Anda di halaman 1dari 19

42

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan


(Research and Development). Karena penelitian ini bertujuan untuk
mengembangkan dan memvalidasi sebuah produk untuk menghasilkan produk
yang disempurnakan. Menurut Trianto (2012: 206-207) penelitian dan
pengembangan adalah rangkaian proses atau langkah-langkah dalam rangka
mengembangkan suatu produk baru atau menyempurnakan produk yang telah
ada agar dapat dipertanggungjawabkan. Sugiyono (2012:297) menyatakan
bahwa “penelitian pengembangan merupakan aktifitas penelitian dasar untuk
mendapatkan informasi kebutuhan pengguna, kemudian dilanjutkan dengan
kegiatan pengembangan untuk menghasilkan produk dan menguji
keefektifan produk tersebut.

B. Model Pengembangan

Penelitian ini digunakan model pengembangan 4-D, yang terdiri dari


tahap pendefinisian (define), perencanaan (design), pengembangan (develop)
dan penyebaran (disseminate). Gay (2009:18) menyatakan bahwa “penelitian
pengembangan merupakan proses meneliti kebutuhan konsumen dan
kemudian mengembangkan produk untuk memenuhi kebutuhan.” Salah
satu alasan memilih model 4D adalah karena model pendekatan ini sesuai
dengan masalah yang melatar belakangi penelitian ini. Dengan adanya
analisis kebutuhan (needs analysis), melihat karakteristik mahasiswa, dan
kelengkapan fasilitas yang ada maka diharapkan penelitian ini dapat
mengembangkan modul pembelajaran berbasis konstruktivisme yang valid,
praktis, dan efektif.

C. Prosedur Pengembangan
Penelitian pengembangan diperlukan desain penelitian. Modul Dasar
Pemograman Web ini dikembangkan dengan menggunakan model 4-D, yang
43

terdiri dari tahap pendefinisian, perencanaan, pengembangan dan penyebaran,


dapat dilihat pada gambar :

Tahap analisis kebutuhan modul


1. Observasi
2. Analisis Karakteristik Mahasiswa
3. Analisis kurikulum Define
4. Identifikasi materi yang dibutuhkan

Desain modul pembelajaran Design

Pengembangan modul pembelajaran


Saran pakar
Uji coba

Evaluasi/revisi pakar

valid Modul pembelajaranValid

Develop
Penerapan modul pembelajaran pada
mata kuliah Pemograman Web

Penyebaran angket praktikalitas modul


Praktis
pembelajaran

Efektif Evaluasi hasil belajar

Modul pembelajaran yang valid, praktis,


dan efektif

Penerapan Modul pembelajaran Disseminate


Pemograman Web

Gambar 3.1 Prosedur Pengembangan Modul 4-D


Sumber: Trianto (2009: 190)
44

Langkah-langkah rancangan penelitian pengembangan ini dapat


dirinci sebagai berikut:
1. Tahap Pendefinisian (Define)
Pengembangan modul pembelajaran berbasis konstruktivisme ini
dikembangkan pada mata kuliah Pemograman Web. Tahap define ini
bertujuan untuk menetapkan masalah dasar yang dihadapi dalam
pembelajaran, sehingga diperlukan suatu pengembangan bahan ajar untuk
menunjang proses belajar . Dengan analisis ini akan didapat gambaran
fakta, harapan dan alternatif penyelesaian masalah dasar, yang
memudahkan dalam penentuan atau pemilihan bahan ajar yang
dikembangkan.
Tahap ini dilakukan analisis kondisi pembelajaran yang terjadi
sebelum dilakukan pengembangan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui
solusi dan pemilihan strategi yang sesuai sebagai landasan untuk
mengembangkan modul konstruktivisme yang diharapkan. Pada tahap ini
terdapat tiga langkah kegiatan, yaitu: observasi, analisis kurikulum dan
analisis mahasiswa .
a. Observasi
Bertujuan untuk mengetahui masalah, hambatan, serta fenomena
apa saja yang dihadapi di lapangan sehubungan dengan pembelajaran
pemograman web. Masalah dan hambatan ini dapat berasal dari
mahasiswa maupun dari dosen. Observasi yang dilakukan di Program
Studi Manajemen Informatika Akademi Komunitas Negeri Pesisir
Selatan pada mata kuliah Pemograman Web ditemukan masalah yang
berasal dari mahasiswa maupun dosen. Masalah yang dihadapi
mahasiswa yaitu mahasiswa kesulitan dalam memahami materi
pembelajaran yang ada karena pembelajaran masih bersifat pasif, hanya
mengandalkan materi dari dosen saat pertemuan tatap muka hal ini juga
menyebabkan mahasiswa mudah menjadi bosan dan jenuh saat proses
perkuliahan. Sedangkan masalah yang dihadapi dosen adalah dosen
masih menggunakan handout standar dan masih menggunakan teknik
pembelajaran.
45

b. Analisis Kurikulum
Analisis kurikulum yang dimaksud untuk menentukan materi-
materi yang akan dikembangkan pada media pembelajaran. Pada tahap
analisis kurikulum yang pertama dilakukan dalam pengembangan ini
adalah menganalisis silabus pembelajaran pada pembelajaran yang
akan dikembangkan.
Analisis kurikulum ini mengacu pada silabus mata mata kuliah
pemograman web. Materi yang dikembangkan dalam modul
konstruktivisme adalah bagian dari silabus mata kuliah yang ada pada
silabus mata kuliah pemograman web. Materi pada mata kuliah proyek
web yaitu materi yang bersifat abstrak dan konsep yang sulit untuk
dipahami. Maka dibutuhkan sebuah media agar mahasiswa dapat
lebih mudah memahami pelajaran.
c. Analisis Mahasiswa
Analisis mahasiswa merupakan telaah tentang karakteristik
mahasiswa yang perlu menjadi dasar dalam pengembangan modul
konstruktivisme. Hal ini untuk memudahkan mendesain modul,
mendesain penggunaan bahasa dalam modul yang dikembangkan dan
menentukan tingkat kesukaran soal. Di dalam penelitian ini yang
menjadi subjek adalah mahasiswa kelas MI B yaitu amahasiswa yang
mengambil mata kuliah pemograman web yang berjumlah 30
mahasiswa.
Pencapaian tahap ini memberi kemungkinan kepada mahasiswa
untuk belajar secara mandiri, serta mampu menggunakan teknologi
pembelajaran sehingga mahasiswa akan lebih baik melihat dan
mengalami sendiri bagaimana teknologi tersebut bekerja secara
eksplorasi dari pada hanya diceritakan oleh dosen . Berdasarkan catatan
hasil belajar yang diperoleh dari dosen menunjukkan bahwa
kemampuan atau kompetensi mahasiswa tersebar secara merata baik
yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah.
2. Tahap Perancangan (Design)
Tahap perancangan diawali dengan dengan menetapkan
konsep-konsep utama yang terdapat pada materi mata kuliah
46

pemograman web lalu merancang dan menyusunnya menjadi sebuah


modul pembelajaran yang valid, praktis dan efektif. Perancangan modul
konstruktivisme ini dilakukan dengan menentukan tujuan pembelajaran,
dasar teori, analisis, soal latihan, kunci jawaban latihan dan daftar
rujukan/referensi modul. Modul berbasis konstruktivisme dengan
sistematika seperti yaitu:
1. Cover Luar
2. Kata Pengantar
3. Daftar isi
4. Daftar Gambar
5. Daftar tabel
6. Kedudukan modul
7. Bab 1 Pendahuluan
A. Deskripsi
B. prasyarat
C. petunjuk modul
D. tujuan akhir
E. kompetensi
F. tes formatif
8. BAB II PEMBELAJARAN
A. Tujuan
B. Indikator Pencapaian Kompetensi
C. Uraian Materi
D. Aktivitas Pembelajaran (Orientasi, Elicitas, Rekonstruksi dan
Review)
E. Rangkuman
F. Latihan/ Kasus/ tugas
G. Kunci Jawaban
H. Daftar Pustaka
9. BAB III Evaluasi
10. Glosarium
11. Biografi penulis
12. Halaman penutup
3. Tahap Pengembangan (Develop)
Tahap pengembangan ini tindakan yang dilakukan adalah
melakukan uji validasi, menguji praktikalitas dan efektifitas modul.
a. Uji Validasi
Sebuah data atau informasi dapat dikatakan valid apabila sesuai
dengan keadaan sebenarnya. Validnya sebuah modul ditentukan
dengan cara mengambil kesimpulan dari tanggapan yang
47

diberikan validator terhadap pernyataan yang ditampilkan dalam


angket. Validasi modul ini ada 3 macam, yaitu:
1) Validasi materi yaitu apakah modul yang telah dirancang
sesuai dengan silabus mata kuliah.
2) Validitas format modul yaitu kesesuaian komponen-
komponen modul dengan unsur-unsur yang sudah ditetapkan.
3) Validitas penyajian modul yaitu kesesuaian komponen-
komponen modul dengan unsur-unsur yang sudah ditetapkan.
Kegiatan validasi dilakukan dalam bentuk mengisi lembar
validasi modul dan diskusi sampai tercapai suatu kondisi dimana
validator berpendapat bahwa modul yang dikembangkan sudah
valid dan layak untuk digunakan.

b. Uji Praktikalitas
Setelah divalidasi, modul ini direvisi dan selanjutnya diuji
cobakan untuk mengetahui tingkat praktikalitas (keterpakaian)
modul. Modul konstruktivisme dikatakan memiliki praktikalitas
yang tinggi apabila bersifat praktis dan mudah penggunaannya.
Pada tahap ini pengumpulan data dilakukan dengan angket
praktikalitas terhadap mahasiswa dan dosen . Uji coba dilakukan
pada kelas uji coba. Lembar angket terhadap praktikalitas modul
konstruktivisme terdiri atas dua buah lembar angket, yaitu lembar
angket respon dosen terhadap praktikalitas modul dan lembar
angket respon mahasiswa terhadap praktikalitas modul.
c. Uji Efektifitas
Uji efektivitas dapat diketahui dari tingkat keberhasilan
modul dalam mencapai tujuan dan sasaran pendidikan. Keberhasilan
modul dalam mencapai tujuan pembelajaran dapat dilihat melalui
berhasilnya mahasiswa dalam belajar menggunakan modul.
Berhasilnya mahasiswa dalam belajar menggunakan modul
dapat dilihat dari hasil belajar mahasiswa setelah menggunaan
48

modul. Efektivitas didapatkan melalui perbandingan tes secara


individu.
4. Tahap Penyebaran (Disseminate)
Proses diseminasi merupakan suatu tahap akhir pengembangan.
Tahap diseminasi dilakukan untuk mempromosikan produk
pengembangan agar bisa diterima pengguna, baik individu, suatu
kelompok, atau sistem. Produsen dan distributor harus selektif dan
bekerja sama untuk mengemas materi dalam bentuk yang tepat.
Tahap penyebarluasan diserahkan pada dosen mata kuliah
Pemograman Web untuk mempergunakan dan menyebar luaskan
modul di kampus, sehingga tahap ini tidak termasuk dalam kegiatan
penelitian.

D. Uji Coba Produk

Uji coba dilakukan untuk mengetahui praktikalitas dan efektifitas dari


modul konstruktivisme yang dikembangkan. Uji coba sudah dilakukan
sebanyak dua kali yaitu : yang pertama untuk menentukan apakah modul yang
sudah dibuat praktis dan sudah dapat dipergunakan untuk penelitian, yang
kedua adalah uji coba soal yang nantinya akan dipergunakan untuk
menentukan efektifitas dari pembelajaran menggunakan modul. Menurut
Sugiyono (2012:415) uji coba produk dapat dilakukan dengan membandingkan
hasil belajar mahasiswa yang menggunakan modul dengan hasil belajar
mahasiswa yang tidak menggunakan modul (Posttest Only Design.).
Perbandingan dua hasil belajar ini maka diharapkan dalam penelitian ini akan
didapatkan efektifitas pembelajaran menggunakan modul.

E. Subjek Uji Coba

Subjek uji coba merupakan mahasiswa yang akan diberikan


pembelajaran menggunakan modul konstruktivisme. Subjek untuk uji coba
pengembangan semester genap tahun akademik 2017/ 2018 (Januari – Juni)
49

yang berjumlah 30 orang dan 1 orang dosen mata kuliah pemograman web
Akademi Komunitas Pesisir Selatan.

F. Jenis Data

Jenis data yang digunakan dalam pengembangan modul


konstruktivisme ini adalah data primer. Data ini diperoleh langsung dari
pendapat pakar tentang modul, respon dari mahasiswa tentang ketergunaan
modul. Hasil wawancara dengan pakar tentang revisi produk, respon
mahasiswa tentang kepraktisan modul dan hasil belajar mahasiswa melalui
tes objektif.

G. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpul data adalah alat bantu yang digunakan untuk


mengumpulkan data agar kegiatan tersebut menjadi sistematis dan mudah.
Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan untuk pengumpulan data
adalah:

1. Angket Validasi Pengembangan Modul Konstruktivisme


Sugiyono (2012:348) mengatakan bahwa instrumen yang valid
berarti alat ukur yang digunakan untuk mendapatkan data (mengukur)
dan dapat digunakan untuk mengukur apa saja yang hendak diukur.
Angket validasi dimaksud untuk mengetahui kevalidan modul
konstruktivisme. Analisis validitas modul konstruktivisme yang
dikembangkan dilakukan dengan menggunakan skala likert. Angket
validasi disusun berdasarkan kisi-kisi instrumen. Untuk mengetahui
validitas dari modul ini maka terdapat tiga buah angket validasi, yaitu
angket validasi materi modul, angket validasi format modul dan angket
validasi penyajian modul.
a. Angket Validasi Materi
Angket validasi materi berisi beberapa tanggapan validator
(Dosen Pemograman Web) yang terdiri dari kesesuaian materi pada
50

modul dengan silabus dan RPS, kebenaran konsep yang dapat


dipertanggungjawabkan dan kesesuaian uraian dengan indikator :
Berikut lembaran angket validasi materi :
1) Kualitas Isi
a) Ketepatan cakupan materi.
b) Kesesuaian isi materi dengan silabus.
c) Kualitas latihan soal.
d) Ketepatan penggunaan bahasa.

2) Kualitas Pembelajaran
a) Kejelasan tujuan pembelajaran pada
modul.
b) Kejelasan alur pembelajaran.
c) Peningkatan minat belajar mahasiswa.
d) Peningkatan motivasi belajar mahasiswa.
e) Kebergunaan modul.
Selanjutnya validator memberikan skor jawaban dengan kriteria
sebagai berikut: 5 = sangat setuju, 4 = setuju, 3 = cukup setuju, 2 =
tidak setuju 1 = sangat tidak setuju.
b. Angket Validasi Format Modul
Angket validasi format modul berisi beberapa tanggapan
penilai (dosen validator format modul) yang terdiri dari aspek format
modul dan bahasa yang digunakan pada modul.
Berikut lembaran angket validasi format modul:
1) Aspek Format
a) Ketersediaan petunjuk penggunaan.
b) Ketersediaan lembar kegiatan mahasiswa.
c) Ketersediaan tes awal.
d) Kesesuaian isi dengan Silabus dan RPS.
e) Kebergunaan modul dalam mengkonstruksi pengetahuan
mahasiswa .
f) Kebergunaan modul dalam mempermudah mahasiswa menarik
kesimpulan.
g) Ketersediaan kegiatan praktek.
h) Kerelevanan referensi.
2) Aspek Bahasa
51

a) Kalimat modul menggunakan bahasa indonesia yang baik dan


benar.
b) Penggunaan bahasa sesuai kaidah bahasa Indonesia.
c) Kerapian paragraph.
d) Kalimat yang digunakan komunikatif.
e) Penggunaan bentuk dan ukuran huruf yang sesuai standar
penulisan.
Selanjutnya validator memberikan skor jawaban dengan
kriteria sebagai berikut: 5 = sangat setuju, 4 = setuju, 3 = cukup
setuju, 2 = tidak setuju 1 = sangat tidak setuju.

c. Angket Validasi Penyajian Modul


Angket validasi penyajian modul berisi beberapa tanggapan
penilai (dosen dan dosen validator penyajian modul) yang terdiri dari
aspek isi (content), aspek gambar, aspek bahasa, dan aspek tampilan
modul.
Berikut lembaran angket validasi penyajian modul:
1) Aspek Isi (Content)
a) Kejelasan tujuan pembelajaran.
b) Kesesuaian materi modul dengan silabus dan RPS.
c) Kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran.

2) Aspek Gambar
a) Kesesuaian gambar dengan keterangan.
b) Kejelasan gambar pada modul.
3) Aspek Bahasa
a) Kalimat modul menggunakan bahasa indonesia yang baik dan
benar.
b) Penggunaan bahasa sesuai kaidah bahasa Indonesia.
c) Kerapian paragraf.
d) Kalimat yang digunakan komunikatif.
e) Penggunaan bentuk dan ukuran huruf yang sesuai standar
penulisan.
4) Aspek Tampilan
a) Kesederhanaan tampilan.
b) Penyajian materi dapat menarik perhatian mahasiswa.
c) Kejelasan tampilan modul.
52

Selanjutnya validator memberikan skor jawaban dengan


kriteria sebagai berikut: 5 = sangat setuju, 4 = setuju, 3 = cukup
setuju, 2 = tidak setuju 1 = sangat tidak setuju.

2. Angket Penilaian Dosen dan Mahasiswa Tehadap Praktikalitas Modul


a. Angket Respon Dosen Terhadap Praktikalitas Modul Konstruktivisme
Angket respon dosen terhadap praktikalitas modul berisi beberapa
tanggapan dosen tentang kepraktisan dari modul konstruktivisme.
Berikut lembaran angket respon dosen terhadap praktikalitas modul
konstruktivisme:
1) Kemudahan penggunaan modul.
2) Peningkatan minat belajar mahasiswa.
3) Peningkatan pemahaman mahasiswa terhadap materi.
4) Modul dapat menghemat waktu penyajian materi.
5) Modul dapat diinterpreatsikan oleh dosen.
6) Modul dapat membantu mahasiswa dalam mengkonstruksi
pengetahuan.
7) Modul dirancang sesuai materi.
8) Modul dapat dikembangkan sebagai saran pembelajaran mandiri.
Selanjutnya dosen memberikan skor jawaban dengan kriteria
sebagai berikut: 5 = sangat setuju, 4 = setuju, 3 = cukup setuju, 2 =
tidak setuju 1= sangat tidak setuju.
b. Angket Respon Mahasiswa terhadap Praktikalitas Modul
Konstruktivisme.
Angket respon mahasiswa terhadap praktikalitas modul
konstruktivisme berisi tanggapan mahasiswa tentang kepraktisan dari
modul konstruktivisme. Berikut lembaran angket respon mahasiswa
terhadap praktikalitas modul konstruktivisme :
1) Modul dapat membuat mahasiswa mengetahui tujuan
pembelajaran.
2) Memfasilitasi mahasiswa kuliah Pemograman Web.
3) Memfasilitasi mahasiswa kuliah Pemograman Web secara mandiri.
4) Kemudahan penggunaan modul.
53

5) Kemudahan pemahamam konsep pembelajaran berdasarkan


gambar dan tabel pada modul.
6) Kemudahan membaca kalimat modul.
7) Kemudahan memahami bahasa.
8) Kesesuaian modul dengan materi.
9) Peningkatan nalar mahasiswa.
10) Modul membantu mengkonstruksi pengetahuan mahasiswa.
11) Modul memotivasi mahasiswa kuliah pemograman web.
12) Modul menarik minat mahasiswa kuliah pemograman web.
13) Modul membuat mahasiswa aktif kuliah pemograman web.
Selanjutnya mahasiswa memberikan skor jawaban dengan
kriteria sebagai berikut: 5 = sangat setuju, 4 = setuju, 3 = cukup
setuju, 2 = tidak setuju 1 = sangat tidak setuju.
3. Efektifitas Pengembangan Modul Konstruktivisme.
Lembar efektivitas berupa perbandingan hasil belajar mahasiswa
antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas kontrol diberikan
perlakukan berupa modul pembelajaran mata kuliah pemograman web dan
pada kelas eksperimen tidak diberikan perlakukan berupa modul
pembelajaran. Hasil belajar diperoleh dengan memberikan tes tertulis yang
dikerjakan oleh mahasiswa. Tes yang diberikan sesuai dengan materi
pembelajaran selama penerapan pengembangan modul pembelajaran
dilaksanakan. Untuk tes tertulis berupa soal-soal objektif dan pilihan
ganda.
Pengambilan data dilakukan dengan memberikan posttest. Sebelum
tes diberikan terlebih dahulu dilakukan uji coba instrument kepada
mahasiswa (soal tes) mencakup pengujian validitas tes, realibitas tes, daya
beda dan indeks kesukaran soal. Berikut analisa yang dilakukan untuk uji
coba instrumen (soal tes).
a. Uji Validitas Instrumen
Menurut Anas Sudijono (2011:182) “Validitas item dari suatu tes
adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh sebutir item (yang
merupakan bagian yang tak terpisahkan dari tes sebagai suatu
totalitas), dalam mengukur apa yang seharusnya diukur lewat butir
item tersebut”.
54

Adapun cara mencari validitas item ini adalah menggunakan r


Tabel Product Moment dengan taraf signifikan 5%. Apabila r hitung >
r tabel maka item soal dinyatakan valid, dan apabila r hitung < r tabel
maka item soal tidak valid dan dinyatakan gugur.

Uji validitas instrumen rumus product moment sebagai berikut:

n  XY     X   Y 
rhitung 
n  X 2

   X  . n Y 2    Y 
2 2

Dimana :
rxy = Koefisien korelasi
n = Jumlah responden
= Jumlah skor item
= Jumlah skor total
XY = Jumlah Skor Hasil kali Skor X Dengan Skor Y
x =Skor item tiap responden
y =Skor total tiap responden
2
=Jumlah kuadrat skor item
2
=Jumlah kuadrat skor total (Saifuddin Azwar, 2014:154)
Harga rxy menunjukkan indeks korelasi antara dua variabel atau
lebih yang dikorelasikan. Setiap nilai korelasi mengandung tiga
makna, yaitu ada tidaknya korelasi, arah korelasi, dan besarnya
korelasi. Adapun kriteria pengambilan keputusan adalah jika rhitung >
rtabel maka butir dinyatakan valid. Sebaliknya jika rhitung < rtabel maka
butir dianggap tidak valid dan dinyatakan gugur, dengan taraf
signifikansi 0,05.

b. Tingkat Kesukaran Soal


Indeks kesukaran soal merupakan bilangan yang menunjukkan
sukar dan mudahnya suatu soal (Arikunto 2009:207). Untuk
menentukan tingkat kesukaran soal digunakan persamaan:
55

Keterangan :
P = Tingkat kesukaran.
B = Jumlah mahasiswa yang menjawab soal dengan benar.
Js = Jumlah seluruh mahasiswa yang mengikuti tes.

Tingkat kesukaran soal dapat diklasifikasikan seperti Tabel 3.1


Tabel 3.1 Klasifikasi tingkat kesukaran soal
No Indeks Kesukaran Klasifikasi
1 1,00 <P <0,30 Sukar
2 0,30 <P <0,70 Sedang
3 P > 0,70 Mudah
Sumber : Arikunto (2009 : 210)
c. Daya Beda
Daya pembeda soal berfungsi untuk indikator yang membedakan
antara mahasiswa yang pandai (kemampuan tinggi) dan mahasiswa
yang kurang pandai (kemampuan rendah).
Rumus pengatur daya pembeda adalah:

Keterangan :
D = Daya pembeda soal.

= Banyaknya peserta kelompok atas.

= Banyaknya peserta kelompok bawah.

= Jumlah peserta kelompok atas yang menjawab dengan benar.

= Jumlah peserta kelompok bawah yang menjawab dengan benar.


56

= Proporsi kelompok atas yang menjawab dengan benar.

= Proporsi kelompok bawah yang menjawab dengan benar.

Daya Pembeda soal dapat diklasifikasikan seperti Tabel 3.2.


Tabel 3.2. Klasifikasi Daya Pembeda Soal
Indeks Daya
No Klasifikasi
Pembeda
1 0,00 <D < 0,20 Jelek
2 0,20 <D < 0,40 Cukup
3 0,40 <D < 0,70 Baik
4 0,70 <D < 1,00 Baik Sekali
- Tidak Baik
Sumber : Arikunto (2009 : 218)

d. Reliabilitas
Reliabilitas tes berfungsi menunjukkan apakah suatu tes cukup baik
untuk dipergunakan sebagai alat pengumpul data yang dapat
dipercaya.untuk mengkur reliabilitas tes dalam penelitian digunakan rumus
Richardson 21 (K –R.21) dalam Arikunto (2009:103) yaitu :

Keterangan :

= Koefisien reliabilitas

= Jumlah butir soal

= Rata- rata skor tes

= Jumlah variasi skor total


57

Klasifikasi Indeks Reliabilitas Soal dapat diklasifikasikan seperti Tabel


3.3.

Tabel 3.3 Klasifikasi indeks reliabilitas soal


No Indeks Daya Pembeda Klasifikasi
1 0,80 <r <1,00 Baik Sekali
2 0,60 <r <0,80 Tinggi
3 0,40 <r <0,60 Cukup
4 0,20 <r< 0,40 Rendah
5 0,00 <r < 0,20 Sangat Rendah
Sumber: Arikunto (2009 : 75)
Setiap soal yang dianalisis perlu diklasifikasikan sebagai soal yang
tetap dipakai, maka dari itu diukur reliabilitas soal yang menguatkan soal
tersebut.

H. Teknik Analisis Data


Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik
analisis data deskriptif, yaitu dengan mendeskripsikan kevalidan, kepraktisan
dan keefektifan penggunaan modul konstruktivisme pada mata kuliah
Pemograman Web.
1. Analisis Validitas Modul Konstruktivisme
a. Memberikan skor jawaban dengan kriteria sebagai berikut:
5 = sangat setuju
4 = setuju
3 = cukup setuju
2 = tidak setuju
1 = sangat tidak setuju

b. Menjumlahkan skor dari tiap validator untuk seluruh indikator.


c. Pemberian nilai persentase kevalidan dengan rumus Aiken’s V berikut:

V = ∑s / |n(c-1)|

Keterangan:
58

S = r – lo
Lo = Angka penilaian validitas yang terendah (dalam hal ini = 1)
C = Angka penilaian validitas yang tertinggi (dalam hal ini = 5)
R = Angka yang diberikan oleh seorang validator
d. Hasil dari perhitungan aiken berkisar antara 0 sampai 1 dan angka 0,6
dapat diinterpretasikan memiliki koefisien cukup tinggi (Azwar,
2014:113) maka nilai V 0.6 dan diatasnya dinyatakan dalam kategori
valid.

2. Analisis Praktikalitas Modul Konstruktivisme


Hasil penilaian melalui angket terhadap modul konstruktivisme
dari dosen dan mahasiswa. Penilaian tersebut akan memperoleh
tanggapan atau pendapat dari dosen dan mahasiswa untuk menentukan
kepraktisan modul. Angket terdiri dari pernyataan-pernyataan untuk
menentukan kepraktisan modul serta disediakan alternatif jawaban
terhadap pernyataan-pernyataan tersebut. Alternatif jawaban terdiri dari
sangat setuju, setuju, cukup setuju, kurang setuju, dan tidak setuju.
Kepraktisan modul konstruktivisme dianalisa sebagai berikut :
a. Skor jawaban dengan kriteria sebagai berikut :
1 = Sangat Tidak Setuju
2 = Tidak Setuju
3 = Cukup Setuju
4 = Setuju
5 = Sangat Setuju
b. Menentukan skor rerata yang didapat dengan cara menjumlahkan
nilai yang didapat dari banyak indikator.
c. Pemberian nilai praktikalitas dengan rumus :

NA=

Keterangan:
NA = Nilai Akhir
59

S = Skor yang didapat


SM = Skor Maksimum
Tabel 3.4. Kategori Praktikalitas modul

No. Tingkat Prencapaian Kategori


1 81-100 Sangat Praktis
2 61-80 Praktis
3 41-60 Cukup Praktis
4 21-40 Kurang Praktis
5 0-20 Tidak Praktis
Sumber : Dimodifikasi dari Riduwan (2010:89)

3. Analisis Keefektifan Modul Konstruktivisme


Analisis efektivitas modul pembelajaran dilihat dari hasil belajar
mahasiswa dengan membandingkan hasil belajar mahasiswa pada kelas
eksperimen dengan kelas kontrol. Uji efektitas dilakukan dengan posttest
only control design yaitu dengan melakukan pengujian pada 2 kelas
berbeda. Kelas pertama yaitu kelas eksperimen yang diberikan perlakukan
dengan modul pembelajaran, kemudian kelas kedua yaitu kelas kontrol
yang tidak dberikan perlakukan dengan modul pembelajaran.
Untuk pengujian signifikan dapat dilakukan dengan melakukan uji-
t (Sugiyono, 2012 : 304). Sebelum melakukan uji t terlebih dahulu
dilakukan uji normalitas dan homogenitas.
a. Uji Normalitas
Uji normalitas berguna untuk menentukan data yang telah
dikumpulkan berdistribusi normal atau diambil dari populasi normal
untuk uji normalitas menggunakan SPSS melihat nilai dari signifikan
Kolmogorov- Smirnov, pengambilan keputusan dalam uji normalitas
adalah sebagai berikut:
Jika nilai Sig > 0,05 , maka data berdistribusi normal
Jika nilai Sig < 0,05 , maka data tidak berdistribusi normal
b. Uji Homogenitas
60

Uji Homogenitas bertujuan untuk mencari tahu apakah dari


beberapa kelompok data penelitian memiliki varians yang sama atau
tidak, untuk uji homogenitas menggunakan SPSS melihat nilai dari
signifikan homogenitas, pengambilan keputusan dalam uji
homogenitas adalah sebagai berikut:
Jika nilai Sig > 0,05 , maka data homogen
Jika nilai Sig < 0,05 , maka data tidak homogen
c. Uji t
Uji t berfungsi untuk melihat perbedaan signifikan antara hasil
belajar kelas control dan ksperimen, pada uji t ini digunakan SPSS,
untuk melihat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar kelas
control dan eksperimen dengan melihat signifikan pada hasil uji t,
apabila signifikan < 0,05 maka dapat diartikan terdapat perbedaan
yang signifikan antara kelas control dan eksperimen
Hasil dari efektivitas modul ini melihat perbandingan nilai pada
mahasiswa dari pemberian modul pembelajaran. Rumus yang dingunakan
pada analisis ini yaitu
E X Oe
K - Ok
Keterangan:
E : Kelas eksperimen K : Kelas Kontrol
X : Perlakukan modul :Tidak ada perlakuan modul
Oe: Hasil belajar kelas eksperimen OK : Hasil belajar kelas Kontrol
Hasil perbandingannya dapat dikategorikan efektifas modul yaitu :
Tabel.3.5 Kategori Efektivitas Modul
No. Tingkat Prencapaian % Kategori
1 81-100 Sangat Afektif
2 61-80 Afektif
3 41-60 Cukup Afektif
4 21-40 Kurang Afektif
5 0-20 Tidak Afektif
Sumber : Riduwan (2013:89)