Anda di halaman 1dari 12

Kisah Umar bin Khaththab

Menjelang shubuh, Khalifah Umar bin Khattab berkeliling kota membangunkan kaum
muslimin untuk shalat shubuh. Ketika waktu shalat tiba, beliau sendiri yang mengatur saf
(barisan) dan mengimami para jamaah. Pada shubuh itu, tragedi besar dalam sejarah terjadi.
Saat Khalifah mengucapkan takbiratul ihram, tiba-tiba seorang lelaki bernama Abu Lu’luah
menikamkan sebilah pisau ke bahu, pinggang, dan ke bawah pusar beliau. Darah pun
menyembur.
Namun, Khalifah yang berjuluk “Singa Padang Pasir” ini bergeming dari
kekhusyukannya memimpin shalat. Padahal, waktu shalat masih bisa ditangguhkan
beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Sekuat apa pun Umar, akhirnya ambruk juga.
Walau demikian, beliau masih sempat memerintahkan Abdurrahman bin ‘Auf untuk
menggantikan posisinya sebagai imam.
Beberapa saat setelah ditikam, kesadaran dan ketidaksadaran silih berganti
mendatangi Khalifah Umar. Para sahabat yang mengelilinginya demikian cemas akan
keselamatan Khalifah.
Salah seorang di antara mereka berkata, “Kalau beliau masih hidup, tidak ada yang
bisa menyadarkannya selain kata-kata shalat!”
Lalu, yang hadir serentak berkata, “Shalat, wahai Amirul Mukminin. Shalat telah hampir
dilaksanakan.”
Beliau langsung tersadar, “Shalat? Kalau demikian di sanalah Allah. Tiada
keberuntungan dalam Islam bagi yang meninggalkan shalat.” Lalu, beliau melaksanakan
shalat dengan darah bercucuran. Taklama kemudian, sahabat terbaik Rasulullah ini pun
wafat.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada Umar Al Faruq ini adalah buah dari doa yang
beliau panjatkan kepada Allah. Alkisah, suatu ketika, saat sedang wukuf di Arafah, beliau
membaca doa, “Ya Allah, aku mohon mati syahid di jalan-Mu dan wafat di negeri Rasul-Mu
(Madinah).” (HR Malik)
Sepulangnya dari menunaikan ibadah haji, Umar pun menceritakan soal doanya itu
kepada salah seorang sahabatnya di Madinah. Sahabat itu pun berkomentar, “Wahai
Khalifah, jika engkau berharap mati syahid, tidak mungkin di sini. Pergilah keluar untuk
berjihad, niscaya engkau bakal menemuinya.” Dengan ringan, Umar menjawab, “Aku telah
mengajukannya kepada Allah. Terserah Allah.”
Keesokan harinya, saat Umar mengimami shalat shubuh di masjid, seorang
pengkhianat Majusi bernama Abu Lu’luah itu menghunuskan pisaunya ke tubuh Umar yang
menyebabkan beliau mendapat tiga tusukan dalam dan tubuhnya pun roboh di samping
mihrab.
Kisah Uwais bin Qarni

Di Yaman, tinggalah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit


sopak, tubuhnya belang-belang. Walaupun cacat, ia adalah pemuda yang soleh dan sangat
berbakti kepadanya Ibunya. Ibunya adalah seorang wanita tua yang lumpuh. Uwais
senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan Ibunya. Hanya satu permintaan yang
sulit ia kabulkan.
“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersama dengan kamu, ikhtiarkan agar Ibu
dapat mengerjakan haji,” pinta Ibunya. Uwais tercenung, perjalanan ke Mekkah sangatlah
jauh melewati padang pasir tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta
dan membawa banyak perbekalan. Namun Uwais sangat miskin dan tak memiliki kendaraan.
Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seeokar anak lembu, Kira-kira
untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkinkan pergi Haji naik lembu. Olala, ternyata Uwais
membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi beliau bolak balik menggendong anak
lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila.. Uwais gila…” kata orang-orang. Yah, kelakuan Uwais
memang sungguh aneh.
Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik turun bukit. Makin
hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi
karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.
Setelah 8 bulan berlalu, sampailah musim Haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kg,
begitu juga dengan otot Uwais yang makin membesar. Ia menjadi kuat mengangkat barang.
Tahulah sekarang orang-orang apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari. Ternyata
ia latihan untuk menggendong Ibunya.
Uwais menggendong ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah! Subhanallah,
alangkah besar cinta Uwais pada ibunya. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi
memenuhi keinginan ibunya.
Uwais berjalan tegap menggendong ibunya tawaf di Ka’bah. Ibunya terharu dan
bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa. “Ya
Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais. “Bagaimana dengan dosamu?” tanya ibunya
heran. Uwais menjawab, “Dengan terampunnya dosa Ibu, maka Ibu akan masuk surga.
Cukuplah ridho dari Ibu yang akan membawa aku ke surga.”
Allah SWT pun memberikan karunianya, Uwais seketika itu juga disembuhkan dari
penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah
dari bulatan disisakan di tengkuk? itulah tanda untuk Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib,
dua sahabat utama Rasulullah SAW untuk mengenali Uwais.
Beliau berdua sengaja mencari Uwais di sekitar Ka’bah karena Rasullah SAW berpesan
“Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kamu berdua
pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman. Dia akan
muncul di zaman kamu, carilah dia. Kalau berjumpa dengan dia minta tolong dia berdua
untuk kamu berdua.”
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu, durhaka pada ibu dan menolak
kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah,
membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya demikian pula memboroskan harta
(menghamburkan kekayaan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kisah Umar, Salman, dan Pemuda

Suatu hari, Umar sedang duduk di bawah pohon kurma dekat Masjid Nabawi. Tiba-
tiba datanglah tiga orang pemuda. Dua pemuda memegangi seorang pemuda lusuh yang
diapit oleh mereka. Ketika sudah berhadapan dengan Umar, kedua pemuda yang ternyata
kakak beradik meminta keadilan agar pemuda ketiga itu diqishash, sebab ia telah
membunuh ayah mereka.
"Aku datang dari pedalaman yang jauh, kaumku memercayakan aku untuk suatu
urusan muammalah untuk kuselesaikan di kota ini. Sesampainya aku di kota ini, ku ikat untaku
pada sebuah pohon kurma lalu kutinggalkan dia (unta). Begitu kembali, aku sangat terkejut
melihat seorang laki-laki tua sedang menyembelih untaku, rupanya untaku terlepas dan
merusak kebun yang menjadi milik laki-laki tua itu. Sungguh, aku sangat marah, segera ku
cabut pedangku dan kubunuh ia (lelaki tua tadi). Ternyata ia adalah ayah dari kedua
pemuda ini.”
Namun kedua pemuda tersebut bersikeras meminta keadilan agar pembunuh ayah
mereka mendapat hukum qishash.
"Wahai Amirul Mukminin, tegakkanlah hukum Allah, laksanakanlah qishash atasku. Aku
ridha dengan ketentuan Allah. Namun, izinkan aku menyelesaikan dulu urusan kaumku.
Berilah aku tangguh tiga hari. Aku akan kembali untuk diqishash".
Kedua pemuda tersebut menolak. Mereka takut pemuda ini akan lari menghidari
hukum tersebut. Amirul Mukminin bertanya apakah pemuda tersebut memiliki wali yang
dapat mewakilkan tugasnya. Namun ternyata tidak ada saudara. Lalu, shahabat bernama
Salman Alfarisi menyatakan dirinya siap menjadi penjamin atas pemudia tersebut. Tentu saja
hal ini membuat Umar terkejut. Bagaimana bisa Salman memberikan jaminan kepada
pemuda yang baru pertama kali ia jumpai.
Lalu pergilah pemuda tersebut untuk menunaikan janji dan tugas kepada kaumnya.
Hari ketiga pun tiba. Orang-orang mulai meragukan kedatangan si pemuda, dan mereka
mulai mengkhawatirkan nasib Salman. Matahari hampir tenggelam, hari mulai berakhir,
orang-orang berkumpul untuk menunggu kedatangan pemuda tersebut. Umar berjalan
mondar-mandir menunjukkan kegelisahannya. Kedua pemuda yang menjadi penggugat
kecewa karena keingkaran janji si pemuda lusuh.
Akhirnya tiba waktunya penqishashan. Salman dengan tenang dan penuh
ketawakkalan berjalan menuju tempat eksekusi. Hadirin mulai terisak, karena menyaksikan
orang hebat seperti Salman akan dikorbankan.
Tiba-tiba di kejauhan ada sesosok bayangan berlari terseok-seok, jatuh, bangkit,
kembali jatuh, lalu bangkit kembali.
”Itu dia! Dia datang menepati janjinya!” teriak Umar.
”Hhh. Maafkan, maafkan aku wahai Amirul Mukminin. Tak kukira urusan kaumku
menyita waktu. Kupacu tungganganku tanpa henti, hingga ia sekarat di gurun. Terpaksa
kutinggalkan lalu aku berlari..” ujarnya dengan susah payah,
”Demi Allah. Mengapa kau susah payah kembali? Padahal kau bisa saja kabur dan
menghilang?”, ujar Umar menenanginya dan memberinya minum,
”Aku kembali agar jangan sampai ada yang mengatakan. di kalangan Muslimin tak
ada lagi ksatria yang menepati janji” jawab pemuda tersebut.
“Lalu mengapa kau bersedia menjamin orang yang baru kau kenal, Salman?"
“Agar jangan sampai dikatakan, dikalangan Muslimin, tidak ada lagi rasa saling
percaya dan mau menanggung beban saudaranya”.
“Saksikanlah wahai kaum Muslimin, bahwa kami telah memaafkan saudara kami itu”
Ujar kedua pemuda yang ayahnya dibunuh. Semua orang tersentak.
”Agar jangan sampai dikatakan, di kalangan Muslimin tidak ada lagi orang yang mau
memberi maaf dan sayang kepada saudaranya”.
”Allahu Akbar!” teriak hadirin. Pecahlah tangis bahagia, haru dan sukacita oleh semua
orang.
Kisah Abbad bin Bisyr

Rasululah SAW telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru
tiba di Madinah. Ketika keduanya keluar ke pos penjagaan, Abbad bertanya kepada
Ammar,

"Siapa di antara kita yang berjaga terlebih dahulu?"

"Aku yang tidur lebih dahulu," jawab Ammar yang bersiap untuk berbaring tak jauh
dari tempat penjagaan.

Dalam suasana malam yang tenang dan hening, Abbad shalat malam dan larut
dalam manisnya ayat-ayat Al Qur'an yang dibacanya. Dalam shalat itu ia membaca surat Al
Kahfi dengan suara memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Ketika Abbad tenggelam dalam kekhusyukan shalat Tahajud, seorang musuh datang
menyelinap. Musuh itu yakin bahwa Rasulullah SAW ada di tempat itu dan orang yang sedang
shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.

Orang itu menyiapkan anak panah dan memanah Abbad dengan tepat mengenai
tubuhnya. Abbad mencabut anak panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan
bacaan dan tenggelam dalam shalat. Orang itu memanah lagi dan mengenai tubuh Abbad
dengan jitu lagi. Abbad kembali mencabut anak panah dari tubuhnya dan kembali
meneruskan ibadahnya.

Kemudian orang itu memanah lagi dan Abbad mencabut lagi anak panahnya seperti
dua anak panah sebelumnya. Kini giliran jaga diemban oleh Ammar bin Yasir pun tiba..
Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang tidur lalu membangunkannya seraya berkata,
"Bangunlah saudaraku, aku terluka parah dan lemas," kata Abbad.

Sementara itu, si pemanah tadi yang mengetahui melihat pasangan saudara itu, buru-
buru melarikan diri. Ammar menoleh ke arah Abbad dan melihat darah bercucuran dari tiga
luka di tubuhnya.

'Subhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku ketika panah pertama


mengenai tubuhmu saudaraku?" kata Ammar.

"Aku sedang membaca Al Qur'an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan
bacaanku hingga selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas
jaga yang dibebankan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga pos perkemahan kaum muslimin,
biarlah tubuhku putus daripada harus menghentikan bacaan Al Qur'an dalam shalat," jawab
Abbad.
Kisah Islamnya Umar bin Khaththab

Beliau dikenal sebagai pribadi yang bersih dari segala hawa nafsu. Dia sangat
mencintai keadilan. Umar lahir di Mekkah pada tahun 581 Masehi. Ayahnya bernama Khattab
dan ibunya bernama Hantamah binti Hisyam. Pada awalnya Umar sangat marah ketika adik
perempuannya telah masuk Islam dan menjadi pengikut Rasulullah. Pasalnya Muhammad
telah menentang Tuhan-Tuhan yang mereka sembah sebelumnya.
Saat itu sang adik sedang membaca Alquran, Umar lalu mendatanginya dengan
penuh amarah. Umar yang datang tiba-tiba membuat adiknya terkejut dan segera
menyembunyikan Alquran yang dibacanya.
"Berikan kitab yang ada pada diri kalian kepadaku! Aku ingin membacanya" bentak
Umar pada adiknya. Adiknya menolak. Lantas Umar menampar hingga terpental adiknya
tersebut. Begitu besarnya kemarahan Umar karena adiknya menjadi pengikut Muhammad.
Setelah badan sang adik melemah, Umar mengambil mushaf yang dipegang adiknya.
Umar lalu membaca surat Thaha dan seketika itu juga dia memuji keindahan ayat-
ayat Alquran. Seketika itu Umar meminta untuk dipertemukan dengan Rasulullah, dan segera
mengucapkan dua kalimat syahadat. Umar menjadi salah satu pendukung dakwah Nabi
Muhammad yang gigih.
Dikutip dari buku Pemuda Yang Dicintai Langit, karangan Dwi Rahayu menuturkan,
suatu hari dia bertanya mengapa Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi.
"Ya Rasulullah, bukankah hidup dan mati kita dalam kebenaran?". tanya Umar kepada
Rasulullah. "Iya" Jawab Rasulullah. "Jika demikian, mengapa kita diam-diam mendakwahkan
ajaran kita? Demi Dzat yang mengutusmu atas nama kebenaran, saatnya kita keluar" ajak
Umar kepada Rasulullah.
Rasulullah kemudian keluar bersama dua barisan yang dipimpin oleh Umar dan
Hamzah, sehingga tak ada satupun orang Quraisy yang berani mengganggu mereka.
Selanjutnya, Umar menjadi penasihat terdekat Rasulullah. Umar merupakan sosok yang
pemberani, namun dia juga penuh dengan perhitungan dan suka bermusyawarah.
Beliau merupakan orang kepercayaan Rasulullah SAW. Rasulullah bersabda, "Allah
telah menempatkan kebenaran pada lisan dan hati Umar. Dialah mampu membedakan
yang hak dan yang bathil". (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim).
Kisah Hamzah bin Abdul Muthalib

Tatkala Allah Azza wa Jalla mengizinkan Rasul-Nya untuk berperang, Nabi Shallallahu
‘alaihi wa sallam mulai mengutus para pasukan perang ke berbagai wilayah dengan tujuan
tertentu. Ketika itu, panji pertama yang dibuat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah
untuk Hamzah bin `Abdul Mutthalib Radhiyallahu anhu . Beliau mengutusnya bersama 30
Muhâjirin, untuk menghadang kafilah dagang Quraisy. Rombongan dagang itu datang dari
Syam, dipimpin oleh Abu Jahal bin Hisyâm dengan 300 orang Quraisy. Sampailah Hamzah
dan orang-orang yang bersamanya di Saiful Bahr dari arah al-Ish. Dia bertemu dengan Abu
Jahal dan para pengikutnya, dan kemudian kedua kelompok itu memilih berperang dan
menghunus pedang-pedang mereka, kecuali Majdi bin Umar al-Juhani yang mempunyai
hubungan erat dengan 2 kelompok itu. Ia berjalan di antara dua kelompok itu dan
memisahkan mereka, sehingga perang pun tidak terjadi.
Dalam perang Badar al-Kubra, Hamzah adalah pejuang terdepan dalam mubârazah
(perang tanding atau duel). Ali Radhiyallahu anhu berkata : “Utbah bin rabî`ah maju,
kemudian diikuti oleh anak laki-laki dan saudaranya. Ia berseru : “Siapa yang akan maju
tanding?” kemudian beberapa pemuda Anshâr pun meladeninya. Utbah bertanya : “Siapa
kalian?” Mereka pun memberitahukan diri mereka. Lalu Utbah berkata : “Kami tidak ada
urusan dengan kalian, yang kami butuhkan hanyalah kaum kami.” Kemudian Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : “ Berdirilah wahai Hamzah, berdirilah wahai Ali,
berdirilah wahai Ubadah bin al-Harits.” Kemudian Hamzah mendatangi Utbah, aku (Ali)
mendatangi Syaibah, sedangkan Ubadah dan al-Walîd saling memukul 2 pukulan. Setelah
kami (Ali dan Hamzah) mengalahkan musuh, lalu kami menuju al-Walîd dan membunuhnya.
Kami membawa Ubâdah kembali ke pasukan kaum Muslimin.” Kisah ini menjelaskan bahwa
Hamzah bin `Abdul Mutthalib ikut berduel dalam perang Badar.
Kedua kelompok yang berduel itu adalah pasukan Allah Azza wa Jalla dan pasukan
setan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
“Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar,
mereka saling bertengkar mengenai rabb mereka.” [al-Hajj/22:19]
Abdurrahmân bin `Auf memberikan persaksian bahwa Hamzah lebih baik daripada
dirinya. `Abdurrahmân bin Auf juga mengatakan: “Hamzah telah terbunuh, padahal dia
adalah orang yang lebih baik dariku, kemudian dunia dilapangkan bagi kami, atau
mengatakan kami mendapatkan kesenangan dunia. Sungguh, kami takut kebaikan-
kebaikan kami diberikan.” Kemudian dia menangis dan meninggalkan makanan itu.” [hlm
186, nukilan dari al-Bukhâri no. 1275]
Wahsyi (orang yang telah membunuh Hamzah) menceritakan, “Dahulu aku adalah
budak Jubair bin Muth`im. Pamannya yang bernama Thuaimah bin Adi terbunuh di perang
Badar (dibunuh oleh Hamzah Radhiyallahu anhu). Majikanku (Jubair) berkata kepadaku :
“Jika engkau berhasil membunuh Hamzah Radhiyallahu anhu , maka engkau akan bebas.”
Wahsyi berkata : “Aku dahulu adalah ahli tombak, sedikit sekali lemparan tombakku yang
tidak mengenai sasaran. Aku keluar bersama beberapa orang. Ketika mereka telah bertemu,
akupun mengambil tombakku dan keluar hingga melihat Hamzah Radhiyallahu anhu ada di
antara orang banyak. Ia seperti unta yang berwarna keabu-abuan. Ia mengancam orang-
orang dengan pedangnya dan tidak pernah melepaskan pedangnya. Demi Allah Azza wa
Jalla , sesungguhnya aku telah bersiap-siap (bertarung) dengannya, dan tiba-tiba aku
didahului as-Siba` bin `Abdul Uzza al-Khuzai. Tatkala Hamzah Radhiyallahu anhu melihatnya,
Hamzah berkata : “Kemarilah wahai anak wanita tukang khitan.” Kemudian dia dipenggal
oleh Hamzah Radhiyallahu anhu . Demi Allah Azza wa Jalla, tidak luput sabetan pada
kepalanya. Aku tidak melihat sesuatu yang lebih cepat dari jatuhnya kepalanya. Kemudian
akupun menggerakkan tombakku, dan ketika telah benar-benar yakin, akupun
melemparkannya. Lemparanku tepat mengenai perut bagian bawahnya, hingga tembus ke
antara kedua kakinya. Ia pun pergi untuk bangkit, akan tetapi tidak kuat. Kemudian aku
menunggunya hingga mati, setelah itu aku berdiri di hadapannya. Aku ambil tombakku dan
kemudian kembali ke pasukan dan duduk.
Kisah Nusaibah

Hari itu Nusaibah berada di dapur, tiba-tiba terdengar gemuruh bagaikan gunung
batu yang runtuh. Nusaibah menerka. Ini adalah tentara musuh. Dengan bergegas, Nusaibah
membangunkan suaminya.
“Aku mendengar pekik suara menuju Uhud. Mungkin kaum kafir telah menyerang.”
Said segera bangun dan mengenakan pakaian perangnya. Sambil menyiapkan kuda,
Nusaibah menghampiri lalu menyodokan sebilah pedang.
“Suamiku, bawalah pedang ini. Janganlah engkau pulang sebelum menang.” Said
memandang istrinya. Setelah mendengar perkataan itu, tak pernah ada keraguan padanya
untuk melaju medan perang.
Tiba-tiba muncul seorang penunggang kuda yang sangat gugup. Ia menyampaikan
salam dari Rasulullah, kemudian memberitakan kematian Said ra.
“Innalillahi. Suamiku telah menang perang. Terima kasih yaa Allah …” Setelah pemberi
kabar itu pergi, Nusaibah memanggil Amar.
“Amar, kau lihat ibu menangis? Sungguh ini bukan air mata kesedihan karena
mendengar ayahmu telah syahid. Ibu sedih karena tidak memiliki apa-apa lagi untuk
diberikan menjadi pejuang Nabi. Maukah engkau melihat Ibumu bahagia?” Amar
mengangguk. Hatinya berdebar.
“Ambillah kuda dan bawalah tombak. Bertempurlah Bersama Rasulullah hingga kaum
kafir terhapus.” Lalu Amar menunggangi kuda dan melesat ke medan pertempuran.
“Inna lillahi” Nusaibah bergumam kecil. Ia menangis saat mendengar kabar kematian
Amar. Ia menangis karena tidak tahu siapa lagi yang bisa ia berangkatkan ke medan perang
karena putra keduanya masih kecil.
Saad meyakinkan Ibunya bahwa ia adalah putera yang gagah berani yang siap
membela Allah dan Rasul. Lalu ia melesat ke pertempuran. Di arena pertempuran, Saad
menunjukkan kemampuannya. Pemuda berusia 13 tahun itu telah banyak menghempaskan
nyawa orang kafir. Setelah mendengar kematian Saad. Nusaibah mengajukan diri untuk
bertempur melawan kaum kafir. Namun Rasulullah menyatakan bawha belum saatnya
perempuan mengangkat senjata. Bantulah para pejuang untuk diobati lukanya. Mendengar
penjelasan Nabi demikian, Nusaibah pun segera menenteng obat-obatan dan berangkatlah
ke tengah pasukan yang sedang bertempur.
Ketika dilihatnya Rasulullah terjatuh dari kudanya akibat keningnya terserempet anak
panah musuh. Nusaibah tidak dapat menahan diri lagi. Ia bangkit dengan gagah berani.
Lantas bagaikan singa betina, ia mengamuk.
Hingga pada suatu waktu ada seorang kafir yang mengendap dari arah belakang,
dan langsung menebas putus lengan kirinya. Nusaibah pun terjatuh, terinjak-injak oleh kuda.
Peperangan terus berjalan. Medan pertempuran makin menjauh, sehingga tubuh Nusaibah
teronggok sendirian.
Tiba-tiba Ibnu Mas’ud menunggang kudanya, mengawasi kalau-kalau ada orang
yang bisa ditolongnya. Sahabat itu, begitu melihat ada tubuh yang bergerak-gerak dengan
susah payah, dia segera mendekatinya. Dipercikannya air ke muka tubuh itu.
Akhirnya Ibnu Mas’ud mengenalinya, “Isteri Said-kah engkau?” Nusaibah
memerhatikan penolongnya, Lalu bertanya, “Bagaimana dengan Rasulullah? Selamatkah
baginda?”
“Baginda Rasulullah tidak kurang suatu apapun.”
“Engkau Ibnu Mas’ud, bukan?.. Pinjamkan kuda dan senjatamu kepadaku.”
“Engkau masih terluka parah, Nusaibah.”
“Engkau mau menghalangi aku untuk membela Rasulullah?”
Dengan susah payah, Nusaibah menaiki kuda itu, lalu menderapkannya menuju ke
medan pertempuran. Gugurlah wanita perkasa itu ke atas pasir. Darahnya membasahi tanah
yang dicintainya. Tiba-tiba langit berubah mendung, hitam kelabu. Padahal tadinya langit
tampak cerah dan terang benderang. Pertempuran terhenti sejenak.
Rasulullah kemudian berkata kepada para sahabatnya, “Kalian lihat langit tiba-tiba
menghitam bukan? Itu adalah bayangan para malaikat yang beribu-ribu jumlahnya. Mereka
berduyun-duyun menyambut kedatangan arwah Nusaibah, wanita yang perkasa.”
Kisah Abu Bakar Ash-Shiddiq

Dalam perjalanan hijrah, Rasulullah tiba di sebuah gua yang dikenal dengan nama
Gua Tsur atau Tsaur. Saat sampai di mulut gua, Abu Bakar berkata, “Demi Allah, janganlah
Anda masuk kedalam gua ini sampai aku yang memasukinya terlebih dahulu. Kalau ada
sesuatu (yang jelek), maka akulah yang mendapatkannya bukan Anda”. Abu Bakar pun
masuk kemudian membersihkan gua tersebut. Setelah itu, Abu Bakar tutup lubang-lubang di
gua dengan kainnya karena ia khawatir jika ada hewan yang membahayakan Rasulullah
keluar dari lubang-lubang tersebut; ular, kalajengking, dll. Hingga tersisalah dua lubang, yang
nanti bisa ia tutupi dengan kedua kakinya.
Setelah itu, Abu Bakar mempersilahkan Rasulullah masuk ke dalam gua. Rasulullah pun
masuk dan tidur di pangkuan Abu Bakar. Ketika Rasulullah telah tertidur, tiba-tiba seekor
hewan menggigit kaki Abu Bakar. Ia pun menahan dirinya agar tidak bergerak karena tidak
ingin gerakannya menyebabkan Rasulullah terbangun dari istirahatnya. Namun, Abu Bakar
adalah manusia biasa. Rasa sakit akibat sengatan hewan itu membuat air matanya terjatuh
dan menetes di wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah pun terbangun, kemudian bertanya, “Apa yang menimpamu wahai Abu
Bakar?” Abu Bakar menjawab, “Aku disengat sesuatu”. Kemudian Rasulullah mengobatinya.
Diriwayatkan al-Hakim dalam Mustadrak-nya dari Umar bin al-Khattab, ia
menceritakan. Ketika Rasulullah dan Abu Bakar keluar dari gua. Abu Bakar terkadang berjalan
di depan Rasulullah dan terkadang berada di belakang beliau. Rasulullah pun menanyakan
perbuatan Abu Bakar itu. Abu Bakar menjawab, “Wahai Rasulullah, kalau aku teringat orang-
orang yang mengejar (kita), aku berjalan di belakang Anda, dan kalau teringat akan
pengintai, aku berjalan di depan Anda”.
Apa yang dilakukan Abu Bakar ini menunjukkan kecintaan beliau yang begitu besar
kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia tidak ingin ada sedikit pun yang mengancam
jiwa Nabi. Jika ada mara bahaya menghadang, ia tidak ridha kalau hal itu lebih dahulu
menimpa Nabi.
Demikianlah dua orang sahabat ini. Rasulullah ingin bersama Abu Bakar ketika hijrah
dan Abu Bakar pun sangat mencintai Rasulullah.
“Sesungguhnya orang yang paling besar jasanya padaku dalam persahabatan dan
kerelaan mengeluarkan hartanya adalah Abu Bakar. Andai saja aku diperbolehkan
mengangkat seseorang menjadi kekasihku selain Rabbku, pastilah aku akan memilih Abu
Bakar, namun cukuplah persaudaraan seislam dan kecintaan karenanya. Maka tidak tersisa
pintu masjid kecuali tertutup selain pintu Abu Bakar saja.” (HR. Bukhari).