Anda di halaman 1dari 29

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kerangka Teoritis

1. Modul

Modul merupakan suatu alat atau sarana pembelajaran yang di


dalamnya berupa materi, metode, dan evaluasi yang dibuat secara sistematis
dan terstruktur sebagai upaya untuk mencapai tujuan kompetensi yang
diharapkan. Modul dirancang secara khusus dan jelas berdasarkan kecepatan
pemahaman masing-masing mahasiswa, sehingga mendorong mahasiswa
untuk belajar sesuai dengan kemampuanya. Menurut Abdul Majid
(2006:176) “modul adalah sebuah buku yang ditulis dengan tujuan supaya
peserta didik dapat belajar mandiri tanpa bimbingan guru, sehingga modul
berisi paling tidak komponen dasar bahan ajar yang telah disebutkan
sebelumnya. Hal ini membuat peserta didik dituntut untuk belajar mandiri
agar menambah motivasi belajar dan hasil belajar”.
Nasution (2009:205) mengemukakan bahwa modul merupakan
“suatu unit yang lengkap yang berdiri sendiri dan terdiri atas suatu
rangkaian kegiatan belajar yang disusun untuk membantu peserta didik
mencapai sejumlah tujuan yang dirumuskan secara khusus dan jelas”.
Depdiknas (2008:3) menyatakan bahwa “Modul merupakan bahan ajar
cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara mandiri oleh peserta
pembelajaran”.
Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas maka dapat disimpulkan
bahwa modul merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat
dipelajari secara mandiri oleh peserta pembelajaran. Modul disebut juga
media untuk belajar mandiri karena di dalamnya telah dilengkapi petunjuk
untuk belajar sendiri. Mahasiswa dapat melakukan kegiatan belajar tanpa
kehadiran dosen secara langsung. Bahasa, pola, dan sifat kelengkapan
lainnya yang terdapat dalam modul ini diatur sehingga seolah-olah
merupakan “bahasa pengajar” atau bahasa guru yang sedang memberikan

10
11

pengajaran kepada murid-muridnya. Materi yang ada pada modul diambil


dari beberapa sumber sehingga materi yang ada pada modul lebih
lengkap dan dibuat agar mudah dimengerti oleh mahasiswa. Modul
sengaja diatur dengan “bahasa guru” yang dapat dipahami mahasiswa
sehingga mahasiswa merasa dosen sedang memberikan pembelajaran
terhadap mahasiswa ketika mahasiswa menggunakan modul.
a. Tujuan Menggunakan Modul dalam Pembelajaran
Tujuan penulisan modul antara lain:
1) Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu
bersifat verbal.
2) Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik
mahasiswa maupun dosen.
3) Dapat digunakan secara tepat dan bervariasi seperti:
4) Meningkatkan motivasi dan gairah belajar bagi mahasiswa.
5) Mengembangkan kemampuan mahasiswa dalam berinteraksi langsung
dengan lingkungan dan sumber belajar lainnya.
6) Memungkinkan mahasiswa atau peserta didik belajar mandiri sesuai
kemampuan dan minatnya.
7) Memungkinkan mahasiswa dapat mengukur atau mengevaluasi sendiri
hasil belajarnya.
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2007:133) “tujuan dari
penggunaan modul antara lain agar tujuan pendidikan bisa dicapai secara
efektif dan efesien”. Mahasiswa dapat mengikuti program matakuliah
sesuai dengan kecepatan dan kemampuan sendiri, lebih banyak belajar
mandiri, dapat mengetahui hasil belajar sendiri, menekankan penguasan
bahan pelajaran secara optimal.
Adanya modul yang sesuai dengan karakteristik mahasiswa dan
tujuan perkuliahan maka tingkat pemahaman mahasiswa terhadap
matakuliah akan dapat ditingkatkan. Nasution (2009:205) menyatakan
bahwa tujuan digunakannya modul dalam pembelajaran adalah sebagai
berikut:
1) Membuka kesempatan bagi peserta didik untuk belajar menurut
kecepatannya masing-masing.
12

2) Membuka kesempatan bagi peserta didik untuk belajar menurut


caranya masing-masing, karena mereka menggunaan teknik yang
berbeda-beda untuk memecahkan masalah tertentu berdasarkan latar
belakang dan kebiasaan masing-masing.

Tujuan modul menurut Depiknas (2008:5) adalah:


1) Memperjelas dan mempermudah penyajian pesan agar tidak terlalu
bersifat verbal.
2) Mengatasi keterbatasan waktu, ruang, dan daya indera, baik peserta
belajar maupun guru/instruktur.
3) Memungkinkan peserta didik untuk mengukur atau mengevaluasi
sendiri hasil belajarnya.
Berdasarkan pendapat ahli tersebut maka dapat disimpulkan
bahwa tujuan perkuliahan menggunakan modul adalah untuk
mempermudah mahasiswa dalam memahami materi matakulah yang
dapat digunakan secara individual maupun dalam kelompok dimana
mahasiswa dapat belajar sesuai dengan latar belakang pengetahuan,
kecepatan dan kemampuan masing-masing dalam pembelajaran.
b. Komponen Modul
Finch and Crunkilton (1979:232) mengungkapkan beberapa
komponen modul, yaitu:
1) Pengenalan Modul (Module Intoduction)
“The module introduction sets the stage for learning by
providing each student with an understaning of how this module
related to other module or eperience he or she may have had. The
modul introductory statement is written clearly and concisely and
at the appropriate reading level for student. The total statement
does ot usually exeed two pages in length ”. Pengenalan modul
berisi tingkat yang memberikan pemahaman kepada peserta didik
bagaimana modul ini berhubungan dengan modul lainnya atau
pengalaman apa yang akan didapatkan peserta didik setelah
menggunakan modul. Sebagai salah satu bagian dari komponen
modul, pernyataan dalam bagian pengenalan modul ini dituliskan
13

secara jelas dan konsistan serta mudah dipahami oleh peserta


didik. Total dari pernyataan ini biasanya tidak dianjurkan
melampaui 2 halaman.
2) Tujuan (Objectives)
“Modul objectives are provided so the student will always know
what is expected of him or her.there are two types of objective
found in each module. These are the terminl objectives and the
enabling objective the terminal objective, then, may be defined as
the specification of student performance (activity, condtions, snd
level) that is most closely aligned with competence expected in the
worker role. Tujuan modul menyediakan pemahaman kepada
peserta didik agar peserta didik tau apa yang diharapkan dari
mereka. Terdapat dua macam tujuan dalam sebuah modul, yaitu
tujuan umum (terminal objective) dan tujuan khusus (enabling
objective). Tujuan umum merupakan standar yang harus dicapai
peserta didik, tujuan umum berisi aktivitas, kondisi dan level
yang berhubungan dengan kompetensi yang diharapkan dari peserta
didik. Tujuan khusus bersamaan dengan tujuan khusus lainnya
memberikan kontribusi terhadap pencapaian tujuan umum peserta
didik. Tujuan khusus berisi langkah -langkah atau kemampuan-
kemampuan yang harus dimiliki peserta didik.

3) Penilaian awal (Preeassessment)


Bagian ini berguna untuk menentukan kemampuan awal atau
menentukan apakah peserta didik mampu menguasai penerapan
modul.
4) Pengalaman belajar (Learning Experiences)
“Each learning experience serves as avehicle to assist the stuent
in astering enabling and terminal objectives; and since learning
experience are used by individual students, they must communicate
14

on their own. They should be design so that they provide each


student the best means of meeting specified objectives”.
Pengalaman belajar membantu peserta didik dalam menguasai
tujuan umum dan tujuan khusus. Dan karena pengalaman belajar
harus dikuasai peserta didik sacara mandiri maka peserta didik
harus dapat berkomunikasi secara mandiri dengan modul sehingga
modul didesain agar modul dapat memberikan layanan kepada
peserta didik dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan.
5) Penilaian (Point Asessment)
“The assesment accompanying a learning experience is designed
to let each student know whether he or she has mastered its
corresponding enabling objectives. Provision may be made for self
and peer assessment as well as assessment by the instructor. The
student would have access to akey so that answers might be
checked for accuracy”. Penilaian merupakan bagian dari desain
yang mengijinkan peserta didik untuk mengetahui apakah mereka
telah menguasai tujuan khusus. Lembar penilaian harus
memberikan layanan pemeriksaan mandiri (self examination),
sehingga peserta didik harus memiliki akses pada kunci jawaban.
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2007:134) “berdasarkan
definisi modul dapat diuraikan secara rinci unsur-unsur modul
meliputi”:
a) Pedoman, berisi petunjuk-petunjuk agar mengajar secara efesien
serta memberikan penjelasan tentang jenis-jenis kegiatan yang
harus dilakukan oleh peserta didik, waktu untuk menyelesaikan
modul, alat-alat pelajaran yang harus dipergunakan.
b) Kegiatan peserta didik, penilaian dalam bentuk lembar tes
serta kunci jawabannya, dan sumber materi. Lembaran kegiatan
peserta didik, memuat pelajaran yang harus dikuasai oleh peserta
didik. Susunan materi sesuai dengan tujuan instruksional yang
akan dicapai, disusun langkah demi langkah sehingga
mempermudah peserta didik belajar. Lembaran kegiatan peserta
15

didik tercantum kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan oleh


peserta didik, misalnya melakukan percobaan.
c) Lembaran kerja, menyertai lembaran kegiatan peserta didik yang
digunakan untuk menjawab atau mengerjakan soal-soal tugas atau
masalah-masalah yang harus dipecahkan.
d) Kunci lembaran kerja, berfungsi untuk mengevaluasi atau
mengoreksi sendiri hasil pekerjaan peserta didik. Bila terdapat
kekeliruan dalam pekerjaannya, peserta didik bisa meninjau
kembali pekerjaannya.
e) Lembaran tes, merupakan alat evaluasi untuk mengukur
keberhasilan tujuan yang telah dirumuskan dalam modul.
Lembaran tes berisi soal-soal guna menilai keberhasilan peserta
didik dalam mempelajari bahan yang disajikan dalam modul.
f) Kunci lembaran tes, merupakan alat koreksi terhadap penilaian
yang dilaksanakan oleh para peserta didik sendiri.
Berdasarkan pendapat ahli diatas maka dapat diambil
kesimpulan bahwa komponen modul berisi panduan berupa
pedoman d o s e n dan mahasiswa serta tujuan perkuliahan,
pengalaman belajar dalam bentuk lembaran.

c. Karakteristik Modul
Sartono (2014:13) karakteristik modul tersebut akan
membuat peserta didik termotivasi sehingga tujuan dalam
pembelajaran akan berhasil dan peserta didik dapat belajar secara
mandiri hanya dengan menggunakan modul. Modul merupakan alat
atau sarana pembelajaran yang berisi materi, metode, batasan-
batasan, dan cara mengevaluasi yang dirancang secara sistematis dan
menarik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan sesuai dengan
tingkat kompleksitasnya.
Sebuah modul bisa dikatakan baik dan menarik apabila
terdapat karakteristik sebagai berikut (Direktorat Tenaga
Kependidikan, 2008):
16

1) Self Instruction
Merupakan karakteristik penting dalam modul, dengan
karakter tersebut memungkinkan seseorang belajar secara mandiri
dan tidak tergantung pada pihak lain. Untuk memenuhi karakter
Self Instruction, maka modul harus:
a) Memuat tujuan pembelajaran yang jelas, dan dapat
menggambarkan pencapaian Standar Kompetensi dan
Kompetensi Dasar.
b) Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit
kegiatan yang kecil/spesifik, sehingga memudahkan
dipelajari secara tuntas.
c) Tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan
pemaparan materi pembelajaran.
d) Terdapat soal-soal latihan, tugas dan sejenisnya yang
memungkinkan untuk mengukur penguasaan peserta didik.
e) Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan
suasana, tugas atau konteks kegiatan dan lingkungan peserta
didik.
f) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif.
g) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.
h) Terdapat instrumen penilaian, yang memungkinkan peserta
didik melakukan penilaian mandiri (self assesment).
i) Terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik, sehingga
peserta didik mengetahui tingkat penguasaan materi.
j) Terdapat informasi tentang rujukan/pengayaan/referensi yang
mendukung materi pembelajaran.
2) Self Contained
Modul dikatakan self contained bila seluruh materi
pembelajaran yang dibutuhkan termuat dalam modul tersebut.
Tujuan dari konsep ini adalah memberikan kesempatan peserta
didik mempelajari materi pembelajaran secara tuntas, karena
materi belajar dikemas dalam satu kesatuan yang utuh. Jika harus
dilakukan pembagian atau pemisahan materi dari satu standar
kompetensi dasar, yang harus dilakukan dengan hati-hati dan
17

memperhatikan keluasan standar kompetensi yang harus dikuasai


oleh peserta didik.
3) Berdiri Sendiri (Stand Alone)
Stand alone atau berdiri sendiri merupakan karakteristik
modul yang tidak tergantung pada bahan ajar/media lain, atau
tidak harus digunakan secara bersama-sama dengan bahan ajar/
media lain. Dengan menggunakan modul, peserta didik tidak
perlu bahan ajar yang lain untuk mempelajari atau mengerjakan
tugas pada modul tersebut. Jika peserta didik masih menggunakan
dan bergantung pada bahan ajar selain modul yang digunakan,
maka bahan ajar tersebut tidak dikategorikan sebagai modul yang
berdiri sendiri.
4) Adaptif
Modul hendaknya memiliki daya adaptasi yang tinggi
terhadap perkembangan ilmu dan teknologi. Dikatakan adaptif
jika modul tersebut dapat menyesuaikan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel/luwes digunakan
diberbagai perangkat keras (hardware).
5) Bersahabat/akrab (User Friendly)
Modul hendaknya juga memenuhi kaidah user friendly
atau bersahabat/akrab dengan pemakainya. Setiap instruksi dan
paparan informasi yang tampil bersifat membantu dan bersahabat
dengan pemakainya, termasuk kemudahan pemakai dalam
merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan.
Menurut Yusuf dalam Sartono (2014:13) pembelajaran
dengan sistem modul memiliki karakteristik sebagai berikut:
a) Modul memberikan informasi dan petunjuk pelaksanaan yang
jelas tentang apa yang harus dilakukan oleh peserta didik;
b) Modul meruakan pembelajaran individual;
c) Pengalaman belajar dalam modul disediakan untuk
membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran
seefektif dan seefisien mungkin;
d) Materi pembelajaran disajikan secara logis dan sistematis;
e) Modul memiliki mekanisme untuk mengukur pencapaian
tujuan belajar peserta didik.
18

Berdasarkan uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa


modul adalah proses pembelajaran yang sebagian atau seluruhnya
menggunakan modul, memberikan kesempatan bagi mahasiswa
untuk belajar menurut cara masing-masing dan mahasiswa
diberikan kesempatan untuk belajar secara individu pada
matakuliah Pemograman Web dan karakteristik modul adalah
sebagai alat atau sarana pembelajaran yaitu belajar mandiri (self
instructional ), self contained, berdiri sendiri, tidak tergantung
pada pihak lain (stand alone), modul yang dikembangkan tidak
tergantung pada media lain, sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi serta fleksible. (Adaptif), bersahabat
dengan penggunanya dan user friendly. memiliki kaidah akrab
bersahabat dengan pemakaianya.
d. Pedoman Penulisan Modul
Kerangka penulisan modul adalah sebagai berikut:
1) Halaman Sampul
Berisi judul modul, kode modul, keterangan revisi, gambar
ilustrasi, institusi penerbit dan edisi.
2) Halaman Francis
Berisi judul, nama penyusun, nama editor, tahun revisi.
3) Kata Pengantar
Berisi mengenai informasi tentang peran modul dalam proses
perkuliahan.
4) Daftar Isi
Merupakan kerangka/outline modul disertai dengan nomor
halaman.
5) Peta Kedudukan Modul
Merupakan diagram yang menunjukkan kedudukan modul didalam
keseluruhan bidang keahlian.
6) Glosarium
Memuat kata-kata atau istilah sulit dan asing yang terdapat dalam
modul berikut artinya dan disusun menurut abjad.
7) Pendahuluan dalam Modul meliputi:
19

(a) standar kompetensi berisi uraian yang dipelajari pada modul


yang terdiri dari kompetensi, sub kompetensi, kriteria unjuk
kerja, ruang lingkup. (b) deskripsi berisi penjelasan singkat
tentang nama dan ruang lingkup isi modul. (c) prasyarat berisi
petunjuk kemampuan awal yang disyaratkan untuk mempelajari
modul tersebut. (d) penggunaan (modul merupakan perpaduan
tata cara menggunakan modul yang baik bagi mahasiswa
maupun dosen. (e) tujuan akhir berisi spesifikasi kinerja setelah
mengikuti seluruh kegiatan belajar harus memenuhi syarat
tertentu sesuai dengan persyaratan dunia kerja. (f) cek
penguasaan standar kompetensi berisi daftar pertanyaan yang
akan mengukur penguasaan kompetensi mahasiswa terhadap
kompetensi yang akan diajarkan pada modul tersebut.
8) Pembahasan dalam modul meliputi (a) rencana perkuliahan
mahasiswa berisi tentang jenis kegiatan, tanggal, waktu dan tempat
pencapaian, alasan perubahan dan disetujui oleh dosen. (b) kegiatan
belajar berisi serangkaian pengalaman belajar dalam rangka
mempermudah peserta diklat mengusai kompetensinya. (c) uraian
materi yaitu sejumlah pengetahuan untuk kemampuan mahasiswa
sesuai dengan tujuan pembelajaran. (d) rangkuman yaitu sejumlah
pengetahuan essensial yang terdapat pada materi (e) tugas yaitu
instruksi untuk mahasiswa meliputi: kegiatan observasi untuk
mengenal fakta, melakukan diskusi dan tutorial dengan dosen. (f)
tes formatif merupakan serangkaian soal tes tertulis sebagai bahan
pertimbangan bagi mahasiswa dan dosen untuk mengetahui sejauh
mana pengukuran kegiatan perkuliahan yang telah dicapai. (g)
lembar kerja merupakan sejumlah kegiatan yang harus dilakukan
mahasiswa berupa kerja kelompok untuk diskusi.
9) Evaluasi
Bagian ini berisi evaluasi belajar mahasiswa setelah menyelesaikan
satu modul. Evaluasi akhir hendaknya meliputi penguasaan
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) dan sikap
20

(afektif) bagaimana yang dipersyaratkan dalam kriteria untuk kerja


pada standar kompetensi.
10) Kunci Jawaban
Berisi jawaban pertanyaan dari tes yang akan diberikan pada setiap
kegiatan pembelajaran dan evaluasi pencapaian kompetensi,
dilengkapi dengan kriteria penilaian pada setiap item tes.

11) Daftar Pustaka


Semua referensi/pustaka yang digunakan sebagai acuan pada saat
penyusunan modul.
Menurut Nana Sudjana dan Ahmad Rivai (2007:133) langkah-
langkah dalam menulis modul antara lain:
1) Menyusun kerangka modul dengan cara menetapkan atau
merumuskan tujuan instruksional umum, merinci tujuan
instruksional umum menjadi tujuan instruksional khusus,
menyusun butir-butir soal evaluasi guna mengukur pencapaian
tujuan khusus, mengidentifikasi pokok-pokok materi dalam urutan
logis, menyusun langkah-langkah kegiatan belajar peserta didik,
memeriksa langkah-langkah kegiatan belajar untuk mencapai
semua tujuan pembelajaran.
2) Menulis program secara terperinci yang meliputi pembuatan
petunjuk pengajar, lembaran kegiatan peserta didik, lembaran kerja
peserta didik lembaran jawaban, lembaran tes dan lembaran
jawaban tes.

e. Keunggulan Modul
Pembelajaran menggunakan modul memberikan kesempatan
kepada mahasiswa untuk belajar menurut cara mereka masing-
masing karena mereka menggunakan teknik yang berbeda-beda
untuk memecahkan masalah tertentu berdasarkan latar belakang
pengetahuan dan kebiasaan masing-masing. Modul disusun
sedemikian rupa sehingga bahan yang disampaikan dalam kegiatan
pembelajaran selalu terarah pada tujuan yang ingin dicapai. Dalam
21

pembelajaran menggunakan modul, dosen bertindak sebagai


fasilitator sehingga memungkinkan mahasiswa lebih banyak dan
semakin aktif dalam perkuliahan sehingga dapat mencapai tujuan
pembelajaran yang telah dirumuskan. Menurut Nasution (2009:216),
modul yang disusun dengan baik dapat memberikan banyak
keuntungan bagi peserta didik, yaitu:
1) Feedback
Modul memberikan umpan balik dengan segera sehingga peserta
didik dapat mengetahui taraf hasil belajarnya.
2) Penguasaan Tuntas
Setiap peserta didik dalam pembelajaran menggunakan modul
mendapat kesempatan yang sama untuk mencapai angka tertinggi
dengan menguasai bahan pelajaran secara tuntas.
3) Tujuan
Modul disusun dengan tujuan yang jelas dan spesifik sehingga
peserta didik terarah dalam proses belajar.
4) Fleksibilitas
Pembelajaran menggunakan modul disesuaikan dengan
perbedaan-perbedaan peserta didik, antara lain mengenai
kecepatan belajar, cara belajar dan kemampuan belajar.
5) Kerjasama
Pembelajaran menggunakan modul mengurangi rasa persaingan
antara peserta didik sebab semua dapat memperoleh hasil yang
tertinggi sehingga memungkinkan terjadinya kerjasama antar
peserta didik.
Berdasarkan keunggulan diatas maka diambil kesimpulan
bahwa modul merupakan sarana pembelajaran yang sesuai untuk
digunakan mahasiswa dalam belajar karena tidak terbatas oleh
pertemuan tatap muka dan mahasiswa dapat mengevaluasi
kemampuannya dalam pembelajaran.
f. Pengembangan Modul
Pengembangan modul adalah pengembangan bahan ajar yang
disusun secara sistematis yang mudah dipahami mahasiswa yang
digunakan dalam pembelajaran mandiri sesuai dengan kurikulum
22

dan kompetensi yang ditetapkan. Sebuah modul perlu dikembangkan


agar sesuai dengan kurikulum, standar kompetensi dan kompetensi
dasar agar modul dapat lebih efektif dalam mencapai tujuan
pembelajaran. Depdiknas (2008:12) telah merumuskan beberapa
prosedur yang dapat diterapkan dalam penyusunan modul, yaitu :
1) Analisis Kebutuhan Modul (Need Analysis)
Analisis kebutuhan modul merupakan kegiatan
menganalisis kompetensi/ tujuan untuk menentukan jumlah dan
judul modul yang dibutuhkan untuk mencapai suatu kompetensi
tersebut. Penetapan judul modul didasarkan pada kompetensi yang
terdapat pada garis-garis besar program yang ditetapkan. Analisis
kebutuhan modul bertujuan untuk mengidentifikasi dan
menetapkan jumlah dan judul modul yang harus dikembangkan.
Analisis kebutuhan modul dapat dilakukan dengan langkah
sebagai berikut:
a) Tetapkan kompetensi yang terdapat di dalam garis-garis
besar program pembelajaran yang akan disusun modulnya;
b) Identifikasi dan tentukan ruang lingkup unit kompetensi
tersebut;
c) Identifikasi dan tentukan pengetahuan, keterampilan, dan
sikap yang dipersyaratkan;
d) Tentukan judul modul yang akan ditulis
Kegiatan analisis kebutuhan modul dilaksanakan pada
periode awal pengembangan modul dan draft. Penyusunan draft
modul merupakan proses penyusunan dan pengorganisasian materi
kuliah dari suatu kompetensi atau sub kompetensi menjadi satu
kesatuan yang sistematis. Penyusunan draft modul bertujuan
menyediakan draft suatu modul sesuai dengan kompetensi atau
sub kompetensi yang telah ditetapkan. Penulisan draft modul
dapat dilaksanakan dengan mengikuti langkah-langkah sebagai
berikut:
23

1) Tetapkan judul modul,


2) Tetapkan tujuan akhir yaitu kemampuan yang harus dicapai
oleh mahasiswa setelah selesai mempelajari satu modul,
3) Tetapkan tujuan antara yaitu kemampuan spesifik yang
menunjang tujuan akhir,
4) Tetapkan garis-garis besar atau outline modul,
5) Kembangkan materi pada garis-garis besar,
6) Periksa ulang draft yang telah dihasilkan.

2. Konstruktivisme
a. Sudut Pandang Konstruktivisme dalam Pembelajaran
Secara tradisional cara memperoleh pengetahuan dapat
diasumsikan merupakan segala sesuatu yang dapat ditemukan pada
lingkungan atau suatu peristiwa yang terjadi di lingkungan, dimana
mahasiswa mampu mengidentifikasi dan menyimpan pengetahuan
mereka hal ini juga dapat disebut sebagai pengalaman.
Sudut pandang umum bagaimana model pembelajaran di
perguruan tinggi adalah pengopian pengetahuan dari suatu
pemikiran ke pemikiran lainnya. Adanya komunikasi pada proses
belajar maka informasi dapat tertransfer pada mahasiswa. Dalam
beberapa level, model ini berjalan dengan baik, dalam waktu yang
bersamaan dosen berusaha agar mahasiswa mengulang informasi
yang memang harus mereka ketahui. Sehingga mahasiswa tidak
harus belajar dari pengetahuan yang diberikan dosen saja dan tidak
berusaha untuk memahami konsep matakuliah yang mereka pelajari.
Hal ini mengakibatkan perkuliahan kadang terjadi dan kadang tidak
terjadi. Pembelajaran yang kompleks dapat dianalisa dari rangkaian
spesifik item yang dikomunikasikan, walaupun hal ini akan
dipelajari atau tidak.
Pembelajaran konstruktivisme mahasiswa yang harus aktif
mencari, membangun dan mengembangkan pengetahuan kognitifnya
dan bertangguing jawab terhadap hasil belajarnya, dan dosen
hanya sebagai fasilitator, menyiapkan kondisi, iklim lingkungan,
24

alat dan sarana belajar yang memungkinkan mahasiswa termotivasi


belajar secara mandiri untuk lebih aktif dan kreatif.
b. Jenis – jenis pembelajaran konstruktivis
Secara umum pembelajaran konstruktivis tebagi menjadi dua
kelompok yaitu:
1) Konstruktivis personal (Konstruktivis psikologi)
Piaget dalam Fosnot (1996: 18) menyoroti bagaimana
anak- anak pelan-pelan membentuk skema pengetahuan,
pengembangan skema dan mengubah skema. Ia menekankan
bagaimana anak secara individual mengkonstruksi pengetahuan
dari berinteraksi dengan pengalaman dan objek yang dihadapinya.
Ia menekankan bagaimana seorang anak mengadakan abstraksi,
baik secara sederhana maupun secara refleksif, dalam membentuk
pengetahuannya. Tampak bahwa tekanan perhatian Piaget lebih
pada keaktifan individu dalam membentuk pengetahuan. Bagi
Piaget, pengetahuan lebih dibentuk oleh si anak itu sendiri
yang sedang belajar daripada diajarkan oleh orang tua.
Konstruktivisme psikologis bercabang dua: (1) yang
lebih personal, individual, dan subjektif seperti Piaget dan para
pengikutnya; (2) yang lebih sosial seperti Vigotsky. Piaget
menekankan aktivitas individual, lewat asimilasi dan akomodasi
dalam pembentukan pengetahuan; sedangkan Vygotsky
menekankan pentingnya masyarakat dalam mengkonstruksi
pengetahuan ilmiah.
Dalam pandangan Piaget, pengetahuan dibentuk oleh
anak lewat asimilasi dan akomodasi dalam proses yang terus
menerus sampai ketika dewasa. Asimilasi adalah proses
kognitif yang dengannya seseorang mengintegrasikan persepsi,
konsep, nilai-nilai ataupun pengalaman baru ke dalam skema atau
pola yang sudah ada di dalam pikirannya. Asimilasi dapat
dipandang sebagai suatu proses kognitif yang menempatkan dan
mengklasifikasikan kejadian atau rangsangan yang baru dalam
skema yang telah ada. Setiap orang selalu secara terus menerus
25

mengembangkan proses asimiliasi. Proses asimilasi bersifat


individual dalam mengadaptasikan dan mengorganisasikan diri
dengan lingkungan baru sehingga pengertian orang berkembang.
Ketika individu mengasimilasi mereka menggabungkan
pengalaman baru ke dalam kerangka kerja yang sudah ada tanpa
mengubah kerangka tersebut. Ini dapat terjadi ketika pengalaman
indvidu selaras dengan skema pribadi mereka terhadap lingkungan,
tetapi hal ini juga dapat terjadi karena kegagalan untuk mengubah
pemahaman yang salah, misalnya terjadi kesalahpahaman terhadap
masukan dari orang lain atau memutuskan bahwa peristiwa
yang terjadi merupakan suatu kebetulan atau merupakan
informasi yang tidak penting. Sebaliknya, jika pengalaman
individu bertentangan dengan skema pribadi mereka, mereka dapat
mengubah sudut pandang mereka tentang pengalaman agar sesuai
dengan skema pribadi mereka.
Dalam proses pembentukan, pengetahuan dapat terjadi
seseorang tidak dapat mengasimilasikan pengalaman baru dengan
skema yang telah dipunyai. Dalam keadaan seperti ini orang
akan mengadakan akomodasi, yaitu (1) membentuk skema baru
yang cocok dengan rangsangan yang baru, atau (2) memodifikasi
skema yang ada sehingga cocok dengan rangsangan itu. Misalnya,
seorang anak mempunyai skema bahwa semua hewan harus
berkaki dua atau empat. Skema ini didapat dari abstraksinya
terhadap hewan-hewan yang pernah dijumpainya. Pada suatu hari
ia datang ke kebun binatang, di mana ada puluhan bahkan
ratusan hewan yang jumlah kakinya ada yang lebih dari empat
atau bahkan tanpa kaki. Anak tadi mengalami bahwa skema
lamanya tidak cocok dengan pengalaman yang baru, maka dia
mengadakan akomodasi dengan membentuk skema baru bahwa
hewan dapat berkaki dua, empat atau ledih bahkan ada yang tanpa
kaki namun semua disebut hewan.
26

Skema itu hasil suatu konstruksi yang terus menerus


diperbaharui, dan bukan tiruan dari kenyataan dunia yang ada.
Menurut Piaget, proses asimilasi dan akomodasi ini terus berjalan
dalam diri seseorang, sampai pada pengetahuan yang mendekati
para ilmuwan. Pendekatan Piaget dalam proses pembentukan
pengetahuan memang lebih personal dan individual, kendati dia
juga bicara soal pengaruh lingkungan sosial terhadap
perkembangan pemikiran anak, tetapi tidak secara jelas
memberikan model bagaimana hal itu tejadi pada diri anak. Bagi
Piaget, dalam taraf-taraf perkembangan kognitif yang lebih rendah
(sensori-motor, dan pra-operasional), pengaruh lingkungan sosial
lebih dipahami oleh anak sama dengan objek-objek yang sedang
diamati anak.
Anak belum dapat menangkap ide-ide darimasyarakatnya.
Baru pada taraf perkembangan yang lebih tinggi (operasional
konkret, terlebih operasional formal), pengaruh lingkungan
sosial menjadi lebih jelas. Dalam taraf ini, bertukar gagasan
dengan teman-teman, mendiskusikan bersama pendirian masing-
masing, dan mengambil kesepakatan secara sosial sudah lebih
dimungkinkan.
Pandangan konstruktivis personal sebenarnya mengandung
kelemahan. Menurut Glasersfeld (1997: 44) salah satu tokoh
konstruktivis personal, pengetahuan hanya ada di dalam
“kepala” seseorang di mana ia harus membangun pengetahuan
berdasarkan pengalaman pribadinya. Menurut pendapat ini ilmu
pengetahuan bersifat pribadi, hal ini berarti bagi seseorang
pengetahuan dibangun berdasarkan pengalaman pribadinya.
Inilah salah satu sumber kritik terhadap konstruktivis personal, dan
karena pandangan yang demikian konstruktivis personal sering
dianggap menganut faham solipsisme. Faham solipsisme
berpendapat bahwa segala sesuatu hanya ada bila ada dalam
pikiran atau dipikirkan Selain itu, solipsisme juga mengatakan
27

bahwa ilmu pengetahuan itu dibangun secara individual.


Pandangan ini memang sulit untuk menjelaskan bagaimana kita
bisa memiliki pengetahuan bersama tentang sesuatu hal.
Aliran korespondensi berpandangan bahwa ilmu
pengetahuan merupakan representasi independen mengenai
dunia, dan berkeyakinan bahwa kalimat-kalimat atau pernyataan-
pernyataan yang kita buat dikatakan ”benar” bila dan hanya bila
berkorespondensi dengan kenyataan (Keraf dkk, 2001: 66-67).
Faham demikian tidak diakui oleh pengikut konstruktivis
personal. Sebaliknya pengikut faham konstruktivis personal
berpendapat bahwa pengetahuan itu apa yang dapat kita
lakukan dengan dunia pengalaman kita, ilmu pengetahuan
itu merupakan sarana untuk mendeskripsikan alam ini.
2) Konstruktivis sosial (kelompok)
Pendukung konstruktivis sosial berpendapat bahwa di
samping individu, kelompok di mana individu berada, sangat
menentukan proses pembentukan pengetahuan pada diri seseorang.
Melalui komunikasi dengan komunitasnya, pengetahuan seseorang
dinyatakan kepada orang lain sehingga pengetahuan itu mengalami
verifikasi, dan penyempurnaan. Selain itu, melalui komunikasi
seseorang memperoleh informasi atau pengetahuan baru dari
masyarakatnya. Vygotsky menandaskan bahwa kematangan fungsi
mental anak justru terjadi lewat proses kerjasama dengan orang
lain, seperti dinyatakan oleh Newman (2006: 62) sebagai
berikut: ” The maturation of the child’s higher mental functions
occurs in this cooperative process, that is, it occurs through the
adult’s assistance and participation ”.
Pandangan yang dianut oleh konstruktivis sosial seperti
dipaparkan di atas sangat berbeda dengan pandangan yang dianut
oleh para pendukung konstruktivis personal. Konstruktivis personal
kadang kala dikenal sebagai konstruktivis psikologis, yang
memandang bahwa pembentukan pengetahuan adalah sepenuhnya
28

persoalan individu. Konstruktivis personal sangat menekankan


pentingnya peranan individu dalam proses pembentukan ilmu
pengetahuan (Suparno,1997:44).
Konstruktivisme sosial menekankan bahwa pembentukan
ilmu pengetahuan merupakan hasil pembentukan individu
bersama-sama dengan masyarakat sekitarnya. Bahkan Piaget
menulis sebagai berikut Fosnot (1996:18) ”there is no longer any
need to choose between the primacy of the social or that of the
intellect; the collective intellect is the social equilibrium resulting
from the interplay of the operations that enter into all cooperation
”.
Para peserta didik yang pasif tidak mungkin membangun
pengetahuannya sekalipun diberi informasi oleh para
pendidik (Sarkim, 2005:155). Agar informasi yang diterima
berubah menjadi pengetahuan, seorang peserta didik harus aktif
mengupayakan sendiri agar informasi itu menjadi bagian dari
struktur pengetahuannya (Sarkim, 2005:156).
Mengingat ilmu pengetahuan harus dibangun secara aktif
oleh peserta didik di dalam pikirannya, hal itu berarti bahwa
belajar adalah tanggungjawab peserta didik yang sedang belajar.
Maka menjadi sangat penting motivasi instrinsik yang mendorong
peserta didik memiliki keinginan untuk belajar. Dalam hal ini
pendidik sebagai pengelola kegiatan pembelajaran dapat
memberikan sumbangan yang berarti dalam memotivasi peserta
didik.
Karena keyakinannya bahwa pengetahuan seseorang
dibangun secara pribadi dalam interaksinya dengan masyarakat dan
lingkungannya, maka pengetahuan yang dibawa oleh peserta didik
ke dalam kelas dinilai sebagai sumber penting untuk membangun
pengetahuan baru.
c. Keuntungan Menggunakan Pembelajaran Konstruktivisme
Keuntungan pembelajaran konstruktivisme adalah:
29

1) Konstruktivisme mendorong pengajar untuk menghargai dan


membangun pengetahuan semua peserta didik yang ada, bahkan
jika pengetahuan yang tampaknya berbeda dari kurikulum formal.
2) Peserta didik terlibat secara aktif, bukan pasif menyerap
informasi, lingkungan belajar yang demokratis, pengajar tidak
terlihat sebagai sosok otoritas tapi sebagai panduan pembelajaran,
kegiatan yang interaktif dan pelajaran tidak hanya berpusat
berpusat pada peserta didik
3) Pendekatan konstruktivisme mendukung perlakuan yang sama dan
adil dari semua peserta didik. Karena instruksi harus
membangun apa yang peserta didik ketahui, juga harus memulai
dan tetap berpusat pada peserta didik.
Berdasarkan keuntungan-keuntungan penggunaan
pembelajaran konstruktivisme diatas maka dapat disimpulkan
bahwa pembelajaran konstruktivisme cocok untuk semua
pendekatan belajar, membantu mahasiswa untuk belajar lebih
aktif, kegiatan perkuliahan berpusat pada mahasiswa sehingga
pembelajaran konstruktivisme akan sangat membantu dalam
proses perkuliahan dan dapat dikembangkan dalam bentuk modul
sehingga dapat membentuk modul yang mampu mengkonstruksi
pengetahuan mahasiswa.
d. Modul Berbasis Konstruktivisme
Modul berbasis konstruktivisme merupakan modul dengan
langkah-langkah konstruktivisme sehingga dengan menggunakan
modul ini peserta didik tanpa sadar diarahkan untuk mengkonstruksi
pengetahuannya. Langkah-langkah konsruktivisme menurut Driver
dan Oldham dalam Suparno (1997) adalah sebagai berikut:
1) Orientasi
Orientasi bertujuan untuk menyediakan suasana belajar,
menimbulkan minat dan pembentukan pengetahuan awal. Yaitu
dengan cara peserta didik diminta untuk mengamati topik yang
akan dipelajari.
30

2) Elicitas
Peserta didik dibantu untuk mengungkapkan idenya secara
jelas dalam bentuk tulisan maupun gambar.
3) Restrukturisasi ide
Peserta didik menyusun ide dari apa yang telah mereka
amati dan ide-ide teman melalui kerja kelompok atau diskusi
sehingga menghasilkan ide baru.
4) Review
Peserta didik mengetahui apa yang telah mereka temukan
dengan benar Pembelajaran menggunakan modul berbasis
konstruktivisme menggabungkan prinsip penggunaaan modul
dengan langkah-langkah pembelajaran konstruktivisme sehingga
dalam pembelajaran menggunakan modul berbasis
konstruktivisme peserta didik dapat belajar secara mandiri,
peserta didik memberikan umpan balik dan mampu memahami
materi mata kuliah sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran
konstruktivisme. Teknik konstruktivisme merupakan sebuah
teknik yang mengharuskan peserta didik menemukan dan
mentrasformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain dan
apabila dikehendaki informasi tersebut menjadi milik mereka
sendiri (Sagala, 2010:88). Dengan dasar ini pembelajaran harus
dikemas menjadi proses mengkonstruksi dan bukan menerima
pengetahuan saja. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka
melalui interaksi dengan objek. Suatu pengetahuan akan
dianggap benar jika pengetahuan tersebut dapat digunakan untuk
memecahkan masalah dan persoalan yang sesuai. Pembelajaran
konstruktivis adalah pembelajaran yang memerlukan peserta
didik berpartisipasi aktif, kemampuan belajar mandiri,
mengembangkan pengetahuan sendiri.
Pembelajaran konstruktivisme merupakan pembelajaran
yang mengembangkan pemikiran peserta didik karena
pembelajaran itu akan bermakna dan mudah diingat jika
31

ditemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan


keterampilan barunya. Karena pengetahuan dibentuk
berdasarkan pengalaman nyata yang dialami dan interaksi
dengan lingkungan sosial disekelilingnya.
Perbandingan pembelajaran menggunakan modul
berbasis konstruktivisme dengan pembelajaran tradisional adalah:
a) Pembelajaran menggunakan modul konstuktivisme proses
pembelajaran berpusat pada peserta didik yaitu peserta didik
berusaha memahami dan membentuk ide baru melalui modul.
Sedangkan pada pembelajaran tradisional pembelajaran
berpusat pada pengajar yaitu peserta didik mendapatkan
pengetahuan dari pengajar tanpa perlu membentuk ide baru.
b) Pembelajaran menggunakan modul konstruktivisme dimana
peserta didik menjadi lebih aktif dan tidak bosan dalam
belajar. Sedangkan pada pembelajaran tradisional peserta
didik pasif mendengarkan pembelajaran yang diberikan oleh
pengajar sehingga banyak peserta didik yang merasa bosan
dan akhirnya tidak fokus saat menerima pembelajaran.

3. Modul Pemograman Web Berbasis Kontruktivisme


Salah satu bahan ajar yang dapat digunakan mahasiswa untuk
meningkatkan keterlibatan mahasiswa dalam pembelajaran
konstruktivisme adalah modul. Modul merupakan materi ajar yang sudah
dikemas sedemikian rupa sehingga mahasiswa nantinya diharapkan dapat
belajar secara mandiri. Depdiknas (2008:3) menyatakan bahwa “Modul
merupakan bahan ajar cetak yang dirancang untuk dapat dipelajari secara
mandiri oleh peserta pembelajaran”.
Modul Pemograman Web yang ditulis hendaknya bersifat
sederhana dan menggunakan kalimat yang mudah dipahami oleh
mahasiswa. Pada modul ini juga perlu dilengkapi mengenai cara
penggunaan modul. Modul didesain sedemikian rupa sehingga dengan
menggunakan modul ini dapat membantu mahasiswa dalam menemukan
32

arahan yang terstruktur untuk memahami materi yang diberikan secara


mandiri sesuai dengan prinsip konstruktivisme ini. Manfaat lain adalah
dapat membantu mahasiswa mengarahkan mahasiswa untuk dapat
menemukan dengan mudah konsep- konsep materi matakuliah Proyek
Web ini. Contohnya dalam pembelajaran matakuliah Proyek Web ini pada
materi memahami konsep dasar pemograman Web tersebut adalah dengan
diawali dengan sedikit informasi lalu akan diajukan pertanyaan kepada
peserta didik berupa pertanyaan sederhana yang mereka dapatkan
dilingkungan sekitarnya, beberapa contoh pertanyaan awal pada modul
berbasis konstruktivisme ini adalah: Apa itu Webite ?, Apa yang dapat anda
ketahui dari website tersebut?. Sehingga dengan menjawab pertanyaan
tersebut mahasiswa dapat membangun sendiri pengetahuannya.
Penggunaan modul dapat membantu dosen dalam mengatasi
permasalahan yang sering terjadi dalam proses perkuliahan seperti tidak
tercapainya indikator yang diharapkan dalam setiap pertemuan,
keterbatasan waktu, pengelolaan kelas yang lama dan keadaan mahasiswa
dalam menerima pembelajaran.
4. Model Pengembangan Media Pembelajaran
Pengembangan media pembelajaran adalah serangkaian proses atau
kegiatan yang dilakukan untuk menghasilkan suatu produk pembelajaran
berdasarkan teori pengembangan yang telah ada. Banyak model
pengembangan yang telah dikembangkan oleh para ahli diantaranya:
a. Model pengembangan ADDIE
Model ADDIE dikembangkan oleh Dick and Carry(1996) untuk
merancang sistem pembelajarn. ADDIE merupakan singkatan dari
Analysis, Design, Development or Production, Implementation or
Delivery and Evaluations. ADDIE sering digunakan dalampenelitian
dan penmgembangan bahan ajar seperti modul, LKS dan buku ajar.
b. Model Four – D (4D)
Four – D tahap pengembangan : a) Tahap pendefinisian
(Define); b) Tahap Perancangan (Design),: c)Tahap Pengembangan
(Develope); d)Tahap Penyebaran (Dissemenate)
c. Model IDI
33

Pengembangan mobile learning ini menggunakan model IDI.


Model IDI (Instructional Development Institute), dikembangkan oleh
University Consortium for Instructional development and Technology
(UCIDT). Model IDI ini telah divalidasi oleh konsorsium empat
perguruan tinggi: Michigan State University, Syracuse University, the
United States International University, dan the University of Southern
California. Pengembangan model IDI menerapkan prinsip-prinsip
pendekatan sistem, yaitu penentuan (define), pengembangan (develop),
dan evaluasi (evaluate). Ketiga tahapan ini dihubungkan dengan umpan
balik (feedback) untuk mengadakan revisi. Menurut Gustafson
(2009:59) terdapat beberapa langkah dalam model IDI :
1) Tahap Penentuan (Define)
Pada tahap penentuan (define) ini terdiri dari tiga proses,
yaitu: identify problem (identifikasi masalah), analyze setting
(menganalisis pengaturan) dan organize manajement (mengatur
manajemen).

a) Identify Problem (Identifikasi Masalah)


Pada proses identifikasi masalah ini memerlukan
melakukan perkiraan kebutuhan, menentukan prioritas diantara
berbagai kebutuhan dan saling bertentangan dan akhirnya,
menyatakan satu atau lebih masalah yang harus ditangani.
Penekanan ditempatkan pada memisahkan gejala dari
masalah, dan menyatakan masalah dalam hal terukur. Hal ini
memungkinkan penilaian kemudian dapat mengurangi atau
memecahkan masalah lain.
b) Analyze Setting (Menganalisis Pengaturan)
Pada proses menganalisis pengaturan ini menentukan
pengumpulan data tambahan yang akan dilakukan mengenai
masalah dinyatakan sebelumnya. Data dikumpulkan mengenai
karakteristik siswa, karakteristik pribadi lain yang terkena
dampak, kondisi dimana pembangunan harus terjadi, kendala
yang dihadapi, dan materi yang relevan dan sumber daya
34

manusia yang tersedia untuk mengembangkan dan memberikan


solusi.
c) Organize Manajement (Mengatur Manajemen)
Langkah terakhir dari identifikasi masalah adalah
mennganalisis pengaturan (organize manajement). Langkah ini
adalah beberapa yang unik untuk model IDI. Para pembuat
membuat langkah yang sangat terlihat karena mereka yakin
bahwa manajemen yang buruk sering menyebabkan kegagalan
upaya pembangunan. Pengorganisasian manajemen meliputi
semua tugas utama, menetapkan tanggung jawab untuk tugas
mereka untuk anggota tim. Dan membangun batas waktu untuk
mereka selesaikan. Pemantauan kemajuan juga dimasukkan
sebagai bagian dari langkah ini. Bagaimana sebuah tim adalah
untuk melakukan langkah satu dan dua sebelum menjadi
terorganisir.
2) Tahap Pengembangan (Develop)
Pada tahap pengembangan (develop) terdapat tiga proses
didalamnya yaitu: identify objectives, specify method, contruct
prototype
a) Identify Objectives (Mengidentifikasi Tujuan)
Proses identifikasi tujuan pengajaran mulai dari tujuan
instruksional umum (kompetensi dasar) yang disebut juga
terminal object dan kemudian dijabarkan menjadi tujuan
instruksional khusus dan disebut juga behavioral objectives
(indikator pembelajaran). Tujuan instruksional khusus atau
indikator hasil belajar sangat diperlukan dalam pengembangan
model instruksional.
b) Specify Method (Menentukan Metode)
Metode sangat diperlukan dalam kegiatan pembelajaran.
Sebagai ukuran dalam memilih dan menggunakan metode
mengajar adalah urutan dan isi bahan mata pelajaran yang akan
disajikan serta bentuk dan tempat kegiatan yang akan dilakukan.
Dalam penentuan metode termasuk didalamnya metode
35

pengajaran yang dipilih dan disesuaikan dengan karakteristik


dan kondisi pembelajaran yang ada dan tercipta.
c) Contruct Prototype ( Membangun Prototype)
Pada tahap ini prototype model perencanaan pengajaran
dikembangkan sesuai tujuan instruksional yang telah
dirumuskan. Dan harus ada relevansi antara tujuan instruksional
khusus dengan bahan pengajaran.
3) Tahap Evaluasi (Evaluate)
Pada tahap evaluasi (evaluate) terdapat tiga proses
diantaranya:test prototype, analyze results, implement recycle.
a) Test Prototype
Pada tahap tes prototype ini terdapat didalamnya yaitu
melakukan uji coba dan menganalisis data evaluasi. Dalam
melakukan uji coba dapat langsung dilakukan pada siswa dan
guru. Uji coba dimaksudkan untuk mengetahui kelemahan dan
kelebihan serta efektifitas dan efisensi program pengajaran yang
telah disusun dan dibuat.
b) Analyze Result (Menganalisis Hasil)
Pada tahap analisis hasil ini ada beberapa hal yang
dianalisis, diantaranya prestasi hasil belajar, kepraktisan,
efektifitas dari metode atau model yang dikembangkan dan
kesesuaian teknik evaluasi.
c) Implement Recycle (Melakukan Daur Ulang)
Pada tahap terakhir model IDI adalah untuk mendaur
ulang (jika data menunjukkan kekurangan) atau untuk
mengimplementasikan solusi jika itu efektif. Daur ulang untuk
setiap langkah sebelumnya harus dipertimbangkan. Tapi
mungkin perlu kembali kepada masalah asli dan menganalisa
kembali kebutuhannya. Model IDI memiliki beberapa kelebihan
yaitu:
(1) Sederhana, yaitu mudah dilaksanakan oleh orang-orang
dalam melakukan pengembangan.
(2) Langkah-langkah pada model ini lebih jelas dan terperinci.
(3) Adanya identifikasi masalah dan analisis latar sebagai
perumusan awal.
36

(4) Adanya uji prototype sebagai langkah untuk meyakinkan


apakah perencanaan itu cukup baik atau tidak.
(5) Telah teruji karena model IDI ini telah divalidasi oleh
konsorsium empat perguruan tinggi: Michigan State
University, Syracuse University, the United States
International University, dan the University of Southern
California.

B. Penelitian Relevan

1. Suhadi Ibnu (2009) melakukan penelitian tentang penerapan pembelajaran


konstruktivisme dalam pembelajaran kimia SMA kelas XI IPA pada materi
larutan penyangga berorientasi pembelajaran konstruktivisme. Hasilnya
adalah perangkat yang dikembangkan sudah valid menurut pakar dan
pengguna (guru dan siswa). Dari hasil penelitian diperoleh perbedaan yang
signifikan antara hasil belajar berbasis konstruktivisme dengan metode
ceramah. Nilai rata-rata hasil belajar siswa yang diajar dengan
pembelajaran berbasis konstruktivisme sebesar 74,43 sedangkan rata-rata
hasil belajar siswa yang diajar dengan metode ceramah sebesar 64,04.
2. Mohammad Chairisun (2014) telah melakukan penelitian tentang
pengembangan modul pendidikan lingkungan hidup berorientasi
konstruktivisme untuk siswa SMA 1 Kepanjen kelas XI. Hasilnya adalah
modul yang dikembangkan dapat dijadikan acuan bagi guru untuk
mengembangkan modul pada materi yang lain.
3. Ellizar (2008). Model Pembelajaran Konstruktivisme Menggunakan
Modul (Disertasi). Penelitian ini diadakan di SMA N 1 Padang dan SMA N
9 Padang. Penelitian ini dilaksanakan pada pembelajaran Kimia, hasil
penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran konstruktivisme
menggunakan modul merupakan bagian dari pelayanan unggul yang dapat
meningkatkan hasil belajar siswa baik disekolah unggul maupun disekolah
tidak unggul.
4. Yosef Darmajaya 2014 pengembangan modul pembelajaran elektronika
berbasis konstruktivisme pada mata pelajaran dasar listrik dan elektronika
37

siswa kelas X SMKN 5 padang. Berdasarkan temuan penelitian ini


disimpulkan bahwa modul pembelajaran berbasis konstruktivis ini
disarankan untuk dapat digunakan sebagai modul pembelajaran pada mata
pelajaran Dasar Listrik dan Elektronika.

C. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual ini dirumuskan berdasarkan latar belakang dan


kerangka teoritis yang telah diuraikan diatas. Sesuai dengan lingkup penelitian
yang berfokus pada pengembangan modul berbasis knstruktivisme. seorang
peneliti perlu memperhatikan tujuan yang hendak dicapai, proses
pengembangan modul dengan berbasis konstruktivisme tersebut.
Kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan sebagai
berikut :
Identifikasi Masalah

Menganalisa Permasalahan yang ada

Menganalisis RPKPS, Silabus dan Materi

Menganalisis masalah dari pengajar

Mempelajari Literatur

Mengumpulkan Data

Pemilihan Teknik/Model yang Digunakan

Mengembangkan modul pembelajaran berbasis konstruktivisme

Valid
Tidak

Ya
Uji Praktis Uji efektif

Modul matakuliah - Pemograman Web berbasis konstruktivisme


yang valid, praktis dan efektif
38

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Penelitian


Kerangka konseptual di atas menunjukkan bahwa peneliti akan
merancang modul berbasis konstruktivisme. Sebelum mengembangkan modul
matakuliah tersebut, peneliti akan mengidentifikasi masalah terlebih dahulu.
Selanjutnya, masalah tersebut di analisa, dan peneliti juga akan menganalisis
RPKPS (Rencana Program dan Kegiatan Pembeajaran Semester), Silabus, dan
materi matakuliah. Kemudian mempelajari literatur yang berhubungan dengan
media matakuliah tersebut, mengumpulkan data dan menentukan teknik atau
model yang cocok untuk pengembangan modul matakuliah. Pengembangan
modul matakuliah dengan berbasis konstruktivisme pada matakuliah
Pemograman Web. Setelah modul matakuliah ini dikembangkan, maka akan di
lakukan uji validasi pada seorang validator. Setelah uji validasi, dapat dilihat
apakah modul matakuiah ini telah valid atau belum. Jika modul pembelajaran
tersebut telah valid, maka akan dilakukan uji praktikalitas pada dosen dan
mahasiswa dan uji efektifitas pada mahasiswa.

D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan kajian teori dan kerangka berpikir maka dapat


dirumuskan pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah pengembangkan modul matakuliah Pemograman Web berbasis
konstruktivisme untuk mahasiswa Program Studi Manajemen Informatika
Akademi Komunitas Negeri Pesisir Selatan sesuai dengan kriteria?
2. Apakah validitas, kepraktisan, dan efektivitas modul matakuliah
Pemograman Web berbasis konstruktivisme untuk mahasiswa Program
Studi Manajemen Informatika Akademi Komunitas Negeri Pesisir Selatan
dapat diuji?