Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pengendalian Biaya Produksi merupakan Faktor penting yang harus


diperhatikan ketika suatu perusahaan akan menghasilkan suatu produksi. Hal ini
dikarenakan setiap perusahaan tentu menginginkan keuntungan yang besar dalam
setiap usaha produksinya. Oleh karena itu, diperlukannya suatu pemahaman
tentang teori-teori biaya produksi agar suatu perusahaan dapat memperhitungkan
biaya-biaya yang akan dikeluarkan untuk menghasilkan suatu output barang.
Ongkos atau biaya sumber daya produksi bagi sebuah perusahaan adalah sama
dengan nilai sumber-sumber produksi tersebut di dalam penggunaan alternatifnya
yang terbaik.
Pembahasan tentang perilaku produksi inilah yang kemudian diangkat
sebagai tema untuk melihat sejauh mana sebuah perusahaan dalam memproduksi
kebutuhan konsumen-konsumennya. Untuk itu, dalam makalah ini akan dibahas
tentang teori produksi dalam ilmu ekonomi mikro.

B. Rumusan Masalah
a. Apakah pengertian pengendalian biaya produksi?
b. Bagaimana mengetahui keuntungan pengendalian biaya?
c. Penetapan Standard Prestasi Tenaga Kerja.

C. Tujuan
a. Mengetahui pengertian pengendalian biaya produksi.
b. Penggunaan Standard Tarif Upah
c. Penetapan Standard Prestasi Tenaga Kerja.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Pengendalian Biaya


Pengendalian pada prinsipnya dapat memperhatikan suatu kegiatan dan selalu
mengawasi aktivitas sehari-hari, maka pengendalian menurut Sondang. S.Giagian
Manajemen Personalia, (1999 : 16) menyatakan bahwa pengendalian biaya adalah
proses atau usaha yang sistimatis dalam penetapan standar pelaksanaan dengan tujuan
perencanaan, sistem informasi umpan balik, membandingkan pelaksanaan nyata
dengan perencanaan menentukan dan mengatur penyimpangan-penyimpangan serta
melakukan koreksi perbaikan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan, sehingga
tujuan tercapai secara efektif dan efisien dalam penggunaan biaya.
Kegiatan pengendalian biaya sangat erat hubungannya dengan fungsi-fungsi
manajemen lainnya, oleh karena kegiatan pengendalian ini dapat dilihat apakah
tujuan kegiatan yang telah direncanakan dapat dicapai dalam pelaksanaan secara riil.
Dilihat dari tahapan perencanaan dan pengendalian merupakan unsur-unsur yang
dominan dalam manajemen 20 % dari seluruh kegiatan yang dapat dilaksanakan
unsur fungsi pelaksanaan dalam pengendalian yang merupakan bagian terbesar dalam
manajemen. Kagiatan pengendalian mencukupi perencanaan, pengawasan,
monitoring, evaluasi dan koreksi.
Perencanaan dan pengendalian merupakan sesuatu yang tidak dapat dipisahkan
dalam pelaksanaan kegiatan. Pada pelaksanaan yang memerlukan usaha yang
sungguh-sungguh dan sangat tergantung pada sistem pengendalian yang efektif dan
sistem informasi yang digunakan.
Agar dapat melaksanakan pengendalian biaya yang efektif, oleh Tuana Kotta,
Petunjuk Pemeriksaan Umum (2002 : 115), maka seorang pimpinan atau pelaksanan
tugas memerlukan informasi, sebagai berikut :
1. Biaya yang digunakan apakah sesuai dengan hasil dari bagian pekerjaan yang
telah dilaksanakan. Jika terjadi perbedaan (lebih besar atau lebih kecil dari
rencana biaya) di mana dimana hal terjadi dan siapa yang bertanggung jawab dan
apa yang dikerjakan.
2. Merupakan biaya yang akan datang sesuai dengan rencana atau melebihi rencana.
Tanggung jawab pengendalian tidak hanya pada manajer saja tetapi merupakan
tanggungjawab semua orang yang terlihat pada aktivitas tersebut agar dapat
mengerjakan bagiannya dengan baik dan tepat
waktu.
3. Menurut Suprityono, dalam pengertian yang sama, namun diungkapkan
dengan sederhana.
Pengendalian adalah proses untuk memberikan kembali menilai dan selalu
memonitor laporan-laporan apakah pelaksanaan tidak menyimpang dari tujuan yang
sudah ditentukan. Dalam pengeluaran uang diharuskan mempunyai catatan terpisah
agar segala pengeluaran dan pemasukan nampak kedua belah pihak dan bertanggung
jawab segala hal yang mungkin terjasi.
Nupriyoni dalam bukunya Konsep Panduan Perencanaan Anggaran Daerah,
(1998 : 5) berpendapat bahwa pengendalian bertumpu pada konsep umpan balik, yang
secara kontinyu mengharuskan adanya pengukuran pelaksanaan dan pengambilan
tindakan koreksi yang ditujulkan untuk menjamin pencapaian tujuan-tujuan. Untuk
proses pengendalian ini, maka yakni manajemen sedapat mungkin mendapatkan
informasi yang tepat dan up to date, agar para manajer dapat segera mengadakan
tindakan-tindakan pengendalian sebelum sesuatu penyimpangan serius. Karena
pengendalian yang teratur akan menghasilkan suatu pencapaian yang efektif.
Aspek-aspek yang perlu diperhatikan dalam proses pengendalian menurut
Glenn A. Welch (1999 : 9), sebagai berikut :
1. Measurement of performance against predetermined objec tive, plans and
standard.
2. Communication (reporting) of the result of the measure1 ment process to the
approriate individu and groups.
3. An analysis of the deviations from the objective plans policies and standard in
order to determinc the under line causes.
Jadi menurut pengertian di atas, bahwa dalam suatu proses pengendalian
mencakup pengukuran pelaksanaan dengan rencana yang telah dibuat dan pelaporan
hasil pengukuran kepada manajer yang bersangkutan. Untuk mengukur dalam
pelaksanaan dilakukan dengan cara analisis varians, untuk menentukan sebab-
sebabnya, sehingga dapat dilakukan pemilihan alternatif yang terbaik untuk
menentukan rencana yang akan datang.
Agar lebih efektif proses pengendalian ini harus pada titik atau pada waktu
mulai dilakukan kegiatan, artinya seorang manajer yang bertanggungjawab akan
tindakan tertentu sebelumnya harus mengusahakan suatu bentuk pengendalian. Untuk
itu tujuan-tujuan rencana-rencana dan kebijaksanaan-kebijaksanaan dan standar-
standar yang telah ditetapkan harus disampaikan kepada manajer dan dipahami
sepenuhnya oleh manajer tersebut terlebih dahulu untuk kemudian dilaksanakan
pelaksanaan itu harus tetao dimonitor apakah sesuai dengan rencana semula.

B. Pengendalian Biaya Produksi: Bahan & Upah langsung

Adalah merupakan suatu tanggung jawab penting untuk dapat


menghasilkan produk bermutu secara ekonomi sesuai dengan yang dijadwalkan,
yang mengakibatkan pemuasan kebutuhan pelanggan dan yang menghasilkan
pengambilan yang sesuai bagi para pemegang saham perusahaan. Controller harus
mengembangkan suatu sistem penghitungan biaya yang akan mengendalikan
sumber daya dan menyediakan informasi akuntansi yang cukup untuk
pengambilan keputusan yang berhubungan dengan banyak masalah produksi yang
terlibat.

Tujuan dasar dari penetapan suatu sistem biaya, yaitu:

1. Untuk pengendalian biaya.


2. Untuk perencanaan dan pengukuran prestasi pelaksanaan (performance).
3. Untuk penetapan harga.
4. Untuk penilaian persediaan.
Tanggung jawab controller adalah untuk menjamin, bahwa telah
ditetapkan sistem biaya produksi untuk melayani keinginan dan kebutuhan para
eksekutif produksi. Controller juga merupakan pengumpul fakta biaya, dan adl
menjadi tanggungjawabnya utk melihat bahwa kepada manajer produksi telah
tersedia informasi biaya yg cukup pada waktu yang tepat utk melaksanakan
pengendalian & perencanaan yg wajar.

Tujuan ditetapkannya akuntansi untuk biaya produksi:

 Bahan langsung (direct material) adl: bahan-bahan yang dapat dibebankan


secara pasti atau secara spesifik pada suatu produk, proses atau job
tertentu, dan yang menjadi suatu bagian komponen dari barang jadi.
 Pengendalian Bahan, berarti:

Penyediaan bahan dengan kuantitas dan kualitas yang disyaratkan dan pada waktu
dan tempat yang diperlukan dalam proses produksi.

Hal ini mengandung arti:


• Bahan yang diperoleh tidak boleh berlebihan jumlahnya.
• Jmlh yg diperoleh harus dapat dipertanggungjawabkan.
• Jmlj yang dipergunakan harus sesuai dengan yang
dimaksudkan/penggunaannya.

Jadi pengendalian meliputi:


1. Rencana dan spesifikasi,
2. Pembelian, penerimaan, pemeliharaan,
3. Penggunaan dan bahan sisa serta pemborosan

C. Keuntungan atau manfaat dari pengendalian bahan:


1. Mengurangi penggunaan yg tidak efisien/pemborosan.
2. Mengurangi/mencegah penundaan produksi karena kekurangan bahan.
3. Mengurangi resiko kecurian dan kecurangan.
4. Mengurangi investasi dalam persediaan.
5. Mengurangi investasi yang diperlukan dalam fasilitas pergudangan.
6. Menyediakan laporan keuangan intern yang lebih cermat.
7. Membantu departemen pembelian melalui program dan rencana pembelian
yang dikoordinasikan dengan lebih baik.

D. Controller dalam pengendalian bahan.

1. Pembelian dan Penerimaan:


a. Penetapan dan pemeliharaan pengecekan intern untuk memastikan bhw
bahan yang dibayar telah diterima dan dipakai sesuai dengan tujuan.
b. Audit prosedur pembelian untuk meyakinkan bhw telah diterima
penawaran, bilamana hal ini dapat diterapkan.
c. Studi perbandingan mengenai harga yang dibayar untuk barang dengan
harga dalam jenis industri yang bersangkutan atau dengan indeks-indeks.
d. Pengukuran tendensi harga bahan baku.
e. Penetapan varians harga atas pembelian sekarang, melalui perbandingan
biaya yang sebenarnya dengan standard.

2. Pemakaian:
a. Perbandingan kuantitas yang sebenarnya dipergunakan dalam produksi
dengan standard.
b. Penyiapan formula biaya standard (untuk menekan unsur-unsur biaya
utama dan sebagai suatu bagian dari program pengurangan biaya).
c. Penyiapan laporan tentang bahan sisa, pemborosan, dan sebagainya
sebagaimana dibandingkan dengan standard.
d. Kalkulasi harga pokok untuk membuat sendiri bila dibandingkan dengan
harga perolehan melalui pembelian.

 Penetapan Standard kuantitas bahan:


Controller berkepentingan dalam metode penetapan standard kuantitatif ini,
melalui:
1. Membantu memberikan informasi mengenai pengalaman yang lalu, dan
2. Bertindak sebagai seorang pengecek dalam melihat, bahwa disatu pihak
standard tsb tidak terlalu longgar dilain pihak standard tsb
menggambarkan pelaksanaan yang realistis dapat dicapai.

 Adapun untuk menetapkan standard melalui:


1. Penelitian rekayasa utk menetapkan jenis dan kualitas terbaik dari bahan,
dgn mempertimbangkan persyaratan desain produk dan metode produksi.
2. Analisa mengenai prestasi pelaksanaan yang lalu, untuk operasi-operasi
yang sama atau yang serupa.
3. Uji-coba dalam kondisi yang terkendali.

 Faktor mempengaruhi penetapan pengendalian bahan:


1. Metode Produksi yang dipergunakan.
2. Jenis dan nilai bahan (kerugian/pemborosan)
3. Tingkat sejauh mana laporan biaya dipergunakan oleh manajemen untuk
tujuan pengendalian biaya.

Untuk proses produksi job order seperti perakitan pesawat, prosedur lebih
sederhana. Dalam hal tsb akan dikeluarkan suatu perintah produksi disertai suatu
bon pengambilan bahan atau “permintaan standard” yg menentukan jumlah bahan
yang dapat dikeluarkan untuk menyelesaikan order itu. Jika ada part atau suku
cadang yang rusak atau hilang, maka perlu diperoleh penggantian dengan
menggunakan bon permintaan non-standard atau bon untuk pemakaian yang
berlebihan. Dalam hal ini, pengendalian bahan/part dapat dilakukan secara
langsung sehingga melalui bon tsb dapat dilakukan pengendalian atas bahan-
bahan atau part atau suku cadang yang dipakai secara berlebihan untuk dapat
diiktisarkan dan dilaporkan kepada eksekutif manajemen untuk dipertanggung
jawabkan kepada pemilik perusahaan.
Untuk proses yang berjalan terus, maka suatu perbandingan periodik dpt
dilakukan mengenai bahan yang dipakai dalam hubungannya dengan barang jadi.
Disini tindakan perbaikan tidak dapat diambil secara cepat, tetapi dapat diambil
langkah-langkah untuk menghindari kerugian dimasa yang akan datang.

dalam proses tsb, untuk menemukan kerugian bahan, maka perlu


ditentukan titik-titik inspeksi dimana proses produksi berlangsung . Di tiap titik,
bahan yang ditolak dapat dihitung atau ditimbang dan dihitung biayanya bila
perlu, sehingga dapat dikalkulasi semua pemborosan bahan-bahan dalam proses
produksi dari awal sampai dengan akhir.

suatu prinsip pokok dalam pengendalian biaya adalah untuk memberikan


tekanan utama pada bahan-bahan yang tinggi nilainya. Untuk bahan-bahan yang
nilainya tinggi maka akan diidentifikasi dengan mencantumkan nomor seri dan
diperhitungkan secara cermat. Begitupun sebaliknya bila bahan-bahan nilai tidak
material maka tidak perlu dibuat nomor serinya, namun perlu diperhitungkan
secara cermat. Maksud daripada pelaporan cotroller agar manajer persediaan lebih
memperhatikan nilai yang hilang dibandingkan hanya mengetahui kuantitas yang
hilang.

untuk laporan yang dibuat, maka semakin banyak orang yang


berkepentingan dalam laporan tsb, maka laporan tsb akan semakin detail dan
rinci, dibandingkan bila pemakai laporan hanya sedikit dimana hanya
menggambarkan nilai kerugian untuk mengambil tindakan yang lebih lanjut.

E. Upah langsung

Adl: upah atau gaji pabrik yang dpt diidentifikasikan terhadap suatu departemen
yang produktif, sebagai lawan dari suatu departemen jasa/penunjang, serta yang
penting artinya pada departemen tersebut. Pengendalian biaya tenaga kerja
langsung ini berkisar pada pengukuran prestasi pelaksanaan yang sebenarnya
terhadap tolok ukur atau standard dan mengadakan tindak lanjut terhadap alasan
terjadinya penyimpangan dari standard ini.
Adapun kontribusi Controller thd pengendalian:

1. Menetapkan prosedur2 utk membatasi banyaknya pegawai yang dimasukkan


dalam daftar upah sampai sejumlah yang diperlukan untuk rencana produksi.
2. Menyediakan informasi pra-perencanaan yang akan dipergunakan dalam
menetapkan standar regu kerja dgn menghitung standard jam manusia yang
diperlukan untuk program produksi.
3. Melaporkan per-jam, per-hari atau per-minggu prestasi kerja dari buruh yang
sebenarnya dibandingkan dengan standardnya.
4. Menyediakan data tentang prestasi pelaksanaan masa yang lalu dalam
hubungannya dengan penetapan standard.
5. Memelihara catatan2 yang memadai mengenai standard2 tenaga kerja dan
tetap siap terhadap revisi2 yang diperlukan.
6. Menyediakan laporan2 tambahan mengenai:
- jam dan biaya premi lembut, utk pengendalian lembur.
- biaya2 kontrak, dan komparatif.
- jam kerja rata2 perminggu.
- analisa terperinci mengenai biaya tenaga kerja yang berada dibawah atau
diatas standard.
- data statistik tentang perputaran tenaga kerja, masa kerja dan biaya
latihan.

F. Penetapan Standard Prestasi Tenaga Kerja.

Untuk pengendalian biaya, maka memerlukan standard2 tenaga kerja,


yaitu: Standard jam kerja dan standard biaya. Penetapan standar pelaksanaan kerja
memerlukan pekerjaan analitis yang tinggi yang memerlukan suatu latar belakang
teknis mengenai proses produksi dan juga pengetahuan mengenai metode2 studi
waktu. Penetapan standard waktu kerja memerlukan penetapan waktu yang
diperlukan untuk menyelesaikan setiap operasi bilaman bekerja dalam kondisi
standard/normal. Oleh karena itu, penelitian mencakup kondisi kerja, termasuk
rencana pengendalian bahan, perencanaan dan penjadwalan produksi, dan
penyusunan peralatan dan fasilitasnya. Penetapan biaya standard harus konsisten
dan informasi biaya perlu mempertimbangkan bagaimana standard ditetapkan dan
bagaimana penyimpangannya (variances) akan dianalisa.

G. Penggunaan Standard Tarif Upah

Umumnya tarif upah ditentukan oleh faktor2 ekstern. Bila standard ini
ditetapkan maka tidak akan terjadi perbedaan yang besar dalam pembayaran upah
karena adanya tarif standard tsb. Namun bila terdapat perbedaan yang besar, maka
hal itu adalah:

1. Lembur yang melebihi ketentuan dalam standard.


2. Penggunaan (tenaga kerja yang lebih tinggi klasifikasinya pada suatu
pekerjaan).
3. Kegagalan menempatkan atau mempekerjakan manusia atas dasar insentif.
4. Memakai komposisi tenaga kerja yang berbeda dari standard (lebih banyak
klasifikasi yang tinggi dan lebih sedikit klasifikasi yang rendah).

• Pengendalian Melalui Pra-Perencanaan

Cara pendekatan ini mencakup pengendalian anggaran (budgetary control)


dan dapat diterapkan pada pengendalian biaya tenaga kerja. Sebagai contoh: jika
kebutuhan tenaga kerja untuk program produksi satu bulan dapat ditentukan satu
bulan sebelumnya, maka dapat diambil langkah2 untuk memperoleh kepastian
bahwa biaya tenaga kerja yang berlebihan tidak akan terjadi karena terlalu banyak
orang yang dimasukan pada daftar upah. Pelaksanaan pendekatan ini juga
tergantung pada kondisi industri dan kondisi khusus dalam perusahaan. Contoh:
apakah kondisi2 perusahaan cukup stabil sehingga berbagai perencanaan yang
cukup cermat dapat dilakukan? Dapatkah departemen penjualan menunjukkan
dengan cukup cermat apakah kebutuhannya dalam jangka pendek.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Biaya produksi adalah semua pengeluaran yang dilakukan oleh perusahaan
untuk memperoleh faktor-faktor produksi dan bahan-bahan mentah yang akan
digunakan untuk menciptakan barang-barang yang diproduksikan perusahaan
tersebut. Untuk menghasilkan barang atau jasa diperlukan faktor-faktor produksi
seperti bahan baku, tenaga kerja, modal, dan keahlian pengusaha. Semua faktor-
faktor produksi yang dipakai adalah merupakan pengorbanan dari proses produksi
dan juga berfungsi sebagai ukuran untuk menentukan harga pokok barang.
Biaya produksi dapat meliputi unsur-unsur seperti: Bahan baku atau bahan dasar
termasuk bahan setengah jadi; Bahan-bahan pembantu atau penolong; Upah
tenaga kerja dari tenaga kerja kuli hingga direktur; Penyusutan peralatan produksi,
uang modal / sewa; biaya penunjang seperti biaya angkut, biaya administrasi,
pemeliharaan, biaya listrik, biaya keamanan dan asuransi; Biaya pemasaran
seperti biaya iklan; dan Pajak.
Biaya produksi jangka pendek adalah jangka waktu dimana perusahaan telah
dapat menambah faktor-faktor produksi yang digunakan dalam proses prooduksi.
Sedangkan dalam biaya produksi jangka panjang semua biaya adalah variabel.

\
DAFTAR PUSTAKA

A. Bilas, Richard. 1994. Ekonomi Mikro. Jakarta: Rineka Cipta


Gregory Mankiw, N., dkk. 2013. Pengantar Ekonomi Mikro. Jakarta : Salemba
Empat
Rahardja, Pratama dan Mandala Manurung. 2008. Pengantar Ilmu Ekonomi.
Jakarta: LP-FEUI
S., Bambang dan G. Kartasapoetra. 1992. Kalkulasi dan Pengendalian Biaya
Produksi. Jakarta: Rineka Cipta