Anda di halaman 1dari 18

NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA

NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

BAB V
REAKSI SAPONIFIKASI SERTA PENGUJIAN
SIFAT SURFAKTAN SABUN DAN DETERJEN

TUJUAN :
 Mempelajari proses saponifikasi suatu lemak dengan menggunakan kalium
hidroksida dan natrium hidroksida
 Mempelajari perbedaan sifat sabun dan detergen

1. PRE-LAB
1. Jelaskan tentang reaksi saponifikasi suatu lemak !
Saponifikasi adalah reaksi yang terjadi ketika minyak atau lemak dicampur dengan
larutan alkali. Dengan kata lain saponifikasi adalah proses pembuatan sabun yang
berlangsung dengan mereaksikan asam lemak dengan alkali yang menghasilkan sintesa
dan air serta garam karbonil (sejenis sabun). Ada dua produk yang dihasilkan dalam
proses ini, yaitu sabun dan gliserin. Secara teknik, sabun adalah hasil reaksi kimia antara
fatty acid dan alkali. Fatty acid adalah lemak yang diperoleh dari lemak hewan dan
nabati (Riswiyanto, 2009).
2.Jelaskan perbedaan sabun kalium, sabun natrium dan detergen, baik secara struktur maupun
sifatnya !
Sabun kalium adalah sabun yang mengandung ion kalium karena dalam proses
pembuatannya, basa yang digunakan adalah kalium hidroksida (Kaustik Potas). Sabun ini
memiliki struktur yang lunak karena memang kalium hidroksida memiliki sifat pemutih
(bleaching) yang lebih lunak daripada natrium hidroksida . Contoh dari sabun kalium yaitu
semua produk sabun mandi, sampo, dan pasta gigi (Hart, 2012).

Gambar Struktur sabun kalium (Hart, 2012).


Sabun natrium adalah sabun yang mengandung ion natrium karena proses
pembuatannya digunakan natrium hidroksida (soda api atau kaustik soda). Sabun ini
memiliki struktur yang keras karena natrium hidroksida memiliki sifat pemutih yang iritatif
(bersifat melukai) terhadap kulit. Oleh karena itu, sabun jenis ini tidak cocok untuk
membersihkan tubuh, kecuali bagian-bagian tertentu seperti telapak tangan yang memang
berkulit tebal. Contoh sabun natrium adalah sabun colek (sabun krim) (Hart, 2012).

Gambar Struktur sabun natrium (Hart, 2012).


Detergen dibuat dari bahan dasar alkil benzena sulfonat atau sering disingkat ABS.
Dibandingkan dengan sabun, detergen memiliki daya cuci lebih baik karena tetap efektif
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

untuk mencuci walaupun dengan menggunakan air sadah maupun air dingin. Detergen
memiliki struktur kimia yang terdiri dari ujung karbon hidrofobik dan ujung sulfat sehingga
dapat mengemulsi lemak (Hart, 2012).

Gambar Struktur deterjen (Hart, 2012).


3. Jelaskan prinsip dasar proses saponifikasi dan pengujian sifat sabun yang dihasilkan !
Prinsip dalam proses saponifikasi,yaitu lemak akan terhidrolisis oleh
basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Proses pencampuran antara minyak dan
alkali kemudian akan membentuk suatu cairan yang mengental, yang disebut dengan trace.
Pengujian sifat sabun yang dihasilkan dapat menggunakan larutan CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%,
FeCl2 0,1% dan air kran dengan cara menambahkan larutan pada sampel sabun, lalu diaduk
dan amati endapan yang terjadi. Pengujian sifat sabun yang dihasilkan adalah sabun dapat
mengemulsi minyak (Manruw, 2010).

4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan air sadah?


Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi,
sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mneral yang rendah. Selain ion kalsium dan
magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam
bikarbonat dan sulfat. Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah
dengan sabun. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah,
sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit busa . Kesadahan air total
dinyatakan dalam satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3. Kemudian untuk
mengetahui jenis kesdahan ai adalah dengan pemanasan. Jika ternyata setelah dilakukan
pemanasan, sabun tetap sukar berbuih, berarti air yang digunakan adalah air sadah tetap
(Fessenden, 2012).
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

2. TINJAUAN PUSTAKA
a. Pengertian dan prinsip saponifikasi beserta reaksinya
Saponifikasi merupakan proses hidrolisis basa terhadap lemak dan minyak. Hasil
mula-mula dari penyabunan adalah karboksilat karena campurannya bersifat basa. Setelah
campuran diasamkan, karboksilat berubah menjadi asam karboksilat. Prinsip dalam proses
saponifikasi,yaitu lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun
mentah. Proses pencampuran antara minyak dan alkali kemudian akan membentuk suatu
cairan yang mengental, yang disebut dengan trace. Reaksi penyabunan merupakan reaksi
hidrolisis lemak/minyak dengan menggunakan basa kuat seperti NaOH atau KOH sehingga
menghasilkan gliserol dan garam asam lemak atau sabun. Untuk menghasilkan sabun yang
keras digunakan NaOH, sedangkan untuk menghasilkan sabun yang lunak atau sabun cair
digunakan KOH (Stoker, 2012).
b. Sabun kalium dan sabun natrium
Senyawa alkali merupakan garam terlarut dari logam alkali seperti kalium dan
natrium. Alkali digunakan sebagai bahan kimia yang bersifat basa dan akan bereaksi serta
menetralisir asam. Alkali yang umum digunakan adalah NaOH atau KOH. Sabun kalium
(ROOCK) terbuat dari lemak dengan KOH, sifatnya lunak dan umumnya digunakan untuk
sabun mandi cair, sabun cuci pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Sabun natrium
(RCOONa) terbuat dari lemak dengan NaOH sifatnya keras dan umumnya digunakan sebagai
sabun cuci, dalam industri logam dan untuk mengatur kekerasan sabun kalium (Riswiyanto,
2009).
c. Perbedaan sabun dengan detergen
Perbedaan sabun dan detergen adalah bahwa sabun adalah garam alkali karboksilat,
detergen adalah garam alkali alkil sulfat/sulfonat. Molekul sabun lebih mudah terdegradasi
bakteri, sedangkan molekul detergen lebih sulit terdegradasi bakteri. Sabun tidak dapat
bekerja di air sadah (air yang mengandung ion Ca2+ dan Mg2+) karena akan bereaksi dengan
ion tersebut sehingga terjadi pengendapan. Detergen dapat bekerja di air sadah karena tidak
bereaksi dengan ion Ca2+ dan Mg2+. Sabun biasanya digunakan untuk membersihkan suatu
produk yang berhubungan langsung dengan kulit manusia sedangkan detergen digunakan
sebagai sabun cuci pakaian (Riswiyanto, 2009).
d. Tinjauan bahan
1. Lemak
Lemak merupakan bahan padat pada suhu ruang disebabkan kandungannya yang
tinggi akan asam lemak jenuh yang tidak memiliki ikatan rangkap, sehingga mempunyai titik
lebur yang lebih tinggi (Fessenden, 2012).
2. Minyak
Minyak merupakan bahan cair pada suhu ruang disebabkan tingginya kandungan asam
lemak yang tidak jenuh, yang memiliki satu atau lebih ikatan rangkap diantara atom-atom
karbonnya, sehingga mempunyai titik lebur yang rendah (Fessenden, 2012).
3. KOH (10% dalam etanol 96%)
Kalium hidroksida adalah basa kuat yang terbentuk dari oksida basa kalium oksida
yang dilarutkan dalam air. Pembuatan sabun harus tepat, apabila terlalu banyak akan
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

menyebabkan iritasi pada kulit dan jika terlalu sedikit maka sabun akan mengandungasam
lemak bebas tinggi yang mengganggu proses emulsi sabun dan kotoran (Manruw, 2010).
4. Aseton
Aseton merupakan keton yang paling sederhana, digunakan sebagai pelarut polar
dalam kebanyakan reaksi organik. Aseton adalah senyawa berbentuk cairan yang tidak
berwarna dan mudah terbakar, digunakan untuk membuat plastik, serat, obat-obatan, dan
senyawa-senyawa kimia lainnya (Stoker, 2012).
5. NaCl
Natrium klorida, juga dikenal dengan garam dapur, atau halit, adalah senyawa kimia
dengan rumus molekul NaCl. Senyawa ini adalah garam yang paling memengaruhi salinitas
laut dan cairan ekstraselular pada banyak organisme multiselular (Marzuki, 2010).
6. Akuades
Aquades disebut juga Aqua Purificata (air murni) H2O dengan. Air murni adalah air
yang dimurnikan dari destilasi. Satu molekul air memiliki dua hidrogen atom kovalen terikat
untuk satu oksigen. Aquades merupakan cairan yang jernih, tidak berwarna dan tidak berbau.
Aquades juga memiliki berat molekul sebesar 18,0 g/mol dan PH antara 5-7 (Marzuki, 2010).
7. CaCl2 0,1%
CaCl2 adalah senyawa ionik yang terdiri dari unsur kalsium dan klorin. CaCl2 tidak
berbau, tidak berwarna, solusi tidak beracun, yang digunakan secara ekstensif di berbagai
industri dan aplikasi di seluruh dunia. Berlaku sebagai ion khalida yang khas dan padat pada
suhu kamar (Marzuki, 2010).
8. MgCl2 0,1%
MgCl2 adalah logam yang kuat, putih keperakan, ringan dan akan menjadi kusam
dibiarkan pada udara terbuka. Dalam bentuk sebuk, logam ini sangat reaktif dan bisa terbakar
dengan nyala putih apabila udaranya lembab. MgCl2 merupakan senyawa halida ionik yang
sangat larut dalam air, biasanya tersedia dalam senyawa hidrat (Marzuki, 2010).
9. FeCl2 0,1%
FeCl2 berbentuk solid atau padatan yang mempunyai titik leleh yang tinggi. FeCl 2
dapat larut dalam air. Senyawa yang memberikan konstribusi yang besar dengan sifat magnet
yang dimilikinya (Marzuki, 2010).
10. Detergen
Deterjen dapat berbentuk cair, pasta, atau bubuk yang mengandung konstituen bahan
aktif pada permukaannya dan konstituen bahan tambahan. Konstituen bahan aktif adalah
berupa surfaktan yang merupakan singkatan dari surface active agents, yaitu bahan yang
menurunkan tegangan permukaan suatu cairan dan di antarmuka fasa (baik cair-gas maupun
cair-cair) untuk mempermudah penyebaran dan pemerataan (Hart, 2012).
11. Air Keran
Air kran yang mengandung sadah dapat menyebabkan pengendapan minera, yang
dapat menyumbat pipa air. Air kran terdapat dalam pada rumah atau bangunan-bangunan lain.
Air ini digunakan untuk mencuci, memasak, minum dan lain-lain (Marzuki, 2010).
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

3. DIAGRAM ALIR
1. Pembuatan Sabun Kalium

Sampel minyak atau lemak

Diambil sebanyak 30 tetes


10 ml KOH dalam etanol 96%

Ditempatkan dalam gelas beker 100ml

Dipanaskan dalam gelas beker 500 ml berisi air mendidih

Dipanaskan hingga mendidih


2 ml larutan Etanol
Dipanaskan lagi selama 3 menit

Dilakukan uji penyabunan

Diletakkan beberapa tetes hasil reaksi ke dalam air

Diambil hasil tetesan


(Saponifikasi sempurna jika tidak ada tetesan lemak)

Saponifikasi tidak sempurna Saponifikasi sempurna

2 ml larutan etanol Dipanaskan hingga alkohol


Dipanaskan menguap sempurna
kembali
Ditandai cairannya kental, liat jangan gosong
Aquades
30 ml
Diaduk konstan

Sabun Kalium (A)

B C
Dibuat untuk Diuji
sabun natrium
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

2. Pembuatan Sabun Natrium

Separuh sampel A
(Larutan B)

Ditambahkan 15 ml NaCl jenuh

Diaduk dengan kuat

Padatan

Dipisahkan padatan dengan kertas saring

Ditekan padatan sabun Natrium

Hasil

3. Pengujian Sifat Sabun dan Detergen


-Sabun Kalium

Minyak atau lemak

Diteteskan 2 tetes minyak atau lemak pada gelas arloji

1 ml sabun kalium
Digoyangkan pada gelas arloji

Diamati minyak atau lemak hilang atau tidak

Hasil
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

 Sabun natrium
Minyak atau lemak

Diteteskan 2 tetes minyak atau lemak pada gelas arloji


1 ml sabun natrium
Digoyangkan pada gelas arloji (B)

Diamati minyak atau lemak hilang

Hasil
 Larutan Detergen
 Pembuatan larutan detergen

Detergen

Ditimbang 0,5 gram


Akuades 10 ml
Dilarutkan

Larutan detergen (C)


 Detergen

Minyak atau
lemak

dioleskan minyak atau lemak pada gelas arloji


1 ml sabun kalium (A)
Digoyangkan pada gelas arloji

Diamati minyak atau lemak hilang

Hasil
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

4. Pengujian sifat kesadahan sabun dan detergen


- Pengujian sifat sabun kalium
Sabun Kalium (A)

Diambil 4 tabung reaksi

Diisi 1 ml sabun kalium (A) setiap tabung reaksi


Masing-masing tiap tabung diisi
1 ml CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%,
FeCl2 0,1%, dan Air Kran

Diaduk tiap tabung reaksi

Diamati endapan yang terjadi tiap tabung reaksi

Hasil

- Pengujian sifat sabun Natrium

Sabun Natrium (B)

Diambil 4 tabung reaksi

Diisi 1 ml sabun natrium (B) setiap tabung reaksi

Masing-masing tiap tabung diisi


1 ml CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%,
FeCl2 0,1%, dan Air Kran
Diaduk tiap tabung reaksi

Diamati endapan yang terjadi tiap tabung reaksi

Hasil
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

- Pengujian Detergen
Detergen

Diambil 4 tabung reaksi

Diisi 1 ml larutan detergen setiap tabung reaksi

Masing-masing tiap tabung diisi


1 ml CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%,
FeCl2 0,1%, dan Air Kran
Diaduk tiap tabung reaksi

Diamati endapan yang terjadi tiap tabung reaksi

Hasil
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

DAFTAR PUSTAKA

Fessenden, R. J. 2012. Dasar – Dasar Kimia Organik. Tangerang: Binarupa Aksara


Hart, H. 2012. Organic Chemistry. Belmont: Cengage Learning
Manruw. 2010. Pengantar Biokimia. Jakarta: UI Press
Marzuki, I. 2010. Kimia dalam Keperawatan. Takalar: Pustaka As Salam
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik. Jakarta: Penerbit Erlangga
Stoker, H. S. 2012. General, Organic, and Biological Chemistry. Boston: Cengage Learning
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

4. HASIL PERCOBAAN DAN PENGAMATAN


1. Saponifikasi lemak : pembuatan sabun kalium

Akuades
Ditambah
Berat / Setelah 30 mL Diaduk
Jenis Tes Setelah NaCl
volume dipanaskan dan kuat
sampel penyabunan dipanaskan (sebelum
sampel 2 menit dibagi
diaduk)
dua
Warna
Tidak ada
Minyak Kuning kuning
Sabun gelembung,
15 ml masih pekat memudar
kalium airnya agak
terpisah merata kuning-
keruh
bening
Putih
Kuning, keruh
Sabun
15 mL endapan merata,
natrium
putih endapan

Jenis sampel Warna Bentuk


Sabun kalium Kuning-bening Cair
Sabun natrium Putih kekuningan Padat
Detergen Putih keruh Cair-berbusa

2. Sifat sabun dengan detergen

Ditambah lemak / minyak


Jenis sampel
Kelarutan (ada tidaknya lemak) Warna
Sabun kalium Larut, terdapat globular lemak Bening
(kecil)
Sabun natrium Larut, terdapat sedikit globular Bening-putih
lemak
Detergen Larut, terdapat lebih banyak Bening
globular lemak
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

Pengamatan Diaduk
Jenis sampel Penambahan larutan
(dilihat sebelum diaduk)
1 mL larutan CaCl2 0,1% Putih keruh Bening keruh

1 mL larutan MgCl2 Bening Bening


1 mL sabun 0,1%
kalium Kuning-orang Bening, endapan merah
1 mL larutan FeCl2, 0,1% bata

Air kran Bening, keruh Bening, keruh

Putih keruh, endapan merata Putih keruh, endapan


1 mL larutan CaCl2 0,1% putih

1 mL larutan MgCl2 Putih keruh, terdapat Putih keruh, endapan


0,1% endapan putih
1 mL sabun
natrium Orange pekat, endapan putih Orange, terdapat endapat
1 mL larutan FeCl2, 0,1% putih

Air kran Putih keruh, terdapat Putih keruh, endapan


endapan putih

Bening keruh, endapan putih Bening, keruh


1 mL larutan CaCl2 0,1%
banyak
1 mL larutan MgCl2 Bening keruh, endapan putih Bening keruh, terdapat
0,1% endapan putih
1 mL
detergen
1 mL larutan FeCl2, 0,1% Kuning, endapan putih keruh Bening, endapan orange

Air kran Bening keruh, endapan Bening keruh, endapan


sedikit putih
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

5. PEMBAHASAN
5.1 Analisa Prosedur
5.1.1 Pembuatan sabun kalium
Pembuatan sabun kalium langkah pertama yaitu menyiapkan alat dan bahan. Alat dan
bahan yang dibutuhkan adalah beaker glass, batang pengaduk, gegep, penangas air, pipet
volume, pipet tetes dan bulb, sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah minyak goreng, KOH
10%, etanol 95%, dan akuades. Langkah pertama adalah meneteskan minyak goreng
sebanyak 20 tetes menggunakan pipet tetes ke dalam beaker glass. Lalu tambahkan KOH 10%
sebanyak 10 ml. Kemudian panaskan larutan minyak dan KOH menggunakan penangas air.
Dilakukan pengadukan menggunakan batang pengaduk selama pemanasan agar larutan tidak
mengeras. Siapkan akuades di dalam beaker glass untuk menguji kelarutan sabun kalium di
dalam air. Jika masih terdapat droplet minyak menandakan proses penyabunan belum selesai,
maka perlu ditambah etanol lagi sebanyak 2 ml menggunakan pipet volume dan bulb. Etanol
berfungsi untuk melarutkan minyak. Penambahan etanol bertujuan untuk menggantikan
kehilangan etanol selama pemanasan. Setelah kira-kira 10 menit, sabun kalium akan mendidih
lalu angkat. Tambahkan 30 ml akuades. Larutan sabun kalium dibagi menjadi 2 dan
dimasukkan ke dalam beaker glass yaitu untuk pembuatan sabun natrium dan untuk pengujian
kesadahan. Masing-masing beaker glass dilabeli.
5.1.2 Pembuatan sabun natrium
Pembuatan sabun natrium menyiapkan alat dan bahan. Alat dan bahan yang
dibutuhkan adalah beaker glass, batang pengaduk, kertas saring, pipet volume, bulb, corong,
dan gelas ukur, sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah larutan sabun kalium, akuades dan
larutan NaCl jenuh. Langkah pertama adalah menambahkan larutan NaCl jenuh sebayak 15
ml ke dalam larutan sabun kalium menggunakan pipet volume dan bulb. Kemudian dilakukan
pengadukan cepat sampai membentuk padata atau gumpalan-gumpalan. Setelah gumpalan-
gumpalan atau padatan terbentuk, saring padatan menggunakan kertas saring yang dilipat
hingga membentuk satu titik di tengah kertas saring. Taruh kertas saring diatas gelas ukur.
Tuang perlahan larutan sabun natrium menggunakan batang pengaduk. Padatan dan air akan
terpisah. Padatan yang tersaring di kertas saring kemudian dipindahkan ke dalam beaker
untuk dilarutkan. Tambahkan sebanyak 10 ml akuades untuk melarutkan sabun natrium.
Setelah dilarutkan maka akan dilakukan pengujian kesadahan.
5.1.3 Pembuatan Detergen
Pada pembuatan larutan deterjen, alat dan bahan yang dibutuhkan adalah beaker glass,
spatula, timbangan analitik, pipet volume, bulb dan batang pengaduk sedangkan bahan yang
dibutuhkan adalah akuades dan deterjen. Langkah pertama adalah timbang deterjen sebanyak
0,5 gram dengan cara men-tera timbangan kemudian masukkan beaker glass terlebih dahulu,
tera kembali. Tunggu hingga LED timbangan menunjukkan angka nol. Kemudian timbang
deterjen sebanyak 0,5 gram. Setelah dilakukan penimbangan, lakukan pelarutan deterjen
dengan menambahkan akuades sebanyak 10 ml. Aduk hingga membentuk larutan deterjen.
5.1.4 Uji Minyak
Alat dan bahan yang dibutuhkan pada pengujian minyak adalah 3 buah cawan petri
dan pipet tetes sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah minyak goreng, larutan deterjen,
sabun kalium, dan sabun natrium. Tetesi minyak sebanyak 2 tetes di atas masing-masing
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

cawan petri. Tambahkan 1 ml sabun natrium, 1 ml larutan sabun kalium, dan 10 ml larutan
deterjen ke masing masing cawan petri. Goyangkan cawan petri hingga minyak dan sabun
menyatu. Sabun dan deterjen akan mengemulsikan minyak. Amati laju sabun atau deterjen
saat mengemulsikan minyak.
5.1.5 Uji Kesadahan
Alat dan bahan yang dibutuhkan pada pengujian kesdahan adalah 12 tabung reaksi,
pipet tetes, pipet ukur, bulb, dan rak tabung reaksi, sedangkan bahan yang dibutuhkan adalah
larutan sabun kalium, sabun natrium, larutan derergen, MgCl2 0,1%, FeCl2 0,1%, CaCl2 0,1%
dan air kran. Langkah pertama adalah melabeli tabung reaksi dengan masing masing sabun
dan reagen yang akan ditambahkan. Kemudian tambahkan 20 tetes larutan sabun kalium,
sabun natrium, dan deterjen sesuai tabung yang telah dilabeli masing masing. Lalu tambahkan
reagen sebanyak 1 ml ke dalam tabung reaksi sesuai label masing-masing selanjutnya diamati
perubahan yang terjadi. Setelah itu, setiap tabung dilakukan pengocokan. Amati ada tidaknya
endapan yang terbentuk. Endapan merupakan hasil dari bereaksinya anion karboksilat dan
kation bivalen dari mineral.

5.2 Analisa Hasil


5.2.1 Pembuatan sabun kalium
Sabun kalium merupakan reaksi saponifikasi (hidrolisis) dari asam lemak yaitu
palmitat atau stearat dan basa alkali yaitu KOH dan menghasilkan sabun dan gliserol. Rumus
molekul sabun kalium dinyatakan sebagai RCOOK. Sabun kalium ROOCK disebut juga
sabun lunak dan umumnya digunakan untuk sabun mandi cair, sabun cuci pakaian dan
perlengkapan rumah tangga (Kurniadi, 2010). Pada pembuatan sabun kalium, digunakan
minyak goreng sebagai sumber asam lemak dan KOH sebagai basa alkali. KOH 10%
berbentuk larutan di etanol 95%. Etanol berfungsi sebagai pelarut lemak. Pada tes
penyabunan, dilakukan dengan cara meneteskan larutan sabun ke dalam beaker glass, jika
masih terdapat droplet minyak maka perlu dan dilakukan penambahan pelarut minyak yaitu
etanol dan pemanasan dilanjutkan. Sabun kalium yang dihasilkan pada percobaan ini
berwarna kuning memudar kuning bening dan benwujud cair. Sabun kalium bersifat mudah
larut dalam air sehingga jika diencerkan sabun kalium akan terlarut secara sempurna di dalam
air.
5.2.2 Pembuatan sabun
Sabun natrium merupakan reaksi saponifikasi (hidrolisis) dari asam lemak yaitu
palmitat atau stearat dan basa alkali yaitu NaOH dan menghasilkan sabun dan gliserol. Rumus
molekul sabun natrium dinyatakan sebagai RCOONa. RCOONa, disebut sabun keras dan
umumnya digunakan sebagai sabun cuci, dalam industri logam dan untuk mengatur kekerasan
sabun kalium (Kurniadi, 2010). Pembuatan sabun natrium pada percobaan ini menggunakan
sabun kalium yang ditambah dengan garam (NaCl) jenuh. Penambahan garam jenuh
menghasilkan endapan berwarna putih yang mulai terpisah dengan cairan bewarna kuning
yaitu gliserol. Setelah dilakukan pengadukan sabun natrium memiliki endapan putih keruh
merata yang sudah terpisah dengan gliserol. Sabun natrium yang dihasilkan berwarna putih
dan berwujud padat. Sabun natrium sukar larut dalam air karena wujudnya yang padat.
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

5.2.3 Uji Minyak


Pengujian minyak bertujuan untuk mengetahui kemampuan sabun atau deterjen dalam
mengikat minyak dengan cara mengemulsikan partikel minyak menjadi suatu suspensi.
Kemudian teradhesi dan melekat pada suatu permukaan tipis, dengan adanya pencucian maka
lapisan tersebut akan terpisah dan terbawa oleh air. Berdasarkan hasil praktikum detergen
setelah ditetesi dengan minyak dan digoyangkan, minyak di dalam detergen menjadi terlarut
dan terdapat lebih banyak globuler lemak, hal ini tidak sesuai dengan literature dikarenakan
oleh kesalahan dalam praktikum. Kesalahan terletak pada pembuatan larutan detergen
maupun kebersihan alat yang telah digunakan pada praktikum sebelumnya sehingga data yang
didapatkan tidak sesuai degan literatur. Pada sabun kalium setelah ditetesi dengan minyak dan
digoyangkan minyak di dalam sabun kalium larut dan terdapat globular lemak kecil. Pada
sabun natrium setelah ditetesi minyak dan digoyangkan minyak di dalam sabun natrium larut
dan terdapat sedikit globular lemak. Sabun natrium membutuhkan waktu lebih lama dari
sabun kalium dalam mengikat minyak. Menurut Arifin dkk (2013), sifat-sifat sabun seperti
kelarutan, proses emulsi dan pembasahan dipengaruhi oleh panjang atom C. Trigliserida yang
umum digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun memiliki panjang rantai karbon antara
12 sampai 18. Asam lemak dengan panjang rantai karbon lebih dari 18 akan membuat sabun
menjadi keras dan sulit terlarut dalam air. Asam lemak bebas pada sabun juga mengganggu
proses emulsi sabun dan kotoran pada saat sabun digunakan. Selain itu, molekul sabun dan
deterjen terdiri dari ujung hidrokarbon yang bersifat non polar dan ujung yang lain bersifat
polar/ionik. Bagian non polar akan mengelilingi tetesan minyak dan melarutkannya sesuai
dengan asas like dissolves like (senyawa yang memiliki kemiripan kepolaran akan saling
melarutkan). Ujung polar/ionik dari molekul sabun segera akan terlarut dalam air.
5.2.4 Uji Kesadahan
Pengujian kesadahan bertujuan untuk mengetahui kemampuan sabun dan deterjen
bekerja pada air dalam keadaan sadah atau memiliki kandungan mineral tertentu dalam
jumlah tertentu. Kinerja akan terlihat dari ada tidaknya endapan yang muncul ketika sabun
atau deterjen dicampur MgCl2 0,1%, FeCl2 0,1%, CaCl2 0,1% dan air keran. Selain itu, jika
larutan sabun dalam air diaduk maka akan menghasilkan buih, peristiwa ini tidak akan terjadi
pada air sadah. Berdasarkan hasil pengujian, kinerja detergen bekerja pada CaCl2 karena tidak
ditemukan adanya endapan. Muncul endapan pada air kran, MgCl2 dan FeCl2. Pada sabun
kalium, kinerja sabun bekerja pada MgCl2, CaCl2, dan air kran karena tidak ditemukannya
endapan. Endapan hanya ditemukan pada FeCl2. Pada sabun natrium, kinerja sabun tidak
bekerja pada MgCl2, CaCl2, FeCl2, dan air kran. Menurut Adza (2011), kesadahan merupakan
petunjuk kemampuan air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air
berkesadahan rendah, air akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun,
sedangkan air yang berkesadahan tinggi tidak akan berbentuk busa. Kadar Ca2+ yang tinggi
akan menyebabkan air menjadi keruh. Air sadah juga tidak baik untuk mencuci, karena ion-
ion Ca2- dan Mg2+ akan berikatan dengan sisa asam karbohidrat pada sabun dan membentuk
endapan sehingga sabun tidak berbuih. Deterjen adalah surfaktan anionik dari garam sulfonat
atau sulfat berantai panjang dari natrium. Deterjen mempunyai keunggulan dalam hal tidak
mengendap bersama ion logam dalam air sadah.
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

PERTANYAAN
1. Apa fungsi penambahan KOH pada proses saponifikasi? Apakah larutan KOH dapat
digantikan dengan bahan lain, jika dapat, bahan apakah yang dapat menggantikan larutan
KOH?
Fungsi penambahan KOH adalah sebagai reagen dalam pembuatan sabun kalium
sehingga asam lemak dapat terhidrolisis dan membentuk sabun serta gliserol. Peran KOH
dapat diganti dengan basa kuat lainnya, misalkan NaOH, sehingga sabun yang dihasilkan
menjadi sabun natrium yang memiliki tekstur padat (Arifin, 2013).
2. Jelaskan fungsi NaCl dalam percobaan ini!
NaCl merupakan komponen kunci dalam proses pembuatan sabun. NaCl berfungsi
umtuk memisahkan produk sabun dengan gliserin. Gliserin tidak mengalami pengendapan
dalam brine karena kelarutannya yang tinggi, sedangkan sabun akan mengendap (Suheri,
2010).
3. Jelaskan cara kerja sabun dan detergen sebagai pembersih kotoran / lemak! Mengapa
detergen lebih efektif untuk membersihkan kotoran bila dibandingkan dengan sabun?
a. Cara kerja sabun adalah dengan cara mengikat minyak di dalam air, pada saat
sabun bercampur dengan air, rantai asam lemak ini akan mengikat kotoran,
terutama yang berminyak dan berlemak. Kemudian, ion yang terdapat pada ujung
rantai asam lemak tadi akan bertugas untuk membawa ikatan asam lemak dan
kotoran ini ke dalam air. Akhirnya, kotoran pun bisa diangkat dan dibawa pergi
bersama dengan air (Arifin, 2013).
b. Detergen merupakan pembersih yang mengandung senyawa petronimia atau
surfaktan sintesis lainnya yang berfungsi sebagai bahan pembasa yang
menyebabkan menurunnya tegangan permuakaan air sehingga air lebih mudah
meresap ke dalam kain yang dicuci dan mengangkat kotoran yang menempel pada
kain. Surfaktan ini adalah bahan pembersih utama yang terdapat dalam detergen,
seperti LAS ( Lauril Alkil Sulfat ) dan ABS ( Alkil Benzene Sulfonat ) sehingga
detergen lebih efektif membersihkan kotoran dibandingkan dengan sabun (Arifin,
2013).
4. Jelaskan pengaruh kesadahan terhadap fungsi sabun dan detergen sebagai pembersih !
Deterjen dapat digunakan sebagai pembersih pada air sadah karena deterjen tidak
dapat bereaksi dengan air sadah sehingga tidak akan menimbulkan endapan yang
dimungkinkan dapat merugikan. Pada sabun tidak dapat bekerja pada air sadah karena
sabun bereaksi pada air sadah yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerak pada baju
maupun lantai (Adza, 2011).
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

KESIMPULAN
Saponifikasi pada dasarnya adalah proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan
mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan gliserol dan
garam karboksilat (sejenis sabun). Tujuan dari praktikum ini yaitu mempelajari proses
saponifikasi suatu lemak dengan menggunakan kalium hidroksida dan natrium hidroksida
serta mempelajari perbedaan sifat sabun dan detergen. Prinsip dalam proses saponifikasi
yaitu lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah. Sabun
kalium ROOCK disebut juga sabun lunak dan umumnya digunakan untuk sabun mandi cair,
sabun cuci pakaian dan perlengkapan rumah tangga. Sedangkan sabun natrium, RCOONa,
disebut sabun keras dan umumnya digunakan sebagai sabun cuci, dalam industri logam dan
untuk mengatur kekerasan sabun kalium. Detergen adalah garam alkali alkil sulfat atau
sulfoniat. Deterjen adalah campuran zat kimia dari sintetik ataupun alam yang memiliki sifat
yang dapat menarik zat pengotor dari media, dan sering digunakan sebagai sabun cuci
pakaian. Kesadahan merupakan ukuran kandungan tertentu pada air dalam bentuk garam
karbonat. Pada sabun kalium pada CaCl2, MgCl2, dan air kran tidak ditemukan endapan
sedangkan pada sabun natrium pada semua mineral mengalami endapan hal ini karena ion 2+
menghancurkan sifat surfaktan pada sabun dengan membentuk endapan padat (sampah sabun
tersebut). Komponen utama tersebut adalah kalsium stearat, yang muncul dari stearat natrium.
Pada detergen seharusnya tidak terdapat endapan karena surfaktan pada detergen lebih kuat
dibandingkan kadar mineral dari larutan CaCl2 0,1%, MgCl2 0,1%, larutan FeCl2 0,1% dan
air kran. Namun, berdasarkan data hasil praktikum yang didapatkan endapan ditemukan
hampir diseluruh mineral kecuali pada CaCl2, hal ini dikarenakan kesahan yang terjadi pada
saat praktikum maupun kebersihan alat yang digunakan sehingga hasilnya berbeda dengan
literature.
NAMA RIA YOLANDA ARUNDINA
NIM 175100600111008
KELAS H
KELOMPOK H1

DAFTAR PUSTAKA TAMBAHAN

Adza, Mohammad. 2011. Pengaruh pH dan Suhu dalam Penurunan Kesadahan. Semarang:
Universitas Muhammadiyah Semarang
Arifin, L.,dkk. 2013. Reaksi Saponifikasi Pembuatan Sabun dan Pelembut. Pekanbaru:
Universitas Riau
Kurniadi, D. 2010. Pra Perancangan Pabrik Pembuatan Sabun dan Deterjen. Medan:
Universitas Sumatra Utara
Suheri, Fauzan. 2010. Pembuatan Sabun. Palembang: Universitas Sriwijaya