Anda di halaman 1dari 122

BUKU AJAR

EKONOMI MIKRO

OLEH
HERISPON, SE. M.Si

AKADEMI KEUANGAN & PERBANKAN RIAU


SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI RIAU
Pekanbaru, 2010
Bagian I
Pendahuluan

1. Asal usul Ekonomi

Istilah ekonomi diperkenalkan oleh : Xenophon, ± 400 tahun SM. Ekonomi diturunkan
dari kata Yunani yaitu Oikonomia yang terdiri kata ―Oikos‖ yang berarti segala sesuatu yang
berhubungan dengan rumah tangga, dan ―Nomos‖ yang berarti undang-undang, peraturan,
mengurus. Dalam perkembangannya ekonomi melalui proses dan evolusi sehingga menjadi
suatu ilmu saat ini

Ekonomi
Fase I

Oikonomia : Sebuah pendapat

Fase II

Sebuah pemikiran

Fase III

Cabang ilmu yang berdiri sendiri

Ekonomi segala sesuatu yang berhubungan dengan upaya atau tindakan manusia dalam
memenuhi kebutuhannya, tindakan yang dimaksud adalah kegiatan ekonomi yang meliputi ;
kegiatan konsumsi, kegiatan produksi, kegiatan distribusi.

2. Pandangan Filsafat dan Etika tentang Ekonomi.

Plato………… berpikiran ekonomi bersumber dari teori-teori etika, pandangan yang


dikemukakannya :

a. Keinginan dan keserakahan untuk memperoleh barang-barang yang melebihi kebutuhan


yang layak merupakan rintangan dalam perekonomian.
b. Terjadinya peperangan adalah akibat dari ketidak adilan ekonomi, penumpukan kekayaan
yang berlebihan.
c. Keadilan, kelayakan, kepantasan dsb adalah dasar bagi suatu perekonomian yang sehat.
Teori etika lainnya yang tumbuh pada masa perkembangan filsafat Yunani kuno yaitu ;
hedonisme dari Epicurus, dan stoicisme dari Stoa.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 2


Hedonisme …..oleh Aristipus
―Tujuan hidup dan yang terbaik bagi manusia adalah mendapatkan kenikmatan‖ Disini
kenikmatan yang dimaksud tidak jelas (kenikmatan = kesejahteraan)

Epicurus….. dengan teori ―Fisis Materialisme Mekanistik‖


Bahwa kenikmatan yang bersifat egoistis merupakan tujuan akhir manusia, maka
dianggap bijaksana bila ia mencari kenikmatan sebesar-besarnya. Kemudian teori ini
berkembang yang disebut ―Individualisme‖ artinya mementingkan diri sendiri, untuk
kepentingan sendiri atau egoistis.

Utilitarianisme ……… oleh Jeremy Betham


―Kenikmatan harus sebesar-besarnya bagi sebanyak-banyaknya jumlah orang

Stoicisme ……….
―Beranggapan tujuan akhir manusia adalah berbuat kebajikan. Jadi terdapat perbedaan
antara hedonism dengan stoicism. Dari pendapat Stoicisme ini timbul pendapat baru yaitu
; materialisme, phanteisme, pathalisme (penyerahan pada nasib)

Setelah teori etika diatas….. Muncul karya filsuf Aristoteles yang lebih terarah pada
pemikiran ekonomi, Aristoteles adalah orang pertama yang melihat masalah ekonomi adalah
bidang permasalahan yang berdiri sendiri dan ekonomi sebagai studi tentang kekayaan.

3. Pendapat dan Kebijaksanan ekonomi Barat.

Merkantilis.
―Aliran yg memusatkan perhatiannya pada perdagangan, sumber kemakmuran adalah
perdagangan luar negeri dan uang adalah kekuasaan atau mendorong ekspor dan menekan
impor‖

Physiokrat oleh Francois Quesney (1694-1774)


―Bahwa pertanian merupakan sumber kemakmuran ekonomi‖
―Sistem ekonomi dianggap seperti tubuh manusia dan menekankan pada keselarasan
alami dari pada sistem sehingga ia akan bekerja paling baik bila campur tangan
pemerintah dibatasi hingga kadar minimum.

Aliran Klasik & Neo Klasik


Adam Smith (1776).. Mengakhiri masa merkantilisme. Dia menentang campur tangan
pemerintah atas kehidupan ekonomi. Dalam bukunya ―The Wealth of Nation‖ ia
memperlihatkan berbagai aspek keyakinannya tentang apa yang dikenal dengan ―invisible
hands‖ atau tangan tak tampak yang bekerja dalam kehidupan ekonomi, bertindak dengan
cara sedemikian rupa, sehingga setiap orang meskipun berusaha mengejar kesejahteraan
maksimum, tetapi hasil bersih dari usaha-usaha itu akan berupa kesejahteraan maksimum
bagi seluruh masyarakat, dalam bukunya Adam Smith menyatakan :
a. Menentang campur tangan pemerintah atas kehidupan ekonomi.
b. Adanya tangan ajaib yang mengatur ekonomi dalam mekanisme pasar (invisible hand)
yaitu pasar itu sendiri..

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 3


c. Kesejahteraan maksimum bagi masyarakat seluruhnya.
d. Laissez faire, free enterprise atau berusaha secara bebas.
e. Tidak mungkin terjadi pengangguran besar-besaran dalam perekonomian (hanya ada
full employment).
David Ricardo ;
Mengubah penekanan masalah kemakmuran bangsa dan pertumbuhan menjadi masalah
pembagian pendapatan diantara berbagai golongan dalam masyarakat.
Permasalahan ekonomi tidak hanya terbatas pada pertumbuhan atau kemakmuran semata-
mata tetapi juga mencakup pertumbuhan dan distribusinya, serta tehnik analisis
permasalahan ekonomi.

Pada periode selanjutnya timbul analisis-analisis yang lebih unggul seperti :


 Analisis marjinal Marshall.
 Analisis persaingan tidak sempurna atau persaingan monopolistis dari Chamberlin dan
Joan Robinson, yang menunjukkan teknis analisis yang lebih tepat dalam menggambarkan
harga dipasar.
 Analisis Timbergen, Frisch, Kuznets, dimana tehnik pengukuran yang lebih akurat
mengenai hubungan fungsional dalam ekonomi dengan penekanan yang lebih besar pada
pendekatan empiris dan mulai berkembang ekonometrika
 Analisis keseimbangan umum (general equilibrium) yang mengambil pemikiran Walras
serta Pareto kedalam analisis ekonomi, seperti Hick dan Allen.

Aliran Keynesian
Aliran Keynesian dimotori oleh John Maynard Keynes (1883-1946) dengan pemikiran
yang dikemukakan dalam dalam bukunya ; The General Theory of Employment, Interest
and Money (1936) atau disebut dengan The General Theory. Menurut analisis ekonomi
klasik tidak mungkin terjadi pengangguran besar-besarn dalam perekonomian, sebaliknya
pada periode ini (1930-1936) hampir semua negara didunia mengalami pengangguran.
Diantara pemikiran Keynes yang dikemukakannya adalah ;
a. Campur tangan pemerintah dalam batas tertentu diperlukan.
b. Dalam upaya mengatasi permasalahan ekonomi makro menekankan pentingnya
keseluruhan permintaan efektif sebagai unsur pokok yang menentukan perkembangan
ekonomi, terutama yang menyangkut hubungan antara tingkat pengangguran dan laju
inflasi.
Pendapat Keynes ; campur tangan pemerintah pada batas tertentu diperlukan. Proses
penolakan analisis Keynesian berjalan cukup lama, selama itu pula timbul teori tandingan
seperti; supply side economic, rational expectation (ratex), dan monetaris dimotori oleh
Milton Fredman.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 4


Bagian II
Pengertian Ekonomi Mikro

1. Renungkan dan pikirkan ;


 Siapakah diri kita (manusia) ?
 Apa sebenarnya yang dipelajari dalam ilmu ekonomi ?
 Timbulnya kegiatan ekonomi karena tuntutan kebutuhan manusia….?

2. Manusia atau diri kita ………..


 Makhluk yang lemah dan serba terbatas
 Tidak semua keinginan tercapai
 Harus berani menentukan pilihan
 Pilihan yang diambil harus berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
 Perlu belajar menentukan pilihan
 Sebagai makhluk hidup mempunyai beragam corak kebutuhan dalam kehidupannya

Kebutuhan
Manusia
Kebutuhan Primer
• Kebutuhan akan
makan/minum
Kebutuhan • Kebutuhan akan
Tertier sandang/pakaian
• Kebutuhan akan
papan/tempat
tinggal

Kebutuhan
Sekunder

Manusia sebagai makhluk hidup yang mempunyai akal dan nafsu, mempunyai
beragam kebutuhan demi kelangsungan hidupnya. Kebutuhan manusia, jenis dan corak yang
beragam, sesuai dengan perkembangan peradaban manusia itu sendiri. Untuk memenuhi
kebutuhan tersebut manusia melakukan usaha, kegiatan dan beraktivitas, sehingga manusia
berhadapan dengan :
 Kelangkaan (Scarcity) mencakup kuantitas, kualitas, tempat, waktu
 Pilihan (Choise) dapat berupa pilihan individu dan kelompok
 Biaya kesempatan (Opportunity cost) kesempatan (untuk memperoleh sesuatu) yang
hilang karena kita telah memilih alternatif lain.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 5


 Persaingan (Competitive) seseorang dengan segala daya dan upaya melakukan apa yang
diinginkannya.

Contoh opportunity cost..


 Accounting cost, misalkan diawal tahun siBudi membeli sebuah mobil bekas dengan
harga Rp 90 juta, dan diperbaiki dengan biaya Rp 10 juta, maka total harga perolehan Rp
100 juta. Diakhir tahun mobil tersebut dijual seharga Rp 107 juta berarti laba sebesar Rp 7
juta.
 Economic cost, bila dana/kas yang Rp 100 juta disimpan dalam deposito bank dengan
bunga 9,5 % pertahun, berarti diakhir tahun si Budi memperoleh uang sebesar Rp 109,5
juta. Jadi secara akuntansi si Budi untuk Rp 7 juta, tapi secara ekonomi rugi sebesar Rp
9,5 juta

3. Jadi apa itu ilmu ekonomi………..?

Ilmu ekonomi …
Adalah ilmu yang mempelajari perilaku individu, kelompok, atau masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang relatif tidak terbatas dalam menentukan pilihan untuk
menggunakan sumber daya yang langka dalam upaya meningkatkan kualitas hidupnya
(kesejahteraan dan kemakmurannya)

4. Masalah-masalah dalam ekonomi


• Barang apa yang harus diproduksi
• Berapa banyak yang diproduksi
• Bagaimana cara memproduksi
• Untuk siapa barang dan jasa diproduksi

5. Pemenuhan kebutuhan :
• Barang ; berupa benda-benda berwujud
• Jasa ; berupa pelayanan yang memberikan kepuasan pada seseorang.

Barang :
• Barang ekonomi (economic goods), adalah barang yang mempunyai kegunaan,
langka dan memerlukan pengorbanan untuk memperolehnya.
• Barang bebas (free goods), adalah jumlah barang yang tersedia dalam jumlah
melimpah dan tidak memerlukan pengorbanan untuk memperolehnya
• Barang akhir (final goods), adalah barang yang dihasilkan oleh berbagai kegiatan
ekonomi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Barang ini dibedakan : barang
tahan lama (durable goods), dan barang tidak tahan lama (non durable goods).
• Barang modal (capital goods), barang yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi juga
untuk menghasilkan barang lain
• Barang antara (intermediate goods), barang yang belum menjadi barang akhir dan
masih akan diproses lagi sebelum digunakan konsumen

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 6


6. Mengapa belajar ilmu ekonomi……?
• Memperbaiki cara berpikir yang membantu dalam pengambilan keputusan.
• Membantu memahami masyarakat ( berinteraksi, pertukaran, dan pasar)
• Membantu memahami masalah global
• Bermanfaat dalam membangun masyarakat demokratis

7. Ruang lingkup ilmu ekonomi …..


Ekonomi mikro.
Menganalisis bagian-bagian atau kajian ekonomi mengarah pada bagian-bagian kecil dari
keseluruhan kegiatan perekonomian, yang meliputi aspek :
• Interaksi dipasar barang
• Tingkah laku pembeli dan penjual, dimana pembeli berusaha memaksimumkan
kepuasan, sedangkan penjual berupaya memaksimumkan keuntungan
• Interaksi dipasar faktor produksi
Ekonomi Makro………
Menganalisis atau kajian terhadap keseluruhan kegiatan perekonomian yang bersifat
global, dan meliputi aspek ;
 Penentuan tingkat kegiatan perekonomian negara, dengan menganalisis sejauh mana
perekonomian akan menghasilkan barang dan jasa, tingkat kegiatan perekonomian
ditentukan oleh pengeluaran agregat, yang meliputi ; pengeluaran rumah tangga (C),
pengeluaran pemerintah (G), pengeluaran perusahaan (I), ekspor dan impor ( X – M),
perubahan-perubahan harga, dan pengaruh jumlah uang beredar terhadap pengeluaran
agregat
 Pengeluaran agregat yang ideal diperlukan untuk mewujudkan kesempatan kerja
penuh (full employment) tanpa menimbulkan inflasi, meskipun dalam prakteknya
tujuan ini sulit dicapai.
 Mengatasi pengangguran dan inflasi, dengan kebijakan ; a) kebijakan moneter yaitu
langkah pemerintah dalam mempengaruhi jumlah uang beredar, dan suku bunga
dalam perekonomian, b) kebijakan fiskal yaitu langkah pemerintah mengubah
struktur dan jumlah pajak serta pengeluarannya dengan maksud untuk mempengaruhi
kegiatan perekonomian.

8. Metodologi ilmu ekonomi, meliputi :


a. Teori ekonomi
Ilmu ekonomi menaruh perhatian besar terhadap kemampuan memberi penjelasan dan
prediksi atas gejala-gejala yang diamati.
Misal :
Mengapa…! Bila harga suatu barang naik..,, permintaan terhadapnya menurun,,,selalukah
demikian…?
Teori adalah pernyataan atau sekumpulan pernyataan tentang sebab akibat, aksi-reaksi,
daya guna dan validitas sebuah teori diukur dari kemapuan dan keakuratannya
menjelaskan dan memprediksi gejala-gejala yang diamati.
b. Model ekonomi
Model ekonomi yang disusun merupakan pernyataan formal sebuah teori, dapat
dipresentasikan secara verbal (menggunakan kata-kata) diagramatis, dan matematis.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 7


Contoh :
Model ekonomi yang baik adalah model siklus lingkaran kegiatan ekonomi (circular flow
of economic activity).

Siklus lingkaran kegiatan ekonomi


(circular flow diagaram)

C Supply
Pasar
Barang/Jasa
barang/jasa income

G barang/jasa

t t
Rumah Tangga Rumah Tangga Rumah Tangga
jasa barang jasa barang
Keluarga / konsumen
publik Pemerintah publik Produsen

G sumber daya

penawaran sumber daya penggunaan sumber daya


Pasar
pendapatan rumah tangga Sumber daya pengeluaran perusahaan

9. Pelaku-Pelaku Ekonomi.

Pelaku-pelaku ekonomi merupakan pengambilan keputusan dalam ekonomi, pelaku


ekonomi tersebut adalah :
 Rumah tangga keluarga (konsumen)
Rumah tangga keluarga (household) dapat berupa ; keluarga, organisasi, orang perorang,
kegiatan ekonomi yang dilakukannya adalah ;1) menjual, menyewakan sumber-sumber
daya yang mereka miliki, 2) membayar pajak, 3) membeli dan mengkonsumsi barang/jasa
yang dihasilkan oleh produsen, 4)memanfaati jasa pemakaian barang/jasa publik yang
disediakan oleh pemerintah.
 Rumah tangga perusahaan (produsen)
Dapat berbentuk yuridis ; perseroan terbatas, CV, Firma, BUMN, BUMD, Koperasi,
Perorangan, dan kegiatan yang dilakukan adalah ; 1) membeli sumber-sumber daya dari
rumah tangga keluarga/konsumen, dan pemerintah, 2) menjual barang/jasa kepasar dan
membayar pajak kepada pemerintah.
 Rumah tangga pemerintah, dengan kegiatan sebagai berikut ; 1) memungut pajak dari
sector rumah tangga keluarga/konsumen, dan perusahaan, 2) membeli sumber daya dari

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 8


rumah tangga keluarga dan perusahaan, 3) bertindak sebagai pengatur dalam
perekonomian dengan kewajiban; a) mengusahakan pembagian pendapatan nasional yang
adil, b) mengusahakan kesempatan kerja yang tinggi, c) menjaga kestabilan harga-harga,
d) mengusahakan pertumbuhan ekonomi yang memadai dan adil bagi masyarakat.

10. Asumsi-asumsi yang dipakai dalam teori ekonomi mikro.

Asumsi-asumsi yang dipakai dalam ekonomi mikro, pada dasarnya dapat dibagi dalam
tiga asumsi yaitu :
a. Asumsi umum, meliputi :
 Asumsi rasionalitas
Asumsi ini berlaku untuk semua teori ekonomi, pelaku ekonomi yang bersikap rasional
disebut ―homo economicus atau economic man‖. Penggunaan asumsi ini pada teori
konsumen terwujud dalam bentuk asumsi bahwa rumah tangga keluarga senantiasa
berusaha memaksimumkan kepuasan (utility maximization assumption)
 Asumsi cateris paribus
Bahwa yang mengalami perubahan hanyalah variabel yang eksplisit dinyatakan
berubah, sedangkan variabel-variabel lain yang disebutkan tidak berubah.
 Asumsi penyederhanaan
Adakalanya diperlukan penyederhaan dari persoalan-persoalan lebih lanjut dari
persoalan ekonomi yang dihadapi.
b. Asumsi khusus, meliputi ;
 Asumsi equilibrium parsial
Tidak adanya hubungan timbal balik antara perbuatan-perbuatan ekonomi yang
dilakukan oleh pelaku-pelaku ekonomi dengan perekonomian dimana pelaku ekonomi
itu berada.
Misal ; sebagai akibat berubahnya cita rasa, para konsumen tiba-tiba mengurangi
pengeluaran konsumsinya, bila tidak dipergunakan asumsi equilibrium
parsial, maka dalam membuat analisa harus memperhitungkan pengaruh
penurunan pengeluaran konsumsi tersebut terhadap pendapatan nasional,
yang seterusnya juga terhadap pendapatan mereka, terhadap pola
pengeluaran konsumen. Dengan menggunakan asumsi ekuilibrium parsial
unsur pemantulan semacam itu tidak kita perhatikan.
 Asumsi tidak adanya hambatan dalam atas proses penyesuaian
Bila harga suatu barang mengalami perubahan, maka berapapun kecilnya perubahan
tersebut selalu diasumsikan bahwa konsumen melaksanakan penyesuaian. Pada
kenyataannya banyak hambatan-hambatan yang menyulitkan pelaksanaan penyesuaian
tersebut (psikologi, sosiologi, politik, dan sebagainya). Dalam teori ekonomi mikro kita
mengasumsikan bahwa hambatan-hambatan terhadap penyesuaian tersebut tidak ada.
 Asumsi khusus model analisa mikro ekonomi
Asumsi yang harga dipergunakan dalam model-model analisis tertentu.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 9


Bagian III
Mekanisme Pasar

Permintaan (demand)

1. Permintaan.
Permintaan adalah keinginan untuk membeli suatu barang/jasa pada berbagai tingkat
harga selama periode waktu tertentu. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan adalah :
a. Harga barang itu sendiri
b. Harga barang lain yang terkait yang dapat bertindak sebagai barang pengganti (substitusi)
atau sebagai barang pelengkap,penggenap (komplementer)
c. Tingkat pendapatan perkapita
d. Selera atau kebiasaan
e. Jumlah penduduk
f. Perkiraan harga dimasa datang
g. Distribusi pendapatan
h. Usaha-usaha produsen meningkatkan penjualan

2. Fungsi permintaan

Fungsi permintaan adalah permintaan yang dinyatakan dalam hubungan matematis


dengan faktor-faktor yang mempengaruhi. Sehingga dapat diketahui hubungan antara tingkat
permintaan dengan faktor yang mempengaruhi permintaan.
Contoh :
Dx = f { Px, Py, Ycap, Sel, Pen, Pp, Ydist, Prom}
[ +, +/-, +, +, +, +, +, + ]
Dimana :
Dx = permintaan barang X
Px = harga barang X
Py = harga barang Y ( substitusi atau komplementer)
Ycap = pendapatan percapita
Sel = selera atau kebiasaan
Pen = jumlah penduduk
Pp = perkiraan harga barang X dimasa mendatang
Ydist = distribusi pendapatan
Prom = upaya produsen dalam meningkatkan penjualan dengan promosi
Dx adalah variabel tidak bebas (dependen variabel) dan variabel dalam kurung adalah variabel
bebas (independent variabel). Tanda (+) atau (-) menunjukan pengaruh masing-masing
variabel bebas terhadap permintaan barang X.

3. Skedul dan kurva permintaan


a. Skedul : permintaan akan sesuatu barang yang digambarkan dalam bentuk tabel
(skedul permintaan/demand schedule)
b. Kurva : permintaan akan sesuatu barang yang digambarkan dalam bentuk grafik (kurva
permintaan)

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 10


c. Fungsi : permintaan yang diungkapkan dalam persamaan matematika (fungsi
permintaan)
Skedul permintaan adalah hubungan atau daftar hubungan antara harga suatu barang
dengan tingkat permintaan barang tersebut.

Misal :
Fungsi permintaan beras di kota Pekanbaru perbulan, yang merupakan fungsi linear
yaitu:
Qd = 150 – 10 P
Dimana :
Qd = Jumlah permintaan beras (dalam ribu ton)
P = harga beras per kg (dalam rupiah)
Bila harga beras gratis (sama dengan nol), maka permintaan beras hanya 150.000 ton.
Dan permintaan beras akan menjadi nol kalau harga beras sebesar Rp 15.000 atau lebih per kg.

Kurva permintaan beras


Skedul permintaan beras
Harga beras Permintaan beras
( per kg / Rp ) (per bulan/ ton) P
0 150000
3000 120000 15
6000 90000
9000 60000
12000 30000
15000 0 Qd = 150 – 10P

0 150 Q

Sudut (alfa) mempunyai derajat kemiringan (slope) sebesar Qd/P = -10 yang artinya jika
harga beras berubah 1 unit maka permintaan beras berubah 10 unit dengan arah yang
berlawanan.

4. Perubahan jumlah yang diminta dan perubahan permintaan

Perubahan permintaan terjadi karena dua sebab utama, yaitu ; perubahan harga dan
perubahan faktor cateris paribus (missal, pendapatan, sewa, dan sebagainya / faktor non
harga). Perubahan harga menyebabkan perubahan jumlah barang yang diminta, tetapi
perubahan itu hanya terjadi dalam suatu kurva yang sama disebut pergerakan permintaan
sepanjang kurva permintaan (movement along demand curve). Jika yang berubah adalah
faktor cateris paribus yaitu pendapatan, maka akan terjadi pergeseran kurva permintaan
(shifting) lihat kurva berikut :

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 11


Kurva 3.1
Kurva Permintaan

P P

15 pendapatan naik

12

6 pendapatan D1
Turun D0
D2
0 30 60 90 150 Q
Q

Pergeseran sepanjang pergeseran kurva


kurva permintaan permintaan

5. Kasus pengecualian.

Ada kalanya hukum permintaan tidak berlaku yaitu ; jika harga naik, justru permintaan
meningkat atau sebaliknya. Ada tiga kelompok barang dimana hukum permintaan tidak
berlaku yaitu :
a. Barang yang memiliki unsur spekulasi
Misalkan ; emas, saham, tanah (dikota) barang-barang itu dapat menyebabkan orang
dan menambah pembeliannya pada saat harga naik karena ada unsur spekulasi, dan
mengharapkan lagi harga akan naik lagi disaat harga barang itu naik.
b. Barang prestise
Barang-barang yang dapat menambah prestise seseorang yang memilikinya dan
umumnya berharga mahal. Misal ; mobil kuno yang antik, lukisan dari orang yang
sangat terkenal, benda-benda kuno dan antik lainnya.
c. Barang given.
Apabila harga suatu barang turun menyebabkan jumlah barang yang diminta akan
berkurang. Hal ini disebabkan efek pendapatan yang negatif dari barang given lebih
besar dari pada naiknya jumlah barang yang diminta karena berlakunya efek substitusi
yang selalu positif. Dalam hal ini bila suatu barang harganya turun, maka pendapatan
nyata konsumen bertambah. Untuk kasus barang given kenaikan nyata dari pendapatan
konsumen justru mengakibatkan permintaan terhadap barang tersebut menjadi
berkurang.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 12


Contoh : Kasus 1
Harga
Rp 85.000,-. 1 Kg Daging Sapi

Pendapatan nyata
bertambah
konsumen
Turun

Rp 60.000,-. 1 Kg Daging Sapi

Selisih harga yang terjadi dari Rp 85.000 ke harga Rp 60.000 memberikan kesempatan
kepada konsumen untuk membeli barang substitusi seperti ; ikan, ayam, tahu, dan tempe.
(Seolah-olah pendapatan konsumen bertambah)

Contoh : Kasus 2

Pendapatan Tujuan

Si A Rp 5.000.000,-. Ke Jakarta 1 kali per 6 bulan


dengan BUS
Income meningkat

Rp. 10.000.000,-.
Ke Jakarta 2 kali per 6 bulan
dengan Pesawat

Jika pendapatan naik maka permintaan terhadap barang tersebut menurun disebut
barang inferior. Pada saat itu terjadi jasa BUS menjadi inferior goods dan jasa Pesawat
menjadi barang normal (normal goods). Jadi barang inferior tidak berlaku bagi kebanyakan
orang, hanya berlaku bagi suatu kelompok orang yang berpenghasilan tertentu. Apabila bagi
semua orang / kebanyakan orang suatu barang dianggap sebagai barang inferior maka barang
tersebut dinamakan barang given.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 13


Contoh : Kasus 3

Pendapatan Konsumsi

Si A Rp 1.000.000,-. Beras (nasi) rutinitas yang


dijumpai di warteg atau kaki lima.
Income meningkat

Rp. 5.000.000,-.
Restoran ternama, KFC, Hotel
bintang lima, yang dicari tidak
lagi kenyang dalam artian fisik,
disamping itu ada perbaikan gizi,
kesenangan batin, prestise
(kegengsian) dan lainnya.

Jadi barang given adalah barang inferior, tapi barang inferior belum tentu barang given.

Contoh ;

Menentukan fungsi permintaan : Q = a – bP

P 0 2 4 6 8 10 17
Q 34 30 26 24 20 16 0

Qdx = a – bP
30 = a – 2b 30 = a -2b sehingga : Q = 34 – 2P
26 = a – 4b 30 = a – 2 (2)
4 = 2b 30 = a-4
b = 4/2 30 + 4 = a
b =2 a = 34

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 14


Kurva 3.2
Kurva permintaan

17

10

6 Q = 34 – 2P

0 16 20 24 26 30 34 Q

Dari fungsi permintaan Q = 34 – 2P dapat diartikan sebagai berikut ;


- Bila harga digratiskan ( P = 0 ), maka permintaan berlaku pada barang tersebut sebesar 34
unit.
- Bila harga diberi nilai ( P = 17), maka permintaan pada barang tersebut sebesar 0 unit.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 15


Penawaran (supply)

1. Penawaran
Penawaran adalah jumlah barang atau jasa yang ingin ditawarkan oleh produsen kepada
konsumen pada berbagai level harga selama periode tertentu.

2. Kurva penawaran dan Fungsi penawaran


Kurva penawaran adalah kurva yang menunjukkan jumlah barang atau jasa tersebut
untuk setiap satuan waktu yang diinginkan oleh produsen untuk diproduksi, dihasilkan,
dan dijual kepada konsumen pada berbagai level tingkat harga pada periode tertentu.

Kurva penawaran ; yaitu suatu kurva yang menunjukan hubungan diantara harga suatu
barang tertentu dengan jumlah barang tersebut yang ditawarkan.
Hukum penawaran :
Hukum penawaran pada dasarnya mengatakan bahwa ―semakin tinggi harga suatu barang,
semakin banyak jumlah barang tersebut akan ditawarkan oleh para penjual. Sebaliknya,
makin rendah harga suatu barang, semakin sedikit jumlah barang tersebut yang
ditawarkan‖.
Daftar penawaran :
Daftar penawaran adalah daftar yang menunjukan jumlah penawaran pada berbagai
tingkat harga.

Penentuan-penentuan penawaran
Keinginan para penjual dalam menawarkan barangnya pada berbagai tingkat harga
ditentukan oleh beberapa faktor, yang terpenting adalah ;
- Harga ( P ) naik, maka volume (Q) akan naik
- Harga barang lain (Py) naik, maka Qy akan naik
- Biaya faktor produksi (Fp) naik, biaya (cost) naik, laba turun, Qs turun
- Tehnologi (T) naik, biaya turun, maka laba naik, Qs naik
- Tujuan perusahaan
- Ekspektasi (harapan)

Fungsi penawaran
Fungsi penawaran adalah penawaran yang dinyatakan dalam hubungan persamaan
matematis dengan faktor matematis, yaitu :

Sx = f { Px, Py, Pi, C, Tek, Ped, Tuj, Keb}


{ +, +/-, - , -, + , + , +/- , + }
Dimana :
Sx = penawaran barang X
Px = harga barang X
Py = harga barang Y (substitusi atau komplementer)
Pi = harga input
C = biaya produk
Tek = tehnologi produksi
Ped = jumlah pedagang / penjual
Tuj = tujuan perusahaan
Keb = kebijaksanaan pemerintah

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 16


Tanda positif (+) dan negatif (-) menunjukan pengaruh masing-masing variabel bebas
terhadap penawaran barang X.

Tabel penawaran individual (daftar penawaran)

Harga barang X Jumlah barang Titik yang dilalui


Per kg Yang ditawarkan

Rp0 0 kg o
100 0 kg s
200 100 kg b
300 200 kg c
400 300 kg d
500 400 kg e
600 500 kg f
700 600 kg g
800 700 kg h
900 800 kg i

Kurva penawaran individual

P
Sx
900 Pergeseran penawaran
800 ( P, Q ) sepanjang garis
700 atau fungsi penawaran
600
500
400
300
200
100 S

0 Q
1 2 3 4 5 6 7 8

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 17


Kurva.3.3
Kurva penawaran

P1

P0

P2

S2

S0 S1

0
Q3 Q0 Q2 Q1 Q

Penawaran dapat berubah atau bergeser kekiri atau keatas. Dan bergeser kekanan atau
kebawah.

Pergeseran dapat dilihat :


- 0 ke P0, 0 ke Q3, Q0 ke Q2 dimana harga tetap sedangkan penawaran berubah.
- Dari S0 ke S1 atau ke S2 adalah perubahan penawaran.
- Dari 0 ke P0 menjadi 0 ke P1 dan 0 ke Q0 menjadi 0 ke Q1 perubahan tidak dapat disebut
sebagai bertambahnya penawaran oleh karena penawaran tidak bergeser kekanan atau
kekiri tapi disebut sebagai bertambahnya jumlah barang Q yang diminta karena
perpindahan tersebut merupakan perpindahan dari suatu titik ketitik lain.

Contoh :
Fungsi penawaran dapat ditulis : Qs = a + bP

Daftar penawaran
P 2 4 6 8 10
Q 14 19 24 29 30

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 18


Qs = a + bP 14 = a + 2b
19 = a + 4b
-5 = – 2b
b = 5/2
b = 2,5
Qs = a + 2b
14 = a + 2(2,5)
14 =a+5
14 –5 = a
a=9 sehingga Qs = 9 + 2,5P

3. Faktor penyebab perubahan penawaran, meliputi :


a. Berubahnya harga input variabel
Bila harga faktor produksi variabel meningkat maka kurva penawaran akan barang
tersebut bergeser kekiri atau keatas, maka penawaran akan barang berkurang atau
menurun.
b. Perubahan tehnologi
c. Perubahan produktivitas sumber daya yang digunakan.

Harga keseimbangan
Harga keseimbangan adalah harga dimana baik konsumen maupun produsen sama-sama
tidak ingin menambah atau mengurangi jumlah yang dikonsumsi atau yang dijual atau
penawaran sama dengan permintaan.
- Jika harga dibawah harga keseimbangan terjadi kelebihan permintaan, permintaan
meningkat, penawaran menjadi berkurang.
- Jika harga melebihi harga keseimbangan, terjadi kelebihan penawaran jumlah
penawaran meningkat, jumlah permintaan menurun.

Contoh : harga keseimbangan

Qd = 400 – 20 P
Qs = -80 + 10 P

Dimana : Qd, Qs dalam ribu unit pertahun, P dalam puluhan juta rupiah
Qd = Qs
400 – 20 P = -80 + 10 P
480 = 30 P
P = 16
Qd = 400 – 20 (16) Qs = -80 + 10 (16)
= 400 – 320 = -80 + 160
= 80 = 80

Keseimbangan terjadi pada saat harga sebesar Rp 160 juta. Saat itu jumlah permintaan sama
dengan jumlah penawaran yaitu 80.000 unit pertahun.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 19


4. Perubahan keseimbangan pasar.

Keseimbangan pasar terjadi bila ada perubahan disisi permintaan atau penawaran. Jika
yang berubah adalah faktor harga, keseimbangan akan kembali ketitik awal. Tapi bila
yang berubah adalah faktor tehnologi untuk sisi penawaran atau pendapatan untuk sisi
permintaan, keseimbangan tidak kembali ketitik awal.

Kelebihan penawaran S
P1 Jika harga berubah dari P0 ke P1 maka
Akan terjadi kelebihan penawaran yang
P0 E0 menyebabkan harga turun kembali ke titik
P0. Titik keseimbangan tetap.

0 Q0 Q

P
S0 Kurva penawaran bergeser kekanan kare
na perubahan tehnologi. Titik keseimbang
S1 an bergeser dari E0 ke E1
P0 E0

P1 E1

0 Q0 Q1 Q

S Kurva permintaan bergeser kekanan kare


P1 E1 na perubahan pendapatan. Titik keseimba
P0 E0 ngan bergeser dari E0 ke E1

D0 D1

0 Q0 Q1 Q

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 20


5. Kegagalan pasar.

Pasar dapat menjadi alokasi sumber daya yang efisien, bila asumsi-asumsinya
terpenuhi yaitu :
- Pelaku bersifat rasional
- Memiliki informasi yang sempurna
- Pasar berbentuk persaingan sempurna dan barang bersifat privat
- Proses pertukaran tidak terbatasi dimensi waktu dan tempat
Asumsi ini banyak tidak sesuai dilapangan, sehingga dijumpai kegagalan dipasar,
sehingga pasar gagal menjadi alat alokasi sumber daya yang tak efisien (market failure).
Kegagalan yang terjadi dipasar dikarenakan :
a. Informasi yang tidak sempurna (In complete information)
Dalam kenyataan konsumen banyak tidak tahu persis tentang kualitas barang yang
digunakan.

Contoh ; konsumen mobil bekas tenaga bengkel atau ahli mesin


dan dibayar.

Perusahaan tenaga kerja konsultan

b. Daya monopoli (monopoli power)


Dalam kenyataannya sering terjadi dalam pasar hanya ada satu (monopoli) atau beberapa
produsen (oligopoly) yang begitu kuat. Mereka mampu mempengaruhi pasar dengan
menentukan tingkat harga (price setter)
c. Eksternalitas (externality)
Adalah keuntungan atau kerugian yang dinikmati atau diderita pelaku ekonomi sebagai
akibat pelaku ekonomi lain.
Contoh :
Pabrik A dalam produksinya berbahan baku karet, dan membuang limbahnya kesungai,
sehingga menimbulkan kerugian dimasyarakat. Kerugian yang ditanggung oleh
masyarakat ini tidak masuk dalam biaya produksi perusahaan, dan biaya ini ditanggung
oleh masyarakat (social cost)
d. Barang public (public goods)
Adalah barang yang disediakan pemerintah untuk kepentingan umum atau masyarakat
yang dapat digunakan serentak, tapi ada juga barang public yang dinikmati oleh
perorangan tanpa bayar pajak lagi.
Contoh ; jalan raya, jembatan, taman, pelabuhan
e. Barang altruisme (altruisme goods)
Adalah barang yang ketersediaannya berdasarkan suka rela karena rasa kemanusiaan.
Contoh ; donor darah di PMI.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 21


Bagian IV
Teori Permintaan, Penerapan Konsep
Permintaan dan Penawaran

1. Teori permintaan

Dengan teori utility, dan indifferen, dengan kemampuan daya beli dan budget,
konsumen sebagai pihak yang hendak membeli output, mencerminkan prilaku beli atau
permintaan secara empiris, dengan faktor yang mempengaruhinya:

Klasifikasi Jenis Faktor Sifat

Faktor strategis Harga


Advertensi
Design
Saluran distribusi Controlable

Faktor konsumen Income percapita


Selera konsumen
Harapan yang akan datang Un Controlable

Faktor pesaing Harga barang lain


Advertensi pesaing
Distribusi pesaing
Saluran distribusi pesaing Un Controlable

Konsumen dengan perilakunya dalam permintaan disamping dipengaruhi oleh faktor-


faktor yang tersebut diatas juga dipengaruhi oleh budget yang tersedia, konsumen akan beraksi
dengan perubahan harga, maka secara fungsional dapat dirumuskan fungsi permintaan pasar
atau konsumen sesuai sifat yang mempengaruhinya :

Qdx = a – b0P + b1I + b2A ± b3Po ± … bnN

Dimana :
Qdx = permintaan terhadap barang X
-bP = faktor harga merespon negative terhadap volume permintaan
+bPo = faktor harga barang lain merespon positif untuk barang substitusi
-bPo = faktor harga barang lain merespon negatif untuk barang komple
menter
+bI = faktor pendapatan (income) merespon positif terhadap volume
Permintaan
+bA = faktor advertensi merespon positif terhadap volume permintaan.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 22


Kecenderungan masing-masing faktor mempengaruhi permintaan konsumen atau pasar
dengan segala sifat hubungan respon yang secara teori empiris terhadap volume permintaan itu
akan menjadi bahan analisis untuk memprediksi atau menentukan kebijakan dan penyesuaian
kebijakan yang akan dilakukan oleh para manajer perusahaan

2. Penerapan konsep permintaan dan penawaran

Konsep dasar dari fungsi permintaan untuk suatu produkdapat dinyatakan dalam
bentuk hubungan antara kuantitas yang diminta dan sekumpulan variabel spesifik yang
mempengaruhi permintaan itu. Dalam bentuk model matematik konsep permintaan dan
penawaran untuk suatu produk yang dinotasikan sebagai berikut :

Permintaan
Qdx = f { Px, I, Pt, Pe, Ie, PAe, T, N, A, F, O}

Dimana :
Qdx = jumlah/kuantitas permintaa produk X
f = notasi fungsi yang berarti ―fungsi dari / tergantung pada‖
Px = harga dari produk X
I = pendapatan (income) konsumen)
Py = harga dari produk lain yang berkaitan
Pe = ekspektasi konsumen terhadap harga produk X dimasa datang
Ie = ekspektasi konsumen terhadap tingkat income dimasa datang
PAe = ekspektasi konsumen terhadap ketersediaan produk X dimasa datang
T = selera konsumen
A = pengeluaran iklan
F = features atau atribut dari produk
O = faktor lain yang berkaitan dengan permintaan terhadap produk X

Penawaran
Qsx = f { Px, Pi, Pt, T, Pe, Nf, O}

Dimana :
Qsx = kuantitas penawaran produk X
f = notasi fungsi yang berarti berarti : fungsi dari / tergantung pada‖
Px = harga dari produk X
Pi = harga dari input lain yang berkaitan dalam produksi
T = tehnologi yang tersedia
Pe = ekspektasi produsen akan harga produk X dimasa datang
Nf = banyaknya perusahaan yang memproduksi produk sejenis
O = faktor-faktor spesifik lain yang berkaitan dengan penawaran produk X

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 23


Soal dan Pembahasan

1. Diketahui bahwa fungsi permintaan untuk produk X adalah :


Qdx = 60 – 2Px + 10 I + 7Py

Dari data tersebut :


a. Apakah produk X merupakan produk normal atau inferior
b. Apakah produk X dan produk Y merupakan produk substitusi atau komplementer
c. Apabila diketahui I = 40 dan Py = 20 tentukan fungsi permintaan untuk produk X
d. Bila diketahui bahwa fungsi penawaran dari produk X adalah Qsx = -600 + 10 Px,
tentukan harga dan kuantitas keseimbangan
e. Apa yang akan terjadi pada harga dan kuantitas keseimbangan apabila terobosan
tehnologi dan program efisiensi memungkinkan produk X diproduksi dengan biaya
yang lebih rendah, sehingga mengubah fungsi penawaran menjadi : Qsx = -360 + 10Px

Jawab :

a. Produk X merupakan produk normal


Karena , atau elastisitas permintaan positif
Yang berarti, jika konsumen pendapatannya meningkat sebesar 1000 maka jumlah produk
X akan meningkat sebesar 10 unit (cateris paribus)

b. Produk X dan produk Y merupakan produksi substitusi, karena


Karena (elastisitas harga silang positif, artinya bila harga produk Y meningkat
sebesar Rp 1 maka kuantitas produk X akan meningkat sebesar 7 unit (cateris paribus)

c. Bila I = 40, Py = 20, maka fungsi permintaan produk X adalah :


Qdx = 60 – 2Px + 10 I + 7Py
= 60 – 2Px + 10(40) + 7(20)
= 60 – 2Px + 400 + 140
Qdx = 600 – 2Px

d. Jika Qsx = -600 + 10 Px


Maka harga dan kuantitas keseimbangan dari produk X :
Qdx = Qsx
600 – 2Px = -600 + 10Px
12Px = 1200
Px = 1200 / 12
Px = 100
Bila Px = 100, maka Qdx = 600 – 2Px
= 600 – 2 (100)
= 400
Qsx = -600 + 10Px
= -600 + 10 (100)
= 400

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 24


Jadi harga keseimbangan (price equilibrium = Pe) dari produk X terjadi pada harga Rp
100 dan kuantitas keseimbangan dari produk X adalah Qdx = Qsx = Qe terjadi pada 400
unit.

e. Jika Qsx = -360 + 10Px


Maka harga dan kuantitas kesimbangan dari produk X adalah ;
Qdx = Qsx bila Px = 80, maka :
600 – 2Px = -360 + 10Px Qdx = 600 – 2Px
12Px = 960 = 600 – 2(80)
Px = 960 / 12 = 600 - 160
Px = 80 = 440

Dan QSx = -360 + 10Px


= -360 + 10(80)
= -360 + 800
= 440
Jadi harga keseimbangan dari produk X adalah Rp 80 dan kunatitas keseimbangan dari
produk X adalah Qdx = Qsx = Qe = 440 unit

2. Diketahui PT. Garmen adalah produsen T-Shirt yang memiliki fungsi permintaan Q =
1200 – 200P, dimana Q adalah jumlah penjualan T-Shirt, dan P adalah harga T-Shirt.
Diminta :
a. Berapa banyak baju yang terjual pada harga Rp 4,5
b. Berapa harga seharusnya, agar perusahaan mampu menjual sebanyak 900 unit
c. Pada tingkat harga berapa baju tak ada yang terjual
d. Berapa maksimum baju yang dapat dijual

Jawab :

a. Bila P = Rp 4,5, maka Q = 1200 – 200P


= 1200 – 200(4,5)
= 300 unit
b. Agar kuantitas yang terjual :
Q = 900, maka 900 = 1200 – 200P
200P = 1200 – 900
200P = 300
P = 300 / 200
= 1,5

c. Jika Q = 0, maka d. Q = maksimum, bila P = 0


0 = 1200 – 200P Q = 1200 – 200P
200P = 1200.P Q = 1200 – 200 (0)
P = 1200 / 200 Q = 1200
P =6

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 25


3. Diketahui PT. Mikro dan PT. Soff merupakan produsen computer yang berkompetisi
dalam harga produk, sehingga tak ada perusahaan yang mampu menetapkan harga
berdasarkan keinginannya. Hubungan antara marginal cost (MC) dan output dari kedua
perusahaan tersebut adalah :
PT. Mikro dengan MC = 10 + 0,0004 Q
PT. Soff dengan MC = 2,50 + 0,0001 Q
Dimana : MC adalah biaya marginal, Q adalah jumlah produksi
Diminta :
a. Tentukan fungsi penawaran Q = f (P) dan fungsi penawaran invers P = untuk
masing-masing perusahaan.
b. Hitung jumlah penawaran dari masing-masing perusahaan pada tingkat harga Rp 5,
Rp 10, Rp 15. Berapa harga minimum bagi setiap perusahaan agar mampu
menawarkan produknya dipasar.
c. Diasumsikan perusahaan computer hanya dua diatas, tentukan fungsi penawaran
industry pada tingkat harga dibawah Rp 10 perunit, diatas harga Rp 10 perunit.

Jawab :
a. Setiap perusahaan akan menawarkan produk pada titik dimana penerimaan marginal
sama dengan biaya marginal ( MR = MC). Karena perusahaan beroperasi dalam pasar
yang berkompetisi dalam harga, berarti P = MR, sehingga fungsi penawaran Q = f (P)
dan fungsi penwaran invers P = masing-masing perusahaan adalah :
PT. Mikro dengan MR = MC, karena P = MR, maka P = MC
Sehingga fungsi permintaan invers dari PT. mikro adalah sebagai berikut : P = 10 +
0,0004 Q.
Fungsi penawaran PT. Mikro dapat ditentukan dengan menyelesaikan persamaan
fungsi penawaran invers ;
P = 10 + 0,0004Q,
jika P = 10 + 0,0004 Q
maka : 0,0004 Q = -10 + P atau
Q = (-10/0,0004) + (1/0,0004)P
Q = -25000 + 2500P
Q = - 25000 + 2500 P adalah fungsi penawaran PT. Mikro dan
P = 10 + 0,0004Q fungsi penawaran invers PT. Mikro

PT. Soff dengan MR = MC, karena P = MR, maka P = MC, sehingga fungsi
permintaan invers P = 2,5 + 0,0001Q, sehingga fungsi penawaran PT. soff adalah :

P = 2,5 + 0,0001 Q
Jika P = 2,50 + 0,0001 Q
Maka 0,0001 Q = -2,5 + P atau
Q = (-2,5/0,0001) + (1/0,0001)P
Q = -25000 + 10000P adalah fungsi penawaran PT. soff dan
P = 2,50 + 0,0001 Q-1 fungsi penawarn invers PT. Soff

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 26


b. Jumlah yang ditawarkan
PT. Mikro pada harga Rp 5, Rp 10, Rp 15
Q = -25000 + 2500P
Q = -25000 + 2500(5)
Q = -25000 + 12500
Q = -12500 unit ( berarti Q disamakan dengan 0)
Q = -25000 + 2500P
Q = -25000 + 2500(10)
Q = -25000 + 25000
Q = 0 unit
Q = -25000 + 2500P
Q = -25000 + 2500(15)
Q = -25000 + 37500
Q = 12500 unit

PT. Soff pada harga Rp 5, Rp 10, Rp 15


Q = -25000 + 10000P
Q = -25000 + 10000(5)
Q = -25000 + 50000
Q = 25000 unit
Q = -25000 + 10000P
Q = -25000 + 10000(10)
Q = -25000 + 100000
Q = 75000 unit
Q = -25000 + 10000P
Q = -25000 + 10000(15)
Q = -25000 + 150000
Q = 125000 unit

Harga minimum bagi setiap perusahaan


PT. Mikro harga yang ditawarkan P > Rp 10 perunit, Q > 0
PT. Soff harga yang ditawarkan P > Rp 2,5 perunit, Q > 0

c. Pada harga (P) kecil dari Rp 10


PT. Mikro tidak memperoleh keuntungan, sedangkan pada PT. Soff memperoleh
keuntungan, dan pada harga (P) diatas Rp 10, maka kedua perusahaan memperoleh
keuntungan.

4. Diketahui PT. Mikroba memiliki fungsi biaya total sebagai berikut :


TC = 25000 + Q + 0,00008Q2
Dimana Q adalah satuan produksi dalam satuan unit
Diminta :
a. Tentukan fungsi penawaran PT. Mikro
b. Tentukan fungsi penawaran industri atau pasar jika terdapat 500 perusahaan yang
idnetik dipasar.
c. Berapa jumlah penawaran dipasar pada tingkat harga Rp 2 perunit

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 27


Jawab :
a. Bila MR = MC , P = MR dan P = MC
Dalam kondisi pasar persaingan sempurna

TC = 25000 + Q + 0,00008Q2, maka :

= 1 + 0,00016 Q
P = 1 + 0,00016Q adalah fungsi penawaran invers PT. Mikroba

Jika P = 1 + 0,00016 Q maka :


0,00016 = -1 + P atau
Q = (-1/0,00016) + (1/0,00016)P
= -6250 + 6250P
Q = -6250 + 6250P adalah fungsi penawaran PT. Mikroba

b. Bila terdapat 500 perusahaan yang identik dipasar, maka fungsi penawaran pasar
adalah :
Q industry = 500 Q = 500 (-6250 + 6250P
= -3125000 + 3125000P
Maka Q industry ; Q = -3125000 + 3125000P

c. Jika harga (P) adalah Rp 2, maka penawaran pada tingkat harga pasar adalah :
QInd = -3125000 + 3125000P
= -3125000 + 3125000(2)
= -3125000 + 6.250.000P
= 3125000

5. Sebagai manajer anda harus menetapkan harga untuk sewa peralatan, asumsikan biaya
marginal dari sewa peralatan adalah nol. Permintaan bulanan untu sewa peralatan diduga
sebagai berikut ;

Q = 100 – 2P P = harga sewa bulanan


Q = jumlah peralatan yang disewa perbulan
Diminta:
a. Berapa harga yang ditetapkan
b. Berpa jumlah peralatan yang disewa perbulan

Jawab :
a. Penetapan harga yang memaksimumkan TR, dengan jalan membuat MR = 0
Q = 100 – 2P maka,
P = 50 - 0,5Q
TR = PQ = (50 – 0,5Q) Q
= 50 Q – 0,5Q2

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 28


MR = 0, Q = 50, jika Q = 50, maka :
P = 50 – 0,5Q
= 50 – 0,5 (50)
P = 25 adalah harga sewa peralatan perbulan

b. Jika P = 25, maka Q = 100 – 2P


= 100 – 2 (25)
= 50
Berarti 50 adalah peralatan yang disewakan perbulan

6. Diketahui pada sebuah pasar :


Fungsi permintaan : Qd = 100.000 – 40.000P
Fungsi penawaran : Qs = -5.000 + 30.000P
Q adalah jumlah unit, dan P adalah harga perunit, lengkapi table berikut :

P Qs Qd + exces supply
- Exces demand
Rp2 ………………. ………………….. ………………….
1,75 ………………. ………………….. ………………….
1,50 ………………. ………………….. ………………….
1,25 ………………. ………………….. ………………….
1 ………………. ………………….. ………………….

Jawab :
P Qs Qd + exces supply
- Exces demand
Rp2 -5.000 + 30.000(2) 100.000 – 40.000(2) +35000
1,75 -5.000 + 30.000(1,75) 100.000 – 40.000(1,75) +17500
1,50 -5.000 + 30.000(1,50) 100.000 – 40.000(1,50) 0
1,25 -5.000 + 30.000(1,25) 100.000 – 40.000(1.25) -17500
1 -5.000 + 30.000(1) 100.000 – 40.000(1) -35000

---------

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 29


Bagian V
Prilaku Konsumen

1. Gejala Ekonomi.

Ada beberapa gejala yang dapat diamati dengan logika kejadian-kejadian yang terjadi
pada sebuah Negara, yaitu :
a. Dinegara maju atau negara kaya, setiap keluarga umumnya memiliki sedikit anak ?
b. Sedangkan di Negara miskin atau Negara sedang berkembang, jumlah anak
perkeluarga umumnya banyak ?
c. Mengapa orang-orang yang berpendidikan tinggi menghabiskan banyak uang untuk
membeli informasi (buku, surat kabar, internet, dan lainnya), dibanding orang-orang
yang berpendidikan rendah ?
d. Mengapa perusahaan-perusahaan yang mempunyai daya monopoli lebih suka menjual
produk dalam jumlah lebih sedikit dengan harga lebih tinggi.

2. Tujuan konsumen.

Tujuan yang ingin dicapai oleh seorang konsumen adalah kepuasan maksimum dari
setiap barang dan jasa yang dikonsumsi atau yang digunakannya, sedangkan tujuan produsen
adalah keuntungan maksimum dari aktivitas yang dilakukannya. Berikut pengertian barang,
kegunaan, atau manfaat yang dinikmati oleh konsumen :
- Barang (commodities), adalah benda/jasa yang dikonsumsi untuk memperoleh manfaat
atau kegunaan.
- Utilitas (utility), adalah manfaat yang diperoleh karena mengkonsumsi barang/jasa.
Utilitas merupakan ukuran manfaat suatu barang/jasa dibanding alternatif
penggunaannya, utilitas dapat dibedakan menjadi dua yaitu ; 1) utilitas total (total
utility), adalah manfaat total yang diperoleh dari seluruh barang yang dikonsumsi, 2)
utilitas marginal (marginal utility), adalah tambahan manfaat yang diperoleh karena
menambah konsumsi sebanyak satu unit barang
- Hukum pertambahan manfaat yang semakin menurun ( the law of diminishing
marginal utility (LDMU). Pada awalnya penambahan konsumsi suatu barang akan
member tambahan utilitas yang besar, tetapi makin lama pertambahan itu bukan saja
makin menurun juga mencapai negatif (good sudah berubah menjadi bad). Dalam
analisis perilaku konsumen LDMU dikenal dengan marginal analisis.
Mengapa berlian lebih dikenal dari pada air ? dijawab oleh Gossen, pertambahan
manfaat dari air cepat sekali menurun, karena saat seseorang haus, segelas pertama air
akan memberikan manfaat yang sangat besar, tapi tidak untuk gelas kedua, gelas
ketiga, gelas keempat, gelas kelima dan gelas keenam, manfaat sudah menurun.Tidak
demikian halnya dengan berlian, itu sebabnya harga air lebih murah dari harga berlian.
Untuk menghormati Gossen, maka hukum pertambahan manfaat yang semakin
menurun disebut juga dengan ―Hukum Goseen‖ atau Gossen Law.
- Konsistensi preferensi (transitivity)
Adalah kemampuan konsumen menyusun prioritas pilihan agar dapat mengambil
keputusan. Ada dua sikap yang berkaitan dengan preferensi konsumen yaitu :

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 30


a. Lebih suka (prefer) seperti ; Y ( X > Y)
b. Sama-sama disukai (indifference) seperti ; Y (X = Y)
Syarat lain agar prilaku konsumen dapat dianalisis, konsumen harus memilih
konsistensi preferensi. Bila barang X lebih disukai dari barang Y (X > Y), dan barang
Y lebih disukai dari barang Z (Y > Z), maka barang X lebih disukai dari barang Z (X >
Z), konsep ini disebut transitivitas (transitivity).
- Pengetahuan sempurna (perfect knowledge), dimana konsumen diasumsikan memiliki
informasi atau pengetahuan yang sempurna berkaitan dengan keputusan konsumsinya.
Secara tradisional orang menggunakan konsep utility atau daya guna dalam
menyelidiki tingkah laku konsumen dipasar barang yaitu tentang faktor-faktor yang menjadi
penggerak terjadinya permintaan terhadap sesuatu jenis barang. Konsep utilitas tersebut
mengatakan bahwa bila orang meminta suatu barang, maka pada dasarnya yang diminta
adalah daya guna dari barang tersebut, dalam perkembangannya pendekatan tradisional ini
dapat dibedakan menjadi dua sebagai berikut :
a. Teori daya guna Cardinal
Teori ini menyatakan bahwa besarnya daya guna yang diterima oleh seseorang atau
konsumen dapat diukur secara kuantitatif dari tindakan mengkonsumsikan barang
tersebut.
b. Teori daya guna Ordinal
Teori ini menyatakan bahwa tidak perlu secara absolute mengetahui besarnya daya guna
dari suatu barang bagi seseorang, dimana seseorang atau konsumen dengan mengetahui
bahwa konsumen tersebut adalah seseorang yang mampu membuat order, urutan-urutan,
rangking, kombinasi dari barang yang akan dikonsumsikan berdasarkan daya guna yang
diterima.

3. Total Utility dan Marginal Utility

Pada suatu tingkat konsumsi tertentu total utility yang diperoleh dari mengkonsumsi
barang tersebut akan mencapai titik maksimum dan marginal utility akan menjadi nol, pada
saat ini tambahan jumlah barang yang dikonsumsi akan mengakibatkan total utility turun dan
marginal utility menjadi negatif, perhatikan contoh berikut :

Contoh : konsumsi terhadap sejumlah barang X ( Qx) dengan daya guna total dan daya guna
marginal.

Qx : 0 1 2 3 4 5 6 7 8

TUx : 0 10 18 24 28 30 30 28 20

MUx : 10 8 6 4 2 0 -2 -8

Dimana : TU adalah total utility dan MU adalah marginal utility


MU = , perhatikan kurva berikut :

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 31


Kurva. 5.1a
Manfaat semakin menurun

TU

30

25

20
TU
15

10

0 1 2 3 4 5 6 7 8 Qx

Kurva. 5.1b
Manfaat semakin menurun
MU

10

0 1 2 3 4 5 6 7 8 Qx

-2

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 32


Keterangan
Dari kurva marginal utility (MU) pada gambar 5.1b dapat diketahui bahwa setiap
pertambahan unit komoditi atau barang X yang dikonsumsi mengakibatkan penurunan dari
pertambahan total utility (TU) dengan perkataan lain dari setiap pertambahan unit barang X
yang dikonsumsikan maka pertambahan TU yang diperoleh konsumen semakin kecil atau
menurun, prinsip ini dikenal “principle of diminishing marginal utility” yang maksudnya
semakin banyak dikonsumsi tambahan kegunaan suatu barang semakin kecil kepuasannya.
Keseimbangan konsumsi yang merupakan tujuan dari konsumen yang rasional adalah
memaksimumkan kepuasan TU dari uang yang dibelanjakannya, konsumen akan mencapai
tujuan ini atau terjadi keseimbangan (optimum of the consumen) bila ia membelanjakan
uangnya sedemikian rupa sehingga utility dari uang yang terakhir dibelanjakan kepada
berbagai barang adalah sama, secara matematis dapat dibuat :

Contoh 1 :

Barang X dan barang Y adalah dua jenis barang yang tersedia, harga barang tersebut adalah
barang X Rp 2, barang Y Rp 1. Pendapatan si A sehari ( anggaran yang tersedia) sebesar Rp
12. Dengan bantuan skedul MU barang X dan MU barang Y dari si A. Carilah kombinasi dari
jumlah barang X dan barang Y yang dapat dibeli si A agar tercapai kepuasan maksimum.

Skedul
Barang X (Qx) 1 2 3 4 5 6 7 8
Marginal utility (MUx) 16 14 12 10 8 6 4 2
Marginal utility (MUy) 11 10 9 8 7 6 5 4

Jawaban:
Alternatif barang yang dibeli

Barang X Jum Marginal X Jum


Harga Y lah Utility Y lah MU

Rp 2 I X 1 16
21
Y 2 11+10=21 Y 2
Rp 2 II X 1 16
17
Y 2 9+8=17 Y 2
Rp 2 III X 1 16 X 1
16
Y 2 7+6=13
Rp 2 IV X 1 14 X 1
14
Y 2 13
Rp 2 V X 1 12
13
Y 2 13 Y 2
Rp 2 VI X 1 12 X 1
12
Y 2 5+4=9

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 33


Keterangan
- Pada harga barang Rp 2, barang X diperoleh 1 unit dengan MU = 16, bila dibelikan
pada barang Y diperoleh 2 unit.
- Dengan MU sebanyak 21 (11+10) dari kedua hal tersebut maka yang dipilih adalah
barang Y karena MU nya lebih besar dari MU barang X.
- Barang yang dibeli 3 unit barang X dan 6 unit barang Y.

Contoh 2 :
Ahmad ingin membeli baju yang harga perhelainya Rp 25000. Berapa buah baju yang akan
dikonsumsi ?. Untuk menjawabnya kita harus tahu dahulu nilai baju itu bagi Ahmad yang
diasumsikan setara dengan rupiah.

Tabel 5.1
TU dan MU dari mengkonsumsi baju

Harga baju Jumlah baju Uang yang Total Marginal


Perhelai Yang Harus Utility Utility
(Rp) dikonsumsi dikeluarkan (TU) (MU)

25000 1 25000 50000 50000


25000 2 50000 125000 75000
25000 3 75000 185000 60000
25000 4 100000 225000 40000
25000 5 125000 250000 25000
25000 6 150000 250000 0
25000 7 175000 225000 -25000
25000 8 200000 100000 -125000

Keterangan
- Bagi Ahmad baju pertama TUnya jauh lebih besar dibanding dengan uang yang
dikeluarkan yaitu hanya dengan uang Rp 25000 diperoleh nilai kegunaan 50000 utilitas
marginal.
- Baju kedua memberikan tambahan MU lebih besar dari yang pertama yaitu 75000
utilitas berarti kegunaan total menjadi 125000 utilitas.
- Pada baju ketiga, keempat, kelima, dan seterusnya telah terjadi penurunan manfaat
(marginal utility), tapi total utility sampai baju keenam masih tinggi, sementara untuk
baju ke tujuh dan kedelapan baik total utility dan marginal utility telah menurun.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 34


Perhatikan kurva berikut :

Kurva 5.2
Total utility dan Marginal Utility

Utility
TU = maksimal
250
225
200
175
150
125
100 TU
50

MU=0
1 2 3 4 5 6 7 8 Baju

MU

Contoh 3 :
Barang A dan barang B adalah dua jenis barang yang tersedia. Harga barang A Rp 500 dan
harga barang B Rp 1500. Pendapatan Tuan Budi adalah Rp 9000 perhari (anggaran yang
tersedia). Carilah kombinasi dari jumlah barang A dan barang B yang dapat dibeli Tuan Budi
agar terpenuhi kepuasan maksimum dengan bantuan skedul berikut :

Skedul
Barang X (Qx) 1 2 3 4 5 6 7 8
Marginal utility (MUA) 16 14 12 10 8 6 4 2
Marginal utility (MUB) 11 10 9 8 7 6 5 4

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 35


Jawaban:
Alternatif barang yang dibeli

Barang A Jum Marginal A Jum


Harga B lah Utility B lah MU

Rp A 1 16
30
1500 I B 3 11+10+9=30 B 3
Rp A 1 16
21
1500 II B 3 8+7+6=21 B 3
Rp 1500 A 1 16 A 1
16
III B 3 5+4=9
Rp A 1 14 A 1
14
1500 IV B 3 9
Rp 1500 A 1 12 A 1
12
V B 3 9
Rp 1500 A 1 10 A 1
10
VI B 3 9

Keterangan
- Pada harga barang Rp 1500, barang B diperoleh 3 unit dengan MU = 30, bila dibelikan
pada barang A hanya diperoleh 1 unit.
- Dengan MU sebanyak 30 (11+10+9) dari kedua hal tersebut maka yang dipilih adalah
barang B karena MU nya lebih besar dari MU barang A.
- Barang yang dibeli 6 unit barang B dan 4 unit barang A.

4. Teori Ordinal (Ordinal Theory)

Teori ini menyatakan bahwa tidak perlu secara absolut mengetahui besarnya daya guna
dari suatu barang bagi seseorang, dimana seseorang atau konsumen dengan mengetahui bahwa
konsumen tersebut adalah seseorang yang mampu membuat order, urutan-urutan, rangking,
kombinasi dari barang yang akan dikonsumsikan berdasarkan daya guna yang diterima.Teori
ordinal ini dilihat dari pendekatan dari kurva indiferensi (indifference kurve).
Menurut teori ordinal, kegunaan tidak dapat dihitung hanya dapat dibandingkan,
sebagaimana kita membandingkan kecantikan, kepandaian seseorang. Untuk menjelaskan
pendapat ini teori ordinal menggunakan kurva indiferensi.
Indifference kurva adalah kurva yang menunjukkan berbagai kombinasi konsumsi dan
macam barang yang memberikan tingkat kepuasan yang sama bagi seorang konsumen. Bisa
juga diartikan suatu kurva yang menunjukan kombinasi yang berlainan antara dua barang tapi
memberikan kepuasan yang sama. Dan sekumpulan kurva indiferensi yang disebut peta
indiferensi atau indifference map, dihadapi oleh seorang konsumen.
Setiap orang mempunyai skala atau perbandingan preferensi dimana ia menyusun
barang atau jasa yang dibutuhkannya menurut urutan pentingnya (urgensi) atau in order
importance, skala preferensi disusun terlepas dari harga-harga pasar. Walapun menurut teori
ordinal kegunaan atau kepuasan tidak dapat dihitung, namun untuk keperluan studi (agar
menjadi lebih jelas) tidaklah salah bila kita mengasumsikan bahwa informasi dari kurva
indiferensi dapat diterjemahkan dalam persamaan kuantitatif. Perhatikan gambar berikut :

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 36


Kurva. 5.3
Indifference curve

Y
Misal hanya ada dua barang dipasar yaitu X dan Y,
Y1 A orang akan dapat memperoleh kepuasan yang sama dari
berbagai kombinasi antara jumlah barang X dan barang
Y yang berlainan. Umpama orang akan sama puasnya
Y2 B jika ia memiliki barang Y sebesar 0Y1 dan barang X
sebesar 0x1, maka garis yang menghubungkan titik
C kepuasan yang sama disebut kurva indiferen
(indifference curve)
Y3 IC

0 x1 x2 x3 X

a. Asumsi-Asumsi Kurva Indifferen

a. Semakin jauh kurva indiferen dari titik origin, semakin tinggi tingkat kepuasannya.
Asumsi ini penting agar konsumen dapat membandingkan pilihannya terpenuhi, dan
kumpulan kurva indiferen atau seperangkat indifference curve dengan ketinggian
berlainan disebut indifference map (peta indifferen). Hanya mengatakan bahwa makin
kekanan atas tingkat kepuasan makin tinggi, tapi tidak mengatakan berapa kali lipat, lihat
gambar berikut :
Kurva. 5.3a
Indifference curve

Y
Misalnya ; walaupun IC3 jaraknya terhadap titik
(0,0) adalah 3 kali IC1, tidak berarti kepuasan
yang diberikan IC3 adalah 3 kali lipat IC1, yang
A2 dikatakan adalah IC3 memberikan tingkat
kepuasan lebih besar dari pada IC1, dari peta
A1
dapat dilihat :
A B2
B1 A=B
B IC3 A2 > A1 > A
IC2 B2 > B1 > B
IC1
0 X

b. Indifference curve menurun dari kiri atas kekanan bawah (down ward sloping) dan
cembung ketitik origin (convex to origin). Asumsi menggambarkan adanya kelangkaan,
bila suatu barang makin langka harga makin mahal. Hal ini dijelaskan dalam konsep
marginal rate of substitution (MRS) yaitu berapa banyak suatu barang yang dikorbankan
untuk menambah satu unit barang lain demi menjaga tingkat kepuasan yang sama yang
pada akhirnya akan mengarah pada LDMU.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 37


Kurva. 5.3b
Indifference curve
Awalnya jumlah yang ingin dikorbankan untuk
Y memperoleh tambahan 1 unit X adalah 0Y1 – 0Y2.
Y1 Sehingga besarnya MRSnya adalah - ( 0Y1 -0Y2) atau
(OX1 – OX2). Pada saat ingin menambah 1 unit X lagi
-3 (dari OX2 ke OX3) jumlah yang ingin dikorbankan
menjadi lebih kecil yaitu 0Y2 – 0Y3 sehingga nilai
Y2 1
MRSnya berubah, karena jumlah yang dikorbankan
-2
berubah karena Y yang dikorbankan makin sedikit.
Y3
1
0 X1 X2 X3 X

c. Kurva indiferen (indifference curve) tidak saling berpotongan, asumsi ini penting agar
asumsi transitivitas terpenuhi atau jika ada dua atau lebih indifference curve tidak akan
saling berpotongan satu sama lain

Kurva 5.4.

Y Y

a. Kurva-kurva b. kurva=kurva indifferen yang


Indifference yg berpotongan tidak berpotongan
A
A
B
B IC2 C IC3
C IC2
IC1 IC1
0 X 0 X

Pada gambar a dimana IC1 dan IC2 berpotongan dititik B berarti IC1 = IC2, dititik C
dimana IC2 > IC1, dititik A dimana IC1 > IC2 , keadaan itu tidak sesuai dengan asumsi
transitivitas yang mengatakan bila A > B dan B > C maka A > C. asumsi transitivitas
hanya terpenuhi bila IC1 dan IC2 tidak saling berpotongan yaitu pada gambar b.

Equilibrium consume (keseimbangan konsumen)


Adalah kondisi dimana konsumen telah mengalokasikan seluruh pendapatannya untuk
konsumsi, untuk mencapai tingkat kepuasan tertinggi (maksimalisasi kegunaan) dengan
anggaran paling minimum (minimalisasi biaya). Pada kenyataannya terdapat lebih dari
dua barang yang harus diperhitungkan dalam skala preferensi.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 38


Kurva 5.5

Y Y

a. maksimalisasi b. minimalisasi biaya


Kepuasan

BL3
Y1 E Y1 E
IC3
IC2 IC1
IC1 BL1 BL2
0 X1 BL2 BL1 X 0 X1 X

Secara grafis kondisi keseimbangan tercapai pada saat kurva garis anggaran (tingkat
kemampuan) bersinggungan dengan kurva indifference (tingkat kepuasan)
Gambar a ;
Menggambarkan maksimalisasi kepuasan (satisfaction maximalization), kemampuan yang
dimiliki BL1, maka kepuasan tertinggi diperoleh pada titik E (persinggungan antara BL1
dengan IC2 dengan kombinasi konsumsi adalah OX1 unit barang X dan OY1 unit barang
Y). Kurva IC1 bukan kurva yang memberikan tingkat kepuasan maksimum, karena dapat
dijangkau dengan anggaran yang lebih rendah atau dapat ditutupi oleh BL1, yaitu BL2,
sedangkan kurva IC3 tidak terjangkau oleh kemampuan yang ada.
Gambar b :
Adalah cost minimalization, tingkat kepuasan yang ingin dicapai adalah IC1, yang dapat
dicapai dengan anggaran minimum sebesar BL2 dengan kombinasi konsumsi OX1 unit
barang X dan OY1 unit barang Y. BL1 walaupun lebih rendah dari BL2 bukan biaya
minimum karena tidak dapat menjangkau target IC1, sementara BL3 konsumen dapat
mencapai tingkat kepuasan yang lebih tinggi dari IC1, keseimbangan konsumen berada
pada titik E

b. Reaksi terhadap perubahan harga barang

Keseimbangan yang dicapai dapat berubah karena pendapatan nyata berubah,


pendapatan nyata dapat meningkat atau menurun maka akan berpengaruh kepada tingkat
kepuasan yang meningkat atau menurun, salah satu faktor yang dapat mengubah pendapatan
nyata adalah perubahan harga barang, seperti :
a. Kurva harga produksi (price consumption curve)
Perubahan harga salah satu barang menyebabkan rasio harga berubah, akibatnya barang
yang harganya turun atau naik menjadi relative lebih murah atau mahal dibanding barang
lain. Perubahan ini menyebabkan pendapatan nyata berubah walaupun pendapatan
nominal tak berubah, akhirnya jumlah barang yang dikonsumsi berubah karena tingkat
keseimbangan konsumen juga berubah, perubahan ini dapat digambarkan dalam kurva
price consumption curve. Price consumption curve (PCC) adalah sebagai tempat
kedudukan titik keseimbangan konsumen pada berbagai rasio harga sebagai akibat
perubahan harga suatu barang, dimana pendapatan nominalnya tetap.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 39


Kurva 5.6.
Price consumption curve
Y
Keseimbangan awal terjadi pada titik A
bila harga barang X turun, maka
IC1 IC2 IC3 kemampuan untuk membeli barang X
meningkat dengan jumlah anggaran tetap
PCC (yaitu pergeseran BL2 ke BL3).
Keseimbanganpun berubah dari titik A
ketitik B dan C, jika titik keseimbangan
tersebut dihubungkan maka terbentuk
A B C
sebuah garis yaitu kurva PCC.

BL1 BL2 BL3


0 X1 X2 X3 X

b. Penurunan kurva permintaan (demand curve)


Kurva permintaan ini diturunkan dalam batasan empat asumsi :
- Konsumen membelanjakan semua uangnya sehingga tak ada tabungan
- Konsumen berada dalam keseimbangan
- Pendapatan nominal tidak berubah
- Harga nominal barang lain tidak berubah

Kurva. 5.7
Demand curve
P

P1 Dari gambar diatas dapat disimpulkan bahwa pada


saat harga barang X makin murah ( P3 < P2 < P1).
Permintaan terhadap barang X makin bertambah
P2 (OX3 > OX2 > OX1). Hal ini disesuaikan dengan
kurva permintaan, karena itu dari kurva PCC dapat
diturunkan kurva permintaan (demand curve)
P3

0 X1 X2 X3 X

c. Permintaan individu dan permintaan pasar


Permintaan pasar adalah jumlah permintaan individu-individu yang ada dipasar, misalkan
jumlah konsumen dalam pasar barang X hanya dua yaitu A dan B yang dicerminkan oleh
kurva permintaan Da dan Db, permintaan pasar Dt diperoleh dengan cara menjumlahkan
secara horizontal Da dan Db.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 40


Kurva 5.8
Permintaan individu

P P
P3 P3

P2 B2 P2

B1
P1 P1
A1
Da Db Dt
Po
0 Ao Bo X 0 T2 T1 To X

Penjelasan
- Pada harga Po permintaan barang A sebesar Ao dan permintaan barang B sebesar Bo
sehingga permintaan total adalah Ao + Bo sama dengan To.
- Ketika harga menjadi P1 permintaan A menjadi A1 dan B menjadi B1 sehingga
permintaan total menjadi T1
- Pada harga P2 permintaan A = 0 permintaan barang B adalah B2 permintaan total T2.
- Pada harga P3 permintaan barang A dan B masing-masing sama dengan nol sehingga
permintaan total sama dengan nol.

c. Reaksi terhadap perubahan Pendapatan Nominal

Faktor lain yang dapat mengubah keseimbangan konsumen adalah perubahan


pendapatan nominal, karena rasio harga tidak berubah maka kurva garis anggaran bergeser
sejajar dengan kurva garis anggaran sebelumnya. Seperti ;
a. Kurva pendapatan konsumsi (income consumption curve = ICC)
ICC adalah sebagai tempat kedudukan titik-titik keseimbangan konsumen pada berbagai
tingkat pendapatan nominal dimana harga nominal barang tersebut tidak berubah.
Kemiringan ICC adalah positif, karena umumnya permintaan terhadap suatu barang
meningkat bila pendapatan meningkat (barang normal). Sudut kemiringan ICC dapat
memberikan indikasi apakah suatu barang merupakan barang kebutuhan pokok atau
barang mewah.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 41


Kurva 5.9
Kurva pendapatan konsumsi

barang Y

BL3

- Garis yang menghubungkan titik E, E1, E2


BL2 disebut ICC.
ICC - Dalam hal ini harga tetap, pendapatan konsumen
E2 berubah

E1 IC3
E
IC2
BL1 IC1
0 barang X

b. Kurva Engel (engel curve)


Penemunya Christian Lorenz Ernst Engel (statistian Jerman abad 19). Untuk klarifikasi
lebih jelas dalam mengetahui apakah suatu barang merupakan barang kebutuhan pokok
atau barang mewah dilakukan dengan menggunakan kurva engel (engel curve) yang
mencoba melihat hubungan antara tingkat pendapatan dengan tingkat konsumsi, kurva
engel diturunkan dari ICC.

Kurva. 5.10
Kurva engel

jumlah X a jumlah X b
barang kebutuhan pokok barang mewah
X2 X2
X1

X1

Income income
0 M1 M2 M 0 M1 M2 M

Penjelasan
Kurva a:
Perubahan pendapatan nominal tidak berpengaruh banyak terhadap perubahan permintaan,
bahkan jika pendapatan terus meningkat permintaan terhadap barang tersebut
perubahannya makin kecul dibanding perubahan pendapatan.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 42


Kurva b :
Kenaikan permintaan terhadap barang tersebut lebih besar dibanding dengan kenaikan
tingkat pendapatan. Atau derajat permintaan terhadap barang mewah makin besar.

d. Efek Substitusi dan Efek Pendapatan

Ketika kita mengatakan bahwa jika harga suatu barang turun maka permintaan
terhadap barang tersebut akan bertambah dan meningkat atau sebaliknya, yang terlihat
sebenarnya adalah total interaksi antara kekuatan pengaruh perubahan pendapatan dan
perubahan harga terhadap keseimbangan konsumen, dengan perkataan lain, jika harga suatu
barang turun, maka ada komponen yang dipengaruhinya :
a. Harga relatif barang
Harga relatif barang menjadi murah, bila konsumen bergerak pada tingkat kepuasan yang
sama dan pendapatan nyata dianggap tetap, maka konsumen akan menambah jumlah
konsumsi barang yang harganya menjadi relatif lebih murah dan mengurangi jumlah
konsumsi barang yang harganya menjadi relatif lebih mahal, inilah yang disebut :
substitution effect
b. Pendapatan nyata berubah menyebabkan jumlah permintaan berubah, jika perubahan ini
dilihat dari sisi harga barang lain dan pendapatan nominal dianggap tetap, kita akan melihat
efek pendapatan (income efek).

Kurva 5.11
Substitution effect
Y
Pada mulanya dengan garis harga (garis
budget A dan B) konsumen dapat
A
membeli barang X sebesar OM dan
barang Y sebesar ON dengan titik
equilibrium Q, kemudian terjadi
perubahan dalam harga relatif sehingga
A1 Q Substitution effect garis harga berubah menjadi A1 dan B1
N barang X relatif menjadi lebih murah
dan barang Y relatif menjadi lebih
Q1 mahal, akibatnya konsumen harus
N1 IC mengatur pembelian yakni untuk barang
X pembelian menjadi OM1 dan untuk
barang Y menjadi ON1.
0 M M1 B B1 X

Dan equilibrium yang terjadi pada Q1 terletak pada IC yang sama, pergeseran equilibrium
dari Q ke Q1 disebut substitution effect.
Bila kedua titik equilibrium terletak pada IC yang sama berarti bahwa kenaikan pendapatan
riil yang disebabkan karena turunnya harga barang X, harga cukup untuk mengimbangi
turunnya pendapatan riil sebagai akibat dari naiknya harga barang y atau harga terdapat
compensation variation.
Jika pendapatan tetap, harga barang yang satu tetap dan yang lain berubah, dengan
berubahnya harga salah satu barang tersebut, maka pendapatan riil, dari konsumen juga
berubah sehingga disini terdapat income effect dan substitution effect. Pengaruh dari
perubahan ini disebut price effect.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 43


Price effect terjadi jika terdapat perubahan dalam perbandingan harga relatif antara
kedua barang ( X dan Y ) namun tak terdapat compensation variation dengan pendapatan.
Kurva 5.12 PCC untuk barang X dan PCC untuk barang Y.

Y Y
a A2 b

A
A1
P3
A P2
P3 IC3
P1 P2 IC3 P1 IC2
IC2 IC1
IC1
0 B B1 B2 X 0 B X

Kurva a ; pendapatan tetap, harga barang Y tetap, dan harga barang X berubah. Kurva b ;
pendapatan tetap, harga barang X tetap, sedangkan harga barang Y berubah.
Pada mulanya dengan garis harga A – B, titik equilibrium pada P1 yang terdapat pada IC1,
kemudian terjadi penurunan pada harga barang X, dengan pendapatan yang sama barang
X dapat dibeli sebesar OB1 dan equilibrium pada P2 dan pada IC2. Jika barang X turun lagi
maka jumlah barang X yang dapat dibeli akan berubah lagi menjadi OB2 dengan
equilibrium pada P3 dan pada IC3. Jika semua titik dihubungkan maka terdapatlah kurva
yang disebut price consumption curve (PCC) yang menunjukan price effect yaitu
perubahan dalam konsumsi, jika terdapat perubahan dalam pendapatan riil disebabkan
karena terjadinya perubahan harga dari salah satu barang. Price effect ini dapat juga
dilihat dari kombinasi antara substitution effect dengan income effect.

Kurva 5.13 Kombinasi dalam price effect


Y

A2

A, A3

A1
P
P1 IC2
Q
IC1

0 M M B M B B B X
2 3 1 2 3

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 44


Equilibrium konsumen pertama pada P kemudian jika salah satu barang (barang X)
harganya turun, maka terjadi substitusi dari barang yang harganya relative mahal (barang
Y) kepada barang yang harganya relative lebih murah (barang X) sehingga equilibrium
bergeser dari titik P ke titik Q yang disebut : substitution effect. Namun oleh karena harga
barang X turun terdapat kenaikan pendapatan riil sehingga garis harga (budget) berubah
dan equilibrium bergeser dari titik Q ke titik P1 yang disebut income effect. Pergeseran
equilibrium dari titik P ke titik Q dan titik Q ke titik P1 disebut kombinasi pergeseran
antara substitution effect dengan income effect yang disebut price effect.

e. Barang Inferior dan Barang Giffen.

Efek substitusi selalu mempunyai hubungan berlawanan dengan perubahan harga, jika
harga suatu barang naik, permintaannya menurun dan sebaliknya. Tidak demikian dengan
efek pendapatan, ada dua kemungkinan yang terjadi akibat kenaikan pendapatan nyata
terhadap permintaan :
a. Kenaikan pendapatan nyata menaikan permintaan (efek pendapatan positif) barang
tersebut adalah barang normal.
b. Kenaikan pendapatan nyata menurunkan permintaan (efek pendapatan negatif) barang
tersebut adalah barang inferior dan barang giffen.

Barang inferior
Memberikan gambaran efek pendapatan dari pada barang inferior dimana kenaikan
pendapatan nominal justru menurunkan permintaan terhadap suatu barang atau jasa.

Kurva 5.14
Barang inferior
Y
A1 efek pendapatan
terhadap barang inferior
D

A Y = pendapatan, X = barang/jasa

IC2

IC1
C

0 X2 X1 B B1 X

Penjelasan ;
a. Pada saat pendapatan sebesar A – B jumlah barang yang diminta adalah OX1, tapi saat
pendapatan naik dari A – B ke A1 – B1 justru menurunkan permintaan permintaan
terhadap barang X dari OX1 ke OX2. Bagaimana bila harga barang turun, apakah
permintaan terhadap barang inferior bertambah atau sebaliknya. Permintaan terhadap
barang inferior naik bila harga turun selama efek substitusi lebih besar dari efek
pendapatan atau sebaliknya.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 45


b. Tapi jika efek pendapatan lebih besar, maka turunnya harga barang justru menurunkan
permintaan, sebaliknya naiknya harga barang justru menaikan permintaan. Jadi barang
given adalah barang inferior, tapi tidak semua barang inferior adalah barang giffen.

Barang giffen
Adalah barang yang apabila harganya naik permintaanya justru meningkat atau sebaliknya.
Kasus barang giffen ditentukan pertama kali oleh Robert Giffen ketika meneliti konsumsi
kentang di Irlandia. Kenaikan harga kentang justru meningkatkan permintaan kentang, artinya
barang giffen selain barang inferior juga mempunyai porsi besar dalam pengeluaran
konsumen.

Y
Kenaikan harga barang X meningkatkan permintaan
terhadap barang X dari OX1 ke OX2, dengan total efek
perubahan harga adalah X1X2. Sebenarnya kenaikan
B harga barang X menyebabkan harga relatif lebih
A IC1 murah dimana B3 lebih curam dibanding B1.
Seandainya konsumen harus menyesuaikan tingkat
keseimbangan ditingkat semula IC1 dia akan akan
mengurangi konsumsi X sebanyak X1X3 unit. Ini
C IC2
merupakan efek substitusi. Namun karena efek
pendapatan negatif lebih besar dari efek substitusi
menyebabkan permintaan terhadap barang X
0 X3 X1 X2 B3 B2 B1 X meningkat X1X2 unit.

Pembahasan soal
1. Kegiatan A merupakan kegiatan ekonomi yang memiliki fungsi total benefit (TB) dan
total cost (TC) sebagai berikut :
TB = 50A – 0,0125A2 kegiatan diukur dalam unit
TC = 40A + 0,0125A2 TB dan TC diukur dalam rupiah
Diminta :
a. Tentukan fungsi marginal benefit (MB) marginal cost (MC) dan net benefit (NB)
b. Tentukan tingkat optimum kegiatan A
c. Pada tingkat optimum kegiatan A berapa nilai : total benefit (TB), total cost (TC),
marginal benefit (MB), marginal cost (MC), dan net benefit (NB)

Jawab :
a. Fungsi dari :

NB = TB – TC = (50A – 0,0125A2) – (40A + 0,0125A2)


= 10A – 0,025A2.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 46


Jadi fungsi : MB = 50 – 0,025A
MC = 40 + 0,025A
NB = 10A – 0,025A

b. Tingkat kegiatan A yang optimum memberikan nilai yang maksimum yang dapat
ditentukan dengan derivasi (turunan) terhadap fungsi NB atau menetapkan dimana
MB = MC.
Fungsi NB = 10A – 0,025A2 derivatif pertama A = 200
= 10 – 0,05A = 0 derivatif kedua A = -0,05 < 0
A = 10 / 0,05 tingkat optimum kegiatan A
A = 200 unit adalah 200 unit

= - 0,05

Menetapkan MB = MC
50 – 0,025A = 40 + 0,025A
0,025A + 0,025A = 50 – 40
0,05A = 10
A = 10 / 0,05
A = 200 unit

c. Pada tingkat kegiatan A adalah 200 unit, maka nilai-nilai :

TB = 50A – 0,0125A2
= 50 (200) – 0,0125(200)2
= 9500
TC = 40A + 0,0125A2
= 40(200) + 0,0125(200)2
= 8500
MB = 50 – 0,025A
= 50 – 0,025 (200)
= 45
MC = 40 + 0,025A
= 40 + 0,025(200)
= 45
NB = 10A – 0,025A2
= 10(200) – 0,025(200)2
= 1000
Atau NB = TB - TC
= 9500 – 8500
= 1000

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 47


2. Diketahui fungsi utilitas total (total utility) dari seorang individu sebagai berikut :
TU = 100Q + 150Q2 – 2Q3
Diminta :
a. Tentukan fungsi marginal utility
b. Berapa total utility dan marginal utility pada Q = 5 unit
c. Berapa jumlah yang harus dikonsumsi agar memaksimumkan nilai total utility, berapa
nilai maksimum total utility pada tingkat konsumsi itu.
Jawab :
Fungsi marginal utility
TU = 100Q + 150Q2 – 2Q3

Jika Q = 5
Maka : TU = 100Q + 150Q2 – 2Q3
= 100 (5) + 150 (5)2 – 2(5)3
= 4000
MU = 100 + 300Q – 6Q2
= 100 + 300(5) – 6(5)2
= 1450

TU maksimum tercapai pada saat MU = 0


=0
Dengan rumus abc dapat dicari :

Q1 tidak relevan atau diabaikan


Pada Q = 50 unit
TU = 100Q + 150Q2 – 2Q3
= 100(50) + 150(50)2 – 2(50)3
= 130000
Dengan demikian tingkat konsumsi yang memaksimumkan nilai total utility adalah Q =
50 unit. Nilai maksimum total utility adalah TUq = 50 = 130000,-.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 48


Bagian VI
Konsep Elastisitas

Makin meluasnya penggunaan matematika dalam ilmu ekonomi telah memungkinkan


para ekonom memuaskan rasa ingin tahu tentang hubungan sebab akibat, reaksi antara satu
variabel dengan variabel lain. Analisis ini disebut analisis sensitivitas atau elastisitas. Angka
elastisitas adalah bilangan yang menunjukkan berapa persen satu variabel tak bebas akan
berubah, sebagai reaksi karena satu variabel lain berubah satu persen.

1. Elastisitas permintaan (elasticity demand).

Adalah mengukur perubahan relatif dalam jumlah unit barang yang dibeli sebagai
akibat perubahan salah satu faktor yang mempengaruhinya. Elastisitas permintaan ini dapat
dibedakan sebagai berikut :

a. Elastisitas harga / harga barang itu sendiri (price elasticity of demand)

Elastisitas harga (Ep) adalah mengukur persentase perubahan permintaan terhadap


suatu barang bila harganya berubah satu persen. Permintaan terhadap suatu barang atau jasa
yang sangat dipengaruhi oleh perubahan harga.

Kurva 6.1 Kurva 6.1.1


Permintaan akan permintaan akan
barang mewah bahan pokok

P P

10
8 D
6

4
D

0 2 6 Q 0 2 4 Q

Contoh : permintaan akan Contoh : permintaan akan barang


barang mewah primer (missal beras)

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 49


Elastisitas harga (Ep) dapat ditentukan :

Dimana :
Ep = elastisitas harga
P = tingkat harga semula
Q = jumlah barang yang diminta semula
P = besarnya perubahan tingkat harga
Q = besarnya perubahan jumlag barang yang diminta

Angka elastisitas harga (Ep) bernilai negative, EP = -2 mempunyai arti bila harga barang
naik 1 % permintaan terhadap barang itu turun 2 % faktor lain cateris paribus, begitu
sebaliknya. Semakin besar nilai negatifnya semakin elastic permintaannya sebab
perubahan permintaan jauh lebih besar disbanding perubahan harga, angka EP dapat
disebut dalam nilai absolute Ep = 2 atau Ep = -2

Angka elastisitas harga (Ep) :


1) In Elastis ( EP < 1 )
Perubahan permintaan lebih kecil dari pada perubahan harga.
Contoh :
Kalau harga naik 10 % permintaan hanya turun sebesar 6 %, seperti harga beras di
Indonesia atau permintaan terhadap barang kebutuhan pokok, perubahan harga tidak
terlalu berpengaruh pada jumlah permintaan, jadi barang kebutuhan pokok umumnya in
elastis.
2) Elastis ( Ep > 1 )
Perubahan terhadap harga suatu barang menyebabkan perubahan permintaan yang cuku
besar.
Contoh :
Bila harga turun 10 %, maka permintaan naik menjadi 20 %, seperti barang-barang
mewah (mobil dan lainnya) umumnya elastis.

Kurva 6.2

P
D
elastis
D sempurna
elastis
0 Q

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 50


3) Elastis unitary ( Ep = 1)
Bila harga naik 10 %, maka akan diikuti penurunan pada permintaan sebesar 10 % pula.
4) In Elastis Sempurna ( Ep = 0 )
Berapa pun harga suatu barang, orang/konsumen akan tetap membeli jumlah barang yang
dibutuhkan (misal ; garam, dan lainnya).

Kurva 6.3

P
P E=0
D

In elastis
Sempurna E=∞
makin elastis

Ep = 1

0 Q 0 Q

5) Elastis tak terhingga


Perubahan harga yang sedikit saja, menyebabkan perubahan permintaan tak terhingga
atau tak terbilang besarnya.

Faktor-faktor yang menentukan elastisitas harga :

- Kemungkinan adanya barang pengganti atau barang substitusi.


Makin sulitnya mencari pengganti suatu barang, permintaan akan barang tersebut makin
in elastis, misalnya beras sulit dicari pengganti, semahal apapun harga beras, beras akan
tetap dibeli, tapi bila harga beras turun konsumen tidak lantas memborongnya.
- Kemungkinan adanya barang yang saling berhubungan atau barang komplementer,
misalnya ; kopi dan gula.
- Kemungkinan jumlah pemakai, makin banyak jumlah pemakai dan permintaan akan suatu
barang makin in elastis barang tersebut. Misal ; di Indonesia beras merupakan bahan
pokok sebagai makanan pokok dan hampir semua suku di Indonesia mengkonsumsi beras.
- Imbangan antara pendapatan dan harga barang atau proporsi kenaikan harga terhadap
pendapatan konsumen. Misal ; bila harga garam naik 50 % kenaikan tersebut mungkin
Rp 500 yang merupakan bagian sangat kecil dari pendapatan sebagian besar keluarga.
Bila harga TV naik 5 % dalam nominal sebesar Rp 100.000 dan cukup menyebabkan
sejumlah keluarga menunda pembeliannya.
- Jika pemakaian barang sudah menjadi kebiasaan. Jangka waktu permintaan atas suatu
barang juga mempunyai pengaruh terhadap elastisitas harga, namun tergantung pada
apakah barang durabel atau nondurable (barang tahan lama atau tidak tahan lama).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 51


Elastisitas titik (point elasticity) = Eh

Adalah mengukur tingkat elastisitas pada titik tertentu, konsep ini digunakan bila
perubahan harga yang terjadi sedemikian rupa sehingga mendekati nol.

Kurva 6.4
Kurva permintaan

20 F

18 E

14 C

12 B

10 A

0 10 20 30 40 50 Q

Misalkan ; elastisitas pada titik B (kurva diatas), pada P = 12 dan Q = 40 dengan fungsi
permintaan Qd = a + bP.
Dimana Qd = jumlah barang yang diminta sebagai fungsi dari P atau harga, untuk membuat
Qd = f {P} perlu diketahui dua titik seperti pada gambar diatas missal titik B dan titik C.

Titik B : P = 12, Qd = 40 40 = a + 12 b
Titik C : P = 14, Qd = 30 30 = a + 14 b -
10 = -2b
b = 10 / -2
b = -5
besarnya nilai b = -5 dimasukan dalam persamaan 40 = a + 12b
sehingga : 40 = a + 12 (-5)
40 = a – 60
40 + 60 = a maka nilai adalah a = 100
Dengan demikian fungsi permintaan Qd = 100 – 5P

Elastisitas titik dapat dicari dengan rumus :


adalah turunan (diferensial) pertama dari fungsi permintaan, maka :

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 52


Elastisitas busur (arch elasticity) = Eb

Adalah mengukur tingkat elastisitas permintaan antara dua titik tertentu, yang
rumusnya sedikit berbeda dengan elastisitas titik, yaitu :

Kurva 6.5 Kurva permintaan

P P

20 F

18 E P1 C elastisitas titik

14 C elastisitas busur

12 B P2 B elastisitas titik

10 A D

0 10 20 30 40 50 Q 0 Q2 Q1 Q

Dari kurva diatas : titik B P = 12, Qd = 40


Titik C P = 14, Qd = 30
P = -2 Qd = 10

= - 1,857

Eh > 1 : permintaan elastis, artinya konsumen responsif terhadap perubahan harga atau %
perubahan jumlah yang diminta lebih besar dari % perubahan harga.
Eh = 1 : unitary elastisitas % Q yang diminta sama dengan %  P
Eh < 1 : unitary elasticity % perubahan Q yang diminta lebih kecil dibanding dengan %
perubahan P

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 53


b. Elastisitas silang / harga barang lain (cross elasticity) = Ec

Adalah mengukur persentase perubahan permintaan suatu barang sebagai akibat


perubahan harga barang lain sebesar satu persen.

Nilai Ec mencerminkan hubungan antara barang X dan barang Y. bila Ec > 0, barang
X merupakan substitusi Y. kenaikan harga menyebabkan harga relative X lebih murah,
sehingga permintaan terhadap barang X meningkat.
Misal :
Bila harga ikan naik, maka permintaan terhadap daging ayam meningkat (cateris paribus).
Nilai Ec < 0 menunjukan hubungan X dan Y adalah komplementer. X hanya bisa digunakan
bersama-sama Y. Penambahan atau pengurangan terhadap X, menyebabkan penambahan atau
pengurangan terhadap Y. Kenaikan harga Y menyebabkan permintaan terhadap Y menurun,
yang menyebabkan permintaan terhadap X ikut menurun. Seperti ; bila harga BBM naik, maka
diduga permintaan terhadap mobil akan berkurang.

c. Elastisitas pendapatan (income elasticity) = Ei

Adalah mengukur berapa persen permintaan terhadap suatu barang berubah, bila
pendapatan berubah satu persen.

Umumnya nilai Ei positif, karena kenaikan pendapatan (pendapatan nyata) akan meningkatkan
permintaan, makin besar nilai Ei, elastisitas pendapatan makin besar, bila :
Ei > 0 merupakan barang normal (normal goods)
Ei 0 s/d 1 barang kebutuhan pokok (essential goods)
Ei > 1 merupakan barang mewah (luxurius goods)
Ei < 0 merupakan barang inferior (inferior goods)
Permintaan akan suatu barang dapat menurun pada saat pendapatan nyata meningkat
yang dialami seseorang.

Misal :
Disaat si A berpendapatan Rp 1500.000 per bulan dia pergi ke Sumbar sekali dalam dua
minggu dengan travel, tapi disaat pendapatan si A menjadi Rp 5.000.000 per bulan dia ke
Sumbar sekali dalam dua minggu dengan pesawat.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 54


2. Elastisitas penawaran (elasticity supply) = Es

Elastisitas penawaran adalah angka yang menunjukkan berapa persen jumlah barang
yang ditawarkan berubah, bila harga barang berubah satu persen. Elastisitas penawaran juga
dapat dikaitkan dengan faktor-faktor atau variabel-variabel lain yang dianggap
mempengaruhinya, seperti ; tingkat bunga, tingkat upah, harga bahan baku, dan harga barang
antara lainnya.

Es = atau

Secara grafis tingkat elastisitas penawaran terlihat dari slope kurva penawaran makin datar,
makin elastis penawaran suatu barang.

Kurva. 6.6 Elastistas penawaran

P
Es = 0
Es = 1
makin elastis
Es= ∞

0 Q

Faktor-faktor yang menentukan elastisitas penawaran, meliputi :


a. Jenis produk
Kurva produk pertanian umumnya inelastic, sebab produsen tidak mampu memberikan
respons yang cepat terhadap perubahan harga jika harga beras naik 10 5, petani harus
menanam dahulu dan baru 3 atau 4 bulan kemudian dapat memanen hasil. Sementara
kurva penawaran produk industry umumnya elastis, sebab mampu merespons cepat
terhadap perubahan harga. Bila harga tekstil meningkat, pabrik tekstil akan
memperpanjang jam kerja mesin, menambah pekerja harian atau memberikan kesempatan
lembur.
b. Sifat perubahan biaya produksi.
Selain tergantung pada jenis produknya, elastisitas penawaran dipengaruhi juga oleh sifat
perubahan biaya produksi. Penawaran akan bersifat inelastic bila kenaikan penawaran
hanya dapat dilakukan dengan mengeluarkan biaya yang sangat tinggi. Bila penawaran
dapat ditambah dengan pengeluaran biaya tambahan yang tidak terlalu besar, penawaran
akan bersifat elastis. Apakah biaya produksi akan meningkat dengan cepat atau lambat
apabila produk ditambah, tergantung pada beberapa faktor, antara lain :
- Tingkat penggunaan kapasitas perusahaan. Apabila kapasitasnya telah mencapai
tingkat yang tinggi, investasi baru harus dilakukan untuk menambah produksi, dalam
keadaan ini kurva penawaran akan menjadi inelastic.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 55


- Kemudahan memperoleh faktor-faktor produksi. Penawaran akan menjadi inelastis
apabila faktor-faktor produksi yang diperlukan untuk menaikan produksi sulit
diperoleh.

c. Jangka waktu
Jangka waktu juga dapat mempengaruhi besarnya elastisitas penawaran. Elastisitas yang
berhubungan dengan jangka waktu dibagi dua yaitu ; 1) elastisitas jangka pendek, 2)
elastisitas jangka panjang.
Elastisitas permintaan
- Elastisitas harga
Untuk barang- barang yang habis dipakai dalam waktu kurang dari setahun (non
durabel goods) elastis harga lebih besar dalam jangka panjang dibanding dalam jangka
pendek
a. Konsumen membutuhkan waktu untuk mengubah kebiasaan (seorang yang suka
minum kopi)
b. Permintaan suatu barang dipengaruhi oleh barang lain (kenaikan harga BBM, maka
seseorang segera melakukan penyesuaian dengan mengurangi jam pemakaian
kenderaan sehingga dalam jangka pendek elastisitas harga lebih besar).
Untuk barang yang masa pakainya lebih dari satu tahun (durable goods) dalam jangka
pendek lebih elastis dibading dalam jangka panjang. (missal ; bila harga naik 10 %
dalam jangka pendek permintaan terhadap mobil dapat turun sebesar 15%, tapi dalam
jangka panjang akan banyak terjadi penggantian (replace) dari mobil tersebut, dan
pembelian akan naik lagi, sehingga permintaan dalam jangka panjang akan kurang dari
15 %).

Kurva 6.7
Kurva permintaan dalam jangka pendek
Dan jangka panjang

P P

Permintaan jangka Permintaan jangka


Pendek panjang

Permintaan jangka permintaan jangka


Panjang pendek
Ds DL DL Ds

0 BBM 0 Mobil

- Elastisitas pendapatan
Elastisitas pendapatan berkaitan dengan selera dan kebiasaan seseorang, misalkan
seseorang yang mempunyai kebiasaan makan diwarung kakilima, harus melakukan
penyesuaian untuk bisa makan direstoran hotel. Atau bila pendapatan seseorang naik
20 % dari kondisi semula tidak lantas merubah kebiasaan makan diwarung kaki lima
untuk pindah makan direstoran yang terkenal (bagi barang non durabel).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 56


Untuk barang durabel, bila pendapatan seorang naik 25 %, maka permintaan terhadap
mobil dapat berubah 30 % dalam jangka pendek, tapi dalam jangka panjang perubahan
ini akan menjadi lebih kecil, karena seseorang tidak setiap tahun mengganti mobil.

Pembahasan soal.

1. Pada harga (P1) sebesar Rp 50, jumlah barang yang diminta (Q1) sebesar Rp 70
Pada harga (P2) sebesar Rp 70, jumlah barang yang diminta (Q2) sebesar Rp 40
Diminta :
a. Hitunglah elastisitas permintaan karena perubahan harga tersebut.
b. Apakah permintaan barang tersebut elastis atau in elastis, mengapa ?
c. Buatlah fungsi permintaan barang yang dimaksud.
d. Buatlah tabel permintaan dan kurva permintaan.

Jawab :
a. Elastisitas permintaan
P1 = 50 Q1 = 70 70 = a + 50b
P2 = 70 Q2 = 40 40 = a + 70b -
30 = -20b
b = 30/-20 b = -1,5

E = -2,625 Ed atau Ep < 1 berarti in elastis

b. Permintaan akan barang tersebut adalah in elastis

c. Fungsi permintaan
Qd = a + bP 70 = a + 50b
70 = a + 50 (-1,5)
70 = a – 75
70 + 75 = a
145 = a
Sehingga diketahui nilai a = 145, dan nilai b = -1,5
Maka : Qd = a + bP Qd = 145 – 1,5P

d. Tabel dan kurva permintaan


P1 = 50, Q1 = 70
P2 = 70, Q2 = 40

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 57


P

70

50
D

0 40 70 Q
Disaat Qd = 145 – 1,5P dimana P = 50
= 145 – 1,5 (50)
= 70

Disaat Qd = 145 – 1,5P dimana P = 70


= 145 – 1,5(70)
= 40

2. Diketahui fungsi permintaan : Qd = 20 + 3Px + 2Py + 0,5I


Bila Px = 5, Py = 4, I = 4,
Diminta :
a. Hitung jumlah barang yang diminta
b. Hitung elasitas pendapatan dan elastisitas silang

Jawab :

Jumlah barang yang diminta :


Qd = 20 + 3(5) + 2(4) + 0,5(4)
= 15

Elastisitas pendapatan
Ei = 0,5 ( 4/15)
= 0,13
Ei = 0,13 artinya apabila pendapatan naik sebesar 1 persen, maka jumlah yang diminta
(Qd) akan naik 0,13 persen.

Elastisitas silang
Ec = 2 ( 4/15)
= 0,53
Ec = 0,53 artinya apabila harga barang lain turun 1 persen maka Qd turun 0,53 persen atau
sebaliknya.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 58


Bagian VII
Teori Produksi

5. Pengertian.

Teori produksi atau teori perilaku produsen dengan teori perilaku konsumen memiliki
banyak analogi seperti :

a. Konsumen
- Mengalokasikan kas atau dananya untuk konsumsi
- Keseimbangan konsumen terjadi pada saat seluruh uangnya habis untuk konsumsi
- Dalam mengkonsumsi barang berlaku hukum pertambahan manfaat yang semakin
menurun (the law of diminishing marginal utility= LDMU).
- Berupaya mencapai kepuasan maksimum atau kegunaan total dari barang / jasa yang
dikonsumsi.
b. Produsen
- Mengalokasikan kas atau dananya untuk penggunaan faktor produksi atau yang akan
diproses menjadi output.
- Keseimbangan produsen tercapai pada saat seluruh anggaran habis terpakai untuk
membeli faktor produksi
- Dalam penggunaan faktor produksi berlaku pertambahan hasil yang semakin menurun
(the law of diminishing return = LDR)
- Memiliki pengetahuan yang lengkap (perfect knowledge) atas faktor produksi yang
dibelinya.
- Berupaya mencapai tingkat produksi maksimum

Berdasarkan hubungannya dengan tingkat produksi, faktor produksi dibedakan sebagai


berikut :
a. Faktor produksi tetap (fixed input)
Faktor produksi yang jumlah penggunaannya tidak tergantung pada jumlah produksi.
Misal :
Mesin-mesin pabrik, ada atau tidaknya kegiatan produksi, faktor produksi itu harus tetap
tersedia. Sampai pada tingkat interval produksi tertentu jumlah mesin tak perlu ditambah,
jika produksi menurun bahkan sampai nol jumlah mesin tidak bisa dikurangi.
b. Faktor produksi variabel (variable input)
Jumlah penggunaan faktor produksi variabel tergantung pada tingkat produksi. Misal ;
buruh harian, penggunaan bahan baku.
Pengertian faktor produksi tetap dan faktor produksi variabel terkait erat dengan waktu
yang dibutuhkan untuk menambah atau mengurangi faktor produksi tersebut. Mesin dikatakan
sebagai faktor produksi tetap karena dalam jangka pendek (kurang dari satu tahun) susah
untuk ditambah atau dikurangi. Sebaliknya buruh dikatakan faktor produksi variabel karena
jumlah kebutuhannya dapat disediakan dalam waktu kurang dari satu tahun. Dalam jangka
panjang (long run) dan sangat panjang (very long run) semua faktor produksi sifatnya variabel.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 59


Perusahaan dapat menambah atau mengurangi kapasitas produksi dengan menambah
atau mengurangi mesin produksi. Teori produksi tidak mendefinisikan jangka pendek dan
jangka panjang secara kronologis, periode jangka pendek adalah periode produksi dimana
perusahaan tidak mampu dengan segera melakukan penyesuaian jumlah penggunaan salah
satu atau beberapa faktor produksi, periode jangka panjang adalah periode produksi dimana
semua faktor produksi menjadi faktor produksi variabel.

6. Model produksi dengan satu faktor produksi variabel

Jarang sekali bahkan tidak ada proses produksi yang hanya menggunakan satu faktor
produksi variabel. Pengertian produksi dengan satu faktor produksi variabel adalah pengertian
analisis jangka pendek, dimana ada faktor produksi yang tidak dapat diubah, ketika mencoba
memahami proses produksi dan alokasi faktor produksi oleh perusahaan, ekonom membagi
faktor produksi menjadi barang modal (capital) dan tenaga kerja (labour). Hubungan
matematis penggunaan faktor produksi yang menghasilkan output maksimum disebut ―fungsi
produksi‖, yang ditulis :

Q = f { K, L }

Dimana : Q = tingkat output


K = barang modal
L = tenaga kerja / buruh

Dalam model produksi satu faktor produksi variabel, barang modal dianggap faktor
produksi tetap, keputusan produksi ditentukan berdasarkan alokasi efisiensi tenaga kerja.

a. Produksi total (total product)


Banyaknya produksi yang dihasilkan dari penggunaan total faktor produksi.
TP = f { K, L }

Dimana : TP adalah total produksi


Secara matematis TP akan memaksimumkan apabila turunan pertama dari fungsi nilainya
sama dengan nol. Turunan pertama TP adalah MP, maka TP maksimum pada saat MP sama
dengan nol

b. Produksi marginal (marginal product)


Tambahan produksi karena penambahan penggunaan satu unit faktor produksi.

Atau

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 60


Dimana MP = produksi marginal
MPL = produk marginal dari tenaga kerja

Perusahaan dapat terus menambah tenaga kerja selama MP > 0, jika MP < 0
penambahan tenaga kerja justru mengurangi produksi total. Penurunan nilai MP merupakan
indikasi telah terjadinya hokum pertambahan hasil yang semakin menurun (the law of
diminishing return = LDR).

c. Produksi rata-rata (average product)


Rata-rata output yang dihasilkan perunit faktor produksi.

atau

Dimana : AP adalah produksi rata-rata


APL = produk rata-rata dari tenaga kerja

AP akan maksimum bila turunan pertama fungsi AP adalah 0 (AP’ = 0), dengan penjelasan
matematis AP maksimum tercapai pada saat AP = MP, dan MP akan memotong AP pada
saat nilai AP maksimum.
Contoh :
Hasil tekstil dari alat tenun bukan mesin (ATBM) sebagai berikut :

Tabel 7.1.
TP, MP, dan AP

Mesin Buruh Total Marginal Average


Produksi (TP) Produksi (MP) Produksi (AP)
1 1 5 5 5
1 2 20 15 10
1 3 45 25 15
1 4 80 35 20
1 5 105 25 21
1 6 120 15 20
1 7 126 6 18
1 8 120 -6 15
1 9 108 -12 12
1 10 90 -18 9

Dari tabel dapat dilihat, bahwa table produksi meningkat dari 5 sampai dengan 126
dengan tenaga kerja dari 1 sampai 7 orang. Setelah itu penambahan tenaga kerja justru
membuat produksi total menurun dari 120 menjadi 90 dengan tenaga kerja 8 sampai 10 orang.
Pada MP disaat TP dari 5 sampai 80, MP selalu meningkat tapi disaat TP dari 105 -126-90,
MP semakin menurun bahkan minus. Disini berlaku hokum pertambahan hasil yang semakin
menurun (the law of diminishing return).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 61


Besarnya nilai MP juga berpengaruh terhadap nilai produksi rata-rata, penambahan
satu orang tenaga kerja akan memperbesar nilai AP selama nilai MP > nilai AP (nilai MP ; 5,
15, 25, 35, 25) dan nilai AP ( 5, 10, 15, 20, 21). Nilai AP juga mengalami penurunan akibat
pengaruh penurunan nilai MP, tapi penurunan nilai AP tidak setajam penurunan nilai MP,
sehingga pada saat MP < 0, AP masih mungkin bernilai positif bahkan tak pernah negatif.

Kurva 7.1
Hubungan total produksi, marginal produksi, dan rata-rata produksi

Total produksi

130

120

100 TP

80

60

40

20

AP
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tenaga kerja

MP
-20

7. Model produksi dengan dua faktor produksi variabel

Dalam bagian ini kita melonggarkan asumsi adanya faktor produksi tetap. Baik barang
modal maupun tenaga kerja sekarang bersifat variabel yang harus diingat bahwa pelonggaran
asumsi ini masih tetap terlalu menyederhanakan persoalan. Sebab dalam kenyataan, faktor
produksi variabel yang digunakan dalam proses produksi lebih dari dua macam.
1) Alokasi faktor-faktor produksi lebih dari dua macam faktor produksi secara efisien akan
menggunakan model ekonometrika.
2) Alokasi faktor produksi dua macam faktor produksi cukup menggunakan penjelasan grafis
dan matematis sederhana, dengan kurva isoquant dan isocost.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 62


1). Isokuan (Isoquant)

Isokuan (isoquant) adalah kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi


penggunaan dua macam faktor produksi variabel secara efisien dengan tingkat tehnologi
tertentu, yang menghasilkan tingkat produksi yang sama.

Misal : kasus usaha tekstil tradisional berikut kita perlonggar asumsinya dengan menyatakan
bahwa mesin dapat ditambah.

Tabel. 7.2
Produksi total usaha tekstil
Dua faktor produksi variabel

Tenaga Kerja
Mesin
1 2 3 4 5
1 5 20 45 80 105
2 30 45 105 150 135
3 80 105 150 180 150
4 105 135 180 240 210

Penjelasan :
Dapat dilihat bahwa tingkat produksi 105 bal dapat dicapai dengan beberapa kombinasi faktor
produksi yaitu :
- 1 mesin dengan 5 tenaga kerja
- 2 mesin dengan 3 tenaga kerja
- 3 mesin dengan 2 tenaga kerja
- 4 mesin dengan 1 tenaga kerja

Sifat-sifat isokuan :
a. Turun miring kearah kanan
b. Cekung terhadap titik 0
c. Dua isokuan tidak berpotongan
d. Isokuan yang lebih tinggi menggambarkan output yang lebih tinggi
e. Susunan isokuan disebut isokuan map
f. Kemiringan isokuan menunjukan marginal rate of technical substitution (MRTS) atau
laju substitusi marginal secara tehnis yaitu kemiringan (slope) kurva isokuan.

Pada tabel berikut terlihat bahwa antara K (barang modal, mesin), dan L (labour,
tenaga kerja) dapat dikombinasikan untuk mendapatkan output yang sama, sebagai berikut :

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 63


Tabel 7.3
Dua faktor produksi

Kapital OUTPUT ( Q )
(K)
6 10 24 31 36 40 18
5 12 28 36 40 18 40
4 12 28 36 18 40 36
3 10 23 18 36 36 33
2 7 18 28 30 30 28
1 3 8 12 14 14 12
1 2 3 4 5 6
Tenaga Kerja ( L )

Misalkan untuk Q = 12
Kombinasi antara K dan L yang mungkin adalah :
K = 5 dan L = 1 atau K = 4 dan L = 1 atau K = 1 dan L = 6
Q = 28
Kombinasi antar K dan L yang mungkin adalah :
K = 5 dan L = 2 atau K = 4 dan L = 2
K = 2 dan L = 3 atau K = 2 dan L = 6
Q = 18
Kombinasi antara K dan L yang mungkin adalah :
K = 2 dan L = 2, K = 3 dan L = 3, K = 4 dan L = 4, K = 5 dan L = 5
K = 6 dan L = 6

Dengan kesimpulan kemungkinan yang terjadi dalam kombinasi produksi adalah :


Q = 12 adalah 3 kombinasi
Q = 28 adalah 4 kombinasi
Q = 18 adalah 5 kombinasi

Berbagai kombinasi L dan K digambarkan pada suatu kurva yang disebut kurva
isokuan sebagai berikut :

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 64


Kurva . 7.2 Kurva Isokuan

5
B C
4 Q=3
Q = 28
2 D
Q = 12
1 A

0
1 2 3 4 5 6
Keterangan :
- Q = 12 dan Q = 28 merupakan kurva isokuan
- Titik A, B adalah titik yang terletak pada isokuan Q = 12 pada titik A kombinasi
antara K dan L adalah 3 K dan 3L

Kurva 7.3
Kurva Isokuan
Mesin

1
Isokuan = 105 bal

0 1 2 3 4 5 tenaga kerja

Asumsi isokuan :
a. Konveksitas (convexity)
Asumsi konveksitas analogi dengan asumsi pada pembahasan perilaku konsumen, yaitu
kurva indiferensi yang menurun dari kiri atas kekanan bawah (down ward sloping).
Produsen dapat melakukan berbagai kombinasi penggunaan dua macam faktor produksi
untuk menjaga agar tingkat peroduksi tetap.
Kesediaan produsen untuk mengorbankan faktor produksi yang satu demi menambah
penggunaan faktor produksi yang lain untuk menjaga tingkat produksi pada isokuan yang
sama disebut derajat tehnik substitusi faktor produksi (marginal rate of technical
substitution (MRTS).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 65


MRTSLK adalah bilangan yang menunjukan berapa unit faktor produksi L harus
dikorbankan untuk menambah 1 unit faktor produksi K pada tingkat produksi yang sama.
Jika L adalah tenaga kerja dan K adalah barang modal (mesin), maka : MTRS LK adalah
berapa unit tenaga kerja yang harus dikorbankan untuk menambah 1 unit mesin, demi
menjaga produksi pada tingkat yang sama.

Kurva 7.4
Kurva MRTS

Y = Barang modal

Isokuan

0 X= tenaga kerja

Jika produsen ingin mengubah kombinasi faktor produksi dari titik A ke titik B maka
tambahan output karena menambah 1 unit L adalah sama dengan produksi marginal L (MPL)
dikali dengan perubahan L atau (MPL . L). Pengurangan output karena pengurangan faktor
produksi K adalah sama dengan produksi marginal K (MPK) dikali perubahan K atau (MPK .
K). karena bergerak pada isokuan yang sama, maka pertambahan output sama dengan nol

(MPL . L + MPK . K = 0 )
(MPL . L) + (MPK . K) = 0
MPL . L = MPK . K

b. Penurunan nilai MRTS ( Diminishing of MRTS)


Sama halnya dengan konsumen, produsen menganggap makin mahal faktor produksi yang
semakin langka, itulah sebabnya mengapa nilai MRTSLK makin menurun, dalam kasus-
kasus tertentu nilai MRTS akan konstan atau nol. MRTS konstan bila kedua faktor
produksi bersifat substitusi sempurna (perfect substitution). MRTS adalah nol bila kedua
faktor produksi mempunyai hubungan proporsional tetap (fixed proportion production
function).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 66


Kurva 7.5
Kurva MRTS

Mesin (a) Mesin (b)

A
C Q3

B M2 B Q2

M1 A Q1
C
Q1 Q2 Q3

0 tenaga kerja 0 K1 K2 tenaga kerja

Kurva (a); MRTS konstan bila kedua faktor produksi bersifat substitusi sempurna (perfect
substitution)
Kurva (b); MRTS adalah nol bila kedua faktor produksi mempunyai hubungan proporsional
tetap (fixed proportion production function).

c. Hukum pertambahan hasil yang semakin menurun (the law of diminishing return)
d. Daerah produksi yang ekonomis (relevance range of production)

2). Perubahan output karena perubahan skala penggunaan produksi (return to scale).

Adalah konsep yang ingin menjelaskan seberapa besar output berubah bila jumlah
faktor produksi dilipatgandakan (doubling).
a. Skala hasil menaik (increasing return to scale = IRS)
Jika penambahan faktor produksi sebanyak 1 unit menyebabkan output meningkat lebih
dari satu unit, fungsi produksi memiliki karakter skala hasil menaik.
b. Skala hasil konstan (constant return to scale = CRS)
Jika pelipat gandaan faktor produksi menambah output sebanyak dua kali lipat juga, fungsi
produksi memiliki karakter skala hasil konstan.
c. Jika penambahan satu unit faktor produksi menyebabkan output bertambah kurang dari satu
unit, fungsi produksi memiliki karakter skala hasil menurun (decreasing return to scale =
DRS).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 67


Kurva 7.6 Kurva IRS

Mesin bila mesin dan tenaga kerja dinaikan


dari K1 ke K2 atau L1 ke L2 maka Q
D meningkat lebih dua kali lipat
C Q600
K3
K2 B Q250
A Q115
K1
Q50

0 L1 L2 L3 Tenaga Kerja

Kurva 7.7
Kurva CRS
Mesin bila mesin dan tenaga kerja dinaikan
dari K1 ke K2 atau L1 ke L2 maka Q
D naik konstan
C Q90
K3
K2 B Q80
A Q70
K1
Q60

0 L1 L2 L3 Tenaga Kerja

Kurva 7.8
Kurva DRS
Mesin bila mesin dan tenaga kerja dinaikan
dari K1 ke K2 atau L1 ke L2 maka Q
D meningkat kurang dari satu
C Q75
K3
K2 B Q85
A Q95
K1
Q100

0 L1 L2 L3 Tenaga Kerja

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 68


3). Kurva anggaran produksi (isocost)

Kurva anggaran produksi adalah kurva yang menggambarkan berbagai kombinasi


penggunaan dua macam faktor produksi yang memerlukan biaya yang sama. Jika harga faktor
produksi tenaga kerja adalah upah (w) dan harga faktor produksi barang modal adalah sewa (r)
maka kurva isocost (I) adalah :

I = rK + wL

Sudut kemiringan kurva isocost adalah rasio harga kedua faktor produksi, jika terjadi
perubahan harga faktor produksi, kurva I berotasi. Jika yang berubah adalah kemampuan
anggaran, kurva isocost bergeser sejajar

Kurva 7.9
Kurva Isocost

Mesin Mesin
(a) (b)

I1 I2 I3 I1 I2 I3
0 Naker 0 Naker

Kurva (a) ; jika terjadi perubahan harga faktor produksi, kurva I berotasi, kurva (b) ; jika yang
berubah adalah kemampuan anggaran, maka kurva isocost bergeser sejajar.

8. Perkembangan tehnologi

Kemajuan tehnologi memungkinkan peningkatan efisiensi penggunaan faktor


produksi, tingkat produksi yang sama dapat dicapai dengan penggunaan faktor produksi yang
lebih sedikit. Seorang ekonom bernama Hicks mengklasifikasikan kemajuan tehnologi
berdasarkan pengaruhnya terhadap kombinasi penggunaan faktor produksi yaitu ;
a. Tehnologi padat modal (capital using / capital intensive)
Dimana kemajuan tehnologi mengakibatkan porsi penggunaan barang modal menjadi
lebih besar dibanding tenaga kerja
b. Tehnologi padat karya (labour using / labour intensive)
Dimana penggunaan porsi tenaga kerja lebih besar dibanding penggunaan barang modal.
c. Tehnologi netral (neutral technologi)
Tidak terjadi perubahan porsi atau ratio faktor produksi tetap

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 69


Kurva 7.10
Kemajuan tehnologi

Mesin tingkat produksi pada Q90 pada periode


pertama dapat dicapai dengan
penggunaan faktor produksi
yang lebih sedikit yaitu Q90
pada periode kedua

Q90 ( periode I)

Q90 (periode II)


0 Naker

Perubahan-perubahan itu dapat dilihat dari angka MRTS yang tercermin dari
perubahan sudut kemiringan isokuan.

Kurva 7.11
Tipe kemajuan tehnologi

Mesin Mesin Mesin

0 Naker 0 Naker 0 Naker


Padat modal Netral Padat karya

porsi penggunaan barang modal porsi penggunaan barang modal porsi penggunaan tenaga kerja
(mesin) makin besar (mesin) tetap makin besar

Tehnologi harus melewati tiga tahap sebelum dapat mempengaruhi efisiensi, yaitu :
a. Penemuan (invention), riset-riset ilmu pengetahuan bertujuan menemukan tehnologi-
tehnologi baru untuk proses produksi.
b. Hasil penemuan tidak ada artinya bila para produsen tidak berani mengaplikasikannya
dengan melakukan inovasi (innovation), keberhasilan inovasi akan mengundang makin
banyak pengusaha yang mau melakukannya.
c. Penerapan aplikasi dan inovasi terjadilah penyebaran inovasi (spread of innovation)
yang menyebabkan tingkat penerimaan terhadap inovasi (adopting innovation)
mendekati 100 %.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 70


Kurva 7.12
Penyebaran inovasi

% penerimaan inovasi
oleh perusahaan

0 Waktu

Pembahasan soal :
1. Sebuah perusahaan mebel berproduksi dalam jangka pendek dengan jumlah peralatan
(mesin) tetap. Manajer perusahaan mengamati, bila jumlah tenaga kerja ditingkatkan
secara bertahap dari 1 sampai 7 orang, jumlah output yang dihasilkan adalah ; 10, 17, 22,
25, 26, 25, 23.
a. Hitunglah produksi rata-rata dan produksi marginal
b. Apakah perusahaan mebel ini mengalami hukum pertambahan hasil semakin menurun
(the law diminishin return) ?.
c. Jika ya, jelaskan faktor penyebabnya
d. Gambarkan kurva Total Product (TP), Marginal Product (MP), Average Product (AP).

Jawab :
a) Rata-rata produksi dan produksi marginal.

Tenaga Produksi Produksi Produksi


kerja total marginal Rata-rata
0 0 0 0
1 10 10 10
2 17 7 8,5
3 22 5 7,3
4 25 3 6,25
5 26 1 5,2
6 25 -1 4,16
7 23 -2 3,3

b) Jika dilihat dari perubahan nilai produksi marginal yang terus menurun bahkan
mencapai negatif pada saat penggunaan tenaga kerja 6 orang, dapat disimpulkan
dalam proses produksi perusahaan berlangsung hukum pertambahan hasil yang makin
menurun, akibat hukum ini, produksi rata-rata juga menurun.
c) Penyebab berlangsungnya hukum LDR adalah adanya faktor produksi tetap, yaitu
peralatan (mesin). Penambahan tenaga kerja pada akhirnya menyebabkan inefisiensi,
karena rasio antara mesin dan tenaga kerja tidak ideal lagi.
d) Kurva TP, MP, AP

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 71


TP, MP, AP

30

25 TP

20

15

10

5 AP

0 1 2 3 4 5 6 7 Naker
MP

2. Sebuah perekonomian memiliki angkatan kerja sebanyak 10 juta jiwa. Besarnya output
perekonomian (produk domestic bruto = PDB) ditentukan oleh jumlah angkatan kerja
yang memperoleh kesempatan kerja ; X = 15L2 – L3, dimana X adalah PDB dalam triliun
rupiah dan L adalah jumlah tenaga kerja yang bekerja (kesempatan kerja, dalam juta
jiwa). Dalam kampanye Pemilu, seorang pimpinan partai menjanjikan program
ketenagakerjaan yang dapat mencapai tiga tujuan sekaligus :
a. Kemakmuran bersama mencapai tingkat tertinggi (PDB maksimum)
b. Produktivitas tenaga kerja maksimum (APL maksimum)
c. Upah tenaga kerja diukur dari produksi marginal juga maksimum (MPL maksimum).
Bagaimana pendapat anda.

Jawab :
a. Jika tuntutan produktivitas yang menjadi tujuan, maka kesempatan kerja ditutup pada
saat APL (produktivitas rata-rata tenaga kerja) maksimum.
X = 15L2 – L3

( )
=

( }
=

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 72


= (30 – 3L) – (15- L) = 0
= 15 – 2L = 0 L = 7,5

Pada saat L = 7,5


APL = 15L – L2
= 15(7,5) – (7,5)2
= Rp 56,25 juta pertahun
Jumlah kesempatan kerja hanya 7,5 juta jiwa, yang berarti ada pengangguran
sebanyak 2,5 juta jiwa atau 25 %.
b. Jika tujuan yang ingin dicapai adalah kemakmuran diukur dari nilai PDB maksimum,
kesempatan kerja distop pada saat produktivitas marginal tenaga kerja (MPL) = 0

= 30L – 3L2 = 0
= (30 – 3L)L = 0
L1 = 0
L2 = 10 (setelah dicek dengan matematis X/L2 < 0),
Jadi, jika tujuan yang ingin dicapai adalah kemakmuran, kesempatan kerja terbuka
untuk 10 juta orang. Dengan demikian tidak ada angkatan kerja yang menganggur.
Tetapi produktivitas bukan yang tertinggi, dimana APL pada saat itu hanya Rp 50 juta
pertahun.
c. Jika tujuannya adalah kesejahteraan individu, dimana upah per tenaga kerja
maksimum, kesempatan kerja ditutup pada saat ;

Upah per tenaga kerja maksimum tercapai bila kesempatan kerja tersedia untuk 5 juta
jita, yang berarti ada pengangguran sebanyak 5 juta jiwa (50%). Hasil perhitungan-
perhitungan diatas dapat dibandingkan dalam bentuk tabel dibawah ini ;

Pilihan Kesempatan Pengangguran PDB


( choise) Kerja (juta jiwa) (%) Rp. Triliun)

PDB maksimum 10 0 500


Upah maksimum 5 50 250
Produktivitas rata-
rata maksumum 7,5 25 421,875

Ternyata ketiga tujuan yang disampaikan pimpinan partai tersebut tidak dapat tercapai
sekaligus. Antara satu tujuan dengan tujuan yang lain, saling mengorbankan (trade
off). Secara ekonomi, janji pimpinan partai tersebut kurang dapat dipertanggung
jawabkan.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 73


Bagian VIII
Teori Biaya Produksi

1. Pengertian

Produksi berbicara tentang nilai fisik penggunaan faktor produksi, sedangkan biaya
mengukurnya dengan nilai uang. Sesuatu yang efisien secara tehnis belum tentu secara
financial dan ekonomi menguntungkan. Dalam pembahasan ini asumsi-asumsi yang
digunakan adalah :
a. Perusahaan bergerak dipasar persaingan sempurna. Harga output ditentukan oleh pasar dan
berapapun yang diproduksi akan terjual habis. Perusahaan tidak perlu merencanakan
strategi penjualan, yang harus dipikirkan adalah menentukan tingkat output agar biaya
produksi perunit dapat diminimumkan.
b. Faktor produksi atau input yang digunakan adalah barang modal dan tenaga kerja. Dalam
jangka pendek hanya tenaga kerja yang bersifat variabel.

2. Konsep Biaya

Telah diuraikan bahwa pengertian biaya dalam ilmu ekonomi adalah biaya
kesempatan, konsep ini tetap dipakai dalam analisis teori biaya produksi, berkaitan dengan
konsep tersebut, dikenal dengan biaya eksplisit (explicit cost) dan biaya implisit (implicit
cost).
Biaya eksplisit adalah biaya-biaya yang secara eksplisit terlihat, terutama melalui
laporan keuangan ( biaya listrik, telepon, air, upah buruh, atau gaji karyawan). Dan biaya
implisit adalah biaya-biaya kesempatan (opportunity cost).

- Biaya / upah tenaga kerja (w)


Biaya tenaga kerja adalah biaya yang harus dikeluarkan untuk menggunakan tenaga kerja
perorang, persatuan waktu.
Harga tenaga kerja adalah upahnya, bagi ekonomi upah pekerja adalah biaya eksplisit
dengan asumsi upah yang dibayarkan adalah sama besar dengan upah yang diterima oleh
tenaga kerja bila bekerja ditempat lain, asumsi ini terpenuhi dipasar tenaga kerja persaingan
sempurna.
- Biaya barang modal ( r )
Seorang akuntan menggunakan konsep biaya historis, itu sebabnya dalam laporan
akuntansi, nilai barang modal harus disusutkan (depreciation cost). Ekonomi melihat biaya
barang modal sebagai biaya implisit, biaya penggunaan barang modal bukanlah berapa
besar uang yang harus dikeluarkan untuk menggunakannya, melainkan berapa besar
pendapatan yang diperoleh bila mesin disewakan kepada perusahaan lain.
- Biaya kewirausahawanan
Wirausaha (pengusaha) adalah orang yang mengkombinasikan berbagai faktor produksi
untuk ditransformasi menjadi output berupa barang atau jasa, yang harus menanggung
resiko atas kegagalan, dan balas jasa berupa laba atas keberanian menanggung resiko.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 74


3. Biaya produksi jangka pendek

Biaya-biaya dalam proses produksi berlangsung dapat dikelompokan dalam tiga jenis
biaya yang dikeluarkan yaitu :
a. Biaya total (total cost = TC)
Adalah total dari biaya tetap ditambah dengan total biaya variabel.
b. Biaya tetap (total fixed cost = TFC)
Adalah biaya yang dikeluarkan besarnya tidak tergantung pada jumlah produksi (output,
kuantitas/jumlah = Q ) yang dihasilkan (seperti ; biaya barang modal, gaji pegawai, bunga
pinjaman, sewa, listrik, air, telepon), atau pada kondisi ini terjadi Q = 0 dan FC = 1.
c. Biaya variabel (total variable cost = TVC)
Adalah biaya yang besarnya tergantung pada tingkat produksi (seperti ; biaya bahan baku,
upah tenaga kerja langsung.
Maka ketiga biaya ini dalam formula dapat ditulis :

TC = TFC + TVC

Kurva ongkos (biaya) adalah kurva yang menunjukan hubungan antara jumlah ongkos
produksi yang dikeluarkan produsen (vertical) dan tingkat output yang dihasilkan
(horizontal)

Kurva 8.1. hubungan biaya

Cost

TC

VC

TC
FC
FC VC

0 Q

d. Biaya tetap rata-rata (average fixef cost =AFC)


Biaya tetap rata-rata adalah biaya tetap yang dibebankan pada setiap unit output yang
dihasilkan, dan ditulis :
e. Biaya variabel rata-rata (average variabel cost =AVC)
Biaya variabel rata-rata adalah semua biaya yang dibebankan pada setiap unit output selain
biaya tetap, dan ditulis :

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 75


f. Biaya total rata-rata (average total cost = ATC)
Biaya total rata-rata adalah biaya produksi dari setiap unit produksi (output) yang
dihasilkan, dan ditulis :
Atau Average cost (AC)
atau AC = AFC + AVC

g. Marginal cost (MC)


Biaya marginal adalah kenaikan dari total biaya (total cost) yang diakibatkan oleh
produksinya bertambah satu unit output, dan arena tambahan produksi 1 unit output tidak
menambah atau mengurangi TFC, sedangkan TC = TFC + TVC, maka kenaikan TC ini
sama dengan kenaikan TVC yang diakibatkan oleh produksi 1 unit output tambahan, dan
dapat ditulis :

4. Penerimaan (revenue).

Adalah penerimaan produsen atau perusahaan dari hasil penjualannya outputnya dalam
periode tertentu. Ada beberapa konsep penerimaan yang penting untuk dianalisa perilaku
produsen.
a. Total revenue (TR)
Adalah penerimaan total dari hasil penjualan atau output perusahaan dalam periode
tertentu, dan ditulis : TR = Q x PQ ( dimana Q adalah unit yang diproduksi, dan PQ adalah
harga jual per unit)
b. Average revenue (AR)
Adalah penerimaan perunit output yang dijual, dan ditulis :

Jadi AR tidak lain adalah harga output perunit (PQ)


c. Marginal revenue (MR)
Adalah kenaikan dari TR yang disebabkan oleh penjualan tambahan 1 unit output.

Didalam menganalisa keseimbangan perusahaan kita selalu berhadapan dengan biaya-


biaya produksi dan penerimaan dari penjualan atas barang-barang yang dihasilkan, sekarang
kita melihat bagaimana kurva penawaran dari suatu barang terbentuk dan interaksi antara
permintaan dengan penawaran tersebut. Untuk dapat membentuk suatu kurva penawaran maka
haruslah diketahui keseimbangan dari masing-masing unit produksi yaitu perusahaan.
Dalam membahas keseimbangan perusahaan kita harus membuat beberapa asumsi atau
ancangan yaitu :
a. Setiap perusahaan akan selalu bertindak rasional yang didalam analisis perusahaan berarti
berusaha untuk mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya atau profit maximization.
b. Pengusaha akan selalu berusaha untuk menekan biaya produksi dalam bentuk uang
(money cost of production) menjadi serendah-rendahnya.
c. Setiap produsen hanya menghasilkan satu macam barang dan harga dari faktor-faktor
produksi sudah tertentu, serta semua unit dari faktor produksi sama efisiensinya dan
penawarannya elastis tak terhingga.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 76


Berdasarkan asumsi tersebut maka didalam membahas keseimbangan perusahaan dapat
dikemukakan dua hal yaitu : 1) Biaya produksi yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan
barang-barang, 2) Penerimaan yang diperoleh dari penjualan hasil produksi tersebut. Untuk
lebih jelas maka hal ini dapat dilihat dengan dua kurva, yaitu :
a. Kurva biaya total yang menunjukan biaya total dari berbagai tingkat produksi yang
dihasilkan.
b. Kurva penerimaan total yang menunjukan total penerimaan dari hasil penjualan produksi
pada berbagai tingkat produksi.

Kurva 8.2. hubungan biaya dan penerimaan

TC TR
TC
y
TR

N
A

M
0 M Q

Dari kurva dapat diketahui bahwa keuntungan perusahaan adalah selisih antara TR dikurang
TC yang merupakan sebagai jarak vertikal antara kedua kurva tersebut. Dengan demikian
keuntungan maksimum adalah jarak terjauh dari total revenue (TR) dikurang total cost (TC)
tersebut sebesar AB dengan jumlah produksi sebesar OM dan total revenue sebesar MA
sedang TC = MB.
Jarak tertinggi ini terdapat pada kemiringan (slope) dari kedua kurva tersebut adalah sama.
Slope dari kurva TR menunjukan penerimaan marginal revenue pada tingkat produksi dan
slope dari TC adalah menunjukan biaya marginal dari produksi tersebut. Pada tingkat produksi
OM garis singgung xy sejajar dengan garis singgung MN yang berarti slope dari kurva
tersebut adalah sama sehingga dalam hal ini MR sama dengan MC.

5. Biaya marginal (marginal cost = MC).

Seperti yang telah diuraikan diatas marginal cost adalah tambahan biaya produksi
untuk unit terakhir dari hasil produksi perusahaan. Dalam hal biaya ini kita dapat melihat dan
menghitung mengenai biaya rata-rata (average) atau AC, MC, TC, dimana TC = FC + VC,
semakin besar jumlah produksi maka besar pula jumlah VC sedang FC adalah tetap, walaupun
berapa jumlah produksi yang akan dihasilkan.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 77


dan MC = TCn – TC (n-1)

Untuk menghitung laba maksimum adalah TR – TC dengan perhitungan MR = MC atau dapat


ditulis ;  = TR – TC dimana  keuntungan yang diperoleh. Lihat tabel berikut :

Tabel. 8.1; Q, TC, MC, AC


Jumlah (Q) Total cost Marginal cost Average cost
(TC) (MC) (AC)
1 140 - 140
2 170 30 85
3 186 16 62
4 196 10 49
5 205 9 41
6 210 5 35
7 245 35 35
8 320 75 40
9 405 85 45
10 510 105 51

Untuk lebih jelasnya gambar berikut ini memperkirakan dan memperlihatkan adanya
hubungan antara AC dengan MC dimana keduanya sama mempunyai kurva yang berbentuk U
yang artinya mula-mula menurun kemudian naik kembali.

Kurva 8.3 ; MC, AC MC


cost

AC

P Q

M N

0 Q Q
Jika AC mulai naik maka MC lebih tinggi dari AC sehingga dari hubungan ini terlihat
bahwa MC selalu memotong AC pada titik terendah. Maksimum profit akan diperoleh pada
titik potong MC dan AC tersebut dimana total revenue kurang TC adalah sisa maksimum yang
tergambar QP dan MN. Sebaliknya jika MR lebih kecil dari MC akan terjadi kerugian, bila
harga pasar dari suatu produksi lebih kecil dari AC maka perusahaan juga akan menderita
rugi. Dalam jangka panjang setiap perusahaan akan berupaya agar kerugian yang dideritanya
adalah seminimum mungkin, sedang dalam jangka pendek sebaliknya dilakukan pembatasan
hasil produksi atau output sedemikian rupa sampai TR berada diatas total variabel cost (TVC).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 78


Pembahasan soal.

Sebuah perusahaan ―XYZ‖ memberikan data-data ; naker, unit produksi, biaya tetap, dan
biaya variabel.

Naker Q TFC TVC TC AFC AVC ATC MC MC

1 1 50000 50000 ………. ……… ………. ………. ……….. ………..


2 3 50000 100000 ………. ……… ……… ……… ……… ………
3 6 50000 150000 ………. ……… ……… ……… ……… ………
4 10 50000 200000 ………. ……… ……… ……… ……… ………
5 15 50000 250000 ………. ……… ……… ……… ……… ………
6 19 50000 300000 ………. ……… ……… ……… ……… ………
7 22 50000 350000 ………. ……… ……… ……… ……… ………
8 24 50000 400000 ………. ……… ……… ……… ……… ………
9 30 50000 450000 ………. ……… ……… ……… ……… ………

Berdasarkan data pada tabel diatas, hitunglah ; TC, AFC, AVC, ATC, MC

MC = MC =
TC = AFC = AVC = ATC =
Naker Q TFC TVC
TFC+TVC TFC /Q TVC / Q TC/Q

1 1 50000 50000 100000 50000 50000 100000 - -


2 3 50000 100000 150000 16666,6 33333,3 50000 25000 25000
3 6 50000 150000 200000 8333,3 25000 33333,3 16666,6 16666,6
4 10 50000 200000 250000 5000 20000 25000 12500 12500
5 15 50000 250000 300000 3333,3 16666,6 20000 10000 10000
6 19 50000 300000 350000 2631,7 15789,4 18421,05 12500 12500
7 22 50000 350000 400000 2272,7 15909,09 18181,8 1666,6 1666,6
8 24 50000 400000 450000 2083,3 16666,6 18750 25000 25000
9 30 50000 450000 500000 1666,6 15000 16666,6 8333,3 8333,3

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 79


Bagian IX
Teori Profit Maksimum

Profit atau laba adalah kompensasi atas resiko yang ditanggung oleh perusahaan,
makin besar resiko, laba yang diperoleh harus semakin besar. Laba atau keuntungan adalah
nilai penerimaan total perusahaan dikurangi biaya total yang dikeluarkan oleh perusahaan,
yang dapat dinotasikan sebagai berikut :

 = TR - TC

Dimana :  adalah laba atau keuntungan, TR = total revenue (total penerimaan), TC = total
cost (total biaya)

TR = P x Q TC = TFC + TVC

Dimana ; P adalah harga perunit, Q adalah jumlah unit yang diproduksi atau output yang
diproduksi, TFC = total fixed cost adalah total biaya tetap, TVC = total variable cost adalah
total biaya variabel.

Perusahaan memperoleh laba bila :

TR > TC Atau  : positif atau ( > 0

Perusahaan menderita rugi bila :

TR < TC Atau  : negatif atau ( < 0

Perusahaan pulang pokok bila :

TR = TC Atau =0

Bagaimana menghitung laba maksimum ?, ada tiga pendekatan penghitungan laba


maksimum yaitu :
a. Pendekatan totalitas (totality approach)
Adalah membandingkan pendapatan total (TR) dengan biaya total (TC), dimana TR adalah
unit output yang terjual dikalikan harga output perunit. Dalam pendekatan totalitas biaya
variabel perunit output dianggap konstan, sehingga biaya variabel adalah jumlah unit
output (Q) dikali biaya variabel perunit, jika biaya variabel perunit adalah V, maka VC =
V x Q dengan demikian ;
 = TR – TC  = P x Q – ( FC – V.Q)

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 80


Kurva 9.1 TR dan TC

Rp
TR = P.Q
TC = FC + VC

Tr =TC BEP

VC = V.Q

FC

0 Q* Q
*
Q jumlah unit yang harus diproduksi atau dijual untuk mencapai titik impas. Cara
menghitungnya adalah Q dapat diturunkan dari persamaan :

 = P x Q* - (FC – V.Q*) titik impas tercapai pada saat  = 0


0 = P.Q – FC – V.Q
= P.Q – V.Q – FC
= (P – V).Q – FC maka
Dengan demikian P adalah harga jual perunit dan V adalah biaya produksi perunit.

Soal :
Si A melihat pasar potensial terhadap jajanan anak murid SD yang menimbulkan
permintaan potensial jajanan anak sebanyak 1000 orang perhari. Untuk mewujudkan
impiannya si A terjun dalam bisnis pembuatan coklat jajanan anak dengan membeli alat-
alat produksi dan mesin cetak seharga Rp 5 juta, biaya produksi perunit Rp 250, dan harga
jugal perunit Rp 500 untuk mencapai titik impas berapa yang harus diproduksi ?
Jawab :
Q = jumlah unit yang harus diproduksi, F = Rp 5000.000, P = Rp 500, V = Rp 250

b. Pendekatan rata-rata (average approach)


Dimana perhitungan laba perunit dilakukan dengan membandingkan antara biaya produksi
rata-rata (AC) dengan harga jual out put (P) dan laba total adalah laba perunit dikali dengan
jumlah output yang terjual, sehingga ;
 = ( P – AC). Q
Dimana :
P = harga jual output
AC = biaya produksi rata-rata (average cost =AC)
Q = jumlah output yang terjual
Perusahaan akan mencapai laba bila harga jual perunit output (P) lebih tinggi dari biaya
rata-rata (average cost). Perusahaan hanya mencapai angka impas bila P sama dengan AC.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 81


Contoh :
PT. Tani Makmur ingin menanam singkong di Lampung. Produk singkong akan dibeli
dilahan oleh produsen tapioka seharga Rp 150 per kg. Setiap hektar diperkirakan
menghasilkan singkong minimal 25 ton. Berdasarkan studi pendahuluan biaya produksi
seperti :
- Biaya persiapan lahan Rp 500.000 per ha
- Biaya tanam, perawatan, pupuk, obat, dan tenaga kerja Rp 1000.000 per ha.
- Biaya panen Rp 10 per kg, target  = 1 milyar
Jawab :
Biaya persiapan Rp 500.000
Biaya tanam, perawatan Rp 1.000.000
Rp 1.500.000 per ha
1 ha menghasilkan 25 ton ( 25.000 kg), jadi biaya rata-rata persiapan, tanam dan
perawatan adalah : .
Jadi total biaya rata-rata per kg : Rp 60 + Rp 10 = Rp 70, karena harga jual singkong (P)
adalah RP 150, maka berapa hektar singkong yang harus ditanam yaitu :
 = (P – AC) Q
1.000.000.000 = (150 – 70) Q
Q = (1000.000.000 : 80) kg
= 12.500.000 kg
= 12.500 ton
Jadi jumlah singkong yang harus dihasilkan untuk mencapai laba Rp 1 milyar adalah
12.500 ton. Karena per ha menghasilkan 25 ton, maka jumlah yang harus ditanam adalah
500 hektar.
 = (P – AC) Q
= (150 – 70) 12.500.000
= 1.000.000.000

ha = 12.500 ton / 25 ton


= 500 hektar (ha)

c. Pendekatan marginal (marginal approach)


Dimana perhitungan laba dilakukan dengan membandingkan biaya marginal (marginal cost
= MC) dan pendapatan marginal (marginal revenue = MR). laba maksimum akan tercapai
pada saat MR = MC, kondisi ini dapat dijelaskan secara matematis :
 = TR – TC
Laba maksimum tercapai bila turunan pertama fungsi  (  / Q ) sama dengan nol dan
nilainya sama dengan nilai turunan pertama TR ( TR / Q atau MR ) dikurangi nilai
turunan pertama TC ( TC / Q atau MC);

= MR – MC =0
MR = MC laba maksimum atau kerugian minimum
Dengan demikian perusahaan akan memperoleh laba maksimum atau kerugian minimum
bila berproduksi pada tingkat output dimana MR = MC

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 82


Kurva 9.2 TR dan TC dan Laba

Rp

TC

b1 c1
a1

TR

c2
a2
b2

0 Q1 Q2 Q3 Q4 Q5 Q

Di pembahasan teori biaya produksi, kita telah mengkontruksi kurva biaya total (total cost
=TC) yang bentuk kurvanya seperti huruf S terbalik, kurva pendapatan total diperoleh dari
kurva TP dikali P dan kurva TP berbentuk S, karena kurva TR = TP x P, maka kurva TR
juga berbentuk huruf S, kurva TR – kurva TC = kurva laba. Tingkat output yang
memberikan laba adalah interval Q1 s/d Q5, jika output dibawah Q1 perusahaan rugi karena
TR < TC begitu juga bila melebihi Q5.
Interval Q1 – Q5 dalam pembahasan teori produksi disebut daerah produksi ekonomis.
Perusahaan akan mencapai laba maksimum disalah satu titik antara Q1 – Q5. Pada grafik
laba maksimum () pada saat output sebesar Q3, secara matematis laba maksimum berada
pada MR = MC. Pada grafik dapat dilihat dua garis singgung b1 dan b2, garis singgung b1
turunan pertama fungsi TR = MR. Garis singgung b2 turunan pertama fungsi TC = MC.
Garis singgung b1 sejajar garis singgung b2 artinya MR = MC.
Penjelasan secara verbal ;
Apakah benar perusahaan akan mencapai laba maksimal pada Q3 ? untuk menjawabnya
harus dilihat pergerakan kurva laba sepanjang interval Q1 – Q5. Pergerakan tersebut dapat
dibagi dalam sub interval ; Q1 - Q3, Q3, Q3 – Q5.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 83


Penambahan output sepanjang Q1 - Q3.
Ketika output ditambah dari Q1 ke Q2 kurva  bergerak naik yang artinya laba bertambah
besar, dan memperhatikan kurva TR dan TC terlihat bahwa sudut kecuraman garis
singgung a1 (MR) lebih besar dari sudut kecuraman garis singgung a2 (MC). Ternyata jika
output ditambah satu unit, tambahan pendapatan (MR) yang dihasilkan lebih besar dari
tambahan biaya (MC). Dapat dilihat sudut kemiringan kurva  dari Q1, Q2, Q3 bergerak
naik, pada Q3 mendatar dan Q3 ke Q5 makin menurun dan disini berlaku hokum
pertambahan hasil yang semakin menurun (the law of diminishing return = LDR).
Pada saat jumlah output Q3.
Seperti telah dijelaskan garis singgung b1 (MR) sejajar garis singgung b2 (MC). Jika output
ditambah satu unit, maka tambahan pendapatan (MR) yang diperoleh sama persis dengan
tambahan biaya (MC) yang harus dikeluarkan.
Interval Q3 – Q5.
Jika output ditambah dari Q3 ke Q4 terlihat bahwa sudut kemiringan garis singgung c1 (MR)
sudah lebih kecil dari sudut kemiringan garis singgung c2 (MC). Artinya jika output
ditambah 1 unit maka tambahan MR lebih kecil dari tambahan MC maka perusahaan akan
merugi bila terus menambah output.
Kesimpulan ;
a. Pada interval Q1 – Q3 dimana MR > MC karenanya penambahan output akan
meningkatkan laba.
b. Pada interval Q3 – Q5 dimana MR < MC karenanya penambahan output akan
menurunkan laba
c. Pada saat output adalah Q3 maka MR = MC, perusahaan mencapai laba maksimum.

Pembahasan soal.

1. Diketahui fungsi permintaan atau kurva permintaan sebagai berikut :


Q = 100 – 2P
MC dan AC adalah konstan 10 / unit
Diminta :
a. Buktikan dengan grafik atau tabulasi bahwa MR = 50 – Q
b. Berapa tingkat output untuk mencapai laba maksimum, dan berapa besarnya laba
maksimum tersebut.
c. Berapa tingkat output untuk mencapai penerimaan maksimum dan berapa besarnya
penerimaan tersebut, dan berapa besarnya laba pada saat itu
d. Gambarkan jawaban dalam bentuk diagram.

Jawab.
a. Tabulasi.
Q = 100 – 2P atau P = 50 - ½Q
TR = P. Q
= ( 50 - ½Q). Q
= 50Q - ½Q2
Maka : MR ;

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 84


Q AC P MR = 50-Q TR = P.Q TC = AC.Q  = TR-TC
0 0 0 0 0 0 0
10 10 45 40 450 100 350
20 10 40 30 800 200 600
40 10 30 10 1200 400 800
50 10 25 0 1250 500 750
60 10 20 -10 1200 600 600
80 10 10 -30 800 800 0

 maksimal pada angka 800, TR - TC = 0 = , TR maksimal pada angka 1250.

b. Laba maksimum tercapai pada saat MR=MC


50 – Q = 10
Q = 40
Jumlah output yang harus diproduksi untuk mencapai laba maksimum adalah 40 unit.
Pada saat harga jual berdasarkan persamaan Q = 100 – 2P adalah 30 / unit. Dengan
demikian laba maksimum adalah = Q. ( P - AC )
= 40 (30-10)
= 800
c. Penerimaan (TR) maksimum tercapai pada saat MR = 0
50 – Q = 0
Q = 50
Jadi TR maksimum tercapai jika jumlah output yang diproduksi 50 unit
Besar TR = 50 Q - ½Q2
= 50 (50) - ½(50)2
= 2500 – 1250
= 1250
Pada saat jumlah output 50 unit, harga jual perunit adalah 25, sehingga laba yang
diperoleh adalah  = Q ( P – AC )
= 50 ( 25 – 10 )
= 750

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 85


d. Grafik
Rp

50

30
MR = TC
25

10 MC=AC =10
MR =50 -Q
Q = 100 – 2P

0 20 40 50 80 100 Q

2. Sebuah perusahaan yang beroperasi dalam pasar persaingan memiliki struktur biaya
sebagai berikut :
- Biaya marginal MC = 3 + 2Q
- Biaya variabel rata-rata AVC = 3 + Q
- Biaya tetap F=3
Jika harga jual dipasar adalah Rp 9 perunit, maka :
a. Hitunglah jumlah output agar perusahaan mencapai kondisi keseimbangan.
b. Pada tingkat keseimbangan tersebut diatas apakah perusahaan menikmati laba ?
Jawab :
Jumlah output yang diproduksi
MC = 3 + 2Q Q = ½MC - 1½
Keseimbangan tercapai bila MC = P = 9
Q = ½(9) - 1½
= 3 unit
Jadi jumlah output yang harus diproduksi adalah sebanyak 3 unit.
Laba yang diperoleh
VC = AVC . Q TC = FC + VC
= (3 + Q) Q = 3 + 3Q + Q2
2
= 3Q + Q
Jika output adalah 3 unit, maka :
TC = 3 + 3Q + Q2 TR = P . Q
2
= 3 + 3(3) + 3 =9x3
= 21 = 27
 = TR - TC
= 27 – 21
= Rp 6
Jadi perusahaan memperoleh laba maksimum sebesar Rp 6

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 86


Bagian X
Pasar Persaingan Sempurna

Jumlah output yang diproduksi perusahaan agar mencapai laba maksimal adalah pada
saat MR = MC. Ekstrim pertama, perusahaan berada dalam pasar persaingan sempurna
(perfect competition), dimana jumlah perusahaan begitu banyak dan kemampuan setiap
perusahaan sangat kecil untuk mempengaruhi harga pasar. Ekstrim kedua adalah perusahaan
hanya satu – satunya produsen (monopoli).
Kondisi ekstrim tersebut jarang sekali terjadi, umumnya dua kondisisi peralihan antara
ekstrim persaingan sempurna dan monopoli. Kondisi pertama adalah perusahaan bersaing,
tetapi masing – masing mempunyai daya monopoli (terbatas), disebut persaingan monopolistic
(monopolistic competition). Kedua adalah dalam pasar hanya ada beberapa produsen yang jika
bekerja sama mampu menghasilkan daya monopoli dikenal sebagai oligopoli (oligopoly).
1. Karakteristik Pasar Persaingan Sempurna.
Beberapa karakteristik agar sebuh pasar dapat dikatakn persaingan sempurna:
a) Semua perusahaan memproduksi barang yang homogen (homogeneous product)
b) Produsen dan konsumen memiliki pengetahuan / informasi sempurna (perfect
knowledge)
c) Output sebuah perusahaan relative kecil dibanding output pasar (small relatively
output)
d) Perusahaan menerima harga yang ditentukan pasar (price taker)
e) Semua perusahaan bebas masuk dan keluar pasar (free entry and exit)
a. Homogenitas Produk (Homogeneous Product)
Produk yang mampu memberikan kepuasan (utilitas) kepada konsumen tanpa perlu
mengetahui siapa produsennya.
b. Pengetahuan Sempurna (Perfect Knowledge)
Para pelaku ekonomi (konsumen dan produsen) memiliki pengetahuan sempurna
tentang harga produk dan input yang dijual.
c. Output Perusahaan Relatif Kecil (Small RelativelOutput)
Perusahaan dalam industri (pasar) dianggap berproduksi efisien (biaya rata – rata
terendah), kendati pun demikian jumlah output setiap perusahaan secara individu
dianggap relative kecil dibanding jumlah output seluruh perusahaan dalam industri.
d. Perusahaan Menerima Harga Yang Ditentukan Pasar (Price Taker) Perusahaan
menjual produknya dengan berpatokan pada harga yangditetapkan pasar (price
taker). Secara individu perusahaan tidak mampu mempengaruhi harga pasar.
e. Keleluasaan Masuk – Keluar Pasar (Free Entry and Exit)
Dalam pasar persaingan sempurna faktor produksi mobilitasnya tidak terbatas dan
tidak ada biaya yang harus dikeluarkan untuk memindahkan faktor produksi.

2. Permintaan dan Penawaran Dalam Pasar


Persaingan Sempurna
a. Permintaan
Kurva 10.1a Tingkat harga dalam pasar persaingan sempurna ditentukan oleh
permintaan dan penawaran.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 87


Kurva 10.1b Jumlah output perusahaan relatif sangat kecil dibanding output pasar,
maka berapa pun yang dijual perusahaan, harga relatif tidak berubah.

Kurva 10.1
Kurva permintaan industri dan perusahaan
(pakaian anak-anak) dalam pasar persaingan sempurna

Rp Rp

P P D perusahaan

D industri

0 Q* Jumlah 0 Jumlah
(a) Industri (b) Perusahaan

b. Penerimaan
Kurva 10.2.a Kurva permintaan (D) sama dengan kurva penerimaan rata – rata (AR)
sama dengan kurva penerimaan marjinal (MR) dan sama dengan harga (P)
Kurva 10.2.b Kurva penerimaaan total berbentuk garis lurus dengan sudut kemiringan
positif, bergerak mulai dari titik (0,0).

Kurva 10.2
Kurva Penerimaan TR, AR, MR
Dalam pasar persaingan sempurna

Rp Rp
(a) (b)
TR= P.Q

P D=AR=MR=P

0 Q 0 Q

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 88


3. Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Pendek

a. Perusahaan sebaiknya hanya berproduksi, paling tidak, bila biaya variable (VC) adalah
sama dengan penerimaaan total (TR), atau biaya variabel rata – rata (AVC) sama dengan
harga.
b. Perusahaan memproduksi pada saat MR = MC agar perusahaan memperoleh laba
maksimum atau dalam kondisi buruk kerugiannya minimum (minimum loss).
Diagram 10.3 menunjukkan bahwa kondisi MR = MC (titik E) tercapai pada saat output
sejumlah Q*.

Kurva 10.3 Kurva 10.4


Keseimbangan jangka pendek Keseimbangan Jangka pendek
Perusahaan dalam pasar persaingan sempurna Perusahaan dalam kondisi impas

Rp MC Rp
MC

P E D=AR=MR=P AC
Laba AC P
A B D=AR=MR=P

0 Q1 Q* Q2 Q 0 Q* Q
MR > MC MR < MC
MR=MC

Kurva 10.4 Kondisi impas terjadi bila biaya rata – rata sama dengan harga, dimana laba per
unit sama dengan nol. Kurva 10.5 Menunjukkan bahwa pada saat MR = MC perusahaan
mengalami kerugian sebesar BE per unit. Sehingga kerugian total adalah seluas bidang
PAEB. Kerugian ini adalah kerugian minimum.
Kurva 10.5 Keseimbangan jangka pendek, Perusahaan dalam kondisi rugi minimum.
Rp

D MC
K
E AC
A Rugi
P C B D=AR=MR=P

0
Q1 Q* Q2 Q3 Q

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 89


4. Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Panjang.

a. Perusahaan harus bekerja sebaik mungkin (doing as well aspossible) agar perusahaan
mencapai keadaan yang paling optimal.
b. Tidak mengalami kerugian (not suffering loss) agar dapat mengaanti barang modal
yang digunakan dalam produksi.
c. Tidak ada insentif bagi perusahaan untuk masuk – keluar karena laba nol (zero profit),
yaitu tingkat laba yang memberikan tingkat pengembalian yang sama.
d. Perusahaan tidak dapat menambah laba lagi pada saat SAC = LAC.

Kurva 10.6.a Menunjukkan keseimbangan industri jangka panjang terjadi di titik E di mana
tingkat harga P0 dan jumlah output Q0.
Kurva 10.6.b Jika ada perusahaan yang masuk, akan terjadi penambahan penawaran.
Perhatikan kurva SMC, LMC, SAC dan LMC berpotongan di satu titik, yaitu titik E.

Kurva 10.6 Keseimbangan jangka panjang perusahaan dalam pasar persaingan sempurna.

Rp Rp
(a) (b)

S2
SMC LMC
P2 So SAC LAC
E0 S1
P0 P2 D=AR=MR=P
P1 E1

Do
0 Q2 Qo Q1 Q 0 Q* Q

5. Penawaran Perusahaan Pasar Persaingan Sempurna


a. Kurva Penawaran Jangka Pendek
Kurva 10.7.a Menunjukkan jika harga di bawah P0, perusahaan tidak mau berproduksi
(tidak ada penawaran) karena harga masih lebih kecil dari biaya variabel per unit yang
paling rendah (AVC berpotongan dengan MC)
Kurva 10.7.b Dalam pasar persaingan sempurna kurva MC setelah melewati titik
potong dengan minimum kurva AVC adalah juga kurva penawaran jangka pendek.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 90


Kurva 10.7. Kurva penawaran jangka pendek.

Rp (a) Rp (a)
MC S
P4 D4=AR4=MR4 = P4

P3 D3=AR3=MR3 = P3
P2 D2=AR2=MR2 = P2
AVC
P1 D1=AR1=MR1 = P1
P0

0 Q Q Q Q Q Q 0 Q Q Q Q Q
0 1 2 3 4 1 2 3 4

b Kurva Penawaran Jangka Panjang

1. Industri Skala Biaya Konstan (Constant Cost Industry)


Penambahan penggunaan faktor produksi karena masuknya perusahaan baru, tidak akan
menaikkan harga faktor produksi Kurva 10.8.a.
Kurva 10.8.b Bila permintaan pasar meningkat (kurva permintaan D1 bergeser ke D2),
harga output meningkat ke P2

Kurva 10.8. Kurva Penawaran jangka panjang industri skala biaya konstan
Rp (a) Rp (b)

SMC S1

LMC S2
P2 P2
LAC

P1 P1 LS

D1 D2

0 Q1 Q2 Q 0 Q

2. Industry Skala Biaya Menaik (Increasing Cost Industry)


Masuknya perusahaan – perusahaan baru menyebabkan harga faktor produksi naik,
sehingga terjadi perubahan stuktur biaya dan pergeseran titik keseimbangan.
Kurva 10.9.a Struktur biaya sebelum masuknya perusahaan lain.
Kurva 10.9.b Struktur biaya setelah masuknya perusahaan lain.
Kurva 10.9.c Menunjukkan peningkatan permintaan (D1 – D2).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 91


Kurva 10.9. Kurva Penawaran jangka panjang industri skala biaya menaik
(a) (b) (c)
Rp Rp Rp

SMC SMC S1
LMC LMC S2
LS
P2 P2
LAC P3 LAC P3
P1 P1
D2

D1

0 Q1 Q2 Q 0 Q3 Q 0 Q1 Q2 Q

3. Industri Skala Biaya Menurun (Decreasing Cost Industry)


Masuknya perusahaan – perusahaan lain ke dalam indistri justru menurunkan harga faktor
produksi karena efisiensi skala besar (large scale economies). Akibatnya struktur biaya
jadi lebih murah (Kurva 10.10.a ke Kurva 10.10.b). Kurva 10.10.c Meningkatnya
permintaan (D1—D2) menaikkan harga jual ke P2 yang mengundang masuknya
perusahaan lain.
Kurva 10.10. Kurva Penawaran jangka panjang industri skala biaya menurun

(a) (b) (c)


Rp Rp Rp S1
SMC SMC
LMC LMC
P2 P2 P2 S2
LAC
P1 LAC P1
P1
P3 P3 LS

D2
D1

0 Q1 Q2 Q 0 Q3 Q 0 Q1 Q

6. Kekuatan dan Kelemahan Pasar Persaingan Sempurna


a. Kekuatan
1. Harga jual barang dan jasa adalah yang termurah
2. Jumlah output paling banyak sehingga rasio output per penduduk maksimal
(kemakmuran maksimal).
3. Masyarakat merasa nyaman dalam mengkonsumsi (produk yang homogen) dan tidak
takut ditipu dalam kualitas dan harga.
b. Kelemahan
1. Kelemahan Dalam Hal Konsumsi
2. Kelemahan Dalam Pengembangan Teknologi
3. Konflik Efisiensi - Keadilan

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 92


SOAL LATIHAN (KASUS)

1. Sebuah perusahaan jam beroperasi dalam pasar persaingan sempurna. Biaya produksi
dinyatakan sebagai C = 100 + 2Q, dimana C adalah biaya. Biaya tetap (FC) Adalah 100.
jika harga jual jam per unit adalah 60: Berapa jumlah jam yang harus diproduksi untuk
mencapai laba maksimal? Berapa besar laba maksimal?
Jawab
Dalam pasar persaingan sempurna, produsen adalah penerima harga (price taker)
Karena itu fungsi penerimaan total TR = P x Q = 60Q

Jika C = 100 + 2Q maka biaya marjinal (MC) adalah TC / Q atau MC = 2Q


a) Laba maksimal tercapai pada saat MR = MC
60 = 2Q
Q = 30 unit
Jumlah jam yang harus diproduksi untuk mencapai laba maksimum adalah 30 unit.
b) Besar laba maksimum (maksimal):
Jika C = 100 + 2Q

Pada saat Q = 30 maka


maksimal = Q (P- AC) = 30(60 - 33 1/3) = 800

2. Di dalam sebuah pasar output berstuktur persaingan sempurna, jumlah perusahaan adalah
1.000. Dalam jangka pendek setiap perusahaan memiliki kurva penawaran Qs = -200 +
50P, dimana Qs adalah output tiap perusahaan; P adalah harga. Permintaan pasar:
Q = 160.000 – 10.000P
a. Hitung harga keseimbangan pasar jangka pendek
b. Gambarkan kurva permintaan yang dihadapi perusahaan dan tingkat keseimbangan.
c. Jelaskan bila ada perusahaan yang memutuskan untuk memproduksi lebih sedikit atau
lebih banyak dari output tingkat keseimbangan.
Jawab
a) Penawaran Total : Qs = (-200 + 50P) x 1.000
= -200.000 + 50.000P
Keseimbangan pasar
Qs = Qd
-200.000 + 50.000P = 160.000 – 10.000P
60.000P = 360.000
P = 6
Q = 160.000 – 10.000P
= 160.000 – 10.000(6)
= 100.000 unit
Harga keseimbangan pasar adalah 6/ unit, dengan total output 100.000 unit
Karena jumlah perusahaan 1.000 maka setiap perusahaan mencapai keseimbangan bila
memproduksi 100 unit (100.000/1.000 unit). Juga karena perusahaan beroperasi dalam
pasar persaingan sempurna, maka:

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 93


1) Perusahaan berposisi sebagai penerima harga, dimana D = AR = MR = P = 6
2) Kurva biaya marjinal perusahaan adalah kurva penawaran perusahaan.
Qs = -200 + 50P, atau P = 4 + 1/50 Qs
MC = 4 + 1/50 Qs
Perusahaan mencapai keseimbangan bila,
Qs = -200 + 50P
= -200 + 50(6)
= 100 unit
c) Bila salah satu perusahaan memutuskan untuk tidak berproduksi
(Qs = 0)
MC = 4 + 1/50 Qs
=4
MC < P perusahaan tidak memperoleh laba maksimum sebab jika output ditambah
akan meningkatkan laba. Bila salah satu perusahaan memutuskan memproduksi lebih
banyak dari tingkat keseimbangan (Qs > 100, misal 200)
MC = 4 + 1/50 (200)
=8
MC > P perusahaan rugi karena bila Qs > 100, menambah output berarti menambah
kerugian.
Kurva 10.11

Rp Rp

10
QS = -200.000 + 50.000P
8
QS = -200 + 50P
6 E (titik keseimbangan industry) 6 D=AR=MR= P
Laba Maksimum
4

2 Qd= 160.000 – 10.000P


𝐴𝐶 𝑞

0 40 80 100 120 160 200 Q 0 20 40 60 80 100 120 Q

Keseimbangan industry Keseimbangan Perusahaan

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 94


Bagian XI
Pasar Monopoli

1. Faktor – faktor Penyebab Terbentuknya Monopoli

Hambatan Teknis (Technical Barriers to Entry)


Ketidakmampuan bersaing secara teknis menyebabkan perusahaan lain sulit bersaing
dengan perusahaan yang sudah ada (existing firm)
a. Perusahaan memiliki kemampuan dan atau pengetahuan khusus (special knowledge) yang
memungkinkan berproduksi sangat efisien,.
b. Tingginya tingkat efisiensi memungkinkan perusahaan monopolis mempunyai kurva biaya
(MC dan AC) yang menurun.
c. Perusahaan memiliki kemampuan control sumber factor produksi, baik berupa SDA,
SDM, maupun lokasi produksi.

Hambatan Legalitas (Legal Barriers to Entry)


a. Undang – undang dan Hak Paten
b. Hak Paten (Patent Right) atau Hak Cipta
– Hanya ada satu produsen
– Listrik yang dihasilkan PLN tidak mempunyai substitusi
– Perusahaan – perusahaan lain tidak dapat memasuki industri listrik karena ada
hambatan.

2. Permintaan dan Penerimaan Perusahaan Monopoli

Permintaan.
Permintaan terhadap output perusahaan (firm’s demand) merupakan permintaan industri.
Posisi perusahaan monopolis adalah penentu harga (price taker).

Penerimaan.
Kurva 11.1 Penerimaan marjinal perusahaan monopoli lebih kecil dari harga jual (MR < P).
Kurva 11.1
Kurva MR dalam perusahaan monopoli

Rp (a) Rp (b)
Penambahan TR
Karena penurunan
P1 harga
A
P2 Penurunan TR
Karena Penurunan harga
P3
B
P4 Permintaan industry =
Permintaan perusahaan MR D
D
0 Q1 Q2 Q3 Q4 Q 0 Q

Hubungan antara besarnya TR dan MR digambarkan pada Kurva 11.2

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 95


Kurva TR dan MR dalam perusahaan monopoli

Rp
EP > 1

EP=1

EP < 1
MR
D

0 Q* Q
Rp

TR

0 Q* Q

3. Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Pendek

Kurva 11.3 laba maksimum tercapai pada output Q* di mana MR = MC. Besarnya
laba seluas bidang AP*BC.

Kurva 11.3 Keseimbangan Jangka Pendek


Dalam Perusahaan Monopoli
Rp

P* B MC
AC

A C

MR D

0 Q1 Q* Q2 Q

MR > MC MR < MC
MR = MC

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 96


4. Keseimbangan Perusahaan Dalam Jangka Panjang.

Tidak mempunyai masalah besar dengan keseimbangan jangka panjang. Kurva 11.4.a
menunjukkan perusahaan monopolis yang mengalami kerugian dalam jangka pendek. Namun
karena biaya rata – rata variable masih lebih besar dari harga (AVC > P) untuk sementara
perusahaan masih dapat beroperasi. Kurva 11.4.b ditunjukkan dengan menurunnya kurva
AC(AC1 --- AC2). Karena sekarang biaya rata – rata lebih kecil dari pada harga (AC < P),
perusahaan sudah dapat menikmati laba. Kurva 11.4.c peningkatan permintaan (D1 – D2)
menyebabkan P > AC yang artinya perusahaan memperoleh laba.

Kurva 11.4
Beberapa alternative langkah perbaikan
Bila perusahaan monopoli mengalami kerugian

Rp Rp Rp
kerugian jangka pendek laba super normal laba super normal
MC
AC MC ACo MC
AC
P* AVC P* AC1

D awal
D setelah
pemasangan
iklan
MR D MR D MR

0 Q* Q 0 Q* Q 0 Q* Q
(a) (b) (c)

5. Daya Monopoli

Daya monopoli (monopoly power) yaitu kemampuan perusahaan melakukan


eksploitasi pasar dalam rangka mencapai laba maksimum hanyalah sebatas mengatur jumlah
output dan harga.

Dimana L = indeks lerner


P = harga output
MC = biaya marjinal
Besarnya nilai indeks Lerner dipengaruhi beberapa faktor :
a. Elastisitas Harga Permintaan (Elastisitas Harga)
b. Jumlah Perusahaan Dalam Pasar
c. Interaksi antar perusahaan

6. Monopoli Alamiah (Natural Monopoly)

Perusahaan ini mempunyai kurva biaya rata – rata (AC) jangka panjang yang menurun
(negative slope) kurva 11.5 menunjukkan hal tersebut, di mana titik perpotongan kurva
MC dengan MR (titik A) jauh di bawah harga jual (titik B).

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 97


Kurva 11.5
Beberapa alternative langkah perbaikan
Bila perusahaan monopoli mengalami kerugian
Rp

laba super normal


B
P* AC

MC
A

MR D
0 Q* Q

7. Diskriminasi Harga (Price Discrimination)

Adalah kebijakan menjual output yang sama dengan harga berbeda – beda. Tujuannya
adalah menambah laba perusahaan melalaui eksploitasi surplus konsumen. Ada beberapa
syarat agar diskriminasi harga (berdasarkan elastisistas permintaan), dapat berhasil :
a. Perusahaan harus memiliki daya monopoli
b. Pasar dapat dibagi beberapa (minimal dua kelompok) yang elastisitas permintaannya
berbeda.
c. Pembagian pasar harus efektif.
d. MR di tiap pasar adalah sama agar diskriminasi harga menghasilkan laba maksimum.
Kurva 11.6.c menunjukkan sebuah perusahaan monopolis memiliki permintaan
digambarkan oleh kurva Dt. Jika perusahaan tidak melakukan diskriminasi harga,
keseimbangan tercapai pada saat jumlah output Qt dan harga Pt. Laba maksimum (t) yang
diperoleh seluas bidang segi empat APtBC.
Kurva 11.6.a dan 11.6.b dimana permintaan kelompok A (Da) lebih inelastis dari
permintaan B (Db).
Kurva 11.6 diskriminasi harga oleh perusahaan monopoli
Rp Rp Rp

Pb
MC
Ra F Pt B
L AC
E G
MRb=MC
MRa = MC H A C
Dt = Da + Db

Da Db

0 Qa MRa Q 0 Qb MRb Q 0 Qt MRt =MRa + MRb Q


(a) (b) (c)

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 98


8 Biaya Sosial Monopoli (Sosial Cost of Monopoly)

Beberapa kerugian yang dialami masyarakat (biaya social), antara lain:


a. Hilang atau berkurangnya Kesejahteraan Konsumen (Dead Weight Loss)
kurva 11.7 menunjukkan dalam pasar monopoli keseimbangan perusahaan
tercapai pada titik A. Tambahan laba bersih yang dinikmati perusahaan monopolis
adalah sebesar luas segi empat PkPmAC dikurangi luas setiga FCB.

Kurva 11.7 Dead weight loss pada perusahaan monopoli

Rp

MC
Pm A
Dead weight loss
C B
Pk

MR D

0 Qm Qk Q

b. Memburuknya Kondisi Makroekonomi Nasional


c. Memburuknya Kondisi Perekonomian Internasional

Kurva 11.8 MNC dan perusahaan monopoli di Negara sedang berkembang


Rp Rp

Pn B
MC

Pj B
ACn
A C

D
Pt
Cj
C ACj
CS=Pm Pm
MC

0 Qj MR QS Qt Q 0 Qt Qn MR Q

(a). MNC (b) PT.Telkom

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 99


9. Pengaturan Perusahaan Monopoli (Monopoly Regulation) dan Masalahnya

a. Pengaturan harga (Price Regulation)


Kebijakan menetapkan tingkat harga maksimum (ceiling price) bagi perusahaan monopoli.
Kurva 11.9 keseimbangan perusahaan monopolis tercapai pada saat jumlah output Qm
dan harga jual Pm per unit.
Kurva 11.9 Kebijakan pengaturan harga terhadap perusahaan monopoli
Rp

MC AC
Pm

Harga tertinggi (celling price)


Pp
A C
B

D
MR

0 Qm Qp Q

Kurva 11.10 Dilema pengaturan monopoli semakin terasa jika perusahaan adalah
monopolis alamiah. Sampai batas Qm, harga ditetapkan sebesar Pm, perusahaan menikmati
laba super normal seluas daerah segi empat PpPmEF.

Kurva 11.10
Kebijakan pengaturan harga terhadap perusahaan monopoli alamiah
Rp

Pm E

Pc F A
AC
Pp G B
MC
MR D

0 Qm Qp Q

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 100


b. Pajak (Taxation)
Kurva 11.11 menunjukkan pajak menggeser kurva AC dan MC perusahaan monopolis
keatas.(AC1, ke AC2 dan MC1 ke MC2.

Kurva 11.11 Pengaruh pengenaan pajak penjualan terhadap perusahaan monopoli


Rp

P2 MC2
P1 Pajak T / unit
MC1 AC2

AC1

MR D

0 Q2 Q1 Q

Kurva 11.12 menunjukkan pengenaan pajak T per unit mengeser kurva MC ke atas (MC1
ke MC2), output berkurang dari Q1 ke Q2.

Kurva 11.12 Pengaruh pengurangan pajak terhadap perusahaan monopoli alamiah


Rp

P2

P1 Pajak : T/unit

MC2

MC1

MR D

0 Q2 Q1 Q

10. Aspek Positif Monopoli (Monopoly Benefit)


a. Monopoli, Efisiensi dan Pertumbuhan Ekonomi
b. Monopoli dan Efisiensi Pengadaan Barang Publik
c. Monopoli dan Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 101


Soal Latihan (Kasus)

1. Sebuah perusahaan monopoli menghadapi permintaan: Q = 20 – 2p di mana Q adalah


jumlah barang yang diterima (unit). Monopolis memiliki biaya rata – rata konstan 4 per
unit.
a. Dari informasi diatas, turunkan persamaan – persamaan penerimaan rata – rata (AR),
penerimaan marjinal (MR) dan biaya marjinal (MC).
b. Berapa jumlah output yang harus diproduksi dan harga jual per unit untuk mencapai
laba maksimum. Hitung besarnya laba maksimum tersebut.
c. Berapa selisih harga dan output yang dihasilkan perusahaan dibandingkan dengan
harga dan output bila perusahaan beroperasi pada pasar persaingan sempurna.
d. Gambarkan jawaban dengan menggunakan diagram!

Jawab:
a) Kurva penerimaan rata – rata perusahaan sama dengan
kurva permintaan perusahaan
Kurva penerimaan marjinal (MR):

TR = P(Q)Q = (10 – 1/2Q)Q = 10Q – 1/2Q2

Biaya Marjinal :
Jika biaya rata – rata: AC = 4; maka TC = (AC).Q = 4Q
Dengan demikian
b) Laba maksimum tercapai bila MR = MC,
10 – Q = 4
Q* = 6
Jumlah output = 6 unit
Jika jumlah output 6, maka:
6 = 20 – 2P
P=7
Harga jual adalah 7 per unit
Besarnya laba maksimum: Q(P – AC) = 6(7 – 4) = 18
c) Jika perusahaan beroperasi dalam pasar persaingan sempurna, laba maksimum tercapai
bila D = AR = MC, atau
10 – 1/2Q = 4
1/2Q = 6
Q = 12unit, maka
12 = 20 – 2P
2P = 8
P=4
Jika perusahaan beroperasi dalam pasar persaingan sempurna:
– Output yang dihasilkan adalah 12 unit atau 2 kali jumlah yang dihasilkan bila
perusahaan beroperasi dalam pasar monopoli.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 102


– Harga jual per unit jika perusahan beroperasi dalam persaingan sempurna (4/ unit) jauh
lebih murah (75% lebih murah) dibanding harga jual per unit jika perusahaan
beroperasi dalam pasar monopoli (7/ unit).

d) Kurva 11.13
Y
20

10

Laba supernormal
Monopolis = 18

7
MR = MC pasar monopoli

MR = MC pasar persaingan sempurna

4 A B MC = 4

MR = 10 – Q Q = 20-2P

0 5 6 10 12 15 20 X

2. PT. Aria monopolis dalam industri telekomunikasi di Negara X memiliki biaya rata – rata
konstan sebesar 2/ unit. Perusahaan menghadapi dua permintaan yang berbeda:
Permintaan pasar pertama: Q1 = 10 – 2P1
Permintaan pasar kedua: Q2 = 20 – P2
Buktikan kebijakan diskriminasi harga akan meningkatkan laba PT. Aria
Jawab :
a) Struktur biaya perusahaan:
AC = 2
TC = (AC).Q = 2Q
MC = 2
b) Struktur permintaan dan penawaran perusahaan:
Pasar Pertama:
Q1 = 10 – 2P1, atau P1 = 5 – 1/2Q1
TR1 = (5 – 1/2Q1).Q1 = 5Q1 –1/2Q
MR1 = 5 – Q1
Pasar Kedua:
Q2 = 20 – P2, atau P2 = 20 – Q2
TR2 = (20 – Q2).Q2 = 20Q2 – Q2
MR2 = 20 -2Q2
Permintaan total perusahaan: Qt = Q1 + Q2
Qt = 10 – 2P + 20 – P = 30 – 3P, atau P = 10 – 1/3Q
TRt = 10Q – 1/3 Q2
MRt = 10 – 2/3Q

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 103


c) Jika perusahaan melakukan kebijakan diskriminasi harga, laba total adalah:
1 + 2
Laba maksimum Pasar Pertama:
MR1 = MC
5 – Q1 = 2
Q1 = 3 unit
3 = 10 – 2P1
2P1 = 7
P1 = 3,5
1 = 3(3,5 – 2) = 4,5
Laba maksimum Pasar Kedua:
MR2 = MC
20 -2Q2 = 2
2Q2 = 18
Q2 = 9 unit
9 = 20 – P2
P2 = 11
2 = 9(11 – 2) = 81
Laba total: = 1 + 2 = 4,5 + 81 = 85,5
d) Jika perusahaan tidak melakukan kebijakan diskriminasi harga, laba maksimum
tercapai pada saat MRt = MC,
10 – 2/3 Qt = 2
2/3 Qt = 8
Qt = 12
12 = 30 -3P
3P = 18
P=6
t = Qt(P – AC)
= 12(6 – 2)
= 48

Kesimpulan
Jika monopolis tidak melakukan diskriminasi harga, laba total yang diperoleh adalah 48.
Sedangkan jika monopolis melakukan diskriminasi harga, laba total yang diperoleh adalah
85,5. Terbukti bahwa kebijakan diskriminasi harga berhasil menaikkan laba perusahaan

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 104


Bagian XII
Pasar Oligopoli

1. Karakteristik Pasar Oligopoli


Ada beberapa unsur pentig dalam pasar oligopoli:
a. Hanya Sedikit Perusahaan Dalam Industri (Few Number of Firms)
b. Produk Homogen atau Terdiferensial (Homogem or Differentiated Product)
c. Pengambilan Keputusan yang Saling Mempengaruhi (Interdependence Decision)
d. Kompetisi Non Harga (Non Pricing Competition)
2. Faktor - faktor Penyebab Terbentuknya Pasar Oligopoli
Ada dua factor penting penyebab terbebtuknya oasar oligopoli.
a. Efisiensi Skala Besar
b. Kompleksitas Manajemen
3. Keseimbangan Oligopolis
a. Model Permintaan yang Patah (Kinked Demand Model)
Kurva 12.1 kurva penerimaan marjinal (MR) yang relevan bagi perusahaan adalah
ACDE. Harga keseimbangan pasar adalah P1.

Kurva 12.1 permintaan perusahaan oligopolis

Rp

P3 B
P1

P2
D1
C

D2
D

MR1
MR2
E

0 Q3 Q1 Q2 Q

Kurva 12.2 Oligopolis berada dalam keseimbangan pada saat MR = MC (titik D) dengan
jumlah output Q1.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 105


Kurva 12.2 keseimbangan oligopolis
Rp

MC2
A
P3
B MC1
P1

P2
D1
C

D2
D

MR1
MR2
E

0 Q3 Q1 Q2 Q

b. Model Kepemimpinan Harga (Price Leadership Model)


Kurva 12.3 Model Kepemimpinan Harga Oligopolis

Rp
Sm

P1
Sm=Pd
Sd
Pd

P2
Dd

Sd=MRd

Dm

0 Qs Qd Qm Kuantitas
MRd

d. Price Leadership dan Kinked Demand Curve

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 106


4. DUOPOLI
a. Model Cournot (Cournot Model)
Kurva 12.4 Keseimbangan duopolies tercapai bila marjinal cost adalah nol (MC = 0)
Kondisi laba maksimum oligopolies dengan MC = 0

Rp

MR D

P0 Q1 Kuantitas

Kurva 12.5 merupakan kurva reaksi Q1, karena menunjukkan besarnya output yang ditetapkan
duopolies pertama berdasarkan perkiraan output duopolies kedua.
Model keseimbangan cournot (cournot equilibrium model)
Q2

30 Kurva reaksi
Perusahaan I Q1 = 15 - ½Q2

20

Keseimbangan cournot
10

Kurva reaksi
Perusahaan II Q2 = 15 - ½ Q1

0 10 30 Q1

b. Model Kepemimpinan Stackelberg (Stackelberg Leadership Model)


c. Teori Permainan (Game Theory)
- Model Dilema Narapidana (Prisoners’ Dilemma Model)

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 107


Soal Latihan (kasus)

1. Sebuah perusahaan oligopolis menghadapi dua permintaan:


Q1 = 200 – 10P adalah permintaan jika pesaing tidak bereaksi terhadap keputusan
perusahaan.
Q2 = 100 – 4P adalah permintaan jika pesaing bereaksi terhadap keputusan perusahaan.
a. Gambarkan kurva permintaan dan penerimaan marjinal (MR) yang relevan bagi
perusahaan.
b. Pada harga jual berapa pesaing akan bereaksi?
c. Hitung interval harga jual yang menyebabkan perusahaan tidak akan mengubah output.
Jawab :
Kurva 12.6
Rp

25

A
20

B
P*
C
Pe

D Q1 = 200 – 10P
10
Pr
Q2 = 100 – 4P
MR2
MR1
E F

0 Q* 50 100 200 Kuantitas

a) Pada kurva 12.6 kurva permintaan yang relevan adalah ABF (garis tebal). Di atas P*
sampai di titik A, perilaku perusahaan tiodak mengundang reaksi pesaing, sehingga kurva
permintaan yang relevan adalah AB. Jika perusahaan menetapkan harga di bawah P*
pesaing akan bereaksi, karena itu kurva permintaan yang relevan adalah BF. Sehingga
kurva MR yang relevan adalah ACDE>.
b) Perusahaan pesaing akan bereaksi jika harga jual yang ditetapkan lebih rendah dari P*.
Karena P* adalah titik potong Q1 dengan Q2 maka besarnya P* dapat diketahui:
Q1 = 200 – 10P
Q2 = 100 – 4P dimana Q1 = Q2
0 = -100 – 6P
P* = 50/3 = 16 2/3
Pesaing akan bereaksi jika perusahaan menjual barang dengan harga lebih rendah dari 16
2/3 per unit.
c) Dari jawaban (b), kita dapat megetahui jumlah output keseimbangan adalah:
Q* = 200 – 10P
= 200 – 10(16 2/3)
= 33 1/3 unit
Koordinat titik B adalah Pada Q = 33 1/3 dan P = 16 2/3

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 108


Tampak pada Kurva 12.6 interval harga di mana perusahaan tidak mengubah output
adalah antara Pr sampai dengan Pe (yaitu pada MR yang vertikal CD)
Pada posisi titik C (yaitu harga Pe):
Berada pada MR! Pada saat Q = 33 1/3

TR1 = P.Q
Q = 200 – 10P – P = 20-1/10Q
TR1 = (20 – 1/10Q)Q = 20Q – 1/10Q2

Q* = 33 1/3 – MR1 = 20 – 1/5 (33 1/3) = 13 1/3


Jadi Pe = 13 1/3
Posisi titik D (yaitu harga Pr):
Berada Pada MR2 pada saat Q = 33 1/3

TR2 = P.Q
Q = 100 – 4P – P = 25 – 1/4Q
TR2 = (25 -1/4 Q)Q = 25Q – 1/4Q2

Q* = 33 1/3 – MR2 = 25 – ½ (33 1/3) = 8 1/3


Jadi Pe = 8 1/3
Dengan demikian interval harga jual per unit di mana perusahaan tidak mengubah output
adalah antara 8 1/3 sampai dengan 13 1/3 atau pada MR vertikal yaitu CD.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 109


Bagian XIII
Pasar Faktor Produksi : Tenaga Kerja dan Tanah

1. Konsep- konsep Dasar


a. Faktor Produksi Sebagai Permintaan Turunan ( Derived Demand)
b. Faktor Produksi Substitusi dan Komplemen (Substitutable and Complement Input).
c. Hukum Pertambahan Hasil yang Makin Menurun (Law of Diminisihing Return)
d. Efek Substitusi dan Efek Output (Substitution and Output Effect)
2. Faktor – faktor Penentu Permintaan terhadap Faktor Produksi (Input Demand
Factors)
a. Harga faktor produksi
b. Permintaan terhadap output
c. Permintaan Terhadap Faktor Produksi lain
d. Harga Faktor Produksi
e. Kemajuan Teknologi
3. Penawaran Produksi
Kurva 13.1.a tentang kurva penawaran tenaga kerja yang melengkung membalik (backward
bending labour supply curve).
Kurva 13.1.b Penawaran total tenaga kerja adalah total penawaran individu.

Kurva 13.1 Kurva penawaran tenaga kerja individu dan pasar


Upah (W) Upah (W)

SL

Backward
bending
labour supply S1 S2 S3
curve

W* Sp = S1+S2+S3

0 I* Jam kerja 0 Jam kerja


(a) (b)
Penawaran tenaga kerja individu Penawaran tenaga kerja total industri

Kurva 13.2 Dalam masyarakat yang miskin, kurva penawaran tenaga kerja dapat
bersudut kemiringan (slope) negative. Jika upah makin rendah penawaran tenaga kerja makin
meningkat.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 110


Kurva 13.2 Kurva penawaran tenaga kerja keluarga miskin
Upah

Jam kerja ayah

W1 A

Jam kerja ibu

W2 B C Jam kerja Anak


E
W3 D
Penawaran Tenaga Kerja

0 I1 I2 I3 Jam Kerja

4. Pasar Tenaga Kerja Berstruktur Persaingan Sempurna (Pure Competition Labour


Market)
a. Permintaan Tenaga Kerja dalam Model Satu Faktor Produksi Variabel (One
Variabel Input Model)
Penerimaan marjinal tenaga kerja (maginal revenue product of labour atau MRPL)
adalah produksi marjinal dikalikan harga jual output (MP x P).
Kurva 13.3 menunjukkan bahwa kurva MRPL.
Kurva 13.3.b adalah kurva MP
Kurva 13.3.a dikali harga jual (P)

Kurva 13.3. MP dan MRP Tenaga Kerja


MP (unit output) MRPL (rupiah)

MP
MRPL ( = MP x P )

0 Tenaga Kerja 0 Tenaga Kerja

(a) (b)

Kurva 13.4.a Perusahaan akan mencapai keseimbangan bila MRPL sama dengan upah
tenaga kerja.
Kurva 13.4.b Jika yang berubah adalh factor bukan harga (permintaan terhadap output
berubah), kurva akan bergeser (shifting) ke kanan atau ke kiri bila permintaan terhadap
output bertambah atau berkurang.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 111


Kurva 13.4
Permintaan Terhadap Tenaga Kerja
Sebagai Faktor Produksi Variabel
Upah Upah

Pergeseran

Pergeseran
W1 Sepanjang kurva Pergeseran kurva
Permintaan permintaan

W* SL

W2 Pergeseran D2
MRPL2 sepanjang kurva
MRPL1 permintaan D1

0 I1 I* I2 Tenaga Kerja 0 Tenaga Kerja


(a) (b)
Permintaan tenaga kerja perusahaan Permintaan tenaga kerja industri

b. Permintaan Tenaga Kerja dalam Model Beberapa Faktor Produksi Variabel


(Multi Variable Input Model)
Kurva 13.5 a Kondisi awal keseimbangan pasar tenaga kerja, dimana total kesempatan
kerja adalah L1 pada tingkat upah keseimbangan W1. kondisi keseimbangan
perusahaan seperti pada kurva 13.5.b (titik A) dimana jumlah tenaga kerja yang
digunakan L1. MRPL1 adalah MRP dengan jumlah barang modal (mesin) K1

Kurva 13.5 Permintaan terhadap tenaga kerja


Jika tenaga kerja dan barang modal variabel

Upah Upah

SL1 MRPL1

SL2
W1 W1 A

W2 W2 B C
MRPL2
DL1 DL

0 L1 L2 Tenaga Kerja 0 I1 I2 I3 Tenaga kerja


(a) Keseimbangan pasar (b) Keseimbangan perusahaan

5. Pasar Tenaga Kerja Berstruktur Monopoli (Monopolistic Labour Market)


Dengan daya monopoli serikat pekerja dapat menentukan beberapa tingkat upah sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 112


Kurva 13.6. Pasar tenaga kerja berstruktur monopoli
Upah
Wm

Wk
SL
Wp

MR DL

0 Lm Lk Lp Tenaga Kerja

6. Monopsoni (Monopsony)
Adalah suatu keadaan di mana dalam pasar factor produksi (tenaga kerja) hanya ada
satu pembeli (single buyer). Karena posisinya sebagai pembeli tunggal, monopsonis (pemilik
daya monopsoni)mempunyai kemampuan menentukan upah. Kurva 12.7 juga terlihat
keseimbangan monopsonis tercapai bila ME = MRPL.
Kurva 13.7 Pasar tenaga kerja berstruktur monopsoni

ME
Upah
Wh
SL = AE
Wp

Wm

DL = MRPL

0 Lm Lp Tenaga Kerja

7. Monopoli Bilateral (Bilateral Monopoly)


Terjadi bila pekerja memiliki daya monopoli. kurva 13.8 menunjukkan bahwa
interval tingkat harga adalah antara Ws (tingkat harga yang diinginkan monopsonis) dengan
Wm (tingkat harga yang diinginkan monopolis)
ME
Upah
Wm
SL = AE
Wp

Ws

DL = MRPL
MR
0 Ls Lm Lp Tenaga Kerja

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 113


8. Pasar Tanah (Land Market)
a. Model Sewa Tanah Richardo (Richardian Model)
Kurva 13.9 menunjukkan bahwa tanah yang paling subur mempunyai struktur biaya
yang paling murah Kurva 12.9.a), sehingga dapat menghasilkan keuntungan bagi
penyewanya. Tanah yang tidak subur akan menurunkan laba, bahkan merugikan
penyewa (Kurva 12.9.b dan 12.9.c). Karena penawaran tanah terbatas (inelastic
sempurna), maka penentuan tingkat sewa tanah berdasarkan kesuburan tanah. Secara
matematis dapat dikatakan S = MRP tanah.

Kurva 13.9. Penafsiran teori Richardo tentang sewa tanah dalam analisis teori
keseimbangan produsen
Rp Rp Rp

MC
MC Kerugian
AC
MC Laba super normal A B
Laba super normal AC
P B P B P C
AC
A C

A C

0 Q* Q 0 Q* Q 0 Q* Q

(a) Tanah subur menimbulkan (b) Tanah sedang (c) Tanah tidak subur menimbulkan
Biaya produksi rendah (kesuburannya) biaya produksi tinggi

Kurva 13.10 menunjukan secara grafis


Penafsiran teori sewa tanah Richardo dalam analisis pasar faktor produksi.

Harga Harga Harga


S1
R1 S2 S3

R2

R3
MRP1 MRP2
MRP3

0 Tanah 0 Tanah 0 Tanah

(a)Tanah subur (b) Tanah kesuburan sedang (c)Tanah tidak subur

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 114


b. Kontekstualisasi Model Ricardo
Kurva 13.11. menunjukkan bila produktivitas tanah meningkat (MRP1 --- MRP2) , harga
sewa meningkat dari R1 ke R2.
Kurva 13.11 Perubahan harga sewa tanah karena perubahan permintaan (MRP / Demand
Determined Prices).

Harga

S (Tanah)

R2

MRP2
R1

MRP1

0
Tanah

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 115


Bagian XIV
Barang Publik dan Eksternalitas

1. Karekteristik Barang Publik


a. Bersifat non rival (Non rivalry)
Adalah barang yang dapat dikonsumsi bersamaan pada waktu yang sama tanpa saling
meniadakan manfaat.
b. Bersifat non eksklusif (Non exclusive)
Seseorang tidak perlu membayar untuk menikmati manfaat barang public.
Dua kemungkinan barang public semu adalah
a. Bersifat rival, tetapi non eksklusif
Tidak dapat dikonsumsi secara bersamaan,namun untuk menikmatinya tidak harus
membayar.
b. Bersifat non rival, tetapi eksklusif
Dapat dikonsumsi bersamaan,tetapi untuk menikmatinya harus membayar.

Kurva 14.1 Keseimbangan barang privat kasus pasar baju.

Harga Harga Harga

Pa Pb Pm
Dm =Da + Db
Da Db

0 Qa Q 0 Qb Q 0 Qm Q

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 116


2. Efisiensi Penyediaan Barang Publik

Kurva 14.2 Penyediaan barang publik yang efisien

MBt
T1 S

Tt Et Manfaat yang dinikmati kelompok kaya (B)

Manfaat yang dinikmati kelompok miskin (A)

T2

0
Qt Q1 Q2 Q
MBb

B1

Bt Eb

Db

0 Qt Q1 Q

MBa

A1

At Ea

A2

Da

0 Qt Q1 Q2 Q

3. Masalah – masalah dalam Penyediaan Barang Publik


a. Pengukuran Permintaan Barang Publik
b. Pendanaan
c. Penyediaan dan Produksi Brang Publik

4. Eksternalitas, Efisiensi dan Keadilan


Eksternalitas adalh kerugian atau keuntungan yang diderita atau dinikmati pelaku ekonomi
karena tindakan pelaku ekonomi yang lain, yang tidak tercermin dalam harga pasar.

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 117


Kurva 14.3 Eksternalitas merugikan
Harga

S1 S2

0 Q1 Q2 Q

Kurva 14.4 Kurva permintaan adalah Dp. Penawaran diwakili oleh kurva S.
keseimbangan terjadi pada saat jumlah pendidikan tinggi adalah Qp dan harga per unit
adalah Pp.

Kurva 14.4 Eksternalitas penyediaan pendidikan tinggi


Harga
Manfaat

S
Dp Dt

Pt E
Subsidi yang dinikmati oleh rakyat indonesia
Dan pihak asing (MNC)
Pp

Ph F

Ds Dc

0 Qp Qt Q pendidikan tinggi

5. Pilihan Masyarakat
Kesulitan menentukan alokasi yang efisien dalam penyediaan barang publik
menyebabkan masyarakat demokratis menempuh cara pemilihan suara.
Kurva 14.5 preferensi terhadap pelayanan RSUD

Pilihan A Pilihan B Pilihan C


Kapasitas Rumah Sakit Kapasitas Rumah Sakit Kapasitas Rumah sakit
Ditambah tetap dikurangi

Rangking Kelompok M Kelompok S Kelompok K

1 X X X

2 X X X

3 X X X

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 118


Kurva 14.6 Kurva manfaat marginal dari pembayaran SPP

Manfaat Marginal

Pw

P1 P2 P3

0 Rp 2500 Rp 5000 Rp 10.000 Rp 20.000 SPP


Perbulan perbulan perbulan perbulan

Soal Latihan (kasus)


1. Di Indonesia atas dasar peraturan pemarintah, TVRI dilarang menyiarkan iklan. Sebagai
gantinya pemerintah memberikan anggaran operasional. Selanjutnya sebagai sumber
penerimaan, perusaaan melakukan iuran TV bagi rakyat, tetapi prakteknya pemungutan
iuran gagal,sehingga finsial Perjan TVRI kurang mandiri dibandingkan Stasiun TV swasta
yang diizinkan menayangkan iklan. Jelaskan dengan Teori Barang Publik.

Jawab:
Siaran TV dapat merupakan barang public dan barang privat. Dilihat dari sisi pemirsa siran
TV merupakan barang public. Sifat non eksklusif siaran TV termasuk TVRI menyebabkan
pemungutan iuran TV tidak efektif. Sebab tanpa harus membayar pemersi dapat
menikmati siaran TVRI.
Siaran TV merupakan barang privat (bersifat rival dan eksklusif. Bagi para pemasang
iklan. Karena itu beban biaya bagi yang ingin memasang iklan sangat efektif

2. Masyarakat desa Sukoharjo bermaksud membangun jalan desa berbahan pasir, batu dan
aspal dengan cara swadaya. Masyarakat desa dapat dikelompokkan menjadi 20 masing –
masing mempunyai preferensi yang dapat diwakili permintaan terhadap jalan desa.

Preferensi kelompok A :MA = 500 – T


Preferensi kelompok B : MB = 900 – 3T
MA = manfaat marjinal kelompok A
MB = manfaat marjinal kelompok B
T = Panjang jalan desa dalam satuan meter
Biaya diwakili dengan biaya marjinal konstan sebesar 400 (satuan ribu rupiah)
Diminta:
a. Menghitung panjang jalan yang efisien sesuai preferensi masyarakat desa
b. Jika besarnya manfaat marjinal dianggap keinginan membayar biaya pembangunan
jalan,berapa dana yang harus disumbangkan?

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 119


Jawab:
a. Panjang jalan desa yang efisien
Kurva 14.7

Manfaat marginal total

1400
MT = MA + MB (dijumlahkan secara vertical)
1200

1000
Daerah titik-titik C marginal total masyarakat
800 = manfaat total kelompok A + B

600

400 MC = 400

200 C

0 100 200 300 400 500 panjang jalan (meter)

Manfaat marginal kelompok B

1400

1200

1000
Daerah titik-titik B marginal total
800 kelompok B

600

400 MB = 900 – 3T

200
B

0 100 200 300 400 500 panjang jalan (meter)

Manfaat marginal kelompok A

1200

1000
Daerah titik-titik A marginal total
800 kelompok A

600

400 MA – 500 – T

200
A

0 100 200 300 400 500 panjang jalan (meter)

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 120


- Karena jalan desa merupakan barang public maka permintaan total (MT) adalah MA +
MB
MT = MA + MB
= (500 – T) + (900 – 3T)
= 1.400 – 4T
- Jumlah jalan desa yang efisien tercapai pada MT = MC
1.400 – 4T = 400
4T = 1000
T = 250
Panjang jalan desa yang efisien adalah 250 m
b. Biaya dan kontribusi
Biaya pembangunan jalan desa adalah Rp 400.000,00/m
Jumlah dan dibuthkan 250 x Rp 400.000,00 = Rp 100 juta
Pada saat jumlah jalan 250 m manfaat marjinal jalan untuk kelompok A
Rp 250.000,00/ m
MA = 500 – T
= 500 – 250
= 250
Manfaat total untuk kelompok A adalah 250 x 250.000 =62.500.000,00 jadi
kelompok A harus menyumbang Rp 62.500.000,00
Manfaat marjinal kelompok B adalah Rp 150.000,00/ m
MB = 900 – 3T
= 900 – 750
= 150
Manfaat total untuk kelompok B adalah 250 x 150.000 = 37.500.000, jadi kelompok B
harus menyumbang Rp 37.500.000,00

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 121


Daftar Pustaka

Chiang, Alpha C., Fundamental Methods of Matematical Economic, 3rd ed. Manila:
McGraw-Hill, 1984.

http://www.google.WL26up7JrscJIK59, for ahim.staff gunadarma.ac.id, 26 September 2012

Kadariah, Teori Ekonomi Mikro, edisi revisi, Jakarta : Lembaga Penerbit FEUI, 1994.

Nopirin, Pengantar Ilmu Ekonomi Makro & Mikro, Edisi Pertama, Cetakan Keenam, BPFE
UGM Yogyakarta, 2000.

Rahardja, Prathama, Mandala Manurung, Teori Ekonomi Mikro Suatu Pengatar, Edisi
Ketiga, Lembaga Penerbit FEUI, 2006.

Reksoprayitno, Soediyono, Ekonomi Mikro ; Pengantar Analisis Pendapatan Nasional,


Edisi kelima, cetakan kedua, Liberty, Yogyakarta, 1992.

Sukirno, Sadono, Pengantar Mikro Ekonomi, Edisi ketiga, Kuala Lumpur, Aneka Publishing,
1993.

Tjokroprajitno, Soeheroe, Matematika Ekonomi, Jakarta Lembaga Penerbit FEUI, 1994

Ekonomi Mikro Herispon, SE. M.Si 122