Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

DIAJUKAN UNTUK MEMENUHI TUGAS

PENGANTAR EKONOMIKA

“KUALITAS PERTUMBUHAN EKONOMI INDONESIA”

NAMA KELOMPOK:

1. 132018247 ANNISA DZAKIYATUS


2. 132018255 YUSRIL AMRI SIREGAR
3. 132018264 VIRDA AMALIA
4. 132018268 RONI NUR SAEPUDIN

KELAS G

JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

INSTITUT TEKNOLOGI NASIONAL

2018
BAB I

PENDAHULUAN

1. Rangkuman
Di tengah masa masa pendaftaran pasangan capres dan cawapres untuk Pilpres
2019,masyarakat diributkan dengan beberapa capaian ekonomi pemerintahan Presiden Joko
Widodo yang dianggap tidak sesuai dengan janji yang telah disampaikannya di masa kampanye
Pilpres 2014 lalu. Salah satu indikator ekonomi yang seringkali dibahas dan diributkan oleh
pihak lawan adalah pertumbuhan ekonomi yang jauh dari target awal, yaitu 7% atau bahkan
meleset sedikit dari target Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan
ekonomi Indonesia cenderung stabil di kisaran angka 5 persen dalam 3 tahun terakhir, dan
memiliki kenaikan meskipun tipis. Bagi pihak oposisi, pencapaian yang tidak begitu baik ini
menjadi sasaran tembak yang bagus untuk melemahkan posisi pemerintah yang berkuasa saat ini,
khususnya di bidang ekonomi. Namun, jika dikaji lebih mendalam, struktur pertumbuhan
ekonomi Indonesia mengalami perbaikan yang begitu signifikan dalam beberapa tahun
belakangan. Yang sangat menonjol adalah pertumbuhan investasi dan ekspor yang masing-
masing tumbuh 6,15% dan 9,09% pada tahun 2017, dibandingkan pertumbuhan kedua
komponen tersebut pada 2016 yang hanya sebesar 4,47% dan -1,57%.
Sementara itu, terkait dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga, pemerintah Indonesia telah
berhasil menjaga pertumbuhan komponen ini di kisaran 5%. Kondisi ini dapat terealisasi karena
pemerintah mampu menjaga angka inflasi di bawah 4% sesuai dengan target APBN serta masih
dalam kisaran target Bank Indonesia, yaitu 2,5 %- 4,5%. Ketika, menjelang Hari Raya Idul Fitri,
di mana biasanya harga-harga cenderung naik, pada 2018 ini pemerintah mampu menekan
kenaikan harga-harga bahan pangan sehingga mampu meredam angka inflasi pada masa tersebut.
Awal 2018, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan Pertama 2018 tetap menunjukkan
stabilitasnya di angka 5,06%, dan pertumbuhan ekonomi berdasarkan provinsi menunjukkan
Papua sebagai provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di angka 28,93%. Mayoritas
provinsi di Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional, sedangkan
hanya beberapa provinsi yang mengalami pertumbuhan ekonomi di bawah rata-rata nasional.
Sementara itu, dalam perspektif Asia rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia 3 tahun terakhir
ini masih lebih baik dibandingkan Thailand, Hong Kong, Korea Selatan, dan Singapura.
Permasalahan ini menimbukan pro dan kontra dari berbagai macam kalangan sehingga
menimbulkan dampak yang mempengaruhi pemerintahan Indonesia.
2. Permasalahan
1. Apakah yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi yang berkualitas?
2. Kemiskinan dan keterbelakangan yang menyebabkan daya saing nasional
Indonesia melemah terhadap dunia internasional yang berimbas pada turunnya
citra bangsa?
3. Kesenjangan sosial yang terjadi antara orang-orang desa dengan orang-orang
kota juga kesenjangan antar daerah?
4. Pengangguran dimana ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan angkatan
kerja dan perluasan kesempatan kerja?
5. Berbagai ketimpangan hasil pembangunan meliputi ketidakmerataan
pendapatan nasional, serta ketidakmerataan pendapatan regional?

BAB II

PEMBAHASAN

1. Apakah yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi yang


berkualitas?
Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas adalah pertumbuhan yang menciptakan
pemerataan pendapatan ,pengentasan kemiskinan dan membuka kesempatan kerja yang
luas. Di Indonesia.

Beberapa strategi utama adalah meningkatkan pemerataan distribusi pendapatan


nasional. Sehingga dalam hal ini pemerintah tidak hanya memprioritaskan pertumbuhan
ekonomi semata melainkan juga memikirkan tentang kesejahteraaan masyarakat, dengan
pemerataan distribusi pendapatan, untuk mencegah adanya kesenjangan sosial.

Distribusi pendapatan nasional adalah konsep yang luas dibandingkan kemiskinan


karena cakupannya tidak hanya menganalisa populasi yang berada dibawah garis
kemiskinan kebanyakan dari ukuran.

2. Kemiskinan dan keterbelakangan yang menyebabkan daya saing


nasional Indonesia melemah terhadap dunia internasional?
Kemiskinan merupakan permasalah yang paling susah diatasi diseluruh dunia,
terutama di Negara kita, bangsa Indonesia telah mempunyai perhatian besar terhadap
terciptanya masyarakat yang adil dan makmur Program-program pembangunan yang
dilaksanakan selama ini juga selalu memberikan perhatian besar terhadap upaya
pengentasan kemiskinan karena pada dasarnya pembangunan yang dilakukan bertujuan
untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Meskipun demikian, masalah kemiskinan
sampai saat ini terus-menerus menjadi masalah yang berkepanjangan. Pada dasarnya ada
dua faktor penting yang dapat menyebabkan kegagalan program penanggulangan
kemiskinan di Indonesia. Pertama, program- program penanggulangan kemiskinan
selama ini cenderung berfokus pada upaya penyaluran bantuan sosial untuk
orang miskin.Hal itu, antara lain, berupa beras untuk rakyat miskin dan program jaring
pengaman sosial (JPS) untuk orang miskin. Upaya seperti ini akan sulit menyelesaikan
persoalan kemiskinan yang ada karena sifat bantuan tidaklah untuk pemberdayaan,
bahkan dapat menimbulkan ketergantungan.

Kedua data ini pada dasarnya ditujukan untuk kepentingan perencanaan nasional
yang sentralistik, dengan asumsi yang menekankan pada keseragaman dan fokus pada
indikator dampak. Pada kenyataannya, data dan informasi seperti ini tidak akan dapat
mencerminkan tingkat keragaman dan kompleksitas yang ada di Indonesia sebagai negara
besar yang mencakup banyak wilayah yang sangat berbeda, baik dari segi ekologi,
organisasi sosial, sifat budaya, maupun bentuk ekonomi yang berlaku secara lokal. Bisa
saja terjadi bahwa angka-angka kemiskinan tersebut tidak realistis untuk kepentingan
lokal, dan bahkan bisa membingungkan pemimpin lokal (pemerintah kabupaten/kota).
Mengenai keterbelangan khususnya dalam bidan ilmu pengetahuan dan tehnologi
masyarakat indonesia belum seberapa kalau dibandingkan dengan negara-negara lain,
misalnya Jepang, Cina, Korea, dll.

3. Kesenjangan sosial yang terjadi antara orang-orang desa dengan orang-


orang kota juga kesenjangan antar daerah?
Fenomena kesenjangan perkembangan antar wilayah di suatu negara, meliputi
wilayah-wilayah yang sudah maju dan wilayah-wilayah yang sedang berkembang
memicu kesenjangan sosial antar wilayah. Sebagai dampak pemberlakuan model
pembangunan yang bias perkotaan, sektor pertanian yang identik dengan ekonomi
perdesaan mengalami kemerosotan.
Masyarakat pedesaan umumnya berbeda dengan masyarakat perkotaan.
Perbedaan – perbedaan ini berasal dari adanya perbedaan yang mendasar dari keadaan
lingkungannya, yang mengakibatkan adanya dampak terhadap personalitas dan segi –
segi kehidupan. Kesan popular masyarakat pedesaan adalah bodoh, lambat dalam
berfikir, dan bertindak, serta mudah tertipu, dan sebagainya.
Hukum rimba pun berlaku dimana dia yang kuat dia yang berkuasa dan yang
lemah pasti tertindas. Tidak ada lagi yang namanya tepo seliro. Terjadilah kesenjangan
social yang menyebabkan ketidakseimbangak dalam kehidupan perkotaan. Dimana orang
hanya akan memperdulikan dirinya sendiri dan tidak memperdulikan orang lain lagi.

Masalah social adalah suatu ketidaksesuaian antara unsur – unsur kebudayaan


atau masyarakat, yang membahayakan kehidupan kelompok social. Jika terjadi bentrokan
antara unsur – unsur yang ada dapat menimbulkan gangguan hubungan social seperti
kegoyahan dalam kehidupan kelompok atau masyarakat.
Masalah social muncul akibat terjadinya perbedaan yang mencolok antara nilai dalam
masyarakat dengan realita yang ada. Yang dapat menjadi sumber masalah social yaitu
seperti proses social dan bencana alam. Adanya kesenjangan antar desa – kota khususnya
seltor pertanian dan industry, yang selama ini terjadi merupakan salah satu hambatan bagi
suatu daerah untuk ikut terjun ke dalam mainstream ekonomi. Kesenjangan tersebut
dipengaruhi oleh factor – factor berikut :
1. Social ekonomi rumah tangga atau masyarakat, khususnya kesenjangan pendapatan
antara rumah tangga di perkotaan dan pedesaan.
2. Struktur kegiatan ekonomi sektoran yang menjadi dasar kegiatan produksi rumah
tangga atau masyarakat.
3. Potensi regional (SDA, SDM, Dana, Lingkungan dan Infrastruktur) yang
mempengaruhi perkembangan struktur kegiatan produksi.
4. Kondisi kelembagaan yang membentuk jaringan kerja produksi dan pemasaran skala
regional, local, dan global.
Faktor-faktor kemiskinan yang terjadi di masyarakat pedesaan cenderung lebih
bersifat struktural dibandingkan bersifat kultural. Dalam kasus ini, masyarakat
pedesaaan diidentikkan dengan perilaku dan sikap yang dianggap kolot dan tradisional
dihadapkan dengan sikap dan perilaku orang kota yang maju dan modern.Terjadinya
keterbelakangan sosial masyarakat desa dalam pembangunan dinisbatkan karena sulitnya
masyarakat desa menerima budaya modernisasi, sulit untuk menerima teknologi baru,
malas, dan tidak mempunyai motivasi yang kuat, merasa cukup puas dengan pemenuhan
kebutuhan pokok yang paling dasar, dan budaya berbagi kemiskinan bersama.
Pembangunan yang berbasis pedesaan diberlakukan untuk memperkuat fondasi
perekonimian negara, mempercepat pengentasan kemiskinan dan pengurangan
kesenjangan perkembangan antar wilayah, sebagai solusi bagi perubahan sosial, desa
sebagai basis perubahan.Dalam realisasinya, pembangunan pedesaan memungkinkan
sumber-sumber pertumbuhan ekonomi digerakkan ke pedesaan sehingga desa menjadi
tempat yang menarik sebagai tempat tinggal dan mencari penghidupan. Infrastruktur
desa, seperti irigasi, sarana dan prasarana transportasi, listrik, telepon, sarana pendidikan,
kesehatan dan sarana- sarana lain yang dibutuhkan, harus bisa disediakan sehingga
memungkinkan desa maju dan berkembang.

4. Pengangguran dimana ketidakseimbangan antara laju pertumbuhan


angkatan kerja dan perluasan kesempatan kerja?

Masalah pengangguran menurut Keynes dianggap selalu wujud dalam perekonomian


karena permintaan efektif yang wujud dalam masyarakat (pengeluaran agregat) adalah lebih
rendah dari kemampuan faktor-faktor produksi yang tersedia dalam perekonomian untuk
memproduksi barang-barang dan jasa-jasa (Sukirno, 1981:169). Defenisi pengangguran
masih beragam. Dalam ilmu kependudukan (demografi), orang yang mencari kerja masuk
dalam kelompok penduduk yang disebut akangkatn kerja. Berdasarkan kategori usia,
angkatan kerja berusia 15-64 tahun. Tetapi tidak semua orang yang berusia 15-64 tahun
dihitung sebagai angkatan kerja. Yang dihitung sebagai angkatan kerja adalah penduduk 15-
64tahun dan sedang mencari kerja sedangkan yang tidak mencari kerja mungkin saja sedang
mengurus keluarga atau sekolah, tidak masuk angkatan kerja.

Jadi tingkat pengangguran adalah persentase angakatan kerja yang tidak/belum


mendapatkan pekerjaan (Rahardja dan Manurung, 2004: 329). Pengangguran adalah
seseorang yang tergolong angkatan kerja dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat
memperolehnya. Masalah pengangguran yang menyebabkan tingkat pendapatan nasional dan
tingkat kemakmuran masyarakat tidak mencapai potensi maksimal yaitu masalah
pokok makro ekonomi yang paling utama.

Jenis-Jenis Pengangguran

Pengangguran sering diartikan sebagai angkatan kerja yang belum bekerja atau tidak
bekerja secara optimal. Berdasarkan pengertian diatas, maka pengangguran dapat dibedakan
menjadi tiga macam yaitu :

1. Pengangguran Terselubung (Disguissed Unemployment ) adalah tenagakerja yang tidak


bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu.
2. Setengah Menganggur (Under Unemployment ) adalah tenaga kerja yang tidak bekerja
secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah
menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.
3. Pengangguran Terbuka (Open Unemployment ) adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh
tidak mempunyai pekerjaan. Pengganguran jenis ini cukup banyak karena memang belum
mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.

Macam-macam pengangguran berdasarkan penyebab terjadinya dikelompokkan


menjadi beberapa jenis, yaitu :

1. Pengangguran konjungtural (Cycle Unemployment) adalah pengangguran yang diakibatkan


oleh perubahan gelombang (naik-turunnya) kehidupan perekonomian/siklus ekonomi.
2. Pengangguran struktural (Struktural Unemployment ) adalah pengangguran yang
diakibatkan oleh perubahan struktur ekonomi dan corak ekonomi dalam jangka panjang.
Pengangguran struktural bisa diakibatkan olehbeberapa kemungkinan, seperti :
1. Akibat permintaan berkurang
2. Akibat kemajuan dan pengguanaan teknologi
3. Akibat kebijakan pemerintah
4. Pengangguran friksional (Frictional Unemployment) adalah pengangguran yang
muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja.
Pengangguran ini sering disebut pengangguran sukarela.
5. Pengangguran musiman adalah pengangguran yang muncul akibat pergantian musim
misalnya pergantian musim tanam ke musim panen.
6. Pengangguran teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau
penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin
7. Pengangguran siklus adalah pengangguran yang diakibatkan olehmenurunnya kegiatan
perekonomian (karena terjadi resesi). Pengangguran siklus disebabkan oleh kurangnya
permintaan masyarakat (aggrerat demand ).
Faktor-Faktor Terjadinya Pengangguran

Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya pengganguran adalah sebagai berikut:

1. Besarnya Angkatan Kerja Tidak Seimbang dengan Kesempatan Kerja. Ketidakseimbangan


terjadi apabila jumlah angkatan kerja lebih besar daripada kesempatan kerja yang tersedia.
Kondisi sebaliknya sangat jarang terjadi.
2. Kebutuhan jumlah dan jenis tenaga terdidik dan penyediaan tenaga terdidik tidak seimbang.
Apabila kesempatan kerja jumlahnya sama atau lebih besar daripada angkatan kerja,
pengangguran belum tentu tidak terjadi. Alasannya, belum tentu terjadi kesesuaian antara
tingkat pendidikan yangdibutuhkan dan yang tersedia. Ketidakseimbangan tersebut
mengakibatkan sebagian tenaga kerja yang ada tidak dapat mengisi kesempatan kerja
yangtersedia.
3. Meningkatnya peranan dan aspirasi Angkatan Kerja Wanita dalam seluruh struktur
Angkatan Kerja Indonesia.

Penyediaan dan Pemanfaatan Tenaga Kerja antar daerah tidak seimbang. Jumlah
angkatan kerja disuatu daerah mungkin saja lebih besar dari kesempatan kerja, sedangkan di
daerah lainnya dapat terjadi keadaan sebaliknya. Keadaan tersebut dapat mengakibatkan
perpindahan tenagakerja dari suatu daerah ke daerah lain, bahkan dari suatu negara ke
negara lainnya.

Dampak Pengangguran Terhadap Perekonomian

Untuk mengetahui dampak pengganguran terhadap perekonomian kitaperlu


mengelompokkan pengaruh pengganguran terhadap dua aspek ekonomi,yaitu:

1. Dampak Pengangguran terhadap Perekonomian suatu Negara.Tujuan akhir pembangunan


ekonomi suatu negara pada dasarnya adalahmeningkatkan kemakmuran masyarakat dan
pertumbuhan ekonomi agarstabil dan dalam keadaan naik terus. Jika tingkat pengangguran
di suatunegara relatif tinggi, hal tersebut akan menghambat pencapaian tujuanpembangunan
ekonomi yang telah dicita-citakan.
Hal ini terjadi karena pengganguran berdampak negatif terhadap kegiatan
perekonomian, sepertiyang dijelaskan di bawah ini:

1. Pengangguran bisa menyebabkan masyarakat tidak dapat memaksimalkan tingkat


kemakmuran yang dicapainya. Hal ini terjadi

karena pengangguran bisa menyebabkan pendapatan nasional riil(nyata) yang dicapai


masyarakat akan lebih rendah dari pada pendapatan potensial (pendapatan yang
seharusnya). Oleh karena itu,kemakmuran yang dicapai oleh masyarakat pun akan lebih
rendah.

1. Pengangguran akan menyebabkan pendapatan nasional yang berasal dari sector pajak
berkurang. Hal ini terjadi karena pengangguran yang tinggi akan menyebabkan kegiatan
perekonomian me-nurun sehingga pendapatan masyarakat pun akan menurun. Dengan
demikian, pajak yang harus dibayar dari masyarakat pun akan menurun. Jika penerimaan
pajak menurun, dana untuk kegiatan ekonomi pemerintah juga akan berkurang sehingga
kegiatan pembangunan pun akan terus menurun.
2. Pengangguran tidak mengalahkan pertumbuhan ekonomi. Adanya pengangguran akan
menyebabkan daya beli masyarakat akan berkurang sehingga permintaan terhadap barang-
barang hasil produksi akan berkurang. Keadaan demikian tidak merangsang kalangan
Investor (pengusaha) untuk melakukan perluasan atau pendirian industri baru. Dengan
demikian tingkat investasi menurun sehingga pertumbuhan ekonomi pun tidak akan terpacu.

2. Dampak pengangguran terhadap Individu yang Mengalaminya dan Masyarakat. Berikut ini
merupakan dampak negatif pengangguran terhadap individu yang mengalaminya dan terhadap
masyarakat pada umumnya:

1. Pengangguran dapat menghilangkan mata pencaharian


2. Pengangguran dapat menghilangkan ketrampilan
3. Pengangguran akan menimbulkan ketidakstabilan sosial politik.

SOLUSI UNTUK MENGATASI PENGANGGURAN

Dapat dilakukan dengan cara meningkatkan kegiatan ekonomi yang sudah ada, maupun dengan
menambah kegiatan ekonomi yang baru. Menurut Prof. Soemitro Djojohadikusumo, usaha
perluasan kesempatan kerja dapat dilakukan dengan cara Pengembangan industri,Melalui
berbagai proyek pekerjaan umum,Meningkatkan mobilitas modal,dan Membina sektor-sektor
industri kecil agar dapat menciptakan lapangan kerja. Serta penurunan angkatan kerja dengan
melakukan program belajar wajib 9 tahun bagi anak usia sekolah.
5. Berbagai ketimpangan hasil pembangunan meliputi ketidakmerataan
pendapatan nasional, serta ketidakmerataan pendapatan regional?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ketimpangan merupakan hal yang tidak
sebagaimana mestinya seperti tidak adil, tidak beres. Sedangkan, pendapatan adalah
seluruh penghasilan yang diterima baik sektor formal maupun non formal yang
terhitung dalam jangka waktu tertentu (Astuti, 2015). Ketimpangan harus mendapat
perhatian karena ketimpangan wilayah yang ekstrim menyebabkan inefisiensi ekonomi,
alokasi aset yang tidak efisien dan menambah jumlah kemiskinan, inefisiensi,
melemahkan stabilitas sosial dan solidaritas dan memperkuat kekuatan politis golongan
kaya sehingga menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat (Todaro, 2006).

Ketimpangan pendapatan adalah suatu kondisi dimana distribusi pendapatan yang


diterima masyarakat tidak merata. Ketimpangan ditentukan oleh tingkat pembangunan,
heterogenitas etnis, ketimpangan juga berkaitan dengan kediktatoran dan pemerintah
yang gagal menghargai property rights (Glaeser, 2006). Alesina dan Rodrik (1994)
dalam (Hajiji, 2010) menyatakan bahwa ketimpangan pendapatan akan menghambat
pertumbuhan. Hal ini karena ketimpangan menyebabkan kebijakan redistribusi
pendapatan yang tentunya akan mahal. Distribusi pendapatan dapat berwujud
pemerataan maupun ketimpangan, yang menggambarkan tingkat pembagian
pendapatan yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan ekonomi Ismoro
(1995)dalam(Rahayu, 2000). Distribusi dari suatu proses produksi terjadi setelah
diperoleh pendapatan dari kegiatan usaha. distribusi pendapatan mencerminkan
ketimpangan atau meratanya hasil pembangunan suatu daerah atau Negara baik yang
diterima masing-masing orang ataupun dari kepemilikan faktor-faktor produksi
dikalangan penduduknya.

Distribusi pendapatan yang didasarkan pada pemilik faktor produksi ini akan berkaitan
dengan proses pertumbuhan pendapatan, adapun pertumbuhan pendapatan dalam
masyarakat yang didasarkan pada kepemilikan faktor produksi dapat dikelompokkan
menjadi dua macam:

1. Pendapatan karena hasil kerja yang berupa upah atau gaji dan besarnya tergantung
tingkat produktifitas.
2. Pendapatan dari sumber lain seperti sewa, laba, bunga, hadiah atau warisan.
Sayangnya relevansi teori fungsional tidak mempengaruhi pentingnya peranan dan
pengaruh kekuatan-kekuatan di luar pasar (faktor-faktor non-ekonomis) misalnya
kekuatan dalam menentukan faktor-faktor harga (Todaro, 2003). Kesenjangan ekonomi
atau ketimpangan dalam distribusi pendapatan merupakansebuah realita yang ada di
tengah-tengah masyarakat dunia ini baik di negara majumaupun negara berkembang,
dan juga selalu menjadi isu penting untuk ditinjau.Di negara berkembang masalah
ketimpangan telah menjadi pembahasan utama dalam menetapkan kebijakan sejak
tahun tujuh puluhan yang lalu (Putra, 2011).
Ketimpangan distribusi pendapatan pada daerah-daerah dapat disebabkan oleh
pertumbuhan dan keterbatasan yang dimiliki masing-masing daerah yang berbeda beda
serta pembangunan yang cenderung terpusat pada daerah yang sudah maju. Hal ini
menyebabkan pola ketimpangan distribusi pendapatan daerahdan merupakan salah
satu faktor pendorong terjadinya ketimpangan distribusipendapatan daerah semakin
melebar (Retnosari, 2006).

Distribusi pendapatan nasional mencerminkan merata atau tidaknya pembagian hasil


suatu Negara dikalangan penduduknya. Untuk mengukur ketidakmerataan distribusi
pendapatan, bisa menggunakan Kurva Lorenz atau Indeks Gini. Koefisien Gini
merupakan ukuran ketidakmerataan agregat dan nilainya terletak antara 0 (kemerataan
sempurna) sampai 1 (ketidakmerataan sempurna). Koefisien Gini dari negaranegara
yang mengalami ketidakmerataan tinggi berkisar antara 0,50-0,70; ketidakmerataan
sedang antara 0,36- 0,49; dan yang mengalami ketidakmerataan rendah berkisar antara
0,20-0,35.(Arsyad,2010) Indikator tersebut merupakan indikator tingkat
ketidakmerataan yang paling umum digunakan dan diumumkan oleh negara-negara di
dunia. pandangan berbeda diberikan oleh Todaro: “…why greater equality in developing
countries may in fact be condition for self-sustaining economic growth” (Todaro,
2000).Dari kutipan Todaro dapat disimpulkan bahwa semakin besar pemerataan maka
hal itu dapat menjadi insentif yang baik bagi negara yang sedang berkembang untuk
membangun perekonomiannya.

Pendapat Todaro ini berdasarkan beberapa argumen sebagai berikut:

1. Pemerataan pendapatan akan meningkatkan akses masyarakat terhadap kredit,


pembiayaan sekolah, dan asuransi;
2. Berdasarkan data di NSB kemampuan menabung dan berinvestasi ke dalam negeri
orang-orang kaya rendah;
3. Pemerataan akan meningkatkan taraf hidup serta produktivitas kerja;
4. Pemerataan akan meningkatkan daya beli masyarakat;
5. Pemerataan akan meningkatkan peran serta aktif masyarakat dalam pembangunan.
Dengan pemerataan distribusi pendapatan yang baik dapat mengurangi
permasalahan-permasalahan sosial ekonomi, bahkan dapat dijadikan modal
Adapun interval nilai koefisien Gini adalah dari 0 sampai dengan 1. Nilai koefisien Gini
yang semakin mendekati 0 menunjukkan perekonomian yang tingkat
ketidakmerataannya semakin rendah atau semakin merata, sementara nilai yang
semakin mendekati 1 menunjukkan tingkat ketidakmerataan yang semakin tinggi.
Adapun nilai koefisien Gini yang menembus tingkat 0.4 secara internasional dipandang
sebagai batas peringatan di mana tingkat ketidakmerataan dinilai mulai
membahayakan yaitu berpotensi meningkatkan kecemburuan sosial yang dapat
memicu konflik sehingga mengancam stabilitas nasional. Hubungan kausalitas antara
pertumbuhan ekonomi dengan pemerataan pendapatan perlu mendapatkan perhatian.
Permasalahan yang lebih penting yaitu mengidentifikasi jalur yang menghubungkan
antara pertumbuhan ekonomi dengan distribusi pendapatan. Hal ini perlu dilakukan
untuk menghasilkan kebijakan yang mendorong pertumbuhan ekonomi dengan
pemerataan pendapatan.Kompleksitas permasalahan yang dihadapi oleh tiap negara
berbeda-beda, tergantungdari ciri masing-masing negara yang bersangkutan

BAB III

KESIMPULAN
Adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan alat
pemuas kebutuhan yang terbatas. Faktor-Faktor penyebab masalah ekonomi antara lain
kemiskinan, kesejahteraan pengangguran, dan kelangkaan bahan pokok. Untuk mengatasi
masalah ekonomi perlu adanya sistem ekonomi yang sesuai bagi suatu wilayah yaitu dengan 4
sistem ekonomi yang ada antara lain: sistem ekonomi tradisional, sistem ekonomi terpusat,
sistem ekonomi pasar dan sistem ekonomi campuran.

SARAN
Menurut kami pertumbuhan ekonomi harus dapat dinikmati oleh semua kalangan di
Indonesia baik penduduk miskin maupun kaya, maka dari itu sebaiknya penduduk yang
berkecukupan dapat memberi bantuan sosial bagi penduduk miskin sedangkan penduduk kaya
mampu menjalankan bisnisnya tanpa ada hambatan bahkan mampu memberi lapangan
pekerjaan.