Anda di halaman 1dari 12

A.

HIDROMETEOROLOGI

1. BANJIR
Ada dua pengertian mengenai banjir:
 Aliran air sungai yang tingginya melebihi muka air normal sehingga melimpas dari palung
sungai menyebabkan adanya genangan pada lahan rendah disisi sungai. Aliran air limpasan
tersebut yang semakin meninggi, mengalir dan melimpasi muka tanah yang biasanya tidak
dilewati aliran air.
 Gelombang banjir berjalan kearah hilir sistem sungai yang berinteraksi dengan kenaikan muka
air dimuara akibat badai.
Untuk negara tropis, berdasarkan sumber airnya, air yang berlebihan tersebut dapat
dikategorikan dalam empat kategori:
 Banjir yang disebabkan oleh hujan lebat yang melebihi kapasitas penyaluran sistem pengaliran
air yang terdiri dari sistem sungai alamiah dan sistem drainase buatan manusia.
 Banjir yang disebabkan meningkatnya muka air di sungai sebagai akibat pasang laut maupun
meningginya gelombang laut akibat badai.
 Banjir yang disebabkan oleh kegagalan bangunan air buatan manusia seperti bendungan,
bendung, tanggul, dan bangunan pengendalian banjir.
 Banjir akibat kegagalan bendungan alam atau penyumbatan aliran sungai akibat
runtuhnya/longsornya tebing sungai. Ketika sumbatan/bendungan tidak dapat menahan tekanan
air maka bendungan akan hancur, air sungai yang terbendung mengalir deras sebagai banjir
bandang. Contoh kasus banjir bandang jenis ini terjadi pada banjir di Bohorok, Kabupaten
Langkat, Provinsi Sumatera Utara.

2. ANGIN BADAI
Pusaran angin kencang dengan kecepatan angin 120 km/jam atau lebih yang sering terjadi di
wilayah tropis di antara garis balik utara dan selatan, kecuali di daerah‐daerah yang sangat dekat
dengan khatulistiwa.
Angin kencang ini disebabkan oleh perbedaan tekanan dalam suatu system cuaca. Angin paling
kencang yang terjadi di daerah tropis ini umumnya berpusar dengan radius ratusan kilometer di
sekitar daerah sistem tekanan rendah yang ekstrem. Sistem pusaran ini bergerak dengan
kecepatan sekitar 20 km/jam. Di Indonesia, angin ini dikenal sebagai badai, di Samudra Pasifik
sebagai angin taifun (typhoon), di Samudra Hindia disebut siklon (cyclone), dan di Amerika
dinamakan hurricane.

3. GELOMBANG PASANG/BADAI
Pengertian gelombang laut (ideal) adalah pergerakan naik turunnya muka air laut yang
membentuk lembah dan bukit mengikuti gerak sinusoidal. Pengertian gelombang yang dijelaskan
di atas merupakan gelombang periode singkat (wave of short period), yang biasanya
dibangkitkan oleh tiupan angin di permukaan laut. Selain tipe gelombang diatas, terdapat juga
gelombang periode panjang (wave of long period) yang mempunyai periode lebih lama dari
gelombang yang disebabkan oleh angin.
Beberapa proses alam yang terjadi dalam waktu yang bersamaan akan membentuk variasi muka
air laut dengan periode yang panjang. Yang termasuk dalam kategori gelombang periode
panjang, antara lain: gelombang pasang surut (astronomical tide/tidal wave), gelombang tsunami,
dan gelombang badai (storm wave).
– Gelombang pasang surut (pasut) adalah gelombang yang ditimbulkan oleh gaya tarik menarik
antara bumi dengan planet‐planet lain terutama dengan bulan dan matahari. Gelombang ini
mempunyai periode sekitar 12,4 jam dan 24 jam. Gelombang pasut juga mudah diprediksi dan
diukur, baik besar dan waktu terjadinya. Sedangkan gelombang tsunami dan gelombang badai
tidak dapat diprediksi kapan terjadinya. Berdasarkan faktor pembangkitnya, pasang surut dapat
dibagi dalam dua kategori yaitu: pasang purnama (pasang besar, spring tide) dan pasang perbani
(pasang kecil, neap tide). Pada setiap sekitar tanggal 1 dan 15 (saat bulan mati dan bulan
purnama) posisi bulan‐bumi‐matahari berada pada satu garis lurus, sehingga gaya tarik bulan dan
matahari terhadap bumi saling memperkuat. Dalam keadaan ini terjadi pasang purnama dimana
tinggi pasang sangat besar dibanding pada hari‐hari yang lain. Sedangkan pada sekitar tanggal 7
dan 21, dimana bulan dan matahari membentuk sudut siku‐siku terhadap bumi maka gaya tarik
bulan dan matahari terhadap bumi saling mengurangi. Dalam keadaan ini terjadi pasang perbani,
dimana tinggi pasang yang terjadi lebih kecil dibanding dengan hari‐hari yang lain.
– Gelombang badai (Storm wave) adalah gelombang tinggi yang ditimbulkan karena efek
terjadinya siklon tropis disekitar wilayah Indonesia, danberpotensi kuat menimbulkan bencana
alam. Indonesia bukan daerah lintasan siklon tropis, tetapi kebaradaan siklon tropis akan
memberikan pengaruh kuat terjadinya angin kencang, gelombang tinggi disertai hujan deras.
Secara fisis siklon tropis merupakan sistim tekanan rendah yang mempunyai angin berputar
(siklonik) yang berasal dari daerah tropis dengan kecepatan rata‐rata (34 – 64) knots disekitar
pusatnya.

4. KEKERINGAN
Kekeringan adalah hubungan antara ketersediaan air yang jauh di bawah kebutuhan air baik
untuk kebutuhan hidup, pertanian, kegiatan ekonomi dan lingkungan. Untuk memudahkan dalam
memahami masalah kekeringan, berikut diuraikan klasifikasi kekeringan yang terjadi secara
alamiah dan atau ulah manusia, sebagai berikut:
1). Kekeringan Alamiah
– Kekeringan Meteorologis berkaitan dengan tingkat curah hujan di bawah normal dalam satu
musim. Pengukuran kekeringan meteorologis merupakan indikasi pertama adanya kekeringan.
– Kekeringan Hidrologis berkaitan dengan kekurangan pasokan air permukaan dan air tanah.
Kekeringan ini diukur berdasarkan elevasi muka air sungai, waduk, danau dan elevasi muka air
tanah. Ada tenggang waktu mulai berkurangnya hujan sampai menurunnya elevasi muka air
sungai, waduk, danau dan elevasi muka air tanah. Kekeringan hidrologis bukan merupakan
indikasi awal adanya kekeringan.
– Kekeringan Pertanian berhubungan dengan kekurangan lengas tanah (kandungan air dalam
tanah) sehingga tidak mampu memenuhi kebutuhan tanaman tertentu pada periode waktu
tertentu pada wilayah yang luas. Kekeringan pertanian ini terjadi setelah gejala kekeringan
meteorologi.
– Kekeringan Sosial Ekonomi berkaitan dengan kondisi dimana pasokan komoditi ekonomi
kurang dari kebutuhan normal akibat terjadinya kekeringan meteorologi, hidrologi, dan
pertanian.

2). Kekeringan Antropogenik.


Kekeringan yang disebabkan karena ketidak‐taatan pada aturan terjadi karena:
– Kebutuhan air lebih besar dari pasokan yang direncanakan akibat ketidaktaatan pengguna
terhadap pola tanam/penggunaan air.
– Kerusakan kawasan tangkapan air, sumber‐sumber air akibat perbuatan manusia.

Dari data historis, kekeringan di Indonesia sangat berkaitan erat dengan fenomena ENSO (El‐
Nino Southern Oscillation). Pengamatan dari tahun 1844, dari 43 kejadian kekeringan di
Indonesia, hanya enam kejadian yang tidak berkaitan dengan kejadian El‐Nino. Namun demikian
dampak kejadian El‐Nino terhadap keragaman hujan di Indonesia beragam menurut lokasi.
Pengaruh El‐Nino kuat pada wilayah yang pengaruh sistem monsoon kuat, lemah pada wilayah
yang pengaruh sistem equatorial kuat, dan tidak jelas pada wilayah yang pengaruh lokal kuat.
Pengaruh El‐Nino lebih kuat pada musim kemarau dari pada musim hujan. Pengaruh El‐Nino
pada keragaman hujan memiliki beberapa pola:
(i) akhir musim kemarau mundur dari normal,
(ii) awal masuk musim hujan mundur dari normal,
(iii) curah hujan musim kemarau turun tajam dibanding normal,
(iv) deret hari kering semakin panjang, khususnya di daerah Indonesia bagian timur.

B. GEOLOGI

1. GEMPA BUMI
Gempabumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempeng bumi,
patahan aktif aktivitas gunungapi atau runtuhan batuan. Kekuatan gempabumi akibat aktivitas
gunungapi dan runtuhan batuan relatif kecil sehingga kita akan memusatkan pembahasan pada
gempabumi akibat tumbukan antar lempeng bumi dan patahan aktif. Gempabumi merupakan
peristiwa pelepasan energi yang menyebabkan dislokasi (pergeseran) pada bagian dalam bumi
secara tiba‐tiba.

Penyebab:
– Proses tektonik akibat pergerakan kulit/lempeng bumi
– Aktivitas sesar dipermukaan bumi
– Pergerakan geomorfologi secara lokal, contohnya terjadinya runtuhan tanah
– Aktivitas gunungapi
– Ledakan Nuklir

2. TSUNAMI
Tsunami berasal dari bahasa Jepang. “tsu” berarti pelabuhan, “nami” berarti gelombang sehingga
secara umum diartikan sebagai pasang laut yang besar di Pelabuhan. Tsunami dapat diartikan
sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari
dasar laut. Gangguan impulsive tersebut bisa berupa gempabumi tektonik, erupsi vulkanik atau
longsoran.

Ada beberapa penyebab terjadinya tsunami:


– Gempabumi yang diikuti dengan dislokasi/perpindahan masa tanah/batuan yang sangat besar di
bawah air (laut/danau).
– Tanah longsor di bawah tubuh air/laut.
– Letusan gunungapi di bawah laut dan gunungapi pulau.
3. LETUSAN GUNUNGAPI
Gunungapi adalah bentuk timbunan (kerucut dan lainnya) di permukaan bumi yang dibangun
oleh timbunan rempah letusan, atau tempat munculnya batuan lelehan (magma)/rempah
lepas/gas yang berasal dari bagian dalam bumi.

Penyebab:
– Pancaran magma dari dalam bumi yang berasosiasi dengan arus konveksi panas
– Proses tektonik dari pergerakan dan pembentukan lempeng/ kulit bumi
– Akumulasi tekanan dan temperatur dari fluida magma menimbulkan pelepasan energi

Bahaya letusan gunungapi dibagi dua berdasarkan waktu kejadiannya, yaitu bahaya utama
(primer) dan bahaya ikutan (sekunder). Kedua jenis bahaya tersebut masing‐masing mempunyai
risiko merusak dan mematikan.
1). Bahaya Utama (primer)
Bahaya utama (sering juga disebut bahaya langsung) letusan gunungapi adalah bahaya yang
langsung terjadi ketika proses peletusan sedang berlangsung. Jenis bahaya tersebut adalah
awanpanas (piroclastic flow), lontaran batu (pijar), hujan abu lebat, leleran lava (lava flow), dan
gas beracun.
Awanpanas adalah campuran material letusan antara gas dan bebatuan (segala ukuran) terdorong
ke bawah akibat densitasnya yang tinggi dan merupakan adonan yang jenuh menggulung secara
turbulensi bagaikan gulungan awan yang menyusuri lereng. Selain suhunya sangat tinggi, antara
300 ‐ 700o C, kecepatan luncurnya‐pun sangat tinggi, > 70 km per jam (tergantung kemiringan
lereng).
Lontaran material (pijar) terjadi ketika letusan (magmatik) berlangsung. Jauhnya lontaran sangat
bergantung dari besarnya energy letusan, bisa mencapai ratusan meter jauhnya. Selain suhunya
tinggi (> 200oC), ukurannya‐pun besar (garis tengah >10 cm) sehingga dapat membakar
sekaligus melukai, bahkan mematikan makhluk hidup. Lazim juga disebut sebagai “bom
vulkanik”
Hujan abu lebat terjadi ketika letusan gunungapi sedang berlangsung. Material yang berukuran
halus (abu & pasir halus) diterbangkan angin dan jatuh sebagai hujan abu, arahnya tergantung
arah angin. Karena ukurannya halus, maka berbahaya bagi pernafasan, mata, dapat
mencemari air tanah, merusak tetumbuhan (terutama daun), korosif pada atap zeng karena
mengandung unsure‐unsur kimia yang bersifat asam serta pesawat terbang (terutama yang
bermesin jet).
Lava adalah magma yang mencapai permukaan, sifatnya liquid (cairan kental) dan bersuhu
tinggi, antara 700–1200oC. Karena cair, maka lava umumnya mengalir mengikuti lereng/lembah
dan membakar apa saja yang dilaluinya. Bila lava tersebut sudah dingin, maka berubah wujud
menjadi batu (batuan beku) dan daerah yang dilaluinya menjadi ladang batu.
Gas racun yang muncul dari gunungapi tidak selalu didahului oleh letusan, tetapi dapat keluar
dengan sendirinya melalui celah bebatuan yang ada, meskipun kerap kali diawali oleh letusan.
Gas utama yang biasa muncul dari celah bebatuan gunungapi adalah CO2, H2S, HCl, SO2, dan
CO. Yang paling kerap dan sering menjadi penyebab kematian adalah CO2. Sifat gas jenis ini
lebih berat dari udara sehingga cenderung menyelinap di dasar lembah atau cekungan terutama
bila
malam hari, cuaca kabut atau tidak berangin, karena dalam suasana tersebut konsentrasinya akan
bertambah besar. G. Tangkubanperahu, G. Dieng, G. Ciremei, dan G. Papandayan terkenal
memiliki karakteristik letusan gas dan sering meminta korban karena keberadaan gas yang
dikandungnya dan dikenal memiliki “Lembah Maut”.
Tsunami atau gelombang pasang akibat letusan gunungapi bisa terjadi, tetapi pada umumnya
pada gunungapi pulau. Ketika terjadi letusan materialnya masuk ke dalam laut dan mendorong
air laut ke arah pantai dan menimbulkan gelombang pasang. Makin besar volume material
letusan makin besar gelombang yang terangkat ke darat, contoh kasus Letusan G. Krakatau 1883.

2). Bahaya Ikutan (sekunder)


Bahaya ikutan letusan gunungapi adalah bahaya yang terjadi setelah proses peletusan
berlangsung. Bila suatu gunungapi meletus akan terjadi penumpukan material dalam berbagai
ukuran di puncak dan lereng bagian atas. Pada saat musim hujan tiba sebagian material tersebut
akan terbawa oleh air hujan dan tercipta adonan lumpur turun ke lembah sebagai banjir bebatuan,
banjir tersebut disebut lahar.

4. TANAH LONGSOR
Longsoran merupakan salah satu jenis gerakan massa tanah atau batuan, ataupun percampuran
keduanya, menuruni atau keluar lereng akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan
penyusun lereng tersebut. Ada 6 jenis tanah longsor, yakni: longsoran translasi, longsoran rotasi,
pergerakan blok, runtuhan batu, rayapan tanah, dan aliran bahan rombakan. Jenis longsoran
translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia. Sedangkan longsoran yang paling banyak
memakan korban jiwa manusia adalah aliran bahan rombakan.
Longsoran Translasi, Longsoran translasi adalah ber‐geraknya massa tanah dan batuan pada
bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai.
Longsoran Rotasi, Longsoran rotasi adalah bergerak‐nya massa tanah dan batuan pada bidang
gelincir berbentuk cekung.
Pergerakan Blok, Pergerakan blok adalah perpindahan batuan yang bergerak pada bidang
gelincir berbentuk rata. Longsoran ini disebut juga longsoran translasi blok batu.
Runtuhan Batu, Runtuhan batu terjadi ketika sejum‐lah besar batuan atau material lain bergerak
ke bawah dengan cara jatuh bebas. Umumnya terjadi pada lereng yang terjal hingga meng‐
gantung terutama di daerah pantai. Batu‐batu besar yang jatuh dapat menyebabkan kerusakan
yang parah.
Rayapan Tanah, Rayapan Tanah adalah jenis tanah longsor yang bergerak lambat. Jenis tanahnya
berupa butiran kasar dan halus. Jenis tanah longsor ini hampir tidak dapat dikenali. Setelah
waktu yang cukup lama longsor jenis rayapan ini bisa menyebabkan tiang‐tiang telepon, pohon,
atau rumah miring ke bawah.
Aliran Bahan Rombakan, Jenis tanah longsor ini terjadi ketika massa tanah bergerak didorong
oleh air. Kecepatan aliran tergantung pada kemiringan lereng, volume dan tekanan air, dan jenis
materialnya. Gerakannya terjadi di sepanjang lembah dan mampu mencapai ratusan meter
jauhnya. Dibeberapa tempat bisa sampai ribuan meter seperti di daerah aliran sungai di sekitar
gunungapi. Aliran tanah ini dapat menelan korban cukup banyak.

Tanah longsor terjadi karena ada gangguan kestabilan pada tanah/batuan penyusun lereng.
Penyebab longsoran dapat dibedakan menjadi penyebab yang berupa:
– Faktor pengontrol gangguan kestabilan lereng
– Proses pemicu longsoran
Gangguan kestabilan lereng ini dikontrol oleh kondisi morfologi (terutama kemiringan lereng),
kondisi batuan ataupun tanah penyusun lereng dan kondisi hidrologi atau tata air pada lereng.
Meskipun suatu lereng rentan atau berpotensi untuk longsor, karena kondisi kemiringan lereng,
batuan/tanah dan tata airnya, namun lereng tersebut belum akan longsor atau terganggu
kestabilannya tanpa dipicu oleh proses pemicu.

C. LINGKUNGAN

KEBAKARAN HUTAN DAN LAHAN


Kebakaran hutan dan lahan, adalah perubahan langsung atau tidak langsung terhadap sifat fisik
dan atau hayatinya yang menyebabkan kurang berfungsinya hutan atau lahan dalam menunjang
kehidupanan yang berkelanjutan sebagai akibat dari penggunaan api yang tidak terkendali
maupun faktor alam yang dapat mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan dan atau lahan.

Penyebab:
– Aktivitas manusia yang menggunakan api di kawasan hutan dan lahan, sehingga menyebabkan
bencana kebakaran.
– Faktor alam yang dapat memicu terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
– Jenis tanaman yang sejenis dan memiliki titik bakar yang rendah serta hutan yang terdegradasi
menybabkan semakin rentan terhadap bahaya kebakaran.
– Angin yang cukup besar dapat memicu dan mempercepat menjalarnya api.
– Topografi yang terjal semakin mempercepat merembetnya api dari bawah ke atas.

D. TEKNOLOGI

KEGAGALAN TEKNOLOGI
Semua kejadian bencana yang diakibatkan oleh kesalahan desain, pengoperasian, kelalaian dan
kesengajaan manusia dalam penggunaan teknologi dan atau industri.

Penyebab:
– Kebakaran.
– Kegagalan/kesalahan desain keselamatan pabrik.
– Kesalahan prosedur pengoperasian pabrik.
– Kerusakan komponen.
– Kebocoran reaktor nuklir.
– Kecelakaan transportasi (darat, laut dan udara).
– Sabotase atau pembakaran akibat kerusuhan.
– Dampak ikutan dari bencana alam (gempa bumi, banjir, longsor, dsb).

E. BIOLOGI

WABAH PENYAKIT
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam masyarakat yang jumlah
penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari pada keadaan yang lazim pada waktu dan
daerah tertentu serta dapat menimbulkan malapetaka.
Secara umum penyebab wabah dikelompokkan sebagai berikut:
– Toksin (kimia & biologi).
– Infeksi (virus, bakteri, protozoa dan cacing).

Wabah penyakit menular dapat menimbulkan dampak kepada masyarakat yang sangat luas
meliputi:
– Jumlah pesakitan, bila wabah tidak dikendalikan maka dapat menyerang masyarakat dalam
jumlah yang sangat besar, bahkan sangat dimungkinkan wabah akan menyerang lintas negara
bahkan lintas benua.
– Jumlah kematian, apabila jumlah penderita tidak berhasil dikendalikan, maka jumlah kematian
juga akan meningkat secara tajam, khususnya wabah penyakit menular yang masih relatif baru
seperti Flu Burung dan SARS.
– Aspek ekonomi, dengan adanya wabah maka akan memberikan dampak pada merosotnya roda
ekonomi, sebagai contoh apabila wabah flu burung benar terjadi maka triliunan aset usaha
perunggasan akan lenyap. Begitu juga akibat merosotnya kunjungan wisata karena adanya travel
warning dari beberapa negara maka akan melumpuhkan usaha biro perjalanan, hotel maupun
restoran.
– Aspek politik, bila wabah terjadi maka akan menimbulkan keresahan masyarakat yang sangat
hebat, dan kondisi ini sangat potensial untuk dimanfaatkan oleh pihak‐pihak tertentu guna
menciptakan kondisi tidak stabil.

Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007

Tentang Penanggulangan Bencana

BAB IKETENTUAN UMUM


Pasal 1
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu
kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor
nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia,
kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
2. Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian peristiwa yang
disebabkan oleh alam antara lain berupa gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir,
kekeringan, angin topan, dan tanah longsor.
3. Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau rangkaian peristiwa
nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah
penyakit.
4. Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan olehperistiwa atau serangkaian peristiwa yang
diakibatkan oleh manusia yang meliputi konflik sosial antarkelompok atau antarkomunitas
masyarakat, dan teror.
5. Penyelenggaraan penanggulangan bencana adalah serangkaian upaya yang meliputi
penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko timbulnya bencana, kegiatan pencegahan
bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
6. Kegiatan pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan sebagai upaya untuk
menghilangkan dan/atau mengurangi ancaman bencana.
7. Kesiapsiagaan adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana
melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang tepat guna dan berdaya guna.
8. Peringatan dini adalah serangkaian kegiatan pemberian peringatan sesegera mungkin kepada
masyarakat tentang kemungkinan terjadinya bencana pada suatu tempat oleh lembaga yang
berwenang.
9. Mitigasi adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan
fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
10. Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat
kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan
penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan,
pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.
11. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat
sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk
normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat
pada wilayah pascabencana.
12. Rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada
wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran
utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum
dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah pascabencana.
13. Ancaman bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana.
14. Rawan bencana adalah kondisi atau karakteristik geologis,biologis, hidrologis, klimatologis,
geografis, sosial, budaya, politik, ekonomi, dan teknologi pada suatu wilayah untuk jangka
waktu tertentu yang mengurangi kemampuan mencegah, meredam, mencapai kesiapan, dan
mengurangi kemampuan untuk menanggapi dampak buruk bahaya tertentu.
15. Pemulihan adalah serangkaian kegiatan untuk mengembalikan kondisi masyarakat dan
lingkungan hidup yang terkena bencana dengan memfungsikan kembali kelembagaan, prasarana,
dan sarana dengan melakukan upaya rehabilitasi.
16. Pencegahan bencana adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman bencana maupun kerentanan
pihak yang terancam bencana.
17. Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada suatu wilayah dan
kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam, hilangnya rasa
aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan masyarakat.
18. Bantuan darurat bencana adalah upaya memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
pada saat keadaan darurat.
19. Status keadaan darurat bencana adalah suatu keadaan yang ditetapkan oleh Pemerintah untuk
jangka waktu tertentu atas dasar rekomendasi Badan yang diberi tugas untuk menanggulangi
bencana.
20. Pengungsi adalah orang atau kelompok orang yang terpaksa atau dipaksa keluar dari tempat
tinggalnya untuk jangka waktu yang belum pasti sebagai akibat dampak buruk bencana.
21. Setiap orang adalah orang perseorangan, kelompok orang, dan/atau badan hukum.
22. Korban bencana adalah orang atau sekelompok orang yang menderita atau meninggal dunia
akibat bencana.
23. Pemerintah Pusat, selanjutnya disebut Pemerintah, adalah Presiden Republik Indonesia yang
memegang kekuasaan pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana
dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
24. Pemerintah daerah adalah gubernur, bupati/walikota, atau perangkat daerah sebagai unsur
penyelenggara pemerintahan daerah.
25. Lembaga usaha adalah setiap badan hukum yang dapat berbentuk badan usaha milik negara,
badan usaha milik daerah, koperasi, atau swasta yang didirikan sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan yang menjalankan jenis usaha tetap dan terus menerus yang
bekerja dan berkedudukan dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
26. Lembaga internasional adalah organisasi yang berada dalam lingkup struktur organisasi
Perserikatan Bangsa-Bangsa atau yang menjalankan tugas mewakili Perserikatan Bangsa-Bangsa
atau organisasi internasional lainnya dan lembaga asing nonpemerintah dari negara lain di luar
Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Ada empat tahapan dalam penanggulangan bencana. Tahapan tersebut dapat meliputi proses pencegahan dan
mitigasi; kesiapsiagaan; tanggap darurat; dan rehabilitasi serta rekonstruksi. Secara umum digambarkan
sebagai berikut.
A. Tahap Pencegahan dan Mitigasi

Tahap pencegahan dan mitigasi bencana dilakukan untuk mengurangi serta menanggulangi resiko bencana.
Rangkaian upaya yang dilakukan dapat berupa perbaikan dan modifikasi lingkungan fisik maupun
penyadaran serta peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

Tahap pencegahan dan mitigasi bencana dapat dilakukan secara struktural maupun kultural (non struktural).
Secara struktural upaya yang dilakukan untuk mengurangi kerentanan (vulnerability) terhadap bencana
adalah rekayasa teknis bangunan tahan bencana. Sedangkan secara kultural upaya untuk mengurangi
kerentanan (vulnerability) terhadap bencana adalah dengan cara mengubah paradigma, meningkatkan
pengetahuan dan sikap sehingga terbangun masyarakat yang tangguh. Mitigasi kultural termasuk di
dalamnya adalah membuat masyarakat peduli terhadap lingkungannya untuk meminimalkan terjadinya
bencana.

Kegiatan yang secara umum dapat dilakukan pada tahapan ini adalah:

1. membuat peta atau denah wilayah yang sangat rawan terhadap bencana
2. pembuatan alarm bencana
3. membuat bangunan tahan terhadap bencana tertentu
4. memberi penyuluhan serta pendidikan yang mendalam terhadap masyarakat yang berada di wilayah
rawan bencana.

B. Tahap Kesiapsiagaan
Tahap kesiapsiagaan dilakukan menjelang sebuah bencana akan terjadi. Pada tahap ini alam menunjukkan
tanda atau signal bahwa bencana akan segera terjadi. Maka pada tahapan ini, seluruh elemen terutama
masyarakat perlu memiliki kesiapan dan selalu siaga untuk menghadapi bencana tersebut.

Pada tahap ini terdapat proses Renkon yang merupakan singkatan dari Rencana Kontinjensi. Kontinjensi
adalah suatu keadaan atau situasi yang diperkirakan akan segera terjadi, tetapi mungkin juga tidak akan
terjadi. Rencana Kontinjensi berarti suatu proses identifikasi dan penyusunan rencana yang didasarkan pada
keadaan kontinjensi atau yang belum tentu tersebut. Suatu rencana kontinjensi mungkin tidak selalu pernah
diaktifkan, jika keadaan yang diperkirakan tidak terjadi.

Secara umum, kegiatan pada tahap kesiapsiagaan antara lain:

1. menyusun rencana pengembangan sistem peringatan, pemeliharaan persediaan dan pelatihan personil.
2. menyusun langkah-langkah pencarian dan penyelamatan serta rencana evakuasi untuk daerah yang
mungkin menghadapi risiko dari bencana berulang.
3. melakukan langkah-langkah kesiapan tersebut dilakukan sebelum peristiwa bencana terjadi dan
ditujukan untuk meminimalkan korban jiwa, gangguan layanan, dan kerusakan saat bencana terjadi.

C. Tahap Tanggap Darurat

Tahap tanggap darurat dilakukan saat kejadian bencana terjadi. Kegiatan pada tahap tanggap darurat yang
secara umum berlaku pada semua jenis bencana antara lain:

1. —Menyelamatkan diri dan orang terdekat.


2. —Jangan panik.
3. —Untuk bisa menyelamatkan orang lain, anda harus dalam kondisi selamat.
4. —Lari atau menjauh dari pusat bencana tidak perlu membawa barang-barang apa pun.
5. Lindungi diri dari benda-benda yang mungkin melukai diri

D.Tahap Rehabilitasi dan Rekonstruksi

Tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi biasa dilakukan setelah terjadinya bencana. Kegiatan inti pada tahapan
ini adalah:

1. Bantuan Darurat
 —Mendirikan pos komando bantuan
 Berkoordinasi dengan Satuan Koordinator Pelaksana Penanggulangan Bencana (SATKORLAK
PBP) dan pemberi bantuan yang lain.
 Mendirikan tenda-tenda penampungan, dapur umum, pos kesehatan dan pos koordinasi.
 Mendistribusikan obat-obatan, bahan makanan dan pakaian.
 Mencari dan menempatkan para korban di tenda atau pos pengungsian.
 Membantu petugas medis untuk pengobatan dan mengelompokan korban.
 Mencari, mengevakuasi, dan makamkan korban meninggal.
2. Inventarisasi kerusakan
 Pada tahapan ini dilakukan pendataan terhadap berbagai kerusakan yang terjadi, baik bangunan,
fasilitas umum, lahan pertanian, dan sebagainya.
3. Evaluasi kerusakan
 Pada tahapan ini dilakukan pembahasan mengenai kekurangan dan kelebihan dalam
penanggulangan bencana yang telah dilakukan. Perbaikan dalam penanggulangan bencana
diharapkan dapat dicapai pada tahapan ini.
4. Pemulihan (Recovery)
 Pada tahapan ini dilakukan pemulihan atau mengembalikan kondisi lingkungan yang rusak atau
kacau akibat bencana seperti pada mulanya. Pemulihan ini tidak hanya dilakukan pada lingkungan
fisik saja tetapi korban yang terkena bencana juga diberikan pemulihan baik secara fisik maupun
mental.
5. Rehabilitasi (Rehabilitation)
 —Mulai dirancang tata ruang daerah (master plan) idealnya dengan memberi kepercayaan dan
melibatkan seluruh komponen masyarakat utamanya korban bencana. Termasuk dalam kegiatan
ini adalah pemetaan wilayah bencana.
 Mulai disusun sistem pengelolaan bencana yang menjadi bagian dari sistem pengelolaan
lingkungan
 Pencarian dan penyiapan lahan untuk permukiman tetap
 Relokasi korban dari tenda penampungan
 Mulai dilakukan perbaikan atau pembangunan rumah korban bencana
 Pada tahap ini mulai dilakukan perbaikan fisik fasilitas umum dalam jangka menengah
 Mulai dilakukan pelatihan kerja praktis dan diciptakan lapangan kerja
 Perbaikan atau pembangunan sekolah, sarana ibadah, perkantoran, rumah sakit dan pasar mulai
dilakukan
 Fungsi pos komando mulai dititikberatkan pada kegiatan fasilitasi atau pendampingan.
6. Rekonstruksi
 Kegiatan rekonstruksi dilakukan dengan program jangka menengah dan jangka panjang guna
perbaikan fisik, sosial dan ekonomi untuk mengembalikan kehidupan masyarakat pada kondisi
yang lebih baik dari sebelumnya
7. Melanjutkan pemantauan
 Wilayah yang pernah mengalami sebuah bencana memiliki kemungkinan besar akan mengalami
kejadian yang sama kembali. Oleh karena itu perlu dilakukan pemantauan terus-menerus untuk
meminimalisir dampak bencana tersebut.