Anda di halaman 1dari 14

TUGAS MAKALAH PATOFISIOLOGI

“GANGGUAN LIMFOMA”

Disusun oleh:
Rizki Insyani Putri ( 163-069)

JURUSAN S1 BIOLOGI MEDIK FAKULTAS BIOLOGI

UNIVERSITAS NASIONAL

JAKARTA

2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Limfoma atau yang kita tahu sebagai kanker getah bening merupakan bentuk paling
umum dari keganasan hematologi atau “kanker darah” di negara maju. Secara bersama-sama,
limfoma merupakan 5,3% dari semua kanker (termasuk sel basal dan kanker sel sederhana
skuamosa kulit) di Amerika Serikat, dan 55,6% dari semua kanker darah. Dari tahun ketahun
penderita penyakit ini semakin bertambah.

Yang dimaksud limfoma atau kanker getah bening adalah kanker ganas yang berkaitan
dengan sistem limfatik. Sistem limfatik merupakan bagian penting dari sistem kekebalan tubuh
dan bertugas dalam membentuk pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker. Sistem
limfatik adalah bagian penting sistem kekebalan tubuh yang memainkan peran kunci dalam
pertahanan alamiah tubuh melawan infeksi dan kanker. Cairan limfatik adalah cairan putih
mirip susu yang mengandung protein, lemak dan limfosit (sel darah putih) yang semuanya
mengalir keseluruh tubuh melalui pembuluh limfatik ada dua macam limfosit yaitu sel B dan
sel T. Sel B membantu melindungi tubuh melawan bakteri dengan jalan membuat antibodi
yang menyerang dan memusnahkan bakteri.

Pada abad ke-19 dan abad ke-20, penyakit ini disebut penyakit Hodgkin karena
ditemukan oleh Thomas Hodgkin tahun 1832. Terdapat banyak tipe limfoma, dalam garis besar
limfoma dibagi dalam 4 bagian, diantaranya limfoma Hodgkin (LH), limfoma non-Hodgkin
(LIMFOMA NON-HODGKIN), Histiositosis X, dan Mycosis Fungoides. Dalam praktek, yang
dimaksud limfoma adalah LH dan LIMFOMA NON-HODGKIN, sedangkan Histiositosis X
dan Mycosis Fungoides sangat jarang ditemukan.

Pada umumnya, pengobatan pada penyakit limfoma baik Limfoma Hodgkin maupun
Limfoma non Hodgkin yaitu melalui pemberian secara intravena. Walaupun pada penyakit
Limfoma non Hodgkin ada juga yang pemberiannya melalui oral. Nasib obat dalam tubuh yang
diberikan pada pasien limfoma melalui intravena ini tidak ada fase absorpsi, obat langsung
masuk ke dalam vena, “onset of action” cepat, efisien, bioavailabilitas 100 %, baik untuk obat
yang menyebabkan iritasi kalau diberikan dengan cara lain, biasanya berupa infus kontinu
untuk obat yang waktu-paruhnya (t1/2) pendek). Penggunaan obat melalui intravena ini
didasarkan atas fasa biofarmasetika, yaitu fase dimana semua hal yang terkait dengan
pengaruh-pengaruh pembuatan sediaan terhadap kegiatan terapeutik obat

1.2 Tujuan

a. Untuk mengetahui bagaimana penyakit Limfoma


b. Untuk dapat membedakan klasifikasi dari penyakit Limfoma, yaitu Limfoma Hodgkin
dan Limfoma non-Hodgkin
c. Untuk dapat menjelaskan bagaimana biofarmasetik dan farmakokinetik dari kasus yang
terjadi pada penyakit Limfoma Hodgkin dan Limfoma non-Hodgkin
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Limfoma

Limfoma merupakan istilah umum untuk berbagai tipe kaker darah yang muncul dalam
sistem limfatik, yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. Limfoma disebabkan
oleh sel-sel limfosit B atau T, yaitu sel darah putih yang dalam keadaan normal/sehat menjaga
daya tahan tubuh kita untuk menangkal infeksi bateri, jamur, parasit dan virus, menjadi
abnormal dengan membelah lebih cepat dari sel biasa atau hidup lebih lama dari biasanya.
Sistem limfatik sendiri merupakan jaringan pembuluh dengan katup dan kelenjar ditempat-
tempat tertentu yang mengedarkan cairan getah bening melalui kontraksi otot yang berdekatan
dengan kelenjar. Kelenjar getah bening menyaring benda asing dari getah bening dan juga
mengangkut lemak yang diserap dari usus halus ke hati.

Limfoma dibagi menjadi 2 tipe, yaitu:

 Limfoma Hodgkin (LH)


 Limfoma Non-Hodgkin (LIMFOMA NON-HODGKIN)

Sekitar 90% dari penderita limfoma merupakan penderita Limfoma Nn-Hodgkin, dan
sisanya Limfoma Hodgkin. Beberapa tipe limfoma dapat disembuhkan, dan untuk jenis
lainnya, banyak pasie yang mampu menjaga penyakit mereka dibawah kontrol dan memiliki
kualitas hidup yang baik dengan pengobatan medis.

2.1 Limfoma Hodgkin

Limfoma Hodgkin terjadi karena adanya mutasi sel B pada sistem limfatik, dengan hasil
deteksi yaitu adanya sel abnormal Reed-Stenberg dalam sel kanker. Limfoma Hodgkin sendiri
merupakan jenis yang paling bisa disembuhkan dan biasanya menyerang kelenjar getah bening
yang terletak dileher dan kepala. Umumnya pasien didiagnosis pada saat usia 20 sampa 30
tahun dan juga pada usia lebih dari 60 tahun.

Merupakan jenis limfoma yang ditandai dengan pembesaran kelenjar getah bening dan
limpa tanpa disertai rasa sakit. Kanker ini sangat progresif pada beberapa jaringan limfoid dan
pertumbuhan abnormal sel yang terjadi secara cepat. Pada Limfoma Hodgkin ditemukan
adanya sel raksasa yang disebut sel Reed-Sternberg.

Modalitas terapi atau ragam pilihan terapi pada penyakit Limfoma Hodgkin ini terdapat
beberapa pilihan, diantaranya kemoterapi, radioterapi, kombinasi kedua terapi tersebut atau
bagi kasus yang kambuh-kambuhan dapat menggunakan metode transplantasi stem cell atau
cangkok sumsum tulang

a. Etiologi
Penyebab penyakit Hodgkin masih belum dapat dipastikan. Namun ada beberapa
faktor yang mungkin berkaitan dengan penyakit ini. Berikut ini adalah hal-hal yang
memiliki kaitan dengan penyakit Hodgkin. Adanya kemungkinan penyakit ini disebabkan
oleh infeksi virus Epstein-Barr. Sebab beberapa dari penderita Hodgkin diketahui telah
terinfeksi virus ini. Sementara itu pada penggunaaan obat, terutama obat imunosupresan
untuk kasus transplantasi menunjukkan adanya peningkatan kecenderungan terhadap
limfoma Hodgkin (Rotter, 2011).
Selain faktor penurunan dan riwayat konsumsi obat, beberapa pendapat menyatakan
adanya hubungan antara Limfoma Hodgkin dengan genetik. Pendapat lain mengatakan
paparan terhadap karsinogen, khususnya di tempat kerja, dapat meningkatkan risiko
limfoma Hodgkin. Polutan lingkungan lainnya seperti pestisida, herbisida dan berbagai
virus juga memiliki peran dalam peningkatan insidensi limfoma hodgkin (Rotter, 2011).

b. Klasifikasi Limfoma Hodgkin


Ada lima subtype Limfoma Hodgkin dalam klasifikasi WHO. Sel-sel RS pada
subtype sclerosis nodular, selularitas campuran, kaya limfosit dan deplesi limfosit
memiliki imunofenotipe yang sama dan semuanya disertai dengan infeksi virus Epstein-
Barr. Subtype ini dikelompokkan menjadi satu yaitu Limfoma Hodgkin Klasik untuk
membedakannya dari subtype dominan limfosit yang langka.
1. Tipe Sklerosis Nodular
Limfoma ini secara khas mengenai remaja atau dewasa muda. Tipe ini cenderung
mengenai limfonodi servikal bawah, supraklavikular, dan mediastinal. Tipe ini
ditandai oleh adanya sel lacunar varian sel RS, pita kolagen yang membagi jaringan-
jaringan limfoid menjadi nodul-nodul, serta sel-sel neoplastik yang ditemukan dengan
latar belakang polimorf sel-sel T yang kecil, eosinophil, sel-sel plasma dan makrofag
(Mitchell et al, 2009).
2. Tipe Selularitas Campuran
Bentuk ini disebut juga gejala B (demam dan penurunan berat badan) dan
berhubungan dengan stadium tumor lanjut. Tipe ini merupakan bentuk khusus yang
ditandai dengan menghilangnya limfonodi secara difus oleh infiltrate seluler
heterogen, termasuk limfosit kecil, eosinophil, sel plasma dan makrofag beningna
yang bercampur dengan sel neoplastic. Sel RS klasik dan variannya biasanya
berlimpah pada tipe ini (Mitchell et al, 2009).
3. Tipe Kaya Limfosit (Lymphocyte-Rich)
Tipe ini jarang ditemukan.. Limfosit reaktif menyusun sebagian besar porsi non-
neoplastik pada infiltrate. Dalam kondisi yang berbeda, tipe ini menyerupai tipe
selularitas campuran (Mitchell et al, 2009).
4. Tipe Deplesi Limfosit
Varian yang jarang ini paling banyak dijumpai pada pasein dengan imunosupresi,
sangat berkaitan dengan EBV, dan mempunyai prognosis yang lebih buruk disbanding
subtype lain. Sel RS banyak dijumpai pada tipe ini, sedangkan sel reaktif relative
jarang (Mitchell et al, 2009).
5. Tipe Predominansi-Limfosit
Varian yang jaran gini meliputi 5% dari kasus. Sebagian besar pasien adalah pria,
biasanya berusia kurang dari 35 tahun, dengan limfadenopati aksilar atau servikal.
Tipe ini ditandai dengan menghilangnya limfonodi akibat infiltrate nodular limfosit
kecil yang bercampur dengan berbagai makrofag benigna dan varian sel RS LH, sel
RS klasik sangat sulit untuk ditemukan, sel lain seperti eosinophil, neutrophil, serta
sel plasma sangat langka atau tidak ada sama sekali, dan terdapat bukti yang minim
akan adanya nekrosis atau fibrosis (Mitchell et al, 2009).

c. Gejala Klinis
Limfoma Hodgkin secara khas ditemukan dengan pembesaran limfonodi yang
tidak terasa nyeri (Mitchell et al, 2009). Limfadenopati ini biasanya memiliki konsistensi
rubbery dan tidak nyeri, terkadang ada pasien yang mengalami gejala B (demam dan
penurunan berat badan), hepatosplenomegali dan neuropati. Serta bisa juga terdapat tanda-
tanda obstruksi seperti edema ekstrimitas, sindrom vena cava maupun kompresi medulla
spinalis (Sumantri, 2007). Penentuan stadium secara anatomic memiliki makna yang
penting secara klinis. Pasien yang usianya lebih muda dengan tipe histologic yang lebih
baik cenderung ditemukan dengan stadium klinis I atau II tanpa manifestasi sistematis.
Sedangkan pasien dengan penyakit yang sudah tersebar luas dan tipe selularitas campuran
atau deplesi limfosit lebih banyak masuk ke stadium III dan IV serta memilkiki gejala B
(Mitchell et al, 2009).

2.3 Limfoma Non-Hodgkin

Limfoma Non-Hodgkin terjadi karena adaya mutasi DNA pada sel B dan sel T pada
sistem limfatik, merupakan tumor ganas yang berbentuk padat dan berasal dari jaringan
limforetikuler perifer dan memiliki 30 subtipe yang masih terus berkembang. Limfoma Non-
Hodgkin yang pertumbuhannya lambat disebut indolent/low grade dan unuk yang
pertumbuhannya cepat disebut aggressive/high-grade. Limfoma Non-Hodgkin lebih sering
terjadi pada usia lebih dari 60 tahun.

a. Stadium Limfoma Non-Hodgkin


 Stadium 1
Sel kanker berkumpul menjadi kelompok didaerah tertentu kelenjar getah bening,
contohnya dileher atau bawah ketiak.
 Stadium 2
Sel limfoma berada pada sekurang-kurangnya 2 kelompok dikelenjar getah bening.
 Stadium 3
Limfoma terdapat pada kelompok kelenjar getah bening diatas maupun diabawah
diafragma, atau limfoma berada diorgan atau di jaringan sekitar kelenjar getah
bening.
 Stadium 4
Pada stadium 4 limfoma sudah sangat menyebar, limfoma sudah menyebar ke
seluruh satu organ atau jaringan selain kelenjar getah bening, atau bisa juga berada
dalam hati, darah, atau sumsum tulang.

Menurut golongan histologisnya limfoma dibagi atas 3 kelompok besar yaitu :


Keganasan rendah, keganasan menengah, dan derajat keganasan tinggi. Limfoma Non-
Hodgkin dengan derajat keganasan rendah tidak harus diobati sedangkan Limfoma Non-
Hodgkin dengan derajat keganasan menengah dan tinggi harus segera diobati karena dapat
menimbulkan kematian dalam beberapa bulan saja. Karena itu penentuan golongan
histologis dan stadium penyakit merupakan hal yang terpenting dalam penatalaksanaan
penderita limfoma non-Hodgkin.

b. Klasifikasi Limfoma Non-Hodgkin


Penggolongan histologis Limfoma Non-Hodgkin merupakan masalah yang rumit
dan sukar, yang kerap menggunakan istilah-istilah yang dimaksudkan untuk tujuan yang
berbeda-beda sehingga tidak memungkinkan diadakannya perbandingan yang bermakna
antara hasil dari berbagai pusat penelitian.
 Limfoma Non-Hodgkin derajat rendah
Ini termasuk penyakit seperti limfoma folikular dan makroglobulinemia Waldenström.
Biasanya kelainan timbul lambat, dengan progresi yang lambat pula. Kelainan ini
biasanya bisa dikontrol dengan kemoterapi oral. Seseorang dengan limfoma derajat
rendah, jaringan limfoid terkait mukosa, yang berbatasan dengan lambung, dianggap
terkait dengan infeksi Helicobacter pylori dan memberikan respon terhadap antibiotik.
Sampai saat ini, belum tersedia penyembuhan limfoma derajat rendah. Harapan hidup
median adalah 8 – 10 tahun, tetapi angka kematian bervariasi.
 Limfoma Non-Hodgkin derajat menengah dan tinggi
Penyakit-penyakit ini adalah penyakit yang agresif dengan onset dan progresivitas yang
cepat. Pasien dengan limfoma derajat sedang, jenis limfositik-nodular, pada awalnya
cenderung berada pada stadium yang lebih lanjut, dengan sekitar 60 – 80 % insiden
terkenanya sumsum tulang. Jaringan limfatik tonsilar pada orofaring dan nasofaring
(disebut cincin Waldeyer) juga merupakan tempat yang diserang pada 15 – 30 % pasien.
Limfoma Burkitt dan imunoblastik merupakan limfoma derajat tinggi dan mempunyai
kecenderungan mengenai SSP. SSP juga merupakan daerah yang sering terkena pada
pasien relaps dengan penyakit stadium IV bersama daerah lain yang sebelumnya
terkena. Meskipun limfoma derajat sedang dan tinggi sangat agresif dan fatal tanpa
pengobatan, limfoma ini berespon terhadap kemoterapi dan berpotensi untuk sembuh.
Dengan kemoterapi intensif, 20 – 40 % pasien berusia < 60 tahun dapat sembuh.
Sisanya meninggal karena penyakit ini.

c. Gejala Limfoma Non-Hodgkin (LNH/NHL)


Gejala awal yang dapat dikenali adalah pembesaran kelenjar getah bening di suatu
tempat (misalnya leher atau selangkangan) atau di seluruh tubuh. Kelenjar membesar
secara perlahan dan biasanya tidak menyebabkan nyeri. Pada anak-anak, gejala awalnya
adalah masuknya sel-sel limfoma ke dalam sumsum tulang, darah, kulit, usus, otak dan
tulang belakang; bukan pembesaran kelenjar getah bening. Masulknya sel limfoma ini
menyebabkan anmeia, ruam kulit dan gejala neurologis (misalnya kelemahan dan sensasi
yang abnormal). Biasanya yang membesar adalah kelenjar getah bening di dalam, yang
menyebabkan:
- pengumpulan cairan di sekitar paru-paru sehingga timbul sesak nafas
- penekanan usus sehingga terjadi penurunan nafsu makan atau muntah
- penyumbatan kelenjar getah bening sehingga terjadi penumpukan cairan.

2.4 Cara Diagnosis


Agar pasien mendapatkan perawatan yang tepat , maka dibutuhkan pula diagnosis yang
tepat. Dokter akan melakukan tes yang disebut “lymph node biopsy” atau biopsi kelenjar geth
bening, untuk mengetahui apakah pasien memiliki limfoma Hodgkin atau Non Hodgkin.
Kemudian dokter akan melakukan tes lain untuk mengetahui seberapa jauh penyakit menyebar.
Tes darah tersebut meliputi”
a. tes darah, yaitu untuk mengetahui jumlah sel darah merah, sel darah putih dan
trombosit.
b. Bone Marrow test, yaitu umtuk mengetahui ada atau tidaknya Limfoma Non Hodgkin
limfoma pada sumsum tulang.
c. Imaging (x-ray, CT scan, MRI scan, tomografi), yaitu untuk mengetahui gambaran dada
dan perut.
d. Pungsi Lumbal, yaitu untuk memeriksa cairan otak/serebrospinal.

2.5 Faktor Penyebab Limfomia


Faktor-faktor penyebab limfoma meliputi:
1. Usia
Sebagian besar Limfoma Hodgkin terjadi pada orang yang berusia 15-0 tahun dan usia
diatas 55 tahun. Sedangkan risiko Limfoma Non Hodgkin akan meningkat seiring usia,
khususnya pada orang berusia lanjut, yaitu usia diatas 60 tahun.
2. Faktor Genetik
Risiko untuk terkena limfoma akan meningkat pada orang yang memiliki anggota
keluarga inti (ayah, ibu, atau saudara kandung) yang menderita jenis kanker yang sama.
3. Pernah tertular virus Eipstein-Barr atau EBV
Virus ini menyebabkan demam kelenjar. Orang yang pernah mengalami demam
kelenjar lebih beresiko mengalami limfoma Hodgkin
4. Sistem kekebalan tubuh yang lemah
Kekebalan tubuh yang lemah dapat juga menjadi faktor risiko Limfoma, misalnya
karena mengidap Human Immunodefeciency Virus (HIV) atau menggunakan obat
imunosupresan.
5. Jenis kelamin
Limfoma lebih banyak menyerang pria dibandingkan dengan wanita.
6. Paparan kimia beracun
Paparan terhadap bahan kimia beracun (pestisida herbisida, pewarna rambut) juga dapat
memicu limfoma.

2.6 Metode Terapi Limfoma

a. Terapi limfoma Hodgkin


Kemoterapi dan radioterapi merupakan metode sangat efektif terhadap limfoma
Hodgkin. Namun dalam hal aplikasi radioterapi, kemoterapi ataupun kombinasi keduanya,
berdasarkan stadium klinis pasien dan faktor prognosis, masih terdapat pilihan yang berlainan.
Dewasa ini cenderung pada terapi kombinasi (CMT= combined modality therapy) bertumpu
pada kemoterapi kombinasi dipadukan dengan radioterapi. Dalam mencapai angka kuratif
tinggi, perhatikan untuk mengurangi insiden timbulnya tumor sekunder yang diinduksikan
kemoradioterapi, infertilitas dan efek toksik jangka panjang lainnya.
1) Limfoma Hodgkin stadium I-II
Lomfoma Hodgkin stadium awal dengan metode terapi dewasa sebagian besar sudah
dapat disembukan. Faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam menentukan strategi
terapi adalah cara mengurangi lebih lanjut efek toksik jangka panjang.
2) Limfoma Hodgkin stadium III-IV
Limfoma Hodgkin stadium lanjut terutama diterapi dengan kemoterapi kombinasi 6-8
kur, terhadap lokasi massa sangat besar pasca remisi total dengan kemoterapi dapat
diberikan radioterapi lokal. Formula perpaduan MOPP/ABV yang berasal dari MOPP
dan ABVD mungkin hasilnya lebih baik dari formula semula, formula BEACOPP
dianggap sebagai formula yang lebih memiliki harapan dalam meningkatkan efek terapi
terhadap limfoma Hodgkin stadium lanjut.
3) Limfoma Hodgkin rekuren atau refrakter.
Pasca terapi pertama tidak pencapai remisi (refrakter) atau pascaterapi terjadi remisi
lalu rekuren, memlalui terapi salvasi sebagian masih dapat disembuhkan.
4) Efek toksik jangka panjang pasca terapi.
 Keganasan sekunder: pasien limfoma Hodgkin yang diterapi dengan formula
MOPP, khususnya bila ditembahkan radioterapi area luas, peluang timbulnya
keganasan sekunder adalah sekitar 10% termasuk leukemia, lomfoma Hodgkin dan
tumor padat lainnya.
 Hambatan fungsi gonad: pasca terapi dengan formula MOPP atau COPP sering
ditemukan gangguan fungsi gonad, pada pria dapat timbul aspermia, pada wanita
timbul amenore.
 Lainnya: termasuk hipotiroidisme, miokardiopati, penyakit jantung iskemik dll.
 Formula kemoterapi standar limfoma.

b. Terapi Limfoma Non-Hodgkin

Metode terapi terpenting terhadap limfoma non-Hodkin (NHL) adalah kemoterpi,


terutama terhadap tingkat keganasan sedang dan tinggi. Radioterapi juga memiliki peranan
tertentu dalam terapi NHL. Sedangkan operasi juga merupakan pilihan berguna dalam terapi
gabungan terhadap sebagian lesi ekstranodus. Dewasa ini klasifikasi patologik umumnya
memakai sistem klasifikasi baru menurut WHO tahun 2001, tapi klasifikasi kerja masih
berguna tertentu sebagai rujukan. Formula terapi yang kompleks sebaiknya dilakukan di
sentrum tumor berpengalaman. Setiap pasien pasca terapi 2-3 kur dan sebelumnya terapi
rampung harus diperiksa menyeluruh dan penentuan stadium ulanbg, untuk menilai hasil
terapi, menentukan strategi terapi selanjutnya.

1) Limfoma indolen (tingkat keganasan rendah)


Limfoma indolen (keganasan rendah) memiliki ciri tabiat biologis tumor relative
tenang, survival relative panjang. Limfoma sel B indolen meliputi limfoma sel limfosit
kecil difus, limfoma limfoplasmatik, limfoma zona marginal splenik. Kebanyakan
pasien saat diagnosis sudah tergolong stadium lanjut, hanya sekitar 10-20% pasien
stadium lanjut (III-1V) sangat sedikit yang berpeluang sembuh, terapi umunya bersifat
paliatif.
2) Limfoma agresif. (tingkat kegansan sedang)
Limfoma agresif meliputi limfoma sel B besar difus, limfoma sel B besar mediastinal,
limfoma sel besar anaplastic, dan subtype lain, terapi standar dengan formula CHOP.
Penggunaan formula generasi kedua, ketiga yang lebih rumit dibandingkan formulan
CHOP dalam hal angka survival tidak jelas lebih baik.
3) Limfoma sangat agresif (tingkat kegansan tinggi)
Limfoma limfoblastik dan limfoma burkit termasuk limfoma dengan kegansan tinggi,
tapi terapi keduanya memiliki ciri yang berbeda.
4) Terapi lomfoma non-Hodgkin refrakter rekuren.
Pasca terapi standar pertama tidak dapat mencapai remisi total, tergolong limfoma non
Hodgkin refrakter. Pasien demikian memiliki prognosis paling buruk, dapat terus
diberikan formula dengan obat non resistensi silang dan atau radioterapi area terkena
terhadap lokasi lesi residif. Bila tersedia sarananya ditambahkan kemoterapi
intensifikasi dosis seupertinggi dengan dukungan sel sistem hemopoietik autolog, dapat
meningkatkan efektivitas. Pada pasien usia mudan dan tak sesuai untuk cangkok sel
stem autolog, bila tersedia sarananya dapat dipertimbangkan cangkon alogenik.
5) Formula kemoterapi terhadap limfoma non-Hodgkin.
 Formula CHOP
 Formula M-BACOD
 Formula CHOP-Rituximab
 Formula FMD
 Formula CODOX-M/IVAC.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Limfoma merupakan bentuk keganasan dari sistem limfatik yaitu sel-sel limforetikular
seperti sel B, sel T dan histiosit. Bila tak memperhatikan pola pertumbuhan yang di buat,
limfoma adalah tipe penyebar. Limfoma malignum adalah tumor ganas primer dari kelenjar
limfe dan jaringan limfatik di organ lainnya, ia merupakan salah satu keganasan sistem
hematopoietik. Ada dua jenis limfoma maligna yaitu Limfoma Hodgkin (HD) dan Limfoma
non-Hodgkin (LNH).

Jika diberikan terapi segera dan tepat, angka kesembuhan limfoma Hodgkin dapat
mencapai 80% lebih, menjadi tumor ganas dengan efektivitas terapi tertinggi dewas ini.
Prognosis limfoma non-Hodgkin lebih buruk, tapi sebagian dapat disembuhkan.
DAFTAR PUSTAKA

Price SA, Wilson LM. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. EGC,
Jakarta.
Reksidoputro H., 1996, limfoma Malignum Non-Hogkin in Ilmu penyakit Dalam, Balai
Penerbit FKUI , Jakarta.
Santoso M, Krisifu C. Diagnostik dan Penatalaksanaan Limfoma Non-Hodgkin. Jakarta: Dexa
Media, 2004; 143-146.
Soeparman, Waspadji S. Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 1990.
Sumantri, Rachmat. 2006. Penyakit Hodgkin dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II.
Jakarta : Interna Publishing.

Anonym. 2015. “Data dan Kondisi Penyakit Limfoma di Indonesia” www.depkes.co.id


[diakses 18 November 2018]
Anonym. 2016. “Apa itu Limfoma: Gejala, Penyebab, Diagnosos, & Cara Mengobati”
www.docdoc.com [diakses 18 November 2018]