Anda di halaman 1dari 17

PUJASERA

(PERGUNAKAN JAMBAN SEHAT RAKYAT AMAN)

OLEH

PUSKESMAS TAMPO

JLN PURWOHARJO NO.140 Banyuwangi, Jawa Timur

TELP. 0333 (396905)

ALAMAT EMAIL puskesmastampo@yahoo.co.id


Lampiran surat Nomor 067/ /429.013/2015
Tanggal: 28 Desember 2015

PROFIL INOVASI

SKPD : UPTD PUSKESMAS TAMPO

ALAMAT SKPD : JL. Purwoharjo no.


TELP : 0333 395985
Judul inovasi : PUJASERA (Pergunakan Jamban Sehat Rakyat
Aman)
Tanggal mulai dilaksanakan inovasi: 01 april 2014
Email : puskesmastampo@yahoo.co.id
Email alternative : tatieksetya@gmail.com
Kategori inovasi : memperkuat partisipasi masyarakat dalam pembuatan
kebijakan melalui mekanisme yang inovatif
Ringkasan singkat

Kurun waktu 2013-2014 dari 217 desa di banyuwangi yang ODF masih 27.
Sedangkan wilayah tampo pada saat itu belum ada yang ODF. Wilayah kerja
puskesmas tampo dibentangi oleh sungai besar dan sempalan-sempan kecil. kondisi
geografis tersebut sangat mendukung pola kebiasaan masyarakat untuk melakukan
BAB di sembarang tempat. Budaya merupakan faktor utama di samping kemiskinan
dan pendidikan rendah yang menyebabkan masyarakat berak di sembarang tempat.
Angka kesakitan yang disebabkan oleh sanitasi jelek sangat tinggi yaitu, penyakit
diare 28,2% , thypoid 8,7% , penyakit kulit 12%, DHF 0,25% , influenza 10,3 %.
Bahkan diare menyebabkan dua kasus meninggal serta terjadi satu kasus busung
lapar.

membuat inovasi “PUJASERA” (Pergunakan Jamban Sehat Rakyat Aman) menuju


desa ODF (open defecation free) dengan :

1. PEMBERDAYAAN MASYARAKAT

(1) membentuk kader PUJASERA

(2) satgas odf

(3) Komunitas jamban sehat

(4) arisan jamban sehat

(5) gotong royong pembuatan jamban sehat

(6) kampanye ODF

(7) klinik sanitasi.

2. MENJALIN KEMITRAAN :

(1) PNPM (program nasional pemberdayaan masyarakat ) mandiri pedesaan dan


toko bangunan.

(2) media cetak

(3) elektronik

Inovasi pujasera membawa dampak adalah


1. Meningkatnya kepemilikan jamban sehat yang signifikan
a. Jumlah data jamban dari 8.045 KK , memiliki jamban 1.034 KK meningkat
menjadi 5.025 KK , belum memilik jamban dari 6.011 kk menjadi 3.020 kk
2. Menurunnya angka kesakitan akibat lingkungan jelek dari 35 % menjadi 18%
3. Berubahnya perilaku dari BAB di sembarang tempat ke jamban sehat.
4. Kenaikan kunjungan ke klinik sanitasi meningkat dari 1,30% menjadi 3,88%
5. Kesulitan membuat jamban karena faktor kemiskinan di pecahkan dengan
pinjaman lunak PNPM MANDIRI PEDESAAN dan arisan jamban.

Pemangku kepentingan program melibatkan


1. kepala dinas kesehatan kabupaten banyuwangi
2. camat
3. kepala puskesmas tampo dan staf
4. kepala UPTD pendidikan
5. dinas pengairan
6. kepala desa
7. kader pujasera
8. saka bakti husada
9. tokoh agama
10. tokoh masyarakat.
A. ANALISA MASALAH (500 kata )

1. MASALAH YANG DIHADAPI SEBELUM DILAKSANAKAN INISIATIF

Kurun waktu 2013-2014 dari 217 desa yang ada di banyuwangi yang ODF ( Open
Defecation Free) masih 27. Sedangkan wilayah puskesmas tampo masih belum ada
yang ODF. Wilayah puskesmas tampo dibentangi oleh sungai besar dan sempalan-
sempalan sungai kecil yang mengelilingi semua wilayah,kondisi ini sangat
mendukung kebiasaan masyarakat untuk melakukan BAB di sembarang tempat.
Jumlah KK 8045, 1034 memiliki jamban sehat dan 6011 belum memiliki jamban.

Banyak warga tinggal di pinggir bantaran sungai mereka beraktivitas setiap hari
dengan membuang sampah , buang air besar , mencuci, bahkan mandi di sungai
tersebut. Lingkungan tercemar limbah organik yang berupa feses manusia dan juga
limbah anorganik dari sampah yang di buang di sungai itu.

Pada tahun 2013 angka kesakitan karena sanitasi jelek mencapai 35% dari
kunjungan. Banyak warga hidup dibawah garis kemiskinan dan pendidikan rendah,
serta “budaya” dari masyarakat merupakan faktor utama penyebab mereka lebih
memilih bab di sembarang tempat dibandingkan dengan jamban sehat. Angka
kesakitan yang disebabkan oleh faktor lingkungan kurang sehat / sanitasi jelek yaitu,
penyakit diare 28,2% , thypoid 8,7% , penyakit kulit 12%, DHF 0,25% , influenza
10,3 %. Dari data tersebut, diare menduduki rangking pertama hingga ada 2 kasus
meninggal. Dan satu kasus busung lapar.

Belum ada tenaga sanitarian (tenaga ahli kesehatan lingkungan) sehingga program
sanitasi lingkungan di pegang oleh tenaga seadanya. Ketenagaan sebagai sanitarian
belum ada pelatihan dari kepala dinas kesehatan. Maka sebab itu tenaga sanitarian
belum bisa di bentuk.

Beberapa penyakit yang disebabkan karena faktor lingkungan jelek belum dilakukan
upaya secara terintegrasi antara kesehatan lingkungan dan pemberantasan penyakit
dengan bimbingan, penyuluhan, dan bantuan teknis dari petugas sanitasi hal ini
dikarenakan belum tersedianya klinik sanitasi.

B. PENDEKATAN STRATEGIS

2. SIAPA SAJA YANG TELAH MENGUSULKAN PEMECAHANNYA DAN


BAGAIMANA INISIATIF INI TELAH MEMECAHKAN MASLAH TERSEBUT

Kepala puskesmas tampo sebagai inisiator mengambil langkah cepat dengan


mengadakan lokakarya lintas sektor dengan mengundang kepala dinas kesehatan,
camat, kepala UPTD pendidikan, dinas pengairan, kepala desa, tokoh masyarakat,
tokoh agama, satgas jeruk, PNPM mandiri pedesaan, pemilik toko bangunan dan
seluruh karyawan Puskesmas Tampo, saka bakti husada. Setelah melakukan
pertemuan dan diskusi yang intensif disepakati membuat suatu terobosan inovasi yang
diberi nama “PUJASERA” (Pergunakan Jamban Sehat Rakyat Aman) yaitu suatu
gerakan bersama yang mengoptimalkan pada peran masyarakat yang bertujuan untuk
merubah perilaku masyarakat dengan sasaran yang masih berak di sembarangan
tempat.

Untuk mempercepat informasi “PUJASERA “ sampai ke masyarakat dilakukan


Sosialisasi dengan menggandeng media cetak Jawa Pos, Radar Banyuwangi dan
media elektronik Radio Airlangga. Sealain itu juga mendesain banner dan leaflet yang
dipasang ditempat umum dan dibagikan ke masyarakat .

Selanjutnya Membentuk kader PUJASERA yang terdiri dari peserta didik, SAKA
BAKTI HUSADA, tokoh masyarakat dan kalangan pemuda sebagai ujung tombak
terdepan dalam inovasi PUJASERA yang berperan aktif dalam pendampingan
pembuatan jamban sehat. Untuk menjaga kualitas para kader, tim PUJASERA perlu
mengadakan pelatihan secara berkala.

Membentuk satgas ODF di masing – masing dusun yang terdiri dari tokoh
masyarakat, tokoh agama dan satgas jeruk sebagai pengawas keberhasilan dan
keberlanjutan program.

Membangun kemitraan dengan PNPM MANDIRI PEDESAAN dan toko bangunan


sebagai pemberi pinjaman lunak dan penyedia bahan pembuatan jamban sehat.

Membentuk 12 kelompok Arisan jamban sehat di masing – masing dusun yang


dilaksanakan setiap 1 bulan sekali dengan anggota semua warga yang belum
memiliki jamban dan dipimpin oleh kepala Dusun.

Melakukan Kampanye ODF dengan arak-arakan membawa banner, mengelilingi jalan


desa dan sungai bersama dinas terkait. Di lanjutkan Pembongkaran tempat-tempat
BAB di sungai bersama dengan dinas pengairan .

Menyediakan Klinik sanitasi untuk memberikan pelayanan dan konseling tentang


kesehatan lingkungan.

Mengadakan gotong royong dalam pembuatan jamban sehat.

Mengoptimalkan tenaga perawat untuk menjadi sanitarian dengan mengirim pelatihan


di dinas kesehatan.
3. DALAM HAL APA INISIATIF INI KREATIF DAN INOVATIF?
Inovasi ini kreatif dan inovatif :
Mengadakan arak - arakan melibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat dan
masyarakat, membawa banner dan poster berkeliling sepanjang sungai dalam kegiatan
KAMPANYE ODF.

Adanya KADER PUJASERA sebagai ujung tombak terdepan dalam inovasi


PUJASERA yang berperan aktif dalam pendampingan pembuatan jamban sehat.

MELIBATKAN PNPM MANDIRI PEDESAAN untuk memberikan pinjaman


lunak kepada masyarakat yang ingin memiliki jamban dan sekaligus sebagai TEAM
SUPERVISI JAMBAN SEHAT.

ARISAN JAMBAN SEHAT dengan melibatkan seluruh masyarakat yang belum


memiliki jamban dan dipimpin oleh para kepala dusun.

GOTONG ROYONG membuat jamban dilakukan oleh masyarakat yang


mengatasnamakan Komunitas Jamban Sehat.

Bersama dinas pengairan MEMBONGKAR tempat-tempat BAB di sungai dan


MENANCAPKAN BANNER-BANNER di tepi sungai sehingga masyarakat merasa
malu untuk BAB disungai.

C. PELAKSANAAN DAN PENERAPAN


4. BAGAIMANA STRATEGI INI DILAKSANAKAN?

Inovasi pujasera di legalkan dengan SK kepala puskesmas tampo NO


440/40/429.114.29/2014 pada tanggal 08-04-2014 yang melibatkan perwakilan dari
smk visi global, smk rhodotul , saka bakti husada, tokoh masyarakat dan kalangan
pemuda.

Menyusun SOP ( standart operasional prosedur ) semua program pujasera untuk


memastikan semuanya berjalan sesuai prosedur dan menjamin keberhasilannya.

mengirim tenaga perawat untuk mengikuti pelatihan di dinas kesehatan Banyuwangi


agar menjadi tenaga yang profesional dalam membawa semua program kesehatan
lingkungan dengan hasil yang optimal.

Penandatanganan antara kepala puskesmas Tampo dengan Radar Banyuwangi dan


radio Airlangga, yang berisi tentang sosialisasi semua kegiatan pujasera. Membuat
banner yang isinya mengajak masyarakat untuk berperilaku hidup sehat dan
membagikan leaflet yang berisi apa itu pujasera, tujuan pujasera, apa saja rencana
strategis, siapa saja kelompok sasaran dari program ini, siapa saja pemangku yang
terlibat dari program pujasera ini. Tidak lupa setiap hari sabtu secara bergantian kader
PUJASERA bersama karyawan puskesmas Tampo mengadakan siaran talk show di
radio Airlangga dengan pembahasan program pujasera.
Tim pujasera mengadakan pelatihan kader di puskesmas tampo dengan materi
kesehatan lingkungan, cara pembuatan jamban sehat,kriteria jamban sehat, akibat
BAB di sembarang tempat, dan teknik penyuluhan merubah pola pikir masyarakat.

Penandatanganan dengan UPTD pendidikan tentang pembentukan kader pujasera di


sekolah – sekolah, konseling, dan pembagian leaflet.

Kepala desa mengumpulkan Satgas ODF untuk diberikan pembekalan teknik


pengawasan perilaku hidup bersih dan sehat kepada masyarakat.

Penandatanganan antara tim PUJASERA dengan PNPM mandiri pedesaan dan toko –
toko bangunan untuk pemberian pinjaman lunak dana pembuatan jamban sehat
kepada masyarkat miskin sebesar Rp.1.200.000 per jamban . Sebelum dana di cairkan
bahan pembuatan jamban di sediakan oleh toko bangunan yang di tunjuk. Jika jamban
selesai di laporkan ke PNPM MANDIRI PEDESAAN, untuk dilakukan visitasi
sebagai tindak lanjut pencairan dana.

Kegiatan arisan jamban ini dilakukan secara rutin setiap bulan terbagi dalam 12
kelompok , setiap kelompok terdiri 30 anggota dengan satu kali setoran sebasar Rp
40.000 , jadi penerimaan arisan sebesar Rp 1.200.000. yang mendapat arisan oleh
pemegang arisan di laporkan kepada KOMUNITAS JAMBAN SEHAT untuk di
tindak lanjuti pembuatan jamban secara GOTONG ROYONG dan di dampingi kader
PUJASERA.

Melaksanakan kampanye ODF dengan melibatkan Kecamatan, kelurahan, puskesmas


Tampo, dinas pengairan, dinas pendidikan , tokoh masyarakat , tokoh agama, kader
PUJASERA, komunitas jamban sehat, bersama seluruh masyarakat kompak
berkumpul di balai desa Kali ploso pada hari jumat jam 06.00 pagi. secara serentak di
pimpin oleh kepala desa melakukan arak – arakan berjalan mengelilingi sepanjang
jalan bantaran sungai dengan membawa banner – banner yang berisikan ajakan untuk
perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan ini di lanjutkan dengan membongkar tempat
– tempat BAB di sungai dan menancapkan banner – banner yang di bawa dalam arak
–arakan di tempat – tempat strategis.

Mengoptimalkan kegiatan klinik sanitasi untuk dilakukan konseling dengan menerima


rujukan dari BP / KIA/ GIZI yang berhubungan dengan penyakit yang di sebabkan
oleh sanitasi kurang baik di rujuk ke klinik sanitasi untuk dilakukan bimbingan.
5. SIAPA SAJA PEMANGKU KEPENTINGAN YANG TERLIBAT DALAM
PELAKSANAAN

KEPALA DINAS KESEHATAN KABUPATEN BANYUWANGI sebagai


penanggung jawab tingkat kabupaten dalam program kesehatan lingkungan
melalui SK tahun 2013 menginstruksikan setiap puskesmas memiliki desa ODF
sebagai tindak lanjut program GGJ (Gemari Gunakan Jamban) kabupaten
banyuwangi.

KEPALA PUSKESMAS membuat suatu terobosan percepatan desa ODF


dengan kebijakan inovasi PUJASERA (pergunakan jamban sehat rakyat
aman)

STAFF PUSKESMAS TAMPO sebagai motor penggerak dan tim supervisi


dalam pelaksanaan program inovasi PUJASERA sehingga percepatan program
desa ODF segera terwujud.

KEPALA UPTD PENDIDIKAN sebagai mitra kerja terbentuknya kader


PUJASERA di sekolah-sekolah.

CAMAT sebagai kepala wilayah bertanggung jawab langsung kepada


masyarakat dalam pemecahan permasalahan, juga pemantapan kepada
masyarakat dengan membuat kesepakatan kepemilikan jamban lewat individu
dan kelompok. Saat diadakan pemicuan camat langsung mendata masyarakat
yang belum memiliki jamban kapan waktu membuat jamban dan solusi apa
yang diambil antara pinjam PNPM MANDIRI PEDESAAN, arisan jamban,
atau biaya sendiri.

KEPALA DESA sebagai pemangku wilayah tingkat desa, bertanggung jawab


langsung atas keberhasilan dan keberlanjutan program dengan membentuk
satgas ODF.

DINAS PENGAIRAN sebagai penanggung jawab kelangsungan kebersihan


lingkungan sungai dengan membongkar tempat-tempat BAB di sungai dan
menancapkan banner-banner bersama dengan kader PUJASERA.

RADIO sebagai media promosi kesehatan yang dilakukan oleh petugas


kesehatan/kader PUJASERA setiap seminggu sekali.

JAWA POS sebagai media promosi yang memuat masalah kesehatan yang
diterbitkan setiap hari selasa.
PNPM MANDIRI PEDESAAN sebagai mitra kerja penyedia dana pinjaman
lunak dan tim supervisi, TOKO BANGUNAN sebagai penyedia bahan untuk
pembuatan jamban sehat.

TOKOH AGAMA DAN TOKOH MASYARAKAT dalam wadah kader


PUJASERA sebagai ujung tombak terdepan dalam pendampingan pembuatan
jamban sehat.

6. SUMBER DAYA APA SAJA YANG DIGUNAKAN DALAM INISIATIF INI


DAN BAGAIMANA SUMBER DAYA INI DI MOBILISASI
SUMBER DAYA KEUANGAN :
PNPM MANDIRI PEDESAAN memberikan pinjaman lunak berupa uang
kepada masyarakat miskin sebesar Rp. 1.200.000 per KK x 125 KK= Rp.
150.000.000

Dana BOK meliputi :


Program kesehatan lingkungan sebesar Rp.10.890.000
Dana kader PUJASERA saat melakukan pendampingan pembuatan jamban
sebesar Rp.720.000

Dana supervisi dan advokasi sebesar Rp. 720.000


ATK dan materi sebesar Rp. 938.000
Penggandaan sebesar Rp. 520.000
Dermawan menyumbang closet kepada fakir miskin sebanyak 100 closet @ Rp
150.000 = Rp. 15.000.000
Melalui arisan jamban setiap 1 minggu sekali sebanyak 360 jamban x Rp.
1.200.000=Rp. 432.000.000

Tabel 1 Dana :
Sumber dana Tahun 2013 Tahun 2014 Tahun 2015

Dana BOK Rp. 5.500.000 Rp. 7.700.000 Rp. 13.788.000

Dana PNPM Rp.150.000.000


mandiri pedesaan

Dana dermawan Rp. 15.000.000

Dana arisan Rp. 96.000.000 Rp. 432.000.000


jamban
SUMBER DAYA MANUSIA
Karyawan puskesmas Tampo sebagai motor penggerak program Sebanyak 40
orang.

Kader PUJASERA sebagai pendamping pembuatan jamban sehat sebanyak 15


orang.

Komunitas jamban sehat melakukan gotong royong dalam pembuatan jamban


sebanyak 12 orang.

Dinas pengairan sebagai motor penggerak pembongkaran tempat BAB di sungai


sebanyak 10 orang.

Dinas pendidikan sebagai penanggung jawab kader PUJASERA di sekolah-


sekolah sebanyak 26 orang.

Dinas kesehatan sebagai tim supervisi keberhasilan program tingkat kabupaten


sebanyak 4 orang.

Kepala desa sebagai penanggungjawab keberhasilan program tingkat desa


sebanyak 4 orang.

SUMBER DAYA TEKNIS

1Perangkat lunak untuk pembuatan data

1 Sepeda motor sebagai transportasi kewilayah

1 Ambulance sebagai transportasi utama program kesehatan lingkungan

7. APA SAJA KELUARAN (OUTPUT) YANG PALING BERHASIL

Terwujudnya 2 desa ODF dari 4 desa yang ada di wilayah puskesmas tampo. dan
target tahun 2016, empat desa di wilayah puskesmas tampo sudah ODF.

Terbitnya SK kepala puskesmas tentang kader PUJASERA


Dengan NO 440/40/429.114.29/2014. Yang berisi tentang tugas pokok kader
PUJASERA sebagai ujung tombak terdepan terutama dalam pendampingan
pembuatan jamban sehat .
MENINGKATNYA KEPEMILIKAN JAMBAN SEHAT. Jamban sehat merupakan
suatu bangunan yang di gunakan untuk membuang dan mengumpulkan kotoran
manusia dalam suatu tempat tertentu. Data kepemilikan jamban dari 8.045 KK,
memiliki jamban 1.034 KK meningkat menjadi 5.025 KK, belum memiliki jamban
dari 6.011 KK menjadi 3.020 KK.

Terbitnya SK kepala desa tentang satgas ODF dengan NO 440/171/429.114.29/2014.


Yang berisi tentang tugas pokok satgas ODF sebagai pengawas keberhasilan dan
keberlanjutan program

ADANYA KLINIK SANITASI diterbitkan oleh kepala puskesmas yang di perkuat


oleh SK kepala puskesmas tampo Dengan NO 440.01/40/429.114.29/2014 yang berisi
tentang pemberantasan penyakit lingkungan melalui upaya promotif dan preventif
yang dilakukan secara terpadu, terarah tersusun secara terus menerus.

Menurunnya angka kesakitan yang disebabkan oleh penyakit lingkungan jelek dari
35% menjadi 18%. Diare dari 28,2% menjadi 12 %, typiid dari 8,7% minjadi 3,8%,
DHF dari 0,25% menjadi 0,10%, influenza dari 10,3% menjadi 8,5%.

8. SISTEM YANG DITERAPKAN UNTUK MEMANTAU KEMAJUAN DAN


EVALUASI KEGIATAN

Melalui LOKAKARYA MINI bulanan, tribulanan, semester dan tahunan di


puskesmas. Dilakukan dengan cara kepala puskesmas mengumpulkan seluruh
pemangku program untuk mengevaluasi pencapaian dan permasalahan yang
ditemukan dari masing-masing pemangku Program. Memprioritaskan masalah
dilanjutkan dengan diskusi pemecahan/ pembahasan. Dari pemecahan ini ditemukan
solusi yang disepakati dan sebagai target pencapaian pada evaluasi berikutnya.

Melalui LOKAKARYA MINI LINTAS SEKTOR. Evaluasi ini dilakukan 3 kali


dalan setahun dengan cara kepala puskesmas mengundang semua pemangku
kepentingan (Dinas kesehatan, kecamatan, dinas pendidikan, Saka Bakti Husada,
dinas pengairan, satgas jeruk, satgas ODF, kader PUJASERA, PNPM Mandiri, toko
bangunan, Seluruh karyawan/ karyawati puskesmas Tampo, Tokoh masyarakat dan
Tokoh agama) berkumpul disuatu ruangan untuk melakukan evaluasi. Kepala
puskesmas memaparkan pencapaian sesuai target dan permasalahan. Prioritas
masalah diambil kemudian dipecahkan dalam forum diskusi untuk mencapai suatu
kesepakatan yang sinergitas.

Monitoring oleh dinas pengairan terkait kebersihan lingkungan sungai dengan cara
mengajak masyarakat desa khususnya yang bertempat tinggal di sepanjang bantaran
sungai untuk membongkar tempat – tempat BAB, tidak membuang sampah organik
dan non organik agar kebersihan ekosistem sungai terjaga.
Monitoring dari PNPM Mandiri pedesaan yang terkait pinjaman dana pembuatan
jamban. Dengan pembangunan jamban yang di utamakan adalah masyarakat miskin
sehingga dapat membangun jamban sehat yang mendapatkan dana dari PNPM
mandiri yang proses pengambilan dana dari kepala desa.

Monitoring oleh satgas ODF dengan mengawasi keseharian perilaku masyarakat


yang sudah ODF dengan cara berkeliling terutama waktu kebiasaan masyarakat
melakukan aktivitas mandi, cuci, BAB pada pagi hari dan sore hari. Apabila
ditemukan masyarakat yang kembali berperilaku jelek maka akan diberikan teguran
dan pembinaan langsung saat itu juga dengan membuat suatu pernyataan tidak akan
melakukan lagi dan ikut mendukung keberlanjutan program.

Monitoring oleh dinas kesehatan untuk evaluasi keberhasilan program yang


dilakukan dalam bentuk supervisi. Dinas kesehatan menjadwalkan melalui surat
yang ditujukan kepada kepala puskesmas bahwa supervisi dilakukan sesuai jadwal
yang telah ditentukan. Disuatu ruangan semua pemangku program bersama dinas
kesehatan berkumpul. Kepala puskesmas memaparkan keberhasilan dan kendala
yang dihadapi. Dilanjutkan forum diskusi dengan dinas kesehatan untuk mengambil
langkah dalam mengentaskan permasalahan. Dalam supervisi ini dinas kesehatan
juga mengklarifikasi masalah pendanaan program yang diambil dari dana BOK.

9. KENDALA UTAMA YANG DIHADAPI DAN CARA MENGATASI

Pemicuan tidak dapat dilaksanakan pada siang hari, karena melibatkan beberapa
pemangku program inovasi dari berbagai SKPD dan tokoh masyarakat yang sering
bersamaan kegiatannya, selain itu sebagian masyarakat pada siang hari rata-rata
bekerja sebagai petani, sehingga harus dilaksanakan diluar jam kerja(malam hari).

Tidak adanya tenaga sanitasi sehingga harus mengoptimalkan tenaga perawat.


Dengan mengirim ke dinas kesehatan untuk mengikuti pelatihan tentang kesehatan
lingkungan yang meliputi pemberdayaan masyarakat, lima pilar STBM , teknik
pembuatan jamban sehat, teknik pengelolaan sampah yang benar, teknik pengolahan
makanan dan kantin sehat, juga pengelolaan air bersih dan teknik pemberian
penyuluhan.

Masyarakat sulit meninggalkan kebiasaan BAB di sungai karena faktor kebiasaan


dan budaya, walaupun sudah memiliki jamban, untuk itu perlu pendekatan lebih ke
individu dengan memberikan beberapa dampak yang bisa terjadi secara nyata.

Kemiskinan salah satu penghambat keberhasilan program pemberdayaan, pikiran


mereka langsung tertuju berupa bantuan, sehingga harus ada langkah kongkrit untuk
penyelesaian melalui inovasi pujasera dengan pinjaman dana dari PNPM MANDIRI
PEDESAAN dan arisan jamban yang langsung menyelesaikan permasalahan.
Adanya keragu – raguan dari pemangku program yang terlibat bahwa inovasi ini
tidak akan berhasil, sehingga untuk lebih memantapkan kepada masyarakat bahwa
program ini betul – betul berhasil diadakan kampanye ODF dan penancapan banner
– banner di tempat yang strategis sebelum deklarasi di laksanakan.

CAKUPAN KUNJUNGAN KESEHATAN LINGKUNGAN SANGAT RENDAH


karena belum adanya klinik sanitasi di puskesmas tampo. Untuk itu dalam program
inovasi ini sebagai tindak lanjut disediakan sebuah ruangan yang merupakan suatu
wahana untuk mengatasi masalah kesehatan masayarakat melalui upaya terintegrasi
antara kesehatan lingkungan, pemberantasan penyakit dengan bimbingan,
penyuluhan, dan bantuan teknis dari petugas puskesmas. Klinik sanitasi bukan
sebagai unit pelayanan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian terintegrasi dari
puskesmas, bekerjasama dengan program yang lain dari sektor terkait.

D. DAMPAK DAN BERKELANJUTAN

10. MANFAAT UTAMA SETELAH DILAKSANAKAN INOVASI PUJASERA

.” PERUBAHAN PERILAKU” masyarakat dari kebiasaan BAB di sungai beralih


ke jamban sehat. Perubahan ini di respon karena masyarakat memberi penilaian
positif pada terobosan inovasi PUJASERA dengan segala langkah strategi dan
pelaksanaannya. Evaluasi di lakukan dengan mengawasi kebiasaan perilaku
masyarakat sehari – hari oleh satgas ODF.

MENURUNNYA ANGKA KESAKITAN yang ditimbulkan oleh lingkungan


jelek dihitung dari jumlah seluruh kunjungan yang ada. Data penyakit setelah
adanya inovasi PUJASERA. Diare dari 28,2% menjadi 14%, Thypoid dari 8,7%
menjadi 3,8%, DHF 0,25% menjadi 0,10%, Influeza dari 10,3% menjadi 8,5%.
Evaluasi dapat dilakukan melalui kunjungan klinik sanitasi.

Masyarakat miskin bisa memiliki jamban sehat dengan mudah tanpa melalui
prosedur yang rumit.

Pelayanan kesehatan di puskesmas lebih optimal dengan adanya klinik sanitasi.


Penyakit yang disebabkan oleh lingkungan ditangani secara paripurna oleh
petugas sanitarian. (Meningkatnya kunjungan di klinik sanitasi sebelumnya
1,30% menjadi 3,88). 2% dari jumlah penduduk.

Pemicuan kurang menarik dan kurang mengenai sasaran, dengan adanya pujasera
langsung menuju permasalahan dan penyelesaian yang ada di masyarakat. Contoh
kongrit faktor kemiskinan, kesulitan dana dalam pembuatan jamban , di selesaikan
dengan pinjaman lunak PNPM MANDIRI PEDESAAN, arisan jamban sehat.
Faktor pengetahuan rendah dan sosial budaya berhasil diatasi dengan
pendampingan dan pengawasan langsung dari kader PUJASERA dan satgas ODF.

kelompok sosial yang sangat berpengaruh dengan program ini (kelompok


kemiskinan, kelompok pemuda, kelompok perempuan dan kelompok manula)
inovasi PUJASERA dinilai telah berhasil memberi dampak langsung yang
awalnya kemiskinan sebagai penghambat tidak adanya dana bisa diatasi,
kelompok perempuan bisa menjaga harkat martabatnya, kelompok pemuda tidak
merasa malu apabila ada teman yang datang, kelompok manula bisa terhindar dari
bahaya.

Pemicuan yang sebelumnya dilakukan oleh tenaga puskesmas sendiri dengan


adanya inovasi ini, terjalin koordinasi dan sinkronisasi dari seluruh pemangku
kepentingan yang terlibat.

11. APAKAH INISIATIF INI BERKELANJUTAN DAN DIREPLIKASI

Adanya SK Bupati No.188/2399/429.114/2013 tentang percepatan sanitasi total


berbasis masyarakat melalui program Gemari Gunakan jamban (GGJ).

Adanya SK kepala dinas kesehatan kabupaten banyuwangi tahun 2013 sebagai


tindak lanjut SK Bupati, Kepala dinas kesehatan mengharapkan setiap puskesmas
memiliki 1 desa ODF.

Penandatanganan MOU antara Kepala Puskesmas dan Dinas pendidikan untuk


pembentukan kader PUJASERA di sekolah-sekolah. Diharapkan seluruh siswa
dan karyawan menjadi motor penggerak percepatan desa ODF baik dilingkungan
sekolah, lingkungan rumah dan lingkungan masyarakat

Penandatanganan komitmen masyarakat oleh kepala desa melalui deklarasi ODF


Yang bertujuan untuk memberikan pemantapan masyarakat berperilaku hidup
sehat.

Adanya penandatanganan MOU camat dengan PNPM MANDIRI PEDESAAN


untuk memberi pinjaman lunak kepada masyarakat dalam pembuatan jamban.

Adanya kenaikan anggaran dana BOK (bantuan operasional kesehatan) th. 2016
sebesar 100% ini merupakan suatu bentuk bahwa program ini berkelanjutan.

Adanya satgas ODF desa yang diperkuat dengan SK kepala desa bertugas
mengawasi keberhasilan dan keberlanjutan program inovasi.
Adanya perdes sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) meliputi pilar pertama
desa ODF, pilar kedua cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, pilar
ketiga pengolahan makanan dengan memutus mata rantai penyakit, pilar
keempat pengelolaan sampah rumah tangga dengan memisahkan sampah
organik dan non organik.

Direplikasi 2 desa yang akan ODF, desa tampo dan sembulung. Desa ini
merupakan wilayah kerja puskesmas tampo yang penduduknya masih banyak
BAB di sembarang tempat. Di harapkan dengan keberlanjutan program ini dalam
kurun waktu 1 tahun 2 desa tersebut menjadi desa ODF. Sehingga pada tahun
2016 wilayah kerja puskesmas tampo menjadi 100% ODF (Open Defecation
Free)

12. APA SAJA PEMBELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK

Sinergitas dan koordinasi antar sektor sangat menentukan keberhasilan suatu


inisiatif, apabila didukung dengan komitmen, tanggung jawab dan didukung
perencanaan yang matang serta pendanaan yang memadai.

Mengubah perilaku masyarakat, tidak semudah membalikakan telapak tangan,


namun jika masyarakat dapat memperbaiki perilakunya dan dapat bekerja sama
dengan puskesmas maka akan dapat mewujudkan keberhasilan dari program
PUJASERA.

Pemberdayaan tenaga perawat yang di siapkan sebagai tenaga sanitarian


memberikan kemudahan puskesmas untuk melaksankan program kesehatan
lingkungan baik yang formal maupun terobosan – terobosan inovasi secara
optimal.

Masyarakat ikut beperan aktif untuk meningkatkan perilaku hidup bersih dan
sehat. Kesehatan bukan tanggung jawab petugas kesehatan saja tetapi tanggung
jawab seluruh masyarakat untuk melindungi dan mengatasi dirinya sendiri
terutama kesehatan lingkungan.

Adanya KLINIK SANITASI memberikan dampak pelayanan puskesmas lebih


berkualitas . Penyakit yang disebabkan oleh faktor lingkungan di rujuk ke klinik
sanitasi untuk diberikan penyuluhan yang berkaitan dengan penyakitnya.
Sehingga masyarakat sadar akan kesehatan diri sendiri.
keberhasilan pemberdayaan masyarakat memberikan kepuasan tersendiri bagi
tenaga kesehatan dan yang terlibat, Sehingga dapat dijadikan spirit untuk
menangani masalah-masalah yang lain.

Tingkatkan kerja bakti gotong royong membersihkan lingkungan sungai setiap


hari jumat untuk menjaga kelestarian lingkungan sungai dari pencemaran sampah
organik dan non organik.