Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah


Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam akan tetapi
pemanfaatan sumber daya alam yang ada belum dapat dilakukan secara maksimal,
seperti halnya pemanfaatan tumbuhan pewarna alam sebagai zat warna tekstil. Di
mana pada saat ini industri tekstil cenderung menggunakan zat warna sintetis
dengan alasan lebih praktis, lebih cepat dengan hasil pewarnaan yang lebih baik.
Akan tetapi beberapa jenis zat warna sintetis mengandung logam-logam berat
seperti : Cu, Ni, Cr, Hg, dan Co (Sugiyana, 2003) yang dapat menimbulkan
dampak negatif terhadap kesehatan dan pencemaran terhadap lingkungan. Saat
ini, banyak negara yang mulai melarang penggunaan zat pewarna sintetis dari
gugus azo, amino, aromatis, naptol, direk karena zat-zat tersebut bersifat
karsinogenik atau dapat menimbulkan kanker.
Penggunanaan zat warna alam memiliki banyak kelemahan, namun
demikian penggunaan zat warna alam tidak menyebabkan kerusakan lingkungan.
Karena warna sintetispun memiliki sejumlah kelemahan. Pertama, limbah warna
sintetis membahayakan kesehatan manusia. Bila membuang sembarang limbah
warna sitetis, secara tidak langsung meracuni lingkungan, termasuk di dalamnya
manusia. Kedua, para perajin batik tidak menyadari, tidak tahu, atau tahu tetapi
masa bodoh akan bahaya yang diakibatkan oleh bahan warna sintetis. Ketiga, di
sisi lain banyak ditemukan penggunaan warna sintetis untuk pewarna tekstil
digunakan untuk mewarnai bahan makanan atau minuman. Hal ini terjadi karena
bahan warna tekstil jauh lebih murah bila dibandingkan dengan bahan pewarna
makanan.
Dengan melihat sisi kekurangan dari warna alam, dan sisi negatif warna
sintetis mengundang keinginan untuk meneliti lebih mendalam penggunaan warna
alam. Karena warna alam lebih aman dan ramahlingkungan. Pewarna alami dapat
dihasilkan dari tumbuhan, seperti dari bagian batang, akar, daun, bunga, kulit
batang dan sebagainya.
Batang pohon teger tidak hanya dapat digunakan sebagai obat, akan
tetapi bisa juga digunakan sebagai zat pewarna bahan tekstil. Bagian yang bisa
memberikan warna yaitu batang yang sudah diproses menjadi larutan ekstrak.
Zat warna alam memiliki keungulan hasil warna yang lebih natural dan
memiliki nilai etik yang tinggi, namun zat warna alam memiliki tingkat tahan
luntur dan tahan gosok yang sangat buruk. Oleh sebab itu untuk mengatasi
kelemahan zat warna alam tersebut perlu dilakukan proses pemordanan agar hasil
pencelupan zat warna alam dapat memiliki ketahanan luntur dan ketahanan gosok
yang lebih baik.
Proses mordanting merupakan proses penghilangan komponen-komponen
penganggu pewarnaan serat seperti minyak, lilin dan kotoran-kotoran lain yang
menempel pada serat. Menurut (Chatib dan Sunaryo, 1980) mordanting dilakukan
untuk menyiapkan bahan yang akan diwarna sehingga dapat menerima zat warna.
Proses mordanting sendiri memiliki beberapa variasi metode, dan dalam
penelitian ini saya menggunakan 3 variasi metode pemordanan (pre-mordan, post-
mordan, simultan mordan) untuk mengetahui pengaruh metode mordan terhadap
hasil pencelupan zat warna alam.
Selain metode yang akan digunakan dalam penelitian ini juga digunakan
variasi koinsentrasi zat mordan yang digunakan, dimana dalam penelitian ini kami
menggunakan tawas. Variasi konsentrasi ini bertujuan untuk melihat perbedaan
hasil pencelupan dari berbagai konsentrasi yang digunakan. Pemilihan tawas
sebagai zat mordan dalam praktikum ini dikarenakan tawas memiliki toksinitas
terhadap lingkungan yang mendakati angka 0 (Prabu, 2012). Oleh karena itu saya
berkeinginan untuk mengetahui lebih dalam lagi tentang pengaruh penggunaan
metode dan konsentrasi mordan dalam pewarnaan ini dengan judul “Pengaruh
Penggunaan Metode dan Konsentrasi Mordan Pada Hasil Pencelupan Kain
Kapas Dengan Kayu Tegar Secara Perendaman”.
Batasan Masalah

Pembatasan terhadap obyek yang akan diteliti perlu dilakukan agar pembahasan

tidak keluar dari tema penelitian, oleh karena itu didalam penelitihan tugas akhir

ini hanya akan membahas mengenai :

1. Kain yang diwarnai adalah kain kapas 100%.

2. Pewarna alam di peroleh dari ekstrak batang pohon teger.

3. Pewarnaan dilakukan dengan metode exhaust (perendaman)Zat

pengunci yang di gunakan adalah tawas / Al2(SO4)3.

4. Metode mordanting yang digunakan: pra mordanting, meta mordanting,

dan post mordanting.

5. Konsentrasi zat mordan: 15 g/l, 25 g/l, 35 g/l

6. Hasil dari proses pencelupan dilakukan pengujian, meliputi: Uji ketuaan

warna, ketahanan luntur terhadap pencucian, dan ketahanan luntur

terhadap gosokan.

Perumusan Masalah

1. Apakah variasi metode mordan berpengaruh terhadap hasil pencelupan ?

2. Apakah variasi konsentrasi mordan berpengaruh pada hasil pencelupan ?

Tujuan

1. Untuk mengetahui pengaruh penggunaan metode mordan pada hasil

pencelupan kain kapas menggunakan kayu teger.

2. Untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi mordan dalam hasil

pencelupan kain kapas menggunakan kayu teger


Manfaat

1. Bagi para pelaku industri tekstil adalah sebagai masukan dalam

melakukan proses pewarnaan dengan menggunakan zat warna alam

dengan hasil yang lebih baik.

2. Bagi institusi adalah sebagai refrensi ilmu dan pengetahuan dalam proses

pewarnaan kain kapas dengan zat warna alam kayu teger.

3. Bagi individu dapat mengembangkan ilmu pengetahuan di bidang

Kimia Tekstil.

4. Dapat diterapkan pada industri kerajinan tekstil sehingga dapat

mengurangi pencemaran terhadap lingkungan.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Serat Kapas

Serat kapas adalah serat alam yang berasal dari tumbuh-tumbuhan yang
termasuk jenis Gossypium dari keluarga Malvacena. Spesies yang berkembang
menjadi tanaman kapas adalah Gossypium hirsutum. Serat kapas merupakan serat
tunggal yang salah satu ujungya melekat pada epidersik bijin kapas. Kumpulan
dari serat-serat tersebut menyertai rambut yang keluar dari biji kapas yang
mengandung prosentase selulosa dengan kadar yang cukup tinggi, dan karenanya
digolongkan kedalam jenis serat selulosa. Serat dihasilkan dari rambut biji
tanaman yang termasuk dalam jenis Gossypium, ialah:
1. Gossypium Arboreum (berasal dari india)
2. Gossypium Herbaceum (asal tidak jelas)
3. Gossypium barbadense (berasal dari peru)
Gossypium hirsutum (berasal dari Meksiko Selatan, Amerika tengah, dan
kepulauan Hindia Barat)
Kapas adalah salah satu jenis serat tumbuh-tumbuhan yang banyak
dipergunakan dalam industri tekstil, baik sebagai 100 % serat kapas maupun
sebagai campuran serat lainnya.
Sebagai bahan campuran serat kapas dapat memperbaiki kekurangan dari
serat lainnya seperti daya tahan panas dan daya serat air, karena kedua sifat
tersebut sangat baik pada serat kapas. Serat kapas terutama terutama tersusun dari
zat selulosa, oleh karena itu sifat kimia dan fisika serat kapas tergantung pada sifat
kimia dan fisika selulosa.
Zat-zat selain selulosa yang terdapat dalam serat kapas harus dihilangkan.
Cara menghilangkannya itu adalah dengan cara pemasakan dalam larutan NaOH.
Semua zat kecuali pigmen dan selulosa akan hilang. Pigmen dihilangkan dengan
proses pengelantangan yang menggunakan zat oksidator seperti NaOCl, CaOCl2
dan sebagainya.
Struktur Serat Kapas
a. Morfologi
 Penampang Membujur
Bentuk penampang membujur serat kapas, pipih seperti pita yang terpuntir.
Kearah panjang, serat dibagi menjadi tiga bagian:
1. Dasar
Berbentuk kerucut pendek yang selama pertumbuhan serat tetap tertanam
diantara sel-sel epidermis. Dalam proses pemisahan serat dari bijinya (ginning),
pada umunya dasar serat ini putus, sehingga jarang sekali ditemukan pada serat
kapas yang diperdagangkan.
2. Badan
Merupakan bagian utama serat kapas. Bagian ini mempunyai diameter
yang sama, dinding yang tebal dan lumen yang sempit.
3. Ujung
Ujung serat merupakan bagian yang lurus dan mulai mengecil dan pada
umunya kurang dari ¼ bagian panjang serat. Bagian ini mempunyai sedikit
konvolusi dan tidak mempunyai lumen. Diameter bagian ini lebih kecil dari
diameter badan dan berakhir dengan ujung yang runcing.
 Penampang Melintang
Bentuk penampang serat kapas sangat bervariasi dari pipih sampai bulat tetapi
pada umumnya berbentuk seperti ginjal. Serat kapas dewasa, penampang
lintangnya terdiri dari 6 bagian.
1. Kutikula
Merupakan lapisan terluar yang mengandung lilin, pektin dan protein.
Adanya lilin menyebabkan lapisan ini halus, sukar tembus air dan zat pewarna.
Berfungsi melindungi bagian dalam serat.
2. Dinding primer
Merupakan dinding tipis sel yang asli, terutama terdiri dari selulose tetapi
juga mengandung pektin, protein, dan zat-zat yang mengandung lilin. Selulose
dalam dinding primer berbentuk benang yang sangat halus yang tidak tersusun
sejajar sepanjang serat tetapi membentuk spiral mengelilingi sumbu serat.
3. Lapisan antara
Merupakan lapisan pertama dari dinding sekunder dan strukturnya sedikit
berbeda dengan dinding primer.
4. Dinding sekunder
Merupakan lapisan-lapisan selulose, yang merupakan bagian utama serat
kapas. Dinding ini juga merupakan lapisan benang yang halus yang membentuk
spiral mengelilingi sumbu serat. Arah putarannya berubah-ubah.
5. Dinding lumen
Dinding lumen lebih tahan terhadap zat kimia tertentu dibanding dinding
sekunder.
6. Lumen
Merupakan ruang kosong di dalam serat. Bentuk dan ukurannya bervariasi
dari serat ke serat lain maupun sepanjang satu serat.
Melintang Membujur
Gambar 1. Morfologi serat kapas
(Sumber: Soepriyono, 1974)

b. Komposisi kimia
1. Selulosa
Analisa serat kapas menunjukkan bahwa serat kapas terutama tersusun
dari zat selulosa. Derajat polimerisasi selulosa serat kapas kira-kira 10.000 dan
berat molekulnya kira-kira 1.580.000.

2. Pektat
Pektat adalah suatu karbihidrat dengan berat molekul yang tinggi. Struktur
molekulnya seperti struktur molekul selulosa. Pektat terutama tersusun oleh
susunan linier sisa-sisa asam galakturonat dalam garam-garam kalsium dan besi
yang tidak larut.
3. Lilin
Karena adanya lilin, maka akan mengurangi gaya gesekan sehingga
kekuatan benang akan lebih rendah.
4. Zat-zat yang mengandung Protein
Zat-zat protein yang dalam kapas diduga berasal dari sisa-sisa protoplasma
kering yang tinggal dalam lumen setelah selnya mati.
5. Abu
Zat abu terutama terdiri dari garam-garam magnesium, kalsium atau
kalium pospat, sulfat atau khlorida. Garam-garam karbonat merupakan bagian
yang paling besar.
6. Pigmen dan zat lainnya.
Komposisi kimia serat kapas mentah tercantum dalam tabel dibawah ini.
Komposisi Kimia Serat Kapas Mentah.

Macam Zat % terhadap berat kering


Selulosa 94
Protein 1,3
Pektat 1,2
Lilin 0,6
Abu 1,2
Pigmen dan zat lainnya 1,7
Kandungan air 8

Sifat-Sifat Serat Kapas


a. Sifat Fisika
1. Warna
Serat kapas berwarna putih kekuning-kuningan
2. Kekuatan
Kekuatan serat kapas cukup tinggi, kekuatan dalam keadaan basah lebih
tinggi daripada kekuatan dalam keadaan kering, sehingga sangat menguntungkan
untuk proses pencelupan, karena pada proses pencelupan akan ada tarikan-tarikan
pada kain kapas tersebut
3. Mulur
Mulur serat kapas 4 – 13 %
4. Kandungan Air
Dalam keadaan standart, serat kapas mengandung 7 – 8,5 % air terhadap
berat kering.
5. Berat Jenis
Berat jenis serat kapas 1,5 – 1,56
6. Indeks Bias
Indeks bias sejajar sumbu serat 1,58.
Indeks bias melintang sumbu serat 1,53.

b. Sifat Kimia
1. Oksidasi
Serat kapas dapat teroksidasi membentuk oksiselulosa sehingga kekuatan
serat akan turun.
2. Asam
Serat kaps akan terhidrolisa oleh asam membentuk hidroselulosa.
Degradasi serat kapas akan lebih cepat didalam asam kuat dan pekat.
3. Alkali
Serat kapas tahan akan alkali, alkali kuat dengan konsentrasi yang tinggi
hanya akan menggelembungkan serat. Oleh karena itu, alkali dipergunakan untuk
proses merserisasi.
4. Jamur dan Bakteri
Dalam kondisi yang lembab dan temperatur yang hangat, jamur dan
bakteri akan menyerang serat kapas.

Zat Warna Alam


Zat pewarna alam untuk bahan tekstil umumnya diperoleh dari hasil
ekstrak berbagai bagian tumbuhan seperti akar, kayu, daun, biji ataupun bunga.
Pengrajin-pengrajin telah banyak mengenal tumbuh-tumbuhan yang dapat
mewarnai bahan tekstil beberapa diantaranya adalah : kulit pohon soga tingi
(Ceriops candolleana arn), kayu tegeran (Cudraina javanensis), kunyit (Curcuma
domestic), akar mengkudu (Morinda citrifelia), kulit soga jambal (Pelthophorum
ferrugium), kesumba (Bixa orelana), dau jambu biji (Psidium guajava). (Sewan
Susanto, 1973).
Pada awalnya pewarnaan kain menggunakan pewarna alam yang
bersumber dari berbagai jenis tumbuhan yang memiliki ekstrak warna sesuai yang
dibutuhkan. Namun, dalam kenyataan sekarang ini penggunaan warna alam
sebagai pewarna sudah banyak ditinggalkan. Penggunaan warna alam banyak
ditinggalkan dengan berbagai alasan, antara lain:
a. Proses pembuatan warna alam memerlukan waktu yang panjang.
b. Warna alam tidak tahan lama disimpan sebelum proses pewarnaan.
c. Daya tahan warna alam cenderung mudah pudar.
d. Karena proses pembuatan warna alam lama, mengakibatkan biaya
produksi menjadi mahal.
e. Proses pencelupan/pewarnaan memerlukan waktu yang panjang
dan harus dilakukan berulang-ulang.

Pohon Teger
Tegeran mempunyai nama latin Cudrania javanensis Trécul (Sinonim:
Maclura javanica Blume/ C. cochinchinensis (Lour.)/M. cochinchinensis) dan
kayu kuning, merupakan tumbuhan yang tersebar luas di Asia Selatan
(Pegunungan Himalaya Nepal dan India), Timur (Jepang) dan Tenggara
(Semenanjung Malaya, Pulau Papua, Pulau Bismark, Kaledonia Baru hingga
Australia Timur). Pohon Tegeran tumbuh bercabang hingga ketinggian 10 m pada
dataran rendah sampai ketinggian 1800 m diatas permukaan laut, dengan ranting
bergaris tengah 10-15 cm, permukaan batangnya kasar, berduri tajam dan
mengandung getah. Kulit batangnya berwarna abu-abu muda sampai kecokelatan,
daunnya berbentuk elips, bergerombol, dan memiliki buah berukuran cukup besar
(Roemantyo, 1991). Di Indonesia, kayu Tegeran juga digunakan sebagai obat
demam, rebusan akarnya dapat meringankan obat batuk, daun dan buahnya dapat
dimakan mentah. Sebagai pewarna kain batik, kayu Tegeran digunakan bersama
kulit kayu Ceriops tagal (Perr.) C.B. Robinson (Soga tingi) dan Peltophorum
pterocarpum (DC.) Backer ex K. Heyne (Soga jambal) untuk membuat warna
soga. Senyawa yang ditemukan di kulit kayu dan kayu Tegeran termasuk
golongan flavonoid, alkaloid, steroid, saponin serta tanin (Swargiary &
Ronghang, 2013). Flavonoid utama dalam kayu Tegeran adalah morin yang
memberi warna kuning pada sutera (Kongkiatpaiboon, et al., 2016; Septhum, et
al., 2007).

Proses Ekstraksi Zat Warna Alam


Menurut R.H.MJ. Lemmens dan N Wulijarni-Soetjipto (1999) sebagian
besar warna dapat diperoleh dari produk tumbuhan, pada jaringan tumbuhan
terdapat pigmen tumbuhan penimbul warna yang berbeda tergantung menurut
struktur kimianya. Golongan pigmen tumbuhan dapat berbentuk klorofil,
karotenoid, flovonoid dan kuinon. Untuk itu pigmen – pigmen alam tersebut perlu
dieksplorasi dari jaringan atau organ tumbuhan dan dijadikan larutan zat warna
alam untuk pencelupan bahan tekstil. Proses eksplorasi dilakukan dengan teknik
ekstraksi dengan pelarut air.
Proses ekstrasi terbagi menjadi 2 yaitu:
1. Ekstraksi Dingin
Ekstraksi dingin dilakukan jika bahan pewarna alam berbentuk kayu
atau mempunyai kekerasan ≥2,5 (skala mohs). Ekstraksi dingin biasanya
dilakukan selama 24 jam
2. Ekstrasi Panas
Proses pengambilan warna alam dengan ekstraksi panas dilakukan jika
bahan baku yang digunakan adalah bahan yang lunak misalnya daun, bunga,
dan buah.
Proses pembuatan larutan zat warna alam adalah proses untuk mengambil
pigmen-pigmen penimbul warna yang berada di dalam tumbuhan baik terdapat
pada daun, batang, buah, bunga biji ataupun akar. Proses eksplorasi pengambilan
pigmen zat warna alam disebut proses ekstrasi. Proses ekatrasi ini dilakukan
dengan merebus bahan dengan pelarut air. Bagian tumbuhan yang diekstrak
adalah bagian yang diindikasikan paling kuat atau banyak memiliki pigmen
warna, misalnya bagian daun, batang, akar, kulit, buah, biji ataupun buahnya
(Fitrihana, 2007).
Dalam melakukan proses ekstraksi/pembuatan larutan zat warna alam perlu
disesuaikan dengan berat bahan yang hendak diproses sehingga jumlah larutan zat
warna alam yang dihasilkan dapat mencukupi untuk mencelup bahan tekstil.
Banyaknya larutan zat warna alam yang diperlukan tergantung pada jumlah bahan
tekstil yang akan diproses. Berikut ini adalah salah satu contoh langkah-langkah
proses ekstraksi zat pewarna alam dalam skala laboratorium:
1. Potong menjadi ukuran kecil – kecil bagian tanaman yang diinginkan
misalnya: daun, batang , kulit atau buah. Bahan dapat dikeringkan dulu
maupun langsung diekstrak. Ambil potongan tersebut seberat 500 gram.
2. Masukkan potongan-potongan tersebut ke dalam panci. Tambahkan air
dengan perbandingan 1:10. Contohnya jika berat bahan yang diekstrak 500
gram maka airnya 5 liter.
3. Rebus bahan hingga volume air menjadi setengahnya (2,5 liter). Jika
menghendaki larutan zat warna jadi lebih kental volume sisa perebusan bisa
diperkecil misalnya menjadi sepertiganya. Sebagai indikasi bahwa pigmen
warna yang ada dalam tumbuhan telah keluar ditunjukkan dengan air setelah
perebusan menjadi berwarna. Jika larutan tetap bening berarti tanaman
tersebut hampir dipastikan tidak mengandung pigmen warna.

Saring dengan kasa penyaring larutan hasil proses ekstraksi tersebut untuk
memisahkan dengan sisa bahan yang diesktrak (residu). Larutan ekstrak hasil
penyaringan ini disebut larutan zat warna alam. Setelah dingin larutan siap
digunakan.

Mordanting
Penggunaan pewarna alam untuk tekstil memerlukan mordan. Mordan
berfungsi sebagai pembangkit warna dan sebagai penguat warna agar tahan luntur.
Menurut Rayid Djufri dalam Choiriyah ( 2008 : 22 ) pencelupan dengan mordan
dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu:
1. Mordan Pendahuluan (pre mordanting)
Pencelupan bahan yang dilakukan dengan mencelup bahan dengan
senyawa logam terlebih dahulu kemudian setelah dicuci bersih bahan dicelup
dengan zat warna
2. Mordan Meta (meta-mordanting)
Pencelupan bahan yang dilakukan dengan larutan celup haruus terdiri
dari zat warna dan zat mordan
3. Mordan Ahkir (post mordanting)
Pencelupan bahan dalam larutan zat warna terlebih dahulu kemudan
setelah zat warna terserap semua kedalam bahan dilanjukan dengan
pengerjaan mordan dengan senyawa logam.

Mordan didefinisikan sebagai senyawa logam polivalen yang dapat


membentuk kompleks koordinat dan ikatan kovalen antara zat warna dengan serat.
Atom logam membentuk ikatan kovalen dengan hidroksil, karboksil, oksigen
pada zat warna atau serat dan ikatan koordinat antar satu elektron yang
berdekatan dengan atom oksigen yang berikatan rangkap (Haar, 2013). Vanker
(2009) mendefinisikan “mordan sebagai garam logam yang menghasilkan afinitas
antara bahan tekstil/serat dan zat warna”. Mordan dapat mengikat beberapa
molekul zat warna bersama-sama membentuk senyawa kompleks dengan ukuran
yang lebih besar dan berikatan dengan serat. Senyawa komplek dengan ukuran
yang besar ini dapat membantu serat menahan zat warna sehingga meningkatkan
ketahanan luntur warna terhadap pencucian, gosokan dan sinar. Banyaknya zat
warna yang berikatan dengan serat juga akan menambah nilai ketuaan warna.
Menurut Christie (2001) ikatan yang terjadi antara serat dengan molekul zat
warna bisa berupa:
1. Ikatan Hidrogen
Ikatan hidrogen merupakan ikatan yang terbentuk antara atom hidrogen
pada zat warna dengan gugus hidroksil atau amina yang ada pada serat.
Ikatan hidrogen merupakan ikatan yang lemah karena akan putus oleh suhu
tinggi sehingga ketahanan luntur zat warna sangat rendah terutama pada
pencucian panas. Salah satu bentuk ikatan hidrogen antara serat dengan zat
warna adalah ikatan antara zat warna direk dengan serat kapas, seperti yang
ada dibawah ini:

AR1 – N = N – AR2 – SO3Na


Ikatan Hidrogen
Sel – OH

Gambar 5. Ikatan zat warna direk dengan sellulosa (Karyana et al., 2005)

2. Ikatan Elektrovalen (Ionik)


Ikatan elektrovalen merupakan ikatan antara zat warna dan serat yang
timbul karena gaya tarik menarik antara muatan yang berlawanan pada serat
dan zat warna. Gugus fungsi yang bermuatan positif pada serat, seperti gugus
amino (NH2) dan karboksil (COOH) dengan ion -SO3 dan CO2 pada zat
warna. Ikatan elektrovalen ini dapat terjadi antara zat warna asam / basa
dengan serat wol, sutera dan polyamida (Zollinger H, 2003), dengan contoh
sebagai berikut:
-O3S – Zw
Ikatan Ionik
HOOC---Wol ----N+H3
Gambar 6. Ikatan Ionik Zat Warna Asam dengan Wol (Karyana et
al.,2005)

3. Ikatan Kovalen
Ikatan kovalen merupakan ikatan antara zat warna dan serat yang
terbentuk antara gugus reaktif pada zat warna dan gugus fungsi pada serat,
contohnya ikatan antara atom karbon pada zat warna reaktif dan atom
oksigen, nitrogen atau sulfur dari gugus hidroksil/amino yang ada pada serat.
Ikatan kovalen sifatnya lebih kuat dari ikatan yang lainnya sehingga hasil
pencelupannya mempunyai ketahanan luntur warna yang baik. Ikatan kovalen
dapat terjadi antara zat warna reaktif dengan serat kapas dan sutera (Hunger,
2004), contoh ikatan kovalen dapat ditunjukkan pada reaksi antara zat warna
reaktif dengan serat kapas seperti pada gambar dibawah ini :

D - SO2 - CH = CH2 + Sel - OH D - SO2 - CH2 - CH2 - O -


Sel
vinil sulfon sellulosa ikatan zat warna dan serat

4. Ikatan Van der Waals


Ikatan Van der Waals dapat terjadi karena ada kecenderungan bahwa
atom-atom /molekul-molekul satu dan yang lainnya saling tarik menarik.
Ikatan akan terbentuk bila molekul zat warna mempunyai afinitas yang kuat
pada serat tanpa membentuk ikatan yang sebenarnya sehingga ikatannya
sangat lemah, contohnya pada pencelupan wol dan polyester dengan zat
warna yang mempunyai afinitas tinggi pada serat kapas (Guaratini, 2000).

HIPOTESA

1. Metode mordan berpengaruh terhadap kualitas hasil pencelupan kain kapas


dengan zat warna alam dari batang pohon teger (ketuaan warna dan
ketahanan luntur warna).
2. Variasi penggunaan zat mordan berpengaruh terhadap kualitas hasil
pencelupan kain kapas dengan zat warna alam dari batang pohon teger
(ketuaan warna dan ketahanan luntur warna).