Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pemantauan Status Gizi (PSG) 2017 menunjukkan prevalensi Balita stunting di
Indonesia masih tinggi, yakni 29,6% di atas batasan yang ditetapkan WHO (20%). Penelitian
Ricardo dalam Bhutta tahun 2013 menyebutkan balita stunting berkontribusi terhadap 1,5 juta
(15%) kematian anak balita di dunia dan menyebabkan 55 juta anak kehilangan masa hidup
sehat setiap tahun. Untuk menekan angka tersebut, masyarakat perlu memahami faktor apa
saja yang menyebabkan stunting. Stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak
(pertumbuhan tubuh dan otak) akibat kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Sehingga,
anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.
Di Kalsel berdasarkan Hasil Pemantauan Status Gizi (PSG) Provinsi Kalimantan
Selatan untuk bayi stunting menunjukkan prevalensi yang cenderung fluktuatif. Dimana pada
tahun 2015 balita stunting mencapai 37,25% dan menurun pada tahun 2016 menjadi 31,12%
kemudian meningkat kembali pada tahun 2017 menjadi 34,15%. Tiga kabupaten mengalami
penurunan prevalensi stunting selama 3 tahun berturut-turut yaitu Kabupaten Banjar, Hulu
Sungai Utara dan Tanah Bumbu.

Kekurangan gizi dalam waktu lama itu terjadi sejak janin dalam kandungan sampai
awal kehidupan anak (1000 Hari Pertama Kelahiran). Penyebabnya karena rendahnya akses
terhadap makanan bergizi, rendahnya asupan vitamin dan mineral, dan buruknya keragaman
pangan dan sumber protein hewani. Faktor ibu dan pola asuh yang kurang baik terutama pada
perilaku dan praktik pemberian makan kepada anak juga menjadi penyebab anak stunting
apabila ibu tidak memberikan asupan gizi yang cukup dan baik. Ibu yang masa remajanya
kurang nutrisi, bahkan di masa kehamilan, dan laktasi akan sangat berpengaruh pada
pertumbuhan tubuh dan otak anak. Hasil Riskesdas 2013 menyebutkan kondisi konsumsi
makanan ibu hamil dan balita tahun 2016-2017 menunjukkan di Indonesia 1 dari 5 ibu hamil
kurang gizi, 7 dari 10 ibu hamil kurang kalori dan protein, 7 dari 10 Balita kurang kalori,
serta 5 dari 10 Balita kurang protein.

1.3. TUJUAN KEGIATAN

1.3.1. TUJUAN UMUM

Melakukan penyuluhan pencegahan stunting kepada ibu

1
1.3.2. TUJUAN KHUSUS

Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan peserta penyuluhan mampu:

a. Masyarakat memahami tentang stunting

b. Masyarakat memahami penyebab stunting

c. Masyarakat memahami dampak stunting

d. Masyarakat memahami cara pencegahan stunting

1.4. Manfaat Kegiatan

1.4.1. Manfaat Bagi Ibu

Dengan melaksanakan kegiatan ini, diharapkan Ibu dapat memahami pentingnya


pencegahan stunting.

1.4.2. Manfaat Bagi Penyelenggara

Dapat menambah pengalaman baru dalam melakukan penyuluhan gizi dan menjadi
sumber refereni bagi penyuluhan-penyuluhan selanjutnya.

2
BAB II
RENCANA PELAKSANAAN KEGIATAN

C. KEGIATAN
1.1. NAMA KEGIATAN

Kegiatan ini dinamakan dengan kegiatan “Penyuluhan Pencegahan Stunting di


Wilayah X”.

1.2. TEMA KEGIATAN

Tema dari kegiatan ini adalah “Cegah Stunting untuk Generasi Cerdas Indonesia

1.5. SASARAN KEGIATAN

Sasaran dari kegiatan penyuluhan ini adalah Ibu di Wilayah X.

1.6. TEMPAT DAN WAKTU KEGIATAN

Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal November 2018 yang bertempat di

1.7. RENCANA KEGIATAN

Rencana kegiatan yaitu melakukan penyuluhan Pencegahan Stunting kepada Ibu di


Wilayah X.

1.8. SUSUNAN KEPANITIAAN

(terlampir)

1.9. SUSUNAN ACARA

(terlampir)

1.10. RINCIAN ANGGARAN DANA

(terlampir)

1.11. SUMBER DANA

1.11.1. Donasi lain bersifat tidak mengikat.

3
1.12. Materi Penyuluhan Pencegahan Stunting

(terlampir)

4
1.13. PENUTUP

Demikian proposal ini kami buat dengan sebaik-baiknya. Semoga kegiatan ini dapat
terlaksana sesuai dengan yang di cita-citakan. Atas segala partisipasi dan bantuan yang
diberikan kami mengucapkan terima kasih.

Banjarbaru, 30 November 2018

Panitia Penyelenggara

5
Lampiran 1

Data

Lampiran 2

Susunan Kepanitiaan

PANITIA PELAKSANA

a. Penanggung Jawab Pelaksana : Kepala


b. Pembimbing Pelaksana : Rosihan Anwar, S.Gz., MPH
c. Ketua Pelaksana : Akhmad Nurdin
d. Sekretaris : Auliya Muflihati
e. Bendahara : Aulia Rahmi
f. Seksi – seksi :

Seksi Acara : Hana Askita

Siti Alifa Risqi Dzulfikria

Muhammad Zailani

Seksi konsumsi : Ayu Anggraini

Devina Amadea Setyastrid

Seksi Perlengkapan : Amaruli

Najla Afifah

Seksi Dokumentasi : Nurul Eka Wahyuni

Misma Ulya

Lampiran 3

Susunan Acara

6
RANCANGAN KEGIATAN

Pokok Bahasan : Stunting

Sub Pokok Bahasan : Pencegahan Stunting

Sasaran : Ibu di Wilayah x (50 orang)

Hari/Tanggal : Desember 2018

Waktu : Jam 09.00 – SELESAI

Tempat :

1. Strategi Perencanaan
 Metode : Ceramah dan tanya jawab, Menonton video edukasi tentang
pencegahan stunting
 Media : Video, Leafleat dan banner

2. Struktur Pelaksana

N Tugas Nama
o
1 Moderator Siti Alifa Risqi Dzulfikria
2 Pemateri Akhmad Nurdin
3 Notulen Auliya Muflihati
4 Seksi Amaruli
persiapan/perlengkapan

3. Proses Pelaksanaan

Tahap
Kegiatan perawat Kegiatan klien Media
Kegiatan
Pembukaan 1. Salam pembuka 1. Menjawab 1. Ceramah
( 5 menit) 2. Memperkenalkan diri salam 2. Tanya jawab
3. Menjelaskan maksud dan 2. Mendengarkan
tujuan penyuluhan keterangan
4. Menggali pengetahuan peserta penyaji
tentang materi yang akan 3. Menyampaikan
disampaikan pengetahuan
tentang materi

7
yang
disampaikan

Penyajian dan 1. Menonton video edukasi - Memperhatika 1. Ceramah


diskusi tentang Pencegahan Stunting n 2. Tanya jawab
( 20 menit) 2. Defenisi Stunting - Mendengarkan 3. Leaflet
3. Penyebab stunting keterangan
4. Dampak stuntig penyaji
5. Cara mencegah stunting
6. Zat Gizi Mikro yang Berperan
untuk Menghindari Stunting
(Pendek)

Penutup 1. Mengevaluasi atau menanyakan Peserta menjawab Tanya jawab


(5 menit) kembali materi yang telah pertanyaan,
disampaikan pada peserta memperhatikan dan
2. Menyimpulkan kembali materi menjawab salam
yang telah disampaikan
3. Memberi salam penutup

1. KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi terstruktur
a) Adanya koordinasi antara pemateri, peserta penyuluhan dan panitia
penyelenggara selama acara penyuluhan berlangsung.
b) Persiapan acara penyuluhan dapat dilakukan dengan baik, misalnya dalam
penyiapan kursi, absensi dan leaflet.
c) Sebelum penyuluhan telah dilakukan perjanjian penyuluhan dengan pihak
Poltekkes Kemenkes Malang
2. Evaluasi proses
a) Peserta aktif mendengarkan dan menyimak acara penyuluhan
b) Peserta aktif bertanya topik yang dibahas pada sesi tanya jawab.
c) Peserta mampu merespon pertanyaan yang diberikan pemateri..

8
3. Evaluasi hasil
Peserta mampu menjelaskan kembali materi yang telah disampaikan dengan benar
melalui pertanyaan lisan meliputi pengertian stunting, cara mencegahnya, dan zat gizi
yang berperan menghindari stunting (75%).

Lampiran 4

ANGGARAN DANA

Pemasukan

Dana sumbangan :

- Wong solo : Rp. 600.000


- AZ Bakery : Rp. 500.000
- Senwell : Rp. 500.000
- Indofood : Rp. 500.000
- Indogrosir : Rp. 500.000
- Arsilla bakery : Rp. 500.000
+
Rp. 3.100.000

Produk sponsor :
PT. Jordan : 50 bungkus roti
Air Mineral Amanah : 5 dus
Restu Guru : Banner

Pengeluaran :

1. Perlengkapan
a. Pencetakan leaflet : Rp. 2.000 x 50 = Rp. 1000.000
b. Suvenir (Goodie Bag) : Rp. 5.000 x 50 = Rp. 250.000
c. Suvenir (Spatula) : Rp. 5.000 x 50 = Rp. 250.000
d. Kenang – kenangan (Mug) : Rp. 20.000

2. Pembuatan proposal
a. Pengetikan : Rp. 10.000
b. Penggandaan proposal : Rp. 15.000
c. Penyusunan laporan : Rp. 30.000
3. Surat perizinan : Rp. 50.000
4. Transportasi : Rp. 100.000

9
5. Konsumsi( Nasi Kotak) : Rp. 15.000 x 80
: Rp. 1.200.000
6. Biaya lain – lain : Rp. 100.000
+

Rp. 3.025.000

Lampiran 5

Banner

Leaflet

10
Lampiran 6

Materi

MATERI PENYULUHAN

A. Definisi Stunting
Stunting merupakan istilah untuk penyebutan anak yang tumbuh tidak sesuai dengan
ukuran yang semestinya (bayi pendek). Stunting (tubuh pendek) adalah keadaan tubuh yang
sangat pendek hingga melampaui defisit 2 SD dibawah median panjang atau tinggi badan
populasi yang menjadi referensi internasional. Stunting adalah keadaan dimana tinggi badan
berdasarkan umur rendah, atau keadaan dimana tubuh anak lebih pendek dibandingkan
dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009). Stunted adalah tinggi badan yang kurang
menurut umur (<-2SD), ditandai dengan terlambatnya pertumbuhan anak yang
mengakibatkan kegagalan dalam mencapai tinggi badan yang normal dan sehat sesuai usia
anak. Stunted merupakan kekurangan gizi kronis atau kegagalan pertumbuhan dimasa lalu
dan digunakan sebagai indikator jangka panjang untuk gizi kurang pada anak.
Stunting dapat didiagnosis melalui indeks antropometrik tinggi badan menurut umur
yang mencerminkan pertumbuhan linier yang dicapai pada pra dan pasca persalinan dengan
indikasi kekurangan gizi jangka panjang, akibat dari gizi yang tidak memadai dan atau
kesehatan. Stunting merupakan pertumbuhan linier yang gagal untuk mencapai potensi
genetic sebagai akibat dari pola makan yang buruk dan penyakit (ACC/SCN, 2000).
Stunting didefinisikan sebagai indikator status gizi TB/U sama dengan atau kurang
dari minus dua standar deviasi (-2 SD) dibawah rata-rata standar atau keadaan dimana tubuh
anak lebih pendek dibandingkan dengan anak – anak lain seusianya (MCN, 2009) (WHO,
2006). Ini adalah indikator kesehatan anak yang kekurangan gizi kronis yang memberikan
gambaran gizi pada masa lalu dan yang dipengaruhi lingkungan dan keadaan sosial ekonomi.

B. Penyebab Stunting
Menurut beberapa penelitian, kejadian stunted pada anak merupakan suatu proses
kumulatif yang terjadi sejak kehamilan, masa kanak-kanak dan sepanjang siklus kehidupan.

11
Pada masa ini merupakan proses terjadinya stunted pada anak dan peluang peningkatan
stunted terjadi dalam 2 tahun pertama kehidupan.
Faktor gizi ibu sebelum dan selama kehamilan merupakan penyebab tidak langsung
yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin. Ibu hamil
dengan gizi kurang akan menyebabkan janin mengalami intrauterine growth retardation
(IUGR), sehingga bayi akan lahir dengan kurang gizi, dan mengalami gangguan pertumbuhan
dan perkembangan.
Anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan disebabkan kurangnya
asupan makanan yang memadai dan penyakit infeksi yang berulang, dan meningkatnya
kebutuhan metabolic serta mengurangi nafsu makan, sehingga meningkatnya kekurangan gizi
pada anak. Keadaan ini semakin mempersulit untuk mengatasi gangguan pertumbuhan yang
akhirnya berpeluang terjadinya stunted (Allen and Gillespie, 2001).
Gizi buruk kronis (stunting) tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja seperti yang
telah dijelaskan diatas, tetapi disebabkan oleh banyak faktor, dimana faktor-faktor tersebut
saling berhubungan satu sama lainnnya. Terdapat tiga faktor utama penyebab stunting yaitu
sebagai berikut :
 Asupan makanan tidak seimbang (berkaitan dengan kandungan zat gizi dalam
makanan yaitu karbohidrat, protein,lemak, mineral, vitamin, dan air).
 Riwayat berat badan lahir rendah (BBLR),
 Riwayat penyakit.
Lancet “Maternal and Child Nutrition” Series tahun 2004 memuat satu konsep model
faktor-faktor yang menyebabkan kekurangan gizi, kecacatan atau disability dan kematian.
• Dalam diagram tersebut terlihat bahwa kekurangan gizi kronis atau pendek lebih
dipengaruhi oleh faktor gangguan pertumbuhan pada masa janin, kekurangan asupan
zat gizi mikro dan kekurangan asupan energy dan protein.
• Sementara itu gizi kurang akut yang sering disebut gizi kurang atau kurus lebih
banyak dipengaruhi oleh faktor tidak cukupnya asupan gizi terutama kalori dan
protein dan infeksi penyakit.
• Tidak optimalnya pemberian Air Susu Ibu merupakan salah satu penyebabnya
tingginya infeksi pada bayi yang mengakibatkan kekurangan gizi akut dan kematian.
• Kekurangan gizi mikro disamping menyebabkan kekurangan gizi kronis juga
menyebabkan disability, yang meningkatkan risiko kematian
• Faktor-faktor kemiskinan, sosial budaya dan politik, meningkatnya infeksi penyakit,
ketahanan pangan dan tidak optimalnya cakupan dan kualitas pelayanan merupakan
merupakan faktor yang secara bersama-sama maupun secara sendiri-sendiri

12
berpengaruh pada keadaan gizi ibu hamil, kekurangan gizi mikro, asupan energy yang
rendah dan tidak optimalnya pemberian Air Susu Ibu.

C. Dampak Stunting
Stunting dapat mengakibatkan penurunan intelegensia (IQ), sehingga prestasi belajar
menjadi rendah dan tidak dapat melanjutkan sekolah. Bila mencari pekerjaan, peluang gagal
tes wawancara pekerjaan menjadi besar dan tidak mendapat pekerjaan yang baik, yang
berakibat penghasilan rendah (economic productivity hypothesis) dan tidak dapat mencukupi
kebutuhan pangan. Karena itu anak yang menderita stunting berdampak tidak hanya pada
fisik yang lebih pendek saja, tetapi juga pada kecerdasan, produktivitas dan prestasinya kelak
setelah dewasa, sehingga akan menjadi beban negara. Selain itu dari aspek estetika, seseorang
yang tumbuh proporsional akan kelihatan lebih menarik dari yang tubuhnya pendek.
Stunting yang terjadi pada masa anak merupakan faktor risiko meningkatnya angka
kematian, kemampuan kognitif, dan perkembangan motorik yang rendah serta fungsi-fungsi
tubuh yang tidak seimbang (Allen & Gillespie, 2001). Gagal tumbuh yang terjadi akibat
kurang gizi pada masa-masa emas ini akan berakibat buruk pada kehidupan berikutnya dan
sulit diperbaiki.
Masalah stunting menunjukkan ketidakcukupan gizi dalam jangka waktu panjang,
yaitu kurang energi dan protein, juga beberapa zat gizi mikro.

D. Cara Mencegah Stunting


1. Mencegah Stunting pada Balita
Berbagai upaya telah kita lakukan dalam mencegah dan menangani masalah gizi di
masyarakat. Memang ada hasilnya, tetapi kita masih harus bekerja keras untuk menurunkan
prevalensi balita pendek sebesar 2,9% agar target MD’s tahun 2014 tercapai yang berdampak
pada turunnya prevalensi gizi kurang pada balita kita.
Dalam keadaan normal, tinggi badan tumbuh bersamaan dengan bertambahnya umur,
namun pertambahan tinggi badan relatif kurang sensitif terhadap kurang gizi dalam waktu
singkat. Jika terjadi gangguan pertumbuhan tinggi badan pada balita, maka untuk mengejar
pertumbuhan tinggi badan optimalnya masih bisa diupayakan, sedangkan anak usia sekolah
sampai remaja relatif kecil kemungkinannya. Maka peluang besar untuk mencegah stunting
dilakukan sedini mungkin. dengan mencegah faktor resiko gizi kurang baik pada remaja
putri, wanita usia subur (WUS), ibu hamil maupun pada balita. Selain itu, menangani balita

13
yang dengan tinggi dan berat badan rendah yang beresiko terjadi stunting, serta terhadap
balita yang telah stunting agar tidak semakin berat.
Kejadian balita stunting dapat diputus mata rantainya sejak janin dalam kandungan
dengan cara melakukan pemenuhan kebutuhan zat gizi bagi ibu hamil, artinya setiap ibu
hamil harus mendapatkan makanan yang cukup gizi, mendapatkan suplementasi zat gizi
(tablet Fe), dan terpantau kesehatannya. Selain itu setiap bayi baru lahir hanya mendapat ASI
saja sampai umur 6 bulan (eksklusif) dan setelah umur 6 bulan diberi makanan pendamping
ASI (MPASI) yang cukup jumlah dan kualitasnya. Ibu nifas selain mendapat makanan cukup
gizi, juga diberi suplementasi zat gizi berupa kapsul vitamin A. Kejadian stunting pada balita
yang bersifat kronis seharusnya dapat dipantau dan dicegah apabila pemantauan pertumbuhan
balita dilaksanakan secara rutin dan benar. Memantau pertumbuhan balita di posyandu
merupakan upaya yang sangat strategis untuk mendeteksi dini terjadinya gangguan
pertumbuhan, sehingga dapat dilakukan pencegahan terjadinya balita stunting.
Bersama dengan sektor lain meningkatkan kualitas sanitasi lingkungan dan
penyediaan sarana prasarana dan akses keluarga terhadap sumber air terlindung, serta
pemukiman yang layak. Juga meningkatkan akses keluarga terhadap daya beli pangan dan
biaya berobat bila sakit melalui penyediaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan.
Peningkatan pendidikan ayah dan ibu yang berdampak pada pengetahuan dan
kemampuan dalam penerapan kesehatan dan gizi keluarganya, sehingga anak berada dalam
keadaan status gizi yang baik. Mempermudah akses keluarga terhadap informasi dan
penyediaan informasi tentang kesehatan dan gizi anak yang mudah dimengerti dan
dilaksanakan oleh setiap keluarga juga merupakan cara yang efektif dalam mencegah
terjadinya balita stunting.

2. Penanggulangan dan pencegahan Stunting pada Bayi


a. Penanggulangan stunting pada pertumbuhan bayi

Penanggulangan stunting yang paling efektif dilakukan pada seribu hari pertama
kehidupan, yaitu:

· Pada ibu hamil

Memperbaiki gizi dan kesehatan Ibu hamil merupakan cara terbaik dalam mengatasi stunting.
Ibu hamil perlu mendapat makanan yang baik, sehingga apabila ibu hamil dalam keadaan
sangat kurus atau telah mengalami KurangEnergiKronis (KEK), maka perlu diberikan

14
makanan tambahan kepada ibu hamil tersebut. Setiap ibu hamil perlu mendapat tablet
tambah darah, minimal 90 tablet selama kehamilan. Kesehatan ibu harus tetap dijaga agar ibu
tidak mengalami sakit.

· Pada saat bayi lahir

Persalinan ditolong oleh bidan atau dokter terlatih dan begitu bayi lahir melakukan Inisiasi
Menyusu Dini (IMD). Bayi sampai dengan usia 6 bulan diberi Air Susu Ibu (ASI) saja (ASI
Eksklusif).

· Bayi berusia 6 bulan sampai dengan 2 tahun

Mulai usia 6 bulan, selain ASI bayi diberi Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Pemberian
ASI terus dilakukan sampai bayi berumur 2 tahun atau lebih. Bayi dan anak memperoleh
kapsul vitamin A, taburia, imunisasi dasar lengkap.

· Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) harus diupayakan oleh setiap rumah tangga.

b. Pencegahan stunting pada pertumbuhan bayi

· Kebutuhan gizi masa hamil

Pada Seorang wanita dewasa yang sedang hamil, kebutuhan gizinya dipergunakan untuk
kegiatan rutin dalam proses metabolisme tubuh, aktivitas fisik, serta menjaga keseimbangan
segala proses dalam tubuh. Di samping proses yang rutin juga diperlukan energi dan gizi
tambahan untuk pembentukan jaringan baru, yaitu janin, plasenta, uterus serta kelenjar
mamae. Ibu hamil dianjurkan makan secukupnya saja, bervariasi sehingga kebutuhan akan
aneka macam zat gizi bisa terpenuhi. Makanan yang diperlukan untuk pertumbuhan adalah
makanan yang mengandung zat pertumbuhan atau pembangun yaitu protein, selama itu juga
perlu tambahan vitamin dan mineral untuk membantu proses pertumbuhan itu.

· Kebutuhan Gizi Ibu saat Menyusui

Jumlah makanan untuk ibu yang sedang menyusui lebih besar dibanding dengan ibu hamil,
akan tetapi kualitasnya tetap sama. Pada ibu menyusui diharapkan mengkonsumsi makanan
yang bergizi dan berenergi tinggi, seperti diisarankan untuk minum susu sapi, yang
bermanfaat untuk mencegah kerusakan gigi serta tulang. Susu untuk memenuhi kebutuhan
kalsium dan flour dalam ASI. Jika kekurangan unsur ini maka terjadi pembongkaran dari
jaringan (deposit) dalam tubuh tadi, akibatnya ibu akan mengalami kerusakan gigi. Kadar air

15
dalam ASI sekitr 88 gr %. Maka ibu yang sedang menyusui dianjurkan untuk minum
sebanyak 2–2,5 liter (8-10 gelas) air sehari, di samping bisa juga ditambah dengan minum air
buah.

· Kebutuhan Gizi Bayi 0 – 12 bulan

Pada usia 0 – 6 bulan sebaiknya bayi cukup diberi Air Susu Ibu (ASI). ASI adalah makanan
terbaik bagi bayi mulai dari lahir sampai kurang lebih umur 6 bulan. Menyusui sebaiknya
dilakukan sesegara mungkin setelah melahirkan. Pada usia ini sebaiknya bayi disusui selama
minimal 20 menit pada masing-masing payudara hingga payudara benar-benar kosong.
Apabila hal ini dilakukan tanpa membatasi waktu dan frekuensi menyusui,maka payudara
akan memproduksi ASI sebanyak 800 ml bahkan hingga 1,5 – 2 liter perhari.

· Kebutuhan Gizi Anak 1 – 2 tahun

Ketika memasuki usia 1 tahun, laju pertumbuhan mulai melambat tetapi perkembangan
motorik meningkat, anak mulai mengeksplorasi lingkungan sekitar dengan cara berjalan
kesana kemari, lompat, lari dan sebagainya. Namun pada usia ini anak juga mulai sering
mengalami gangguan kesehatan dan rentan terhadap penyakit infeks seperti ISPA dan diare
sehingga anak butuh zat gizi tinggi dan gizi seimbang agar tumbuh kembangnya optimal.
Pada usia ini ASI tetap diberikan. Pada masa ini berikan juga makanan keluarga secara
bertahap sesuai kemampuan anak. Variasi makanan harus diperhatikan. Makanan yang
diberikan tidak menggunakan penyedap, bumbu yang tajam, zat pengawet dan pewarna. dari
asi karena saat ini hanya asi yang terbaik untuk buah hati anda tanpa efek samping

E. Zat Gizi Mikro yang Berperan untuk Menghindari Stunting (Pendek)


a. Kalsium
Kalsium berfungsi dalam pembentukan tulang serta gigi, pembekuan darah dan kontraksi
otot. Bahan makanan sumber kalsium antara lain : ikan teri kering, belut, susu, keju, kacang-
kacangan.
b. Yodium
Yodium sangat berguna bagi hormon tiroid dimana hormon tiroid mengatur metabolisme,
pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Yodium juga penting untuk mencegah gondok dan
kekerdilan. Bahan makanan sumber yodium : ikan laut, udang, dan kerang.
c. Zink
Zink berfungsi dalam metabolisme tulang, penyembuhan luka, fungsi kekebalan dan
pengembangan fungsi reproduksi laki-laki. Bahan makanan sumber zink : hati, kerang, telur
dan kacang-kacangan.

16
d. Zat Besi
Zat besi berfungsi dalam sistem kekebalan tubuh, pertumbuhan otak, dan metabolisme energi.
Sumber zat besi antara lain: hati, telur, ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau dan buah-
buahan.
e. Asam Folat
Asam folat terutama berfungsi pada periode pembelahan dan pertumbuhan sel, memproduksi
sel darah merah dan mencegah anemia. Sumber asam folat antara lain : bayam, lobak,
kacang-kacangan, serealia dan sayur-sayuran.

17