Anda di halaman 1dari 3

Ketulusan Hati Pahlawan Kusta: Catatan Perjalanan di Kepulauan Togean

Oleh: Lafi Munira, S.KM

Yogyakarta, 3 Agustus 2018


Kisah ini merupakan seri ketiga dari catatan perjalanan di sekitar Kepulauan Togean. Kepulauan
Togean merupakan daerah endemis Kusta. Dahulu kala penyebaran penyakit Kusta hampir
merata di kepulauan yang terdapat di Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah ini. Hingga
pemerintah setempat membuat lokus tempat penampungan penderita Kusta di tiga buah pulau
yang merupakan bagian dari total keseluruhan sejumlah 16 pulau yang ada di Kepulauan Togean.
Harapannya, dengan mengumpulkan penderita Kusta di lokasi tertentu dapat menghentikan
penyebaran penyakit Kusta dan memudahkan intervensi pengobatan serta rehabilitasinya. Dua
pulau tersebut adalah pulau Lembanato, Matobiayi, dan Titirii Popolion.

Gambar: Perumahan Penduduk di Kepulauan Togean, Sumber: Dokumentasi Pribadi


Gambar: Bodi (Perahu) sebagai alat transportasi penghubung antar pulau
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Ternyata upaya pemusatan penderita Kusta di 3 buah pulau tersebut menimbulkan banyak kisah
yang memprihatinkan. Jaman dahulu, penyakit tersebut dianggap sebagai penyakit kutukan dari
Tuhan, sehingga para penderita kusta merasa dirinya dikucilkan oleh masyarakat lainnya yang
setanah dengan mereka di Kepulauan Togean. Seorang penderita kusta yang telah berusia 40
tahun berkisah bahwa mereka tidak diizinkan bersekolah kala itu sekolah dasar di pulau lain
karena mereka dianggap membahayakan bagi siswa lain. Sehingga para anak-anak di ketiga
pulau tersebut tidak mengenyam pendidikan dasar. Selain kesulitan untuk mengakses pendidikan
karena diskriminasi yang ada, para penderita kusta ini pun mengalami kesulitan ekonomi karena
hasil kebun yang mereka jual ke pulau lain tidak ada satu pun yang ingin membelinya, karena
masyarakat di pulau lain menganggap sayuran-sayuran yang mereka jual mengandung kuman
penyakit. Pengalaman-pengalaman buruk yang mereka terima membuat mereka pun terkena
gangguan mental berupa perasaan takut, minder dan cemas ketika berhadapan dengan orang
asing, perasaan curiga dan tidak percaya kepada orang lain yang dirasakan bertahun-tahun. Di
tengah rasa kesedihan yang mereka rasakan ada semacam rasa ‘sakit hati’ yang terluapkan
melalui doa “Semoga Tuhan memberikan penyakit yang sama kepada mereka dan mereka
merasakan apa yang kami rasakan” ucap pria paruh baya yang jari-jarinya telah tiada akibat
kusta.
Upaya pengendalian penyakit kusta telah dilakukan belasan tahun di Kepulauan Togean. Salah
seorang tokoh yang sangat berperan dalam penanganan, pendataan dan menggerakkan para
penderita kusta agar mau berobat adalah Mantri Ipin, begitulah panggilan beliau yang tersohor di
seluruh area kepulauan Togean hingga daratan Kabupaten Tojo Una-Una. Mantri Ipin selama
belasan tahun hadir ditengah-tengah masyarakat penderita kusta untuk meyakinkan mereka
bahwa apa yang mereka derita bukanlah suatu kutukan Tuhan namun sesuatu yang dapat diobati.
Perlahan masyarakat mau membuka dirinya kepada Mantri Ipin hingga muncul kesadaran dari
masyarakat untuk mau berobat. “Sederhana saja, perlakukan mereka sebagai teman, sebagai
saudara, sebagai manusia bukan sumber penyakit”, begitulah ucap Mantri Ipin tentang apa yang
menggerakkannya selama ini untuk berkecimpung sebagai tenaga kesehatan terpercaya di bidang
penyakit kusta ini. Perlu diketahui, dalam berbelas tahun beliau mendedikasikan dirinya, mantri
Ipin pun tertular menjadi penderita kusta. “Tidak apa-apa selagi mereka mau berobat, dan
penderitanya tidak semakin banyak, tidak apa-apa saya sakit begini pun ada obatnya” ujarnya.
Dari kisah ini saya merefleksikan bahwa upaya menyehatkan masyarakat di negeri ini di level
grass root memegang peranan yang penting, yang dihadapi adalah manusia, bukan lembaran
kebijakan ataupun data. Seorang senior pernah berpesan kepada saya bahwa “Kebaikan akan
bertemu dengan kebaikan”, saya memaknai arti kata kebaikan disini sebagai usaha yang
paripurna dari seorang tenaga kesehatan di tengah-tengah masyarakat, dengan segenap usaha,
kompetensi diri, ketulusan hati. Sedalam apa niat baik kita untuk menyehatkan saudara sebangsa
setanah air ini tiada yang dapat menakarnya selain Tuhan yang penuh dengan kasih dan
sayangNya, semoga apa-apa yang kita upayakan demi negeri yang kita cintai ini, setitik pun
bernilai kebaikan.