Anda di halaman 1dari 12

ETIKA & HUKUM

ANALISA KASUS PERAN HAK DAN KEWAJIBAN


PENATA ANESTESI

OLEH

KELOMPOK 1

Bahaduri Argadinata (17D10062)


Fatwa Alhaitami (17D10066)
I Dewa Gede Bayu Arta Wibawa (17D10070)
I Gusti Ayu Viandari (17D10074)
Kadek Wahyu Gita Aristra (17D10078)
Nofia Candra Noor Wijayanti (17D10082)
Ni Komang Ayu Puspawati (17D10086)
Ni Komang Dian Sekaryani (17D10087)
Ni Luh Putu Eka Pertiwi (17D10091)
Ni Luh Putu Sadwithi Patni (17D10094)
Ni Made Sri Nuramuni (17D10099)
Ni Putu Nine Indah Krisnawati (17D10103)
Putu Deneira Anggitha Irawan (17D10107)
Rafael (17D10111)

D-IV KEPERAWATAN ANESTESIOLOGI B


STIKES BALI 2018
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadapan Tuhan Yang Maha
Esa karena atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah
ini dengan baik dan tepat pada waktunya.
Makalah yang kami buat berjudul “Analisa Kasus Peran Hak Dan
Kewajiban Penata Anestesi”. Dalam penyusunan makalah ini kami di bantu
oleh banyak orang, dan pada kesempatan ini kami mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami.

Kami sadar bahwa makalah yang kami buat ini masih jauh dari
kesempurnaan, masih banyak kekurangan yang ada pada makalah kami.
Tetapi kami mencoba untuk membuat makalah semampu yang kami bisa.
Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
konstruktif untuk kesempurnaan makalah yang kami susun ini. Akhir kata,
kami ucapkan terimakasih dan mohon maaf. Dan semoga makalah yang
kami susun ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Denpasar, Oktober 2018

Penulis

DAFTAR ISI

i
KATA PENGANTAR ..........................................................................................i

DAFTAR ISI ......................................................................................................ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...................................................................................3
1.2. Rumusan Masalah ..............................................................................4
1.3. Tujuan Penulisan ................................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Penerapan Hak Penata Anestesi............................................................5


2.2 Penerapan Kewajiban Penata Anestesi................................................6
2.3 Analisa Kasus.......................................................................................9

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan ........................................................................................11
3.2 Saran ................................................................................................. 11
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................12

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Penata Anestesi sebagai profesi yang telah diakui
keberadaannya di Indonesia yang dalam menjalankan profesinya
berada dibawah perlindungan hukum, undang-undang dan Kode
Etik. Profesi Ikatan Penata Anestesi Indonesia (IPAI) merupakan
salah satu dari jenis tenaga kesehatan yang memiliki kewenangan
untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan berupa asuhan
kepenataan anestesi yang sejajar dengan tenaga kesehatan lainnya.
Oleh karena itu, satu sama lainnya harus saling menghargai antara
teman sejawat dan juga antara para pemberi pelayanan kesehatan
khususnya pemberi pelayanan keanestesian.
Tanggung jawab utama Penata Anestesi adalah memberikan
dan berpartisipasi dalam penyediaan jasa pelayanan anestesi. Penata
Anestesi dalam menjalankan praktik keprofesiannya berwenang
untuk melakukan pelayanan asuhan kepenataan anestesi
pada; Praanestesi, Intraanestesi dan Pascaanestesi. Selain
wewenang tersebut Penata Anestesi juga dapat melaksanakan
pelayanan anestesi berupa; di bawah pengawasan atas pelimpahan
wewenang secara mandate dari dokter spesialis anestesiologi atau
dokter lain dan berdasarkan penugasan pemerintah sesuai
kebutuhan. Oleh karena itu, setiap Penata Anestesi harus menjaga
citra dan martabat kehormatan profesi, serta setia dan menjunjung
tinggi Kode Etik dan Sumpah Profesi dengan menjalankan Hak dan
Kewajiban yang sudah ditentukan

1.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana penerapan hak penata anestesi?

3
2) Bagaimana penerapan kewajiban penata anestesi?
3) Bagaimana contoh kasus penerapan hak dan kewajiban penata
Anestesi?

1.3 Tujuan
1) Agar pembaca dapat memahami penerapan hak penata anestesi.
2) Agar pembaca dapat memahami penerapan kewajiban penata
anestesi.
3) Agar pembaca dapat memahami dan menangani kasus dengan
menerapkan hak dan kewajiban penata Anestesi.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Penerapan Hak Penata Anestesi

4
Permenkes 18 Tahun 2016 Tentang Izin Dan Penyelenggaraan Praktik
Penata Anestesi:
Pasal 24

a. Semua nomenklatur Perawat Anestesi dalam Peraturan Menteri


Kesehatan Nomor 519/Menkes/Per/III/2011 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pelayanan Anestesiologi dan Terapi Intensif Di
Rumah Sakit (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor
224)
b. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 31 Tahun 2013 tentang
Penyelenggaraan Pekerjaan Perawat Anestesi (Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2013
Dalam melaksanakan praktik keprofesiannya, Penata Anestesi,
mempunyai hak yang diatur dalam Pasal 19 :
a. Memperoleh perlindungan hukum dalam melaksanakan praktik
keprofesiannya sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan,
dan standar operasional prosedur
b. Memperoleh informasi yang lengkap dan jujur dari pasien dan/atau
keluarga
c. Melaksanakan pelayanan sesuai dengan kompetensi;
d. Menerima imbalan jasa profesi; dan
e. Memperoleh jaminan perlindungan terhadap risiko kerja yang
berkaitan dengan tugasnya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan.

2.2 Penerapan Kewajiban Penata Anestesi.

Dalam melaksanakan praktik keprofesiannya, Penata Anestesi


mempunyai kewajiban yang diatur dalam Pasal 20 {pmk 18 th 2016}:

a. Menghormati hak pasien


b. Menyimpan rahasia pasien sesuai dengan peraturan perundang-
undangan
c. Memberikan informasi tentang masalah kesehatan dan pelayanan
yang dibutuhkan

5
d. Meminta persetujuan tindakan yang akan dilaksanakan kepada
pasien
e. Mematuhi standar profesi, standar pelayanan, dan standar
operasional prosedur.

Pmk Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2013


Pasal 15
Perawat Anestesi dalam menjalankan pelayanan anestesi berwenang
untuk melakukan tindakan asuhan keperawatan anestesi pada:
a) pra anestesi;
b) intra anestesi; dan
c) pasca anestesi.

Pasal 16
1) Tindakan asuhan keperawatan pra anestesi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 huruf a meliputi:
a. pengkajian keperawatan pra anestesia;
b. pemeriksaan dan penilaian status fisik klien;
c. pemeriksaan tanda-tanda vital;
d. persiapan administrasi pasien;
e. analisis hasil pengkajian dan merumuskan masalah
pasien;
f. mendokumentasikan hasil anamnesis/pengkajian;
g. persiapan mesin anestesia secara menyeluruh setiap kali
akan digunakan dan memastikan bahwa mesin dan
monitor dalam keadaan baik dan siap pakai;
h. pengontrolan persediaan obat-obatan dan cairan setiap
hari untuk memastikan bahwa semua obat-obatan baik
obat anestesia maupun obat emergensi tersedia sesuai
standar rumah sakit; dan memastikan tersedianya sarana
prasarana anestesia berdasarkan jadwal, waktu, dan jenis
operasi tersebut.
2) Tindakan asuhan keperawatan intra anestesi sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 15 huruf b dilakukan dengan

6
kolaborasi/supervisi oleh dokter spesialis anestesiologi, yang
meliputi:
a. menyiapkan peralatan dan obat-obatan sesuai dengan
perencanaan teknik anestesia;
b. membantu pelaksanaan anestesia sesuai dengan instruksi
dokter spesialis anestesiologi;
c. membantu pemasangan alat monitoring non invasif;
d. membantu dokter melakukan pemasangan alat
monitoring invasif;
e. pemberian obat anestesi;
f. mengatasi penyulit yang timbul;
g. pemeliharaan jalan napas;
h. pemasangan alat ventilasi mekanik;
i. pemasangan alat nebulisasi;
j. pengakhiran tindakan anestesia; dan
k. pendokumentasian semua tindakan yang dilakukan agar
seluruh tindakan tercatat baik dan benar.

3) Tindakan asuhan keperawatan pasca anestesi sebagaimana


dimaksud dalam Pasal 15 huruf c meliputi:
a. merencanakan tindakan keperawatan pasca tindakan
anestesia;
b. pelaksanaan tindakan dalam manajemen nyeri;
c. pemantauan kondisi pasien pasca pemasangan kateter
epidural dan pemberian obat anestetika regional;
d. evaluasi hasil pemasangan kateter epidural dan
pengobatan anestesia regional;
e. pelaksanaan tindakan dalam mengatasi kondisi gawat;

7
f. pendokumentasian pemakaian obat-obatan dan alat
kesehatan yang dipakai; dan pemeliharaan peralatan agar
siap untuk dipakai pada tindakan anestesia selanjutnya.

Pasal 18
Dalam keadaan darurat untuk penyelamatan nyawa seorang
pasien dimana tidak ada dokter spesialis anestesiologi di tempat
kejadian, Perawat Anestesi dapat melakukan pelayanan anestesi di
luar kewenangan.

Pasal 19
1) Bagi Perawat Anestesi yang bekerja pada daerah yang tidak
ada dokter spesialis anestesiologi, dalam rangka
melaksanakan tugas pemerintah, dapat memberikan
pelayanan anestesi dalam batas tertentu.
2) Dalam rangka melaksanakan pelayanan anestesi sebagaimana
dimaksud ayat (1) harus mempertimbangkan kompetensi,
tingkat kedaruratan, dan kemungkinan untuk dirujuk.

Pasal 20
(1) Perawat Anestesi dalam melaksanakan pelayanan anestesi
wajib mengikuti pendidikan dan pelatihan berkelanjutan.
(2) Pendidikan dan pelatihan berkelanjutan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) diberikan oleh dokter yang
mempunyai keahlian dan kemampuan untuk itu.

2.3 Contoh Kasus Pemaparan Hak dan Kewajiban Penatan Anestesi.

8
Tn. N berumur 34 tahun datang ke Rumah Sakit dengan
keluhan nyeri terasa sakit, saat berkemih. Perawat Vitri segera
memasang infus dan tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut kepada
pasien dan keluarga pasien tersebut. Selama beberapa saat kemudian Dokter
melakukan pemeriksaan, dari hasil pemeriksaan yang ada Tn.N terkena
penyakit kanker kandung kemih. Kemudian Dokter menginstruksikan
kepada Perawat Vitri untuk melakukan asuhan keperawatan lebih lanjut
kepada Tn.N namun karena terlalu banyak mengurus pasien Perawat Vitri
sampai lupa untuk mengobservasi dan memberikan asuhan keperawatan
lebih lanjut kepada Tn.N.
Selama beberapa jam kemudian Dokter datang kembali untuk
mengobservasi kondisi Tn.N ternyata keadaan Tn.N memburuk dan Tn.N
mengalami peningkatan suhu badan sampai 39˚C, Dokter menanyakan
kepada perawat Vitri apakah sudah memberikan asuhan keperawatan
terhadap Tn.N atau belum dan Perawat Vitri mengatakan dia sudah
memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan instruksi Dokter.
Dokter masih kurang yakin dengan jawaban yang diberikan oleh
Perawat Vitri lalu Dokter mencari tau lebih lanjut apakah benar Perawat
Vitri sudah menjalankan apa yang sudah diinstruksikan tersebut dan
keluarga mengatakan bahwa dari tadi setelah Dokter memeriksa tidak ada
perawat yang datang untuk mengobservasi sehingga dengan adanya
keterangan lebih lanjut dari keluarga pasien tersebut ternyata apa yang
diinstruksikan olehnya tidak dilaksanakan oleh perawat Vitri sehingga hal
tersebut dapat memperburuk keadaan Tn.N sehingga tanpa berkerja sama
dengan perawat Dokter langsung mengambil tindakan sendiri untuk
menangani Tn.N yang kondisinya semakin parah dan segera mengambil
keputusan pembedahan karena mengingat kondisi Tn.N semakin buruk

ANALISIS KASUS
1. Tanggung jawab perawat individu, keluarga maupun masyarakat.
Pada kasus di atas perawat sudah menerapkan tanggung
jawab, yang mana perawat tersebut tanpa disuruh oleh dokter.

9
Perawat itu melakukan tindakan pemasangan infuse dalam
mengatasi gejala awal dari pasien, akan tetapi perawat tersebut tidak
bertanggung jawab terhadap tindakan yang dilakukan sehingga
keadaan atau kondisi dari pasien itu semakin memburuk.
2. Hak-hak Pasien
Pada kasus diatas perawat melanggar hak pasien yang mana
perawat tidak memberikan penjelasan serta meminta persetujuan
pada pasien dan keluarga saat memasang infuse.
3. Perawat lalai akan kewajiban
a) Memberikan pelayanan atau asuhan keperawatan sesuai
standar profesi
b) Menghormati hak-hak pasien
Pada kasus diatas, jelas perawat tidak menunjukkan
profesionalnya. Sebagai seorang perawat seharusnya dapat
bertindak sebagai pemberi rasa nyaman (comforter) dan
pelindung (protector), sedangkan perawat tersebut tidak
memberikan asuhan keperawatan dan mengobservasi lebih
lanjut terhadap keadaan pasien tersebut.

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Penata Anestesi sebagai profesi yang telah diakui


keberadaannya di Indonesia yang dalam menjalankan profesinya
berada dibawah perlindungan hukum, undang-undang dan Kode

10
Etik. Profesi Ikatan Penata Anestesi Indonesia (IPAI). Tanggung
jawab utama Penata Anestesi adalah memberikan dan
berpartisipasi dalam penyediaan jasa pelayanan anestesi.

3.2 SARAN

Dalam melakuakan tindakan keperawatan sebaiknya


menerapkan hak dan kewajiban sebagai seorang perawat agar
pasien merasa nyaman dan kita juga merasa aman.

DAFTAR PUSTAKA

Talib, Ratna; 2014; Issue Dan Legal Praktik Keperawatan; PR,GRA- STUDI S1
KEPERAWATANSTIKES CITRA HUSADA -ANDIRI KUPANG

(https://www.academia.edu/10729552/CONTOH_KASU1)

11