Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pneumonia adalah proses infeksi akut yang mengenai jaringan para-paru
(Alveoli). pneumonia ini merupakan masalah kesehatan di dunia karena angka
kematiannya sangat tinggi, tidak saja di negara berkembang tetapi terdapat juga di
Negara maju seperti Amerika, Kanada dan Negara-Negara Eropa lainya. Di
Amerika pneumonia merupakan penyebab kematian nomor satu setelah
kardiovaskuler dan TBC, kasus pneumonia ditemukan paling banyak menyerang
anak balita. Menurut WHO (Word Health Organization) sekitar 800.000 hingga I
juta anak yang meninggal tiap tahun akibat pneumonia. Bahkan UNICEF (United
Nations International Children's Fund) dan WHO (World Health Organization)
menyebut pneumonia sebagai penyebab kematian anak balita tertinggi.

Di Indonesia pneumonia merupakan penyebab kematia nomor tiga setelah


kardiovaskuler dan TBC. Data morbiditas pneumonia di Indonesia bertahun
berkisar rata-rata 45000 ribu orang. dari populasi balita berarti setiap tahun jumlah
penderita pneumonia berkisar 2,3 juta jiwa. Penyebab kematian anak balita
tertinggi, meliputi penyakitpenyakit lain seperti campak dan malaria.

Pneumonia masih menjadi salah satu masalah untuk anak Indonesia yang
disebabkan oleh kuman, baik virus, bakteri, jamur, kurang gizi. daya tahan tubuh
yang rendah, tidak minum ASI, lingkungan yang dapat memudahkan terjadinya
penyakit akut ini, anak yang tertular bisa mengidap penyakit radang paru-paru
bervariasi dari derajat ringan hingga berat. Bronkopneumonia disebut juga
pneumonia lobularis yaitu suatu peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir
yang biasanya mengenai bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya,
yang sering menimpa anak-anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam-
macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Kebanyakan kasus
pneumonia disebabkan oleh mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab
non infeksi yang perlu dipertimbangkan. Bronkopneumonia lebih sering

1
merupakan infeksi sekunder terhadap berbagai keadaan yang melemahkan daya
tahan tubuh tetapi bisa juga sebagai infeksi primer yang biasanya kita jumpai pada
anak-anak dan orang dewasa.

1.2 Batasan Permasalahan


Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru, walaupun
banyak pihak yang sependapat bahwa pneumonia adalah suatu kondisi inflamasi.
namun sangat sulit untuk merumuskan satu definisi yang universal. pneumonia
adalah penyakit klinis sehingga didefinisikan berdasarkan gejala dan tanda klinis,
dan perjalanan penyakitnya. salah satu definisi klasik menyatakan bahwa
pneumonia adalah penyakit respiratorik yang ditandai batuk, sesak napas, demam,
rongky basah halus dengan gambaran infiltrat pada foto polos dada.

1.3 Tujuan Penulisan


Mengetahui definisi, etiologi, epidemiologi, patofisiologi, gambaran
klinis, diagnosis banding, diagnosis, komplikasi, prognosis, terapi dan pencegahan
bronkopneumonia.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu
peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai
bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-
anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam - macam etiologi seperti bakteri,
virus, jamur dan benda asing. Kebanyakan kasus pneumonia disebabkan oleh
mikroorganisme, tetapi ada juga sejumlah penyebab non infeksi yang perlu
dipertimbangkan. Bronkopneumonia lebih sering merupakan infeksi sekunder
terhadap berbagai keadaan yang melemahkan daya tahan tubuh tetapi bisa juga
sebagai infeksi primer yang biasanya kita jumpai pada anak-anak dan orang
dewasa.

Bronkopneumonia adalah peradangan pada parenkim paru yang melibatkan


bronkus atau bronkiolus yang berupa distribusi berbentuk bercak-bercak (patchy
distribution). Pneumonia merupakan penyakit peradangan akut pada paru yang
disebabkan oleh infeksi mikroorganisme dan sebagian kecil disebabkan oleh
penyebab non-infeksi yang akan menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan
gangguan pertukaran gas setempat.

2.2 Etiologi
1. Faktor Infeksi
a. Pada neonatus: Streptokokus group B, Respiratory Sincytial
Virus (RSV).
b. Pada bayi :
1) Virus : Virus parainfluensa, virus influenza,Adenovirus,
RSV, Cytomegalovirus.

3
2) Organisme atipikal: Chlamidia trachomatis,Pneumocytis.
3) Bakteri : Streptokokus pneumoni, Haemofilus
influenza, Mycobacterium
tuberculosa, Bordetellapertusis.
c. Pada anak-anak :
1) Virus : Parainfluensa, Influensa Virus,Adenovirus, RSV
2) Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia
3) Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosis
d. Pada anak besar – dewasa muda :
1) Organisme atipikal: Mycoplasma pneumonia, C. trachomatis
2) Bakteri: Pneumokokus, Bordetella pertusis, M. tuberculosis

2. Faktor Non Infeksi : Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks


esophagus meliputi :
a. Bronkopneumonia hidrokarbon :
Terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde
lambung (zat hidrokarbon seperti pelitur, minyak tanah dan bensin).
b. Bronkopneumonia lipoid :
Terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara
intranasal, termasuk jeli petroleum. Setiap keadaan yang mengganggu
mekanisme menelan seperti palatoskizis, pemberian makanan dengan
posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian makanan seperti minyak
ikan pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit tergantung
pada jenis minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang
mengandung asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti
susu dan minyak ikan.

Selain faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk


terjadinya bronkopneumonia. Menurut sistem imun pada penderita-
penderita penyakit yang berat seperti AIDS dan respon imunitas yang
belum berkembang pada bayi dan anak merupakan faktor predisposisi
terjadinya penyakit ini.

4
2.3 Epidemiologi
Insiden penyakit ini pada negara berkembang hampir 30% pada anak-anak
di bawah umur 5 tahun dengan resiko kematian yang tinggi, sedangkan di
Amerika pneumonia menunjukkan angka 13% dari seluruh penyakit infeksi pada
anak di bawah umur 2 tahun.

2.4 Patogenesis
Saluran pernafasan steril dari daerah sublaring sampai parenkim paru.
Paru-paru dilindungi dari infeksi bakteri melalui mekanisme pertahanan anatomis
dan mekanis, dan faktor imun lokal dan sistemik. Mekanisme pertahanan awal
berupa filtrasi bulu hidung, refleks batuk dan mukosilier aparatus. Mekanisme
pertahanan lanjut berupa sekresi Ig A lokal dan respon inflamasi yang diperantarai
leukosit, komplemen, sitokin, imunoglobulin, makrofag alveolar, dan imunitas
yang diperantarai sel.

Infeksi paru terjadi bila satu atau lebih mekanisme di atas terganggu, atau
bila virulensi organisme bertambah. Agen infeksius masuk ke saluran nafas
bagian bawah melalui inhalasi atau aspirasi flora komensal dari saluran nafas
bagian atas, dan jarang melalui hematogen.

Virus dapat meningkatkan kemungkinan terjangkitnya infeksi saluran


nafas bagian bawah dengan mempengaruhi mekanisme pembersihan dan respon
imun. Diperkirakan sekitar 25-75 % anak dengan pneumonia bakteri didahului
dengan infeksi virus. Secara patologis, terdapat 4 stadium pneumonia, yaitu:
a. Stadium I (4-12 jam pertama atau stadium kongesti)
Yaitu hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang
berlangsung pada daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan
peningkatan aliran darah dan permeabilitas kapiler di tempat infeksi.
Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediator-mediator peradangan dari sel-
sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan.

5
b. Stadium II (48 jam berikutnya)
Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah
merah, eksudat dan fibrin yang dihasilkan oleh penjamu (host) sebagai bagian
dari reaksi peradangan. Lobus yang terkena menjadi padat oleh karena adanya
penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah
dan pada perabaan seperti hepar, pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau
sangat minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung
sangat singkat, yaitu selama 48 jam.

c. Stadium III (3-8 hari berikutnya)


Disebut hepatisasi kelabu, yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih
mengkolonisasi daerah paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin
terakumulasi di seluruh daerah yang cedera dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel.
Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi, lobus masih tetap padat
karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu dan
kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.

d. Stadium IV (7-11 hari berikutnya)


Disebut juga stadium resolusi, yang terjadi sewaktu respon imun dan
peradangan mereda, sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan diabsorsi oleh
makrofag sehingga jaringan kembali ke strukturnya semula.

2.5 Gambaran Klinis


Gambaran klinis penumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat
ringannya infeksi, tetapi secara umum dapat dilihat berdasarkan 2 gejala yaitu :
Gejala infeksi umum dan gejala gangguan respiratori.

√ Gangguan infeksi umum berupa demam, sakit kepala, gelisah, malaise,


penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti muntah atau diare,
terkadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.

6
√Gejala gangguan respiratori yaitu batuk, sesak nafas, retraksi dada, takipneu,
nafas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.

Dari anamnesis yang berhubungan dengan keluhan utama ditanyakan


gejala sesak nafas akibat penyakit respirasi dan sesak akibat kelainan jantung.
Pada kasus didapatkan gejala sesak nafas tidak berhubungan dengan aktivitas dan
cuaca. Keluhan sesak nafas tidak disertai adanya suara nafas berbunyi (mengi)
atau mengorok, ini menggambarkan bahwa sesak nafas akibat respirasi dan
penyakit asma dapat disingkirkan. Selanjutnya didapatkan gejala batuk, pilek,
serta dahak yang berwarna putih yang tidak bercampur darah, ada riwayat demam
yang terus menerus naik turun, tidak ada penurunan berat badan, riwayat kontak
dengan orang dewasa yang menderita batuk lama ataupun yang sedang menjalani
pengobatan tuberculosa, hal ini dapat menyingkirkan diagnosa kearah
tuberculosa. Selanjutnya dari pemeriksaan fisik yang menunjang adalah
terdapatnya pernafasan cuping hidung, retraksi intercostal dan suprasternal, pada
auskultasi ditemukan ronkhi basah halus nyaring, maka dapat disimpulkan bahwa
pasien ini merupakan pasien dengan bronkopneumonia.

2.6 Diagnosis Banding


Pasien didiagnosa banding dengan bronkiolitis karena bronkiolitis sering
menyerang anak usia 2-24 bulan dengan puncak insidensi pada bayi laki-laki usia
2-8 bulan yang tidak mendapatkan air susu ibu (ASI) dan hidup di lingkungan
padat penduduk. Gejala pada bronkiolitis yang mirip dengan pneumonia adalah
didahului dengan ISPA, seperti pilek ringan, batuk, dan demam, disusul dengan
batuk disertai sesak nafas, merintih, nafas berbunyi, rewel, dan penurunan nafsu
makan. Pada pasien ini terdapat semua gejala tersebut, kecuali pilek dan nafas
berbunyi. Hanya saja, pada bronkiolitis ditemukan wheezing dimana pada
pneumonia tidak terdapat wheezing.

Selain bronkiolitis, pasien didiagnosa banding dengan bronkitis akut


karena pada gejalanya terdapat batuk yang pada mulanya kering dan keras yang
kemudian berkembang menjadi batuk produktif, serta dapat pula ditemukan

7
ronkhi pada auskultasi paru. Diagnosa banding bronkitis akut ini disingkirkan
karena pada bronkitis akut umumnya tidak didapatkan demam dan jarang yang
sesak nafas sampai mengakibatkan retraksi dan nafas cuping hidung, serta dapat
ditemukan wheezing pada auskultasi paru.

2.7 Diagnosis
Diagnosis pneumonia yang terbaik adalah berdasarkan etiologi, yaitu
dengan pemeriksaan mikrobiologik. Sayangnya pemeriksaan ini banyak sekali
kendalanya, baik dari segi teknis maupun biaya. Bahkan dalam penelitianpun
kuman penyebab spesifik hanya dapat diidentifikasi pada kurang dari 50% kasus.
Dengan demikian diagnosis pneumonia terutama berdasarkan manifestasi klinis,
dibantu pemeriksaan penunjang lain. Tanpa pemeriksaan mikrobiologik, kesulitan
yang lebih besar adalah membedakan kuman penyebab: bakteri, virus, atau kuman
lain. Pneumonia bakterial lebih sering mengenai bayi dan balita dibanding anak
yang lebih besar. Pneumonia bakterial biasanya timbul mendadak, pasien tampak
toksik, demam tinggi disertai menggigil, dan sesak memburuk dengan cepat.

Pneumonia viral biasanya timbul perlahan, pasien tidak tampak sakit berat,
demam tidak tinggi, gejala batuk dan sesak bertambah secara bertahap. Infeksi
virus biasanya melibatkan banyak organ bermukosa (mata, mulut, tenggorok,
usus). Semakin banyak organ tersebut terlibat makin besar kemungkinan virus
sebagai penyebabnya. Pneumonia bakterial bersifat khas yaitu hanya organ paru
yang terkena. dapat membantu dalam membedakan kuman penyebab pneumonia.

Diagnosis ditegakkan bila ditemukan 3 dari 5 gejala berikut :


1. Sesak napas disertai dengan pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding
dada
2. Panas badan
3. Ronkhi basah halus-sedang nyaring (crackles)
4. Foto thorax meninjikkan gambaran infiltrat difus
5. Leukositosis (pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit
predominan, dan bakteri 15.000-40.000/mm3 neutrofil yang predominan)

8
2.8 Komplikasi
Komplikasi biasanya sebagai hasil langsung dari penyebaran bakteri dalam
rongga thorax (seperti efusi pleura, empiema dan perikarditis) atau penyebaran
bakteremia dan hematologi. Meningitis, artritis supuratif, dan osteomielitis adalah
komplikasi yang jarang dari penyebaran infeksi hematologi

2.9 Prognosis
Pada umumnya prognosis adalah baik, tergantung dari faktor penderita,
bakteri penyebab dan penggunaan antibiotik yang tepat serta adekuat. Perawatan
yang baik dan intensif sangat mempengaruhi prognosis penyakit pada penderita
yang dirawat.

2.10 Penatalaksaan
Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada anak
terdiri dari 2 macam, yaitu penatalaksanaan umum dan khusus.
1. Penatalaksaan Umum
a. Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit à sampai sesak nafas hilang
atau PaO2 pada analisis gas darah ≥ 60 torr.
b. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.
c. Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.

2. Penatalaksanaan Khusus
a. Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak
diberikan pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi
reaksi antibiotik awal.
b. Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu
tinggi, takikardi, atau penderita kelainan jantung
c. Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan
manifestasi klinis. Pneumonia ringan àamoksisilin
10-25mg/kgBB/dosis (di wilayah dengan angka resistensi penisillin
tinggi dosis dapat dinaikkan menjadi 80-90 mg/kgBB/hari).

9
Faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan terapi :
1. Kuman yang dicurigai atas dasas data klinis, etiologis dan epidemiologis
2. Berat ringan penyakit
3. Riwayat pengobatan selanjutnya serta respon klinis
4. Ada tidaknya penyakit yang mendasari

Pemilihan antibiotik dalam penanganan pneumonia pada anak harus


dipertimbangkan berdasakan pengalaman empiris, yaitu bila tidak ada kuman
yang dicurigai, berikan antibiotik awal (24-72 jam pertama) menurut kelompok
usia.
1. Neonatus dan bayi muda (< 2 bulan) :
a. ampicillin + aminoglikosid
b. amoksisillin - asam klavulanat
c. amoksisillin + aminoglikosid
d. sefalosporin generasi ke-3
2. Bayi dan anak usia pra sekolah (2 bl-5 thn)
a. beta laktam amoksisillin
b. amoksisillin - asam klavulanat
c. golongan sefalosporin
d. kotrimoksazol
e. makrolid (eritromisin)
3. Anak usia sekolah (> 5 thn)
a. amoksisillin/makrolid (eritromisin, klaritromisin, azitromisin)
b. tetrasiklin (pada anak usia > 8 tahun)
Karena dasar antibiotik awal di atas adalah coba-coba (trial and error) maka
harus dilaksanakan dengan pemantauan yang ketat, minimal tiap 24 jam sekali
sampai hari ketiga. Bila penyakit bertambah berat atau tidak menunjukkan
perbaikan yang nyata dalam 24-72 jam à ganti dengan antibiotik lain yang lebih
tepat sesuai dengan kuman penyebab yang diduga (sebelumnya perlu diyakinkan
dulu ada tidaknya penyulit seperti empyema, abses paru yang menyebabkan
seolah-olah antibiotik tidak efektif).

10
2.11 Pencegahan
Pencegahan pneumonia pada anak merupakan hal yang esensial dalam
strategi penurunan kematian anak. Upaya pencegahan pneumonia meliputi
beberapa hal, sesuai dengan faktor penyebab pneumonia :
1. ASI eksklusif 6 bulan
2. Gizi cukup dan seimbang sesuai usia anak
Kecukupan gizi merupakan kunci dalam meningkatkan sistem pertahan tubuh
anak, dimulai dari ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupan. Gizi yang
baik terbukti dapat mencegah pneumonia dan juga mempercepat
penyembuhan.
3. Imunisasi
Imunisasi yang penting berkaitan dengan pneumonia antara lain imunisasi
DPT. campak, pneumokokus, dan Hib. Imunisasi DPT dan campak meupakan
imunisasi wajib yang hams diberikan pada anak, sedangkan imunisasi
pneumokokus dan Hib merupakan imunisasi anjuran yang dapat diberikan pada
anak Karena memberikan kekebalan terhadap kuman penyebab pneumonia.
4. Lingkungan bebas asap
Anak-anak harus dijauhkan dari pajanan asap rokok, asap dapur terutama dari
pembakaran kayu dan sejenisnya, serta polusi udara.Memperbaiki hygiene
lingkungan dapat dilakukan misalnya dengan menyediakan ventilasi yang baik
didalam rumah, menjaga kebersihan, dan menggunakan masker pelindung
untuk mengurangi pajanan terhadap polusi.
5. Etiket batuk
Penularan pneumonia banyak berasal dari percikan batuk atau bersin pasien
pneumonia. Untuk menghindari penularan tersebut, sebaiknya menutup mulut
saat batuk atau bersin. Selainitu, penting untuk mencuci tangan setelahnya
untuk menghindari tersebarnya kuman.

11
2.12 Kriteria Rawat Inap

√ Bayi :

- Saturasi oksigen <92%, Sianosis

- Frekuensi napas >60 x/menit

- Distres pernapasan, grunting

- Tidak mau minum atau menetek

- Keluarga tidak bisa merawat dirumah

√ Anak :

* Saturasi oksigen <92%, Sianosis

* Frekuensi napas >50 x/menit

* Distres pernapasan

* Grunting

* Terdapat tanda dehidrasi

* Keluarga tidak bisa merawat dirumah

2.13 Kriteria Pulang

∞ Gejala dan tanda pneumonia menghilang

∞ Asupan per oral adekuat

∞ Pemberian antibiotik bisa diteruskan dirumah secara per oral

∞ Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana kontrol

∞ Kondisi dirumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan dirumah

12
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bronkopneumonia disebut juga pneumonia lobularis yaitu suatu
peradangan pada parenkim paru yang terlokalisir yang biasanya mengenai
bronkiolus dan juga mengenai alveolus disekitarnya, yang sering menimpa anak-
anak dan balita, yang disebabkan oleh bermacam - macam etiologi seperti bakteri,
virus, jamur dan benda asing.

Menurut etiologinya dibagi menjadi 2 yaitu :


Faktor Infeksi
a. Pada neonatus: Streptokokus group B, Respiratory Sincytial
Virus (RSV).
b. Pada bayi : 1) Virus : Virus parainfluensa, virus
influenza,Adenovirus,
RSV, Cytomegalovirus.
2) Organismeatipikal : Chlamidia
trachomatis,Pneumocytis.
3) Bakteri : Streptokokus pneumoni, Haemofilus
influenza, Mycobacterium
tuberculosa, Bordetellapertusis.
c. Pada anak-anak :
1) Virus : Parainfluensa, Influensa Virus,Adenovirus,
RSV
2) Organisme atipikal : Mycoplasma pneumonia
3) Bakteri: Pneumokokus, Mycobakterium tuberculosis

d. Pada anak besar – dewasa muda :


1) Organisme atipikal: Mycoplasma pneumonia, C.
trachomatis

13
2) Bakteri: Pneumokokus, Bordetella pertusis, M.
tuberculosis

Faktor Non Infeksi : Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus
meliputi :
a. Bronkopneumonia hidrokarbon
b. Bronkopneumonia lipoid

Gambaran klinis penumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat
ringannya infeksi, tetapi secara umum dapat dilihat berdasarkan 2 gejala yaitu :
√ Gejala infeksi umum dan gejala gangguan respiratori.
Gangguan infeksi umum berupa demam, sakit kepala, gelisah, malaise,
penurunan nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti muntah atau
diare, terkadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.
√ Gejala gangguan respiratori yaitu batuk, sesak nafas, retraksi dada, takipneu,
nafas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.

Komplikasi biasanya sebagai hasil langsung dari penyebaran bakteri dalam


rongga thorax (seperti efusi pleura, empiema dan perikarditis) atau penyebaran
bakteremia dan hematologi. Meningitis, artritis supuratif, dan osteomielitis adalah
komplikasi yang jarang dari penyebaran infeksi hematologiPrognosis baik pada
anak dengan keadaan umum yang baik, tetapi prognosis buruk bila keadaan umum
buruk.

Penatalaksanaan pneumonia khususnya bronkopneumonia pada anak


terdiri dari 2 macam, yaitu penatalaksanaan umum dan khusus.
1. Penatalaksaan Umum
a. Pemberian oksigen lembab 2-4 L/menit à sampai sesak nafas hilang atau
PaO2 pada analisis gas darah ≥ 60 torr.
b. Pemasangan infus untuk rehidrasi dan koreksi elektrolit.
c. Asidosis diatasi dengan pemberian bikarbonat intravena.

14
2. Penatalaksanaan Khusus
a. Mukolitik, ekspektoran dan obat penurun panas sebaiknya tidak diberikan
pada 72 jam pertama karena akan mengaburkan interpretasi reaksi antibioti
awal.
b. Obat penurun panas diberikan hanya pada penderita dengan suhu tinggi,
takikardi, atau penderita kelainan jantung
c. Pemberian antibiotika berdasarkan mikroorganisme penyebab dan manifestasi
klinis. Pneumonia ringan àamoksisilin 10-25 mg/kgBB/dosis (di wilayah
dengan angka resistensi penisillin tinggi dosis dapat dinaikkan menjadi 80-90
mg/kgBB/hari).

Pencegahan :
1. ASI eksklusif 6 bulan
2. Gizi cukup dan seimbang sesuai usia anak
Kecukupan gizi merupakan kunci dalam meningkatkan sistem pertahan tubuh
anak, dimulai dari ASI eksklusif pada 6 bulan pertama kehidupan. Gizi yang
baik terbukti dapat mencegah pneumonia dan juga mempercepat
penyembuhan.
3. Imunisasi
Imunisasi yang penting berkaitan dengan pneumonia antara lain imunisasi
DPT. campak, pneumokokus, dan Hib. Imunisasi DPT dan campak meupakan
imunisasi wajib yang hams diberikan pada anak, sedangkan imunisasi
pneumokokus dan Hib merupakan imunisasi anjuran yang dapat diberikan pada
anak Karena memberikan kekebalan terhadap kuman penyebab pneumonia.
4. Lingkungan bebas asap
Anak-anak harus dijauhkan dari pajanan asap rokok, asap dapur terutama dari
pembakaran kayu dan sejenisnya, serta polusi udara.Memperbaiki hygiene
lingkungan dapat dilakukan misalnya dengan menyediakan ventilasi yang baik
didalam rumah, menjaga kebersihan, dan menggunakan masker pelindung
untuk mengurangi pajanan terhadap polusi.
5. Etiket batuk
Penularan pneumonia banyak berasal dari percikan batuk atau bersin pasien

15
pneumonia. Untuk menghindari penularan tersebut, sebaiknya menutup mulut
saat batuk atau bersin. Selainitu, penting untuk mencuci tangan setelahnya
untuk menghindari tersebarnya kuman.

Kriteria Rawat Inap

√ Bayi :

- Saturasi oksigen <92%, Sianosis

- Frekuensi napas >60 x/menit

- Distres pernapasan, grunting

- Tidak mau minum atau menetek

- Keluarga tidak bisa merawat dirumah

√ Anak :

* Saturasi oksigen <92%, Sianosis

* Frekuensi napas >50 x/menit

* Distres pernapasan

* Grunting

* Terdapat tanda dehidrasi

* Keluarga tidak bisa merawat dirumah

Kriteria Pulang

∞ Gejala dan tanda pneumonia menghilang

∞ Asupan per oral adekuat

∞ Pemberian antibiotik bisa diteruskan dirumah secara per oral

∞ Keluarga mengerti dan setuju untuk pemberian terapi dan rencana kontrol

∞ Kondisi dirumah memungkinkan untuk perawatan lanjutan dirumah

16
DAFTAR PUSTAKA

Nelson. Ilmu Kesehatan Anak Esensial. Edisi ke 6

Pedoman Pelayanan Medis. Ikatan Dokter Anak Indonesia Jilid 1 2010

Pedoman Pelayanan Kesehtan Anak dirumah sakit rujukan tingkat pertaa di


kabupaten / WHO ; alih bahasa, Tim Adaptasi Indonesia _ Jakarta WHO
Indonesia 2008

Ikatan Dokter Anak Indonesia. 2012. Panduan Pelayanan Medis Ilmu Kesehatan
Anak. Jakarta : Penerbit IDAI

Bradley J.S., Byington C.L., Shah S.S, Alverson B., Carter E.R., Harrison C.,
Kaplan S.L., Mace S.E., McCracken Jr G.H., Moore M.R., St Peter S.D.,
Stockwell J.A., and Swanson J.T. 2011. The Management of Community-
Acquired Pneumonia in Infants and Children Older than 3 Months of Age :
Clinical Practice Guidelines by the Pediatric Infectious Diseases Society and the
Infectious Diseases Society of America. Clin Infect Dis. 53 (7): 617-630

Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Nafas Pneumonia Pada Anak Balita,
Orang Dewasa, Usia Lanjut, Jakarta: Pustaka Populer Obor.

Mukty Abdul, H dan Alsagaff Hood.2010. Dasar — dasar Ilmu Penyakit Paru,
Surabaya :
Erlangga.

Price, Sylvia Anderson 2009.Pathophysiology : Clinical Concepts of Disease


Processes. Alih Bahasa Peter Anugrah. Edisi 4.Jakarta : EGC.

Rahajoe, Nastini N. 2008. Buku Ajar Respirologi, Edisi I. Jakarta IDAI.

17