Anda di halaman 1dari 20

PROPOSAL PROGRAM KREATIVITAS

MAHASISWA

GERAKAN POSYANDU REMAJA

BIDANG KEGIATAN:
PKM GAGASAN TERTULIS

Diusulkan Oleh :
1. Linda Silviya 16.14.02.017 Tahun Angkatan 2016
2. Fepy Sisiliay 16.14.02.011 Tahun Angkatan 2016
3. Nur Laili Rohmah 16.14.02.023 Tahun Angkatan 2016

AKADEMI KEBIDANAN PAMENANG PARE


KEDIRI
2017
DAFTAR ISI

JUDUL ..................................................................................................................
LEMBAR PENGESAHAN ..................................................................................
DAFTAR ISI .......................................................................................................... i

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................................... 1
B. Tujuan ........................................................................................................... 2
C. Manfaat .......................................................................................................... 2

BAB II
GAGASAN
A. Kondisi kekinian ............................................................................................ 3
B. Solusi yang ditawarkan sebelumnya .............................................................. 3
C. Perbaikan kondisi kekinian............................................................................. 4
D. Pihak-pihak yang dipertimbangkan ................................................................ 4
E. Langkah Strategis .......................................................................................... 5

BAB III
KESIMPULAN
A. Gagasan yang diajukan.................................................................................. 6
B. Teknik implementasi ..................................................................................... 6
C. Presiksi yang diperoleh.................................................................................. 6

DAFTAR PUSTAKA. ........................................................................................... 7

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Remaja merupakan generasi harapan bangsa yang nantinya meneruskan
perjuangan bangsa untuk menuju yang lebih baik. Namun remaja saat ini
sangatlah berbeda dengan remaja di masa lalu dan keadaannya sangat
mengkhawatirkan. Misalnya, berhubungan dengan kesehatan reproduksi yang
dihadapi oleh remaja, yaitu perilaku kesehatan yang beresiko seperti
melakukan hubungan seks sebelum menikah, penyalahgunaan NAPZA yang
keduanya ini membawa resiko terkena HIV / AIDS, penyakit menular seksual,
dan lain-lain. Permasalahan lain yang sering dilakukan oleh remaja saat ini
yaitu, tawuran antar pelajar dan mahasiswa di beberapa daerah serta banyaknya
kasus pelecehan seksual yang hampir setiap hari muncul di media.
Berdasarkan data yang di dapat dari media cetak di Kediri, pornografi juga
beredar luas di kalangan siswa SMA bahkan siswa SMP/MTs, terbukti dengan
beredarnya video porno dari siswa ke siswa melalui HP. Berdasakan data dari
Humas KUA Kecamatan Pare Kabupaten Kediri dari bulan Januari sampai
Oktober 2016. Angka pernikahan usia dini meningkat hingga 23,2 persen dari
tahun sebelumnya. Rata-rata penyebab pernikahan di usia dini tersebut akibat
pasangan perempuan sudah hamil dari hubungan diluar nikah karena dampak
pergaulan bebas. Kemudian berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten
Kediri bidang Pemberatasan Penyakit Menular Langsung (P2ML) Kabupaten
Kediri terutama HIV / AIDS dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Data
sejak 2004 sampai 2013 meningkat menjadi 471 kasus, 139 orang di antaranya
sudah meninggal dunia.
Dampak yang akan ditimbulkan jika menikah usia dini yaitu meningkatkan
kematian bagi ibu dan bayinya. Terjadinya kematian ibu dan bayi disebabkan
perdarahan yang dialami oleh ibu. Hal ini menimbulkan keprihatinan kita
apalagi masyarakat dan keluarga masih enggan untuk membicarakan masalah
kesehatan reproduksi secara terbuka serta ketidaktahuan masyarakat tentang
pentingnya pendidikan kesehatan reproduksi pada remaja. Rata-rata remaja
lebih merasa nyaman mendiskusikannya masalah kesehatan reproduksi secara
terbuka dengan sesama teman.
Dalam upaya meningkatkan pemahaman remaja tentang kesehatan
reproduksi menjadikan remaja tegar dalam menghadapi masalah dan mampu
mengambil keputusan yang terbaik bagi dirinya serta memahami pentingnya
menjaga kesehatan reproduksi dan pendidikan seks sejak remaja, maka
diperlukan adanya posyandu remaja. Posyandu remaja yaitu pusat pelayanan
kesehatan reproduksi dan pusat konseling pendidikan seks untuk usia remaja
yang fungsinya untuk mengetahui serta mengatasi masalah yang terjadi pada

1
remaja. Selama ini, posyandu yang ada di Indonesia hanya diperuntukan untuk
bayi, balita dan manula saja. Apabila terdapat posyandu remaja, maka
diharapkan terjadi beberapa hal berikut, yaitu : a) terdapat upaya meningkatkan
status kesehatan reproduksi remaja, b) dapat mengendalikan angka kelahiran
melalui pengaturan usia kawin dan menekan angka HIV/AIDS c) menekan
kenakalan remaja, serta d) meminimalkan penggunaan NAPZA, HIV/AIDS
dan penyakit menular seks. Untuk mengatasi masalah-masalah diatas, maka
perlu dibentuk Posyandu Remaja di Indonesia.

B. Tujuan
a. Tujuan umum
Tujuan umum dari adanya Posyandu Remaja yaitu memberikan
konseling dan pendidikan seks untuk remaja serta mengetahui status gizi
remaja di Indonesia.
b. Tujuan khusus
Tujuan khusus dari adanya Posyandu Remaja adalah sebagai berikut :
1. Remaja dapat memahami kesehatan reproduksi
2. Remaja dapat terhindar dari penyakit HIV/AIDS dan penyakit
menular seksual lainnya
3. Remaja dapat terbebas dari NAPZA
4. Remaja dapat menunda pernikahan usia dini
5. Menjadikan remaja sehat dan cerdas dalam menghadapi perilaku seks
bebas di Indonesia

C. Manfaat
a. Manfaat untuk remaja
1. Mengurangi terjadinya putus sekolah
2. Mengurangi kenakalan remaja
3. Membentuk remaja sebagai generasi muda yang sehat
b. Manfaat untuk masyarakat
1. Meningkatkan kepedulian remaja terhadap fenomena yang ada di
masyarakat sekitar
2. Mengurangi perbedaan pendapat antara remaja dengan masyarakat
ataupun orangtua
3. Meningkatkan norma kesopanan di masyarakat
c. Manfaat untuk pemerintah
1. Mengurangi terjadinya ledakan penduduk
2. Mengurangi terjadinya penggangguran di usia sekolah
3. Mengurasi angka kriminalitas yang disebabkan ledakan pengangguran

2
BAB II
GAGASAN

A. Kondisi Kekinian
Posyandu adalah pusat kegiatan masyarakat dimana masyarakat dapat
sekaligus memperoleh pelayanan Keluarga Berencana (KB) dan kesehatan
antara lain : gizi, imunisasi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan
penanggulangan diare. Definisi lain Posyandu adalah salah satu bentuk Upaya
Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang dikelola dan
diselenggarakan dari, oleh, untuk da bersama masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Guna memberdayakan masyarakat
dan memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam memperoleh pelayanan
kesehatan dasar untuk mempercepat penurunkan Angka Kematian Ibu dan
Bayi. Tujuan penyelenggaraan posyandu adalah untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan bayi, balita, ibu dan pasangan usia subur.
Posyandu tersebut di atas hanya diperuntukkan oleh bayi, balita, ibu dan
manula saja, sedangkan posyandu remaja masih belum ada. Sedangkan remaja
di Indonesia menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI 2007)
menunjukkan jumlah remaja di Indonesia mencapai 30 % dari jumlah
penduduk, jika remaja menunjukan sikap dan perilaku yang negatif maka akan
menimbulkan petaka bagi bangsa dan negara. Menurut BKKBN kondisi
kenakalan remaja di Indonesia saat ini dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Sering terjadi pernikahan usia remaja
2. Sering terjadi seks pra nikah dan kehamilan yang tidak diinginkan
3. Aborsi 2,4 juta : 700-800 ribu adalah remaja
4. HIV / AIDS : 1283 kasus, diperkirakan 52.000 terinfeksi (fenomena
gunung es), 70 % remaja
5. NAPZA
Kondisi tersebut menunjukan bahwa remaja terjerumus kepada hal-hal yang
nista, misalnya terjerat dalam pengaruh NAPZA, miras, seks bebas, aborsi dan
kenakalan remaja lainnya. Jika kenakalan remaja tersebut tidak ditangani maka
kenakalan yang terjadi di kalangan remaja akan semakin meningkat. Oleh
karena itu pemerintah harus segera menanggulangi fenomena kenakalan
remaja yang terjadi dengan membentuk posyandu remaja.

B. Solusi yang ditawarkan sebelumnya


Solusi yang ditawarkan sebelumnya untuk mengatasi masalah yang
dilakukan remaja yaitu diadakannnya penyuluhan dari BKKBN dan BNN serta
pihak Kepolisian setempat. Namun, kegiatan tersebut belum dapat mengurangi
angka kenakalan remaja, seks bebas, dan penyalahgunaan NAPZA yang
dilakukan oleh remaja. Hal ini disebabkan karena kegiatan penyuluhan hanya

3
dilakukan setiap tahun ajaran baru saja, sedangkan remaja perlu bimbingan
lebih lanjut setiap bulannya.
Selain kegiatan penyuluhan, kegiatan yang juga dilakukan oleh pihak
sekolah dan Dinas Pendidikan yaitu adanya Bimbingan Konseling (BK) di
sekolah. Namun, upaya tersebut juga belum dapat mengatasi masalah remaja.
Selama ini, remaja beranggapan bahwa Bimbingan Konseling (BK) di sekolah
adalah hal yang tidak penting bahkan terkadang remaja merasa bosan saat
kegiatan tersebut dilakukan.

C. Perbaikan kondisi kekinian


1. Perbaikan oleh pemerintah dan kepolisian
Perbaikan yang telah dilakukan oleh pemerintah yaitu dengan
mengadakan patroli keliling yang dilakukan oleh pihak kepolisian dan
masyarakat untuk menekan terjadinya kenakalan remaja. Namun, kegiatan
tersebut hanya terjadi pada saat malam hari saja. Sedangkan perilaku
remaja seperti kenakalan remaja, perilaku seks bebas, pelecehan seksual,
dan penyalagunaan NAPZA dilakukan oleh remaja tidak hanya di malam
hari saja, tetapi juga siang hari.
2. Perbaikan oleh pihak sekolah
Perbaikan yang dilakukan oleh pihak sekolah yaitu dengan mengadakan
ekstrakulikuler dan class meeting. Kegiatan tersebut diharapkan agar
remaja memiliki kegiatan positif diluar kegiatan belajar di sekolah dan
mendapatkan pengalaman positif untuk kehidupan bermasyarakat. Selain
itu, pihak sekolah juga membentuk Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS)
dan Dewan Perwakilan Kelas (DPM) yang fungsinya agar remaja mampu
berorganisasi dan bermasyarakat dengan baik.
3. Perbaikan oleh masyarakat
Perbaikan yang dilakukan oleh pihak masyarakat yaitu dengan
membentuk organisasi remaja masjid dan karang taruna remaja sehingga
remaja dapat belajar bersosialisasi antar sesama, serta diadakannya
siskamling oleh warga setiap malam untuk menurunkan kriminalitas.

D. Pihak-pihak yang dipertimbangkan


Pihak-pihak yang dipertimbangan dalam pelaksanaan posyandu remaja
tidak hanya remaja, tetapi juga masyarakat dan pemerintah. Bagi masyarakat,
posyandu remaja memiliki fungsi untuk mengatasi kriminalitas yang dilakukan
oleh remaja. Sedangkan bagi pemerintah, posyandu remaja berfungsi untuk
menekan ledakan penduduk yang disebabkan oleh pernikahan usia dini serta
menekan angka pengangguran yang disebabkan karena remaja putus sekolah.
Apabila permasalahan remaja dapat diatasi, maka bangsa tidak akan
kehilangan generasi penerusnya, karena kuat atau lemahnya stabilitas negara

4
dapat dilihat dari banyak sedikitnya angka kriminalitas dan kenakalan yang
dilakukan oleh remaja di negara tersebut.

E. Langkah strategis
Langkah strategis yang akan dilakukan oleh posyandu remaja yaitu :
a. Pelaksanaan posyandu remaja dilakukan sekurang-kurangnya satu bulan
sekali.
b. Posyandu berlokasi di setiap desa/kelurahan/RT/RW atau dusun, namun
dibawah naungan Dinas Kesehatan Kota/Kabupaten, Dinas Kesehatan
Provinsi serta Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
c. Kegiatan posyandu remaja meliputi :
1. Meja 1 ; Pendaftaran
Pendaftaran dilakukan saat peserta (remaja) datang ke pusat
pelayanan kesehatan (posyandu remaja) sebelum melakukan kegiatan
yang ada di posyandu.
2. Meja 2 : Penimbangan dan pengukuran
Peserta melakukan penimbangan berat badan dan pengukuran
lingkar lengan atas oleh kader posyandu atau petugas kesehatan untuk
mengetahui status gizi remaja.
3. Meja 3 : Pendokumentasian
Setelah melakukan pengukuran berat badan dan lingkar lengan atas,
petugas posyandu akan melakukan pendokumentasian di dalam buku
catatan perkembangan remaja (seperti buku KIA).
4. Meja 4 : Pemberian Vitamin dan tablet Fe
Setelah dilakukan pencatatan, peserta akan diberikan vitamin A dan
tablet Fe. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya anemia pada
remaja, karena banyaknya angka kematian ibu disebabkan perdarahan
saat melahirkan. Untuk itu, mengonsumsi tablet Fe sebaiknya sudah
dilakukan sejak remaja, bukan hanya saat masa kehamilan.
5. Meja 5 : Bimbingan konseling remaja
Kader atau petugas kesehatan memberikan bimbingan konseling
remaja meliputi pendidikan seks remaja yang berguna agar remaja
mengerti dan memahami cara menjaga kesehatan reproduksi serta
dampak yang ditimbulkan jika melakuakan seks bebas, masalah
penyakit reproduksi, misalnya desminorhe dan penyakit seksual
lainnya, serta melakukan konseling hasil penimbangan berat badan dan
pengukuran lingkar lengan atas. Selain itu, petugas akan memberikan
pengarahan dan saran agar remaja mengonsumsi buah dan sayur
sehingga tidak mengalami kekurangan gizi maupun anemia.

5
BAB III
KESIMPULAN

A. Gagasan yang diajukan


Angka pernikahan usia dini di Indonesia meningkat hingga 23,2 persen dari
tahun sebelumnya. Rata-rata penyebabnya yaitu akibat pasangan perempuan
sudah hamil dari hubungan diluar nikah karena dampak pergaulan bebas.
Selain itu, angka kematian ibu dan bayi juga meningkat, hal ini disebabkan
karena terjadi perdarahan saat melahirkan dan banyaknya kelahiran prematur.
Masalah lainnya yaitu banyaknya remaja yang mengonsumsi miras dan
NAPZA. Sehingga jumlah penderita HIV / AIDS dan penyakit menular seksual
lainnya juga meningkat. Namun, kegiatan penyuluhan dari BKKBN dan BNN
serta bimbingan konseling dari pihak sekolah masih belum dapat mengatasi
masalah-masalah tersebut. Untuk menangulangi kenakalan remaja tersebut
maka diperlukan adanya posyandu remaja.

B. Teknik implementasi
Posyandu di Indonesia pada umumnya hanya diperuntukkan bagi bayi,
balita, ibu dan manula. Diperlukan adanya posyandu remaja di Indonesia
dikarenakan remaja di Indonesia menurut Survey Demografi Kesehatan
Indonesia (SDKI 2007) menunjukkan jumlah remaja di Indonesia mencapai 30
% dari jumlah penduduk, jika remaja menunjukan sikap dan perilaku yang
negatif maka akan menimbulkan petaka bagi bangsa dan negara. Tahapan
pelaksanaan posyandu remaja yaitu pendaftaran, penimbangan dan
pengukuran, pendokumentasian, pemberian tablet vitamin A dan Fe, serta
melakukan bimbingan konseling terhadap remaja.

C. Prediksi hasil yang diperoleh


Apabila terdapat posyandu remaja, maka masalah kenakalan remaja dapat
teratasi. Bahkan, ledakan penduduk dan kriminalitas juga dapat ditekan. Sama
seperti posyandu balita dan manula, posyandu remaja juga dapat digunakan
untuk mengetahui status gizi remaja sehingga angka harapan hidup di
Indonesia dapat meningkat karena status gizi sudah ditinjau sejak bayi, balita,
remaja hingga manula.

6
DAFTAR PUSTAKA

BKKBN. 2006. Perilaku Seksual Remaja. Jakarta : BKKBN.


BKKBN. 2008a. Modul Pelatihan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja.
Jakarta : BKKBN.
BKKBN. 2008b. Kurikulum dan Modul Pelatihan Pengelolaan Pemberikan
Informasi Kesehatan Reproduksi Remaja. Jakarta : BKKN.
Label, Rda. 2009. Penyimpangan Perilaku Seks pada Remaja.
http://klipingdigital.com. (Diakses pada tanggal 7 November 2016).
Label, Rda. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Budiharsana, Meiwita dan H. Lestari. 2001. Buku Saku Kesehatan Reproduksi
Remaja. Draft. Jakarta : YAI.
Dinkes Jatim. 2014. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Timur 2014. Surabaya : Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Timur.
http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES_PROV
INSI_2014/15_Jatim_2014.pdf (Diakses pada tanggal 9 Januari 2017).
Depkes RI. 2006. Pedoman Umum Pengelolaan Posyandu. Jakarta : Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia.
https://agus34drajat.files.wordpress.com/2010/10/buku-pedoman-umum-
pengelolaan-posyandu.pdf (Diakses pada tanggal 9 Februari 2017).
Depkes RI. 2012. Buku Pegangan Kader Posyandu. Jakarta : Pusat Promosi
Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
http://www.depkes.go.id/resources/download/promosi-kesehatan/buku-
saku-posyandu.pdf (Diakses pada tanggal 9 Februari 2017).
Djajadilaga. 2001. Langkah-lanhkah Praktis Paket Pelayanan Kesehatan
Reproduksi Remaja di Tingkat Pelayanan Kesehatan Dasar. Jakarta :
Depkes dan UNFPA.
Hidayat, Anas Rahmad. 2013. Hubungan Persepsi dan Sikap dengan Perilaku
Seks Pranikah di SMU PGRI 1 Sragen Jawa Tengah. Jurnal Permata
Indonesia Volume 4, Nomor 2, November 2013, Hal. 68 – 75.
http://www.permataindonesia.ac.id/wp-content/uploads/2015/07/07-Anas-
RH.pdf (Diakses pada tanggal 9 Februari 2017).

Anda mungkin juga menyukai