Anda di halaman 1dari 27

L A P O R AN

PRAKTEK KERJA LAPANGAN (PKL)


PT INDUSTRI KAPAL INDONESIA
K3 SECARA UMUM, KELEMBAGAAN, KEAHLIAN K3
DAN PENERAPAN SMK3

PELATIHAN CALON AHLI K3


UMUM KELOMPOK 1

ADMONOTO DWIRYO SILONDAE

ANDIKA

FARID SAPUTRA

RISSA MAHFIRAH’ENI

VONNY CHRISTINE PALALO

PENYELENGGARA
PT. DUTA SELARAS SOLUSINDO
Makassar, 16 Maret 2018
DAFTAR ISI

SAMPUL

DAFTAR ISI.......................................................................................................................i

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang.................................................................................................1

B. Maksud dan Tujuan.........................................................................................2

C. Ruang Lingkup.................................................................................................2

D. Dasar Hukum....................................................................................................2

BAB II KONDISI PERUSAHAAN

A. Gambaran Umum PT. Industri Kapal Indonesia (persero)

Makassar...........................................................................................................4

B. Temuan-temuan Di Lapangan....................................................................6

BAB III ANALISA TEMUAN

A. Positif.................................................................................................................8

B. Negatif...............................................................................................................16

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan……………………...............................................................23

B. Saran...................................................................................................................23

i
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam rangka pemenuhan kompetensi Ahli Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (K3) sertifikasi Kementerian Tenaga Kerja oleh PT. Duta Selaras
Solusindo, maka pada hari Rabu tanggal 14 Maret 2018 bertempat di PT. Industri
Kapal Indonesia (IKI) kami melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL).
Adapun tema yang perlu kami kaji di PT. IKI (Industri Kapal Indonesia)
adalah terkait K3 secara umum, kelembagaan dan keahlian K3 serta penerapan
SMK3. Pelaksanaan dari tema yang kami kaji akan kami sesuaikan dengan
aturan perundang-undangan dari kementerian tenaga kerja sebagai salah satu
pedoman agar pelaksanaan K3 di tempat kerja dapat telaksana dengan baik.
Sebagaimana amanat yang tertuang dalam Undang-undang No.13 Tahun
2003 pasal 87 bahwa setiap perusahaan wajib menerapkan sistem manajemen
keselamatan dan kesehatan kerja yang terintegrasi dengan manajemen
perusahaan. Dari dasar inilah maka setiap perusahaan wajib melaksanakan
program keselamatan dan kesehatan kerja yang dapat menjamin dan melindungi
tenaga kerja termasuk orang lain yang berada di lingkungan tempat kerja.
Maka sebagai salah satu kewajiban bagi calon ahli K3 untuk melakukan
praktek kerja lapangan di salah satu perusahaan yang ditentukan oleh Dinas
Tenaga Kerja Provinsi Sulawesi Selatan, kami bertanggung jawab mencoba
menemukan temuan-temuan positif dan negatif dari tema kajian yang telah
disebutkan sebelumnya.
Harapannya bahwa dari hasil temuan-temuan yang kami tuliskan dalam
laporan ini dapat menjadi bahan rekomendasi bagi PT. IKI dalam menerapkan
keselamatan dan kesehatan kerja. Dan sebagai pembelajaran bagi kami calon ahli
K3 dalam menerapkan K3 di tempat kerja di kemudian hari.

1
B. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan penulisan laporan ini adalah:
1. Untuk mempraktikan teori yang telah diterima selama kegiatan pembinaan.
2. Untuk mendapatkan gambaran dan pemahaman mengenai aplikasi K3
secara umum, kelembagaan dan keahlian K3 serta penerapan SMK3
3. Sebagai salah satu syarat yang harus dipenuhi bagi peserta Calon Ahli K3
Umum.
4. Calon peserta Ahli K3 umum dapat mengidentifikasi, menganalisa dan
memberikan saran atau rekomendasi

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam Praktek Kerja Lapangan ini adalah sebagai berikut;
1. Pelaksanaan K3 secara umum
2. Kelembagaan dan keahlian K3
3. Pelaksanaan dan penerapan SMK3

D. Dasar Hukum
1. Dasar Hukum K3 Secara Umum
a. Undang-undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja
b. Permenaker 8 tahun 2010 Tentang Alat Pelindung Diri
2. Kelembagaan dan Keahlian K3
a. Undang – Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja pasal
10 ayat (1) & (2)
b. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 125/Men/1984 tentang
Pembentukan, Susunan dan Tata Kerja Dewan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Nasional (DK3N), Dewan Keselamatan dan
Kesehatan Kerja Wilayah (DK3W) dan Panitia Pembinaan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3).

2
c. Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. Kep. 04/Men/1987 tentang
Panitia Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (P2K3) serta
Tata Cara Penunjukan Ahli Keselamatan dan Kesehatan Kerja (AK3).
d. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.04/Men/1995 tentang
Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3).
e. Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.02/Men/1992 tentang Tata
Cara Penunjukan Kewajiban Dan Wewenang Ahli Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.
f. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor:
Per.03/Men/1998 tentang Tata Cara Pelaporan dan Pemeriksaan
Kecelakaan.
3. Dasar Hukum Penerapan K3
a. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 50 Tahun 2012 tentang
Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
b. Undang-undang No. 1/1970 tentang Keselamatan Kerja.

3
BAB II
KONDISI PERUSAHAAN

A. Gambaran Umum PT. Industri Kapal Indonesia (persero), Makassar.


PT. Industri Kapal Indonesia (persero) atau PT. IKI adalah sebuah Badan
usaha milik negara yang berdiri pada tahun 1962 di Makassar, Sulawesi Selatan.
Pada awal berdirinya PT. Industri Kapal Indonesia (persero) dibagun dengan dua
proyek pembangunan galangan kapal, masing-masing proyek galangan kapal
paotere dan proyek galangan kapal tallo.
Proyek galangan kapal paotere pada waktu itu dibangun oleh departemen
perindustrian dasar / pertambangan, yang dimaksudkan untuk membuat kapal-
kapal baja yang mempunyai kapasitas 2500 ton, sedangkan proyek galangan
kapal tallo pada waktu itu dibangun oleh Departemen urusan Veteran yang
dimaksudkan untuk membuat kapal-kapal kayu berkapasitas 300 ton yang
dilengkapi dengan Slip Way dan fasilitas peluncuran yang panjangnya 45 meter
dan daya angkat 500 ton.
Pertengahan tahun 1963 aktivitas kedua proyek tersebut masing-masing
meliputi pekerjaan dasar dikarenakan peralatan belum dimiliki oleh galangan
kapal paotere, sedangkan galangan kapal tallo hanya memiliki mesin dan
perkakas yang didatangkan dari polandia. Dengan adanya keterbatasan dana pada
tahun 1963 maka pemerintah memutuskan untuk menggabungkan kedua proyek
tersebut dibawah pembinaan departemen perindustrian dasar / pertambangan, dan
melakukan perubahan nama menjadi proyek galangan kapal makassar dengan
surat keputusan presiden, Kepres N0. 225/1963 dan dinyatakan sebagai proyek
vital dalam industri perkapalam Indonesia. Dengan terjadinya penggabungan
tersebut maka terjadi pula beberapa perubahan yang meliputi:
1. Lokasi Eks galangan kapal tallo pindah dan dibangun bersebelahan dengan
galangan kapal paotere.

4
2. Mengadakan redesigning sesuai dengan biaya yang ada dan rencana
pemasarannya serta menitik beratkan penyelesaian proyek tahap I dengan
sasaran utama mereparasi dan melakukan pemeliharaan kapal yang
berkapasitas sampai 500 ton.
3. Menunda pembangunan galangan kapal paotere dan akan dilakukan pada
pembangunan tahap II dengan target rencana perluasan wilayah.
Setelah berjalan selama tujuh tahun setelah penggabungan, pada tanggal
30 maret 1970 penyelesaian dan pemakaian galangan kapal tahap I diresmikan
oleh sekjen departemen perindustrian Indonesia.
Semenjak tahun 1970 – 1977 galangan kapal Makassar masih berstatus
sebagai proyek. Pada tanggal 29 Oktober 1977 status galangan kapal berubah
menjadi Perseroan terbatas dengan nama PT. Industri Kapal Indonesia pusat
Makassar disingkat PT. I K I dan kantor pusat bertempat dimakassar, dengan
unit – unit produksi yang meliputi:
1. Unit dock dan galangan kapal di Padang.
2. Unit dock dan galangan kapal di gresik.
3. Unit dock dan galangan kapal Makassar di Makassar.
4. Unit dock dan galangan kapal Bitung di Bitung.
Sejalan dengan perubahan manajemen yang ada maka galangan kapal
padang dan gresik dijual ke PT. Kodja Jakarta, hal tersebut membawa pengaruh
terhadap produksi dan unit usaha, sehingga unit produksi yang dimiliki sampai
pada tahun 1994 hanya Dock dan galangan kapal makassar di Makassar serta
Dock dan galangan kapal bitung di bitung. Sedangkan unit usaha yang dimiliki
yaitu Unit usaha Jakarta dan Unit usaha dan perdagangan di Makassar.
Adapun visi dan misi PT. IKI adalah sebagai berikut:
1. Visi
Menjadi perusahaan galangan kapal dan engineering yang kuat dan
berdaya saing tinggi
2. Misi

5
Selalu meningkatkan kualitas yang baik berdasar pada pelayanan yang
tepat waktu, tepat mutu dan tepat biaya serta mengutamakan kepuasan
pelanggan untuk peningkatan nilai perusahan.

B. Temuan-temuan di Lapangan
K3 Secara Umum
1. Safety induction kepada pekerja, mitra/subkontraktor, pengunjung/tamu
PT. Industri Kapal Indonesia telah melakukan safety induction untuk setiap
karyawan dan telah terbina dengan baik, namun safety induction tidak diberikan
kepada pengunjung/tamu dengan menyeleruh karena hanya beberapa poin saja
yang disampaikan. Safety induction untuk pengunjung/tamu disosialisasikan
hanya berupa poster K3 dan safety sign. Safety induction diberikan pada saat
penerimaan pegawai baru, pada saat briefing sebelum bekerja, dan pada setiap
subkon yang akan bekerja di PT. Industri Kapal Indonesia.
2. Rambu/marka/safety sign
Pada dasarnya safety sign telah terpasang di tempat-tempat yang seharusnya
sesuai dengan keperuntukannya di PT. Industri Kapal Indonesia. Akan tetapi,
belum tersedia rambu pada setiap gedung, rambu pada area parkir khusus untuk
tamu (seperti bus pengunjung), sehingga kendaraan kurang tertata bahkan
terdapat di dalam lokasi kerja. Selain itu, tidak terdapatnya jalur khusus antara
pekerja dan non pekerja, jalur keselamatan juga malfungsi (tidak steril), safety
sign untuk kegiatan yang berisiko tinggi juga belum ada, begitu pula pada
tempat evakuasi/master point. Terlebih poster petunjuk keselamatan terbuat dari
bahan yang mudah rusak (kertas).
3. Alat Pelindung Diri (APD)
Secara umum, pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) di lingkungan kerja PT.
Industri Kapal Indonesia sudah disediakan untuk pekerja. Namun, secara
keseluruhan perusahaan tidak menyediakan APD yang sesuai standar K3, baik
untuk pengunjung maupun untuk pekerja. Selain itu, pengaplikasian APD

6
secara utuh tidak dilakukan dengan baik karena masih banyak pekerja
mengabaikan safety sign tentang penggunaan APD.
4. Prosedur Kerja (SOP), JSA
Prosedur kerja yang berbentuk dokumentasi seperti SOP, dilakukan terhadap
pekerja pada masing-masing job safety analysis namun tidak berjalan secara
baik, jelas, struktural. Begitu pula untuk JSA belum didokumentasikan hanya
disampaikan secara lisan pada saat briefing sebelum bekerja.
5. K3 Secara Umum
Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan hal yang harus
diutamakan dalam bekerja. Baik pemerintah daerah maupun sektor industri
sudah seharusnya memerhatikan hal ini. Perlindungan K3 bahkan sudah
seharusnya dijadikan hal umum dalam berkegiatan. Ini selaras dengan filosofi
K3 yang ditujukan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan para pekerja
dalam menjalankan pekerjaannya, melalui pengendalian potensi bahaya di
tempat kerja. Namun penerapan K3 pasa PT. Industri Kapal Indonesia belum
maksimal, oleh karena itu diharapkan agar seluruh elemen baik dari
manajemen maupun staff karyawan harus berkomitmen dan bekerja sama
menciptakan budaya K3 di lingkungan kerja. Karena lingkungan kerja yang
berbudaya K3 akan menciptakan suasana kerja yang selamat, sehat, dan
terhindar dari penyakit akibat kerja.

Kelembagaan dan Keahlian K3


a) P2K3
Organisasi P2K3 sudah lama terbentuk tetapi di PT Industri Kapal Indonesia
yang menjabat sebagai sekertaris P2K3 bukan seorang ahli K3.
b) PJK3
Perusahaan Industri Kapal Indonesia telah bekerja sama dengan beberapa
PJK3 dalam melakukan pemeriksaan dan pengujian dalam bidang kelistrikan,
penyalur petir dan peralatan elektronik, serta lingkungan kerja. Kerjasama

7
dalam pembinaan Ahli K3 dengan PJK3 belum tercapai sehingga terjadi
kurangnya Ahli K3 umum pada perusahaan.
c) Program Kerja
Program kerja terstruktur dan terencana sesuai dengan undang-undang dan
peraturan yang berlaku, namun tidak berjalan secara fungsional. Untuk
meningkatkan kualitas mutu dilakukan, hal ini dibuktikan dengan sertifikasi
ISO 9001 dan OHSAS 18001 yang diberikan kepada PT Industri Kapal
Indonesia.
d) Organisasi
Semua hal yang berkaitan dengan K3 berada di bawah Divisi K3LH dan
Logistik memiliki divisi K3 yang langsung dibawah pimpinan.

e) Ahli K3
PT Industri Kapal Indonesia saat ini mempunyai tujuh (7) Alhi K3 Umum,
namun kinerja dari ahli K3 masih kurang. Terutama dalam hal
pengawasan/kontrol terhadap pekerja.

Penerapan SMK3
a) Kebijakan dan Komitmen K3
Perusahaan telah memiliki kebijakan K3 secara khusus terumata pada
kebijakan mutu dan kebijakan lingkungan. Akan tetapi perusahaan masih terus
berbenah dalam kebijakan tersebut untuk mencapai hasil yang lebih baik.
b) Penerapan SMK3
Penerapan SMK3 pada PT Industri Kapal Indonesia telah terlaksana sesuai
dengan diterapkannya kebijakan tentang kebijakan mutu dan lingkungan,
walaupun hasilnya belum maksimal.

8
BAB III

ANALISA TEMUAN

Tabel Analisa Temuan di Lapangan

A. Positif

No Obyek Foto Temuan Analisa Temuan Saran Dasar Hukum


Bahaya

K3 Secara Umum
1. Safety induction kepada PT. Industri Kapal  Pembuatan SOP Safety Undang-Undang No.1
pekerja, mitra/ Indonesia (IKI) telah Induction khususnya Tahun 1970 Tentang
subkontraktor, melakukan safety induction pada konten. Keselamatan kerja (BAB
pengunjung/ tamu untuk setiap karyawan dan  Pemerataan V Pembinaan, Pasal 9)
telah terbina dengan baik, penyampaian informasi
namun safety induction terkait Safety induction.
tidak diberikan kepada  Melakukan tinjauan
pengunjung/tamu dengan ulang, seperti dengan cara
menyeleruh karena hanya pengisian kuisioner
beberapa poin saja yang
disampaikan.

8
2. Rambu/ marka/ safety Pada dasarnya safety sign/  Pemasangan Undang-Undang No.1
sign rambu/ marka telah
rambu/safety sign di Tentang Keselamatan kerja
terpasang di tempat- tempat
setiap area tempat Tahun 1970 (BAB X
yang seharusnya sesuai
kerja sesuai dengen Kewajiban Pengurus, Pasal
dengan keperuntukannya di keperuntukannya. 14)
PT.IKI Akan tetapi, belum
 Sosialisasi arti dan
tersedia rambu pada setiap
maksud dari
gedung/ unit kerja.
rambu/safety sign yang
dipasang mulai dari
simbol hingga warna.
 Evaluasi pemasangan
rambu/safety sign apakah
sudah terpasang sesuai
dengan kegunaannya.

9
3. Alat Pelindung Diri Pada saat peninjauan di  Pengadaan Alat Undang-Undang No.1
(APD) lapangan, secara
Pelindung Diri dari Tentang Keselamatan kerja
keseluruhan penggunaan
perusahaan kepada Tahun 1970 (BAB X
Alat Pelindung Diri (APD)
pekerja khususnya Kewajiban Pengurus, Pasal
di PT. IKI disesuaikan
pada perusahaan 14)
dengan lingkungan kerja
galangan kapal.
dimana pekerja melakukan
 Perusahaan melakukan
aktifitas. Permenaker No.8 Tahun
pengawasan secara
2010 tentang alat pelindug
rutin dan berkala terkait
diri pasal 6
penggunaan APD.
 Sosialisasi dan
pengarahan Safety
Meeting terkait
dengan APD.
 Melakukan pembinaan
K3 untuk tenaga baru
terkait pentingnya
penggunaan APD.
 Melakukan inspeksi
berkala terkait
pengguanaan APD di
lingkungan kerja.
 Upaya budaya K3 bagi

10
para pekerja serta

11
pengawasan yang tinggi
pada area yang memiliki
potensi bahaya tinggi.

Pengurus telah memasang Memberikan reward bagi Permenaker no 8 tahun 2010


kewajiban penggunaan pekerja yang tentang alat pelindung diri
APD di tempat kerja menggunakan Alat pasal 5
pelindung diri dengan
lengkap.

4. Prosedur Kerja (SOP), SOP/ Instruksi Kerja  Melakukan evaluasi Undang-Undang No.1
JSA terpasang di tempat kerja terhadap SOP yang lama Tahun 1970 (BAB III),
sesuai dengan dan menetapkan dan Syarat-syarat Keselamatan
keperuntukannya. membuat SOP baru Kerja Pasal 4.
Namun, belum terdapat terutama SOP yang terkait
SOP terkait K3 secara K3 secara spesifik.
spesifik.  Setelah pembuatan SOP
yang baru, agar
melakukan sosialisasi
SOP baru terhadap
pekerja dan pihak terkait.
 Melakukan inspeksi
pelaksanaan SOP/JSA.

12
No Obyek Foto Temuan Analisa Temuan Positif Saran Dasar Hukum
Kelembagaan dan Keahlian K3
1 PJK3 Perusahaan telah bekerja Perusahaan perlu Undang-undang no 1 tahun
sama dengan beberapa PJK3 meningkatkan kerja sama 1970 tentang keselamatan
dalam melakukan dengan PJK3 dengan bidang kerja pasal 9
pemeriksaan dan pengujian lainnya selain bidang
dalam bidang kelistrikan, pemeriksaan dan pengujian Permenaker no 4 tahun 1995
dan alat operasi. tentang PJK3 (Pasal 3 dan 4)

2 Organisasi Semua hal yang Kewenangan dan Undang-undang no 1


tahun
berkaitan denganK3 tanggungjawab perlu 1970 tentang keselamatan
kerja
berada di bawah Divisi ditetapkan secara jelas. pasal 5
K3LH

3 Pengesahan P2K3 Pengesahan P2K3 sudah - Undang-undang no 1 tahun


dilakukan oleh gubernur 1970 tentang keselamatan
Sulawesi Selatan. kerja pasal 10
Permenaker no 2 tahun 1987

tentang P2K3 serta tata cara


penunjukan Ahli K3.
(Pasal 3)

13
4 Program Kerja Program kerja untuk Perlu mempertahankan dan Undang-undang no 1
meningkatkan kualitas mutu meningkatkan program tahun 1970 tentang
dan lingkungan sudah kerja yang sudah keselamatan kerja
dilakukan. ada terkait mutu dan
lingkungan

14
5 Ahli K3 Program kerjayang - Undang-undang No 1 Tahun
sudah di buat Ahli K3 1970 tentang keselamatan
kerja

Penerapan SMK3
1. Kebijakan dan Sudah ada kebijakan yang Perlu kebijakan yang UU No. 1 Tahun 1970,
Komitmen K3 menyangkut dengan terkait K3. Bab X Tentang
keselamatan kerja membuat spesifk Kewajiban Pengurus
Pasal 14 point a dan b.
PP No. 50 Tahun 2012
Tentang
Penerapan SMK3 pasal 7-8.

2 Penerapan SMK3 Sudah dilaksanakan Melaksanakan SMK3 lebih PP No. 50 Tahun 2012
usaha dalam penerapan maksimal. Tentang Penerapan SMK3
SMK3. pasal 10-13.

3. Penghargaan K3 Penghargaan yang di dapat Mempertahankan prestasi Per-01/MEN/I/2007


PT.IKI, yang telah dicapai. Tentang Pedoman
OHSAH 18001:2007, Pemberian Penghargaan
ISO 9001: 2014 Keselamatan dan
Kesehatan Kerja.

15
B. Negatif

No Obyek Foto Temuan Analisa Temuan Bahaya Saran Dasar Hukum


K3 Secara Umum
1. Safety induction kepada Safety Induction bukan  Pembentukan divisi Undang-Undang No.1
pekerja, mitra/ disampaikan oleh safety Safety di PT. IKI. Tahun 1970 Tentang
subkontraktor, karena belum dibentuk  Pendidikan dan pelatihan Keselamatan kerja (BAB V
pengunjung/ tamu divisi safety. bagi anggota divisi Safety Pembinaan, Pasal 9)
terkait K3 di PT. TOA
Galva
Industries.

2. Rambu/ marka/ safety Rambu yang sudah tersedia  Rambu/marka/safety Undang-Undang No.1
sign tidak dapat terbaca/terlihat sing sebaiknya dibuat Tentang Keselamatan kerja
secara jelas dari bahan yang tidak Tahun 1970 (BAB X
mudah rusak. Kewajiban Pengurus, Pasal
 Evaluasi pemasangan 14)
rambu/safety sign mulai
dari tempat pemasangan
dan ukurannya.

16
3. Alat Pelindung Diri Tidak semua pekerja  Perlu dilakukan Undang-Undang No.1
(APD) menggunakan APD pemerataan penggunaan Tentang Keselamatan kerja
yang lengkap. APD bukan hanya Tahun 1970 (BAB X
melihat dari lingkungan Kewajiban Pengurus, Pasal
kerja dimana pekerja 14)
tersebut melakukan
aktifitas.

4. Prosedur Kerja JSA belum terdapat  Pembuatan JSA untuk Undang-Undang No.1
(SOP), JSA pendokumentasian semua proses kerja di Tahun 1970 (BAB III,
semua area kerja. Syarat-syarat
Keselamatan Kerja Pasal
4.

17
18
Kelembagaan dan Keahlian K3
1 P2K3 Sekertaris P2K3 sementara Perusahaan sebaiknya Permenaker no 2 tahun 1987
ini tidak ada, dan belum merekrut Ahli K3 tentang P2K3 serta tata cara
adanya pegawai ahli secepatnya karena penunjukan Ahli K3.
k3 organisasi P2K3 (Pasal 3 ayat 2)
yang baru bisa menjabat diharuskan mempunyai Undang-undang no 1 tahun
sekertaris P2K3 Sekertaris yang 1970 tentang keselamatan
Organisasi P2K3 sudah bersertifikasi Ahli K3. kerja
lama terbentuk dan Perusahaan sebaiknya
disahkan oleh gubernur merekrut Ahli K3 Permenaker no 2 tahun 1987
tetapi sudah tidak bisa secepatnya untuk mengisi tentang P2K3 serta tata cara
dikatakan sah lagi karena kekososngan jabatan penunjukan Ahli K3.
tidak ada ahli k3 sebagai sekertaris (Pasal 2)
sekertaris

2 PJK3 Belum adanya kerjasama Bekerja sama dengan PJK3 Permenaker no 4 tahun
dengan PJK3 pembinaan pembinaan dalam membina 1995 tentang PJK3 pasal 3.
dalam meregenerasi Ahli SDM yang belum
K3 di perusahaan bersertifikasi.
sehingga
terjadinya
kekosong
an jabatan Ahli K3 umum.

19
3 Program Kerja Program kerja tidak Sesegera mungkin Peraturan Pemerintah no
terstruktur dan terencana merekrut ahli K3 umum 50 tahun 2012 tentang
sesuai dengan Undang untuk membuat program SMK3 pasal 7 & 8
Undang dan peraturan kerja terencana dan
yang berlaku. terimplementasikan

4 Ahli K3 Tidak adanya Ahli K3 Merekrut orang yang Permenaker no 2 tahun 1992
yang mengawasi berkompetensi dalam hal tentang tata cara penunjukan
pelaksanaan K3 di K3. kewajiban dan wewenang
perusahaan. ahli K3.
PP no 50 tahun 2012

(Lampiran 1 bagian C)

20
Penerapan SMK3
1. Kebijakan dan Kebijakan yang sudah Menyusun kebijakan K3 UU No. 1 Tahun 1970, Bab
Komitmen K3 ada, tidak dikhususkan ke secara tertulis dan X Tentang Kewajiban
ranah ditandatangani oleh Pengurus
K3, lebih mengutamakan pimpinan perusahaan. Pasal 14 point a dan b.
peningkatan Kebijakan tersebut
produktivitas diinformasikan dan PP no 50 tahun 2012
disebarluaskan ke setiap
tentang SMK3 pasal 7&8
unit kerja. (poster, surat
edaran, buku saku K3 dll)

2 Perencanan K3 Perencanaan yang ada Membuat perencanan yang PP no 50 tahun 2012


tidak dikhususkan dalam mengacu pada kebijakan K3 Tentang Penerapan SMK3
K3 tetapi hanya menjadi secara pasal 9.
pelengkap kebijakan lain independen dan spesifik

21
3 Tingkat penerapan Kurangnya penerapan Melaksakan SMK3 yang PP No. 50 Tahun 2012
SMK3 SMK3. terintegrasi dengan system Tentang Penerapa SMK3
manajemen perusahaan pasal 10-13.
yang kemudian dilakukan
evaluasi dan perbaikan
secara berkala setiap
tahunnya. Juga perlu
dilakukan audit terhadap
SMK3 yang telah
dibentuk baik secara
internal perusahaan mapun
eksternal.

Pemantauan dan Belum Dilakukannya Bekerja sama dengan PJK3 PP no 50 tahun 2012 tentang
4 Evaluasi K3 evaluasi melalui audit Audit untuk memantau Penerapan SMK3 pasal 14
internal maupun eksternal sejauh mana implementasi
secara berkala. K3 diperusahaan

22
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari hasil Praktek Kerja Lapangan pada PT. Industri Kapal
Indonesia yaitu:
Keselamatan dan kesehatan kerja atau K3 merupakan hal yang harus
diutamakan dalam bekerja. Baik pemerintah daerah maupun sektor industri sudah
seharusnya memerhatikan hal ini. Perlindungan K3 bahkan sudah seharusnya
dijadikan hal umum dalam berkegiatan. Ini selaras dengan filosofi K3 yang
ditujukan untuk melindungi keselamatan dan kesehatan para pekerja dalam
menjalankan pekerjaannya, melalui pengendalian potensi bahaya di tempat kerja.
Namun penerapan K3 pasa PT. Industri Kapal Indonesia belum maksimal, oleh
karena itu diharapkan agar seluruh elemen baik dari manajemen maupun staff
karyawan harus berkomitmen dan bekerja sama menciptakan budaya K3 di
lingkungan kerja. Karena lingkungan kerja yang berbudaya K3 akan
menciptakan suasana kerja yang selamat, sehat, dan terhindar dari penyakit
akibat kerja.
B. SARAN
Berikut saran-saran untuk PT. Industri Kapal Indonesia terkait K3, yaitu:
1. Melakukan monitoring terhadap setiap alat produksi yang digunakan,
sehingga tidak terjadi ke usangan spare part maupun kerusakan alat
produksi yang ber akibat penundaan produksi. Hal ini sebagai upaya
pemenuhan peraturan dan persyaratan sesuai dengan Undang-Undang No.
1 Tahun 1970.
2. Meningkatkan pengawasan kepada setiap pekerja dalam penggunaan APD
yang telah disediakan.
3. Beberapa operator yang belum ber sertifikat K3 operator, agar segera di
training untuk kelancaran pekerjaan.
4. Memperbsiki penerapan SMK3 di dalam perusahaan sesuai fungsinya

1
2