Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PENDAHULUAN

FISTULA ENTERO CUTANEUS


DI RUANG ICU RSUD BANYUMAS

Oleh :
KARTIKA DWI MULYANINGSIH
(1811040088)

PROGRAM PROFESI NERS


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
2019
LAPORAN PENDAHULUAN

FISTULA ENTERO CUTANEUS

A. Pengertian
Fistel adalah hubungan yang abnormal antara suatu saluran dengan saluran lain (fistel
interna), atau suatu saluran dengan dunia luar melalui kulit (fistel eksterna). Fistel
enterokutaneus atau enterocutaneous fistula (ECF) diklasifikasikan sebagai fistel
ekskterna, adanya hubungan antara usus halus dengan kulit maupun usus besar dengan
kulit (Sjamsuhidajat R & Dejong W, 2005).
Entero – enteral atau enterocutaneous fistula adalah saluran abnomal terjadi pada perut
atau usus besar/ usus kecil dengan organ lain, bisa terjadi pada usus yang satu dengan
usus lainnya ( enteroenteral ) atau usus dengan kulit enterocutaneous fistul (Smeltzer
Suzanne, 2002).
Fistula entero-enteral dan enterocutaneous adalah hubungan abnormal yang
menyebabkan kebocoran usus ke organ lain, biasanya bagian dari usus (enetero-enteral)
atau kulit (enterocutaneous) (Ananya Mandal, 2013).

B. Etiologi
Fistula enterokutaneus dibagi menjadi 2 yaitu fistula yang terjadi secara spontan dan
akibat komplikasi postoperasi (Evenson AR, Fischer JE,2006;Thompson MJ,
Epanomeritaks E,2008).
1. Fistula yang terjadi secara spontan, terjadi sekitar 15-25% dari seluruh fistula
enterokutaneus. Fistula ini dapat disebabkan oleh berbagai hal terutama pada
kanker dan penyakit radang pada usus. Selain itu dapat juga disebabkan oleh
radiasi, penyakit divertikular, appendicitis, dan ulkus perforasi atau iskhemi pada
usus.
2. Faktor penyebab timbulnya fistula enterokutaneous akibat post operasi dapat
disebabkan oleh faktor pasien dan faktor tehnik.
a. Faktor pasien yaitu malnutrisi, infeksi atau sepsis, anemia, dan hypothermia.
b. Faktor tehnik yaitu pada tindakan-tindakan pre-operasi. Selain itu, fistula
enterokutaneous dapat disebabkan oleh kurangnya vaskularisasi pada daerah
operasi, hipotensi sistemik dan tekanan berlebih pada anastomosis.

C. Manifestasi Klinis
Menurut Parrish CR, 2005 gejala dari fistula enterokutaneous adalah
1. Rasa tidak nyaman (nyeri) pada abdomen.
2. Penurunan berat badan.
3. Malnutrisi.
4. Anemia.
5. Diare kronis.
6. Demam.
7. Leukositosis.
8. Infeksi pada luka.
D. Patofisiologi

Salah satu etiologi dari terbentuknya fistel adalah dari pembedahan. Biasanya karena

terjadi kurangnya ke sterilan alat atau kerusakan intervensi bedah yang merusak

abdomen. Maka kuman akan masuk kedalam peritoneum hingga terjadinya

peradangan pada peritoneum sehingga keluarnya eksudat fibrinosa (abses),

terbentuknya abses biasanya disertai dengan demam dan rasa nyeri pada lokasi abses.

Jika proses inflamasi terus berlanjut maka saluran abnormal yang terbentuk bisa

mencapai kutan (kulit) abdomen sehingga terbentuklah fistel enterokutaneus. Lesi

(ulkus) kontak terus-menerus satu sama lain dan dipisahkan oleh jaringan normal.

Infeksi biasanya akan meninggalkan jaringan parut dalam bentuk pita jaringan

(perlengketan/adesi), karena adanya perlengketan maka akan terjadinya kebocoran

pada permukaan tubuh yang mengalami perlengketan sehingga akan menjadi

sambungan abnormal diantara 2 permukaan tubuh. Maka dari dalam fistel akan

meneluarkan drain atau feses.

Karena terjadinya kebocoran pada permukaan tubuh yang mengalami perlengketan

maka akan menyumbat usus dan gerakan peristaltik usus akan berkurang sehingga

cairan akan tertahan didalam usus halus dan usus besar (yang bisa menyebabkan

edema), jika tidak di tangani secara cepat maka cairan akan merembes kedalam rongga

peritoneum sehingga terjadinya dehidrasi.


Pathways
Pembedahan

Kuman masuk ke
peritonium

Peradanagan

Demam Keluarnya eksudat


Nyeri
fibrinosa (abses)

Hipertermia

Inflamasi berlanjut

Saluran abnormal mencapai


kutan (kulit)

Fistel enterokutaneus
E. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada kasus Fistula yaitu sebagai berikut:
1. Test methylen blue
Test ini digunakan untuk mengkonfirmasi keberadaan fistula enterokutaneous dan
mengkonfimasi bahwa sumber fistula memang dari saluran pencernaan. Penilaian
definitif dari sumber fistula, rute, dan adanya penghalang atau abses sangat
penting dalam menentukan intervensi dan metode pemberian nutrisi yang tepat.
Tehnik ini kurang mampu untuk mengetahui fungsi anatomi dan jarang digunakan
pada praktek.
2. USG
USG dapat digunakan untuk mengetahui ada-tidaknya abses dan penimbunan
cairan pada saluran fistula.
3. Fistulogram
Fistulogram dianggap standar emas untuk mengidentifikasi lokasi saluran fistula.
Tehnik ini menggunakan water soluble kontras. Kontras disuntikkan
melalui pembukaan eksternal, kemudian melakukan foto x-ray. Dengan
menggunakan tehnik pemeriksaan ini, dapat diketahui berbagai hal yaitu :
Sumber fistula, jalur fistula, ada-tidaknya kontinuitas usus, ada-tidaknya obstruksi
di bagian distal, keadaan usus yang berdekatan dengan fistula (striktur, inflamasi)
dan ada-tidaknya abses yang berhubungan dengan fistula.
4. Barium enema
Pemeriksaan ini menggunakan kontras, untuk mengevaluasi lambung, usus halus,
dan kolon. Tujuannya untuk mengetahui penyebab timbulnya fistula seperti
penyakit Crohn's, dan neoplasma.
5. CT scan
CT scan abdomen menunjukkan anatomi saluran dan asal-usulnya serta adanya
abses intraabdominal atau patologi terkait.

F. Penatalaksanaan

1. Fistul akan menutup dengan sendirinya setelah beberapa minggu sampai beberapa
bulan. Tergantung keadaan kliniknya, yaitu klien mendapatkan tambahan nutrisi
per IV , tanpa suplemen makanan fistul akan menutup
2. Masukan diit dan cairan
Cairan oral , diit rendah residu tinggi protein tinggi kalori dan terapi suplemen
vitamin dan pengganti zat besi untuk diberikan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.

3. Terapi obat-obatan
Obat-obatan sedatif dan antidiare atau antiperistaltik digunakan untuk mengurangi
peristaltic sampai minimun untuk mengistirahatkan usus yang terinflamasi

4. Pembedahan
Pembedahan akan dilakukan pada bagian tertentu, untuk membuka bagian usus
tertentu seandainya mengalami kesulitan penyembuhan

5. Segera periksa :

─ Bila anda menemukan perubahan yang signifikan pada kebiasaan eliminasi,


diare yang hebat
─ Ada kebocoran dari usus atau kebocoran dari kulit setelah pembedahan

G. Komplikasi
Komplikasi yang dapat ditimbulkan oleh fistula enterokutaneous, yaitu sepsis,
malnutrisi, serta berkurangnya elektrolit dan cairan tubuh. Fistula dapat menimbulkan
abses local, infeksi jaringan, peritonitis hingga sepsis.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. Pengkajian
1. Identitas
Biasanya berisi nama, jenis kelamin, alamat, No Medical Record, penanggung jawab,
agama, alamat, tanggal masuk, dan lain-lain.
2. Tanda-Tanda Vital
Tekanan Darah : Biasanya normal
Suhu : Biasanya normal
Pernafasan : Biasanya normal
Nadi : Biasanya normal
3. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
Biasanya terjadi karsinoma, radiasi, trauma operasi atau kelainan congenital.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Biasanya terjadi kelumpuhan, inkontinensia urine, nyeri abdomen, demam.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Ada atau tidaknya keluarga yang mengalami hal yang sama
4. Pemeriksaan Fisik
a. Rambut
Biasanya rambut klien bersih, tidak ada ketombe.
b. Mata
Biasanya simertsi kiri dan kanan, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, dan
pupil isokor.
c. Hidung
Biasanya tidak terdapat oedema, tidak ada lesi dan simetris kiri dan kanan.
d. Telinga
Biasanya simetris kiri dan kanan, fungsi pendengaran baik.
e. Mulut
Biasanya mukosa bibir lembab.
f. Leher
Biasanya tidak pembesaran dan pembengkakan kelenjar getah bening
g. Payudara
Biasanya simetris kiri dan kanan, dan tidak ada pembengkakan, papilla mamae keluar
dan tidak terdapat nyeri saat menyusui.
h. Jantung
I : biasanya ictus cordis tidak terlihat
P : biasanya ictus cordis teraba
P : biasanya pekak
A: biasanya BJ I dan BJ II teratur
i. Abdomen
Inspeksi : biasanya tidak asites
Auskultasi : biasanya bising usus normal
Palpasi : biasanya tidak terdapat nyeri tekan dan nyeri lepas
Perkusi : biasanya tympani
j. Genitalia
Biasanya keluar cairan dari rectum dan vagina, kulit sekitar anus tebal, infeksi pada
jalin lahir, dan dinding vesika menonjol keluar
i. Ekstremitas
Biasanya terjadi kelumpuhan pada ekstermitas bawah akibat trauma operasi.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan iritasi mukosa, proses inflamasi
2. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh, proses
pembedahan
3. Gangguan konsep diri berhubungan dengan perubahan pola defekasi.
4. Kecemasan berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
5. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi, kesalahan interpretasi.
C. Intervensi Keperawatan
No Diagnosa NOC NIC

1. Nyeri b.d iritasi  Pain level 1. Lakukan pengkajian nyeri.


mukosa, proses  Pain control 2. Observasi reaksi
inflamasi  Comfort level komunikasi terapeutik
Kriteria hasil : untuk mengetahui
pengalaman nyeri pasien.
a. Mampu mengontrol
3. Kaji kultur nyeri pasien
nyeri.
yang mempengaruhi nyeri
b. Melaporkan bahwa nyeri
4. Evaluasi pengalaman nyeri
berkurang dengan
5. Evaluasi bersama pasien
menggunakan
dan im kesehatan lain
menejemen nyeri.
6. Bantu pasien dan keluarga
c. Mampu mengenali nyeri.
untuk mencari dukungan.
d. Menyatakan rasa nyaman
7. Kurangi faktor presipitasi
setelah nyeri berkurang.
nyeri
8. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi
9. Berikan anlgetik untuk
mengurangi nyeri
10. Evaluasi keefektifan
control nyeri.
2. Resiko tinggi infeksi  Immune status 1. Bersihkan lingkungan
b.d penurunan daya  Knowledge : infection setelah dipakai pasien lain
tahan tubuh, proses control 2. Pertahankan teknik isolasi
pembedahan  Risk control 3. Batasi pengunjung bila
Kriteria hasil: perlu
4. Cuci tangan sesudah dan
a. Klien bebas dari tanda
sebelum metindakan
dan gejala infeksi
keperawatan
b. Mendeskripsikan proses
5. Pertahankan lingkungn
penularan penyakit.
aseptik selama pemasangan
c. Menunjukkan
alat
kemampuan untuk 6. Tingkatkan intake nutrisi
mencegah timbulnya 7. Monitor tanda dan gejala
infeksi infeksi sistemik dan lokal.
d. Menunjukkan perilaku
hidup sehat
3. Kecemasan Kontrol kecemasan 1.Gunakan pendekatan yang
berhubungan dengan Koping menenangkan
perubahan status Kriteria Hasil: 2.Nyatakan dengan jelas
kesehatan a. Klien mampu harapan terhadap pelaku
mengungkapkan gejala pasien
cemas 3.Temani pasien untuk
b.Mengidentifikasi, memberikan keamanan dan
mengungkapkan dam mengurangi kecemasan
menujjukan teknik untuk 4.Libatkan keluarga untuk
mengontrol cemas mendampingi klien
c.Vital sign dalam batas 5.Instrusikan klien untuk
normal teknik relaksasi
d.Postur tubuh, ekspresi 6.Bantu pasien mengenal
wajah dan tingkat aktivitas situasi yang menyebabkan
menujukkan berkurangnya kecemasan
kecemasan 7. Kelola pemberian obat anti
cemas
Daftar Pustaka

Ananya Mandal. 2013. What is a fistula?. Diakses pada tanggal 11 januari 2019. Available
from: www.news-medical.net/health/Fistula-What-is-a-Fistula.aspx

Evenson AR, Fischer JE.2006. Current Management of Enterocutaneous Fistula. J


GASTROINTEST SURG. 10:455-464.

Intestinal Fistula Surgery. 2013 [11 Januari 2019]. Available from:


http://www.emedicine.medscape.com/article/197486.overview.

Parrish CR. Ostomies and fistula : a collaboration approach. Practical Gastroentero:


2005;33:63-79.

Sjamsuhidajat R & Dejong W.2005.Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi ke-2. EGC:Jakarta.

Smeltzer Suzanne. 2002. Keperawatan Medikal Bedah. Ed 8. EGC. Jakarta.

Thompson MJ, Epanomeritaks E.2008. An accountable fistula management treatment plan.


British Journal of Nursing. 17:434-440.