Anda di halaman 1dari 73

ANATOMI TERAPAN PADA

BAHU DAN LENGAN ATAS


KOMPETENSI MATA KULIAH/ STANDAR
KOMPETENSI
 Mahasiswa mampu memahami, mendefinisikan dan
mengenal prinsip anatomi sistem obstetri-ginekologi,
sistem neuromuskuloskeletal, sistem kardiovaskulo dan
pulmonal yang ditinjau dari segi mekanik, struktur
anaotomi secara luas dalam pengaplikasian fisioterapi,
yang dikaitkan dengan kajian-kajian kasus-kasus
fisioterapi. Serta mampu dan menerapkan ketrampilan
dalam pengaplikasikan prinsip mekanik tersebut dalam
tugas fisioterapi
GLENOHUMERAL JOINT
 Merupakan ‘ball and
socket joint’ dibentuk oleh
glenoid cavity yang
cekung menghadap ke
lateral serong
cranioventral dengan
caput humeri yang
berbentuk cembung.
SUDUT CAPUT HUMERUS
SUDUT CAPUT HEMERUS
SENDI ACROMIOCLAVICULARE

 Merupakan sendi synovial (kecil) berupa hubungan


antara clavicula dengan acromion. Sendi ini
diperkuat oleh fibrus capsule yang tertutup oleh
ligamentum acromioclaviculare superior dan
inferior, conoid dan trapezoid.
 Merupakan plane joint dimana acromion konkaf
menghadap ke medial dan clavicula konveks.
Dalam klinis gerakan yang dijumpai adalah
Elevation - Depression dan Protraction – retraction.
SENDI STERNOCLAVICULAR
 Merupakan sendi synovial yang berupa hubungan antara
manubrum streni dengan bagian medial clavicula.
 Sendi ini diperkuat oleh ligamen costoclavicular yang
berfungsi untuk mengontrol gerak sliding clavicula
terhadap manubrum sterni ketika terjadi gerak shoulder.
 Gerakan anteroposterior terjadi diantara manubrium
dengan diskus, sedang antara diskus dengan clavicula
pada gerakan elevasi dan depresi scapula.
 Gerakan elevasi berkisar 4 setiap lengan flexi 10
sampai flexi 90. Pada rotasi axis longitudinal berkisar
40.
SENDI STERNOCLAVICULAR
 Gerakan anteroposterior terjadi diantara
manubrium dengan diskus, sedang antara diskus
dengan clavicula pada gerakan elevasi dan depresi
scapula.
 Gerakan elevasi berkisar 4 setiap lengan flexi 10
sampai flexi 90. Pada rotasi axis longitudinal
berkisar 40
SENDI SCAPULOTHORACAL

 Selain bersendi pada acromioclavicular dan


sternoclavicular, scapula tanpa perlekatan ligamen dan
sendi/tulang) bersendi dengan thorax.
 Gerakan sendi ini berkaitan dengan gerak protraksi,
retraksi, elevasi dan depresi serta rotasi.
 Terjadi sliding antara muskulo serratus anterior dengan
muskulo subscapularis.
 Gerakan flexi dan abduksi 2/3 gerak (120) terletak
pada glenohumeral, sedang 1/3 gerak (60) terjadi pada
sendi scapulohumeral.
 Gerakan scapulothoracic sebesar 60 itu tediri dari 20
pada acromioclavicular sedang 40 pada
sternoclavicular.
SHOULDER
SCAPULA
HUMERUS
LIGAMENT DAN CAPSUL
LIGAMENT DAN CAPSUL
PALPASI CLAVICULA
PALPASI ACROMION
PALPASI STERNUM
 Klien terlentang
 Lokasi palpasi 2
clavicula, kemudian
bergerak ke medial.
 Tarik garis ke arah
inferior.
PALPASI PROS. CORACOID
PALPASI GREATER TUBERCLE
PALPASI BICIPITAL GROOVE
PALPASI DELTOID TUBEROSITY
PALPASI SPINA SCAPULA
PALPASI MARGO MEDIAL SCAPULA
PALPASI ANGULUS SUPERIOR
 Posisi klien tengkurap
 Lokasi palpasi sisi
sudut lateral scapula
tarik ke arah medial
PALPASI MARGO LATERAL
 Posisi klien tengkurap
 Palpasi axilla bagian
posterior tarik ke arah inferior
TENDON M. BICEPS CAPUT LONGUM

Posisi netral
sedikit external
rotasi
Palpasi sulcus
bicipitalis sambil
gerak external-
internal rot
OTOT DELTOIDEUS
 DELTOID ANTERIOR
 DELTOID MIDLE

 DELTOID POSTERIOR
OTOT DELTOIDEUS
1. Deltoid anterior
 Origo : sepertiga lateral os clavicula
 Insersio : deltoid tuberosity
 Fungsi : shoulder abduction, flexion, medial rotation, dan horizontal
adduction
 Nerve : axillary nerve (c5, c6)
2. Deltoid midle
 Origo : Acromion proc.
 Insersio : Deltoid tuberosity
 Fungsi : Shoulder abduction
 Nerve : axillary nerve (c5, c6)
3. Deltoid posterior
 Origo : spina scapula
 Insersio : Deltoid tuberosity
 Fungsi : Shoulder abduction, extension, hyperextension, lateral
rotation, horizontal abduction
 Nerve : axillary nerve (c5, c6)
PALPASI OTOT DELTOID ANTERIOR DAN
MIDLE

 Posisi klien tidur


terlentang .
 Lokasi di area acromion
proc.
 Palpasi ke arah bawah
sesuai arah muscle belly
 Klien bergerak abduksi
secara bersamaan ada
tahanan dari terapis ke
arah medial
PALPASI OTOT DELTOID POSTERIOR
 Posisi klien tengkurap
 Awali palpasi acromion tarik
ke arah lateral mengikuti
lengan atas bag posterior (
bag axilla )
 Klien bergerak ekstensi dan
secara bersamaan ada
tahanan dari terapis
OTOT SUPRASPINATUS
 Origo : supraspinous fossa
scapula
 Insersio : greater tubercle
humerus
 Fungsi : shoulder abduction

 Nerve : suprascapular nerve


(C5, C6)
OTOT INFRASPINATUS
 Origo : infraspinous fossa
scapula
 Insersio : greater tubercle
humerus
 Fungsi : shoulder lateral
rotation, horizontal
 abduction

 Nerve : suprascapular nerve


(C5, C6)
OTOT TERES MINOR
 Origo : axillary border scapula
 Insersio : greater tubercle
humerus
 Fungsi : shoulder lateral
rotation, horizontal abduction
 Nerve : Axillary nerve (C5, C6)
OTOT SUBSCAPULARIS
 Origo : subscapular fossa
scapula
 Insersio : lesser tubercle
humerus
 Fungsi : shoulder medial
rotationabduction
 Nerve : subscapular nerve
(C5, C6)
OTOT PECTORALIS MAJOR
1. Clavicular portion
 Origo : sepertiga medial
clavicula
 Insersio : melekat sisi
lateral sulcus bicibitalis
 Fungsi : shoulder flexi
60 derajat pertama
 Nerve : lateral dan
medial pectoral nerve
(C5,C6, C7, C8, T1)
OTOT PECTORALIS MAJOR
2. Sternal portion
 Origo : sternum, cartilargo costa 1-6

 Insersio : melekat sisi lateral sulcus bicibitalis

 Fungsi : shoulder ekstensi 60 derajat pertama

 Nerve : lateral dan medial pectoral nerve (C5,C6, C7,


C8, T1)
3.Clavicular portion dan sternal portion
 Fungsi : Shoulder adduction, medial rotation, dan
horizontal adduction
 Nerve : lateral dan medial pectoral nerve (C5,C6, C7,
C8, T1)
PALPASI OTOT PECTORALIS
 Klien posisi terlentang
 Lokasi inferior
clavicula
 Pasien bergerak
internal rotasi dan
secara bersaman
terapis memberi
tahanan
OTOT CORACOBRACHIALIS
 Origo : coracoid proc.
scapula
 Insersio : sepertiga medial
os humerus
 Fungsi : stabilisasi shoulder
joint
 Nerve : musculocutaneous
nerve (C6, C7)
PALPASI OTOT CORACOBRACHIALIS
 Posisi klien terlentang
 Lokasi anterior axilla

 Klien bergerak internal


rotasi secara bersamaan
ada tahanan dari terapis
PALPASI OTOT BISEP BRACHII
 Posisi klien terlentang
 Lokasi sisi anterior lengan
atas
 klien bergerak flexi elbow
secara bersamaan ada
tahanan dari terapis
GERAK AKTIF SHOULDER
GERAK AKTIF SHOULDER
GERAK AKTIF SHOULDER
GERAK AKTIF SHOULDER
GERAK AKTIF SHOULDER
GERAK AKTIF FLEKSI BERLANGSUNG
TIGA TAHAP,
Tahap i yaitu lingkup 00 sampai 50-600, dilakukan oleh
otot:
 M. Deltoid anterior (n. Axilaris, radiks c5,c6)
 M. Coracobrachialis (n. Musculocutanius, radiks c6,c7)
 M. Pectoralis mayor serabut clavicular
Tahap ii yaitu lingkup 60-1200, dilakukan oleh otot:
 Ditambah m. Serratus anterior
 M. Trapezius ascendence
 M. Latissimus dorsi
Tahap iii yaitu lingkup 120-1800, dilakukan oleh otot:
 M. Serratus anterior
 M. Latissimus dorsi
 M. Erector spine.
GERAK AKTIF EKSTENSI ( DAN ADDUKSI )
BAHU OLEH :
 M. Latissimus dorsi (n.
thoraco dorsal, radiks
C6,C7)
 M. Teres mayor (n.
subscapularis inferior,
C5,C6)
 M. Deltoideus posterior
(n. axilaris, radiks C5,C6)
GERAK AKTIF ABDUKSI DILAKUKAN OLEH OTOT:

 M. Deltoid medius (n.


axilaris, radiks C5,C6)
 M. Supraspinatus (n.
subscapularis C5)
GERAK AKTIF INTERNAL ROTATION

 M. subscapularis (n.
subscapularis superior &
inferior, C5,C6)
 M. Pectoralis mayor (n.
pectoralis medialis &
lateralis,C5-8,T1)
 M. Latissimus dorsi (n.
thoraco dorsal, radiks C6-
8)
 M. Teres mayor (n.
subscapularis inferior,
C5,C6)
GERAK AKTIF EXTERNAL ROTATION

 M. Infraspinatus (n.
suprascapular, C5,C6)
 M. Terses minor (n.
axilaris, C5)
GERAK AKTIF HORIZONTAL ABDUCTION

 M. Deltoideus posterior
(n. axilaris, C5)
 Gerak aktif Horizontal
Adduction
 M. Pectoralis mayor(n.
pectoralis medialis &
lateralis,C5-8,T1)
 M. Deltoideus anterior (n.
axilaris, radiks C5,C6)
GERAK PASSIVE
SHOULDER ABDUCTION

 Gerak abd
humerus
ROM 900 elastic

harder end feel


Regangan

inferior capsule
dan kompresi
suprahumeral
GERAK PASIF SHOULDER INTERNAL ROTATION

Fiksasi girdle, lengan


bawah dibelakang
punggung
ROM 900 elastic end

feel
Regangan posterior
capsule, tekanan
coracoid proc.
GERAK PASIF
SHOULDER EXTERNAL ROTTION

Fiksasi girdle dan


lengan atas
lengan bawah
kelateral.
ROM 800 elastic

end feel
Regangan

anterior capsule.
GERAK PASIF SHOULDER HORIZONTAL ADDUCTION

 Regangan posterocaudal capsule


 Elastic end feel (harder Kissing

coracoid)
END FEEL NORMAL
 End feel lunak
 End feel kapsuloligamentair

 End feel keras


SCAPULOHUMERAL RHYTHM
 Pada selama gerakan shoulder abduction –
elevation dan juga selama flexion terjadi
gerakan osteokinematic yang proporsional
antara humerus dan scapula, yang disebut
scapulohumeral rhythm
SCAPULOHUMERAL RHYTHM
 Pada awal gerak abduction 0-300 terjadi gerak humerus
300 sementara scapula pada posisi tetap atau bahkan
sedikit adduction.
 Pada range 300 - 600 terjadi gerakan yang proporsional
antara abduction humerus : scapula sebesar 2 : 1.
 Selanjutnya pada abduction 600 – 1200 juga terjadi
humerus external rotation secara bertahap sebesar 900
karena menghindari benturan acromion dengan head of
humerus. Sementara gerak proporsional antara
humerus dan scapula 2 : 1 tetap berlanjut.
 Pada abduction 1200 – 1800 gerak proporsional tersebut
tetap berlanjut. Pada range ini mulai terjadi gerakan
intervertebral dan costae dan bermakna pada akhir
ROM
OTOT GROUP ROTATOR CUFF
WINGING SCAPULA

 Deformity scapula
 Kelemahan pada
otot seratus
anterior
FROZEN SHOULDER
 Patologi:
 Nyeri bahu dan keterbatasan gerak sendi
capsular pattern, tak jelas penyebabnya.
Diduga mrpk autoimmobilization.
 Dapat diderita pd wanita/pria usia 45-60
tahun
 Dapat didahului oleh cidera m.supra
spinatus, bursitis.
 20% diabetes mellitus bilateral.
BURSITIS SUBDELTOIDEA
 Patologi:
 Pada pria/wanita usia 25 – 60 th.
 60% tanpa sebab.
 40% dr peny. Rotator cuff, acromion atau AC
joint.
 Primair chronic bursitis lanjutan. Akibat
perubahan degeneratif tanpa gejala m.
supraspinatus.
 Secondair chr. Bursitis.Sebagai akibat
penyakit lain pada bahu.
TENDOPATHY M. SUPRASPINATUS

 Patologi:
 Etio : Pada critical zone terjadi
degenerasi dini. Bila overload akan
timbul nyeri.
 Penumpukan calsium masuk kedalam
bursa: bursitis calcarea.
 Wringing out phenomenon
(perenang/marathon)
 Terjadinya painful arc
TENDOPATHY M. INFRASPINATUS

 Patologi:
 Teno-osseal superficial
 Teno-osseal profundus.
 Tendon.
TENDOPATHY M. SUBSCAPULARIS
 Patologi:
 Karena overload, misal pelempar
lembing, smesh/serve tennis.
 Pada wanita 40 – 60 th sering tanpa
sebab.
 Diagnose: Shoulder pain sec.
tendinitis subscapular m.
TENDOPATHY M. BICEPS CAPUT
LONGUM

 Patologi:
 Tendon caput longum terletak intra dan
ektra artikuler.
 Tendon tidak gerak di sulcus saat grk.
bahu  sering test isometris tak nyeri.
 Diderita olah-ragawan muda.
 Dislocasi tendon caput longum.
 Akibat bentuk abnormal tubercul. dan
robeknya lig. transversum humeri  abd.
+ extern rot. disloc.