Anda di halaman 1dari 12

Pendidikan Islam Terpadu Pioner Kemajuan Indonesia

Berawal dari keprihatinan tentang sistem pendidikan yang tidak seimbang, di satu sisi
hanya menekankan aspek akademis dan di sisi yang lain hanya menekankan aspek karakter,
maka beberapa yayasan hadir untuk mensinergikan keduanya dengan mendirikan Sekolah
Islam Terpadu (SIT). Menurut Sukro Muhab (2010:14) terpadu merupakan keterkaitan
beberapa sistem dalam pendidikan yang dapat diterapkan, mulai dari visi-misi, kurikulum,
manajemen dan jaringan pendidikan yang dapat mengembangkan dan memajukan lembaga
pendidikan Islam secara baik. Dalam sumber lain Andrianto (2011:5) menyatakan bahwa
terpadu juga dikaitkan dengan keterlibatan antara guru, orangtua dan masyarakat. Selain itu,
keterkaitan kata terpadu dengan lembaga pendidikan Islam adalah bagaimana institusi
mampu memberikan pendidikan sesuai dengan fitrah manusia sehingga mampu menciptakan
sumber daya manusia yang beriman dan bertaqwa, berakhlakul karimah, berkualitas di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dan mampu bersaing dalam menghadapi tantangan
masa depan. Jadi dapat disimpulkan bahwa Sekolah Islam Terpadu (SIT) adalah sekolah
Islam yang diselenggarakan dengan memadukan secara integratif nilai dan ajaran Islam
dalam kurikulum dengan pendekatan pembelajaran yang efektif dan pelibatan yang optimal
dan koperatif antara guru, orang tua serta masyarakat untuk membina karakter peserta didik
dalam mencapai kemajuan bangsa.
Kehadiran SIT merupakan reaksi dan solusi bagi paradigma masyarakat Indonesia
tentang sekolah Islam. Selama ini masyarakat terlalu dibuai dengan tuntutan penguasaan
teori-teori pembelajaran tanpa penekanan karakter religius. Para orangtua lebih berminat
untuk menyekolahkan anak-anak mereka di sekolah-sekolah umum. Menurut mereka sekolah
Islam adalah sekolah pilihan kedua bahkan pilihan terakhir ketika anak-anak mereka tidak
diterima di sekolah umum. Paradigma seperti ini berakibat fatal terhadap input yang ada di
sekolah Islam. Sebagian peserta didik yang ada di sekolah Islam adalah mereka yang tidak
diterima di sekolah umum. Inilah yang menjadi tantangan bagi sekolah Islam. Mereka
dituntut oleh pemerintah untuk berhasil dalam dunia pendidikan tanpa penyetaraan input dan
fasilitas antara sekolah Islam dan sekolah negeri. Lebih jauh lagi Menurut Abuddin Nata
(2004:50) salah satu kekeliruan kebijakan pendidikan Nasional yang berpengaruh secara
langsung maupun tidak langsung terhadap kinerja pendidikan (educational performance)
Indonesia adalah kurang diperhitungkannya lembaga pendidikan Islam dalam sistem
pendidikan Nasional. Paradigma masyarakat yang mengesampingkan sekolah Islam inilah
yang menjadi pemicu munculnya SIT.
Sekolah Islam yang benar-benar terintegrasi secara struktur dan pengelolaannya. SIT
hadir dengan berbagai perubahan. Perubahan tersebut mencakup peserta didik, kurikulum,
tenaga pendidik, metode pembelajaran, sarana, penilaian dan orangtua. Kesemua komponen
ini diintegrasikan secara terpadu guna mencapai tujuan pendidikan dan kemajuan bangsa.
Perubahan ke arah positif yang cukup signifikan yang dipioner oleh SIT perlahan-
lahan mampu mengubah paradigma masyarakat tentang sekolah Islam. Masyarakat mulai
beralih untuk menyekolahkan anak-anak mereka di SIT. Ini terbukti dengan semakin
tingginya jumlah peserta didik di SIT pada setiap tahunnya. Melalui pengelolaan yang benar-
benar terpadu, SIT mampu membuktikan bahwa lembaga ini selalu berusaha mewujudkan
peserta didik yang mampu memiliki kecerdasan intelektual, spiritual dan emosional secara
seimbang. Selain itu, SIT memiliki daya saing yang tinggi. Walaupun di beberapa daerah SIT
baru didirikan, tetapi mereka mampu menjadi pemenang di berbagai kompetisi. Peserta didik
di SIT juga mampu bersaing dalam berbagai hal, seperti ilmu pengetahuan, teknologi dan
keagamaan. Berkat bukti yang SIT tunjukkan para orangtua rela mengeluarkan biaya yang
lebih besar demi pendidikan anak-anak mereka di SIT. Inilah beberapa indikator yang
menunjukkan keberhasilan SIT dalam merubah paradigma masyarakat tentang sekolah Islam.
Dalam artikel ini, penulis akan mengkaji beberapa komponen dalam pengelolaan
Sekolah Islam Terpadu (SIT). Komponen tersebut mungkin di setiap sekolah ada sedikit
perbedaan, tetapi akan dibahas secara umum. Komponen-komponen tersebut terdiri dari
peserta didik, kurikulum, tenaga pendidik, metode pembelajaran, sarana, penilaian dan
orangtua.
1. Peserta Didik
Peserta didik dalam Sekolah Islam Terpadu ini semuanya beragama Islam. Dalam SIT
peserta didik dilatih dan dibiasakan untuk memiliki akidah yang benar melalui
pemahaman teori dan prakteknya. Selain itu, peserta didik juga dibiasakan untuk
menerapkan akhlak mulia serta melaksanakan ibadah
secara benar. Seluruh komponen sekolah senantiasa
mengontrol perkembangan akidah, akhlak dan kecerdasan
peserta didiknya. Yang lebih penting lagi dalam SIT
peserta didik akan menjadi generasi cinta Al Qur’an.
Mereka dibiasakan untuk membaca, menghafal dan
memahami Al Qur’an. Sungguh luar biasa jika Indonesia ke depannya nanti dibanjiri oleh
generasi yang pintar secara akademis dan luar biasa secara agama. Kedua aspek inilah
yang mampu menjadikan peserta didik di SIT menjadi peserta didik yang mandiri,
bertanggung jawab, santun, jujur berani, disiplin dan cinta sesama.
2. Tenaga Pendidik
Tenaga pendidik di Sekolah Islam Terpadu harus memenuhi beberapa kriteria.
Kriteria tersebut tergantung kepada yayasan pengelola SIT. Secara umum, tenaga pendidik
yang bertugas di SIT harus memiliki pengetahuan tentang akidah, akhlak, dan
pengetahuan umum yang baik serta dapat mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tenaga pendidik di SIT harus bisa menjadi suri tauladan bagi seluruh siswanya, baik
ketika berada di lingkungan sekolah maupun ketika berada di luar lingkungan sekolah.
Seyogyanya ketika suatu lembaga akan menciptakan lulusan dengan kualitas yang baik,
maka pendidiknya pun harus berkualifikasi baik untuk mengemban tugasnya. Di beberapa
SIT yang sudah maju ditugaskan pendidik lulusan luar negeri, seperti dari Kairo dan
universitas lainnya di luar negeri. Inilah yang menjadi kelebihan SIT dibandingkan dengan
sekolah umum.
Selain kualifikasi di atas, pendidik di SIT juga didasarkan pada latar belakang
pendidikan sebelumnya. Pendidik ditempatkan sesuai dengan pendidikan sebelumnya.
Pendidik di SIT juga harus memiliki keberanian dalam berinovasi, ikhlas dalam bertindak
profesional serta mampu berkomunikasi dengan baik kepada peserta didik, kepala sekolah,
pengurus sekolah, teman sejawat serta orangtua murid. Ringkasnya, pendidik di SIT selain
selalu menaati kode etik guru, mereka juga menaati perintah agama. Inilah pendidik yang
dapat menjadi agen perubahan dalam menciptakan generasi yang mampu memajukan
Indonesia.
3. Metode Pembelajaran
Ada beberapa metode pembelajaran yang biasa diterapkan dalam Sekolah Islam
Terpadu. Diantaranya adalah joyfull learning (pembelajaran yang menyenangkan),
creative learning (pembelajaran yang kreatif), learning by doing (belajar sambil
melakukan) dan metode-metode lain. Keberagaman metode ini diterapkan guna
mendukung keberhasilan siswa dalam belajar. Setiap metode disesuaikan dengan materi
dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Oleh karena itu, pendidik dalam SIT harus
banyak berkreasi dalam menerapkan metode mengajar.
Metode yang pertama adalah joyfull learning (pembelajaran yang menyenangkan).
Joyfull Learning adalah pembelajaran yang di
dalamnya tidak ada lagi tekanan, baik tekanan fisik
maupun psikologis. Sebab, tekanan apa pun
namanya hanya akan mengerdilkan pikiran siswa,
sedangkan kebebasan apa pun wujudnya akan dapat
mendorong terciptanya iklim pembelajaran (learning
climate) yang kondusif. Siswa akan terdorong untuk terus belajar jika pembelajaran
diselenggarakan secara nyaman dan menyenangkan, sehingga siswa terlibat secara fisik
dan psikis. Konsep pembelajaran yang menyenangkan ini memperhatikan tiga aspek,
yaitu menghargai kontribusi siswa sekecil apapun, menjadikan siswa merasa aman secara
fisik dan psikis serta menghargai gagasan-gagasan siswa.
Metode selanjutnya adalah creative learning (pembelajaran kreatif) dan learning by
doing (belajar sambil melakukan). Pembelajaran kreatif dilakukan oleh pendidik di
Sekolah Islam Terpadu dengan cara mengelola kemampuan bertanya guru. Jika guru
memiliki kemampuan bertanya yang bagus, maka siswa akan merasa senang ketika diberi
pertanyaan. Selain itu, guru juga memberikan penguatan
yang baik terhadap hasil kerja siswa. Ketika siswa
berinovasi guru dapat memujinya dengan ucapan
”Subhanallah, Ustad senang sekali melihat hasil
karyamu”. Dan yang terpenting guru mendesain
suasana pembelajaran sekreatif mungkin hingga senantiasa menumbuhkan minat belajar
siswa. SIT pun juga dilengkapi dengan metode learning by doing (belajar sambil
melakukan). Siswa dilatih dan dibiasakan untuk menerapkan apa yang mereka pelajari.
Ketika mereka mempelajari tentang sholat sunah rawatib, maka siswa langsung
mempraktekkan dan membiasakan melakukan sholat sunah rawatib. Dalam hal ini,
pendidik menjadi suri tauladan siswa di sekolah. Keberagaman metode inilah yang
mampu memajukan kualitas peserta didik. Peningkatan kualitas peserta didik tentunya
sangat berpengaruh terhadap kemajuan bangsa.
4. Penilaian
Salah satu aspek penting dalam penyelenggaraan pendidikan adalah penilaian.
Fenomena yang terjadi sekarang adalah di beberapa sekolah pendidik hanya menekankan
aspek kognitif saja. Mereka cenderung mengesampingkan aspek psikomotorik dan aspek
afektif. Inilah yang dapat mengikis karakter generasi muda. Pendidik lebih cenderung
mengharapkan hasil yang bagus secara kuantitatif tanpa memperdulikan proses pencapaian
nilai tersebut. Hal semacam ini menjadikan siswa bermental curang, mulai dari menyontek
saat ujian dan menghalalkan segala cara demi meraih nilai tinggi. Kita harus menyadari
bahwa penilaian secara kualitatif juga sangat diperlukan. Oleh karena itu, di SIT siswa
dinilai secara keseluruhan dalam aspek kognitif, psikomotorik dan afektif. Siswa tidak
hanya dituntut untuk pintar secara teori, tetapi terampil dalam mempraktekkan
pengetahuan yang diperolehnya serta mampu menampilkan sikap yang baik terhadap apa
yang dipelajarinya. Penilaian benar-benar disusun untuk mendidik siswa menjadi generasi
yang jujur, bertanggung jawab dan mandiri. Penilaian di SIT juga dilakukan secara terus
menerus. Ini berarti bahwa pihak sekolah juga memperhatikan proses yang dijalani siswa
dan nilai akhir yang dicapai mereka baik secara kuantitaif maupun kualitatif.
5. Orang Tua
Orang tua adalah salah satu komponen yang sangat penting dalam menunjang
keberhasilan suatu lembaga pendidikan. Fenomena yang terjadi sekarang adalah
kebanyakan orangtua malas datang ke sekolah untuk mengetahui perkembangan anak-
anak mereka. Orangtua hanya datang ke sekolah saat rapat wali murid dan pembagian
hasil belajar siswa. Itupun kadangkala mereka wakilkan dengan anggota keluarga yang
lain. Para orang tua lebih cenderung ke sekolah saat anak-anak mereka bermasalah di
sekolah. Sungguh ironis ketika orangtua menuntut pihak sekolah mewujudkan siswa yang
berkualitas tanpa peran besar dari orangtua. Dalam Sekolah Islam Terpadu orangtua
diposisikan sebagai pembimbing dan pengontrol perkembangan siswa di rumah. Pihak
sekolah senantiasa mengkomunikasikan perkembangan siswa secara berkala kepada
orangtua. Oleh karena itu apapun masala yang dialami oleh siswa akan langsung
dikomunikasikan dan diselesaikan bersama orangtua.
Orangtua juga berperan dalam segi pendanaan sekolah. Jika di sekolah negeri siswa
dibebaskan dari biaya sekolah, di SIT orangtua berkontribusi besar terhadap kemajuan
sekolah melalui pembiayaan yang mereka lakukan secara berkala. Orangtua juga dapat
menjadi donatur sekolah. Peran ini sangat membantu kemajuan SIT. Selain itu, orang tua
juga berperan sebagai pengontrol perkembangan akademik, moral dan sosial siswa saat
berada di rumah. Orangtua harus berperan serta dalam mengontrol kegiatan anak-anak di
rumah. Jika ada keluhan tentang sistem pembelejaran di sekolah, orangtua dapat langsung
menemui pihak sekolah dan menacari solusinya. Oleh karena itu, jika suatu lembaga
pendidikan ingin maju maka peran orangtua jangan dikesampingkan.
6. Sarana
Sekolah yang ideal adalah sekolah yang dilengkapi sarana-sarana sesuai kebutuhan
siswa serta dapat mengoptimalkan pemanfaatan sarana tersebut dalam proses
pembelajaran. Sekolah Islam Terpadu
dilengkapi dengan berbagi sarana, antara lain
buku teks pelajaran yang bernuansa islami, buku
referensi dan ensiklopedi islam, mushola
atau masjid, laboratorium, kebun praktek dan lain-lain.
Buku teks pelajaran yang islami ini diselaraskan dengan penanaman nilai-nilai islami
dalam kehidupan sehari-hari. Pendidik mengintegrasikan nilai-nilai islami ke dalam
kegiatan pembelajaran. Peserta didik juga difasilitasi referensi dan ensiklopedi Islam agar
mereka dapat mengenal lebih jauh tentang agama Islam. Mushola atau masjid digunakan
untuk pelaksanaan sholat Dhuha, Zuhur dan Ashar secara berjamaah. Inilah tempat para
siswa untuk belajar dan mengamalkan nilai-nilai agama. Sarana ini membuat SIT tampil
beda dan menjadi pioner dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
7. Kegiatan Siswa
Di Sekolah Islam Terpadu siswa diarahkan untuk mengikuti berbagai macam
kegiatan. Kegiatan tersebut dapat beruapa kegiatakan ekstrakurikuler maupun kegiatan
tahunan. Kegiatan ekstrakurikuler dihadirkan untuk siswa agar mereka mampu
mengembangkan bakat dan minat mereka masing-masing. SIT menyediakan kegiatan
ekstrakurikuler dalam cabang keagamaan pengetahuan, teknologi, kepemimpinan serta
olahraga. Dalam cabang pengetahuan para siswa
dapat mengikuti Science Club. Dalam kegiatan ini
siswa dibimbing untuk mendalami dunia
matematika dan ilmu pengetahuan alam. Dalam
cabang kegamaan siswa dapat mengikuti Rumah
Tahfiz, Seni Baca Al Qur’an, dan Bahasa Arab. Rumah Tahfiz sebagai media untuk
menciptakan generasi penghafal Al Qur’an. Seni Baca Al Qur’an dapat memfasilitasi
siswa yang berminat dalam lomba Musabaqoh Tilawatil Qur’an, sedangkan dalam
ekstrakurikuler Bahasa Arab siswa dilatih berbahasa Arab dalam berbagai konteks. Untuk
bidang teknologi siswa dapat mengikuti kegiatan penguasaan komputer dan internet,
sehingga siswa dapat mahir mengoperasikan teknologi. Untuk kepemimpinan siswa dapat
mengikuti Pramuka, sedangkan cabang olahraga disediakan Futsal, Bulu Tangkis, Takraw
dan lain-lain. Untuk kegaiatan tahunan, siswa dilibatkan dalam pawai ta’aruf menyambut
tahun baru islam, aksi pengumpulan dan pembagian zakat fitrah dan kegiatan lain. Semua
kegiatan ini dilakukan untuk mendukung terwujudnya siswa yang matang secara fisik,
psikis dan sosial.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pada awalnya sekolah Islam menjadi
alternatif kedua bagi orangtua untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Ini disebabkan oleh
berbagai faktor. Seiring munculnya Sekolah Islam Terpadu yang hadir dengan berbagai
perubahan, antusiasme masyarakat begitu besar untuk menyekolahkan anak-anak mereka di
sekolah Islam. Masyarakat mulai yakin bahwa generasi yang diciptakan oleh SIT adalah
generasi yang mandiri, bertanggung jawab, jujur, disiplin, berakhlak mulia, berdaya saing
tinggi yang mampu menjadi pioner bagi kemajuan Indonesia. Semoga eksistensi dan
kontribusi SIT terhadap kemajuan Indonesia semakin meningkat.
DAFTAR PUSTAKA

Andrianto.2011.Implementasi Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan Islam.Surabaya:


Pustaka Jaya
Muhab,Sukro.2010.Jaringan Sekolah Islam Terpadu. Jakarta: Tiga Kelana
Nata, Abuddin.2001. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga-Lembaga
Pendidikan Islam Di Indonesia.Jakarta: Grasindo
Artikel Pendidikan

Pendidikan Islam Terpadu


Pioner Kemajuan Indonesia

Oleh :
Marzon Efendi, S.Pd.I
SDITA TAMAN HARAPAN CURUP
SURAT PERNYATAAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini


Nama : Marzon Efendi, S.Pd.I
NP : 04.2008.07.2011.033
Jabatan : Guru Kelas
Menyatakan bahwa naskah lomba yang saya kirim yang berjudul “Pendidikan Islam
Terpadu Pioner Kemajuan Bangsa” adalah asli hasil karya sendiri dan belum pernah
dipublikasikan sebelumnya.
Demikianlah surat pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya. Semoga dapat digunakan
sebagaimana mestinya.

Curup, 14 Oktober 2013


Guru Kelas SDITA

Marzon Efendi, S.Pd.I


BIODATA

NAMA : MARZON EFENDI, S.Pd.I

NP : 04.2008.07.2011.033

NKA PGRI : 070302101801

Tempat/tgl lahir : Curup, 26 September 1988

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Judul Artikel : Sekolah Islam Terpadu Pioner Kemajuan Bangsa

Sekolah

a. Nama Sekolah : Sekolah Dasar Islam Terpadu Aisyiyah Curup


b. Jalan : K.H.Ahmad Dahlan
c. Kelurahan : Talang Rimbo Baru
d. Kecamatan/kab : Curup Tengah/ Rejang Lebong
e. Telepon/HP : 085664825625

Alamat Rumah

a. Jalan : Musa
b. Kelurahan/Desa : Banyumas
c. Kecamatan/kab : Curup Tengah/Rejang Lebong
d. Provinsi : Bengkulu
e. No HP : 085664825625
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Mardiono, SH
NIP : 196803181994051001
Jabatan : Kepala SDITA Taman Harapan Curup
Menyatakan bahwa
Nama : Marzon Efendi
NP : 04.2008.07.2011
Jabatan : Guru Kelas
adalah benar-benar guru di SDITA Taman Harapan Curup.
Demikianlah surat pernyataan ini agar dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Curup, 13 Oktober 2013


Mengetahui

Mardiono, SH