Anda di halaman 1dari 27

Laporan Tugas Akhir Muatan Lokal

Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP)

Oleh

Putu Pradipta Shiva Darrashcytha (H1A013052)

Ratu Missa Qurani (H1A013054)

Agnesia Naathiq (H1A012004)

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN MUATAN LOKAL KEDOKTERAN KEPULAUAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MATARAM
2018
TUJUAN PEMEBELAJARAN

1. Mengetahui fasilitas kesehatan di Mataram untuk penanganan kasus-kasus


penyelaman (KKP: terutama tentang layanan hiperbarik).
2. Mengetahui indikasi dan kontraindikasi terapi oksigen hiperbarik.
3. Mengetahui persiapan pasien untuk terapi oksigen hiperbarik.
4. Mengetahui prosedur untuk terapi oksigen hiperbarik.
5. Mahasisawa mempresentasikan satu kasus pasien dengan terapi oksigen
hiperbarik yang ditangani di KKP.

1
1) Alat-alat di fasilitas Hiperbarik KKP Kelas II Mataram
a. Chamber Hiperbarik
Chamber hiperbarik di KKP kelas II Mataram merupakan chamber
monoplace sehingga memiliki kapasitas untuk 1 orang pasien dan 1
orang tender.

b. Tabung Oksigen
Terdapat 3 tabung oksigen yang
tersambung ke chamber
hiperbarik.

2
c. Tabung udara
Terdapat 3 tabung udara

d. Kontrol panel chamber

A B D

C
F

Keterangan:
A. Monitor tekanan ruang dalam chamber
B. Monitor tekanan suplai udara
C. Monitor tekanan oksigen
D. Alat komunikasi
E. Keran input dan output udara
F. Monitor keseimbangan gas

Mengukur kedalaman dan tekanan pada chamber hiperbarik.

3
e. Timer
Menunjukkan waktu bagi operator selama mengoperasikan chamber.

f. Alat komunikasi
Alat komunikasi untuk operator yang berada di luar dengan tender dan
pasien yang berada di dalam chamber berupa headphone & telephone.

4
g. Bagian dalam chamber

Tempat pasien
berbaring

Tempat tender
duduk

Masker oksigen

5
2) Indikasi dan Kontraindikasi Terapi Oksigen Hiperbarik
 Indikasi
Secara umum terapi hiperbarik dikategorikan menjadi dua, yaitu
terapi rekompresi akibat gangguan dekompresi dan terapi klinis yang tidak
berhubungan dengan penyakit dekompresi. Terapi hiperbarik akibat
dekompresi merupakan terapi primer, yang berarti bahwa terapi hiperbarik
merupakan terapi utama yang dibutuhkan untuk mengatasi penyebab
dekompresi tersebut. Sedangkan terapi klinis dengan hiperbarik hanya
sebagai terapi adjuvant yang dapat membantu proses penyembuhan
penyakit. Menurut UHMS, indikasi terapi hiperbarik adalah sebagai
berikut.1,2
Terapi Rekompresi
TOHB sebagai terapi rekompresi memiliki prinsip yang sama yaitu
membuat kondisi tubuh menjadi seperti berada dalam suasana penyelaman
sehingga kembali terjadi proses kompresi yang membuat udara dalam
tubuh menjadi lebih larut terhadap cairan, yang kemudian dilanjutkan
dengan kondisi tekanan udara luar sekitar berkurang secara bertahap dan
perlahan yang mengakibatkan udara di dalam tubuh keluar secara perlahan
dan gelembung yang sudah ada sebelumnya juga dapat mengecil dan dapat
dikeluarkan dari tubuh.1,2
1. Decompression sickness
2. Gas Embolism

Terapi Klinis.1,2
1. Keracunan karbon monoksida (CO)
Gas karbon monoksida dapat berikatan dengan hemoglobin empat kali
lebih kuat dari oksigen, sehingga sel tubuh tidak mendapatkan pasokan
oksigen yang cukup. TOHB membuat oksigen terlarut dalam plasma
sehingga dapat menjamin perfusi sel-sel dan jaringan selama karbon
monoksida berikatan dengan hemoglobin. Selain itu, tekanan yang lebih

6
besar juga mengakibatkan displacement karbon monoksida akibat afinitas
yang berkurang dan tergantikan oleh oksigen yang lebih banyak.
2. Gas Gangrene
Gas gangrene atau clostridial myositis dan myonecrosis merupakan
bakteri anaerob yang menghasilkan beberapa toksin yang menyebabkan
gangrene atau nekrosis pada jaringan tubuh. Pemberian oksigen 100%
pada TOHB dapat membantu membunuh bakteri dengan membentuk
formasi oksigen radikal bebas dalam keadaan tidak adanya enzim
pereduksi radikal bebas seperti superoksida dismutase, katalase, dan
peroksidase pada bakteri.
3. Crush injury, sindrom kompartemen, trauma iskemia akut lainnya
Penggunaan oksigen hiperbarik pada crush injury, sindrom
kompartemen, atau trauma iskemia berfungsi dengan cara menyediakan
oksigen ke jaringan yang hipoksia selama periode pasca cedera awal saat
perfusi sel tidak memadai dan juga meningkatkan tegangan jaringan
terhadap oksigen ke tingkat yang cukup agar berfungsi dengan baik.
4. Anemia berat
TOHB dapat membantu perbaikan klinis dengan mengakumulasi
kekurangan oksigen pada anemia berat yang tidak memungkinkan untuk
dilakukan transfusi karena keadaan tertentu. Oksigen diakumulasi di
jaringan tubuh dengan difusi atau kelarutan oksigen pada cairan dan
jaringan akibat tekanan sekitar yang lebih tinggi.
5. Abses intrakranial
Tekanan oksigen yang tinggi pada TOHB dapat menghambat flora
yang ditemukan pada abses intrakranial yang sebagian besar bersifat
anaerob. Oksigen hiperbarik dapat menyebabkan reduksi pada edema otak
perifokal, dan sangat potensial dalam membantu mekanisme host defense.
6. Infeksi jaringan lunak nekrotik
Oksigen hiperbarik dapat membantu mengurangi jumlah disfungsi
leukosit pada area yang mengalami hipoksia jaringan dan infeksi dan
menyediakan oksigenasi pada area iskemi yang dapat mengurangi

7
penyebaran dan progresifitas dari infeksi. Difusi oksigen pada plasma
dalam sirkulasi juga membantu jaringan dengan perfusi yang buruk, dan
mengurangi toksisitas sistemik. Pada kasus dengan penggunaan antibiotik,
TOHB dapat membantu penetrasi antibiotik pada bakteri targetnya.
7. Osteomyelitis
TOHB dapat membuat hiperoksigenisasi pada daerah sekitar luka,
meredakan peradangan, serta mengaktivasi osteoklast. Selain itu, TOHB
juga membantu menstimulasi produksi growth factors dan meningkatkan
suplementasi ke tulang.
8. Delayed Radiation Injury (Soft tissue and Bony Necrosis)
TOHB dapat menghambat efek atau cedera akibat radiasi yang akan
muncul belakangan. Cedera akibat radiasi dapat diklasifikasikan menjadi
akut, subakut atau lambat. Cedera akut dapat sembuh sendiri dan dapat
diberi terapi simtomatis. Cedera subakut hanya dapat diketahui pada
beberapa sistem organ. Komplikasi radiasi dapat terlihat setelah periode
laten atau sekitar enam bulan atau lebih dan bisa terus berkembang
bertahun-tahun setelah paparan radiasi. Penyebab cedera tersebut adalah
obliterasi vaskular dan fibrosis stroma. TOHB dapat menstimulasi
angiogenesis dan menginduksi neovaskularisasi pada jaringan yang
hipoksia, beberapa penelitian juga menunjukkan TOHB dapat
menginduksi sel stem dengan meningkatkan nitrit oksigen.
9. Insufisiensi arteri
Insufisiensi arteri yang dimaksud adalah oklusi arteri sentral pada
retina (CRAO) dan mempercepat penyembuhan pada luka tertentu. Pada
CRAO, oksigen hiperbarik berfungsi untuk menyuplai oksigen pada sel
koroid di mata. Pada penyembuhan luka tertentu, TOHB pada prinsipnya
membantu mencegah hipoksia sel dan jaringan, replikasi fibroblast,
deposisi kolagen, membantu proses angiogenesis, dan proses pembunuhan
bakteri oleh leukosit intraselular.

8
10. Compromised Graft and Flaps
TOHB pada prinsipnya membantu mencegah hipoksia sel dan jaringan,
replikasi fibroblast, deposisi kolagen, dan membantu proses angiogenesis
skin graft atau flap sehingga dapat mempercepat proses penyembuhan
jaringan.
11. Trauma luka bakar akut
TOHB membuat hiperoksigenisasi pada daerah sekitar luka,
meredakan peradangan, serta membantu proses epitelisasi jaringan kulit,
deposisi kolagen, dan perbaikan kegagalan mikrosirkulasi dengan memicu
angiogenesis pada sel.
12. Idiopathic Sudden Sensorineural Hearing Loss
TOHB mengatasi hipoksia relatif pada badan koklea dan kanalis
vestibulum, mengurangi viskositas cairan endolimfe, serta dapat berfungsi
sebagai mekanisme antibakterial.

 Kontraindikasi2
TOHB memiliki beberapa kontraindikasi absolut dan
kontraindikasi relatif. Kontraindikasi absolut yaitu pneumothoraks
(termasuk potensi pneumothoraks spontan), sedangkan kontraindikasi
relatif yaitu sinusitis, caries gigi, skizofrenia, ibu hamil trimester I-II,
hipermetropi tiggi, glaukoma, sefalgia berat, hipertensi maligna, usia< 3
bulan, perforasi membran timpani unilateral, dan status epileptikus.

9
Tabel 1. Kontraindikasi TOHB.2
Absolut Relatif
 Pneumothoraks  Infeksi saluran napas atas
 Bronkospasme akut berat  Rhinitis alergi
 Pengobatan bersamaan dengan  Sinusitis dan otitis kronis
doxorubicin  PPOK dengan emfisema
 Pengobatan bersamaan atau  Riwayat pneumothoraks atau
baru-baru ini dengan bleomycin operasi thoraks
 Riwayat operasi telinga, hidung,
dan tenggorokan
 Epilepsi
 Neuritis optikus
 Hipertensi arterial tidak
terkontrol
 Gagal jantung tidak terkontrol
 Claustrophobia
 Perilaku berbahaya

3) Persiapan Pasien
1. Beberapa barang diharapkan untuk tidak dibawa dan digunakan ke
dalam chamber, berupa:
a. Make up, kutek kuku, parfum, kolone, deodorant
b. Minyak rambut atau hair spray
c. Rambut palsu atau jepit ramput
d. Produk yang berbahan dasar alkohol atau bensin
e. Handphone
f. Perhiasan, kacamata berbingkai titanium, atau benda berbahan
metal lainnya
g. Benda-benda yang mudah terbakar dan memproduksi panas
h. Alat bantu dengar
2. Menghindari konsumsi nikotin dan kafein menjelang terapi. Nikotin
dan kafein diketahui dapat membuat konstriksi pembuluh darah dan
dapat berpengaruh pada hasil dari terapi hiperbarik.
3. Menginformasikan pada petugas jika menderita penyakit, sedang
dalam pengobatan, atau adanya perubahan fisik menjelang
dilakukannya terapi.

10
4. Pada saat hari dilakukannya terapi, persiapan pasien berupa mandi
dengan bersih. Kemudian menggunakan pakaian yang nyaman,
dianjurkan menggunakan yang berbahan katun.
5. Mengkonsumsi makanan ringan dan bergizi setidaknya satu atau dua
jam sebelum dilakukannya terapi
6. Hadir setidaknya 30 menit sebelum dimulainya jadwal terapi. Hal ini
dilakukan untuk persiapan, termasuk memeriksa ulang tanda vital dan
kondisi pasien sebelum masuk ke dalam chamber.

4) Prosedur Terapi Hiperbarik3


1. Setiap pasien harus mendaftar di loket registrasi.
2. Dokter Hyperbaric oxygen (HbO) memberikan penjelasan terkait
rencana tindakan Hyperbaric oxygen (HbO), mancakup tujuan tindakan,
manfaat, risiko dan efek samping Hyperbaric oxygen (HbO).
3. Bila pasien setuju maka pasien menandatangani persetujuan pada format
informed consent yang sudah disediakan.
4. Dokter Hyperbaric oxygen (HbO) melakukan pengkajian kepada pasien,
mencakup :
a. Anamnesis pasien.
b. Dokter Hyperbaric oxygen (HbO) melakukan pemeriksaan fisik,

berupa keadaan umum, tanda vital, status generalis, status

neurologi dan status lokalis.
c. Dokter melakukan pemeriksaan lain terkait indikasi untuk

mengetahui ada / tidaknya kontraindikasi terapi dengan Ruang
Udara Bertekanan Tinggi (RUBT), yaitu dengan pemeriksaan :
 EKG
 Thorax foto
 Laboratorium (sesuai dengan kondisi pasien)
 Pemeriksaan lainnya disesuaikan dengan kasus yang

bersangkutan (audiogram, foto fundus, angiografi, tonometri)

11
d. Penderita Caison Disease/ Arterial Gas Emboli (AGE) yang tidak
sadar (status emergensi) perlu tindakan miringotimi (menggunakan
kateter IV sesuai kebutuhan).
e. Dokter merujuk dan mengkonsultasikan ke fasilitas pelayanan
hiperbarik yang lebih mampu jika diperlukan.
5. Perawat Hyperbaric oxygen (HbO) mengarahkan pasien melakukan
ekualisasi yaitu upaya menyamakan tekanan antara telinga bagian tengah
dengan tekanan udara di luar. Ekualisasi dapat dilakukan dengan
beberapa cara, antara lain :
a. Menelan ludah sambil memencet hidung (maneuver Toynbee)
b. Meminum air putih
c. Membuka mulut, menggerakkan rahang dari kanan ke kiri
d. Menutup hidung dan mulut lalu menghembuskan udara sehingga
udara keluar melalui kedua lubang telinga (maneuver Valsava).
Tindakan ini dilakukan secara hati-hati
6. Perawat HBO harus mendampingi pasien selama tindakan terapi
hiperbarik dalam ruang Ruang Udara Bertekanan Tinggi.
7. Hal-hal yang perlu diperhatikan :
a. Selama prosedur HBO berlangsung, komunikasi perawat
pendamping, pasien, dengan operator chamber harus intensif,
khususnya pada saat proses kompresi.
b. Apabila dalam prosedur HBO terjadi efek samping/ keluhan
pasien/ perawat pendamping yang bersifat urgen, masker oksigen
dilepas dan prosedur HBO harus dihentikan (dikeluarkan).
c. Selama prosedur HBO berlangsung, perawat pendamping harus
senantiasa memantau/ menayakan apakah pasien ada keluhan atau
tidak.
d. Apabila prosedur HBO sementara berlangsung dan pasien
membutuhkan suplai obat/ makanan/ minuman dari luar, masukkan
melalui medical lock.
e. Selama periode isap oksigen, sebaiknya pasien tidak tidur.

12
f. Selama periode istirahat, pasien boleh makan / minum.
g. Pasien infeksius dan luka yang berbau harus dikondisikan dengan
jadwal pasien lain.
h. Pasien yang akan melakukan penerbangan, dilakukan dalam jangka
waktu 4-6 jam setelah prosedur.
i. Pasien sebaiknya dilakukan terapi HBO 1x perhari berturut- turut
selama 5 hari dan diistrahatkan 2 hari
8. Terdapat beberapa tabel yang dapat digunakan sebagai acuan dalam
melaksanakan terapi hiperbarik ini, yaitu4,5:
a. Tabel 5 US Diving Manual

b. Tabel 6 US Diving Manual

13
c. Tabel KindWall

14
I. LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. R
Umur : 34 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Pekerjaan : Penyelam tradisional
Alamat : Gili Air
Tgl. pemeriksaan : 18 Mei 2015

2. ANAMNESIS
Keluhan utama: lemah dan nyeri di kedua kaki
Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poli KKP Mataram dengan keluhan lemah di kedua kaki.
Pasien mengatakan keluhan tersebut muncul sekitar pukul 02.00 WITA, 5
jam setelah pasien menyelam atau 3.5 jam setelah pasien muncul ke
permukaan. Pasien menyelam dilakukan untuk menangkap ikan. Saat
menyelam, pasien mengaku tidak menggunakan peralatan lengkap, hanya
dibantu alat nafas berupa kompresor. Kedalaman saat menyelam diakui
pasien sekitar 20 meter. Pasien berada di kedalaman tersebut sekitar 10
menit, namun dilakukan berulang kali. Saat menyelam, pasien
melakukannya seorang diri, namun terdapat seorang teman sesama
nelayan yang berada di atas perahu. Selain lemah di kedua kaki, pasien
juga mengaku merasakan nyeri di persendian kakinya. Keluhan nyeri
terutama dirasakan saat bergerak, sehingga pasien kesulitan untuk berjalan.
Pasien juga merasakan rasa kebal di kedua kakinya bersamaan dengan
keluhan di atas. BAB dan BAK masih dalam batas normal. Keluhan lain
seperti sakit kepala, nyeri perut, disangkal oleh pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu:
Riwayat keluhan serupa (-), hipertensi (-), penyakit jantung (-), asma (-)
Riwayat Pengobatan:
Terapi hiperbarik sebelumnya (-)

15
Riwayat Sosial:
Pasien merupakan penyelam tradisional yang melakukan penyelaman
untuk menangkap ikan.

Dive Profile

25

21.00 5 menit 5 menit 5 menit 5 menit 22.30 Gejala


20
3.5 jam

15

Gejala:
20 meter 1. Lemah kedua
10
kaki
2. Nyeri sendi
3. Rasa kebas pada
5 kedua kaki

0
10 menit 10 menit 10 menit 10 menit 10 menit

3. PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
KU: baik
Kesadarann : Compos Mentis
TD: 110/70 mmHg
N : 86x/menit
RR: 20x/menit
T : 36,9 C

Status Lokalis
Kepala leher
Mata: anemis -/-, ikterik -/-
Bibir: sianosis -

16
Thoraks
Pulmo : vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
Cor : S1S2 tunggal, reguler, murmur -/-, gallop -/-
Abdomen
Bising usus (+) normal, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas
 Superior:
o Kekuatan: 5|5
o Parestesia (-/-)
 Inferior:
o Kekuatan: 4|4
o Parestesia (+/+)
4. DIAGNOSIS
Decompression sickness (DCS) tipe 2
5. TATALAKSANA
- Terapi Oksigen Hiperbarik (tabel 6 US NAVY)
- Observasi keluhan post terapi
II. Indikasi Terapi Hiperbarik
Pada kasus ini indikasi dilakukannya terapi oksigen hiperbarik adalah karena
pasien mengalami penyakit dekompresi tipe 2 akibat menyelam.

III. Prosedur Terapi Hiperbarik pada Pasien


1. Pasien mendaftar di loket registrasi.
2. Dokter TOHB memberikan penjelasan terkait rencana tindakan TOHB,
mencakup tujuan tindakan, manfaat, risiko dan efek samping.
3. Pasien menandatangani persetujuan pada form informed consent yang
sudah disediakan.
4. Dokter TOHB melakukan pengkajian pada pasien, mencakup :
a. Anamnesis.
b. Pemeriksaan fisik, berupa keadaan umum, tanda vital, status generalis,
status neurologi dan status lokalis.

17
c. Menentukan tabel terapi rekompresi: pasien ini menggunakan tabel 6
US NAVY.
5. Pasien diminta menggunakan pakaian yang nyaman dan longgar serta
melepas semua aksesoris yang terbuat dari logam seperti jam tangan, ikat
pinggang, perhiasan, dan lain-lain. KIE pasien mengenai tata cara terapi
hiperbarik dan hal yang perlu dilakukan saat berada di dalam chamber.
6. Pasien dimasukkan kedalam ruang chamber dengan bantuan tender
- Pintu chamber ditutup rapat
- Operator mulai memberikan tekanan menggunakan udara tekan sedikit
demi sedikit sambil memperhatikan keadaan umum pasien dan tender
melalui celah kaca atau dengan berkomunikasi melalui radio sampai
tekanan mencapai kedalaman 60 feet pada skala manometer.
8. Pasien diminta untuk mulai memasang masker dan menghirup oksigen
murni selama 20 menit pertama dan bernafas secara teratur.
9. Pasien diminta untuk istirahat selama 5 menit dengan melepas masker
oksigen yang dipakai dan bernafas secara teratur.
10. Pasien diminta untuk memasang masker oksigen kembali dan menghirup
oksigen murni selama 20 menit ke 2 dan bernafas secara teratur.
11. Pasien diminta untuk istirahat ke 2 selama 5 menit dengan melepas masker
oksigen yang dipakai dan bernafas secara teratur.
12. Pasien diminta untuk memasang masker oksigen kembali dan menghirup
oksigen murni selama 20 menit ke 3 dan bernafas secara teratur.
13. Pasien diminta untuk istirahat ke 3 selama 5 menit dengan melepas masker
oksigen yang dipakai dan bernafas secara teratur.
14. Pasien diminta untuk memasang masker oksigen kembali dan menghirup
oksigen murni selama 30 menit dan bernafas secara teratur. Pada tahap ini,
tekanan pada chamber juga diturunkan secara perlahan hingga tekanan
mencapai kedalaman 30 feet.
15. Pasien diminta untuk istirahat ke 4 selama 15 menit dengan melepas
masker oksigen yang dipakai dan bernafas secara teratur.

18
16. Pasien diminta untuk memasang masker oksigen kembali dan menghirup
oksigen murni selama 60 menit dan bernafas secara teratur.
17. Pasien diminta untuk istirahat ke 5 selama 15 menit dengan melepas
masker oksigen yang dipakai dan bernafas secara teratur.
18. Pasien diminta untuk memasang masker oksigen kembali dan menghirup
oksigen murni selama 60 menit ke 2 dan bernafas secara teratur.
19. Setelah itu, tekanan chamber diturunkan perlahan selama 30 menit hingga
tekanan mencapai 1 ATA (0 feet) dengan pasien tetap menggunakan
masker oksigen.
20. Terakhir, pasien diminta untuk melepas masker oksigen yang dipakai.
Pintu chamber terbuka dengan sendirinya yang menandakan proses terapi
telah selesai.
IV. Perkembangan pasien setelah terapi
Menurut pasien setelah mendapatkan terapi oksigen hiperbarik keluhan
kesemutan pada kedua ekstremitas sebelah kanan sudah lebih membaik.
Pasien merasa nyaman dengan terapi oksigen hiperbarik ini.
V. Pembahasan
Berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien ini di diagnosis
dengan penyakit Decompression sickness (DCS). Decompression sickness (DCS)
merupakan cedera yang dapat mengenai penyelam scuba, pekerja pada udara yang
bertekanan, astronot, dan pekerja lain yang terpapar oleh lingkungan dengan
kondisi hiper dan/atau hipobarik. Prinsip utama penyebab dari DCS ini adalah
adanya supersaturasi dari suatu gas di aliran darah dan jaringan yang mengarah ke
pembentukan gelembung udara (bubbles). Gejala yang ditimbulkan oleh DCS
bervariasi, mulai dari manifestasi yang tidak berbahaya seperti nyeri ringan pada
sendi-sendi, sampai pada gejala yang berbahaya seperti paralisis dan kematian.4
Pasien mengeluhkan lemah dan rasa tebal pada kedua kaki dan nyeri sendi
pada ekstremitas superior dan inferior, pada pemeriksaan fisik didapatkan
kekuatan motorik ekstremitas bawah +4/+4 dan parastesia pada ekstremitas bawah.
Oleh karena itu pasien didiagnosis dengan DCS tipe II. DCS dibagi menjadi 2
kategori, yaitu DCS tipe I (mild) dengan karakteristikan oleh satu atau kombinasi

19
dari gejala berikut (1) Nyeri ringan yang dapat menghilang dalam 10 menit dari
dimulainya onset, (2) Pruritus atau “skin bends” yang menyebabkan rasa gatal
atau terbakar pada kulit, (3) Cutis marmorata.4
Cutis marmorata merupakan lesi kulit yang menyebar membentuk pola
marbel berupa papular atau plak berwarna biru-merah. Pada keadaan yang jarang,
lesi tersebut dapat berwarna oranye. Menurut teori, lesi kulit ini muncul akibat
dari amplifikasi emboli gas di kapiler kutan. Emboli gas yang terjadi di batang
otak juga dapat mempengaruhi kontrol autonom dari vasodilatasi dan
vasokonstriksi pembuluh darah.4
Nyeri pada DCS tipe I terjadi pada 70-85% pasien. Nyeri biasanya
dideskripsikan sebagai nyeri tumpul, dalam, berdenyut, nyeri seperti nyeri gigi,
yang biasanya mengenai sendi dan tendon serta jaringan. Gejala-gejala yang
muncul pada DCS tipe I dapat muncul dalam 6 jam setelah penyelam kembali ke
permukaan. Semakin pendek onsetnya, semakin berat gejala yang dapat timbul.4
DCS tipe II (serious) memiliki karakteristikan sebagai gejala, yaitu gejala
pulmonal, syok hipovolemik dan keterlibatan sistem saraf. Spinal cord merupakan
organ yang paling sering terkena pada DCS tipe II, dengan gejalanya mirip
dengan spinal cord injury. Nyeri punggung bawah dapat muncul mulai hitungan
menit sampai jam dan memberat menjadi paresis, paralisis, parastesia, hilangnya
kendali sfingter, dan menjalar ke tungkai bawah. Pertanda prognosis yang buruh
dapat berupa munculnya gejala dalam 30 menit setelah kembali ke permukaan.4
Pada saat terjadi perubahan tekanan, tekanan intraspinal juga dapat
berubah. Peningkatan tekanan intraspinal dengan atau tanpa turunnya tekanan
darah dapat mengganggu sirkulasi, yang menyebabkan iskemik jaringan spinal
cord. Iskemik yang terjadi dapat mengarah pada cedera spinal cord, dan dapat
berlangsung secara permanen. Kerusakan spinal cord karena perubahan tekanan
disebut dengan disbarik myelitis.
Hukum Henry merupakan prinsip fisika yang penting pada penyakit DCS.
Berdasarkan hukum ini, kelarutan gas dalam larutan berbanding lurus dengan
tekanan partial gas pada temperature yang konstan. Selama proses menyelam,
tekanan partial gas, meliputi nitrogen dan oksigen, akan meningkat. Berdasarkan

20
hukum Henry, hal ini akan menyebabkan konsentrasi gas, yaitu nitrogen, yang
larut dalam larutan akan meningkat. Jika penyalam melakukan aktivitas ascend
terlalu cepat, nitrogen akan meninggalkan larutan dan kemudian membentuk
gelembung gas, yang mana gelembung ini akan menimbulkan gejala.
Terapi definitif penyakit ini, yaitu dengan pemberian oksigen hiperbarik
(HBO therapy). HBOT merupakan terapi dimana pasien menghirup oksigen 100%
di dalam suatu chamber yang diberikan tekanan di atas 1,4 ATA. Secara umum
terapi hiperbarik dikategorikan menjadi dua, yaitu terapi rekompresi akibat
gangguan dekompresi dan terapi klinis yang tidak berhubungan dengan
dekompresi. Terapi oksigen hiperbarik dengan indikasi rekompresi digunakan
untuk mengurangi ukuran gelembung, tidak hanya melalui tekanan, tetapi juga
dengan menggunakan gradien oksigen.
Menurut hukum Boyle, volume gelembung menjadi lebih kecil saat
tekanan meningkat. Gelembung yang menyebabkan DCS diduga terdiri dari
nitrogen. Ketika tekanan atmosfer menurun, nitrogen merembes keluar dari darah,
jaringan, atau keduanya. Selama terapi hiperbarik, pasien menghirup 100%
oksigen, menciptakan darah kaya oksigen dan miskin nitrogen, yang menciptakan
perbedaan gradien nitrogen antara darah dan gelembung, sehingga nitrogen
mengalir dari gelembung ke dalam aliran darah, yang pada dasarnya membuat
gelembung menjadi lebih kecil. Pada pasien diatas, direkomendasikan untuk
terapi hiperbarik karena DCS termasuk dalam salah satu indikasi terapi hiperbarik.
Gambar berikut menunjukkan menunjukkan alur terapi DCS.

21
Gambar 1. Tatalaksana Decompression Sicknestype I3

22
Gambar 2. Tatalaksana gejala rekuren3

23
Gambar 3. Tatalaksana Decompression Sickness stype II3

Fasilitas kesehatan terkait layanan terapi hiperbarik di KKP digunakan


untuk pengobatan utama yaitu untuk penyakit-penyakit akibat penyelaman,
kegiatan kelautan seperti penyakit dekompresi dan sebagai pengobatan adjuvant
seperti penyakit tuli mendadak, gangren, combustio, dan lain-lain.

24
Sarana pelayanan hiperbarik harus memenuhi memiliki ruang pemeriksaan
dan konsultasi pasien, serta ruang tindakan instalasi TOHB. Pelayanan medik
terapi hiperbarik di KKP telah memenuhi hal tersebut. Sumber daya manusia
dalam pelayanan hiperbarik di KKP terdiri dari dokter umum dengan pendidikan
hiperbarik, perawat dengan pendidikan hiperbarik, dan teknisi medik dengan
pendidikan hiperbarik.4 Prosedur pelayanan terapi hiperbarik di KKP dilakukan
sesuai dengan standar yaitu melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan
pemeriksaan penunjang, menandatangani surat persetujuan tindakan medis,
mengedukasi pasien untuk ekualisasi, dan melakukan tindakan terapi hiperbarik
dengan memperhatikan kondisi dan kenyamanan pasien oleh tender.

25
DAFTAR PUSTAKA

1. RSUP dr. Wahidin Sudirohusodo. 2013. Standar Prosedur Operasional Pelayanan


Hiperbarik Chamber. Makassar. Available at:
https://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp-content/uploads/2016/09/Bahan-
Ajar_SOP-Hiperbarik-Chamber.pdf
2. UHMS. UHMS. Indication for Hyperbaric Oxygen Therapy. Edisi 13.
2014.
3. Sacred Heart Medical Center. Preparing for Your Hyperbaric Oxygen Therapy.
Hyperbaric Center. Available at:
https://www.peacehealth.org/sites/default/files/Documents/hyperbarics-
prepping.pdf
4. Mize J., Hamm T., Orr S., et al. 2018. HBO Treatment Indication with Protocol.
WoundReference. Available at: https://woundreference.com/app/topic?id=hbo-
treatment-indication-with-protocol
5. US Navy Diving Manual. 2016. Diving Medicine and Recompression Chamber
Operations. US Navy Diving Manual. Volume 5. Revision 7. Available at:
https://www.navsea.navy.mil/Portals/103/Documents/SUPSALV/Diving/US%20
DIVING%20MANUAL_REV7.pdf?ver=2017-01-11-102354-393.

26