Anda di halaman 1dari 22

Nama : Mukhamat Sukron

NIM : 231307044

ANALISIS BAGI HASIL PERTANIAN SAWAH WAKAF

MASJID BAITUL MUTTAQIN PAWEDEN BUARAN PEKALONGAN

MENURUT PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

1) Bagaimanakah Bagi Hasil Pertanian Sawah Wakaf Masjid Baitul Muttaqin


Paweden Buaran Pekalongan?

2) Bagaimanakah Analisis Bagi Hasil Pertanian Sawah Wakaf Masjid Baitul Muttaqin

Paweden Buaran Pekalonganmenurut Perspektif Ekonomi Islam ?

Wali Studi Ketua Program Studi


Ekonomi Syari’ah

Triana Sofiani, S.H, M.H Karima Tamara, S.T, M.M


i
PROPOSAL SKRIPSI

ANALISIS BAGI HASIL PERTANIAN SAWAH WAKAF MASJID BAITUL

MUTTAQIN PAWEDEN BUARAN PEKALONGAN

MENURUT PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

Oleh:

MUKHAMAT SUKRON
NIM. 231 307 044

JURUSAN EKONOMI SYARIAH


SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2013
i
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ditinjau dari segi bahasa wakaf berarti menahan. Sedangkan menurut istilah

syara’, ialah menahan sesuatu benda yang kekal zatnya untuk diambil manfaatnya

untuk kebaikan dan kemajuan Islam. Menahan suatu benda yang kekal zatnya,

artinya tidak dijual dan tidak diberikan serta tidak pula diwariskan, tetapi hanya

disedekahkan untuk diambil manfaatnya saja.

Adapun beberapa pengertian tentang wakaf antara lain1:

1. Pengertian wakaf menurut mazhab Syafi’i dan Hambali adalah seseorang

menahan hartanya untuk bisa dimanfaatkan di segala bidang kemaslahatan

dengan tetap melanggengkan harta tersebut sebagai taqarrub kepada Allah

Ta’alaa

2. Pengertian wakaf menurut mazhab Hanafi adalah menahan harta-benda

sehingga menjadi hukum milik Allah Ta’alaa, maka seseorang yang

mewakafkan sesuatu berarti ia melepaskan kepemilikan harta tersebut dan

memberikannya kepada Allah untuk bisa memberikan manfaatnya kepada

manusia secara tetap dan kontinu, tidak boleh dijual, dihibahkan, ataupun

diwariskan

1
Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve), Cet.I, Jilid
6, hal, 1.
104
3. Pengertian wakaf menurut imam Abu Hanafi adalah menahan harta-benda atas

kepemilikan orang yang berwakaf dan bershadaqah dari hasilnya atau

menyalurkan manfaat dari harta tersebut kepada orang-orang yang dicintainya.

Berdasarkan definisi dari Abu Hanifah ini, maka harta tersebut ada dalam

pengawasan orang yang berwakaf (wakif) selama ia masih hidup, dan bisa

diwariskan kepada ahli warisnya jika ia sudah meninggal baik untuk dijual

ayau dihibahkan. Definisi ini berbeda dengan definisi yang dikeluarkan oleh

Abu Yusuf dan Muhammad, sahabat Imam Abu Hanifah itu sendiri.

4. Pengertian wakaf menurut mazhab Maliki adalah memberikan sesuatu hasil

manfaat dari harta, dimana harta pokoknya tetap/lestari atas kepemilikan

pemberi manfaat tersebut walaupun sesaat.

Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa wakaf itu termasuk

salah satu diantara macam pemberian, akan tetapi hanya boleh diambil

manfaatnya, dan bendanya harus tetap utuh. Oleh karena itu, harta yang layak

untuk diwakafkan adalah harta yang tidak habis dipakai dan umumnya tidak dapat

dipindahkan, misalnya tanah, bangunan dan sejenisnya. Utamanya untuk

kepentingan umum, misalnya untuk masjid, mushala, pondok pesantren, panti

asuhan, jalan umum, dan sebagainya.

Hukum wakaf sama dengan amal jariyah. Sesuai dengan jenis amalnya maka

berwakaf bukan sekedar berderma (sedekah) biasa, tetapi lebih besar pahala dan

manfaatnya terhadap orang yang berwakaf. Pahala yang diterima mengalir terus

menerus selama barang atau benda yang diwakafkan itu masih berguna dan

bermanfaat. Hukum wakaf adalah sunah.


cv
Pada prakteknya, wakaf dalam kehidupan masyarakat Indonesia belum

sepenuhnya berjalan tertib dan efisien, sehingga dalam berbagai kasus harta wakaf

tidak terpelihara sebagaimana mestinya, terlantar atau beralih ke tangan pihak

ketiga dengan cara melawan hukum. Keadaan demikian disebabkan tidak hanya

karena kelalaian atau ketidakmampuan Nadzir dalam mengelola dan

mengembangkan benda wakaf, melainkan juga sikap masyarakat yang kurang

peduli atau belum memahami status benda wakaf yang seharusnya dilindungi

demi untuk kesejahteraan umum sesuai dengan tujuan, fungsi, dan peruntukkan

wakaf.

Negara Indonesia memiliki masyarakat yang mayoritas beragama Islam.

Kondisi yang demikian ini tentunya menjadikan masalah pengelolaan wakaf,

menjadi suatu masalah yang sangat urgen dan sangat rentan. Munculnya

penyimpangan pada pengelolaan wakaf akan menjadikan suatu masalah serius

dalam dinamika kehidupan beragama di negara Indonesia apabila penyelesaian

atas masalah tersebut tidak dilakukan secara hati-hati dan sesuai dengan peraturan

perundang-undangan yang berlaku.

Hal lain yang sering menimbulkan permasalahan dalam praktik wakaf di

Indonesia adalah dimintanya kembali tanah wakaf oleh ahli waris wakif dan tanah

wakaf dikuasai secara turun temurun oleh Nadzir yang penggunaannya

menyimpang dari akad wakaf.

Dalam praktik sering didengar dan dilihat adanya tanah wakaf yang diminta

kembali oleh ahli waris wakif setelah wakif tersebut meninggal dunia. Kondisi ini

pada dasarnya bukanlah masalah yang serius, karena apabila mengacu pada
cvi
ketentuan peraturan perundang-undangan, wakaf dapat dilakukan untuk waktu

tertentu, sehingga apabila waktu yang ditentukan telah terlampaui, wakaf

dikembalikan lagi kepada ahli waris wakif. Namun khusus untuk wakaf tanah,

ketentuan pembuatan akta ikrar wakaf telah menghapuskan kepemilikan hak atas

tanah yang diwakafkan sehingga tanah yang diwakafkan tersebut tidak dapat

diminta kembali.

Wakaf tanah pada intinya merupakan salah satu ibadah sosial di dalam Islam

yang sangat erat hubungannya dengan keagrariaan, yakni yang menyangkut

masalah bumi, air, dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung

didalamnya. Oleh karena itu, masalah wakaf selain terikat dengan aturan-aturan

hukum agama (Islam) juga terikat dengan aturan-aturan Hukum Agraria Nasional.

Karena begitu pentingnya masalah wakaf ini dalam Hukum Agraria Nasional yang

menganut paham, bahwa bumi merupakan karunia Tuhan Yang Maha Esa yang

mempunyai fungsi sosial, yang akan mendatangkan manfaat dan maslahat bagi

kepentingan umum, maka masalah tanah wakaf dan perwakafan tanah didudukkan

secara khusus, dan keberadaannya diakui dan dilindungi oleh negara.

Meskipun bila dilihat dari kekuatan hukumnya wakaf merupakan ajaran yang

bersifat Sunnah (anjuran), namun hal ini dapat memberikan arti yang sangat besar

bagi kemajuan dalam kehidupan masyarakat terutama umat Islam, baik dalam

bidang keagamaan maupun dalam bidang kemasyarakatan lainnya. Inilah yang

merupakan kelebihan perbuatan wakaf dengan perbuatan sedekah lainnya. Hal ini

dapat diketahui dari berapa banyak bangunan sekolah/madrasah, perguruan tinggi,

cvi
i
rumah sakit, panti asuhan, masjid dan sebagainya didirikan di atas tanah wakaf.2

Selain itu juga untuk membayar gaji para guru/stafnya serta beasiswa para siswa/

mahasiswanya ada juga yang bersumber dari wakaf. Antusias masyarakat terhadap

pelaksanaan wakaf telah menarik perhatian pemerintah untuk mengatur

pengelolaan wakaf, sebagai salah satu sektor untuk membangun solidaritas sosial

dan ekonomi masyarakat.

Pemanfaatan benda wakaf, berarti menggunakan benda wakaf tersebut untuk

diambil manfaatnya. Sedangkan benda asalnya (pokoknya) tetap, tidak boleh

dijual, dihibahkan dan diwariskan3. Artinya benda wakaf tersebut mempunyai

kedudukan yang khusus. Apabila pada suatu ketika benda wakaf itu sudah tidak

bisa lagi diambil manfaatnya/tidak produktif lagi atau sudah berkurang

manfaatnya, atau adanya kesulitan untuk memanfaatkan tanah wakaf sesuai

dengan ikrar wakaf yang tertuang dalam Akta Ikrar Wakaf (AIW), maka adakah

kemungkinan dapat dilakukan alih fungsi dan status (perubahan kegunaan dan

perubahan status) terhadap tanah wakaf tersebut?

Sebagai salah satu contoh tanah wakaf yang kurang bermanfaat/kurang

produktif dapat dikemukakan, seperti wakaf sawah yang diperuntukkan sebagai

salah satu sumber dana suatu yayasan pendidikan, dan ternyata sawah tersebut

akhirnya menjadi kering dan tidak subur lagi. Sehingga mengakibatkan tidak

dapat lagi diambil hasilnya. Selain itu banyak lagi contoh-contoh dari tanah wakaf

disekitar kita yang tidak diberdayakan karena tidak dapat digunakan sesuai

2
Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang Ketentuan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Pasal 1
Ayat (2) dan Pasal 6
3
Ahmad Azhar Basyir, 1977, Hukum Islamcvitentang Wakaf, Ijarah, Syirkah, al Maarif,
Bandung.
ii
dengan Akta Ikrar Wakaf (AIW) atau tanah wakaf itu sudah berkurang

manfaatnya atau bahkan tidak berfungsi sama sekali. Melihat kepada contoh tanah

wakaf tersebut di atas, ini berarti wakaf sawah yang sudah kering tersebut di atas

dapat dikategorikan sebagai tanah wakaf yang mengalami kerusakan. Hal ini tentu

sangat mengancam akan keabadian pemanfaatan hasilnya. Padahal justru

pemanfaatan inilah yang merupakan shadaqah jariyah yang senantiasa akan

mengalirkan pahala secara terus menerus kepada pemberi wakaf (wakif) itu

sendiri, walaupun si wakif telah meninggal dunia.

Berdasarkan data yang penulis peroleh dari Kantor Departemen Agama

(Depag) Kab.Pekalongan, dapat diketahui bahwa jumlah tanah wakaf yang ada di

Kab. Pekalongan, sampai dengan bulan Agustus 2012 yaitu 656 lokasi secara

keseluruhan yang telah terdaftar. Tanah wakaf yang mempunyai Akta Ikrar Wakaf

dan sudah terdaftar di BPN (Badan Pertanahan Nasional) berjumlah 466 lokasi

(71%), sedangkan yang belum terdaftar, berjumlah 158 lokasi (25%), dan sisanya

32 lokasi masih dalam proses pendaftaran (4%).

Sejak berlakunya Peraturan Pemerintah (PP) No. 28 Tahun 1977 (hampir

berusia 30 tahun), barulah tahun 2000-an ini terdapat alih fungsi dan status tanah

wakaf yang dilakukan melalui Kantor Departemen Agama Kota Jambi.

Berdasarkan data yang penulis peroleh dari Kantor Depatermen Agama Kota

Jambi, bahwa salah satu bentuk alih fungsi dan status tanah wakaf tersebut, yaitu

di mana dalam Akta Ikrar Wakaf (AIW) tanah wakaf dimaksudkan wakif (pemberi

wakaf) untuk Madrasah. Namun dalam kenyataannya tanah itu tidak berfungsi

sebagai madrasah, akan tetapi bermasalah dalam hal pengelolaan hasil panennya
cix
sebagai ruko (rumah toko). Sehubungan dengan hal ini, penulis ingin mengetahui

bagaimanakah pelaksanaan alih fungsi dan status tanah wakaf itu? Apakah sudah

sesuai dengan ketentuan yang berlaku ?

Maka berdasarkan uraian permasalahan di atas penulis mengambil judul

“ANALISIS BAGI HASIL PERTANIAN SAWAH WAKAF MASJID

BAITUL MUTTAQIN PAWEDEN BUARAN PEKALONGAN MENURUT

PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian

ini adalah :

1. Bagaimanakah Bagi Hasil Pertanian Sawah Wakaf Masjid Baitul Muttaqin

Paweden Buaran Pekalongan?


2. Bagaimanakah Analisis Bagi Hasil Pertanian Sawah Wakaf Masjid Baitul Muttaqin

Paweden Buaran Pekalongan menurut Perspektif Ekonomi Islam ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini

adalah:

1. Untuk mengetahui Sistem Bagi Hasil Pertanian Sawah Wakaf Masjid Baitul

Muttaqin Paweden Buaran Pekalongan.


2. Untuk mengetahuiSistem Pemanfaatan Sawah Wakaf Masjid Baitul Muttaqin

Paweden Buaran Pekalongan menurut Perspektif Ekonomi Islam.

Kegunaan Penelitian cx
Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah :
1. Kegunaan Praktis
a. Untuk memenuhi persyaratan kelulusan program studi S.1 Ekonomi

Syari’ah
b. Dapat berguna sebagai bahan informasi para pihak yang berkepentingan

terutama masyarakat luas / konsumen dalam masalah pemanfaatan tanah

Wakaf.
2. Kegunaan Teoritis
a. Bagi pembaca merupakan bahan informasi untuk mengetahui tentang

bagaimanakah sistem pemanfaatan tanah wakaf yang berupa sawah.


b. Bagi peneliti berikutnya penelitian ini digunakan sebagai bahan acuan di

bidang penelitian sejenis dan sebagai pengembangan penelitian lebih

lanjut

D. Tinjauan Pustaka

1. LandasanTeori

Teori Receptio a Contrario yang dikemukakan oleh Hazairin (1906-

1975) dan kemudian diikuti Sayuti Thalib (1924-1990) merupakan teori yang

membahas mengenai bagaimana kedudukan tanah wakaf dan

permasalahannya dalam mata hukum pertanahan.

Receptio a Contrario merupakan teori yang menyatakan bahwa hukum

adat baru berlaku kalau tidak bertentangan dengan hukum Islam. Hukum adat

baru berlaku apabila hukum agama telah menerimanya. Teori ini merupakan

kebalikan dari teori resepsi, yaitu hukum adat yang tidak sejalan dengan

ketentuan hukum Islam harus dikeluarkan dan ditolak. Berdasarkan teori

Receptio a Contrario tersebut dikaitkan dengan alih fungsi tanah wakaf, dapat

dipahami bahwa Nazhir dalam melakukan


cxi alih fungsi tanah wakaf tersebut
haruslah dengan memperhatikan maksud-maksud syara’ (Maqasid Syari’ah). 4.

Artinya sepanjang pelaksanaan alih fungsi yang dilakukan oleh Nazhir

tersebut sesuai dengan maksud-maksud syara’, maka sepanjang itu pula alih

fungsi dapat dibenarkan.

Sebagaimana diuraikan terdahulu bahwa terhadap benda wakaf tidak

boleh dijual, dihibahkan ataupun diwariskan. Atau dengan kata lain, bahwa

pada dasarnya terhadap tanah wakaf tidak dapat dilakukan alih fungsi atau

perubahan peruntukan/penggunaan ataupun statusnya selain dari yang

dimaksud dalam ikrar wakaf. Namun dengan adanya perkembangan dalam

kehidupan masyarakat menimbulkan perubahan-perubahan yang dilakukan

masyarakat dan menimbulkan perubahan hukum.

Menurut Achmad Ali dengan mengutip pendapat Roscoe Pound,5

sebagai Bapak Ilmu Hukum Sosiologi yang memperkenalkan konsep hukum

sebagai faktor penggerak ke arah perubahan sosial atau “Law Is A Tool Of

Social Engineering”dalam tulisannya “Scope And Purposes Of Sociological

Jurisprudence”. Berdasarkan teori itu dapat diketahui, bahwa dengan

menjalankan suatu hukum, maka suatu kelompok masyarakat dapat diubah

atau digerakkan ke arah sebagaimana yang dikehendaki oleh hukum. Begitu

pula sebaliknya, dengan perubahan sosial dapat mengakibatkan terjadinya

perubahan hukum.

4
Ahmad Daud Ali, 1988, Sistem ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, Universitas Press , Jakarta
5
Achamad Ali, Menguak Tabir Hukum, (Suatucxi
Kajian Sosiologis dan Filosofis), PT. Gunung
Agung, Jakarta, 2002, hlm. 203
i
Menurut Mazhab historis dan kebudayaan dari Von Savigny, “Satu-

satunya sumber hukum adalah kesadaran hukum suatu bangsa”. 6 Kesadaran

hukum merupakan pandangan yang hidup dalam masyarakat tentang apa

hukum itu. Pandangan itu bukanlah pertimbangan rasional, tapi berkembang

dan dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu agama, ekonomi, politik dan

sebagainya. Pandangan itu selalu berubah, oleh karena itu hukumpun selalu

berubah juga7.

Berdasarkan hasil Simposium Kesadaran Hukum Masyarakat dalam

Masa Transisi, tanggal 19 – 22 Januari 1975 di Semarang, telah disimpulkan

secara umum, bahwa kesadaran hukum antara lain meliputi: 8 (a) pengetahuan

tentang hukum, (b) penghayatan fungsi hukum, (c) ketaatan terhadap hukum.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kesadaran hukum memerlukan

pengetahuan untuk mengenal hukum, apalagi sudah menyangkut prosedur

serta teknik penyelenggaraannya, sehingga tidak terlalu sederhana untuk

dipahami orang banyak (masyarakat). Berdasarkan teori kesadaran hukum

masyarakat dikaitkan dengan alih fungsi tanah wakaf, dapat diketahui bahwa

kesadaran hukum masyarakat merupakan suatu hal yang sangat

mempengaruhi dalam pelaksanaan alih fungsi tanah wakaf.

PenelitianTerdahulu

Beberapa penelitian terdahulu yang menjadi rujukan penelitian ini antara

lain :

6
Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2002, hal.
113
7
Ibid., hlm 114.
8
Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum,
cxi PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999,
hal. 214
ii
Penelitian yang dilakukan oleh Faizah B tahun 2011 yang meneliti

tentang Alih Fungsi Tanah Wakaf dan Pengaruhnya terhadap Status Tanah

Wakaf di Kota Jambi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dalam

kenyataannya pengelolaan tanah wakaf tidak sebagaimana semestinya, dan

status kepemilikan tanah wakaf tidak diperhatikan dan belum mempunyai

ketetapan hukum baik itu perdata dan agama yang tetap, hal inilah menjadikan

seringkali tanah wakaf menjadi tanah sengketa dalam hukum perdata.9

Persamaannya dengan penelitian ini adalah sama-sama membahas tentang

masalah tanah wakaf. Sedangkan yang membedakan adalah penelitian ini

meneliti tentang bagaimanakah sistem pemanfaatan tanah sawah wakaf

dengan model bagi hasil sedangkan pada penelitian skripsi Faizah B, lebih

menekankan pada bagaimana status alih fungsi dan kedudukannya dalam

hukum perdata.

Penelitian yang dilakukan oleh Indriaty Karmila Dewi tahun 2008 yang

berjudul “Manajemen Wakaf Produktif (UIN Sunan Kalijaga: 2008)”

menunjukkan bahwa suatu barang wakaf apabila dikelola dengan baik dan

sesuai dengan tempatnya maka akan bisa didapatkan sebuah income dana, dan

dana tersebut nantinya dapat digunakan kembali sebagai pembiayaan yayasan

tersebut.10 Persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini adalah sama-

sama menggunakan obyek pembahasan wakaf. Dan yang membedakan dalam

9
Faizah B, “Alih Fungsi Tanah Wakaf dan Pengaruhnya terhadap Status Tanah Wakaf di Kota
Semarang”, Skripsi Sarjana Ekonomi, (Semarang: Universitas Diponegoro, 2011).
10
Indriaty Karmila Dewi, ““Manajemen cxi
Wakaf Produktif””, Skripsi Sarjana Ekonomi,
(UIN Sunan Kalijaga : 2008).
v
hal ini adalah mengenai tata cara pemanfaatan wakaf dan kedudukannya

dalam perspektif ekonomi Islam.

2. Kerangka Berpikir

Tanah wakaf, adalah suatu hak atas tanah yang diperoleh dari

seseorang atau badan hukum (wakif) yang diperuntukkan/digunakan untuk

peribadatan atau kepentingan umum (masyarakat banyak), bukan untuk

kepentingan pribadi, sesuai dengan peruntukkannya atau tujuan wakaf.

Sedangkan tanah yang dapat diwakafkan, adalah tanah yang berstatus tanah

milik, karena ia mempunyai sifat terkuat dan terpenuh bagi si empunya tanah.

Oleh karena itu apabila tanah tersebut diwakafkan, maka tidak menimbulkan

akibat yang dapat mengganggu sifat kekekalan dan keabadian kelembagaan

tanah wakaf itu sendiri.

Wakaf tanah pada intinya merupakan salah satu ibadah sosial didalam

Islam yang sangat erat hubungannya dengan keagrariaan, yakni yang

menyangkut masalah bumi, air, dan ruang angkasa serta kekayaan alam yang

terkandung didalamnya. Oleh karena itu, masalah wakaf selain terikat dengan

aturan-aturan hukum agama (Islam) juga terikat dengan aturan-aturan Hukum

Agraria Nasional. Karena begitu pentingnya masalah wakaf ini dalam Hukum

Agraria Nasional yang menganut paham, bahwa bumi merupakan karunia

Tuhan Yang Maha Esa yang mempunyai fungsi sosial, 11 yang akan

mendatangkan manfaat dan mashlahat bagi kepentingan umum, maka masalah

tanah wakaf dan perwakafan tanah didudukkan secara khusus, dan

keberadaannya diakui dan dilindungi oleh Negara.

Sebagaimana diuraikan terdahulu bahwa terhadap benda wakaf tidak

boleh dijual, dihibahkan ataupun diwariskan. Atau dengan kata lain, bahwa

11
Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 Tentang cx
Ketentuan Dasar Pokok-Pokok Agraria, Pasal 1
Ayat (2) dan Pasal 6
v
pada dasarnya terhadap tanah wakaf tidak dapat dilakukan alih fungsi atau

perubahan peruntukan/penggunaan ataupun statusnya selain dari yang

dimaksud dalam ikrar wakaf. Namun dengan adanya perkembangan dalam

kehidupan masyarakat menimbulkan perubahan-perubahan yang dilakukan

masyarakat dan menimbulkan perubahan hukum.

Pemanfaatan benda wakaf, berarti menggunakan benda wakaf tersebut

untuk diambil manfaatnya. Sedangkan benda asalnya (pokoknya) tetap, tidak

boleh dijual, dihibahkan dan diwariskan.12 Artinya benda wakaf tersebut

mempunyai kedudukan yang khusus. Apabila pada suatu ketika benda wakaf

itu sudah tidak bisa lagi diambil manfaatnya / tidak produktif lagi atau sudah

berkurang manfaatnya, atau adanya kesulitan untuk memanfaatkan tanah

wakaf sesuai dengan ikrar wakaf yang tertuang dalam Akta Ikrar Wakaf

(AIW).

Sebagai salah satu contoh tanah wakaf yang kurang bermanfaat/

kurang produktif dapat dikemukakan, seperti wakaf sawah yang

diperuntukkan sebagai salah satu sumber dana suatu yayasan pendidikan, dan

ternyata sawah tersebut akhirnya menjadi kering dan tidak subur lagi.

Sehingga mengakibatkan tidak dapat lagi diambil hasilnya. Selain itu banyak

lagi contoh-contoh dari tanah wakaf di sekitar kita yang tidak diberdayakan

karena tidak dapat digunakan sesuai dengan Akta Ikrar Wakaf (AIW) atau

tanah wakaf itu sudah berkurang manfaatnya atau bahkan tidak berfungsi

sama sekali. Melihat kepada contoh tanah wakaf tersebut di atas, ini berarti

wakaf sawah yang sudah kering tersebut di atas dapat dikategorikan sebagai

tanah wakaf yang mengalami kerusakan. Hal ini tentu sangat mengancam akan

12
Suparman Usman, Hukum Perwakafan Indonesia,Darul Ulum Press, Serang, 1994, hal. 38.
Pendapat ini adalah pendapat yang dikemukakan oleh Iman Syafi’i dan Imam Malik. Alasan
mereka adalah berdasarkan hadist Nabi yang dibawakan oleh Ibnu Umar, yang menyatakan bahwa
benda wakaf tidak boleh dijual, tidak boleh dihibahkan
cx dan tidak boleh diwariskan. Lihat pula
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Jilid 14(Terjemahan Mudzakir), PT. Al-Ma’arif, Bandung, 1986. hlm162.
vi
keabadian pemanfaatan hasilnya. Padahal justru pemanfaatan inilah yang

merupakan shadaqah jariyah yang senantiasa akan mengalirkan pahala secara

terus menerus kepada pemberi wakaf (wakif) itu sendiri, walaupun si wakif

telah meninggal dunia.

Dalam hukum Islam bagi hasil pengelolaan lahan pertanian ada tiga

macam, yaitu :

1. Muzara’ah

2. Mukhabarah

3. Musaqah

Mukhabarah adalah mengelola tanah diatas sesuatu yang dihasilkanya dan

benihnya berasal dari pengelola.

3. Muzara’ah sama seperti Mukhabarah hanya saja benih berasal dari pemilik.

Metode Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, maka

peneliti menggunakan beberapa metode:


a.Metode Dokumentasi

Dokumentasi berasal dari kata dokumen yang artinya barang-barang

tertulis. Di dalam melaksanakan dokumentasi penulis meneliti benda-

benda tertulis berupa buku-buku, majalah, dokumen, peraturan-peraturan,

notulen rapat, catatan harian dan sebagainya.13 Metode dokumentasi ini

digunakan untuk memperoleh tentang data-data tanah sawah wakaf masjid

Baitul Muttaqin Paweden Buaran Pekalongan.

Metode Wawancara

13
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian
cx Pendekatan Suatu Praktek, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), hlm. 231.
vii
Metode wawancara yang digunakan adalah jenis wawancara bebas

terstruktur yang ditujukan pada bagian yang berhubungan dengan

penelitian. Metode ini dilakukan dengan mengadakan wawancara dengan

pengurus Masjid Baitul Muttaqin Paweden Buaran dan para warga sekitar

masjid Baitul Muttaqin Paweden Buaran Pekalongan. Metode ini

digunakan untuk mendapatkan informasi seputar bagaimana sistem wakaf

tersebut dan pemanfaatan pengelolaannya.

Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses penyederhanaan data ke bentuk yang mudah

dibaca. Data mentah yang telah dikumpulkan oleh peneliti perlu dipecah-

pecahkan dalam kelompok-kelompok, diadakan kategorisasi, dilakukan

manipulasi, dan diproses sedemikian rupa sehingga data tersebut mempunyai

makna untuk menjawab masalah.14 Analisis yang dipakai dalam penelitian ini

adalah analisis kualitatif deskriptif dalam mengumpulkan dan penafsirannya.

1 SISTEMATIKA PENULISAN

Untuk memudahkan penjelasan, penelaahan dan pemahaman, maka dalam

penulisan ini penulisannya dibagi menjadi lima bab yang setiap babnya terdiri dari

sub-sub bab. Tiap bab ataupun sub bab yang satu dengan yang lainnya merupakan

rangkaian yang sangat terkait.

Bab I PENDAHULUAN

14
cx
Mohammad Nasir, Metode Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1988), h. 405.
viii
Berisi tentang latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian,

kegunaan penelitian, Tinjauan Pustaka, Metode Penelitian dan

sistematika penulisan.
Bab II LANDASAN TEORI
Berisi uraian teoritis tentang Wakaf dan Kedudukannya dalam Hukum

Ekonomi Islam

Bab III GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

Berisitentang Masjid Baitul Muttaqin, dan Sistem Bagi Hasil Pertanian

Sawah Wakaf Masjid Baitul Muttaqin Paweden Buaran Pekalongan

Bab IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Berisi tentang hasil analisis Bagi hasil pemanfaatan sawah wakaf masjid

Baitul Muttaqin Paweden Buaran Pekalongan

Bab V PENUTUP
Berisi tentang simpulan penelitian dan saran.

DAFTARPUSTAKA

Abdul Aziz Dahlan, Ensiklopedi Hukum Islam, cet.I, Jilid 6, Ichtiar Baru Van
Hoeve, Jakarta.

Abdul Ghofur Anshori, 2006, Hukum dan Praktek Perwakafan di Indonesia, Cet.
II, Pilar Media, Yogyakarta.

Abdul Manan, 2006, Aspek-aspek Pengubahan Hukum, Kencana Prenada Media


Group, Jakarta

Ahmad Daud Ali, 1988, Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf, Universitas
Press, Jakarta

Ahmad Azhar Basyir, 1977, Hukum Islam tentang Wakaf, Ijarah, Syirkah, al
Maarif, Bandung. cxi
x
Asyaukani, 129, Dalam Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Fiqih Wakaf,
Jakarta: Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam, Depag RI, 2006

Daud Ali, Asas-asas Hukum Islam, Jakarta, Balai Pustaka,1983.

Depag RI,1995, Al-Qur’an dan Terjemahannya,CV.Al Waah,Semarang

Depag RI, 2005, Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, Dirt. Pengembangan


Zakat dan Wakaf, Depag, Jakarta

Depag RI, 2006, Fiqh Wakaf, Jakarta

Departeman Agama Kabupaten Sukoharjo, Jumlah Tanah wakaf Petak/Bidang,


Luas dan Jenis Penggunaannya Kabupaten Sukoharjo bulan Januari
2009

Didin Hafiduddin, 2002, Zakat dalam Perekonomian Modern, Gema Insani Press,
Cet.I, Jakarta

-------, 1998, Panduan Praktis tentang Zakat, Infaq, Shadaqah, Gema Insani,
Cet.I, Jakarta

Esmi Warrasih, 2005, Pranatana Hukum sebagai Telaah Sosiologis, PT.


Suryandaru Utama, Semarang.

Farida Prihatin, dkk, 2005, Hukum Islam, Zakat dan Wakaf, Teori dan Praktiknya
di Indonesia, Papas Sinar Sinanti dengan Badan Penerbit Fakultas Hukum
UI, Jakarta.

Gemala Dewi, Wirdyaningsih, Yeni Salman, Barlintih, Hukum Perikatan Islam


di
Indonesia, Prenada Media, Jakarta, 2005

Hasbi Ash-Shiddieqy,1981,Pedoman Zakat, Bulan Bintang, Cet. IV, Jakarta

Informasi Peraturan Perundang-undangan, 2007, Jaringan Dokumentasi dan


Informasi Hukum, Mahkamah Agung RI, Jakarta

Kompilasi Hukum Islam, Reader, Proyek Pengembangan Teknik Yustisial


Mahkamah Agung RI

Kumpulan Hasil Seminar Perwakafan, 2004, Dirjen Bimas Islamdan


Penyelenggaraan Haji,Direktorat Pengembangan
cx Zakat danWakaf.
x
M. Thaher Azhary, 1992, Wakaf dan Sumber Daya Ekonomi, Suatu Pendekatan
Teoritis, Mimbar Hukum Nomor 7 Tahun III, Al-Hikmah dan Direktorat
Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam, Jakarta

Muhamad Abu Zahrah, Ushul Fiqh, 2003, Penerjemah: Syifullah Ma’shum,


Slamet Basyir, Mujib Rahmat, Hamid Ahmad, Hamdan Rasyid, Ali
Zawawi, Fuad Falahuddin, Jakarta, Pustaka Firdaus.

Muhammad Qawwas Qal’ahji, 1999, Ensiklopedi Fiqh Umar bin


Khaththab, ra, terjemahan M.Abdul Mujieb, AS, dkk, cet.I, Raja
Grafindo, Jakarta

Muhammad Al Khatib, Al Iqna, Daarul Maarfi, Beirut

Undang-undang Perwakafan, 2006, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat


Islam, Departemen Agama, Jakarta

Uswatun Hasanah, Perkembangan Wakaf di Dunia Islam, Mimbar Hukum dan


Peradilan Nomor 69 April 2009

Perkembangan Pengelolaan Wakaf di Indonesia tahun 2003, Proyek Pengelolaan


Zakat dan Wakaf. Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan
Penyelenggaraan Haji, Jakarta.

Pedoman Pengelolaan dan Pengembangan Wakaf, 2006, Direktorat Jenderal


Bimbingan Islam Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Jakarta

Pedoman Pengelolaan Wakaf Tunai, 2008, Direktorat Pemberdayaan Wakaf,


Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Departeman Agama RI,
Jakarta.

Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, 2006, Direktorat Pemberdayaan Wakaf


Direktorat Bimbingan Masyarakat Islam,Jakarta

Peraturan Pemerintah Perwakafan, 2001, Dirjen Bimas Islam, Depag, Jakarta

Proses Lahirnya Undang-undang Nomor 41 Tahun 2004, tentang Wakaf, 2006,


Direktorat Pemberdayaan Wakaf Direktorat Jenderal Bimbingan
Masyarakat Islam Departemen Agama, Jakarta.

Rahmat Djatnika, 1992, Wakaf dan Masyarakat


cx serta Aplikasinya Aspek-aspek
xi
Fundamental, Mimbar Hukum, al-Hikmah dan Direktorat Pembinaan
Badan Peradilan Agama Islam,Jakarta.

Rahmat Djatnika, 1983, Pandangan Islam tentang Infaq, Shadaqah, Zakat dan
Wakaf sebagai Komponen dalam Pembangunan,Al Ikhlas,Surabaya

Satjipto Rahardjo,1986, Masalah Penegakan Hukum,Sinar Baru, Bandung

Sistem Informasi Profil Daerah (SIPD) Kabupaten Sukoharjo, 2009, BAPEDDA


Kabupaten Sukoharjo.

Sadzali Musthafa,1989, Pengantar dan Azas-azas Hukum Islam di Indonesia,


Cet.I,CV. Ramadhani,Solo

Setiono, 2005, Penelitian Hukum,Training Penelitian Bidang Ilmu Sosial,


Surakarta, UNS Press.

Sofyan Hasan,1995, Pengantar Hukum Zakat dan Wakaf, Cet. I, Al-Ikhlas,


Surabaya

Soeryono Soekanto,1984, Pengantar Penelitian Hukum, UI Pres, Jakarta

Soeryono Soekanto dan Sri Mahmujdi, 1981, Penelitian Hukum Normatif Suatu
Tinjauan Singkat, Raja Grafindo, Jakarta

Wahbah Az-zuhaili, Al Fiqhul Islam wa Adillatuh, Jilid 8, Daarul Fikri,


Damaskus- Syuriah.1984.

Jurnal International

Clarissa Augustius, Chif; Recearcehes; M. Siraj Saitand DR. Hilary Lim,


University Of East London, United King Dom, Editing; Roman
Rollnichand Tom Osanjo, UN- HABITAT; Coprigh (c) United Human,
Setllements Programme (UN-HUBITAT), 2005, Nairobi, Kenya, 2005

Habib Ahmed, Waqf-Based Microfinence; Realizing The Social Roleof Islamic


Finance, Paperwritten for the International Seminar on “Integrating
Auqafinthe Islamic Financial Sector”, Singapure, March, 2007.
Hidayatul Ihsanand Muhammad Akhyar Adnan Waqf Accountung and The
Construction of Accountanbility; Padang State Polytechnic, Indonesia and
Kullyyahof Economic and Management Sciences International Islamic
University Malaysia. Padang, Indonesia. 2009.
http://journal.uji.ac.id/index.php/JEI/article/view/162/127

http://ekisomini.blogspot.com/2010/03/wacx
kaf-uang.html
xii
http://www.ekonomiislami.com/index.php?
option=com_content&view=article&id=99%3A2008penerapan-wakaf-
tunai-pada-lembaga-keuangan-publik-
islami&catid=95%3Ajurnalcontentdnjibe&itemid=12

http://eksopini.blogspot.com.2009/12/peranLKS-di-era-wakaf-produktif

http://respository.usu.ac.id/bitsream/123456789/5485/1/057011084.pdf.

http://kamushukum.com/en/menag-ingatkan-nadzir-kelola=wakaf-secara-
profesional.

cx
xiii

Anda mungkin juga menyukai