Anda di halaman 1dari 83

MAKALAH

BAHAN BANGUNAN
Disusun untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah bahan bangunan

Disusun Oleh:

Ivan Hendri Prasetyo (201410340311127)

SIPIL 1-C

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

2014/2015
KATA PENGANTAR

Syukur, alhamduliillah kehadirat Allah swt yang telah memberikan rahmat serta hidayahnya
sehingga makalah ini dapat terselesaikan tepat waktu. Tidak lupa ucapan terimakasih kepada bapak
andi selaku dosen mata kuliah bahan bangunan yang senantiasa member bimbingan, dan memberi
masukan kepada saya dalam pembuatan makalah ini, serta kepada teman-teman semua yang telah
banyak memberikan motivasi dan dorongan dalam proses penyelesaian makalah ini.

Dalam makalah kali ini saya akan berusaha menyampaikan tentang jenis, ukuran,bentuk,
bahan yang digunakan, proses pembuatan, kegunaan dan kerugian serta penerapannya dalam
lapangan dari beberapa bahan bangunan yang pada umumnya digunakan dalam suatu konstruksi.
Pengetahuan ini sangat penting dimliki guna mempertimbangkan antara anggaran dana dengan
konstruksi bangunan yang akan dibuat.

Saya menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih terdapat beberapa kekurangan.
Kritik dan saran yang membangun dari pembaca diharapkan dapat menyempurnakan makalah ini di
kemudian hari.

Malang, 29 Desember 2014

Penyusun

I|Page
DAFTAR ISI

II | P a g e
BAB I

PENDAHULUAN

3|Page
BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Genteng

2.1.1. Pengertian Genteng


Genteng merupakan salah satu jenis penutup atap rumah yang paling umum
digunakan di Indonesia. Genteng seperti penutup atap lainnya berfungsi sebagai
pelindung dari panas dan hujan. Selain itu tampilan genteng menjadi hal yang
penting dalam membantu penampilan aksen sebuah rumah

2.1.2. Jenis-Jenis, dan Ukuran Genteng

1. Genteng tanah liat

Genteng jenis ini terbuat dari tanah liat yang di-press(tekan sedemikian
rupa) kemudian dipanaskan dengan bara api dengan derajat kepanasan tertentu.
Daya tahan genteng jenis ini sangat kuat sekali. Rangak diperlukan dalam
pemasangannya, mekanisme pemasangan kunci/kaitan genteng pada rangka
penopang. Ada beberapa bentuk genteng yang terbuat dari material tanah liat:

Genteng Kodok

Panjang : 27,5 cm

Lebar : 22,50 cm

Berat : 1,5 kg

Jumlah/m2 : 25 pcs

4|Page
Genteng Morando

Panjang : 33 cm

Lebar : 23 cm

Berat : 2,25 kg

Jumlah/m2 : 15 pcs

Berglazur Rp 2.200

Natural Rp 1.500

Genteng Ideal

Panjang : 30,15 cm

Lebar : 24,15 cm

Berat : 1,7 kg

Jumlah/m2: 24 pcs

Berglazur Rp 5.600

Natural Rp 1.000

Genteng Plentong

Panjang : 27,5 cm

Lebar : 22,50 cm

Berat : 1,5 kg

5|Page
Jumlah/m2 : 25 pcs

Genteng Mardional

Panjang : 41 cm

Lebar : 26 cm

Berat : 3,2 kg

Jumlah/m2 : 15 pcs

2. Genteng metal/berbahan logam

Pemasangan genteng ini tidak jauh beda


dengan genteng dari tanah liat. Lebarnya
genteng ini mempercepat waktu pengerjaan
sebuah rumah. Genting jenis ini biasanya memerlukan sekrup untuk
pemasangannya karena secara bobot geteng jenis ini lumayan ringan sehingga
mudah terbawa angin. Genteng Metal ada ukuran yang tersedia bervariasi, 60-
120cm (lebar), dengan ketebalan 0.3mm dan panjang antara 1.2-12m.

3. Genteng keramik

Genteng ini memiliki warna yang cukup banyak


karena pada saat proses finishingnya dilapisi pewarna pada
bagian atasnya (glazur). Bahan utama genteng ini adalah

6|Page
keramik. Bertmpu pada rangka kayu atau beton. Genteng Keramik berukuran
sekitar 34.1x 31.4 cm.

4. Genteng aspal

Terdapat 2 bentuk model yaitu model datar


yang terbaut pada triplek dan bentuk
bergelombang yang dibaut pada rangka atap.
Bentuknya yang lebar dan ringan membuat atap
ini sering diapakai untuk atap pada bangunan
tambahan seperti garasi. Genteng Aspal untuk satu meter persegi, bobot genteng
aspal hanya 4 kg

5. Genteng kaca

Genteng ini dipakai agar sinar matahari dapat


masuk ke dalam ruangan secara langsung sehingga
menghemat konsumsi listrik untuk penerangan.
Material genteng ini terbuat dari kaca. Genteng ini
mempunyai bentuk yang terbatas sehingga
kompatibel/sesuai dengan beberapa jenis genteng
tertentu saja. Ukuran genteng kaca sama dengan ukuran genteng standart

6. Genteng Sirap Kayu

Atap ini terbuat dari bahan kayu, karena


menurut artinya sendiri sirap yaitu potongan kayu
tipis, jenis atap ini biasanya digunakan pada
model model rumah klasik sejenis rmuah joglo
dan sejenisnya,namun saat ini sudah banyak rumah modern yang menggunakan
atap sirap yang tentunya sudah dimodifikasi sehingga cocok dengan konsep
rumah tersebut. Genteng sirap kayu dibuat Atap sirap dengan ketebalan 0,3 cm
(3 mm) dalam 1 ikat dapat menghasilkan luasan atap 1 m2 setelah terpasang.

7|Page
Atap sirap dengan ketebalan 0,5 cm (5 mm) dalam 1 ikat dapat menghasilkan
luasan atap 0,5 m2 setelah terpasang.

7. Genteng Sirap Aspal

Sebuah sirap aspal adalah


jenis atap sirap . Mereka adalah salah satu
atap yang paling banyak digunakan
meliputi karena mereka relatif murah dan
cukup mudah untuk menginstal. Genteng
sirap aspal berukuran sama dengan atap
sirap kayu.

8. Genteng Beton
Bentuk dan ukurannya hampir sama
dengan genteng tanah tradisional,
hanya bahan dasarnya adalah
campuran semen PC dan pasir kasar,
kemudian diberi lapisan tipis yang
berfungsi sebagai pewarna dan kedap air. Sebenarnya atap ini bisa bertahan
hampir selamanya, tetapi lapisan pelindungnya hanya akan bertahan antara 30
tahun hingga 40 tahun. Genteng beton Mempunyai yaitu 330 mm x 420 mm,
namun genteng beton cenderung lebih berat yakni ±4,5 kg.

9. Genteng Polycarbonate
Atap ini berbentuk lembaran yang besar
sehingga dimungkinkan untuk luasan yang besar
tanpa sambungan. Keunggulan polycarbonate lebih
ke kualitas material dan besarnya daya reduksi thd
radiasi matahari. Biasanya dipakai pada kanopi
atau atap tambahan.Pemasangan polycarbonate

8|Page
mudah dan cepat, namun harganya memang lebih mahal dari atap-atap lainnya.
Genteng Polycarbonate ukuran bisa disesuaikan karena beerbentuk lembaran

2.1.3 Bahan yang Digunakan

1. Genteng Tanah liat terbuat dari tanah liat dan air


2. Genteng Metal terbuat dari baja ringan
3. Genteng Keramik berasal dari keramik itu sendiri dari asal tanah liat
4. Genteng Aspal terbuat dari aspal dan campuran bahan kimia yang lain
5. Genteng Kaca terbuat dari Kaca
6. Genteng Sirap kayu dibuat dari kepingan tipis kayu ulin
7. Genteng Sirap aspal berbahan sama dengan genteng aspal
8. Genteng beton bahan pembuat berupa semen,air, dan pasir
9. Genteng Polycarbonate, Bahan pembuatnya yaitu :

 Limbah Industri (Karet Sheet)


 Poliprepilen (PP) bekaS
 Pasir halus,
 Aspal Iran Penetrasi 60/70
 Resin epoksi yang ditambah dengan katalis.

2.1.4 Proses Pembuatan Genteng

1. Genteng Tanah Liat

 Tahapan Awal

Proses pembuatan genteng diawali dengan pengolahan bahan mentah berupa tanah.
Pengambilan tanah sebagai bahan baku genteng harus berasaskan kelestarian
lingkungan.

Bagian lapisan paling atas dari tanah yaitu bunga tanah tidak digunakan sebagai
bahan pembuat genteng, hal ini dikarenakan kandungan humus dan unsur hara yang
sangat baik untuk tanaman.

9|Page
Pengambilan tanah dilakukan dengan cara menyingkirkan lapisan bunga tanah, dan
tanah yang diambil adalah tanah dibagian bawah bunga tanah yaitu kurang lebih
kedalaman 25 cm dari permukaan tanah.

Pengambilan pun dijaga supaya tidak lebih dari kedalaman satu meter sebagai upaya
terhadap pelestarian lingkungan.

Proses selanjutnya adalah pembersihan tanah dari material-material pengotor seperti


batu, plastik, sampah dll.

Setelah cukup bersih tanah kemudian diaduk dengan menambahkan air.

 Pengolahan Tanah Liat

Setelah didapatkan tanah liat, proses selanjutnya adalah penggilingan.

Tujuan dari proses ini adalah untuk memperoleh tanah liat yang homogen dengan
partikel-partikel yang lebih halus dan merata.

Proses penggilingan dilakukan dengan cara memasukkan tanah liat ke dalam mesin
penggiling tanah atau lebih dikenal dengan nama molen,

pada proses ini juga ditambahkan sedikit pasir laut.

Tujuan penambahan pasir laut adalah supaya tanah tidak terlalu lembek sehingga
mempermudah proses penggilingan.

Penggilingan berlangsung dalam waktu yang singkat dengan output berupa tanah liat
yang telah tercetak kotak-kotak sesuai dengan ukuran genteng yang akan dibuat.
Kotak-kotak tanah liat ini biasa dinamakan keweh.

Keweh inilah yang pada nantinya merupakan bahan baku sebagai pembuatan genteng.

 Pencetakan Genteng

Proses selanjutnya adalah pencetakan genteng.

Pencetakan genteng dilakukan dengan cara memasukkan keweh ke dalam mesin cetak
berupa mesin press ulir. Sebelum dimasukkan, pipihkan dulu kuweh dengan cara

10 | P a g e
dipukul-pukul dengan kayu atau biasa dikenal dengan gebleg. Tujuan dari gebleg
adalah mendapatkan keweh yang padat dan juga sesuai dengan ukuran mesin press.

Output dari mesin press ini berupa genteng basah dengan bentuk yang masih belum
rapi. Proses selanjutnya adalah perapihan dimana bagian tepi genteng diratakan dan
dibersihkan dari sisa-sisa tanah liat yang masih menempel akibat proses pengepressan.

 Pengeringan

Ada beberapa tahap yang harus dilalui dalam proses pengeringan genteng. Yang
pertama adalah proses pengeringan dengan cara diangin-anginkan. Dimana genteng
hasil pengepressan diletakan di dalam rak dalam waktu 2 hari.

Proses pengeringan selanjutnya adalah pengeringan dengan menggunakan sinar


matahari. Pengeringan ini dilakukan dengan cara menjemur genteng secara langsung
di bawah terik matahari selama kurang lebih 6 jam.

Pengeringan genteng selanjutnya berlangsung di dalam tungku. Pengeringan dalam


tungku berlangsung selama 2 hari atau 48 jam. Pengeringan dilakukan dengan cara
memasukkan genteng ke dalam tungku kemudian dipanaskan dengan menggunakan
bahan bakar berupa kayu. Pengeringan ini merupakan pengeringan tahap akhir.
Pengeringan ini juga sebagai pra pembakaran.

Proses selanjutnya adalah pembakaran. Pembakaran berlangsung selama 12 jam


dimana suhu ditingkatkan sampai dengan kurang lebih 800 derajat celcius kemudian
ditahan pada suhu tersebut.

 Penglasuran

Output dari tungku adalah genteng yang siap pakai, setelah disortir terlebih dahulu
tentunya. Untuk genteng ini biasa dinamakan genteng natural, tergantung dari
jenisnya. Pada proses kali ini adalah proses untuk pembuatan genteng morando, so
dinamakan genteng morando natural.

Untuk proses selanjutnya adalah pengglasuran. Glassur berasal dari kata glass yang
berarti kaca secara harfiah dapat juga dikatakan proses pengglasuran adalah

11 | P a g e
penambahan lapisan kaca pada permukaan genteng, relatif sama dengan proses
coating.

Tujuan dari pengglasuran adalah supaya kenampakan genteng yang lebih indah dan
artistik. Disamping itu dengan adanya lapisan glassur juga dapat menghindarkan
genteng dari lumut.

Bahan utama glassur adalah lead oksid atau pbo dengan penambahan matrik berupa
fritz atau tepung kaca, penambahan sedikit kwarsa akan meningkatkan kekerasan.
Bahan bahan glasur diaduk dengan air sebagai bahan pelarut sampai merata. Adonan
bahan glasur kemudian dituangkan ke atas permukaan genteng dengan ketebalan
tertentu.

Diamkan beberapa saat kemudian masukkan kedalam tungku untuk proses


pembakaran tahap 2.

 Pembakaran Tahap II

Proses selanjutnya adalah pembakaran tahap ke 2. Genteng natural yang telah dilapisi
bahan glazur segera dimasukkan ke dalam tungku untuk mengalami proses
pembakaran. Pembakaran tahap 1 dan 2 relatif sama yang membedakan adalah pada
proses pembakaran tahap 2 tidak didahului dengan penggarangan. Pembakaran tahap 2
berlangsung selama 13 jam dengan suhu pembakaran dijaga supaya konstan pada suhu
900 derajat celcius.

 Tahapan Terakhir

Tahap yang terakhir pada proses produksi genteng glasur adalah finishing. Output dari
pembakaran tahap 2 berupa genteng glasur yang belum rapi, oleh karena itu
diperlukan finishing sebelum genteng siap dipasarkan. Finishing yang dilakukan
meliputi pengikiran pada tepi genteng, pengikiran bertujuan untuk merapikan
permukaan genteng. Kemudian pengecatan yang bertujuan untuk menutupi bagian
samping genteng yang tidak dapat tertutup oleh lapisan glasur. Dan yang terakhir
adalah pengepakan, genteng diikat dengan striping band dengan jumlah sepuluh, selain
supaya rapi pengepakan ini juga akan memudahkan pengangkutan genteng.

2. Genteng Metal

12 | P a g e
Proses pembuatannya dilakukan oleh mesin pencetak metal dan dibentuk dengan
bentuk genteng.

3. Genteng Keramik.

a. Proses Pembuatan
1. Pengolahan Tanah Liat.
2. Proses penggilingan dilakukan dengan cara memasukkan tanah liat ke dalam
mesin penggiling tanah atau lebih dikenal dengan nama molen, pada proses
ini juga ditambahkan sedikit pasir laut.
3. Pencetakan Genteng. Pencetakan genteng dilakukan dengan cara memasukkan
keweh ke dalam mesin cetak berupa mesin press ulir.
4. Pengeringan. Ada beberapa tahap yang harus dilalui dalam proses
pengeringan genteng. Yang pertama adalah proses pengeringan dengan cara
diangin-anginkan dimana genteng hasil pengepressan diletakan di dalam rak
dalam waktu 2 hari. Pengeringan genteng selanjutnya berlangsung di dalam
tungku. Pengeringan dalam tungku berlangsung selama 2 hari atau 48 jam.
Pengeringan dilakukan dengan cara memasukkan genteng ke dalam tungku
kemudian dipanaskan dengan menggunakan bahan bakar berupa kayu.
Pengeringan ini merupakan pengeringan tahap akhir. Pengeringan ini juga
sebagai pra pembakaran.j
5. Pengglasuran. Tujuan dari pengglasuran adalah supaya kenampakan genteng
yang lebih indah dan artistik.Disamping itu dengan adanya lapisan glassur
juga dapat menghindarkan genteng dari lumut.
6. Pembakaran Tahap 2
Proses selanjutnya adalah pembakaran tahap ke 2. Genteng natural yang telah
dilapisi bahan glazur segera dimasukkan ke dalam tungku untuk mengalami
proses pembakaran. Pembakaran tahap 1 dan 2 relatif sama yang
membedakan adalah pada proses pembakaran tahap 2 tidak didahului dengan
penggarangan. Pembakaran tahap 2 berlangsung selama 13 jam dengan suhu
pembakaran dijaga supaya konstan pada suhu 900 derajat celcius.

7. Tahapan Terakhir

13 | P a g e
Tahap yang terakhir pada proses produksi genteng glasur adalah finishing.
Output dari pembakaran tahap 2 berupa genteng glasur yang belum rapi, oleh
karena itu diperlukan finishing sebelum genteng siap dipasarkan. Finishing
yang dilakukan meliputi pengikiran pada tepi genteng.

4. Genteng Aspal

Proses pembuatan atap ini cenderung dikerjakan oleh mesin. Pembuat genteng ini
memerlukan bahan-bahan kimia khusus dan akan sulit jika dikerjakan secara manual
oleh manusia.

5. Genteng Kaca

Proses pembuatannya yaitu sebagai berikut :

1.Penyiapan Bahan
Bahan-bahan sebelum diolah perlu dibersihkan atau dimurnikan karena
mempengaruhi dalam proses dan mutu genteng kaca
 Bahan harus berkadar besi rendah (kurang 0,5%) agar kaca yang dibuat berwarna
bening cerah. Bahan-bahan digiling halus dan dicampur menurut perbandingan
sesuai dengan jenis kaca yang dibuat
2. Peleburan Bahan
Cara peleburannya ada beberapa cara :
a. Peleburannya dengan krus.
Dilakukan sejak jaman dahulu, dimana masa kaca ditempatkan dalam suatu bejana
tahan api, dan bejana itu dibakar dalam tungku sampai masa yang ada dalam bejana
melebur. Kemudian dari bubur kaca ini diambil sedikit demi sedikit bila akan
dibuat benda yang diinginkan.
b. Peleburan dengan tungku bak.
Tungku bak ini biasanya dibagi menjadi 2 ruangan dimana ruang pertama
merupakan ruang untuk meleburkan, sedangkan ruang kedua untuk pengadukan,
sehingga masa gelas homogen dan bebas dari gelembung udara. Untuk industri
yang bekerja kontinu dan industri modern dari ruang 2 ini masa bubur kaca itu
langsung dikerjakan menjadi produk yang macam-macam bentuknya, dan
perlengkapan peralatan yang dipasang tidak sama, tergantung pada produk.

14 | P a g e
3. Pembentukan
Cara pembentukan dengan press / pakai cetakan baja tuang dan dengan proses tarik
( proses kambangan / float ) atau gilas. Dengan proses tarikan, masa kaca dari
ruang pengadukan dipancing, ditarik ke atas pada saat suhu ruangan masih tinggi
sekitar 500 atau 6000C yang diperlukan untuk proses pendinginan bertahan.

Hasil tarikan ini melalui rol baja tahan suhu tinggi sehingga diperoleh lembaran-
lembaran kaca yang siap dipotong menurut ukuran yang dikehendaki.Pada cara
floating, masa kaca dialirkan melalui rol penggilas untuk membentuk lembaran
yang ketebalannya dapat diatur.
4. Anealing
Adalah suatu proses dimana genteng kaca setelah dibentuk, perlu dipanasi
pada suhu kurang lebih 500 atau 6000C dan suhu ini diturunkan secara perlahan-
lahan. Sebab bila masa kaca, dimana waktu dibentuk masih dalam keadaan panas,
lalu dibiarkan segera mendingin di udara biasa umumnya akan mudah pecah, akibat
perubahan kejutan suhu.
Dalam proses pembuatan kaca lembaran, ruang pembentukan dengan ruang
anealing, biasanya bersatu, sebab pembentukannya dilakukan dengan mesin.
Adapun alam pabrik-pabrik botol, alat makan minum, dan lain-lain ruang anealing
terpisah dengan ruang peleburan.
5. Perbaikan Bentuk
Genteng kaca setelah dibentuk, biasanya masih memiliki sisi-sisi yang
belum baik atau tajam, ini perlu diperbaiki. Untuk kaca lembaran biasanya, hanya
dipotong menurut ukuran pasaran saja. Pada perbaikan bentuk ini, sering terjadi
genteng kaca itu pecah, dan pecahan kaca itu disebut “cullet”, dikumpulkan dan
dileburkan lagi dalam tungku.
6. Genteng Sirap Kayu

Langkah pembuatannya adalah :

- Mempersiapkan kayu yang akan digunakan sebagai atap sirap


- Pemotongan kayu menjadi lebih tipis
- Pemotongan sesuai ukuran pada umumnya
- Penghalusan permukaan atap sirap

15 | P a g e
7. Genteng Beton

Proses Pembuatannya diatntaranya adalah sebagai berikut :

1. Pasir diayak lolos saringan 5 mm.


2. Bahan-bahan (1 ember semen + 3 ember pasir ayak lolos saringan 5 mm)
dicampur kemudian diaduk sambil diberi air sedikit demi sedikit sampai
semen bercampur merata di seluruh adukan (homogen).
3. Sebelum dicetak, diperiksa dahulu cukup tidaknya air yang digunakan dalam
adukan dengan cara, ambil segenggam adukan basah lalu ditekan, jika tangan
basah berarti airnya terlalu banyak, kalah lengas tanah, adukan tidak dapat
menghasilkan genteng beton yang halus.
4. Setelah diperiksa diperkirakan adonan cukup kenyal, kemudian adonan
dibawa ke tempat percetakan untuk dicetak. Pencetakan dapat dilakukan
dengan alat cetak genteng.
5. Isi cetakan dengan adonan, lalu padatkan dengan menggunakan roskam
pembentuk sampai permukaannya padat dan kompak. Setelah itu genteng
beton dikeluarkan dari cetakan bersama dengan alasnya.
6. Genteng beton bersama alasnya dipindahkan ke rak untuk perawatan
sementara selama 1 x 24 jam.
7. Esok harinya, genteng beton dilepas dari alas/palet-nya, kemudian direndam
dalam bak perendaman selama 3 x 24 jam.
8. Selanjutnya, genteng disusun dengan rapi. Penyusunan genteng sebaiknya di
bawah atap/pelindung dan disandarkan pada dinding/tembok.

8.Genteng Polycarbonate

Proses pembuatannya adalah sebagai berikut :

1.Pertama potong karet


2.Mengayak pasir
3.Cairkan aspal ,
4.Campurkan dengan ayakan pasir tersebut
5.Kemudian masukkan juga
6.Aduk secara merata

16 | P a g e
7.Setelah tercampur cetak bahan pada cetakan dengan metode hot compressor.
8.Setelah 20 menit keluarkan Atap Polycarbonate dari cetakan.

2.1.5 Kegunaan dan Kerugiannya

Keuntungan dan Kerugian Genteng menurut bahannya antara lain :

 Penutup atap berbahan dasar aspal, fiber glass, dan batu granular

Berat 10 kg/m2
Tahan terhadap kebocoran karena overlap 19 cm,
Tidak berkarat
Fleksible
Kedap suara
Cepat pemasangannya
Warna tidak mudah pudar
Menggunakan multipleks 9 mm
Sudut kemiringan min 15 º

 Penutup Atap Fiber Semen

Berat 18.8 kg/m2


Tahan terhadap kebocoran karena overlap 20 cm
Tidak berkarat
Tidak fleksible
Kedap suara
Cepat pemasangannya
Warna lama-lama pudar
Menggunakan multipleks 12 mm
Sudut kemiringan min 15 º

 Genteng Metal

Berat 8 kg/m2

17 | P a g e
Tahan terhadap kebocoran karena interlock sempurna
Dapat berkarat
Tidak fleksible
Tidak kedap suara
Sulit pemasangannya pada saat perlu memotong
Warna bisa pudar tergantung bahannya
Tidak Menggunakan multipleks
Sudut kemiringan min 15 º

 Genteng Beton

Berat 60 kg/m2
Kurang tahan terhadap kebocoran karena interlock tidak sempurna dan keretakan pada
body
Tidak dapat berkarat
Tidak fleksible
Kedap suara pemasangannya lama warna cepat pudar (paint)
Tidak Menggunakan multipleks
Sudut kemiringan min 30 º

 Genteng Keramik

Berat 45 kg/m2
Kurang tahan terhadap kebocoran karena interlock kecil 1 cm
Tidak dapat berkarat
Tidak fleksible
Kedap suara
Pemasangannya lama
Warna tahan lama
Tidak Menggunakan multipleks
Sudut kemiringan min 30 º

 Genteng Sirap Kayu

18 | P a g e
Bentuknya unik
Mudah didapatkan di pasaran
Harganya relative murah
Kekuatannya 20-50 tahun (sesuai dengan lingkungannya)
Jika tidak di proteksi maka air akan cepat menyerap
Rentan terhadap rayap
Serat-serat kayunya terkadang dimakan oleh burung
Kurang kuat terhadap terpaan angin

2.1.6 Penerapan dalam Lapangan

Atap Genteng (Sudut Kemiringan Atap : 30o - 40o)

1. Atap genteng tanah liat tradisional

Material ini banyak dipakai di rumah umumnya. Genteng sebenarnya


terbuat dari tanah liat yang dipress terus dibakar. Untuk pemasngan genteng
tanah liat ini harus memakai rangka. Genteng ini dipasang di atap miring.
Sistem pemasangannya inter-locking (Inter-locking = saling mengunci dan
mengikat). Warna dan penampilan genteng ini pasti berubah seiring waktu
yang berjalan. Biasanya juga akan tumbuh jamur di bagian badan genteng.
Untuk sebagian orang dengan gaya rumah tertentu menganggap kalo tampilan
akan lebih alami jika memakai genteng jenis ini, tapi kebanyakan orang
kurang suka sama tampilannya

2. Atap genteng keramik

Genteng ini berbahan dasar keramik yang asalnya dari tanah liat. Tapi
genteng ini sudah mengalami proses finishing yaitu lapisan glazur di
permukaannya. Lapisan ini bisa diberi dengan berbagai warna dan bisa
melindungi genteng dari lumut. Umurnya bisa mencapai 20 – 50 tahun. Untuk
pengaplikasiannya sendiri, biasanya digunakan oleh rumah-rumah modern.

3. Atap genteng beton

19 | P a g e
Dari segi bentuk dan ukurannya atap genteng beton hampir mirip dengan
genteng tanah tradisional, tapi bahan dasarnya menggunakan campuran semen
PC, pasir kasar, dan diberi lapisan tipis yang fungsinya sebagai pewarna
sekaligus pelapis kedap air. Sebenarnya atap ini bisa bertahan hampir
selamanya, tapi lapisan pelindungnya cuma bisa bertahan antara 30 tahun
sampai 40 tahun.

Atap Sirap (Sudut Kemiringan Atap : 25o – 40o)

Atap sirap yaitu atap yang berbahan kayu Besi


(biasanya dikenal dengan panggilan kayu Ulin).
Kayu ini sangat kuat, dan awet sampai puluhan
tahun.Kesan alami bangunan bisa keliatan jika kita
memaki atap ini.

Supaya bisa dipake jadi bahan atap, kayu Besi dipotong-potong tipis (sekitar 4 – 5
mm). Kemudian dipasang sama seperti memasang genteng tanah. Itu
pemasangannya masih secara sederhana. Untuk menjaga atap sirap tidak renggang,
bilah-bilah kayu besi bahan atap sirap dipotong / dirapikan supaya benar-benar
presisi sebelum dipasang. Apalagi buat atap sirap expose. Sirap expose itu
bangunan yang tidak memakai plafond, sirap yang ada di lapisan paling bawah
langsung terlihat, makanya kayunya itu harus benar-benar rapi / rapat.

Atap Beton (Sudut Kemiringan Atap : 10o – 20o)

Sebenarnya jenis atap datar ini jarang jadi atap utama. Atap ini cuma dipakai
untuk menutup bagian rumah yang sulit ditutup dengan jenis atap miring. Atap
beton bisa dikatakan sebagai atap yang bebas kebocoran.

Atap Kaca (Sudut Kemiringan Atap : 10o – 20o)

Penggunaan kaca sebagai atap biasanya pada atap carport, skylight, teras, dll. Atap
kaca mempunyai karakter transparan yang biasanya dibuat untuk menghalangi
masuknya hujan, bukan sinar matahari. Kaca yang sebaiknya digunakan memiliki

20 | P a g e
ketebalan minimal 12 mm, berjenis tempered dan laminated tempered, maksudnya
kaca diproses dengan suhu tinggi supaya lebih kuat. Kalau laminated artinya
punya lapisan penahan supaya pecahan tidak terseba

Atap Polycarbonate (Sudut Kemiringan Atap : 10o – 20o)

Atap ini berbentuk lembaran yang besar jadi bisa dipakai untuk bidang luasan
yang besar tanpa sambungan. Keunggulan polycarbonate lebih ke kualitas material
dan besarnya daya reduksi terhadap radiasi matahari. Biasanya digunakan sebagai
kanopi atau juga sebagai atap tambahan. Pemasangan polycarbonate mudah dan
cepat, tetapi. Harganya memang lebih mahal dari atap-atap lainnya.

2.2 Kayu

2.2.1 Pengertian Kayu

Kayu adalah suatu bahan bangunan yang didapatkan dari tumbuhan alam. Dan
merupakan salah satu bahan bangunan yang pertama dalam sejarah. Kayu sebagai bahan
bangunan adalah kayu batangan yang diambil dari tumbuhan alami, yang telah diproses
sehingga dapat langsung dipakai untuk bangunan.

2.2.2 Jenis-jenis Kayu

Kayu jati sering dianggap sebagai


kayu dengan serat dan tekstur paling
indah. Karakteristiknya yang stabil, kuat
dan tahan lama membuat kayu ini
menjadi pilihan utama sebagai material bahan bangunan. Termasuk kayu dengan Kelas
Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Kayu jati juga terbukti tahan terhadap jamur, rayap dan
serangga lainnya karena kandungan minyak di dalam kayu itu sendiri. Tidak ada kayu lain
yang memberikan kualitas dan penampilan sebanding dengan kayu jati.

21 | P a g e
Pohon Jati bukanlah jenis pohon yang berada di hutan hujan tropis yang ditandai dengan
curah hujan tinggi sepanjang tahun. Sebaliknya, hutan jati tumbuh dengan baik di daerah
kering dan berkapur di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Jawa adalah daerah penghasil
pohon Jati berkualitas terbaik yang sudah mulai ditanam oleh Pemerintah Belanda sejak
tahun 1800 an, dan sekarang berada di bawah pengelolaan PT Perum Perhutani. Semua
kayu jati kami disupply langsung dari Perhutani dari TPK daerah Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Kami tidak memakai kayu jati selain dari 2 daerah tersebut.

Harga kayu jati banyak dipengaruhi dari asal, ukuran dan kriteria batasan kualitas kayu
yang ditoleransi, seperti: ada mata sehat, ada mata mati, ada doreng, ada putih. Penentuan
kualitas kayu jati yang diinginkan seharusnya mempertimbangkan type aplikasi finishing
yang dipilih. Selain melindungi kayu dari kondisi luar, finishing pada kayu tersebut
diharapkan dapat memberikan nilai estetika pada kayu tersebut dengan menonjolkan
kelebihan dan kekurangan kualitas kayu tersebut.

Kayu Merbau termasuk salah satu jenis kayu


yang cukup keras dan stabil sebagai alternatif
pembanding dengan kayu jati. Merbau juga terbukti
tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat
kemerahan dan kadang disertai adanya highlight
kuning. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau termasuk pohon
hutan hujan tropis. Termasuk kayu dengan Kelas Awet I, II dan Kelas Kuat I, II. Merbau
juga terbukti tahan terhadap serangga. Warna kayu merbau coklat kemerahan dan kadang
disertai adanya highlight kuning. Kayu merbau biasanya difinishing dengan melamin
warna gelap / tua. Merbau memiliki tekstur serat garis terputus putus. Pohon merbau
termasuk pohon hutan hujan tropis. Pohon Merbau tumbuh subur di Indonesia, terutama di
pulau Irian / Papua. Kayu merbau kami berasal dari Irian / Papua.

Kayu Bangkirai termasuk jenis kayu yang


cukup awet dan kuat. Termasuk kayu dengan
Kelas Awet I, II, III dan Kelas Kuat I, II. Sifat

22 | P a g e
kerasnya juga disertai tingkat kegetasan yang tinggi sehingga mudah muncul retak rambut
dipermukaan. Selain itu, pada kayu bangkirai sering dijumpai adanya pinhole. Umumnya
retak rambut dan pin hole ini dapat ditutupi dengan wood filler. Secara struktural, pin hole
ini tidak mengurangi kekuatan kayu bangkirai itu sendiri. Karena kuatnya, kayu ini sering
digunakan untuk material konstruksi berat seperti atap kayu. Kayu bangkirai termasuk
jenis kayu yang tahan terhadap cuaca sehingga sering menjadi pilihan bahan material untuk
di luar bangunan / eksterior seperti lis plank, outdoor flooring / decking, dll. Pohon
Bangkirai banyak ditemukan di hutan hujan tropis di pulau Kalimantan. Kayu berwarna
kuning dan kadang agak kecoklatan, oleh karena itulah disebut yellow balau. Perbedaan
antara kayu gubal dan kayu teras cukup jelas, dengan warna gubal lebih terang. Pada saat
baru saja dibelah/potong, bagian kayu teras kadang terlihat coklat kemerahan.

kayu kamper telah lama menjadi alternatif


bahan bangunan yang harganya lebih terjangkau.
Meskipun tidak setahan lama kayu jati dan sekuat
bangkirai, kamper memiliki serat kayu yang halus
dan indah sehingga sering menjadi pilihan bahan
membuat pintu panil dan jendela. Karena tidak segetas bangkirai, retak rambut jarang
ditemui. Karena tidak sekeras bangkirai, kecenderungan berubah bentuk juga besar,
sehingga, tidak disarankan untuk pintu dan jendela dengan desain terlalu lebar dan tinggi.
Termasuk kayu dengan Kelas Awet II, III dan Kelas Kuat II, I. Pohon kamper banyak
ditemui di hutan hujan tropis di kalimantan. Samarinda adalah daerah yang terkenal
menghasilkan kamper dengan serat lebih halus dibandingkan daerah lain di Kalimantan.

Kayu kelapa adalah salah satu sumber kayu


alternatif baru yang berasal dari perkebunan
kelapa yang sudah tidak menghasilkan lagi
(berumur 60 tahun keatas) sehingga harus ditebang
untuk diganti dengan bibit pohon yang baru.
Sebenarnya pohon kelapa termasuk jenis palem. Semua bagian dari pohon kelapa adalah
serat /fiber yaitu berbentuk garis pendek-pendek. Anda tidak akan menemukan alur serat
lurus dan serat mahkota pada kayu kelapa karena semua bagiannya adalah fiber. Tidak juga
ditemukan mata kayu karena pohon kelapa tidak ada ranting/ cabang. Pohon kelapa
tumbuh subur di sepanjang pantai Indonesia. Namun, yang paling terkenal dengan

23 | P a g e
warnanya yang coklat gelap adalah dari Sulawesi. Pohon kelapa di jawa umumnya
berwarna terang.

Kayu meranti merah termasuk jenis


kayu keras, warnanya merah muda tua
hingga merah muda pucat, namun tidak
sepucat meranti putih. selain bertekstur
tidak terlalu halus, kayu meranti juga
tidak begitu tahan terhadap cuaca,
sehingga tidak dianjurkan untuk dipakai di luar ruangan. Termasuk kayu dengan Kelas
Awet III, IV dan Kelas Kuat II, IV. Pohon meranti banyak ditemui di hutan di pulau
kalimantan.

Kayu Karet, dan oleh dunia internasional disebut


Rubber wood pada awalnya hanya tumbuh di daerah
Amzon, Brazil. Kemudian pada akhir abad 18 mulai
dilakukan penanaman di daerah India namun tidak
berhasil. Lalu dibawa hingga ke Singapura dan negara-
negara Asia Tenggara lainnya termasuk tanah Jawa.

Warna Kayu kayu karet berwarna putih kekuningan, sedikit krem ketika baru saja
dibelah atau dipotong. Ketika sudah mulai mengering akan berubah sedikit kecoklatan.
Tidak terdapat perbedaan warna yang menyolok pada kayu gubal dengan kayu teras. Bisa
dikatakan hampir tidak terdapat kayu teras pada rubberwood.Densitas kayu karet tergolong
kayu lunak - keras, tapi lumayan berat dengan densitas antara 435-625 kg/m3 dalam level
kekeringan kayu 12%.Kayu Karet termasuk kelas kuat II, dan kelas awet III, sehingga kayu
karet dapat digunakan sebagai substitusi alternatif kayu alam untuk bahan konstruksi

24 | P a g e
Kayu gelam sering digunakan pada bagian perumahan,
perahu, Kayu bakar, pagar, atau tiang tiang sementara.
Kayu gelam dengan diameter kecil umumnya dikenal dan
dipakai sebagai steger pada konstruksi beton, sedangkan
yang berdiameter besar biasa dipakai untuk cerucuk pada
pekerjaan sungai dan jembatan. Kayu ini juga dapat dibuat
arang atau arang aktif untuk bahan penyerap.

Kayu ini banyak digunakan untuk bahan bangunan rumah,


kantor, gedung, serta bangunan lainnya. Berdasarkan catatan,
kayu ulin merupakan salah satu jenis kayu hutan tropika
basah yang tumbuh secara alami di wilayah Sumatera Bagian
Selatan dan Kalimantan.

Jenis ini dikenal dengan nama daerah ulin, bulian, bulian rambai, onglen, belian, tabulin
dan telian.Pohon ulin termasuk jenis pohon besar yang tingginya dapat mencapai 50 m
dengan diameter samapi 120 cm, tumbuh pada dataran rendah sampai ketinggian 400 m.
Kayu Ulin berwarna gelap dan tahan terhadap air laut. Kayu ulin banyak digunakan
sebagai konstruksi bangunan berupa tiang bangunan, sirap (atap kayu), papan lantai,kosen,
bahan untuk banguan jembatan, bantalan kereta api dan kegunaan lain yang memerlukan
sifat-sifat khusus awet dan kuat. Kayu ulin termasuk kayu kelas kuat I dan Kelas Awet I.

Kayu Akasia (acacia mangium), mempunyai berat


jenis rata-rata 0,75 berarti pori-pori dan seratnya cukup
rapat sehingga daya serap airnya kecil. Kelas awetnya II,
yang berarti mampu bertahan sampai 20 tahun keatas,
bila diolah dengan baik. Kelas kuatnya II-I, yang berarti
mampu menahan lentur diatas 1100 kg/cm2 dan
mengantisipasi kuat desak diatas 650 kg/cm2. Berdasarkan sifat kembang susut kayu yang
kecil, daya retaknya rendah, kekerasannya sedang dan bertekstur agak kasar serta berserat
lurus berpadu, maka kayu ini mempunyai sifat pengerjaan mudah, sehingga banyak
diminati untuk digunakan sebagai bahan konstruksi maupun bahan meibel-furnitur.

25 | P a g e
2.2.3 Ukuran Kayu

Dalem penerapannya dalam lapangan, kayu memiliki ukuran seperti dibawah ini :

Ukuran lebar dan tebal nominal kayu bangunan untuk semua jenis pemakaian harus
sesuai tabel di bawah.

No Jenis Penggunaan Tebal (cm) Lebar (cm)


1 Lis dan Jalusi 1 1, 3, 4, 5, 6, 7, 8
1.5 3, 4, 5, 6, 8, 10, 12, 15, 18, 20
2 4, 5, 6, 8, 10, 12
2 Papan 2 15, 18, 20, 22, 25
2.5 15, 18, 20, 22, 25, 30
3 18, 20, 22, 25, 30
3.5 18, 20, 22, 25, 30
4 18, 20, 22, 25, 30
3 Bingkai reng dan kaso 2 3
2.5 3, 4, 6, 8, 10, 12
3 4, 5, 6, 8, 10, 12, 15
3.5 3, 4, 6, 8, 10, 12, 15
4 6, 8, 10, 12, 15
5 7, 8, 10, 12, 13
4 Balok 6 8, 10, 12, 13, 15, 18, 20, 22, 25
8 8, 10, 12, 15, 18, 20, 22, 25
10 10, 12, 15, 18, 20, 22, 25
12 12, 15, 18, 20, 22, 25

Ukuran panjang nominal kayu bangunan adalah:

-100 cm -400 cm

-150cm -450 cm

-200 cm -500 cm

-250 cm -550 cm

-300 cm -600 cm

-350 cm

Toleransi

Toleransi lebar dari tebal ditetapkan -0 dan + 5%.

26 | P a g e
Toleransi panjang ditetapkan -0 dan + 10 cm.

2.2.4 Kegunaan dan Kekurangan Kayu

Kayu memiliki kelebihan sebagai berikut:

1. Mudah didapatkan di toko-toko material.

2. Banyak dikuasai oleh tukang lokal.

3. Bahan kayu dapat dibentuk, dipotong, dan digunakan secara fleksibel.

Kelebihan-kelebihan dari kayu sebagai bahan konstruksi bangunan itu sendiri tentu
memberikan keuntungan bagi kita sendiri, namun dibalik kelebihan-kelebihannya itu
kayu juga memiliki kekurangan-kekurangan. Berikut kekurangan dari kayu:

1. Mudah terbakar, dan dapat dimakan rayap.

2. Dapat mengembang dan menyusup.

3. Bentang atap dengan konstruksi kayu seringkali terbatas karena ukuran kayu di
pasaran adalah 4 meter.

4. Harga kayu semakin lama semakin mahal karena semakin berkurangnya stok kayu
dari alam.

2.2.5 Penerapan dalam Lapangan


 Furniture: Penggunaan kayu yang paling lazim kita temui atau kita pilih adalah
sebagai bahan furniture, seperti meja, kursi, rak, kabinet, dan tempat tidur.
 Dinding: Dinding kayu juga merupakan pengendali temperatur yang sempurna,
menahan panas dan dingin pada ukuran suhu yang stabil, serta meredam suara
bising baik.
 Lantai: Rumah berlantai kayu berkesan hangat, karena kayu adalah penjaga suhu
yang baik.

27 | P a g e
2.3 Batu Bata
2.3.1 Pengertian Batu Bata

Batu bata adalah batu batuan yang sering digunakan sebagai bahan untuk bermacam-
macam konstruksi bangunan. Dan dapat difungsikan sebagai bahan utama dinding, lantai
atau bangunan lain.

Batu bata sebagian besar terdiri atas pasir dan tanah liat, yang dicampur dalam
perbandingan tertentu. Tanah liat ( alumina ) membuat tanah bersifat plastis, tetapi terlalu
banyak tanah liat ( kurang pasir ) berakibat susutan selama pengeringan dan pembakaran,
juga retak dan melengkung.

2.3.2 Bentuk Batu Bata

Ada beragam ukuran dan bentuk batu bata. Di Mesir, bentuk yang umum ialah empat
persegi panjang, dan ada yang berbentuk baji digunakan untuk konstruksi lengkungan.
Batu bata Mesir panjangnya sekitar 36 hingga 51 cm, lebarnya 15 hingga 23 cm, dan
tebalnya 10 hingga 18 cm.

2.3.3 Jenis Batu Bata

Jika disesuaikan dengan bahan pembuatannya, secara umum batu bata digolongkan
dalam 2 jenis:
1. Batu bata tanah liat
Batu bata yang terbuat dari tanah liat ini memiliki 2 kategori utama, yaitu bata
biasa dan bata muka. Bata biasa memiliki permukaan dan warna yang tidak
menentu. Bata ini digunakan untuk dinding dan ditutup dengan semen. Bata biasa
seringkali disebut dengan bata merah. Bata muka memiliki permukaan yang baik,
licin dan mempunyai warna atau corak yang sama. Meski digunakan untuk dinding
juga, namun bata muka tidak perlu ditutup lagi dengan semen. Bata muka biasa
disebut sebagai bata imitasi.
2. Batu bata pasir-Kapur
Sesuai dengan namanya, batu bata ini dibuat dari campuran kapur dan pasir dengan
perbandingan 1:8 serta air yang ditekankan kedalam campuran sehingga
membentuk bata yang sangat padat. Biasa digunakan untuk bagian dinding yang
terendam air dan memerlukan kekuatan tinggi.

28 | P a g e
Ada 2 jenis batu bata, yaitu:
1. Batu bata konvensional
Batu bata ini dibuat dengan cara tradisional dan menggunakan alat-alat yang
sederhana. Tanah liat atau tanah lempung yang telah dibersihkan, diberi sedikit air
dan selanjutnya dicetak menjadi bentuk kotak-kotak. Cetakan batu bata biasanya
terbuat dari kayu yang secara sederhana dibuat menjadi kotak. Adonan yang telah
dicetak, dikeluarkan dan dijemur di bawah matahari sampai kering. Batu bata yang
sudah kering kemudian disusun menyerupai bangunan yang tinggi kemudian
dibakar dalam jangka waktu yang cukup lama, kurang lebih selama 1 hari sampai
batu terlihat hangus. Suhu api pada saat pembakaran dapat mencapai 1000 derajat
Celcius. Dalam pembakaran batu bata biasa menggunakan rumput atau sekam yang
akan membuat batu bata memilki lubang-lubang kecil menyerupai pori-pori. Salah
satu ciri dari batu bata konvensional adalah bentuk yang tidak selalu sama, tidak
rapi dan bertekstur kasar. Ini dapat dipahami karena pembuatan batu bata
konvensional menggunakan alat-alat yang sederhana dan lebih mengutamakan
sumber daya manusia dalam pembuatannya.
2. Batu bata pres
Pembuatan batu-bata ini menggunakan bantuan mesin-mesin. Hasilnya adalah batu-
bata yang memiliki tekstur halus, memiliki ukuran yang sama dan terlihat lebih
rapi.

2.3.4 Ukuran Batu Bata

 Umumnya memiliki ukuran: panjang 17-23 cm, lebar 7-11 cm, tebal 3-5 cm.
 Berat rata-rata 3 kg/biji (tergantung merek dan daerah asal pembuatannya).

29 | P a g e
 Bahan baku yang dibutuhkan untuk pasangan dinding bata merah adalah semen dan
pasir ayakan. Untuk dinding kedap air diperlukan campuran 1:2 atau 1:3 (artinya, 1
takaran semen dipadu dengan 3 takaran pasir yang sudah diayak). Untuk dinding
yang tidak harus kedap air, dapat digunakan perbandingan 1:4 hingga 1:6.

2.3.5 Bahan yang Digunakan

Bahan baku pembuatan batu bata yaitu:


- Tanah Liat
- Air
- Abu sisa dari pabrik gula

2.3.6 Proses Pembuatan Batu Bata

 Penggalian bahan mentah yaitu berupa tanah liat (lempung)


 Pengilasan lempung yang bermaksud agar bahan tercampur rata karena bahan
lempung tersebut di campur dengan salah satu dari pasir, sekam padiparutan
kayu. Hal tersebut dilakuakan agar dapat menguatkan batu bata mearah.
 Pemeraman, agar butiran kasar menjadi lunak dan liat. Pemeraman ini
membutuhkan waktu ± 1 – 2 hari.
 Pengilasan lempung agar lunak , liat dan siap cetak.
 Pencetakan dengan cetakan agar tidak lengket maka menggunakan air sebelum
mencetak.
 Pengeringan yang dilakukan secara alami dengan bantuan cahaya matahari. Dan
harus di bolak – balik.
 Pengangkutan dengan cara dipikul.
 Penyusunan untuk pembakaran
 Pembakaran dengan skam padi.

2.3.7 Kegunaan dan Kekurangan Batu Bata

 Kelebihan batu bata antara lain:

30 | P a g e
1. Kedap air, sehingga jarang terjadi rembesan pada tembol akibat air hujan,
2. Keretakan relatif jarang terjadi,
3. Kuat dan tahan lama
4. Penggunanaan rangka beton pengakunya lebih luas, antara 9 – 12 m2.
5. Memberikan suhu yang tepat pada ruangan (terlebih pada iklim tropis). Pada cuaca
panas, material bata merah akan mereduksi panas sehingga suhu ruangan lebih
sejuk. Pada saat angin atau hujan, dinding bata tidak terlalu berpengaruh pada suhu
ruang.

 Kekurangan batu bata antara lain

1. Waktu pemasangan lebih lama dibandingkan batako dan bahan dinding lainnya
2. Biaya lebih tinggi.

2.3.8 Penggunaan dalam Lapangan

Batu bata sangat akrab dengan kehidupan kita, berasal dari tanah liat yang
dibentuk dengan cetakan berukuran tertentu kemudian dibakar. Yang tidak kalah
penting dalam menjaga mutu dari dinding adalah spesi atau perekat antar bata.
campuran yang baik akan menyebabkan dinding kita awet dan bisa bertahan terhadap
resapan air dari tanah maupun air hujan. Semakin baik kualitas spesi yang digunakan
untuk merekatkan bata semakin berkualitas pula dinding yang kita dapat.
Batu bata Memiliki kwalitas yang bermacam – macam tergantung bahan yang
dibuat serta media pembakarnya. Ada yang membakar menggunakan sekam ada pula
yang menggunakan kayu bakar. Kwalitas pembakaran denbgan kayu bakar memiliki
grid yang lebih tinggi atau berkualitas lebih baik.
Yang tidak kalah penting dalam menjaga mutu dari dinding adalah spesi atau
perekat antar bata. campuran yang baik akan menyebabkan dinding kita awet dan bisa
bertahan terhadap resapan air dari tanah maupun air hujan. Semakin baik kualitas spesi
yang digunakan untuk merekatkan bata semakin berkualitas pula dinding yang kita
dapat.

31 | P a g e
2.4 Batako

2.4.1 Pengertian Batako

Batako merupakan bahan bangunan yang berupa bata cetak alternatif pengganti batu
bata yang tersusun dari komposisi antara pasir, semen portland dan air dengan
perbandingan 1 semen : 7 pasir. Batako difokuskan sebagai konstruksi-konstruksi dinding
bangunan non struktural.

2.4.2 Bentuk Batako

1. Batu Cetak yang Berlubang (Hollow Block).

Batako berlubang memiliki sifat penghantar panas yang lebih baik dari batako
padat dengan menggunakan bahan dan ketebalan yang sama. Batako berlubang
memiliki luas penampang lubang lebih dari 25% luas penampang batanya dan
volume lubang lebih dari 25% volume bata seluruhnya. Batako berlubang memiliki
beberapa keunggulan dari batu bata, beratnya hanya 1/3 dari batu bata dengan
jumlah yang sama dapat disusun empat kali lebih cepat dan lebih kuat untuk semua
penggunaan yang biasanya menggunakan batu bata. Disamping itu keunggulan lain
dari batako berlubang adalah kedap suara.

2. Batu Cetak yang Tidak Berlubang (Solid Block)

Batako solid mempunyai ukuran yang bervariasi. Batako jenis ini dicetak dengan
memadatkan bahan campuran tanpa adanya rongga sehingga berbentuk balok-balok

32 | P a g e
dengan ukuran tertentu, dan proses pengerasannya tanpa melalui pembakaran serta
dalam pemeliharaannya ditempatkan pada tempat yang lembab atau tidak terkena
sinar matahari langsung atau hujan.

2.4.3 Jenis Batako

Jenis batako berdasarkan bahan bakunya dibedakan menjadi tiga yaitu:

1. Batako Tras(Putih)
Batako putih atau disebut juga dengan batako tras umumnya mempunyai ukuran
panjang 25-30cm, tebal 8-10cm, dan tinggi 14-18cm. Batako putih terbuat dari
campuran tras, batu kapur, dan air. Campuran tersebut dicetak, kemudian dibakar.
Tras adalah jenis tanah berwarna putih/putih kecoklatan yang berasal dari
pelapukan batu-batu gunung. Batako putih ini sering terdapat di daerah yang
tanahnya mengandung banyak kapur, misalnya di daerah pantura Pulau Jawa.
Dalam 1m2 bidang dinding diperlukan batako putih sebanyak 20-25 buah.
Kelebihan dinding batako putih:
1. Pemasangan batako putih relatif lebih cepat.
2. Harga batako putih relatif murah.

Kekurangan dinding batako putih:

1. Batako putih lebih rapuh dan mudah pecah,


2. Batakko putih menyerap air sehingga dapat menyebabkan tembok lembab,
3. Dinding batako putih mudah retak,
4. Penggunaan rangka beton pengaku relatif lebih banyak, yaitu setiap bidang
dinding seluas 7.5 - 9m

2. Batako Press

Batako press biasanya mempunyai ukuran panjang 36 – 40cm, tebal 8 – 10cm,


dan tinggi 18 – 20cm. Batako press terbuat dari campuran semen PC dan pasir atau
abu batu yang kemudian dipress, baik press secara manual (menggunakan tangan),
maupun press menggunakan mesin. Perbedaan antara batako press manual dan

33 | P a g e
batako press mesin dapat dilihat pada kepadatan permukaan batakonya. Umumnya
harga batako press mesin akan lebih tinggi dibanding batako press manual.
Kelebihan dinding batako press:
1. Batako press lebih kedap air sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya
rembesan air.
2. Pemasangan batako press lebih cepat daripada dinding batako putih, karena
ukuran material yang lebih besar.
3. Batako press membutuhkan rangka beton pengaku relatif lebih sedikit, yaitu
antara 9 – 12m2 luas bidang dinding.
4. Ukuran material batako press lebih presisi dan seragam, hingga mengurangi
pemakaian spesi dan material plester serta aci.
5. Ketersediaan material batako press relatif terjamin. Serta fluktuasi harga tidak
terlalu tinggi karena proses pembuatannya tidak terlalu dipengaruhi oleh
musim.

Kekurangan dinding batako press:

1. Harga batako press relatif lebih mahal dibanding batako tras,


2. Mudah terjadi retak rambut pada dinding,
3. Dinding mudah berlubang sebab terdpat lubang pada bagian sisi dalamnya,
sehingga menyulitkan untuk pemasangan perabot pada dinding,
4. Insulasi panas dan suara tidak sebaik dinding batu bata.

2.4.4 Ukuran Batako

Ukuran dan spesifikasi batakosecara umum adalah sebagai berikut:

1. Ukuran batako: panjang 36 – 40cm, tebal 8 – 10cm, dan tinggi 18 – 20cm


2. Jumlah kebutuhan batako per m2 : ± 11 buah.
3. Berat jenis batako basah: ± 1000 kg/m3
4. Berat jenis batako kering: ± 950 kg/m3
5. Ketahanan terhadap api selama: ± 4 jam
6. Kuat tekan batako: ± 5 N/mm2
7. Konduktifitas termis batako : ± 0,339 W/mk

34 | P a g e
2.4.5 Bahan yang Digunakan

- Batako putih terbuat dari campuran trass, batu kapur, dan air, sehingga
sering juga disebut batu cetak kapur trass.
- Batako semen, dibuat dari campuran semen dan pasir. Ukuran dan model
lebih beragam dibandingkan dengan batako putih.
- Bata ringan dibuat dari bahan batu pasir kuarsa, kapur, semen dan bahan
lain yang dikategorikan sebagai bahan-bahan untuk beton ringa

2.4.6 Proses Pembuatan Batako

a. Bahan-bahan yang diperlukan:

1. Semen
2. Air
3. Kerikil
4. Pasir ayakan (ukuran halus sampai 5mm)

Bahan baku yang terdiri dari pasir, semen, dan air harus memiliki perbandingan
75:20:5. Perbandingan komposisi bahan baku ini sesuai dengan Pedoman Teknis
yang dikeluarkan oleh Deepartemen Pekerjaan Umum tahun 1986.

b. Peralatan yang diperlukan:

- Cetakan batako
- Ayakan pasir
- Kotak adukan
- Sendok semen
- Sekop
- Cangkul
- Ember
- Plastik (untuk menjaga kelembaban)

c. Persiapan:

35 | P a g e
Siapkan perkakas, peralatan dan bahan. Kemudian ayak pasir pertama dengan
ayakan yang lebih kecil untuk mendapatkan pasir halus. Dan pastikan pasir bersih
dari kotoran, sampah, dan lumpur.

d. Mengaduk beton:

- Taburkan sejumlah pasir yang telah diukur setebal 10 cm di kotak adukan,


- Tuang semen di atas pasir dan aduk keduanya secara bersama-sama sampai
warna keduanya tercampur,
- Bentuk adukan menjadi gundukan, dan buat lubangseperti cekungan di tengah,
- Siram dengan sedikit air secara perlahan dan aduk sampai terbentuk pasta yang
merata,

- Jika menggunakan kerikil, sekarang tambahkan dalam takaran yang sesuai


kerilkil dan aduk hingga setiap kerikil terlapisi secara merata,

- Periksa adukan: ambil segenggam penuh adukan dan bentuk seperti bola kecil.
Jika bola tersebut tidak retak, dan tangan sedikit basah, adukan siap untuk
dicetak. Untuk perbandingan adukannya digunakan 1 bagian semen bermutu
baik + 2 bagian pasir + 3 bagian kerikil+ air secukupnya.

e. Proses pencetakan:

1. Masukan adukan beton kedalam ember;


2. Tempatkan bagian bawah cetakan ke tempat yang benar (di bawah atap atau di
tempat teduh lainnya);
3. Beri oli di bawah cetakan;
4. Kemudian tuang adukan beton ke dalam cetakan;
5. Letakan alat tekan cetakan di atas bagian bawah cetakan;
6. Tekan alat tekan lurus ke bawah hingga “bagian kakinya” menyentuh lantai pada
kedua sisi;
7. Injak dengan kaki ke atas “kaki” alat tekan cetakan, ambil pegangan bagian
bawah cetakan, perlahan-lahan angkat bagian atas cetakan;
8. Letakan bagian bawah cetakan ke tanah secara perlahan;
9. Keluarkan peralatan tekan dari bagian bawah cetakan, pisahkan ke samping;

36 | P a g e
10. Perlahan-lahan angkat bagian bawah ctakan ke atas, dan tempatkan di samping
batako yang baru jadi;
11. Biarkan batako yang baru selama 1 hari, jangan kena sinar matahari langsung;
12. Setelah 1 hari, batako ditumpuk dan dilakukan curing selama seminggu;
13. Bersihkan cetakan dari debu dan beri minyak lagi di ceakan dan batako
berikutnya siap dicetak.

2.4.7 Kelebihan dan Kekurangan Batako

 Kelebihan batako antara lain sebagai berikut:


- Ukurannya lebih besar dari batu bata, sehingga jumlah kebutuhannya lebih
sedikit;
- Karena ukurannya besar, maka pemasangan lebih cepat;
- Upah tenaga kerja lebih murah;
- Pemasangan batako yang rapi bisa langsung di aci sehingga tidak perlu
diplester atau cukup tipis-tipis saja;
- Jenis batako berlubang dapat berfungsi sebagai isolasi udara;
- Lebih kedap air;
- Dapat dibuat sendiri dengan mudah dan cepat;
- Pembongkaran kembali lebih cepat.

 Kekurangan batako antara lain sebagai berikut:


- Dinding mudah retak jika kualitas batako yang digunakan tidak bagus;
- Kurang baik dalam meredam suara bising;
- Tergolong berat, sehingga pada pembangunan gedung bertingkat tinggi lebih
memilih menggunakan bata hebel selcon putih untuk menghemat struktur
gedung.

2.4.8 Penerapan dalam Lapangan

Penggunaan material batako terbukti lebih hemat biaya dari bata merah, karena
bisa menghemat plasteran, jumlah pemakaian adukan semen sehingga harga dinding
terpasang per meter persegi berkurang. Dari sisi berat materi terpasang, pemasangan
batako bisa mengurangi berat beban dinding dan lebih ringan sehingga dimensi

37 | P a g e
konstruksi bangunan untuk sloof, ring balk dan tiang penyanggga menjadi relatif lebih
kecil.

2.5 Semen

2.5.1 Pengertian Semen

Semen adalah zat yang digunakan untuk merekat batu, bata, batako, maupun bahan
bangunan lainnya. Sedangkan kata semen sendiri berasal dari caementum (bahasa Latin),
yang artinya “memotong menjadi bagian-bagian kecil tak beraturan". Meski sempat
populer pada zamannya, nenek moyang semen made in Napoli ini tak berumur panjang.
Menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun 1100-1500 M)
resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari peredaran.

2.5.2 Bentuk Semen


Secara umum bentuk semen adalah halus layaknya tepung. Semen bentuk ini dapat
diperoleh dengan mudah di toko bangunan. Semen jenis ini dapat digunakan untuk
berbagai macam keperluan. Selain itu ada juga semen yang berbentuk kasar. Semen
jenis ini berbentuk kasar karena produksi semen ini sudah ditambahkan pasir pasang
kedalam semen, sehingga semen jenis ini langsung dapat digunakan dengan
menambahkan air secukupnya tanpa diberi material pasir lagi.

2.5.3 Jenis-jenis Semen


1. Portland Cement Type I
Dipakai untuk keperluan konstruksi umum yang tidak memerlukan persyaratan
khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan awal. Lebih tepat digunakan pada
tanah dan air yang mengandung sulfat 0,0% - 0,10 %, dapat juga digunakan untuk
bangunan rumah pemukiman, gedung-gedung bertingkat, dan lain-lain.

2. Portland Cement Type II


Lebih tepat digunakan untuk konstruksi bangunan yang terbuat dari beton massa
yang memerlukan ketahanan sulfat lebih tinggi (pada lokasi tanah dan air yang

38 | P a g e
mengandung sulfat antara 0,10-0,20%) dan panas hidrasi sedang, misalnya bangunan
di pinggir laut, bangunan di tanah rawa, saluran irigasi, beton massa untuk dam-dam
dan landasan jembatan

3. Portland Cement Type V


Lebih tepat digunakan untuk konstruksi bangunan-bangunan pada tanah/air yang
mengandung sulfat > 0,20 % dan sangat cocok untuk instalasi pengolahan limbah
pabrik, konstruksi dalam air, jembatan, terowongan, pelabuhan, dan pembangkit
tenaga nuklir.

4. Super Masonry Cement


Semen ini lebih tepat digunakan untuk konstruksi perumahan gedung, jalan dan
irigasi yang struktur betonnya maksimal K 225. Dapat juga digunakan untuk bahan
baku pembuatan genteng beton, hollow brick, paving block, tegel dan bahan
bangunan lainnya.

5. Oil Well Cement


Merupakan semen khusus yang lebih tepat digunakan untuk pembuatan sumur
minyak bumi dan gas alam dengan konstruksi sumur minyak bawah permukaan laut
dan bumi. Untuk saat ini jenis OWC yang telah diproduksi adalah class G, HSR
(High Sulfat Resistance) disebut juga sebagai "BASIC OWC". Bahan
additive/tambahan dapat ditambahkan/dicampurkan hingga menghasilkan kombinasi
produk OWC untuk pemakaian pada berbagai kedalaman dan temperatur.

6. Portland Pozzolan Cement


Adalah semen hidrolid yang dibuat dengan menggiling terak, gypsum dan bahan
pozzolan. Produk ini lebih tepat digunakan untuk bangunan umum dan bangunan
yang memerlukan ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, seperti: jembatan, jalan
raya, perumahan, dermaga, beton massa, bendungan, bangunan irigasi dan fondasi
pelat penuh.

2.5.4 Ukuran semen

- Partikel : Sekitar 85%-95% partikel semen berukuran sekitar 45 micron.

39 | P a g e
- Dalam praktek di lapangan, para tukang biasanya mengunakan takaran beragam, ada
yang menggunakan ember, sekop, dan juga dolak.

Patokan ukuran semua alat itu adalah mengacu pada 1 zak semen

 1 zak semen = 5 sekop pengki


 1 zak semen = 1 dolak
 1 zak semen = 0,024 m3 (adalah pendekatan dari ukuran zak semen 50kg yaitu 10
cm x 40 cm x 60 cm)

2.5.5 Bahan yang Digunakan

Bahan mentah yang digunakan dalam pembuatan semen adalah batu kapur, pasir
silika, tanah liat dan pasir besi,perinciannya adalah Batu kapur digunakan sebanyak ± 81
%.Pasir silika digunakan sebanyak ± 9 %Tanah liat digunakan sebanyak ± 9 %.Pasir besi
digunakan sebanyak ± 1% dan gipsum sebanyak 3-5%. Dan juga bahan kimia berupa :

Terdapat kandungan kimia dalam semen, yaitu:

 Trikalsium silikat
 Dikalsium silikat
 Trikalsium aluminat
 Tetrakalsium aluminofe
 Gipsum

2.5.6 Proses Pembuatan Semen

Langkah utama dalam proses produksi semen adalah sebagai berikut:

1. Penggalian/Quarrying: Terdapat dua jenis material yang penting bagi produksi


semen: yang pertama adalah yang kaya akan kapur atau material yang mengandung
kapur (calcareous materials) seperti batu gamping, kapur, dll., dan yang kedua
adalah yang kaya akan silika atau material mengandung tanah liat (argillaceous
materials) seperti tanah liat. Batu gamping dan tanah liat dikeruk atau diledakkan
dari penggalian dan kemudian diangkut ke alat penghancur.

40 | P a g e
2. Penghancuran: Penghancur bertanggung jawab terhadap pengecilan ukuran primer
bagi material yang digali.

3. Pencampuran Awal: Material yang dihancurkan melewati alat analisis on-line


untuk menentukan komposisi tumpukan bahan.

4. Penghalusan dan Pencampuran Bahan Baku: Sebuah belt conveyor mengangkut


tumpukan yang sudah dicampur pada tahap awal ke penampung, dimana
perbandingan berat umpan disesuaikan dengan jenis klinker yang diproduksi.
Material kemudian digiling sampai kehalusan yang diinginkan.

5. Pembakaran dan Pendinginan Klinker: Campuran bahan baku yang sudah


tercampur rata diumpankan ke pre-heater, yang merupakan alat penukar panas yang
terdiri dari serangkaian siklon ketika terjadi perpindahan panas antara umpan
campuran bahan baku dengan gas panas dari kiln yang berlawanan arah. Kalsinasi
parsial terjadi pada pre‐heater ini dan berlanjut dalam kiln, ketika bahan baku
berubah menjadi agak cair dengan sifat seperti semen. Pada kiln yang bersuhu
1350-1400 °C, bahan berubah menjadi bongkahan padat berukuran kecil yang
dikenal dengan sebutan klinker, kemudian dialirkan ke pendingin klinker, tempat
udara pendingin akan menurunkan suhu klinker hingga mencapai 100 °C.

6. Penghalusan Akhir: Dari silo klinker, klinker dipindahkan ke penampung klinker


dengan dilewatkan timbangan pengumpan, yang akan mengatur perbandingan
aliran bahan terhadap bahan-bahan aditif. Pada tahap ini, ditambahkan gipsum ke
klinker dan diumpankan ke mesin penggiling akhir. Campuran klinker dan gipsum
untuk semen jenis 1 dan campuran klinker, gipsum dan posolan untuk semen jenis
P dihancurkan dalam sistem tertutup dalam penggiling akhir untuk mendapatkan
kehalusan yang dikehendaki. Semen kemudian dialirkan dengan pipa menuju silo
semen.

2.5.7 Kelebihan dan Kekurangan Semen

41 | P a g e
Kelebihan penggunaan semen:

- Penggunaan semen pada dinding atau lantai membuat dinding atau lantai menjadi
lebih kuat,
- Dapat ditemukan dengan mudah di toko bangunan.

Kekurangan penggunaan semen:

- Bila semen yang di dalam karung terkena air atau udara dingin, semen akan
mengeras sebelum digunakan,
- Dapat terjadi retak pada dinding bila terjadi gempa.

2.5.8 Penggunaan dalam Lapangan

Semen adalah material yang paling banyak digunakan ketika membagun. Semen
diperlukan untuk memasang dinding, plesteran, acian an membuat beton. Agar
hasilnya baik, kualitas semen tentu harus baik. Namun seringkali, walapun semen
sudah memiliki kualitas yang prima, hasil pekerjaan tidak sesuai harapan.
Penyebbnya banyak hal. Salah satunya adalah kurang baiknya kuaitas material
yang lain yang dicampurkan pada adukan semen, diantaranya; pasir, split dan air. Agar
hasil adukan baik, sebaiknya pilih pasir yang berwarna gelap yang berasal dari
gunung. Pasir dari gunung memiliki kualitas yang lebih baik dari pasir sungai dan
pasir laut yang berwarna terang.
Pilih juga pasir yang memiliki gradasi kasar/halus, besar/kecil yang cukup baik.
Gradasi ini berfungsi agar butiran pasir yang kecil dapat mengisi celah antara butiran
pasir yang ukurannya lebih besar. Dengan begini, kekuatannya akan lebih baik. Piih
juga pasir yang tidak mengandung kadar organik dan lempung atau lumpur. Dan jika
sudah terlanjur membeli paasir yang mengandung kadar lumpur tinggi, cucilah pasir
tersebut dengan air.

2.6 Pasir

2.6.1 Pengertian Pasir

42 | P a g e
Pasir adalah contoh bahan material
butiran. Butiran pasir umumnya berukuran
antara 0,0625 sampai 2 milimeter. Materi
pembentuk pasir adalah silikon dioksida,
tetapi di beberapa pantai tropis dan
subtropis umumnya dibentuk dari batu
kapur. Hanya beberapa tanaman yang
dapat tumbuh di atas pasir, karena rongga-
rongganya yang besar. Pasir memiliki
warna sesuai dengan asal pembentukannya. Pasir juga penting untuk bahan bangunan bila
dicampur.

2.6.2 Sumber Pasir

Pasir Alam , yaitu pasir yang bersumber dari gunung, sungai, pasir laut, bekas rawa
dan ada juga dari pasir galian .

Pasir Pabrikasi, yaitu pasir yang didapatkan dari penggilingan bebatuan yang
kemudian diolah dan disaring sesuai dengan ukuran maksimum dan minimum aggregat
halus

2.6.3 Jenis – Jenis Pasir


1. Pasir Merah
Pasir merah atau suka disebut Pasir
Jebrod kalau di daerah Sukabumi atau

43 | P a g e
Cianjur karena pasirnya diambil dari daerah Jebrod Cianjur. Pasir Jebrod biasanya
digunakan untuk bahan Cor karena memiliki ciri lebih kasar dan batuannya agak
lebih besar.

2. Pasir Elod
Ciri ciri dari pasir elod ini adalah apabila dikepal
dia akan menggumpal dan tidak akan puyar
kembali. Pasir ini masih ada campuran tanahnya
dan warnanya hitam. Jenis pasir ini tidak bagus
untuk bangunan. Pasir ini biasanya hanya untuk
campuran pasir beton agar bisa digunakan untuk
plesteran dinding, atau untuk campuran pembuatan
batako.
3. Pasir Pasang
Yaitu pasir yang tidak jauh beda dengan
pasir jenis elod lebih halus dari pasir beton.
Ciri-cirinya apabila dikepal akan
menggumpal dan tidak akan kembali ke
semula. Pasir pasang biasanya digunakan
untuk campuran pasir beton agar tidak
terlalu kasar sehingga bisa dipakai untuk
plesteran dinding.
4. Pasir Beton

Yaitu pasir yang warnanya hitam dan


butirannya cukup halus, namun apabila dikepal
dengan tangan tidak menggumpal dan akan
puyar kembali. Pasir ini baik sekali untuk
pengecoran, plesteran dinding, pondasi,
pemasangan bata dan batu.

5. Pasir Sungai

44 | P a g e
Adalah pasir yang diperoleh dari sungai yang merupakan hasil gigisan batu-batuan yang
keras dan tajam, pasir jenis ini butirannya cukup baik (antara 0,063 mm – 5 mm) sehingga
merupakan adukan yang baik untuk pekerjaan pasangan. Biasanya pasir ini hanya untuk
bahan campuaran saja .

2.6.4 Kelebihan dan Kekurangan


Kekurangan dan Kelebihan beberapa jenis pasir yang ada di daerah Indonesia untuk
bahan bangunan.

 Pasir Lumajang

Keunggulan pasir lumajang :

Pasir Lumajang adalah Pasir yang Paling


Bagus saat ini, warnanya yang hitam pekat,
menunjukan adanya kandungan besi nya cukup
tinggi, apabila di pakai untuk campuran bahan
bangunan sangat cocok khususnya buat
cor/campuran beton, lebih rekat apabila
digunakan sebagai campuran spesi batu bata, lebih sedikit kadar kerikil yang terkandung
dalam pasir.

Kekurangan pasir lumajang :

Lebih mudah kering sehingga membutuhkan banyak air, harganya sangat tinggi
berkisar antara Rp,-140.000 -185.000/kubik.

 Pasir Blitar
Keunggulan pasir blitar :

Sangat cepat Lunak dalam membuat


adonan sehingga sangat cocok untuk proyek-
proyek borongan, harganya lebih murah
berkisar antara Rp,- 120.000 - 150.000/kubik.

45 | P a g e
 Pasir Mojokerto

Keunggulan :

Tidak mudah mengering sehingga tidak


membutuhkan banyak air, harganya relatif
murah berkisar antara Rp,-100.000-
125.000/kubik.

Kekurangan :

banyak mengandung lumpur/tanah sehingga jika di pakai campuran beton pada


bangunan hasilnya sangat jelek, apabila digunakan sebagai campuran spesi batu bata
berakibat pada tembok mudah mengelupas.

2.6.5 Penerapann dalam Lapangan


Pasir adalah bahan bangunan yang banyak dipergunakan dari struktur paling bawah
hingga paling atas dalam bangunan. Baik sebagai pasir urug, adukan hingga campuran
beton. Beberapa pemakaian pasir dalam bangunan dapat kita jumpai seperti :

 Penggunaan sebagai urugan, misalanya pasir urug bawah pondasi, pasir urug bawah
lantai, pasir urug dibawah pemasangan paving block dan lain lain.
 Penggunaan sebagai mortar atau spesi, biasanya digunakan sebagai adukan untuk
lantai kerja, pemasangan pondasi batu kali, pemasangan dinding bata, spesi untuk
pemasangan keramik lantai dan keramik dinding, spesi untuk pemasangan batu
alam , plesteran dinding dan lain lain.
 Penggunaan sebagai campuran beton baik untuk beton bertulang maupun tidak
bertulang, bisa kita jumpai dalam struktur pondasi beton bertulang, sloof, lantai,
kolom , plat lantai, cor dak, ring balok dan lain -lain.

Disamping itu masih banyak penggunaan pasir dalam bahan bangunan yang
dipergunakan sebagai bahan campuran untuk pembuatan material cetak seperti pembuatan
paving block, kansteen, batako dan lain lain.

46 | P a g e
2.7 Beton

2.7.1 Pengertian dan Bentuk Beton

Beton merupakan salah satu bahan konstruksi yang telah umum digunakan untuk
bangunan gedung, jembatan, jalan, dan lain-lain. Beton merupakan satu kesatuan yang
homogen. Beton ini didapatkan dengan cara mencampur agregat halus (pasir), agregat
kasar (kerikil), atau jenis agregat lain dan air, dengan semen portland atau semen hidrolik
yang lain, kadang-kadang dengan bahan tambahan (additif) yang bersifat kimiawi ataupun
fisikal pada perbandingan tertentu, sampai menjadi satu kesatuan yang homogen.
Campuran tersebut akan mengeras seperti batuan. Pengerasan terjadi karena peristiwa
reaksi kimia antara semen dengan air.

Ini beberapa gambar dari bentuk beton :

1. Tampang I
Beton dengan tampang seperti ini biasanya banyak digunakan sebagai Pilar
Jembatan.

2. Bentuk Kotak dengan bagian tengah berlubang


Beton dengan tipe seperti ini biasanya juga digunakan sebagai pilar jembatan.
Di Indonesia ada jembatan dengan Pondasi bawahnya menggunakan Profil
bentuk ini.

47 | P a g e
3. Tampang balok
Beton dengan tampang balok biasa digunakan pada bangunan yang ada di
dunia. Contohnya bagian kolom, pelat, dan balok.

4. Tampang Beton dengan lubang di bagian tengah


Beton dengan tampang seperti ini biasanya dikombinasikan dengan baja
prategang. Bisa digunakan sebagai jalan pada jembatan, balok prategang,
dinding tahan gempa (modifikasi dari dinding batu bata). Berikut gambar yang
dapat anda amati.

2.7.2 Jenis Beton

48 | P a g e
Dalam konstruksi, beton adalah sebuah bahan bangunan komposit yang terbuat dari
kombinasi agregat dan pengikat semen. Bentuk paling umum dari beton adalah beton
semen Portland, yang terdiri dari agregat mineral (biasanya kerikil dan pasir), semen dan
air.
Ada bermacam-macam jenis beton antara lain :

1. Beton siklop
Beton jenis ini sama dengan beton normal biasa , perbedaannya ialah pada beton ini
digunakan ukuran agregat yang relative besar-besar. Beton ini digunakan pada
pembuatan bendungan, pangkal jembatan, dan sebagainnya. Ukuran agregat kasar
dapat sampai 20 cm, namun proporsi agregat yang lebih besar dari biasanya ini
sebaiknya tidak lebih dari 20 persen dari agregat seluruhnya.
2. Beton Ringan
Beton jenis ini sama dengan beton biasa perbedaannya hanya agregat kasarnya
diganti dengan agregat ringan. Selain itu dapat pula dengan beton biasa yang diberi
bahan tambah yang mampu membentuk gelembung udara waktu pengadukan beton
berlangsung. Beton semacam ini mempunyai banyak pori sehingga berat jenisnya
lebih rendah dari pada beton biasa.
3. Beton non pasir
Beton jenis ini dibuat tanpa pasir, jadi hanya air, semen, dan kerikil saja karena
tanpa pasir maka rongga rongga kerikil tidak terisi. Sehingga beton berongga dan
berat jenisnya lebih rendah daripada beton biasa. Selain itu Karena tanpa pasir
maka tidak dibutuhkan pasta-pasta untuk menyelimuti butir-butir pasir sehingga
kebutuhan semen relative lebih sedikit.
4. Beton hampa
Seperti yang telah diketahui bahwa kira-kira separuh air yang dicampurkan saja
yang bereaksi dengan semen, adapun separuh sisanya digunakan untuk
mengencerkan adukan.beton jenis ini diaduk dan dituang serta dipadatkan
sebagaimana beton biasa, namun setelah beton tercetak padat kemudian air sisa
reaksi disedot dengan cara khusus. Seperti cara vakum. Dengan demikian air yang
tertinggal hanya air yang digunakan untuk reaksi dengan semen,sehingga beton
yang diperoleh sangat kuat.
5. Beton bertulang

49 | P a g e
Beton biasa sangat lemah dengan gaya tarik, namun sangat kuat dengan gaya tekan,
batang baja dapat dimasukkan pada bagian beton yang tertarik untuk membantu
beton. Beto yang dimasuki batang baja pada bagian tariknya ini disebut beton
bertulang.
6. Beton prategang
Jenis beton ini sama dengan beton bertulang, perbedaannya adalah batangnya baja
yang dimasukkan ke dalam beton ditegangkan dahulu . Batang baja ini tetap
mempunyai tegangan sampai beton yang dituang mengeras. Bagian balok beton ini
walaupun menahan lenturan tidak akan terjadi retak.
7. Beton pracetak
Beton biasa dicetak atau dituang di tempat. Namun dapat pula dicetak di tempat
lain, fungsinya di cetak di tempat lain agar memperoleh mutu yang lebih baik.
Selain itu dipakai jika tempat pembuatan beton sangat terbatas. Sehingga sulit
menyediakan tempat percetakan perawatan betonnya.
8. Beton massa
Beton yang dituang dalam volume besar yaitu perbandingan antara volume dan
permukaannya besar. Bila dimensinya lebih besar dari 60 sm. Pondasi besar, pilar,
bendungan. Harus diperhatikan perbedaan temeratur.
9. Fero semen
Suatu bahan gabungan yang diperoleh dengan cara memberikan ortar semen suatu
tulangan yang berupa suatu anyaman kawat baja.
10. Beton serat
Beton komposit yang terdiri dari beton biasa dan bahan lain yang berupa serat.
Serat berupa batang-batang 5 sd 500mm, panjang 25-100mm. Serat asbatos,
tumbuh-tumbuhan , serat plastic, dan kawat baja.
11. Lain-Lain
Beton mutu tinggi, polimer beton, beton modifikasi blok, polimer impregnated
concrete, beton kinerja tinggi, dan lain-lain.

2.7.4 Ukuran Beton

50 | P a g e
Beton merupakan batu buatan yang terbuat dari campuran semen, pasir dan kerikil, dan
pada kondisi khusus dapat juga dicampur dengan berbagai bahan kimia tambahan untuk
mempercepat pengeringan, memperlambat pengeringan, menambah kekuatan, dan lain-
lain. Jika kebutuhan beton banyak sebaiknya memesan dalam bentuk truck mixer beton.
Berbagai perusahaan dapat menyediakan kebutuhan beton dalam jumlah besar dengan
melalui tes beton sebelumnya, sehingga kita mendapatkan beton dengan kualitas sesuai
kebutuhan, misalnya k-125 , k -250, k-350, k-500 dan seterusnya, huruf K berarti
karakteristik sedangkan angka 125, 250 dan seterusnya menunjukkan kuat tekan
karakteristik beton yaitu 125 kg/ cm persegi , atau 250 kg/ cm persegi.

Beton memiliki ukuran yang berbeda-beda sesuai dengan yang diinginkan oleh
pembuatnya. Setiap pembuatan beton memiliki takaran yang berbeda-beda sesuai dengan
ukuran, kekuatan, dan mutu beton bersebut. Campuran bahan saat pembuatan beton
mempengaruhi ukuran beton dan kekuatan beton tersebut. Jadi dibutuhkan campuran yang
sesuai untuk mendapatkan ukuran beton yang diinginkan dan mutu yang bagus.

2.7.5 Bahan yang Digunakan

Untuk memahami dan mempelajari seluruh perilaku elemen gabungan diperlukan


pengetahuan tentang karakteristik masing-masing komponen. Beton dihasilkan dari
sekumpulan interaksi mekanis dan kimiawi sejumlah material pembentuknya (Nawy,
1998). Bahan pembentuk beton terdiri dari campuran agregat halus dan kasar dengan
semen dan air sebagai pengikatnya.

1. Agregat
Agregat adalah bahan-bahan campuran beton yang saling diikat oleh perekat
semen ( CUR 2,1993 ). Agregat ini harus bergradasi sedemikian rupa sehingga
seluruh massa beton dapat berfungsi sebagai benda yang utuh, homogen, dan rapat,
dimana agregat yang berukuan kecil berfungsi sebagai pengisi celah yang ada
diantara agregat berukuran besar ( Nawy, 1998 ).
Dua jenis agregat adalah :
1. Agregat kasar ( kerikil, batu pecah )
Agregat kasar adalah agregat dengan besar butir lebih dari 5 mm. ( PBBI 1971,
NI–2 ). Syarat-syarat agregat kasar :

51 | P a g e
 Harus terdiri dari butir-butir yang keras dan tidak berpori.
 Butir-butir agregat kasar harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau
hancur oleh pengaruh-pengaruh cuaca, seperti terik matahari dan hujan.
 Agregat kasar tidak boleh mengandung zat-zat yang dapat merusak
beton, seperti zat-zat yang reaktif alkali.
 Agregat kasar tidak boleh mengandung lumpur lebih dari 1 %. Apabila
kadar lumpur melampaui 1 % maka agregat kasar harus dicuci.
2. Agregat halus ( pasir )
Agregat yang berupa pasir sebagai hasil desintegrasi alami dari batu-batuan
atau berupa pasir buatan yang dihasilkan oleh alat-alat pemecah batu ( PBBI
1971, N.I.– 2 ). Syarat agregat halus :
 Agregat halus terdiri dari butir–butir yang tajam dan keras. Butir agregat
halus harus bersifat kekal, artinya tidak pecah atau hancur oleh pengaruh
cuaca seperti terik matahari dan hujan.
 Kandungan lumpur tidak boleh lebih dari 5% (ditentukan terhadap berat
kering). Yang diartikan dengan lumpur adalah bagian–bagian yang dapat
melalui ayakan 0,063 mm. Apabila kadar lumpur lebih dari 5%, maka
agregat harus dicuci.
 Pasir laut tidak boleh dipakai sebagai agregat halus untuk semua mutu
beton, kecuali dengan petunjuk dari lembaga pemeriksaan bahan yang
diakui.

2. Semen Portland
Semen Portland adalah semen hidrolis yang dihasilkan secara menghaluskan
klinker yang terutama terdiri dari silikat-silikat kalsium yang bersifat hidrolis
ditambah dengan bahan yang mengatur waktu ikat ( umumnya gips ) ( CUR 2,
1993 ). Semen berfungsi merekatkan butir-butir agregat agar membentuk suatu
massa padat dan juga untuk mengisi rongga udara diantara butir agregat.
Semen merupakan bahan ikat yang penting dan banyak digunakan dalam
pembangunan fisik di sektor konstruksi sipil. Jika semen ditambah air akan menjadi
pasta semen. Jika pasta semen ditambah agregat halus akan menjadi mortar dan jika
semen ditambah air ditambah agregat halus dan agregat kasar akan menjadi
campuran beton segar yang setelah mengeras akan menjadi beton keras ( concrete ).

52 | P a g e
Menurut Peraturan Beton 1989 ( SKBI. 1.4.53.1989 ) dalam ulasannya di halaman
1, membagi semen portland menjadi lima jenis ( SK.SNI T–15–1990–03:2 ) yaitu :
 Jenis I : Semen Portland yang dalam penggunaanya tidak memerlukan
persyaratan khusus seperti jenis-jenis lainnya. Biasanya digunakan dalam
konstruksi beton secara umum.
 Jenis II : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan
ketahanan terhadap sulfat dan panas hidrasi sedang. Digunakan dalam
struktur bangunan air / drainase dengan kadar konsentrasi sulfat tinggi di
dalam air tanah.
 Jenis III : Semen Portland untuk konstruksi yang menuntut persyaratan
kekuatan awal yang tinggi. Biasanya digunakan pada struktur-struktur
bangunan yang bekistingnya harus cepat dibuka dan akan segera dipakai
kembali.
 Jenis IV : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan panas
hidrasi yang rendah. Biasanya digunakan pada konstruksi dam / bendungan,
dengan tujuan panas yang terjadi sewaktu hidrasi merupakan faktor penentu
bagi keutuhan beton.
 Jenis V : Semen Portland yang dalam penggunaannya memerlukan
ketahanan yang tinggi tehadap sulfat. Digunakan untuk beton yang
lingkungannya mengandung sulfat, terutama pada tanah / air tanah dengan
kadar sulfat tinggi.
3. Air
Air digunakan sebagai bahan pencampur dan pengaduk beton untuk mempermudah
pekerjaan. Menurut PBBI 1971 N.I.– 2, pemakaian air untuk beton tersebut
sebaiknya memenuhi persyaratan sebagai berikut :
 Air harus bersih.
 Tidak mengandung lumpur.
 Tidak mengandung garam-garam yang dapat merusak beton seperti asam,
zat organik.
 Tidak mengandung minyak dan alkali.
 Tidak mengandung senyawa asam.

53 | P a g e
2.7.6 Proses Pembuatan Beton

Membuat beton sebenarnya tidaklah sederhana hanya sekedar mencampurkan bahan-


bahan dasarnya untuk membentuk campuran yang plastis sebagaimana sering terlihat pada
pembuatan bangunan sederhana. Tetapi jika ingin membuat beton yang baik, dalam arti
memenuhi persyaratan yang lebih ketat karena tuntutan yang lebih tinggi, maka harus
diperhitungkan dengan seksama cara-cara memperoleh adukan beton segar yang baik dan
menghasilkan beton keras yang baik pula. Beton segar yang baik ialah beton segar yang
dapat diaduk, dapat diangkut, dapat dituang, dapat dipadatkan, tidak ada kecenderungan
untuk terjadi pemisahan kerikil dari adukan maupun pemisahan air dan semen dari adukan.
Beton keras yang baik adalah beton yang kuat, tahan lama, kedap air, tahan aus, dan
kembang susutnya kecil (Tjokrodimulyo 1996 : 2)

Adukan beton direncanakan sedemikian rupa sehingga beton yang dihasilkan dapat
dengan mudah dikerjakan dengan biaya yang serendah mungkin tentu saja. Beton harus
mempunyai workabilitas yang tinggi, memiliki sifat kohesi yang tinggi saat dalam kondisi
plastis (belum mengeras), sehingga beton yang dihasilkan cukup kuat dan tahan lama.
Adukan (campuran) beton harus mempertimbangkan lingkungan di mana beton tersebut
akan berdiri, misalnya di lingkungan tepi laut, atau beban-beban yang berat, atau kondisi
cuaca yang ekstrim.

Seperti yang telah diketahui bahwa beton adalah campuran antara semen, agregat
kasar dan halus, air, dan zat aditif. Komposisi yang berbeda-beda di antara bahan baku
beton mempengaruhi sifat beton yang dihasilkan pada akhirnya. Pembagian ini biasanya

54 | P a g e
diukur dalam satuan berat. Pengukuran berdasarkan volume juga sebenarnya bisa, dan
lebih banyak dilakukan pada konstruksi skala kecil, misalnya rumah tinggal.
Jika kadar semen dinaikkan, maka kekuatan dan durabilitas beton juga akan
meningkat. Semen (bersama dengan air) akan membentuk pasta yang akan mengikat
agregat mulai dari yang paling besar (kasar) sampai yang paling halus. Sebaliknya,
penambahan air justru akan mengurangi kekuatan beton. Air cukup digunakan untuk
melarutkan semen. Air juga yang membuat adukan menjadi kohesif, dan mudah dikerjakan
(workable).
Rasio Air-Semen, biasa disebut dengan w/c ratio alias water to cement ratio. Jika
w/c ratio semakin besar, kekuatan dan daya tahan beton menjadi berkurang. Pada
lingkungan tertentu, rasio air-semen ini dibatasi maksimal 0.40-0.50 tergantung sifat
korosif atau kadar sulfat yang ada di lingkungan tersebut.
Beton harus dicampur dan diaduk dengan baik sehingga sement, air, agregat, dan
zat tambahan bisa tersebar merata di dalam adukan. Beton biasanya dicampur dengan
menggunakan mesin. Ada yang dicampur di lapangan (site) ada juga yang sudah dicampur
sebelum dibawa ke lapangan, atau istilahnya ready-mix. Untuk beton ready-mix,
takarannya sudah diukur di batch plant, kemudian dicampur dan dimasukkan ke dalam
truk. Selama perjalanan drum beton tersebut terus diputar agar beton tidak mengalami
setting di dalam drum. Kadang, di dalam perjalanan, bisa jadi karena lama di jalan, cuaca
panas, atau kelamaan diputar, temperatur di dalam drum meningkat sehingga air menguap.
Kondisi ini kadang diakali dengan memasukkan bongkahan es balok yang besar ke dalam
drum, sehingga kadar air bisa tetap dipertahankan.
Sementara beton yang dicampur dilapangan biasanya menggunakan mesin yang
dinamakan molen. Sewaktu mencampur di lapangan, agregat terlebih dahulu dimasukkan
ke dalam tong (molen), kemudian diikuti oleh pasir dan terakhir semen. Semuanya dalam
takaran tertentu sesuai dengan mutu beton yang diinginkan.

55 | P a g e
Ukuran takaran biasanya dinyatakan dalam satuan berat, sementara sekop tidak bisa
mengukur berat. Jangan sampai rasio adukan 1:2:3 diartikan sebagai 1 sekop semen, 2
sekop pasir dan 3 sekop kerikil (agregat). Tentu saja hasil (mutu) yang diperoleh akan
berbeda.

Ketika semua bahan (kecuali air) sudah masuk, moleh diputar sehingga semua
bahan tercampur. Apabila tidak ada pasir yang terlihat secara kasat mata, berarti
adukannya tersebut sudah merata. Saat itulah dilakukan penambahan air sedikit demi
sedikit.

56 | P a g e
Molen punya kapasitas (volume). Mencampur terlalu penuh juga tidak efektif
karena proses pencampurannya akan memakan waktu yang lebih lama. Sebaiknya molen
diisi secukupnya dulu, kemudian jika sudah jadi, seluruh isi molen dituang ke wadah
sementara sebelum diangkut atau dicor ke bekisting. Sewaktu adukan beton diangkut
(dicor), molen bisa bekerja lagi untuk membuat adukan berikutnya. Begitu adukan pertama
sudah dituang semua, molen pun sudah selesai membuat adukan kedua, jadi tidak ada
delay ketika molen bekerja.
Apabila ingin membuat beton untuk skala yang sangat kecil, beton boleh dicampur
dengan menggunakan sekop. Harus dilakukan di tempat yang datar dan bersih (maksudnya
bebas dari ranting, daun, sampah, dan material pengganggu lainnya). Kerikil, pasir, dan
semen diaduk/dicampur dulu, kemudian dibuat seperti gundukan, dan di puncaknya digali
dibuat seperti danau untuk menampung air.
Ini adalah tabel komposisi berat semen, pasir, dan kerikil, serta volume air yang
dibutuhkan untuk membuat 1 m3 beton dengan mutu tertentu.
Mutu Beton Semen Pasir Kerikil Air w/c
(kg) (kg) (kg) (liter) ratio
7.4 MPa (K 100) 247 869 999 215 0.87
9.8 MPa (K 125) 276 828 1012 215 0.78
12.2 MPa (K 150) 299 799 1017 215 0.72

14.5 MPa (K 175) 326 760 1029 215 0.66


16.9 MPa (K 200) 352 731 1031 215 0.61
19.3 MPa (K 225) 371 698 1047 215 0.58
21.7 MPa (K 250) 384 692 1039 215 0.56
24.0 MPa (K 275) 406 684 1026 215 0.53
26.4 MPa (K 300) 413 681 1021 215 0.52
28.8 MPa (K 325) 439 670 1006 215 0.49
31.2 MPa (K 350) 448 667 1000 215 0.48

57 | P a g e
2.7.7 Keuntungan dan Kerugian

Beton memiliki kelebihan dan kekurangan antara lain sebagai berikut

(Tjokrodimulyo 1996 : 2)

1. Kelebihan Beton :
 Beton mampu menahan gaya tekan dengan baik, serta mempunyai sifat
tahan terhadap korosi dan pembusukan oleh kondisi lingkungan.
 Beton segar dapat dengan mudah dicetak sesuai dengan keinginan. Cetakan
dapat pula dipakai berulang kali sehingga lebih ekonomis.
 Beton segar dapat disemprotkan pada permukaan beton lama yang retak
maupun dapat diisikan kedalam retakan beton dalam proses perbaikan.
 Beton segar dapat dipompakan sehingga memungkinkan untuk dituang pada
tempat-tempat yang posisinya sulit.
 Beton tahan aus dan tahan bakar, sehingga perawatannya lebih murah.
2. Kekurangan Beton :
 Beton dianggap tidak mampu menahan gaya tarik, sehingga mudah retak.
Oleh karena itu perlu di beri baja tulangan sebagai penahan gaya tarik.
 Beton keras menyusut dan mengembang bila terjadi perubahan
suhu,sehingga perlu dibuat dilatasi (expansion joint) untuk mencegah
terjadinya retakan-retakan akibat terjadinya perubahan suhu.
 Untuk mendapatkan beton kedap air secara sempurna, harus dilakukan
dengan pengerjaan yang teliti.
 Beton bersifat getas (tidak daktail) sehingga harus dihitung dan diteliti
secara seksama agar setelah dikompositkan dengan baja tulangan menjadi
bersifat daktail, terutama pada struktur tahan gempa.

2.7.8 Penerapan dalam Lapangan

58 | P a g e
Penggunaan beton sebagai material konstruksi masih sangat dominan dan bahkan tak
tergantikan. Hal tersebut dikarenakan beton merupakan material yang pelaksanaan
konstruksinya mudah dan relatif murah. Disamping keuntungan yang didapat dari
penggunaan beton sebagai bahan bangunan, beton juga mempunyai beberapa keterbatasan.
Keterbatasan beton tersebut diantaranya adalah tegangan tariknya rendah, duktilitasnya
rendah, dan keseragaman mutu beton yang sangat bervariatif. Adanya kenyataan ini
menuntut upaya peningkatan kualitas baik material maupun pelaksanaan pekerjaan beton
sehingga pemakaian beton untuk bahan bangunan dapat lebih optimal.

2.8 BAJA

2.8.1 Pengertian Baja

Baja adalah logam paduan, logam besi sebagai unsur dasar dengan beberapa
elemen lainnya, termasuk karbon. Kandungan unsur karbon dalam baja berkisar antara
0,2% hingga 2,1% berat sesuai grade-nya. Elemen berikut ini selalu ada dalam baja:
karbon, mangan, fosfor, sulfur, silikon, dan sebagian kecil oksigen, nitrogen dan
alumunium. Selain itu, ada elemen lain yang ditambahkan untuk membedakan
karakteristik antara beberapa jenis bajadiantaranya: mangan, nikel, krom, molybdenum,
boron, titanium, vanadium, dan nobium. Dengan memvariasikan kandungan karbon dan
unsur paduan lainnya, berbagai jenis kualitas baja bisa didapatkan. Fungsi karbon dalam
baja adalah sebagai unsur pengeras dengan mencegah dislokasi bergeser pada sisi kristal
(cristal lattice) atom besi. Baja karbon ini dikenal sebagai baja hitam, banyak digunakan
untuk peralatan pertanian misalnya sabit dan cangkul.

2.8.2 Bentuk dan Ukuran Baja

Beberapa standar konstruksi Indonesia menggunakan Baja Profil. Kebutuhan


konstruksi secara permanen, kokoh, dan stabil secara kualitas manjadi prioritas utama
terselenggaranya pembangunan yang mapan, dan menjadi dasar misi utama proyek-
proyek pembangunan konstruksi milik pemerintah. Berikut adalah jenis bahan baja
utama yang biasa dipakai di Indonesia sesuai kebutuhan konstruksi.

59 | P a g e
a. Wide Flange (WF)

WF biasa digunakan untuk balok, kolom, tiang pancang,


top & bottom chord member pada truss, composite beam
atau column, kantilever kanopi, dll. Contoh ukuran adalah
250x125x6x9mm.
Istilah lain: IWF, WF, H-Beam, UB, UC, balok H, balok
I, balok W.

b. UNP

Penggunaan UNP hampir sama dengan WF, kecuali


untuk kolom jarang digunakan karena relatif lebih
mudah mengalami tekuk. Contoh ukuran adalah
50x38x5mm.
Istilah lain: Kanal U, U-channel, Profil U

c. Equal Angel (Hot Rolled)

Biasa digunakan untuk member pada truss, bracing,


balok dan struktur ringan lainnya. Contoh ukuran adalah
25x25x3mm.
Istilah lain: profil siku, profil L, L-shape

d. Lipped Channel

Biasa digunakan untuk : purlin (balok dudukan penutup


atap), girts (elemen yang memegang penutup dinding
misalnya metal sheet, dll), member pada truss, rangka

60 | P a g e
pada komponen arsitektural. Contoh ukuran adalah 100x50x20x2mm.
Istilah lain: balok purlin, kanal C, C-channel, profil C.

e. RHS (Rectangular Hollow Section) - cold formed

Penggunaan: komponen rangka arsitektural (celling,


partisi gipsum, dll) rangka dan support ornamen-
ornamen non struktural. Contoh ukuran adalah
400mmx600mm.
Istilah lain: besi hollow (istilah pasar), profil persegi.

f. SHS (Square Hollow Section) – cold formed

Penggunaan: komponen rangka arsitektural (celling, partisi


gipsum, dll) rangka dan support ornamen-ornamen non
struktural. contoh ukuran adalah 600x600mm.
Istilah lain: besi hollow (istilah pasar), profil persegi.

g. Steel Pipe

Penggunaan: bracing (horizontal dan vertikal), secondary


beam (biasanya pada rangka atap), kolom arsitektural,
support komponen arsitektural (biasanya eksposed, karena
bentuknya yang silinder mempunyai nilai artistik). Contoh
ukurannya adalah berdiameter 450mm sampai 1800mm dan
ketebalan plat dari 2mm sampai 3.5mm
Istilah lain: steel tube, pipa.

h. T-Beam (Hot Rolled)

Penggunaan: balok lantai, balok kantilever (kanopi).

61 | P a g e
Istilah lain: balok T.

2.8.3 Jenis Baja

Jenis baja secara umum beserta penjelasannya menurut “Handbook of


Comparative World Steel Standards” adalah sebagai berikut:

a. Baja Karbon (Carbon steel)


Baja karbon adalah baja yang mengandung karbon sampai 1,7%. Penggunaan
baja karbon banyak dipakai dalam kehidupan sehari-hari untuk kepentingan yang
umum. Pembagian baja karbon adalah sebagai berikut:

1. LowCarbonSteel ( < 0,2% Carbon)


Baja low carbon biasanya digunakan untuk automobile body panels, tin plate
dan wire product yang membutuhkan keuletan yang tinggi.
2. Medium Carbon Steel (0,2 – 0,5% Carbon)
Baja medium carbon biasanya digunakan dalam kondisi hasil quench dan
tempered dan banyak digunakan sebagai shaft, axle, gear, crankshaft, coupling
dan forging.
3. High Carbon Steel ( > 0,5% Carbon)
Baja high carbonbanyak digunakan pada spring material dan high-strength
wire. Selain pembagian berdasarkan persen kadar karbon di atas, masih terdapat
baja karbon dengan kadar mangan yang tinggi (High Manganese Carbon Steel),
yaitu sekitar 1,1-1,4% Mn. Baja jenis ini banyak digunakan dalam aplikasi rel
kereta api.

b. Baja Paduan (Alloy Steel)


Baja paduan adalah campuran antara baja karbon dengan unsur-unsur lain yang
akan mempengaruhi sifat-sifat baja, misalnya sifat kekerasan, liat, kecepatan
membeku, titik cair, dan sebagainya yang bertujuan memperbaiki kualitas dan
kemampuannya. Penambahan unsur-unsur lain dalam baja karbon dapat dilakukan
dengan satu atau lebih unsur, tergantung dari karakteristik atau sifat khusus yang
dikehendaki.
62 | P a g e
1. Low Alloy Steel ( < 8% Alloying Element)
Salah satu contoh baja jenis ini yang terkenal adalah HSLA (High Strength Low
Alloy) yang menggunakan paduan Nb, V, Ti, dan Al.

2. High Alloy Steel ( > 8% Alloying Element)


Penggunaan baja paduan tinggi biasanya bertujuan untuk meningkatkan sifat-
sifat baja, yaitu : Corrosion Resistant (Austenitic dan Duplex), Heat Resistant
(Austenitic) dan Wear Resistant (Manganese Steel)

c. Baja Tahan Karat (Stainless Steel)


Baja tahan karat adalah paduan besi dengan minimal 12% Chromium. Jadi
tanpa tambahan apapun perpaduan Besi dengan 12% Chromium bisa disebut
Stainless Steel. Komposisi ini membentuk thin protective layer Cr2O3. Proses
pembuatan baja tahan karat terdapat dua tahap, yaitu pertama menggunakan sistem
Electric Arc Furnance(EAF) untuk melelehkan scrap dan ferro alloy berkarbon
tinggi sebagai bahan murah sumber krom, lalu lelehannya disempurnakan dengan
proses yang menggunakan alat Argon Oxygen Decarborizer (AOD), dengan proses
kedua ini akan menghilangkan kandungan karbon dan pengotor lainnya.

2.8.4 .Bahan yang Digunakan

Karena baja adalah produk yang melalui suatu proses terlebih dahulu, maka
ada material yang harus menjadi bahan baku dalam pembuatannya. Bahan baku
untuk pembuatan baja ini adalah bijih besi. secara umum, ada 3 jenis bijih besi yang
umum digunakan, yaitu:

63 | P a g e
 Bijih Besi Primer

Umumnya berupa bijih hematite (Fe2O3) atau magnetite (Fe3O4) atau campuran
diantara keduanya. Kandungan Fe nya bervariasi (tinggi dan rendah).Di Indonesia,
bijih besi primer ada di Aceh, Sumbar, Bengkulu, Lampung, Kalbar, Kalsel.

 Bijih Besi Laterit

Jenis batuan ini berupa goethite dan limonite. Kadar Fe sekitar 40-58% karena
mengandung air kristal. Di Indonesia, terdapat di Pulau Sebuku, Gunung Kukusan
(Kalsel), Pomala, Halmahera, dll.

 Pasir Besi

Jenis batuannya adalah Titanomagnetite dan bersifat magnet kuat. Kandungan Fe


sekitar 59%. Pengolahan bijih sampai menjadi besi baja secara komersial sudah
dilakukan di New Zealand dan China.

2.8.5 Proses Pembuatan Baja

Baja diproduksi didalam dapur pengolahan baja dari besi kasar baik padat maupun
cair, besi bekas (Skrap) dan beberapa paduan logam. Ada beberapa proses pembuatan
baja antara lain:
a. Proses Konvektor
Terdiri dari satu tabung yang berbentuk bulat lonjong dengan menghadap
kesamping.
 Sistem kerja
- Dipanaskan dengan kokas sampai ±15000C,
- Dimiringkan untuk memasukkan bahan baku baja. (±1/8 dari volume
konvertor),
- Kembali ditegakkan,
- Udara dengan tekanan 1,5-2 atm dihembuskan dari kompresor.

64 | P a g e
- Setelah 20-25 menit konvertor dijungkirkan untuk mengeluarkan hasilnya.

b. Proses Bassemer (asam)


Lapisan bagian dalam terbuat dari batu tahan api yang mengandung kwarsa asam
atau aksid asam (SiO2). Bahan yang diolah besi kasar kelabu cair, CaO tidak
ditambahkan sebab dapat bereaksi dengan SiO2, SiO2 + CaO - CaSiO3

c. Proses Thomas (basa)


Lapisan dinding bagian dalam terbuat dari batu tahan api bisa atau dolomit
[kalsium karbonat dan magnesium (CaCO3 + MgCO3)], besi yang diolah besi kasar
putih yang mengandung P antara 1,7-2%, Mn 1-2% dan Si 0,6-0,8%, setelah unsur
Mn dan Si terbakar, P membentuk oksida phospor (P2O5), untuk mengeluarkan besi
cair ditambahkan zat kapur (CaO), 3 CaO + P2O5 – Ca3(PO4)2.

d. Proses Siemens Martin


Menggunakan sistem regenerator (± 30000C). Fungsi regenerator adalah:
- Memanaskan gas dan udara atau menambah temperatur dapur,
- Sebagai fundamen/landasan dapur,
- Menghemat pemakaian tempat.

e. Proses Basic Oxygen Furnace


- Logam cair dimasukkan ke ruang baker (dimiringkan lalu ditegakkan)
- Oksigen (±1000) ditiupkan lewat Oxygen Lance ke ruang bakar dengan
kecepatan tinggi (55 m3(99,5% O2) tiap satu ton muatan) dengan tekanan 1400
kN/m2.
- Ditambahkan bubuk kapur (CaO) untuk menurunkan kadar P dan S.

f. Proses Dapur Listrik


Temperatur tinggi dengan menggunakan busur cahaya electrode dan induksi listrik.

g. Proses Dapurkopel
Mengolah besi kasar kelabu dan besi bekas menjadi baja atau besi tuang.
- Pemanasan pendahuluan agar bebas dari uap cair.

65 | P a g e
- Bahan bakar (arang kayu dan kokas) dinyalakan selama 15 jam.
- Kokas dan udara dihembuskan dengan kecepatan rendah hingga kokas mencapai
700 – 800mm dari dasar tungku.
- Besi kasar dan baja bekas kira-kira 10-15% ton/jam dimasukkan.
- 15 menit baja cair dikeluarkan dari lubang pengeluaran.

h. Proses Dapur Cawan


- Proses kerja dapur cawan dimulai dengan memasukkan baja bekas dan besi
kasar dalam cawan.
- Kemudian dapur ditutup rapat.
- Kemudian dimasukkan gas-gas panas yang memanaskan sekeliling cawan dan
muatan dalam cawan akan mencair.
- Baja cair tersebut siap dituang untuk dijadikan baja-baja istimewa dengan
menambahkan unsur-unsur paduan yang diperlukan.

2.8.6 Kelebihan dan Kekurangan Material Baja

 Kelebihan penggunaan material baja antara lain sebagai berikut:


- Memiliki kekuatan yang tinggi,
- Sifat baja tidak berubah banyak terhadap waktu, tidak seperti halnya pada
struktur beton bertulang,
- Baja berperilaku mendekati asumsi perancang teknik dibandingkan dengan
material lain karena baja mengikuti hukum Hooke hingga mencapai
tegangan yang cukup tinggi,
- Portal baja yang mendapat perawatan baik akan berumur sangat panjang,
- Dapat menahan beban yang besar tanpa keruntuhan terhadap beban tarik,
 Kekurangan penggunaan material baja antara lain sebagai berikut:
- Memiliki biaya pemeliharaan yang tinggi,
- Baja merupakan konduktor panas yang baik, sehingga dapat menjadi
pemicu kebakaran pada komponen lain saat kebakaran,
- Rentan terhadap tekukan (buckling) pada tekanan yang tinggi,
- Kekuatan baja akan menurun jika mendapatkan beban siklis,

66 | P a g e
2.8.7 Penerapan dalam Lapangan

Jika parameter kekuatan, kekakuan dan daktilitas digunakan untuk


pemilihan material konstruksi maka dapat dengan mudah ditentukan bahwa
material baja adalah yang unggul dibandingkan beton dan kayu. Rasio kuat
dibanding berat untuk volume yang sama dari baja ternyata lebih tinggi dibanding
beton. Ini indikasi jika perencanaannya optimal maka bangunan dengan konstruksi
baja tentunya akan menghasilkan sistem pondasi yang lebih ringan dibanding
konstruksi beton, meskipun masih kalah dibanding kayu atau bambu.

2.9 Besi

2.9.1 Pengertian Besi


Besi adalah logam yang berasal dari bijih besi (tambang) yang banyak digunakan
untuk kehidupan manusia sehari-hari. Dalam tabel periodik, besi mempunyai simbol Fe
dan nomor atom 26. Besi juga mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

2.9.2 Bentuk dan jenis besi

Bentuk dan jenis Besi untuk bahan bangunan

1. Besi Polos

2. Besi Profil

67 | P a g e
3. Besi Ulir

2.9.3 Berat dan ukuran besi

2.9.4 Bahan yang Digunakan

1. MAGNETITE ( Fe3 O4)


Kandungan besinya sekitar 70 % s/d 73% ,Bijih besi ini merupakan bijih besi
yang terbanyak mengandung kadar besi, sedangkan warnanya :hitam atau abu-abu,
Berat jenisnya berkisar: 4,9 s/d 5,2. Bijih besi ini sangat kuat dan keras. Bijih besi ini
banyak terdapat di Negara: India, Swedia, Rusia, A S, Norwegia dan Kanada.
2. SIDERITES (FeCO3)
Kandungan besinya sekitar 40 s/d 48 % ,sedangkan Berat jenisnya berkisar:
3,7 s/d 3,9 Warnanya kuning sampai coklat. Terdapat di negara: Rusia dan Inggris.

68 | P a g e
3. PYRITIES (FeS2)
Bijih besi ini termasuk besi sulpat, dengan kandungan besinya berkisar 45 s/d 47
%, sedangkan warnanya kuning sampai coklat. Berat Jenis berkisar : 4,8 s/d 5,1 Bijih
besi ini banyak terdapat di negara: India, AS, Rusia dan Kanada.
4. HAEMATITE ( Fe2O3 )
Bijih besi jenis ini, mempunyai kandungan besi sekitar 65 – 70 %. Sedangkan
warnanya adalah: merah tua sampai hitam. Berat Jenis : sekitar 4,5 s/d 5,3. Bijih besi
ini banyak terdapat di negara: India ,Brasilia, Rusia, Spanyol , AS dan Afrika serta
Jerman.

5. LIMONITE (2Fe2O3.3H2O )
Bijih besi ini disebut juga sebagai Hydratited-Haematite, warnanya dari kuning
sampai hitam, dan kandungan Fe nya sekitar 60 %, sedang kadar air sekitar 14,5 %.
Berat jenisnya berkisar: 3,6 s/d 4 . Bijih besi ini terdapat di negara: India, Jerman dan
AS.

2.9.5 Proses Pembuatan Besi

Kandungan besi pada batuan :

A. Batu besi merah yang juga disebut hematit (Fe2O3) dengan kandungan besi
berkisar 50%.
B. Batu besi magnet (Fe2O4) berwarna hijau tua kehitaman, bersifat magnetis
dengan mengandung besi berkisar 60%
C. Batu besi coklat (2Fe2O3 + 3H2O) dengan kandungan besi berkisar 40%.
D. Batu besi kalsit atau spat (FeCO3) yang juga disebut sferosiderit dengan
mengandung besi berkisar 40%.
 Bijih besi dari tambang biasanya masih bercampur dengan pasir, tanah liat, dan
batu-batuan dalam bongkah-bongkahan yang tidak sama besar. Untuk kelancaran
proses pengolahan bijih besi, bongkah-bongkah tersebut dipecahkan dengan mesin
pemecah, kemudian disortir antara bijih besih dan batu-batuan ikutan dengan
tromol magnet.
 Pekerjaan selanjutnya adalah mencuci bijih besi tersebut dan mengelompokkan
menurut besarnya, bijih-bijih besi halus dan butir-butir yang kecil diaglomir di
dalam dapur sinter atau rol hingga berupa bola-bola yang dapat dipakai kembali

69 | P a g e
sebagai isi dapur. Setelah bijih besi itu dipanggang di dalam dapur panggang agar
kering dan unsur-unsur yang mudah menjadi gas keluar dari bijih kemudian dibawa
ke dapur tinggi diolah menjadi besi kasar. Dapur tinggi mempunyai bentuk dua
buah kerucut yang berdiri satu di atas yang lain pada alasnya.
 Dapur tinggi dibuat dari susunan batu tahan api yang diberi selubung baja pelat
untuk memperkokoh konstruksinya. Dapur diisi dari atas dengan alat pengisi.
Berturut-turut dimasukkan kokas, bahan tambahan (batu kapur) dan bijih besi.
 Agar proses dapat berjalan dengan cepat udara pengembus itu perlu dipanaskan
terlebih dahulu di dalam dapur pemanas udara. Proses pada dapur tinggi.
 Besi cair di dalam dapur tinggi, kemudian dicerat dan dituang menjadi besi kasar,
dalam bentuk balok-balok besi kasar yang digunakan sebagai bahan ancuran untuk
pembuatan besi tuang (di dalam dapur kubah), atau dalam keadaan cair dipindahkan
pada bagian pembuatan baja di dalam konvertor atau dapur baja yang lain, misalnya
dapur Siemen Martin.
 Batu kapur sebagai bahan tambahan gunanya untuk mengikat abu kokas dan batu-
batu ikutan hingga menjadi terak yang dengan mudah dapat dipisahkan dari besi
kasar. Terak itu sendiri di dalam proses berfungsi sebagai pelindung cairan besi
kasar dari oksida yang mungkin mengurangi hasil yang diperoleh karena
terbakarnya besi kasar cair itu. Batu kapur (CaCO3) terurai mengikat batu-batu
ikutan dan unsur-unsur lain. Proses dalam Dapur Tinggi Prinsip dari proses dapur
tinggi adalah prinsip reduksi.
 Pada proses ini zat karbon monoksida dapat menyerap zat asam dari ikatan-ikatan
besi zat asam pada suhu tinggi. Pada pembakaran suhu tinggi + 18000 C dengan
udara panas, maka dihasilkan suhu yang dapat menyelenggarakan reduksi tersebut.
Agar tidak terjadi pembuntuan karena proses berlangsung maka diberi batu kapur
sebagai bahan tambahan. Bahan tambahan bersifat asam apabila bijih besinya
mempunyai sifat basa dan sebaliknya bahan tambahan diberikan yang bersifat basa
apabila bijih besi bersifat asam. Gas yang terbentuk dalam dapur tinggi selanjutnya
dialirkan keluar melalui bagian atas dan ke dalam pemanas udara. Terak yang
menetes ke bawah melindungi besi kasar dari oksida oleh udara panas yang
dimasukkan, terak ini kemudian dipisahkan.
 Proses reduksi di dalam dapur tinggi tersebut berlangsung sebagai berikut: Zat
arang dari kokas terbakar menurut reaksi : C+O2 à CO2 sebagian dari CO2

70 | P a g e
bersama dengan zat arang membentuk zat yang berada ditempat yang lebih atas
yaitu gas CO. CO2 + C à 2CO Di bagian atas dapur tinggi pada suhu 300o sampai
8000 C oksid besi yang lebih tinggi diubah menjadi oksid yang lebih rendah oleh
reduksi tidak langsung dengan CO tersebut menurut prinsip : Fe2O3 + CO à 2FeO
+ CO2 Pada waktu proses berlangsung muatan turun ke bawah dan terjadi reduksi
tidak langsung menurut prinsip : FeO + CO à FeO + CO2 Reduksi ini disebut tidak
langsung karena bukan zat arang murni yang mereduksi melainkan persenyawaan
zat arang dengan oksigen.
 Sedangkan reduksi langsung terjadi pada bagian yang terpanas dari dapur, yaitu
langsung di atas pipa pengembus. Reduksi ini berlangsung sebagai berikut. FeO +
C à Fe + CO CO yang terbentuk itulah yang naik ke atas untuk mengadakan reduksi
tidak langsung tadi. Setiap 4 sampai 6 jam dapur tinggi dicerat, pertama
dikeluarkan teraknya dan baru kemudian besi. Besi yang keluar dari dapur tinggi
disebut besi kasar atau besi mentah yang digunakan untuk membuat baja pada
dapur pengolahan baja atau dituang menjadi balok-balok tuangan yang dikirimkan
pada pabrik-pabrik pembuatan baja sebagai bahan baku. Besi cair dicerat dan
dituang menjadi besi kasar dalam bentuk balok-balok besi kasar yang digunakan
sebagai bahan ancuran untuk pembuatan besi tuang (di dalam dapur kubah) atau
masih dalam keadaan cair dipindahkan pada bagian pembuatan baja (dapur Siemen
Martin). Terak yang keluar dari dapur tinggi dapat pula dimanfaatkan menjadi
bahan pembuatan pasir terak atau wol terak sebagai bahan isolasi atau sebagai
bahan campuran semen. Besi cair yang dihasilkan dari proses dapur tinggi sebelum
dituang menjadi balok besin kasar sebagai bahan ancuran di pabrik penuangan,
perlu dicampur dahulu di dalam bak pencampur agar kualitas dan susunannya
seragam.
 Dalam bak pencampur dikumpulkan besi kasar cair dari bermacam-macam dapur
tinggi yang ada untuk mendapatkan besi kasar cair yang sama dan merata. Untuk
menghasilkan besi kasar yang sedikit mengandung belerang di dalam bak
pencampur tersebut dipanaskan lagi menggunakan gas dapur tinggi

71 | P a g e
2.9.6 Kelebihan dan Kekurangan Besi

Kelebihan :

- Kuat tarik tinggi.

- Hampir tidak memiliki perbedaan nilai muai dan susut

- Dibanding Stainless Steel lebih murah

- Dibanding beton lebih lentur dan lebih ringan

Kekurangan :

- Bisa berkarat.

- Lemah terhadap gaya tekan.

- Tidak fleksibel seperti kayu yang dapat dipotong dan dibentuk berbagai profile

2.9.7 Penerapan Besi

Dalam bahan bangunan besi digunakan untuk:

a. Sebagai tulang beton

b. Untuk bahan rangka atap

c. Pagar rumah

d. Bahan bangunan jembatan

e. Ventilasi rumah

f. Rel kereta api

72 | P a g e
2.10 BATU KALI

Ciri utama dari batu kali adalah berupa Bongkah bongkahan. Batu ini biasa digunakan
untuk fondasi rumah. Meski begitu, tersedia juga batu kali lempengan. Bentuk dan
ukurannya biasanya tidak teratur. Lempengan batu ini biasa dipakai untuk lapisan dinding
ataupun lantai.
Butuh tukang yang berpengalaman dan ahli untuk mendapatkan hasil yang rapi karena
ketidak teraturan bentuk tersebut akan membuat proses pemasangan yang rumit. Bentuk
dan ukuran yang tidak beraturan jelas membuat proses pemasangan agak sulit.

2.10.1 Bentuk dan Ukuran Batu Kali

Bentuk dan ukuran batu kali yang digunakan


sebagai material pondasi bangunan adalah
bervariasi. Ukuran batu kali menurut
kegunaannya diantaranya sebagai berikut:

 Ukuran 1 – 10 cm dapat digunakan


sebagai timbunan dan tambahan material beton.
 Ukuran 10 – 30 cm dapat digunakan
sebagai bahan pondasi bangunan.

2.10.2 Proses Pembentukan Batu Kali

Batuan kali adalah jenis batuan beku. Batuan beku merupakan batuan yang
berasal dari hasil proses pembekuan magma. Magma merupakan material silikat yang
panas dan pijar yang terdapat di dalam bumi dengan temperatur berkisar antara 600ºC
sampai 1500ºC.

Magma disusun oleh bahan yang berupa gas (volatil) seperti H2O dan CO2, dan
bukan gas yang umumnya terdiri dari Si, O, Fe, Al, Ca, K, Mg, Na dan minor elemen
seperti V, Sr, dan Rb. Magma terdapat dalam rongga di dalam bumi yang disebut dapur
magma. Karena magma relatif lebih ringan dari batuan yang ada di sekitarnya, maka
magma akan bergerak naik ke atas.

73 | P a g e
Lava merupakan magma yang telah mencapai permukaan bumi. Lava yang
membeku akan menghasilkan batuan beku luar (ekstrusif) atau batuan volkanik. Magma
yang tidak berhasil mencapai permukaan bumi dan membeku di dalamm bumi akan
membentuk batuan beku dalam (intrusif) atau batuan beku plutonik.

2.10.3 Kelebihan dan Kekurangan Batu Kali

 Kelebihan : batu kali merupakan batuan yang tergolong kuat, dengan harga relatif
murah.
 Kekurangan : Ukuran nya yang sulit disesuaikan dengan desain.

2.10.4 Penggunaan Batu Kali

Contoh penggunaan batu kali:

 Pekerjaan pondasi.
 Talud sungai.
 Pasangan tembok penahan tanah, misalnya pada daerah yang rawan longsor.
 Pekerjaan landscape / taman.
 Pekerjaan pembuatan jalan raya.

2.11 Triplek & Multiplek

Plywood atau kayu lapis atau yang lebih


dikenal dengan istilah triplek terbuat dari bahan kayu
solid yang diproses menjadi beberapa lembaran tipis
atau lapisan kayu yang arah seratnya disusun saling
melintang antara lembaran bawah dengan lembaran
bagian atasnya secara bersamaan dengan perekat
khusus di bawah tekanan besar sehingga didapatkan
ketebalan tertentu.

74 | P a g e
2.11.1 Ukuran
Ukuran standar tripleks buatan Indonesia adalah 2440 mm x 1120 mm atau 96 inch
x 48 inch (8 feet x 4 feeet). Sedangkan ketebalan triplek standar bervariasi mulai dari 3
mm sampai 32 mm. Triplek ukuran standar seringkali dibedakan hanya dari ketebalannya.
Berikut beberapa ukuran triplek buatan Indonesia.

- Triplek 3 mm, berukuran 2440 mm x 122 mm x 3 mm (96 inch x 48 inch x 1/8 inch)

- Triplek 6 mm, berukuran 2440 mm x 122 mm x 6 mm (96 inch x 48 inch x 1/4 inch)

- Triplek 9 mm, berukuran 2440 mm x 122 mm x 9 mm (96 inch x 48 inch x 3/8 inch)

- Triplek 12 mm, berukuran 2440 mm x 122 mm x 12 mm (96 inch x 48 inch x 1/2 inch)

- Triplek 15 mm, berukuran 2440 mm x 122 mm x 15 mm (96 inch x 48 inch x 5/8 inch)

- Triplek 18 mm, berukuran 2440 mm x 122 mm x 18 mm (96 inch x 48 inch x 3/4 inch)

- Triplek 25 mm, berukuran 2440 mm x 122 mm x 25 mm (96 inch x 48 inch x 1 inch)

- Triplek 32 mm, berukuran 2440 mm x 122 mm x 32 mm (96 inch x 48 inch x 1-1/4 inch)

2.11.2 Proses Pembuatan


Proses awal pada dasarnya sama dengan proses pembuatan vinir kayu karena
plywood terbuat dari lapisan beberapa lembar vinir. Detail proses pembuatan vinir dapat
dilihat di sini. Pembuatan papan buatan, dalam hal ini multipleks, adalah proses lanjutan
dari pembuatan vinir.

1. Memilih Log

Langkah pertama dalam pembuatan papan buatan adalah memilih log. Log dipilih
berdasarkan kelurusan dan diameternya bundar atau tidak. Log yang baik untuk pembuatan
plywood adalah yang bebas dari mata kayu.

2. Debarking hingga Vinir Drying

Proses ini persis seperti yang dijelaskan pada proses pembuatan vinir.

75 | P a g e
3. Gluing

Aplikasi bahan lem menggunakan roller coater sistem dan lem yang digunakan adalah jenis
urea resin atau phenol-Formaldehyde. Jenis lem yang mengandung formaldehyde diketahui
kurang baik untuk kesehatan dan lingkungan yang mana bahan kimia yang digunakan
untuk membuat lem ini bisa mengakibatkan penyakit kanker. Oleh karena itulah beberapa
konsumen besar saat ini mensyaratkan pabrik furniture mereka untuk menggunakan papan
buatan yang bebas dari kandungan formaldehyde dengan cara melakukan test secara
berkala.

Terdapat beberapa standar ukuran dan metode pengetesan untuk bahan kimia ini. Grade
paling tinggi adalah E0 yang berarti NOL emisi. Kemudian terdapat grade E1, E2 san
seterusnya.

4. Pressing

Lapisan-lapisan vinir diatur di bawah mesin press dengan tekanan tinggi hingga ketebalan
yang diinginkan. Sebuah mesin press plywood bisa memuat sekaligus untuk 50 lembar
plywood dalam sekali tekan selama 3-4 menit. Dengan jenis lem yang berbeda, pressing
bisa dilakukan dengan 2 metode yang berbeda, hot press dan cold press.

 Hot Press:

Lazim dilakukan untuk plywood dengan bahan baku softwood dengan suhu mencapai 120
°C selama hampir 10 menit. Akurasi waktu pengepressan, tingginya tekanan dan
temperatur sangat penting pada proses ini.

 Cold Press:

Dilakukan dengan alat tekan hidrolik atau putar. Jenis lem yang digunakan biasanya adalah
resin atau urea-formaldehyde yang memiliki proses pengeringan lebih lama. Pengepresan
dilakukan selama 4-24 jam.

5. Cutting, Sanding

Lembaran-lembaran plywood yang telah kering kemudian di potong sesuai dengan ukuran
standar arah panjang dan lebar. Permukaan plywood dihaluskan dengan mesin amplas dan
cacat-cacat produksi dibersihkan atau diperbaiki.

76 | P a g e
6. Quality Control

Terdapat grade kualitas pada plywood yang dikenal dengan standar kualitas A hingga C. A
mewakili kualitas paling tinggi dan C kualitas paling rendah. Standar kualitas untuk
plywood antara lain: tidak terdapat 'overlap' vinir atau terkelupas, warna dan serat kayu
dan akurasi ketebalan plywood.

2.11.3 Kelebihan dan Kekurangan


Kelebihan triplek adalah karena sangat praktis penggunaannya,daya tahannya
terhadap penyusutan kayu serta ukurannya yang panjang dan lebar yang tidak mungkin
didapatkan dari kayu biasa pada posisi dan kualitas yang sama.

Sedangkan kekurangannya adalah triplek tidak punya daya tahan terhadap cuaca
yang sama kuatnya dengan kayu biasa sehingga tidak cocok untuk digunakan luar
ruangan.Bahan bangunan ini hanya direkomendasikan digunakan di dalam ruangan
misalnya untuk menyekat ruangan,untuk daun pintu sederhana dan untuk plafon..
Kelemahan paling besar pada triplek adalah pada sisi tebalnya. Sisi tebal triplek
merupakan bagian yang paling mudah menyerap air dan permukaannya sangat kasar

2.11.4 Penerapan Triplek & Multiplek

a. Bangunan

1) Rangka

2) Dinding

3) Langit-langit

4) Lantai

5) Pintu (pelapis daun pintu)

77 | P a g e
b. Alat-alat transportasi

1) Interior di mobil

2) Interior di kereta api

3) Interior di pesawat terbang

4) Interior di kapal laut

c. perabot rumah tangga

d. bahan pengemas : kopor, tas, dan lain kegunaan yang ada hubungan dengan kemasan .

e. barang-barang industri : radio, televisi, cabinet mesin jahit, baki, alat-alat rumah tangga
lainnya.

f. Barang-barang kerajinan : kap lampu, hiasan dinding, alat alat kantor, serta variasi
mainan anak-anak.

78 | P a g e
BAB III

PENUTUP

79 | P a g e
1|Page
2|Page
DAFTAR PUSTAKA

http://tekniksipilblog006.blogspot.com/2014/10/pengertian-genteng-beserta-
macam-macam.html
http://mulyantogoblog.wordpress.com/2007/06/25/jenis-jenis-genteng-dan-
ukurannya/feed/

http://printin9.wordpress.com/2009/09/26/genteng-2/feed/

3|Page