Anda di halaman 1dari 24

BAB – I

DATA PROYEK

Pasal 1 : Nama Kegiatan dari proyek ditentukan oleh Owner seperti berikut ini :
Pengadaan Moda Perintis Darat, Laut dan Air/Rawa

Pasal 2 : Nama Pekerjaan dari proyek ditentukan oleh Owner seperti berikut ini :
Perencanaan Pembangunan Dermaga dan Talud Penahan
Ombak Dermaga Desa Lapeng Kec. Pulo Aceh.
Pasal 3 : Tempat dan lokasi pekerjaan ditentukan oleh Owner seperti berikut ini :
Desa Lapeng Kec. Pulo Aceh Kabupaten Aceh Besar

Pasal 4 : Item-Item Pekerjaan yang harus dikerjakan dan diselesaikan oleh


Kontraktor Pelaksana ditentukan oleh Owner dalam :
Kontrak Kerja Dan Bill of Quantity

1
BAB – II
KETENTUAN UMUM PELAKSANAAN

Pasal 1 : Penanggung Jawab Pelaksanaan ( Kontraktor Pelaksana )

1. Berdasarkan Kontrak Kerja yang dibuat oleh Owner dengan Penyedia Jasa
Pelaksana Konstruksi, maka Kontraktor Pelaksana untuk proyek seperti yang
disebutkan dalam BAB I diatas adalah Perusahaan seperti yang disebutkan
dalam Kontrak Kerja Fisik.

2. Kontraktor Pelaksana harus menyelesaikan pekerjaan secara seluruhnya


sesuai dengan ketentuan-ketentuan di dalam Dokumen Kontrak.

3. Tugas dan kegiatan Kontraktor Pelaksana adalah seperti yang disebutkan


dalam Keputusan Menteri Permukiman Dan Prasarana Wilayah Nomor :
332/KPTS/M/2002 Tanggal 21 Agustus 2002 Tentang Penyedia Jasa Pelaksana
Konstruksi atau menurut perubahannya jika ada kecuali ditentukan lain oleh
Owner dalam Kontrak Kerja Fisik.

4. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan struktur organisasi pelaksana


lapangan proyek kepada Owner yang didalamnya tercantum beberapa
tenaga ahli Kontraktor Pelaksana dengan posisi minimal seperti berikut atau
sesuai yang diajukan:
1. Project manager;
2. Site Manager;
3. Quality Engineer;
4. Arsitek;
5. Supervisor Lapangan;
6. Surveyor;
7. Drafman;
8. Administrasi Proyek; dan
9. Operator Computer.

5. Semua tenaga ahli yang namanya tercantum dalam struktur organisasi


lapangan proyek yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada
dilokasi pekerjaan minimal selama jam kerja.

6. Pengantian tenaga ahli oleh Kontraktor Pelaksana selama proses


pelaksanaan pekerjaan harus diketahui dan disetujui oleh Owner.

7. Project Manager harus mengajukan ijin tertulis kepada Owner dan diketahui
oleh Konsultan Supervisi jika hendak meninggalkan lokasi pekerjaan dalam
jangka waktu lebih dari 3 hari.

8. Konsultan Supervisi berhak mengajukan kepada Owner untuk pergantian


tenaga ahli Kontraktor Pelaksana yang berada dilokasi pekerjaan jika
tenaga ahli tersebut dinilai menghambat pekerjaan dan tidak mampu
menjalankan tugasnya dengan baik.

9. Tenaga ahli yang ditempatkan dilokasi pekerjaan oleh Kontraktor Pelaksana


harus mampu memberikan keputusan yang bersifat teknis dan administratif
di lokasi pekerjaan.

Pasal 2 : Sub Pelaksana Pekerjaan / Sub Kontraktor

2
1. Penunjukan Sub Pelaksana pekerjaan / Sub Kontraktor harus dengan
persetujuan Owner.

2. Sub Kontraktor adalah pihak-pihak yang mempunyai Kontrak Kerja


langsung dengan Kontraktor Pelaksana yang disetujui oleh Owner.

3. Besarnya nilai pekerjaan yang di Sub Kontrakkan adalah sesuai yang diatur
dalam Kontrak Kerja atau maksimal 20% dari nilai total kontrak.

4. Kontraktor Pelaksana tetap bertanggung jawab sepenuhnya atas hasil


pekerjaan Sub Kontraktor.

Pasal 3 : Gambar Pelaksanaan ( Shop Drawing )

1. Kontraktor dengan biaya sendiri harus membuat Gambar Pelaksanaan


(Shop Drawing) untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukannya, terutama
untuk pekerjaan-pekerjaan yang Gambar Detailnya tidak dijelaskan dalam
Gambar Kerja atau bedasarkan permintaan Konsultan Supervisi.

2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan Shop Drawing ditentukan oleh


Konsultan Supervisi dalam masa konstruksi.

3. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan sebelum Shop


Drawing yang menjadi kewajibannya di setujui oleh Konsultan Supervisi.

4. Shop Drawing tidak boleh merubah/merevisi Gambar Kerja kecuali atas


persetujuan Konsultan Perencana.

5. Shop Drawing tidak boleh merubah, memperbesar dan memperkecil


kuantitas maupun kualitas pekerjaan.

Pasal 4 : Gambar Lapangan Dan Dokumen Lapangan

1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan satu set Gambar Kerja, Gambar


Revisi dalam format kertas A3, satu set Shop Drawing, satu set Spesifikasi
Teknis dan satu set Bill of Quantity dilokasi pekerjaan pada setiap kantor
lapangan.

2. Gambar Kerja, Gambar Revisi, Shop Drawing, Spesifikasi Teknis, dan Bill of
Quantity ditempatkan pada tempat yang baik dan dalam keadaan yang
rapi.

Pasal 5 : Buku Instruksi Dan Buku Tamu

1. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan satu buah Buku Instruksi dan


Buku Tamu dilokasi pekerjaan pada setiap kantor lapangan dan
ditempatkan pada tempat yang baik.

3
2. Buku Instruksi berisikan instruksi-instruksi dilokasi pekerjaan yang
dikeluarkan oleh Tamu dan Owner untuk dilaksanakan oleh Kontraktor
Pelaksana yang berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan.

3. Buku Instruksi harus mencantumkan tanggal instruksi, waktu instruksi, nama


dan jabatan yang memberi instruksi, dan tanda tangan yang memberi
instruksi.

Pasal 6 : Gambar Hasil Pelaksanaan ( Asbuilt Drawing )

1. Kontraktor dengan biaya sendiri harus membuat Gambar Hasil Pelaksanaan


(Asbuilt Drawing) yang sesuai dengan hasil pelaksanaan pekerjaan
dilapangan sebelum serah terima tahap pertama dilakukan.

2. Pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan As Built Drawing adalah pekerjaan


yang dikerjakan berdasarkan perubahan – perubahan yang terjadi
dilapangan dan tidak sesuai lagi dengan perencanaan awal.

3. As Built Drawing yang dibuat oleh Kontraktor Pelaksana harus disetujui oleh
Konsultan Supervisi, Konsultan Perencana dan Owner.

4. Kontraktor Pelaksana diwajibkan menyerahkan 5 set As Built Drawing yang


telah disetujui kepada Konsultan Supervisi, Owner dan Konsultan Perencana
kepada Owner.

5. Satu set As Built Drawing yang telah disetujui harus disimpan di tempat yang
baik pada bangunan oleh Owner atau pengguna bangunan.

Pasal 7 : Rencana Waktu Pelaksanaan

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana waktu penyelesaian


pekerjaan (time schedule) keseluruhan kepada Konsultan Supervisi dan
Owner untuk disetujui sebelum memulai pekerjaan.

2. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan Jadwal Pelaksanaan


Pekerjaan Mingguan dan Bulanan untuk disetujui oleh Konsultan Supervisi
dan Owner.
Pasal 8 : Request Material, Request Pekerjaan Dan Request Pemeriksaan

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan permohonan penggunaan semua


material bangunan ( Request Material) sebelum material bangunan tersebut
dipakai dan dimasukan kelokasi pekerjaan.

2. Request Material yang diajukan Kontraktor Pelaksana harus disertai dengan


contoh material dan disetujui oleh Konsultan Supervisi dan Owner.

3. Persetujuan Request Material yang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana


dianggap sah dan diakui apabila disetujui minimal oleh Konsultan Supervisi.

4. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan dan menyerahkan satu set contoh


material yang telah disetujui kepada Konsultan Supervisi.

5. Material bangunan yang tidak disetujui oleh Konsultan Supervisi, Konsultan


Perencana, dan Owner tidak boleh dipakai sebagai material bangunan dan
harus dikeluarkan dari lokasi pekerjaan.

4
6. Kontraktor Pelaksana juga harus mengajukan permohonan izin memulai
pekerjaan ( Request For Works ) untuk pekerjaan yang akan dikerjakan
kepada Konsultan Supervisi dan Owner.

7. Kontraktor pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan sebelum


Request Pekerjaan yang diajukan disetujui oleh Konsultan Supervisi.

8. Item-item pekerjaan yang memerlukan Request Pekerjaan ditentukan oleh


Konsultan Supervisi.

9. Untuk pekerjaan yang telah dilaksanakan Kontraktor Pelaksana harus


mengajukan permohonan untuk pemeriksaan ( Request For Checking ) oleh
Konsultan Supervisi dan Owner agar dapat melanjutkan dengan pekerjaan
yang lain.

10. Kontraktor Pelaksana tidak boleh melanjutkan pekerjaan sebelum Request


For Checking yang diajukan disetujui minimal oleh Konsultan Supervisi.

Pasal 9 : Metode Pelaksanaan

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan Metode Pelaksanaan terhadap


pekerjaan-pekerjaan yang diminta oleh Konsultan Supervisi dan Owner.

2. Kontraktor Pelaksana tidak dibenarkan melakukan pekerjaan jika Metode


Pelaksanaan yang diajukan belum disetujui oleh Konsultan Supervisi.

Pasal 10 : Rencana Material

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana penggunaan material


keseluruhan, mingguan dan bulanan untuk disetujui oleh Konsultan Supervisi
dan Owner.

2. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana material yang


diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan alasan-alasan yang
dapat dipertanggung jawabkan secara teknis.

Pasal 11 : Rencana Peralatan

1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana penggunaan peralatan


keseluruhan, mingguan dan bulanan untuk disetujui oleh Konsultan Supervisi
dan Owner.

2. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana penngunaan


peralatanyang diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan
alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara teknis.

Pasal 12 : Rencana Tenaga Kerja

5
1. Kontraktor Pelaksana harus mengajukan rencana pengunaan tenaga kerja
keseluruhan, mingguan dan bulanan untuk disetujui oleh Konsultan supervisi
dan Owner.

2. Semua tenaga kerja sesuai dengan rencana tenaga kerja mingguan yang
diajukan oleh Kontraktor Pelaksana harus berada dilokasi pekerjaan.

3. Konsultan Supervisi berhak untuk tidak menyetujui rencana penggunaan


tenaga kerja diajukan oleh Kontraktor Pelaksana dengan memberikan
alasan-alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara teknis.

Pasal 13 : Pekerjaan Diluar Jam Kerja

1. Pekerjaan-pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh


Kontraktor Pelaksana dengan alasan mempercepat proses penyelesaian
pekerjaan harus diketahui dan disetujui oleh Konsultan Supervisi.

2. Biaya-biaya yang harus dikeluarkan oleh personil Konsultan Supervisi untuk


pengawasan pekerjaan diluar jam kerja normal yang dilakukan oleh
Kontraktor Pelaksana sepenuhnya menjadi tanggung jawab Kontraktor
Pelaksana.

3. Kontraktor Pelaksana bertanggung jawab penuh terhadap kualitas


pekerjaan yang dilakukan diluar jam kerja normal atau pada malam hari.

Pasal 14 : Laporan Pelaksanaan

1. Kontraktor Pelaksana wajib membuat laporan harian, laporan mingguan,


dan laporan bulanan kepada Konsultan Supervisi tentang kemajuan
pelaksanaan pekerjaan.

2. Format laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan yang dibuat
oleh Kontraktor pelaksana harus disetujui oleh Konsultan Supervisi.

3. Konsultan Supervisi berhak untuk melakukan pemeriksaan langsung


kelapangan akan kebenaran data yang ada dalam laporan harian, laporan
minnguan, dan laporan bulanan yang dibuat oleh Kontraktor Pelaksana.
4. Laporan harian, laporan mingguan, dan laporan bulanan minimal harus
berisikan, memuat dan menginformasikan hal-hal seperti berikut :
a. Laporan Harian
 Jenis-Jenis Pekerjaan Yang Sedang Dilakukan;
 Volume Penggunaan Material;
 Volume Penggunaan Peralatan;
 Jumlah Tenaga Kerja; dan
 Hasil Monitoring Cuaca.

b. Laporan Mingguan
 Progress Report Realisasi Pekerjaan Mingguan;
 Back Up Data Volume Progress Report Mingguan;
 Photo Hasil Pelaksanaan; dan
 Time Schedule Realisasi Mingguan.

c. Laporan Bulanan
 Progress Report Realisasi Pekerjaan Bulanan;
 Back Up Data Volume Progress Report Bulanan;

6
 Photo Hasil Pelaksanaan;
 Hasil Monitoring Cuaca Bulanan;
 Time Schedule Realisasi Bulanan;
 Laporan Hasil-Hasil Pekerjaan Quality Kontrol; dan
 Hal-Hal lain yang diminta oleh Konsultan Supervisi.

Pasal 15 : Surat Menyurat Dan Komunikasi

1. Segala surat-menyurat yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana yang


berhubungan dengan pelaksanaan pekerjaan yang sifatnya teknis dan
administratif harus diketahui oleh Konsultan Supervisi.

2. Surat menyurat atau perizinan yang berhubungan dengan Instansi lain di luar
proyek tidak perlu melalui dan diketahui oleh Konsultan Supervisi, tetapi
Kontraktor Pelaksana tetap wajib memberikan informasi tentang hal
tersebut kepada Konsultan Supervisi.

Pasal 16 : Rapat Koordinasi Dan Rapat Lapangan (Site Meeting)

1. Rapat koordinasi diselenggarakan sekurang-kurangnya 1 (satu) kali setiap


minggu, dipimpin oleh Owner dihadiri oleh Kontraktor Pelaksana dan
Konsultan supervisi.

2. Kontraktor Pelaksana wajib hadir dalam rapat koordinasi dengan diwakili


minimal oleh Site Manager.

3. Konsultan Supervisi wajib hadir dalam rapat koordinasi dengan diwakili


minimal oleh Chief Inspector.

4. Kontraktor Pelaksana harus menyediakan tempat dan perlengkapan untuk


Site Meeting jika hal tersebut dilakukan dilokasi pekerjaan.

Pasal 17 : Wewenang Owner Memasuki Lokasi Pekerjaan

1. Owner dan para wakilnya mempunyai wewenang untuk memasuki lokasi


pekerjaan dan bengkel kerja atau tempat-tempat lain dimana Kontraktor
Pelaksana melaksanakan pekerjaan untuk Kontrak.

2. Jika pekerjaan dilakukan pada tempat-tempat lain yang dilakukan oleh Sub
Kontraktor Pelaksana menurut ketentuan dalam Sub Pelaksanaan, maka
Kontraktor Pelaksana harus memberikan jaminan agar supaya Owner dan
para wakilnya mempunyai wewenang untuk memasuki bengkel kerja dan
tempat-tempat lain kepunyaan Sub Pelaksana pekerjaan.

3. Owner atau wakilnya berhak memberikan instruksi langsung dilapangan


kepada Kontraktor Pelaksana dan Konsultan Supervisi untuk suatu
perbaikan atau perubahan jika dalam proses pelaksanaan pekerjaan
ditemukan hal-hal yang tidak sesuai dengan Gambar Kerja, Spesifikasi Teknis,
Bill of Quantity dan Kontrak Kerja.

4. Owner atau wakilnya berhak memerintahkan Konsultan Supervisi secara


tertulis untuk menghentikan proses pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan
oleh Kontraktor Pelaksana sementara waktu jika ditemukan hal-hal yang
tidak sesuai dengan Gambar Kerja, Spesifikasi Teknis, Bill of Quantity dan
Kontrak Kerja.

7
5. Kontraktor Pelaksana harus menjamin dan bertangung jawab penuh akan
keselamatan Owner dan para wakilnya selama berada dilokasi pekerjaan.

Pasal 18 : Kesalahan Pekerjaan Dan Pekerjaan Cacat

1. Kontraktor Pelaksana harus memperbaiki dengan biaya sendiri semua


kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan baik pada tahap pelaksanaan
maupun pada saat sebelum Serah Terima Tahap Pertama (PHO).

2. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan adalah hasil pemeriksaan bersama


antara Kontraktor Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner sebelum Serah
Terima Tahap Pertama (PHO).

3. Kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan dari hasil pemeriksaan oleh


Pelaksana, Konsultan Supervisi dan Owner dicantumkan dalam sebuah
Daftar Pekerjaan Cacat yang ditandatangani oleh ketiga pihak tersebut.

4. Semua kesalahan pekerjaan dan cacat pekerjaan yang ada dalam Daftar
Pekerjaan Cacat menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana
memperbaikinya dengan biaya sendiri.

5. Kesalahan dan cacat pekerjaan yang dilakukan oleh Kontraktor Pelaksana


karena lemahnya pengawasan dan kontrol oleh Konsultan Supervisi dan
bukan atas dasar perintah tertulis dari Konsultan Supervisi tetap menjadi
tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk memperbaikinya.

6. Kerusakan dan cacat pada bangunan ataupun komponen bangunan karena


pemakaian oleh pengguna bangunan atau sebab-sebab lain tanpa ada
unsur-unsur kesengajaan yang dapat dibuktikan dalam masa pemeliharaan,
tetap menjadi tanggung jawab Kontraktor Pelaksana untuk
memperbaikinya dengan biaya sendiri.

7. Konsultan Supervisi berhak setiap saat memerintahkan Kontraktor Pelaksana


untuk memperbaiki kesalahan pekerjaan atau pekerjaan cacat pada masa
pelaksanaan.

8. Hasil perbaikan terhadap kesalahan pekerjaan dan pekerjaan cacat harus


disetujui oleh Konsultan Supervisi.

Pasal 19 : Instruksi Konsultan Supervisi

1. Kontraktor Pelaksana harus mematuhi dan melaksanakan semua instruksi


atau perintah yang dikeluarkan oleh Konsultan Supervisi yang berhubungan
dengan pelaksanaan pekerjaan baik dalam bentuk lisan maupun tulisan.

2. Instruksi Konsultan Supervisi dalam bentuk lisan dibenarkan dan harus diikuti
oleh Kontraktor Pelaksana selama disertai oleh alasan-alasan yang jelas dan
sesuai dengan Spesifikasi Teknis.

8
BAB – III
PERSYARATAN TEKNIS PELAKSANAAN

A. URAIAN UMUM

Lingkup pekerjaan Kontraktor meliputi :


Mendatangkan dan mengolah semua bahan, pengerahan tenaga kerja, mengadakan alat
bantu dan sebagainya yang pada umumnya langsung atau tidak langsung termasuk dalam
usaha penyelesaian dan penyerahan pekerjaan dalam keadaan sempurna dan lengkap.

Disini juga termasuk pekerjaan atau bagian pekerjaan yang tidak disebut dengan jelas dalam
persyaratan teknis dan gambar-gambar, tetapi masih dalam lingkup pekerjaan yang
dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Dinas Perhubungan Komunikasi,Informasi dan
Telematika, Kabupaten Aceh Besar dan Konsultan Pengawas.

1. LINGKUP PEKERJAAN

1.1. Bangunan yang akan dilaksanakan adalah Pembangunan Pengaman Pantai


terdiri dari beberapa bangunan lanjutan:
Pekerjaan Pembangunan: Perencanaan Pembangunan Dermaga dan
Talud Penahan Ombak Dermaga Desa
Lapeng Kec. Pulo Aceh.

Perincian bagian pekerjaan yang dilaksanakan didasarkan pada gambar rencana,


Bill of Quantity (BQ) dan Syarat-syarat dan Spesifikasi Teknis Pekerjaan (RKS)
yang menjadi bagian tidak terpisahkan dari rencana kerja dan syarat-syarat ini.
1.2. Pembangunan Bangunan diatas sudah termasuk penyesuaian dan

9
penyambungan instalasi listrik, utilitas air/drainasenya terhadap kondisi existing

2. PERATURAN TEKNIS BANGUNAN YANG DIGUNAKAN


Kecuali ditentukan lain dalam RKS ini, berlaku dan mengikat ketentuan-ketentuan tersebut
dibawah ini (termasuk segala perubahan dan tambahannya) juga berlaku dan mengikat :
2.1 Peraturan-peraturan umum mengenai pelaksanaan pembangunan di Indonesia
atau Algemene voor warden voor de uitvoering bijaanneming van openbare
werken (AV) 1941.
2.2. Surat Edaran bersama Bappenas dan Dirjen Anggaran No 181/D.VI/01/1999 dan
SE- 07/A/21/0199 tanggal 11 Januari 1999.

Peraturan dan ketentuan yang dikeluarkan pemerintah Daerah setempat yang


bersangkutan dengan permasalahan bangunan.

Apabila penjelasan dalam RKS tidak sempurna atau belum lengkap sebagai mana
ketentuan dan syarat dalam peraturan diatas, maka Kontraktor wajib megikuti
ketentuan peraturan-peraturan yang disebutkan diatas.
3. PEKERJAAN PERSIAPAN

3.1. Lingkup pekerjaan


Meliputi pekerjaan :
3.1.1. Mobilisasi dan Demobilisasi
3.1.2. Direksi Keet
3.1.3. Pengukuran
3.1.4. Dokumentasi, Adm., dan As built Drawing
3.1.5. Pembuatan papan Nama Proyek

3.2. Persyaratan bahan


3.2.1. Untuk Direksi Keet ; digunakan bahan rangka kayu, dinding papan dicat
dengan cat tembok, atap seng gelombang BJLS 020, dan lantai papan.
3.2.2. Untuk penampungan air kerja disiapkan drum penampung, air harus
memenuhi kualitas yang ditentukan dalam Peraturan Beton Bertulang
Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
3.2.3. Untuk papan nama proyek digunakan tiang dari kayu meranti dan triplek
dicat putih.

3.3. Pedoman Pelaksanaan

3.3.1. Pembersihan Awal/Lokasi


Meliputi pembersihan semua tanam tumbuh termasuk pembongkaran akar-
akar pohon yang terkena bangunan dan halaman sekolah disekeliling
bangunan, termasuk perataan tanah/pembuatan terasering jika diperlukan.
Hasil bongkaran tersebut diatas dibuang ke luar lokasi pekerjaan.

3.3.2. Pembuatan Direksi Keet.

Untuk Direksi Keet, dibuat dengan konstruksi semi permanen dengan ukuran
sesuai gambar, , dilengkapi mobiler sederhana. Pada waktu USB selesai
dikerjakan dan diserah terimakan, bangunan ini disempurnakan menjadi
rumah penjaga sekolah.

3.3.3. Pembuatan Papan Nama Proyek


Membuat papan nama proyek dari papan dengan ukuran 200 x 100 cm.
Didirikan tegak diatas kayu 5/7 cm setinggi 240 cm. Diletakkan pada tempat

10
yang mudah dilihat umum.

Papan nama kegiatan memuat


- Nama Kegiatan
- Pemilik Kegiatan
- Lokasi Kegiatan
- Jumlah biaya (kontrak)
- Nama Pelaksana (Kontraktor)
- Pekerjaan dimulai tanggal, bulan, tahun

3.3.4. Pengukuran
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan tenaga ahli yang sesuai dan
menggunakan alat ukur berupa theodolit dan sebagainya.

3.4. Pembayaran
Pembayaran pekerjaan persiapan ini dilaksanakan sesuai dengan nilai harga dari
setiap uraian dan volume pekerjaan yang tercantum dalam RAB tawaran
Kontraktor. Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, menyelesaikan
pekerjaan yang termasuk dalam lingkup pekerjaan sehingga bagian pekerjaan
tersebut berfungsi secara sempurna.

11
B.SPESIFIKASI TEKNIS

I. PEKERJAAN REVETMENT/PENGAMAN PANTAI

1. PEKERJAAN GALIAN PASIR


1.1. Lingkup pekerjaan
Pada pekerjaan ini yang dimaksud penggalian terhadap pasir dilokasi tempat
pemasangan Pengaman Pantai

1.1.1 Galian Pasir di lokasi yang ditunjuk oleh gambar rencana.

1.2. Persyaratan Bahan


Penggalian pasir sesuai gambar rencana dilokasi untuk menambah kedalaman
yang sesuai.

1.3. Pedoman Pelaksanaan


1.1.1. Semua galian harus dikerjakan menurut gambar rencana dan disetujui oleh
Konsultan Pengawas.
1.1.2. Semua Penggalian atas kehendak Kontraktor Pelaksana selain yang ditunjuk
oleh Gambar Rencana harus ditutup / disempurnakan kembali atas biaya
Kontraktor Pelaksana.
1.1.3. Kontraktor bertanggung jawab sepenuhnya atas segala kerusakan yang
diakibatkan pekerjaan galian tersebut.
1.1.4. Apabila pada waktu penggalian ditemukan benda-benda purbakala, maka
Kontraktor wajib melaporkannya kepada Pemerintah Daerah setempat.
1.1.5. Pekerjaan Galian dilakukan dengan menggunakan alat bantu berat.
1.1.6. Bekas galian dibawa ketempat yang telah ditentukan atas persetujuan oleh
Konsultan Pengawas dengan alat bantu.

1.4. Pembayaran
Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang
ditawar oleh Kontraktor .
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan, membuang hasil
bongkarang/tanah bekas yang tidak diperlukan keluar lokasi pekerjaan dan
alat-alat bantu yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala
akibat yang timbul atas kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan
penambahan volume dan biaya pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai
pembayaran tambahan.

2. PEKERJAAN GEOTEXTILE
2.2. Lingkup Pekerjaan

12
Pekerjaan ini melingkupi Pemasangan Geotextile dibawah Pekerjaan Timbunan
Batu

2.2. Bahan
2.2.1. Geotextile
Bahan yang digunakan berstandart nasional dan harus disetujui Konsultan
Pengawas.

2.3. Pedoman Pelaksanaan :


2.3.1. Untuk perlindungan konstruksi revetment terhadap bahaya erosi dari
gelombang dan arus, maka di bawah pasangan pondasi dipasang dan
dihampar lapisan khusus berupa pemakaian lapisan geotextile. Pemakaian
dan jenis lapisan geotextile dari produksi dalam negeri yang disetujui oleh
Konsultan Pengawas.
2.3.2. Cara pelaksanaan dan pemasangan lapisan geotextile harus sedemikian
rupa, sehingga merupakan konstruksi perlindungan terhadap erosi. Terutama
di ujung-ujung pondasi yang berhubungan dengan gelombang dan arus,
dimana ujung dari hamparan geotextile terikat erat dengan pasangan
pondasi batu.
2.3.3. Sebelum dilakukan penghamparan lapisan geotexteile, Kontraktor harus
mengajukan tipe, jenis geotextile dan metode pelaksanaan beserta gambar
detail yang akan dipakai kepada Konsultan Pengawas untuk mendapatkan
persetujuan.
2.3.4. Sebelum dilakukan penghamparan lapisan geotextile, permukaan tanah di
bawahnya harus rata tanpa adanya batu-batuan yang dapat
merusak/merobek jalinan geotextile yang dihampar.
2.4. Pembayaran

Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang


ditawar oleh Kontraktor.
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala akibat yang timbul atas
kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan penambahan volume dan biaya
pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai pembayaran tambahan.

3. PEKERJAAN TIMBUNAN BATU


3.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan ini Melingkupi Pekerjaan Timbunan Batu pada lokasi yaitu terdiri dari
:
 Pek. Timbunan Batu 20 - 50 kg/unit
 Pek. Timbunan Batu 150 - 200 kg/unit
 Pek. Timbunan Batu 1500 - 2500 kg/unit

3.2. Bahan

13
3.2.1. Batu Gajah
Batu yang digunakan dilapangan berupa batu gajah yang didatangkan
dengan ukuran dan berat yang sesuai gambar rencana. Batu harus dari
bahan yang kasar dan keras, kemudian bersih dari kotoran yang menempel.

3.3. Pedoman Pelaksanaan :


3.3.1. Pekerjaan pasangan batu dilakukan pada kontruksi revetment sesuai
dengan layout perletakan konstruksi yang direncanakan. Bentuk dan ukuran
harus mengikuti gambar kerja
3.3.2. Batu yang digunakan harus disetujui oleh Konsultan Pengawas sesuai dengan
Gambar Rencana.
3.3.3. Batu harus disusun mulai dari elevasi paling bawah dan harus disusun dalam
lapisan horizontal. Batu harus disusun sepadat mungkin untuk Mendapatkan
masa padat yang saling mengikat dengan rongga minimum. Batu harus
membentuk kemiringan sesuai dengan gambar kerja.
3.3.4. Pelaksanaan penyusunan dilakukan dengan menggunakan Excavator

3.4. Pembayaran

Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang


ditawar oleh Kontraktor.
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala akibat yang timbul atas
kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan penambahan volume dan biaya
pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai pembayaran tambahan.

II. PEKERJAAN DERMAGA

1. PEKERJAAN STRAUSS PILE


1.1. Lingkup pekerjaan
Pada pekerjaan ini Pengeboran yang dilakukan pada titik pemasangan Pondasi
Bore Pile

1.1.1 Pengeboran dasar laut untuk pekerjaan substruktur (Pondasi Bore Pile)

1.2. Persyaratan Bahan


Berdasarkan kondisi tanah, system pengeboran basah diusulkan untuk
pekerjaan pengeboran dalam proyek ini. Air digunakan untuk
menghancurkan material tanah dan mengurangi gesekan dalam lubang
1.3. Pedoman Pelaksanaan
Pengeboran menggunakan cross drill dibantu dengan semprotan air
(air berlumpur) yang mengalir melalui lubang batang yang difungsikan
untuk menghancurkan tanah sehingga tanah dapat diangkut keluar lubang.
Pembersihan tahap pertama dilakukan dengan penyemprotan
air selama±10 menit setelah kedalaman perencanaan tercapai.
Untuk memastikan kondisi lubang telah bersih digunakan bor spiral
yang berfungsi untuk membawa dan memotong tanah sisa yang tidak
dibawa oleh air. Dengan system ini, diharapkan bahwa semua sisa

14
pengeboran bias terangkat. Tahap ini adalah langkah terakhir dari
pengeboran.

1.4. Pembayaran
Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang
ditawar oleh Kontraktor .
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan, membuang hasil
pengeboran yang tidak diperlukan keluar lokasi pekerjaan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala akibat yang timbul
atas kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan penambahan volume dan
biaya pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai pembayaran tambahan.

2. PEKERJAAN PONDASI BORE PILE


2.1 Lingkup Pekerjaan

Pondasi yang digunakan diameter 30 cm serta Pile Cap 70x70x30 cm dengan


mutu Beton K-250 harus dibuat untuk : Tempat-tempat lain yang
mempergunakan beton bertulang sesuai dengan gambar rencana yaitu:

2.2. Bahan

2.2.1. Semen
* Digunakan Portland Cement jenis I menurut NI - 8 tahun 1972 dan
memenuhi S - 400 menurut Standar Cement Portland yang digariskan oleh
Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972).
* Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam satu zak
semen, tidak diperkenankan pemakaiannnya sebagai bahan campuran.
* Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari tempat yang
lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat penyimpanan semen
harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan paling tinggi 2 m. Setiap semen baru
yang masuk harus dipisahkan dari semen yang telah ada agar pemakaian
semen dapat dilakukan menurut urutan pengiriman.

2.2.2. Pasir beton


Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari
bahan-bahan organis, lumpur dan sejenisnya serta memenuhi komposisi butir
serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang tercantum dalam
Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.

2.2.3. Kerikil
* Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta
mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam
Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.

* Penimbunan kerikil dengan pasir harus dipisahkan agar kedua jenis


material tersebut tidak tercampur untuk menjamin adukan beton
dengan komposisi material yang tepat.

2.2.4. Air
Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak, asam alkali,
garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain yang dapat merusak

15
beton atau baja tulangan. Dalam hal ini sebaiknya dipakai air bersih yang
dapat diminum.

2.2.5. Besi beton.


Besi beton yang digunakan sesuai dengan gambar rencana.
Daya lekat besi tulangan harus dijaga dari kotoran, lemak, minyak, karat
lepas dan bahan lainnya.
Besi beton harus disimpan dengan tidak menyentuh tanah dan tidak boleh
disimpan diudara terbuka dalam jangka waktu panjang.
Membengkok dan meluruskan tulangan harus dilakukan dalam keadaan
batang dingin.Tulangan harus dipotong dan dibengkokkan sesuai gambar
dan harus diminta persetujuan Konsultan Pengawas terlebih dahulu.
Jika pemborong tidak berhasil memperoleh diameter besi sesuai dengan yang
ditetapkan dalam gambar, maka dapat dilakukan penukaran dengan
diameter yang terdekat dengan catatan :
Harus ada persetujuan Konsultan Pengawas
Jumlah besi persatuan panjang atau jumlah besi ditempat tersebut tidak
boleh kurang dari yang tertera dalam gambar (dalam hal ini yg dimaksud
adalah jumlah luas). Biaya tambahan yang diakibatkan oleh penukaran
diameter besi menjadi tanggung jawab pemborong.

2.2.6. Cetakan dan Acuan


Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan harus bermutu baik
sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas
yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian
pekerjaan.
Pembuatan cetakan dan acuan harus memenuhi ketentuan-ketentuan
didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.

2.2.7. Mutu beton


Mutu beton yang digunakan adalah Perbandingan K-250.

2.3. Pedoman Pelaksanaan :


2.3.1. Pekerjaan Pasangan
a. Pemasangan pipa trime sesuai dengan kedalaman lubang yang dibor
b. Pemasangan besi tulangan yang dirakit dan dilebihkan 60 cm pada saat
pemasangan.
c. Pembersihan akhir dengan menyemprotkan air bertekanan selama ± 10 menit
melalui pipa trime untuk membersihkan lubang dari endapan lumpur.

2.3.2. Pekerjaan Cor


Sistem pengecoran bore pile setelah pekerjaan pembersihan terakhir dilakukan,
mengikuti langkah – langkah sebagai berikut :

16
a. Langkah pertama dilakukan dengan kantong plastik yang diisi dengan
campuran beton untuk memisahkan campuran beton dari endapan lumpur
di dalam pipa trime.

b. Kantong plastic dimasukkan pada kedalaman 1 meter dari corong trime


sampai tenaga pengecoran siap untuk melakukan pengecoran secara
konstan.

c. Setelah tenaga pengecoran siap, campuran beton diisi kedalam lubang pipa
sampai kepermukaan saluran dan kemudian tas plastic bias dilepas. Pada
saat yang sama, campuran beton yang dimasukkan mendorong air lumpur di
luar pipa trime keluar.

d. Pengecoran dilakukan dengan bantuan vibrator untuk membantu aliran


campuran beton kedalam lubang agar tidak ada udara yang terjebak
dalam campuran beton.

e. Jika campuran tidak bias turun lebih jauh, dengan kata lain permukaan
campuran beton di dalam lubang bor telah meningkat cukup jauh. Maka
pipa trime bias ditarik perlahan-lahan sambil terus menuangkan campuran
beton.

f. Penarikan pipa trime harus dijaga sehingga ujung bawah pipa tetap
terendam 1 meter di dalam campuran beton. Pipa trime bias diangkat jika
campuran beton telah naik lebih dari 3 meter di bawah pipa trime.
Pengecoran dapat dihentikan jika campuran beton sampai kepermukaan
lubang (meluap) dan benar-benar bersih dari lumpur atau kotoran lainnya.

g. Tahap-tahap pengeboran diatas dilanjutkan ke titik-titik pengeboran yang lain


sesuai dengan nomor pengeboran yang telah ditentukan.

2.3.3. Pekerjaan Pembersihaan Dan Bobokan Pile Cap

Bak penampungan limbah khusus harus disiapkan untuk bahan lumpur yang
dihasilkan dari pengeboran, sehingga tidak menumpuk / membanjiri area
kerja dan tidak mengganggu pekerjaan pengeboran berikutnya.Bahan
lumpur kental yang mengisi bak penampungan harus diambil di luar wilayah
pengeboran.
Setelah umur beton 7 hari dilanjutkan dengan bobokan pile cap, sampai
level atau batas yang telah ditentukan sesuai dengan hasil uji try mix.

2.3.4. Perawatan beton


Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 21 (dua puluh satu) hari. Untuk keperluan tersebut
ditetapkan cara sebagai berikut:

* Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai


penutup beton.
* Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan
tidak
* mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada
permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, harus
dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah
Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki segera
atas resiko kontraktor.

17
2.4. Pembayaran

Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang


ditawar oleh Kontraktor.
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala akibat yang timbul atas
kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan penambahan volume dan biaya
pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai pembayaran tambahan.

3. PEKERJAAN BETON BERTULANG.

3.1. Lingkup Pekerjaan

Beton Bertulang Digunakan pada beberapa item pekerjaan Balok .

3.2. Bahan
3.2.1. Pembesian
a. Balok 25/40 cm
Besi Utama Ø 14 mm 6 batang
Besi Beugel Ø 8 mm jarak 100 mm
Besi Tulangan Suhu Ø 12 mm 2 batang
b. Balok 25/60 cm
Besi Utama Ø 14 mm 6 batang dan Besi Utama Ø 12 mm 2 batang
Besi Beugel Ø 8 mm jarak 100 mm
Besi Tulangan Suhu Ø 14 mm 2 batang

3.2.2. Mutu beton


Mutu beton yang digunakan adalah K-250

3.2.2.1 Semen
* Digunakan Portland Cement jenis I menurut NI - 8 tahun 1972 dan
memenuhi S - 400 menurut Standar Cement Portland yang
digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972).
* Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam
satu zak semen, tidak diperkenankan pemakaiannnya sebagai
bahan campuran.
* Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari
tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat
penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan
paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk harus dipisahkan
dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat
dilakukan menurut urutan pengiriman.

3.2.2.2 Pasir beton


Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari
bahan-bahan organis, lumpur dan sejenisnya serta memenuhi
komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang
tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-
15-1919-03.

3.2.2.3 Kerikil

18
* Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta
mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam
Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
* Penimbunan kerikil dengan pasir harus dipisahkan agar kedua jenis
material tersebut tidak tercampur untuk menjamin adukan beton
dengan komposisi material yang tepat.
3.2.4. Air
Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak,
asam alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain
yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini
sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.
3.3. Pedoman Pelaksanaan :
3.3.1. Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat ini, maka
sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-
SNI-T-15-1919-03.

3.3.2. Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas


apabila ada perbedaan yang didapat didalam gambar konstruksi dan
gambar arsitektur.

3.3.3. Adukan beton


Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat
pengecoran harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan
Pengawas, yaitu :
 Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
 Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara
beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk
berbagai pekerjaan beton harus memenuhi Peraturan Beton Bertulang
Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.

3.3.4. Perawatan beton


Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 14 (empat belas) hari. Untuk keperluan tersebut
ditetapkan cara sebagai berikut:

 Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai


penutup beton.
 Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan
tidak
 mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada
permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, harus
dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah
Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki segera
atas resiko kontraktor

3.3.5. Cetakan dan Acuan


Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan harus bermutu baik
sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas
yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian
pekerjaan.
Pembuatan cetakan dan acuan harus memenuhi ketentuan-ketentuan
didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.

3.4. Pembayaran

Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang


ditawar oleh Kontraktor.

19
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala akibat yang timbul atas
kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan penambahan volume dan biaya
pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai pembayaran tambah.

4. PEKERJAAN LANTAI DERMAGA.

4.1. Lingkup Pekerjaan

Pekerjaan Lantai Dermaga meliputi Pemasangan Plat Lantai sesuai dengan


gambar rencana.

4.2. Bahan
4.2.1. Pembesian
a. Plat Lantai
Besi Tumpuan Ø 12 mm jarak 200 mm
Besi Tumpuan Ø 10 mm jarak 200 mm
Besi Lapangan Ø 12 mm jarak 200 mm

4.2.2. Mutu beton


Mutu beton yang digunakan adalah K-250

4.2.2.1 Semen
* Digunakan Portland Cement jenis I menurut NI - 8 tahun 1972 dan
memenuhi S - 400 menurut Standar Cement Portland yang
digariskan oleh Asosiasi Semen Indonesia (NI 8 tahun 1972).
* Semen yang telah mengeras sebagian maupun seluruhnya dalam
satu zak semen, tidak diperkenankan pemakaiannnya sebagai
bahan campuran.
* Penyimpanan harus sedemikian rupa sehingga terhindar dari
tempat yang lembab agar semen tidak cepat mengeras. Tempat
penyimpanan semen harus ditinggikan 30 cm dan tumpukan
paling tinggi 2 m. Setiap semen baru yang masuk harus dipisahkan
dari semen yang telah ada agar pemakaian semen dapat
dilakukan menurut urutan pengiriman.

4.2.2.2 Pasir beton


Pasir beton harus berupa butir-butir tajam dan keras, bebas dari
bahan-bahan organis, lumpur dan sejenisnya serta memenuhi
komposisi butir serta kekerasan sesuai dengan syarat-syarat yang
tercantum dalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-
15-1919-03.

4.2.2.3 Kerikil
* Kerikil yang digunakan harus bersih dan bermutu baik, serta
mempunyai gradasi dan kekerasan sesuai yang disyaratkan dalam
Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.
* Penimbunan kerikil dengan pasir harus dipisahkan agar kedua jenis
material tersebut tidak tercampur untuk menjamin adukan beton
dengan komposisi material yang tepat.

20
4.2.4. Air
Air yang digunakan harus air tawar, tidak mengandung minyak,
asam alkali, garam, bahan-bahan organis atau bahan-bahan lain
yang dapat merusak beton atau baja tulangan. Dalam hal ini
sebaiknya dipakai air bersih yang dapat diminum.

4.3. Pedoman Pelaksanaan :


4.3.1. Kecuali ditentukan lain dalam Rencana kerja dan syarat-syarat ini, maka
sebagai pedoman tetap dipakai Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-
SNI-T-15-1919-03.

4.3.2. Pemborong wajib melaporkan secara tertulis pada Konsultan Pengawas


apabila ada perbedaan yang didapat didalam gambar konstruksi dan
gambar arsitektur.

4.3.3. Adukan beton


Pengangkutan adukan beton dari tempat pengadukan ketempat
pengecoran harus dilakukan dengan cara yang disetujui oleh Konsultan
Pengawas, yaitu :
 Tidak berakibat pemisahan dan kehilangan bahan-bahan.
 Tidak terjadi perbedaan waktu pengikatan yang menyolok antara
beton yang sudah dicor dan yang akan dicor, dan nilai slump untuk
berbagai pekerjaan beton harus memenuhi Peraturan Beton Bertulang
Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.

4.3.4. Perawatan beton


Beton yang sudah dicor harus dijaga agar tidak kehilangan kelembaban
untuk paling sedikit 14 (empat belas) hari. Untuk keperluan tersebut
ditetapkan cara sebagai berikut:

 Dipergunakan karung-karung goni yang senantiasa basah sebagai


penutup beton.
 Hasil pekerjaan beton yang tidak baik seperti sarang kerikil, permukaan
tidak
 mengikuti bentuk yang diinginkan, munculnya pembesian pada
permukaan beton, dan lain-lain yang tidak memenuhi syarat, harus
dibongkar kembali sebagian atau seluruhnya menurut perintah
Konsultan Pengawas. Untuk selanjutnya diganti atau diperbaiki segera
atas resiko kontraktor

4.3.5. Cetakan dan Acuan


Bahan yang digunakan untuk cetakan dan acuan harus bermutu baik
sehingga hasil akhir konstruksi mempunyai bentuk, ukuran dan batas-batas
yang sesuai dengan yang ditunjukkan oleh gambar rencana dan uraian
pekerjaan.
Pembuatan cetakan dan acuan harus memenuhi ketentuan-ketentuan
didalam Peraturan Beton Bertulang Indonesia SK-SNI-T-15-1919-03.

4.4. Pembayaran

Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang


ditawar oleh Kontraktor.
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala akibat yang timbul atas

21
kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan penambahan volume dan biaya
pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai pembayaran tambah.

5. PEKERJAAN PLESTERAN

5.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan Plesteran Digunakan Pada item pekerjaan Plesteran 1 PC : 2 PS

5.2. Persyaratan Bahan


Bahan pasir, semen dan air mengikuti persyaratan yang telah digariskan.

5.3. Pedoman Pelaksanaan

5.3.1. Sebelum plesteran dilakukan, maka :


 Dinding dibersihkan dari semua kotoran sampai benar-benar siap
menerima plester PC.
 Singkirkan semua hal yang dapat merusak/mengganggu pekerjaan.
 Dinding dibasahi dengan air. Dinding jangan dipasang plester sampai
permukaan air yang terlihat tersebut telah lenyap.
 Pada permukaan dinding yang akan diplester, siar-siar sebelumnya
harus dikerok sedalam 1 cm untuk meberikan pegangan pada plesteran.
 Permukaan beton yang akan diplester dibuat kasar agar bahan
plesteran dapat merekat dengan baik.
 Bentuk screed sementara bila mungkin (untuk pembentukan dasar yang
permanent) serta untuk menjamin adanya ketebalan yang sama,
permukaan yang datar / rata kontur dan profil-profil yang akurat.

5.3.2. Letakkan dan/atau tempelkan campuran plesteran dengan masa tunggu


selama 2,5 jam (maksimum) setelah proses pencampuran, kecuali udara
panas / kering, kurangi waktu penempatan itu sesuai yang diperlukan untuk
mencegah kekakuan yang bersifat sementara dari plester, jangan
menambah air lagi untuk membasahi plester yang sudah kaku itu.

5.3.3. Ketebalan plesteran pada semua bidang permukaan harus sama tebalnya
dan tidak diperbolehkan plesteran yang terlalu tipis dan terlalu tebal.
Ketebalan yang diperbolehkan berkisar antara 1,00 cm sampai 1,50 cm.
Untuk mencapai tebal plesteran yang rata sebaiknya diadakan
pemeriksaan secara silang dengan menggunakan mistar kayu panjang yang
digerakkan secara horizontal dan vertikal.

5.3.4. Bilamana terdapat bidang plesteran yang berombak harus diusahakan


memperbaikinya secara keseluruhan. Bidang-bidang yang harus diperbaiki
hendaknya dibongkar secara teratur (dibuat bongkaran berbentuk segi
empat) dan plesteran baru harus rata dengan sekitarnya.
5.3.5. Jika hasil plesteran menunjukkan hasil yang tidak memuaskan, tidak rata,
tidak tegak lurus, bengkok adanya pecahan atau retak, keropos, maka
bagian tersebut harus dibongkar untuk diperbaiki oleh Kontraktor.

5.3.6. Semua bidang plesteran harus dipelihara kelembabannya selama seminggu


sejak permulaan plesteran.

5.3.8. Untuk plesteran permukaan datar, harus mempunyai toleransi lengkungan/


cembung bidang tidak melebihi 5 mm untuk setiap 2 m 2 jika melebihi,
Kontraktor harus memperbaikinya.

5.3.9. Pekerjaan plesteran baru boleh dilaksanakan setelah pekerjaan penutup atap
selesai dipasang dan setelah pipa-pipa listrik selesai dipasang.

22
5.4. Pembayaran

Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang


ditawar oleh Kontraktor .
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala akibat yang timbul
atas kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan penambahan volume dan
biaya pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai pembayaran tambahan.

6. PEKERJAAN PERLENGKAPAN DERMAGA

6.1. Lingkup Pekerjaan


Pekerjaan Perlengkapan terdiri dari Pemasangan Fender ( Penahan Kapal)
Lengkap Aksesoris dan Pemasangan Bollard ( Tambatan Tali Kapal ) Lengkap
Aksesoris.

6.2. Persyaratan Bahan


6.2.1. Bahan Fender lengkap Aksesoris sesuai gambar rencana.
6.2.2. Bahan Bollard sesuai gambar rencana lengkap aksesoris

6.3. Pedoman Pelaksanaan


6.3.1. Bahan dan aksesoris dari Fender dan Bollard harus diperiksa dan disetujui
Oleh Konsultan Pengawas.
6.3.2. Pemasangan Fender dilakukan dengan menambat fender dan aksesoris
sesuai gambar rencana.
6.3.3. Fender yang telah dipasang harus diperiksa dan disetujui oleh Konsultan
Pengawas.
6.3.4. Bollard dipasang dengan sesuai dengan gambar rencana dan dipasangi Baut
Mur ke Lantai Dermaga.
6.3.5. Setelah selesai dipasang Bollard harus diperiksa oleh Konsultan Pengawas.

6.4. Pembayaran

Pembayaran dilakukan berdasarkan volume dan harga satuan kontrak yang


ditawar oleh Kontraktor .
Harga ini sudah mencakup harga bahan, upah, peralatan dan alat-alat bantu
yang dibutuhkan untuk melaksanakan pekerjaan ini. Segala akibat yang timbul
atas kesalahan Kontraktor sehingga mengakibatkan penambahan volume dan
biaya pekerjaan tidak diperhitungkan sebagai pembayaran tambahan.

23
7. PEKERJAAN FINISHING.

7.1. Sebelum pekerjaan diserah terimakan, Kontraktor diwajibkan membongkar


gudang, bangsal-bangsal kerja, membersihkan bahan-bahan bangunan dan
kotoran-kotoran bekas yang ada dalam lokasi bangunan, sehingga pada saat
serah terima dilaksanakan, bangunan dalam keadaan bersih dan rapi.

8. PEKERJAAN LAIN-LAIN

8.1. Lingkup pekerjaan lain-lain adalah Administrasi/dokumentasi, Biaya


kemananan/jaga malam, obatan-obatan/P3K, papan nama kegiatan, papan
nama sekolah dan Konsultan Pengawas keet lengkap.
Penjelasan masing-masing lingkup pekerjaan ini telah dijabarkan pada
masing-masing pasal diatas, kecuali :
Administrasi/dokumentasi dimaksudkan kegitan Kontraktor untuk mebuat
segala administrasi proyek, yaitu membuat buku harian, mingguan, bulanan dan,
built drawing, foto-foto proyek dan lain-lain yang dibutuhkan untuk kelancaran
pekeraan. As-built drawing adalah gambar- gambar yang sesuai dengan
pelaksanaan dilapangan dan harus diselesaikan 4 minggu setelah serah terima
pekerjaan untuk pertama kali dalam format kertas kalkir.
Obat-obatan/P3K minimum disediakan dilapangan untuk keperluan 20
orang pekerja.

8.2. Kontraktor diwajibkan membuat foto kemajuan pekerjaan dari 0 % sampai 100
% yang dapat dilihat dari semua arah bangunan. Pengulangan foto harus
dilakukan pada sisi yang sama secara berurutan sehingga akan jelas terlihat sisi
tersebut dari permulan pekerjaan sampai akhir pekerjaan.
8.3. Pembayaran pekerjaan lain-lain ini didasarkan pada unit taksiran penawaran
Kontraktor. Harga taksiran ini sudah mencakup semua kebutuhan Kontraktor
sehingga bagian pekerjaan ini berjalan dengan baik dan sempurna.
8.4. Apabila ada pekerjaan yang tidak tersebutkan dalam uraian ini, yang ternyata
pekerjaan tersebut harus ada agar mendapatkan hasil akhir yang sempurna,
maka pekerjaan tesebut harus diaksanakan oleh Kontraktor atas perintah tertulis
dari Pemberi Pekerjaan.
8.5. Rencana kerja dan syarat-syarat ini menjadi pedoman dan harus ditaati oleh
Kontraktor dan Pengawas Pekerjaan dalam melaksanakan pekerjaan ini.

Aceh Besar, 8 Februari 2016


CV. INDOPRISMA CONSULTANT
ENGINEERING

MUHAMMAD ISNAINI,ST
Wakil Direktur

24