Anda di halaman 1dari 23

BAB I

Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Stenosis pulmonal adalah penyempitan pada lubang masuk arteri
pulmonalis. Tahanan yang merintangi aliran darah menyebabkan hipertrofi
ventrikel knan dan penurunan aliran darah paru. Stenosis arteri pulmonal bisa
terjadi pada begian valvuler, supra valvuler maupun infundibuler. Sangat
jarang kelainan ini disebabkan oleh reaktivasi rema, tapi umumnya merupakan
kelainan jantung konginental, yang dibawa sejak lahir. Stenosis pulmonal tipe
valvuler lebih banyak ditemukan pada anak dibandingkan dengan tipe
infundibuler. Sementara itu, stenosis pulmonal tipe infundibuler jarang sekali
ditemukan sebagai kelainan yang berdiri sendiri, tetapi biasanya menyertai
kelainan jantung yang lain, seperti pada tetralogi fallot.
Pada stenosis pulmonal yang ringan, umumnya pasien asimptomatik dan
tidak memburuk oleh bertambahnya usia. Tumbuh kembang pun tidak
terganggu. Tapi sebagaimana halnya dengan kelainan jantung konginental
yang lain, profilaksis antibiotic terhadap endokarditis bacterial perlu
diperhatikan. Pada stenosis pulmonal yang moderat atau cukup berat, berbagai
keluhan dan komplikasi dapat berkembang lebih buruk di waktu-waktu
mendatang.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa Pengertian Lung Stenosis?
1.2.2 Apa Etiologi Lung Stenosis?
1.2.3 Apa Patofisiologi Lung Stenosis?
1.2.4 Bagaimana Manifestasi Klinis Lung Stenosis?
1.2.5 Bagaimana Pemeriksaan Penunjang Lung Stenosis?
1.2.6 Bagaiamana Penatalaksanaan Medis Lung Stenosis?
1.2.7 Apa Saja Komplikasi Lung Stenosis?
1.2.8 Bagaimana Prognosis Lung Stenosis?
1.2.9 Bagaimana Asuhan Keperawatan Lung Stenosis?

1
1.2.10 Hal Apa yang Dilakukan Setelah Tindakan Medis?

1.3 Tujuan
1.3.1 Mengetahui Pengertian Lung Stenosis.
1.3.2 Mengetahui Etiologi Lung Stenosis.
1.3.3 Mengetahui Patofisiologi Lung Stenosis.
1.3.4 Mengetahui Manifestasi Klinis Lung Stenosis.
1.3.5 Mengetahui Pemeriksaan Penunjang Lung Stenosis.
1.3.6 Mengetahui Bagaiamana Penatalaksanaan Medis Lung Stenosis.
1.3.7 Mengetahui Komplikasi yang dapat terjadi jika Lung Stenosis.
1.3.8 Mengetahui Bagaimana Prognosis Lung Stenosis.
1.3.9 Mengetahui Asuhan Keperawatan Lung Stenosis.
1.3.10 Mengetahui Hal Apa yang Dilakukan Setelah Tindakan Medis.

2
BAB II

Landasan Teori

2.1 Pengertian Lung Stenosis

Stenosis Pulmonal adalah penyakit jantung katup yang keluar darah dari
ventrikel kanan jantung terhambat pada tingkat katup pulmonal. Hal ini
menyebabkan penurunan aliran darah ke paru-paru.
Tahanan yang merintangi aliran darah menyebabkan hipertrofi ventrikel
knan dan penurunan aliran darah paru. Stenosis arteri pulmonal bisa terjadi pada
begian valvuler, supra valvuler maupun infundibuler. Sangat jarang kelainan ini
disebabkan oleh reaktivasi rema, tapi umumnya merupakan kelainan jantung
konginental, yang dibawa sejak lahir yang terjadi akibat perkembangan abnormal
dari jantung janin selama 8 minggu pertama kehamilan. Stenosis pulmonal tipe
valvuler lebih banyak ditemukan pada anak dibandingkan dengan tipe
infundibuler. Sementara itu, stenosis pulmonal tipe infundibuler jarang sekali
ditemukan sebagai kelainan yang berdiri sendiri, tetapi biasanya menyertai
kelainan jantung yang lain, seperti pada tetralogi fallot. Demikian pula stenosis
pulmonal tipe supravalvuler sangat jarang ditemukan tersendiri, tapi justru
merupakan salah satu bagian dari suatu kelainan konginental yang lebih
kompleks, seperti sindrom noonan, sindrom wiliam, atau rubella konginental.

Pada stenosis pulmonal yang ringan, umumnya pasien asimptomatik dan


tidak memburuk oleh bertambahnya usia. Tumbuh kembang pun tidak terganggu.
Tapi sebagaimana halnya dengan kelainan jantung konginental yang lain,
profilaksis antibiotic terhadap endokarditis bacterial perlu diperhatikan. Pada
stenosis pulmonal yang moderat atau cukup berat, berbagai keluhan dan
komplikasi dapat berkembang lebih buruk di waktu-waktu mendatang.
2.2 Etiologi
Pada sebagian besar kasus, penyebab penyakit jantung bawaan tidak
diketahui secara pasti. diduga karena adanya faktor endogen dan eksogen. Faktor
–faktor tersebut antara lain :

3
2.2.1 Faktor endogen
2.2.1.1 Berbagai jenis penyakit genetik : kelainan
kromosom
2.2.1.2 Anak yang lahir sebelumnya menderita penyakit
jantung bawaan
2.2.1.3 Adanya penyakit tertentu dalam keluarga seperti
diabetes melitus, hipertensi, penyakit jantung atau
kelainan bawaan.
2.2.2 Faktor eksogen
2.2.2.1 Riwayat kehamilan ibu : sebelumnya ikut program
KB oral atau suntik,minum obat-obatan tanpa resep
dokter, (thalidmide, dextroamphetamine.
aminopterin, amethopterin, jamu)
2.2.2.2 Ibu menderita penyakit infeksi : rubella
2.2.2.3 Pajanan terhadap sinar –X

Para ahli berpendapat bahwa penyebab endogen dan eksogen tersebut


jarang terpisah menyebabkan penyakit jantung bawaan. Diperkirakan lebih dari
90% kasus penyebab adalah multifaktor. Apapun sebabnya, pajanan terhadap
faktor penyebab harus ada sebelum akhir bulan kedua kehamilan , oleh karena
pada minggu ke delapan kehamilan pembentukan jantung janin sudah selesai.
Masalah dapat terjadi ketika stenosis pulmonal adalah moderat sampai parah,
termasuk yang berikut:

2.2.3 Ventrikel kanan harus bekerja lebih keras untuk mencoba untuk
memindahkan darah melalui katup paru ketat. Akhirnya,
ventrikel kanan tidak lagi mampu menangani beban kerja
tambahan, dan gagal untuk memompa maju efisien. Tekanan
menumpuk di atrium kanan, dan kemudian di pembuluh darah
membawa darah kembali ke sisi kanan jantung. Retensi cairan
dan pembengkakan dapat terjadi.

4
2.2.4 Ada kemungkinan rata-rata lebih tinggi daripada
mengembangkan infeksi pada katup jantung yang dikenal
sebagai bakteri endokarditis.
2.3 Patofisiologi

Karena stenosis yang terjadi pada katup pulmonal ( tipe valvuler ),


atau pada pangkal arteri pulmonal ( tipe supravalvuler ), atau pada
infundibulum ventrikel kanan ( tipe subvalveler ), maka ventrikel kanan
akan menghadapi beban tekanan berlebihan yang kronis. Dilatasi pasca
stenotik pada arteri pulmonal merupakan pertanda yang karakteristik bagi
stenosis pulmonal tipe valvuler dan tidak ditemukan pada tipe stenosis
pulmonal yang lain. Katup pulmonal tampak doming pada waktu systole,
tebal dan mengalami fibrosis, tapi jarang sekali disertai klasifikasi. Jika
ditemukan proses klasifikasi, biasanya disebabkan oleh infiksi
endokarditis bacterial.
Adanya hipertrofi ventrikel kanan menunjukkan bahwa stenosis
pulmonal cukup signifikan. Bagian infundibuler akan mengalami
hipertrofi pula dan hal ini akan memperberat stenosis pulmonal. Tekanan
akhir diastolic dalam ventrikel kanan pun meninggi. Elastisitas miokard
berkurang dan akhirnya timbul gejala gagal jantung kanan.
Severitas stenosis pulmonal umumnya dibedakan sebagai stenosis
pulmonal yang ringan, yang moderat dan yang berat, walaupun perbedaan
ini hanya bersifat arbitrer dan sering overlapping, bahkan mengalami
perubahan yang progresif. Pada stenosis pulmonal yang ringan, tekanan
sistolik di ventrikel kanan biasanya kurang dari 50 mmHg dan itu berarti
kurang dari 50% tekanan sistemik. Pada stenosis pulmonal yang moderat,
tekanan sistolik ventrikel kanan berkisar antara 50-75% dari tekanan
sistemik, atau antara 50-75mmHg. Dan stenosis pulmonal dianggap berat,
apabila tekanan sistolik ventrikel kanan lebih dari 75% tekanan sistemik,
atau lebih dari 75 mmHg. Kemudian stenosis pulmonal dianggap sudah
kritis apabila tekanan sistolik ventrikel kanan melebihi tekanan sistemik.
Pada pasien PS, tentu dapat dilakukan upaya agar pembukaannya
dapat lebih lebar. Pertama dengan jalan operasi. Tetapi dalam 15 tahun

5
terakhir ini dapat dilakukan pula dengan upaya non-bedah yakni dengan
balonisasi katup untuk melebarkan katup yang sempit tersebut (pasien
datang pagi hari, dan pulang keesokan harinya). Dapat dilakukan di RS2
yang ada fasilitas kateterisasi dan dilakukan dokter jantung yang
berpengalaman melakukan tindakan ini.

2.4 Manifestasi Klinis


Efek dari stenosis pulmonal tergantung besarnya obstruksi,
hubungannya dengan fungsi ventrikel kanan, dan ada tidaknya hubungan
lesi yang lain. Pada pasien dengan stenosis pulmonal ringan sampai
sedang biasanya tidak mempunyai keluhan, pasien ditemukan karena ada

6
bising sistolik pada pemeriksaan fisis biasa. Bahkan pasien dengan
stenosis pulmonal beratpun kadang tanpa keluhan. Kalau ada keluhan
biasanya berupa dyspnoe d’effort, rasa lelah yang berlebihan. Kedua
keluhan ini sehubungan dengan isi sekuncup yang tidak adekuat pada saat
olahraga. Tak ada keluhan ortopnea karena tekanan vena pulmonal normal
pada stenosis pulmonal.
Gagal jantung kanan bisa terjadi pada stenosis pulmonal berat.
Sinkop bisa terjadi akan tetapi kematian mendadak (seperti pada stenosis
aorta) tidak terjadi. Gejala gagal jantung kanan (edema, sianosis atau
penyakit kuning, dsb), sianosis pada pasien dengan shunt kanan ke kiri
(berkaitan dengan ASD atau patent foramen ovale) dan juga mungkin
terdapat retardasi pertumbuhan pada anak.
2.5 Pemeriksaan Penunjang
2.5.1 Pemeriksaan ekokardiografi

Dengan ekokardiografi M-mode dinding ventrikel kanan tampak


tebal dan mungkin dilatasi. Hipertrofi dan dilatasi ini disebabkan oleh
beban tekanan berlebih yang kronis yang dihadapi oleh ventrikel kanan.
Pada stenosis pulmonal valvuler, katup pulmonal menunjukkan multiple
echoes pada saat diastole disertai gelombang A yang dalam. Pada stenosis
pulmonal infundibuler, tampak fluttering daun katup pulmonal pada saat
systole dan gelombang A mungkin tidak begitu dalam atau menghilang.
Daerah ekokardiografi 2-D, dan posisi pengambilan aksis lintang
di daerah pulmonal, akan terekam daun katup pulmonal yang tebal disetai
doming pada saat systole, penebalan infundibulum ventrikel kanan, atau
stenosis arteri pulmonal supravalvuler. Pada stenosis pulmonal yang
lanjut, kadang-kadang ditemukan pula adanya klasifikasi pada katup.
Dengan pemeriksaan Doppler, turbolensi aliran darah dan
meningkatnya kecepatan aliran darah yang melewati katup pulmonal pada
saat systole, menunjukkan adanya stenosis pulmonal yang signifikan.
Rewkaman Doppler dilakukan dengan posisi pengambilan aksis lintang di

7
daerah pulmonal ataupun posisi suprasternal kea rah arteri pulmonal
kanan. Pada stenosis pulmonal valvuler, rekaman turbulensi aliran darah
akan tampak jelas apabila volume sampel diletakkan persis di balik katup
pulmonal dan aliran darah akan tampak laminal apabila volume sampel
diletakkan di infundibulum ventrikel kanan didepan katup pulmonal

2.5.2 Penggunaan kateterisasi

Pada stenosis pulmonal yang ringan dan asimtomatik, kateterisasi


tidak perlu segera dilakukan. Tapi pada stenosis pulmonal yang cukup
berat, kateterisasi harus segera dilakukan untuk mengetahui gradient
tekanan antara ventrikel kanan dengan arteri pulmonal, perbedaan saturasi
antar ruang dan kemungkinan adanya kelainan jantung yang lain.
Tekanan di ventrikel kanan tampak meningkat, tapi tekanan dalam
arteri pulmonal relative normal atau bahkan berkurang, sehingga terjadi
gradient tekanan sistolik antara kedua ruangan itu diatas 10mmHg.
Tekanan ventrikel kanan biasanya kurang dari 50mmHg, tapi belum
melebihi tekanan sistemik, dianggap stenosis pulmonal masih moderat.
Dan stenosis pilmonal dianggap berat, apabila tekanan di ventrikel kanan
menyamai atau bahkan sudah melebihi tekanan sistemik, sementara
tekanan rata-rata dalam arteri pulmonal rendah sekali.
Angiografi ventrikel kanan dengan posisi lateral dapat
memperlihatkan letaknya stenosis. Katop pulmonal tampak tebal, doming,
dengan pancaran kontras yang nyata pada saat systole melalui lubang
katup yang kecil. Dengan jelas tampak pula dilatasi arteri pulmonal pasca
stenotik.

2.5.3 Pemeriksaan laboratorium

Ditemukan adanya peningkatan hemoglobin dan hematokrit (Ht)


akibat saturasi oksigen yang rendah. Pada umumnya hemoglobin
dipertahankan 16-18 gr/dl dan hematokrit antara 50-65 %. Nilai BGA

8
menunjukkan peningkatan tekanan partial karbondioksida (PCO2),
penurunan tekanan parsial oksigen (PO2) dan penurunan PH.pasien
dengan Hn dan Ht normal atau rendah mungkin menderita defisiensi besi.

2.5.4 Radiologis

Sinar X pada thoraks menunjukkan penurunan aliran darah


pulmonal, tidak ada pembesaran jantung . gambaran khas jantung tampak
apeks jantung terangkat sehingga seperti sepatu.
2.6 Penatalaksanaan Medis
Pengobatan khusus untuk stenosis paru akan ditentukan oleh dokter
anak berdasarkan:
a. Usia anak Anda, kesehatan secara keseluruhan, dan sejarah medis
b. Sejauh mana kondisi
c. Anak Anda toleransi untuk pengobatan spesifik, prosedur, atau terapi
d. Harapan untuk kursus kondisi
e. Pendapat atau preferensi anda

Perlakuan yang tepat yang dibutuhkan tergantung pada anatomi


jantung setiap anak. Stenosis pulmonal ringan biasanya tidak perlu
dilakukan pengobatan. Namun, sedang stenosis pulmonal berat dan kritis
memerlukan perawatan. Dalam kebanyakan kasus, kondisi ini diobati
dengan valvuloplasty balon, yang memerlukan kateterisasi jantung
.Dokter muka tabung tipis (kateter) ke jantung melalui pembuluh darah
di kaki. Kateter memiliki balon di ujungnya. Untuk membuka katup
yang sempit, balon secara singkat meningkat, lesu dan ditarik. Kadang-
kadang, dua kateter dan balon digunakan. Kadang-kadang, pada bayi
baru lahir, pembuluh darah di tali pusat digunakan sebagai tempat
dimana kateter dimasukkan dan maju ke arah jantung.

Anak-anak yang lebih tua dapat menghabiskan satu malam di


rumah sakit setelah prosedur ini dan akan perlu istirahat pada hari

9
berikutnya, tapi kemudian dapat melanjutkan aktivitas normal. Bayi
dengan stenosis pulmonal kritis akan tinggal dalam Tabas Cardiac
Intensive Care Unit (CICU), sebelum dan setelah prosedur ini, dan akan
membutuhkan beberapa waktu untuk pulih.

Dalam kasus yang jarang terjadi, akan diperlukan pembedahan.


Ahli bedah menggunakan prosedur yang disebut valvotomy untuk
memisahkan leaflet tergabung dalam katup. Pilihan lain meliputi
penempatan bedah katup yang disebut homograft paru, yang merupakan
katup paru-paru dan arteri menyumbang. katup ini dapat tumbuh dengan
anak dan pengencer darah tidak diperlukan.

Akhirnya, pilihan masa depan yang menggairahkan akan


penciptaan katup baru dari sel pasien sendiri tumbuh pada biodegradable
mesh. Hal ini saat ini dalam pengembangan dan belum tersedia.

Subpulmonic dan stenosis pulmonal supravalvar tidak


mendapatkan lebih baik dengan pelebaran balon, dan akan memerlukan
operasi jika jumlah penyumbatan adalah sedang atau berat. Bedah untuk
stenosis subpulmonic melibatkan memotong buntalan otot. Bedah untuk
stenosis pulmonal supravalvar melibatkan memperbesar arteri paru
dengan patch.

2.7 Komplikasi
2.7.1 Gagal jantung kanan.
2.7.2 Infark miokardiak kanan.
2.7.3 Endokarditis
2.8 Prognosis Lung Stenosis

Sebagian Besar anak yang perbaikan bedah stenosis pulmonal akan


sehat, aktif dan bertambah berat badan. Beberapa hari setelah kateteter
atau operasi balon anak akan memiliki bekas luka di tengah dada, namun,
pada kebanyakan anak akan memudar. Bayi yang memiliki program pasca

10
operasi yang sulit mungkin kurang sehat dibanding bayi yang tidak
mengalami komplikasi.

2.9 Asuhan Keperawatan


2.9.1 Pengkajian
2.9.1.1 Keluhan Umum

Pada fase awal, keluhan utama biasanya sesak nafas, nyeri


dada bahkan kelemahan menjadi alasan klien untuk meminta
pertolongan kesehatan.

2.9.1.2 Riwayat Penyakit Saat Ini


2.9.1.2.1 Riwayat kehamilan : Ditanyakan sesuai
dengan yang terdapat pada etiologi
(faktor endogen dan eksogen yang
mempengaruhi).
2.9.1.2.2 Riwayat tumbuh: Biasanya anak
cendrung mengalami keterlambatan
pertumbuhan karena fatiq selama makan
dan peningkatan kebutuhan kalori
sebagai akibat dari kondisi penyakit.
2.9.1.2.3 Riwayat psikososial/ perkembangan
2.9.1.2.4 Kemungkinan mengalami masalah
perkembangan
2.9.1.2.5 Mekanisme koping anak/ keluarga
2.9.1.2.6 Pengalaman hospitalisasi sebelumnya
2.9.1.3 Pemeriksaan fisik
2.9.1.3.1 Pada awal bayi baru lahir biasanya
belum ditemukan sianotik,bayi tampak
biru setelah tumbuh.
2.9.1.3.2 Clubbing finger tampak setelah usia 6
bulan.

11
2.9.1.3.3 Serang sianotik mendadak (blue
spells/cyanotic spells/paroxysmal
hiperpnea, hypoxic spells) ditandai
dengan dyspnea, napas cepat dan
dalam,lemas,kejang,sinkop bahkan
sampai koma dan kematian.
2.9.1.3.4 Anak akan sering Squatting (jongkok)
setelah anak dapat berjalan, setelah
berjalan beberapa lama anak akan
berjongkok dalam beberapa waktu
sebelum ia berjalan kembali.
2.9.1.3.5 Pada auskultasi terdengar bising sistolik
yang keras didaerah pulmonal yang
semakin melemah dengan bertambahnya
derajat obstruksi
2.9.1.3.6 Bunyi jantung I normal. Sedang bunyi
jantung II tunggal dan keras.
2.9.1.3.7 Bentuk dada bayi masih normal, namun
pada anak yang lebih besar tampak
menonjol akibat pelebaran ventrikel
kanan
2.9.1.3.8 Ginggiva hipertrofi, gigi sianotik
2.9.1.4 Pengetahuan anak dan keluarga :
2.9.1.4.1 Pemahaman tentang diagnosis.
2.9.1.4.2 Pengetahuan/penerimaan terhadap
prognosis
2.9.1.4.3 Regimen pengobatan
2.9.1.4.4 Rencana perawatan ke depan
2.9.1.4.5 Kesiapan dan kemauan untuk belajar
2.9.1.5 Riwayat Penyakit Dahulu

12
Riwayat penyakit dahulu yang mendukung dilakukan
dengan mengkaji apakah sebelumnya klien pernah menderita
penyakit yang sama atau penyakit yang berhubungan dengan
penyakit yang sekarang dirasakan oleh klien. Riwayat minum obat,
catat adanya efek samping yang terjadi dimasa lalu. Juga
pengkajian adanya riwayat alergi obat, dan tanyakan reaksi alergi
apa yang timbul. Perlu dicermati sering kali klien mengkacaukan
suatu alergi dengan efek samping obat.

2.9.1.6 Riwayat Keluarga

Perawat menanyakan mengenai penyakit yang pernah


dialami oleh keluarga, serta bila ada anggota yang meninggal,
maka penyebab kematian juga ditanyakan.

2.9.1.7 Pemeriksaan Fisik


2.9.1.7.1 Keadaan umum : keadaan atau
penampilan klien secara umum.
Misalnya klien terlihat lemas, lemah,
gelisah, sakit berat, atau sakit ringan.
2.9.1.7.2 TTV : Suhu : 36,2 º C TD : 110/70
mmH
Nadi : 79 x/menit RR : 25 x/menit
2.9.1.7.3 B1 (Respirasi)
Apabila gangguan sudah terkait dengan tranposisi
biasanya klien terlihat sesak nafas, pola nafas tidak teratur,
frekuensi nafas melebihi normal. Sesak nafas ini terjadi
akibat pengeluaran tenaga yang berlebihan dan disebabkan
oleh kenaikan tekanan akhir dari ventrikel kiri yang
meningkatkan tekanan vena pulmonalis. Biasanya disertai
dengan retraksi oto bantu nafas, ada suara nafas
tambahan/abnormal seperti wheezing atau ronchi.

13
2.9.1.7.4 B2 (Kardiovaskuler)

Pada pemeriksaan kardiovaskuler didapatkan


adanya nyeri dada, kaji juga apakah iramanya teratur atau
tidak, adanya sianosis central maupun perifer. CRT > 2
detik atau 3 detik. Adanya clubbing finger. Biasanya
disertai pula dengan adanya suara tambahan S3/S4

2.9.1.7.5 B3 (Persyarafan)

Kesadaran biasanya compos mentis, istirahat tidur


menurun, kaji adaya nyeri kepala atau tidak

2.9.1.7.6 B4 (Genetourinaria)

ini kaji kebersihan alat kelamin, bentuk alat


kelamin, cacat frekeunsi berkemih, teratur atau tidak,
berapa jumlahnya, bagaimana bau dan warnanya, kaji
apakah klien memakai alat bantu atau tidak.

2.9.1.7.7 B5 (Pencernaan)

Klien biasanya mengeluh mual dan muntah, tidak


nafsu makan, berat badan turun. Pembesaran dan nyeri
tekan kelenjar limfe dan nyeri tekan abdomen. Kaji adanya
bising usus. Kaji kebersihan mulut.

2.9.1.7.8 B6 (Muskuloskeletal dan Integumen)

Meliputi pengkajian terhadap aktivitas dengan


gejala kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur, pola hidup
menetap. Tanda yang dapat dikenali adalah takitardia dan
dispnea pada saat aktifitas. Akral dingin,klien kesulitan

14
melakukan tugas perawatan diri sendiri, adanya oedema
didaerah perifer.

2.9.1.7.9 B7 (Pengindraan)
Konjungtiva pucat, ketajaman penglihatan kabur.
Pada hidung kaji adanya epistaksis atau tidak, bagaimana
ketajaman penciumannya apakah normal atau tidak,adanya
sekret atau tidak. Kaji pada telinga normal atau tidak,
simetris atau tidak, bagaimana ketajaman pendengarannya.
Bagaimana klien dapat merasakan rasa asin, pahit, asam,
manis. Normal atau tidak indra perabanya klien.
2.9.1.7.10 B8 (Endokrin)
Apakah ada pembesaran kelenjar parotis atau
thiroid. Ada atau tidaknya luka ganggren. Pengukuran
volume output urine berhubungan dengan intake cairan.
Perawat perlu memonitor adanya oliguria pada klien
dengan infark miokardium akut karena merupakan tanda
awal syok kardiogenik.
2.9.2 Analisa Data

Masalah
No Tgl/Jam Pengelompokan Data Etiologi
Keparawatan
Ds: pasien mengatakan nyeri
TGA
dada
Do:
Darah mengalir
Suhu : : 36,2 º C
21-12-2010 tak sempurna Penurunan
1 TD : 110/70 mmHg
/09:00 WIB curah jantung
Nadi : 79 x/menit
Penurunan
RR : 25 x/menit
volume
Akral dingin
sekuncup
Sianosis (+)

15
Konjungtiva pucat
Wheezing (+)
Oedema
CRT ≥ 3 detik
Ds: pasien mengatakan sesak
nafas TGA
Do:
Suhu : : 36,2 º C Suplai O2
21-12-2010 TD : 110/70 mmHg menurun Pola nafas tidak
2
/09:00 WIB Nadi : 79 x/menit efektif
RR : 25 x/menit Hipoksia
Sianosis (+)
Konjungtiva pucat Hiperventilasi
Wheezing (+)
Ds: pasien merasa kenyang Suplai O2
segera setelah mengingesti menurun
makanan
Do: Sesak
Bising usus : 26 x/menit
21-12-2010 Nutrisi kurang
3 Pasien tidak tertarik untuk pola makan
/09:00 WIB dari kebutuhan
makan berkurang
Porsi makan klien ½ porsi
Total konsumsi : 900 kkal/hari ketidak
Mual adekuatan
Muntal intake

2.2.1 Prioritas Diagnosa Keperawatan


2.2.1.1 Pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan
hiperventilasi yang ditandai dengan RR 25x/menit
2.2.1.2 Nyeri akut b.d agen injuri biologis d.d skala nyeri 7

16
2.2.1.3 Resiko kekambuhan yang berhubungan dengan
ketidakpatuhan terhadap aturan terapeutik, tidak
mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai.
2.2.1.4 Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan
kematian, penurunan status kesehatan, situasi krisis,
ancaman atau perubahan kesehatan.
2.2.2 Intervensi Keperawatan
Pada kondisi peningkatan curah jantung, adanya pirau dari
kiri ke kanan darah yang mengalilr ke bilik kanan menjadi lebih
banyak. Ini berarti beban arteri pulmonalis dan otot ventrikel kanan
yang otonya tidak setebal ventrikel kiri akan menjadi lebih berat.

Tgl/ Jam Dx Tujuan & K.H Intervensi Rasional

Pola napas tidak Efektifnya pola


Pengkajian: Pucat atau sianosis
efektif yang nafas setelah
Pantau adanya pucat atau merupakan tanda
berhubungan tindakan
sianosis bahwa klien
dengan keperawatan
kekurangan O2
hiperventilasi selama 1 x 30
yang ditandai menit dibuktikan Untuk mengetahui
dengan RR dengan: apakah keluhan pasien
21/12/
25x/menit. Suhu : 36,5-37,5 Pantau kecepatan irama, sudah berkurang
2010
Ds: pasien ºC kedalaman, usaha respirasi setelah tindakan
09:30
mengatakan TD : 110-120/70- keperawatan
sesak nafas 80 mmHg dilakukan.
Do: Nadi : 80-100
Untuk mengetahui
Suhu : : 36,2º C x/menit
seberapa tingkat
TD : 110/70 RR : 16-20 Kaji kebutuhan insersi
kebutuhan klien
mmHg x/menit jalan nafas.
terhadap oksigen yang
Nadi : 79 x/menit Sianosis (-)
akan diberikan.

17
RR : 25 x/menit Konjungtiva Auskultasi bunyi nafas,
Untuk mengetahui
Sianosis (+) normal kaji adanya bunyi nafas
sebab dari sesak nafas.
Konjungtiva Wheezing (-) tambahan
pucat
Wheezing + HE :
Teknik relaksasi akan
Informasikan kepada klien
mempermudah klien
dan keluarga tentang
untuk mengurangi
teknik relaksasi untuk
sesak nafasnya serta
meningkatkan pola
memberikan rasa yang
pernafasan
tenang.

Informasikan pada klien


dan keluarga bahwa
meraka harus Untuk melakukan
memberitahukan pada pertolongan dengan
perawat saat terjadi segera.
ketidakefektifan pola
pernafasan

Kolaborasi: Meningkatkan sediaan


Berikan oksigen tambahan oksigen untuk
dengan kanula nasal/ kebutuhan miokardium
masker sesuai indikasi untuk melawan efek
hipoksia / iskemi

Aktifitas lain :
Posisi yang tepat akan
Posisikan pasien untuk
membantu
mengoptimalkan
pengoptimalan
pernafasan
pernafasan klien

18
Tgl/Jam Dx. Tujuan K.H Intervensi Rasional
Nyeri akut Setelah dilakukan 1. kaji TTV 1. untuk mengetahui
berhubungan tindakan keperawatan klien ( K/U klien
dengan agen terhadap Tn.X selama nadi,RR,) 2. hasil pengkajian
injuri biologis 2x24 jam, klien tanpak 2. kaji dapat digunakan dalam
d.d skala nyeri rileks dengan kriteria PQRST. penentuan terapi,
7 hasil: 3. berikan pengontrolan, toleransi
posisi yang nyeri.
1. Nyeri dada
nyaman. 3. meningkatkan rasa
sebelah kiri
4. anjurkan nyaman pada saat
berkurang.
teknik istirahat
2. Skla nyeri menurun
relaksasi. 4. untuk membantu
menjadi 1-3
5. kolaborasi mengurangi nyeri.
3. Nadi normal 60-
dengan 5. mengurangi nyeri
100x/mnt.
dokter untuk sehingga klien bisa
4. RR normal 16-
pemberian istirahat dengan cukup.
24x/mnt.
obat
analgesik.

2.2.3 Implementasi

Tgl/Jam No. Dx Implementasi Paraf


21/12/ Pengkajian:
2010 1 Memantau adanya pucat atau sianosis
10:00 Hasil : sianosis (-)

19
Memantau kecepatan irama, kedalaman, usaha respirasi
Hasil : RR : 19 x/menit

Mengkaji kebutuhan insersi jalan nafas.


Hasil :

Mengauskultasi bunyi nafas, mengkaji adanya bunyi nafas


tambahan
Hasil : Wheezing masih terdengar namun sudah berkurang

HE :
Menginformasikan kepada klien dan keluarga tentang teknik
relaksasi untuk meningkatkan pola pernafasan
Respon : pasien dan keluarga tahu dan paham serta dapat
melakukan teknik relaksasi yang telah diajarkan.

Menginformasikan pada klien dan keluarga bahwa meraka harus


memberitahukan pada perawat saat terjadi ketidakefektifan pola
pernafasan
Respon : klien dan keluarga mau melaporkan jika terjadi
ketidakefektifan pola pernafasan

Kolaborasi:
Memberikan oksigen tambahan dengan kanula nasal/ masker
sesuai indikasi
Hasil : sesak nafas berkurang

Aktifitas lain :
Memposisikan pasien untuk mengoptimalkan pernafasan
Hasil : klien merasa nyaman dengan posisi yang diberikan
padanya.

Tgl/jam No Implementasi Evaluassi Ttd

20
Dx.
21/12/2010 1. mengkaji TTV klien S : klien mengatakan nyeri
10:10
S : --------- pada dada sebelah kiri mulai
O : Nadi 130/mnt, RR 28x/mnt berkurang
2. mengkaji PQRST O : TTV mulai normal
S : klien mengatakan nyeri dada· Skala nyeri berkurang 1-3
sebelah kiri. · Klien terlihat nyaman saat
O : skala nyeri 7 tidur.
3. berikan posisi yang nyaman. · Wajah klien tanpak
S: klien susah tidur saat nyeri terlihat tenang.
timbul. A : tujuan tercapai sebagian
O: klien tanpak lemah P : lanjutkan intervensi 2
4.menganjurkan teknik
relaksasi.
S: --------
O: klien susah tidur.
5. berkolaborasi dengan dokter
untuk pemberian obat analgesik.
S:----------
O: klien merasa nyaman.

2.9 Hal yang dilakukan setelah Tindakan Medis


2.9.1 Setelah Tes lab
2.9.1.1 Jika katerisasi dilakukan di kaki, anak di suruh untuk
meluruskan kakinya beberapa jam.
2.9.1.2 perawat akan memantau suhu dan denyut nadi.
2.9.1.3 Di berikan obat untuk mencegah pembekuan darah. Dalam
kebanyakan kasus, hanya perlu minum obat ini dalam waktu
singkat.

2.9.2 Setelah pembedahan

21
2.9.2.1 Recover in ICU
untuk membantunya pulih dari operasi
2.9.2.2 Diberikan ventilitator
mesin yang membantu anak Anda bernafas saat berada di
bawah anestesi selama operasi berlangsung
2.9.2.3 Memasang NGT
tabung kecil dan fleksibel yang membuat perut terkuras
gelembung asam dan gas yang mungkin terbentuk saat operasi.
2.9.2.4 Monitor jantung
Mesin yang terus-menerus menampilkan gambar ritme jantung
anak Anda, dan memonitor detak jantung, tekanan darah arteri,
dan nilai lainnya.
2.9.2.5 Di pantau denyut nadinya
2.9.2.6 Memantau tekanan darah
2.9.2.7 Menenangkan Anak
2.9.2.8 Berikan Penkes yang harus di lakukan oleh keluarga
2.9.2.9 Pemeriksaaan lanjutan untuk memantau adanya komplikasi.
2.9.2.10 Hindari aktivitas berat dan angkat berat.

22
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Stenosis Pulmonal adalah penyakit jantung katup yang keluar darah
dari ventrikel kanan jantung terhambat pada tingkat katup pulmonal. Hal ini
menyebabkan penurunan aliran darah ke paru-paru.
Stenosis Pulmonal umumnya merupakan kelainan jantung konginental,
yang dibawa sejak lahir yang terjadi akibat perkembangan abnormal dari
jantung janin selama 8 minggu pertama kehamilan.
Pada stenosis pulmonal yang ringan, umumnya pasien asimptomatik
dan tidak memburuk oleh bertambahnya usia. Tumbuh kembang pun tidak
terganggu. Tapi sebagaimana halnya dengan kelainan jantung konginental
yang lain, profilaksis antibiotic terhadap endokarditis bacterial perlu
diperhatikan. Pada stenosis pulmonal yang moderat atau cukup berat, berbagai
keluhan dan komplikasi dapat berkembang lebih buruk di waktu-waktu
mendatang. Namun, dengan perkembangan teknologi kedokteran dan ilmu
kedokteran stenosis pulmonal dapat sembuh, kecuali jika terdapat komplikasi
mungkin akan memerlukan pemantauan.
3.2 Saran
3.2.1 semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi yang membaca, terutama
mahasiswa keperawatan.
3.2.2 semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa
keperawatan.

23