Anda di halaman 1dari 12

Panduan Lengkap Menyusun RAB ( 8 Langkah menyusun RAB Desa)

Berikut ini langkah-langkah penyusunan RAB berdasarkan Analisa Harga Satuan.


Urutan perhitungan RAB bangunan secara akurat adalah
1. Membuat gambar bangunan yang akan dibangun.
2. Membuat spesifikasi bahan material.
3. Membuat rincian daftar perkerjaan yang akan dilaksanakan.
4. Menghitung volume masing – masing item pekerjaan.
5. Mencari daftar harga upah dan bahan terbaru.
6. Menghitung analisa harga satuan setiap item pekerjaan.
7. Mengalikan volume dengan analisa harga satuan dan menjumlah harga keseluruhan.
8. Menyusun RAB sesuai format baku(Format RAB Desa)
Untuk jelasnya mari kita simak penjelasan masing-masing tahapan

1. Membuat gambar bangunan yang akan dibangun.

Syarat pokok menyusun RAB adanya gambar teknis pekerjaan. Pada bagian ini tidak akan
dijelaskan bagaimana membuat gambar teknis. Penjelasan lebih lanjut tentang cara
menggambar teknis pekerjaan akan dibahas dalam modul tersendiri.
Pada bagian ini terbatas hanya membahas bagaimana membaca sebuah gambar teknik
(bangunan) untuk dapat menyusun RAB.
Untuk Jelasnya perhatikan contoh gambar di bawah ini.
Gbr. Potongan melintang TPT
Pada gambar di atas menunjukan kolom kiri sebagai gambar utama (gambar teknis), kolom
sebelah kanan merupakan atribut atau kelengkapan gambar yang terdiri dari :
a. Nama Program (Misalnya Program Dana Desa)
b. Daerah Penerima Program
c. Jenis kegiatan/Prasarana
d. Lokasi Prasarana dilaksanakan
e. Digambar oleh siapa
f. Diperiksa oleh siapa
g. Diketahui/Disetujui
h. Lembar ke (berapa) dari (keseluruhan jumlah gambar)
Sedangkan perhitungan RAB akan menggunakan gambar teknis yang ada pada kolom sebelah
kiri. Dengan memperhatikan secara seksama gambar Tembok Penahan Tanah (TPT) di atas,
akan diperoleh beberapa informasi (data) yang diperlukan dalam menyusun RAB. Yaitu :
Bahan/Material, daftar pekerjaan dan volume masing-masing item pekerjaan.
Untuk jelasnya mari kita memasuki tahap ke-2

1
2. Membuat spesifikasi bahan material.

Perhatikan kembali gambar TPT di bawah :

Dengan melihat gambar di atas kita dapat mengetahui bahan yang diperlukan selanjutnya kita
perlu menentukan spesifikasi bahan tersebut.
Misalnya sebagai berikut :
a. Semen /PC merek Holcim atau sekwalitas
b. Pipa PVC 1,5 inchi -AW merek Wavin/sekwalitas
c. Batu Belah 15-20 ex Bataragung
d. Pasir pasang ex Cikeruh
e. Bambu ampel (cerucuk)
Perlu diingat bahwa setiap pekerjaan pasangan/konstruksi diperlukan persiapan yang meliputi
pengukuran dan pemasangan bouplank dalam gambar teknis hal ini tidak cantumkan, namun
pada prakteknya pasti diklaksanakan sehingga perlu dimasukan dalam RAB. Nah bahan
material yang dibutuhkan umumnya adalah :
a. Kayu 5/7
b. Paku 2”-5”
c. Kayu Papan 3/20
Kalau telah selesai menentukan spesifikasi bahan maka lanjutkan pada langkah berikutnya.

3. Membuat rincian daftar perkerjaan yang akan dilaksanakan.

Berikut ini rincian daftar pekerjaan pembuatan TPT berdasarkan gambar 2 di atas.
a. Pekerjaan pengukuran kembali dan pembuatan bouplank.
b. Pekerjaan galian
c. Pekerjaan pasangan batu 1:5 (adukan 1 semen 5 pasir)
d. Pekerjaan suling-suling
e. Pekerjaan plesteran adukan 1:4 setebal 2 cm dan acian t=2mm
f. Pekerjaan pengurugan kembali dipadatkan dengan tanah bekas galian
Lanjut dengan langkah berikutnya !

4. Menghitung volume masing – masing item pekerjaan.

Masing-masing item pekerjaan sebagimana langkah ke 3 di atas harus dihitung untuk


memperoleh volume pekerjaan yang akan dikerjakan. Volume diperoleh dari hasil perkalian
panjang kali lebar kali tinggi. Pada setiap gambar teknis sudah dicamtumkan ukuran panjang
lebar maupun tinggi. Kita tinggal menghitungnya untuk mengetahui volume masing-masing item
pekerjaan.
Untuk memperoleh gambaran yang jelas kita hitung langsung berdasarkan gambar di bawah :
a. Pekerjaan pengukuran kembali dan pembuatan bouplank.
Berdasarkan panjang TPT = 16 m perhitungan untuk RAB dikali 10 % sekitar 1,6 m
b. Pekerjaan galian
Panjang = 16 m, Lebar 0,9 m dan tinggi = 0,5
Volume galian (PxLxT) 16 x 0,9 x 0,5= 7,2 m3
c. Pekerjaan pasangan batu 1:5 (adukan 1 semen 5 pasir)
Panjang 16m, lebar atas 0,3, lebar bawah 0,9 (lebar untuk perhitungan = jumlah lebar atas dan
bawah dibagi dua = 0,6) dan tinggi 1,7 m
Volume Pasangan batu (PxLxT) 16m x 0,6m x 1,7m = 16,32 m3
d. Pekerjaan plesteran dan acian
Asumsi tebal plesteran 2 cm adukan 1:4 acian t=2mm, tinggi ban 10 cm
Luas plesteran atas (PxL) 16m x 0,3 m = 4,8 m2
Luas plesteran ban (PxL) 16m x 0,1 = 1,6 m2
Luas plesteran seluruhnya 4,8 + 1,6 = 6,4 m2
Luas acian = luas plesteran = 6,4 m2
2
e. Pekerjaan pengurugan kembali dipadatkan dengan tanah bekas galian
Terakhir kita harus menghitung pekerjaan pengurugan karena sesuai gambar ada pekerjaan
pengurugan untuk menutup bagian pasangan batu yang tidak tertutup tanah. Maka
perhitungannya adalah:
Panjang = 16 m Lebar atas 0,6 m dan lebar bawah 0,2 rata-rata Lebar =0,4 m maka dapat
dihitung volume pengurugan (PXLXT) 16 x 0,4 x 1= 6,4 m3

5. Mencari daftar harga upah dan bahan terbaru.

Untuk dapat menghitung RAB kita perlu mengetahui daftar harga upah maupun bahan/alat yang
akan digunakan. Menentukan harga upah bahan dan alat tidak cukup dengan mengacu kepada
Satuan Harga Barang Daerah yang di tetapkan Bupati. Karena harga satuan tersebut hanya
merupakan acuan batas harga minimal dan maksimal yang ditoleransi. Harga yang dicantumkan
dalam RAB haruslah mempertimbangkan harga berdasarkan survey lapangan.
Berikut kami berikan contoh cara menentukan harga upah, bahan dan alat sesuai survai
lapangan. Sebelumnya saya ingatkan kembali pada langkah 2 (dua) kita sudah menentukan
spesifikasi bahan/material yang dibutuhkan yaitu :
a. Semen /PC merek Holcim atau sekwalitas
b. Pipa PVC 1,5 inchi -AW merek Wavin/sekwalitas
c. Batu Belah 15-20 ex Bataragung
d. Pasir pasang ex Cikeruh
e. Bambu ampel (cerucuk)
f. Kayu 5/7 x 2m
g. Paku 2”-5”
h. Kayu papan 3/20 x 2m
Sekarang kita tinggal melakukan survey lapangan harga barang-barang tersebut. Caranya
untuk barang industry/toko (Semen, pipa PVC dan kayu) lakukan survey harga pada dua toko
atau lebih. Harga yang paling tinggi dapat digunakan sebagai dasar harga pada RAB sepanjang
tidak melebihi harga maksimal yang ditentukan pada acuan harga satuan barang daerah.
Sedangkan untuk barang yang diambil langsung dari alam/hasil tenaga manusia (Batu belah,
Pasir pasang dan bambu) ditanyakan langsung kepada pemilik atau levelansir.
Misalkan diperoleh:
a. Harga satu zak semen/50 kg merek Holcim seharga Rp. 65.000,- tidak termasuk PPN.
Perlu diingat bahwa harga pada RAB harus memperhitungkan PPN 10 %. Maka harga semen
yang dicantumkan pada RAB setelah di tambah PPN adalah sebesar Rp. 65.000 + Rp. 6.500 =
Rp 71.500,-
b. Harga piva PVC 1,5 Inc kw. rendah per batang Rp 60.000 termasuk PPN. Maka harga yang
dicantumkan pada RAB sama dengan Rp. 25.000,-
c. Harga batu belah 15-20 ek Bantaragung per m3 diterima di tempat seharga Rp.110.000.
Terhadap barang yang diambil langsung dari alam tidak dikenakan PPN. Namun karena atas
batu dilakukan proses lanjutan pengolahan untuk mendapatkan ukuran batu 15-20 maka
terhadap belanja batu belah tersebut perlu diperhitungkan PPN. Maka harga yang dicantumkan
di RAB adalah Rp. 121.000,-
d. Harga pasir pasang di terima di tempat seharga Rp.130.000,- Harga tersebut di cantumkan
langsung di RAB dengan asumsi belanja pasir langsung dari tempat galian C/pengusaha galian
C. Lain halnya apabila belanja pasir di toko/ supplier bahan material, perlu ditambahkan PPN 10
%.
e. Harga yang diperoleh berdasarkan harga diterima ditempat (lokasi) satu batang bambu Rp.
10.000, harga tersebut adalah harga yang dicantumkan di RAB. Karena bambu merupakan
barang yang diambil langsung dari alam tidak dikenakan PPN. Catatan apabila barang tidak
termasuk harga pengiriman maka biaya pengangkutan harus diperhitungkan.
f. Kayu 5/7 panjang 2 meter harga terbaru misalnya Rp. 15.000, karena dalam RAB
dicantumkan satuan harganya dalam m3, maka perlu melakukan konversi dari batang ke meter
kubik.
3
Caranya:
Hitung volume per batang kayu (tebal x lebar x panjang) yaitu 0,05 x 0,07 x 2,00 = 0,007 m3
Selanjutnya diperoleh jumlah batang per meter kubik yaitu dengan membagi 1m3 : 0,007 m3
hasilnya sama dengan 142,86 batang dibulatkan menjadi 143 batang.
Maka harga satu m3 kayu 5/7 sama dengan 143 batang dikali harga perbatang (Rp. 15.000,-)
yaitu Rp 2.145.000,- adalah harga yang dicantumkan pada RAB
g. Paku biasa 2”-5” diperoleh harga hasil survey lapangan Rp. 15.000
h. Kayu papan 3/20 panjang 2 meter harga terbaru Rp. 30.000, untuk menghitung harga
permeter kubik sama seperi pada perhitungan seperti dijelaskan pada hurup (f). diperoleh harga
permeter kubik sama dengan Rp. 2.520.000,-
Selanjutnya perlu diketahui pula harga upah yang berlaku di daerah setempat silakan lakukan
survey harga untuk upah :
a. Upah Mandor misalkan hasil nya adalah Rp. 90.000,-
b. Upah Kepala Tukang di daerah setempat misalnya Rp. 100.000
c. Upah Tukang Rp. 85.000,-
d. Upah Pekerja Rp. 75.000,-
Jika pekerjaan membutuhkan alat yang harus disewa misalkan pada pekerjaan pengaspalan
jalan ada sewa alat berupa stoom maka perlu melakukan survey hara sewa alat.

6. Menghitung analisa harga satuan setiap item pekerjaan.

Pada langkah sebelum kita telah membahas spesifikasi bahan/material (langkah-2),


menentukan rincian daftar pekerjaan (langkah-3), menghitung volume tiap item pekerjaan
(langkah-4) dan mengetahui harga terbaru upah dan bahan (langkah-5).
Pada langkah ke-6, kita akan menghitung analisa harga satuan per item pekerjaan berdasarkan
data yang telah berhasil dikumpulkan dari langkah sebelumnya. Data tersebut dapat kita
gambarkan sebagai berikut :

Perhatikan kotak yang diberi tanda Tanya (?).


Pada Hurup A bahan / Material dan hurup B Upah, pada kolom volume seluruhnya diberi tanda
? karena kita belum mengetahui berapa volume yang dibutuhkan, langkah sebelumnya kita baru
berhasil menentukan spesifikasi bahan/material dan harga bahan dan upah.
Sebaliknya pada Hurup C item pekerjaan, kita sudah ketahui volume yang harus dikerjakan,
namun belum diketahui harga per satuan pekerjaan sehingga pada kolom harga masih tanda
Tanya (?).
Jawabannya ada pada langkah ke-6 silakan simak penjelasannya
Pada langkah ke-6 ini kita akan menghitung analisa harga satuan per item pekerjaan.
Perhitungan ini harus mengacu kepada analisa belanja dan harga satuan barang yang
dikeluarkan oleh pemerintah daerah dalam bentuk Peraturan Bupati yang ditetapkan setiap
tahun. Dalam contoh berikut ini menggunakan analisa yang berlaku di Kabupaten Majalengka.
Mari kita hitung analisa harga per item pekerjaan. Untuk melakukan perhitungan ini kita harus
mengacu pada analisa pekerjaan dan harga satuan barang daerah yang ditetapkan dalam
Peraturan Bupati/Walikota. Daftar analisa harga satuan daerah Kabupaten Majalengka Tahun
2016 kami sertakan dalam CD silakan membukannya.
Kita lanjutkan !
a. Pekerjaan pengukuran kembali dan pembuatan bouplank.
Perhatikan pada kolom (1) s/d kolom (4) terdapat dalam analisa pekerjaan dan tidak boleh
dirubah. Sedangkan kolom (5) Harga satuan kita masukan harga ril terbaru di lapangan namun
tidak boleh melebihi ketentuan batas maksimal harga yang ditetapkan dalam harga satuan
barang daerah. Kolom (6) merupakan perkalian dari kolom (3) Koefisien dengan kolom (5)
harga satuan sehingga diperoleh jumlah harga.
Hasilnya seperti tabel di bawah ( Catatan tabel analisa pekerjaan silakan dilihat pada CD yang
kami sertakan)

4
b. Pekerjaan galian
Tabel analisa seperti di bawah ini, kolom (5) diisi dengan harga upah berdasarka hasil
survey.Pada pekerjaan galian hanya perlu menghitung upah pekerja dan mandor karean pada
pekerjaan galian tanah tidak membutuhkan material.

c. Pekerjaan pasangan batu 1:5 (adukan 1 semen 5 pasir)


Kebutuhan bahan material dan pekerja sebagaimana pada analisa pekerjaan B003 (menggali
tanah biasa sedalam 1m). Maka perhitungan analisanya seperti ditunjukan pada tabel berikut:

(B003) Analisa Pas Batu 1:5


d. Pekerjaan suling-suling
Khusus jika pekerjaan suling-suling tidak ada di analisa harga satuan maka kita dapat
menghitungnya sendiri. Jika kita asumsikan tiap meter pasangan batu dipasang 3 buah suling-
suling dengan panjang rata-rata 50 cm maka tiap meter akan membutuhkan 1,5 meter PVC.
Maka perhitungan koefisien kebutuhan piva PVC/pralon tersebut yaitu (kebutuhan PVC per m2
: panjang PVC perbatang )= (1,5/4)= 0,3750
Maka tabelnya analisa harga satuannya dibuat sebagai berikut :

e. Pekerjaan plesteran adukan 1:4 setebal 2 cm dan acian t=2mm


Maka perhitungan anlisa plesteran sebagaiberikut :
(F011) Analisa plesteran 1:4 t=20mm
f. Sedangkan analisa pekerjaan acian tebal 2 mm sebagai berikut :

(F021) Analisa acian t=2mm

g. Pekerjaan pengurugan kembali dipadatkan dengan tanah bekas galian

(B009) Analisa urugag sedalam 1m

Akhirnya kita sampai kepada kesimpulan analisa harga satuan per item pekerjaan digambarkan
sebagaimana tabel dibawah ini. Dan angka harga satuan yang dicetak tebal pada kolom (5)
HARGA SATUAN merupakan hasil perhitungan analisa per pekerjaan huruf (a-g).

Analisa satuan pekerjaan per item (merupakan harga satuan per m1/m2/m3)

Untuk mengetahui jumlah keseluruhan biaya yang diperlukan dalam pembuatan TPT seperti
yang ditunjukan pada gambar teknis pada langkah-1, maka tinggal mengalikan volume tiap item
pekerjaan pada langkah 4 dengan harga analisa. Hasilnya sebagaimana pada langkah
berikutnya.

7. Mengalikan volume dengan analisa harga satuan dan menjumlah harga secara
keseluruhan

Pada langkah ke tujuh ini kita tinggal mengalikan volume item pekerjaan dengan analisa harga
satuan serta menjumlahkan harga keseluruhan dan total biaya yang dibutuhkan akan diketahui.
Tabel dibawah merupakan RAB berdasarkan item pekerjaan. Dan kitapun sudah mengetahui
besaran biaya yang dibutuhkan baik peritem pekerjaan maupun biaya keseluruhan.
Jadi keseluruhan biaya yang diperlukan untuk membangun satu unit TPT sepanjang 16 m
seperti ditunjukan dalam gambar teknis pada langkah-1 adalah sebesar Rp.9.246.973. terbilang
(Sembilan juta dua ratus empat puluh enam juta sembilan ratus tujuh puluh tiga rupiah)
RAB Peritem pekerjaan

5
Selanjutnya kita memasuki langkah terakhir penyusunan RAB yaitu menyusun data yang sudah
kita kerjakan pada langkah 1-7 kedalam format baku.

8. Menyusun RAB Detail sesuai format baku dan menyusun daftar kebutuhan
bahan/material, alat dan upah.

Jangan khawatir anda hanya tinggal memasukan data yang sudah anda kumpulkan dan
dihitung pada langkah sebelumnya pada format yang sudah di tentukan.
Format RAB sesuai Lampiran Permendagri Nomor113 Tahun 2014 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Desa dan Lampiran I Peraturan Bupati Majalengka Nomor 14 Tahun
2014 tentang Sistem dan Prosedur Pengelolaan Keuangan Desa seperti terlihat di bawah.

Format RAB Pemendagri 113/2014

Akan sangat membantu apabila anda membuat format RAB diatas dalam format MS Excel.
Karena dengan Excel Anda tidak perlu menghitung secara manual, cukup masukan formula
penjumlahan atau perkalian pada sel yang dikehendaki dan hasilnya akan langsung muncul.
Dibawah ini hasil akhir RAB yang kita buat namun kami tambahkan kolom koefisien pada kolom
3 sehingga jumlah kolom RAB menjadi 6 (enam). Nilai koefisien diambil dari analisa pekerjaan
dalam Peraturan Bupati dan tidak boleh di rubah (bersifat tetap). Hal ini untuk memudahkan
penghitungan. Hasilnya RAB seperti pada LAMPIRAN I (bagian akhir modul).

Meskipun tidak diatur dalam Permendagri maupun Peraturan Bupati, untuk membantu
memudahkan belanja oleh (TPK) dan pengelolaan pertanggung jawaban oleh bendahara, perlu
dibuat format kebutuhan bahan/matrial, alat dan pekerja. Tujuan dari pengisian format ini untuk
merekap (menjumlahkan) kebutuhan material, alat maupun upah yang sejenis dari masing-
masing item pekerjaan. Sikalan lihat pada LAMPIRAN II

Dengan dibuat format sebagaimna LAMPIRAN II maka akan memudahkan pengisian pada
APBDesa. Anda tinggal menyalin data (copy paste) uraian pada format kebutuhan
bahan/material, alat dan pekerja pada format APBDesa. Hasilnya akan seperti contoh pada
LAMPIRAN III.

Ingat bahwa RAB yang dibuat akan merupakan bagian pada tahap perencanaan sebagai
lampiran RKPDesa dan dasar penganggaran pada APBdesa. Selain itu RAB juga akan
digunakan pada tahap eksekusi anggaran sebagai lampiran Surat Permintaan Pembayaran
(SPP) dan akan digunakan pada pembuatan laporan pertanggung jawaban (LPJ).

Sebagai bagian dari perencanaan RAB harus disusun dan dibuat dengan benar oleh
pemerintah desa. Meskipun tidak ada jaminan RAB yang baik akan menghasilkan hasil
pekerjaan yang baik. Namun apabila RAB dibuat asal-asalan dan tidak benar hasilnya pasti
tidak baik.

RAB memiliki peranan penting karena bagi pemerintah desa, setiap kegiatan infrastruktur dalam
RKPDesa harus dilampiri RAB. Dan RAB pada RKPDesa selain jadi dasar pada penganggaran
APBDesa, sebagai pedoman pelaksanaan dilapangan, juga akan digunakan oleh pihak terkait
untuk pemeriksaan dari kemungkinan adanya penyimpangan keuangan negara misalnya
Inspektorat, BPKP, BPK atau bahkan KPK.

LAMPIRAN I,II dan III (format excel) SILAKAN DOWN LOAD

Mudah-mudahan 8 langkah menyusun RAB pada modul ini dapat membantu anda dalam
menyusun RAB. Semoga bermanfaat dan selamat bekerja.

6
LABELS: REFERENSI SHARE Comments

 Phylo Post10 October 2016 at 05:05


kalau saya perhatikan, pengajuan SPPnya memakai SPP Panjar ya? Apakah panjar total (semua dananya)
diperbolehkan? setahu saya panjar diberikan dgn porsi sebagian-sebagian. maaf kalau saya salah...

REPLY
 ADMINISTRASI DESA10 October 2016 at 06:30
Yang anda sampaikan benar sekali, seharusnya bendahara mengeluarkan uang sesuai kebutuhan/progres
kemajuan kegiatan.Dan pada saat pengajuan SPP, pengadaan barang dan jasa sebaiknya sudah
dilaksanakan oleh TPK. Artinya setiap belanja barang dengan cara pembayaran ditempat atau barang
dikirim dahulu pembayaran kemudian, begitupun jasa/HOK.Tentunya ini akan memudahkan verifikasi
bukti belanja oleh Sekdes/PTPKD. terimakasih masukannya.

REPLY
 Dody Irawan2 February 2017 at 00:08
Bagaimana kalau hanya material nya berupa batu atau pasir yang nilainya diatas 50 juta, sementara didesa
setempat memiliki sumber daya alam batu atau pasir dan bisa diusahakan oleh tpk tanpa melalui suplier??
Sedangkan kita tahu sesuai dengan lkpp no.22 tahun 2015 pada Bab 1 point D bagian e. Jelas
mengutamakan prinsip gotong royong, intinya peyediaan tenaga kerja lokal. Mohon pencerahannya pak.
Tks.

REPLY
 ADMINISTRASI DESA2 February 2017 at 17:41
Untuk yang diatas 50 juta s.d 200 juta TPK melakukan penawaran dengan penyedia baik toko maupun
masyarakat. Intinya boleh penunjukan dengan satu toko/suplayer/masyarakat.Hanya perlu dilengkapi
administrasi penawaran dan kesepakatan harga berdasarkan spek barang yang jelas. Betul harus
mengutamakan potensi SDA maupun SDM yang ada.

REPLY
 ERWIN BANGKA22 April 2017 at 06:17
Mau tanya pak. Bagaimana pelaporan kegiatan sedangkan DD 2016 tahap 2 masuk kas desa tanggal 30
desember? Apakah transaksi SPp dibuat di tahun 2016 atau 2017? Nota2 pembelian barang juga gimana?
Apa dibuat di 2016 atau 2017

REPLY
 ERWIN BANGKA22 April 2017 at 06:23
Mau tanya pak ya. Untuk penanggalan transaksi pembelian barang2 di nota pembelian maupun pengajuan
SPP di tahun 2016 sedangkan DD tahap 2 2016 masuk kas desa tanggal 30 desember

REPLY

1.ADMINISTRASI DESA4 May 2017 at 13:31

Kejadian tersebut hampir umum di kabupaten se Indonesia. Dalam kasus tersebut harusnya dana DD tahap
2 menjadi SILPA APBDesa tahun 2016 dan hanya digunakan setelah APBDesa 2017 disyahkan.
Bukankah tidak mungkin membelanjakan DD dalam satu hari ?
Namun demikian karena desa tidak melaksanakan kegiatan dengan sisten PANJAR, artinya setiap
pengadaan barang dan jasa di desa harus dikerjakan dulu baru setelah pekerjaan dianggap lengkap dan
baik dilakukan pembayaran. Dalam kasus tersebut apabila pekerjaan benar benar telah selesai dikerjakan,
tanggal nota sesuai tanggal belanja sebelum 30 Desember dan pembayaranya sekaligus pada tanggal 30/31
Desember.

 Phylo Post5 May 2017 at 02:02


tepat sekali pak admin... untuk kasus keterlambatan pencairan dana desa diatas mirip skali dgn di daerah
kami di kabupaten buton selatan. langkah2 yg kami ambil juga sama dgn diatas, yaitu jauh hari sebelum
pencairan kami telah melaksanakan seluruh kegiatan seperti pengadaan barang, penyelesaian pkerjaan.
dan sisanya tinggal menunggu waktu pencairan yg kemudian dibayar lunas sekaligus... untuk contoh
kongkretnya jika menggunakan sistem SPJ seperti di Buton Selatan. yakni 1. Kwitansi/Tanda Bukti Kas 2.
7
Nota Pesanan/Surat Pesanan 3. Faktur 4. Berita Acara Pemeriksaan Barang 5. Berita Acara Serah Terima
Barang...
Karena kegiatan sudah dilakukan sebelum pencairan, maka penanggalannya pun sebelum pencairan.
sehingga Nota Pesanan, Faktur dan Berita Acara diatas sudah pasti penanggalannya sebelum pencairan
atau mendahului kwitansi/tanda bukti kas. Maka pada saat pencairan, tinggal dibayar lunas melalui
kwitansi/tanda bukti kas....

 ADMINISTRASI DESA22 July 2017 at 03:34


Tidak boleh, untuk jelasnya Silakan kunjungi link di bawah untuk mengetahui panduan menyusun RAB
http://format-lengkap-administrasi-desa.blogspot.co.id/2016/10/panduan-lengkap-menyusun-rab-format-
rab.html

REPLY
 Peni wulan19 August 2017 at 18:17
Pak mohon di bantu apakah sama pembuayan spj insfra struktur dg peltihan boga..kalo ada bedanya zaya
mohon di jelaskan

REPLY
 ADMINISTRASI DESA21 August 2017 at 05:36
Prinsip SPJ sama hanya yang membedakan item belanja dan jenis pajak (PPN/PPH). Pada SPJ
infrastruktur belanja akan mengakibatkan terbentuknya barang modal(barang yang manfaatnya lebih dati
satu tahun). Pada belanja pelatihan hanya belanja barang jasa habis pakai. Pada kegiatan pelatihan yang
perlu di SPJ-kan diantaranya:
1. Honor narasumber (lengkapi dg bukti materi dan Pph 21).
2. Mamin peserta (lengkapi dg Pph 21 dan pajak daerah jika di atur)
3. Uang saku peserta jika dianggarkan (potong Pph 21)
4. Pengadaan binner, dokumentasi, alat praktek pelatihan termasuk cinderamata bisa dianggarkan (harus
diperhatikan pajaknya Ppn/Pph 22).
5. jangan lupa daftarhadir, dan penerimaan uang saku dan penerimaan bahan pelatihan.
Hanya itu yang dapat dijelaskan.

1.sade24 October 2017 at 14:12

Biaya umum dapat berupa biaya administrasi: (Biaya disain gambar/RAB, biaya
penyelenggaraan/administrasi lelang, jasa konsultan/tenaga teknis apabila pekerjaan diharuskan
menggunakan konsultan , dll)

Post a Comment
Popular posts from this blog

8
Contoh LPJ Dana Desa (Dilengkapi Format Baku)
August 21, 2016

Contoh LPJ DD 2016 (format Excel & Word) Berikut ini admin coba mengulas cara membuat
Laporan Pertanggung Jawaban Penggunaan Dana Desa. Dilengkapi dengan format yang sudah
dibakukan. LPJ ini merupakan administrasi yang wajib dibuat oleh Tim Pengelola Kegiatan
(TPK).
Admin mengambil kasus kegiatan pengaspalan jalan dengan hotmix dan penambalan di Desa
Astina Kecamatan Kurawa. Adapun Rencana Anggaran Biaya sesuai RKPDesa dan
APBDesa sebesar Rp. 356.963.600,-.
Segera setelah TPK menerima Surat Perintah Kerja (SPK) mencermati dan mempelajari RAB.
Sebagai contoh RAB yang akan dilaksanakan TPK sebagai berikut : .............

SHARE 31 COMMENTS READ MORE

FORMAT BARU ADMINISTRASI DESA (PERMENDAGRI 47/2016)


September 09, 2016

Administrasi Desa Format Baru Ketentuan yang mengatur tentang Administrasi Desa diatur
dalam Permendagri Nomor 47 Tahun 2016 tentang Administrasi Desa. Dengan diberlakukannya
Permendagri tersebut, Permendagri Nomor 32 Tahun 2006 tentang Pedoman Administrasi Desa
dan peraturan pelaksannya dinyatakan dicabut dan tidak berlaku lagi.
Bagaimana mengelola dan seperti apa fomat yang diberlakukan dalam Permendagri 47/2016 ?
Silakan simak penjelasannya !
Penyelenggaraan Administrasi Desa Kepala Desa berwenang menyelenggarakan Administrasi
Desa. Kepala Desa melaksanakan administrasi desa dibantu Aparat Desa. Administrasi Desa
diilaksanakan dalam rangka :
Penyelenggaraan Pemerintahan
Pelaksanaan Pembangunan
Pembinaan masyarakat, dan
Pemeberdayaan Masyarakat
Administrasi Desa meliputi : …

SHARE 4 COMMENTS READ MORE

9
LAPORAN KEPALA DESA FORMAT BARU 2016
September 08, 2016

Laporan Kepala Desa Berdasarkan Permendagri 46/2016 Pada saat ini , Peraturan Menteri
Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Tata Cara Pelaporan Dan
Pertanggungjawaban Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, dicabut dan dinyatakan tidak
berlaku. Seiring telah diundangkannya Permendagri Nomor 46 Tahun 2016 tentang Laporan
Kepala Desa.
Apa saja dan bagaimana Laporan Kepala Desa dibuat ?
Silakan simak tuntas penjelasannya !
Apa saja Laporan yang harus dibuat Kepala Desa ?
Setiap tahun Kepala Desa wajib membuat :
Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa akhir tahun anggaran;Laporan
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa akhir masa jabatan;Laporan Keterangan
Penyelenggaraan Pemerintahan Desa akhir tahun anggaran; danInformasi Penyelenggaraan
Pemerintahan Desa.(Permendagri 46/2016 BAB II pasal 2) LPPD AKHIR TAHUN ANGGARAN
Tiga bulan sejak berakhirnya tahun anggaran (Bulan Maret tahun berkenaan) Kepala Desa
membuat Laporan Penyelenggaraan Pemerintah Desa / LPPD akhir tahun anggaran.
Disampaikan k…

SHARE 17 COMMENTS READ MORE

Format Profill Desa Lengkap (Download)


July 22, 2016

Profil Desa/Kelurahan Desa dan kelurahan wajib mengisi data profil desa setiap tahun. Profil
Desa menggambarkan keadaan desa secara utuh dan menyeluruh. Dapat dijadikan sebagai
tolak ukur perkembangan kemajuan Desa dan Kelurahan.
Dasasr Hukum Penyusunan Profil Desa :
Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 12 tahun 2007 tentang Penyusunan dan
Pendayagunaan Profil Desa dan Kelurahan.
Surat Mendagri 414.3/316/PMD tanggal 7 Februari 2013 tentang sistem pendataan Profil
Desa/Kelurahan.
Pengisian Profil Desa dilakukan secara online dengan mengunjungi website Kementrian Dalam
Negeri http//www.prodeskel.binapemdes.kemendagri.go.id.

SHARE 6 COMMENTS READ MORE


10
Sistematika LPJ Dana Desa (Format Baku & Contoh lengkap)
September 12, 2016

LPJ DANA DESA FORMAT BAKU BERIKUT CONTOH Pada tulisan ini admin akan mengupas
tuntas penyusunan LPJ Dana Desa. Tulisan ini akan membimbing penyusunan LPJ dari mulai
membuat jilid, isi laporan sampai lampiran-lampiran yang diperlukan. Format yang digunakan
merupakan format baku mengacu pada aturan terkini. Sekaligus disertai contoh LPJ Dana Desa
lembar demi lembar.
Laporan Penggunaan Dana Desa merupakan laporan Kepala Desa Kepada Bupati/Walikota.
Hakekatnya adalah laporan Bendahara Desa dan Tim Pelaksanan Kegiatan Dana Desa dalam
melaksanakan kegiatan yang berhubungan dengan Anggaran Desa sesuai APBDesa.
Jadi LPJ Dana Desa terdiri dari Laporan Bendahara Desa dilampiri Laporan Pelaksanaan
kegiatan Dana Desa dari TPK.
Untuk memudahkan sistematika laporan dapat disusun sebagai berikut :
Sistematika LPJ ADD Jilid
Kata Pengantar
Daftar Isi
Surat Pengantar Kepala Desa
Pendahuluan
I. Laporan Keuangan Desa
1. Laporan Realisasi Penggunaan Dana
2. Buku Kas Umum
3. Lampiran BKU (S…

SHARE 17 COMMENTS READ MORE

Copy Lengkap Contoh SK Kepala Desa


July 06, 2016

Surat Keputusan Kepala Desa merupakan salah satu produk administrasi desa. Dalam
melaksanakan produk hukum desa (Peraturan Desa dan Peraturan Kepala Desa), Kepala Desa
mengeluarkan Keputusan Desa.
Surat Keputusan Kepala Desa merupakan naskah dinas yang dikeluarkan Pemerintah Desa.
Karenannya bentuk dan format telah diatur. Berikut contoh berbagai Surat Keputusan Kepala
Desa. Dapat di-download dengan mudah dan gratis.
Kami upload dalam bentuk word, agar mudah di edit dan disesuaikan dengan kondisi anda.

Berikut berbagai SK Kepala Desa yang dapat anda download :


SK Lembaga Pemberdayaan Masyarakat. Download disini
SK RT. Download disiniSK Tim Penyusun RPJMDes DownloadSK Tim Penyusun
RKPDes Down LoadSK Tambahan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa
(TPAPD) DownloadSK Posyandu Down loadSK BKD Down loadSK UP2K Down loadSK
MCK Komunal DownloadSK TPK DownloadSK Bendahara Download ....

SHARE 7 COMMENTS READ MORE

LPPD Akhir Tahun Anggaran (Format Permendagri 46/2016)


September 13, 2016
Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa (LPPD) Setiap Akhir tahun Kepala Desa wajib
membuat Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa/LPPD.
Apa saja Laporan yang harus dibuat Kepala Desa ?
1. Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa akhir tahun anggaran;
2. Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa akhir masa jabatan;
3. Laporan Keterangan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa akhir tahun anggaran; dan
4. Informasi Penyelenggaraan Pemerintahan Desa.
11
Pada saat ini , Peraturan Menteri Nomor 35 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Tata Cara
Pelaporan Dan Pertanggungjawaban Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, dicabut dan
dinyatakan tidak berlaku. Seiring telah diundangkannya Permendagri Nomor 46 Tahun 2016
tentang Laporan Kepala Desa.

Berikut ini sistematika Penyusunan LPPD Akhit Tahun Anggaran berdasarkan ketentuan baru
yang diatur Dalam Permendagri Nomor 46 Tahun 2016.

LPPD AKHIR TAHUN ANGGARAN Tiga bulan sejak berakhirnya tahun anggaran (Bulan Maret
tahun berkenaan) Kepala Desa…

SHARE 5 COMMENTS READ MORE

Contoh Administrasi Pengadaan Barang dan Jasa Di Desa


August 06, 2016

Pengadaan Barang dan Jasa Di Desa Dasar hukum pengadaan barang dan jasa di desa
mengacu kepada :
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 113 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Keuangan Desa;
Peraturan Kepala Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/jasa Pemerintah Nomor 13 Tahun
2013 tentang Pedoman Tata Cara Pengadaan Barang/jasa di Desa.
Bahwa tata cara pengadaan barang oleh Tim Pengelola Kegiatan terdapat 3 (tiga) Kriteria.
Pelaksanaan pengadaan barang/jasa melalui penyedia barang/jasa dilaksanakan sebagai
berikut :
A. Pengadaan barang/jasa dengan nilai sampai dengan Rp. 50.000.000,- (Lima puluh juta
rupiah)
TPK membeli barang/jasa kepada 1 (satu) penyedia barang/jasaPembelian sebagaimana
dimaksud pada angka 1. dilakukan tanpa permintaan penawaran tertulis dari TPK dan tanpa
penawaran tertulis dari penyedia barang/jasa;TPK melakukan negosiasi (tawar menawar)
dengan penyedia barang/jasa untuk memperoleh harga yang lebih murah;Penyedia
barang/jasa memberikan bukti transaksi berupa nota, fa…

SHARE 2 COMMENTS READ MORE

12