Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Meningitis tergolong penyakit serius dan bisa mengakibatkan kematian.


Penderita meningitis yang bertahan hidup akan menderita kerusakan otak
sehingga lumpuh, tuli, epilepsi, retardasi mental. Penyakit meningitis telah
membunuh jutaan balita di seluruh dunia. Data WHO menunjukkan bahwa dari
sekitar 1,8 juta kematian anak balita di seluruh dunia setiap tahun, lebih dari
700.000 kematian anak terjadi di negara kawasan Asia Tenggara dan Pasifik
Barat.

Ada tiga bakteri penyebab meningitis, yaitu Streptococcus pneumoniae,


Haemophilus influenzae tipe b, dan Niesseria meningitides. Dari ketiga bakteri
itu, Streptococcus pneumoniae (pneumokokus) adalah bakteri yang paling sering
menyerang bayi di bawah usia 2 tahun. Masa inkubasi (waktu yang diperlukan
untuk menimbulkan gejala penyakit) kuman tersebut sangat pendek yakni sekitar
24 jam. Bakteri pneumokokus adalah salah satu penyebab meningitis terparah.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apakah definisi meningitis ?

2. Apakah etiologi meningitis ?

3. Bagaimanakah patofisiologi meningitis ?

4. Apa sajakah klasifikasi meningitis ?

1.3 Tujuan Penulisan

1. Dapat memahami definisi meningitis.

2. Dapat memahami etiologi meningitis.

3. Dapat memahami patofisiologi meningitis.

4. Dapat memahami klasifikasi meningitis.

1.4 Manfaat Penulisan

A. Bagi Peningkatan Kualitas Asuhan Keperawatan

1
Laporan studi “Makalah Meningitis pada Anak” ini diharapkan dapat digunakan
sebagai acuan dalam peningkatan kualitas asuhan keperawatan serta
perkembangan ilmu praktek keperawatan.

B. Bagi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ( IPTEK )

Diharapkan dengan adanya laporan studi kasus ‘’Meningitis pada Anak” ini,
diharapkan dapat turut serta dalam meningkatkan perkembangan dan peningkatan
ilmu pengetahuan serta manajemen asuhan keperawatan dalam kasus ini.

C. Bagi Institusi Layanan Pendidikan

Sebagai tolak ukur tingkat kemampuan mahasiswa dalam penguasaan materi


tentang kasus Meningitis pada Anak. Penguasaan proses keperawatan,
perkembangan penyakit serta manajemen dalam tatalaksana kasus ini sangat
menjadi pertimbangan kemampuan pencapaian kompetensi.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu membran


atau selaput yang melapisi otak dan medulla spinalis, dapat disebabkan berbagai
organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk ke dalam
darah dan berpindah ke dalam cairan otak (Black & Hawk, 2005).Meningitis
adalah peradangan pada selaput meningen, cairan serebrospinal dan spinal column
yang menyebabkan proses infeksi pada sistem saraf pusat. (Suriadi, dkk. Asuhan
Keperawatan pada Anak, ed.2, 2006).

2.2 Etiologi

a. Bakteri

Merupakan penyebab tersering dari meningitis, adapun beberapa bakteri


yang secara umum diketahui dapat menyebabkan meningitis adalah :

1. Haemophillus influenza
2. Nesseria meningitides (meningococcal)
3. Diplococcus pneumoniae (pneumococca)
4. Streptococcus, grup A
5. Staphylococcus aureus
6. Escherichia coli
7. Klebsiella
8. Proteus
9. Pseudomonas aeruginosa

b. Virus

Meningitis virus adalah infeksi pada meningen; cenderung jinak dan bisa
sembuh sendiri. Virus biasanya bereplikasi sendiri di tempat terjadinya infeksi
awal (misalnya sistem nasofaring dan saluran cerna) dan kemudian menyebar ke
sistem saraf pusat melalui sistem vaskuler. Virus : Toxoplasma Gondhi, Ricketsia.

c. Faktor prediposisi : jenis kelamin laki-laki lebih sering dari wanita.

d. Faktor maternal : ruptur membran fetal, infeksi maternal pada minggu terakhir
kehamilan.

e. Faktor imunologi : defisiensi mekanisme imun, defisiensi imunoglobuin, anak


yang mendapat obat imunosupresi.

3
f. Anak dengan kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang
berhubungan dengan sistem persarafan.

2.3 Patofisiologi

Meningitis terjadi akibat masuknya bakteri ke ruang subaraknoid, baik


melalui penyebaran secara hematogen, perluasan langsung dari fokus yang
berdekatan, atau sebagai akibat kerusakan sawar anatomik normal secara
konginetal, traumatik, atau pembedahan. Bahan-bahan toksik bakteri akan
menimbulkan reaksi radang berupa kemerahan berlebih (hiperemi) dari pembuluh
darah selaput otak disertai infiltrasi sel-sel radang dan pembentukan eksudat.
Perubahan ini terutama terjadi pada infeksi bakteri streptococcus pneumoniae dan
H. Influenzae dapat terjadi pembengkakan jaringan otak, hidrosefalus dan infark
dari jaringan otak.

Efek peradangan akan menyebabkan peningkatan cairan cerebro spinalis


yang dapat menyebabkan obstruksi dan selanjutnya terjadi hidrosefalus dan
peningkatan TIK. Efek patologi dari peradangan tersebut adalah hiperemi pada
meningen. Edem dan eksudasi yang kesemuanya menyebabkan peningkatan
intrakranial. (Ngastiyah. Perawatan Anak Sakit, ed.2, 2005)

2.4 Klasifikasi

Jenis meningitis ada 3 yaitu :

1. Meningitis bacterial /purulenta /septik

Meningitis bakterial merupakan karakteristik inflamasi pada seluruh


meningen, dimana organisme masuk kedalam ruang arahnoid dan
subarahnoid.Meningitis bakterial merupakan kondisi emergensi neurologi dengan
angka kematian sekitar 25 % (Ignatavicius & Wrokman, 2006).

Meningitis purulenta adalah radang selaput otak yang menimbulkan


eksudasi berupa pus, disebabkan oleh kuman non spesifik dan nonvirus.
(Ngastiyah: 2005)Meningitis bakterial jika cepat dideteksi dan mendapatkan
penanganan yang tepat akan mendapatkan hasil yang baik. Meningitis bakterial
sering disebut juga sebagai meningitis purulen atau meningitis septik.

Bakteri yang dapat mengakibatkan serangan meningitis adalah;


Streptococcus pneuemonia (pneumococcus), Neisseria meningitides, Haemophilus
influenza, (meningococcus), Staphylococcus aureus dan Mycobakterium
tuberculosis.(Ginsberg, 2008).

4
Streptococcus pneumoniae (pneumococcus), bakteri ini penyebab tersering
meningitis akut, dan paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun
anak-anak. Neisseria meningitides (meningococcus) bakteri ini merupakan
penyebab kedua terbanyak setelah Streptococcus pneumoniae, Meningitis terjadi
akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya
masuk kedalam peredaran darah. Haemophilus influenza, Haemophilus influenzae
type b (Hib) adalah jenis bakteri yang juga dapat menyebabkan meningitis.

Jenis bakteri ini sebagai penyebab terjadinya infeksi pernafasan bagian


atas, telinga bagian dalam dan sinusitis. Pemberian vaksin (Hib vaksin) telah
membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan
bakteri jenis ini.Staphylococcus aureus, Mycobakterium tuberculosis jenis
hominis.

2. Meningitis virus

Meningitis virus biasanya disebut meningitis aseptik. Sering terjadi akibat


lanjutan dari bermacam-macam penyakit akibat virus, meliputi; measles, mumps,
herpes simplek, dan herpes zoster. (Wilkinson, 1999).

Meningitis virus adalah suatu sindrom infeksi virus susunan saraf pusat
yang akut dengan gejala rangsang meningeal,pleiositosis dalam likuor
serebrospinalis dengan deferensiasi terutama limfosit,perjalanan penyakit tidak
lama dan selflimited tanpa komplikasi.(Ngastiyah:2005)

Virus penyebab meningitis dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu virus
RNA (ribonuclear acid) dan virus DNA (deoxyribo nucleid acid). Contoh virus
RNA adalah enterovirus (polio), arbovirus (rubella), flavivirus (dengue),
mixovirus (influenza, parotitis, morbili). Sedangkan contoh virus DNA antara
lain virus herpes, dan retrovirus (AIDS) (PERDOSSI, 2005)

3. Meningitis jamur

Infeksi jamur dan parasit pada susunan saraf pusat merupakan penyakit
oportunistik yang pada beberapa keadaan tidak terdiagnosa sehingga
penanganannya juga sulit. Manifestasi infeksi jamur dan parasit pada susunan
saraf pusat dapat berupa meningitis (paling sering) dan proses desak ruang (abses
atau kista).

Meningitis kriptokokus neoformans biasa disebut meningitis jamur,


disebabkan oleh infeksi jamur pada sistem saraf pusat yang sering terjadi pada

5
pasien acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). (Ignatavicius & Wrokman,
2006; Wilkinson, 1999).

2.5 Manifestasi Klinis

Trias klasik gejala meningitis adalah demam, sakit kepala, dan kaku kuduk.
Namun pada anak di bawah usia dua tahun, kaku kuduk atau tanda iritasi
meningen lain mungkin tidak ditemui. Perubahan tingkat kesadaran lazim terjadi
dan ditemukan pada hingga 90% pasien. (Jay Tureen. Buku Ajar Pediatri
Rudolph,vol.1, 2006 )

Pada bukunya, Wong menjabarkan manifestasi dari meningitis berdasarkan


golongan usia sebagai berikut:

· Anak dan Remaja

a. . Demam
b. . Mengigil
c. . Sakit kepala
d. . Muntah
e. . Perubahan pada sensorium
f. . Kejang (seringkali merupakan tanda-tanda awal )
g. . Kekakuan nukal, dapat berlanjut menjadi opistotonus

Bayi dan Anak Kecil

Gambaran klasik jarang terlihat pada anak-anak antara usia 3 bulan hingga 2
tahun :

a. Muntah

b. Peka rangsangan yang nyata

c. Sering kejang (seringkali disertai dengan menangis nada tinggi)

d. Menolak untuk makan

e. Kemampuan menghisap buruk

2.6 Komplikasi

1. Hidrosefalus obstruktif

2. Meningococcal septicemia (mengingocemia)

6
3. Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC, perdarahan adrenal bilateral)

4. SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone )

5. Efusi subdural

6. Kejang

7. Edema dan herniasi serebral

8. Cerebral palsy

9. Gangguan mental

10.Gangguan belajar

11. Attention deficit disorder

2.7 Pemeriksaan

1. Analisis CSS dari fungsi lumbal :

a) Meningitis bakterial : tekanan meningkat, cairan keruh/berkabut, jumlah sel


darah putih dan protein meningkat glukosa meningkat, kultur positip terhadap
beberapa jenis bakteri.

b) Meningitis virus : tekanan bervariasi, cairan CSS biasanya jernih, sel darah
putih meningkat, glukosa dan protein biasanya normal, kultur biasanya negatif,
kultur virus biasanya dengan prosedur khusus.

2. Glukosa serum : meningkat ( meningitis )

3.LDH serum : meningkat ( meningitis bakteri )

4. Sel darah putih : sedikit meningkat dengan peningkatan neutrofil ( infeksi

bakteri )

5.Elektrolit darah : Abnormal .

6. ESR/LED : meningkat pada meningitis

7. Kultur darah/ hidung/ tenggorokan/ urine : dapat mengindikasikan daerah

pusat infeksi atau mengindikasikan tipe penyebab infeksi

7
2.8 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan Medis

1. Antibiotik sesuai jenis agen penyebab


2. Steroid untuk mengatasi inflamasi
3. Antipiretik untuk mengatasi demam
4. Antikonvulsant untuk mencegah kejang
5. Neuroprotector untuk menyelamatkan sel-sel otak yang masih bisa
6. dipertahankan
7. Pembedahan: seperti dilakukan VP Shunt (Ventrikel Periton).
8. Pemberian cairan intravena.
9. . Penempatan pada ruangan yang minimal rangsangan seperti rangsangan
suara, cahaya dan rangsangan polusi.
10. . Pembebasan jalan nafas dengan menghisap lendir melalui suction dan
memposisikan anak pada posisi kepala miring hiperekstensi.
11. .Pemberian antibiotik yang sesuai dengan mikroorganisme penyebab.

Penatalaksanaan di Rumah:

1. Tempatkan anak pada ruangan dengan sirkulasi udara baik, tidak terlalu
panas dan tidak terlalu lembab. Sirkulasi udara yang baik berfungsi mensupport
penyediaan oksigen lingkungan yang cukup karena anak yang menderita demam
terjadi peningkatan metabolisme aerobik yang praktis membutuhkan masukan
oksigen yang cukup. Selain itu ruangan yang cukup oksigen juga berfungsi
menjaga fungsi saluran pernafasan dapat berfungsi dengan baik.

2. Tempatkan anak pada tempat tidur yang rata dan lunak dengan posisi kepala
miring hiperektensi..

3. Berikan kompres hangat pada anak untuk membantu menurunkan demam.


Kompres ini berfungsi memindahan panas anak melalui proses konduksi.
Perpindahan panas anak supaya dapat lebih efektif dipadukan dengan pemberian
pakaian yang tipis sehingga panas tubuh anak mudah berpindah ke lingkungan.

4. Berikan anak obat turun panas (dosis disesuaikan dengan umur anak).

5. Anak diberikan minum yang cukup dan hangat dengan patokan rata-rata
kebutuhan 30-40 cc/KgBB/hari. Cairan ini selain secara volume untuk mengganti
cairan yang hilang karena peningkatan suhu tubuh

2.9Pencegahan

Meningitis dapat dicegah dengan cara mengenali dan mengerti dengan


baik faktor presdisposisi seperti otitis media atau infeksi saluran napas (seperti
TBC) dimana dapat menyebabkan meningitis serosa. Dalam hal ini yang paling

8
penting adalah pengobatan tuntas (antibiotik) walaupun gejala-gejala infeksi
tersebut telah hilang.

Vaksin konjugat pneumokokus.

Vaksin tersebut dianjurkan untuk diberikan kepada bayi dan anak yang berusia 2
bulan hingga 9 tahun. Pemberian vaksin paling baik dilakukan pada usia 2 bulan,
4 bulan, 6 bulan, 12 bulan dan 15 bulan. Vaksin konjugat pneumokokus juga
hanya menimbulkan efek samping yang ringan seperti kulit kemerahan, sedikit
bengkak dan nyeri pada daerah sekitar suntikan. Gejala umum setelah pemberian
vaksin seperti demam, mengantuk, rewel, nafsu makan berkurang, jarang
ditemukan pada bayi.

Beberapa upaya preventif pada anak yang dapat dilakukan di antaranya adalah
sebagai berikut :

a. Melaksanakan imunisasi tepat waktu.

b. Pada usia bayi 0-1 tahun usahakan membatasi diri untuk keluar rumah atau
jalan-jalan ketempat-tempat ramai seperti mall, pasar, dan rumah sakit.

c. Menjauhkan anak dari orang yang sakit.

d. Usahakan anak tetap berada pada lingkungan dengan temperatur yang nyaman.

9
BAB III

KASUS

Pada pukul 07.30 malam, di Bulan Januari, Michelle Scoffings mendapati


putri kecilnya, Erica (3) tidur dalam keadaan suhu badannya normal dan tampak
baik – baik saja. Sebelumnya, Erica mengeluh badannya tidak enak. Tepat
sebelum tengah malam, Erica bangun dan meminta minum. Saat itu, Michelle
melihat sekujur tubuh anaknya penuh bercak berwarna ungu dan suhu tubuhnya
tinggi.

Michelle dan suaminya segera mengambil kaca bening lalu


menempelkannya di kulit Erica. Cara ini adalah salah satu tes untuk mengetahui
penyakit meningitis pada anak. Di bawah kaca bening yang ditekan, ruam di kulit
putrinya tidak memudar.Tak mau menunggu lama, pasangan asal Chesterfield,
Inggris ini membawa Erica ke rumah sakit. Dokter mendiagnosis putri mereka
terinfeksi bakteri Meningokokus dan Septikemia, suatu bentuk keracunan darah.
Dokter mengatakan anak ini hanya punya waktu sekitar tiga jam bertahan hidup.

10
“Saat itu tidak menelepon dan menunggu ambulans adalah hal yang terbaik. Anda
harus cepat pergi ke rumah sakit, karena terlambat 10 menit saja, hasilnya akan
berbeda,” cerita Michelle.

Kedua kaki Erica menghitam, ia pun ditempatkan di ruang ICU dengan seluruh
badan diperban. Malam itu, Erica dipindahkan ke Rumah Sakit Chesterfield Royal
ke bagian perawatan intensif khusus anak – anak. Akibat septikemia, kaki Erica
menghitam sampai tulangnya terlihat.

“Semuanya terjadi begitu cepat, saat seperti itu kita tidak punya waktu untuk
berpikir lama.

Saya sangat takut karena tak ada yang bisa saya lakukan. Setiap kali seseorang
menyentuhnya, Erica pun menjerit,” ujarnya.

“Erica menjerit sepanjang waktu. Saya syok saat dokter bedah mengatakan kedua
kaki Erica kemungkinan diamputasi,” imbuhnya.

Putrinya ini kemudian dipindahkan juga ke unit spesialis luka bakar. Tubuh Erica
seperti terkena luka bakar dan ia menjalani cangkok kulit. Gadis mungil ini tidak
jadi diamputasi, sebuah terapi mendorong jaringan sehingga menutupi tulang.

Erica dirawat selama dua minggu di rumah sakit dan sejak saat itu telah kembali
selama tiga kali untuk operasi cangkok kulit. Namun, tak kurang dari delapan
bulan setelah serangan Meningitis, Erica akan kembali berjalan bulan depan
meskipun masih menggunakan penyangga.

Melihat kenyataan Meningitis menyerang anak – anak secara mendadak, Michelle


membukukan pengalamannya tentang penyakit Erica dalam sebuah buku harian.
Dia berharap lewat buku hariannya ini, publik lebih sadar dan peduli tentang
bagaimana cepatnya penyakit meningitis menyerang anak – anak di atas dua
tahun.

Penyelesaian :

1.Tempatkan anak pada ruangan dengan sirkulasi udara baik, tidak terlalu panas
dan tidak terlalu lembab. Sirkulasi udara yang baik berfungsi mensupport
penyediaan oksigen lingkungan yang cukup karena anak yang menderita demam
terjadi peningkatan metabolisme aerobik yang praktis membutuhkan masukan
oksigen yang cukup. Selain itu ruangan yang cukup oksigen juga berfungsi

11
menjaga fungsi saluran pernafasan dapat berfungsi dengan baik. Adapun
lingkunganyang panas selain mempersulit perpindahan panas anak ke lingkungan
juga dapat terjadi sebaliknya kadang anak yang justru menerima paparan sinar
dari lingkungan.

2. Tempatkan anak pada tempat tidur yang rata dan lunak dengan posisi kepala
miring hiperektensi. Posisi ini diharapkan dapat menghindari tertekuknya jalan
nafas sehingga mengganggu masuknya oksigen ke saluran pernafasan.

3. Berikan kompres hangat pada anak untuk membantu menurunkan demam.


Kompres ini berfungsi memindahan panas anak melalui proses konduksi.
Perpindahan panas anak supaya dapat lebih efektif dipadukan dengan pemberian
pakaian yang tipis sehingga panas tubuh anak mudah berpindah ke lingkungan.

4. Berikan anak obat turun panas (dosis disesuaikan dengan umur anak). Untuk
patokan umum dosis dapat diberikan anak dengan usia sampai 1 tahun 60 – 120
mg, 1-5 tahun 120-150 mg, 5 tahun ke atas 250-500 mg yang diberikan rata-rata 3
kali sehari.

5. Anak diberikan minum yang cukup dan hangat dengan patokan rata-rata
kebutuhan 30-40 cc/KgBB/hari. Cairan ini selain secara volume untuk mengganti
cairan yang hilang karena peningkatan suhu tubuh juga berfungsi untuk menjaga
kelangsungan fungsi sel tubuhyang sebagian besar komposisinya adalah unsur
cairan. Sedangkan minuman hangat dapat membantu mengencerkan sekret yang
kental pada saluran pernafasan.

Penanganan / Perawatan pada saat anak kejang :

Baringkan anak pada tempat yang rata, kepala di miringkan dan pasangkan
gagang sendok yang dibungkus kain atau sapu tangan bersih dalam mulutnya.
Dengan tujuan untuk mencegah lidah tergigit.

Buka baju anak, longarkan pakaian yang mengganggu pernapasan.

Singkirkan benda-benda di sekitar anak.

Jangan memberi minuman atau makanan apapun pada anak saat kejang.

Bila badan panas berikan kompres hangat.

12
Bila dengan tindakan ini kejang belum berhenti atau kondisinya semakin parah,
segera bawa anak ke dokter atau rumah sakit.

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

a.Meningitis adalah radang dari selaput otak (arachnoid dan piamater).

b. Etiologi : Bakteri, virus, faktor prediposisi, faktor maternal, faktor imunologi,


anak dengan kelainan sistem saraf pusat, pembedahan atau injury yang
berhubungan dengan sistem persarafan.

c. Klasifikasi Meningitis : Meningitis bacterial /purulenta /septik, Meningitis


virus, Meningitis jamur

13
d.Trias klasik gejala meningitis adalah demam, sakit kepala, dan kaku kuduk.
Namun pada anak di bawah usia dua tahun, kaku kuduk atau tanda iritasi
meningen lain mungkin tidak ditemui.

e. Komplikasi : Hidrosefalus obstruktif, Meningococcal septicemia


(mengingocemia), Sindrome water-friderichen (septik syok, DIC, perdarahan
adrenal bilateral), SIADH ( Syndrome Inappropriate Antidiuretic hormone ), Efusi
subdural, Kejang, Edema dan herniasi serebral, Cerebral palsy, Gangguan mental,
Gangguan belajar, Attention deficit disorder

f. Melihat kenyataan Meningitis menyerang anak – anak secara mendadak, penulis


berharap pembaca lebih sadar dan hati-hati serta peduli tentang bagaimana
cepatnya penyakit meningitis menyerang anak – anak di atas dua tahun.

4.2 Saran

1. Tenaga kesehatan

Sebagai tim kesehatan agar lebih bisa meningkatkan pengetahuan tentang


meningitis dan problem solving yang efektif dan juga sebaiknya kita memberikan
informasi atau health education mengenai meningitis kepada para orang tua anak
yang paling utama.

2. Masyarakat

Masyarakat sebaiknya mengindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya


meningitis dan meningkatkan pola hidup yang sehat.

14