Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Obat Sistem Saraf Pusat

1.1.1 Latar Belakang

Kimia analisa adalah bagian dari ilmu kimia yang mempelajari tentang cara-
cara mengenal (identifikasi) dan penetapan kadar suatu zat. Teknik analisis obat adalah
suatu kegiatan yang diperlukan untuk melakukan pengujian kualitas bahan obat
maupun obat jadi. Materi analisis ini adalah analisis kualitatif (identifikasi) bahan baku
obat dan analisis kuantitatif (penetapan kadar) bahan baku obat maupun sediaan obat
dengan kandungan zat aktif tunggal. Metode analisis obat yang diuraikan merupakan
metode konvensional yang dapat dilakukan di laboratorium sederhana dengan alat-alat
yang sederhana pula.

Pada praktikum ini akan di analisis obat-obat sistem saraf pusat yaitu lidokain,
cafein, teofilin dan aminofilin dengan uji kualitatif menggunakan metode konvensional
yaitu reaksi warna.

1.1.2 Tujuan Praktikum

Dapat memahami bagaimana menganalisis uji kualitatif obat sistem saraf pusat
yaitu lidokain, cafein, teofilin, dan aminofilin.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Obat Sistem Saraf Pusat

Susunan saraf pusat berkaitan dengan sistem saraf manusia yang merupakan
suatu jaringan saraf yang kompleks, sangat khusus dan saling berhubungan satu
dengan yang lain. Fungsi sistem saraf antara lain : mengkoordinasi, menafsirkan
dan mengontrol interaksi antara individu dengan lingkungan sekitarnya.

Stimulan sistem saraf pusat (SSP) adalah obat yang dapat merangsang
serebrum medula dan sumsum tulang belakang. Stimulasi daerah korteks otak-
depan oleh senyawa stimulan SSP akan meningkatkan kewaspadaan, pengurangan
kelelahan pikiran dan semangat bertambah.

Sistem saraf dapat dibagi menjadi sistem saraf pusat atau sentral dan sistem
saraf tepi (SST). Pada sistem syaraf pusat, rangsang seperti sakit, panas, rasa,
cahaya, dan suara mula-mula diterima oleh reseptor, kemudian dilanjutkan ke otak
dan sumsum tulang belakang. Rasa sakit disebabkan oleh perangsangan rasa sakit
diotak besar. Sedangkan analgetik narkotik menekan reaksi emosional yang
ditimbulkan rasa sakit tersebut. Sistem syaraf pusat dapat ditekan seluruhnya oleh
penekan saraf pusat yang tidak spesifik, misalnya sedatif hipnotik. Obat yang dapat
merangsang SSP disebut analeptika.

Obat – obat yang bekerja terhadap susunan saraf pusat berdasarkan efek
farmakodinamiknya dibagi atas dua golongan besar yaitu :

1. Merangsang atau menstimulasi yang secara langsung maupun tidak langsung


merangsang aktivitas otak, sumsum tulang belakang beserta syarafnya.

2. Menghambat atau mendepresi, yang secara langsung maupun tidak lansung


memblokir proses proses tertentu pada aktivitas otak, sumsum tulang belakang
dan saraf- sarafnya.

Obat yang bekerja pada susunan saraf pusat memperlihatkan efek yang
sangat luas (merangsang atau menghambat secara spesifik atau secara umum).
Kelompok obat memperlihatkan selektifitas yang jelas misalnya analgesik
antipiretik khusus mempengaruhi pusat pengatur suhu pusat nyeri tanpa pengaruh
jelas. Obat yang bekerja terhadap SSP dapat dibagi dalam beberapa golongan besar,
yaitu:

1. Psikofarmaka (psikotropika), yang meliputi Psikoleptika (menekan atau


menghambat fungsi-fungsi tertentu dari SSP seperti hipnotika, sedativa dan
tranquillizers, dan antipsikotika); Psiko-analeptika (menstimulasi seluruh SSP,
yakni antidepresiva dan psikostimulansia (wekamin)).

2. Untuk gangguan neurologis, seperti antiepileptika, MS (multiple sclerosis), dan


penyakit Parkinson.

3. Jenis yang memblokir perasaan sakit: analgetika, anestetika umum, dan lokal.

4. Jenis obat vertigo dan obat migrain (Tjay, 2002).


BAB III
METODOLOGI KERJA

3.1 Obat Sistem Saraf Pusat

3.1.1 Lidokain

Pemerian :

Basa berebentuk bubuk krista putih atau kuning lemah, berbau khas, rasa seperti
basa (sepintas menyebabkan rasa pahit di lidah), bentuk garamnya berbentuk bubuk
kristal putih, tak berbau, rasa agak pahit

Kelarutan :

Basa

Air : tidak larut

Etanol : 1:2

Garam

Air : 1: 1

Etanol : 1: 2

Alat dan Bahan:

Alat yang digunakan tabung reaksi, gelas ukur. Bahan yang digunakan Lidokain
injeksi, pereaksi marquis, CuSO4 dan NaOH.
Prosedur kerja:

1. Masukkan lidokain kedalam dua tabung reaksi

2. Tambahkan pereaksi marquis kedalam tabung reaksi 1

3. Tambahkan CuSO4 dan NaOH kedalam tabung reaksi 2

4. Amati hasil perubahannya

3.1.2 Cafein

Pemerian :

Bubuk kristal putih, rasa pahit

Kelautan :

Air : 1 : 60

Etanol : 1 : 75

Alat dan bahan:

Alat yang digunakan tabung reaksi, gelas ukur, bunsen, penjepit kayu. Bahan yang
digunakan Cafein, reaksi parri, air, NaOH, AgNO3.

Prosedur kerja:

1. Masukkan cafein kedalam 2 tabung reaksi

2. Tambahkan reaksi parri kedalam tabung reaksi 1


3. Tambahkan air + NaOH 5 tetes → Panaskan di atas bunsen + AgNO3 kedalam
tabung reaksi 2

4. Amati hasil perubahannya

3.1.3 Teofilin

Pemerian :

Bubuk kristal putih, rasa agak pahit

Kelarutan :

Air : 1 : 200

Etanol : 1 : 150

Alat dan bahan:

Alat yang digunakan tabung reaksi, gelas ukur, bunsen, penjepit kayu. Bahan yang
digunakan Teofilin, reaksi parri, air, NaOH, AgNO3.

Prosedur kerja:

1. Masukkan teofilin kedalam 2 tabung reaksi

2. Tambahkan air + NaOH 5 tetes → Panaskan diatas bunsen + AgNO3 kedalam


tabung reaksi 1

3. Tambahkan reaksi parri kedalam tabung reaksi 2


4. Amati hasil perubahannya

3.1.4 Aminofilin

Pemerian:

Butir atau serbuk, putih atau agak kekuningan, bau lemah mirip amoniak, rasa pahit.

Kelarutan:

Larut dalam lebih kurang 5 bagian air, jika dibiarkan mungkin menjadi keruh,
praktis tidak larut dalam etanol (95%) P dan dalam eter P.

Alat dan bahan:

Alat yang digunakan tabung reaksi, gelas ukur, bunsen, spatula. Bahan yang
digunakan aminofilin, larutan mayer, larutan nessler, reaksi parri.

Prosedur kerja:

1. Masukkan aminofilin ke dalam 3 tabung reaksi

2. Ambil sedikit aminofilin menggunakan spatula, bakar diatas bunsen aroma


yang ditimbulkan bau pandan

3. Tambahkan larutan mayer ke dalam tabung reaksi 1

4. Tambahkan larutan nessler ke dalam tabung reaksi 2

5. Tambakhan reaksi parri ke dalam tabung reaksi 3

6. Amati hasil perubahannya


BAB IV
HASIL DAN DATA PENGAMATAN

4.1 Obat Sistem Saraf Pusat

4.1.1 Lidokain

Hasil Uji Kualitatif :

 Lidokain + pereaksi marquis → Kuning jernih

 Lidokain + CuSO4 dan NaOH → Kompleks berwarna biru kuat

4.1.2 Cafein

Hasil Uji Kualitatif :

 Cafein + Reaksi Parri → Positif (merah muda)

 Cafein + air + NaOH 5 tetes → Panaskan + AgNO3 → Endapan hitam


4.1.3 Teofilin

Hasil Uji Kualitatif :

 Teofilin + air + NaOH 5 tetes → panaskan diatas bunsen + AgNO3 → Gel


jernih tidak bisa dituang

 Reaksi parri : positif (merah muda)


4.1.4 Aminofilin

Hasil Uji Kualitatif :

 Aminofilin dibakar → Bau pandan

 Aminofilin + Mayer → Endapan merah

 Aminofilin + Nessler → Endapan Coklat

 Reaksi Parri : Negatif (tidak ada perubahan)


BAB V
PEMBAHASAN

5.1 Obat SSP

Pada praktikum ini menganalisis obat-obat sistem saraf pusat yaitu lidokain,
cafein, teofilin dan aminofilin dengan uji kualitatif menggunakan metode
konvensional yaitu reaksi warna.

Pada percobaan uji kualitatif lidokain menghasilkan lidokain ditambah


pereaksi marquis menjadi kuning jernih dan lidokain + CuSO4 dan NaOH menjadi
kompleks berwarna biru kuat. Pada sampel cafein ditambah reaksi Parri hasilnya
positif berwarna (merah muda) dan Cafein ditambah air dan NaOH 5 tetes lalu
panaskan diatas bunsen ditambahkan AgNO3 menghasilkan endapan hitam. Pada
sampel teofilin ditambah air dan NaOH 5 tetes lalu dipanaskan diatas bunsen dan
di tambahkan AgNO3 terbentuk gel jernih tidak bisa dituang, teofilin ditambah
reaksi parri hasilnya positif berwarna (merah muda). Pada aminofilin yang pertama
dibakar menghasulkan bau pandan, aminofilin ditambahkan larutan mayer
terbentuk endapan merah, aminofilin ditambahkan larutan nessler terbentuk
endapan coklat, dan yang terakhir minofilin ditambahkan reaksi Parri hasilnya
negatif karena tidak adanya perubahan.
BAB VI
KESIMPULAN

Analisis kualitatif merupakan analisis untuk melakukan identifikasi elemen,


spesies, dan/atau senyawa-senyawa yang ada di dalam sampel. Dengan kata lain,
analisis kualitatif berkaitan dengan cara untuk mengetahui ada atau tidaknya suatu
analit yang dituju dalam suatu sampel.

Dari hasil praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa uji kualitatif
pada sampel lidokain ditambah pereaksi marquis menjadi kuning jernih dan
lidokain + CuSO4 dan NaOH menjadi kompleks berwarna biru kuat. Pada sampel
cafein ditambah reaksi Parri hasilnya positif berwarna (merah muda) dan Cafein
ditambah air dan NaOH 5 tetes lalu panaskan ditambahkan AgNO3 menghasilkan
endapan hitam. Pada sampel teofilin ditambah air dan NaOH 5 tetes lalu
dipanaskan dan di tambahkan AgNO3 terbentuk gel jernih tidak bisa dituang,
teofilin ditambah reaksi parri hasilnya positif berwarna (merah muda). Pada
aminofilin yang pertama dibakar menghasilkan bau pandan, aminofilin
ditambahkan larutan mayer terbentuk endapan merah, aminofilin ditambahkan
larutan nessler terbentuk endapan coklat, dan yang terakhir minofilin ditambahkan
reaksi Parri hasilnya negatif karena tidak adanya perubahan.
DAFTAR PUSTAKA

Gandjar, dan Rohman (2007), Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Katzung, Bertram G.2002. Farmakologi Dasar Dan Klinik. Jakarta: Salemba


Medika.

Dirjen POM. (1979). Farmakope Indonesia edisi III. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.

Dirjen POM. (1995). Farmakope Indonesia edisi IV. Departemen Kesehatan RI,
Jakarta.

Gandjar, dan Rohman (2007), Kimia Farmasi Analisis, Pustaka Pelajar, Yogyakarta

Harmita, Harahap Y, Hayun (2007), Kimia Medicinal, Departemen Farmasi


FMIPA, UI, Cipta Kreasi Bersama, Jakarta.