Anda di halaman 1dari 47

MANAJEMEN DAN SISTEM INFORMASI KESEHATAN

SERTA KLASIFIKASI DAN KODEFIKASI PENYAKIT,


MASALAH-MASALAH YANG BERKAITAN DENGAN
KESEHATAN DAN TINDAKAN MEDIS (KKPMT)
DI RSUD Dr. H. MOCH. ANSARI SALEH
BANJARMASIN 2018-2019

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN V

SEMESTER V

DISUSUN OLEH :

EKA NOVITA SARI 16D30275


ELSA AZIZAH RAHMAH 16D30311
IRAYANA 16D30279
KAMALIA 16D30282
MUHAMMAD RAMADHANI 16D30296
REKA PRADINA 16D30303
REZKI ABDILLAH 16D30304
SENDI ARYA MITA 16D30307
YOSUA YUDI SAPUTRA 16D30320
WIKA BRILIAN RURY 16D30316

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKES) HUSADA BORNEO


PROGRAM STUDI PEREKAM DAN INFORMASI KESEHATAN
BANJARBARU
2018/2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah Subhanahu Wata'ala
yang telah melimpahkan rahmat dan ridho-Nya, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan ini yang berjudul “Manajemen
dan Sistem Informasi Kesehatan Serta Klasifikasi dan Kodefikasi
Penyakit,Masalah-Masalah Yang Berkaitan Dengan Kesehatan dan
Tindakan Medis (KKPMT) di RSUD Dr.H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin
2018/2019”.

Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini tidak akan terlaksana


tanpa dukungan dari berbagai pihak yang telah membantu baik dari segi
material, spiritual, sarana, maupun fasilitas yang sangat berguna bagi
penyelesaian laporan ini. Oleh karena itu penulis menyampaikan terima kasih
kepada :

1. Bapak Dr. H. Suharto, SE,MM selaku ketua yayasan STIKES Husada


Borneo
2. Bapak Ners. Husin, S.Kep, MPH selaku ketua STIKES Husada Borneo.
3. Ibu Ermas Estiyana,S.SiT.,M.Pd selaku Kepala Studi D3 Perekam dan
Informasi Kesehatan yang banyak memberikan kami ilmu pengetahuan dan
pengalaman di kampus Stikes Husada Borneo Banjarbaru.
4. Ibu Retno Juwita, Amd RMIK, selaku pembimbing akademik STIKES Husada
Borneo yang banyak memberikan saya masukan dan saran yang
bermanfaat.
5. Mohammad Imam, A.Md. RMIK selaku pembimbing lapangan I RSUD Dr. H.
Moch. Ansari Saleh Banjarmasi yang banyak memberi kami pengarahan
ilmu teori dan praktek yang bermanfaat.
6. Dzikri Putra Ariyadi , A.Md. RMIK selaku pembimbing lapangan II RSUD Dr.
H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin yang banyak memberi kami pengarahan
ilmu teori dan praktek yang bermanfaat.
7. Seluruh pegawai STIKes Husada Borneo Banjarbaru yang telah membantu
dalam pembuatan surat izin praktek lapangan.
8. Seluruh staf unit kerja rekam medis dan karyawan RSUD Dr. H. Moch.
Ansari Saleh Banjarmasi.
9. Kedua orang tua kami, teman-teman dan semua pihak yang tidak dapat kami
sebutkan satu persatu yang telah memberikan bantuan material maupun
spiritual. Jazaakumullah khairan wa barakallahu fiikum.

Kami meyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini masih banyak


kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangatlah
berguna untuk kesempurnaan laporan ini. Akhirnya penulis berharap semoga
laporan ini bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Banjarmasin, Desember 2018

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Era globalisasi telah menciptakan tantangan bagi instalasi pelayanan
kesehatan yang semakin besar, yang berupa kompetisi yang ketat dan
pelanggan yang semakin selektif serta berpengetahuan. Pelayanan
kesehatan di Indonesia tumbuh dan berkembang secara tradisional
mengikuti perkembangan pasar. Dokter, klinik dan rumah sakit pemerintah
maupun swasta sama-sama menggunakan sistem pembayaran jasa
perlayanan (free for service) karena secara tradisional sistem itulah yang
berkembang (Hatta, 2010). Rumah sakit sebagai salah sarana pelayanan
kesehatan dituntut untuk meningkatkan mutu pelayanan yang akan diberikan
kepada pelanggan sejalan dengan meningkatnya tuntutan masyarakat akan
pelayanan yang lebih baik, dan sesuai perkembangan teknologi. Hal ini
menjadi tolak ukur oleh masyarakat untuk mendapatkan rasa aman,
nyaman, bermutu dan efektif yang diberikan oleh pihak pelayanan
kesehatan. (Permenkes,2014).
Rumah sakit adalah sarana kesehatan yang menyelenggarakan
pelayanan kesehatan perorangan meIiputi pelayanan promotif, preventif,
kurative dan rehabilitatif yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat
jalan, dan gawat darurat (Kepmenkes 2008).
Upaya dalam peningkatan mutu tersebut didukung dengan
memperhatikan standarisasi manajemen mutu rekam medis dan informasi
kesehatan terutama dalam lingkup pembiayaan kesehatan, Pembiayaan
kesehatan yang kuat, stabil dan berkesinambungan memegang peranan
yang amat vital untuk penyelenggaraan pelayanan kesehatan dalam rangka
mencapai berbagai tujuan penting dari pembangunan kesehatan di suatu
negara diantaranya adalah pemerataan pelayanan kesehatan dan akses
(equitable access to health care) dan pelayanan yang berkualitas (assured
quality). (Mamik 2014).
Pelayanan kesehatan masyarakat pada prinsipnya mengutamakan
pelayanan kesehatan promotif dan preventif. Pelayanan promotif adalah
upaya meningkatkan kesehatan masyarakat ke arah yang lebih baik lagi dan
yang preventif mencegah agar masyarakat tidak jatuh sakit agar terhindar
dari penyakit. Sebab itu pelayanan kesehatan masyarakat itu tidak hanya
tertuju pada pengobatan individu yang sedang sakit saja, tetapi yang lebih
penting adalah upaya-upaya pencegahan (preventif) dan peningkatan
kesehatan (promotif) (Juanita,2002).
Proses pelayanan kesehatan tidak bisa dipisahkan dengan
pembiayaan kesehatan. Biaya kesehatan ialah besarnya dana yang harus
disediakan untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai
upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan
masyarakat (Juanita 2002).
Perencanaan dan pengaturan pembiayaan kesehatan yang memadai
(health care financing) akan menolong pemerintah di suatu negara untuk
dapat memobilisasi sumber-sumber pembiayaan kesehatan,
mengalokasikannya secara rasional serta menggunakannya secara efisien
dan efektif. Kebijakan pembiayaan kesehatan yang mengutamakan
pemerataan serta berpihak kepada masyarakat miskin (equitable pro poor
health policy) akan mendorong tercapainya akses yang universal. Pada
aspek yang lebih luas diyakini bahwa pembiayaan kesehatan mempunyai
kontribusi pada perkembangan sosial dan ekonomi. Pelayanan kesehatan itu
sendiri pada akhir-akhir ini menjadi amat mahal baik pada negara maju
maupun pada negara berkembang. Penggunaan yang berlebihan dari
pelayanan kesehatan dengan teknologi tinggi adalah salah satu penyebab
utamanya. Penyebab yang lain adalah dominasi pembiayaan pelayanan
kesehatan dengan mekanisme pembayaran tunai (fee for service) dan
lemahnya kemampuan dalam penatalaksanaan sumber-sumber dan
pelayanan itu sendiri (poor management of resources and services).
(Departemen Kesehatan RI, 2004).
Di Indonesia pengaturan pembiayaan kesehatan teruslah
berkembang,dimulai dari implementasi UU No. 40 tahun 2004 yang
mengatur tentang sistem jaminan sosial nasional (SJSN) dimana setiap
orang berhak atas jaminan sosial untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar
hidup yang layak dan meningkatkan martabatnya menuju terwujudnya
masyarakat Indonesia yang sejahtera, adil dan makmur (UU RI No.40 pasal
1 2004). Implementasi SJSN belanjut di tahun 2011, PT Askes (Persero)
resmi ditunjuk menjadi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) yang
meng-cover jaminan kesehatan seluruh rakyat Indonesia yang tertuang
dalam UU BPJS Nomor 24 tahun 2011 dan terus berkembang mengikuti
eranya. (sumber: www.ptaskes.com).
Pada era saat ini sesuai dengan peraturan UU no 27 tahun 2014,
Indonesia telah menerapkan sistem reimbursement INA CBG’s dengan
sistem pembayaran case based groups yaitu berdasarkan diagnosis pasien
keluar perawatan sebagai kelanjutan dari DRG CBG’s baik rumah sakit
pemerintah maupun rumah sakit swasta sama-sama menerapkan sistem
reimbursement INA CBG’s. Rumah sakit Dr.H. Moch. Ansari Saleh
Banjarmasin sebagai salah satu rumah sakit pemerintah berbasis pendidikan
yang juga menerapkan pelayanan kesehatan dengan pembiayaan sistem
paket INA-CBG’s.
Unit kerja rekam medis di RSUD Dr.H. Moch. Ansari Saleh
Banjarmasin menyediakan loket tersendiri untuk layanan BPJS,dimana
pasien dengan layanan BPJS beserta SEP dilayani selesai saat itu juga.
Adapun uraian tugas UKRM lainnya telah terlaksana, sesuai dengan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 377 tahun 2007 tentang Kompetensi
Perkam Medis. Sebagai seorang perekam medis di haruskan oleh organisasi
profesi untuk dapat menjalankan fungsi-fungsi sesuai dengan tujuh
kompetensinya. Ketujuh kompetensi tersebut, yaitu klasifikasi dan kodefikasi
penyakit (ICD-10) dan tindakan (ICD-9 CM), aspek hukum dan etika profesi,
manajemen rekam medis dan informasi kesehatan, menjaga mutu rekam
medis dan informasi kesehatan, manajemen unit rekam medis, serta
kemitraan profesi.
Melalui Praktek Kerja Lapangan (PKL) di RSUD H.Moch.Ansari Saleh
Banjarmasin ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, pemahaman,
keterampilan serta pengetahuan dibidang yang berkaitan dengan rekam
medis, selain itu, berfungsi sebagai kegiatan pengembangan sumber daya
manusia untuk meningkatkan potensi dan produktivitas secara
optimal,mendapatkan wawasan,pengetahuan, serta keterampilan dibidang
rekam medis.
B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui manajemen dan sistem informasi
kesehatan serta klasifikasi dan kodefikasi penyakit, masalah-masalah
yang berkaitan dengan kesehatan dan tindakan medis (KKPMT) di
rumah sakit.
2. Tujuan Khusus
Mahasiswa mampu :
a. Mengidentifikasi manajemen rekam medis dan informasi
kesehatan di RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin yang
meliputi :
1) Konsep sistem pembiayaan di RSUD dr. H. Moch Ansari
Saleh Banjarmasin
2) Macam jenis asuransi kesehatan di RSUD dr. H. Moch. Ansari
Saleh Banjarmasin
3) Reimbursement INA CBG’s
4) Implementasi sistem pembiayaan di RSUD dr. H. Moch.
Ansari Saleh Banjarmasin
5) Billing system di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin
b. Mengidentifikasi manajemen mutu rekam medis dan informasi
kesehatan yang meliputi :
1) Analisis kuantitatif di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh
Banjarmasin
2) Analisis kualitatif di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh
Banjarmasin
c. Mengklasifikasikan kode penyakit dan permasalahan kesehatan
serta kode tindakan pada sistem neoplasma, penyakit infeksi,
cidera/injury, keracunan/poisoning, penyebab luar/external cause
dan faktor-faktor terkait masalah kesehatan di RSUD dr. H. Moch.
Ansari Saleh Banjarmasin.

C. MANFAAT
Seiring tercapainya beberapa tujuan dari kegiatan PKL, maka akan
memberikan manfaat bagi berbagai pihak diantaranya bagi :
1. Mahasiswa
a. Dapat mengetahui manajemen rekam medis rumah sakit dan sistem
informasi kesehatan serta klasifikasi dan kodefikasi penyakit juga
dapat mengatahui cara menangani masalah-masalah yang berkaitan
dengan kesehatan dan tindakan medis.
b. Untuk menambah wawasan tentang manajemen dan sistem informasi
kesehatan serta klasifikasi dan kodefikasi penyakit, masalah-masalah
yang berkaitan dengan kesehatan dan tindakan medis (KKPMT) di
RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin.
c. Sebagai pintu awal bagi mahasiswa untuk mempersiapkan diri
memasuki dunia kerja.
2. Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan
Sebagai bahan panduan pembelajaran ilmu rekam medis dan
sebagai masukan pembelajaran mengenai penyelenggaraan rekam medis
di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Husada Borneo Banjarbaru.
Untuk mengetahui seberapa besar kemampuan mahasiswa dalam
menerapkan ilmu yang telah diperoleh selama pembelajaran, sehingga
dapat digunakan sebagai dasar penilaian dalam penentuan mutu dari
institusi pendidikan tersebut.
3. Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin
Sebagai masukkan dan pertimbangan dalam meningkatkan
pelayanan kesehatan bagi pasien di rumah sakit.

D. RUANG LINGKUP PENULISAN


1. Ruang Lingkup Tempat
Praktek kerja lapangan V dilaksanakan di RSUD Dr. H. Moch. Ansari
Saleh Banjarmasin. Yang di tempatkan di loket BPJS (LB), loket
umum/admisi rawat jalan (LU/ARJ), loket jiwa (LJ), assembling rawat
jalan (ASMRJ), assembling rawat inap (ASMRI), analisa kuantitatif dan
koding rawat inap (ANKOD), koding rawat jalan IGD (KODIGD),
penjajaran/distribusi (PJDT), input data rawat inap (IDRM), pelaporan
rekam medis (PRM), TPPO (TPP IGD 24 jam) : TPPO – siang , TPPO –
malam.
2. Ruang Lingkup Waktu
Waktu pelaksanaan praktek kerja lapangan V di RSUD Dr. H. Moch.
Ansari Saleh Banjarmasin dimulai dari tanggal 03 Desember 2018 s.d 26
Januari 2019. Senin, selasa, rabu, kamis (07.30 - 14.40), jum’at (07.30) -
(11.00), sabtu (07.30) – (13.00).
3. Ruang Lingkup Materi
Praktek Klinis Semester V “Manajemen dan Sistem Informasi Kesehatan
serta Klasifakasi dan Kodefikasi Penyakit, Masalah-Masalah yang
Berkaitan dengan Kesehatan dan Tindankan Medis (KKPMT)
BAB II
GAMBARAN UMUM RSUD Dr. H. MOCH. ANSARI SALEH
BANJARMASIN
A. Sejarah Singkat RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin
RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin adalah Rumah Sakit
Umum dengan klasifikasi tipe B yang berada dikota Banjarmasin Provinsi
Kalimantan Selatan. Secara geografis RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh
Banjarmasin dibangun pada lahan seluas 87.675 m dengan luas
bangunan fisik berjumlah 10.522 m di Jl. Brig. Jend H. Hasan Basry No. 1
Banjarmasin, dengan batas wilayah sebagai berikut :

1. Sebelah utara berbatasan dengan jalan Brig. Jend. H. Hasan Basry


2. Sebelah timur berbatasan dengan komplek Sektor Banjarmasin
Utara
3. Sebelah barat berbatasan dengan rumah penduduk (Alalak utara)
4. Sebelah selatan berbatasan dengan rumah penduduk (Alalakutara)

Awal mula berdirinya RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin


terletak di jalan Let. Jend R. Soeprapto no. 41 yang merupakan
peninggalan pemerintah Belanda sewaktu menjajah Indonesia selama
3,5 abad dan perkiraan dibangun sekitar tahun 1962 diatas tanah seluas
7,4-65 m yang mula-mula hanya digunakan sebagai Rumah Sakit Umum
dengan jumlah penduduk 50.000 jiwa. Setelah pecahnya perang dunia II,
pada masa pengambil alihan kekuasaan dari pemerintah Belanda kepada
pemerintah Jepang, rumah sakit ini dibubarkan dan para pasien mental
dipulangkan kepada keluarganya masing-masing ada pula sebagian yang
dipindahkan ke rumah sakit Kotabaru (Pulau laut) dan Rumah Sakit
Umum Daerah Ulin. Gedung lama tersebut digunakan oleh tentara jepang
sebagai mess pertahanan dengan segala macam kegiatan militernya.
Setelah perang dunia II berakhir, gedung tersebut dijadikan pusat
perawatan pasien sakit jiwa daerah Kalimantan Selatan dan Kalimanan
Tengah.

Setelah kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, rumah sakit jiwa


ini mulai berfungsi walaupun dengan segala keterbatasan, baik fasilitas,
peralatan, dan obat-obatan. Selain itu tenaga medis dan paramedis,
tenaga rumah tangga, tenaga administrasi dan kepegawaian masih
dikerjakan oleh Inspektur Kesehatan Provinsi Kalimantan Selatan.
Setelah itu, status rumah sakit ini diserah terimakan oleh Inspektur
Kesehatan Kepada Kepemerintahan Kesehatan (DepKes) dan ditanda
tangani langsung oleh jawatan. Sejak tahun 1952 Rumah Sakit Jiwa
Banjarmasin dengan kapasitas 100 tempat tidur.

Sejak tahun 1980 hingga saat ini, Rumah Sakit Jiwa Banjarmasin
berubah menjadi RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin di jalan
Brig. Jend H. Hasan Basry. Adapun kegiatan operasional kegiatannya
dimulai sejak tanggal 22 Juli 1985 dan diresmikan pemakaiannya oleh
Bapak Menteri Republik Indonesia Dr. Soewardjo Soejaningrat pada
tanggal 3 September 1985.

1. Visi
Terwujudnya pelayanan prima dan unggul yang terintegrasi dengan
pendidikan dan penelitian.
2. Misi
Misi 1 pemerintah provinsi Kalimantan selatan tentang
mengembangkan sumber daya manusia yang agamis, sehat,
cerdas dan terampil :
a. Menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu dan
berorientasi pada kepuasan pelanggan.
b. Menyelenggarakan pengembangan pusat rujukan pelayanan
kesehatan dengan unggulan penyakit saraf, penyakit infeksi di
provinsi Kalimantan selatan.
c. Menyelenggarakan pendidikan dan penelitian untuk tenaga
kedokteran dan tenaga kesehatan lainnya.
d. Menyelenggarakkan tata kelola organisasi yang efisien, efektif
dan akuntabel.
B. Struktur Organisasi RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh
Banjarmasin.
Pada tahun 2001 diberlakukan otonomi daerah yang menyebabkan
pengelolaan RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin diserahkan ke
Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan yang di usulkan melalui
surat Gubernur Kalimantan Selatan Nomor : 061/00611/ORG, tanggal 30
April 2001 perihal usulan konversi Rumah Sakit Jiwa Banjarmasin Kelas B
Non-Pendidikan. Saat ini RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin
dipimpin oleh Direktur dengan pangkat Eselon IIb yaitu Dr. Dr. Izaak
Zoelkarnain A. Sp.OT, FICS.

RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin adalah Satuan Kerja


Perangkat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan yang berada dibawah dan
bertanggung jawab kepada Gubernur Kalimantan Selatan. Dipimpin oleh
seorang direktur dengan pangkat minimal Eselon Iib. Struktur organisasi
yang ada di RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin dapat dilihat
pada gambar :

Susunan organisani rumah sakit :

Jabatan Pangkat

Direktur eseion IIb

Wakil Direktur administrasi dan Keuangan eseion IIIa

Kepala bagian tata usaha eseion IIIb

Kasubag umum dan perlengkapan eseion Iva


Kasubag Humas, hokum dan pemasaran eseion Iva

Kasubag kepegawaian eseion IIIb

Kasubag anggaran dan akutansi eseion Iva

Kasubag perbendaharaan dan verifikasi eseion Iva

Kasubag pengolahan dana eseion Iva

Kasubag bagian penyusunan program dan rekam medis eseion IIIb

Kasubag rekam medis eseion Iva

Kasubag penyusanan program eseion Iva

Kasubag evaluasi dan pelaporan eseion Iva

Wakil direktur pelayanan medik eseion IIIa

Kepala bidang pelayanan medik eseion IIIb

Kepala seksi SDM dan mutu medik eseion Iva

Kepala bidang perawatan eseion IIIb

Kepala seksi SDM dan mutu keperawatan eseion Iva

Kepala seksi sarana keperawatan eseion Iva

Wakil direktur penunjang medik eseion IIIa

Kepala bidang penunjang medik eseion IIIb

Kepala seksi SDM dan mutu penunjang medik eseion Iva

Kepala seksi sarana penunjang medik eseion Iva

Kepala bidang pendidikan penelitian dan pengembangan eseion IIIb

Kepala seksi pendidikan dan penelitan eseion Iva

Kepala seksi penelitan dan pengembangan eseion Iva


Komite medik Fungsional

Komite keperawatan Fungsional

Staf medik fungsional Fungsional

Satuan pengawas internal Fungsional

Instalasi – instalasi Fungsional

Dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi RSUD dr. H. Moch.


Ansari Saleh Banjarmasin provinsi Kalimantan selatan sesuai struktur
organisasi yang ditetapkan, didukung ketersediaan sarana dan prasarana
kelembagaan, ssistem prosedur yang baku serta jumlah pegawai yang
cukup dan penyediaan anggaran yang memadai.

C. Jenis Fasilitas Pelayanan Kesehatan di RSUD dr. H. Moch Ansari


Saleh Banjarmasin

1. Unit Rawat Jalan


Rawat jalan adalah pelayanan medis kepada seorang pasien
untuk tujuan pengamatan, diagnosis, pengobatan, rehabilitasi, dan
pelayanan kesehatan lainnya, tanpa mengharuskan pasien tersebut
dirawat inap. Pelayanan rawat jalan adalah salah satu bentuk dari
pelayanan kedokteran. Secara sederhana yang dimaksud dengan
perawatan rawat jalan adalah pelayanan kedokteran yang disediakan
untuk pasien tidak dalam bentuk rawat inap (Azwar,1998).

Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan No.66/ Menkes / II /


1987 yang dimaksud pelayanan rawat jalan adalah pelayanan terhadap
orang yang masuk rumah sakit, untuk keperluaan observasi diagnose,
pengobatan, rehabilitasi medik dan pelayanan kesehatan lainya tanpa
tinggal diruang rawat inap dan pelayanan rawat jalan adalah 8
pelayanan yang diberikan di unit pelaksanaan fungsional rawat jalan
terdiri dari poliklinik umum dan poliklinik spesialis serta unit gawat
darurat.
Berikut merupakan jenis pelayanan klinik rawat jalan di RSUD dr.
H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin yang memiliki 22 pelayanan klinik :

a. Klinik Penyakit Dalam


b. Klinik Bedah
c. Klinik Bedah Plastik atau Esthetic
d. Klinik Kandungan
e. Klinik Kulit dan Kelamin
f. Klinik Gizi
g. Klinik Gigi
h. Klinik THT
i. Klinik Anak
j. Klinik Konsul Psikologi
k. Klinik Paru
l. Klinik Fisioterapi
m. Klinik Orthopedi
n. Klinik Jiwa
o. Klinik Mata
p. Klinik BTKV
q. Klinik Geriatri
r. Klinik Jantung
s. Klinik VCT
t. Klinik Paru Dot
u. Klinik Kaki Diabet
v. Klinik Saraf

Adapun Pendaftaran dan Pelayanan Unit Rawat Jalan Terpadu


dengan pembagian waktu sebagai berikut :

a. Pendaftaran pada hari Senin-Kamis dimulai dari jam 08.00-12.00


WITA dan waktu pelayanan dimulai dari jam 08.00-12.00 WITA.
b. Pendaftaran pada hari Jumat dimulai darijam 08.00-11.00 WITA
dan waktu pelayanan dimulai dari jam 08.00-11.00 WITA.
c. Pendaftaran pada hari sabtu dimulai pada jam 08.00-11.00 WITA
dan pelayanan dimulai pada jam 08.00-13.00 WITA.
2. Unit Rawat Inap
Rawat Inap adalah pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi
observasi, diagnosa, pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medis dengan
menginap di ruang rawat inap pada sarana kesehatan rumah sakit
pemerintah atau swasta, serta puskesmas perawatan dan rumah bersalin,
yang oleh karena penyakitnya penderita harus menginap. (Sjafii, 2004).

Rawat inap (opname) adalah istilah yang berarti proses perawatan


pasien oleh tenaga kesehatan profesional akibat penyakit tertentu, di mana
pasien diinapkan di suatu ruangan di rumah sakit . Rawat inap merupakan
suatu bentuk perawatan, dimana pasien dirawat dan tinggal di rumah sakit
untuk jangka waktu tertentu. Selama pasien dirawat, rumah sakit harus
memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien (Posma 2001 yang
dikutip dari Anggraini (2008).

Ruang unit rawat inap yang ada di RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh
Banjarmasin sebanyak 14 ruangan dengan jumlah TT (tempat tidur)
sebanyak 349 TT. Berikut adalah daftar ruangan dan TT yang efektif
berlaku sejak April 2018:

Kelas

No. Nama Jumlah


Ruangan VIP Utama Utama Standar Isolasi Non
A B Kelas

1. GIOK 0 2 4 11 0 0 17

2. YAKUT 0 2 6 12 0 0 20

3. EMERALD III 20 0 0 0 0 0 20
(VIP)

4. MERAH 0 0 0 0 0 20 20
DELIMA +
NICU

5. NILAM Lt. 0 8 10 14 3 0 35
1(Alexandri)
6. NILAM Lt. 2 0 10 6 15 2 0 35
(Nilam)

7. NILAM Lt. 3 0 8 5 16 1 0 30
(Safir)

8. Alexandri Lt. 1 0 10 15 15 0 0 40
& 2 (Nifas)

9. Alexandri Lt. 3 0 10 11 0 4 0 25
(Berlian)

10. Alexandri Lt. 4 0 0 0 30 0 0 30


(Ruby)

11. Kumala Lt. 1 0 8 8 12 2 0 30


&2

12. Kumala Lt.3 0 0 6 12 1 0 19

13. ICU / ICCU / 0 0 0 0 0 11 11


PICU

14. JAMRUD 0 0 8 11 0 0 19

Jumlah 20 58 79 148 13 31 349

3. Fasilitas Penunjang
RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin menyediakan fasilitas
penunjang untuk mempercepat pelayanan pasien. Selain itu, dengan fasilitas
penunjang di dalam lokasi rumah sakit, pasien tidak perlu mengunjungi
fasilitas kesehatan lain untuk mendapatkan pelayanan penunjang seperti :

a. IGD
b. Laboratorium
c. Radiologi
d. Depo Farmasi

Dari ke 4 fasilitas penunjang tersebut, semuanya memiliki fasilitas


penunjang 24 jam guna menunjang kegiatan yang ada di IGD.
4. Konsep Manajemen Rekam Medis Kesehatan di RSUD dr. H. Moch
Ansari Saleh Banjarmasin.
Menurut Permenkes 269 tahun 2008 Rekam medis adalah berkas yang
berisikan catatan dan dokumen tentang identitas pasien, pemeriksaan,
pengobatan, tindakan dan pelayanan lain yang telah diberikan kepada
pasien. Catatan adalah tulisan yang dibuat oleh dokter atau dokter gigi
tentang segala tindakan yang dilakukan kepada pasien dalam rangka
pemberian pelayanan kesehatanDokumen adalah catatan dokter, dokter gigi,
dan/atau tenaga kesehatan tertentu, laporan hasil pemeriksaan penunjang,
catatan observasi dan pengobatan harian dan semua rekaman, baik berupa
foto radiologi, gambar pencitraan (imaging), dan rekaman elektro diagnostik.

Manajemen Informasi Kesehatan adalah pengelolaan yang


memfokuskan kegiatannya pada pelayanan kesehatan dan sumber informasi
pelayanan kesehatan dengan menjabarkan sifat alami data, struktur dan
menerjemahkannya ke berbagai bentuk informasi demi kemajuan kesehatan
dan pelayanan kesehatan perorangan, pasien dan masyarakat. Penanggung
jawab manajemen informasi kesehatan berkewajiban untuk mengumpulkan,
mengintegrasikan dan menganalisis data pelayanan kesehatan primer dan
sekunder, mendesiminasi informasi, menata sumber informasi bagi
kepentingan penelitian, pendidikan, perencanaan dan evaluasi pelayanan
kesehatan secara komprehensif dan terintegrasi (Konsil Kedokteran
Indonesia, 2006, Manual Rekam Medis). Setiap rumah sakit berupaya
mendapatkan, mengelola, dan menggunakan informasi untuk
meningkatkan/memperbaiki hasil asuhan pasien, kinerja individual, serta
kinerja rumah sakit secara keseluruhan. Seiring dengan perjalanan waktu,
rumah sakit harus lebih efektif dalam:

a. mengidentifikasi kebutuhan informasi;


b. merancang suatu sistem manajemen informasi;
c. mendefinisikan serta mendapatkan data dan informasi;
d. menganalisis data dan mengolahnya menjadi informasi;
e. mengirim serta melaporkan data dan informasi; juga
f. mengintegrasikan dan menggunakan informasi.
Prinsip manajemen informasi yang baik tetap berlaku untuk semua
metode, baik berbasis kertas maupun elektronik. Standar-standar ini
dirancang menjadi kompatibel dengan sistem non-komputerisasi dan
teknologi masa depan. Informasi rumah sakit terkait asuhan pasien sangat
penting untuk komunikasi antarstaf klinis yang didokumentasikan dalam
rekam medis. Rekam medis adalah bukti tertulis (kertas/eletronik) yang
merekam berbagai informasi kesehatan pasien seperti temuan hasil
asesmen, rencana asuhan, rincian pelaksanaan asuhan dan pengobatan,
catatan perkembangan pasien terintegrasi, serta ringkasan kepulangan
pasien yang dibuat oleh profesional pemberi asuhan (PPA).
Penyelenggaraan rekam medis merupakan proses kegiatan yang dimulai
saat pasien diterima di rumah sakit sampai dengan pencatatan data medis,
keperawatan, manajer pelayanan pasien (MPP), serta PPA lainnya selama
pasien mendapat asuhan. Kegiatan dilanjutkan dengan penanganan rekam
medis yang meliputi penyimpanan dan penggunaan untuk kepentingan
pasien atau keperluan lainnya. Rekam medis memiliki aspek-aspek yang
sangat penting antara lain :

a. Aspek Administrasi: karena isi rekam medis menyangkut tindakan


berdasar atas wewenang dan tanggung jawab sebagai tenaga
kesehatan profesional pemberi asuhan (PPA) dalam mencapai tujuan
pelayanan kesehatan.
b. Aspek Medis: karena catatan/rekaman tersebut dipergunakan sebagai
dasar merencanakan pengobatan/asuhan yg harus diberikan kepada
seorang pasien.
c. Aspek Hukum: karena menyangkut masalah jaminan kepastian hukum
atas dasar keadilan dalam rangka upaya menegakkan hukum serta
penyediaan bahan tanda bukti untuk menegakkan keadilan.
d. Aspek Keuangan: karena mengandung data/informasi yang dapat
dipergunakan sebagai dasar pembiayaan.
e. Aspek Penelitian: karena menyangkut data/informasi yang dapat
dipergunakan sebagai dasar penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan di bidang kesehatan.
f. Aspek Pendidikan: karena menyangkut data/informasi perkembangan
kronologis dan kegiatan pelayanan medik yang diberikan kepada
pasien. Informasi tersebut dapat dipergunakan sebagai bahan
referensi pengajaran di bidang kesehatan.
g. Aspek Dokumentasi: karena menyangkut sumber ingatan yang harus
didokumentasikan dan dipakai sebagai bahan pertanggungjawaban
serta laporan rumah sakit.
Selain daripada itu rekam medis memiliki kegunaan sebagai:

a. alat komunikasi antara profesional pemberi asuhan (PPA) yang


memberikan asuhan pasien (communication);
b. dasar dalam perhitungan biaya pelayanan kepada pasien (financial
billing);
c. penyedia data khusus yang sangat berguna untuk keperluan penelitian
dan pendidikan (research & education);
d. dasar untuk merencanakan asuhan yang harus diberikan kepada
pasien (assessment);
e. bahan yang berguna untuk analisis, penelitian, dan evaluasi kualitas
pelayanan yang diberikan kepada pasien (audit klinis);
f. sumber ingatan yang harus didokumentasikan serta sebagai bahan
pertanggungjawaban dan pelaporan;
g. bukti tertulis/terekam atas segala tindakan pelayanan, perkembangan
penyakit, dan pengobatan selam a pasien berkunjung/dirawat di rumah
sakit;
h. pelindung kepentingan hukum bagi pasien, rumah sakit, maupun
profesional pemberi asuhan (legal documentation).

Tujuan pengelolaan rekam medis dan informasi kesehatan adalah


menunjang tertib administrasi dalam rangka upaya peningkatan pelayanan
kesehatan di rumah sakit yang didukung oleh suatu sistem pengelolaan
rekam medis yang cepat, tepat, bernilai, dapat dipertanggungjawabkan,
serta berfokus pada pasien dan keselamatan pasien secara terintegrasi.
Standar MIRM meliputi organisasi dan manajemen, akses serta
penyimpanan RM, dan RM pasien.
Dalam manajemen unit kerja rekam medis di RSUD Dr. H. Moch.
Ansari Saleh Banjarmasin, Menerapkan sistem sub bagian yang di duduki
oleh jabatan struktural serta dipimpin oleh KA Subag rekam medis
penerapan unit kerja rekam medis di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh
sesuai dengan Peraturan Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Nomor 18
Tahun 2001, tanggal 8 Nopember 2001, tentang Pembentukan Susunan
Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit dr. H. Moch. Ansari Saleh. Adapun
struktur sub bagian rekam medis di RSUD dr. H. Moch. Ansari Saleh sebagai
berikut :

Tabel 1 Struktur UKRM

D. Visi dan Misi Rekam Medis RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh
Banjarmasin
Secara umum visi adalah kemampuan memandang, kemampuan
memahami apa yang akan diwujudkan di masa yang akan datang; ide yang
ada dalam angan-angan tentang sesuatu (Dictionary Of Language and
Culture, Longman).
Misi adalah tugas khusus yang menjadi tanggung jawab seseorang
atau sekelompok orang – specifc task a person or group is charged –
(Webster Third New International Dictionary).
Adapun visi dan misi RSUD dr. H. Moch Ansari Saleh Banjarmasin
khususnya di bagian unit kerja rekam medis adalah sebagai berikut :
VISI :
“ Memberikan informasi yang bermutu dan berkualitas serta pelayanan
prima”

MISI :
1. Mengumpulkan, mengolah, menyimpan data serta informasi yang
lengkap dan akurat
2. Mendukung terselenggaranya tertib administrasi
3. Memberi perlindungan hukum bagi pasien, profesi kesehatan dan
rumah sakit.
BAB III
MANAJEMEN REKAM MEDIS DAN INFORMASI
KESEHATAN

A. Konsep Sistem Pembiayaan


1. Pengertian pembiayaan
Biaya kesehatan ialah besarnya yang harus disediakan untuk
menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan
yang diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat,
maka biaya kesehatan di sini menjadi persoalan utama para pemakai
jasa pelayanan. Dalam batas-batas tertentu, pemerintah juga turut
mempersoalkannya, yakni dalam rangka terjaminnya pemenuhan
kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang
membutuhkannya (Depkes 2013).
2. Sistem pembiayaan kesehatan
Sistem pembiayaan kesehatan memiliki 3 fungsi utama, yaitu:
mengumpulkan dana dari peserta (collecting), menghimpun dana dan
meminimalkan risiko (risk polling), dan membeli dan menyediakan
layanan kesehatan untuk melayani peserta (purchasing). Ketiga fungsi
ini dilaksanakan berlandaskan pada kaidah dan prinsip asuransi
kesehatan sosial (Miller 2007).
Pembiayaan kesehatan merupakan bagian yang penting dalam
implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan dari
pembiayaan kesehatan adalah mendorong peningkatan mutu,
mendorong layanan berorientasi pasien, mendorong efisiensi tidak
memberikan reward terhadap provider yang melakukan over treatment,
undertreatment maupun melakukan adverse event dan mendorong
pelayanan tim (Miller 2007).
Dengan sistem pembiayaan yang tepat diharapkan tujuan diatas
bisa tercapai. Terdapat dua metode pembayaran rumah sakit yang
digunakan, yaitu metode pembayaran retrospektif dan metode
pembayaran prospektif. Metode pembayaran retrospektif adalah metode
pembayaran yang dilakukan atas layanan kesehatan yang diberikan
kepada pasien berdasar pada setiap aktifitas layanan yang diberikan,
semakin banyak layanan kesehatan yang diberikan semakin besar biaya
yang harus dibayarkan. Contoh pola pembayaran retrospektif adalah
Fee For Services(FFS). Metode pembayaran prospektif adalah metode
pembayaran yang dilakukan atas layanan kesehatan yang besarannya
sudah diketahui sebelum pelayanan kesehatan diberikan.
Contoh pembayaran prospektif adalah related group, kapitasi, per
diem, ambulatory care group dan global budget, yang dirinci sebagai
berikut :
a. Indonesia Case Base Group (INA CBG’S)
Ina Cbg’s adalah besaran pembayaran klaim oleh BPJS
kesehatan kepada fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan atas
paket layanan yang didasarkan kepada pengelompokan diagnosis
penyakit dan prosedur (Permenkes 2014).
Sebagai contoh jika seorang pasien menderita demam berdarah,
maka pembayaran kerumah sakit sama besarnya untuk setiap kasus
demam berdarah, tanpa memperhatikan beberapa hari pasien
dirawat disebuah rumah sakit dan jenis rumah sakitnya. Pembayaran
dilakukan berdasarkan diagnosis pasien keluar. Konsep Ina Cbg’s
sesungguhnya sederhana yaitu bahwa rumah sakit mendapatkan
pembayaran berdasarkan rata-rata biaya yang dihabiskan oleh
berbagai rumah sakit untuk suatu diagnosis. (Permenkes 2014)
b. Pembayaran kapitasi
Sistem pembayaran kapitasi adalah pembayaran yang dilakukan
oleh suatu lembaga kepada PPK atas jasa pelayanan kesehatan yajg
diberikan kepada anggota lembaga tersebut, yaitu dengan membayar
di muka sejumlah dasa sebesar perkalian anggora dengan satuan
biaya (unit cost) tertentu. Didasari ats jumlah tertanggung (orang
yang dijamin atau anggota) baik angota itu dalam keadaan sakiy atau
dalam keadaan sehat yang besarnya ditetapkan dan umumnya
dibayarkan dimuka tanpa memperhitungkan jumlah konsultasi atau
pemakaian pelayanan di PPK tersebut (Khairani Rhaina, 2011)
c. Pembayaran perkasus/perdiagnosis
Sistem pembayaran perkasus(case rates) banyak digunakan
untuk membayar rumah sakit dalam kasus-kasus tertentu,
pembayaran perkasus ini mirip dengan pembayaran Ina Cbg’s yaitu
dengan mengelompokan berbagai jenis pelayanan menjadi satu
kesatuan (kongstevdt 1996). Pengelompokan ini harus ditetapkan
dulu dimuka dan disetujui kedua belah pihak, yaitu pihak rumah sakit
dan pihak pembayar.
d. Pembayaran per diem
Pembayaran per diem merupakan pembayaran yang dinegosiasi
atau disepakati dimuka yang didasari pada pembayaran perhari
perawatan, tanpa mempertimbangkan biaya yang dihabiskan oleh
rumah sakit(kongstevdt 1996). Misalnya suatu badan asuransi atau
pemerintah membayar perhari perawatan dikelas III sebesar
Rp.250.000/Hari untuk kasus apapun yang sudah mencakup biaya
ruangan, jasa konsultasi/visit dokter, obat-obatan, pemeriksaan,
laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Sebuah rumah
sakit yang efisien dapat mengendalikan biaya perawatan dengan
memberikan obat yang paling coast efektive, memeriksa laboratorium
hanya untuk jenis pemeriksaan yang memang diperlukan benar,
memiliki dokter yang dibayar gajih bulanan dan bonus, serta berbagai
penghematan lainnya (Enrymazni 2011).
e. Global budget
Global budget merupakan salah satu sistem pembayaran rumah
sakit berdasarkan pada anggaran atau sejumlah besaran biaya hasil
negosiasi. Disepakati oleh kedua belah pihak untuk jangka waktu
tertentu (Dika Irawan 2018).
Global budget (anggaran global) untuk rumah sakit banyak
dilakukan dieropa (Sandier,dkk 2002) dan juga dimalaysia.
Sesungguhnya global budget merupakan cara pendanaan rumah
sakit oleh pemerintah atau suatu badan asuransi kesehatan nasional
dimana rumah sakit mendapat dana untuk membiayai seluruh
kegiatannya untuk masa satu tahun 1, alokasi dana kerumah sakit
tersebut diperhitungkan dengan mempertimbangkan jumlah
pelayanan tahun sebelumnya kegiatan lain yang diperkirakan akan
dilaksanakan dan kinerja rumah sakit tersebut. Tidak ada satupun
sistem pembiayaan yang sempurna, setiap sistem pembiayaan
memiliki kelebihan dan kekurangan.

Berikut tabel perbandingan kelebihan sistem pembayaran prospektif dan


retrospektif :

Pilihan sistem pembiayaan tergantung pada kebutuhan dan tujuan


dari implementasi pembayaran kesehatan . Sistem pembiayaan prospektif
menjadi pilihan karena dapat :
-Mengendalikan biaya kesehatan
-Mendorong pelayanan kesehatan tetap bermutu sesuai standar
-Membatas pelayanan kesehatan yang tidak diperlukan berlebihan atau under
use

-Mempermudah administrasi klaim


-Mendorong provider untuk melakukan cost containment (Permenkes 2014).

Berdasarkan dilapangan RSUD H.Moch Ansari Saleh Banjarmasin, telah


menerapkan sistem pembiayaan dengan metode pembayaran…… karena sistem
ini….

B. Asuransi Kesehatan
1. Pengertian
Asuransi kesehatan adalah sebuah jenis produk asuransi yang secara khusus
menjamin biaya kesehatan atau perawatan para anggota asuransi tersebut
jika mereka jatuh sakit atau mengalami kecelakaan. Secara garis besar ada
dua jenis perawatan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan asuransi, yaitu
rawat inap (in-patient treatment) dan rawat jalan (out-patient treatment) (Mukti,
Ali Ghufron 2008).
2. Produk asuransi kesehatan diselenggarakan baik oleh perusahaan
asuransi sosial, perusahaan asuransi jiwa, maupun juga perusahaan asuransi
umum. Di Indonesia, PT Askes Indonesia merupakan salah satu perusahaan
asuransi sosial yang menyelenggarakan asuransi kesehatan kepada para
anggotanya yang utamanya merupakan para pegawai negeri baik sipil
maupun non-sipil. Anak-anak mereka juga dijamin sampai dengan usia 21
tahun. Para pensiunan beserta istri ataupun suami juga dijamin seumur hidup.
Di luar golongan tersebut pemerintah juga menyediakan program asuransi
kesehatan kepada warga berpenghasilan rendah, kini disebut Jamkesmas
(Mukti, Ali Ghufron 2008).
3. Pada tahun 2010,120,2 juta dari sekitar 237 juta penduduk Indonesia
memiliki asuransi kesehatan disediakan baik oleh PT Askes Indonesia, PT
Jamsostek, PT Asabri maupun lewat program Jamkesmas atau asuransi lain.
(Jamkesmas 2010)
4. Beberapa perusahaan asuransi kerugian dan asuransi jiwa telah
memasarkan pula program-program asuransi kesehatan dengan berbagai
macam varian yang berbeda. Pada umumnya perusahaan asuransi yang
menyelenggarakan program asuransi kesehatan bekerja sama dengan
provider rumah sakit baik secara langsung maupun melalui institusi perantara
sebagai asisten manajemen jaringan rumah sakit. (Jamkesmas 2010)
Pada umumnya model asuransi mendorong munculnya apa yang disebut
sebagai moral hazard, moral hazard sendiri berarti moral atau karakter dari calon
tertanggung yang mentransfer resikonya ke perusahaan asuransi atau
respondensinya sebagai rincian contoh yaitu sebagai berikut:
a. Pada sisi tertanggung (pasien): adanya kecenderungan untuk
memaksimalkan pelayanan kesehatan karena semua biaya akan
ditanggung asuransi, dan kecenderungan untuk tidak melakukan tindakan
preventif
b. Pada sisi provider: mempunyai kecenderungan untuk memberikan terapi
secara berlebihan untuk memaksimalkan pendapatan. Sehingga beberapa
skema asuransi diatur sedemikian rupa untuk mengurangi terjadinya moral
hazard, misalnya dengan mengatur batasan paket pelayanan, mengatur
besaran kontribusi sesuai dengan tingkat resiko tertanggung

C. Reimbursement INA CBG’s


Reimbursement merupakan penerapan pembayaran prospektif,
reimbursment padalah pembayaran kembali kepada peserta untuk jumlah yang
diajukan sebagai klaim karena terjadinya suatu penyakit atau kecelakaan.
Nasabah harus terlebih dahulu membayar keseluruhan biaya rumah sakit. Selain
itu, baru kemudian mengurus dan melengkapi dokumen untuk diajukan kepada
perusahaan asuransi untuk meminta ganti rugi pembayaran rumah sakit
sebelumnya. Pengajuan penggantian klaim BPJS selama 14 hari (Pedoman DIII
PIK;Asuransi kesehatan). INA-CBG’s adalah salah satu contoh dari penerapan
metode pembayaran prospektif. INA CBG’s merupakan suatu metode
pembayaran dengan sistem casemix yaitu suatu sistem dimana menggunakan
pengelompokkan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis yang
mirip/sama dan penggunaan sumber daya/biaya perawatan yang mirip/sama
(Permenkes 2014).

Rumah sakit mendapatkan penggantian biaya perawatan berdasarkan rata-


rata biaya yang yang dihabiskan oleh rumah sakit dalam penatalaksanaan satu
diagnosis penyakit. Pembayaran case based groups, instalasi kesehatan
maupun pihak pembayar (asuransi Jamkesmas) tidak lagi merinci tagihan
pembayaran pasien dengan melakukan penagihan pada setiap jenis pelayanan
apa saja yang telah diberikan kepada seorang pasien. Diagnosis pasien saat
keluar dari rumah sakit merupakan dasar dalam menentukan biaya perawatan.
Diagnosis tersebut kemudian dilakukan pemberian kode International Statistical
Classification of Diseases and Related Health Problem (ICD-10). (Ilfatul
Mawadah, Arifanda 2016).

CBG’s adalah suatu sistem pemberian imbalan jasa pelayanan kesehatan


pada penyedia pelayanan kesehatan (PPK) yang ditetapkan berdasarkan
pengelompokkan diagnosis penyakit. Diagnosis dalam CBG’s sesuai dengan
ICD-9-CM (International Classification Disease Ninth Edition Clinical Modification)
dan ICD-10 ( International Statistical Classification of Diseases and Related
Health Problems Tenth Revision ) (Hatta, 2010). Dasar hukum implementasi dan
pelaksanaan INA-CBG di Indonesia adalah Undang – Undang Nomor 40 tahun
2004 tentang SJSN, serta Surat Keputusan Direktur Jendral Bina Upaya
Kesehatan Nomor. HK.03.05/I/589/2011 tentang Pembentukan Kelompok Kerja
Center for Casemix Tahun 2011 (Depkes RI, 2011).

Berdasarkan hasil praktik di RSUD H.Moch Ansari Saleh Banjarmasin telah


diterapkan sistem reimbursement, dengan pengajuan penggantian klaim dalam
tenggang waktu…. Sistem reimbursement dipegang oleh bagian…Alur dan
prosedur =…

D. Implementasi Sistem Pembiayaan di Indonesia

Di Indonesia, metode pembayaran prospektif dengan Casemix (case based


payment) dan sudah diterapkan sejak Tahun 2008 sebagai metode pembayaran
pada program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Sistem casemix
adalah pengelompokan diagnosis dan prosedur dengan mengacu pada ciri klinis
yang mirip/sama dan penggunaan sumber daya/biaya perawatan yang
mirip/sama, pengelompokan dilakukan dengan menggunakan software grouper.
Sistem Casemix saat ini banyak digunakan sebagai dasar sistem pembayaran
kesehatan di negara-negara maju dan sedang dikembangkan di negara-negara
berkembang. Dalam implementasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah
diatur pola pembayaran kepada fasilitas kesehatan tingkat lanjutan adalah
dengan INA-CBG’s sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 12 Tahun 2013
tentang Jaminan Kesehatan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan
Presiden Nomor 111 tahun 2013. Untuk tarif yang berlaku pada 1 Januari 2014,
telah dilakukan penyesuaian tarif INA-CBG Jamkesmasdan telah ditetapkan
dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 69 Tahun 2013 tentang Standar Tarif
Pelayanan Kesehatan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama dan Fasilitas
Kesehatan Tingkat Lanjutan dalam penyelenggaraan Jaminan Kesehatan. Dalam
sistem Case-Mix, yang menjadi perhatian adalah bauran kasus, yaitu apakah
diagnosis utama yang ditegakkan pasien serta komplikasi apa yang mungkiri
terjadi akibat diagnosis utama tersebut. Diagnosis utama itu lah yang dijadikan
acuan untuk menghitung biaya pelayanan. Penghitungan biaya berfokus pada
variabel tersebut, sehingga rumah sakit tidak akan mencantumkan hal-hal yang
tidak seharusnya dalam pembayaran. Dengan demikian, penghitungan biaya
menjadi lebih mudah dan tepat. Tidak ada pembayaran untuk hal-hal yang
sekiranya tidak berhubungan atau tidak perlu. Prioritas pelayanan pasien akan
diberikan sesuai dengan tingkat keparahan, dan tidak dilakukan secara
sembarangan. Ini tentunya dapat menekan biaya pelayanan kesehatan yang
kerap menjadi masalah bagi masyarakat, khususnya masyarakat miskin.
Masyarakat tidak akan merasa ditipu akibat harus membayar biaya di luar
pelayanan yang seharusnya. Kandungan biaya pada terminologi biaya layanan
kesehatan dari sudut pandang pasien sebagai pembeli layanan tentu lebih luas
dibanding kandungan biaya pada terminologi biaya perawatan dari sudut
pandang rumah sakit sebagai pembeli sumber daya. Pada sudut pandang rumah
sakit sebagai pembeli sumber daya, kandungan biaya mencakup besaran nilai
rupiah yang dikeluarkan rumah sakit atas konsumsi seluruh sumber daya yang
digunakan baik yang bersifat recurrent cost maupun capital cost dalam aktivitas-
aktivitas operasional maupun non-operasional rumah sakit dalam rangka
penyediaan layanan kesehatan. (Ilfatul Mawadah, Arifanda 2016).
Pengelompokan dalam INA-CBGs menggunakan sistem kodifikasi dari
diagnosis akhir dan tindakan/prosedur yang menjadi output pelayanan, dengan
acuan ICD-10 untuk diagnosis dan ICD-9-CM untuk tindakan/prosedur.
Pengelompokan menggunakan sistem teknologi informasi berupa Aplikasi INA-
CBG sehingga dihasilkan 1.077 Group/Kelompok Kasus yang terdiri dari 789
kelompok kasus rawat inap dan 288 kelompok kasus rawat jalan. Setiap group
dilambangkan dengan kode kombinasi alfabet dan numeric (Permenkes 2014)

E. Billing Sistem
1. Pengertian Sistem Billing
Billing berasal dari bahasa Inggris yaitu bill (noun), yang artinya bukti
transaksi pembayaran. Maka billing dapat juga diartikan mengirimkan bukti
transaksi, atau mengumumkan bukti transaksi (Enterprise, Jubilee 2007).
2. Billing sistem rumah sakit.
Billing Sistem Informasi Rumah Sakit adalah sistem Informasi transaksi
pembayaran yang dihasilkan oleh sebuah sistem yang digunakan pada rumah
sakit bersangkutan. Software Sistem Billing Rumah Sakit adalah Software yang
berfungsi untuk menghitung transaksi pembayaran yang terjadi atau sebagai
bukti transaksi atau memberitahukan jumlah transaksi yang terjadi pada rumah
sakit baik yang berkaitan dengan obat, jasa dokter dan tindakan medis. (Tohir,
Muhammad 2016)

3. Fungsi Sistem Billing di Rumah Sakit


Sistem billing di Rumah sakit berfungsi mengatur dan memproses semua
tagihan yang berkaitan dengan item atau jasa yang dijual. dan khususnya di
rumah sakit, item-item tersebut lebih khusus kepada obat-obatan, dan juga
tindakan-tindakan medis (Tohir,Muhammad 2016).
4. Jenis Billing di Rumah Sakit
Billing system Rumah sakit itu ada 3 macam :
a) Manual / Stand Alone Bill System, yaitu billing system yang tidak
terintegrasi dengan sistem-sistem lainnya (aplikasi-aplikasi lain). Pada
Billing System jenis ini semua tindakan di poliklinik dan penunjang dicatat
secara manual, lalu diinputkan ke aplikasi oleh petugas billing, lalu
tagihan / invoice bisa dicetak.
b) Semi Integrated Bill System, yaitu billing system yang terintegrasi dengan
sistem lainnya tetapi cuman sebagian, misal Pendaftaran –> Billing, atau
Pendaftaran –> Penunjang –> Billing, dll.
c) Fully Integrated Bill System, yaitu billing system yang terintegrasi dengan
seluruh sistem rumah sakit (khususnya yang berkaitan dengan masalah
keuangan). Pada billing system jenis ini semua proses yang
menghasilkan charging ( berbiaya ) akan langsung tercatat di sistem,
sehingga ketika pasien akan pulang, petugas billing tidak terlalu sibuk
mengentry tindakan-tindakan / item-item yang di charge ke pasien dan
dengan demikian waktu tunggu pasien akan semakin sebentar dan
pelayanan bisa lebih memuaskan. Semua proses mulai dari pendaftaran,
tindakan di poliklinik, penunjan, farmasi, dll akan langsung tercatat,
bahkan back office (finance & akunting) akan memperoleh laporan dan
data yang bisa dengan mudah dan cepat tersaji. (wodpress, 2008)
5. Kemampuan sistem Billing di Rumah Sakit
A.Sistem Billing Rumah sakit
1. Pendaftaran
a. Mendata pasien baru dan memberikan nomor registrasi secara otomatis
b. Menerima pasien lama (kunjungan)
c. Mendata diagnosa awal penyakit pasien
d. Menangani transaksi karcis
e. Memberikan informasi data pasien, kondisi kamar serta tarif di rumah sakit
f. Tersedia print out karcis
2. Instalasi Rawat Jalan/Instalasi Penunjang (Laboratorium, Radiologi dll)
a. Menangani transaksi tindakan, pemakaian alat-alat kesehatan
b. Menampilkan tarif secara otomatis
3. Instalasi Rawat Darurat
a. Menangani transaksi tindakan, pemakaian alat-alat kesehatan
b. Menampilkan tarif secara otomatis
4. Instalasi Rawat Inap
a. Menangani transaksi tindakan, pemakaian alat-alat kesehatan
b. Menangani transaksi visite dan konsul
c. Menangani transaksi penggunaan tempat tidur
d. Menangani proses pindah kamar/ruangan/kelas
e. Menangani transaksi antar tempat layanan
f. Menangani transaksi pergantian paramedic
g. Menampilkan tarif secara otomatis
5. Pembayaran
a. Menangani pembayaran pasien (langsung lunas)
b. Menangani pembayaran pasien dengan mengangsur
c. Menangani pembayaran pasien dengan subsidi
d. Menangani pembayaran pasien dengan jaminan/ASKES
e. Tersedianya print out jenis transaksi dan tagihan pasien
6. Laporan
a. Menyajikan jenis transaksi dari tiap pasien termasuk rincian biaya
b. Menyajikan daftar kunjungan pasien serta histori penyakitnya
c. Menghitung dan menyajikan secara otomatis jasa medis
d.Menyajikan besar pendapatan, subsidi, jaminan, termasuk rincian
penerimaan
e. Menyajikan laporan 10 penyakit terbanyak

Berdasarkan lapangan di RSUD H.Moch Ansari Saleh


BAB IV
MANAJEMEN MUTU REKAM MEDIS DAN INFORMASI KESEHATAN
A. Analisis Kuantitatif
1. Pengertian

Analisis kuantitatif adalah telaah atau review bagian tertentu dari isi rekam
medis dengan maksud menemukan kekurangan khusus dari isi rekam medis
dengan maksud menemukan kekurangan khusus yang berkaitan dengan
pendokumentasian (pencatatan) rekam medis (Susanto,Edy 2017).

Penilaian mutu berkas rekam medik dilakukan melalui analisis kuantitatif


dan kualitatif. Ketidaklengkapan pengisian berkas rekam medik sering terjadi
pada pengisian nama dan nomor rekam medik. Dengan tidak adanya nama dan
nomor rekam medik akan menyulitkan petugas rekam medik dalam
menggabungkan berkas rekam medik dengan berkas rekam medis yang lain jika
tercecer atau terlepas dari mapnya (Susanto,Edy 2017).

2. Tujuan

Menurut Huffman (1994:228) tujuan analisis kuantitatif adalah sebagai berikut :

a. Menentukan sekiranya ada kekurangan agar dapat dikoreksi dengan


segera pada saat pasien masih dirawat, dan item kekurangan belum
terlupakan, untuk menjamin efektifitas kegunaan isi rekam medis di
kemudian hari. Yang dimaksud dengan koreksi adalah perbaikan sesuai
keadaan yang sebenarnya terjadi.
b. Untuk mengidentifikasi bagian yang tidak lengkap yang dengan mudah
dapat dikoreksi dengan adanya suatu prosedur sehingga rekam medis
menjadi lebih lengkap dan dapat dipakai untuk pelayanan pada pasien,
melindungi dari kasus hukum, memenuhi peraturan dan untuk statistik
yang akurat.
c. Kelengkapan rekam medis sesuai dengan peraturan yang ditetapkan
jangka waktunya, perizinan, akreditasi, keperluan sertifikat lainnya.
d. Mengetahui hal-hal yang berpotensi untuk membayar ganti rugi.
e. Untuk mengidentifikasi informasi yang jelas dan selalu terjadi, yang bisa
diperbaiki dengan mudah pada prosedur norma Rumah Sakit. Prosedur
ini membuat catatan medis lengkap untuk dirujuk pada asuhan yang
berkesinambungan, untuk melindungi kepentingan hukum pasien, dokter,
Rumah Sakit dan untuk memenuhi persyaratan lisensi, akreditasi, dan
sertifikasi.
Dalam melakukan analisis kuantitatif harus dilakukan oleh tenaga rekam medis
yang “tahu” tentang :
a. Jenis formulir yang digunakan
b. Jenis formulir yang harus ada
c. Orang yang berhak mengisi formulir
d. Orang yang harus melegalisasi penulisan.
Yang dimaksud dengan “tahu” adalah dapat mengidentifikasi (mengenal,
menemukan) bagian yang tidak lengkap ataupun belum tepat pengisiannya.
Waktu pelaksanaan analisis Kuantitatif dibagi menjadi 2, yaitu:
a. Concurrent Analisys yaitu analisis dilakukan bersamaan dengan saat
pelayanan pasien terkait sedang berjalan. Cara ini memudahkan koreksi dan
akan mengurangi salah tafsir dikemudian hari. Keuntungan yang lain yaitu
terjaganya kualitas kelengkapan data/informasi klinis dan pengesahannya
(adanya nama lengkap, tanda tangan petugas/pasien/wali, waktu pemberian
pelayanan dan lainya) dalam rekam medis.
b. Retrospective Analisys yaitu analisis dilakukan pada saat perawatan selesai
dilaksanakan yang memungkinkan telaah secara menyeluruh walaupun hal ini
memperlambat proses melengkapi yang kurang (Susanto,Edy 2017).

3. Komponen analisis kuantitatif

a. Review identifikasi pasien


Pemilihan terhadap tiap-tiap halaman atau lembar dokumen rekam medis dalam
hal identifikasi pasien, minimal harus memuat nomor rekam medis dan nama
pasien. Bila terdapat lembaran tanpa identitas maka harus dilakukan review
untuk menentukan kepemilikan formulir rekam medis tersebut. Dalam hal ini
secara concurrent analysis akan lebih baik dari pada retrospectif analysis.
b. Review pelaporan yang penting
Dalam analisis kuantitatif, bukti rekaman yang dapat dipertanggungjawabkan
secara lengkap yaitu adanya data/info kunjungan yang memuat alasan, keluhan
pasien(kalau ada), riwayat pemeriksaan, data tambahan (lab), USG, EKG, EMG,
diagnosis atau kondisi, rujukan(kalau ada). Lembaran tertentu kadang ada
tergantung kasus. Contoh laporan operasi, anestesi, hasil Patologi Anatomi (PA).
Penting ada tanggal dan jam pencatatan, sebab ada kaitannya dengan peraturan
pengisian.
c. Review Autentikasi
Rekam kesehatan dikatakan memiliki keabsahan bilamana tenaga kesehatan
yang memeriksa pasien atau surat persetujuan yang diberikan pasien/wali dalam
rekam kesehatan diakhiri dengan membubuhkan tanda tangan.
d. Review pencatatan
Analisa kuantitatif tidak bisa memecahkan masalah tentang isi rekam medis yang
tidak terbaca atau tidak lengkap, tetapi bisa mengingatkan atau menandai entry
yang tidak tertanggal, dimana kesalahan tidak diperbaiki secara semestinya
terdapat daerah lompatan yang seharusnya diberi garis untuk mencegah
penambahan, kemudian pada catatan kemajuan dan perintah dokter, perbaikan
kesalahan merupakan aspek yang sangat penting dalam pendokumentasian
(Susanto,Edy 2017).

Gambar 4 1 Ceklist Analisis Kuantitaif


B. Analisis Kualitatif
1. Pengertian
Analisis kualitatif yaitu suatu review yang ditujukan terhadap dokumen
rekam medis untuk mengidentifikasi tentang ketidak lengkapan dalam pengisian
dokumen rekam medis, dalam analisa kualitatif harus memerlukan pengetahuan
tentang terminologi medis, anatomi dan fisiologi, dasar-dasar ilmu penyakit, serta
isi catatan medis (Susanto,Edy 2017).
2. Tujuan
Adapun tujuan dilakukan analisis kualitatif yaitu:
a. Agar rekam medis lengkap dan dapat digunakan bagi referensi pelayanan
kesehatan,melindungi minat hukum, sesuai dengan peraturan yang ada.
b. Menunjang informasi untuk aktifitas penjamin mutu quality assurance.
c. Membantu penetapan diagnosis dan prosedur pengkodean penyakit.
d. Bagi riset medis, studi administrasi dan penggantian biaya perawatan.
e. Komponen Analisis Kualitatif Administratif

Analisis kualitatif administratif (AKLA), menelaah kelengkapan 6 unsur


administrari perawatan yaitu:
a. Kejelasan masalah dan kondisi/diagnosis
Adanya hubungan yang jelas antara informasi dari pasien dengan tindakan yang
dilakukan.
b. Masukan konsisten
Adanya hubungan antara data dalam rekam medis dengan informasi tentang
kondisi pasien.
c. Alasan pelayanan
Setiap pelayanan yang diberikan harus jelas alasan yang mendasarinya.
d. Informed consent, diberikan bila ada tindakan medis khusus yang memerlukan
alternatif lain dan jelaskan secara tertulis. Alternatif yang diambil ditandatangani
pasien atau keluarga.
e. Telaah rekaman, dilakukan untuk menjamin bahwa rekaman yang dihasilkan
mempunyai kondisi yang baik, meliputi:

1) Mutakhir
Informasi dalam rekam kesehatan dicatat segera, tidak ditunda hingga ke hari
berikutnya. Bila ada korespondensi medis untuk pihak luar dikerjakan dalam
waktu kurang dari 7 hari.
2) Tulisan terbaca
Dapat terbacanya masukan informasi berupa abjad dan angka yang ditulis
dalam rekam kesehatan.
3) Singkatan baku
Penggunaan peristilahan medis yang sudah disepakati dalam dunia
kesehatan dan atau di sarana pelayanan kesehatan.
4) Menghindari sindiran
Tulisan medis dalam rekam kesehatan tidak saling menjatuhkan sesama
rekan.
5) Pengisian tidak senjang
Pencatatan dilakukan setiap pasien ke klinik tanpa adanya kekosongan meski
dalam keadaan darurat, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.
6) Tinta
Rekam kesehatan hanya menggunakan tinta warna biru atau hitam dalam
penulisan.Khusus untuk suhu, nadi, pernafasan (grafik) boleh menggunakan
warna merah atau hijau.

7) Catatan jelas

Kelengkapan informasi rekam kesehatan berdasarkan urutan kronologis


sesuai tahapan kunjungan dan pemberian pelayanan kesehatan, sehingga
informasi medis jelas dan mudah dipahami.
8) Informasi ganti rugi
Informasi penanggung biaya perawatan pasien.
Analisis Kualitatif adalah suatu review pengisian rekam medis yang berkaitan
tentangkekonsistenan dan isinya merupakan bukti rekam medis tersebut
akurat dan lengkap.

Berdasarkan hasil praktek lapangan di unit kerja rekam medis bagian


penjamin mutu dilakukan dibagian analisis dan koding rekam medis (ankod),
analisis dilakukan setelah pasien pulang dan saat berkas rekam medis telah di
assembling, jenis analisis yang diterapkan adalah analisis kuantitatif & kualitatif,
dimana terdapat 2 petugas yang masing-masing memegang peranan analisis
kuantitatif dan kualitatif. Setelah selesai di analisis, berkas rekam medis
kemudian di input. Lembar analisis kuantitatif yang tidak lengkap di input
kebagian PRM (pelaporan rekam medis), sedang berkas rekam medis yang telah
dianalisis dengan kualitatif di input ke bagian IDRI (input data rawat inap).
Setelah selesai berkas di simpan & dikembalikan kebagian rak filling.
Pembahasan:
BAB V
KLASIFIKASI DAN KODEFIKASI PENYAKIT, MASALAH-MASALAH YANG
BERKAITAN DENGAN KESEHATAN DAN TINDAKAN MEDIS (KKPMT)

A. Alur dan Prosedur Klasifikasi Penyakit


Menurut buku pedoman penyalenggara dan prosedur Rekam Medis
Rumah Sakit Revisi II tahun 2006, pemberian kode adalah pemberian
penerapan kode dengan menggunakan huruf, angka atau kombinasi huruf
dalam angka yang mewakili komponan data. Kegiatan dan tindakan serta
diagnosis yang ada didalam rekam medis harus diberi kode dan selanjutnya
di indeks agar memudahkan pelayanan informasi untuk menunjang fungsi
perencanaan, manajemen, dan riset bidang kesehatan.
Kode klasifikasi oleh World Health Organization (WHO) bertujuan
untuk menyeragaman nama dan golongan penyakit, cedera, gejala, yang
mempengaruhi gejala dan faktor kesehatan. Sejak tahun 1993 WHO
mengharuskan negara anggotanya termasuk Indonesia menggunakan
klasifikasi penyakit revisi 10 (ICD 10 Internasional Statistical Classification
Diseases And Health Problem 10 Revisi). ICD 10 menggunakan kode
kombinasi yaitu menggunakan abjad dan angka (alpha Numerik).
Kecepatan dan ketepatan pemberian kode suatu diagnosis sangat
tergantung kepada pelaksaan yang menangani berkas rekam medis
tersebut yaitu :
1. Tenaga medis dalam penetapan diagnosis.
2. Tenaga rekam medis sebagai pemberi kode
3. Tenaga kesehatan lainnya.
Penetapan diagnosis seorang pasien merupakan kewajiban, hak dan
tanggung jawab dokter (tenaga medis) yang terkait tidak boleh diubah boleh
diubah oleh karenanya harus ada diagnosis sama rekam medis diisi dengan
lengkap dan jelas sesuai dengan arahan yang ada buku ICD 10.
Tenaga medis sebagai seorang pemberi kode bertanggung jawab
atas keakuratan kode dari suatu diagnosis yang sudah ditetapkan oleh
tenaga medis. Oleh karena itu untuk hal kurang jelas atau tidak lengkap,
sebelum kode ditetapkan komunikasikan terlebih dahulu pada dokter yang
membuat diagnosa tersebut. Setiap pasien yang telah selesai mendapatkan
pelayanan baik rawat jalan maupun rawat inap, maka dokter yang
memberikan pelayanan harus segera membuat diagnosis akhir.
Kelancaran dan kelengkapan pengisian di rekam medis di instalasi
rawat jala dan rawat inap atas kerjasama tenaga medis dan tenaga
kesehatan lainnya yang ada masing-masing instalasi kerja tersebut. Hal ini
seperti dijelaskan pada pasal 3 dan pasal 4 Permenkes RI No.
794a/Menkes/Per/XII 1989 tentang Rekam Medis.
Untuk lebih meningkatkan informasi dalam Rekam Medis, petugas
Rekam medis harus membuat kode sesuai dengan klasifikasi yang tepat.
Disamping pada penyakit, berbagai tindakan lain juga harus diberi kode
sesuai dengan klasifikasinya masing-masing dengan menggunakan ICD 10
dan ICD-9 CM.
Menurut buku pedoman penyelenggaraan dan prosedur Rekam
Medis Rumah Sakit II tahun 2006, standar prosedur koding sebagai berikut :
1. Standar prosedur pengkodean diagnosa penyakit rawat jalan
prosedurnya sebagai berikut :
a. Baca diagnosa peyakit yang terdapat pada berkas Rekam Medis
rawat jalan pada tanggal hai berobat
b. Pencarian kode diagnosa penyakit yang terdapat pada buku indeks
ICD10 Vol.III
c. Cek kebenaran Kode pada ICD 10 Vol.I
d. Transfer nomor kode diagnosa pada daftar tabulasi dasar (DTD)
e. Masukkan kode penyakit tersebut kedalam komputer
2. Standar prosedur pengkodean diagnosa penyakit rawat inap
prosedurnya sebagai berikut :
a. Baca diagnosa penyakit yang terdapat padaberkas Rekam Medis
rawat inap pasien yang telah pulang rawat.
b. Pencarian kode diagnosa penyakit yang terdapat pada buku indeks
ICD 10 Vol.III
c. Cek kebenaran kode pada ICD 10 Vol.I
d. Jika ada tindakan yang dilakukan cari kode tindakan pada ICD IX
CM.
e. Transfer nomor kode diagnosa pada daftar tabulasi dasar (DTD)
f. Masukkan kode penyakit terebut ke dalam komputer.

Pemberian kode ini merupakan kegiatan klasifikasi penyakit dan tindakan


yang mengelompokan penyakit dan tindakan berdasarkan criteria tertentu
yang telah disepakati. Pemberian kode atas diagnosis klasifikasi penyakit
yang berlaku dengan menggunakan ICD-10 untuk mengkode penyakit,
sedangkan ICOPIM dan ICD-9-CM digunakan untuk mengkode tindakan,
serta komputer (on-line) untuk mengkode penyakit dan tindakan.

Buku pedoman yang disebut International Classification of Diseases and


Related Health Problems, Tenth Revision (ICD – 10) terbitan WHO. Di
Indonesia penggunaannya telah ditetapkan oleh Dep. Kes. RI sejak tgl.
19 – 2 –1996. ICD –10 terdiri dari 3 volume :

• Volume 1 (Tabular List), berisi tentang hal-hal yang mendukung


klasifikasi utama
• Volume 2 (Instruction Manual), berisi tentang pedoman penggunaan
• Volume 3 (Alphabetic Index), berisi tentang klasifikasi penyakit yang
disusun

berdasarkan indeks abjad atau secara alphabet,terdiri dari 3 seksi:


1) Seksi 1 merupakan klasifikasi diagnosis yang tertera dalam vol 1
2) Seksi 2 untuk mencari penyebab luar morbiditas, mortalitas dan
membuat istilah dari bab 20
3) Seksi 3 merupakan table obat-obatan dan zat kimia sebagai
sambungan dari bab 19,20 dan menjelaskan indikasi kejadiannya

Prosedur coding
1) Memberi kode penyakit pada diagnosa pasien yang terdapat pada
berkas rekam medis sesuai dengan ICD 10,
2) Menghubungi dokter yang menangani pasien yang bersangkutan
apabila diagnosa pasien tersebut kurang bisa dimengerti atau tidak
jelas
3) Melakukan pengolahan klasifikasi penyakit
4) Memberikan pelayanan kepada dokter atau peneliti lain yang akan
melakukan penelitian yang sesuai indek pe nyakit pasien,
5) Hasil diagnosis dari dokter, merupakan diagnosis utama maupun
sebagai diagnosa sekunder atau diagnosa lain yang dapat berupa
penyakit komplikasi, maka harus menggunakan buku ICD-10
(International Statistical Classification of Diseases and Related Health
Problems Tenth Revision). Untuk pasien yang dilakukan tindakan
operasi, nama operasi tersebut dilengkapi dengan kode-kode operasi
yang dapat ditentukan dengan bantuan buku ICOPIM dan ICD-9-CM
(Internasional Classification of Procedure in Medicine).
6) Dalam mencari kode penyakit dapat dicari berdasarkan abjad nama
penyakit yang dapat dilihat di dalam buku ICD-10 (International
Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems
Tenth Revision).
7) Lalu untuk indexing dilakukan dengan cara komputer. Juga
digunakan lembaran kode penyakit yang sering muncul untuk
mempermudah proses pengkodean.

B. Neoplasma
Neoplasma adalah pertumbuhan abnormal, namun bukan kanker
yang mungkin terjadi di berbagai bagian tubuh. Kata “neoplasma” berasal
dari kata Yunani “neo”, yang berarti baru, dan “plasma”, yang berarti
“pembentukan atau penciptaan”, dengan demikian berkaitan dengan
pertumbuhan abnormal jaringan baru. Neoplasma lebih sering disebut
sebagai tumor namun karena diklasifikasikan bersifat jinak, neoplasma
tidak menyebabkan kanker, seperti tumor pra-kanker atau ganas.
Neoplasma atau tumor juga dikenal dengan nama “nodul” atau “massa”,
tergantung pada ukurannya. Nodul adalah neoplasma yang berukuran
kurang dari 20 mm, sedangkan massa setidaknya berukuran 20 mm.
Tidak seperti tumor ganas, tumor jinak tumbuh lebih lambat dan
tidak diketahui dapat bermetastasis atau menyebar ke jaringan di
sekitarnya. Ketika terbentuk, tumor ini membawa karakteristik dari jaringan
asalnya dan dapat terbentuk sendiri atau berkelompok. Karena tidak
berbahaya bagi kehidupan penderitanya, seringkali tumor ini tidak
memerlukan pengobatan segera, namun masih harus dipantau karena
terkadang dapat tumbuh cukup besar dan menyebabkan masalah bagi
fungsi tubuh. Dua bahaya utama yang harus diperhatikan ketika tumor jinak
muncul adalah ketika neoplasia berkembang menjadi massa dan ketika
tumbuh pada daerah kecil tubuh di mana tumor dapat menyebabkan
obstruksi. Dalam kasus tersebut, tumor jinak juga mungkin mengancam
jiwa sehingga pengobatan mungkin diperlukan.

C. Penyakit Infeksi
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), penyakit infeksi atau
penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme
patogen, seperti virus, bakteri, jamur, atau parasit. Penyakit ini bisa
menyebar secara langsung maupun tidak langsung dari satu orang ke
orang lainnya. Gejala yang disebabkan oleh masing-masing penyakit
infeksi dan langkah pengobatannya pun berbeda-beda tergantung
mikroorganisme apa yang menjadi pemicunya.
Beberapa contoh penyakit infeksi menular selain TBC dan Hepatitis,
yaitu campak, cacar air, chikungunya, meningitis, malaria, HIV/AIDS,
pneumonia, rabies, ebola, demam kuning, influenza, rabies, flu burung, dan
lain-lain.

D. Cidera / Injury

Cedera atau luka adalah sesuatu kerusakan pada struktur atau fungsi
tubuh karena suatu paksaan atau tekanan fisik maupun kimiawi. Berbagai
macam ceder, Luka bakar adalah cedera yang diakibatkan oleh sesuatu
yang panas, Patah tulang atau fraktur, cedera pada tulang, Luka pada kulit
yang dapat mengakibatkan pendarahan atau hanya lecet, Memar adalah
pendarahan di dalam tubuh, di kulit terlihat warna kebiruan. Luka fisik
serius adalah luka pada tubuh (fisik) yang dapat berakibat kematian pada
korban

E. Keracunan / Poisoning
keracunan makanan adalah kondisi yang muncul akibat
mengonsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh organisme
menular, seperti bakteri, virus, dan parasit. Kontaminasi dapat terjadi saat
makanan sedang diproses atau dimasak dengan tidak benar. Kontaminasi
yang umumnya terjadi pada kasus keracunan makanan disebabkan oleh,
Bakteri Campylobacter, Salmonella, Escherichia coli (E. coli), Listeria,
Clostridium botulinum ( botulinum) dan Shigella, Norovirus dan rotavirus,
Parasit Cryptosporidium, Entamoeba histolytica, dan Giardia.

F. Penyebab Luar / External Cause


Penyebab Eksternal Cedera Kode (kode E) adalah kode ICD-9-CM
atau kode ICD-10 yang digunakan untuk menentukan mekanisme kematian
atau cedera, bersama dengan tempat terjadinya peristiwa.
Kode E ditugaskan pada sertifikat kematian berdasarkan cara
kematian. Kode ICD-10 dalam rentang V01 – X59 mengacu pada cedera
yang tidak disengaja. Kode dalam rentang X60 – X84 mengacu pada
kerusakan diri yang disengaja. Kode dalam rentang Y85 – Y09 merujuk
pada serangan, dan kode dalam rentang Y10 – Y34 merujuk pada
peristiwa niat yang tidak ditentukan.
Kode E terkumpul dengan baik pada data sertifikat kematian, tetapi
kurang begitu pada data debit rumah sakit. Banyak inisiatif telah
meningkatkan persentase catatan yang dikodekan (CDC, MMWR 28 Maret
2008 / Vol. 57 / No. RR-1)

G. Faktor-faktor terkait masalah kesehatan


Bab ini jangan digunakan untuk perbandingan internasional atau
untuk pengkodean mortalitas primer.
Kategori Z00-Z99 disediakan untuk saat-saat ketika keadaan selain
penyakit, cedera atau penyebab eksternal yang bisa diklasifikasikan pada
kategori A00-Y89 tercatat sebagai ‘diagnosis’ atau ‘masalah’. Ini bisa
muncul dalam dua macam cara :
a) Ketika seseorang yang mungkin sakit atau tidak sakit mengunjungi
sarana pelayanan kesehatan (SPK) untuk suatu tujuan khusus,
misalnya untuk mendapatkan asuhan atau pelayanan terbatas untuk
kondisi sekarang, untuk menyumbangkan organ atau jaringan, untuk
mendapatkan vaksinasi pencegahan, atau untuk membicarakan
masalah yang bukan penyakit atau pun cedera.
b) Ketika terdapat keadaan atau masalah yang mempengaruhi status
kesehatan seseorang tapi keadaan atau masalah itu bukan merupakan
penyakit atau cedera sekarang. Faktor seperti ini bisa muncul ke
permukaan pada survei kependudukan, ketika seseorang mungkin
sedang sakit atau tidak sakit, atau tercatat sebagai suatu faktor
tambahan yang harus dipikirkan ketika seseorang memperoleh asuhan
untuk suatu penyakit atau cedera.

Daftar Pustaka :

http://ayotahu.Ardani,Alfian.com/2014/06/coding-system-sistem-koding-rekam-
medis.html

http://www.stikesmuhbojonegoro.ac.id/index.php/main/article/read/39/coding-
perekam-medis-dan-informasi-kesehatan

Taylor, Elizabeth J. (2000). Dorland's Illustrated medical dictionary (edisi ke-


29th). Philadelphia: Saunders. hlm. 1184. ISBN 0721662544.

https://www.alodokter.com/penyebab-penyakit-infeksi-penyebaran-dan-tips-
pencegahannya
https://www.alodokter.com/keracunan-makanan.html

LeMier M, Cummings P, West TA (2001). "Accuracy of external cause of injury


codes reported in Washington State hospital discharge records". Inj. Prev. 7 (4):
334–8. doi:10.1136/ip.7.4.334. PMC 1730776. PMID 11770664.