Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK II

IDENTIFIKASI GUGUS SENYAWA ORGANIK

Oleh :

Kelompok IV B

Chanti Jessica Ravani NIM. F.16.047

Jasa Ihsan Nurdin NIM. F.16.057

Nurul Hikmah NIM. F.16.069

Olmi Nornazriah NIM. F.16.070

Talitha Cresentia Rahma NIM. F.16.079

PROGRAM STUDI FARMASI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SARI MULIA

BANJARMASIN

2018

i
DAFTAR ISI

Halaman Sampul ................................................................................................. i


Daftar Isi.............................................................................................................. ii
BAB I Pendahuluan ....................................................................................... 1
A. Latar Belakang .............................................................................. 1
B. Kompetensi Praktikum ................................................................. 1
BAB II Tinjauan Pustaka ................................................................................ 2
A. Gugus Fungsi ............................................................................... 2
B. Etanol .......................................................................................... 3
C. Kalium Permanganat ( KMnO4 ) ................................................. 3
D. Asam Sulfat Pekat (H2SO4) ......................................................... 3
E. Glukosa ........................................................................................ 4
F. Aseton .......................................................................................... 4
G. Natrium Nitoprusida .................................................................... 4
H. Ammonium Klorida..................................................................... 4
I. Ammonium .................................................................................. 4
J. Benzena ....................................................................................... 4
K. Fenol ............................................................................................ 5
L. Besi (III) Klorida ( FeCl3 )........................................................... 5
M. Asam Benzoat .............................................................................. 5
N. Ester Asam Karboksilat ............................................................... 5
O. Identifikasi Gugus Senyawa Organik .......................................... 6
BAB III Metode Praktikum .............................................................................. 8
BAB IV Hasil .................................................................................................... 11
BAB V Pembahasan ........................................................................................ 13
BAB VI Kesimpulan ......................................................................................... 17
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 18
Jawaban Pertanyaan ............................................................................................ 19

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Identifikasi struktur senyawa organik diperoleh dari hasil suatu reaksi
maupun isolasi bahan-bahan alam. Dalam melakukan identifikasi senyawa
organik yang belum diketahui perlu dilakukan pemisahan dan pemurnian
komponen-komponen penyusun campuran. Semua metode pemisahan
didasarkan pada perbedaan sifat fisika dari komponen-komponen penyusun
campuran. Teknik pemisahan seperti ekstraksi, yang didasarkan pada
perbedaan kelarutan, destilasi fraksinasi dan destilasi uap, yang didasarkan
pada perbedaan tekanan uap.
Senyawa organik sangat penting untuk dilakukan pengidentifikasian, yang
mana dapat mengetahui sifat-sifat dari suatu senyawa organik yang belum
diketahui namanya atau suatu sampel larutan tidak tertera nama larutan atau
senyawanya. Identifikasi senyawa organik sangat penting bagi orang yang
akan menghabiskan waktunya bekerja dalam laboratorium atau orang yang
akan melakukan penelitian sangat penting untuk mempelajari identifikasi
senyawa organik.
Dalam mengidentifikasi senyawa organik dapat dilakukan pengujian
dengan menggunakan suatu pelarut yang khusus untuk menguji suatu
senyawa organik diantaranya eter, air, larutan HCl dan lain sebagainya.
Berdasarkan penyataan tersebut maka perlu dilakukan percobaan
mengenai identikasi suatu unsur dan gugus senyawa organik untuk
mengetahui cara dan dapat mengetahui senyawa organik yang belum
diketahui dalam sampel dengan menggunakan beberapa sampel larutan.
B. Kompetensi Praktikum
Mahasiswa mampu melakukan identifikasi terhadap gugus senyawa
(alkohol, inti benzena, aldehid, keton, fenol, asam karboksilat dan ester).

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Gugus Fungsi
Kimia organik didefenisikan sebagai kimia dari senyawa yang datang dari
benda hidup sehingga timbul istilah organik. Suatu pengetahuan mengenai
kimia organik tak dapat diabaikan bagi kebanyakan ilmuwan. Misalnya,
karena sistem kehidupan terutama terdiri dari air dan senyawa organik,
hampir semua bidang yang berurusan dengan tanaman, hewan, atau
mikroorganisme bergantung pada prinsip kimia organik (Fessenden, 1997).
Salah satu langkah untuk analisis kualitatif dari senyawa organik adalah
melalui identitas gugus fungsi. Dengan mengetahui gugus fungsi maka dapat
diketahui golongan dari senyawa organik tersebut karena setiap golongan
senyawa organik mempunyai sifat tertentu bergantung pada gugus fungsionil
yang dimilikinya. Secara umum senyawa organik yang mempunyai gugus
fungsi yang sama akan mempunyai sifat yang sama (Anonim, 2014).
Analisis gugus fungsional merupakan pelacakan terhadap beberapa gugus
fungsional senyawa organik. Gugus fungsional ini merupakan kelompok
gugus khusus pada atom dalam molekul, yang berperan dalam memberi
karakteristik reaksi kimia pada molekul tersebut. Senyawa yang bergugus
fungsional sama memiliki reaksi kimia yang sama atau mirip. Gugus
fungsional senyawa kimia adalah alkana, alkena, organohalida, alkohol,
aldehid, keton, fenol, benzena, eter, karboksilat, amida, amina dan ester.
Gugus fungsional ini dalam ilmu kefarmasian memiliki peran penting karena
pada senyawa kimia obat baik dalam tumbuhan dan hewan maupun senyawa
kimia obat berupa sintesis sebagian besar mengandung gugus fungsional.
Oleh karena itu, dengan mengetahui gugus fungsional tersebut dapat
dikembangkan menjadi obat baru atau senyawa kimia lainnya.
Gugus fungsi dapat diidentifikasi dengan mereaksikan sampel dengan
reagen tertentu. Alkohol dapat diidentifikasi dengan metode Lucas, yaitu
sampel uji ditambahkan dengan reagen Lucas dan diamati perubahan yang
terjadi. Metode tes kromat dilakukan dengan menambahkan sedikit aseton
dan asam kromat, kemudian diamati perubahan yang terjadi. Metode

2
iodoform dengan menambahkan sedikit NaOH, sedangkan metode Feri
klorida dengan menambahkan beberapa feri klorida. Metode reaksi dengan
Na2CO3 dan NaHCO3 dengan menambahkan zat tersebut ke dalam sampel
yang akan diidentifikasi (Dewi, 2013).
Tabel 2.1
Struktur Gugus
Nama
No Struktur Gugus Rumus Umum Nama IUPAC/Trivial
Gugus
1 −OH R−OH Alkohol Hidroksil
2 −O− R−O−R` Alkoksi Eter
O O Aldehid Aldehid
3 −C−H R−C−H
O O Alkanon-keton Karbonil
4
−C− R−C−R`
O O Asam alkanoat- Karboksil
5
−C−OH R−C−OH karboksilat
O O Alkil alkanoat-ester Ester
6
−C−O R−C−O
7 −NH2 R−NH2 Amina Amin
B. Etanol
Etanol (Etil Alkohol) C2H6O mengandung tidak kurang dari 92,3% b/b dan
tidak lebih dari 93,8% b/b, setara dengan tidak kurang dari 94,9% v/v dan
tidak lebih dari 96,0% v/v, C2H5OH pada suhu 15,56°C. Larutan mudah
menguap, jernih, tidak berwarna. Bau khas dan menyebabkan rasa terbakar
pada lidah. Mudah menguap walaupun pada suhu rendah dan mendidih pada
suhu 78°C, mudah terbakar. Kelarutan bercampur dengan air dan praktis
bercampur dengan semua pelarut organik (Depkes RI, 1979).
C. Kalium Permanganat ( KMnO4 )
KMnO4 ( Kalium Permanganat) mengandung tidak kurang dari 99,0% dan
tidak lebih dari 100,5% KMnO4, dihitung terhadap zat yang telah
dikeringkan. Pemberian hablur, ungu tua, hampir tidak tembus cahaya yang
diteruskan dan berwarna biru metalik mengkilap oleh cahaya yang
dipantulkan, kadang – kadang disertai warna merah tembaga tua; stabil di
udara. Larut dalam air; mudah larut dalam air mendidih (Depkes RI, 1979).

3
D. Asam Sulfat Pekat (H2SO4)
H2SO4 pekat mengandung tidak kurang dari 95,0% dan tidak lebih dari
98,0% b/b H2SO4. Cairan jernih, seperti minyak, tidak berwarna, bau sangat
tajam dan korosif. Bobot jenis lebih kurang 1,84. Larut dengan air dan etanol,
dengan menimbulkan panas (Depkes RI, 1979).
E. Glukosa
Glukosa adalah suatu gula yang diperoleh dari hidrolisis pati yang
mengandung 1 molekul air hidrat atau anhidrat. Pemerian hablur tidak
berwarna, serbuk hablur atau serbuk granul putih; tidak berbau; rasa manis.
Mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; larut dalam
etanol mendidih; sukar larut dalam etanol. Sampel ditambahkan reagen
benedict mengandung sodium sitrat, natrium karbonat anhidrat, dan tembaga
sulfit. C7H2O, dan semua garam tersebut dilarutkan dalam air , bekerja pada
kurang basa daripada Fehling yang bekerja pada daerah basa kuat (Depkes
RI, 1979).
F. Aseton
Aseton mengandung tidak kurang dari 99,0% C3H6O, dihitung terhadap
zat anhidrat. Cairan transparan, tidak berwarna, mudah menguap; bau khas.
Larutan (1 dalam 2) netral terhadap kertas lakmus. Aseton dapat bercampur
dengan air , etanol, eter dan kloroform (Depkes RI, 1979).
G. Natrium Nitroprusida
Natrium nitroprusida serbuk atau hablur, coklat kemerahan; praktis tidak
berbau. Mudah larut dalam air; sukar larut dalam etanol; sangat sukar larut
dalam kloroform; tidak larut dalam benzene (Depkes RI, 1979).
H. Ammonium klorida
Ammonium klorida hablur tidak berwarna atau serbuk hablur halus atau
kasar, berwarna putih; rasa asin dan dingin; higroskopik. Mudah larut dalam
air dan gliserin, lebih mudah larut dalan air mendidih; sedikit larut dalam
etanol (Depkes RI, 1979).

4
I. Ammonium
Ammonia adalah larutan NH3 yang mengandung tidak kurang dari 27,0%
dan tidak lebih dari 31,0% b/b NH3. Cairan jernih, tidak berwarna; bau khas,
menusuk kuat. Bobot jenis lebih kurang 0,90 (Depkes RI, 1979).
J. Benzena
Benzena bersifat nonpolar, tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut
organik seperti dietil eter, karbon tetraklorida, atau heksana. Benzena
digunakan secara meluas sebagai pelarut. Senyawa ini memiliki sifat yang
berguna, yakni membentuk azeotrop dengan air. (Azeotrop itu, yakni
campuran yang tersuling pada susunan konstan, terdiri dari 91% benzene –
9% H2O dan mendidih pada 69,4’C). Senyawa yang larut dalam benzena
mudah dikeringkan dengan menyuling azeotrop itu (Depkes RI, 1979).
K. Fenol
Fenol (C6H6O) mengandung tidak kurang dari 99,0% dan tidak lebih dari
100,5% C6H6O , dihitung terhadap zat anhidrat. Dapat mengandung
stabilisator yang sesuai. Pemberian hablur bentuk jarum; atau masa hablur;
tidak berwarna atau putih atau merah jambu; bau khas; mencair dengan
penghangatan dan dengan penambahan 10% air. Mendidih pada kurang lebih
182°, uapnya mudah terbakar. Oleh pengaruh cahaya dan udara warna
perlahan – lahan berubah menjadi gelap. Larut dalam air; sangat mudah larut
dalam etanol, gliserin, kloroform, eter dan minyak menguap tertentu; agak
sukar larut dalam minyak mineral. Kejernihan larutan dan reaksi larutan (1
dalam 15) jernih dan bereaksi netral atau asam terhadap kertas lakmus biru P
(Depkes RI, 1979).
L. Besi (III) Klorida ( FeCl3 )
FeCl3 merupakan suatu senyawa kimia yang digunakan dalam
pengolahan limbah, produksi air minum maupun sebagai katalis, sedikit
berbau HCL. Bila larut dalam air FeCL3 mengalami hidrolisis yang
merupakan reaksi eksotermis (menghasilkan panas).
M. Asam Benzoat
Asam benzoat (C7H6O2) mengandung tidak kurang dari 99,5% dan tidak
lebih dari 100,5% C7H6O2, dihitung terhadap zat anhidrat. Pemberian hablur

5
bentuk jarum atau sisik, putih; sedikit berbau, biasanya bau bezaldehida atau
benzoin. Agak mudah menguap pada suhu hangat, mudah menguap dalam
uap air. Sukar larut dalm air; mudah larut dalam etanol, kloroform dan eter
(Depkes RI, 1979).
N. Ester Asam Karboksilat
Identifikasi gugus ester atau turunan asam karboksilat. Ester asam
karboksilat ialah suatu senyawa yang mengandung gugus CO2 R dengan R
dapat berbentuk alkil maupun aril. Suatu ester dapat di bentuk dengan reaksi
langsung antara suatu asam karbosksilat dan suatu alkohol, suatu reaksi yang
disebut reaksi esterifikasi. Esterifikasi berkataliskan asam dan merupakan
reaksi reversibel. Sampel ditambahkan AgNO3 yang merupakan perak nitrat
yang telah diserbukan dan dikeringkan dalam gelap diatas silika gel P selama
4 jam, mengandung tidak kurang dari 99,8% dan tidak lebih dari 100,5%
AgNO3. Hablur tidak berwarna atau putih; bila dibiarkan terpapar cahaya
dengan adanya zat organik, menjadi berwarna abu- abu atau hitam keabu –
abuan, pH larutan lebuh kurang 5,5 , sangat mudah larut dalam air, terlebih
dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol; mudah larut dalam etanol
mendidih; sukar larut dalam eter (Depkes RI, 1979).
O. Identifikasi Gugus Senyawa Organik
Identifikasi Gugus Alkohol menggunakan sampel larutan etanol. Etanol
ditambahkan kalium permanganat (KMnO4) dan asam sulfat pekat (H2SO4)
akan menghasilkan warna ungu hilang. Identifikasi alkohol sekunder
menggunakan sampel isopropanolol. Sampel ditambahkan aqua bromata,
natrium nitroprusida, ammonium klorida, ammonia akan membentuk warna
merah coklat/ungu. Identifikasi gugus aldehid menggunakan glukosa sebagai
sampel, kemudian sampel ditambahkan reagen benedict, dipanaskan hingga
terbentuk endapan merah bata. Identifikasi gugus keton menggunakkan
larutan aseton sebagai sampel, sampel ditambahkan natrium nitroprusida,
ammonium klorida, ammonia akan membentuk warna biru violet (ungu).
Identifikasi gugus inti benzena menggunakan benzena sebagai sampel,
kemudian sampel ditambahkan HCl Pekat, didinginkan. Setelah itu
ditambahkan etanol, serbuk Zn dan asam klorida pekat, dinginkan kembali.

6
Setelah dingin tambahkan NaNO2, β-naftol dalam ammonia maka akan
terbentuk cincin berwarna merah. Identifikasi gugus fenol menggunakan
larutan fenol sebagai sampel. Sampel kemudian ditambahkan larutan FeCl3
akan menghasilkan warna ungu tua dan jika ditambahkan larutan etanol akan
menjadi kuning.
Identifikasi gugus asam karboksilat menggunakan asam benzoat sebagai
sampel. Sampel kemudian ditambahkan etanol, asam sulfat pekat (H2SO4),
bila perlu dipanaskan akan menimbulkan bau ester asetat (harum).
Identifikasi gugus ester atau turunan asam karboksilat dilakukan 2 uji. Uji
yang pertama menggunakan sampel etil asetat ditambah larutan AgNO3 akan
menghasilkan endapan perak asetat, sedangkan uji kedua menggunakan asam
oksalat ditambahkan larutan AgNO3 akan menghasilkan endapan putih perak
oksalat.

7
BAB III
METODE PRAKTIKUM

A. Alat
1. Pipet tetes
2. Gelas erlenmeyer
3. Tabung reaksi
4. Gelas ukur
B. Bahan
1. Senyawa obat 9. Dimetilbenzaldehida HCl
2. KMnO4 10. Aseton
3. H2SO4 pekat 11. Serbuk Zn
4. Reagen Schiff 12. HCl pekat
5. Reagen Benedict 13. NaNO2
6. Aquadest 14. Β-Naftol
7. Natrium nitroprusida 15. AgNO3
8. Ammonium klorida

C. Prosedur Kerja
1. Alkohol primer (Etanol)
Sampel ditambahkan KMnO4 dan H2SO4

Warna ungu oleh KMnO4 akan hilang

2. Gugus aldehid (Benzaldehida dan glukosa)

Masukan sampel ke dalam tabung reaksi

Tambahkan 1 ml reagen Benedict, panaskan

Terbentuk warna merah sampai ungu

8
3. Gugus keton (Asetofenon dan fruktosa)

Masukan sampel ke dalam tabung reaksi

Tambahkan 5 tetes Na.Nitropusida, ammonium


klorida dan amonia

Terbentuk warna biru violet (ungu)

4. Gugus inti benzena (Benzena)

Sampel ditambahkan asam nitrat pekat, dinginkan

Tambahkan etanol, serbuk Zn, asam klorida


pekat, dinginkan

Tambahkan NaNO2 dan β-Naftol dalam amonia

Terbentuk cincin warna merah

5. Gugus fenol (Fenol)

Masukan sampel ke dalam tabung reaksi

Tambahkan 1 tetes FeCl3 ( terbentuk warna ungu


tua)

Tambahkan etanol (terbentuk warna kuning)

6. Gugus asam karboksilat (asam benzoat)

Sampel ditambahkan dengan etanol

Tambahkan asam sulfat pekat, dan bila perlu


dilakukan dengan pemanasan

Tercium aroma bau ester asetat (balon kecil)

9
7. Gugus ester

Sampel etil asetat ditambahkan dengan AgNO3


(endapan perak asetat)

Sampel asam oksalat ditambahkan dengan AgNO3


(endapan putih perak oksalat)

10
BAB IV
HASIL

Hasil praktikum identifikasi gugus senyawa organik yaitu gugus aldehid,


gugus keton, gugus fenol, gugus asam karboksilat, dan gugus ester (asam oksalat)
menunjukkan hasil positif, sedangkan gugus alkohol primer, gugus inti benzena,
dan gugus ester (etil asetat) menunjukkan hasil negatif. Hasil identifikasi gugus
senyawa organik dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 4.1
Hasil Praktikum Identifikasi Gugus Senyawa Organik
Hasil Uji
Reaksi Hasil Uji (Teori) Ket
(Gambar)

Alkohol Etanol + KMnO4 + Warna ungu


(-)
Primer H2SO4 hilang.

Glukosa + Reagen Endapan merah


Aldehid (+)
Benedict (dipanaskan) bata

Aseton + Natrium
Nitroprusida + Warna biru violet
Keton (+)
Ammonium Klorida + (ungu)
Ammonia

11
Hasil Uji
Reaksi Hasil Uji (Teori) Ket
(Gambar)
Benzena + HCl Pekat,
dinginkan + Etanol +
Serbuk Zn + H2SO4 Cicin warna
Inti benzene - (-)
Pekat , dinginkan + merah
NaNO2 + β-naftol
dalam ammonia

 Fenol + FeCl3 →  Warna Ungu tua


Fenol (+)
 + Etanol →  Warna kuning

Asam Asam benzoat + Bau balon tiup


Bau ester asetat (+)
Karboksilat Etanol + H2SO4 Pekat (harum)
 Endapan perak
 Etil asetat + AgNO3 - (-)
asetat

Ester
 Endapan putih
 Asam oksalat + (+)
AgNO3 perak oksalat

12
BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini melakukan identifikasi gugus senyawa organik yaitu
gus alkohol, gugus aldehid, gugus keton, gugus inti benzena, gugus fenol, gugus
asam karboksilat, gugus ester atau turunan asam karboksilat.
Pada percobaan identifikasi gugus alkohol primer, sampel direaksikan
KMnO4 dengan etanol secara perlahan. Pada percobaan ini yang dilihat adalah
perubahan warna yang di timbulkan dari reksi tersebut. KMnO4 digunakan
sebagai larutan penguji karena merupakan agen pengoksidasi yang mampu
mengoksidasi ikatan rangkap karbon–karbon yang terindikasi dengan adanya
perubahan warna larutan. Hasil dari percobaan ini adalah KMnO4 yang semula
berwarna ungu, setelah ditambahkan etanol warna berubah menjadi merah muda
kemudian lama kelamaan warna berubah menjadi cokelat serta memiliki endapan.
Persamaan reaksinya:

KMnO4 + C2H5OH → KOH+ C2H5+ MnO4

Pada pengamatan ini warna ungu semakin pekat dan semakin lama berubah
menjadi warna merah, menunjukkan hasil yang negatif karena pada teori
perubahan warna ungu yang perlahan hilang. Maka dari itu pada larutan etanol
tidak mengandung gugus alkohol primer.
Uji benedict atau tes benedict digunakan untuk menunjukkan adanya
monosakarida dan gula pereduksi. Pada uji benedict, jika reagen benedict (Na.
Sitrat, Na2CO3, dan CuSO4.5H2O) dipanaskan bersama larutan aldehid akan
terjadi oksidasi menjadi asam karboksilat. Tembaga sulfat dalam reagen benedict
akan bereaksi dengan monosakarida dan gula pereduksi membentuk endapan
berwarna merah bata. Monosakarida dan gula pereduksi dapat bereaksi dengan
reagen benedict karena keduanya mengandung aldehida ataupun keton
bebas. Hasil pencampuran reagen benedict dengan glukosa terjadi perubahan
warna menjadi merah dan terdapat endapan merah bata pada larutan tersebut. Hal
ini sesuai dengan teori karena glukosa teroksidasi dengan pereaksi benedict
sehingga senyawa ini termaksud dalam gugus aldehid. Reaksi antara glukosa
dengan reagen benedict sebagai berikut :

13
Pada identifikasi gugus keton digunakan sampel larutan aseton. Larutan
aseton dicampur dengan natrium nitropusid atau Na2Fe(CN)6NO, ammonium
klorida dan ammonia. Setelah beberapa terbentuk warna violet dan intensitas
warna tergantung kadar aseton yang dianalisis. Hasil uji menunjukkan larutan
biru violet (ungu), hal ini menunjukkan hasil positif. Uji tersebut biasa disebut
uji rothera. Warna larutan tersebut berubah menjadi ungu muda karena
terbentuknya senyawa kompleks. Hal ini dikarenakan adanya donor e- dari atom
pusat yaitu Fe, dan yang berperan menjadi ligan adalah aseton.
Reaksinya adalah :

CH 3

O + Fe (CN)5 NO + OH- (NC)5Fe N C C CH 2


4
C + H2O
H

CH 3 O

Pada identifikasi gugus inti benzena sampel ditambahkan HNO3 pekat


berasap, dilarutkan dalam etanol + HCl dan butiran Zn. Setelah dingin Larutan
ditambahkan NaNO2 serta penambahan senyawa β-naftol dalam amonia. Suasana
asam diberikan dengan HCl sedangkan suasana basa ditambahkan NaOH. Hasil
reaksi menunjukkan cincin merah coklat pada perbatasan dua cairan. Hasil uji
menunjukkan hasil yang tidak sesuai dengan teori karena cincin merah tidak
terbentuk yang berarti dalam sampel tidak mengandung gugus inti benzena.
Raksinya sebagai berikut :
NO 2 NH2
HNO3 pekat berasap Zn + HCl
H2SO 4 pekat

NH2 N=NCl N N
NaNO 2 -naftol

HCl amonia

merah coklat OH

Pada identifikasi gugus fenol digunakan sampel larutan fenol hasil uji
menunjukkan larutan berwarna kuning tua hampir mendekati orange dan lebih

14
kuning dari 1-propanol dan 2-butanol, menunjukkan bahwa reaksi positif. Sampel
ditambahkan FeCl3 sebagai larutan penguji bertujuan untuk menguji keberadaan
gugus hidroksil yang terikat pada suatu karbon tak jenuh. Reaksi tersebut
menunjukkan bahwa fenol mengandung gugus –OH yang terikat pada suatu
karbon tak jenuh yang dapat bereaksi dengan FeCl3 membentuk senyawa
kompleks. Reaksi antara fenol dan FeCl3 sebagai berikut:

OH
3-

+ FeCl 3 Fe O
+ 3H Cl + 3H
+

phenol 6

Identifikasi gugus asam karboksilat menggunakan asam benzoat sebagai


sampel. Langkah pertama yang dilakukan adalah memasukkan ke dalam tabung
asam benzoat ditambahkan etanol dan H2SO4 lalu dipanaskan. Reaksi ini biasa
disebut reaksi esterifikasi. Reaksi esterifikasi dapat dibentuk dengan reaksi
esterifikasi berkatalis asam. Penambahan H2SO4 sebagai katalis reaksi. Maka
didapatkan perubahan yang terjadi adalah larutan berwarna bening, dan bau yang
dihasilkan adalah bau balon tiup. Hal tersebut menunjukkan adanya reaksi positif
dari etil asetat karena munculnya bau balon yang menunjukkan ada proses
pembentukan asam karboksilat. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut:

Pada identifikasi gugus ester atau turunan asam karboksilat sampel yang
digunakan etil asetat dan asam oksalat. Etil asetat ditambahkan AgNO3 tidak
menghasilkan endapan perak asetat. Teori yang dapatkan tidak sesuai dengan
hasil uji yang dilakukan yang berarti etil asetat yang digunakan tidak mengandung
gugus ester. Asam oksalat ditambahkan AgNO3 menghasilkan endapan putih
perak oksalat, maka reaksi ini menunjukkan hasil positif. Terbentuknya endapan

15
ini menandakan bahwa Ag telah bereaksi dengan asam oksalat yang berarti
terdapat gugus ester dalam asam oksalat.

16
BAB VI
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pecobaan tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa hasil


identifikasi gugus alkohol primer negatif menunjukkan bahwa dalam larutan
etanol tidak mengandung gugus alkohol primer. Identifikasi gugus aldehid positif
yaitu menghasilkan endapan merah bata menunjukkan bahwa pada serbuk glukosa
mengandung gugus aldehid. Identifikasi gugus keton positif yaitu menghasilkan
warna larutan ungu menunjukkan bahwa larutan aseton mengandung gugus keton.
Identifikasi gugus inti benzena negatif menunjukkan bahwa pada serbuk benzena
tidak mengandung gugus inti benzena. Identifikasi gugus fenol positif yaitu
menghasilkan warna larutan kuning menunjukkan bahwa pada larutan fenol
mengandung gugus fenol.
Identifikasi gugus asam karboksilat positif yaitu menghasilkan bau khas
seperti bau balon tiup menunjukkan bahwa pada asam benzoat mengandung gugus
asam karboksilat. Hasil identifikasi gugus ester atau turunan asam karboksilat
positif pada sampel asam oksalat yaitu menghasilkan endapan putih perak oksalat
yang artinya mengandung gugus ester. Sedangkan hasil pada sampel etil asetat
negatif menunjukkan bahwa tidak mengandung gugus ester.

17
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2014. Penuntun Praktikum Kimia Umum. Bengkulu : Universitas


Bengkulu
Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Edisi ke-3 Jilid 2. Jakarta: Erlangga
Departemen Kesehatan RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta
Fessenden, Joan S. 1997. Dasar-Dasar Kimia Organik. Jakarta : Bina Aksara
Riswiyanto. 2009. Kimia Organik Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga

18
JAWABAN PERTANYAAN

1. Sebutkan nama gugus fungsional yang berasal dari gugus karbonil!


a. Aldehid
b. Eter
c. Keton
d. Asam karboksilat
2. Sebutkan nama gugus fungsional yang mengandung gugus –OH !
a. Alkohol
b. Fenol

19