Anda di halaman 1dari 7

Modul 2

MANAJEMEN BENCANA DALAM SEKTOR KESEHATAN

SKENARIO 2: Erupsi Anak Krakatau

Sutopo, dokter internship di salah satu Rumah Sakit di Lampung. Ia terkejut membaca berita
pagi ini bahwa Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan mengeluarkan
lontaran pijar ke segala arah serta aliran lava pijar ke selatan. Laporan dari pos pengamatan
Gunung Anak Krakatau bahwa aktivitas Gunung mencapai Level II serta menganjurkan
masyarakat dan wisatawan agar tidak mendekati kawasan dalam radius 2 km dari kawah. Dinas
Kesehatan setempat menyediakan pelayanan kesehatan dengan mensiagakan Puskesmas dan Pos
Kesehatan di setiap lokasi pengungsian. Sutopo sangat ingin ditugaskan sebagai petugas medis di
lokasi bencana dan bertanya bagaimana syarat menjadi volunteer dalam bencana?
Dampak erupsi Gunung Anak Krakatau sangat bahaya bagi kesehatan. Pemerintah harus
siap, termasuk dalam hal pengelolaan pembiayaan maupun supply chain dalam situasi bencana.
Pemerintah juga dituntut untuk mempersiapkan konsep perencanaan pelayanan rumah sakit
dalam penanggulangan bencana serta Hospital Incident Command System dalam kordinasi
respon di rumah sakit pada saat bencana. Sutopo berharap dapat memberikan masker dan logistic
medic lainnya serta mengetahui proses penyaluran logistik kepada para korban. Bagaimana
menurut Saudara konsep bencana dalam sektor kesehatan?
 Erupsi adalah suatu proses pelepasan material dari gunung berapi seperti lava, gas, abu dan lain
sebagainya ke atmosfer bumi ataupun ke permukaan bumi dalam jumlah yang tidak menentu.
Erupsi ini dapat diartikan sebagai letusan gunung berapi ataupun semburan minyak dan uap panas
dari dalam perut bumi. atau fenomena keluarnya magma (merupakan batu-batuan cair yang
terletak di dalam kamar magma di bawah permukaan bumi. Magma di bumi merupakan larutan
silika bersuhu tinggi yang kompleks dan merupakan asal semua batuan beku ) dari dalam bumi.

 Lava adalah cairan larutan magma pijar yang mengalir keluar dari dalam bumi melalui kawah
gunung berapi atau melalui celah (patahan) yang kemudian membeku menjadi batuan yang
bentuknya bermacam-macam.

 volunteer adalah sukarelawan. Biasanya volunteer bekerja pada organisasi di luar pemerintahan
(Non Govermental Organization). Volunteer dapat membantu menyelesaikan berbagai
permasalahan, seperti problem kemanusiaan, bencana alam, hingga masalah kebijakan publik.

 supply chain adalah sebuah sistem organisasi yang di dalamnya terdapat peran-peran dan
melakukan berbagai kegiatan, meliputi informasi, dana dan sumber daya lainnya yang saling
terkait dalam pergerakan suatu produk atau jasa dari pemasok ke costumer.

 HICS adalah sistem manajemen bencana yang didasarkan pada Insiden Command System (ICS),
yang membantu rumah sakit dalam meningkatkan perencanaan manajemen darurat, respons, dan
kemampuan pemulihan untuk kejadian yang tidak direncanakan dan direncanakan.

 Logistik medis adl serangkaian keg. Perencanaan, pengadaan, penyimpanan, pendistribusian,


dan penyimpanan persediaan obat-obatan, bahan kimia, bahan radiologi, bahan habis pakai,
bahan gas medik, alkes (termometer, spuit, tensimeter), peralatan medis (tang, gunting, jarum).

1. PENYEBAB ERUPSI DAN PROSESNYA

Erupsi gunung berapi terjadi karena adanya pergerakan atau aktivitas dari magma dari dalam perut bumi
yang berusaha keluar ke permukaan bumi. Secara umum proses erupsi dibedakan menjadi dua macam,
yaitu erupsi eksplosif dan efusif.

 Erupsi secara Eksplosif – Erupsi eksplosif adalah proses keluarnya magma dan material lain dari dalam
perut bumi yang disertai dengan tekanan yang kuat sehingga terkadang menimbulkan suara letusan atau
dentuman yang cukup keras. Pada umumnya erupsi ini dikenal sebagai letusan gunung berapi. Adapun
contoh dari erupsi eksplosif antara lain adalah erupsi gunung Krakatau.
 Erupsi secara Efusif – Erupsi efusif adalah proses keluarnya magma yang berbentuk lelehan lava. Erupsi
ini terjadi akibat adanya tekanan gas yang tidak begitu kuat sehingga magma kental dan lava pijar tumpah
dan kemudian mengalir ke lereng puncak gunung. Adapun contoh dari erupsi efusif adalah erupsi Gunung
Merapi.

Proses Terjadinya Erupsi  Pada umumnya erupsi terjadi karena adanya tekanan gas yang sangat kuat
yang berasal dari dalam perut bumi yang secara terus menerus berusaha mendorong magma untuk keluar.
Tekanan gas tersebut nantinya perlahan akan membuat magma akan bergerak naik ke atas secara
perlahan, hal ini terjadi karena massa magma lebih ringan dibandingankan dengan batuan padat
disekitarnya.
Dalam proses tersebut, magma yang memiliki suhu sekitar 1200 derajat Celcius ini perlahan lahan akan
melelehkan batuan yang berada disekitarnya dan kemudian terjadi penumpukan magma dalam gunung
tersebut. Dari sinilah tekanan yang berasal dari dalam bumi akan semakin besar, hal ini terjadi karena
magma tadi terhambat oleh lapisan batuan padat/litosfer yang sangat sulit untuk ditembus (
baca: Pengertian Litosfer ). Karena adanya tekanan yang sangat kuat pada daerah ini, maka di tempat
inilah tersimpan tenaga yang sangat kuat sehingga lapisan batuan disekitarnya perlahan lahan menjadi
rapuh dan retak, dari celah retakan inilah nantinya magma akan menjalar keluar ke permukaan bumi.
Sambil menjalar, magma ini juga akan melelehkan saluran retakan tadi sehingga akan membentuk saluran
batu yang disebut sebagai pipa kepundan. Ketika lapisan batuan tadi sudah tidak dapat membendung
tenaga yang sangat kuat dari magma, maka akan terjadi sebuah ledakan dan semburan yang sangat kuat
sebagai reaksi dari pelepasan energi yang berasal dari dalam bumi tersebut. Ketika magma tersebut
berhasil keluar ke permukaan bumi, inilah yang kemudian disebut sebagai erupsi.

2. PRINSIP KERJA, AZAS DAN SYARAT RELAWAN


 Asas Relawan bekerja berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
 Prinsip Kerja Relawan = a.Cepat dan tepat. b. Prioritas. c. Koordinasi
d. Berdaya guna dan berhasil guna. e. Transparansi. f. Akuntabilitas. g. Kemitraan
h. Pemberdayaan. i. Non-diskriminasi. j. Tidak menyebarkan agama
k. Kesetaraan gender. l. Menghormati kearifan lokal
 Kewajiban Relawan
a. Mentaati peraturan dan prosedur kebencanaan yang berlaku;
b. Menjunjung tinggi asas, prinsip dan panca darma relawan
penanggulangan bencana.
c. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kemampuannya dalam
penanggulangan bencana;

SYARAT
3. Prinsip Peran Profesi Dokter dalam Penanggulangan Bencana

a. Peran Dokter dalam Keadaan Bencana


Dokter merupakan salah satu praktisi kesehatan yang sangat diperlukan dalam keadaan bencana.
Peran dokter tersebut diantaranya:
· Melakukan penanganan kasus kegawatan darurat trauma maupun non trauma (seperti PPGD-GELS,
ATLS, ACLS)
· Melakukan pemeriksaan umum terhadap korban bencana
· Mendiagnosis keadaan korban bencana dan ikut menentukan status korban dalam triase
· Menetapkan diagnosis terhadap pasien kegawatan dan mencegah terjadinya kecatatan pada pasien
· Memberikan pelayanan pengobatan darurat
· Melakukan tindakan medis yang dapat dilakukan di posko tanggap bencana
· Memberikan rekomendasi rujukan ke rumah sakit apabila memerlukan penanganan lebih lanjut
· Melakukan pelayanan kesehatan rehabilitatif

b. Tenaga Dokter dalam Tim Penanggulangan Krisis


Dalam keadaan bencana diadakannya mobilisasi SDM Kesehatan, diantaranya dokter, yang tergabung
dalam suatu Tim Penanggulangan Krisis yang meliputi Tim Gerak Cepat, Tim Penilaian Cepat Kesehatan
(Tim RHA), dan Tim Bantuan Kesehatan. Berikut kebutuhan minimal tenaga dokter untuk masing-
masing tim tersebut:
a. Tim Gerak Cepat
Merupakan tim yang bergerak dalam waktu 0-24 jam setelah adanya kejadian bencana. Tenaga
dokter yang dibutuhkan terdiri dari Dokter Umum/BSB 1 orang, Dokter Spesialis Bedah 1 orang, dan
Dokter Spesialis Anastesi 1 orang.
b. Tim RHA
Merupakan tim yang bisa diberangkatkan bersamaan dengan Tim Gerak Cepat atau menyusul
dalam waktu kurang dari 24 jam. Pada tim ini, tenaga dokter umum minimal 1 orang dikirimkan.
c. Tim Bantuan Kesehatan
Merupakan tim yang diberangkatkan berdasarkan kebutuhan setelah Tim Gerak Cepat dan Tim
RHA kembali dengan laporan dengan hasil kegiatan mereka dilapangan.

Kompetensi Tenaga Dokter


Berikut kompetensi-kompetensi dari tenaga dokter yang dapat dimiliki untuk melakukan penanggulangan
bencana:
1. PPGD-GELS untuk Dokter (Pelatihan Penanganan Gawat Darurat-General Emergency Life Support).
General Emergency Life Support atau GELS adalah pelatihan dasar penanganan kasus gawat darurat
trauma maupun non trauma bagi para dokter. Tujuannya untuk menyiapkan tenaga dokter yang kompeten
dalam menangani keadaan-keadaan yang mengancam jiwa atau kecacatan. GELS dirancang dan disusun
oleh Tim Pengembangan SPGDT (Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu) Departemen
Kesehatan yang terdiri dari pada pakar di bidangnya pada tahun 2004. Secara umum, materi yang
diberikan sebagai berikut:
a. Materi Umum
Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT), Geomedic Mapping,
Interpersonal Komunikasi, Peningkatan Mutu Pelayanan Gawat Darurat, Hak dan Kewajiban Dokter.
b. Materi Penunjang
Prinsip Penanganan Bencana, Komunikasi dan Transportasi Bencana, Etika Hukum Kesehatan,
Keracunan
c. Materi Teknik Medis Utama
· Dasar-dasar PPGD
· Airway, Breathing, and Circulation Problem and Management
· CPR/RJP dan Permasalahannya
· Jenis-jenis Syok dan Penanganannya
d. Materi Teknis Medis Spesialistik
· Initial Assessment Trauma (ABC pada Trauma)
· Trauma Kepala, Thoraks, Abdomen, Muskuloskeletal
· Syok dan Tenggelam
· Kegawatdaruratan Bayi dan Anak
· Kegawatan Paru dan Jantung
· Kegawatan Obgyn
· Kegawatan Penyakit Dalam
· Kegawatan pada Bidang Psikiatri
· Kegawatan Neurologi

e. Skill Station dan Simulasi


· Skill Station Airway, Breathing, Circulation
· Skill Station CPR/RJP
· Skill Station Animal Lab
· Skill Station Stabilisasi dan Transportasi
· Skill Station Membaca Kelainan EKG dan Megacode Test
· Skill Station Resusitasi dan Penanganan Kegawatan Bayi dan Anak
· Skill Station Penanganan Persalinan, Distocia Bahu, dan Ekstraksi Vakum
· Simulasi Penanganan Bencana di Posko, Lapangan, dan IGD

2. ATLS (Advanced Trauma Life Support)


ATLS adalah sebuah program pelatihan bagi dokter medis dalam pengelolaan trauma akut, yang
dikembangkan oleh American College of Surgeons. Tujuan dari program ini adalah menerapkan ilmu dan
teknologi ATLS dari American College of Surgeons Committee on Trauma ke dalam sistem Pelayanan
Medis Gawat Darurat yang dapat meningkatkan pelayanan dan keterampilan para dokter dalam upaya
penanganan penderita trauma dengan metode ATLS. Materi yang diberikan diantaranya initial assessment
and management; airway & ventilator management; shock management; trauma pada bagian tubuh
tertentu, dan trauma pada pediatric, geriatric, serta wanita; cara stabilisasi dan transportasi;,dan
manajemen dalam bencana.

3. ACLS (Advanced Cardiac Life Support)


Pelatihan ACLS ditujukan bagi dokter umum, dokter spesialis dan perawat (terutama perawat
ICU, ICCU, Unit Gawat Darurat atau Ambulans) untuk memperoleh pengetahuan, keterampilam dan
sertifikasi penanganan kasus-kasus kegawatdaruratan kardiovaskular.

4. PENGELOLAAN DAN PEMBIAYAAN BENCANA

Dana penanggulangan bencana adalah dana yang digunakan bagi penanggulangan bencana untuk tahap
prabencana, tanggap darurat dan/atau pasca bencana. Sangat luas memang skope pembiayaannya.
Sehingga jenis pendanaanya sesuai dengan ketentuan produk hukum yang berlaku yaitu Peraturan
Pemerintah No 22 Tahun 2008:

1. Dana kontinjensi bencana adalah dana yang dicadangkan untuk menghadapi kemungkinan
terjadinya bencana tertentu atau pra bencana. Dana ini berasal dari penganggaran APBN untuk
tahap kesiap-siagaan pada tahap pra bencana.
2. Dana siap pakai adalah dana yang selalu tersedia dan dicadangkan oleh Pemerintah untuk
digunakan pada saat tanggap darurat bencana sampai dengan batas waktu tanggap darurat
berakhir. Dana ini berasal dari penganggaran APBN namun ditempatkan pada BNPB (Badan
Nasional Penanganan Bencana). Pemerintah Daerah juga bisa menyiapkan dana siap pakai
dengan menganggarkan dari APBD nya dan ditempatkan dalam BPBD (Badan Penanggulangan
Bencana Daerah).
3. Dana bantuan sosial berpola hibah adalah dana yang disediakan Pemerintah kepada pemerintah
daerah sebagai bantuan penanganan pascabencana. Dana ini bersumber dari APBN.

Dana-dana tersebut bersumber dari:

1. Pemerintah (APBN dan APBD)


2. Masyarakat, lembaga donor baik dalam maupun luar negeri, bantuan asing.

Pembiayaan Tanggap Darurat

Dalam proses tanggap bencana, dana yang dipakai untuk mengelola bencana adalah dana siap pakai. Dana
ini memang dana yang harus siap dan cepat cair, mengingat proses tanggap darurat yang memang
membutuhkan penanganan serba cepat. Berbeda dengan jenis dana lainnya yang relatif membutuhkan
waktu lama dan proses pengajuan yang lama pula. Karena karakter jenis dana yang berbeda ini maka
pengelolaan dan penggunaannya harus efektif dan efisien, namun prosedur juga berbeda dan tidak
berbelit-belit karena dihadapkan pada kondisi yang tidak biasa (genting). Untuk menjaga akuntabilitas
dan transparansi agar sesuai peraturan yang berlaku, maka kepala BNPB mengeluarkan Perka BNPB No
6 Tahun 2008 yang mengatur pedoman penggunaan dana siap pakai pada proses tanggap darurat.

Dana ini berasal dari APBN/APBD yang telah ditempatkan dalam anggaran BNPB/BPBD. Beberapa
mendapatkan sumber dana tambahan dari DAK yang besarannya telah disesuaikan. Dan sesuai dengan
kewenangannya, pengelolaan dan penggunaan dana tersebut dikelola oleh BNPB/BPBD. Untuk daerah
kabupaten/propinsi yang belum mempunyai lembaga tersebut, maka pengelolaannya diserahkan ke
lembaga yang menangani penanggulangan bencana. Di Propinsi Yogyakarta misalnya dikelola oleh
Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat. Dana siap pakai ini digunakan untuk:

1. Pelaksanaan pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, dan sumber daya.
2. Kegiatan penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana.
3. Pemberian bantuan pemenuhan kebutuhan dasar korban bencana.
4. Pelaksanaan perlindungan terhadap kelompok rentan
5. Dan kegiatan pemulihan darurat prasarana dan sarana.

Dana siap pakai tersebut diusulkan oleh pemerintah terkait kepada kepala BNPB dengan menyampaikan
laporan kejadian, jumlah korban, kerusakan dan bantuan yang diperlukan. Penetapan besar bantuan (uang
tunai, barang, jasa) dapat dilakukan berdasarkan usulan dari daerah instansi/lembaga terkait, laporan Tim
Reaksi Cepat (TRC), hasil koordinasi, atau inisiatif dari BNPB sendiri. Jadi prosedurnya adalah ketika
BNPB mendapatkan laporan bencana, maka tim dari BNPB (TRC) akan mengecek lapangan dan
memverifikasi data yang diperoleh sebagai pedoman mengeluarkan dana. Bantuan dana tersebut langsung
diserahkan kepada pemerintah propinsi/kabupaten untuk segera didistribusikan dan digunakan untuk
keperluan penanganan bencana. Logika teknokratis administratif sangat kental dalam proses ini. Setiap
proses penyerahan harus terekam dan terdokumentasikan dalam sebuah catatan administrasi.

Untuk menjaga akuntabilitas dan transparansi penggunaan dana penanggulangan bencana, maka penerima
bantuan dana siap pakai harus memberikan laporan pertanggung jawaban sesuai ketentuan yang berlaku.
Pertanggungjawaban kinerja dan keuangan tersebut harus segera dilaporkan ke BNPB/BPBD selambat-
lambatnya tiga bulan setelah masa tanggap darurat. Jika terdapat sisa dalam pemakaian dana
penanggulangan bencana tersebut maka wajib untuk dikembalikan ke kas negara dengan bukti setoran
disampaikan kepada BNPB. Penyetoran sisa dana tersebut dilakukan bersamaan dengan masa
pertanggungjawaban dana siap pakai.

6. ALUR PENGELOLAAN DANA BANTUAN

1) Kepala desa/Kelurahan melaporkan kejadian bencana atas informasi dari masyarakat kepada Camat
setempat. Laporan tersebut selambat-lambatnya 1 jam setelah kejadian tersebut terjadi dan dapat
dilakukan melalui telepon yang selanjutnya diikuti laporan tertulis.
2) Berdasar laporan dari kepala desa tersebut, Camat bersama Muspika mengadakan peninjauan lokasi
kejadian dan mengambil langkah-langkah seperlunya.
3) Camat melaporkan kronologis kejadian bencana dan langkah-langkah yang telah diambil, serta
saran/usulan penanggulangan bencana kepada Bupati. Laporan tersebut dapat dilakukan melalui telepon
yang selanjutnya diikuti laporan tertulis dengan tembusan Kepala Pelaksana BPBD.
4) Kepala BPBD menugaskan Tim Reaksi Cepat (TRC) guna mendapatkan data kaji cepat dan langkah-
langkah yang perlu diambil.
5) Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Camat melaporkan semua permasalahan/keadaan yang terjadi dilapangan
kepada Kepala BPBD untuk mendapatkan petunjuk/langkah-langkah strategis selanjutnya.
6) BPBD menindaklanjuti dengan usulan pemberian bantuan/santunan dari Badan Penanggulangan
Bencana Daerah melalui Nota Dinas kepada Bupati.
7) Diajukan pencairannya (bantuan/santunan) tersebut kepada Badan Pengelolaan Keuangan dan
Kekayaan Daerah (BPKKD).
8) Selanjutnya bantuan tersebut didistribusikan kepada korban bencana