Anda di halaman 1dari 11

EKSPLORASI LOGAM

Oleh :

Jonny E.C Simanjuntak 15.286.0003

Abstrak

Eksplorasi ini didasarkan pada temuan mineralisasi logam yang mengisi rekahan-
rakahan. Sasaran dan tujuan eksplorasi ini adalah untuk mengetahui jalur-jalur
mineralisasi bawah permukaan dan kedalaman serta tebal dari tubuh mineralisasi.
Metode yang dilakukan adalah metode magnetik, karena metode ini sangat baik
untuk mendeteksi mineral-mineral logam yang bersifat magnet (magnetit).
Parameter yang diukur berupa medan magnet total yang kemudian dituangkan
dalam bentuk peta kesamaan medan magnet total. Dari peta kesamaan dijumpai 4
(empat) pole magnet, selanjutnya dibuat model tubuh mineralisasi dengan
perangkat lunak Geosoft. Pemodelan magnet tersebut menunjukkan penyebaran
jalur rnineralisasi dalam bentuk dua dimensi. Pemodelan ini dipadukan dengan
peta geologi, menghasilkan peta gabungan. Dari peta gabungan tersebut diperoleh
jalur favorable dengan lebar kurang lebih 25 meter dan kedalaman 3,5 meter yang
berada pada litologi kuarsit dan filit, sehingga dapat disimpulkan bahwa
mineralisasi dikontrol oleh struktur.

I. Pendahuluan

Sumber daya alam adalah semua yang terdapat di alam (kekayaan alam)
yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk mencukupi segala kebutuhan
hidupnya. Sumber daya alam terbagi dua yaitu sumber daya alam hayati dan
sumber daya alam non hayati. Sumber daya alam hayati disebut juga sumber daya
alam biotik yaitu semua yang terdapat di alam (kekayaan alam) berupa makhluk
hidup. Sedangkan sumber daya alam non hayati atau sumber daya alam abiotik
adalah semua kekayaan alam yang dapat dimanfaatkan oleh manusia berupa
benda mati. Indonesia merupakan negara yang kaya dengan sumber daya
alamnya, baik sumber daya alam hayati maupun sumber daya alam non hayati.
Kekayaan alam Indonesia terdapat di permukaan bumi, di dalam perut bumi, di
laut dan di udara. Berdasarkan ketersediaanya sumber daya alam terbagi dalam
dua kelompok besar yaitu sumber daya alam yang dapat diperbarui dan sumber
daya alam yang tidak dapat diperbarui.
Oleh karena itu diperlukan nya eksplorasi dalam mencari dan menemukan
sumber daya alam baru. Eksplorasi adalah penyelidikan lapangan untuk
mengumpulkan data / informasi selengkap mungkin tentang keberadaan sumber
daya alam di suatu tempat. Kegiatan eksplorasi sangat penting dilakukan sebelum
pengusahaan bahan tambang dilaksanakan mengingat keberadaan bahan galian
yang penyebarannya tidak merata dan sifatnya sementara yang suatu saat akan
habis tergali. Sehingga untuk menentukan lokasi sebaran, kualitas dan jumlah
cadangan serta cara pengambilannya diperlukan penyelidikan yang teliti agar
tidak membuang tenaga dan modal, disamping untuk mengurangi resiko
kegagalan, kerugian materi, kecelakaan kerja dan kerusakan lingkungan.

Eksplorasi adalah kegiatan penyelidikan geologi yang dilakukan untuk


mengidentifikasi,menetukan lokasi, ukuran, bentuk, letak, sebaran, kuantitas dan
kualitas suatu endapan bahan galian untuk kemudian dapat dilakukan
analisis/kajian kemungkinan dilakukanya penambangan.

II. Isi

Pekerjaan eksplorasi dengan tujuan untuk mendapatkan data mengenai


endapan (bentuk, penyebaran, letak, posisi, kadar/kualitas, jumlah endapan, serta
kondisi-kondisi geologi) harus dilakukan sebelum rencana penambangan dibuat,
karena industri pertambangan mempunyai ciri umum :
 Mempunyai resiko tinggi,
 Memerlukan modal yang besar,
 Teknologi yang tidak sederhana,
 Serta memerlukan pengelolaan yang baik.

Faktor-faktor penyebabnya antara lain :


a. Adanya ketidakpastian mengenai pengetahuan cadangan bahan
tambangnya, baik mengenai jumlah kadar atau kualitas, bentuk, serta
letak dan posisi endapan,
b. Kondisi-kondisi geologi (sifat batuan, struktur, dan air tanah) endapan
dan daerah sekitarnya.
Suatu industri pertambangan merupakan urutan-urutan kegiatan yang
berkesinambungan, mulai dari tahapan prospeksi, eksplorasi, evaluasi, sampai
dengan pemasaran.
Tujuan Eksplorasi
Mengetahui jalur-jalur mineralisasi bawah permukaan dan kedalaman serta
tebal dari tubuh mineralisasi.

Lokasi

Sektor Bubu terletak ditimur laut EFKA, merupakan cabang kanan Sungai
Kalan. Untuk menuju lokasi dapat ditempuh dengan jalan kaki sepanjang 26 km
selama kurang lebih 6 jam.

Alat yang Digunakan


1. Magnetometer MP-4 yang terdapat dalam IGS-2 System Control Console
2. Theodolit To
3. Laptop T1850
4. Perangkat lunak Geosoft.
Tahap – Tahap Eksplorasi

1. Survei Tinjau
Survei tinjau yaitu kegiatan explorasi awal terdiri dari pemetaan geologi
regional, pemotretan udara, citra satelit dan metode survey tidak langsung
lainnya untuk mengedintifikasi daerah-derah anomial atau meneraliasasi yang
proespektif untuk diselifdiki lebih lanjut.
Sasaran utama dari peninjauan ini adalah mengedintifikasi derah-daerah
mineralisasi/cebakan skala regional terutama hasil stud geologi regional dan
analisis pengindraan jarak jauh untuk dilakukannya pekerjaan pemboran.

2. Prospeksi Umum
Dilakukan untuk mempersempit daerah yang mengandung cebakan
mineral yang potensial. Kegiatan Penyelidikan dilakukan dengan cara
pemetaan geologi dan pengambilan contoh awal, misalnya puritan dan
pemboran yang terbatas, study geokimia dan geofisika, yang tujuanya adalah
untuk mengidentifikasi suatu Sumber Daya Mineral Tereka (Inferred Mineral
Resources) yang perkiraan dan kualitasnya dihitung berdasarkan hasil analisis
kegiatan.

3. Eksplorasi Awal
Eksplorasi awal yaitu deliniasi awal dari suatu endapan yang
teredintifikasi.

4. Eksplorasi Rinci
Eksplorasi rinci, yaitu tahap explorasi untuk mendeliniasi secara rinci
dalam tiga dimensi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari
percontohan singkapan,puritan, lubang bor, shafts, dan terowongan.

Metoda dalam eksplorasi dapat digolongkan dalam dua kelompok besar,


yaitu :
A. Metoda langsung, terdiri dari :
1. Metoda langsung di permukaan
2. Metoda langsung di bawah permukaan
B. Metoda tidak langsung, terdiri dari :
1. Metoda tidak langsung cara geokimia yang mencakup antara lain mengenai
bed rock, soil, air, vegetasi dan stream deposit.
2. Metoda tidak langsung cara geofisika yang mencakup beberapa cara yaitu :
a. cara magnetik (sudah jarang digunakan),
b. gravitasi (sudah jarang digunakan),
c. cara seismik yang terdiri dari cara reflaksi dan refleksi,
d. cara listrik (resistifity),
e. cara yang terakhir yaitu cara radiokatif yang masih jarang digunakan, hal
ini disebabkan karena cara ini relatif lebih mahal dan lebih rumit dari
cara-cara sebelumnya.

Metoda

Metoda yang digunakan adalah Metoda Magnetik.

Metoda Magnetik

Metode ini didasarkan pada gangguan medan magnet lokal akibat adanya
medan magnet bumi. Gangguan medan magnet lokal terhadap batuan sekitar akan
menimbulkan medan magnet vertikal dan horizontal. Resultan dari kedua medan
magnet tersebut adalah medan magnet total yang dideteksi oleh alat. Intensitas
medan magnet total yang dideteksi oleh alat menyatakan banyaknya kandungan
logam yang bersifat magnet di sekitar lokasi titik pengukuran dengan satuan
gamma.

Tata Kerja
Tata kerja dalam eksplorasi ini adalah dengan membuat jaring-jaring
sistemalik dengan arah base-line N 1300E dan arah lintasan N 2200E. Jarak antara
lintasan 25 meter dan jarak antar tilik pengukuran yang terdapat pada lintasan 25
meter. Lintasan tempat titik pengllkuran tersebut tegak lurus strike.
Sebelum dilakukan pengukuran pada lokasi yang telah di-buat jaring-jaring
sistematik tersebut, terlebih dahulu dilakukan pengukuran di luar lokasi yang
dianggap netral, pengukuran ini dilakukan sebagai titik ikat (base). Setelah itu
baru dilakukan pengukuran ke lokasi yang telah dibuat jaring-jaring sistematik
tadi. Dalam pengukuran ini, setiap 2 (dua) jam harus kembali ke titik ikat. Ini
dilakukan untuk menghindari efek medan magnet vertikal selama pengukuran.

Hasil

Parameter hasil pengukuran berupa medan magnet total, kemudian


dituangkan kedalam peta kesamaan medan magnet total. Dari peta ini diperoleh 4
(empat) pasang kutub magnet, yaitu kutub I, II, III dan IV. Keempat kutub
tersebut mempunyai harga berkisar dari 42.400 -43.000 gamma dianggap scbagai
anomali, karena melebihi harga latar 42.300 gamma (gambar 2).

Untuk melihat bentuk dua dimensi dari tubuh mineralisasi tersebut, maka
dibuat model matematis tubuh mineralisasi. Pemodelan ini menggunakan
perangkat lunak Geosofi, Canada.
Dalam pemodelan ini digunakan menu MAGMOD3. dengan parameter
scperti gambar 3. Dari keempat kutub magnet yang ditemukan, ditarik garis yang
memotong kutub. Garis-garis tersebut melalui lintasan 16 dan 17.

Gambar 4. Model Magnet lintasan 16 kutub II


Dari hasil pemodelan magnet lintasan 16 kutub II (gambar 4) didapat tubuh
konduktor berbentuk lempeng sheet pada kedalaman 2,48 meter, lebar 19,28 m,
tebal 8,31 m, strike N 1200 E dan kemiringan sub vertikal ke arab selatan.

Gambar 5. Model Magnet lintasan 16 kutub I

Dari basil pemodelan magnet lint.1san 16 kutub I (gambar 5), didapat tubuh
konduktor berbentuk Iempeng (sheet) pada kedalaman 4,15 m, Iebar 36,2 m, tebal
7,67 m, strike N 1200E dan kemiringan sub vertikal ke arah selalan.
Gambar 6. Model Magnet lintasan 17 kutub II

Dari hasil pemodelan magnet lintasan 17 kutub II (gambar 6), didapat tubuh
konduktor berbentuk lempeng (sheet) pada kedalaman 2,47 m, Iebar 24 m, tebal
20,3 m, strike N 1200 E dan kemiringan sub vertikal ke arab selatan.

Bahasan

Anomali medan magnet total yang diperoleh pada peta kesamaan medan
magnet total (Gambar 2), dikaitkan dengan geologi hasil penelitian sebelumnya,
maka dapat diinterpretasikan bahwa anomali tersebut adalah suatu konduktor
yang bersifat magnet. Konduktor tersebut membentuk suatu jalur yang berarah
baratlaut-tenggara.

Disamping itu tampak dari peta kesamaan, bahwa keempat kutub tersebut
seperti telah mengaiami pergeseran. Pergeseran ini tercermin dari kutub - kutub
positif yang terpisahkan oleh kutub - kutub negatif yang menlbentuk jalur berarah
baratlaut-tenggara. Pergeseran kutub ini jika dikaitkan dengan hasil pengamatan
struktural, maka mempunyai hubungan erat dengan adanya sesar yang berarah N
1200 E, N 600 E dan N 900 E.

Seperti yang te!ah dijelaskan di pendahuluan, bahwa minera!isasi mengisi


rekahan - rekahan. Dari peta kesamaan medan magnet tota! tampak jelas sekali
kontras yang ditimbulkan dari hasil pengukuran sehingga dari peta ini dapat
ditarik suatu sesar (gambar 2).

Jika hasil pemodelan dan peta kesamaan medan magnet total ini dipadukan
dengan peta geologi Sektor Bubu, maka diperoleh jalur favorsble dengan lebar
kurang lebih 25 meter dan mempunyai arah baratlaut-tenggara. Jalur favorable ini
yang diperkirakan sebagai tempat terperangkapnya mineral logam (gambar 8).
Dari peta gabungan terlihat bahwa jalur favorable berada ada letologi kuarsit dan
filit. Sehingga dapat disimpulkan bahwa keberadaan mineralisasi logam dikontrol
oleh struktur.

Gambar 8. Peta gabungan geologi dan magnet


Kesimpulan

Dan basil pembahasan dapat disimpulkan :

1. Dari basil eksplorasi diperoleh jalur favorable dengan lebar kurang lebih
25 meter. kedalaman kurang lebih 3.5 meter dan mempunyai arah barat
laut-tenggara.
2. Untuk kasus seklor Bubu, karena mineralisasi mengisi rekahan, maka
metoda rnagnetik dapat pula digunakan untuk menentukan sesar