Anda di halaman 1dari 1

WOC HIV ( Human Immunodeficiency Virus)

HIV ( Human Immunodeficiency Virus) adalah Virus yang Penyebab : hubungan seksual, darah, produk yang
melemahkan sistem kekebalan tubuh manusia. terkontaminasi darah, dan transmisi dari ibu ke bayi baik
intrapartum, perinatal,atau ASI.

G. Pemeriksaan Diagnostik
1. Lakukan anamnesi gejala infeksi oportunistik Manifestasi Klinis
Pasien terinfeksi HIV Klasifikasi WHO.
dan kanker yang terkait dengan AIDS.
2. Telusuri perilaku berisiko yang Gejala mayor:
memmungkinkan penularan. a. Gagal tumbuh atau penurunan berat badan
Virus beredar dalam darah atau b. Diare kronis
3. Pemeriksaan fisik untuk mencari tanda infeksi
oportunistik dan kanker terkait. perubahan jaringan mukosa c. Demam memanjang tanpa sebab
kelenjar, pemeriksaan mulut, kulit, dan d. Tuberkulosis
funduskopi. Gejala minor:
4. Limfosot total, antibodi HIV, dan Virus menginfeksi sel yang mempunyai molekul a. Limfadenopati generalisata
pemeriksaan Rontgen. CD4 b. Kandidiasis oral
c. Batuk menetap
d. Distres pernapasan/pneumonia
(Limfosit T4, Monosit, Sel Dendrit, Sel Langerhans) e. Infeksi berulang
Hipertermi Masuk kedalam sel target &
f. Infeksi kulit generalisata
NOC : Thermoregulasi (0800) mereplikasi diri (Direktorat Jenderal PP & PL, 2012).
Hidrasi (0602)
1. Melaporkan kenyamanan suhu
2. Penurunan suhu kulit Sel yang terinfeksi mengalami
Penanganan
3. Perubahan warna kulit apoptosis/mati a. Farmakologis : Prinsip pemberian ARV pada
4. Tidak mengalami sakit kepala anak hampir sama dengan dewasa,
5. Tidak terdapat tanda gejala tetapi pemberian ARV pada anak memerlukan
Dehidrasi Imunitas tubuh menurun perhatian khusus tentang dosis dan toksisitasnya.
NIC: b. Non farmakologis
Perawatan Demam (3740) 1. Nutrisi pada Anak dengan HIV/AIDS
a. Pantau suhu dan tanda vital Tubuh rentan terhadap infeksi 2. Dukungan sosial spiritual pada Anak dengan
yang lainnya HIV/AIDS
b. Monitoring warna kulit dan
suhu
c. Monitoring intake-output Infeksi pada sistem Infeksi pada
cairan pernafasan sistem pencernaan
d. Dorong klien untuk
peningkatan konsumsi cairan
e. Pantau kondisi pasien untuk Peradangan saluran
menghindari komplikasi dari pernafasan dan Infeksi jamur
demam Suhu ↑ Infeksi bakteri
jaringan paru
f. Kolaborasi dengan tim medis
terkait pemberian obat Diare Diare kronis Peradangan
antipiretik Hipertermi
Lisis dinding alveoli mulut
a
Output cairan ↑
Gangguan Pertukaran Gas Sulit menelan
NIC: Airway Management Kerusakan alveoli
a.Kaji dispnea, takipnea, bunyi Turgor kulit ↓
napas, peningkatan upaya
Kolaps saluran napas mukosa kering
pernapasan, ekspansi thorax dan Defisit nutrisi
kelemahan kecil saat ekspirasi
b.Catat sianosis dan perubahan warna
kulit, termasuk membran mukosa Penurunan perfusi Resiko Defisit nutrisi
dan kuku. Gangguan Ketidakseimbangan NOC: Status nutrisi : Asupan Makanan dan
O2 ke jaringan
c.Tingkatkan tirah baring, batasi pertukaran O2 Cairan Cairan
aktivitas dan bantu kebutuhan 1. Asupan makanan secara oral adekuat
perawatan diri sehari-hari sesuai 2. Asupan cairan secara oral adekuat
keadaan pasien Gangguan Mengantuk, lesu Intoleransi 3. Asupan cairan intravena adekuat
d.Pertahankan posisi semi fowler Pertukaran Gas Aktivitas NIC: Manajemen Nutrisi
sesuai indikasi b. Tentukan status gizi pasien dan kemampuan
e.Kolaborasi pemeriksaan AGD pasien untuk memenuhi kebutuhan gizi
f. Kolaborasi pemberian oksigen DWY RIZQI (G3A018001) c. Tentukan apa yang menjadi preferensi makanan
sesuai kebutuhan tambahan bagi pasien.
PROFESI NERS UNIMUS d. Intruksikan pasien mengenai kebutuhan nutrisi
(piramida makanan)
Intoleransi aktivitas e. Tentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang
NOC: dibutuhkan untuk memenuhi persyaratan gizi.
1. Self Care: ADL’s f. Berikan pilihan makanan dan bimbingan terhadap
Manajemen cairan: pilihan makanan.
2. Toleransi Aktifitas
a. Monitor status hidrasi (membran mukosa lembab, denyut nadi adekuat, dan
3. Konservasi Energi
tekanan darah normal).
NIC:
b. Monitor TTV (pernafasan, nadi, tekanan darah, suhu)
Energy Management
c. Monitor hasil laboratorium yang relevan dengan retensi cairan (peningkatan
a. Observasi adanya pembatasan pasien dalam melakukan
BUN, penurunan hematokrit).
aktifitas.
d. Berikan terapi IV.
b. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan.
e. Tingkatkan asupan oral (memberikan sedotan, memberikan makanan favorit,
c. Monitor nutrisi dan sumber energi yang adekuat
menggunakan cangkir obat kecil).
d. Monitor respon kardiovaskular terhadap aktivitas
f. Dukung pasien dan keluarga untuk membantu dalam memberikan makan
(takikardia, disritmia, sesak nafas, diaphoresis, pucat,
dengan baik.
perubahan hemodinamik).
g. Pemberian produk-produk darah (trombosit dan plasma yang baru).
e. Monitor pola tidur dan lamanya tidur atau istirahat
pasien

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. 2012. Petunjuk Teknis Tata Laksana
Klinis KO Infeksi TB-HIV. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Herdman, T.H dan Kamitsuru, S. 2015. Diagnosis Keperawata Definisi dan Klasifikasi 205-2017 Edisi 10.
Jakarta: EGC
Huriati. 2014. HIV/AIDS pada anak. Sulesana. 9(2): 126-131 [Diakses pada 23 Juni 2018]
Kemenkes RI. 2018. Stop HIV. http://www.kemkes.go.id/development/site/depkes/pdf.php?id=1-17042500008.
[Diakses pada 13 Januari 2019]
Kemenkes, 2014. Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia tahun 2011-2016. http://siha.depkes.go.id
[Diakses pada 13 Januari 2019]
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2016. Program pengendalian HIV AIDS dan PIMS di Fasilitas
Kesehatan Tingkat Pertama: Petunjuk Teknis.
http://siha.depkes.go.id/portal/files_upload/4__Pedoman_Fasyankes_Primer_ok.pdf. [ Diakses pada 13 Januari
2019].
Price, S &Wilson, L. M. 2006. Pathofysiology clinical concepts of disease processes. (6th Ed.). St. Louis: Mosby
Ruslie, R. H. dan Dramadi. 2012. Diagnosis dan tatalaksana infeksi HIV pada neonatus. Majalah kedokteran
Andalas 1(36): 11-22. [Diakses pada 13 Januari 2019]
Setioputro, B. 2016. HIV & AIDS. Materi Kuliah: Keperawatan Medikal. Fakultas Keperawatan Universitas
Jember: Jember