Anda di halaman 1dari 14

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI...............................................................................................................................I
BAB I PENDAHULUAN ....................................................................................................................... 2
1.1. Latar belakang ......................................................................................................................... 2
1.2. Tujuan ..................................................................................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 4
2.1. Definisi High Alert Medication atau Obat yang Perlu Diwaspadai ........................................ 4
2.2. Obat yang Perlu Diwaspadai ................................................................................................... 4
2.3. Peresepan dan Instruksi Medis ................................................................................................ 4
2.4. Penyimpanan High Alert Medications di gudang farmasi RS PMI Bogor ............................. 6
2.4.1. Lokasi penyimpanan ....................................................................................................... 6
2.4.2. Alur penyimpanan ........................................................................................................... 6
2.4.3. Penyimpanan elektrolit konsentrasi tinggi ...................................................................... 6
2.4.4. Penyimpanan obat LASA................................................................................................ 6
2.5. Pemberian label ....................................................................................................................... 7
2.6. Penyiapan Obat High Alert ..................................................................................................... 8
2.7. Cek 7 Benar............................................................................................................................. 8
2.8. Hal-Hal yang Harus Diperhatikan........................................................................................... 9
2.9. Contoh Obat Perlu Diwaspadai atau High Alert Medication .................................................. 9
BAB III PENUTUP .............................................................................................................................. 13
3.1. Kesimpulan............................................................................................................................ 13
3.2. Saran ..................................................................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................... 14
BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Obat adalah benda atau zat yang dapat digunakan untuk merawat penyakit,
membebaskan gejala, atau mengubah proses kimia dalam tubuh. Obat ialah suatu bahan atau
paduan bahan-bahan yang dimaksudkan untuk digunakan dalam menetapkan diagnosis,
mencegah, mengurangkan, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit,
luka atau kelainan badaniah dan rohaniah pada manusia atau hewan dan untuk memperelok
atau memperindah badan atau bagian badan manusia.

Beberapa obat memiliki rentang dosisi terapetik dan keamanan yang sempit maka sesuai
dengan kebijakan Menurut PerMenKes No 1691 Tahun 2011 tentang keselamatan pasien
rumah sakit, maksud dari Sasaran Keselamatan Pasien adalah mendorong perbaikan spesifik
dalam keselamatan pasien. Salah satunya adalah meningkatkan keamanan obat-obat yang
perlu diwaspadai (high alert medication) berupa sejumlah obat-obatan yang memiliki risiko
tinggi menyebabkan bahaya yang besar pada pasien jika tidak digunakan secara tepat.

High alert medications memiliki resiko yang lebih tinggi dalam menyebabkan
komplikasi, efek samping, atau bahaya. Hal ini dapat dikarenakan adanya rentang dosis
terapeutik dan keamanan yang sempit atau karena insidens yang tinggi akan terjadinya
kesalahan. Metode untuk meminimalisasi kesalahan ini meliputi beberapa strategi seperti,
menyediakan akses informasi mengenai high alert medications, membatasi akses terhadap
high alert medications menggunakan label dan tanda peringatan untuk high alert
medications, Menstandarisasi prosedur instruksi/peresepan, penyimpanan, persiapan dan
pemberian high alert medications melakukan prosedur pengecekan ganda untuk obat-obatan
tertentu.

2
1.2.Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah:
1. Memberikan pedoman dalam manajemen dan pemberian obat yang perlu
diwaspadai (high-alert medications) sesuai standar pelayanan farmasi dan
keselamatan pasien rumah sakit.
2. Meningkatkan keselamatan pasien rumah sakit
3. Mencegah terjadinya sentinel event atau adverse outcome
4. Mencegah terjadinya kesalahan / error dalam pelayanan obat yang perlu diwaspadai
kepada pasien
5. Meningkatkan mutu pelayanan rumah sakit.

3
BAB II

PEMBAHASAN

2.1.Definisi High Alert Medication atau Obat yang Perlu Diwaspadai


Obat yang perlu diwaspadai (High-Alert Medications) adalah sejumlah obat-obatan yang
memiliki risiko tinggi menyebabkan bahaya yang besar pada pasien jika tidak digunakan
secara tepat (drugs that bear a heightened risk of causing significant patient harm when they
are used in error. ISMP - Institute for Safe Medication Practices).

Obat yang perlu diwaspadai (High Alert Medication) yaitu obat yang presentasinya
tinggi dalam menyebabkan terjadinya kesalahan/error dan atau kejadian sentinel, obat yang
beresiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome) termasuk
obat-obat LASA (Look Alike Sound Alike)/NORUM (nama obat rupa ucapan mirip) dan
elektrolit konsentrasi tinggi.

High alert medications adalah obat-obatan yang memiliki risiko lebih tinggi untuk
menyebabkan/menimbulkan adanya komplikasi/membahayakan pasien secara signifikan jika
terdapat kesalahan penggunaan (dosis, interval, dan pemilihannya). Jadi, obat yang perlu
diwaspadai merupakan obat yang memerlukan kewaspadaan tinggi, terdaftar dalam kategori
obat berisiko tinggi, dapat menyebabkan cedera serius pada pasien jika terjadi kesalahan
dalam penggunaan.

2.2.Obat yang Perlu Diwaspadai


Obat yang perlu diwaspadai menurut Peraturan Menteri Kesehatan no. 58 tahun 2014
dapat dibedakan menjadi :

 Kelompok obat yang memiliki rupa mirip (Look-Alike)


 Kelompok obat yang memiliki nama mirip (Sound-Alike)
 Kelompok obat elektrolit konsentrasi tinggi
 Kelompok obat sitostatistika

2.3.Peresepan dan Instruksi Medis


Penulisan resep untuk obat yang termasuk kelompok obat yang perlu diwaspadai (High-
Alert Medications) harus sesuai dengan ketentuan penulisan resep yang baku serta beberapa
hal penting berikut :

4
1) Dokter memeriksa kelengkapan dan ketepatan resep : penulisan resep, indikasi,
ketepatan obat, dosis, rute pemberian
2) Penulisan obat yang termasuk kelompok obat LASA / NORUM harus menggunakan
huruf kapital semua serta mencantumkan dengan jelas dosis dan satuan obat,
Contoh : IR 15 IU seharusnya dituliskan IR 15 International Unit
3) Instruksi lisan hendaknya dihindari, jika sangat terpaksa diperbolehkan dalam
keadaan emergensi yang diatur sesuai dengan pedoman komunikasi efektif dengan
teknik SBAR (Situatiton, Background, Assesment, Recommendation)
4) Apoteker atau Asisten Apoteker yang menerima resep, harus melakukan konfirmasi
jika terdapat penulisan yang tidak sesuai (nama obat/sediaan, satuan, dll)

Contoh 1 :

R/ GLUCOPHAGE XR 500 no. XV harus jelas beda penulisannya dengan


R/ GLUCOPHAGE 500

Contoh 2 :

R/ GLUCOPHAGE XR 850 no. XV harus jelas beda penulisannya dengan


R/ GLUCOPHAGE 850

Penulisan instruksi terapi oleh dokter dan perawat di rekam medis pasien (catatan
terintegrasi) juga sesuai dengan penulisan resep, yaitu :

a) Ditulis dengan huruf kapital


b) Mencakup nama pasien dan nomor rekam medis, tanggal dan waktu instruksi dibuat,
nama obat, dosis, jalur pemberian, dan tanggal pemberian setiap obat, Kecepatan dan
atau durasi pemberian obat.
c) Satuan tertentu harus ditulis lengkap
d) Pemberian elektrolit konsentrat hendaknya memberikan penjelasan untuk
mengingatkan perawat tentang dosis dan cara pemberiannya.Satuan obat yang harus
ditulis lengkap. Misalnya : IU harus ditulis International Unit
e) Instruksi kemoterapi harus ditulis dalam ‘Formulir Instruksi Kemoterapi’ dan
ditandatangani oleh dokter spesialis yang menangani, informasi ini termasuk riwayat
alergi pasien, tinggi badan, berat badan, dan luas permukaan tubuh pasien. Hal ini
memungkinkan ahli farmasi dan perawat untuk melakukan pengecekan ganda
terhadap penghitungan dosis berdasarkan berat badan dan luas permukaan tubuh.

5
2.4.Penyimpanan High Alert Medications di gudang farmasi RS PMI Bogor
Penyimpanan obat yang perlu diwaspadai memiliki tempat dan cara khusus yaitu,

2.4.1. Lokasi penyimpanan


Lokasi penyimpanan obat yang perlu diwaspadai berada di logistik farmasi dan
pelayanan farmasi, khusus untuk elektrolit konsentrasi tinggi terdapat juga di unit
pelayanan, yaitu ICU (Intensive Care Unit) dan kamar bersalin atau VK (Verlos Kamer)
dalam jumlah yang terbatas. Obat disimpan sesuai dengan kriteria penyimpanan perbekalan
farmasi, utamanya dengan memperhatikan jenis sediaan obat (rak/kotak penyimpanan,
lemari pendingin), sistem FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expired First Out)
serta ditempatkan sesuai ketentuan obat “High Alert”.

2.4.2. Alur penyimpanan


Pertama jika sediaan obat yang perlu diwaspadai datang maka petugas bagian
(logistik farmasi / pelayanan farmasi) yang menerima obat segera memisahkan obat yang
termasuk kelompok obat yang “High Alert” sesuai Daftar Obat High Alert RS PMI Bogor.
Setelah itu tempelkan stiker merah bertuliskan “High Alert” pada setiap kemasan luar
(kotak) obat dan bagian dalam kemasan obat high alert. Berikan selotip merah pada
sekeliling tempat penyimpanan obat high alert yang terpisah dari obat lain. High Alert
Medications disimpan di dalam pelayanan farmasi dan di gudang farmasi dalam tempat
penyimpanan di lokasi sesuai abjad dan bentuk sediaan lalu, seluruh tempat penyimpanan
persediaan obat High Alert diperiksa dan diinspeksi setiap bulan oleh petugas farmasi.
Pengawasan yang dilakukan yaitu kesesuaian tempat penyimpanan obat sesuai yang
dipersyaratkan, kuantitas, kondisi fisik dan tanggal kadaluarsa.

2.4.3. Penyimpanan elektrolit konsentrasi tinggi


Pertama petugas bagian (logistik farmasi / pelayanan farmasi) yang menerima obat
segera memisahkan obat yang termasuk kelompok obat yang high alert sesuai dengan
bentuk sediaan dan abjad. Tempelkan stiker merah bertuliskan “HIGH ALERT DOUBLE
CHECK” pada setiap kemasan obat. High Alert Medications disimpan di gudang farmasi
dalam tempat penyimpanan yang diberikan selotip merah pada sekeliling tempat dan
dipisahkan dari obat-obat lainnya.

2.4.4. Penyimpanan obat LASA


LASA merupakan sebuah peringatan (warning) untuk keselamatan pasien (patient
safety) : obat-obatan yang bentuk / rupanya mirip dan pengucapannya / namanya mirip
tidak boleh diletakkan berdekatan. Walaupun terletak pada kelompok abjad yang sama

6
harus diselingi dengan minimal 2 (dua) obat dengan kategori LASA diantara atau
ditengahnya. Obat LASA/NORUM yang disimpan dengan diberi tanda khusus berwarna
kuning dengan tulisan “warning LASA” agar terlihat jelas.

2.5.Pemberian label di RS PMI BOGOR


Pelabelan obat dengan kewaspadaan tinggi berdasarkan prosedur operasional di RS PMI
Bogor :

a. Pengertian : Pelabelan adalah pemberian tanda pada sediaan obat berupa stiker atau
label yang berisi informasi, baik umum maupun khusus menengai sediaan obat.
b. Tujuan pelabelan:
1. Membedakan sediaan obat dengan kewaspadaan tinggi dengan obat lainnya.
2. Menghindari dan mengurangi resiko terjadinya kesalahan dalam penyiapan atau
pemberian obat.
c. Kebijakan :
1. Obat yan termasuk dalam kateori hih alert harus diberi striker khusus bertuliskan
“High Alert Double Check”
2. Obat khusus kemoterapi diberi label “ Cytotoxic Handling With Care”
3. Sesuai dengan SK Direktur RS PMI Nomor I.0051/ktps/VI/2016 tentang
Kebijakan Pelayanan Farmasi.
d. Prosedur :
1. Beri label penanda pada setiap kemasan obat : ampul, vial, syringe pen, kardus.
2. Tempel label di tempat yang tidak menutupi nama, kekuatan, nomor batch, dan
tanggal kadaluarsa obat.
3. Tempel label merah “HIGH ALERT” disetiap ampul obat dengan kewaspadaan
tinggi; yang tidak tergolong obat Nama Obat - Rupa – ucapan – Mirip (NORUM).

Contoh :
4. Tempel label merah “HIGH ALERT, DOUBLE CHECK” disetiap vial atau
kardus obat dengan kewaspadaan tinggi.

7
5. Tempel label ungu “CYTOTOXIC DRUG, HANDLE WITH CARE” di vial dan/
atau kardus obat sitostatika.
6. Tempel label kuning “LASA!” di hanya kotak penyimpanan obat yan terolon obat

NORUM. Contoh :

2.6.Penyiapan Obat High Alert


Penyiapan obay yang perlu diwaspadai yaitu dengan cara :

1. Apoteker/Asisten Apoteker memverifikasi resep obat high alert sesuai


PedomanPelayanan Farmasi penanganan High Alert.
2. Garis bawahi setiap obat high alert pada lembar resep.
3. Dilakukan pemeriksaan kedua oleh petugas farmasi yang berbeda sebelum obat
diserahkan kepada perawat.
4. Petugas farmasi pertama dan kedua, membubuhkan tanda tangan dan nama jelas di
bagian belakang resep sebagai bukti telah dilakukan double check.
5. Obat diserahkan kepada perawat/pasien disertai dengan informasi yang memadai.

2.7.Cek 7 Benar
Setiap penyerahan obat kepada pasien dilakukan verifikasi 7 (tujuh) benar untuk
mencapai medication safety :
1) Benar obat
2) Benar waktu dan frekuensi pemberian
3) Benar dosis
4) Benar rute pemberian
5) Benar identitas pasien
 Kebenaran nama pasien
 Kebenaran nomor rekam medis pasien
 Kebenaran umur/tanggal lahir pasien
 Kebenaran alamat rumah pasien
 Nama Dokter Penanggung Jawab Pelayanan
6) Benar informasi
7) Benar dokumentasi

8
2.8.Hal-Hal yang Harus Diperhatikan
Hal yang harus diperhatikan dalam penanganan obat perlu diwaspadai atau high alert
medication yaitu,
1) Setiap depo farmasi, ruang rawat, poliklinik harus memiliki daftar obat High alert
2) Setiap tenaga kesehatan harus mengetahui penanganan khusus untuk obat high alert
3) Prosedur peningkatan keamanan obat yang perlu diwaspadai dilakukan mulai dari
peresepan, penyimpanan, penyiapan di farmasi dan ruang perawatan dan pemberian
obat
4) Obat high alert disimpan ditempat terpisah, akses terbatas, diberi label High alert
5) Pengecekan dengan 2 (dua) orang petugas yang berbeda untuk menjamin kebenaran
obat high alert yang digunakan
6) Tidak menyimpan obat kategori kewaspadaan tinggi di meja dekat pasien tanpa
pengawasan

2.9.Contoh Obat Perlu Diwaspadai atau High Alert Medication

ketagori dan spesifikasi obat yang termasuk ke dalam high alert medication .
Tabel 1. Obat high alert untuk pengobatan akut menurut ISMP:

-Kategori/ kelas obat-obatan Spesifikasi Obat

adrenergic agonists, IV EPINEPHrine, subcutaneous


(e.g., EPINEPHrine, phenylephrine,
norepinephrine)

adrenergic antagonists, IV (e.g., epoprostenol (Flolan), IV


propranolol, metoprolol, labetalol)

anesthetic agents, general, inhaled insulin U-500 (special emphasis) :


and IV (e.g., propofol, ketamine) *All forms of insulin, subcutaneous
and IV, are considered a class of
high-alert medications.

Insulin U-500 has been singled out


for special emphasis to bring
attention to the

need for distinct strategies to prevent


the types of errors that occur with

9
this concentrated

form of insulin

antiarrhythmics, IV (e.g., lidocaine, magnesium sulfate injection


amiodarone)

antithrombotic agents, including: methotrexate, oral, non-oncologic


use
 anticoagulants (e.g., warfarin, low
molecular weight heparin, IV
unfractionated heparin)
 Factor Xa inhibitors (e.g.,
fondaparinux, apixaban, rivaroxaban)
 direct thrombin inhibitors (e.g.,
argatroban, bivalirudin, dabigatran
etexilate)
 thrombolytics (e.g., alteplase,
reteplase, tenecteplase)
 glycoprotein IIb/IIIa inhibitors (e.g.,
eptifibatide)

cardioplegic solutions opium tincture

chemotherapeutic agents, parenteral oxytocin, IV


and oral

dextrose, hypertonic, 20% or greater nitroprusside sodium for injection

dialysis solutions, peritoneal and potassium chloride for injection


hemodialysis concentrate

epidural or intrathecal medications potassium phosphates injection

hypoglycemics, oral promethazine, IV

inotropic medications, IV (e.g., vasopressin, IV or intraosseous


digoxin, milrinone)

insulin, subcutaneous and IV

10
liposomal forms of drugs (e.g.,
liposomal amphotericin B) and
conventional counterparts

(e.g., amphotericin B desoxycholate)

moderate sedation agents, IV (e.g.,


dexmedetomidine, midazolam)

moderate sedation agents, oral, for


children (e.g., chloral hydrate)

narcotics/opioids

 IV
 Transdermal
 oral (including liquid concentrates,
immediate and sustained-release
formulations)

neuromuscular blocking agents (e.g.,


succinylcholine, rocuronium,
vecuronium)

parenteral nutrition preparations

radiocontrast agents, IV

sterile water for injection, inhalation,


and irrigation

(excluding pour bottles) in containers


of 100 mL or more

sodium chloride for injection,


hypertonic, greater than 0.9%
concentration

11
Tabel 2. Daftar obat high alert untuk pengobatan rawat jalan menurut ISMP:

-Kategori/ kelas obat-obatan Spesifikasi Obat

antiretroviral agents (e.g., efavirenz, carBAMazepine


lamiVUDine, raltegravir, ritonavir,

combination antiretroviral products)

chemotherapeutic agents, oral chloral hydrate liquid, for sedation of


(excluding hormonal agents) children

(e.g., cyclophosphamide,
mercaptopurine, temozolomide)

hypoglycemic agents, oral heparin, including unfractionated and


low molecular weight heparin

immunosuppressant agents (e.g., metFORMIN


azaTHIOprine, cycloSPORINE,

tacrolimus)

insulin, all formulations methotrexate, non-oncologic use

opioids, all formulations midazolam liquid, for sedation of


children

pediatric liquid medications that require propylthiouracil


measurement

pregnancy category X drugs (e.g., warfarin


bosentan, ISOtretinoin)

12
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

High-Alert Medication atau obat dengan kewaspadaan tinggi adalah obat-obat yang
secara signifikan berisiko membahayakan pasien bila digunakan dengan salah atau
pengelolaan yang kurang tepat. Di Indonesia, pada Peraturan Menteri Kesehatan RI
Nomor 58 Tahun 2014 Tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Rumah Sakit
mengharuskan rumah sakit untuk mengembangakan kebijakan pengelolan obat untuk
meningkatkan keamanan khususnya obat yang perlu diwaspadai (high-alert medications).
Obat ini sering menyababkan kesalahan serius (sentinel event) dan dapat menyababkan
reaksi obat yang tidak diinginkan (ROTD). Berdasarkan study yang dilakukan
oleh Institute for Safe Medication Practices (ISMP) di US, obat yang paling sering
menyebabkan ROTD dan sentinel event adalah insulin, opium dan narkotik,
injeksi potassium chloride (phospate)concentrate, intravenous anticoagulants
(hepari) dan sodium chloride solution lebih besar dari 0,9%.

3.2.Saran
Penempelan stiker atau label semua obat dan sediaan high alert atau yang perlu
diwaspadai dilakukan di gudang farmasi I RS PMI Bogor.

13
DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI. 2007. Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit. Direktorat
Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan. Jakarta.

Departemen Kesehatan RI. 2011. Standar Akreditasi Rumah Sakit. Direktorat Jenderal Bina
Upaya Kesehatan dan Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS). Jakarta.

http://www.ismp.org/tools/highalertmedications.pdf (diakses pada 1 September 2018)

http://www.ismp.org/communityRx/tools/ambulatoryhighalert.asp (diakses pada 1 September


2018)

SK Direktur RS PMI Nomor I.0051/ktps/VI/2016 tentang Kebijakan Pelayanan Farmasi.

14