Anda di halaman 1dari 7

ANALISIS SINTESIS TINDAKAN ROM (RANGE OF MOTION) PADA

Ny. Z DI RUANG BOUGENVILE DI RSUD SURAKARTA

Tanggal : 14-11-2018
Jam : 13.45
A. KELUHAN UTAMA
Klien mengatakan tangan dan kaki terasa lemah dan sulit untuk digerakan
B. DIAGNOSA MEDIS
Post op Apendiksitis
C. Diagnosa keperawatan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan Nyeri
D. Data yang mendukung diagnosa keperawatan
Data subyektif
 Klien mengatakan tangan kanan dan kaki kanan lemah dan nyeri
untuk di gerakan
 Klien mengatakan klien tidak bisa beraktifitas sendiri harus dibantu
 Klien mengatakan klien hanya berbaring di tempat tidur
Data Obyektif
 Klien tampak lemah
 Tangan kanan dan kaki kanan lemah sulit untuk digerakan
 Saat beraktifitas klien dibantu oleh keluaraga seperti mandi,
makan,BAB, BAK
 Terdapat luka post op batu ureter

E. DASAR PEMIKIRAN
Ureterolithiasis adalah kalkulus atau batu di dalam ureter (Sue
Hinchliff, 2011 Hal 451). Batu ureter pada umumnya berasal dari batu
ginjal yang turun ke ureter. Batu ureter mungkin dapat lewat sampai ke
kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter juga bisa
sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi batu
kandung kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil

1
menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang
mungkin asimtomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh
serangan kolik. (R. Sjamsuhidajat, 2015).
Penangan batu ureter biasanya dilakukan dengan operasi. Masalah
keperawatan yang mungkin muncul saat post op batu ureter ialah
hambatan mobilitas fisik. Salah satu tidakan keperawatan yang bisa
dilakukan untuk pasien dengan hambatan mobilitas yaiyu dengan latihan
ROM. Hal tersebut dibuktikan penelitian Ririn purwanti, 2013 yang
berjudul pengaruh latihan
range of motion (ROM) aktif terhadap kekuatan otot pada pasien post
operasi fraktur humerus di RSUD Dr. Moewardi dalam jurnal GASTER
Vol. 10 No. 2 Agustus 2013. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
pasien yang telah dilakukan operasi fraktur humerus yang di ruang rawat
inap bedah di RSUD Dr. Moewardi sebanyak 150 pada bulan Januari –
Desember 2011. Dalam penelitian ini peneliti menetapkan jumlah sampel
sebanyak 30 orang dengan teknik pengambilan sampel dengan
menggunakan purposive sampling.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa latihan Range of Motion
(ROM) aktif ini mampu dilakukan oleh seluruh responden (100%),
sebagian besar kekuatan otot pasien post operasi fraktur humerus sebelum
diberi latihan ROM aktif adalah skala kekuatan otot 0 atau paralisis total
atau tidak ada kontraksi otot dan setelah diberikan latihan ROM aktif
sebanyak 9 kali menjadi skala kekuatan otot 2 atau kategori buruk atau
kontraksi otot yang cukup kuat menggerakkan sendi tetapi hanya dapat
dilakukan bila pengaruh dari gaya gravitasi dihilangkan. Dari hasil analisa
bivariate diperoleh nilai z hitung sebesar 4,940 dengan angka signifikan
(p) 0,000. Berdasarkan hasil tersebut diketahui z hitung (4,940) > z tabel
(1,96) dan angka signifikan (p) < 0,05 sehingga ada pengaruh signifikan
latihan ROM aktif terhadap kekuatan otot pada pasien post operasi fraktur
humerus di RSUD Dr. Moewardi. Kesimpulan; Ada pengaruh signifikan

2
pada latihan range of motion (ROM) aktif terhadap kekuatan otot pada
pasien post operasi fraktur humerus di RSUD Dr. Moewardi.
F. PRINSIP TINDAKAN KEPERAWATAN
1. Fase orientasi
a. Memberi salam/menyapa klien
b. Memperkenalkan diri
c. Menjelaskan tujuan tindakan
d. Menjelaskan langkah dan prosedur
e. Menanyakan kesiapan pasien
2. Fase kerja
a. Mencuci tangan dengan benar
b. Memposisikan pasien dengan benar
c. Mulai melakukan ROM
1) Gerakan bahu
a) Flexi - ekstensi
b) Abduksi – aduksi
c) Rotasi bahu internal – eksternal
2) Gerakan siku
a) Flexi – ekstensi
b) Pronasi – supinasi
3) Gerakan pergelangn tangan
a) Fleksi – ekstensi
b) Fleksi radial – radial deviation (abduksi)
c) Fleksi ulnar / ulnar deviation (adduksi)
4) Gerakan jari – jari tangan
a) Fleksi – ekstensi
b) Hiperekstensi
c) Abduksi – adduksi
d) Oposisi
5) Gerakan pinggul dan lutut
a) Fleksi – ekstensi lutut dan pinggul

3
b) Abduksi – adduksi kaki
c) Rotasi pinggul internal dan eksternal
6) Gerakan telapak kaki dan pergelangan kaki
a) Dorsofleksi – plantar fleksi
b) Fleksi – ekstensi jari – jari kaki
c) Inversi – eversi jari – jari kaki
7) Gerakan leher
a) Fleksi – ekstensi leher
b) Fleksi lateral leher
d. Mengukur denyut nadi (heart rate)
e. Merapikan pasien (posisi)
f. Mencuci tangan dengan benar

3. Fase terminasi
a. Melakukan evaluasi tindakan
b. Menyampaikan rencana tindak lanjut
c. Berpamitan
4. Penampilan selama tindakan
a. Melakukan komunikasi terapeutik selama tindakan
b. Ketelitian selama tindakan
c. Keamanan selama tindakan.

G. ANALISIS TINDAKAN
ROM (Range Of Motion) adalah latihan yang dilakukan untuk
mempertahankan atau memperbaiki tingkat kesempurnan kemampuan
menggerakan persendian secara normal dan lengkap untuk meningkatkan
masa otot dan tonus otot tujuan ROM adalah untuk meningkatkan atau
atau mempertahankan fleksibilitas atau kekuatan otot. Mempertahankan
fungsi jantung dan pernapasan mencegah kontraktur dan kekakuan pada
sendi. Sebagian manfaat ROM adalah untuk menentukan nilai kemampuan
sendi tulang dan otot dalam melakukan pergerakan, memperbaiki tonus

4
otot, memperbaiki toleransi otot untuk latihan, mencegah terjadinya
kekakuan sendi, memperlancar sirkulasi darah dengan dilakukannya
latihan ROM pada pasien.

H. BAHAYA DILAKUKANNYA TINDAKAN


1. Latihan ROM tidak boleh diberikan apabila gerakan dapat
mengganggu proses penyembuhan cedera.
2. ROM tidak boleh dilakukan bila respon pasien atau kondisinya
membahayakan.
3. Pada pasien yang demam tidak boleh dilakukan ROM.

I. TINDAKAN KEPERAWATAN LAIN YANG DILAKUKAN


1. Bantu pasien untuk menggunakan tongkat saat berjalan dan cegah
adanya cedera.
2. Ajarkan pasien tentang teknik ambulasi
3. Kaji kemampuan pasien dan mobilisasi
4. Latih pasien dalam pemenuhan kebutuhan ADL secara mandiri
5. Damping dan bantu pasien saat mobilisasi dan penuhi kebutuhan ADL
pasien
6. Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan kalau perlu
memberikan bantuan
7. Konsultasi dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai
kebutuhan.

J. HASIL YANG DIDAPAT SETELAH MELAKUKAN TINDAKAN


S : Klien mengatakan tangan kanan dan kaki kanan sulit untuk di gerakan,
aktifitas dibantu keluarga, klien mengatakan klien hanya berbaring di
tempat tidur
O : Klien tampak lemah, tangan kanan dan kaki kanan lemah sakit bila
digerakan, Saat beraktifitas klien dibantu oleh keluaraga seperti mandi,
makan,BAB, BAK

5
A : Masalah belum teratasi
P : Intervensi dilanjutkan

K. Evaluasi diri
Tidak dapat mengevaluasi perasaan dan kenyamanan klien setelah
dilakukan ROM dikarenakan klien hanya diam saat ditanyakan.
Meningkatkan pemahaman dan mengevaluasi lagi kemampuan keluarga
dalam melakukan ROM.

6
DAFTAR PUSTAKA

Astrid M, Nurachmah E, Budiharto. 2008. Pengaruh Latihan Range of Motion


(ROM) Terhadap
Kekuatan Otot, Luas Gerak Sendi dan Kemampuan Fungsional Pasien Stroke di
RS Sint Corolus Jakarta. Jakarta : Jurnal FIK UI
Helmi ZN. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba
Medika
Indriani D, Indawati R. 2006. Model Hubungan Dan Estimasi Tingkat
Kecelakaan Lalu Lintas.
Lukman, Ningsih N. 2009. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan
Muskuloskeletal. Jakarta : Salemba Medika
Smeltzer SC. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth.
Ed. 8. Jakart: EGC
with General Anesthesia Taken with Early Ambulation of Active and Passive
ROM in Wira Bhakti Tamtama Hospital Semarang. Semarang : Jurnal
Urminkes RS. BWT

Mengetahui,
Mahasiswa praktikan Pembimbing Klinik/CI

(Karmelia T. Lanang) ( )
NIM: SN 181084