Anda di halaman 1dari 8

MEMPERTAJAM KEMBALI CITRA DENGAN

MENGGUNAKAN METODE BLIND DEKONVOLUSI


(CIRCULAR)

MAKALAH PENGOLAHAN SINYAL ELEKTRONIKA DAN


CITRA

M Vanny Nurfadillah 140310140009


Dhio Alfafian Amartha 140310140020
Muhammad Rizal Fauzi 140310140043
Akhmad Saufi 140310140068

PROGRAM STUDI FISIKA


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2017
I. LATAR BELAKANG
Pada perkembangan teknologi yang canggih seperti zaman sekarang ini, fasilitas dalam
pengambilan gambar atau memotret menjadi salah satu tujuan utama dari sebuah gadget. Fasilitas
ini sangat berguna untuk mengabadikan setiap kejadian yang akan menjadi kenangan di masa yang
akan datang, yang hanya terjadi satu kali dan tidak dapat diulang. Selain itu dari sebuah gambar
atau citra pula dapat menyimpan sebuah informasi. Tidak semua gambar dapat langsung digunakan
karena kualitas citra yang dihasilkan mungkin saja kurang bagus atau perlu diolah lagi sehingga
bisa disimpan atau digunakan untuk informasi. Masalah yang umum terjadi adalah karena
ketidakjelasan atau kekaburan pada suatu gambar disebut dengan blur yang merupakan suatu
kesalahan pada saat pengambilan citra.
Blur terjadi akibat tidak didapatkan kefokusan pada sebuah objek. Terdapat dua jenis
kekaburan (blur) yang sering dialami oleh pengambilan citra antara lain Gaussian Blur dan Motion
Blur. Gaussian Blur merupakan suatu kekaburan pada citra yang diakibatkan karena titik fokus
dari objek yang akan diambil gambarnya. Sedangkan Motion Blur adalah kekaburan pada citra
yang diakibatkan karena adanya gerakan pada objek pada saat pengambilan citra dengan kamera.
Oleh karena itu diperlukan sebuah proses untuk menanggulangi permasaalahan tersebut.
Deblurring merupakan salah satu operasi restorasi citra yang bertujuan untuk mengurangi
efek blur. Deblurring memiliki beberapa metode yaitu filtering yang berkerja dengan literasi yaitu
algoritma Lucy-Richardson dan Blind Deconvolution. Tetapi pada percobaan yang digunakan
sekarang metode yang digunakan adalah metode Blind Deconvolution. Metode Blind
Deconvolution adalah sebuah metode yang digunakan untuk merestorasi sebuah citra yang
mengalami efek blur tanpa harus mengetahui nilai PSF (Point Spread Function).

II. TUJUAN
1. Mengimplementasikan metode Blind Deconvolution pada citra yang terkena efek blur untuk
memperoleh citra dengan kualitas yang lebih baik.
III. TEORI DASAR
Pengolahan Citra Digital
Pengolahan citra digital merupakan proses yang bertujuan untuk memanipulasi dan
menganalisis citra dengan bantuan komputer. Pengolahan citra digital dapat memperbaiki kualitas
suatu gambar sehingga dapat diinterpretasi oleh mata manusia dan juga dapat mengolah informasi
yang terdapat pada suatu gambar untuk keperluan pengenalan objek secara otomatis.
Bidang aplikasi pada pengolahan citra digital sangat erat hubungannya dengan ilmu
pengetahuan pole (pattern recognition) yang umumnya bertujuan mengenali suatu objek dengan
cara mengekstrak informasi penting yang terdapat suatu citra. Bila pengenalan pola dihubungkan
dengan pengolahan citra, dapat diharapkan akan terbentuk suatu sistem yang dapat memproses
citra masukan sehingga citra tersebut dapat dikenali polanya. Proses ini disebut pengenalan citra
atau image recognition. Proses pengenalan citra ini sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Pengolahan citra dan pengenalan pola menjadi bagian dari proses pengenalan citra. Kedua
aplikasi ini akan saling melengkapi untuk mendapatkan ciri khas dari suatu citra yang hendak
dikenali. Secara umum tahapan pengolahan citra digital meliputi akusisi citra, peningkatan kualitas
citra, segmentasi citra , representasi dan uraian , pengenalan dan interpretasi.

Blur
Blur adalah daerah gambar yang tidak tajam disebabkan oleh kamera atau gerakan subyek,
fokus tidak akurat, atau penggunaan aperture (bukaan diafragma pada lensa kamera) yang
memberikan kedalaman medan yang dangkal. Efek blur adalah filter yang membuat transisi halus
dan kontras menurun oleh rata-rata pixel di sebelah tepi garis atau wilayah yang ditentukan dimana
ada warna transisi yang signifikan.
Gambar 1. Contoh dari citra yang mengalami efek blur

Metode Blind Deconvolution


1.) Metode Blind Deconvolution
Metode Blind Deconvolution adalah sebuah metode yang digunakan untuk merestorasi
sebuah citra yang mengalami efek blur tanpa harus mengetahui nilai PSF (Point Spread Function).

2.) Algoritma Blind Deconvolution


Bila suatu foto asli yang mengalami blur yang didefinisikan dengan f memiliki ukuran M
X N telah terjadi blur dengan fungsi alih yang tidak diketahui h dengan resolusi J X K, maka
gambar yang telah mengalami blur didefinisikan dengan:

Dengan :
g(m,n) = image yang mengalami blur
h(k,j) = fungsi transfer akibat blur
f(m-k,n-j) = nilai setiap piksel gambar
w(m,n) = gambar yang tidak mengalami blur
Bila M = N, J = K = Np maka dapat dilakukan konvolusi circular, maka bentuk sederhana
dari persamaan (1) adalah:

Dengan H merupakan matriks M0N0 X M0N0 maka bentuk matriks H adalah:

Menurut persamaan (2) nilai f dapat ditentukan dengan:

Persamaan tersebut mengindikasikan kasus untuk yang diketahui dari h dan w, invers dari (HtH)
merupakan bagian dari huge (kejelasan) yang dilakukan perhitungan secara komputasi untuk
ukuran asli gambar.
3.) Metode Blind Deconvolution Gauss
Untuk metode gauss dapat ditentukan sendiri fungsi transfer h yang disebut dengan fungsi
Gaussian filter. Persamaan Gaussian filter didefinisikan sebagai:

Bentuk persamaan diatas apabila dalam bentuk persamaan laplace:

IV. HASIL
Dari persamaan yang sudah diuraikan sebelumnya maka dillakukan uji coba dengan
menggunakan listing pemrograman seperti berikut.
close all;
I = imread('contoh.jpg');
figure, imshow(I)

GS = rgb2gray(I);
figure, imshow(GS);

PSF = fspecial('disk', 8);


DB = deconvblind(GS, PSF, 18);
figure, imshow(DB)

Dengan menggunakan listing program tersebut didapat hasil seperti berikut

(a) (b) (c)

Gambar 2. Hasil percobaan (a) citra asli (b) filter gray scale (c) hasil deblurring
Dari bagian hasil dapat diamati bahwa citra yang akan dilakukan metode pen debluran dilakukan
dengan filter grayscale terlebih dahulu. Hal ini dikarenakan metode deblurring dengan
menggunakan metode dekonvolusi secara matematis hanya dapat dilakukan dalan 2 dimensi pada
pixel-pixel yang terdapat pada citra. Metode blind dekonvolusi ini dilakukan dengan
memanfaatkan parameter intensitas pada tiap pixelnya sehingga metode ini hanya dapat dilakukan
dalam mode gray scale. Hasil deblurring yang dihasilkan seperti pada gambar 1 (c). didapat dengan
mengkonvolusikan kembali hasil blur yang di konvolusikan. Namun masih terdapat error sehingga
citra yang dihasilkan tidak terlalu jernih dikarnakan metode dekonvolusi merupakan metode
komputasi numerik. Meskipun begitu metode ini dapat dianggap baik untuk melakukan
pendekatan pada hasil deblur yang sempurna.

V. KESIMPULAN
1. Metodi Blind Deconvolution hanya dapat digunakan untuk citra yang gray scale dan hasil yang
didapatkan pun tidak dapat menghilangkan semua blur yang ada pada citra, tetapi metode ini
setidaknya dapat mengurangi efek blur pada citra sehingga citra menjadi sedikit lebih jelas.
DAFTAR PUSTAKA
[1] Mamdouh F. Fahmy, Gamal M.Abdel Raheem, Usama S. Mohamed, and Omar F. Fahmy (A
New Fast Iterative Blind Deconvolution Algortihm) , Assiut University Egypt , 2012 ,
http://dx.doi.org/10/4325/jsip.2012.31013 (Diakses pada tanggal 7 Juni 2017 , Pukul 20.30 WIB).
[2] Dian Eka Apriliyani (Analisis Kinerja Metode Lucy-Richardson dan Blind Deconvolution) ,
Universitas Gunadarma , 2009 http://ejournal.gunadarma.ac.id/index.php/tekno/article/view/1609
(Diakses pada tanggal 7 Juni 2017 , Pukul 20.45 WIB)
[3] http://elektronika-dasar.web.id/definisi-dan-pengolahan-citra-digital/ (Diakses pada tanggal 7
Juni , Pukul 20.20 WIB)