhi kebutuhan mental dan emosi anak.
6. Anak Balita yang tumbuh dan berkembang dengan baik akan
menjamin kelangsungan hidup yang lebih baik.
Anggota keluarga, guru taman kanak-kanak atau pengasuh anak
diikutsertakan dalam kegiatan pembinaan kesehatan. Kegiatan pelayanan
dan pembinaan kesehatan anak Balita akan berhasil dengan baik dengan
adanya dukungan dari lingkungan sekitar. Para ibu perlu didorong pula
untuk rutin memeriksakan kesehatan anaknya.

J. Ruang Lingkup Health Promotion pada Remaja


1. Masa remaja
Masa remaja (adolescence) merupakan masa transisi atau
perubahan dari masa anak-anak ke masa dewasa yang diawali dengan
masa pubertas. Pada masa ini terjadi banyak perubahan yang
berlangsung cepat dalam hal perubahan fisik, kognitif dan
psikososial/tingkah laku.
Perubahan-perubahan tubuh secara fisik disebabkan karena
pengaruh hormonal, perkembangan kognitif juga menunjukkan
kemajuan berupa kemampuan berfikir dalam artian dapat memahami
akibat dari perbuatan/tingkah laku serta dapat melakukan beberapa
tindakan secara serentak (Machfoedz, 2009).
2. Tahapan remaja
Menurut (Notoatmodjo, 2005) tahapan remaja dibagi menjadi 3, yaitu :
a. Remaja awal (10-14 tahun)
Memiliki karakteristik :

18
1) Kekhawatiran pada body image
2) Mempercayai dan menghargai orang dewasa
3) Kekhawatiran tentang hubungan dengan teman sebaya
b. Remaja menengah (15-18 tahun)
Memiliki karakteristik :
1) Sangat dipengaruhi oleh teman sebaya
2) Kehilangan kepercayaan pada orang dewasa
3) Mencoba mandiri, sering tampak dalam bentuk penolakan
terhadap pola makan keluarga
c. Remaja lanjut (19-24 tahun)
Memiliki karakteristik :
1) Merencanakan masa depan dan bersifat lebih mandiri
2) Telah mempunyai persepsi terhadap body image
3. Masalah remaja puteri
Masalah yang dialami remaja puteri antara lain :
a. Makan tidak teratur
b. Kehamilan
c. Gangguan makan
d. Obesitas/ kegemukan
e. Alkohol dan penyalahgunaan obat
f. Jerawat.
Sebagai tenaga kesehatan salah satunya tentu harus memiliki
kompetensi sebagai edukator, fasilitator, advokator dan motivator.
Pendidikan kesehatan/ promosi kesehatan yang dilaksanakan pada
remaja adalah pentingnya pendidikan mengenai kesehatan reproduksi
wanita dan masalah gizi pada remaja.
Tugas tersebut antara lain :
1. Pengaturan menu seimbang/gizi seimbang untuk remaja
2. Informasi dan pelayanan kesehatan reproduksi remaja
3. Konseling pada remaja mengenai:

19
a. Perubahan fisik/biologi sesuai dengan usia perkembangan remaja
putra maupun putri.
b. Perubahan emosi dan perilaku pada usia remaja
c. Proses kehamilan yang mungkin terjadi pada usia remaja dan
dampaknya
d. Penyalahgunaan obat dan bahan yang berbahaya, termasuk dalam
kelompok Narkoba
e. Kenakalan remaja.

K. Peran Perawat
Peran perawat dalam Promosi Kesehatan menurut Notoatmodjo,
(2007). Pencegahan dapat dilakukan pada masa sebelum sakit dan pada
masa sakit, yaitu :
1. Masa sebelum sakit
a. Promosi kesehatan (health promotion)
Dalam hal ini pendidikan kesehatan diberikan kepada perorangan,
kelompok, atau masyarakat agar dapat mencegah terjadinya
penyakit.
b. Perlindungan khusus (specific protection)
Pendidikan kesehatan diberikan agar mengerti/memahami akan
pentingnya perlindungan khusus terhadap serangan penyakit.
2. Pada masa sakit
a. Diagnosis dini dan pengobatan segera (early diagnosis and pront
treatment)
Pemberian pemahaman tentang pengenalan dan pengertian jenis
penyakit pada tingkat awal serta mengadakan pengobatan yang
tepat sedini mungkin.
b. Pembatasan kecacatan (disability limination)
Pemberian pengertian untuk melakukan pengobatan sesempurna
mungkin, sehingga dapat dicegah adanya gangguan kemampuan

20
kerja yang ditimbulkan akibat adanya dampak dari penyakitnya,
yang dapat berupa kecacatan.
c. Rehabilitasi (rehabilitation)
Keadaan disini digambarkan telah terjadi kecacatan. Dalam hal ini
pemberian pengertian dan dorongan untuk tetap semangat dalam
menjalani hidup dan berbaur ditengah masyarakat seperti halnya
saat sebelum terjadi kecacatan.

L. Pentingnya Health Promotion


Health promotion sangat dibutuhkan untuk orang tua dan anak-
anak mereka agar pencegahan secara dini mengenai gangguan kesehatan
dapat di minimalisir kejadiannya. Karena semakin banyaknya orang tua
yang tidak mengerti akan pentingnya pengetahuan mengenai kesehatan,
hingga anak-anak yang menjadi korban. Hal negatif yang bisa terjadi
yakni, kecacatan, gangguan mental, bahkan gangguan akang tumbuh
kembang anak menjadi terganggu. Dampak negatif ini berkaitan dengan
waktu dan pengetahuan yang minim serta orang tua yang terlalu
menganggap remeh akan semua penyakit. Tindakan yang dilakukan dalam
mengatasi masalah kesehatan anak apapun bentuknya harus berlandaskan
pada pengetahuan kesehatan atau asuhan yang terapeutik.
Masa bayi-remaja adalah suatu periode yang unik karena memiliki
kebutuhan psikologis, pendidikan serta kondisi fisik yang khas dan jelas
berbeda dengan orang dewasa. Filosofi keperawatan bayi atau anak
merupakan keyakinan atau pandangan yang dimiliki perawat dalam
memberikan pelayanan keperawatan pada anak yang berfokus pada
keluarga (family center care), health promotion dan manajemen kasus.
Health promotion disini adalah memberikan edukasi kepada orang
tua maupun anak itu sendiri agar meningkat kulaitas kesehatannya. Health
promotion disini di fokuskan dalam pencegahan gangguan kesehatan
untuk bayi, anak maupun konseling untuk remaja. Sebagai perawat anak di
perlukan keahlian khusus karena harus memberikan perhatian khusus

21
kepada anak sebagai individu yang masih dalam usia tumbuh kembang.
Hal ini sangat penting karena jangan sampai proses tumbuh kembang anak
terhambat dan mengalami gangguan.
Perawat diharapkan dapat mengaplikasikan health promotion
sehingga meningkatkan kualitas kesehatan pada keluarga terutama pada
infant-remaja. Pemberian edukasi yang tepat bagi orang tua dan anak
dapat membantu anak dan orang tua untuk mencegah gangguan kesehatan
yang bersifat fisiologis maupun psikologis pada infant-remaja. Masyarakat
khususnya orang tua yang memiliki anak usia prasekolah-sekolah
diharapkan dapat memberikan dukungan dan pendampingan pada anak
saat mereka membutuhkan bantuan terutama mengenai kesehatan.
Sehingga anak dapat terpenuhi kebutuhan kesehatan baik yang bersifat
fisiologi dan psikologis secara tepat dan cepat.
Pelayanan yang maksimum dan menyampaikan informasi dengan
tepat khususnya saat melakukan health promotion merupakan hal yang
terpenting yang dilakukan oleh pihak pemberi pelayanan terutama
perawat. Karena diharapkan setelah melakukan health promotion ini
perawat maupun tim pemberi layanan lainnya dapat melakukan evaluasi
penilaian terhadap penerapan pelayanan khususnya health promotion
untuk meningkatkan pelayanan keperawatan anak.

M. Diagnosa Keperawatan Family Centered Care (FCC) dan Health


Promotion
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada masalah
Family Centered Care (FCC) dan health promotion, menurut Standar
Diagnosa Keperawatan Indonesia (2017) dan NANDA (2015),
diantaranya:
1. Gangguan proses keluarga (D.0120)
Perubahan dalam hubungan atau fungsi keluarga.
Penyebab:
a. Perubahan status kesehatan anggota keluarga

22
b. Perubahan finansial keluarga
c. Perubahan status sosial keluarga
d. Perubahan interaksi dengan masyarakat
e. Krisis perkembangan
f. Transisi perkembangan
g. Pengalihan pengambilan keputusan dalam keluarga
h. Perubahan peran keluarga
i. Krisis situasional
j. Transisi situasional
Gejala dan tanda mayor:
a. Subjektif
Tidak tersedia
b. Objektif
1) Keluarga tidak mampu beradaptasi terhadap situasi
2) Tidak mampu berkomunikasi secara terbuka diantara anggota
keluarga
Gejala dan tanda minor:
a. Subjektif
Keluarga tidak mampu mengungkapkan perasaan secara leluasa
b. Objektif
1) Keluarga tidak mampu memenuhi kebutuhan
fisik/emosional/spiritual anggota keluarga
2) Keluarga tidak mampu mencari atau menerima bantuan secara
tepat.
2. Kesiapan peningkatan menjadi orang tua (D.0122)
Pola pemberian lingkungan bagi anak atau anggota keluarga yang
cukup untuk memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan serta dapat
ditingkatkan.
Gejala dan tanda mayor:
a. Subjektif

23
Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan peran menjadi
orang tua
b. Objektif
Tampak adanya dukungan emosi dan pengertian pada anak atau
anggota keluarga
Gejala dan tanda minor:
a. Subjektif
1) Anak atau anggota keluarga lainnya mengekspresikan kepuasan
dengan lingkungan rumah
2) Anak atau anggota keluarga mengungkapkan harapan yang
realistis
b. Objektif
Kebutuhan fisik dan emosi anak/anggota keluarga terpenuhi.
3. Kesiapan peningkatan proses keluarga (D.0123)
Pola fungsi keluarga yang cukup untuk mendukung kesejahteraan
anggota keluarga dan dapat ditingkatkan.
Gejala dan tanda mayor:
a. Subjektif
Mengekspresikan keinginan untuk meningkatkan dinamika
keluarga
b. Objektif
1) Menunjukkan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
fisik, sosial dan psikologis anggota keluarga
2) Menunjukkan aktivitas untuk mendukung keselamatan dan
pertumbuhan anggota keluarga
3) Peran keluarga fleksibel dan tepat dengan tahap perkembangan
4) Terlihat adanya respek dengan anggota keluarga
Gejala dan tanda minor:
a. Subjektif
Tidak tersedia
b. Objektif

24
1) Keluarga menunjukkan minat melakukan aktivitas hidup
sehari-hari yang positif
2) Terlihat adanya kemampuan keluarga untuk pulih dari kondisi
sulit
3) Tampak keseimbangan antara otonomi dan kebersamaan
4) Batasan-batasan anggota keluarga dipertahankan
5) Hubungan dengan masyarakat terjalin positif
6) Keluarga beradaptasi dengan perubahan.
4. Ketagangan peran pemberi asuhan (D.0124)
Kesulitan dalam melakukan peran pemberi asuhan dalam keluarga
Penyebab:
a. Beratnya penyakit penerima asuhan
b. Kronosinya penyakit penerima asuhan
c. Pemberi asuhan kurang mendapatkan waktu istirahat dan rekreasi
d. Persaingan komitmen peran pemberi asuhan
e. Ketidakkuatan lingkungan fisik dalam pemberian asuhan
f. Keluarga atau pemberi asuhan jauh dari kerabat lain
g. Kompleksitas dan jumlah aktivitas pemberi asuhan
Gejala dan tanda mayor:
a. Subjektif
1) Khawatir klien akan kembali dirawat di rumah sakit
2) Khawatir tentang kelanjutan perawatan klien
3) Khawatir tentang ketidakmampuan pemberi asuhan dalam
merawat klien
b. Objektif
Tidak tersedia
Gejala dan tanda minor:
a. Subjektif
Tidak tersedia
b. Objektif
Sulit melakukan dan/atau menyelesaikan tugas merawat klien.

25
5. Defisit pengetahuan (D.0111)
Ketiadaan dan kurangnya informasi kognitif yang berkaitan dengan
topik tertentu.
6. Risiko gangguan perlekatan (Domain 7; Kelas 2; 00058)
Rentan terhadap gangguan proses interaktif antara orang tua/orang
terdekat dan anak/bayi yang mendukung perkembangan hubungan
saling melindungi dan saling asuh.
7. Disfungsi proses keluarga (Domain 7; Kelas 2; 00063)
Disorganisasi kronik fungsi psikososial, spiritual, dan fisiologis unit
keluarga yang menimbulkan konflik, penyalahgunaan masalah,
keengganan untuk berubah, ketidakefektifan pemecahan masalah, dan
serangkaian krisis yang tidak berujung.
8. Gangguan proses keluarga (Domain 7; Kelas 2; 00060)
Perubahan dalam hubungan dan/atau fungsi keluarga
9. Kesiapan meningkatkan proses keluarga (Domain 7; Kelas 2; 00159)
Suatu pola fungsi keluarga untuk mendukung kesejahteraan anggota
keluarga, dan dapat ditingkatkan.
10. Ketidakefektifan pemeliharaan kesehatan (Domain 1; Kelas 2; 00099)
Ketidakmampuan mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari
bantuan untuk mempertahankan kesehatan.
Batasan karakteristik:
a) Ketidakmampuan bertanggung jawab untuk memenuhi kesehatan
dasar
b) Kurang dukungan sosial
c) Kurang pengetahuan tentang praktik kesehatan dasar
d) Pola perilaku kurang mencari bantuan kesehatan
e) Tidak menunjukkan minat pada perbaikan perilaku sehat
f) Tidak menunjukkan perilaku adaptif terhadap perubahan perilaku.

26
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Family Centered Care atau perawatan yang berpusat pada keluarga
didefinisikan sebagai filosofi perawatan berpusat pada keluarga, mengakui
keluarga sebagai konstanta dalam kehidupan anak. Family Centered Care
meyakini adanya dukungan individu, menghormati, mendorong dan
meningkatkan kekuatan dan kompetensi keluarga. Elemen family centered
care meliputi (1) memasukan pemahaman ke dalam kebijakan dan praktik
bahwa keluarga bersifat konstan dalam kehidupan anak, (2) memfasilitasi
kolaborasi keluarga/profesional pada semua tingkat pelayanan
keperawatan, (3) bertukar informasi yang lengkap dan jelas antara anggota
keluarga dan profesional.
Perawat merupakan salah satu tenaga professional kesehatan yang
berperan dalam upaya meningkatkan kesehatan pasien dan keluarga
melalui kegiatan health promotion. Pemberian promosi kesehatan pada
infant dapat diberikan dengan memberikan pendidikan kesehatan pada
orang tua terutama pada ibu, maupun keluarga. Sementara, pemberian
promosi kesehatan pada remaja difokuskan pada pendidikan seksual,
kesehatan organ reproduksi wanita, serta pentingnya pemenuhan gizi
seimbang. Dengan memberikan pemahaman awal terhadap pendidikan
kesehatan dapat menghindarkan remaja dari hal-hal buruk dan negatif serta
diharapkan dapat mengarahkan remaja pada hal-hal positif dan bermanfaat
lainnya.

B. Saran
1. Bagi Institusi Pendidikan
Diharapkan institusi dapat memberikan tambahan literatur tentang
konsep Family Centered Care (FCC) dan health promotion pada
infant-remaja, sehingga dapat dijadikan referensi bagi mahasiswa dan
update ilmu pengetahuan.

27
2. Bagi Tenaga Kesehatan
Penatalaksanaan yang efektif dan efisien pada pasien untuk
mendapatkan hasil maksimal dalam memberikan asuhan keperawatan
yang berfokus pada Family Centered Care (FCC) dan health
promotion pada infant-remaja.
3. Bagi Mahasiswa
Diharapkan mahasiswa mampu mengetahui konsep Family
Centered Care (FCC) dan health promotion pada infant-remaja
sehingga dapat menerapkannya pada praktik klinik keperawatan di
kemudian hari.

28
DAFTAR PUSTAKA

Alimul, Aziz Hidayat. (2005). Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I. Surabaya:


Salemba Medica

Susilowati, Dwi. (2016). Promosi Kesehatan. Badan PPSDMK Kemenkes RI:


Jakarta.

Irianti. I. & Herlina. E.N. (2001). Buku Ajar Psikologi untuk Mahasiswa
Kebidanan. Jakarta: EGC

Machfoedz. I. & Suryani. E. (2009). Pendidikan Bagian dari Promosi Kesehatan.


Yogyakarta: Fitramaya

NANDA Internasional. (2015). Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi.


EGC: Jakarta.

Notoatmodjo, S. (2005). Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasinya. Jakarta:


Rineka Cipta

Notoatmodjo, S. (2007). Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Rineka


Cipta

Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). (2017). Standar Diagnosis


Keperawatan Indonesia: Definisi dan Indikator Diagnostik. Dewan
Pengurus Pusat PPNI: Jakarta.

Yuliastati & Nining. (2016). Keperawatan Anak. Badan PPSDMK Kemenkes RI:
Jakarta.

29
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)

“PENCEGAHAN STUNTING”

Disusun oleh:
Kelompok 9
1. Abdurrahman Nata Negara
2. Emmy Putri Wahyuni
3. Iis Sugiarty

Dosen Pembimbing:
1. Ns. Grace Carol Sipasulta, S. Kep., M. Kep., Sp. Mat.
2. Ns. Junita Lusty, S. Kep.

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR
PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TAHUN 2019

30
SATUAN ACARA PENYULUHAN
(SAP)
Pokok Bahasan : Stunting
Sub Pokok Bahasan : Pencegahan Stunting
Sasaran : Orang tua Anak
Tempat : Politeknik Kesehatan Kemenkes Kaltim
Pelaksana : 1. Abdurrahman Nata Negara
2. Emmy Putri Wahyuni
3. Iis Sugiarty
Hari/Tanggal : Kamis, 03 Januari 2019
Waktu : 30 menit

A. Latar Belakang
Stunting merupakan istilah untuk penyebutan anak yang tumbuh
tidak sesuai dengan ukuran yang semestinya (bayi pendek). Stunting
(tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat pendek hingga
melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan
populasi yang menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan
dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh
anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (MCN,
2009).
Stunted adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD),
ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan
kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia
anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan
pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang
untuk gizi kurang pada anak.
Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi
badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai
pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka
panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai dan atau kesehatan.

31
Sekitar 8,8 juta anak Indonesia menderita stunting (tubuh pendek)
karena kurang gizi. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013
mencatat angka kejadian stunting nasional mencapai 37,2 persen. Angka
ini meningkat dari 2010 sebesar 35,6 persen (Rizma, 2016). Oleh karena
itu dalam hal ini diperlukan upaya pencegahan stunting salah satunya
dengan penyuluhan bagaimana cara mencegah stunting diberikan pada
orangtua anak.

B. Tujuan
1. Tujuan Intruksional Umum
Setelah dilakukan tindakan pendidikan kesehatan pasien dapat
mengetahui pencegahan stunting pada anak.
2. Tujuan Intruksional Khusus
Setelah dilakukan tindakan pendidikan kesehatan diharapkan
pasien dan/atau keluarga, mampu:
a. Menjelaskan kembali pengertian stunting
b. Menyebutkan penyebab stunting
c. Menyebutkan dampak stunting
d. Menyebutkan cara mencegah stunting
e. Menyebutkan zat gizi mikro yang berperan untuk menghindari
stunting.

C. Metode
Ceramah, diskusi dan tanya jawab.

D. Alat dan Bahan


Leaflet, Pertunjukan slides (melalui overhead projector, slide projector,
komputer dan LCD projector, atau lainnya), poster, video.

32
E. Materi
1. Pengertian stunting
2. Penyebab stunting
3. Dampak stunting
4. Cara mencegah stunting
5. Zat mikro yang berperan untuk menghindari stunting.

f. Setting Tempat

Ket :
: Layar
: Pemateri
: Orang tua Anak

g. Kegiatan Penyuluhan

No. Tahap Waktu Kegiatan Penyuluh Kegiatan Peserta


1. Pembukaan 10  Mengucapkan salam  Menjawab salam
Menit  Menyampaikan topik  Mendengarkan/
dan tujuan yang akan memperhatikan.
dicapai.
 Pre test  Mengisi kuesioner
2. Kegiatan Inti 10 Pelaksanaan materi: Menyimak dan
Menit Menjelaskan materi memperhatikan.
penyuluhan secara berurutan
dan teratur.
Materi:
1. Pengertian stunting

33
2. Penyebab stunting
3. Dampak stunting
4. Cara mencegah stunting
5. Zat mikro yang berperan
untuk menghindari
stunting.
3. Penutup 10 Evaluasi:  Bertanya dan
Menit 1. Menyimpulkan isi menjawab
penyuluhan pertanyaan.
2. Memberi kesempatan
untuk bertanya
3. Memberikan
kesempatan kepada
pasien dan keluarga
untuk menjawab
pertanyaan
4. Post test  Mengisi kuesioner
5. Menutup, dengan  Merespon dan
mengucapkan terima menjawab salam.
kasih serta memberi
salam.

H. Evaluasi
1. Evaluasi persiapan
Kesiapan media, alat untuk pendidikan kesehatan, pengaturan tempat
sudah disesuaikan dan materi sudah dipersiapkan.
2. Evaluasi proses
a. Alat dan tempat dapat digunakan sesuai rencana.
b. Peserta bersedia mengikuti kegiatan pendidikan kesehatan dengan
baik sampai selesai.

34
c. Peserta memberikan respon dengan bertanya dan menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh penceramah/penyuluh.
3. Evaluasi hasil
a. 85 % peserta mampu menjelaskan pengertian stunting
b. 85 % menyebutkan penyebab stunting
c. 75% peserta mampu menyebutkan dampak stunting
d. 80 % peserta mampu menyebutkan dan menjelaskan cara mencegah
stunting
e. 75% peserta mampu menyebutkan zat mikro yang berperan untuk
menghindari stunting.

35
MATERI PENYULUHAN
PENCEGAHAN STUNTING

A. Pengertian
Stunting merupakan istilah untuk penyebutan anak yang tumbuh
tidak sesuai dengan ukuran yang semestinya (bayi pendek).
Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang sangat pendek hingga
melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan
populasi yang menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan
dimana tinggi badan berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh
anak lebih pendek dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya (MCN,
2009).
Stunted adalah tinggi badan yang kurang menurut umur (<-2SD),
ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang mengakibatkan
kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia
anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan
pertumbuhan dimasa lalu dan digunakan sebagai indikator jangka panjang
untuk gizi kurang pada anak.
Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi
badan menurut umur yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai
pada pra dan pasca persalinan dengan indikasi kekurangan gizi jangka
panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai dan atau
kesehatan. Stunting merupakan pertumbuhan linier yang gagal untuk
mencapai potensi genetic sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan
penyakit (ACC/SCN, 2000)
Stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi TB/U sama
dengan atau kurang dari minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-
rata standar atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan
dengan anak-anak lain seusianya (MCN, 2009) (WHO, 2006). Ini adalah
indikator kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis yang memberikan

36
gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi lingkungan dan
keadaan sosial ekonomi.

B. Penyebab Stunting
Menurut beberapa penelitian, kejadian stunted pada anak
merupakan suatu proses kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa
kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan. Pada masa ini merupakan
proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatan stunted
terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.
Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan
penyebab tidak langsung yang memberikan kontribusi terhadap
pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil dengan gizi kurang akan
menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation (IUGR),
sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan
pertumbuhan dan perkembangan.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan
disebabkan kurangnya asupan makanan yang memadai dan penyakit
infeksi yang berulang, dan meningkatnya kebutuhan metabolic serta
mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi pada
anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan
pertumbuhan yang akhirnya berpeluang terjadinya stunted (Allen and
Gillespie, 2001).
Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu
faktor saja seperti yang telah dijelaskan diatas, tetapi disebabkan oleh
banyak faktor, dimana faktor-faktor tersebut saling berhubungan satu sama
lainnnya. Terdapat tiga faktor utama penyebab stunting yaitu sebagai
berikut :
1. Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi
dalam makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin, dan
air).
2. Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR),

37
3. Riwayat penyakit.
Lancet “Maternal and Child Nutrition” Series tahun 2004 memuat
satu konsep model faktor-faktor yang menyebabkan kekurangan gizi,
kecacatan atau disability dan kematian.
1. Dalam diagram tersebut terlihat bahwa kekurangan gizi kronis atau
pendek lebih dipengaruhi oleh faktor gangguan pertumbuhan pada
masa janin, kekurangan asupan zat gizi mikro dan kekurangan asupan
energi dan protein.
2. Sementara itu gizi kurang akut yang sering disebut gizi kurang atau
kurus lebih banyak dipengaruhi oleh faktor tidak cukupnya asupan gizi
terutama kalori dan protein dan infeksi penyakit.
3. Tidak optimalnya pemberian Air Susu Ibu merupakan salah satu
penyebabnya tingginya infeksi pada bayi yang mengakibatkan
kekurangan gizi akut dan kematian.
4. Kekurangan gizi mikro disamping menyebabkan kekurangan gizi
kronis juga menyebabkan disability, yang meningkatkan risiko
kematian
5. Faktor-faktor kemiskinan, sosial budaya dan politik, meningkatnya
infeksi penyakit, ketahanan pangan dan tidak optimalnya cakupan dan
kualitas pelayanan merupakan merupakan faktor yang secara bersama-
sama maupun secara sendiri-sendiri berpengaruh pada keadaan gizi ibu
hamil, kekurangan gizi mikro, asupan energi yang rendah dan tidak
optimalnya pemberian Air Susu Ibu.

C. Dampak Stunting
Stunting dapat mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ),
sehingga prestasi belajar menjadi rendah dan tidak dapat melanjutkan
sekolah. Bila mencari pekerjaan, peluang gagal tes wawancara
pekerjaan menjadi besar dan tidak mendapat pekerjaan yang baik, yang
berakibat penghasilan rendah (economic productivity hypothesis) dan tidak
dapat mencukupi kebutuhan pangan. Karena itu anak yang menderita

38
stunting berdampak tidak hanya pada fisik yang lebih pendek saja, tetapi
juga pada kecerdasan, produktivitas dan prestasinya kelak setelah dewasa,
sehingga akan menjadi beban negara. Selain itu dari aspek estetika,
seseorang yang tumbuh proporsional akan kelihatan lebih menarik dari
yang tubuhnya pendek.
Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko
meningkatnya angka kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan
motorik yang rendah serta fungsi-fungsi tubuh yang tidak seimbang (Allen
& Gillespie, 2001). Gagal tumbuh yang terjadi akibat kurang gizi pada
masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya dan
sulit diperbaiki.
Masalah stunting menunjukkan ketidakcukupan gizi dalam jangka
waktu panjang, yaitu kurang energi dan protein, juga beberapa zat gizi
mikro.

D. Cara Mencegah Stunting


1. Mencegah Stunting pada Balita
Berbagai upaya telah kita lakukan dalam mencegah dan menangani
masalah gizi di masyarakat. Memang ada hasilnya, tetapi kita masih
harus bekerja keras untuk menurunkan prevalensi balita pendek
sebesar 2,9% agar target MD’s tahun 2014 tercapai yang berdampak
pada turunnya prevalensi gizi kurang pada balita kita.
Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan
bertambahnya umur, namun pertambahan tinggi badan relatif kurang
sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu singkat. Jika terjadi
gangguan pertumbuhan tinggi badan pada balita, maka untuk mengejar
pertumbuhan tinggi badan optimalnya masih bisa diupayakan,
sedangkan anak usia sekolah sampai remaja relatif kecil
kemungkinannya. Maka peluang besar untuk mencegah stunting
dilakukan sedini mungkin. dengan mencegah faktor resiko gizi kurang
baik pada remaja putri, wanita usia subur (WUS), ibu hamil maupun

39
pada balita. Selain itu, menangani balita yang dengan tinggi dan berat
badan rendah yang beresiko terjadi stunting, serta terhadap balita yang
telah stunting agar tidak semakin berat.
Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin
dalam kandungan dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat
gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu hamil harus mendapatkan
makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi (tablet
Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya
mendapat ASI saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur
6 bulan diberi makanan pendamping ASI (MPASI) yang cukup jumlah
dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup gizi, juga
diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A.
Kejadian stunting pada balita yang bersifat kronis seharusnya dapat
dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan balita
dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di
posyandu merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi
dini terjadinya gangguan pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan
pencegahan terjadinya balita stunting.
Bersama dengan sektor lain meningkatkan kualitas sanitasi
lingkungan dan penyediaan sarana prasarana dan akses keluarga
terhadap sumber air terlindung, serta pemukiman yang layak. Juga
meningkatkan akses keluarga terhadap daya beli pangan dan biaya
berobat bila sakit melalui penyediaan lapangan kerja dan peningkatan
pendapatan.
Peningkatan pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada
pengetahuan dan kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi
keluarganya, sehingga anak berada dalam keadaan status gizi yang
baik. Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan
penyediaan informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah
dimengerti dan dilaksanakan oleh setiap keluarga juga merupakan cara
yang efektif dalam mencegah terjadinya balita stunting.

40
2. Penanggulangan dan pencegahan stunting pada Bayi
a. Penanggulangan stunting pada pertumbuhan bayi
Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan
pada seribu hari pertama kehidupan, yaitu:
Pada ibu hamil
Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara
terbaik dalam mengatasi stunting. Ibu hamil perlu mendapat
makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan
sangat kurus atau telah mengalami KurangEnergiKronis (KEK),
maka perlu diberikan makanan tambahan kepada ibu hamil
tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet tambah darah,
minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap
dijaga agar ibu tidak mengalami sakit.
Pada saat bayi lahir
Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan
begitu bayi lahir melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Bayi
sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI
Eksklusif).
Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun
Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan
Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian ASI terus dilakukan
sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. Bayi dan anak
memperoleh kapsul vitamin A, taburia, imunisasi dasar lengkap.
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh
setiap rumah tangga.
b. Pencegahan stunting pada pertumbuhan bayi
Kebutuhan gizi masa hamil
Pada Seorang wanita dewasa yang sedang hamil, kebutuhan
gizinya dipergunakan untuk kegiatan rutin dalam proses
metabolisme tubuh, aktivitas fisik, serta menjaga keseimbangan

41
segala proses dalam tubuh. Di samping proses yang rutin juga
diperlukan energi dan gizi tambahan untuk pembentukan jaringan
baru, yaitu janin, plasenta, uterus serta kelenjar mamae. Ibu hamil
dianjurkan makan secukupnya saja, bervariasi sehingga kebutuhan
akan aneka macam zat gizi bisa terpenuhi. Makanan yang
diperlukan untuk pertumbuhan adalah makanan yang mengandung
zat pertumbuhan atau pembangun yaitu protein, selama itu juga
perlu tambahan vitamin dan mineral untuk membantu proses
pertumbuhan itu.
Kebutuhan Gizi Ibu saat Menyusui
Jumlah makanan untuk ibu yang sedang menyusui lebih
besar dibanding dengan ibu hamil, akan tetapi kualitasnya tetap
sama. Pada ibu menyusui diharapkan mengkonsumsi makanan
yang bergizi dan berenergi tinggi, seperti diisarankan untuk minum
susu sapi, yang bermanfaat untuk mencegah kerusakan gigi serta
tulang. Susu untuk memenuhi kebutuhan kalsium dan flour dalam
ASI. Jika kekurangan unsur ini maka terjadi pembongkaran dari
jaringan (deposit) dalam tubuh tadi, akibatnya ibu akan mengalami
kerusakan gigi. Kadar air dalam ASI sekitr 88 gr %. Maka ibu yang
sedang menyusui dianjurkan untuk minum sebanyak 2–2,5 liter (8-
10 gelas) air sehari, di samping bisa juga ditambah dengan minum
air buah.
Kebutuhan Gizi Bayi 0 – 12 bulan
Pada usia 0 – 6 bulan sebaiknya bayi cukup diberi Air Susu
Ibu (ASI). ASI adalah makanan terbaik bagi bayi mulai dari lahir
sampai kurang lebih umur 6 bulan. Menyusui sebaiknya dilakukan
sesegara mungkin setelah melahirkan. Pada usia ini sebaiknya bayi
disusui selama minimal 20 menit pada masing-masing payudara
hingga payudara benar-benar kosong. Apabila hal ini dilakukan
tanpa membatasi waktu dan frekuensi menyusui,maka payudara

42
akan memproduksi ASI sebanyak 800 ml bahkan hingga 1,5-2 liter
perhari.
Kebutuhan Gizi Anak 1-2 tahun
Ketika memasuki usia 1 tahun, laju pertumbuhan mulai
melambat tetapi perkembangan motorik meningkat, anak mulai
mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan cara berjalan kesana
kemari, lompat, lari dan sebagainya. Namun pada usia ini anak
juga mulai sering mengalami gangguan kesehatan dan rentan
terhadap penyakit infeks seperti ISPA dan diare sehingga anak
butuh zat gizi tinggi dan gizi seimbang agar tumbuh kembangnya
optimal. Pada usia ini ASI tetap diberikan. Pada masa ini berikan
juga makanan keluarga secara bertahap sesuai kemampuan anak.
Variasi makanan harus diperhatikan. Makanan yang diberikan
tidak menggunakan penyedap, bumbu yang tajam, zat pengawet
dan pewarna. dari asi karena saat ini hanya asi yang terbaik untuk
buah hati anda tanpa efek samping.

E. Zat Gizi Mikro yang Berperan untuk Menghindari Stunting (Pendek)


1. Kalsium
Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang serta gigi, pembekuan
darah dan kontraksi otot. Bahan makanan sumber kalsium antara lain :
ikan teri kering, belut, susu, keju, kacang-kacangan.
2. Yodium
Yodium sangat berguna bagi hormon tiroid dimana hormon tiroid
mengatur metabolisme, pertumbuhan dan perkembangan tubuh.
Yodium juga penting untuk mencegah gondok dan kekerdilan. Bahan
makanan sumber yodium : ikan laut, udang, dan kerang.
3. Zink
Zink berfungsi dalam metabolisme tulang, penyembuhan luka, fungsi
kekebalan dan pengembangan fungsi reproduksi laki-laki. Bahan
makanan sumber zink : hati, kerang, telur dan kacang-kacangan.

43
4. Zat Besi
Zat besi berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan otak,
dan metabolisme energi. Sumber zat besi antara lain: hati, telur, ikan,
kacang-kacangan, sayuran hijau dan buah-buahan.
5. Asam Folat
Asam folat terutama berfungsi pada periode pembelahan dan
pertumbuhan sel, memproduksi sel darah merah dan mencegah
anemia. Sumber asam folat antara lain: bayam, lobak, kacang-
kacangan, serealia dan sayur-sayuran.

44
DAFTAR PUSTAKA

Adinda. 2014. Masalah Gizi penyebab Stunting (Pendek).


(http://adindascabiosa.blogspot.co.id/2014/04/-masalah-gizi-penyebab-
stunting.html). Diakses pada tanggal 02 Januari 2019.

Laporan Tahuna Unicef Indonesia. (2012). Ringkasan Kajian Kesehatan Unicef


Indonesia. Diakses pada 02 Januari 2019.

Laporan Tahunan Indonesia. (2013). Penyajian Pokok-Pokok Hasil Riset


Kesehatan Dasar 2013.

Rizma. 2016. 8,8 Juta Anak Indonesia Bertubuh Kerdil.(


http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/16/01/26/o1k24o385-88-
juta-anak-indonesia-bertubuh-kerdil-part1). Diakses pada tanggal 02 Januari
2019.

45
Evaluasi Pre-Post Test Penyuluhan
Nama :
Umur :
Pekerjaan :
Pendidikan Terakhir :

Jawablah pertanyaan di bawah ini, sesuai dengan yang Anda ketahui !


1. Apakah pengertian stunting?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
2. Bagaimana cara mencegah stunting?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
3. Apa saja zat mikro yang berperan menghindari stunting?
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………
…………………………………………………………………………………

46