Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Lahan Suboptimal

ISSN: 2252-6188 (Print), ISSN: 2302-3015 (Online, www.jlsuboptimal.unsri.ac.id)


Vol. 6, No.1: 71-77 April 2017

Respon Perkecambahan Kemiri Sunan Terhadap Skarifikasi dengan


Asam Sulfat pada Berbagai Lama Waktu Perendaman

Responses Of Kemiri Sunan Germination To Scarification At Various


Submersion Time In Sulfuric Acid
Ahmad Deni Ismail1* dan Duryat1
1)
Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung, Jl. Prof. Dr. Sumantri
Brojonegoro No. 1 Bandar Lampung 35145.
)
* Penulis untuk korespondensi : Telp: +6285609665913
Email: denismail1995@gmail.com

ABSTRACT

The duration of submersion and the level of acid concentration which are the decisive
factors to succed the chemical scarification. The duration of submersion should be adjusted
to the level of seed skin thickness, the level of acid concentration and the type of acid used.
This study aimed to analyze the inmersion effect of kemiri sunan seeds in sulfuric acid
solution to break the seed dormancy and to get the most effective time of submersion in
order to break the dormancy of kemiri sunan seed. The experiment was conducted in the
greenhouse for 2 months (62 days). The randomized complete design was employed as
experimental method. There were 4 treament tested, i.e : (1) control (without immersion in
H2SO4 solution); (2) immersion in H2SO4 solution for 10 minutes; (3) immersion in H2SO4
solution for 20 minutes and (4) immersion in H2SO4 solution for 30 minutes. The results of
research showed that control gave the best results in term of the percentage of germination
(G), mean daily gremination (MDG), and germination rate (GR).
Keywords: dormancy, Germination, R. trisperma, Scarification, Sulfuric acid

ABSTRAK

Lama waktu perendaman dan besaran konsentrasi asam yang ditentukan merupakan faktor
penentu dalam keberhasilan skarifikasi kimia. Lama waktu perendaman harus disesuaikan
dengan tingkat ketebalan kulit benih, besaran konsentrasi asam yang ditentukan dan jenis
asam yang digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman
benih kemiri sunan dalam larutan asam sulfat terhadap pemecahan dormansi benih dan
mendapatkan lama waktu perendaman yang paling efektif dalam rangka pemecahan
dormansi benih kemiri sunan. Percobaan dilakukan di rumah kaca fakultas pertanian,
Universitas Lampung selama 2 bulan (62 hari). Rancangan percobaan yang digunakan
adalah rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan yang terdiri dari (1) kontrol (tanpa
perendaman dalam larutan H2SO4 20%); (2) perendaman dalam larutan H2SO4 20% selama
10 menit; (3) perendaman dalam larutan H2SO4 20% selama 20 menit dan (4) perendaman
dalam larutan H2SO4 20% selama 30 menit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa benih
yang dikecambahkan pada perlakuan tanpa perendaman memberikan hasil terbaik dalam
hal persentase benih berkecambah, rata-rata jumlah benih berkecambah per-hari, dan rata-
rata hari benih berkecambah.
Kata kunci : asam sulfat, Dormansi, Perkecambahan, R. trisperma, Skarifikasi
72 Ismail et al.: Respon Perkecambahan Kemiri Sunan Terhadap Skarifikasi

PENDAHULUAN dapat diterapkan baik pada legume maupun


non legume.
Kemiri sunan (Reutealis trisperma Lamanya waktu perendaman biji
(Blanco) Airy Shaw) merupakan tumbuhan dengan larutan asam sulfat harus
asli tropis yang berasal dari Philipina diperhatikan sebaik mungkin. Menurut
(Herman, dkk, 2013). Kemiri sunan Harjadi (1979), perendaman benih dalam
termasuk tumbuhan tahunan binaan asam sulfat pekat selama 20 menit
Direktorat Jenderal Perkebunan sesuai berpengaruh pada pelunakan kulit benih
Keputusan Menteri Pertanian Nomor bagian luar (testa) dan menurut Mali’ah
3599/Kpts/PD.310/10/2009. Tumbuhan (2014), perendaman larutan asam sulfat
kemiri sunan mampu menghasilkan biji (H2SO4) selama 1 sampai 10 menit tidak
sebanyak 4-6 ton biji kering per hektar per berpengaruh terhadap pematahan dormansi
tahun setara dengan 2-3 ton minyak kasar benih saga (Adenanthera pavonina L.)
per hektar per tahun. Biji kemiri sunan, sedangkan perendaman selama 60 menit
apabila diekstrak akan menghasilkan atau lebih dapat menyebabkan kerusakan
minyak nabati yang dapat digunakan pada benih secara umum.
sebagai sumber bahan baku pembuatan Penelitian ini bertujuan untuk
biodiesel, industri cat, pernis, tinta, mengetahui pengaruh perendaman benih
pengawet kayu, kosmetik, dan farmasi kemiri sunan dalam larutan asam sulfat
(Kementan, 2011). terhadap pemecahan dormansi benih dan
Dari aspek lingkungan, tumbuhan mendapatkan lama waktu perendaman
kemiri sunan dapat digunakan sebagai yang paling efektif dalam rangka
tanaman konservasi. Batang kemiri sunan pemecahan dormansi benih kemiri sunan.
sangat kokoh dan memiliki perakaran
dalam sehingga dapat mencegah erosi dan METODOLOGI PENELITIAN
kerusakan tanah. Kemiri sunan dapat
menyerap karbon dengan baik karena Penelitian ini dilaksanakan di
tajuknya yang cukup lebat. Biomassa tajuk rumah kaca Fakultas Pertanian, Universitas
kemiri sunan adalah 1,5 sampai 2,5 ton per Lampung pada bulan Juli 2017 sampai
pohon yang setara dengan stok karbon dengan September 2017.Bahan-bahan yang
terakumulasi dalam biomassa sebesar 0,5 digunakan dalam penelitian ini adalah
sampai 1,0 ton per pohon (Herman dan benih kemiri sunan, larutan H2SO4 dengan
Pranowo, 2011). Hal ini membuat kadar konsentrasi 20%, air, aquades dan
tumbuhan kemiri sunan dapat berfungsi pasir. Alat-alat yang digunakan berupa bak
sebagai tanaman penyimpan karbon. kecambah, sarung tangan, gelas kimia,
Memperhatikan begitu banyaknya ragam gelas ukur, ember, gembor, ayakan, spidol,
kegunaan, kemiri sunan sangat berpotensi kain lap, stopwatch (alat penghitung
untuk dikembangkan. waktu), kamera dan caliper (jangka
Budidaya tumbuhan kemiri sunan sorong). Alat bantu analisis yang
ini dihalangi oleh sifat dormansi benih digunakan adalah program excel dan
tumbuhan kemiri sunan. Tebalnya lapisan program SPSS
kulit biji dan sifat benih yang impermeabel Penelitian ini dirancang dalam
terhadap air dan gas, menghalangi imbibisi Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4
air dan masuknya oksigen ke dalam biji. taraf perlakuan dan 4 ulangan. Setiap
Pemecahan dormansi kulit biji yang tebal perlakuan dilakukan pada 50 sampel benih.
dapat dilakukan dengan skarifikasi Perlakuan yang diberikan kepada benih
menggunakan larutan kimia. Menurut sebelum dikecambahkan, yaitu tanpa
Winarni (2009), larutan asam sulfat pekat perendaman dalam larutan H2SO4 20%
(H2SO4) dapat melunakkan kulit benih dan atau perlakuan kontrol (P1), perendaman
dalam larutan H2SO4 20% selama 10 menit
Jurnal Lahan Suboptimal, 6(1) April 2017 73

(P2), perendaman dalam larutan H2SO4 gelas kimia dan mengikuti ketentuan
20% selama 20 menit (P3) dan perendaman masing-masing perlakuan (P1 sampai P4).
dalam larutan H2SO4 20% selama 30 menit Setelah proses perendaman selesai
(P4). dilakukan, benih-benih kemudian langsung
Kegiatan yang dilakukan dalam dibersihkan dengan air. Benih yang telah
penelitian ini, meliputi Persiapan benih dan dibersihkan, dikecambahkan pada pasir
media perkecambahan. Benih kemiri sunan dalam bak perkecambahan dengan cara
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dibenamkan sedalam 1 sampai 2 cm
benih yang baik, berwarna cokelat, tidak dengan jarak 3x3 cm dan arah radikula
berlubang dan memiliki ukuran yang menghadap ke bawah.
seragam. Benih berasal dari Balittri (Balai Kegiatan pemeliharaan yang
Penelitian Tanaman Industri dan dilakukan berupa penyiraman yang
Penyegar). Media kecambah yang akan dilakukan setiap hari dan penyiangan
digunakan adalah pasir yang sebelumnya gulma yang hanya dilakukan apabila
telah diayak untuk menghilangkan partikel terdapat gulma yang hidup di sekitar benih
kontaminan. Media kecambah tersebut kemiri sunan. Penyiangan gulma dilakukan
kemudian dimasukkan ke dalam setiap bak dengan cara manual. Pengamatan dan
perkecambahan. pencatatan data dilakukan setelah
Kegiatan perendaman benih di penyemaian benih. Kegiatan ini berupa
dalam larutan H2SO4 dilakukan di dalam pengukuran terhadap variabel-variabel.

1. Persentase Jumlah Benih Berkecambah (G), dihitung menggunakan rumus:

jumlah benih yang berkecambah


G= x 100%
jumlah benih yang dikecambahkan

2. Rata-rata Persentase Jumlah Benih Berkecambah per Hari (MDG ), dihitung


menggunakan rumus.

persentase jumlah benih berkecambah pada akhir pengamatan


MDG = jumlah hari hingga akhir pengamatan

3. Rata-rata Hari Berkecambah (GR), dihitung menggunakan rumus.

(𝑛1×ℎ1)+(𝑛2×ℎ2)+⋯+(𝑛𝑘×ℎ𝑘)
GR = 𝑛1+𝑛2+⋯+𝑛𝑘

Keterangan :
k = jumlah hari yang diperlukan dalam pengamatan perkecambahan benih
h = hari dalam proses perkecambahan benih
n = jumlah benih berkecambah (Indriyanto, 2011).

Data yang didapat dari hasil Hasil pengamatan menjelaskan


penelitian disajikan dalam bentuk tabulasi bahwa perlakuan kontrol (P1) memiliki
data. Uji prasyarat analisis dan analisis persentase jumlah benih berkecambah yang
sidik ragam diuji dengan program SPSS, paling besar dibandingkan dengan
kemudian dilakukan uji lanjut dengan perlakuan lainnya. Hasil penelitian
BNT. menunjukkan bahwa perendaman benih di
dalam asam sulfat dengan konsentrasi 20%
HASIL PENELITIAN menyebabkan penurunan nilai persentase
berkecambah benih dan rata-rata persentase
74 Ismail et al.: Respon Perkecambahan Kemiri Sunan Terhadap Skarifikasi

jumlah benih berkecambah per-hari serta asam sulfat (20 %) terlalu tinggi untuk
meningkatkan rata-rata hari berkecambah. diaplikasikan pada skarifikasi benih kemiri
Hal ini diduga karena konsentrasi larutan sunan.

Tabel 1. Rekapitulasi uji analisis ragam skarifikasi kimia dengan asam sulfat pada berbagai lama waktu
perendaman terhadap respons perkecambahan benih kemiri sunan (R. trisperma).

No Paramater Sig

1. Persentase jumlah benih berkecambah 0.000


2. Rata-rata hari berkecambah 0.035
Rata-rata persentase jumlah benih
3. 0.000
berkecambah per-hari

Rekapitulasi hasil analisis ragam kecil dari 0.05,nilai analisis ragam lebih
(Tabel 1) menunjukkan bahwa secara kecil dari 0.005 menunjukkan bahwa
simultan perbedaan lama waktu terdapat paling tidak satu perlakuan yang
perendaman memberikan pengaruh memberikan pengaruh yang berbeda dari
terhadap variabel parameter pengamatan perlakuan kontrol. Pengaruh yang
(rata-rata hari berkecambah, persentase diberikan oleh perlakuan tersebut dapat
jumlah benih berkecambah, dan rata-rata bersifat positif atau negatif, namun pada
persentase jumlah benih berkecambah per- penelitian ini pengaruh yang diberikan oleh
hari). Hal ini ditunjukkan dari nilai analisis perlakuan tersebut bersifat negatif.
ragam untuk parameter pengamatan lebih

Tabel 2. Hasil uji BNT skarifikasi kimia dengan perlakuan kontrol/tanpa perlakuan (P1), perendaman H2SO4
20% selama 10 menit (P2), perendaman H2SO4 20% selama 20 menit (P3) dan perendaman H 2SO4
20% selama 30 menit (P4) terhadap parameter pengamatan.
Persentase jumlah benih Rata-rata hari Rata-rata persentase jumlah
Jenis Perlakuan
berkecambah berkecambah benih berkecambah per-hari
P1 56.00a 36.50a 0.90a
b b
P2 32.00 38.42 0.52b
b b
P3 28.00 39.01 0.45b
b b
P4 25.50 39.67 0.41b
BNT 5% 11.09 1.81 0.18
Keterangan : Nilai pada setiap variabel dengan notasi yang sama tidak berbeda nyata pada taraf 5%

Rekapitulasi hasil uji BNT (Tabel nilai minimal BNT pada taraf kepercayaan
2) menunjukkan bahwa perlakuan kontrol 5%.
(tanpa perendaman) memiliki pengaruh
yang berbeda terhadap perlakuan dengan PEMBAHASAN
perendaman dalam larutan H2SO4.
Pengaruh yang ditimbulkan perlakuan Pengaruh lama perendaman terhadap
kontrol memiliki pengaruh yang positif persentase jumlah benih berkecambah.
sedangkan pengaruh yang ditimbulkan oleh Hasil perhitungan menyatakan
perendaman dalam larutan H2SO4 memiliki bahwa perlakuan perendaman benih di
pengaruh yang negatif yaitu menurunkan dalam asam sulfat memberikan pengaruh
persentase jumlah benih berkecambah dan yang buruk terhadap parameter
rata-rata persentase jumlah benih perkecambahan benih. Hal ini
berkecambah per-hari serta meningkatkan menunjukkan bahwa penentuan lama
rata-rata hari berkecambah. Hal ini waktu perendaman dan konsentrasi larutan
dibuktikan dari besar perbedaan nilai uji asam sulfat yang tidak tepat. Lama
BNT perlakuan kontrol dengan nilai uji perendaman yang tidak tepat akan
BNT perlakuan lainnya lebih besar dari mengakibatkan kerusakan pada benih (over
Jurnal Lahan Suboptimal, 6(1) April 2017 75

treatment), sehingga menyebabkan daya asam sulfat pada konsentrasi 20%


berkecambah, kecepatan tumbuh dan nilai menyebabkan penurunan pada variabel
perkecambahan memiliki nilai yang rendah rata-rata hari berkecambah benih kemiri
(Lensari, 2009). sunan. Hal ini diduga karena sifat beracun
Sagala (1990) dalam Mali’ah yang terdapat pada asam sulfat
(2014) menjelaskan bahwa perlakuan menyebabkan terganggunya proses
dengan menggunakan H2SO4 pada benih metabolisme benih. Asam sulfat
biasanya bertujuan untuk merusak kulit merupakan salah satu asam yang berbahaya
benih, akan tetapi apabila terlalu berlebihan bagi makhluk hidup dan bersifat sangat
dalam hal konsentrasi atau lama waktu korosif. Proses metabolisme pada benih
perlakuan dapat menyebabkan kerusakan yang tidak terjadi dapat disebabkan oleh
pada embrio. Dalam hal ini benih tersebut adanya denaturasi protein enzim.
akan rusak dan tidak dapat tumbuh. Page (1985) dalam Suyatmi (2011)
Kerusakan pada embrio ini diakibatkan menjelaskan bahwa protein enzim dapat
oleh banyaknya H2SO4 yang terserap oleh mengalami denaturasi akibat derajat
benih. Penyerapan H2SO4 oleh benih keasamam yang terlalu tinggi atau terlalu
disebabkan oleh absorbsi H2SO4 pada lama rendah. H2SO4 dapat mempengaruhi pH
waktu perendaman 30 menit belum pada materi yang disentuhnya. Derajat
mencapai titik jenuh, sehingga membuat keasamam (pH) sangat berpengaruh
benih melakukan proses penyerapan H2SO4 terhadap aktivitas enzim. Umumnya,
ke dalam benih (Suyatmi, 2011). Proses hampir semua enzim sensitif terhadap
penyerapan H2SO4 kedalam benih ini perubahan pH dan ativitas enzim akan
mengakibatkan perubahan pH pada embrio berkurang bila pH optimalnya berubah
yang mengakibatkan proses denaturasi menjadi pH medium. Berdasarkan
protein enzim. Denaturasi protein enzim penjelasan tersebut dapat diduga bahwa
pada benih memicu gejala kemunduran rendahnya persentase perkecambahan
benih. disebabkan oleh adanya penurunan
Konsentrasi asam sulfat yang metabolisme sebagai akibat adanya
terlalu tinggi dalam proses skarifikasi gangguan pada reaksi enzimatis didalam
kimia dapat mengakibatkan kotiledon dan benih akibat perubahan pH.
atau embrio mengalami kerusakan (Utomo,
2006). Jenis asam keras seperti H2SO4, Pengaruh lama perendaman terhadap
dapat merusak kulit benih atau jaringan rata-rata persentase jumlah benih
embrio sehingga terjadinya penghambatan berkecambah perhari.
metabolisme yang menyebabkan kematian Hasil penelitian menyimpulkan
benih. Hal ini dikarenakan sifat asam sulfat bahwa benih yang direndam asam sulfat
yang mampu menghidrolisis bahan pada konsentrasi 20% mengalami
organik. Hidrolisis merupakan reaksi kimia penurunan nilai persentase jumlah benih
yang memecah molekul menjadi dua berkecambah per hari seiring dengan
bagian dengan tujuan untuk mengkonversi penambahan lama waktu perendaman
polimer tertentu menjadi monomer- benih didalam larutan asam sulfat. Hal ini
monomer sederhana. Beberapa asam yang disebabkan oleh denaturasi protein yang
umum digunakan untuk hidrolisa asam dapat mengakibatkan terhambatnya reaksi
antara lain adalah asam sulfat (H2SO4), biokimia benih dan mempercepat
asam perklorat, dan HCL (Osvaldo, 2012). kemunduran benih (Sadjad, 1994)
Pada pengamatan di lapangan,
Pengaruh lama perendaman terhadap terlihat pada beberapa benih kemiri sunan
rata-rata hari berkecambah. yang dikecambahkan mengeluarkan sejenis
Hasil penelitian menunjukkan cairan kental berwarna kuning atau hitam.
bahwa perendaman benih dalam larutan Cairan kental ini diduga disebabkan oleh
76 Ismail et al.: Respon Perkecambahan Kemiri Sunan Terhadap Skarifikasi

adanya larutan asam sulfat yang masuk Majalengka dan Garut. Buletin
kedalam benih sehingga kotiledon dan atau RISTRI 2 (1): 21-27.
embrio terhidrolisis. Cairan kental yang Herman, M., Syakir, M., Pranowo, D.,
keluar dari beberapa benih ini Saefudin dan Sumanto. 2013.
menunjukkan bahwa terganggunya Kemiri Sunan (Reutealis trisperma
aktivitas enzim pada benih tersebut akibat (Blanco) Airy Shaw) Tanaman
kerusakan embrio didalam benih. Penghasil Minyak Nabati dan
Ciri ini dapat digolongkan kedalam Konservasi Lahan. Jakarta: IAARD
ciri benih yang mengalami kemunduran Press.
benih. Gejala kemunduran benih dapat Indriyanto. 2011. Panduan Praktikum
berupa perubahan laju respirasi, aktivitas Teknik dan Manajemen
enzim dan permebilitas membran Bibit/Persemaian. Bandar
sedangkan gejala fisiologis benih yang Lampung: Universitas Lampung.
mengalami kemunduran dapat berupa Kementerian Pertanian. 2011. Peraturan
perubahan warna benih, penurunan laju Menteri Pertanian Nomor
perkecambahan, berkurangnya laju 74.1/PERMENTAN/OT.140/11/20
toleransi terhadap kondisi yang kurang 11 tentang Pedoman Budidaya
baik, pertumbuhan benih lemah dan Kemiri Sunan (Reutealis
semakin meningkatnya jumlah benih yang trisperma/Blanco Airy Shaw).
abnormal (Copeland dalam Murti,2000). Kementerian Pertanian. Jakarta.
Lensari, D. 2009. Pengaruh Pematahan
KESIMPULAN Dormansi Terhadap Kemampuan
Perkecambahan Benih Angsana
Perendaman benih kemiri sunan (Pterocarpus indicus) [Skripsi].
dalam larutan H2SO4 tidak efektif dalam Bogor: Institut Pertanian Bogor.
memecahkan dormansi benih kemiri sunan. Mali’ah, S. 2014. Pengaruh Konsentrasi
Perendaman benih kemiri sunan dalam dan Lama Perendaman Dalam
larutan H2SO4 mengakibatkan penurunan Asam Sulfat (H2SO4) Terhadap
persentase benih berkecambah, rata-rata Perkecambahan Benih Saga Pohon
jumlah benih berkecambah per-hari dan (Adenanthera pavonina L.)
nilai perkecambahan serta peningkatan [Skripsi]. . Malang: Universitas
rata-rata hari benih berkecambah. Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim.
UCAPAN TERIMA KASIH Murti, R. 2000. Teknologi Benih.. Jakarta:
Asdi Mahasatya.
Penulis mengucapkan terima kasih Osvaldo, Z.S., Panca, P.S., Faizal, M.
kepada bapak Duryat, S.Hut., M.Si. selaku 2012. Pengaruh konsentrasi asam
pembimbing pertama penulis, fakultas dan waktu pada proses hidrolisis
pertanian, Universitas Lampung dan pihak- dan fermentasi pembuatan
pihak yang membantu penulis dalam bioetanol dari alang-alang. Jurnal
melaksanakan penelitian ini sehingga Teknik Kimia 2 (18): 52-62.
penelitian dapat selesai. Sadjad, S. 1994. Kuantifikasi Metabolisme
DAFTAR PUSTAKA Benih. Jakarta: Gramedia
Widiasarana Indonesia.
Harjadi, S.S. 1979. Pengantar Agronomi. Suyatmi, Hastuti, E.D., Darmanti, S. 2011.
Jakarta: PT. Gramedia. Pengaruh lama perendaman dan
Herman, M dan Pranowo, D. 2011. konsentrasi asam sulfat terhadap
Karakteristik buah dan minyak perkecamban benih jati (Tectona
kemiri sunan (Reutealis trisperma grandis Linn.f). Buletin Anatomi
(Blanco) Airy Shaw) populasi dan Fisiologi 19 (1): 28-36.
Jurnal Lahan Suboptimal, 6(1) April 2017 77

Utomo, B. 2006. Ekologi benih. Terhadap Perkecambahan Benih


Http://library.usu.ac.id/download/fp Kayu Afrika (Maesopsis eminii
/06006997.pdf. [Diunduh pada 23 Engl) [Skripsi]. Bogor: Institut
november 2016]. Pertanian Bogor.
Winarni, T. B. 2009. Pengaruh Perlakuan
Pendahuluan dan Berat Benih