Anda di halaman 1dari 59

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Efusi pleura merupakan pengumpulan cairan dalam ruang pleural
yang terletak diantara permukaan visceral dan parental, adalah proses
penyakit primer yang jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit
sekunder terhadap penyakit lain, secara normal ruang pleura mengandung
sejumlah kecil cairan (5-15 ml) berfungsi sebagai pelumas yang
memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzerdan
Bare, 2002). Efusi pleura adalah istilah yang digunakan untuk penimbunan
caira dalam rongga pleura dapat berupa transudat dan eksudat.
Pasien dengan efusi pleura di dalam rongga pleura terdapat ±5ml
cairan yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parientalis
dan visceralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parientalis karena
adanya tekanan hidrotastik, tekanan koloid, dan daya tarik elastis. Sebagian
cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura visceralis, sebagian
kecil lainnya (10-20%) menglir ke dalam pembuluh limfe sehingga pasase
cairan disini mencapai satu liter seharian. Terkumpulnya cairan di rongga
pleura disebut efusi pleura, ini terjadi bila keseimbangan antara produksi dan
absorbs terganggu(Syamsuhidayat, 2014).
Faktor pencetus dari efusi pleura dapat dibedakan atas transudat dan
eksudat. Pleura transudat misalnya terjadi gagal jantung karena bendungan
vnea disertai peningkatan hidrostatik, dan pada sirosis hepatis karena tekanan
osmotik koloid yang menurun. Eksudat disebabkan antara lain oleh
keganasan dan infeksi. Cairan keluar langsung dari kapiler sehingga kaya
akan protein dan berat jenis tinggi. Cairan ini juga mengandung banyak sel
darah putih. Sebaliknya, transudat kadar protein rendah sekali atau nihil
sehingga berat jenisnya rendah(Syamsuhidayat, 2004). Efusi pleura terjadi di
negara-negara yang sedang berkembang, salah satunya di Indonesia.
Badan kesehatan dunia (WHO) 2011 memperkirakan jumlah kasus
efusi pleura diseluruh dunia cukup tinggi menduduki urutan ketiga setelah Ca
2

paru sekitar 10-15 juta dengan 100-250 ribu kematian tiap tahunnya. Efusi
pleura suatu disease entity dan merupakan salah satu gejala penyakit yang
serius yang dapat mengancam jiwa penderita. Tingkat kegawatan pada efusi
pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan pembentukan cairan dan
tingkat penekanan paru.
Tingginya kasus efusi pleura disebabkan keterlambatan penderita
untuk memeriksakan kesehatan sejak dini sehingga menghambat aktivitas
sehari-hari dan kematian akibat efusi pleura masih sering ditemukan. Tingkat
kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan
pembentukan cairan dan tingkat penekanan paru. Jika efusi luas, ekspansi
paru akan terganggu dan pasien akan mengalami sesak, nyeri dada, batuk non
produktif bahkan akan terjadi kolaps paru dan akibatnya akan terjadilah gagal
nafas.
Penanganan efusi pleura paling umum adalah dengan tindakan medis
sehingga harus dilakukan oleh dokter. Tindakan tersebut adalah dengan
torakosintesis (pungsi) dan WSD bila jumlah cairan cukup banyak. Namun
dengan berkembangnya ilmu dan teknologi penanganan efusi pleura dapat
dilakukan dengan cara breathing exercise, salah satu breathing exercise yang
dapat dilakukan adalah meniup balon yaitu aktivitas keperawatan yang
berfungsi meningkatkan kemampuan otot-otot pernafasan untuk
meningkatkan compliance paru dalam meningkatkan fungsi ventilasi dan
memperbaiki oksigenasi.

B. Rumusan Maslah
1. Apa definisi efusi pleura?
2. Bagaimana etiologi efusi pleura?
3. Bagaimana klasifikasi efusi pleura?
4. Bagaimana tanda dan gejala efusi pleura?
5. Bagaimana komplikasi efusi pleura?
6. Bagaimana pemeriksaan diagnostik efusi pleura?
7. Bagaimana penatalaksanaan klien dengan efusi pleura?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan efusi pleura?

C. Tujuan
1. Mengetahui definisi efusi pleura
2. Mengetahui etiologi efusi pleura
3. Mengetahui klasifikasi efusi pleura
3

4. Mengetahui tanda dan gejala efusi pleura


5. Mengetahui komplikasi efusi pleura
6. Mengetahui pemeriksaan diagnostik efusi pleura
7. Mengetahui penatalaksanaan efusi pleura
8. Mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan efusi pleura

D. Manfaat
1. Bagi Rumah Sakit
Penyebaruasan informasi tentang penanganan managemen
pernafasan pada pasien dengan efusi pleura secara medis maupun
keperawatan.
2. Bagi Institusi pendidikan
Hasil makalah ini diharapkan dapat dimanfaatkan untuk institusi
sebagai media pembelajaran lebih lanjut pada managemen pasien efusi
pleura secara medis maupun keperawatan .
3. Bagi Masyarakat
Dapat memberikan informasi yang benar kepada pasien, keluarga ,
masyarakat sehingga dapat lebih mengenal dan mengetahui gambaran
managemen pada pasien dengan efusi pleura secara medis maupun
keperawatan.

BAB II
TINJAUAN TEORI

I. KONSEP DASAR
A. Definisi
Efusi Pleura berasal dari dua kata, yaitu efusion yang berarti
ektravasasi cairan ke dalam jaringan atau rongga tubuh, sedangkan
pleura yang berarti membran tipis yang terdiri dari dua lapisan yaitu,
pleura viseralis dan pluera perietalis.Sehingga dapat disimpulkan Efusi
Pleura adalah ekstravasasi cairan yang terjadi di antara lapisan viseralis
perietalis (Sudoyo, 2006).
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapatnya penumpukan
cairan dalam rongga pleura. (Imran Sumantri, 2008). Efusi pleura adalah
4

penumpukan cairan di dalam ruang pleural, proses penyakit primer


jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain.
Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat,
eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2000).
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang
terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer
jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap
penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil
cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan
permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne,
2002).
Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan
dalam rongga pleura. (Price C Sylvia,1995).
Dapat disimpulkan bahwa eflusi pleura adalah adanya penimbunan
cairan yang berlebih pada cavum pleura.
5

B. Etiologi
Kelainan pada pleura hampir selalu merupakan kelainan sekunder.
Kelainan primer pada pleura hanya ada dua macam yaitu infeksi kuman
primer intrapleura dan tumor primer pleura. Timbulnya efusi pleura
dapat disebabkan oleh kondisi-kondisi :
1. Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya
bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor
mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena
kava superior.
2. Peningkatan produksi cairan berlebih, karena radang
(tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba
subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana
masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena
tuberculosis.
Secara patologis, efusi pleura disebabkan oleh keadaan-keadaan:
1. Meningkatnya tekanan hidrostatik (misalnya akibat gagal
jantung)
2. Menurunnya tekanan osmotic koloid plasma (misalnya
hipoproteinemia)
3. Meningkatnya permeabilitas kapiler (misalnya infeksi
bakteri)
4. Berkurangnya absorbsi limfatik

C. Klasifikasi
1. Berdasarkan jenis cairan yang terbetuk, cairan pleura dibagi
menjadi transudat dan eksudat.
a. Transudat
Efusi pleura transudatif terjadi kalau faktor sistemik yang
mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura
mengalami perubahan. Transudat ini disebabkan oleh kegagalan
jantung kongestif (gagal jantung kiri), sindroma nefrotik, asites
6

(oleh karena sirosis kepatis), syndroma vena cava superior,


tumor, sindroma meig, hipoalbumenia, dialysis peritoneal,
Hidrothoraks hepatik.
b. Eksudat
Efusi pleura eksudatif terjadi jika faktor lokal yang
mempengaruhi pembentukan dan penyerapan cairan pleura
mengalami perubahan.
Eksudat disebabkan oleh infeksi, TB, pneumonia dan
sebagainya, tumor, ifark paru, radiasi, penyakit kolagen.
Tabel Perbedaan cairan transudat dan eksudat
Kriteria Transudat Eksudat
Warna Kuning pucat, dan Jernih, keruh, purulen, dan
jernih hemoragik
Bekuan - -/+
Berat Jenis <1018 >1018
Leukosit < 1000/ul Bervariasi >1000/ul
Eritrosit Sedikit Biasanya banyak
Hitung Jenis MN (limfosit/mesotel) Terutama PMN
Protein Total < 50 % serum > 50 % serum
LDH < 60 % serum > 60 % serum
Glukosa - plasma -/< plasma
Fibrinogen 0.3-4 % 4-6 % atau lebih
Amylase - >50% serum
Bakteri - -/+

2. Berdasarkan lokasi cairan yang terbentuk, effusi dibagi


menjadi dua yaitu
a. Unilateral
Efusi yang unilateral tidak mempunyai kaitan yang spesifik
dengan penyakit penyebabnya
b. Bilateral
Effusi yang bilateral ditemukan pada penyakit-penyakit dibawah
ini : Kegagalan jantung kongestif, sindroma nefrotik, asites,
infark paru, lupus eritematosus systemic, tumor dan tuberkolosis.
D. Tanda dan Gejala
7

Manifestasi klinis menurut Irman Somantri, 2008 adalah


kebanyakan efusi pleura bersifat asimpomatik, timbul gejala sesuai
dengan penyakit yang mendasarinya. Pneumonia akan menyebabkan
demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis, sementara efusi malignan
dapat mengakibatkan dipsnea dan batuk. Ukuran efusi akan menentukan
keparahan gejala. Efusi pleura yang luas akan menyebabkan sesak nafas.
Area yang mengandung cairan atau menunjukkan bunyi napas minimal
atau tidak sama sekali menghasilkan bunyi datar, pekak saat diperkusi.
Deviasi trakea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika
penumpukan cairan pleural yang signifikan. Bila terjadi efusi pleural
kecil sampai sedang, dipsnea mungkin saja tidak terdapat. Berikut tanda
dan gejala:
1. Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit
karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit hilang.
Bila cairan banyak, penderita akan sesak napas.
2. Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam,
menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi
(kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak
riak.
3. Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi
jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.
4. Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan
berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit
akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba
dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan
duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis
Damoiseu).
5. Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi
redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-
Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum
kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah
dengan ronki.
8

6. Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi


pleura.
7. Keberadaan cairan dikuatkan dengan rontgen dada,
ultrasound, pemeriksaan fisik, dan torakosentesis. Cairan pleural
dianalisis dengan kultur bakteri, pewarnaan Gram, basil tahan asam
(untuk tuberkulosis), hitung sel darah merah dan putih, pemeriksaan
kimiawi (glukosa, amylase, laktat dehidrogenase, protein), analisis
sitologi untuk sel-sel malignan, dan pH. Biopsi pleura mungkin juga
dilakukan.

E. Komplikasi
1. Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan
drainase yang baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura
parietalis dan pleura viseralis. Keadaan ini disebut dengan
fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan
mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada dibawahnya.
Pembedahan pengupasan (dekortikasi) perlu dilakukan untuk
memisahkan membrane-membran pleura tersebut.
2. Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang
disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura.
3. Fibrosis paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan
ikat paru dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara
perbaikan jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru
yang menimbulkan peradangan. Pada efusi pleura, atalektasis yang
berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan paru yang
terserang dengan jaringan fibrosis.
9

4. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan
ektrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara
keluar dan mengakibatkan kolaps paru.

F. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan diagnostic
a. Rongent dada atau thoraxs
Permukaan cairan yang terdapat dalam rongga pleura akan
membentuk bayangan seperti kurva, dengan permukaan daerah
lateral lebih tinggi dari bagian medial. Bila permukaannya
horisontal dari lateral ke medial, pasti terdapat udara dalam
rongga tersebut yang dapat berasal dari luar dan dari dalam paru
– paru itu sendiri.
b. Torakoskopi (Fiber – optik pleurascopy)
Dilakukan pada kasus – kasus dengan neoplasma atau
tuberkulosis pleura. Biasanya dilakukan sedikit insisi pada
dindidng dada (dengan resiko kecil terjadinya pneumotoraks)
cairan ditemukan penghisapan dan udara dimasukkan supaya
dapat melihat kedua pleura.
c. Biopsi pleura
Pemeriksaan histologi atau beberapa contoh jaringan pleura
dapat menunjukkan 50% - 75% diagnosa kasus – kasus
pluritistuberkulosa dan tumor paru.
d. Ultrasonografi
Untuk menentukan adannya cairan dalam rongga pleura.
Pemeriksaan ini sangat membatu sebagai penentu waktu
melakkukan aspirasi cairan tersebut, terutama pada efusi yang
terlokalisir.

2. Pemeriksaan laboratorium
a. Darah lengkap : Leukosit meningkat, Hemoglobin
menurun, LED meningkat
b. Kimia darah : Albumin menurun, protein total menurun
c. Sputum : kultur, basil asam dan PH
10

d. Sitologi cairan pleura (Rasyid, 2012)

G. Penatalaksanaan
1. Medis
Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab dasar,
untuk mencegah penumpukan kembali cairan, dan untuk
menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu. Pengobatan spesifik
ditujukan pada penyebab dasar (co; gagal jantung kongestif,
pneumonia, sirosis).
a. Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, untuk
mendapatkan specimen guna keperluan analisis dan untuk
menghilangkan disneu.
b. Bila penyebab dasar malignansi, efusi dapat terjadi kembali
dalam beberapa hari tatau minggu, torasentesis berulang
mengakibatkan nyeri, penipisan protein dan elektrolit, dan
kadang pneumothoraks. Dalam keadaan ini kadang diatasi
dengan pemasangan selang dada dengan drainase yang
dihubungkan ke system drainase water-seal atau pengisapan
untuk mengevaluasiruang pleura dan pengembangan paru.
c. Agen yang secara kimiawi mengiritasi, seperti tetrasiklin
dimasukkan kedalam ruang pleura untuk mengobliterasi ruang
pleural dan mencegah akumulasi cairan lebih lanjut.
d. Pengobatan lainnya untuk efusi pleura malignan termasuk
radiasi dinding dada, bedah plerektomi, dan terapi diuretic.[10]
11

2. Keperawatan
a. Memberikan posisi nyaman pada pasien dengan bagian
kepala agak ditinggikan.
b. Memberikan manajemen nyeri seperti mengajarkan teknik
relaksasi.
c. Mengajarkan batuk efektif
d. Mengatur posisi semi fowler agar pasien nyaman
3. Diet
Tujuan diet pada pasien effusi pleura adalah memberikan
makanan secukupnya, mencegah atau menghilangkan penimbunan
garam atau air. Syarat-syarat diet pada pasien effusi pleura antara
lain:
a. energi yang cukup untuk mencapai atau mempertahankan
berat badan yang normal.
b. protein yang cukup yaitu 0,8 gram/KgBB
c. lemak sedang yaitu 25-30 % dari kebutuhan energi total (10
% dari lemak jenuh dan 15 % dari lemak tidak jenuh).
d. vitamin dan mineral yang cukup.
e. diet rendah garam (2-3 gram/hari).
f. makanan mudah dicerna dan tidak menimbulkan gas.
g. serat yang cukup untuk menghindari konstipasi.
h. cairan cukup 2 liter/hari
Bila kebutuhan gizi dapat dipenuhi melalui makanan maka dapat
diberikan berupa makanan enteral, parenteral atau suplemen gizi.

II. Asuhan Keperawatan


meliputi :
A. Pengkajian
Pengumpulan Data-data yang dikumpulkan atau dikaji
12

B. Identitas
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis
kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa
yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien.

C. Riwayat Keperawatan
1. Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien
mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit.Biasanya pada
pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas,
rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat
tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta
batuk non produktif.
2. Riwayat Kesehatan
a. Penyakit Sekarang
Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan
adanya tanda-tanda seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik,
rasa berat pada dada, berat badan menurun dan sebagainya.
Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul.Apa
tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau
menghilangkan keluhan-keluhannya tersebut.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit
seperti TBC paru, pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan
sebagainya. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan
adanya faktor predisposisi
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakit-penyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi
pleura seperti Ca paru, asma, TB paru dan lain sebagainya

D. Pemeriksaan Fisik
1. Keadaan umum : pasien tampak sesak nafas
2. Tingkat kesadaraan: composmetis
3. TTV:
RR : Takhipnea
N : Thakikardia
S : jika ada infeksi bias hipertermia
13

TD : hipotensia
4. Kepala: mesochepal
Mata : conjungtiva enemis
Hidung: sesak nafas, cuping hidung
5. Dada : gerakan pernafasan berkurang
6. Pulmo (paru-paru)
Inspeksi : terlihat ekspansi dada simetris, tampak sesak nafas,
tampak penggunaan otot bantu nafas.
Palpasi : vocal fremitus menurun
Perkusi : pekak (skonidulnes), menurun
Auskultasi : bunyi nafas menghilang atau tidak terdengar diatas
bagian yang terkena.

E. Analisa Data
Analisa data adalah kemampuan kognitif, berpikir dan daya nalar
perawat terhadap data senjang yang ditemukan sehingga diketahui
permasalahan klien.

III. RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi
sekret.
2. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan
menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan cairan
dalam rongga pleura.
3. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh sehubungan dengan peningkatan metabolisme tubuh, penurunan
nafsu makan akibat sesak nafas.
4. Cemas atau ketakutan sehubungan dengan adanya ancaman
kematian yang dibayangkan (ketidakmampuan untuk bernafas).
5. Gangguan pola tidur dan istirahat sehubungan dengan batuk yang
menetap dan nyeri pleuritik

IV. PERENCANAAN (NCP)


NO Dx Kep Tujuan Intervensi
1 Bersihan jalan NOCKepatenan Jalan Nafas NIC Manejemen jalan nafas
nafas tidak (0410) 1. Posisikan pasien pada fentilasi
efektif 1. Tidak ada demam yang maksimal
berhubungan 2. Tidak ada kecemasan 2. Identifikasi kebutuhan pasien
dengan 3. Tidak ada tercekik akan jalan nafas yang potensial
14

akumulasi 4. Frekuensi pernafasan 3. Lakukan terapi fisik dada jika


sekret. sesuai yang diharapkan dibutuhkan
5. Irama nafas sesuai 4. Pindahkan skresi dengan batuk /
yang diharapkan suntion
6. Pengeluaran sputum 5. Dorong pelan, nafas dalam dan
pada jalan nafas batuk
7. Bebas dari suara 6. Instruksikan bagaimana batuk
nafas tambahan yang efektif
7. Auskultasi suara nafas,catat area
peningkatan / penuruna fentilasi
dan menunjukkan sumber suara
8. Catat bhronkodilator jika
dibutuhkan
9. Dukung pergerakan nebuliser
ultra sonik
10. Bantu dengan humidifikasi udara /
oksigen
11. Atur intke cairan untuk
mengoptimalkan keseimbangan cairan
12. Posisikan pada elevasi jika
dispneu
13. Monitor status respirasi dan
oksigenasi

2 Ketidakefekti NOC : Oxygen Therapy


fan pola - Respiratory status : 1. Bersihkan mulut, hidung dan
pernafasan Ventilation secret trakea
berhubungan - Respiratory status : 2. Pertahankan jalan nafas yang
dengan Airway patency paten
menurunnya - Vital sign Status 3. Atur peralatan oksigenasi
ekspansi paru Kriteria Hasil : 4. Monitor aliran oksigen
sekunder 1. Mendemonstrasikan 5. Pertahankan posisi pasien
terhadap batuk efektif dan suara 6. Onservasi adanya tanda tanda
penumpukan nafas yang bersih, tidak hipoventilasi
cairan dalam ada sianosis dan dyspneu Vital sign Monitoring
rongga (mampu mengeluarkan 1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR
pleura. 2. Monitor suara paru
sputum, mampu bernafas
3. Monitor suhu, warna, dan
dengan mudah, tidak ada
kelembaban kulit
pursed lips) 4. Monitor sianosis perifer
2. Menunjukkan jalan
nafas yang paten (klien
tidak merasa tercekik,
irama nafas, frekuensi
pernafasan dalam rentang
normal, tidak ada suara
nafas abnormal)
15

3. Tanda Tanda vital


dalam rentang normal
(tekanan darah, nadi,
pernafasan)

3 Gangguan Tidak terjadi nutrisi kurang 1. Beri motivasi tentang pentingnya


pemenuhan dari kebutuhan. nutrisi.
kebutuhan KH :
nutrisi kurang1. Nafsu makan meningkat. 2. Auskultasi suara bising usus.
dari 2. Porsi habis
kebutuhan 3. BB tidak turun habis. 3. Lakukan oral hygiene setiap hari
tubuh
sehubungan 4. Berikan makanan semenarik
dengan mungkin
peningkatan
metabolisme
5. Beri makanan dalam porsi kecil
tubuh,
tapi sering.
penurunan
nafsu makan
6. Laborasi dengan tim gizi dalam
akibat sesak
nafas. pemberian diit TKTP
4 Cemas atau Pasien mampu memahami 1. Berikan posisi yang
ketakutan dan menerima keadaannya menyenangkan bagi pasien. Biasanya
sehubungan sehingga tidak terjadi dengan semi fowler.
dengan kecemasan. 2. Jelaskan mengenai penyakit dan
adanya Kriteria hasil: Pasien mampu diagnosanya.
ancaman bernafas secara normal,
kematian pasien 3. Ajarkan teknik relaksasi
yang 1. mampu beradaptasi
dibayangkan dengan keadaannya. 4. Bantu dalam menggala sumber
(ketidakmam 2. Respon non verbal koping yang ada
puan untuk klien tampak lebih rileks
bernafas). dan santai, 5. Pertahankan hubungan saling
3. nafas teratur dengan percaya antara perawat dan pasien
frekuensi 16-24 kali
6. Kaji faktor yang menyebabkan
permenit,
4. nadi 80-90 kali timbulnya rasa cemas.
permenit
7. Bantu pasien mengenali dan
mengakui rasa cemasnya.
5 Gangguan Tujuan: Tidak terjadi 1. Intervensi
pola tidur dan gangguan pola tidur dan 2. Beri posisi senyaman mungkin
istirahat kebutuhan istirahat terpenuhi. bagi pasien
sehubungan Kriteria hasil:
dengan batuk 1. Pasien tidak sesak 3. Menentukan kebiasaan motivasi
yang menetap nafas, sebelum tidur malam sesuai dengan
dan nyeri 2. pasien dapat tidur kebiasaan pasien sebelum dirawat.
16

pleuritik. dengan nyaman tanpa


mengalami gangguan, 4. Anjurkan pasien untuk latihan
3. pasien dapat tertidur relaksasi sebelum tidur.
dengan mudah dalam
waktu 30-40 menit dan 5. Obseervasi gejala kardinal dan
pasien beristirahat atau keadaan umum pasien
tidur dalam waktu 3-8 jam
per hari
17

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

Tanggal pengkajian: 13 November 2018 jam 15.00

I. BIODATA
A. Identitas Klien
1. Nama : Tn. K
2. Umur : 54 tahun
3. Jenis Kelamin : laki-laki
4. Agama : Islam
5. Suku/Bangsa : Jawa / Indonesia
6. Status Perkawinan : Sudah Menikah
7. Pendidikan : SD
8. Pekerjaan : swasta
9. Alamat Lengkap : Bandungan, Kab. Semarang
10. Tanggal Masuk Rumah Sakit : 12 November 2018
11. Tanggal Pengkajian : 13 November 2018
12. Nomor Register : 157718
13. Diaknosa medis : eflusi pleura, pleuritis,
suspect
kanker paru, suspect TB

B. Penanggung Jawab Klien


1. Nama : Ny. H
2. Hubungan dengan Klien : Istri
3. Umur : 47tahun
4. Pendidikan : SD
5. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
6. Alamat Lengkap : Bandungan, Kab. Semarang
18
19

II. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG

A. Keluhan Utama
Klien mengatakan sesak nafas

B. Kronologi Penyakit
Klien sebelumnya berobat ke IGD RSUD Ambarawa 2 minggu yang lalu
rawat jalan, lalu kemarin senin datang ke IGD lagi karena merasakan sesak
nafas disertai demam tinggi.

C. Pengaruh Penyakit
Klien mengatakan karena penyakitnya klien tidak mampu melakukan
aktivitas seperti biasanya, klien mengatakan lemas dan tidak nafsu untuk
makan.

D. Yang diharapkan Pasien dari Pelayanan Kesehatan


Klien dan keluarga berharap mendapatkan pelayanan terbaik dan fasilitas
yang baik supaya bisa segera pulih dan pulang kerumah, serta mampu
untuk melakukan aktifitas seperti semula.

III.RIWAYAT KESEHATAN MASA LALU


A Penyakit Masa Anak-anak
Keluarga dan klien mengatakan sebelumnya klien belum pernah sakit
hingga parah mengharuskan dirawat dirumah sakitseperti sekarang ini.

B Riwayat Kesehatan Sebelumnya


Klien mengatakan 3 minggu sudah batuk, sesak nafas, tidak nafsu makan
sejak 3 minggu yang lalu. Klien mengatakan berkeringat dimalam hari.
20

C Alergi
Klien mengatakan tidak mempunyai alergi baik itu makanan, minuman,
obat-obatan maupun perubahan cuaca.

D Pengobatan Terakhir
Keluarga mengatakan klien rutin mibum obat setelah pengobatan 2
minggu yang lalu.

IV. RIWAYAT SOSIAL


Keluaga klien mengatakan tidak ada yang mempunyai penyakit menular yang
ada didaerah sekitar tempat tinggalnya. Klien tinggal serumah dengan istri dan
anaknya. Klien seorang supir terbiasa begadang berkendara dengan jarak jauh.

V. RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA


Klien tinggal bersama istrinya, sebelumnya tidak ada anggota keluarga
yang pernah dirawat dengan masalah yang dialami klien saat ini.Dalam
keluarga klien tidak terdapat penyakit keturunan seperti Diabetes mellitus,
Asma dan Hipertensi, serta tidak ada yang mempunyai penyakit menular
seperti HIV, Hepatitis B, maupun influenza. Jika ada salah satu anggota
keluarga yang sakit maka keluarga akan segera diobatkan, saat klien dirawat
saat ini anak-anak klien bergantian untuk menjaga dan merawat klien dirumah
sakit, klien tidak pernah ditinggal sendirian
Genogram

Keterangan :
21

: Laki – Laki

: Perempuan : Klien : Tinggal satu Rumah

VI. PENGKAJIAN BIOLOGIS


A. Rasa Aman dan Nyaman
Klien tidak merasakan gangguan aman nyaman, klien merasa terganggu
dengannsesak nafas namun masih mampu untuk beraktifitas ke memenui
ADL berupa makan, minum, toileting secara mandiri dengan bantuan
minimum.

B. Aktivitas Istirahat
Di rumah : Kliensebelum sakit mampu beraktivitas aktif
secara mandiri, ketika sakit keperluan di bantu
Di RS : keluarga minimum
Klien hanya dapat berbaring dan beristirahat di
tempat tidur, semua aktifitas dibantu oleh
keluarga.

C. Eliminasi (BAB dan BAK)


Di rumah : Klien BAB 1 x/hari, berwarna kuning, bau
khas feces dan konsistensi padat. Sedangkan
BAK klien 6 – 7 x/hari, berwarna kuning
Di RS : jernih dan berbau amoniak.
Selama dirawat dirumah sakit klien
mengatakan seperti biasanya BAB 1x sehari
Dan BAK klien 5 – 6 x/hari, berwarna kuning
dan berbau amoniak.
22

D. Kebersihan Diri (Personal Hygien)


Di rumah : Klien mandi 2 x / hari, gosok gigi 2 x/hari, cuci
rambut 2 – 3 x / secara mandiri
Di RS : Untuk personal hygine Klien di bantu oleh
keluaganya, Saat ingin BAB atau BAK klien
dengan di bantu oleh keluarganya.

E. Istirahat dan Tidur


Di rumah : Pola tidur klien tdak teratur karena
perkerjaannya, dalam sehari klien tidur 8- 10
Di RS : jam
Klien istirahat di tempat tidur saja, klien sering
terbangun dimalam hari karena batuk dan
berkeringat dimalam hari. Klien mengatakan
lebih nyenyak tidur saat malam 4- 6 jam

F. Cairan
Klien mengatakan lebih suka minum kopi dari pada air putih.
Tidak ada pantangan minuman yang diminum klien. Klien minum saat
merasa haus saja.

G. Makan dan Minum


Dirumah : Sebelum sakit Klien makan 3 x/hari, dengan menu berupa nasi
putih, sayur, dan lauk pauk, dan tidak ada mempunyai makanan
pantangan. Klien suka minum kopi
Di RS : Saat sakit klien tidak nafsu makan, hanya 1/3 porsi makan

Biasanya

Pola makan klien 3 x/hari berupa diit lunak III, makanan yang
diberikan Rumah Sakit hanya dimakan 2-3 sendok,klien
mengatakan tidak nafsu makan.

Observasi :
23

A: Antropometri :

 Berat Badan sebelum sakit : 57kg

 Berat Badan setelah sakit : 55 kg

 Tinggi Badan : 160 cm

 IMT : 21,4

B: Biochemical tanggal 12 November 2018 :

 Kadar Hb : 12,5g/dL

 HT : 38,4 %

C: Clinical sign :

 Kulit kering

 Rambut kering

 Konjungtiva tidak anemis

 Capillary refill: <2 detik

D: Diet :

Jumlah menu makanan yang diberikan 3x dalam sehari dengan


menu yang diberikan diit lunak bubur, lauk pauk dan sayur serta
buah, namun klien hanya makan 2-3 sendok saja.

H. Kebutuhan Oksigenasi dan Karbondioksida Pernafasan


Dirumah : klien mengatakan sesak nafas. Sesak nafas semakin parah
bila beraktifitas.
Di RS : klien hanya tiduran saja diatas bad masih merasakan sesak
nafas. Terpasang oksigen nasal kanul 4 lpm
24

I. Kardiovaskuler
Klien mengatakan sesak nafas namun tidak sampai nyeri dada,
sering berdebar-debar maupun berat dibagian dada.

J. Seksualitas
Klien berusia 54 tahun. Klien tidak ada masalah dalam hubungan
seksual karena klien mempunyai 3 orang anak dan 2 cucu serta memiliki
keluarga yang erat dan hangat. Selama di rumah sakit klien mendapatkan
kasih sayang dari keluarganya. Hal ini di tunjukkan dengan perhatian dan
kesediaan anggota keluarga bergantian untuk menjaga klien.

K. Rekreasi
Di rumah : Klien menonton TV dan mendengarkan radio
Di RS : maupun musik.
Hiburan klien saat di rawat di RS yaitu ketika di
ajak mengobrol oleh keluarga klien dan ada
saudara yang menjenguk.

VII. PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL

A. Psikologis
Klien mengatakan merasa senang karena anak-anaknya masih peduli
dengannya. Persepsi klien terhadap penyakitnya yaitu klien yakin akan
sembuh, klien sabar dalam menunggu kesembuhannya, kemampuan
adaptasi klien baik terbukti dengan klien sangat kooperatif dengan
perawat dan tenaga medis lainnya. Klien sedih karena belum bisa
beraktivitas seperti biasa karena sesak nafas, klien mengatakan capek
tidur terus.

B. Hubungan Sosial
Hubungan klien dengan keluarga cukup baik, dibuktikan dengan
keakraban klien dengan keluarganya. Hubungan klien dengan orang
25

lain maupun perawat baik terlihat keterbukaan klien saat


berkomunikasi. Keluarga mengatakan klien senang mengobrol dengan
tetangga disekitar tempat tinggalnya. Klien berusia 54 tahun smasih
bekerja dan hubuangan dengan teman kerja baik.

C. Spiritual
Klien beragama Islam, selama berada di RS klien tidak pernah
melaksanakan shalat karena keadaan yang dialami saat ini dan klien
hanya berzikir dan berdo’a semoga cepat sembuh dan bisa segera
pulang.

VIII. PEMERIKSAAN FISIK


A. Keadaan Umum
1. Kesadaran : Compos Mentis GCS : E4V5M6
2. Kondisi klien secara umum : Cukup bersih, bedrest
3. TTV : TD : 110/70 mmHg RR : 28
x/mnt
N : 88 x/mnt Suhu : 38,8°C
SaO2 : 98%
4. Pertumbuhan fisik :
BB : 55 kg
TB : 160 cm
5. Keadaan kulit : warna kulit sawo matang, tekstur sudah
mulai berkeriput, tidak ada masalah kulit.

B. Head To Toe

1. Kepala
Bentuk simetris, tidak ada benjolan pada kepala, tidak terdapat
perdarahan serta peradangan pada kulit kepala, kebersihan cukup
(tidak terdapat ketombe). Klien sudah beruban dan bersih
a. Mata
26

Mata simetris, pupil isokhor, sklera tidak ikterik, konjungtiva


tidak anemis, penglihatan mulai menurun, tidak memakai alat
bantu penglihatan seperti kacamata.
b. Hidung (Penciuman)
Bentuk simetris, fungsi penciuman baik, tidak terdapat benda
asing dan tidak ada peradangan mukosa juga tidak terdapat
polip, tidak ada penumpukan secret dan klien tidak merasakan
nyeri. Terdapat pernafasan cuping hidung. Terpasang oksigen
nasal kanul 4 lpm.
c. Telinga (Pendengaran)
Klien mampu mendengar dengan baik, tidak terdapat
peradangan serta perdarahan pada telinga, tidak memakai alat
bantu pendengaran.
d. Mulut dan Gigi
Bentuk simetris, mukosa kering, tidak terdapat peradangan
maupun perdarahan, gigi lengkap, klien tidak mengguanakan
gigi palsu, fungsi pengecapan baik, klien bisa diajak
berkomunikasi.
2. Leher
Tidak ada pembesaran getah kelenjar tiroid dan getah bening,
pergerakan tidak kaku, kebersihan cukup dan tidak ada tekanan
vena jugularis, klien mengalami masalah menelan.
3. Dada
a. Jantung:
I : Ictus Cordis tampak di IC ke 4 dan 5
P: Ictus Cordis teraba di IC ke 4 dan 5
P: Redup
A: S1 dan S2 normal, tidak terdapat suara jantung tambahan
b. Paru-paru
I: terdapar retrksi dinding dada
P: Vokal fremitus teraba semakin menghilang pada lapang paru
bagian kanan
27

P: Sonor pada lapang paru kiri, pekak pada paru kanan bagian
bawah
A: suara dasar vesikulr menurun pada lapang paru kanan

4. Abdomen
I : Tidak ada lesi, tidak terjadi asites
A : Bising usus 12x/menit
P : Tidak ada pembesaran hepar, tidak ada nyeri tekan
P : Tympani
5. Reproduksi
Klien berjenis kelamin laki-laki, tidak ada masalah dibagian
genital, klien sudah menikah dan tidak terpasang kateter pada alat
kelaminnya.
6. Ekstremitas
a. Atas
Bagian ekstremitas klien lengkap tidak ada edema maupun
kelemahan .
b. Bawah
Bagian ekstremitas klien lengkap tidak ada kekurangan atau
kelainan, tidak ada edema maupun kelemahan

IX. PEMERIKSAAN PENUNJANG

A Laboratorium

Nama pasien :Tn. K

Tanggal 12 November 2018


NILAI KETERANG
PEMERIKSAAN HASIL SATUAN
RUJUKAN AN
HEMATOLOGI EDTA
(B)

HEMA LENGKAP (WB


EDTA)
Lekosit 19.1 3.8-10,6 10^3/ul H
Eritrosit 4.59 4.4-5.9 10^6/uL
28

Hemoglobin 12.5 13.2-17.3 g/dL L


Hematokrit 38.4 40-52 % L
MCV 83.6 80-100 fL
MCH 27.2 26-34 pg
MCHC 32.6 32-36 g/dL
Trombosit 483 150-440 10^3/ul H
RDW 14.6 11.5-14.5 %

Eosinofil Absolute 0.07 0.045-0.44 10^3/ul


Basophil Absolute 0.07 0-0.2 10^3/ul
Netrofil Absolute 15.28 1.8-8 10^3/ul H
Limfosit Absolute 1.34 0.9-5.2 10^3/ul
Monosit Absolute 1.80 0.16-1 10^3/ul H
Eosinofil 0.4 2-4 % L
Basophil 0.4 0-1 % L
Neutrofil 79.70 50-70 %
Limfosit 7.4 25-40 % L
Monosit 7.2 2-8 %

KIMIA KLINIK
12/11/18

Glukosa sewaktu 122 74-106 Mg/Dl H


SGOT 55 0-35 U/L H
SGPT 88 0-35 U/L H
Ureum 24.4 10.0-50.0 Mg/dL
Creatinin 0.77 0.70-1.10 Mg/dL

Na 129 136-146 Mmol/ L L


K 4.0 3.5-5.1 Mmol/ L
Cl 97 98-106 Mmol/ L L
B EKG
Tampak gambaran EKG sinus ritme dengan HR 100x/ menit, tidak ada
gambaran gangguan pada jantung

C Radiologi
29 oktober 2018 di RSUD Ambarawa
Tampak eflusi pleura sinistra
29

D USG 17 November 2018 di RSUD Ambarawa


Tampak eflusi pleura sinistra
30

E Pengobatan
Oksigenasi : Nasal kanul 4lpm
Infus :
- RL 20 tpm
Injeksi
- Cefotaxim 1 gr IV 2x sehari
- Ketorolax 30 mg IV 2x sehari
Oral :
- Azithomycin 500mg 1x1
31

X. ANALISA DATA
NO Tanggal DATA SUBJEKTIF DAN OBJEKTIF ETIOLOGI MASALAH
dan waktu
1 Selasa, 13 Ds: klien mengatakan sesak nafas, semakin sesak Menurunnya Ketidak
November bila beraktifitas. ekspansi paru efektif Pola
2018 Do: sekunder nafas
- Terdapat pernafasan cuping hidung terhadap (00032)
15.00 - RR 28X/ mnt penumpukan
- SaO2 98% cairan dalam
- I: terdapar retrksi dinding dada rongga pleura.
P: Vokal fremitus teraba semakin menghilang
pada lapang paru bagian kanan
P: Sonor pada lapang paru kiri, pekak pada paru
kanan bagian bawah
A: suara dasar vesikulr menurun pada lapang
paru kanan
- Hasil Rontgendan USG ada efulsi pleura
kanan

Selasa, 13 Ds: klien mengatakan suhu tubuhnya naik, merasa Proses infeksi Hipertermi
November panas (00007)
2018 Do: suhu klien 38.8oC, teraba hangat pada semua
15.00 bagian tubuh klien

XI. DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Ketidakefektifan pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder terhadap penumpukan
cairan dalam rongga pleura.
32

2. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi


XII. INTERVENSI KEPERAWATAN
NO Tanggal Dx Kep Tujuan Intervensi
1 Selasa, Ketidakefektifa NOC : Oxygen Therapy
13/ 11/ n pola - Respiratory status : 7. Pertahankan jalan nafas
2018 pernafasan Ventilation ( 0415) yang paten
15.00 berhubungan - Vital sign Status 8. Berikan terapi oksigenasi
dengan Setelah dilakukan tindakan 9. Monitor aliran oksigen
menurunnya 3x24 jam diharapkan 10. Pertahankan posisi pasien
ekspansi paru masalah keperawatan 11. Observasi adanya tanda
sekunder dapat teratasi dengan tanda hipoventilasi
terhadap 12. Ajarkan nafas dalam
kriteria hasil
penumpukan 4. Frekuensi (purshed lips breath)
cairan dalam pernafasan Vital sign Monitoring
rongga pleura. 5. Irama pernafasan 5. Monitor TD, nadi, suhu,
6. kedalaman dan RR
inspirasi 6. Monitor suara paru
7. auskultasi suara 7. Monitor suhu, warna, dan
nafas kelembaban kulit
8. kepatenan jalan 8. Monitor sianosis perifer
nafas

2 Selasa, Hipertermi NIC Termoregulansi 1. Monitor suhu setiap 4 jam.


13/11/ berhubungan ( 0800) 2. Monitor vital sign
2018 dengan proses Setelah dilakukan tindakan 3. Monitor warna dan suhu
jam 15.00 infeksi 3x24 jam diharapkan kulit
masalah keperawatan 4. Selimuti pasien dengan
dapat teratasi dengan menggunakan selimut tipis
33

kriteria hasil: 5. Berikan kompres hangat


1. Suhu tubuh dalam dibagian aksila dan lipatan
rentang normal paha.
2. Nadi dan RR 6. Monitor intake cairan
dalam rentang normal 7. Kolabosi pemberian
3. Tidak ada penurun panas
perubahan warna
kulit.

XIII. IMPELEMENTASI KEPERAWATAN


No. No Tgl/ Implementasi Respon TTD
DX Jam
Selasa, 13 November 2018
1 1 13/11/ 1. Memonitor frekuensi Ds: klien mengatakan sesak nafas
2018 pernafasan Do: RR 25x/ menit, terdapat pernafasan cuping
15.00 hidung dan retraksi dinding dada.
SaO2 98%
1 13/11/ 2. Memonitor suara paru Ds: -
2018 Do : terdengar suara nafas dasar vesikuler
15.00 semakin menurun pada lapang paru kanan
1 13/11/ 3. Memberikan terapi Ds: klien mengatakan sesak berkurang
2018 oksigenasi Do: terpasang oksigen nasal kanul 4lpm
15.00
1 13/11/ 4. Memposisikan pasien Ds: klien mengatakan nyaman
2018 yang nyaman Do: klien merasa nyaman setelah di berikan posisi
15.00 tidur semifowler
34

1 13/11/ 5. Mengobservasi Ds: klien merasa sudah nyaman


2018 adanya tanda tanda Do: RR25x/ menit, tidak terdapat sianosis pada
20.00 hiperventilasi dan jaringan perifer
sianosis
1 13/11/ 6. Mengajarkan nafas Ds: klien mengatakan paham latihan nafas yang
2018 dalam diajarkan dan mau untuk melatihnya sesering
20.00 mungkin, mengatakan sesaknya berkurang
setelah latihan
Do: klien mampu melakukan terapi,
2 13/11/ 1. Memonitor suhu Ds: keluarga mengatakan panasnya naik turun
2018 setiap 4 jam. Do: t: 37,4 oC
15.00 Kulit teraba hangat
2 13/11/ 2. Memonitor vital Ds:-
2018 sign Do: TD: 100/80 mmHg
20.00 T: 37,4 oC
HR: 80x/ menit
SaO2 98%
2 20.00 3. Memonitor intake Ds: keluarga mengatakan klien susah makn dan
cairan minum
Do: terpasang cairan RL 20 Tpm, klien mau
minum setelah simotifasi kuat
2 20.00 4. Memonitor warna Ds: keluarga mengatakan panasnya naik turun
dan suhu kulit Do: kulit teraba hangat, seluruh tubuh berwarna
kemerahan
2 15.00 5. Menganjurkan Ds: klien dan keluarga paham
melimuti pasien Do: klien di berikan baju tipis dan tidak
dengan menggunakan menggunakan selimut tebal
selimut tipis
35

2 15.00 6. Memberikan Ds: keluarga paham dan mau mengikuti anjuran


kompres hangat Do: klien kompres dengan air hangat
dibagian lipatan
2 16.00 7. Kolabosi Ds: keluarga mengatakan terahir minum obat jam
20.00 pemberian penurun 16.00dan diberi lagi jam 20.00
panas paracetamol Do: obat masuk per iv tidak ada reaksi alergi,
500mg mua, muntah, kemerahan

Rabu, 14 November 2018


2 1 15/11/ 1. Memonitor frekuensi
Ds: klien mengatakan sesak nafas berkurang
2018 pernafasan Do: RR 24x/ menit, terdapat pernafasan cuping
05.00 hidung dan retraksi dinding dada.
SaO2 100%
1 15/11/ 2. Memonitor suara Ds: -
2018 paru Do : terdengar suara nafas dasar vesikuler
05.00 semakin menurun pada lapang paru kanan
1 15/11/ 3. Memberikan Ds: klien mengatakan sesak berkurang
2018 terapi oksigenasi Do: terpasang oksigen nasal kanul 4lpm
05.00
1 13/11/ 4. Memposisikan Ds: klien mengatakan nyaman
2018 pasien yang nyaman Do: klien merasa nyaman setelah di berikan posisi
21.00 tidur semifowler dapat tidur dengan nyaman
1 15/11/ 5. Mengobservasi Ds: klien merasa sudah nyaman, sesak berkurang
2018 adanya tanda tanda Do: RR24x/ menit, tidak terdapat sianosis pada
05.00 hiperventilasi dan jaringan perifer
36

sianosis

1 15/11/ 6. Mengajarkan nafas Ds: klien mengatakan sudah berlatih nafas dalam,
2018 dalam mengatakan sesaknya berkurang setelah
05.00 latihan
Do: klien mampu melakukan terapi yang
diajarkan RR 24X/ menit
2 15/11/ 1. Memonitor suhu Ds: keluarga mengatakan panasnya naik turun
2018 setiap 4 jam. Do: t: 37,8 oC
05.00 Kulit teraba hangat
2 15/11/ 2. Memonitor vital sign Ds:-
2018 Do: TD: 110/80 mmHg
05.00 T: 37,8 oC
HR: 88x/ menit
SaO2 100%
2 15/11/ 3. Memonitor intake Ds: keluarga mengatakan klien susah makn dan
2018 cairan minum
05.00 Do: terpasang cairan RL 20 Tpm, klien mau
minum setelah dimotifasi kuat
2 15/11/ 4. Memonitor warna Ds: keluarga mengatakan panasnya naik turun
2018 dan suhu kulit Do: kulit teraba hangat, seluruh tubuh berwarna
05.00 kemerahan
2 14/11/ 5. Menganjurkan Ds: klien dan keluarga paham
2018 melimuti pasien Do: klien di berikan baju tipis dan tidak
21.00 dengan menggunakan menggunakan selimut tebal
selimut tipis
37

2 14/11/ 6. Memberikan Ds: keluarga paham dan mau mengikuti anjuran


2018 kompres hangat Do: klien kompres dengan air hangat
21.00 dibagian lipatan
2 14/11/ 7. Kolabosi Ds: keluarga mengatakan terahir minum obat jam
2018 pemberian penurun 19.00
19.00 panas paracetamol Do: obat masuk per oral tidak ada reaksi alergi,
500mg mua, muntah
Jumat, 16 November 2018
3 1 16/11/ 1. Memonitor frekuensi Ds: klien mengatakan sesak nafas berkurang
2018 pernafasan Do: RR 24x/ menit,tidak terdapat pernafasan
08.00 cuping hidung dan retraksi dinding dada.
SaO2 100%
1 16/11/ 2. Memonitor suara Ds: -
2018 paru Do : terdengar suara nafas dasar vesikuler
08.00 semakin menurun pada lapang paru kanan
1 16/11/ 3. Memberikan terapi Ds: klien mengatakan sesak berkurang
2018 oksigenasi Do: terpasang oksigen nasal kanul 4lpm
08.00
1 16/11/ 4. Memposisikan Ds: klien mengatakan nyaman
2018 pasien yang nyaman Do: klien merasa nyaman setelah di berikan
08.00 posisi tidur semifowler dapat tidur dengan
nyaman
1 16/11/ 5. Mengobservasi Ds: klien merasa sudah nyaman, sesak
2018 adanya tanda tanda berkurang
14.00 hiperventilasi dan Do: RR24x/ menit, tidak terdapat sianosis pada
sianosis jaringan perifer
38

1 16/11/ 6. Mengajarkan nafas Ds: klien mengatakan sudah berlatih pulshed


2018 dalam (purshed lips lips breath, mengatakan sesaknya
14.00 breath berkurang setelah latihan
Do: klien mampu melakukan terapi yang
diajarkan RR 24X/ menit
2 16/11/ 1. Memonitor suhu Ds: keluarga mengatakan panasnya naik turun
2018 setiap 4 jam. Do: t: 36,7 oC
14.00 Kulit teraba hangat
2 16/11/ 2. Memonitor vital sign Ds:-
2018 Do: TD: 110/70 mmHg
14.00 T: 36,7oC
HR: 74x/ menit
SaO2 100%
2 16/11/ 3. Memonitor intake Ds: keluarga mengatakan klien susah makn
2018 cairan dan minum
14.00 Do: terpasang cairan RL 20 Tpm, klien mau
minum
2 16/11/ 4. Memonitor warna Ds: keluarga mengatakan panasnya naik turun
2018 dan suhu kulit Do: kulit teraba hangat, seluruh tubuh
14.00 berwarna kemerahan
2 16/11/ 5. Menganjurkan Ds: klien dan keluarga paham
2018 melimuti pasien dengan Do: klien di berikan baju tipis dan tidak
08.00 menggunakan selimut menggunakan selimut tebal
tipis
2 16/11/ 6. Memberikan Ds: keluarga paham dan mau mengikuti
2018 kompres hangat dibagian anjuran
14.00 lipatan bila panas Do: klien kompres dengan air hangat bila
panas
39

2 16/11/ 7. Kolabosi pemberian Ds: keluarga mengatakan hari ini belum


2018 penurun panas minum paracetamol karena tidak panas
12.00 Do: suhu tubuh hangat normal 36,7 oC
40

XIV. CATATAN PERKEMBANGAN

No. Tgl/J DX KEP EVALUASI TTD


am
1 13/11/ Ketidakefektif S: klien mengatakan sesak berkurang, sudah mampu melakukan
2018 an pola latihan nafas dalam
20.00 pernafasan O: klien tampa nyaman
berhubungan - RR 25X/ menit
dengan - Sao2 98%
menurunnya - Tidak terdapat pernafasan cuping hidung, masih ada
ekspansi paru retraksi dinding dada
sekunder - Klien nyaman ketika di posisikan semifowler
terhadap - terdengar suara nafas dasar vesikuler semakin menurun
penumpukan pada lapang paru kanan
cairan dalam - tidak terdapat hiperventilasi maupun sianosis
rongga pleura A: masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
A Memonitor frekuensi pernafasan
B Memonitor suara paru
C Memberikan terapi oksigenasi
D Memposisikan pasien yang nyaman
E Mengobservasi adanya tanda tanda hiperventilasi dan
sianosis
F Memotivasi latihan nafas dalam
13/11/ Hipertermia S :keluarga mengatakan sudah tidak demam, paham cara mengatasi
2018 berhubungan demam dengan memberikan selimut tipis, dikompres dan di berikan
20.00 dengan proses penurun panas. Minum air putih yang banyak.
41

infeksi
O : teraba kulit hangat normal, klien mau minum air putih cukup,
- TD: 100/80 mmHg
- T: 37,4 oC
- HR: 80x/ menit
- SaO2 98%
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
1. Memonitor suhu setiap 4 jam.
2. Memonitor vital sign
3. Memonitor intake cairan.
4. Memonitor warna dan suhu kulit
5. Selimuti pasien dengan menggunakan selimut tipis
6. Memerikan kompres hangat dibagian aksila dan
lipatan paha.
7. Kolabosi pemberian penurun panas
2 15/11/ Ketidakefektif S: klien mengatakan sesak berkurang, sudah mampu melakukan
2018 an pola latihan nafas dalam
07.00 pernafasan O: klien tampa nyaman
berhubungan - RR 24X/ menit
dengan - Sao2 100%
menurunnya - Tidak terdapat pernafasan cuping hidung, masih
ekspansi paru ada retraksi dinding dada
sekunder - Klien nyaman ketika di posisikan semifowler
terhadap - terdengar suara nafas dasar vesikuler semakin
penumpukan menurun pada lapang paru kanan
cairan dalam - tidak terdapat hiperventilasi maupun sianosis
rongga pleura A: masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
1. Memonitor frekuensi pernafasan
42

2. Memonitor suara paru


3. Memberikan terapi oksigenasi
4. Memposisikan pasien yang nyaman
5. Mengobservasi adanya tanda tanda hiperventilasi
dan sianosis
6. Mengajarkan nafas dalam
15/11/ Hipertermia S :keluarga mengatakan sudah tidak demam, paham cara mengatasi
2018 berhubungan demam dengan memberikan selimut tipis, dikompres dan di berikan
07.00 dengan proses penurun panas. Minum air putih ynag banyak.
infeksi O : teraba kulit hangat normal, klien mau minum air putih cukup,
- : TD: 110/80 mmHg
- T: 37,8 oC
- HR: 88x/ menit
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
1. Memonitor suhu setiap 4 jam.
2. Memonitor vital sign
3. Memonitor intake cairan.
4. Memonitor warna dan suhu kulit
5. Selimuti pasien dengan menggunakan selimut tipis
6. Memerikan kompres hangat dibagian aksila dan
lipatan paha.
7. Kolabosi pemberian penurun panas
3 16/11/ Ketidakefektif S: klien mengatakan sesak berkurang, sudah mampu melakukan
2018 an pola latihan nafas dalam sesering mungkin tanpa bantuan
14.00 pernafasan O: klien tampa nyaman
berhubungan - RR 24X/ menit
dengan - Sao2 100%
menurunnya - Tidak terdapat pernafasan cuping hidung, masih
ekspansi paru ada retraksi dinding dada
43

sekunder - Klien nyaman ketika di posisikan semifowler


terhadap - terdengar suara nafas dasar vesikuler semakin
penumpukan menurun pada lapang paru kanan
cairan dalam - tidak terdapat hiperventilasi maupun sianosis
rongga pleura A: masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
1. Memonitor frekuensi pernafasan
2. Memonitor suara paru
3. Memberikan terapi oksigenasi
4. Memposisikan pasien yang nyaman
5. Mengobservasi adanya tanda tanda hiperventilasi
dan sianosis
6. Mengajarkan nafas dalam
16/11/ Hipertermia S :keluarga mengatakan sudah tidak demam, paham cara mengatasi
2018 berhubungan demam dengan memberikan selimut tipis, dikompres dan di berikan
14.00 dengan proses penurun panas. Minum air putih ynag banyak.
infeksi O : teraba kulit hangat normal, klien mau minum air putih cukup,
- TD: 110/70 mmHg
- T: 36,7oC
- HR: 74x/ menit
- SaO2 100%
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi
1. Memonitor suhu setiap 4 jam.
2. Memonitor vital sign
3. Memonitor intake cairan.
4. Memonitor warna dan suhu kulit
5. Selimuti pasien dengan menggunakan selimut tipis
6. Memerikan kompres hangat dibagian aksila dan
lipatan paha.
44

7. Kolabosi pemberian penurun panas


45

BAB IV
PEMBAHASAN

I. Analisa Intervensi Keperawatan


Tn. K usia 54 tahun dengan diagnosa medis Efusi pleura. Adapun diagnosa
keperawatan yang ditemukan pada saat pengkajian adalah ketidakefektifan
pola pernafasan berhubungan dengan menurunnya ekspansi paru sekunder
terhadap penumpukan cairan dalam rongga pleura dan hipertermi
berhubungan dengan proses infeksi. Sesak napas pada klien dengan efusi
pleura disebabkan oleh adanya cairan pada rongga pleura yang
menyebabkan ekspansi paru menurun. Oleh karena itu intervensi yang
diberikan adalah meningkakan ekspandi paru klien. Intervensi yang telah
diberikan pada diagnosa pertama adalah:
A. Posisi semi fowler
Penanganan dasar yang diperlukan berupa pengamatan pada penderita
sesak nafas berupa peningkatan usaha napas melalui peningkatan RR
dan penggunaan otot-otot bantu pernapasan guna memenuhi demand
oksigen di dalam tubuh. Salah satu tindakan keperawatan yang
penting adalah positioning yang bertujuan untuk meningkatkan
ekspansi paru sehingga mengurangi sesak (Dean, 2014 dalam Annisa,
Utomo & Utami, 2017). Posisi semi fowler adalah posisi setengah
duduk dimana bagian kepala di tempat tidur lebih tinggi dari posisi
badan karena manfaat posisi ini sangat efektif untuk memberikan
posisi nyaman. Posisi ini efektif untuk pasien dengan penyakit
kardiopulmonal dimana bagian kepala dan tubuh dinaikkan dengan
derajat kemiringan 45 derajat, yaitu dengan menggunakan gaya
gravitasi untuk membantu pengembangan paru dan mengurangi
tekanan dari abdomen ke diafragma. Posisi semi fowler membuat
oksigen di dalam paru-paru semakin meningkat sehingga
mempermudah dalam pernapasan Hal tersebut dipengaruhi oleh gaya
gravitasi sehingga pengiriman oksigen menjadi optimal yang
berdampak sesak nafas akan berkurang dan akhirnya proses perbaikan
46

pola nafas pada pasien akan lebih cepat (Febraska, 2014 dalam
Utomo, 2017). Setelah diberikan posisi semi fowler klien mengatakan
merasa nyaman dan SpO2 klien tidak mnegalami penurunan yaitu
98%. Pada penelitian yang dilakukan oleh Desyarti (2018)
menunjukan bahwa rerata responden yang masih memiliki frekuensi
pernapasan tidak normal sesudah diberikan posisi semi fowler ada 8
orang (20,0%), hal ini dapat disebabkan oleh keadaan fisik dan derajat
sesak pasien, terdapat pasien-pasien tertentu yang apabila diberikan
posisi semi fowler ternyata frekuensi pernapasannya sama dari posisi
sebelumnya, selain itu juga pasien yang saat masuk rumah sakit dalam
derajat sesak sedang, namun setelah dilakukan intervensi dan
dievaluasi pasien beralih menjadi sesak berat, sehingga diharuskan
untuk dilakukan pemasangan O2 dan pemberian nebulizer.
B. Memberikan terapi oksigenasi
Memberikan terapi oksigenasi menggunakan nasal kanul pada klien
efusi pleura sebanyak 4 liter/menit. Menurut penelitian Ariyani (2014)
20 klien dengan efusi pleura lebih nyaman menggunakan nasal kanul.
Adapun tujuan pemberian oksigenasi pada klien efusi pleura dalam
Ariyani (2014) adalah mengatasi hipoksemia, menurunkan kerja napas
dan menurunkan keraja miokard. Menurut Pamungkas (2015) dalam
Utami (2016) tujuan terapioksigen adalah memberikan transport oksigen
yang adekuat dalam darahsambil menurunkan upaya bernapas, sehingga
sesak napas berkurang. Respon klien setelah implementasi selama 3 hari
adalah rasa sesak yang berkurang, dengan frekuensi napas dari 28 x/i
menjadi 24 x/i. Masalah sesak napas belum teratasi karena frekuensi
napas klien masih cepat.
Pemberian terapi oksigen menggunakan nasal kanul belum efektif
karena pada dasarnya nasal kanul tidak dapat memberi konsentrasi
oksigen lebih dari 44% , suplai oksigen berkurang bila klien bernafas
melalui mulut, dapat mengiritasi selaput lendir. Selain itu oksigen yang
diberikan tercampur dengan udara luar dan pada flow rate yang tinggi
dapat menyebabkan kekeringan membran mukosa hidung. Setiap
47

peningkatan 1 liter/menit akan meningkatkan konsentrasi oksigen yang


terhirup sekitar 4 %, sehingga konsentrasi oksigen yang dapat diberikan
melalui kanul hidung sebanyak 1-6 liter pada pasien dengan volume
tidal normal adalah 24-44 %. Nasal kanul hanya memiliki keuntungan
yaitu pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan
teratur, pemasangannya mudah, klien bebas makan, pasien bebas
berbicara dengan nyaman (Hidayat,2009)
C. Mengajarkan nafas dalam (purshed lips breath)
Selain dengan pemberian terapi oksigen, pada pasien dengan
ketidakefektifan pola napas juga perlu diajarkan latihan pernapasan.
Salah satu teknik latihan pernapasan yang telah dilakukan adalah teknik
pursed lips breathing. Pursed lips breathing merupakan latihan
pernapasan dengan menghirup udara melalui hidung dan mengeluarkan
udara dengan cara bibir lebih dirapatkan atau dimonyongkan dengan
waktu ekshalasi lebih diperpanjang (Utami, 2016). Proses ekspirasi
secara normal merupakan proses mengeluarkan nafas tanpa
menggunakan energi berlebih. Bernafas Pursed Lip Breathing Exercise
melibatkan proses ekspirasi secara panjang. Inspirasi dalam dan
ekspirasi panjang tentunya akan meningkatkan kekuatan kontraksi otot
intra abdomen sehingga tekanan intra abdomen meningkat melebihi
pada saat ekspirasi pasif. Tekanan intra abdomen yang meningkat lebih
kuat lagi tentunya akan meningkatkan pergerakan diafragma ke atas
membuat rongga thorak semakin mengecil. Rongga thorak yang
semakin mengecil ini menyebabkan tekanan intra alveolus semakin
meningkat sehingga melebihi tekanan udara atmosfer. Kondisi tersebut
akan menyebabkan udara mengalir keluar dari paru ke atmosfer.
Ekspirasi panjang saat bernafas Pursed Lip Breathing Exercise juga
akan menyebabkan obstruksi jalan nafas dihilangkan sehingga resistensi
pernafasan menurun. Penurunan resistensi pernafasan akan
memperlancar udara yang dihirup dan dihembuskan sehingga akan
mengurangi sesak nafas (Smeltzer, 2008 dalam Bakti 2015). Respon
klien setelah diberikan latihan pernapasan ini adalah sesak napas klien
48

berkurang yang ditandai dnegan menurunnya frekuensi pernpasan dan


klien merasa lebih nyaman.
Ketiga intervensi tersebut diberikan selama 3 hari, namun masalah
keperawatan belum teratasi secara sempurna, frekuensi napas 24 x/menit
dan masih adanya retraksi dinding dada. Hal ini mungkin dapat diatasi
dengan cara melakukan prosedur medis untuk mengeluarkan cairan pada
paru klien yaitu pungsi pleura. Pungsi pleura (torakosintesis) merupakan
tindakan invasif dengan menginsersi jarum melalui dinding toraks untuk
mengeluarkan cairan dari rongga pleura. Indikasinya adalah untuk
mengambil spesimen cairan pleura untuk pemeriksaa analisa,
mikrobiologi dan sitologi dan mengatasi gangguan respirasi yang
diakibatkan penumpukan cairan di dalam rongga pleura (Djaharuddin,
dkk, 2015).

II. Desaign Inofatif


A. Latar Belakang
Efusi pleura merupakan pengumpulan cairan dalam ruang pleural yang
terletak diantara permukaan visceral dan parental, adalah proses
penyakit primer yang jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit
sekunder terhadap penyakit lain, secara normal ruang pleura
mengandung sejumlah kecil cairan (5-15 ml) berfungsi sebagai pelumas
yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi
(Smeltzer dan Bare, 2002). Efusi pleura adalah istilah yang digunakan
untuk penimbunan caira dalam rongga pleura dapat berupa transudat dan
eksudat.
Pasien dengan efusi pleura di dalam rongga pleura terdapat ±5 ml cairan
yang cukup untuk membasahi seluruh permukaan pleura parientalis dan
visceralis. Cairan ini dihasilkan oleh kapiler pleura parientalis karena
adanya tekanan hidrotastik, tekanan koloid, dan daya tarik elastis.
Sebagian cairan ini diserap kembali oleh kapiler paru dan pleura
visceralis, sebagian kecil lainnya (10-20%) menglir ke dalam pembuluh
limfe sehingga pasase cairan disini mencapai satu liter seharian.
Terkumpulnya cairan di rongga pleura disebut efusi pleura, ini terjadi
49

bila keseimbangan antara produksi dan absorbs terganggu


(Syamsuhidayat, 2014).
Faktor pencetus dari efusi pleura dapat dibedakan atas transudat dan
eksudat. Pleura transudat misalnya terjadi gagal jantung karena
bendungan vnea disertai peningkatan hidrostatik, dan pada sirosis
hepatis karena tekanan osmotik koloid yang menurun. Eksudat
disebabkan antara lain oleh keganasan dan infeksi. Cairan keluar
langsung dari kapiler sehingga kaya akan protein dan berat jenis tinggi.
Cairan ini juga mengandung banyak sel darah putih. Sebaliknya,
transudat kadar protein rendah sekali atau nihil sehingga berat jenisnya
rendah (Syamsuhidayat, 2004). Efusi pleura terjadi di negara-negara
yang sedang berkembang, salah satunya di Indonesia.
Badan kesehatan dunia (WHO) 2011 memperkirakan jumlah kasus efusi
pleura diseluruh dunia cukup tinggi menduduki urutan ketiga setelah Ca
paru sekitar 10-15 juta dengan 100-250 ribu kematian tiap tahunnya.
Efusi pleura suatu disease entity dan merupakan salah satu gejala
penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita. Tingkat
kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan, kecepatan
pembentukan cairan dan tingkat penekanan paru.
Tingginya kasus efusi pleura disebabkan keterlambatan penderita untuk
memeriksakan kesehatan sejak dini sehingga menghambat aktivitas
sehari-hari dan kematian akibat efusi pleura masih sering ditemukan.
Tingkat kegawatan pada efusi pleura ditentukan oleh jumlah cairan,
kecepatan pembentukan cairan dan tingkat penekanan paru. Jika efusi
luas, ekspansi paru akan terganggu dan pasien akan mengalami sesak,
nyeri dada, batuk non produktif bahkan akan terjadi kolaps paru dan
akibatnya akan terjadilah gagal nafas.
Penanganan efusi pleura dapat dilakukan dengan cara breathing
exercise, salah satu breathing exercise yang dapat dilakukan adalah
meniup balon yaitu aktivitas keperawatan yang berfungsi meningkatkan
kemampuan otot-otot pernafasan untuk meningkatkan compliance paru
dalam meningkatkan fungsi ventilasi dan memperbaiki oksigenasi.
50

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk


mengaplikasikan breathing exercise. Hal ini dituangkan dalam bentuk
desain inovatif “Asuhan Keperawatan Pada Klien Tn. K Dengan
Diagnosa Medis Efusi Pleura Di Ruang Anyelir RSUD Ambarawa”.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum : Melaporkan pemberian breathing exercise (teknik
tiup balon) terhadap kestabilan pola nafas pada Ny. K dengan efusi
pleura di Ruang Anyelir RSUD Ambarawa.
2. Tujuan Khusus :
a. Penulis mampu melakukan pengkajian hingga mendapatkan
diagnosa keperawatan serta merencanakan intervensi dan
melaksanakan implementasi hingga mengevaluasi Ny. K dengan
efusi pleura di Ruang Anyelir RSUD Ambarawa.
b. Penulis mampu menganalisa hasil pemberian breathing
exercise (teknik tiup balon) terhadap kestabilan pola nafas pada
Ny. S dengan efusi pleura.

C. Pengertian
Teknik terapi tiup balon merupakan salah suatu bentuk terapi yang
mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan latihan napas dan
melatih kekuatan otot pernafasan dan paru-paru agar dapat mengembang
secara maksimal. Breathing exercise merupakan latihan untuk
meningkatkan pernafasan dan kinerja fungsional, salah satu breathing
exercise yang dapat dilakukan adalah meniup balon, yaitu aktivitas
keperawatan yang berfungsi meningkatkan kemampuan otot-otot
pernafasan untuk meningkatkan compliance paru dalam meningkatkan
fungsi ventilasi dan memperbaiki oksigenasi. Latihan nafas adalah
upaya untuk memperbaiki ventilasi paru dan penggunaan otot-otot
pernafasan secara wajar dan efisien (Cahalin, 2014). Latihan nafas
memperbaiki kerja alveoli dan mengefektifkan pertukaran gas tanpa
meningkatkan kerja nafas (Kartini, 2007).

D. Mekanisme
51

Latihan nafas dapat mencegah terjadinya atelektasis paru dan


meningkatkan ventilasi. Latihan nafas dengan modifikasi meniup balon
akan mempertahankan volume udara dalam alveoli sehingga paru dapat
dicegah menjadi kolaps. Pengembangan paru tanpa dilakukan latihan
nafas mempunyai waktu yang lebih lama dibandingkan pasien yang
diberikan latihan nafas modifikasi meniup balon. Perbedaan hasil
pengembangan paru ini dapat terlihat dari gambaran foto thorak
(Kartini, 2007).
Latihan nafas mempunyai tujuan memperbaiki ventilasi, oksigenasi dan
melatih otot pernafasan. Latihan nafas modifikasi balon berpengaruh
terhadap frekwensi nafas. Latihan nafas modifikasi balon akan
menghasilkan Positif Expiration Pressure (PEP) pada paru sehingga
meningkatkan ventilasi kolateral dan meningkatkan oksigenasi alveoli,
sehingga akan memperbaiki ventilasi paru dan volume paru. Perbaikan
frekuensi nafas juga diikuti perbaikan keluhan rasa sesak yang
berkurang akibat dari oksigenasi yang meningkat (Kartini, 2007).
Latihan nafas modifikasi balon akan memperbaiki ventilasi kolateral
alveolus, tekanan trakeobronkial meningkat sehingga saluran nafas tetap
terbuka. Jumlah udara yang terjaga dalam durasi waktu yang lebih lama
akan meningkatkan complaince paru. Latihan nafas juga meningkatkan
tidal volume, volume cadangan inspirasi dan volume cadangan ekspirasi
sehingga memperbaiki vital capacity. Latihan nafas juga akan
meningkatkan cadangan udara dalam paru (Kartini, 2007).
E. Teknik atau Cara
Teknik atau cara untuk melakukan teknik latihan napas dengan meniup
balon diantaranya adalah sebagai berikut :
Tahap kerja :
1. Ciptakan lingkungan yang tenang
2. Usahakan tetap rileks dan tenang
3. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru
dengan udara melalui hitungan 1,2,3
52

4. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut ke dalam


balon semaksimal mungkin sambil merasakan ekstrimitas atas dan
bawah rileks
5. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali
6. Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan
kembali melalui mulut secara perlahan-lahan ke dalam balon
7. Setelah ukuran balon dirasa cukup besar, lepaskan balon
dari tiupan mulut dan pegang balon dengan tangan
8. Anjurkan klien untuk rileks
9. Merapikan klien
53

BAB V
METODOLOGI

A. Topik
Terapi Tiup Balon

B. Sub Topik
Pengaruh Terapi Tiup Balon terhadap Pola Napas pada pasien Efusi Pleura

C. Tujuan Umum
Untuk mengetahui pengaruh terapi tiup balon terhadap pola napas pada pasien
efusi pleura

D. Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi pola nafas sebelum dilakukan intevensi
2. Mengidentifikasi pola nafas setelah dilakukan intervensi
3. Mengetahui adakah pengaruh terapi tiup balon terhadap pola nafas
pasien efusi pleura

E. Waktu (Tanggal dan Jam Pelaksanaan)


Tanggal : Desember 2018
Pukul :

F. Tempat
Ruang Anyelir RSUD Ambarawa

G. Setting

Keterangan : B
A : Pasien dengan Efusi Pleura
54

B : Fasilitator

H. Media / Alat yang digunakan


1. Balon
2. Kertas Tissue

I. Prosedur Operasional Tindakan Yang Dilakukan


STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR

TERAPI TIUP BALON


Pengertian Teknik terapi tiup balon merupakan salah suatu bentuk terapi yang
mengajarkan kepada klien bagaimana cara melakukan latihan napas
dan melatih kekuatan otot pernafasan dan paru-paru agar dapat
mengembang secara maksimal.
Tujuan 1. Mengontrol ventilasi pernafasan yang adekuat
2. Melatih pengembangan paru-paru
3. Melatih kekuatan otot-otot pernafasan
4. Meningkatkan ventilasi alveoli
5. Mencegah atelektasi paru
6. Memelihara pertukaran gas
Persiapan Tahap pre interaksi :
Persiapan Perawat :
1. Mengumpulkan data tentang klien
2. Menciptakan lingkungan yang nyaman
3. Membuat rencana pertemuan tindakan keperawatan

Persiapan Alat :
1. Balon
2. Kertas tissue

Persiapan Pasien
Tahap Orientasi :
1. Memberikan senyum dan salam pada klien dan sapa nama klien
2. Menjelaskan tujuan dan prosedur pelaksanaan
3. Menanyakan persetujuan atau kesiapan klien
4. Menyiapkan posisi klien yaitu dengan duduk,dan rileks.
Prosedur Tahap kerja :
1. Ciptakan lingkungan yang tenang
2. Usahakan tetap rileks dan tenang
3. Menarik nafas dalam dari hidung dan mengisi paru-paru
dengan udara melalui hitungan 1,2,3
4. Perlahan-lahan udara dihembuskan melalui mulut ke dalam
balon semaksimal mungkin sambil merasakan ekstrimitas atas dan
bawah rileks
55

5. Anjurkan bernafas dengan irama normal 3 kali


6. Menarik nafas lagi melalui hidung dan menghembuskan
kembali melalui mulut secara perlahan-lahan ke dalam balon
7. Setelah ukuran balon dirasa cukup besar, lepaskan balon dari
tiupan mulut dan pegang balon dengan tangan
8. Anjurkan klien untuk rileks
9. Merapikan klien

Tahap Terminasi :
1. Melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan
2. Berpamitan dengan klien
3. Membereskan alat
4. Mencatat kegiatan dalam lembar catatan perawatan
Dokumentasi 1. Catat tindakan yang telah dilakukan
2. Waktu dan tanggal tindakan
3. Nama klien, usia
4. Nama perawat dan tanda tangan perawat
5. Respon klien terhadap tindakan yang dilakukan
56

BAB VI
PENUTUP

I. Kesimpulan
Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang
terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer
jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit
lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5
sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan
pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002).
Penyebab efusi pleura dikarena adanya : 1) Hambatan resorbsi cairan
dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi
kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium)
dan sindroma vena kava superior. 2) Peningkatan produksi cairan berlebih,
karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba
subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk
cairan berdarah dan karena trauma.
Manifestasi klinis menurut Irman Somantri, 2008 adalah kebanyakan
efusi pleura bersifat asimpomatik, seperti demam, menggigil, dan nyeri dada
pleuritis, dipsnea dan batuk, sesak nafas, banyak keringat, Deviasi trachea
menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan
pleural yang signifikan.
Komplikasi efusi pleura yaitu 1) Fibrotoraks yang artinya efusi pleura
yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan
terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis. 2)
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan
oleh penekanan akibat efusi pleura. 3) Fibrosis paru merupakan keadaan
patologis dimana terdapat jaringan ikat paru dalam jumlah yang berlebihan.
4) Kolap paru diakibatkan karena pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang
diakibatkan oleh tekanan ektrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan
mendorong udara keluar.
57

Sedangkan untuk penatalaksanaan secara medis bertujuan untuk


menemukan penyebab dasar, untuk mencegah penumpukan kembali cairan,
dan untuk menghilangkan ketidaknyamanan serta dispneu dengan cara
Torasentesis yang dilakukan untuk membuang cairan, dan secara keperawatan
yaitu perawat dapat memberikan asuhan keperawatan.
II. Saran
Di harapkan kepada mahasiswa mampu memahami isi dari makalah
ini dan asuhan keperawatan efusi pleura untuk dapat mengaplikasikannya
dalam asuhan keperawatan.
58

DAFTAR PUSTAKA

Alsagaff, Hood; Amin, Muhammad; Saleh, WBM Taib. 1989. Pengantar Ilmu
Penyakit Paru. Airlangga University Press
Bulechek, Gloria M., et al. Nursing Interventions Classification (NIC), 6th
edition. 2013
Price dan Wilson. 1995. Fisiologi Proses-proses Penyakit, edisi 4, Alih bahasa
Peter Anugrah. Jakarta: EGC
Herdman, T.H., Kamitsuru, Shigemi. Diagnosa Keperawatan 2015-2017 Edisi 10.
Jakarta: EGC
Moorhead, Sue, et al. Nursing Outcomes Classification (NOC), 5th edition. 2013
Rasyid, Ahmad.2012.”ANATOMI FISIOLOGI PLEURA DAN MEKANISME
EFUSI”,(Online),
(http://edisampetondok.blogspot.no/2012/01/anatomi-fisiologi-pleura-
dan-mekanisme.html
Soeparman, Waspadji, Sarwono. 1999. Ilmu Penyakit Dalam Jilid II. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI
Somantri Irman.2009.Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem
Pernapasan. Jakarta:Salemba Medika
Smeltzer, Suzzane C., Brenda G. Bare. 2002. Brunner & Suddarth’s Textbook of
Medical Nursing, Vol 2, 8th Ed. Penerjemah Esty Wahyuningsih,
S.Kep Ns. EGC. Jakarta
Syamsuhidayat. R, Jong, Wim De. 2014. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 2. Penerbit
Buku Kedokteran EGC. Jakarta
Sukartini, T., Sriyono, Nursalam, Dian. N, Sukrisno. A. 2007. Latihan Nafas
Modifikasi Meniup Balon Terhadap Pengembangan Paru. http://e-
journal.unair.ac.id/JNERS/article/view/4945
Annisa, R., Utomo, W., & Utami, S. (2017). Pengaruh Perubahan Posisi
terhadap Pola Napas pada Pasien Gangguan Pernafasan. Dipetik
Desember 3, 2018, dari
https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMPSIK/article/download/19175/18534.
Bakti, A. K. (2015). Pengaruh Pursed Lip Breathing Exercise terhadap
Penurunan Tingkat Sesak Napas pada Penyakit Paru Obstruksi Kronik
(PPOK) di Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat. Dipetik Desember 3,
2018, dari eprints.ums.ac.id/40106/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf.
Desyarti, N. (2018). Analisa Tindakan Posisi Semi Fowler dengan Masalah
Keperawatan Ketidakefetifan Pola Napas pada Pasien Efusi Pleura di
Ruang IGD Rumah Sakit Prof. Dr. Margono Soekarjo Purwokerto. Dipetik
Desember 3, 2018, dari http://elib.stikesmuhgombong.ac.id/887/.
59

Djaharuddin, I., Tabri, N. A., Iskandar, M. H., & Santoso, A. (2015). Pungsi
Pleura. Dipetik Desember 3, 2018, dari
https://med.unhas.ac.id/kedokteran/wp.../09/Manual-CSL-II-PUNGSI-
PLEURA.doc
Utomo, R. P. (2017). Upaya Membersihkan Bersihan Jalan Napas pada Pasien
Pneumonia. Dipetik Desember 12, 2018, dari
eprints.ums.ac.id/52378/1/NASKAH%20PUBLIKASI.pdf
Tucker, Susan Martin. 1998. Standar perawatan Pasien: proses keperawatan,
diagnosis, dan evaluasi. Ed5. Jakarta: EGC