Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY. R G3P2001Ab0 POST SC HARI KE-


0 ATAS INDIKASI KPD DI RUANG SERUNI NIFAS RUMAH SAKIT
UMUM DAERAH dr. ABDOER RAHEM SITUBONDO

NAMA : INTAN DWI ARINI, S.Kep


NIM : 182311101078

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS JEMBER
2018
PERSETUJUAN

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan pada Ny. R G3P2001Ab0 Post SC


Hari ke-0 atas Indikasi KPD telah dilaksanakan pada tanggal 22 desember 2018 di
Ruang Seruni Nifas RSUD dr. Abdoer Rahem Situbondo

Situbondo, 22 Desember 2018


Pembimbing Ruangan Pembimbing Akademik

Lely Ratnasari, S.Tr.Keb Ns. Dini Kurniawati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.Mat


NIP. 19820201 200604 2 031 NIP. 19820128 200801 2 012

Mengetahui,
Kepala Ruangan

Dina Purwati, S.Tr.Keb


NIP 1980057 200604 2 025
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN POST PARTUM DENGAN
POST SECTIO CAESARIA (SC) KETUBAN PECAH DINI (KPD)
Oleh : Intan Dwi Arini, S.Kep

1. Diagnosa Medis
Post Partum dengan Post Sectio Caesaria (SC) Ketuban Pecah Dini (KPD)

2. Konsep Dasar Nifas


A. Pengertian Nifas
Masa nifas atau post partum disebut juga Puerperium yang berasal dari
bahasa latin yaitu dari kata puer yang berarti bayi dan parous yang berarti
melahirkan. Masa nidas dimulai sejak plasenta lahir dan berakhit ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil (Anggraini, 2010). Masa nifas
atau post partum adalah masa setelah persalinan selesai sampai 6 minggu atau 42
hari. Setelah masa nifas, organ reproduksi secara perlahan akan mengalami
perubahan seperti sebelum hamil. Selama masa nifas perlu mendapat perhatian
lebih dikarenakan angka kematian ibu 60% terjadi pada masa nifas. Dalam angka
kematian ibu (AKI) adalah penyebab banyaknya wanita meninggal dari suatu
penyebab kurangnya perhatian pada wanita post partum (Maritalia, 2012). Periode
nifas disebut juga trimester ke empat kehamilan (Bobak, 2012).

B. Tahapan Masa Nifas


Masa nifas dibagi menjadi tiga tahapan menurut Bobak (2012) yaitu:
1) Puerperium Early : Masa kepulihan waktu 0-24 jam post partum, yakni saat
ibu diperbolehkan berdiri dan berjalanjalan.
2) Puerperium Intermedial : waktu 1-7 hari, masa kepulihan menyeluruh dari
organ-organ genetal kira-kira 6-8 minggu.
3) Remot Puerperium : Waktu 1-6 minggu post partum yang diperlukan untuk
pulih dan sehat sempurna terutama apabila ibu selama hamil (persalinan
mempunyai komplikasi)
C. Perubahan Fisiologis Masa Nifas
Pada masa nifas ini akan terjadi perubahan fisiologi (Bobak, 2012), yaitu:
1) Involusi uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses kembalinya
uterus ke keadaan sebelum hamil. Berdasarkan Suherni dkk (2009) tinggi fundus
uterus dan berat uterus pada masa involusi sebagai berikut:
Involusi Tinggi Fundus Uterus Berat Uterus
Bayi lahir Setinggi pusat 1000 gram
Uri lahir 2 jari di bawah pusat 750 gram
1 minggu Pertengahan pusat simpisis 500 gram
2 minggu Tidak teraba di atas simpisis 350 gram
6 minggu Bertambah kecil 50 gram
8 minggu Sebesar normal 30 gram
Berdasarkan dewi (2013) proses involusi uterus adalah sebagai berikut:
a. Iskemia miometrium disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus
menerus
b. Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di
dalam otot uterus
c. Efek oksitosin yang menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot
uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan
berkurangnya suplai darah ke uterus.
2) Involusi tempat plasenta
Segera setelah plasenta dan ketuban dikeluarkan maka akan terjadi konstriksi
vaskuler dan thrombosis. Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat
dengan permukaan kasar, tidak rata, dan kira-kira sebesar telapak tangan. Luka
ini akan cepat mengecil pada akhir minggu ke 2 sebesar 3-4 cm dan pada akhir
masa nifas 1-2 cm.
3) Serviks (mulut rahim)
Serviks menjadi lunak segera setelah ibu melahirkan 18 jam setelah post
partum, serviks memendek dan konsistensinya menjadi padat dan kembali ke
bentuk semula
4) Lochea
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai
reaksi basa dan lochea mempunyai bau yang amis meskipun tidak terlalu
menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. Komposisi lochea
adalah jaringan endometrial, darah dan lifme. Lochea mengalami perubahan
karena proses involusi, tahap lochea yaitu:
a. Rubra (merah)
Lochea muncul pada hari pertama hingga hari ke tiga masa post partum.
Warnanya merah dan mengandung darah dari luka pada plasenta.
b. Sanguinolenta (merah kuning)
Lochea ini berwarna merah kuning berisi darah dan lendir, pengeluaran pada
hari ketiga sampai kelima post partum.
c. Serosa (pink kecoklatan)
Lochea ini muncul pada hari kelima sampai kesembilan. Warnanya
kekuningan atau kecoklatan, terdiri atas sedikit darah dan lebih banyak
serum.
d. Alba (kuning-putih)
Terjadi pada 10-14 hari, warnanya lebih pucat, putih kekuningan, lebih
banyak mengandung leukosit, selaput lendir serviks, dan serabut jaringan
yang mati.
5) Siklus menstruasi
Siklus mentruasi pad aibu menyusui dimulai 12-18 minggu post partum.
Menstruasi pada ibu post partum tergantung hormon prolaktin. Apabila ibu tidak
menyusui mentruasi mulai pada minggu 5-8 minggu.
6) Perubahan pembuluh darah rahim
Dalam keadaan hamil mempunyai pembuluh-pembuluh darah yang besar,
tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan bagi peredaran darah yang
banyak, maka arteri tersebut harus mengecil lagi saat nifas.
7) Dinding perut dan peritonium
Setelah persalinan dinding perut menjadi longgar karena teregang begitu
lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.
8) Nyeri setelah persalinan
Setelah persalinan uterus tetap berkontraksi dengan kuat pada interval tertentu
dan menimbulkan nyeri, yang mirip dengan pada masa persalinan namul lebih
rinan.
9) Laktasi
Keadaan payudara pada dua hari pertama nifas sama dengan keadaan dalam
masa kehamilan yang belum mengandung susu melainkan colostrum. Colostrum
adalah cairan kuning yang mengandung banyak protein dan garam.

D. Adaptasi Psikologis Ibu


Berdasarkan Bobak (2012) banyak wanita merasa tertekan pada saat setelah
melahirkan. Perubahan peran seorang ibu memerlukan adaptasi yang harus
dijalani. Tanggung jawab menjadi seorang ibu semakin besar dengan lahirnya
bayi yang baru lahir. Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan ibu mengalami
fase-fase sebagai berikut:
1) Fase Taking in (0 – 2 hari)
Fase ini merupakan periode ketergantungan yang berlangsung pada hari
pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat ini fokus perhatian
pada diri sendiri. Gangguan fisiologis yang mungkin dirasakan ibu pada fase
ini:
a. Kekecewaan karena tidak mendapatkan apa yang diinginkan tentang
bayinya
b. Ketidaknyamanan sebagai akibat perubahan fisik, misalnya rasa mulas dan
payudara bengkak
c. Rasa bersalah karena belum bisa menyusui bayinya
d. Suami atau keluarga yang mengkritik ibu tentang cara merawat bayinya
dan cenderung melihat saja tanpa membantu.
2) Taking hold (hari 3 – minggu ke 5)
Fase taking hold adalah periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah
melahirkan. Pada fase ini ibu merasa kawatir atas ketidakmampuannya dan
rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Ibu memiliki perasaan yang
sangat sensitif sehingga mudah tersinggung dan gampang marah. Tugas
sebagai tenaga kesehatan adalah mengajarkan cara merawat bayi, cara
menyusui yang benar, cara merawat luka jahitan, mengajarkan senam nifas,
memberikan pendidikan kesehatan yang diperlukan ibu.
3) Letting go (minggu ke 5 – 8)
Fase letting go merupakan fase menerima tanggung jawab akan peran
barunya yang berlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat
menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya, serta kepercayaan dirinya
sudah meningkat. Pendidikan yang kita berikan pada fase sebelumnya akan
bermanfaat bagi ibu. Ibu lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan diri dan
bayinya. Dukungan dari suami dan keluarga masih sangat diperlukan ibu.
Suami dan keluarga dapat membantu dalam merawat bayi, mengerjakan
urusan rumah tangga sehingga tidak terlalu terbebani.

E. Komplikasi
1) Perdarahan post partum (apabila kehilangan darah lebih dari 500 mL selama
24 jam pertama setelah kelahiran bayi)
2) Infeksi
a. Endometritis (radang edometrium)
b. Miometritis atau metritis (radang otot-otot uterus)
c. Perimetritis (rad ang peritoneum disekitar uterus)
d. Caked breast / bendungan asi (payudara mengalami distensi, menjadi
keras dan berbenjol-benjol)
e. Mastitis (Mamae membesar dan nyeri dan pada suatu tempat, kulit merah,
membengkak sedikit, dan nyeri pada perabaan. Jika tidak ada pengobatan
bisa terjadi abses)
f. Trombophlebitis (terbentuknya pembekuan darah dalam vena varicose
superficial yang menyebabkan stasis dan hiperkoagulasi pada kehamilan
dan nifas, yang ditandai dengan kemerahan atau nyeri.)
g. Luka perineum (Ditandai dengan : nyeri local, disuria, temperatur naik
38,3 °C, nadi < 100x/ menit, edema, peradangan dan kemerahan pada
tepi, pus atau nanah warna kehijauan, luka kecoklatan atau lembab,
lukanya meluas)
3) Gangguan psikologis
a. Depresi post partum
b. Post partum Blues
c. Post partum Psikosa
4) Gangguan involusi uterus

F. Penatalaksanaan
1) Observasi ketat 2 jam post partum (adanya komplikasi perdarahan)
2) 6-8 jam pasca persalinan : istirahat dan tidur tenang, usahakan miring kanan
kiri
3) Hari ke- 1-2 : memberikan KIE kebersihan diri, cara menyusui yang benar
dan perawatan payudara, perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas,
pemberian informasi tentang senam nifas.
4) Hari ke- 2 : mulai latihan duduk
5) Hari ke- 3 : diperkenankan latihan berdiri dan berjalan

3. Konsep Dasar Sectio Caesaria (SC)


A. Pengertian Sectio Caesaria
Sectio caesaria adalah suatu persalinan buatan dimana janin dilahirkan
melalui suatu insisi pada dinding depan perut dan dinding rahim dengan syarat
rahim dalam keadaan utuh serta berat janin di atas 500 gram (Sarwono, 2011).
B. Tujuan Sectio Caesarea
Tujuan melakukan sectio caesarea (SC) adalah untuk mempersingkat lamanya
perdarahan dan mencegah terjadinya robekan serviks dan segmen bawah rahim.
Sectio caesarea dilakukan pada plasenta previa totalis dan plasenta previa lainnya
jika perdarahan hebat. Selain dapat mengurangi kematian bayi pada plasenta
previa, sectio caesarea juga dilakukan untuk kepentingan ibu, sehingga sectio
caesarea dilakukan pada placenta previa walaupun anak sudah mati.
C. Etiologi
Berdasarkan Manuaba (2012) indikasi ibu dilakukan sectio caesarea adalah
ruptur uteri iminen, perdarahan antepartum, ketuban pecah dini. Indikasi dari
janin adalah fetal distres dan janin besar melebihi 4.000 gram. Dari beberapa
faktor sectio caesarea diatas dapat diuraikan beberapa penyebab sectio caesarea
sebagai berikut:
1) CPD ( Chepalo Pelvik Disproportion )
Chepalo Pelvik Disproportion (CPD) adalah ukuran lingkar panggul ibu tidak
sesuai dengan ukuran lingkar kepala janin yang dapat menyebabkan ibu tidak
dapat melahirkan secara alami. Tulang-tulang panggul merupakan susunan
beberapa tulang yang membentuk rongga panggul yang merupakan jalan yang
harus dilalui oleh janin ketika akan lahir secara alami. Bentuk panggul yang
menunjukkan kelainan atau panggul patologis juga dapat menyebabkan kesulitan
dalam proses persalinan alami sehingga harus dilakukan tindakan operasi.
Keadaan patologis tersebut menyebabkan bentuk rongga panggul menjadi
asimetris dan ukuran-ukuran bidang panggul menjadi abnormal.
2) PEB (Pre-Eklamsi Berat)
Pre-eklamsi dan eklamsi merupakan kesatuan penyakit yang langsung
disebabkan oleh kehamilan, sebab terjadinya masih belum jelas. Setelah
perdarahan dan infeksi, pre-eklamsi dan eklamsi merupakan penyebab kematian
maternal dan perinatal paling penting dalam ilmu kebidanan. Karena itu diagnosa
dini amatlah penting, yaitu mampu mengenali dan mengobati agar tidak berlanjut
menjadi eklamsi.
3) KPD (Ketuban Pecah Dini)
Ketuban pecah dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda
persalinan dan ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian besar ketuban
pecah dini adalah hamil aterm di atas 37 minggu, sedangkan di bawah 36 minggu.
Ketuban dinyatakan pecah dini bila terjadi sebelum proses persalinan
berlangsung. Ketuban pecah dini merupakan masalah penting dalam obstetric
berkaitan dengan penyulit kelahiran premature dan terjadinya infeksi
khoriokarsinoma sampai sepsis, yang meningkatkaan morbiditas dan mortalitas
perinatal dan menyebabkan infeksi ibu. Penatalaksanaan sectio cesaria pada
pasien yang mengalami KPD bila ketuban pecah kurang dari 5 jam dan skor
pelvik kurang dari 5.
4) Bayi Kembar
Tidak selamanya bayi kembar dilahirkan secara caesar. Hal ini karena kelahiran
kembar memiliki resiko terjadi komplikasi yang lebih tinggi daripada kelahiran satu
bayi. Selain itu, bayi kembar pun dapat mengalami sungsang atau salah letak lintang
sehingga sulit untuk dilahirkan secara normal.
5) Faktor Hambatan Jalan Lahir
Adanya gangguan pada jalan lahir, misalnya jalan lahir yang tidak
memungkinkan adanya pembukaan, adanya tumor dan kelainan bawaan pada
jalan lahir, tali pusat pendek dan ibu sulit bernafas.
6) Letak Sungsang
Letak sungsang merupakan keadaan dimana janin terletak memanjang dengan
kepala difundus uteri dan bokong berada di bagian bawah kavum uteri. Dikenal
beberapa jenis letak sungsang, yakni presentasi bokong, presentasi bokong kaki,
sempurna, presentasi bokong kaki tidak sempurna dan presentasi kaki (Saifuddin,
2010).
7) Kelainan Letak lintang
Letak Lintang ialah jika letak anak di dalam rahim sedemikian rupa hingga
paksi tubuh anak melintang terhadap paksi rahim. Sesungguhnya letak lintang

sejati (paksi tubuh anak tegak lurus pada paksi rahim dan menjadikan sudut 90o)

jarang sekali terjadi. (Eni Nur Rahmawati, 2011) Pada letak Lintang, bahu
biasanya berada diatas pintu atas panggul sedangkan kepala terletak pada salah
satu fosa iliaka dan bokong pada fosa iliaka yang lain. Pada keadaan ini, janin
biasa berada pada presentase bahu/ akromion. (Icesmi Sukarni, 2013).

D. Jenis-Jenis Sectio cesaria


1) Sectio cesaria transperitonealis profunda
Sectio cesaria transperitonealis profunda dengan insisi di segmen bawah
uterus. insisi pada bawah rahim, bisa dengan teknik melintang atau
memanjang. Keunggulan pembedahan ini adalah:
a. Pendarahan luka insisi tidak seberapa banyak.
b. Bahaya peritonitis tidak besar.
c. Perut uterus umumnya kuat sehingga bahaya ruptur uteri dikemudian hari
tidak besar karena pada nifas segmen bawah uterus tidak seberapa
banyak mengalami kontraksi seperti korpus uteri sehingga luka dapat
sembuh lebih sempurna.
2) Sectio caesaria klasik atau section cecaria korporal
Pada cectio cesaria klasik ini di buat kepada korpus uteri, pembedahan ini
yang agak mudah dilakukan,hanya di selenggarakan apabila ada halangan
untuk melakukan section cacaria transperitonealis profunda. Insisi
memanjang pada segmen atas uterus.
3) Sectio caesaria ekstra peritoneal
Section cacaria eksrta peritoneal dahulu di lakukan untuk mengurangi bahaya
injeksi perporal akan tetapi dengan kemajuan pengobatan terhadap injeksi
pembedahan ini sekarang tidak banyak lagi di lakukan. Rongga peritoneum
tak dibuka, dilakukan pada pasien infeksi uterin berat.
4) Section caesaria hysteroctomi
Setelah sectio cesaria, dilakukan histeroktomi dengan indikasi:
a. Atonia uteri
b. Plasenta accrete
c. Myoma uteri
d. Infeksi intra uteri berat
E. Penatalaksanaan Medis Post SC
Berdasarkan Manuaba (2012) penatalaksanaan pasien post SC sebagai berikut
1. Pemberian cairan
Karena 24 jam pertama penderita puasa pasca operasi, maka pemberian
cairan per-intravena harus cukup banyak dan mengandung elektrolit
agar tidak terjadi hipotermi, dehidrasi, atau komplikasi pada organ
tubuh lainnya. Cairan yang biasa diberikan biasanya DS 10%, garam
fisiologi dan RL secara bergantian dan jumlah tetesan tergantung
kebutuhan. Bila kadar Hb rendah diberikan transfusi darah sesuai
kebutuhan.
2. Diet
Pemberian cairan perinfus biasanya dihentikan setelah penderita flatus
lalu dimulailah pemberian minuman dan makanan peroral. Pemberian
minuman dengan jumlah yang sedikit sudah boleh dilakukan pada 6 -
10 jam pasca operasi, berupa air putih dan air teh.
3. Mobilisasi
Mobilisasi dilakukan secara bertahap meliputi:
a. Miring kanan dan kiri dapat dimulai sejak 6 - 10 jam setelah
operasi
b. Latihan pernafasan dapat dilakukan penderita sambil tidur
telentang sedini mungkin setelah sadar
c. Hari kedua post operasi, penderita dapat didudukkan selama 5
menit dan diminta untuk bernafas dalam lalu menghembuskannya.
d. Kemudian posisi tidur telentang dapat diubah menjadi posisi
setengah duduk (semifowler)
e. Selanjutnya selama berturut-turut, hari demi hari, pasien dianjurkan
belajar duduk selama sehari, belajar berjalan, dan kemudian
berjalan sendiri pada hari ke-3 sampai hari ke5 pasca operasi.
4. Kateterisasi
Kandung kemih yang penuh menimbulkan rasa nyeri dan tidak enak
pada penderita, menghalangi involusi uterus dan menyebabkan
perdarahan. Kateter biasanya terpasang 24 - 48 jam / lebih lama lagi
tergantung jenis operasi dan keadaan penderita.
5. Pemberian obat-obatan
1) Antibiotik
Cara pemilihan dan pemberian antibiotic sangat berbeda-beda setiap
institusi
2) Analgetik dan obat untuk memperlancar kerja saluran pencernaan
a) Supositoria = ketopropen sup 2x/24 jam
b) Oral = tramadol tiap 6 jam atau paracetamol
c) Injeksi = penitidine 90-75 mg diberikan setiap 6 jam bila perlu
3) Obat-obatan lain
Untuk meningkatkan vitalitas dan keadaan umum penderita dapat
diberikan caboransia seperti neurobian I vit. C
4) Perawatan luka
Kondisi balutan luka dilihat pada 1 hari post operasi, bila basah dan
berdarah harus dibuka dan diganti
5) Perawatan rutin
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam pemeriksaan adalah suhu, tekanan
darah, nadi,dan pernafasan.

F. Komplikasi
a. Infeksi Puerperalis
b. Perdarahan
c. Luka kandung kemih
d. Embolisme paru - paru
e. Suatu komplikasi yang baru kemudian tampak ialah kurang kuatnya
perut pada dinding uterus

4. Konsep Dasar Ketuban Pecah Dini (KPD)


A. Pengertian KPD
KPD adalah pecahnya ketuban sebelum waktu melahirkan yang terjadi pada
saat akhir kehamilan maupun jauh sebelumnya (Nugroho, 2012). Ketuban pecah
dini adalah pecahnya ketuban sebelum terdapat tanda-tanda persalinan mulai dan
ditunggu satu jam belum terjadi inpartu. Sebagian ketuban pecah dini terjadi pada
kehamilan aterm lebih dari 37 minggu sedangkan kurang dari 36 minggu tidak
terlalu banyak (Manuaba, 2012). KPD didefinisikan sesuai dengan jumlah jam
dari waktu pecah ketuban sampai awitan persalinan yaitu interval periode laten
yang dapat terjadi kapan saja dari 1-12 jam atau lebih. Insiden KPD banyak terjadi
pada wanita dengan serviks inkopenten, polihidramnion, malpresentasi janin,
kehamilan kembar, atau infeksi vagina (Helen, 2008). Dari beberapa definisi KPD
di atas maka dapat disimpulkan bahwa KPD adalah pecahnya ketuban sebelum
terdapat tanda tanda persalinan.

B. Penyebab KPD
Penyebab KPD menurut Manuaba (2012); Morgan (2009) meliputi antara lain:
1) Serviks inkompeten 8) Faktor yang berhubungan dengan
2) Faktor keturunan berat badan sebelum dan selama
3) Pengaruh dari luar yang hamil
melemahkan ketuban (infeksi 9) Merokok selama kehamilan
genetalia) 10) Usia ibu yang lebih tua mungkin
4) Overdistensi uterus menyebabkan ketuban kurang
5) Malposisi atau malpresentase kuat dari pada usia muda
janin 11) Riwayat hubungan seksual baru-
6) Faktor yang menyebabkan baru ini
kerusakan serviks 12) Paritas
7) Riwayat KPD sebelumnya dua 13) Anemia
kali atau lebih 14) Keadaan sosial ekonomi.

C. Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Ketuban Pecah Dini (KPD)


Menurut Morgan (2009), Kejadian Pecah Dini (KPD) dapat disebabkan oleh
beberapa faktor meliputi :
1) Usia
Karakteristik pada ibu berdasarkan usia sangat berpengaruh terhadap
kesiapan ibu selama kehamilan maupun menghadapi persalinan. Usia untuk
reproduksi optimal bagi seorang ibu adalah antara umur 20-35 tahun. Di bawah
atau di atas usia tersebut akan meningkatkan resiko kehamilan dan persalinan.
2) Sosial ekonomi (Pendapatan)
Pendapatan merupakan faktor yang menentukan kualitas dan kuantitas
kesehatan di suatu keluarga. Pendapatan biasanya berupa uang yang
mempengaruhi seseorang dalam memenuhi kehidupan hidupnya. Pendapatan
yang meningkat merupakan kondisi yang menunjang bagi terlaksananya status
kesehatan seseorang. Rendahnya pendapatan merupakan rintangan yang
menyebabkan seseorang tidak mampu memenuhi fasilitas kesehatan sesuai
kebutuhan.
3) Paritas
Paritas adalah banyaknya anak yang dilahirkan oleh ibu dari anak pertama
sampai dengan anak terakhir. Adapun pembagian paritas yaitu primipara,
multipara, dan grande multipara. Wanita yang telah melahirkan beberapa kali dan
pernah mengalami KPD pada kehamilan sebelumnya serta jarak kelahiran yang
terlampau dekat diyakini lebih beresiko akan mengalami KPD pada kehamilan
berikutnya (Helen, 2008).
4) Anemia
Anemia pada kehamilan adalah anemia karena kekurangan zat besi. Jika
persediaan zat besi minimal, maka setiap kehamilan akan mengurangi persediaan
zat besi tubuh dan akhirnya menimbulkan anemia. Pada kehamilan relatif terjadi
anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodelusi atau pengenceran dengan
peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32
sampai 34 minggu. Pada ibu hamil yang mengalami anemia biasanya ditemukan
ciri-ciri lemas, pucat, cepat lelah, mata berkunang-kunang. Pemeriksaan darah
dilakukan minimal dua kali selama kehamilan yaitu pada trimester pertama dan
trimester ke tiga. Dampak anemia pada janin antara lain abortus, terjadi kematian
intrauterin, prematuritas, berat badan lahir rendah, cacat bawaan dan mudah
infeksi. Pada ibu, saat kehamilan dapat mengakibatkan abortus, persalinan
prematuritas, ancaman dekompensasikordis dan ketuban pecah dini. Pada saat
persalinan dapat mengakibatkan gangguan his, retensio plasenta dan perdarahan
post partum karena atonia uteri (Manuaba, 2012). Berdasarkan hasil pemeriksaan
dapat digolongkan menjadi (1) HB > 11 gr %, tidak anemia, (2) 9-10 gr %
anemia sedang, (3) < 8 gr % anemia berat.
5) Perilaku Merokok
Kebiasaan merokok atau lingkungan dengan rokok yang intensitas tinggi
dapat berpengaruh pada kondisi ibu hamil. Rokok mengandung lebih dari 2.500
zat kimia yang teridentifikasi termasuk karbonmonoksida, amonia, aseton,
sianida hidrogen, dan lain-lain. Merokok pada masa kehamilan dapat
menyebabkan gangguan-gangguan seperti kehamilan ektopik, ketuban pecah dini,
dan resiko lahir mati yang lebih tinggi (Sinclair, 2003).
6) Riwayat KPD
Pengalaman yang pernah dialami oleh ibu bersalin dengan kejadian KPD
dapat berpengaruh besar pada ibu jika menghadapi kondisi kehamilan. Riwayat
KPD sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami ketuban pecah dini kembali.
Wanita yang pernah mengalami KPD pada kehamilan atau menjelang persalinan
maka pada kehamilan berikutnya akan lebih beresiko dari pada wanita yang tidak
pernah mengalami KPD sebelumnya karena komposisi membran yang menjadi
rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada kehamilan berikutnya
(Helen, 2008).
7) Serviks yang inkompetensik
Inkompetensia serviks adalah istilah untuk menyebut kelainan pada otot-otot
leher atau leher rahim (serviks) yang terlalu lunak dan lemah, sehingga sedikit
membuka ditengah-tengah kehamilan karena tidak mampu menahan desakan
janin yang semakin besar. Inkompetensia serviks adalah serviks dengan suatu
kelainan anatomi yang nyata, disebabkan laserasi sebelumnya melalui ostium
uteri atau merupakan suatu kelainan kongenital pada serviks yang memungkinkan
terjadinya dilatasi berlebihan tanpa perasaan nyeri dan mules dalam masa
kehamilan trimester kedua atau awal trimester ketiga yang diikuti dengan
penonjolan dan robekan selaput janin serta keluarnya hasil konsepsi (Manuaba,
2012). Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan.
Tekanan intra uterin yang meninggi atau meningkat secara berlebihan dapat
menyebabkan terjadinya ketuban pecah ini misalnya:
a. Trauma; berupa hubungan seksual, pemeriksaan dalam, amniosintesis
b. Gemelli
Kehamilan kembar adalah suatu kehamilan dua janin atau lebih. Pada
kehamilan gemelli terjadi distensi uterus yang berlebihan, sehingga menimbulkan
adanya ketegangan rahim secara berlebihan. Hal ini terjadi karena jumlahnya
berlebih, isi rahim yang lebih besar dan kantung (selaput ketuban ) relatif kecil
sedangkan dibagian bawah tidak ada yang menahan sehingga mengakibatkan
selaput ketuban tipis dan mudah pecah (Saifudin, 2010).

D. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala pada kehamilan yang mengalami KPD adalah keluarnya
cairan ketuban merembes melalui vagina. Aroma air ketuban berbau amis dan
tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau
menetes, dengan ciri pucat dan bergaris warna darah. Cairan ini tidak akan
berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila anda
duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya
mengganjal atau menyumbat kebocoran untuk sementara. Demam, bercak vagina
yang banyak, nyeri perut, denyut jantung janin bertambah cepat merupakan tanda-
tanda infeksi yang terjadi (Manuaba, 2012).

E. Pemeriksaan penunjang
1) Pemeriksaan laboratorium
Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa warna, konsentrasi, bau dan
PHnya.
a. Tes lakmus (tes nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru
menunjukkan adanya air ketuban (alkalis).
b. Mikroskopik (tes pakis), dengan meneteskan air ketuban pada gelas
objek dan dibiarkan kering, pemeriksaan mikroskopik menunjukkan
gambaran daun pakis.
2) Pemeriksaan ultrasonografi (USG)
Pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam
kavum uteri. Pada kasus KPD terlihat jumlah cairan ketuban yang sedikit
(Manuaba, 2012).

F. Komplikasi ketuban pecah Dini


Komplikasi yang biasa terjadi pada KPD meliputi:
1) Mudah terjadinya infeksi intra uterin
2) Partus prematur
3) Prolaps bagian janin terutama tali pusat (Manuaba, 2012).
Terdapat tiga komplikasi utama yang terjadi pada ketuban pecah dini yaitu
1) Peningkatan morbiditas neonatal oleh karena prematuritas
2) Komplikasi selama persalinan dan kelahiran
3) Resiko infeksi baik pada ibu maupun janin, dimana resiko infeksi karena
ketuban yang utuh merupakan barrier atau penghalang terhadap masuknya
penyebab infeksi (Sarwono, 2011).

G. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan KPD memerlukan pertimbangan usia kehamilan, adanya
infeksi pada komplikasi ibu dan janin dan adanya tanda-tanda persalinan.
Penanganan ketuban pecah dini menurut Sarwono (2011), meliputi :
1) Konservatif
a. Pengelolaan konservatif dilakukan bila tidak ada penyulit (baik pada ibu
maupun pada janin) dan harus di rawat dirumah sakit.
b. Berikan antibiotika (ampicilin 4 x 500 mg atau eritromicin bila tidak
tahan ampicilin) dan metronidazol 2 x 500 mg selama 7 hari.
c. Jika umur kehamilan <32-34 minggu, dirawat selama air ketuban masih
keluar, atau sampai air ketuban tidak keluar lagi.
d. Jika usia kehamilan 32-27 minggu, belum in partu, tidak ada infeksi, tes
buss negativ beri deksametason, observasi tanda-tanda infeksi, dan
kesejahteraan janin, terminasi pada kehamilan 37 minggu.
e. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, sudah inpartu, tidak ada infeksi,
berikan tokolitik (salbutamol), deksametason, dan induksi sesudah 24
jam.
f. Jika usia kehamilan 32-37 minggu, ada infeksi, beri antibiotik dan
lakukan induksi.
g. Nilai tanda-tanda infeksi (suhu, leukosit, tanda-tanda infeksi intra uterin).
h. Pada usia kehamilan 32-34 minggu berikan steroid, untuk memicu
kematangan paru janin, dan kalau memungkinkan periksa kadar lesitin
dan spingomielin tiap minggu. Dosis betametason 12 mg sehari dosis
tunggal selama 2 hari, deksametason IM 5 mg setiap 6 jam sebanyak 4
kali.
2) Aktif
a. Kehamilan >37 minggu, induksi dengan oksitosin, bila gagal seksio
sesarea. Dapat pula diberikan misoprostol 50 mg intravaginal tiap 6 jam
maksimal 4 kali.
b. Bila ada tanda-tanda infeksi berikan antibiotika dosis tinggi dan
persalinan diakhiri.
c. Bila skor pelvik < 5, lakukan pematangan servik, kemudian induksi. Jika
tidak berhasil, akhiri persalinan dengan seksio sesarea
d. Bila skor pelvik > 5, induksi persalinan, partus pervaginam

H. Patofisiologi
Ketuban pecah dalam persalinan secara umum disebabkan oleh kontraksi
uterus dan pergangan berulang. Selaput ketuban pecah karena pada daerah tertentu
terjadi perubahan biokimia yang menyebabkan selaput ketuban inferior rapuh,
bukan karena seluruh selaput ketuban rapuh. Terdapat keseimbangan antara
sintesis dan degradasi ekstrakseluler matriks. Perubahan struktur, jumlah sel, dan
katabolisme kolagen menyebabkan aktifitas kolagen berubah dan menyebabkan
selaput ketuban pecah. Faktor resiko terjadinya ketuban pecah dini adalah
Berkurangnya asam askorbik sebagai komponen kolagen dan Kekurangan
tembaga serta asam askorbik yang menyebabkan pertumbuhan struktur abnormal
karena adanya aktivitas merokok. Degredasi kolagen di mediasi oleh matriks
metalloproteinase (MMP) yang dihambat oleh inhibitor jaringan spesifik dan
inhibitor protease.
Mendekati waktu persalinan keseimbangan antara MMP dan TIMP-1
mengarah pada degredasi proteolitik dari matriks ekstraseluler dan membrane
janin. Aktifitas degredasi proteolitik ini meningkat menjelang persalinan. Pada
penyakit periodontitis dimana terdapat peningkatan MMP, cenderung terjadi
ketuban pecah dini. Selaput ketuban sangat kuat pada kehamilan muda. Pada
trimester ketiga selaput ketuban mudah pecah. Melemahnya kekuatan selaput
ketuban ada hubungannya dengan pembesaran uterus, kontraksi Rahim, dan
gerakan janin. Pada trimester terakhir terjadi perubahan biokimia pada selaput
ketuban. Pecahnya ketuban pada kehamilan aterm merupakan hal fisiologis.
Ketuban pecah dini pada kehamilan premature disebabkan oleh adanya factor-
faktor eksternal, misalnya infeksi yang menjalar dari vagina. Ketuban pecah dini
premature sering terjadi pada polihidramnion, inkompeten servik, solusio plasenta
(Soewarto, 2014).
5. Clinical Pathway

Gangguan pada kala 1 persalinan

Kanalis servikalis Kelainan letak Infeksi genetalia Serviks Gemeli,


selalu terbuka janin (sungsang) inkompeten hidramnion
akibat kelainan
Bakteri
serviks (abortus Tidak ada bagian Dilatasi Ketengangan
mengeluarkan
dan riwayat terendah yang berlebihan uterus
enzim proteolitik
kuretase menutupi PAP serviks berlebihan
Selaput ketuban
Mudahnya mudah pecah Selaput Serviks tidak
pengeluaran air ketuban bisa menahan
ketuban menonjol dan tekanan
mudah pecah intrauterus

Ketuban Pecah Dini


Ketuban Pecah Dini

Air ketuban terlalu Klien tidak Tidak adanya Kondisi paru-paru


banyak keluar mengetahui penyebab pelindung antara fetus belum matur
KPD daerah luar dan dalam
Distoksia (partus Terjadi rangsangan
kering) Defisien Mudahnya pernafasan
Pengetahuan mikroorganisme
masuk secara asendens
Laserasi pada jalan Aspirasi air dan
Kecemasan ibu pada
lahir lendir ketuban oleh
janin dan dirinya
Risiko infeksi janin
Stimulus nyeri
Ansietas Risiko asfiksia

Nyeri akut

Indikasi Sectio Caesarea Masa nifas


Sectio Caesarea Masa nifas

Perubahan fisiologis Perubahan psikologis


Fisik Psikologis

Ansietas Kontraksi Payudara Taking in Taking hold Letting go


Trauma jaringan uterus
Kondisi ibu Belajar hal Mampu
Nyeri akut Risiko infeksi Peningkatan lemah baru dan menyesuaikan
hormon perubahan diri
progesteron Terfokus signifikan
Adekuat Tidak adekuat dan esterogen pada diri Mandiri
sendiri Butuh
Kontraksi uterus kuat Kontraksi uterus Peningkatan
pengetahuan Kesiapan
lemah prolaktin Butuh meningkatkan
pelayanan menjadi orang
Lochea Involusi Defisiensi
Pembentukan dan tua
pengetahuan
Perdarahan Anomia ASI perlindungan
Kuman mudah Nyeri akut
uteri
berkembang ASI keluar
Defisit
Risiko syok
perawatan
Risiko infeksi Kesiapan peningkatan
diri
pemberian ASI
6. Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian
Dokumentasi pengkajian merupakan catatan hasil pengkajian yang
dilaksanakan untuk mengumpulkan informasi dari pasien, membuat data dasar
tentang pasien dan membuat catatan tentang respon kesehatan pasien.
1) Identitas atau biodata pasien
Meliputi, nama, umur, agama, jenis kelamin, alamat, suku bangsa, status
perkawinan, pekerjaan, pendidikan, tanggal masuk rumah sakit nomor
register , dan diagnosa keperawatan.
2) Keluhan utama
Pada pasien post operasi pasien biasanya mengeluh nyeri
3) Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan dahulu
penyakit kronis atau menular dan menurun seperti jantung, hipertensi,
DM, TBC, hepatitis, penyakit kelamin atau abortus.
b. Riwayat kesehatan sekarang
Riwayat pada saat sebelun inpartu di dapatkan cairan ketuban yang keluar
pervaginan secara sepontan kemudian tidak di ikuti tanda-tanda
persalinan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Adakah penyakit keturunan dalam keluarga seperti jantung, DM, HT,
TBC, penyakit kelamin, abortus, yang mungkin penyakit tersebut
diturunkan kepada pasien.
d. Riwayat psikososial
Riwayat pasien nifas biasanya cemas bagaimana cara merawat bayinya,
berat badan yang semakin meningkat dan membuat harga diri rendah.
4) Pola-pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata leksana hidup sehat
Karena kurangnya pengetahuan pasien tentang ketuban pecah dini, dan
cara pencegahan, penanganan, dan perawatan serta kurangnya mrnjaga
kebersihan tubuhnya akan menimbulkan masalah dalam perawatan
dirinya
b. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Pada pasien nifas biasanaya terjadi peningkatan nafsu makan karena dari
keinginan untuk menyusui bayinya.
c. Pola aktifitas
Pada pasien pos partum pasien dapat melakukan aktivitas seperti
biasanya, terbatas pada aktifitas ringan, tidak membutuhkan tenaga
banyak, cepat lelah, pada pasien nifas didapatkan keterbatasan aktivitas
karena mengalami kelemahan dan nyeri.
d. Pola eleminasi
Pada pasien pos partum sering terjadi adanya perasaan sering /susah
kencing selama masa nifas yang ditimbulkan karena terjadinya odema
dari trigono, yang menimbulkan inveksi dari uretra sehingga sering terjadi
konstipasi karena penderita takut untuk melakukan BAB.
e. Pola istirahat dan tidur
Pada pasien nifas terjadi perubagan pada pola istirahat dan tidur karena
adanya kehadiran sang bayi dan nyeri epis setelah persalinan
f. Pola hubungan dan peran
Peran pasien dalam keluarga meliputi hubungan pasien dengan keluarga
dan orang lain.
g. Pola penagulangan sters
Biasanya pasien sering melamun dan merasa cemas
h. Pola sensori dan kognitif
Pola sensori pasien merasakan nyeri pada prineum akibat luka janhitan
dan nyeri perut akibat involusi uteri, pada pola kognitif pasien nifas
primipara terjadi kurangnya pengetahuan merawat bayinya
i. Pola persepsi dan konsep diri
Biasanya terjadi kecemasan terhadap keadaan kehamilanya, lebih-lebih
menjelang persalinan dampak psikologis pasien terjadi perubahan konsep
diri antara lain dan body image dan ideal diri
j. Pola reproduksi dan sosial
Terjadi disfungsi seksual yaitu perubahan dalam hubungan seksual atau
fungsi dari seksual yang tidak adekuat karena adanya proses persalinan
dan nifas
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Biasanya pada saat menjelang persalinan dan sesudah persalinan pasien
akan terganggu dalam hal ibadahnya karena harus bedres total setelah
partus sehingga aktifitas pasien dibantu oleh keluarganya.
5) Pemeriksaan fisik
a. Kepala
Bagaimana bentuk kepala, kebersihan kepala, kadang-kadang terdapat
adanya cloasma gravidarum, dan apakah ada benjolan
b. Leher
Kadang-kadang ditemukan adanya penbesaran kelenjar tioroid, karena
adanya proses menerang yang salah
c. Mata
Terkadang adanya pembengkakan paka kelopak mata, konjungtiva, dan
kadang-kadang keadaan selaput mata pucat (anemia) karena proses
persalinan yang mengalami perdarahan, sklera kunuing
d. Telinga
Biasanya bentuk telingga simetris atau tidak, bagaimana kebersihanya,
adakah cairan yang keluar dari telinga.
e. Hidung
Adanya polip atau tidak dan apabila pada pos partum kadang-kadang
ditemukan pernapasan cuping hidung
f. Dada
Terdapat adanya pembesaran payu dara, adanya hiper pigmentasi areola
mamae dan papila mamae
g. Abdomen
Pada pasien nifas abdomen kendor kadang-kadang striae masih terasa
nyeri. Fundus uteri 3 jari dibawa pusat.
h. Genitalia
Pengeluaran darah campur lendir, pengeluaran air ketuban, bila terdapat
pengeluaran mekomium yaitu feses yang dibentuk anak dalam kandungan
menandakan adanya kelainan letak anak
i. Anus
Kadang-kadang pada pasien nifas ada luka pada anus karena ruptur
j. Ekstermitas
Pemeriksaan odema untuk mrlihat kelainan-kelainan karena membesarnya
uterus, karenan preeklamsia atau karena penyakit jantung atau ginjal.
k. Muskulis skeletal
Pada pasien post partum biasanya terjadi keterbatasan gerak karena
adanya luka episiotomi
6) Tanda-tanda vital
Apabila terjadi perdarahan pada pos partum tekanan darah turun, nadi cepat,
pernafasan meningkat, suhu tubuh turun.
7) Pada pasien yang mengalami Ketuban Pecah Dini akan ditemukan sebagai
berikut
Penderita merasa basah pada vagina, atau mengeluarkan cairan yang banyak
secara tiba-tiba dari jalan lahir. Cairan berbau khas, dan perlu juga diperhatikan
warna keluarnya cairan tersebut, his belum teratur atau belum ada, belum ada
pengeluaran lendir darah (Nugroho, 2012).
a. Inspeksi
Menurut Prawirohardjo (2014) untuk mengetahui ada tidaknya air ketuban
dapat dicoba dengan menggerakkan sedikit bagian bawah janin atau meminta
pasien batuk atau mengedan. Sedangkan menurut Nugroho (2012)
Pengamatan dengan mata biasa, akan tampak keluarnya cairan dari vagina,
bila ketuban baru pecah dan jumlah air ketuban masih banyak, pemeriksaan
ini akan lebih jelas.
b. Pemeriksaan dengan speculum
Pemeriksaan dengan speculum pada KPD akan tampak keluar cairan dari
ostium uteri eksternum (OUE), kalau belum juga tampak keluar, fundus uteri
ditekan, penderita diminta batuk, mengejan atau mengadakan maneuver
valsava, atau bagian terendah digoyangkan, akan tampak keluar cairan dari
ostium uteri dan terkumpul pada fornik anterior (Nugroho, 2012).
c. Pemeriksaan dalam
Di dalam vagina didapati cairan dan selaput ketuban sudah tidak ada lagi.
Mengenai pemeriksaan dalam vagina dengan toucher perlu dipertimbangkan,
pada kehamilan yang kurang bulan yang belum dalam persalinan tidak perlu
diadakan pemeriksaan dalam, jari pemeriksa akan mengkumulasi segmen
bawah rahim dengan flora vagina yang normal. Mikroorganisme tersebut bisa
dengan cepat menjadi pathogen. Pemeriksaan dalam vagina hanya dilakukan
kalau KPD yang sudah dalam persalinan atau yang dilakukan induksi
persalinan dan dibatasi sedikit mungkin (Nugroho, 2012).

B. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses pembedahan
2. Risiko syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan
3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
4. Difisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan fisik
5. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurang sumber pengetahuan
C. Intervensi Keperawatan
No. Masalah Keperawatan Tujuan & Kriteria Hasil (NOC) Intervensi (NIC)
Pre Operatif
1. Nyeri akut (00132) NOC NIC
Kontrol nyeri (1605) Manajemen nyeri (1400)
Tingkat nyeri (2102) 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi,
Kepuasan klien: manajemen nyeri karakteristik, durasi, dan intensitas nyeri)
(3016) 2. Observasi adanya petunjuk nonverbal nyeri
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 3. Pastikan analgesik dipantau dengan ketat
selama 3x24 jam nyeri akut pada pasien 4. Jelaskan pada pasien terkait nyeri yang dirasakan
dapat berkurang, dengan kriteria hasil: Terapi relaksasi (6040)
1 Mampu mengontrol nyeri (tahu 5. Gambarkan rasional dan manfaat relaksasi seperti nafas
penyebab nyeri, mampu dalam dan musik
menggunakan tehnik 6. Dorong pasien mengambil posisi nyaman
nonfarmakologi untuk mengurangi Pemberian analgesik (2210)
nyeri, mencari bantuan) 7. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan keparahan nyeri
2 Melaporkan bahwa nyeri berkurang sebelum mengobati pasien
dengan menggunakan manajemen 8. Cek adanya riwayat alergi obat
nyeri 9. Cek perintah pengobatan meliputi obat, dosis, dan frekuensi
3 Mampu mengenali nyeri (skala, obat analgesik yang diresepkan
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri)
4 Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang

2. Risiko syok hipovolemik NOC NIC


(00205) Pencegahan syok Pencegahan syok (4260)
Management syok 1. Monitor status sirkulasi (tekanan darah, warna kulit, suhu
Setelah dilakukan tindakan keperawatan kulit, denyut jantung, ritme, nadi perifer, dan CRT)
selama 1x24 jam, resiko infeksi pada 2. Monitor tanda inadekuat oksigenasi jaringan
pasien dapat teratasi, dengan kriteria 3. Monitor input dan output
hasil: 4. Monitor tanda awal syok
1. Irama jantung dalam batas yang 5. Kolaborasi pemberian cairan IV dengan tepat
diharapkan
2. Frekuensi nafas daam batas yang
diharapkan
3. Irama pernafasan dalam batas yang
diharapkan
3. Resiko infeksi (00004) NOC NIC
Keparahan infeksi (0703) Kontrol infeksi (6540)
Kontrol resiko (1902) 1. Bersihkan lingkungan dengan baik setelah dipakai setiap
Setelah dilakukan tindakan keperawatan pasien
selama 3x24 jam, tidak terjadi infeksi 2. Ganti perawatan peralatan setiap pasien sesuai SOP rumah
pada pasien dengan kriteria hasil: sakit
1. Luka tidak berbau busuk 3. Batasi jumlah pengunjung
2. Pasien tidak demam (suhu stabil) 4. Ajarkan cara mencuci tangan
3. Tidak terdapat nanah pada luka Perlindungan infeksi (6550)
4. Pasien dapat mengidentifikasi faktor 5. Monitor adanya tanda dan gejala infeksi
resiko 6. Berikan perawatan kulit yang tepat
5. Mengenali faktor resiko individu Manajemen nutrisi (1100)
7. Tentukan status gizi pasien
8. Identifikasi adanya alergi
Identifikasi resiko (6610)
9. Kaji ulang riwayat kesehatan masa lalu
10. Identifikasi strategi koping yang digunakan
4. Defisit perawatan diri: NOC NIC
mandi (00108) Perawatan diri: mandi (0305) Bantuan perawatan diri: mandi/kebersihan (1801)
Perawatan diri: kebersihan (0301) 1. Fasilitasi pasien untuk menggosok gigi dengan tepat
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2. Fasilitasi pasien untuk seka dengan tepat
selama 2x24 jam diharapkan perawatan 3. Monitor kebersihan kuku
diri pasien: mandi tidak mengalami 4. Monitor integritas kulit
gangguan dengan kriteria hasil: 5. Jaga kebersihan secara berkala
Keluarga mampu melakukan 6. Dukung keluarga berpartisipasi dalam mempertahankan
1. Mencuci tangan pasien kebersihan dengan tepat
2. Membersihkan telinga
3. Menjaga kebersihan untuk
kemudahan bernafas
4. Mempertahankan kebersihan mulut
5. Memperhatikan kuku jari tangan
6. Memperhatikan kuku jari kaki
Mempertahankan kebersihan tubuh
5. Defisiensi pengetahuan NOC NIC
(00126) Pengetahuan: proses penyakit (1803) Pengajaran: individu (5606)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Bina hubungan baik
selama 1x24 jam pasien memiliki 2. Pertimbangan kesiapan pasien untuk belajar
pengetahuan yang baik dengan kriteria 3. Tentukan kemampuan pasien untuk mempelajari informasi
hasil: (tingkat pengetahuan, status fisiologi, kebutuhan dasar yang
1. Memahami karakter spesifik tidak terpenuhi, dan adaptasi terhadap penyakit)
penyakit 4. Berikan lingkungan yang kondusif
2. Memahami faktor penyebab Pengajaran: proses penyakit (5602)
penyakit 5. Kaji tingkat pengetahuan terkait dengan proses penyakit
3. Faktor resiko 6. Jelaskan mengenai penyakit yang dialami
4. Etiologi fisiologi penyakit 7. Jelaskan tanda dan gejala yang umum terjadi pada penyakit
5. Tanda dan gejala penyakit pasien
6. Proses perjalanan penyakit 8. Identifikasi perubahan kondisi fisik pasien
7. Strategi meminimalkan 9. Berikan informasi kepada pasien sesuai dengan yang
perkembangan penyakit dibutuhkan
DAFTAR PUSTAKA

Anggraini Y, 2010. Asuhan Kebidanan Masa Nifas. Yogyakarta : Pustaka.


Bobak, L. J. 2012. Buku Ajar Keperawatan Maternitas Edisi 4. Jakarta: EGC.
Bulechek, G. M., H. K. Butcher, J. M. Dochteman, C. M. Wagner. 2015. Nursing
Interventions Classification (NIC). Edisi 6. Jakarta: EGC.
Bulechek, G. M., H. K. Butcher, J. M. Dochteman, C. M. Wagner. 2015. Nursing
Outcomes Classification (NOC). Edisi 6. Jakarta: EGC.
Dewi, Vivian N.L., dan Sunarsih, T. 2013. Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas.
Jakarta: Salemba Medika. Jakarta: ECG.
Helen. 2008. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi 4. Jakarta: EGC.
Icesmi Sukarni K, MargarethZh. 2013. Buku Ajar Keperawatan.
Maternitas.Yogyakarta: NuhaMedika.
Manuaba. 2012. Buku Ajar Patologi Obstetri untuk Mahasiswa Kebidanan.
Jakarta: EGC
Maritalia, D. 2012. Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Editor Sujono
Riyadi. Yogyakarta: PustakaBelajar.
Morgan. 2009. Obstetri dan Ginekoligi Panduan Praktik. Jakarta: EGC
Nanda Internasional 2015. Diagnosis Keperawatan 2015-2017. Oxford: Willey
Backwell.
Nugroho, T. 2012. Obsgyn: Obstetri dan Ginekologi. Yogyakarta: NuhaMedika.
Saifudin. 2010. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta : Bina Pustak
Sarwono. 2010. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan. Maternal dan
Neonatal. Jakarta : PT Bina Pustaka
Sarwono. 2011. Ilmu Kandungan. Jakarta : PT Bina. Pustaka
Sinclair, C. 2003. Buku Saku Kebidanan. Jakarta: EGC.
Soewarto, S. 2014. Ketuban pecah dini. Edisi ke-4. Jakarta : Penerbit PT. Bina
Pustaka
Wiknjosastro. 2010. Buku panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal, Edisi 1. Cet. 12. Jakarta : Bina Pustaka.

Anda mungkin juga menyukai